Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman kopi (Coffea spp.) merupakan komoditas ekspor unggulan yang
dikembangkan di Indonesia karena mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi
di pasaran dunia. Permintaan kopi Indonesia dari waktu ke waktu terus meningkat
karena seperti kopi Robusta mempunyai keunggulan bentuk yang cukup kuat serta
kopi Arabika mempunyai karakteristik cita rasa (acidity, aroma, flavour) yang
unik dan ekselen.
Menurut data dari Worldbank, pada periode tahun 2005-2008, Indonesia
merupakan eksportir kopi ke-4 dunia, dengan kontribusi rata-rata sebesar 4,76
persen. Brazil menempati posisi pertama dengan kontribusi rata-rata sebesar 24,30
persen, diikuti dengan Vietnam (17,94 persen) dan Columbia (10,65 persen).
Negara tujuan ekspor kopi Indonesia yang utama adalah Amerika Serikat dengan
kontribusi rata-rata sebesar 19,35 persen dari total ekspor kopi Indonesia, serta ke
Jepang, Jerman dan Italia, masing-masing dengan kontribusi rata-rata sebesar
14,96 persen, 15,88 persen, dan 6,71 persen.
Dalam hal perkopian di Indonesia , kopi rakyat memegang peranan yang
penting, mengingat sebagian besar (93 %) produksi kopi merupakan kopi rakyat.
Namun demikian kondisi pengelolaan usaha tani pada kopi rakyat relatif masih
kurang baik dibanding kondisi perkebunan besar Negara (PBN). Ada dua
permasalahan utama yang diidentifikasi pada perkebunan kopi rakyat, yaitu
rendahnya produktivitas dan mutu hasil yang kurang memenuhi syarat untuk
diekspor. Di Sulawesi Selatan berdasarkan data Statistik Dinas Perkebunan Prov.
Sul Sel tahun 2008, luas areal pertanaman kopi Arabika sebesar 47.181,46 ha
yang melibatkan 65.178 KK petani dengan total produksi hanya sebesar 19.384,69
ton, karena produktivitasnya yang masih sangat rendah yaitu hanya sebesar
636,24 kg/ha/tahun, sementara potensi produksinya dapat mencapai 1.500
kg/ha/tahun. Demikian halnya dengan Kabupaten Enrekang yang merupakan salah
satu daerah penghasil kopi Arabika di Sulawesi Selatan dari luas areal sebesar

21

11.384 ha dengan jumlah petani sebanyak 16.632 KK produksinya pada tahun


2008 hanya sebesar 5.350 ton karena produktivitas hanya mencapai 648,48
kg/ha/tahunnya.
Rendahnya produktivitas kopi di antaranya disebabkan adanya serangan
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Beberapa jenis OPT yang menyerang
tanaman kopi di Sulawesi Selatan adalah hama penggerek buah kopi
(Hypothenemus hampei Ferr.), penggerek batang, (Zeuzera sp.,), Penggerek
cabang (Xylosandrus spp.), kutu hijau (Cocus viridis), kutu putih (Ferrisia
virgata), penyakit karat daun (Hemileia vastatrix), Cercospora sp., Embun jelaga
dan Busuk buah kopi serta terakhir yang disebabkan oleh nematode.
Penyakit busuk buah menyebabkan kerugian serius telah dilaporkan pertama
kali dari Kenya, sebesar 75% di beberapa perkebunan. Penyakit ini menyebabkan
matinya tanaman kopi di beberapa daerah di Kenya dan Ethiopia. Di daerah lain,
kerugian dapat mencapai 80%. Perkiraan konservatif lebih dari kerugian yang
terjadi di Kenya adalah 20%.
Busuk buah juga dilaporkan menyerang perkebunan kopi milik masyarakat
di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Akibatnya, jumlah hasil produksi mengalami penurunan hingga 30 persen, juga
sangat meresahkan para petani kopi di daerah itu.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa
mengetahui bagaimana sejarah komoditas tanaman kopi serta mengetahui
teknologi benih tanaman kopi.
1.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana sejarah perkembangan kopi dunia ?
2. Bagaimana sejarah komoditas kopi di Indonesia ?
3. Seperti apa kegiatan-kegiatan dalam teknologi benih kopi ?
BAB II

21

PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembangan Kopi Dunia
Kopi sebagai salah satu komoditi non migas, memiliki pasaran yang cukup
mantap di pasaran dunia, sebab dari berbagai penjuru dunia banyak orang yang
suka minum kopi, karena kopi dapat diolah menjadi minuman yang lezat rasanya.
Badan yang lemah dan rasa kantuk dapat hilang, setelah minum kopi panas.
Apalagi orang yang sudah menjadi pecandu kopi, bila tidak minum kopi rasanya
akan capai dan konsentrasi dalam berpikir terasa berkurang.
Tanaman kopi adalah suatu jenis tanaman tropis, yang dapat tumbuh dimana
saja, terkecuali pada tempat-tempat yang terlalu tinggi dengan temperatur yang
sangat dingin atau daerah-daerah yang tandus yang memang tidak cocok bagi
kehidupan tanaman. Daerah-daerah di bumi ini yang tidak cocok untuk ditanami
tanaman kopi, yaitu pada garis Lintang Utara Lautan Pasifik, daerah tropis di
gurun Sahara, dan garis Lintang Selatan seluruh Lautan Pasifik serta Australia
disebelah Utara dimana tanahnya sangat tandus.
Pada mulanya orang minum kopi bukanlah kopi bubuk yang berasal dari
biji, melainkan dari cairan daun kopi yang masih segar atau ada pula yang
menggunakan kulit buah yang disedu dengan air panas. Sudah barang tentu
rasanya tidak seenak kopi bubuk, namun dapat juga menyegarkan badan, sehingga
penggemarnyapun belum begitu meluas. Setelah ditemukan cara memasak kopi
bubuk yang lebih sempurna, yaitu menggunakan biji kopi yang masak kemudian
dikeringkan

