Anda di halaman 1dari 16

SISTEM PRODUKSI AKUAKULTUR 1

Sumoharjo, S.Pi, M.Si


Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Mulawarman

I. Pendahuluan
Akuakultur adalah sektor produksi pangan yang berkembang cepat dengan
rata-rata pertumbuhan 8.9 % per tahun, jika dibandingkan dengan penangkapan
hanya 1,2 % dan produksi daging hewan darat yang hanya 2.8 % pada periode
yang sama (FAO 2004). Menurunnya stok perikanan laut dunia dan pertumbuhan
populasi manusia adalah harga yang harus dibayar oleh pertumbuhan akuakultur
selanjutnya. Di samping itu, sektor produksi akuakultur masih harus meningkat 5
kali lipat lagi untuk dua dekade berikutnya agar dapat memenuhi kebutuhan
protein minimum untuk nutrisi manusia (FAO 2004 dalam Roselian, et al 2007).
Sistem akuakultur merupakan seperangkat sarana dan prasarana budidaya
yang saling mempengaruhi dan berfungsi secara terpadu, yang mana terdiri atas
subsistem-subsistem seperti; ikan, wadah budidaya, air, pakan, dan berbagai
peralatan penunjang lainnya. Namun kemudian, sistem akuakultur lebih
menekankan pada perbedaan atas media budidaya yang digunakan, karena
pada prinsipnya subsistem lainnya akan berubah mengikuti perubahan media
budidaya yang digunakan tersebut.
Klasifikasi Sistem Akuakultur
Sistem produksi akuakultur secara khusus diklasifikasikan menurut tipe,
kepadatan biomassa ikan dan metode pemberian pakan. Pembagiannya
kemudian didasarkan pada aliran air (lotic atau lentic), dan menekankan pada
derajad proses perbaikan kualitas air yang mengendalikan proses produksi
(Krom et al, 1989 dalam Colt 1991).
Semakin padat biomassa ikan yang dipelihara, semakin banyak dan
semakin canggih teknologi yang digunakan. Oleh karena itu, intensifikasi berarti
tingkat atau derajad teknologi yang digunakan dalam mengontrol sistem produksi
akuakultur sedangkan ekstensifikasi adalah perluasan area akuakultur sehingga
lebih menekankan pada luas badan air (m2) yang digunakan untuk menghasilkan
1

Colt J.1991. Aquaculture production system. Journal of Animal Science. 69:4183-4192.


American Society of Animal Science.

produk akuakultur yang kontrol lingkungannya masih sangat tergantung pada


purifikasi alami (self purification) tanpa ada usaha input teknologi sebagaimana
halnya dalam sistem intensif.
Dengan demikian, sistem intensif dan sistem ekstensif bisa menghasilkan
produk dalam jumlah yang sama, namun perbedaannya terletak pada luas area
yang digunakan dan penggunaan biaya awal. Jika ekstensif lebih banyak biaya
untuk lahan, maka intensif lebih banyak biaya untuk pembelihan teknologi dan
energi yang digunakan, selain itu ekstensif lebih menekankan tentang luas badan
air (m2) sedangkan intensif lebih pada volume air (m3).
Klasifikasi sistem produksi akuakultur menurut Colt (1991) yang didasarkan
atas pola aliran air, meliputi :
1. Kolam

adalah sistem produksi yang paling sederhana, pada kondisi

operasional normal dilakukan penambahan air baru untuk mengganti air yang
hilang akibat evaporasi, evapotranspirasi, dan infiltrasi.
2. Sistem air mengalir (flow-through), di mana ikan dapat dipelihara dengan
kepadatan tinggi. Sistem ini menggunakan air dalam jumlah besar untuk
menghilangkan

limbah.

