Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demokrasi perwakilan yang dikembangkan pada zaman modern sekarang ini sudah
menjadi obsesi di banyak negara. Demokrasi kini telah dipandang sebagai bentuk cara
penyelenggaraan pemerintahan yang terbaik oleh setiap negara yang mengklaim dan
menyebut dirinya sebagai negara modern. Setiap negara berusaha meyakinkan masyarakat
dunia bahwa pemerintah negara tersebut menganut sistem politik demokrasi, atau sekurangkurangnya tengah berproses seperti itu.
Demokrasi yang berlangsung di setiap negara-bangsa tidaklah dapat terlaksana secara
uniform (seragam), karena dalam banyak hal pemahaman dan penerapan demokrasi
dipengaruhi oleh ideologi atau falsafah hidup negara-bangsa yang bersangkutan. Oleh karena
itu, Bagir Manan mengemukakan, demokrasi itu merupakan suatu fenomena yang tumbuh,
bukan suatu bentuk atau hasil penciptaan. Salah satu ciri negara demokrasi adalah
melaksanakan pemiliahan umum (pemilu) untuk membentuk pemerintahan atau mengisi
jabatan-jabatan kenegaraan atau pemerintahan
Pemilihan umum merupakan sarana pelaksana azas kedaulatan rakyat berdasarkan
Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemilihan umum
diselenggarakan untuk memilih anggotaanggota DPR, DPRD I dan DPRD II selain itu juga
untuk mengisi keanggotaan MPR. Pemilihan umum diselenggarakan setiap lima tahun sekali
pada waktu yang bersamaan dan berdasarkan pada Demokrasi Pancasila. Pemungutan suara
diadakan secara Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER) (Soemantri,1995:108).
Pemilihan umum adalah sarana demokrasi untuk membentuk sistem kekuasaan negara
yang berkedaulatan rakyat dan permusyawaratan perwakilan. Kekuasaan negara yang lahir
dengan pemilihan umum adalah kekuasaan yang lahir dari bawah menurut kehendak rakyat,
oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemilihan umum bertujuan untuk menegakkan prinsip
kedaulatan rakyat (Waridah dkk 2003:7) Pemilihan umum bagi negara demokrasi seperti
negara Indonesia sangat penting artinya karena menyalurkan kehendak asasi politik bangsa,
yaitu sebagai pendukung/pengubah personilpersonil dalam lembaga negara, mendapatkan
dukungan mayoritas rakyat dalam menentukan pemegang kekuasaan negara terutama
pemegang kekuasaan eksekutif serta rakyat secara periodik dapat mengoreksi atau
mengawasi lembaga eksekutif khususnya dan lembaga negara lain pada umumnya.

Pemilihan umum di Indonesia sudah dilaksanakan beberapa kali antara lain pada
tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, 2009, dan 2014. Pemilihan
umum 1955 merupakan pemilihan umum yang pertama kali diadakan di Indonesia yaitu pada
masa kabinet Burhanudin Harahap. Pemilu 1955 berasaskan pada langsung, umum, bebas,
rahasia dan kebersamaan. Dengan asas kebersamaan ini setiap individu diakui kesamaan hak
dan kedudukannya sesuai dengan prinsip persamaan di depan hukum. Oleh karena itu pada
pemilihan umum 1955 semua wakil rakyat dipilih melalui pemilihan umum dan tidak ada
yang diangkat (Asshidique 1994:168).
Namun saat ini, berdasarkan pasal 22 E Ayat (1) UUD 1945, pemilu di indonesia ini
dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, dengan tujuan untuk
Memilih wakil rakyat dan wakil daerah untuk membentuk suatu pemerintahan yang
demokratis, kuat, dan memperoleh dukungan rakyat dalam rangka mewujudkan tujuan
nasional sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.
Dalam perkembangannya, Pemilu di Indonesia ini menggunakan dua sistem dalam
pemilihan umum yaitu Sistem Perwakilan Berimbang (Proportional System) dan Sistem
Distrik (Plurality System). Sistem Perwakilan Berimbang ini merupakan sistem pemilu yang
sering dipakai oleh setiap negara yang ada di dunia, sedangkan sistem distrik ini hanya ddi
pakai dinegara-negara yang mempunyai masyarakat yang heterogen dan mempunyai wilayah
yang luas seperti Kanada, Amerika Serikat, India, dan Lainnya. Lalu bagaimana dengan
Indonesia yang memiliki penduduk yang heterogen dan wilayah yang luas, apakah Indonesia
bisa menggunakan sistem distrik ini atau tidak? Berangkat dari permasalahan diatas penulis
tertarik ingin mengangkat sebuah makalah dengan judul Sistem Distrik dalam Pemilu
Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Pemilu dan Sistem distrik dalam pemilu?
2. Bagaimana dasar hukum pemilu di Indonesia?
3. Bagaimana Asas dan tujuan Pemilu di Indonesia?
4. Bagaimana sistem pemilu yang di pakai di Indonesia?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui tentang definisi pemilu dan sistem distrik yang di pakai dalam pemilu
2. Mengetahui tentang dasar hukum pemilu yang di pakai di Indonesia
3. Mengetahui tentang asas dan tujuan pemilihan umum di Indonesia
4. Mengetahui sistem pemilu yang digunakan di indonesia
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pemilu dan Distrik


