Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

I.I

Latar Belakang
Patah tulang (fraktur) adalah putusnya kontinuitas tulang, Tulang rawan

sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial yang
pada umumnya disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan
pada tulang, baik berupa trauma langsung dan tidak langsung.
Fraktur femur memiliki arti yang luas dan dimulai dari stress fraktur femur
hingga fraktur yang berkaitan dengan trauma berat dan luka jaringan lunak yang
signifikan.

Fraktur femur secara khusus dideskripsikan berdasarkan lokasi

(proksimal, batang dan distal).

Fraktur ini kemudian dapat dikategorikan ke

dalam 3 kelompok mayor; fraktur trauma tekanan tinggi, fraktur trauma tekanan
rendah akibat patologi tulang (fraktur patologi), dan stress fraktur akibat kegiatan
repetitif yang berlebihan.
Insidensi fraktur batang femur berentang dari 9.5 hingga 18.9 per 100.000
per tahun. Di Amerika Serikat, terjadi sekitar 250.000 fraktur femur proksimal per
tahunnya. Angka ini diantisipasi menjadi dua kali lipat pada tahun 2050.
Sedangkan insidensi fraktur distal femur ditemukan 10 kali lebih kecil daripada
insidensi fraktur proksimal femur yang terjadi di Eropa. Selama tahun 19801989, diperkirakan 34.000 fraktur femur dilaporkan dan hanya 6% (2.165) dari
kasus yang melibatkan femur bagian distal.
Insidensi fraktur femur meningkat pada pasien dengan usia lanjut. Pada
pasien dengan usia lanjut ini, fraktur femoral mungkin disebakan oleh kondisi
osteopenik. Fraktur akibat trauma tekanan tinggi merupakan penyebab utama
fraktur pada laki-laki muda. Fraktur akibat stress terjadi pada 37% pelari, dan
fraktur femur terjadi pada 11% dari fraktur akibat stress tersebut. Sekitar 53%
dari fraktur tersebut terjadi pada batang femur. Pria memiliki ratio lebih besar
dibandingkan wanita pada setiap usia dan kulit hitam memiliki ratio yang lebih
besar dibandingkan kulit putih.

Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah suatu fraktur dengan
atau tanpa dislokasi yang tidak ditangani atau ditangani dengan tidak semestinya
sehingga menghasilkan keadaan keterlambatan dalam penanganan, atau kondisi
yang lebih buruk dan bahkan kecacatan. Menurut Subroto Sapardan, neglected
fracture adalah penanganan patah tulang pada extremitas (anggota gerak) yang
salah oleh bone setter (dukun patah), yang masih sering dijumpai di masyarakat
Indonesia. Pada umumnya neglected fracture terjadi pada orang yang
berpendidikan dan berstatus sosio-ekonomi rendah.
Delayed union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3-5
bulan (3 bulan untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak bawah).
Nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6-8 bulan dan tidak didapatkan
konsolidasi sehingga terdapat pseudoatrosis (sendi palsu). Malunion adalah
keadaan dimana fraktur menyembuh pada saatnya , tetapi terdapat deformitas
yang berbentuk angulasi, varus/valgus, rotasi, kependekan atau union secara
menyilang misalnya pada fraktur radius dan ulna.
Penanganan fraktur yang tidak tepat atau bahkan terabaikan tentu saja
akan memberikan prognosis yang kurang baik bahkan kecatatan pada pasien
sehingga penting untuk diketahui lebih lanjut bagaimana fraktur, kejadian
neglected fracture dan bagaimana penanganan fraktur yang semestinya yang akan
lebih lanjut dibahas pada laporan kasus ini.

BAB II
2

LAPORAN KASUS
A. Identitas Pasien
Nama

: Tn. S.