Biasanya

pre-treatmen

diperlukan

untuk

menghilangkan limbah padat, Fe dan Mg, nitrogen, dan gas karbon dioksida,
atau diberikan oksigen tambahan dengan aerasi. Karena adanya peraturan
tentang lingkungan hidup, maka biasanya post-treatmen juga diperlukan
sebelum air dari unit budidaya dibuang ke perairan umum.
3. Sistem resirkulasi (sistem tertutup), biasanya diperuntukkan pada beberapa
daerah yang terbatas dalam hal sumberdaya air, di mana air yang telah
digunakan untuk produksi akuakultur dapat diolah untuk menghilangkan
limbah metabolit dan kemudian digunakan kembali.
4. Sistem kolam hibrida, yakni di dalam kolam sengaja ditumbuhkan algae atau
tumbuhan air sebagai biofilter untuk menyerap limbah metabolit, sistem ini
biasa dikembangkan untuk akuakultur di daerah tropis.
5. Karamba (cage system) masih dikategorikan sebagai sistem air mengalir
(flow-through) walaupun dibeberapa kawasan dengan peraturan buangan
limbah yang ketat, sistem ini bisa digolongkan sebagai sistem resirkulasi
dengan pengolahan limbah yang minim.

Menurut Colt (1991), berdasarkan tata nama (nomenclature) yang


mengacu pada karakteristik pencampuran hidrolis (hydraulic mixing) dari tipe-tipe
sistem budidaya yang berbeda dapat diklasifikasikan menjadi tiga grup, yakni :
1. Plug-flow reaktor (PFR), dimana air mengalir melalui unit budidaya secara
datar tanpa pencampuran longitudinal, sehingga limbah metabolit seperti
amonia meningkat secara linear sepanjang arah longitudinal. Sistem ini
biasanya digunakan dalam budidaya ikan salmon dan trout.
2. Continuous-flow stirred tank reaktor (CFSTR), secara ideal pada sistem ini air
teraduk dan bercampur seluruhnya ke dalam unit budidaya sehingga
konsentrasi efluen limbah metabolit seperti amonia sama dengan konsentrasi
limbah di dalam unit budidaya. Contoh dari sistem ini adalah bak bundar,
kurangnya sudut kemiringan bak budar merupakan keuntungan dari sistem
produksi dengan intensitas tinggi (Colt dan Watten, 1988).
3. Arbitrary-flow reaktor (AFR) dimana pencampuran air dalam sistem (kolam)
lebih disebabkan oleh pengaruh suhu, fotosintesis, reaksi kimia di sedimen,
dan gerakan angin. Proses ini cenderung menghasilkan stratifikasi kimia dan

suhu secara vertikal. Gerakan angin cenderung mengaduk air kolam, tetapi
juga dapat menyebabkan gradien horisontal secara signifikan
Meskipun semua sistem ini masih penting untuk didiskusikan, namun
semuanya masih eksis digunakan dalam aktifitas akuakultur, tentu saja hal ini
tergantung pada kondisi kawasan dan investasi dalam usaha akuakultur.

PERTIMBANGAN UMUM DALAM PEMILIHAN SISTEM AKUAKULTUR


Menurut Baluyut (1989)2 bahwa pemilihan suatu sistem akuakultur
ditentukan oleh beberapa faktor berikut ini :
1. Tujuan dari pengembangan usaha/keuntungan yang ingin dicapai
Terkait dengan tujuan pengembangan ini sebenarnya bermaksud untuk ;

Meningkatkan suplai/produksi ikan untuk konsumsi lokal/domestik

Menghasilkan lapangan kerja baru dan meningkatkan penghasilan

Meningkatkan devisa negara

Pembangunan sosial ekonomi dan memperluas usaha sampingan.

Biasanya tujuan dari pengembangan akuakultur ini bagi pihak swasta tentu
saja adalah nilai komersialnya, sebaliknya bagi pemerintah, hal ini
dimaksudkan untuk menyediakan mata pencaharian sampingan bagi
petani/pembudidaya untuk memperbaiki kondisi sosial ekonominya. Dengan
demikian, berdasarkan atas tujuan pengembangan tersebut, maka akuakultur
dapat dibagi atas;

Skala kecil (input rendah, modal kecil, resiko kecil, dan teknologi
rendah)

Skala besar (inverstasi besar, teknologi tingkat tinggi)

