Anda di halaman 1dari 8

Portofolio Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

Nama Peserta : Rigel Kent Paat


Nama Wahana : Puskesmas Kawangkoan
Topik : Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Tanggal (kasus) : 14 05 - 2015
Tanggal presentasi :

Nama Pendamping : dr. Sandra Lintuuran, M.Kes

Tempat Presentasi :
Obyektif presentasi :
KKeilmua

KKeterampila

PPenyegaran
n
n
DDiagnost
MManajemen MMasalah
ik
NNeonat BBay AAn RRemaj
us
i
ak
a

TTinjauan pustaka
IIstimewa

DDewas LLansi
BBumil
a
a

Deskripsi : Laki-laki, 43 tahun, keluhan utama pusing berputar.


Tujuan : mengidentifikasi penyebab, perjalanan penyakit, gejala, diagnosis dan tatalaksana dari Benign Paroxysmal Positional Vertigo

(BPPV)
Bahan bahasan :
Cara membahas

TTinjauan pustaka
DDisku

si

RRise

t
PPresentasi dan
diskusi

KKas

us
EEma
il

AAudit
PPos

Data pasien

Nama : Tn. F. S

Nama klinik : Puskesmas Kawangkoan

Pekerjaan : PNS

Terdaftar sejak :
14-05-2015

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis / gambaran klinis : Keadaan umum tampak sakit dengan keluhan pusing berputar. Pusing berputar dialami penderita sejak 3
hari yang lalu. Pusing timbul mendadak dan terasa hilang timbul. Pusing terasa apabila membuka mata dan ada perubahan posisi
kepala. Mual/muntah juga dialami penderita dengan frekuensi lebih dari 4 kali. Badan terasa lemah.
2. Riwayat penyakit dahulu : Hipertensi, DM disangkal pasien
3. Riwayat pengobatan : Pasien belum pernah minum obat sebelumnya
4. Riwayat kesehatan / penyakit : Pasien tidak pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya
5. Riwayat keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini
6. Riwayat pekerjaan : pasien bekerja sebagai PNS.
7. Kondisi kebiasaan : 8. Lain-lain : (PEMERIKSAAN FISIK, PEMERIKSAAN LABORATORIUM, dan TAMBAHAN YANG ADA, sesuai dengan
FASILITAS WAHANA)
a. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Tampak sakit
Kesadaran

: Kompos mentis

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 82 x/m

Respirasi

: 20 x/m

Suhu badan

: 36,30 C

Kepala

: konjungtiva anemis (-), Sklera Ikterik (-)

Thoraks

: cor : Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak


Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi : batas kanan : ICS III-IV Linea parasternalis dekstra
Auskultasi : S I-II normal, bising (-)
Pulmo : Inspeksi

: Simetris, Retraksi (-)

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: sonor kanan = kiri

Auskultasi : Rhonki -/-, Wheezing -/Abdomen : Datar. Lemas, BU (+) Normal, NTE (+)
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)
Daftar pustaka :
Bashiruddin J, vertigo posisi paroksisimal jinak, dalam : Soepardi EA, Iskandar N editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Edisi keenam. Jakarta : Balai Penerbit FK-UI. 2007. Hal 104-109
Li J, Benign paroxysmal positioning vertigo. Diakses dari www.emedicine.com.
Lumantobing SM. Vertigo Tujuh Keliling. Edisi Pertama. Jakarta Balai Penerbit FK-UI. 1996.
Riyanto B. Vertigo : Aspek Neurologi Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran no. 144.2014. hal 41-46

Hasil Pembelajaran :
1.
2.
3.
4.

Diagnosis Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV).


Identifikasi etiologi dari Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Mekanisme perjalanan penyakit Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Penanganan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

1. Subjektif
Keluhan Utama : Pusing Berputar
Riwayat penyakit sekarang : Pusing berputar dialami penderita sejak 3 hari yang lalu. Pusing timbul mendadak dan terasa hilang
timbul. Pusing terasa apabila membuka mata dan ada perubahan posisi kepala. Mual/muntah juga dialami penderita dengan frekuensi
lebih dari 4 kali. Badan terasa lemah.
2. Objektif
Keadaan umum

: Tampak sakit

Kesadaran

: Kompos mentis

TD : 110/70 mmHg, Nadi : 82 x/m, Respirasi : 20 x/m, Suhu badan : 36,30C,


Kepala

: konjungtiva anemis (-), Sklera Ikterik (-)

Thoraks

: cor : Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak


Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi : batas kanan : ICS III-IV Linea parasternalis dekstra
Auskultasi : S I-II normal, bising (-)

Pulmo : Inspeksi

: simetris kanan=kiri, retraksi (-)

