Anda di halaman 1dari 15

SINTESIS PROTEIN

Oleh: Dian Angelina/Teknik Kimia/1306449284


Abstrak
Sintesis protein adalah prosedur biologis yang dilakukan oleh sel-sel makhluk hidup untuk membuat
suatu metabolit (produk metabolisme) dari molekul sederhana menjadi molekul yang lebih kompleks
dimana senyawa organik kompleks tersebut berbobot molekul tinggi dan merupakan polimer dari
monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Sintesis
protein terbagi menjadi dua, pembagian ini berdasarkan keberadaan inti sel pada suatu organisme.
Pembagian tersebut yaitu, sintesis protein pada organisme prokariotik dan eukariotik. Tahapan pada
eukariotik adalah transkripsi, post-transkripsi, translasi, dan post translasi. Sedangkan, pada
prokariotik adalah transkripsi, translasi, dan post translasi.
Kata Kunci: protein, prokariotik, eukariotik, transkripsi, translasi, post translasi, post transkripsi.

SINTESIS PROTEIN SECARA UMUM


Sintesis protein atau yang sering disebut dengan biosintesis protein adalah proses
penyusunan asam amino pada rantai polipeptida. Dalam proses sintesis protein, molekul DNA adalah
sumber pengkodean asam nukleat untuk menjadi asam amino yang menyusun protein tetapi DNA tidak
terlibat secara langsung dalam proses sintesis protein. Molekul DNA pada suatu sel di
transkripsi menjadi molekul RNA. Molekul RNA inilah yang nantinya akan ditranslasi menjadi asam
amino yang merupakan cikal bakal protein. Dengan demikian, molekul RNA-lah yang terlibat secara
langsung dalam proses sintesis protein.
SINTESIS PROTEIN PADA PROKARIOTIK
TRANSKRIPSI PROKARIOTIK
Transkripsi pada dasarnya adalah proses penyalinan urutan nukleotida yang terdapat pada
molekul DNA. Dalam proses transkripsi, hanya salah satu untaian DNA yang disalin menjadi urutan
nukleotida RNA (transkip RNA). Urutan nukleotida pada transkrip RNA bersifat komplemeter dengan
urutan DNA cetakan (DNA template). Pada prokariot, terdapat 3 bagian utama gen yaitu, daerah
pengendali (promotor), bagian struktural, dan terminator. Gen pada prokariot diorganisasikan dalam
struktur operon. Dalam satu transkrip RNA dapat terkandung lebih dari satu rangkaian kodon untuk
polipeptida yang berbeda hal ini sesuai dengan sifat mRNA pada prokariot yaitu polisistronik.
Daerah pengendali (promotor) adalah bagian gen yang memiliki peranan mengendalikan
proses transkripsi dan berlokasi di ujung 5. Bagian struktural merupakan bagian gen yang terletak di
sebelah hilir promoter. Bagian structural mengandung urutan DNA spesifik yang akan di transkripsi
nantinya. Sedangkan, terminator adalah bagian gen yang terletak di sebelah hilir bagian struktural dan
memiliki peran untuk mengakhiri proses transkripsi (terminasi). Selain itu, terminator juga berfungsi
untuk memberikan sinyal pada enzim RNA polimerase supaya berhenti dalam memproses transkripsi.
Proses terminasi transkripsi pada prokariot terbagi menjadi dua: (1) Rho-independent yaitu, proses
terminasi yang ditentukan oleh urutan nukleotida tertentu dan (2) Rho-dependent yaitu, proses
terminasi yang diatur oleh suatu protein yang disebut protein rho.
Gen struktural pada prokariot memiliki ciri utama yaitu sekuens pada proses inisiasi translasi
atau start kodonnya adalah ATG dan stop kodonnya adalah TAA, TAG, dan TGA. Daerah dari start
kodon sampai stop kodon tersebut akan diterjemahkan menjadi rangkaian asam amino. Jadi, jika gen
struktural terdiri atas 900 nukleotida maka gen tersebut akan mengkode 300 asam amino karena satu
asam amino dikode oleh tiga sekuens nukleotida yang berurutan. Pada prokariot tidak ada intron
kecuali pada beberapa spesies archaea tertentu. Kemudian pada prokariot, RNA polimerase
menempel langsung pada DNA di daerah promoter tanpa melalui suatu ikatan dengan protein lain.