Pemilihan umum adalah sarana demokrasi untuk membentuk sistem kekuasaan negara
yang berkedaulatan rakyat dan permusyawaratan perwakilan. Kekuasaan negara yang lahir
dengan pemilihan umum adalah kekuasaan yang lahir dari bawah menurut kehendak rakyat,
oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemilihan umum bertujuan untuk menegakkan prinsip
kedaulatan rakyat (Waridah dkk 2003:7). Menurut Gatara (2008:207) Pemilu sebagai
prosedur demokrasi (atau juga sering disebut Pemilu sebagai pesta demokrasi) adalah untuk
membentuk sistem kekuasaan negara yang berkedaulatan rakyat dan permusyawaratan
perwakilan yang digariskan oleh konstitusi atau undang-undang dasar Negara. Sedangkan
menurut Robert Dahl (1992:33) menyatakan bahwa pemilu merupakan gambaran ideal dan
maksimal bagi suatu pemerintahan demokrasi di zaman modern.
Dalam literatur Ilmu Politik, Pemilu yang dalam bahasa Inggris dinamakan dengan
General election adalah merupakan sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dengan
tujuan memilih para wakil rakyat dan pemimpin politik dari level terendah sampai dengan
level tertinggi. Berdasarkan UU No. 10 / 2008, Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan
rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pemilu merupakan
sarana demokrasi untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dengan memilih para wakil rakyat
dan pemimpin politik sesuai dengan kehendak dan keinginan rakyat berdasarkan pancasila
dan undang-undang dasar 1945.
2.1.1

Definisi Distrik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Distrik merupakan bagian kota atau negara

yang dibagi untuk tujuan tertentu seperti wilayah militer, pemilihan atau daerah bagian dari
kabupaten yang pemerintahannya dipimpin oleh pembantu bupati (sebelum tahun 1970) yang
biasa disebut kewedanaan.
Menurut Wikipedia.com Distrik, adalah pembagian wilayah administratif di Provinsi
Papua dan Papua Barat, Indonesia di bawah kabupaten atau kota. Istilah "Distrik"

menggantikan "kecamatan", yang sebelumnya digunakan seperti halnya di provinsi-provinsi


lain di Indonesia. Penetapan ini adalah menyusul diterapkannya Undang-undang Nomor 21
Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Distrik merupakan Perangkat
Daerah Kabupaten atau Kota di Papua yang mempunyai wilayah kerja tertentu yang dipimpin
oleh seorang Kepala Distrik.
Distrik dibagi lagi menjadi sejumlah kampung, atau dengan nama lain sesuai dengan
adat istiadat setempat. Pembentukan, pemekaran, penghapusan, atau penggabungan Distrik
ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Seperti contoh yang ada di negaranegara Asia Bagian Timur seperti Korea, Jepang, Tiongkok, Taiwan dan lainnya. Istilah
distrik ini masih sanngat lazim digunakan sampai sekarang dan merupakan istilah pembagian
administratif tingkat daerah di sebagian besar wilayah Asia Bagian Timur ini.
2.2 Dasar Hukum Pemilu di Indonesia
Ada beberapa dasar hukum di Indonesia yang membahas tentang pemilihan umum
yaitu
1. Undang-undang dasar 1945, pasal 22 tentang Pemilihan Umum.
2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR,
DPD dan DPRD
3. Undang-Undang RI No. 22 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pemilihan umum
4. Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik
5. Undang-Undang RI No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden
6. Peraturan Presiden RI No. 2 Tahun 2009 tentang bantuan dan fasilitas pemerintah
daerah dalam penyelenggaraan pemilu tahun 2009
7. Surat Edaran Mahkamah Agung RI No.11 tahun 2008 tentang gugatan yang berkaitan
dengan partai politik
8. Surat Edaran Mahkamah Agung RI No. 12 tentang petunjuk pelaksanaan proses
persidangan pelanggaran pidana pemilu

9. Peraturan Mahkamah Agung RI No. 03 tahun 2008 tentang penunjukan hakim khusus
perkara pidana pemilu
10. Peraturan KPU No. 20 tahun 2008 tentang perubahan terhadap peraturan KPU No. 09
tahun 2008 tentang tahapan, program, dan jadwal penyelenggaraan pemilu anggota
DPR, DPD, dan DPRD.
11. Kesepakatan bersama antara jaksa agung RI, Kepala Kepolisian Negara RI, Ketua
Badan Pengawas Pemilu No. 055 /A /VI/ 2008. POL