dan

dijadikan

bubuk

sebagai

bahan

minuman,

akhirnya

penggemarnya cepat meluas. Negara pemakai kopi pertama-tama adalah Arabia


(pertengahan abad XV) dan kemudian menyebar luas di negara Timur Tengah,
seperti Kairo pada tahun 1510 dan Konstantinopel (Turki) lebih kurang pada
tahun 1550. Selanjutnya pada tahun 1616 kopi ini mulai masuk Eropa, yakni di
Venesia. Sedangkan di Inggris pemakaian kopi baru pada tahun 1650.
Sampai sekarang kita ketahui bahwa kopi dan teh merupakan dunia yang
sangat penting di dunia Barat. Walaupun asal kopi itu dari negara Afrika, tetapi
sedikit sekali penduduk asli yang minum kopi. Di Ethiopia, kopi itu diminum

21

dengan makanan lemak, selain bijinya daunnya pun dapat disedu dengan air
panas.
Nama-nama jenis tanaman kopi sulit ditentukan, karena spesies ditentukan
oleh beberapa pengarang buku dari 25 sampai 100 lebih. Wellman (1961)
menyusun daftar sebanyak 64 spesies, tetapi ada yang dianggap hanya sebagai
varietas saja. Maka jenis spesies yang tepat kurang lebih ada 60. Kebanyakan
spesies itu terdapat di Afrika Tropis, yaitu sebanyak 33 Spp, 14 Spp di
Madagaskar, 3 Spp di Mauritius dan Reunion, 10 Spp di Asia Tenggara.
Ditinjau dari segi ekonomis, Spp yang terpenting ialah (Coffea arabica =
kopi Arabika) yang menghasilkan 90% dari kopi dunia pada waktu belum ada
Robusta (J.E. Purseglove); Coffea canephora 9% dan Coffea liberica kurang dari
1%.
Spesies-spesies yang banyak dipakai berdasarkan sejarah perkembangan
tanaman kopi di dunia adalah sebagai berikut:
1. Kopi Bungalensis heyne et Wild; terdapat secara liar di Benggala, Birma,
Sumatera, dan adapula yang terdapat di India
2. Kopi Congensis, Froehn. Berasal dari Congo, kopi ini mirip dengan kopi
Arabika yang disilang dengan Coffea canephora menjadi hibrida Congesta di
Jawa. Mungkin satu bentuk dari Coffea canephora.
3. Kopi Eugenioides, S. Moore. Berasal dari Congo, Uganda, dan Tanzania,
sedikit mirip dengan Coffea arabica. Kopi ini banyak pula ditanam, tetapi
kandungan Coffein rendah.
4. Kopi Exselsa, A. Chev. Berasal dari Afrika Barat, bisa tumbuh sampai tinggi,
daun besar, buah juga besar tapi tetapi biji kecil. Tanaman ini baik di Afrika
Barat maupun Filipina, sedangkan di Jawa tidak banyak ditanam. Kopi ini
banyak digolongkan Coffea liberica, tetapi buah dan biji jauh lebih kecil.
5. Kopi Recemosa, Lour. Berasal dari Mozambik dan kopi ini banyak ditanam di
daerah setempat. Tanaman berbentuk perdu bercabang banyak, buah kecil
berwarna merah.
6. Kopi Stenophylla G. Don. Berasal dari Afrika Barat dan banyak ditanam di
sana, pohon kecil, bila buah masak berwarna biru hitam, biji lebih kecil
daripada Arabika dan rasanya kurang enak.

21

7. Kopi Zangeubarise Lour. Berasal dari Zanzibar, di daerah asal tersebut kopi
banyak ditanam. Buah dan biji mirip dengan kopi Arabika.
2.2 Sejarah Perkembangan Tanaman Kopi di Indonesia
Tanaman kopi bukan tanaman asli Indonesia, melainkan jenis tanaman
berasal dari benua Afrika. Tanaman kopi dibawa ke pulau Jawa pada tahun 1696,
tetapi pada waktu itu masih dalam taraf percobaan.
Di Jawa, tanaman kopi ini mendapat perhatian sepenuhnya baru pada tahun
1699, karena tanaman tersebut dapat berkembang dan berproduksi baik. Bibit kopi
Indonesia didatangkan dari Yaman. Pada waktu itu jenis yang didatangkan adalah
kopi Arabika.
Percobaan penanaman ini pada mulanya berada disekitar Jakarta. Setelah
percobaan penanaman di daerah ini ternyata berhasil baik, kemudian biji-biji itu
dibagi-bagikan kepada para Bupati di Jawa Barat untuk ditanam di daerah masingmasing; ternyata hasilnya pun baik.
Hasil-hasil tersebut harus diserahkan kepada V.O.C dengan harga yang
sangat rendah, dengan penyerahan secara paksa. Maka tanaman yang semula
hanya sebagai tanaman percobaan, akhirnya menjadi tanaman yang dipaksanakan
kepada petani.
Setelah diketahui bahwa tanaman kopi itu hasilnya terus meningkat, maka
perluasan tanaman terus ditingkatkan, terutama di pulau Jawa. Selanjutnya
tanaman itu lebih dipaksakan lagi dengan adanya "Culturstelsel".
Mulai saat itu banyak pengusaha yang memperluas usahanya dalam
lapangan perkebunan, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tanah-tanah
usaha swasta. Selanjutnya tanaman perkebunan itu lebih besar lagi setelah
dikeluarkan Undang-undang Agraria tahun 1870. Perusahaan perkebunan itu bisa
memperluas isahanya pada tanah milik negara dengan jangka yang sangat
panjang.
Mula-mula pertanaman kopi perkebunan ini banyak terdapat di Jawa
Tengah, yaitu daerah Semarang, Sala, Kedu, dan Jawa Timur terutama di daerah
Besuki dan Malang. Sedang di Sumatera terdapat di Lampung, Palembang,