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: sonor kanan = kiri

Auskultasi : Rhonki -/-, Wheezing -/Abdomen : Datar. Lemas, BU (+) Normal, NTE (+)
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)

3. Assesment
Vertigo berasal dari bahasa latin vertere yang artinya memutar-merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa
keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan gangguan sistem kesimbangan.
Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) didefinisikan sebagai vertigo dengam nistagmus vertical, horizontal, atau rotatoar
yang dicetuskan oleh perubahan posisi kepala.
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Beberapa kasus BPPV dijumpai setelah mengalami jejas atau trauma kepala atau
leher, infeksi telinga tengah, dan proses degenerasi pada telinga dalam.
BPPV terjadi secara tiba-tiba. Kebanyakan pasien menyadari saat bangun tidur, ketika berubah posisi dari berbaring menjadi duduk.
Pasien merasakan pusing berputar yang lama kelamaan berkurang dan menghilang. Pada banyak kasus, BPPV dapat mereda sendiri

namun berulang dikemudian hari. Bersamaan dengan perasaan pusing berputar, pasien dapat mengalami mual dan muntah. Sensasi ini
dapat timbul lagi bila kepala dikembalikan pada posisi semula.
Pada telinga dalam terdapat 3 kanalis semisirkularis. Ketiga kanalis semisirkularis tersebut terletak pada bidang yang saling tegak
lurus satu sama lain. Pada pangkal

soetiap

kanalis semisirkularis terdapat bagian yang melebar yakni ampula. Didalam ampula terdapat

kupula, yakni alat untuk mendeteksi gerakan cairan dalam kanalis semisirkularis akibta gerakan kepala. Sebagai contoh bila seorang
menggerakan kepalanya kearah kanan, maka cairan dalam kanalis semisirkularis akan mengurangi atau bahkan menimbulkan defleksi
kupula kearah sebaliknya dari arah gerakan kepala yang sebenarnya. Hal ini menimbulkan sinyal yang tidak sesuai dengan arah gerakan
kepala, sehingga timbul sensasi berupa vertigo.
Diagnosis BPPV pada kanalis posterior dan anterior dapat ditegakkan dengan memprovokasi dan mengamati respon nistagmus
yang abnormal dan respon vertigo kanalis semisirkularis yang terlibat. Pemeriksaan dapat memilih perasat Dix-Hallpike atau Sidelying.
1. Pemeriksaan Dix-Hallpike
Merupaka pemeriksaaan klinis standar untuk pasien BPPV. Pasien duduk tegak pada meja pemeriksaan dengan kepala menoleh
4500 ke kanan atau ke kiri. Dengan cepat pasien dibaringkan dengan kepala tetap miring 450 ke kanan atau ke kiri sampai
kepala pasien menggantung 20-300 pada ujung meja pemeriksaan, tunggu 40 detik sampai respon abnormal timbul. Penilaian
respon pada monitor dilakukan selama kurang lebih 1 menit atau sampai respon menghilang.
2. Perasat Sidelying
Pasien duduk pada meja pemeriksaan dengan kaki menggantung di tepi meja, kepala ditegakkan ke sisi kanan, tunggu 40 detik
sampai timbul respon abnormal. Pasien kembali ke posisi duduk untuk dilakukan perasat sidelying kiri, pasien secara cepat
dijatuhkan ke sisi kiri dengan kepala ditolehkan 450 ke kanan. Tunggu 40 detik sampai timbul respon abnormal.

Penatalaksanaan BPPV meliputi observasi, oabt-obatan untuk menekan fungsi vestibuler, reposisi kanalis dan pembedahan. Dasar
pemilihan tatalaksana berupa observasi adalah akrena BPPV dapat mengalami resolusi sendiri dalam waktu mingguan atau bulanan.
Obat-obat penekan fungsi vestibuler pada umumnya tidak menghilangkan vertigo, tetapi dapat mengurangi timbulnya nistagmus akibat
ketidakseimbangan system vestibuler. Obat-obat yang diberikan diantaranya diazepam dan amitriptilin. Betahistin sering digunakan pada
terapi vertigo. Betahistin adalah golongan antihistamin yang diduga meningkatkan sirkulasi darah ditelinga dalam dan mempengaruhi
fungsi vestibuler melalui reseptor H3.

4. Plan
Diagnosis : Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Pengobatan :
o Ranitidine 2 x 1 tablet
o Betahistin masilate 3x6 mg tab
o Neurodex 2x1 tab
o Domperidon 10 mg 3x1 tab
Pendidikan :
o Memberikan edukasi pasien mengenai faktor penyebab vertigo dan penatalaksanaan awal yang tepat.