B /06 /VI/ 2008. 01/

BAWASLU/ KB/ VI/ 2008 tentang sentra penegakan hukum terpadu dan pola
penanganan perkaraa tindak pidana pemilu legislatif tahun 2009
12. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang RI No. 1 Tahun 2009 tentang
perubahan atas UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan
DPRD.
13. Peraturan Presiden RI No. 4 tahun 2009 tentang dukungan kelancaran
penyelenggaraan pemilihan umum tahun 2009
Adapun landasan hukum setiap pemilu yang ada di Indonesia dari tahun 1955-2009
adalah sebagai berikut
Landasan hukum Pemilu 1955 adalah Undang-Undang Nomor 7 tahun 1953 yang
diundangkan 4 April 1953. Dalam UU tersebut, Pemilu 1955 bertujuan memilih
anggota bikameral: Anggota DPR dan Konstituante (seperti MPR). Sistem yang
digunakan adalah proporsional. Menurut UU nomor 7 tahun 1953 tersebut, terdapat
perbedaan sistem bilangan pembagi pemilih (BPP) untuk anggota konstituante dan
anggota parlemen.
Pemilu 1971 diadakan tanggal 3 Juli 1971. Pemilu ini dilakukan berdasarkan Undangundang Nomor 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan Undang-undang Nomor 16
tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD.
Dasar hukum Pemilu 1977 adalah Undang-undang No. 4 Tahun 1975. Pemilu ini
diadakan setelah fusi partai politik dilakukan pada tahun 1973. Sistem yang
digunakan pada pemilu 1977 serupa dengan pada pemilu 1971 yaitu sistem
proporsional dengan daftar tertutup.
Pemilu 1982 diadakan tanggal 4 Mei 1982. Tujuannya sama seperti Pemilu 1977 di
mana hendak memilih anggota DPR (parlemen). Hanya saja, komposisinya sedikit

berbeda. Sebanyak 364 anggota dipilih langsung oleh rakyat, sementara 96 orang
diangkat oleh presiden. Pemilu ini dilakukan berdasarkan Undang-undang No. 2 tahun
1980.
Pemilu 1987 diadakan tanggal 23 April 1987. Tujuan pemilihan sama dengan pemilu
sebelumnya yaitu memilih anggota parlemen. Total kursi yang tersedia adalah 500
kursi. Dari jumlah ini, 400 dipilih secara langsung dan 100 diangkat oleh Presiden
Suharto. Sistem Pemilu yang digunakan sama seperti pemilu sebelumnya, yaitu
Proporsional dengan varian Party-List.
Pemilu 1992 diadakan tanggal 9 Juni 1992 dengan dasar hukum Sistem Pemilu yang
digunakan sama seperti pemilu sebelumnya yaitu Proporsional dengan varian PartyList. Tujuan Pemilu 1992 adalah memilih secara langsung 400 kursi DPR
Pemilu 1997 merupakan Pemilu terakhir di masa administrasi Presiden Suharto.
Pemilu ini diadakan tanggal 29 Mei 1997. Tujuan pemilu ini adalah memilih 424
orang anggota DPR. Sistem pemilu yang digunakan adalah Proporsional dengan
varian Party-List
Pemilu 1999 adalah pemilu pertama pasca kekuasaan presiden Suharto. Pemilu ini
diadakan di bawah kepemimpinan Presiden B.J. Habibie. Pemilu ini terselenggara di
bawah sistem politik Demokrasi Liberal. Artinya, jumlah partai peserta tidak lagi
dibatasi seperti pemilu-pemilu lalu yang hanya terdiri dari Golkar, PPP, dan PDI.
Pemilu 1999 diadakan berdasarkan Undang-undang Nomor 3 tahun 1999 tentang
Pemilihan Umum. Sesuai pasal 1 ayat (7) pemilu 1999 dilaksanakan dengan
menggunakan sistem proporsional berdasarkan stelsel daftar dengan varian Roget.
Pada pemilu 2004, mekanisme pengaturan pemilihan anggota parlemen ini ada di
dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 2003. Untuk kursi DPR, dijatahkan 550 kursi.
Daerah pemilihan anggota DPR adalah provinsi atau bagian-bagian provinsi.
Pemilu 2009 dilaksanakan menurut Undang-undang Nomor 10 tahun 2008. Jumlah
kursi DPR ditetapkan sebesar 560 di mana daerah dapil anggota DPR adalah provinsi
atau bagian provinsi. Jumlah kursi di tiap dapil yang diperebutkan minimal tiga dan
maksimal sepuluh kursi. Ketentuan ini berbeda dengan Pemilu 2004.
2.3 Asas dan Tujuan Pemilihan Umum
Menurut Undang-Undang No. 12 Thun 2003, pemilu adalah sarana pelaksanaan
kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
Menurut Undang-Undang ini, pemilu diselenggarakan dengan tujuan sebagai berikut:
a. Memilih wakil rakyat dan wakil daerah

b. Membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat, dan memperoleh dukungan rakyat


c. Keduanya dilakukan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional sebagaimana
diamanatkan.
Berdasarkan pasal 22E Ayat (1) UUD 1945, pemilu dilaksanakan secara langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Pengertian asas pemilu tersebut adalah sebagai berikut:
a. Langsung
Rakyat sebagai pemilih mempunyai hak untuk memberikan suaranya secara langsung
sesuai dengan kehendak hati nuraninya, tanpa perantara.
b. Umum
Pada dasarnya semua warga negara yang memenuhi persyaratan sesuai dengan
undang-undang ini berhak mengikuti pemilu. Pemilihan yang bersifat umum mengandung
makna menjamin kesempatan yang berlaku menyeluruh bagi semua warga negara, tanpa
diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, kedaerahan, pekerjaan,
dan status sosial.
c. Bebas
Setiap warga negara yang berhak memilih bebas menentukan pilihannya tanpa
tekanan dan paksaan dari siapa pun. Di dalam melaksanakan haknya, setiap warga negara
dijamin keamanannya, sehingga dapat memilih sesuai dengan kehendak hati nurani dan
kepentingannya.
d. Rahasia
Dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin bahwa pilihannya tidak akan diketahui
oleh pihak mana pun dan dengan jalan apa pun. Pemilih memberikan suaranya pada surat
suara dengan tidak dapat diketahui oleh orang lain kepada siapa pun suaranya diberikan.
e. Jujur
Dalam penyelenggaraan pemilu, setiap penyelenggaraan pemilu, aparat pemerintah,
peserta pemilu, pengawas pemilu, pemantau pemilu, pemilih, serta semua pihak yang terkait
harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
f.

Adil
Dalam penyelenggaraan pemilu, setiap pemilih dan peserta pemilu mendapat

perlakuan sama, serta bebas dari kecurangan mana pun.


2.4 Sistem Pemilihan Umum yang ada di Indonesia

Dalam ilmu politik sistem pemilihan umum diartikan sebagai kumpulan metode atau
cara warga masyarakat memilih para wakil mereka. Pada saat sebuah lembaga perwakilan
rakyat baik DPR/DPRD dipilih maka sistem pemilihan mentransfer jumlah suara ke dalam
jumlah kursi. Sementara itu pemilihan presiden, gubernur dan bupati yang merupakan
representasi tunggal dalam sistem pemilihan dasar jumlah suara yang diperoleh menentukan
siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dengan melihat kenyataan itu maka betapa
pentingnya sistem pemilihan dalam sebuah demokrasi.
Halhal yang sangat perlu diperhatikan dalam sistem pemilihan adalah apa yang
disebut dengan electrocal formula yaitu apakah menggunakan sistem pluralitas yang di
Indonesia disebut sebagai sistem distrik atau sistem proporsional representation dengan
berbagai macama variasinya, seperti non transferable vote, dhondt rule, sainte lague dan
lainlain. Electrocal formula menentukan alokasi kursi yang akan diberikan kepada masing
masing partai yang bersaing.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah menyangkut district magnitude yaitu
jumlah wakil rakyat yang dipilih dalam sebuah distrik dapat berbeda satu sama lain karena
perbedaan jumlah penduduk. Besaran kursi yang diperebutkan bagi sebuah distrik merupakan
sesuatu yang sangat penting, dikarenakan akan menentukan nasib partaipartai politik di
kemudian hari. Ada negara yang menggunakan wilayah negara sebagai distrik seperti
Indonesia sehingga memungkinkan partai kecil akan mendapatkan kursi. Tetapi ada negara
yang membagi wilayahnya ke dalam distrik dengan besaran yang berbeda. Ada satu distrik
yang menyediakan lima sampai enam kursi untuk diperebutkan, sementara itu ada pula distrik
yang hanya menyediakan satu sampai dua kursi.
Kalangan ilmuwan politik menyatakan bahwa semakin besar magnitude sebuah
distrik akan semakin besar partai kecil akan terlindungi. Dan sebaliknya kalau distrik
magnitude kecil, maka partai yang memperoleh 10 % dari total suara tidak akan memiliki
peluang. Banyak sekali kritik yang disampaikan terhadap sistem perwakilan berimbang
dalam 6 (enam) kali pemilihan umum karena selalu mengakibatkan Golongan Karya yang
didukung birokrasi dan angkatan bersenjata mendapatkan keuntungan yang akhirnya menjadi
partai pemerintah.
Sebuah partai yang hegemonik, dilain pihak banyak yang mengajukan usul agar
melaksanakan sistem distrik dengan harapan bahwa sistem yang terakhir ini akan
menciptakan proses Pemilihan Umum berjalan dengan lancar dan lembaga perwakilan rakyat
yang di hasilkan akan lebih baik pula. Menurut penulis bukan sistem pemilihan umum yang
menjadi persoalan utama dalam setiap Pemilu di Indonesia, tetapi proses penyelenggaraan

