Anda di halaman 1dari 16

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan

Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

Kabupaten Pidie Jaya adalah salah satu kabupaten baru di Provinsi Aceh,
dengan Ibukotanya Meureudu. Kabupaten ini terbentuk berdasarkan Undang-Undang
Nomor 07 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Pidie Jaya di Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 9, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4683), pada tanggal 2 Januari 2007. Luas
wilayah Kabupaten Pidie Jaya 1.162,84 km2, yang terdiri dari 8 kecamatan, 34 Mukim, 9
kelurahan dan 213 desa. Setelah diberlakukannya qanun tentang Penghapusan Kelurahan
dan Pembentukan Gampoeng Nomor 2 Tahun 2008, maka berubah menjadi 8 kecamatan
dan 222 gampoeng.
Sejak terbentuknya Kabupaten Pidie Jaya selama 8 tahun terakhir ini, menuntut
Pengelolaan serta pengendalian urusan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan berjalan lebih baik lagi, sehingga
keberadaannya sebagai Kabupaten Otonom baru dapat menunjukkan perkembangan dan
kemajuan. Perkembangan potensi Pidie Jaya tersebut ditandai dengan semakin
meningkatnya jumlah penduduk, penggunaan lahan, tingkat pertumbuhan ekonomi
masyarakat, besarnya potensi Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) serta adanya kondisi
rasa aman dan tertib.

1.1

LATAR BELAKANG

Kabupaten Pidie Jaya merupakan salah satu kabupaten yang memilik pertumbuhan
dan berkembangan daerah yang relatif cepat di Provinsi Nangro Aceh, dan saat ini
Kabupaten Pidie Jaya telah memiliki dokumen RTRW Kabupaten yang di sahkan sesuai
Qanun Kabupaten Pidie Jaya No. 2 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kabupaten Pidie Jaya Oleh karenanya dengan ditetapkannya perda tersebut,
pemerintah daerah Kabupaten Pidie Jaya sudah selayaknya pula untuk menjalankan
kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab dalam menyelenggarakan penataan
ruang. Penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.
26 tahun 2007 terdiri dari kegiatan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
Otonomi daerah telah menegaskan bahwa kewenangan pelaksanaan pembangunan
termasuk penyusunan rencana tata ruang daerah berada pada pemerintah
kabupaten/kota. Kewenangan tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan yang
harus dicermati dan disikapi oleh pemerintah kabupaten/kota terutama dalam
merencanakan tata ruang daerah yang tidak lagi terbatas oleh cakupan administrasi saja,
tetapi harus pula mempertimbangkan keterkaitan sosial, ekonomi dan ekologis (strategis)
sesuai dengan kebutuhan dan prioritas perencanaan wilayah yang akan dituju/dibuat.
Penataan ruang yang diharapkan di masa depan harus sejalan dengan paradigma
pembangunan yang bukan hanya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan manusia
(ekosentris) tetapi berimbang ke arah peningkatan kesejahteraan ekosistem sebagai dasar
yang melahirkan konsep pembangunan berwawasan lingkungan, konsep pembangunan
yang mempertimbangkan daya dukung (carrying capacity) dan kelangkaan (scarcity)
sumber daya alam termasuk lahan (ruang) dalam dimensi lingkungan (eksternalitas) yang
didalamnya tetap juga menjadikan proses pembangunan ekonomi sebagai salah satu
tujuan akhirnya.
Adapun untuk wilayah Kecamatan Bandar Dua, merupakan salah satu kecamatan
di wilayah Kabupaten Pidie Jaya yang memiliki dominasi guna lahan utama sebagai
kawasan pertanian. Untuk itu, di dalam muatan materi teknis RTRW Kabupaten Pidie Jaya
pun juga diarahkan sebagai pusat/sentra kegiatan agropolitan. Selain itu daerah
Kecamatan Bandar Dua juga merupakan wilayah/jalur ekonomi yang berkembang
terutama pada poros jalan negara yang menghubungkan Kota Banda Aceh dan Kota Medan.
laporan pendahuluan bab

1-1

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

Permasalahan yang muncul adalah ketika di wilayah Kecamatan Bandar Dua ini terjadi
peningkatan kegiatan alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi non-pertanian
sebagai akibat dari pengaruh tumbuhnya kegiatan perkotaan di sekitar jalur jalan negara
tersebut. Oleh karenanya, perlu ada sebuah panduan penanganan kawasan untuk
mengoptimalkan potensi-potensi yang bersifat kedaerahan tersebut dengan
meminimalisir dampak dari permasalahan-permasalahan yang ada.
Dengan melihat pertimbangan lokasi dan peran yang sangat strategis Kecamatan
Bandar Dua sebagai KSK Agropolitan, serta untuk mengantisipasi perkembangan yang akan
terjadi akibat pergeseran penggunaan lahan, maka perlu dilakukan penjabaran lebih
lanjut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pidie Jaya pada KSK Agropolitan
Bandar Dua yang telah disusun dengan melakukan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) KSK Agropolitan Bandar Dua.