Umur

: 56 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Pagar Alam

Agama

: Islam

Status perkawinan : Menikah


No. RM

: 314551

Status pasien

: BPJS Umum

B. Anamnesis
Autoanamnesis (Dilakukan tanggal 9 September 2015)
Keluhan Utama :
Pasien datang dengan keluhan pincang pada ekstremitas bawah kanan.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluhkan pincang selama 4 tahun terakhir. Pasien mengatakan 4
tahun yang lalu mengalami kecelakaan yaitu tertabrak motor. Sebelumnya
pasien sudah memeriksakan diri ke Rumah Sakit Muara Enim dan sudah
disarankan untuk dioperasi namun pihak keluarga lebih memilih untuk
melakukan pengobatan ke tukang urut.

Pasien mengatakan panjang

ekstremitas bawah kiri dan kanan berbeda lebih dari 4 cm.


Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien tidak pernah merasakan keluhan yang seperti ini sebelumnya.
Penyakit asma, hipertensi dan DM disangkal oleh pasien.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat penyakit asma, hipertensi dan DM disangkal.
Riwayat Pengobatan :
3

Pasien melakukan pengobatan di tukang ururt. Pasien tidak mengkonsumsi


obat-obatan tertentu.
Riwayat Operasi :
Pasien belum pernah dioperasi.
Riwayat Alergi :
Alergi obat dan makanan disangkal
C. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum / Kesadaran : Tampak sakit sedang / Compos Mentis
Tanda Vital :
- TD : 130/90 mmHg

- Nadi : 84 kali/menit

- Suhu : 36,8C

- RR : 20 kali/menit

Status Generalis
Kepala

: Mesocephal

Mata

: Pupil isokor kanan dan kiri, konjungtiva anemis -/-, sclera


ikterik -/-

Mulut

: Bibir kering, pucat, sianosis (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Thoraks

Jantung : BJ I & II reguler, gallop (-), murmur (-)

Pulmo : Suara dasar vesikuler, wheezing (-), rhonchi (-)

Abdomen

: Bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (-)

Ekstremitas :
-

Atas : akral hangat, edema (-), CRT < 2 detik

Bawah : terdapat bebat pada kaki kanan. Akral hangat, edema (-), CRT
< 2 detik

D. Pemeriksaan Penunjang
4

Tanggal : 03-09-2015
Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hb
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
RDW
Tombosit
PDW
MPV
Limfosit%
Monosit%
Neutrophil%
Eosinophyl %
Basophyl%
Gol. Darah
W. Pembekuan
W. Pendarahan
SGOT
SGPT
Ureum
Kreatinin
BSS

Hasil

Nilai Rujukan

Satuan

14.2
7.37
4.60
42.0
91.3
30.9
33.8
13.2
231
10.5
8.9
25.4
7.6
62.4
4.2
0.4
O
5
2
21
17
17
1.2
149

12-16
4-10
4.7-6.1
42-52
82.0-92.0
>= 27
32-36
11.5-14.5
150-400
9.0-13.0
7.2-11.1
25-40
2-8
50-70
2-4
0-1

g/dL
103/uL
106/uL
%
fL
pg
g/dL
%
103/uL
fL
fL
%
%
%
%
%

0-35
0-45
15-45
0.6-1.3
<140

UI
mg%
mg%
mg%
mg%

Pemeriksaan X-Ray
Foto Femur dextra (02-09-2015)

Ekspertisi : non union fraktur os femur kanan 1/3 distal.


Genu dextra AP lateral (28-8-2015)

Ekspertisi :
-

Old fracture os femur pars sepertiga distal, aposisi dan alignment kurang

Osteoporosis

Osteoarthritis genu dextra

E. Diagnosis Kerja
Non Union Fraktur Femur Dextra + Osteoporosis
F. Rencana Tindakan
1. ORIF
2. Traksi skelet
G. Prognosis
Quo ad Vitam

: dubia ad bonam

Quo ad Sanationam

: dubia ad bonam

Quo ad Functionam

: dubia

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
III.1. Fraktur
III.1.1 Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.
III.1.2 Klasifikasi
7

Fraktur dapat dibagi menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang
dengan dunia luar, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka.
Deraja
t
0
1
2
3