Proses transkripsi dan translasi pada prokariot berlangsung hampir serentak, maksudnya
adalah sebelum transkripsi selesai dilakukan, translasi sudah dapat dimulai. Urutan nukleotida RNA
hasil sintesis adalah urutan nukleotida komplementer dengan cetakannya. Contoh : urutan ATG pada
DNA, maka hasil transkripsinya pada RNA adalah UAC. Tahapan transkripsi pada prokariotik adalah
inisiasi, elongasi, dan terminasi.
Inisiasi dimulai dengan penempelan RNA polimerase holoenzim yang dibantu oleh subunit
sigma yaitu subunit yang berperan membantu RNA polimerase untuk menemukan bagian promoter
sehingga RNA polimerase dapat menempel.pada bagian promoter suatu gen. Proses inisiasi
transkripsi terdiri dari 2 tahapan utama yaitu, pertama subunit sigma () dari RNA polimerase
mengenali dan mengikatkan diri pada promoter di titik -35, RNA polimerase yang baru menempel
pada bagian promoter masih belum terikat secara kuat dan struktur promoter masih dalam keadaan
tertutup, proses ini dinamakan pembentukan kompleks promoter tertutup. Selanjutnya, setelah RNA
polimerase terikat kuat dan ikatan hidrogen DNA pada bagian promoter di titik -10 terbuka (ikatan
antara A-T melemah) terjadilah proses pembentukan kompleks terbuka.

Gambar 1. Proses Inisiasi pada Transkripsi Prokariotik


Setelah itu, masuk ke dalam proses elongasi (pemanjangan) yang dimulai dengan
penggabungan beberapa nukleotida awal (10 nukleotida) dan selanjutnya perubahan konformasi RNA
polimerase karena pelepasan subunit sigma ().
RNA polimerase akan berjalan membaca DNA cetakan untuk melakukan proses pemanjangan
untaian RNA. Pemanjangan maksimum molekul transkrip RNA berkisar antara 30 sampai 60
nukleotida per detik. Secara umum, berdasarkan atas nilai laju semacam ini, suatu gen yang
mengkode protein akan disalin menjadi RNA dalam waktu sekitar satu menit yang terbilang cukup
cepat. Namun, laju pemanjangan transkrip ini dapat melambat jika RNA polimerase melewati sisi yang
mengandung banyak ikatan basa G-C.
Dalam proses elongasi, nukleotida ditambahkan secara kovalen pada ujung 3 molekul RNA
yang baru terbentuk. Nukleotida yang ditambahkan pada RNA tersebut bersifat komplementer dengan
nukleotida pada untaian DNA cetakan. Dalam proses pemanjangan transkripsi RNA, terjadi
pembentukan ikatan fosfodiester antara nukleotida RNA yang satu dengan nukleotida yang berikutnya
dan ditentukan oleh keberadaan subunit b (berfungsi dalam hal pengikatan antar nukleotida).
Transkripsi berakhir ketika RNA polymerase mencapai bagian pada ujung gen yang disebut bagian
terminator.

Gambar 2. Proses Elongasi pada Prokariotik


Setelah elongasi selesai kemudian masuk ke dalam tahap terminasi yaitu tahap berhentinya
proses transkripsi. Tahap ini terbagi menjadi 2 yaitu terminasi rho-dependent dan rho-independent.
Terminasi rho-dependent adalah terminasi yang memerlukan protein rho. Protein rho melekat pada
RNA yang terbentuk dan akan bergerak ke arah ujung 3 mengikuti RNA polimerase. Ketika RNA
polimerase bertemu dengan urutan basa terminator, sintesis RNA akan terhenti. Protein rho
mentranskripsi ujung 3 dengan bantuan enzim helikase.
Sedangkan, terminasi rho-independent adalah terminasi yang ditentukan oleh urutan nukleotida.
Daerah terminator pada terminasi ini kaya akan ikatan basa G-C. Transkrip RNA hasil pemanjangan
akan melipat dan membentuk hairpin loop yang akan berikatan dengan RNA polymerase, akibatnya
RNA polimerase akan berhenti. Hairpin loop yang terbentuk akan menyebabkan stabilisasi antara
RNA dan DNA terganggu karena ikatan hidrogen yang lemah antara basa A-U (hanya 2 ikatan
hidrogen).

