Anda di halaman 1dari 9

PROFIL ABORTUS DI BAGIAN KEBIDANAN & PENYAKIT KANDUNGAN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) ULIN BANJARMASIN


PERIODE JANUARI DESEMBER 2004
Samuel Tobing* dan Ihya Ridlo Nizomy**
*Bagian/UPF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan-RSUD Ulin, BanjarmasinFakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru
** Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Abstrak :
Tujuan : Untuk mengetahui gambaran kejadian abortus dan karakteristik-karakteristik
yang berhubungan dengan kejadian abortus yang dirawat di Bagian Kebidanan dan
Penyakit Kandungan RSUD Ulin Banjarmasin dari Bulan Januari sampai Desember 2004.
Tempat : Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit Umum Daerah Ulin
Banjarmasin.
Rancangan : Penelitian ini adalah penelitian epidemiologis yang bersifat deskriptif dengan
pendekatan prospektif.
Metode : Subyek penelitian ini adalah seluruh penderita abortus yang didiagnosis dan
dirawat oleh dokter spesialis Kebidanan & Penyakit Kandungan. Data hasil penelitian
diperoleh dari kuesioner dan Rekam Medik (Medical Record) yang diisi oleh petugas. Data
tentang abortus kemudian ditabulasi menurut variabel yang menjadi obyek kajian
meliputi : jumlah dan jenis abortus, umur, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, keluhan,
suku bangsa, usia kehamilan, kadar hemoglobin, dan lama perawatan.
Hasil : Kasus abortus yang terjadi dan dirawat di Bagian Kebidanan dan Penyakit
Kandungan RSUD Ulin Banjarmasin pada Bulan Januari Desember 2004 adalah 262
kasus, dengan angka insidensi 11,5% dari seluruh 2263 kasus yang ada di Bagian
Kebidanan & Penyakit kandungan pada tahun 2004. Jenis terbanyak adalah abortus
inkomplit (69,47%). Abortus terbanyak terjadi pada usia ibu antara 20 24 tahun dan 25
29 tahun (masing-masing 24,43%), dan tingkat pendidikan SLTA (33,97%). Ibu umumnya
tidak bekerja atau hanya sebagai ibu Rumah Tangga (71,75%), dengan keluhan utama
datang ke Rumah Sakit terbanyak adalah perdarahan (77,1%), terbanyak adalah suku
Banjar (87,8%), dengan kadar Hemoglobin saat masuk Rumah Sakit terbanyak adalah 8
10 gr% (48,5%). Usia Kehamilan saat terjadinya abortus terbanyak adalah pada usia 8 12
minggu (52,67%), dan dengan lama perawatan umumnya selama 1- 2 hari (69,3%),
Kesimpulan : Angka insidensi kasus Abortus di Bagian Kebidanan & Penyakit
kandungan RSU Ulin Banjarmasin selama tahun 2004 adalah 11,5% dengan profil
terbanyak adalah sebagai berikut : jenis abortus inkomplit, usia ibu 20 29 tahun, tingkat
pendidikan SLTA, suku Banjar, tidak bekerja/ibu Rumah Tangga, keluhan utama
perdarahan, usia kehamilan 8 12 minggu, kadar Hemoglobin 8 10 gr%, dan lama
perawatan 1 2 hari.
Kata Kunci : Profil Abortus RSU Ulin - Banjarmasin

Pengirim

: dr. Samuel Tobing, Sp.OG dan dr. Ihya Ridlo Nizomy, M.Kes.

Instansi

: Bagian kebidanan & Penyakit Kandungan RSU Ulin Banjarmasin


FakultasKedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru

No. HP

: 0811511578 (Samuel Tobing) 08125021037 (Ihya Ridlo N.)