21

Sumatera Barat, dan Sumatera Timur. Sehingga sampai sekarang ini banyak
perusahaan perkebunan milik negara yang berasal dari perusahaan-perusahaan
asing.
2.3 Varietas Kopi dan Sifatnya
Walaupun jenis tanaman kopi itu banyak sekali jumlahnya, namun dalam
garis besarnya ada tiga jenis besar, yaitu: kopi Arabika, kopi Canephora, dan kopi
Liberika.
2.3.1 Kopi Arabika (Coffea arabica)
Daerah asal kopi Arabika adalah pegunungan Ethiopia (Afrika). Di negara
asalnya kopi tersebut tumbuh baik secara alami di hutan-hutan pada dataran tinggi
sekitar 1.500 - 2.000 an dpl. Dari Ethiopia kopi tersebut tersebar ke negara Arab
semenjak tahun 575. Tetapi baru pada abad XV, yaitu pada tahun 1450 kopi itu
menjadi minuman seperti sekarang. Kopi Arabika pertama sekali dibawa ke Jawa
pada tahun 1696 oleh seorang bangsa Belanda. Tetapi sebagai tanaman
perdagangan yang meyakinkan dan pertumbuhannya menjadi baik, baru pada
tahun 1699.
Baik perkembangan kopi dunia maupun di Indonesia pada khususnya, kopi
Arabika inilah yang paling banyak dan paling dahulu dikembangkan. Tetapi
karena jenis ini sangat tidak tahan terhadap penyakit Hemileia vastatrix, kemudian
jenis tersebut banyak digantikan dengan jenis lain yang tahan Hemileia vastatrix,
kecuali yang terdapat di dataran tinggi yang lebih 1.000 m dari permukaan laut.
Jenis Arabika mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat sebagai berikut:

Daun kecil, halus dan mengkilat, panjang daun 12 sampai 15 cm, dan lebar

6 cm.
Biji buah lebih besar, berbau harum dan rasanya lebih enak.
Bila batang tak dipangkas, tinggi pohon bisa mencapai lebih dari 5 m

dengan bentuk pohon yang ramping.


Bila jenis ini ditanam pada dataran tinggi yang beriklim kering sekitar
1.350 - 1.850 m dpl, produksinya bagus. Di Indonesia, kopi Arabika ini
dapat berproduksi baik pada ketinggian 1.000 - 1.750 m dpl.

21

Jenis ini tidak menghendaki suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah,
karena bila suhu terlalu tinggi pertumbuhan tanaman akan terlalu cepat,
begitu pula masa berbunganya menjadi terlalu awal. Akibatnya tanaman
lekas mati, dan sangat mudah diserang Hemileia vastatrix. Bila suhu
terlalu rendah pertumbuhannya lambat, banyak tumbuh cabang-cabang

sekunder dan tersier, yang sangat menganggu pembentukan bunga.


Curah hujan yang optimal sekitar 1.500 - 2.250 mm tiap tahun, tetapi
harus ada musim kering yang tegas 2 - 3 bulan untuk perkembangan

bunga.
Tidak menghendaki angin kencang, tetapi diperlukan angin yang tenang.
Karena terjadinya mutasi kopi Arabika, maka banyak timbul jenis kecil yang

masih termasuk golongan Arabika, seperti:


1. Kopi Arabika varietas Bourbon, ciri-ciri pohon lebih pendek, cabang-cabang
bagian bawah tidak menurun, melainkan agak naik dan kuat. Daun lebih besar
dan daun pucuk berwarna hijau, produksinya lebih banyak.
2. Jenis Catura, berasal dari varietas Bourbon. Pohon lebih pendek, tetapi lebih
subur.
3. Jenis Marago, menghendaki iklim dan tempat penanaman seperti kopi Arabika
asli. Pertumbuhan tanaman cepat, buah dan bijinya besar, tetapi tidak begitu
lebat.
4. Jenis Pasumah, terdapat di Sumatera. Bentuk pohon lebih kekar, dan agak
tahan terhadap Hemileia vastarix dari pada jenis Arabika yang murni.
5. Jenis Cangensis, asal dari Congo. Jenis ini mirip Arabika asli; dan jenis yang
disilang dengan Canephora menghasilkan hibrida Congesta di Jawa. Jenis ini
resisten terhadap Hemileia vastatrix, tetapi biji kecil dan tidak begitu banyak.
Jenis-jenis kopi Arabika berdasarkan hasil pemuliaan yang dianggap unggul pada
saat ini (sumber: Dirjen Perkenunan Departemen Pertanian) adalah sebagai
berikut :
1)

Kopi Abesinia 3

Tipe pertumbuhan tinggi melebar dengan perdu tegar.