Gambar 3. Terminasi Rho-independent (kiri) dan Terminasi Rho-dependent (kanan)


TRANSLASI PROKARIOTIK
Seperti dijelaskan diatas bahwa translasi pada prokariot dapat dimulai walaupun proses
transkripsi belum selesai. Arah translasi pada prokariot adalah dari ujung 5 menuju ujung 3. Pada
proses translasi prokariot, hanya molekul mRNA saja yang ditranslasi, sedangkan rRNA dan tRNA
tidak ditranslasi. Penyebab dari translasi dan transkripsi prokariot terjadi hampir serentak adalah
karena perbedaan dalam hal struktur sel prokariot yang sangat sederhana dan belum ada pembagian
ruang sehingga molekul DNA genom berada di dalam sitoplasma bersama dengan komponen sel
yang lain. Dengan demikian, molekul mRNA hasil transkripsi dapat langsung melakukan kontak
dengan ribosom sebelum untaian mRNA tersebut selesai disintesis.Tahapan dalam translasi prokariot
adalah inisiasi, elongasi, dan terminasi.
Pada inisiasi, tahap pertama dimulai dengan pemisahan ribosom 70S menjadi subunit besar
(50S) dan subunit kecil (30S) dengan menggunakan faktor IF-1. Perlu diketahui apa arti dari 70S, 50S
dan 30S, ribosom memiliki dua subunit yaitu subunit besar dan kecil. Tanda S menyatakan ukuran laju
pengendapan ribosom selama sentrifugasi, satuan ini disebut satuan Svedberg (S). Kemudian
selanjutnya, subunit ribosom 30S terbebas dari ikatan dengan subunit 50S melalui interaksinya
dengan protein IF-3. Setelah itu, terjadi penggabungan antara mRNA, subunit 30S, dan formilmetioniltRNAf (fMet-tRNAf ; bagian inisiator tRNA) yang akan membentuk suatu kompleks inisiasi 30S yang
ditentukan oleh pasangan basa antara sekuens yang disebut Shine-Dalgarno. Selanjutnya, subunit
50S bergabung dan membentuk kompleks inisiasi 70S. Kompleks inisiasi 70S inilah yang siap
melakukan proses pemanjangan polipeptida. Kodon inisiasi prokariot adalah formil-metionin/fMe
(AUG). Oleh karena itu, antikodon pada tRNA yang akan berpasangan dengan kodon inisiasi adalah
UAC.

Gambar 4. Tahapan Inisiasi Translasi pada Prokariot

Selanjutnya, adalah tahap elongasi. Proses pemanjangan polipeptida (elongasi) secara umum
mempunyai mekanisme yang terdiri dari 3 tahapan:
Pengikatan aminoasil tRNA pada sisi A yang ada di ribosom yang dilakukan oleh faktor
pemanjangan Tu (EF-Tu) dibantu perubahan GTP -> GDP
Pemindahan rantai polipeptida yang tumbuh dari tRNA yang ada pada sisi P ke arah sisi A
dengan membentuk dipeptidil-tRNA
Translokasi dipeptidil-tRNA dari sisi A ke P, tRNA kosong dari P ke E. Diperlukan GTO dan
faktor pemanjangan G

Gambar 5. Tahapan Elongasi Translasi pada Prokariotik

Tahap selanjutnya adalah terminasi (pengakhiran). Translasi akan berakhir ketika salah satu
dari ketiga kodon terminasi (UAA,UGA,UAG) yang ada pada mRNA mencapai posisi A pada ribosom.
Dimana RF1 yang mengidentifikasi kodon UAA atau UAG akan menyebabkan rantai kodon tersebut
terlepas, sedangkan RF2 akan mengidentifikasi kodon UAA atau UGA sehingga menyebabkan rantai
kodon tersebut terlepas. Proses terminasi ditandai oleh terlepasnya mRNA, tRNA di sisi P, dan rantai
polipeptida dari ribosom. Selain itu, kedua subunit ribosom pun akan berpisah, pada terminasi
diperlukan aktivitas dua protein yang berperan sebagai faktor pelepas atau releasing factors, yaitu RF1 dan RF-2 yang bekerja sama dengan RF-3.