pemilihan umum yang tidak demokratis dengan segala implikasinya yang membuat
permasalahan politik menjadi lebih kompleks dan tidak demokratik. (Gaffar 2004:257).
2.4.1 Sistem Pemilu yang di pakai di Indonesia
Ada dua model sitem pemilihan umum dengan segala kelebihan dan kekurangannya
jika dijalankan di Indonesia.
1. Sistem Perwakilan Berimbang (Proporsional Representation)
Menurut Arend Lijphart bahwa sistem Proportional Representation atau perwakilan
berimbang merupakan sistem pemilihan yang paling banyak dipergunakan oleh negara
negara yang pemilihan umumnya berlangsung secara demokratik dan kompetitif. Sistem ini
memperlihatkan gejala yang menarik dimana proporsi kursi yang dimenangkan oleh sebuah
partai politik dalam sebuah wilayah pemilihan akan berbanding seimbang dengan proporsi
suara yang diperoleh partai tersebut dalam pemilihannya.
Dalam sistem ini langkah pertama yang harus ditempuh adalah menentukan alokasi
jumlah kursi pada sebuah wilayah pemilihan. Inilah yang dikenal sebagai distrik
magnitude. Di Sulawesi Selatan jumlah kursi yang diperebutkan adalah 23 untuk tingkat
DPR, sementara di Jawa Timur adalah 64 kursi. Di Indonesia jumlah kursi yang diperebutkan
itu ditetapkan atas dasar jumlah wilayah administratif pemerintahan (Kabupaten/Kodya) dan
jumlah penduduk. Langkah kedua adalah menentukan berapa quota untuk dipenuhi sebuah
partai politik untuk mendapatkan satu kursi di DPR. Menurut ketentuan yang berlaku di
Indonesia quota untuk sebuah kursi adalah 400.000 suara, artinya setiap Partai Politik yang
secara nasional mampu memperoleh quota tersebut akan dijamin mendapatkan kursi di DPR.
Sistem perwakilan berimbang terdiri dari banyak variasi terutama dalam mengalokasikan
kursi kepada partai yaitu antara lain :

a. Sistem Perwakilan Berimbang dengan daftar tertutup (Closed List System).


Dalam sistem ini masyarakat memilih partai bukan calon legislatif, biasanya pimpinan
partai memainkan peranan penting yang sangat berguna untuk menentukan daftar dan ranking
yang telah di buat oleh pimpinan partai. Apabila ada 7 (tujuh) kursi yang tersedia pada sebuah
distrik maka partai akan mengajukan paling tidak 7 (tujuh) orang calon. Dan jika sebuah

partai memenangkan 3 (tiga) kursi maka, calon yang menduduki ranking 1, 2 dan 3 yang
akan mendapatkan kursi. Sistem inilah yang dipraktekkan di Indonesia sejak pemilihan
umum 19711997.
Dengan sistem ini akan tercipta disiplin yang tinggi dari anggota DPR terhadap
partainya. Dan tentu saja pimpinan partai memainkan peranan sentral. Mungkin hal tersebut
yang merupakan kelebihan dan sekaligus kekurangan dari sitem perwakilan berimbang yang
tertutup.
b. Sistem Perwakilan Berimbang dengan sistem daftar terbuka (Open List System).
Dengan sistem ini para pemilih tidak hanya memilih partai tetapi juga memilih calon
yang dikehendaki. Pemilih disamping mencoblos gambar juga mencoblos nama calon yang
dikehendaki. Bergantung pada berapa kursi yang disediakan untuk distrik tersebut. Kelebihan
sistem ini adalah para pemilih yang menentukan calon, bukan pemimpin partai yang lebih
menentukan calon mana yang di kehendaki dan calon mana yang ditolak. Sementara itu
peranan pimpinan partai menjadi sangat terbatas. Hanya saja sistem ini akan menjadi rumit
bagi masyarakat yang tingkat kemampuan baca dan tulisnya rendah. Apalagi kalau
masyarakat pemilihnya banyak yang buta huruf. Sistem ini menjadi tidak praktis untuk
digunakan di Indonesia menghingat kemampuan baca tulis pemilihnya yang belum tinggi
(Gaffar 2004:261)
c. Sistem Perwakilan Berimbang variasi The Single Transferable Vote
Dalam sistem ini tidak adanya suara yang terbuang, karena suara yang lebih pada
seorang calon dapat ditransfer pada calon yang lain. Di dalam sistem ini para pemilih diminta
untuk memberikan preferensinya pada beberapa calon yang diajukan dalam wilayahnya.
Begitu pemungutan suara selesai maka penghitungan quota dilakukan untuk menentukan
berapa jumlah suara yang diperlukan bagi seorang calon untuk mendapatkan kursi (Gaffar
2004:262). Model ini oleh kalangan ilmuwan politik dikatakan sebagai sistem yang terbaik,
karena sistem ini memberikan peluang kepada para pemilih untuk menentukan pilihannya
dengan baik. Sementara itu peranan dari pimpinan partai menjadi sangat minimal, hanya saja
yang perlu di pertimbangkan jika sistem ini digunakan di Indonesia menjadi tidak praktis,
mengingat kapasitas sosial masyarakat yang masih terbatas.
d. Sistem Perwakilan Berimbang variasi The Single Nontransferable Vote.
Sistem ini merupakan variasi yang lain dari sistem perwakilan berimbang, sistem ini
tidak memberikan peluang untuk mentransfer suara dari satu calon ke calon yang lain dalam
partai yang sama. Sistem ini digunakan di Jepang untuk memilih majelis rendah. Yang sering
menjadi persoalan adalah kalau pimpinan partai memilih strategi yang kemudian ternyata