2. Spesies budidaya yang dapat diterima pasar (acceptability/marketability)


Pemilihan spesies ikan sangat terkait dengan target usaha yang ingin
dicapai. Tidak semua ikan cocok untuk dibudidayakan pada semua skala.
Misalnya

jenis

udang

yang

bernilai

ekonomis

tinggi

akan

lebih

menguntungkan dibudidayakan pada skala kecil. Juga spesies tertentu hanya


cocok pada tipe sistem tertutup tertentu, seperti udang windu yang lebih
cocok dibudidayakan pada kolam/tambak ikan dari pada di karamba.
Demikian pula ada ikan yang cocok pada suatu negara tetapi tidak cocok
dinegara lain.
Pemilihan spesies budidaya sangat tergantung pada beberapa faktor,
yakni; keterseidaan lokasi yang sesuai, karakteristik biologi spesies
lokal/introduksi, dapat diterima dipasar lokal atau internasional, dan
ketersediaan

teknologi

dan

peralatan

yang

dibutuhkan

membudidayakannya.
2

Baluyut EA. 1989. Aquaculture system and practices : A review. FAO. UN development
programme. Rome

untuk

Tabel. Spesies yang lazim dibudidayakan di Asia


Common Name
FINFISHES
Milkfish
Freshwater eel
Grey mullet
Cockup
Grouper
Porgy
Red porgy
Black porgy
Tilapia

Red tilapia
Sweet fish, ayu
Common carp
Goldfish (wild)
Crucian carp
Puntius carp
Rohu
Mrigal
Bottom carp
Catla
Grass carp
Black or snail carp
Silver carp
Bighead carp
Nilem
Walking catfish
MOLLUSCS
Japanese oyster
Hard clam
Small abalone
Corbiculas
Purple clam
Apple snail
Blood clam

Scientific Name
Chanos chanos
Anguilla japonica
Anguilla spp.
Mugil cephalus
Lates calcarifer
Epinephelus spp.
Mylio macrocephalus
Mylio spp.
Chrysophry major
Acanthopagrus schlegeli
Oreochromis mossambicus
O. nilotica
Tilapia zillii
O. aureus
O. mossambicus x O.
niloticus
O. niloticus x O. aureus
Oreochromis spp.
Plecoglossus altivelis
Cyprinus carpio
Carassius auratus
Carassius carassius
Puntius gonionotus
Puntius spp.
Labeo rohita
Cirrhina mrigala
Cirrhina molitorella
Catla catla
Ctenopharyngodon idellus
Mylopharyngodon piceus
Hypophthalmichthys molitrix
Aristichthys nobilis
Osteochilus hasselti
Clarias batrachus
Clarias spp.
Crassostrea gigas
Metrix lusoria
Haliotis diversicolor
Corbicula fluminea
C. formosa
Soletellina diphos
Ampullarius insularum
Tegillarca granosa
Crassostrea malabonensis
C. iredalei
C. palmipes
C. cuculata
C. lugubris
C. belcheri
C. commercialis

Culture System*

Environment**

E, S, I
EX, E, I

F, B, S
F

EX, E, I
EX
EX
EX

F, B, S
F
S
S

S, I
S
SI
E, SI
S
S
S

S
B, S
F. S
F, S
F
F
F

S
S, I
I
E, S
E, S
E, S
E, S

F
F, B, S
F
F
F
F
F

EX, S
EX, S
E, S
EX, S
E, S
E, S
EX, E, S
EX, E, S
EX, E
E, S

F
F
F
F
F
F
F
F
F
F

E, I
I
I
E
E
E
S, I
S
E
EX, E
S
EX, S
E
E
S

S
S
S
F
F
S
F
S
S
S
S
S
S
S
S

Cockle
Green sea mussel
REPTILES
Soft-shell turtle
Crocodile
AMPHIBIANS
Bull frog
Tiger frog
SEAWEEDS
Gracilaria
Nori
Wakame
Green laver