e-mail

: Ihya_ihza@yahoo.com

PROFIL HAID SISWI SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA


(SLTP) TERPILIH DI KOTAMADYA BANJARMASIN
KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2003
Samuel Tobing* dan Ihya Ridlo Nizomy**
*Bagian/UPF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan-RSUD Ulin, BanjarmasinFakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru
** Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru
PENDAHULUAN
Haid ialah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan atau
deskuamasi endometrium1. Menurut Pritchard dkk (1991) haid adalah suatu keadaan
fisiologis dimana terjadi pengeluaran darah dan sisa-sisa sel yang berasal dari mukosa
uterus secara berkala, dengan interval yang kurang lebih teratur mulai dari menars sampai
dengan menopause, kecuali pada masa kehamilan dan laktasi. Lamanya siklus ini
bervariasi, rata-rata 28 hari dari satu periode menstruasi ke periode berikutnya, dengan
permulaan siklus dihitung dari hari pertama menstruasi 2. Karakteristik haid berhubungan

dengan panjang siklus haid, lama haid, keraturan siklus haid, jumlah perdarahan, keluhan
yang terjadi sebelum dan selama haid serta usia timbulnya haid pertama kali (menars).
Menars adalah istilah untuk timbulnya haid pertama kali pada seorang wanita 1. Menars
menunjukkan

bahwa

fungsi

reproduksi

seorang

wanita

sudah

berjalan

sebagaimanamestinya. Umur rata-rata menars adalah sekitar 13 tahun, yang timbul sekitar
2 tahun setelah peningkatan sekresi FSH dan LH yang bertahap, dimulai pada usia sekitar
8 tahunan, puncaknya terjadi pada usia 11-16 tahun3
Banyak faktor yang mempengaruhi profil haid di atas, di antaranya adalah faktor
bangsa dan ras, iklim, gizi dan kebudayaan 4. Kajian dan data yang pasti di Kalimantan
Selatan khususnya di Banjarmasin sejauh pengetahuan penulis belum ada. Oleh karena itu
dalam bentuk yang sangat sederhana dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana
profil haid pada remaja putri di Banjarmasin.

BAHAN DAN CARA KERJA


Penelitian ini dilakukan dengan metode kajian deskriptif-coss sectional. Subyek
penelitian ialah siswi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri terpilih di
Banjarmasin, sebanyak sebanyak 218 orang. Data profil haid diperoleh dari kuesioner yang
diisi oleh responden yang menjadi sampel penelitian kemudian ditabulasi berdasarkan
karakteristik-karakteristik haid yang meliputi panjang siklus haid, lama haid, keteraturan
siklus haid, keluhan yang terjadi sebelum dan selama haid terutama dismenorhea serta usia
menars.
HASIL PENELITIAN
Dari hasil kuesioner diperoleh data profil haid yang ditabulasi dan ditampilkan
secara deskriptif dalam bentuk jumlah dan persentase sebagai berikut :