Deskripsi Luka
Fraktur sederhana tanpa/disertai dengan sedikit kerusakan jaringan
lunak
Fraktur disertai dengan abrasi superfisial atau luka memar pada
kulit dan jaringan subkutan
Fraktur yang lebih berat dibandingkan derajat 1 yang disertai
dengan kontusio dan pembengkakan jaringan lunak
Fraktur berat yang disertai dengan kerusakan jaringan lunak yang
nyata dan terdapat ancaman terjadinya sindrom kompartemen.
Tabel 1. Derajat fraktur tertutup menurut Tscherne

Deraja
t

Deskripsi Luka
Laserasi < 1 cm

Kerusakan jaringan tidak berarti


Luka relatif bersih
Laserasi > 1 cm

II

Tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau avulsi


Ada kontaminasi
Luka lebar dan rusak hebat, atau hilangnya jaringan di sekitarnya
Kontaminasi hebat

III

Derajat IIIA : tulang yang fraktur masih ditutupi oleh jaringan


lunak
Derajat IIIB : terdapat periosteal stripping yang luas dan
penutupan luka dilakukan dengan flap lokal atau flap jauh
Derajat IIIC : fraktur disertai kerusakan pembuluh darah

Tabel 2. Derajat fraktur terbuka menurut klasifikasi Gustilo dan Anderson.


Fraktur juga dapat dibagi menurut garis frakturnya, misalnya fisura,
fraktur oblique, fraktur transversal, fraktur kominutif, fraktur segmental, fraktur
greenstick dan lain-lain.

Gambar 1. Klasifikasi fraktur berdasarkan garis fraktur


III.1.3 Proses Penyembuhan Fraktur
Proses penyembuhan patah tulang atau fraktur adalah proses biologis
alami yang akan terjadi pada setiap fraktur, tidak peduli apa yang telah dikerjakan
dokter pada patahan tulang tersebut.
Pada permulaan akan terjadi perdarahan oleh terputusnya pembuluh darah
pada tulang dan periost. Fase ini disebut fase hematoma. Hematom ini kemudian
akan menjadi medium pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler hingga
hematom berubah menjadi jaringan fibrosis dengan kapiler di dalamnya. Jaringan
ini yang menyebabkan fragmen tulang saling menempel. Fase ini disebut fase
jaringan fibrosis dan jaringan yang menempelkan fragmen patahan tulang tersebut
dinamakan kalus fibrosa. Ke dalam hematom dan jaringan fibrosis ini kemudian
juga tumbuh sel jaringan mesenkim yang bersifat osteogenik.

Sel ini akan

berubah menjadi sel kondroblast yang membentuk kondroid yang merupakan


bahan dasar tulang rawan, sedangkan di tempat yang jauh dari patahan tulang
yang vaskularisasinya relatif banyak, sel ini berubah menjadi osteoblast dan
membentuk osteoid yang merupakan bahan dasar tulang. Kondroid dan osteoid
ini mula-mula tidak mengandung kalsium sehingga tidak terlihat pada foto
Rontgen. Pada tahap selnajutnya terjadi penulangan atau osifikasi. Kesemuanya
ini menyebabkan kalus fibrosa berubah menjadi kalus tulang. Pada foto Rontgen,
proses ini terlihat seperti bayangan radio-opak, tetapi bayangan garis patah tulang
masih terlihat. Fase ini disebut fase penyatuan klinis.

Selanjutnya, terjadi

pergantian sel tulang secara berangsur-angsur oleh sel tulang yang mengatur diri
sesuai dengan garis tekanan dan tarikan yang bekerja pada tulang.

Akhirnya sel tulang ini mengatur diri secara lamelar seperti sel tulang
normal. Kekuatan kalus ini sama dengan kekuatan tulang biasa dan fase ini
disebut fase konsolidasi.

Gambar 2. Proses penyembuhan fraktur


III.2. Fraktur Femur
III.2.1 Definsi
Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat
disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti
degenerasi tulang /osteoporosis.