Metrix metrix
Andara granos
Mytilus smaragdinus

EX, S
E, S
EX, E, S

S
S
S

Trionyx sinensis
Crocodilus siamensis
C. porocus

I
I
I

F
F
F

Rana catasbiana
Rana tigrina

S
I

F
F

Gracilaria spp.
Porphyra spp.
Undaria pinnatifida
Monostroma nitidum

E
E
E
E

B, S
S
S
S

*EX = experimental, E = extensive, S = semi-intensive, I = intensive


**F = freshwater, B = brackish water, S = saltwater
Sumber : Liao, 1988
Huet and Timmermans (1972) menyebutkan kriteria untuk mengevaluasi
kelayakannya suatu spesies budidaya, sebagai berikut :

Harus sesuai dengan iklim wilayah dimana ikan dibudidayakan

Laju pertumbuhannya harus cukup tinggi

Bisa berreproduksi dengan baik pada lingkungan terkontrol

Bisa memakan pakan buatan yang murah

Harus bisa diterima oleh konsumen (laku dijual)

Harus bisa dipelihara dengan kepadatan tinggi

Harus tahan terhadap penyakit

3. Ketersediaan Teknologi
Karena akuakultur melibatkan banyak metode termasuk pemijahan dan
pembesaran, maka ketersediaan teknologi yang telah dikuasai sangat
menentukan keberhasilannya. Selain itu, juga terkait dengan tingkat
kerumitan (complexity) dan kemudahannya untuk dipelajari oleh para
pembudidaya.
Secara umum, sistem berbiaya rendah dengan teknologi sederhana
seperti budidaya ikan nila/mujair lebih mudah diajarkan kepada pembudidaya
daripada sistem budidaya canggih berteknologi tinggi seperti budidaya udang
windu yang intensif.
Oleh karena itu, jika akuakultur ingin digunakan sebagai mata
pencaharian alternatif atau sebagai pengganti usaha penangkapan dipesisir,

maka sistem yang akan digunakan harus sederhana, mudah diaplikasikan,


fasilitas produksi berbiaya murah yang pembuatan dan pengoperasiannya
bisa melibatkan semua anggota keluarga atau kelompok, misalnya budidaya
rumput laut dan kerang-kerangan. Di sisi lain, teknologi yang rumit
memerlukan biaya yang lebih besar dan tambahan fasilitas lainnya, namun
menjanjikan keuntungan yang lebih besar juga. Ini biasanya dilakukan oleh
pengusaha menengah atau besar yang mampu membayar tenaga ahli dalam
menjalankan usaha akuakultur tersebut.
4. Ketersediaan input produksi dan sarana pendukung lainnya
Konsenkuensi atas level teknologi adalah kesiapan dari input produksi,
misalnya pakan dan benih, fasilitas tambahan seperti hutchery, mesin
processing, mesin pembuat es, dan coldstorage (ruang penyimpanan
bersuhu dingin). pada level rendah, para pembudidaya tidak cukup hanya
dengan ketersediaan input produksi tetapi juga memerlukan petunjuk teknis
dan dukungan luas. Namun demikian, untuk skala besar yang beroperasi
secara intensif terutama yang berusaha untuk tujuan ekspor, faktor kritisnya
adalah ketersediaan benih dan pakan secara kontinu dan juga kegiatan
pasca panen dan processing untuk menjamin mutu produk yang dihasilkan.
5. Kebutuhan akan investasi.
Besar kecilnya modal yang ditanamkan pada usaha akuakultur tergantung
pada tipe sistem yang diadopsi. Secara umum, investasi meningkat sebagai
fungsi dari level teknologi dan kerumitan sistem akuakultur. di mana sistem
ektensif biasanya lebih sedikit modal yang diinvestasikan daripada sistem
intensif.
Sistem akuakultur skala kecil seperti rakit atau tali untuk budidaya rumput laut
atau kerang-kerangan tentu biayanya lebih kecil, sebaliknya untuk sistem
intensif dengan kompleksitas sistem produksi seperti budidaya udang windu
memerlukan perencanaan keuangan yang besar, tidak hanya pada awal
usaha tetapi juga selama operasional dan pemeliharaannya.
6. Kondisi lingkungan.