1.2

MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK
Agropolitan Bandar Dua, sebagai alat pengendaliaan pemanfaatan ruang dalam
mendukung terciptanya kawasan strategis maupun kawasan fungsional secara aman,
produktif dan berkelanjutan.
Tujuan penyusunan pedoman ini adalah untuk mewujudkan RDTR kabupaten/kota
yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai:
1.

Arahan bagi masyarakat dalam pengisian pembangunan fisik kawasan,

2.

Pedoman bagi instansi dalam menyusun zonasi, dan pemberian periijinan


kesesuaian pemanfaatan bangunan dengan peruntukan lahan.

RDTR yang disusun sesuai dengan kebutuhan RTRW kabupaten/kota, perlu


dilengkapi acuan yang lebih detail untuk pengendalian pemanfaatan ruang
kabupaten/kota, termasuk peraturan zonasinya yang menjadi dasar penyusunan RTBL
bagi zona-zona yang diprioritaskan penanganannya. Sasaran kegiatan penyusunan RDTR
KSK Agropolitan Kecamatan Bandar Dua ini adalah :
1.

Menciptakan keselarasan, keserasian,


permukiman dalam kawasan.

2.

Mewujudkan keterpaduan program pembangunan antar kawasan maupun dalam


kawasan.

3.

Terkendalinya pembangunan kawasan strategis dan fungsional kabupaten, baik


yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat/swasta.

4.

Mendorong investasi masyarakat di dalam kawasan.

5.

Terkoordinasinya
pembangunan
masyarakat/swasta.

1.3

keseimbangan

kawasan

antara

antar

lingkungan

pemerintah

dan

RUANG LINGKUP

Ruang lingkup dalam penyusunan RDTR KSK Agropolitan Kecamatan Bandar Dua,
meliputi: lingkup wilayah perencanaan, lingkup materi RDTR, dan lingkup kurun waktu
perencanaan.

laporan pendahuluan bab

1-2

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

1.3.1 LINGKUP WILAYAH PERENCANAAN


Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) penyusunan RDTR KSK Agropolitan
Kecamatan Bandar Dua, ditetapkan bahwa lingkup Wilayah Perencanaan adalah wilayah
administrasi Kecamatan Bandar Dua yang akan dikembangkan menjadi Kawasan
Strategis Agropolitan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pidie Jaya
Tahun 2012-2013. Untuk lebih jelasnya mengenai lingkup wilayah perencanaan, dapat
dilihat pada Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Pidie Jaya, Gambar 1.2 Peta
Administrasi KSK Agropolitan Kecamatan Bandar Dua, dan Gambar 1.3 Peta Citra
Satelit Agropolitan Kecamatan Bandar Dua.