III.2.2 Anatomi Femur


Femur adalah tulang terpanjang dan terberat dari tubuh. Femur terdiri dari
bagian proksimal, corpus dan distal. Bagian proksimal femur terdiri dari caput,
collum, trochanter major dan trochanter minor. Bagian caput merupakan lebih
kurang dua per tiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae
membentuk articulatio coxae. Caput femur dilapisi oleh kartilago articular kecuali
bagian medial yang diganti dengan cekungan/fovea yang merupakan tempat
perlekatan ligamentum dari caput. Sebagian suplai darah untuk kaput femoris
10

dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. Diantara
trochanter

major dan minor terdapat linea intertrochanterica. Collum femur

berbentuk trapezoidal.
Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia
licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya
terdapat rabung, linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah.
Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai krista suprakondilaris medialis menuju
tuberkulum adduktorum pada condylus medialis. Tepian lateral menyatu ke bawah
dengan krista suprakondylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur,
di bawah trokanter mayor terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah
berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan
membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia
poplitea.
Bagian distal femur terbagi menjadi dua oleh lengkungan spiral menjadi
condylus medial dan lateral. Condilus femoral ini membentuk sendi dengan
condilus tibia dan disebut articulation genu.
Vaskularisasi femur berasal dari arteria iliaka komunis kanan dan kiri. Saat
arteri ini memasuki daerah femur maka disebut sebagai arteri femoralis. Tiap-tiap
arteri femoralis kanan dan kiri akan bercabang menjadi arteri profunda femoris,
rami arteria sirkumfleksia femoris lateralis asenden, rami arteria sirkumfleksia
femoris lateralis desenden, arteri sirkumfleksia femoris medialis dan arteria
perforantes. Perpanjangan dari arteri femoralis akan membentuk arteri yang
memperdarahi daerah genus dan ekstremitas inferior yang lebih distal. Aliran
balik darah menuju jantung dari bagian femur dibawa oleh vena femoralis kanan
dan kiri.

11

Gambar 3. Anatomi Femur

Gambar 3. Vaskularisasi Femur


III.2.3 Epidemiologi

12

Fraktur femur biasanya diklasifikasikan berdasarkan lokasi yaitu


subtrochanter, batang femur (sepertiga proximal, sepertiga medial dan sepertiga
distal), supracondilar dan fisis femur distal. Kebanyakan fraktur terjadi pada
sepertiga media. Menurut Hinton et al, fraktur batang femur pada anak-anak
mencapai 19.15 per 100.000 kasus per tahunnya. Dengan usia puncak pada 2
tahun dan 17 tahun. Pria memiliki ratio lebih besar dibandingkan wanita pada
setiap usia dan kulit hitam memiliki ratio yang lebih besar dibandingkan kulit
putih.
III.2.4 Etiologi
Penyebab dari fraktur femur disebabkan oleh trauma, keadaan patologi dan
kelelahan atau stress fraktur.
-

Trauma
Trauma akibat tertabrak dengan kendaraan
Olahraga (adanya kontak dengan kecepatan tinggi atau kecelakaan
olahraga dengan trauma langsung seperti ski, sepak bola, hoki).
Jatuh
Luka tembak

Keadaan patologik
Penyakit metabolik tulang
Tumor primer tulang
Metastasis tumor
Infeksi
Penggunaan biphosphonate berkepanjangan
Stress fraktur
Dampak gerakan repetitif seperti berlari (jogging) dan melompat
Amenorrhea atau oligomenorrhea pada pelari wanita
Latihan yang tidak tepat
Pemakaian alas kaki yang tidak tepat

III.2.5 Gambaran Klinis


Gambaran klinis pada pasien yang mengalami fraktur femur yaitu nyeri
hebat ditempat fraktur dan tidak dapat menggerakkan ekstremitas bawah.