keliru yaitu dengan menggunakan calon sebanyak mungkin. Sementara itu jumlah orang yang
hadir untuk memilih (volters turned out) sangat rendah. Oleh karena itu bisa terjadi suara
yang di berikan terbagi rata, sehingga partai yang kuat tidak mendapatkan jumlah kursi yang
diharapkan (Gaffar 2004:263).
Berdasarkan uraian tersebut dapat diambil kesimpulan kelebihan sistem proporsional
antara lain :
a. Jumlah wakil setiap partai sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya dalam
pemilihan umum secara nasional.
b. Sistem Proporsional juga dianggap lebih adil, karena memberi peluang bagi semua
golongan masyarakat termasuk golongan minoritas untuk menampilkan wakilnya
dalam parlemen.
c. Dalam sistem proporsional tidak terjadi distorsi sehingga dapat menjamin
terwujudnya suatu keterwakilan yang sempurna dalam parlemen, karena setiap
kelompok pasti akan mendapat wakil dan keterwakilannya terjamin. Dengan kata lain
sistem proporsional lebih menjamin eksistensi partaipartai kecil dan menjamin suara
rakyat tidak terbuang siasia (Mashad 1998:23).
Sekalipun sistem perwakilan berimbang tampak lebih mampu menampung aspirasi
partaipartai kecil sehingga mengesankan sifatnya yang lebih demokratis, sistem
proporsional memiliki sejumlah kelemahan yaitu sebagai berikut :
a. Sistem proporsional mempermudah terjadinya fragmentasi partai, kurang mendorong
partaipartai untuk bersatu bahkan sering mempertajam perbedaan, umumnya anggota
partai cenderung mendirikan partai baru.
b. Banyaknya partai bersaing akan menyulitkan suara partai untuk meraih suara
mayoritas untuk membentuk pemerintahan. Akibatnya sering terjadi partai yang
terbesar meskipun harus berkoalisi dengan beberapa partai lain untuk memperoleh
mayoritas dalam parlemen.
c. Sistem proprosional memberikan kedudukan sangat kuat pada partai melalui sistem
daftar (list system). Prosedur inilah yang justru menjadi kelemahan sistem
proporsional, sebab wakil akhirnya cenderung kurang erat hubungannya dengan
masyarakat yang hanya memilih tanda gambar.
d. Sistem proporsional cenderung menggeser asas kedaulatan rakyat dengan kedaulatan
partai (Mashad 1998:26).
2. Sistem Distrik (Plurality System)
Sistem distrik (SD) dikenal sebagai Plurality sistem, pada tahun 1951 seorang tokoh
yang bernama Maurice Duverger menyebutnya sebagai simple majority single ballot system.