Hal penting yang harus diperhatikan adalah dampak lingkungan yang


ditimbulkan dari usaha akuakultur ini, sebagai contoh ekpansi budidaya
intensif di Taiwan telah menimbulkan masalah penyakit yang serius dan
memburuknya kualitas air.
Penebangan hutan mangrove secara besar-besaran untuk dijadikan
tambak juga telah menimbulkan gangguan atas keseimbangan ekologis di
sejumlah pesisir, menurunkan produktifitas perairan, dan membatasi daerah
pemijahan (breeding ground) dan pengasuhan (nursery ground) jenis-jenis
ikan penting dan kehidupan akuatik lainnya.
Di Australia, potensi kemungkinan terjadinya eutrofikasi karena beban
limbah nutrien yang dikeluarkan oleh aktifitas akuakultur telah menjadi
perhatian (Jamandre, 1988). Di Negros, Philipina juga telah terjadi
perdebatan antara pabrik gula dan industri akuakultur karena limbah yang
dikeluarkan pabrik gula tersebut ke sungai yang airnya dipakai untuk
akuakultur, dilaporkan meningkatkan temperatur dan menurunkan pH
sehingga merusak usaha tambak udang (Cayco, 1988).
Akuakultur sendiri dapat menghasilkan dampak negatif terhadap
lingkungan sehingga penting untuk mempertimbangkan masalah lingkungan
ini dalam memilih suatu sistem akuakultur, yang mana harus dapat
mengurangi dampak langsung akuakultur terhadap ekologi.
Tabel. Kemungkinan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh akuakultur
Sistem Budidaya

Dampak Lingkungan
EXTENSIVE

1. Budidaya rumput laut

Bisa mengganggu terumbu karang; rough


weather losses; kompetisi pasar, dan masalah
sosial.

2. Budidaya kerang-kerangan
(mussels, oysters, clams,
cockles)

Ada resiko kesehatan publik dan resistensi


konsumen (penyakit mikrobial, red tides, polusi
industri, rough weather losses, kelangkaan bibit,
kompetisi pasar ekspor, dan masalah sosial.

3. Tambak
(mullets, milkfish, shrimps,
tilapias)

Rusaknya ekosistem, khususnya mangrov,


menigkatnya persaingan tidak sehat dengan
sistem yang lebih ekstensif, tidak berkelanjutan
dengan pertumbuhan popolasi yang tinggi,
konflik/kegagalan, gangguan sosial/.

4. Karamba apung/tancap
(carps, catfish, milkfish

Berkurangnya nelayan tradisional, menimbulkan


masalah navigasi lalu lintas kapal, gangguan

tilapias)

sosial, sulit pengelolaannya, dan merusak hutan


karena penggunaan kayu.
SEMI-INTENSIVE

1. Kolam dan tambak


(udang, ikan mas, lele,
bandeng, belanak, nila)

Ada resiko kesehatan bagi petani dari penyakit


kutu air; salinisasi/pemasaman tanah/aquifers.
Kompetisi pasar, ketersediaan/harga pupuk dan
pakan, konflik/gangguan sosial.

2. Perpaduan akuakultur dan


pertanian (mina padi;
longyam, dll)

Ada resiko kesehatan dari kotoran yang


dijadikan pakan, bahan berracun dari pakan
(misalnya; logam berat, pestisida) bisa
terakumulasi di sedimen kolam dan di daging
ikan

3. Sewage-fish culture (sumber Resiko kesehatan bagi petani, karyawan


air dari kolam pengolahan
limbah kota; karamba di
kanal pengolahan limbah)
4. Karamba, khususnya di
kawasan eutrofik atau kaya
bentos (ikan mas, lele, nila)

pengolahan ikan dan konsumen; penolakan


konsemen terhadap produk
Berkurangnya nelayan tradisional, menimbulkan
masalah navigasi lalu lintas kapal, gangguan
sosial, sulit pengelolaannya, dan merusak hutan
karena penggunaan kayu.
INTENSIVE

1. Kolam/tambak (udang; ikan, Buangan limbah tinggi BOD dan TSS,


khsusnya ikan karnivora ,spt; konflik/gangguan sosial
lele, gabus,kerapu,kakap,
dll.)
2. Karamba

Akumulasi sedimen yang anoksik di bawah


karamba sehingga terjadi penumpukkan feses
dan sisa pakan; persaingan pasar,
konflik/gangguan sosial, menggunakan
kayu/material lainnya.