Buah berbentuk oval persegi, biji besar memanjang dan seragam.
Nisbah biji buah 15,4 %.
Berbunga pertama umur 34 - 36 bulan.

21

2)

Produktivitas 7,5-10 kwintal/ha pada populasi 1.600 pohon/ha.


Rentan terhadap serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix B).
Diameter tajuk + 2 m (batang tunggal).
Umur ekonomis 25 tahun.
Jumlah buah 7-12 dompol/cabang, 8-15 buah/dompol.
Bentuk biji lonjong besar, berat 100 butir setara 19,1 gram.
Agak tahan serangan hama penggerek bubuk buah.
Mutu fisik biji baik, mutu seduhan baik.
Penanaman mulai ketinggian 1.250 m dpl, tanah subur, naungan cukup.

Kopi USDA 762

Tipe pertumbuhan tinggi agak melebar, percabangan teratur.


Diameter tajuk + 1,90 m (batang tunggal).
Cabang primer mendatar, teratur, agak lentur, ruas batang 4-9 cm, ruas

cabang 4-6 cm.


Warna daun hijau tua kecoklatan, pupus daun hijau muda.
Bentuk daun lonjong melebar, pangkal daun tumpul, ujung meruncing,

helaian berlekuk tegas.


Umur ekonomis 25 tahun.
Jumlah buah 7-11 dompol/cabang, 12-24 buah/dompol.
Buah muda hijau kusam, ujung meruncing, pangkal tumpul, diskus sempit,

berjenggot, buah masak serempak berwarna merah cerah.


Bentuk biji membulat seragam, berat 100 butir + 14,7 g.
Produktivitas 8-14 kwintal/ha untuk populasi 1.600 pohon/ha.
Mutu fisik biji baik, mutu seduhan cukup baik.
Tahan serangan penggerek bubuk buah, rentan serangan nematoda parasit.
Agak tahan serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix B).
Saran penanaman : mulai ketinggian 1.000 m dpl., tanah subur dan
penaung cukup.

3)

Kopi S 795

Tipe pertumbuhan tinggi melebar, daun rimbun menutupi batang pokok.


Diameter tajuk + 2,01 m (batang tunggal).
Cabang primer, cabang cacing dan cabang balik tumbuh sangat aktif

sehingga tidak teratur, ruas cabang 2,5-4,5 cm.


Warna daun hijau tua, pupus daun berwarna coklat.
Bentuk daun lonjong agak sempit, tepi bergelombang, ujung meruncing.
Umur ekonomis 25 tahun.

21

Jumlah buah 7-11 dompol/cabang, 12-20 buah/dompol.


Buah muda berwarna hijau kusam, diskus melebar, buah masak bulat besar

berwarna merah hati.


Bentuk biji oval membulat tidak seragam, berat 100 butir + 17,5 g.
Produktivitas 10-15 kwintal/ha untuk populasi 1.600 pohon/ha.
Mutu fisik biji baik, mutu seduhan cukup baik.
Agak rentan serangan bubuk buah kopi, rentan serangan nematoda parasit.
Agak tahan serangan penyakit karat daun.
Saran penanaman : mulai ketinggian 700 m dpl, lahan subur maupun
marjinal, naungan cukup.

4)

Kopi Kartika 1

Tipe pertumbuhan kate, kompak.


Diameter tajuk + 1,36 m (batang tunggal, di ketinggian tempat di atas >

1.000 m dpl).
Percabangan agak lentur, ruas pendek, cabang sekunder aktif, cabang

produktif 30/pohon.
Warna daun tua hijau tua, pupus hijau muda.
Bentuk daun bulat telur, seragam, ujung meruncing, pangkal meruncing
Buah muda lonjong, buah tua membulat berwarna merah tua, masak

serempak.
Bentuk biji membulat, berat 100 butir biji + 15,8 g, nisbah biji buah 15,2

%.
Mutu fisik biji cukup baik, mutu seduhan baik.
Agak rentan nematoda parasit, agak tahan becak Cercospora sp., rentan
penyakit rebah batang, Rhizoctonia sp, dan agak tahan serangan penyakit

karat daun.
Umur ekonomis 25 tahun.
Umur pertama berbunga 2 tahun setelah ditanam.
Produktivitas 2.000-2.500 kg/ha untuk populasi 3.600 pohon/ha di lahan

dengan ketinggian > 1.000 m dpl.


Penanaman mulai ketinggian 700 m dpl, (penanaman pada dataran tinggi
menengah diprioritaskan pada daerah basah dan subur, naungan cukup).

5)

Kopi Kartika 2

21

Tipe pertumbuhan kate, kompak. Pada saat TM 4, di ketinggian 1.200 m

dpl, tinggi tanaman + 191 cm.


Diameter tajuk + 138,5 cm (batang tunggal, di ketinggian tempat di atas

1.000 m dpl).
Percabangan agak lentur, ruas pendek, jumlah cabang primer produktif

29/pohon.
Warna daun tua hijau tua, daun muda (pupus) hijau muda.
Bentuk daun agak bulat, ukuran seragam, ujung daun membulat, pangkal

daun tumpul.
Buah muda bulat telur, buah tua membulat berwarna merah tua, masak

kurang serempak.
Bentuk biji membulat, berat 100 butir biji + 15,3 g, nisbah biji buah 14,5

%.
Mutu fisik biji baik, mutu seduhan baik.
Rentan serangan nematoda parasit, agak tahan penyakit karat daun dan
agak tahan serangan Cercospora sp, di pembibitan rentan serangan

Rhizoctonia sp.
Umur pertama berbunga 2 tahun setelah ditanam di lapangan.
Umur ekonomis 25 tahun.
Produktivitas 2.000-2.500 kg/ha untuk populasi 3.600 pohon/ha di

ketinggian > 1.000 m dpl.