1.3.2 LINGKUP MUATAN RDTRK


Lingkup muatan dalam penyusunan RDTR KSK Agropolitan Kecamatan Bandar Dua,
terdiri atas:
1. Tujuan Penataan BWP (Bagian Wilayah Perencanaan)
Tujuan penataan BWP merupakan nilai dan/atau kualitas terukur yang akan
dicapai sesuai dengan arahan pencapaian sebagaimana ditetapkan dalam RTRW
dan merupakan alasan disusunnya RDTR tersebut, serta apabila diperlukan dapat
dilengkapi konsep pencapaian. Tujuan penataan BWP berisi tema yang akan
direncanakan di BWP.
2. Rencana Pola Ruang
Rencana pola ruang dalam RDTR merupakan rencana distribusi subzona peruntukan
yang antara lain meliputi hutan lindung, zona yang memberikan perlindungan
terhadap zona di bawahnya, zona perlindungan setempat, perumahan,
perdagangan dan jasa, perkantoran, industri, dan RTNH, ke dalam blok-blok.
Rencana pola ruang dimuat dalam peta yang juga berfungsi sebagai zoning map
bagi peraturan zonasi. Rencana pola ruang RDTR terdiri atas zona lindung dan Zona
budi daya.
3. Rencana Jaringan Prasarana
Rencana jaringan prasarana merupakan pengembangan hierarki sistem jaringan
prasarana yang ditetapkan dalam rencana struktur ruang yang termuat dalam
RTRW kabupaten. Materi rencana jaringan prasarana meliputi Rencana
Pengembangan: Jaringan Pergerakan, Jaringan Energi/Kelistrikan, Jaringan
Telekomunikasi, Jaringan Air Minum, Jaringan Drainase, Jaringan Air Limbah, dan
Prasarana Lainnya.
4. Penetapan Sub BWP Yang Diprioritaskan Penanganannya
Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya merupakan upaya dalam
rangka operasionalisasi rencana tata ruang yang diwujudkan ke dalam rencana
penanganan Sub BWP yang diprioritaskan. Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan
penanganannya bertujuan untuk mengembangkan, melestarikan, melindungi,
memperbaiki, mengkoordinasikan keterpaduan pembangunan, dan/atau
melaksanakan revitalisasi di kawasan yang bersangkutan, yang dianggap memiliki
prioritas tinggi dibandingkan Sub BWP lainnya.
5. Ketentuan Pemanfaatan Ruang
Ketentuan pemanfaatan ruang dalam RDTR merupakan upaya mewujudkan RDTR
dalam bentuk program pengembangan BWP dalam jangka waktu perencanaan 5
(lima) tahunan sampai akhir tahun masa perencanaan. Program dalam ketentuan
pemanfaatan ruang meliputi: Program Pemanfaatan Ruang Prioritas, Lokasi,
laporan pendahuluan bab

1-3

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

Besaran, Sumber Pendanaan, Instansi Pelaksana, dan Waktu dan Tahapan


Pelaksanaan.
6. Peraturan Zonasi
Peraturan zonasi berfungsi sebagai:

Perangkat operasional pengendalian pemanfaatan ruang;

Acuan dalam pemberian izin pemanfaatan ruang, termasuk di dalamnya air


right development dan pemanfaatan ruang di bawah tanah;

Acuan dalam pemberian insentif dan disinsentif;

Acuan dalam pengenaan sanksi; dan

Rujukan teknis dalam pengembangan atau pemanfaatan lahan dan penetapan


lokasi investasi.

Peraturan zonasi memuat materi yang meliputi ketentuan kegiatan dan


penggunaan lahan, ketentuan intensitas pemanfaatan ruang, ketentuan tata
bangunan, ketentuan prasarana dan sarana minimal, ketentuan pelaksanaan, dan
materi pilihan yang terdiri atas ketentuan tambahan, ketentuan khusus, standar
teknis, dan ketentuan pengaturan zonasi.

1.3.3 LINGKUP KURUN WAKTU PERENCANAAN


RDTR berlaku dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dan ditinjau kembali
setiap 5 (lima) tahun. Peninjauan kembali RDTR dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali
dalam 5 (lima) tahun jika:
a.

Terjadi perubahan RTRW kabupaten/kota yang mempengaruhi BWP RDTR atau

b.

Terjadi dinamika internal kabupaten/kota yang mempengaruhi pemanfaatan


ruang secara mendasar antara lain berkaitan dengan bencana alam skala besar,
perkembangan ekonomi yang signifikan, dan perubahan batas wilayah daerah.

2020
2035
2035

laporan pendahuluan bab

1-4

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

Gambar 1.1
Peta Administrasi Kabupaten Pidie Jaya

laporan pendahuluan bab

1-5

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

Gambar 1.2
Peta Administrasi KSK Agropolitan Bandar Dua

laporan pendahuluan bab

1-6

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

Gambar 1.3
Peta Citra Satelit Agropolitan Kecamatan Bandar Dua

laporan pendahuluan bab

1-7

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

1.4

DASAR-DASAR PERENCANAAN

Dasar-dasar perencanaan di dalam penyusunan RDTR KSK Agropolitan Bandar Dua,


sebagai berikut:

1.4.1 Landasan Hukum


Landasan hukum dalam penyusunan RDTR KSK Agropolitan Bandar Dua, adalah
sebagai berikut:
1. Kelompok Undang-Undang:

Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian;

Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;

Undang-Undang RI No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;

Undang-Undang RI No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;

Undang-Undang RI No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara


Pemerintah Pusat dan Daerah;

Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;

Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2007 tentang Energi;

Undang-Undang RI No. 32 Perubahan Kedua Atas Undang-undang No. 32 Tahun


2004 tentang Pemerintahan Daerah;

Undang-Undang RI No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;

Undang-Undang RI No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;

Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;

Undang-Undang RI No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

Undang-undang RI No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

Undang-undang RI No. 1 Tahun 2011


Permukiman;

Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial.

tentang Perumahan dan Kawasan

2. Kelompok Peraturan/Keputusan Presiden dan Menteri:

Peraturan Pemerintah RI No. 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun Dan
Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri;

Peraturan Pemerintah RI No. 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta


Untuk Penataan Ruang Wilayah;

Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan


Pengendalian Pencemaran Air;

Peraturan Pemerintah RI No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan;

Peraturan Pemerintah RI No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya


Air;

Peraturan Pemerintah RI No. 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah;

Peraturan Pemerintah RI No. 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan


Kawasan Perkotaan;
laporan pendahuluan bab

1-8

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

Peraturan Pemerintah RI No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan


Penataan Ruang;

Peraturan Pemerintah RI No. 68 Tahun 2010 tentang bentuk dan tata cara
peran masyarakat dalam penataan ruang;

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan;

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20/PRT/M/2007 Tentang Pedoman


Teknis Analisis Aspek Fisik Dan Lingkungan, Ekonomi, Serta Sosial Budaya
Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang;

Peraturan Menteri PU No. 22/PRT/M/2007 tentang Pedoman Penataan Ruang


Kawasan Rawan Bencana Longsor;

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 41/PRT/M/2007 Tentang Pedoman


Kriteria Teknis Kawasan Budi Daya.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5/PRT/M/2008 tentang Pedoman


Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan;

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 12/PRT/M/2009 tentang Pedoman


Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Non Hijau di Wilayah
Kota/Kawasan Perkotaan;

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2009 tentang


Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup;

Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri


Komunikasi dan Informatika dan Kepala Badan koordinasi Penanaman Modal
No. 18 Tahun 2009 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama
Menara Telekomunikasi;

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 27 Tahun 2009 tentang


Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis;

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2009 tentang Pedoman


Persetujuan Substansi dalam Rancangan Penetapan Peraturan Daerah tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota, beserta Rencana Rincinya;

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20 Tahun 2011 tentang Pedoman


Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi
Kabupaten/Kota;

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2012 Tentang Jenis


Rencana/ Usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki Analisa Mengenai
Dampak Lingkungan;

Kepmen Kimpraswil No. 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Penentuan SPM


Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum;

Kepmen Kimpraswil No. 327/KTS/2002 tentang penyusunan Rencana Tata


Ruang Kawasan Perkotaan.

3. Kelompok Peraturan Provinsi/Daerah

Qanun Kabupaten Pidie Jaya No. 2 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Kabupaten Pidie Jaya;

Qanun Kabupaten Pidie Jaya No. 2 Tahun 2008 Tentang Penghapusan


Kelurahan dan Pembentukan Gampong dalam Kabupaten Pidie Jaya.

laporan pendahuluan bab

1-9

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

1.4.2 ISTILAH DAN DEFINISI


Beberapa istilah dan definisi di dalam RDTR, adalah sebagai berikut:
1.

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.

2.

Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.

3.

Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

4.

Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang
dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.

5.

Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan


prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi
masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.

6.

Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi
daya.

7.

Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola
ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan
program beserta pembiayaannya.

8.

Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan


pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

9.

Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata


ruang.

10. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan


pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap
blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang.
11. Penggunaan Lahan adalah fungsi dominan dengan ketentuan khusus yang
ditetapkan pada suatu kawasan, blok peruntukan, dan/atau persil.
12. Rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten/kota adalah rencana tata ruang
yang bersifat umum dari wilayah kabupaten/kota, yang merupakan penjabaran
dari RTRW provinsi, dan yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang
wilayah kabupaten/kota, rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota,
rencana pola ruang wilayah kabupaten/kota, penetapan kawasan strategis
kabupaten/kota, arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota, dan
ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota.
13. Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR adalah rencana
secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota yang dilengkapi
dengan peraturan zonasi kabupaten/kota.
14. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif
dan/atau aspek fungsional.
15. Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disingkat BWP adalah bagian dari
kabupaten/kota dan/atau kawasan strategis kabupaten/kota yang akan atau perlu
disusun rencana rincinya, dalam hal ini RDTR, sesuai arahan atau yang ditetapkan
di dalam RTRW kabupaten/kota yang bersangkutan, dan memiliki pengertian yang