13

Melalui pemeriksaan fisik, didapatkan tanda berupa nyeri tekan dan


deformitas. Ekstremitas mungkin terlihat memendek dan adanya krepitasi yang
dirasakan saat pergerakan. Terjadi pembengkakan dikarenakan hematom. Akibat
banyaknya pembuluh darah yang memperdarahi otot di femur, fraktur diafisis
berkaitan dengan kehilangan darah yang signifikan (1 L atau lebih) dan hal ini
menyebabkan takikardi dan hipotensi. Tes fungsi neurologi distal pada
pemeriksaan fisik sulit dinilai karena adanya nyeri yang berkaitan dengan fraktur.
Cedera saraf jarang terjadi karena terlindungi oleh otot.
III.2.6 Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan, namun apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar
dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.

Setelah terjadi

fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.

Perdarahan terjadi karena

kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan


tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami
nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan
vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. ini
merupakan dasar penyembuhan tulang.
III.2.7 Diagnosis
-

Anamnesis
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis. Trauma
harus diperinci kapan terjadinya, di mana terjadinya, jenisnya, berat-ringan
trauma, arah trauma, dan posisi pasien atau ekstremitas yang bersangkutan
(mekanisme trauma). Jangan lupa untuk meneliti kembali trauma di tempat
lain secara sistematik dari kepala, muka, leher, dada, dan perut (Mansjoer,
2000).

Pemeriksaan Umum

14

Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur


multipel, fraktur pelvis, fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur
terbuka yang mengalami infeksi
-

Pemeriksaan Fisik
Menurut Rusdijas (2007), pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk
fraktur adalah:
Look (inspeksi): bengkak, deformitas, kelainan bentuk.
Feel/palpasi: nyeri tekan, lokal pada tempat fraktur.
Movement/gerakan: gerakan aktif sakit, gerakan pasif sakit krepitasi.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang penting untuk dilakukan adalah
pencitraan menggunakan sinar Rontgen (X-ray) untuk mendapatkan
gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang, oleh karena itu
minimal diperlukan 2 proyeksi yaitu antero posterior (AP) atau AP lateral.
Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) atau
indikasi untuk memperlihatkan patologi yang dicari, karena adanya
superposisi. Untuk fraktur baru indikasi X-ray adalah untuk melihat jenis
dan kedudukan fraktur dan karenanya perlu tampak seluruh bagian tulang
(kedua ujung persendian).

III.2.8 Terapi
Tujuan pengobatan fraktur adalah untuk menempatkan ujung-ujung dari
patah tulang supaya satu sama lain saling berdekatan, selain itu menjaga agar
tulang tetap menempel sebagaimana mestinya. Proses penyembuhan memerlukan
waktu minimal 4 minggu, tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan waktu
yang lebih lama. Setelah sembuh, tulang biasanya kuat dan kembali berfungsi
(Corwin, 2010).
Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk
melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan
(breathing), dan sirkulasi (circulating), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah
dinyatakan tidak ada masalah lagi , baru lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik
15

secara terperinci. Waktu terjadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk


mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat golden period 1-6 jam , bila
lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisis secara cepat, singkat dan lengkap. Kemudian, lakukan foto
radiologis. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan
mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain
memudahkan proses pembuatan foto.
Penatalaksanaan fraktur telah banyak mengalami perubahan dalam waktu
sepuluh tahun terakhir ini. Traksi dan spica casting atau cast bracing mempunyai
banyak kerugian karena waktu berbaring lebih lama, meski pun merupakan
penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak. Oleh karena itu tindakan ini
banyak dilakukan pada orang dewasa.
Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat
dimobilisasi dengan salah satu cara dibawah ini:

Traksi
Beberapa tulang, misalnya femur mempunyai otot yang kuat sehingga
diperlukan reposisi sekaligus imobilisasi dengan traksi. Tujuan traksi adalah
untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk
memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan. Traksi dapat
berupa traksi kulit atau traksi tulang.