Penanaman mulai ketinggian 700 m dpl, (penanaman pada dataran tinggi
menengah diprioritaskan pada daerah basah dan subur, naungan cukup).

6)

Kopi Andungsari I

Tipe pertumbuhan kutai, tajuk sedikit melebar dengan diameter 144 cm

(bila dipangkas dengan system batang tunggal).


Tinggi tanaman saat berbuah 121,3 cm (ditanam pada lahan ketinggian >

1.000 m dpl) dan 175 cm (pada ketinggian < 1.000 m dpl).


Percabangan mendatar, batang utama tegak lurus, agak lentur, panjang

cabang primer 38,9 cm dan panjang ruas produktif 6,2 cm.


Daun tua berwarna hijau tua gelap dan daun muda berwarna hijau muda.
Umur ekonomis 10 - 15 tahun
Produktivitas rata-rata 2.800 kg/ha kopi pasar dengan populasi 3.000

pohon/ha
Penanaman mulai ketinggian 700 m dpl.

21

7)

Kopi Kartika

Tipe pertumbuhan habitus semi kutai, seluruh tajuk dan daun merupakan

batang pokok hingga ke permukaan tanah, diameter tajuk 230 cm.


Pencabangan diatas permukaan tanah membentuk kipas berjuntai

menyentuh tanah.
Daun tua berwarna hijau tua dan daun muda berwarna coklat kemerahan.
Umur ekonomis 20 tahun.
Produktivitas rata-rata 1.500 kg/ha kopi biji dengan populasi 1.600

pohon/ha
Penanaman mulai ketinggian 1.400 m dpl

2.3.2 Kopi Robusta (Coffea Canephora. Piera Ex Froehn)


Kopi Canephora juga disebut kopi Robusta (Y. W. Purseglove). Nama
Robusta dipergunakan untuk tujuan perdagangan, sedang Canephora adalah nama
botanis.
Jenis tanaman kopi ini berasal hutan katulistiwa di Afrika, dari pantai barat
sampai uganda, terbentang 100 lebar Utara dan Selatan, dan dapat tumbuh dari
permukaan laut sampai ketinggian 1.700 m. Karena terjadinya persaingan terus
menerus, maka jenis mudah menyesuaikan diri. Ketinggian tempat yang optimal
sekitar 300 - 800 m dengan curah hujan 1.250 - 2.500 mm. Karena jenis ini self
steril (tidak menyerbuk sendiri), maka banyak hasil persilangan yang dikultivasi
sehingga identifikasi menjadi sulit.
Tahun 1947, Thomas dari Uganda membeda-bedakan jenis sebagai berikut:
1. Bentuk yang tumbuh tegak ke atas atau bentuk Robusta, pohon yang tak
dipangkas menjadi pohon yang tinggi.
2. Bentuk yang melebar atau bentuk ganda. Bila tidak dipangkas, bentuk
tanaman ini akan menjadi perdu dan daunnya tumbuh lebih kecil.
Sifat-sifat khusus dari jenis Robusta, selain tersebut di atas ialah:

Bau dan rasanya tidak seenak kopi Arabika, tetapi produksinya jauh lebih
tinggi. Karena rasanya tidak seenak kopi Arabika, maka harganya lebih

rendah.
Tanaman di kebun, pemeliharaannya lebih mudah dan biaya dapat
dihemat.

21

Daun lebih kecil, dengan permukaannya agak berombak, dan dari

batangnya banyak tumbuh cabang-cabang.


Jenis-jenis ini tahan Hemileia vastatrix.

2.3.3 Kopi Liberika. Bull Ex. Hiern


Jenis ini berasal dari dataran rendah Monrovia di daerah Liberika. Kopi
Liberika penyebarannya sangat cepat pada waktu kopi Arabika diserang Hemileia
vastatrix, sebab jenis ini diperkirakan tahan terhadap Hemileia vastatrix, akan
tetapi ternyata tidak, sehingga diganti dengan jenis Robusta. Jenis Liberika ini
sekarang hampir musnah, tinggal 1% dari seluruh jenis kopi yang ada.
Jenis Liberika ini memiliki sifat-sifat :

Tanaman yang tidak dipangkas bisa mencapai ketinggian 10 m atau lebih.


Pohon berukuran besar bila dibanding dengan jenis lain, demikian juga

mengenai daun, cabang dan buahnya.


Cabang primer dapat bertahan lebih lama dan tiap-tiap buku dapat
berbunga atau berbuah beberapa kali. Bunga dan buah bukan hanya
terdapat pada cabang primer saja, melainkan juga terdapat pada batang
pokok yang umurnya jauh lebih lanjut dan berbuah sepanjang waktu, atau

buahnya kurang teratur.


Besar kecilnya buah tidak merata. Pada umumnya buah besar, tetapi

bijinya kecil, sehingga perbandingan buah basah dengan biji kering 10 : 1.


Tanaman dapat tumbuh di dataran rendah dan beriklim panas maupun
basah. Jenis ini tidak menuntut tanah yang subur dan pemeliharaan yang

istimewa.
Karena tepung sari jenis Liberika ringan maka penyerbukan silang lewat
angin dan serangga.