laporan pendahuluan bab

1 - 10

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

sama dengan zona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan


Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
16. Sub Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disebut Sub BWP adalah bagian
dari BWP yang dibatasi dengan batasan fisik dan terdiri dari beberapa blok, dan
memiliki pengertian yang sama dengan subzona peruntukan sebagaimana
dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang.
17. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,
pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan
kegiatan ekonomi.
18. Kawasan Strategis Kabupaten/Kota adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup
kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.
19. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya
manusia, dan sumber daya buatan.
20. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya
buatan.
21. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu
satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta
mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan
perdesaan.
22. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari pemukiman, baik
perkotaan maupun pedesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan
utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.
23. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang memenuhi
standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang layak, sehat, aman, dan
nyaman.
24. Jaringan adalah keterkaitan antara unsur yang satu dan unsur yang lain.
25. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh batasan fisik
yang nyata seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran irigasi, saluran udara
tegangan ekstra tinggi, dan pantai, atau yang belum nyata seperti rencana
jaringan jalan dan rencana jaringan prasarana lain yang sejenis sesuai dengan
rencana kota, dan memiliki pengertian yang sama dengan blok peruntukan
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang.
26. Subblok adalah pembagian fisik di dalam satu blok berdasarkan perbedaan
subzona.
27. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik spesifik.
28. Subzona adalah suatu bagian dari zona yang memiliki fungsi dan karakteristik
tertentu yang merupakan pendetailan dari fungsi dan karakteristik pada zona yang
bersangkutan.
29. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah angka
persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan

laporan pendahuluan bab

1 - 11

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana


tata ruang dan RTBL.
30. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disingkat KDH adalah angka persentase
perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang
diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah
perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
31. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah angka
persentase perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan gedung dan luas
tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang
dan RTBL.
32. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah sempadan
yang membatasi jarak terdekat bangunan terhadap tepi jalan; dihitung dari batas
terluar saluran air kotor (riol) sampai batas terluar muka bangunan, berfungsi
sebagai pembatas ruang, atau jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu
massa bangunan terhadap lahan yang dikuasai, batas tepi sungai atau pantai,
antara massa bangunan yang lain atau rencana saluran, jaringan tegangan tinggi
listrik, jaringan pipa gas, dsb (building line).
33. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH adalah area
memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang
sengaja ditanam.
34. Ruang Terbuka Non Hijau yang selanjutnya disingkat RTNH adalah ruang terbuka
di bagian wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH, berupa
lahan yang diperkeras atau yang berupa badan air, maupun kondisi permukaan
tertentu yang tidak dapat ditumbuhi tanaman atau berpori.
35. Agropolitan adalah suatu model pembangunan yang mengandalkan desentralisasi,
mengandalkan pembangunan infrastruktur setara kota di wilayah perdesaan,
sehingga mendorong urbanisasi (pengkotaan dalam arti positif);
36. Pendekatan agropolitan menggambarkan bahwa pengembangan atau
pembangunan perdesaan (rural development) secara baik dapat dilakukan dengan
mengaitkan atau menggabungkan perdesaan dengan pembangunan wilayah
perkotaan (urban development) pada tingkat lokal.

1.4.3 KEDUDUKAN RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)


Sebagaimana diketahui bahwa RTRW kabupaten/kota harus menetapkan bagian
dari wilayah kabupaten/kota yang perlu disusun RDTR-nya. Bagian dari wilayah yang akan
disusun RDTR tersebut merupakan kawasan perkotaan atau kawasan strategis
kabupaten/kota. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Penataan ruang
diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan, wilayah administratif,
kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan. Perencanaan tata ruang menghasilkan
rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang.
RDTR merupakan rencana yang menetapkan blok pada kawasan fungsional sebagai
penjabaran kegiatan ke dalam wujud ruang yang memperhatikan keterkaitan antar
kegiatan dalam kawasan fungsional. RDTR yang disusun lengkap dengan peraturan zonasi
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk suatu BWP tertentu.

laporan pendahuluan bab

1 - 12

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

Gambar 1.4
Kedudukan RDTR dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang dan
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
RENCANA
PEMBANGUNAN
RPJP
NASIONAL