Sementara itu sebagian besar kalangan ilmuwan politik menyebutnya plurality system.
Distrik pemilihan merupakan sebuah wilayah yang garisgaris perbatasannya ditarik
sedemikian rupa sehingga jumlah pemilih yang mendiami suatu distrik kirakira sebanding
dengan jumlah pemilih di distrikdistrik lainnya. Calon yang menang akan tampil sebagai
wakil dari distrik itu, menduduki kursi tunggal yang diperebutkan. Satu distrik hanya berhak
atas satu wakil calon yang memperoleh suara terbanyak dalam distrik yang menjadi
pemenang, sedangkan suara yang mendukung calon kalah dianggap hilang dan tidak di
hitung lagi untuk membantu partainya di distrik lain. Dalam sistem distrik ini para pemilih
beanarbenar menentukan nasib seorang wakil rakyat. Sehingga tidak berlebihan bila secara
umum sistem distrik dapat dikatakan memiliki prosedur pemilihan yang dapat
memaksimalkan perwujudan kedaulatan rakyat, sedangkan partai politik hanya berperan
sebagai fasilitator.
Menurut Gatara (2008:211), menyatakan bahwa sistem distrik merupakan sistem
pemilihan yang paling tua dan didasarkan atas kesatuan geografis. Setiap kesatuan geografis
(yang biasanya disebut distrik karena daerah yang diliputi) mempunyai satu wakil dalam
dewan perwakilan rakyat. Untuk keperluan itu, negara dibagi dalam sejumlah besar distrik
dan jumlah wakil rakyat dalam dewan perwakilan rakyat yang ditentukan dalam sejumlah
distrik. Calon yang didalam satu distrik memperoleh suara terbanyak dikatakan pemenang,
sedangkan suara-suara yang ditunjukkan kepada calon-calon lain dalam distrik itu dianggap
hilang dan tidak diperhitungkan lagi, bagaimanapun kecilnya selisih kekalahan. Sedangkan
menurut Syafiie (1994:138) menjelaskan bahwa sistem distrik ini merupakan sistem perlokasi
(daerah pemilihan) dalam arti tidak membedakan seberapa banyak jumlah penduduk tetapi
tempat yang sudah ditentukan. Jadi banyak jumlah suara yang akan terbuang, tetapi karena
wakil yang akan dipilih adalah orangnya langsung, maka pemilih akrab dengan wakilnya
(person stelsel). Satu distrik ini biasanya satu wakil (Single member constituency).
Contoh pada Sistem Distrik : (1 distrik , 1 wakil) dengan total pemilih 2600 pemilih.
Perolehan suara dalam satu distrik sebagai berikut :
Calon A

: 1000 suara pemilih

Calon B

: 750 suara

Calon C

: 500 suara

Calon D

: 250 suara

Calon E

: 100 suara

Jumlah suara

: 2600 suara

Maka wakil terpilih dari distrik tersebut adalah calon A. Artinya 1600 suara (lebih
banyak dari 1000) menjadi tidah berguna/tidak terwakil. Sistem ini lazim digunakan di
negara Inggris, Kanada, Amerika Serikat, dan India.
Dalam praktik di lapangan,sistem distrik ini sering di kombinasikan dengan beberapa
formula pemilihan,antara lain menggunakan formula pluralitas dan formula mayoritas.
Adapun dalam konteks praktik memilih calon,sistem distrik ini sering dikombinasikan
dengan model perwakilan, antara lain sistem distrik berwakil satu sistem distrik berwakil
dua dan sistem distrik berwakil banyak (lebih dari dua wakil).Sistem berwakil dua
banyak, misalnya Pemilu anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Indonesia. Dimana
tiap-tiap distrik (di Indonesia adalah provinsi), tidak peduli berapa jumlah rakyat memilih dan
luasnya wilayah administratif, masing-masing diwakili oleh empat calon. Sistem bewakil dua
ditetapkan misalnya Pemilu anggota Senat di Amerika Serikat.
Adapun karakteristik dari sistem distrik ini adalah sebagai berikut
a. First past the Post : sistem yang menerapkan single memberdistrict dan pemilihan
yang berpusat pada calon, pemenagnya adalah calon yang mendapatkan suara
terbanyak.
b. The Two Round System : sistem ini menggunakan putaran kedua sebagai dasar untuk
menentukan pemenang pemilu ini dijalankan untuk memperoleh pemenang yang
mendapatkan suara mayoritas
c. The Alternative Vote : sama dengan first past the post bedanya adalah para pemilih
diberikan otoritas untuk menentukan preverensinya melalui penentuan rangking
terhadap calon-calon yang ada
d. Block vote : para pemilih memiliki kebebasan untuk memilih calon-calon yang
terdapat dalam daftar calon tanpa melihat afiliansi partai dari calon-calon yang ada.

Sedangkan kelebihan dan kekurangan dari sistem distrik sebagai berikut :


a. Kelebihan Sistem Distrik
1. Karena kecilnya distrik, maka wakil yang terpilih biasanya dikenal oleh penduduk
distrik, sehingga hubungannya dengan penduduk lebih erat.
2. Calon yang terpilih akan lebih terdorong untuk memperjuangkan kepentingan distrik.
3. Kedudukan terhadap partai lebih bebas, karena dalam pemilihan semacam ini faktor
kepribadian seseorang merupakan faktor yang penting;