3. Kolam air deras, silos,bak,


dll.

Buangan limbah tinggi BOD dan TSS; masalah


spesifik pada berbagai lokasi

Pertimbangan yang dilakukan untuk usaha akuakultur di pesisir yang


berdampak langsung dengan hutan mangrove, antara lain :
1) Membangun tipe akuakultur yang tidak melibatkan penghancuran hutan
mangrove, tetapi berasosiasi dengan flora dan fauna sekitar, misalnya
karamba
2) Perpaduan akuakultur dengan kehutanan dengan menanam mangrove
sepanjang tanggul tambak atau di sekitar area budidaya
3) Menjaga fungsi ekosistem berarti bahwa :

Jika memungkinkan membangun sistem akuakultur sudah disediakan


untuk reklamasi mangrove dari pada membabat mangrove baru

Sedapat-dapatnya hanya sedikit memanfaatkan hutan mangrove atau


membuka

tambak

pada

area

dengan

hanya

sedikit

pohon

mangrovenya
-

Menempatkan lahan akuakultur setelah daerah hutan mangrove


sehingga dapat menjaga bagian produksi untuk penangkapan

Memastikan bahwa area tambah lebih kecil daripada area hutan


mangrove.

4) Memberikan perhatian lebih atas pemilihan lokasi, instalasi desain sistem,


dan managemen operasionalnya.

II. PERTIMBANGAN DALAM MERANCANG SISTEM AKUAKULTUR


Sebagai akibat dari dampak suhu terhadap pertumbuhan ikan dan juga
ketersediaan ruang yang lebih terbatas dibandingkan dengan hewan terestrial,
serta adanya masalah kualitas air, seperti oksigen terlarut, karbon dioksida, dan
amonia maka dibutuhkan perlakuan air sebelum masuk ke dalam wadah
budidaya.
PEMILIHAN LOKASI
Biasanya para pelaku akuakultur hanya melakukan survei secara singkat
dalam penentuan lokasi, karena untuk melakukan perancangan sistem dengan
mempertimbangkan faktor teknis terlalu mahal. Salah satu contohnya dalam
pemilihan sistem resirkulasi hanya berdasarkan pada keadaan sumberdaya air
yang terbatas pada lokasi tersebut atau dengan kualitas yang tidak dapat
digunakan.
Idealnya setiap pemilihan lokasi harus melalui peninjauan dan proses
pemilihan

yang

memperhatikan

cermat.
aspek

Faktor

fisik,

utama

iklim,

dan

dalam

pemilihan

komponen

lokasi

selain

juga

harus

biologi

mempertimbangkan aspek sosial, legalitas, dan ekonomi.


Kvri (1984)3 menyebutkan bahwa keberhasilan usaha akuakultur sangat
tergantung pada seberapa luas area yang tersedia yang bisa dikembangkan
untuk pembesaran maupun pembenihan. Secara umum ada 3 faktor utama yang
musti diperhatikan dalam pemilihan lokasi akuakultur, yakni; (1) faktor ekologi, (2)
faktor operasional dan biologi, (3) faktor sosial dan ekonomi.
1. Faktor ekologi
Meliputi hal-hal sebagai berikut :

Suplai air
Kepastian suplai air yang cukup, baik kuantitas maupun kualitasnya

merupakan faktor yang paling penting yang dipertimbangkan ketika


memutuskan kelayakan suatu lokasi kolam budidaya. Untuk itu, investigasi
sumber air yang sesuai harus diutamakan.
Sumbe air bisa berasal dari saluran irigasi, waduk, sungai, danau,
mata air, hujan, atau air sumur. Air bisa dialirkan melalui kanal, bak
penampungan, atau pipa secara grafitasi atau menggunakan pompa ke