RENCANA UMUM
TATA RUANG

RENCANA RINCI
TATA RUANG

RTRW
NASIONAL

RTR
PULAU/KEPULAUAN
RTR KAWASAN
STRATEGIS NASIONAL

RPJM
NASIONAL
RPJP
NASIONAL
RPJP
PROVINSI
RPJP
KAB./KOTA

RPJM
KAB./KOTA

RTRW
PROVINSI

RTR KAWASAN
STRATEGIS PROVINSI
RDTR KABUPATEN

RTRW
KABUPATE
N

RTRW
KOTA

RTR KAWASAN
STRATEGIS
KABUPATEN
RDTR KOTA
RDTR KAWASAN
STRATEGIS KOTA

Sumber: PerMen PU No. 20 Tahun 2011

Gambar 1.5
Kedudukan RDTR dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang dan
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

laporan pendahuluan bab

1 - 13

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

1.4.4 FUNGSI DAN MANFAAT RDTR


Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropolitan Bandar Dua, berfungsi sebagai:
a.

Kendali mutu pemanfaatan ruang KSK Agropolitan Bandar Dua berdasarkan RTRW
Kabupaten Pidie Jaya;

b.

Acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan
pemanfaatan ruang yang diatur dalam RTRW Kabupaten Pidie Jaya;

c.

Acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang;

d.

Acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang; dan

e.

Acuan dalam penyusunan RTBL.

Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropolitan Bandar Dua, bermanfaat
sebagai:
a.

Penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan fungsi dan


lingkungan permukiman dengan karakteristik tertentu;

b.

Alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan pengawasan pelaksanaan


pembangunan fisik kabupaten/kota yang dilaksanakan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, swasta, dan/atau masyarakat;

c.

Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk setiap bagian wilayah sesuai


dengan fungsinya di dalam struktur ruang kabupaten/kota secara keseluruhan; dan

d.

ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan untuk disusun program


pengembangan kawasan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya pad tingkat BWP
atau Sub BWP.

1.5

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka pemikiran dalam penyusunan RDTR KSK Agropolitan Bandar Dua diawali
dari latar belakang, fenomena dan dinamika perkembangan pembangunan hingga output
yang dihasilkan sebagai pedoman langkah kerja/frame work dari awal-akhir agar
terbentuk proses dan tahapan penyusunan RDTR Kawasan yang sistematis dan terarah.
Lebih jelasnya Kerangka berfikir ini dapat dilihat pada Gambar 1.6.

laporan pendahuluan bab

1 - 14

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

Gambar 1.6
Kerangka Pemikiran

laporan pendahuluan bab

1 - 15

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) KSK Agropoitan


Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya

1.6

SISTEMATIKA LAPORAN PENDAHULUAN

Sistematika laporan pendahuluan penyusunan RDTR Ibu Kota Kecamatan Meureudu


Kabupaten Pidie Jaya, disusun sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN
Bab ini berisi hal-hal yang melatarbelakangi penyusunan RDTR meliputi: latar
belakang, maksud, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, dasar-dasar perencanaan,
kerangka pemikiran, dan sistematika pembahasan laporan pendahuluan.

Bab II

KEBIJAKAN PENATAAN RUANG


Bab ini menjelaskan mengenai kebijakan penataan ruang di Kabupaten Pidie Jaya
secara umum dan Ibu Kota Kecamatan Meureudu pada khususnya.

Bab III

GAMBARAN UMUM ZONA PERENCANAAN


Bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum zona wilayah perencanaan Ibu
Kota Kecamatan Meureudu di dalam perencanaan penataan ruang, meliputi:
aspek geografis dan batas administrasi, aspek fisik dasar, potensi bencana alam,
aspek sosial kependudukan, aspek sarana dan prasarana, dan aspek pendapatan
regional.

Bab IV

METODOLOGI
Bab ini menjelaskan mengenai metodologi (metoda pendekatan, pengumpulan
data, dan metoda analisa) dalam kegiatan penyusunan RDTR Ibu Kota Kecamatan
Meureudu Kabupaten Pidie Jaya.

Bab V

RENCANA KERJA
Bab ini menjelaskan mengenai tahapan kerja dalam kegiatan penyusunan RDTR
KSK Agropolitan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya, meliputi: tahap pelaksanaan
pekerjaan, tahap pelaporan, struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan dan
jadwal pelaksanaan pekerjaan.

laporan pendahuluan bab

1 - 16