Setiap traksi harus disertai

kontraktraksi. Kontratraksi biasanya dengan berat badan pasien itu sendiri,


yaitu dengan cara meninggikan bagian ekstremitas yang di traksi.
Traksi kulit biasanya menggunakan plester yang direkatkan sepanjang
ekstremitas yang kemudian dibalut, ujung plester dihubungkan dengan tali
untuk ditarik. Penarikan biasanya dilaksanakan dengan katrol dan beban.
Beban tarikan pada traksi kulit tidak boleh melebihi lima kilogram karena bila
lebih, kulit dapat mengalami nekrosis akibat tarikan karena iskemia kulit.
Pada kulit yang tipis, beban bahkan lebih kecil lagi dan pada orang tua tidak
boleh dilakukan traksi kulit.
Traksi skelet dilaksanakan dengan pin Steinmann atau kawat Kirschner
yang lebih halus yang biasanya disebut kawat K yang ditusukkan pada tulang,
kemudian pin tersebut ditarik dengan tali, katrol dan beban. Pin Steinmann
16

dapat ditusukkan pada femur suprakondiler atau pada bagian proksimal tibia
pada patah tulang femur. Traksi untuk reposisi patah tulang femur dewasa
biasanya 5-7 kg, pada dislokasi lama panggul bisa sampai 15-20 kg.
Lama traksi, baik traksi kulit maupun traksi skelet, bergantung pada
tujuan traksi. Traksi sementara untuk imobilisasi biasanyahanya beberapa
hari, sedangkan traksi untuk reposisi beserta imobilisasi lamanya sesuai
dengan lama terjadinya kalus fibrosa.

Setelah terjadi kalus fibrosa,

ekstremitas dimobilisasi dengan gips.

Fiksasi interna
Fiksasi interna dilakukan dengan pembedahan untuk menempatkan
piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang. Fiksasi interna
merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan patah tulang
disertai komplikasi (Djuwantoro, 1997).
Indikasi fiksasi interna :
-

Tidak dapat direposisi kecuali melalui operasi

Fraktur tidak stabil dan cenderung displaced setelah reposisi (fraktur midshaft antebrachii, fraktur ankle)

Fraktur yang berlawanan posisi dengan gerak otot (fraktur transversal


patella, fraktur transversa olecranon)

Fraktur yang memiliki waktu penyatuan yang lama dan sulit menyatu
(fraktur collum femoris)

Fraktur patologis (penyembuhan tulang akan menghambat penyembuhan)

Fraktur multiple dimana fiksasi segera (internal fiksasi dan eksternal


fiksasi) dapat menurunkan risiko komplikasi umum dan multi organ
failure

Fraktur pada penderita dengan asuhan keperawatan sulit (paraplegia,


pasien geriatri).

Pembidaian

17

Pembidaian adalah suatu cara pertolongan pertama pada cedera/


trauma sistem muskuloskeletal untuk mengistirahatkan (immobilisasi) bagian
tubuh kita yang mengalami cedera dengan menggunakan suatu alat yaitu
benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.

Pemasangan Gips atau Operasi Dengan ORIF


Gips adalah suatu bubuk campuran yang digunakan untuk
membungkus secara keras daerah yang mengalami patah tulang. Pemasangan
gips bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak
bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara
mengimobilisasi tulang yang patah tersebut.

III.3

Neglected Fraktur
Neglected fraktur adalah yang penanganannya lebih dari 72 jam. sering

terjadi akibat penanganan fraktur pada extremitas yang salah oleh bone setter.
Umumnya terjadi pada yang berpendidikan dan berstatus sosioekonomi yang
rendah. Neglected fraktur dibagi menjadi beberapa derajat, yaitu:

Derajat 1 : fraktur yang telah terjadi antara 3 hari -3 minggu

Derajat 2 : fraktur yang telah terjadi antara 3 minggu -3 bulan

18

Derajat 3 : fraktur yang telah terjadi antara 3 bulan 1 tahun

Derajat 4 : fraktur yang telah terjadi lebih dari satu tahun.

BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien datang dengan keluhan pincang pada ekstremitas bawah kanan.