Tabel 1. Responden yang telah mendapatkan Haid


Haid

Jumlah

Persentase

Sudah

170 orang

75 %

Belum

48 orang

25 %

Total

218 orang

100 %

Tabel 2. Panjang Siklus Haid Responden


Panjang Siklus Haid

Jumlah

Persentase

< 21 hari

27 orang

15,8 %

21- 35 hari

103 orang

60,6 %

> 35 hari

38 orang

22,4 %

> 3 bln

2 orang

1,2 %

170 orang

100 %

Total

Tabel 3. Lama Perdarahan Haid


Lama Haid

Jumlah

Persentase

1 2 hari

3 orang

1,8 %

3 6 hari

41 orang

24,2 %

7 8 hari

111 orang

65,3 %

> 8 hari

15 orang

8,7 %

Total

170 orang

100 %

Tabel 4. Keteraturan Siklus Haid

Siklus Haid

Jumlah

Persentase

Teratur

91 orang

53,5 %

Tidak Teratur

79 orang

46,5 %

Total

170 orang

100 %

Tabel 5. Keluhan yang menyertai haid


Keluhan

Jumlah

Persentase

Ada

128 orang

75,3 %

Tidak

42 orang

24,7 %

Total

170 orang

100 %

Tabel 6. Jenis dan Jumlah Keluhan yang menyertai haid


Keluhan

Jumlah

Persentase

Dismenorrhoea

127 orang

74,7 %

Lain-lain

43 orang

25,3 %

Total

170 orang

100 %

Tabel 7. Gambaran usia Menars


Usia

Jumlah

Persentase

8 9 tahun

1 orang

1,3 %

9 10 tahun

9 orang

5,2 %

10 11 tahun

31 orang

17,5 %

11 12 tahun

70 orang

40,9 %

12 13 tahun

37 orang

23,4 %

13 14 tahun

22 orang

11,7%

14 15 tahun

0 orang

0%

170 orang

100 %

Total

DISKUSI
Fisiologi sistem reproduksi wanita lebih kompleks daripada fisiologi reproduksi
laki-laki. Berbeda dengan produksi sperma dan hormon sex pada laki-laki yang terusmenerus dan relatif konstan, produksi gamet pada wanita berupa sel telur (ovum) yang
dihasilkan oleh ovarium saat ovulasi, menunjukkan gambaran siklik 5,6.
Haid ialah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan atau
deskuamasi endometrium1. Haid adalah suatu keadaan fisiologis dimana terjadi
pengeluaran darah dan sisa-sisa sel yang berasal dari mukosa uterus secara berkala, dengan
interval yang kurang lebih teratur mulai dari menarche sampai dengan menopause, kecuali
pada masa kehamilan dan laktasi 7. Oleh karena perdarahan yang terjadi periodik dan
siklik, maka proses ini dinamakan juga siklus haid1 atau siklus menstruasi (menstrual
cycle)5,6.
Panjang siklus haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan
mulainya haid berikutnya. Hari mulai perdarahan dinamakan hari pertama siklus haid.
Panjang siklus haid atau lamanya siklus ini bervariasi, rata-rata 28 hari dari satu periode
menstruasi ke periode berikutnya, dengan permulaan siklus dihitung dari hari pertama
menstruasi1.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 218 responden remaja putri yang
berusia 11 s/d 16 ternyata 75% atau 170 orang sudah mendapatkan haid. Sisanya sekitar
25% atau sejumlah 48 orang belum mendapatkan haid (tabel 1.). Dari 170 orang tersebut
diperoleh data tentang karakteristik haid yang meliputi panjang, lama dan keteraturan
siklus haid, keluhan dismenorrhea dan usia menars (tabel 2, 3, 4, 5, 6 dan 7).
Pada tabel 2 tentang gambaran panjang siklus haid diperoleh bahwa siklus haid
yang terpanjang adalah antara 21 s/d 35 hari dengan persentase 60,2%. Sisanya secara
berturut-turut adalah panjang siklus < 21 hari (15,8%), >35 hari (22,4%) dan > 3 bulan

(1,2%). Untuk lama perdarahan haid seperti terlihat pada tabel 3 didapatkan terbanyak
adalah selama 7 hari (45,3%). Terlihat juga pada tabel 3 untuk lama perdarahan haid
selama 1 - 2 hari adalah 1,8%, 3 - 5 hari 24,2%, 8 hari 20% dan > 8 hari sebanyak 8,7%.
Berdasarkan keteraturan siklus haid yang terlihat pada tabel 4 ternyata terlihat
bahwa dari 170 orang responden sebanyak 53,5% mempunyai siklus yang teratur dan
46,5% tidak teratur. Untuk gambaran keluhan yang menyertai haid dapat dilihat pada tabel
5, dimana keluhan ini digolongkan atas keluhan dismenorrhoea dan lain-lain. Keluhan lainlain adalah semua keluhan selain dismenorrhoea yang meliputi pusing, nyeri kepala,
perubahan emosional, penurunan nafsu makan, malaise dan keluhan lainnya yang
berhubungan dengan sindroma menstruasi. Penggolongan atas 2 keluhan ini dipilih karena
keluhan yang paling sering terjadi selama menstruasi dan dikenal dengan baik oleh
masyarakat awam adalah dismenorrhoea yang digambarkan sebagai nyeri sampai keram
pada perut bagian bawah. Disamping itu juga untuk mengurangi bias data hasil penelitian
karena keluhan-keluhan lain yang dirasakan responden sangat subyektif dan sulit untuk
memastikannya dengan hanya menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Dari
hasil penelitian ternyata selama haid sekitar 75,3% responden menyatakan mendapat
keluhan yang berupa dismenorrhea dengan persentasi 74,7% dan sisanya sekitar 25,3%
mengeluhkan keluhan lain seperti pusing, nyeri kepala, penurunan nafsu makan, malaise
dan lain-lain.
Menurut Hanafiah (1991) panjang siklus haid pada manusia ialah antara 25 32
hari. Siklus haid yang klasik adalah 28 hari dengan variasi yang cukup luas dan tergantung
usia. Pada gadis usia 12 tahun panjang siklus haid rata-rata adalah 35,1 hari. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa panjang siklus haid yang diperoleh tidak jauh berbeda yaitu
antara 21 35 hari.Lama haid juga bervariasi dari 1 2 hari, 3 5 hari dan 7 8 hari,
biasanya antara 3 5 hari 1. Dari penelitian ini diperoleh bahwa lama haid yang terbanyak
7