Kvri J. 1984. Considerations

in the Selection of Sites for Aquaculture. FAO. Italy

kolam. Pada kolam dengan kondisi tanah yang baik minimum suplai air
adalah 5 l/sec/ ha sepanjang tahun.
Jika air hujan yang digunakan yang disimpan ditandon untuk
mensuplai air, rasionya adalah 10-15 ha daerah resapan untuk 1 ha kolam.
Rasio yang lebih rendah diperlukan untuk tanah rumput, dan kurang dari
tanah yang telah ditanami (Hora, 1962).
Kemungkinan untuk drainase kolam harus diperhatikan selama
pemilihan lokasi. Drainase secara grafitasi lebih baik, sehingga posisi dasar
kolam harus lebih tinggi dari permukaan air di luar kolam.

Kualitas air
Kualitas air merupakan faktor yang paling signifikan dalam pemilihan

lokasi, investigasinya dengan mengambil sampel untuk dianalisis secara


laboratorium, meliputi sifat-sifat fisik, kimia, biologi, dan mikrobiologi,
termasuk bahaya (hazard) kesehatan ikan. Prosedur analisis kualitas air
harus sesuai dengan klasifikasi standar negara.
Sifat-sifat fisik

: suhu, warna, bau, kekeruhan, kecerahan, dan solid


tersuspensi.

Sifat-sifat kimia

: pH, DO (oksigen telarut), BOD (biochemical oxygen


demand), alkalinitas, salinitas, TDS, amonia.

Sifat-sifat biologis : kualitas dan kelimpahan plankton


Mikrobiologis

:spesies dan jumlah parasit

Iklim
Faktor klimatologis yang utama terkait dengan hal ini dapat diperoleh

dari Badan meteorologi dan Geofisika, seperti :


1. rata-rata suhu bulanan
2. rata-rata hujan bulanan
3. rata-rata evaporasi bulanan
4. rata-rata kelembaban bulanan
5. rata-rata kondisi cerah bulanan
6. rata-rata kecepatan dan arah angin bulanan
informasi tentang data curah hujan (max 24 jam), musibah angin ribut,
badai, dan gempa bumi perlu juga dipertimbangkan,

Karakteristik hidrologis

Data yang diperlukan terkait dengan hidrologis meliputi; discharge, yield,


banjir, ketinggian air sungai, danau, dan sumber air lainnya.

Karakteristik tanah (soil)

Daratan (land)

2. Faktor Biologis dan Operasional

PERIJINAN
Waktu dan biaya yang digunakan untuk urusan perijinan biasanya sangat
signifikan terhadap keseluruhan usaha akuakultur, khususnya pada usaha
marikultur atau pertambakan (wetland). Namun secara aktual, biaya untuk hal
tersebut relatif murah. Biaya yang dikeluarkan untuk perijinan bersifat langsung
dan biaya-biaya yang tidak jelas. Tetapi biasanya biaya perijinan ini bisa
mencapai 5.7 % dari ongkos produksi. Biasanya terkait dengan perijinan ini
meliputi ; ijin tempat usaha, ijin usaha perikanan, ijin penggunaan air, retribusi
limbah, pajak, dll.
DASAR PERANCANGAN SISTEM
Sebelum memulai sebuah detail desain, penting untuk mendapatkan
kriteria proses terkait dengan spesies ikan yang akan dibudidayakan, sistem
yang digunakan, dan langkah-langkah praktis yang akan dilakukan. Hal ini
mencakup semua data tentang laju pertumbuhan, fekunditas, kelangsungan
hidup, dan syarat kualitas air yang dibutuhkan.
Dalam sistem air mengalir dan resirkulasi, perhitungan tentang aliran air
dapat dihitung menggunakan pendekatan keseimbangan massa. Biasanya, hal
ini diasumsikan bahwa oksigen terlarut adalah faktor pembatas yang paling
utama. Dalam sistem dengan intensitas tinggi, faktor pembatas kualitas air dapat
juga berupa amonia, karbon dioksida, dan pH. Tingkat intensitas dalam sistem ini
lebih akurat diukur dengan konsumsi oksigen kumulatif (COC) yang melalui
sistem ini (Meade 1988). Pengaruh CO2, pH, dan ammonia dapat juga diabaikan
(Colt 1981). Pada sistem air mengalir tanpa aerasi, faktor pembatasnya adalah
pH rendah, oksigen terlarut jika pH netral, dan NH 3 jika pH tinggi. Pada sistem
dengan penambahan oksigen murni, CO2 bisa menjadi faktor pembatas pada pH
netral. Pada sistem terbuka dimana oksigen dan CO 2 dapat bertukar melalui
permukaan air, maka amonia bisa menjadi faktor pembatas.