2.3.4 Kopi Luwak


Kopi Luwak adalah seduhan kopi menggunakan biji kopi yang diambil dari
sisa kotoran luwak/musang kelapa. Biji kopi ini diyakini memiliki rasa yang
berbeda setelah dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak. Kemasyhuran
kopi ini di kawasan Asia Tenggara telah lama diketahui, namun baru menjadi
terkenal luas di kalangan peminat kopi gourmet setelah publikasi pada tahun
1980-an.

21

Asal mula kopi luwak terkait erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman
kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-18, Belanda membuka perkebunan tanaman
komersial di koloninya di Hindia Belanda terutama di pulau Jawa dan Sumatera.
Salah satunya adalah bibit kopi arabika yang didatangkan dari Yaman. Pada era
"Tanam Paksa" atau Cultuurstelsel (18301870). Belanda melarang pekerja
perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi, akan tetapi
penduduk lokal ingin mencoba minuman kopi yang terkenal itu. Kemudian
pekerja perkebunan akhirnya menemukan bahwa ada sejenis musang yang gemar
memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji
kopinya masih utuh dan tidak tercerna. Biji kopi dalam kotoran luwak ini
kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air
panas, maka terciptalah kopi luwak. Kabar mengenai kenikmatan kopi aromatik
ini akhirnya tercium oleh warga Belanda pemilik perkebunan, maka kemudian
kopi ini menjadi kegemaran orang kaya Belanda. Karena kelangkaannya serta
proses pembuatannya yang tidak lazim, kopi luwak pun adalah kopi yang mahal
sejak zaman kolonial. Biji kopi luwak adalah yang termahal di dunia, mencapai
USD100 per 450 gram.
Luwak, atau lengkapnya musang luwak, senang sekali mencari buah-buahan
yang cukup baik dan masak termasuk buah kopi sebagai makanannya. Luwak
akan memilih buah kopi yang betul-betul masak sebagai makanannya, dan
setelahnya, biji kopi yang dilindungi kulit keras dan tidak tercerna akan keluar
bersama kotoran luwak. Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para
petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan telah
difermentasikan secara alami dalam perut luwak. Dan konon, rasa kopi luwak ini
memang benar-benar berbeda dan spesial di kalangan para penggemar dan
penikmat kopi.
Luwak hanya mau memakan buah dari biji kopi yang beraroma wangi
seperti buah leci, kemudian di perut luwak tersebut ini terjadi fermentasi yang
sangat tinggi oleh enzim-enzim yang tentunya menjadikan cita rasa yang sangat
kuat dan memiliki kenikmatan tersendiri, suhu ketika fermentasi di dalam perut
luwak dapat mencapai antara 200-2650 C. Di dalam perut luwak, sebelum menjadi
kopi luwak, terjadi fermentasi selama kurang lebih 48 jam. Dalam sehari seekor

21

luwak hanya bisa memproduksi 0,2-0,4 kg biji kopi luwak. Itulah mengapa kopi
luwak asli bisa menjadi sangat mahal,karena produksinya sangat sedikit.
Kopi luwak merupakan salah satu upaya meningkatkan nilai tambah
komoditas kopi, di samping komoditas kopi biasa seperti kopi reguler Arabika
(Java coffee) dan kopi reguler Robusta. yang membedakan kopi luwak dengan biji
kopi biasa adalah dimakan oleh Luwak (sejenis musang) dan di keluarkan dalam
bentuk biji kopi, Sehingga aromanya lebih harum serta ada rasa pahit dan getir
asam yang lebih khas dan special.
Keistimewaan kopi luwak berdasarkan

Kopi luwak berasal dari biji kopi terbaik. Naluri hewan luwak akan
memilih biji kopi paling matang yang biasanya berwarna merah. Bisa
dipastikan, 90 % biji kopi yang dihasilkan oleh hewan luwak adalah yang
benar-benar matang, bukan yang mentah. Ini memberi keuntungan, karena
pada kopi biasa kemungkinan ada pencampuran antara biji kopi yang

mentah dan matang, yang tentunya bisa mengurangi kualitas kopi.


Kopi luwak sudah mengalami proses fermentasi secara alami di dalam
pencernaan hewan luwak. Proses fermentasi alami dalam perut luwak
memberikan perubahan komposisi kimia pada biji kopi dan dapat
meningkatkan kualitas rasa kopi, karena selain berada pada suhu
fermentasi optimal, juga dibantu dengan enzim dan bakteri yang ada pada
pencernaan luwak. Karena itulah, rasanya kopi luwak beda dengan kopi
biasa. Kopi luwak mempunyai aroma yang khas tiada duanya, rasanya

nikmat, dan mengandung khasiat menambah energi kaum Adam.


Kopi luwak mengandung kafein yang sangat rendah hanya sekitar 0,5 s/d

1%.
Kopi luwak bisa meningkatkan stamina tubuh dan mencegah penyakit
diabetes. Sebab, kopi yang dikeluarkan oleh hewan luwak telah
mengalami proses fermentasi alami kemudian diolah oleh orang-orang

yang berpengalaman serta menjadikannya kopi berkhasiat.


Kopi luwak mengandung protein yang lebih rendah dan lemak lebih
tinggi.