adalah 7 8 hari (65,3%), dengan variasi 1 2 hari (1,8%), 3 6 hari (24,2%), dan > 8
hari adalah 8,7%.
Dari responden yang telah mendapatkan haid diketahui bahwa menars terjadi
antara usia 8 tahun s/d 14 tahun, terbanyak terjadi antara usia 11 s/d 12 tahun (40,9%).
Usia menars yang termuda yang ditemukan pada penelitian ini terjadi pada usia 8 tahun
(1,8%) dan tidak ada responden yang mendapatkan menars di atas usia 14 tahun. Rata-rata
usia menars yang diperoleh adalah 11,5 tahun. Sedangkan Menurut Freedman (2002), ratarata usia menars pada gadis-gadis di USA adalah 12.3 tahun (kulit hitam) dan 12.6 tahun
(kulit putih)8,9.

KESIMPULAN
Dari penelitian deskriptif tentang profil haid siswi SLTP terpilih di Banjarmasin
tahun 2003 ini dapat ditarik simpulan berupa :
1. Panjang siklus haid dari satu siklus ke siklus berikutnya yang terbanyak adalah 21 35
hari dengan siklus yang umumnya teratur.
2. Lama perdarahan haid yang terbanyak adalah 7 8 hari.
3. Lebih dari 2/3 responden mengalami keluhan selama haid dengan keluhan terbanyak
adalah dismenorrhoea.
4. Onset usia menars terjadi dari umur 8 s/d 14 tahun dengan frekuensi terbanyak pada
usia antara 11 s/d 12 tahun, dengan rata-rata sebesar 11,5 tahun.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hanafiah, Y., Haid dan Siklusnya dalam Ilmu Kandungan Edisi Kedua, Editor :
Hanifa Wiknjosatro, Suradji Sumapraja dan Abdul Bari Saifuddin. Yayasan Bina
Pustaka Prawirohardjo, Jakarta, 1995, hal. 64-81.(1)
2. Ganong, WF, The Female Reproductive Systems In : Review of Medical Physiology,
12th Edition. Lange Medical Books/McGraw-Hill Medical Publishing Division, San
Francisco, 2001, pp. 405-433.(2)

3. Guyton, AC and Hall, JE., Female Physiology Before Pregnancy; and The Female
Hormones In : Text Book of Medical Physiology, 10th Edition. W.B. Saunders
Company, Philadelphia, 2000, hal. 1017-1033. (3)
4. Salamonsen, LA., Current Conseps of The Mecahanisms of Menstruation : A Normal
Process of Tissue Destruction. Trends in Endocrinology and Metabolism, 1998 , pp.
305-309. (4)
5. Sherwood, L., Female Reproductive Physiology In : Human Physiology From Cells to
Systems. 4th Edition, Brooks/Cole, 2001: pp. 734-766.(5)
6. Vander, A., Sherman, J., and Luciano, D, Female Reproductive Physiology In :
Human Physiology : The Mechanisms of Body Function, 8th Edition. McGraw-Hill,
Boston, 2001: pp. 649-685.(6)
7. Pritchard, JA., MacDonald, PC., and Gant, NF., Endometrium dan Menstruasi Hal-hal
yang Unik dalam Obstetri Williams, 17th Edition. Penerjemah : R. Hariadi, R. Prajitno
Prabowo dan Soedarto, Airlangga University Press, 1991, hal. 73-87.(7)
8. Freedman, DS., Khan, LK., Serdula, MK., Dietz, WH., Srinivasan, SR., Berenson, GS.,
Relation of Age at Menarche to Race, Time Periode, and Anthropometric Dimensions:
The Bogalusa Heart Study, Pediatrics Vol. 110 No. 4 October 2002, pp. e43.
9. Laitinen, J., Power , C., and Jrvelin, MR., Family social class, maternal body mass
index, childhood body mass index, and age at menarche as predictors of adult obesity,
American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 74, No. 3, September 2001: 287-294.