4. Lebih mendorong integrasi parpol karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distrik
pemilihan hanya satu. Juga mendorong ke arah penyederhanaan partai secara ilmiah;
5. Sederhana dan mudah untuk diselenggarakan;
6. Terbatasnya jumlah partai dan meningkatnya kerjasama antar partai mempermudah
terbentuknya pemerintahan yang stabil dan tercapainya stabilitas nasional.
b. Kelemahan Sistem Distrik
1. Kurang menguntungkan bagi partai kecil dan golongan minoritas;
2. Kurang representatif, calon yang kalah dalam suatu distrik kehilangan semua suara
yang mendukungnya (banyak suara yang hilang)
3. Ada kesenjangan presentase suara yang diperoleh dengan jumlah kursi di partai, hal
ini menyebabkan partai besar berkuassa.
4. Kurang mewakili kepentingan masyarakat heterogen dan pluralis.
5. Wakil rakyat yang terpilih cenderung memperhatikan kepentingan daerahnya daripada
kepentingan nasional.
Tetapi tidak berarti sistem ini tidak memiliki kekurangan, kritik yang paling banyak
adalah tingginya tingkat distribusi karena penentuan kemenangan terhadap seseorang bisa
saja diberikan pada calon yang memperoleh suara mayoritas. Kritik lain yang sering
dibicarakan adalah menguatnya peranan kelompok kepentingan yang tidak jarang mendikte
para calon, karena besarnya peranan mereka dalam memberikan dukungan finansial.
Seseorang yang mencalonkan diri harus memiliki dana yang kuat dan di dukung oleh jaringan
yang kuat dari berbagai pihak. Oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan dalam sistem ini
akan munculnya politik uang (money politics).
Kontroversi pilihan atas sistem pemilihan sudah berlangsung lama di Indonesia. Ada
kelompok yang menghendaki perlunya diadopsi sebuah sistem pluralitas karena
ketidakpuasan terhadap pelaksanaan pemilihan umum yang berlangsung 6 kali di Indonesia
di bawah pemerintahan Soeharto. Pada pemilihan umum tersebut yang menggunakan sistem
perwakilan berimbang (proporsional representation) ternyata dipenuhi oleh usaha-usaha yang
sangat tidak demokratis, dalam rangka menjamin Golongan Karya memenangkan pemilihan
dengan mayoritas suara yang absolut, sehingga tercipta sistem kepartaian yang hegemonik
(Gaffar 1992: 270).

BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat kami simpulkan bahwa Pemilu merupakan sarana
demokrasi untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dengan memilih para wakil rakyat dan

pemimpin politik sesuai dengan kehendak dan keinginan rakyat berdasarkan pancasila dan
undang-undang dasar 1945 yang akan meneruskan dan mewujudkan aspirasi mereka.
Menurut Undang-Undang dasar 1945 ini, pemilu diselenggarakan dengan tujuan
sebagai berikut:
a. Memilih wakil rakyat dan wakil daerah
b. Membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat, dan memperoleh dukungan rakyat
c. Keduanya dilakukan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional sebagaimana
diamanatkan.
Dan Berdasarkan pasal 22E Ayat (1) UUD 1945, pemilu dilaksanakan secara
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Selain itu dalam Pemilihan Umum yang ada di Indonesia ada dua macam sistem
pemilu yaitu Sistem Proporsional dan Sistem Distrik. Sistem Proporsional merupakan sistem
dimana proporsi kursi yang dimenangkan oleh sebuah partai politik dalam sebuah wilayah
pemilihan akan berbanding seimbang dengan proporsi suara yang diperoleh partai tersebut
dalam pemilihannya. Sedangkan sistem distrik merupakan sistem perlokasi (daerah
pemilihan) yang dalam arti tidak membedakan seberapa banyak jumlah penduduk tetapi
tempat yang sudah ditentukan. Jadi banyak jumlah suara yang akan terbuang, tetapi karena
wakil yang akan dipilih adalah orangnya langsung, maka pemilih akrab dengan wakilnya
(person stelsel). Satu distrik ini biasanya satu wakil (Single member constituency).
Walaupun berbeda antara sistem distrik dan proporsional ini, namun saat ini kedua
sistem ini di Indonesia dapat dikembangkan dan menjadi sistem pemilu yang di pakai di
Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

A. Dahl, Robert. 1992. Demokrasi dan Para Pengkritiknya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Asshidique, Jimly. 1994. Gagasan Kedaulatan Rakyat Dan Pelaksanaannya Di Indonesia
(Pergeseran Keseimbangan Antara Individualisme Dan Kolektivisme Dalam
kebijakan Demokrasi politik Dan Demokrasi Ekonomi Selama Tiga Masa
Demokrasi 1945-1980 an). Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve.
Gaffar, Afan. 2004. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.
Gatara, A.A Sahid. 2008. Ilmu Politik (Memahami dan Menerapkan). Bandung: Pustaka Setia
Mashad, Dhurorudin. 1999. Korupsi Politik, Pemilu dan Legitimasi Pasca Orde Baru.
Jakarta: PT. Pustaka Cidesindo bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI
Syafiie, Inu Kencana. 1994. Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta; Rineka Cipta
Waridah, Siti, dkk. 2003. Sejarah Nasinonal dan Umum. Yogyakarta: Bumi Aksara