21

Kopi luwak bebas dari pestisida. Bebas dari pestisida, karena pestisida
yang terdapat pada kopi telah dibersihkan secara alami di dalam perut
luwak, sehingga kopi yang keluar bersamaan dengan feses luwak telah
bebas dari kandungan pestisida yang berbahaya.
Pada saat biji berada dalam sistem pencernaan luwak, terjadi proses

fermentasi secara alami selama kurang lebih 10 jam. Prof. Massiomo Marcone
dari Guelpg University, Kanada, menyebutkan fermentasi pada pencernaan luwak
ini meningkatkan kualitas kopi karena selain berada pada suhu fermentasi optimal
240 - 2600 C, juga dibantu dengan enzim dan bakteri yang ada pada pencernaan
luwak. Kandungan protein kopi luwak lebih rendah ketimbang kopi biasa karena
perombakan protein melalui fermentasi lebih optimal. Protein ini berperan sebagai
pembentuk rasa pahit pada kopi saat disangrai sehingga kopi luwak tidak sepahit
kopi biasa karena kandungan proteinnya rendah. Komponen yang menguap pun
berbeda antara kopi luwak dan kopi biasa. Terbukti aroma dan citarasa kopi luwak
sangat khas. Proses fermentasi tak lazim oleh luwak ini membuat sebagian orang
enggan mengkonsumsinya karena jijik atau takut. Padahal menurut Massimo,
kandungan bakteri pada kopi luwak yang telah dioven lebih rendah daripada kopi
dengan proses biasa.
2.4 Proses Teknologi Benih Kopi
Biji kopi bemutu dihasilkan dari tanaman kopi yang baik kualitasnya.
Aspek budidaya tanaman kopi yang cukup penting untuk dipelajari ialah proses
pembibitan atau perbanyakan. Pembibitan dianggap penting karena proses ini
akan mempengaruhi kondisi atau produktifitas tanaman kopi setelah dewasa.
Penggunaan benih unggul, pembuatan dan pemeliharaan bibit harus diperhatikan
agar didapatkan tanaman yang sehat dan produktif. Proses pembibitan
membutuhkan waktu yang relatif lama sehingga dapat berpengaruh pada masa
produksi tanaman kopi. Untuk memaksimalkan perkecambahan benih kopi perlu
adanya perlakuan sebelum penanaman. Perlakuan pada benih dapat dilakukan
dengan berbagai cara antara lain dengan cara mekanis, fisik maupun kimia. Ada

21

beberapa cara pemecahan dormansi benih pada perkecambahan kopi antara lain
sebagai berikut :
1. Perendaman dengan air
Tujuan perendaman adalah untuk memudahkan penyerapan air
oleh benih, sehingga kulit benih yang menghalangi penyerapan air menjadi
melemah. Selain itu juga digunakan untuk pencucian benih sehingga benih
terbebas dari patogen yang menghambat perkecambahan benih. Menurut
Schmidth

(2002),

air

panas

mematahkan

dormansi

fisik

pada

Leguminoseae melalui tegangan yang menyebabkan pecahnya lapisan


macrosclereid atau merusak tutup strophiolar. Metode ini paling efektif
apabila benih direndam dalam air panas. Pencelupan sesaat juga lebih baik
dilakukan untuk mencegah kerusakan embrio. Cara yang umum dilakukan
adalah dengan menuangkan benih dalam air yang mendidih dan
membiarkannya untuk mendingin dan menyerap air selama 12-24 jam.
Metode stratifikasi dapat dikatakan metode yang paling praktis
karena hanya merendam benih kopi dengan air bersuhu tinggi pada waktu
tertentu. Perendaman menggunakan air bersuhu tinggi teruji efektif
menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan dan memicu
pembentukan hormon pertumbuhan sehingga biji dapat berkecambah
(Raharjo, 2002). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Desmawan. et al ,
2011 menunjukkan bahwa perlakuan perendaman benih kopi dengan suhu
air awal 90C dan waktu perendaman 30 menit yang dilakukan setiap hari
selama 7 hari mampu meningkatkan indeks vigor dan daya tumbuh benih
kopi sebesar 77,71%.
2. Perendaman dalam larutan GA3
Giberelin (GA3) merupakan hormon yang dapat ditemukan pada
hampir semua seluruh siklus hidup tanaman. Hormon ini mempengaruhi
perkecambahan biji, batang perpanjangan, induksi bunga, perkembangan
biji dan pertumbuhan pericarp. Selain itu, hormon ini juga berperan dalam
respon menanggapi rangsang melalui regulasi fisiologis berkaitan dengan

21

mekanisme biosintesis GA. Giberelin yang aktif secara biologis (GA


bioaktif) mengontrol beragam aspek pertumbuhan dan perkembangan
tanaman, termasuk perkecambahan biji, batang perpanjangan, perluasan
daun, dan bunga dan pengembangan benih. Penelitian yang dilakukan oleh
Cahyanti, 2009 menunjukkan bahwa perlakuan perendaman benih kopi
dalam larutan GA3 500 ppm selama 24 jam berpengaruh terhadap panjang
akar tunggang, jumlah akar sekunder, tinggi hipokotil, kecambah serta
bobot basah dan bobot kering kecambah. Hal ini dapat terjadi karena GA3
atau yang juga disebut dengan hormon Giberelin berfungsi untuk
menstimulasi panjang batang dengan cara menstimulasi pembelahan dan
pemanjangan sel (Bewley dan Black, 1978 dalam Cahyanti, 2009).
Perkecambahan pada biji diatur oleh sejumlah hormon yang kerjanya
bertahap. Pertama kali absorbsi air dari tanah menyebabkan embrio
memproduksi sejumlah kecil Giberelin. Giberelin menggiatkan enzim
hidrolitik dalam pencernaan cadangan makanan dalam benih setelah benih
menyerap air. Giberelin membantu mempercepat hidrolisis amilase
menjadi gula maltosa dan glukosa. Semakin banyak ketersediaan giberelin,
proses hidrolisis amilase juga juga semakin cepat dan gula-gula sederhana
yang dihasilkan juga semakin banyak. Adanya cadangan energi yang
tinggi dapat memacu pembelahan dan pemanjangan sel sehingga
pertumbuhan kecambah meningkat. Akibatnya, kualitas kecambah yang
dihasilkan menjadi lebih baik. Giberelin dalam konsentrasi yang rendah
sudah dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Namun pada
kosentrasi yang tinggi tidak akan membawa pengaruh atau menyebabkan
respon negatif pada tanaman.
3. Penyimpanan benih kopi pada suhu rendah
Suhu ruang penyimpanan merupakan faktor penting yang
mempengaruhi umur simpan benih. Makin rendah suhu ruang penyimpan
maka umur simpan benih akan semakin panjang. Dengan penurunan suhu
ruang simpan sebesar 5C maka daya simpan benih akan meningkat 2 kali

