Anda di halaman 1dari 2

Perbedaan Muhammadiyah dan NU

Posted on 9 Oktober 2010 oleh randymandalaputra

Tujuan tulisan ringkas adalah memahamai masing-masing kelompok, bukan untuk memperuncing..
Muhammadiyah dan NU adalah organisasi, bukan masalah fiqh. Hanya dalam konteks Indonesia,
Muhammadiyah dan NU adalah mewakili 2 golongan besar umat Islam secara fiqh juga. Muhammadiyah
mewakili kelompok modernis (begitu ilmuwan menyebut), yang sebenarnya ada beberapa organisasi yang
memiliki pandangan mirip seperti Persis (Persatuan Islam), Al-Irsyad, Sumatra Tawalib. Sedang NU (Nahdhatul
Ulama) mewakili kelompok tradisional, selain Nahdhatul Wathan, Jamiatul Washliyah, Perti, dll.
Kedua organisasi memiliki berbagai perbedaan pandangan. Dalam masyarakat perbedaan paling nyata adalah
dalam berbagai masalah furu (cabang). Misalnya Muhamadiyah melarang (bahkan membidahkan) bacaan
Qunut di waktu Shubuh, sedang NU mensunahkan, bahkan masuk dalam abad yang kalau tidak dilakukan harus
melakukan sujud syahwi, dan berbagai masalah lain. (kunjungi masalah khilafiah)
Alhamdulillah, perbedaan pandangan ini sudah tidak menjadikan pertentangan lagi, karena kedewasaan dan
toleransi yang besar dari keduanya.
Pandangan antara keduanya memang berasal dari madrasah (school of thought) berbeda, yang
sesungguhnya sudah terjadi sangat lama. Muhammadiyah (lahir 1914, didirikan oleh KH Ahmad Dahlan) adalah
lembaga yang lahir dari inspirasi pemikir-pemikir modern seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh,
Rasyid Rida (yang sangat rasional) sekaligus pemikir salaf (yang literalis) seperti Ibn Taymiah, Muhammad bin
Abdul Wahab. Wacana pemikiran modern misalnya membuka pintu ijtihad, kembali kepada Quran dan Sunah,
tidak boleh taqlid, menghidupkan kembali pemikiran Islam. Sedang wacana salaf adalah bebaskan takhayul,
bidah dan khurafat (TBC). Tetapi dalam perkembangan yang dominan terutama di grass rootnya adalah
wacana salaf. Sehingga Muhammadiyah sangat bersemangat dengan tema TBC. Yang menjadi masalah,
banyak dari kategori TBC tersebut justru diamalkan di kalangan NU, bahkan dianggap sebagai sunah. Karena
sifatnya yang dinamis, praktis dan rasional, Muhammadiyah banyak diikuti oleh kalangan terdidik dan
masyarakat kota.
Di sisi lain NU (Nahdhatul Ulama, didirikan antara lain oleh KH Hasyim Asyari, 1926), lahir untuk menghidupkan
tradisi bermadzhab, mengikuti ulama. Sedikit banyak kelahiran Muhammadiyah memang memicu kelahiran NU.
Berbeda dengan Muhammadiyah, pengaruh NU sangat nampak di kalangan pedesaan.
Sebenarnya KH A Dahlan dan KH Hasyim Asyari sama-sama pernah berguru kepada Syaikh Ahmad Katib
Minangkabawi, ulama besar madzhab Syafii di Makkah. Ketika bergaung pemikiran Abduh dan muridnya
Rasyid Ridha di Mesir, KH A Dahlan sangat tertarik dan mengembangkannya di Indonesia. Sedang KH Hasyim
Asyari justru kritis terhadap pemikiran mereka
Berikut secara ringkas perbedaan pandangan di antara keduanya:

Masalah
Aqidah
(Keduanya masih dalam
bingkai Ahlu Sunah)
Fiqh

Tasauf/tarikat

Pemikiran yang dominan

NU

Muhammadiyah
Mengikuti paham
Mengikuti paham
salaf/Wahabi* (Ibn Taymiah,
Asyariah/Maturidiah
Muhammad bin Abdul Wahab,
Ibn Qayyim)
Keharusan mengikuti salah Langsung kepada Al-Quran
satu madzhab (terutama
dan Sunah, dan tarjih (memilih
Syafii)
pendapat yang terkuat)
Menolak tasauf dan tariqah
(tetapi banyak yang apresitif
Menerima tasauf, dan tariqah
secara individual dan selektif,
yang mutabar (diakui)
misal HAMKA dengan tasauf
modern-nya)
Ibn Taymiah, Muhammad bin
Pemikir klasik : Asyari, Al- Abdul Wahab, Ibn Qayyim,
Ghazali, Nawawi, dll
Muhammad Abduh, Rasyid
Ridha

* Istilah Wahabi diberikan oleh kelompok lain, mereka sendiri lebih menyukai disebut muwahidin (orang yang
mengesakan)