Keluhan ini sudah dirasakan selama 4 tahun terakhir. Pasien mengatakan 4 tahun
yang lalu mengalami kecelakaan yaitu tertabrak motor. Sebelumnya pasien sudah
memeriksakan diri ke RS dan disarankan untuk dioperasi namun pihak keluarga
19

lebih memilih untuk melakukan pengobatan ke tukang urut. Pasien mengatakan


panjang ektremitas bawah kiri dan kanan berbeda lebih dari 4 cm.
Dari anamnesis didapatkan adanya riwayat trauma berupa kecelakaan yang
menyebabkan pasien mengalami fraktur femur 1/3 distal, namun pasien tidak
menjalani pengobatan secara medis dan malah pergi ke tukang urut. Pasien
mengatakan pada ekstremitas bawah kanan pasien lebih pendek beberapa
sentimeter dibandingkan dengan ekstremitas bawah kiri pasien, hal ini
menandakan adanya suatu deformitas. Berdasarkan referensi pada pembahasan
sebelumnya maka kasus ini memenuhi kriteria neglected fraktur derajat 4 yakni
fraktur yang terjadi lebih dari satu tahun.
Pada pasien dilakukan pemeriksaan fisik pada ekstremitas bawah kanan
dan didapatkan hasil adanya pemendekan. Kemudian pada pasien juga dilakukan
pemeriksaan foto rontgen pada ekstremitas bawah kanannya (femur dan genu),
dan didapatkan hasil adanya non union fraktur os femur kanan 1/3 distal dengan
aposisi dan alignment yang kurang baik, osteoporosis dan adanya osteoarthritis
genu dextra. Hal ini terjadi karena pasien hanya berobat ke dukun tulang tanpa
dilakukan reposisi terlebih dahulu pada ektremitas bawah kanannya.
Dari hasil pemeriksaan dapat disimpulkan pada pasien terjadi fraktur yang
terjadi 4 tahun yang lalu, adanya diagnosis fraktur diambil dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang yang menunjukkan penyatuan
tulang yang tidak baik/tidak menyatu seperti seharusnya pada femur kanan (non
union), dengan aposisi dan alignment yang kurang baik sehingga ektremitas
bawah kanan pasien terlihat lebih pendek lebih dari 4 cm dibandingkan
ekstremitas bawah kiri.
Pada pasien ditegakkan diagnosis non union fraktur neglected femur
dextra 1/3 distal dengan osteoporosis dan osteoarthritis genu dextra. Pada kasus
ini terjadi nonunion disebabkan oleh reduksi dan imobilisasi yang tidak adekuat.
Penatalaksanaan pada pasien yaitu dilakukan traksi, yaitu traksi skelet. Hal
ini dilakukan untuk meminimalisir perbedaan panjang antara ekstremitas bawah
kiri dan ekstremitas bawah kanan dan juga untuk memudahkan dilakukannya
reposisi. Baru kemudian dilakukan ORIF (open reduction and internal fixcation)
20

pada ekstremitas bawah kanan pasien. Diharapkan nantinya tulang pasien dapat
menyatu lebih baik dari yang sebelumnya, panjang ekstremitas bawah kanan dan
kiri tidak begitu jauh sehingga keluhan pincang pada pasien dapat berkurang dan
dapat digunakan atau difungsikan sebagaimana mestinya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Romeo, Nicholas. 2015. Femur Injuries and Fracture. Available at :


http://emedicine.medscape.com/article/90779-overview

2.

Sjamsuhidayat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-3. Jakarta :
EGC; 2010.
21

3. Orthopaedic Trauma Association. 2011. Femur Shaft Fractures (Broken


Thighbone).

Available

at

http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?

topic=A00521
4. Orthopaedic Trauma Association. 2011. Distal Femur (Thighbone)
Fractures of the Knee. Available at : http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?
topic=A00526

5.

Apley GA, Solomon L. Buku Ajar Ortophedi dan Fraktur sistem apley .
Edisi ke 9. Jakarta Widia Medika; 2010.

22