21

lipat. Hal ini berlaku pada suhu ruang simpan antara 0-50C (Sutopo,
2004). Suhu yang terlalu tinggi pada saat penyimpanan dapat
membahayakan dan mengakibatkan kerusakan pada benih karena akan
memperbesar terjadinya penguapan air dari dalam benih. Hal ini dapat
mengakibatkan benih kehilangan daya imbibisi dan kemampuan untuk
berkecambah sehingga berakibat pada matinya embrio. Penelitian yang
dilakukan

oleh

Cahyanti,

2009

menyatakan

bahwa

parameter

penyimpanan benih pada suhu 10C selama 24 jam menghasilkan laju


perkecambahan tercepat. Hal ini disebabkan karena perlakuan suhu rendah
berpengaruh pada respirasi dan perkecambahan. Suhu rendah dapat
menurunkan reaksi enzim dalam benih dan proses metabolisme benih
dapat diperlambat sehingga energi yang digunakan untuk merombak
cadangan makanan tidak cepat habis (Bewley dan Black, 1985 dalam
Cahyanti, 2009).
4. Pengupasan kulit benih Kopi
Tujuan pengupasan kulit benih adalah untuk memudahkan
permeabel terhadap air atau gas. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Cahyati 2009,menunjukkan bahwa perlakuan yang menghasilkan nilai
tertinggi ialah perlakuan pengupasan kulit benih yaitu sebesar 89,33%. Hal
ini terjadi karena air dan gas-gas yang dibutuhkan untuk proses
perkecambahan tidak terhalang oleh kulit tanduk benih yang tebal
sehingga air dan gas-gas tersebut mudah diserap dan bisa langsung
dimanfaatkan oleh benih. Selama proses perkecambahan, air dibutuhkan
untuk perkembangan embrio dan endosperm sedangkan gas-gas seperti
oksigen dibutuhkan untuk respirasi embrio (Kamil, 1979).

21

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tanaman kopi adalah suatu jenis tanaman tropis, yang dapat tumbuh dimana
saja, terkecuali pada tempat-tempat yang terlalu tinggi dengan temperatur yang
sangat dingin atau daerah-daerah yang tandus yang memang tidak cocok bagi
kehidupan tanaman. Tanaman kopi berasal dari benua Afrika. Tanaman kopi
dibawa ke pulau Jawa pada tahun 1696, tetapi pada waktu itu masih dalam taraf
percobaan.
Di Jawa, tanaman kopi ini mendapat perhatian sepenuhnya baru pada tahun
1699, karena tanaman tersebut dapat berkembang dan berproduksi baik. Bibit kopi
Indonesia didatangkan dari Yaman. Pada waktu itu jenis yang didatangkan adalah
kopi Arabika.
Kegiatan-kegiatan dalam teknologi benih kopi diantaranya: perendaman
dengan air, perendaman dalam larutan GA3, penyimpanan benih kopi pada suhu
rendah, Pengupasan kulit benih kopi.
3.2 Saran
Untuk lebih meningkatkan kemampuan dalam teknologi benih kopi
sebaiknya materi-materi yang telah dijelaskan dapat dipraktekkan.

21

DAFTAR PUSTAKA

Bewley, J.D dan M. Black. 1978. Physiology and biochemistry of seeds in


relation togerminate. Berlin Heidelberg. New York.
Cahyanti, Eka. 2009. Pengaruh Perlakuan Pemecahan Dormansi Benih Pada
Perkecambahan Kopi Arabika Klon USDA (Coffea arabica L.).
Universitas Brawijaya. Malang
Desmawan P, Rohmanti R, Nasrullah. 2011. Pengaruh Suhu dan Lama
Perendaman Benih Terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Awal Bibit
Kopi Arabika (Coffea arabica (LENN)). Universitas Gajah Mada.
Yogyakarta.
Helmawan Hilman. 2013. Makalah Kopi.
http://hilmanhilmawan3.blogspot.com/2013/05/makalah-kopi.html
Diakses pada tanggal 30 September 2014.
Kamil, J. 1979. Teknologi benih. Angkasa Raya. Padang.
Rahardjo.2002, Beberapa Cara yang Perlu Dalam Perkecambahan Kopi, Sub
Penelitian Budidaya Perkebunan Kopi, Bogor.
Salim, MS. 2004. Pematahan Dormansi Benih Aren Secara Fisik Berbagai Lama
Ekstraksi Buah. Agrosains. Vol. 6(2)
Sutopo,Lita. 2004. Teknologi Benih. Fakultas pertanian Universitas Brawijaya.
Malang.
Schmidth L. 2002. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan
Subtropis. Jakarta: Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan
Sosial Departemen Kehutanan.

21