Walupun sistem kolam nampak sederhana, namun interaksi antara hewan


budidaya, algae, zooplankton, bakteri, proses fisika dan kimianya sangat sulit
untuk dimengerti. Sehingga desain dan operasi kolam masih didasarkan pada
informasi empiris. Penurunan konsentrasi oksigen terlarut adalah masalah serius
dalam berbagai sistem kolam yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti :
1. Fluktuasi DO harian karena fotosintesis dan respirasi
2. Algae yang mati, dimana proses dekomposisinya memerlukan oksigen
Masalah lain juga yang tak kalah pentingnya adalah pH yang tinggi dan
daging ikan yang berbau lumpur.
Sistem karamba sangat tergantung pada proses pembersihan alami
(gerakan air) untuk menghilangkan limbah metabolit dan mensuplai oksigen.
Lokasi yang ideal untuk karamba di laut adalah area yang memiliki pergerakan
air yang bagus serta terlindung dari angin kencang dan gelombang. Banyaknya
tiram yang menempel pada jaring karamba adalah masalah yang serius dan
memerlukan tindakan pergantian jaring secara teratur. Jika karamba ditempatkan
pada perairan yang tenang tidak dapat meningkatkan produktifitasnya sama
halnya dengan kolam statis tanpa pergantian air.
Sistem resirkulasi potensial dikembangkan pada area dengan sumber daya
air yang terbatas atau dekat dengan pasar. Sistem resirkulasi nampak prospektif
bagi para pengusaha. Dibandingkan dengan kolam atau sistem air mengalir,
sistem resirkulasi secara nyata membutuhkan modal dan biaya operasional yang
lebih tinggi, keberhasilannya secara ekonomi dari penggunaan sistem resirkulasi
di Amerika lebih potensial diperuntukkan bagi sistem untuk tujuan penelitian,
pendederan, dan jenis-jenis ikan yang berharga mahal, seperti berbagai jenis
ikan hias.
PEMILIHAN MATERIAL
Desain sistem akuakultur komersil melibatkan pemilihan material yang
serius, khususnya untuk tujuan marikultur. Faktor-faktornya tidak hanya pada
masalah fouling (menempelnya tiram), stress, dan karat, tetapi juga pengaruh
logam, senyawa organik yang merembes dari material yang digunakan, atau
adsorpsi material dari air. Beberapa plastik dan karet bersifat toksik, biasanya
pada material-material yang masih baru.

RELIABILITY (KEYAKINAN ATAS SISTEM YANG BERJALAN)


Reliabiliti merupakan adalah kunci dalam desain sistem akuakultur.
interupsi air atau macetnya suplai air selama 1 6 jam dapat menyebabkan
kematian total pada sistem resirkulasi atau air mengalir. Pada tahun-tahun awal
operasi, reliabilitas sistem bisa mencapai 99.9% tetapi masih ada kematian ikan.
Masalah operasional cenderung muncul dari dua sumber (Huguenin and
Colt, 1989), yakni :

Sumber internal, karena kesalahan desain atau ketidaksesuaian prosedur


operasi dan termasuk masalah dalam pemilihan material. Penggunaan klorin,
supersaturasi gas, dan keterbatasan pengendalian dan monitoring.

Sumber eksternal, misalnya karena adanya pengaruh cuaca atau iklim.


Untuk menanggulangi kegagalan, biasanya pada beberapa sistem

menyedian sumber air cadangan, generator, dan berbagai tanda-peringatan


seperti alaram, kontrol otomatis, dll.