Gambar 6. Proses Terminasi Translasi pada Prokariot

SINTESIS PROTEIN PADA EUKARIOTIK


TRANSKRIPSI EUKARIOTIK
Pada transkripsi eukariotik, tidak ada sistem operon seperti pada prokariot karena satu
promotor mengendalikan seluruh gen struktural. Gen pada eukariot bersifat monosistronik yang
artinya satu transkrip yg dihasilkan hanya mengkode satu macam produk ekspresi. Selain itu, RNA
polimerase pada eukariot tidak menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter. Transkripsi
pada eukariot juga terdiri dari 3 tahap yaitu, inisiasi, elongasi, dan terminasi.
Pada proses inisiasi, enzim yang mentranskripsi gen pengkode protein menjadi pra-mRNA
ialah RNA polimerase II. Transkripsi dimulai dari sekuens promoter. Promoter mengandung sekuen
DNA khusus yang dikenal dengan TATA box. TATA box berperan untuk meletakkan RNA polimerase II
pada tempat yang tepat sebelum transkripsi. Pengikatan RNA Polimerase II dengan promoter
memerlukan beberapa protein yang disebut Transcription Factor II.
Selanjutnya adalah proses elongasi yaitu proses pemanjangan. Saat elongasi, untaian yang
sedang tumbuh memperlihatkan jejak dari polimerase, panjang setiap untai baru mencerminkan
sejauh mana enzim itu telah berjalan dari titik awal di sepanjang cetakan tersebut.
Setelah itu masuk ke tahap terminasi, proses ini ditandai oleh terlepasnya enzim RNA
polimerase beserta kofaktor-kofaktornya dari untai DNA cetakan.

Gambar 7. Mekanisme Transkripsi Eukariot

Terdapat 3 produk hasil transkripsi pada eukariot antara lain :


1. RNA polimerase I mentranskripsi sebagian besar gen rRNA.
2. RNA polimerase II mentranskripsi semua gen penyandi protein dan beberapa gen RNA nuklear
kecil (snRNA).
3. RNA polimerase III mentranskripsi gen-gen tRNA, 5S rRNA, U6 snRNA dan beberapa RNA kecil
lainnya.
Proses transkripsi tidak terlalu dibahas karena telah dibahas pada sintesis asam nukleat. Maka
dari itu langsung masuk ke tahap post-transkripsi.
PASCA TRANSKRIPSI EUKARIOT

Pada eukariot transkripsi berlangsung di dalam nukleus sedangkan translasi berlangsung di


dalam sitoplasma sehingga translasi baru dapat dijalankan jika proses transkripsi sudah selesai
dilakukan. Jeda waktu semacam ini disebut fase pasca transkripsi (post-transkripsi). Pada fase ini
terjadi beberapa proses antara lain: (1) pemotongan dan penyambungan RNA (RNA splicing); (2)
poliadenilasi (penambahan gugus poli-A pada ujung 3 mRNA); (3) penambahan tudung (cap) pada
ujung 5 mRNA.
RNA Splicing adalah proses pembelahan sebagian besar mRNA prekursor (pre-mRNA) menjadi
molekul mRNA yang lebih kecil tanpa intron dengan menggunakan enzim spliceosome.

Gambar 8. Proses RNA Splicing

Selain itu, ada pula proses poliadenilasi, yaitu proses penambahan poli-A pada ujung 3 yang
berguna untuk meningkatkan stabilitas mRNA sehingga mRNA mempunyai umur yang lebih panjang
dibandingkan dengan mRNA yang tidak mempunyai poliA. Selain itu juga ada bukti yang
menunjukkan bahwa keberadaan poliA meningkatkan efisiensi translasi mRNA. Meningkatnya
efisiensi translasi ini dikarenakan pada poli-A terdapat suatu protein, yaitu poly (A)-binding protein
I yang berfungsi meningkatkan efisiensi translasi. Selain itu, mRNA yang mempunyai poli-A memiliki
kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengikat ribosom sehingga dapat meningkatkan efisiensi
translasi.
Selanjutnya adalah penambahan kelompok 7-methyl guanosin (mRNA caps) pada ujung 5
molekul. Tudung mRNA (mRNA caps) mempunyai empat macam fungsi, yaitu: (1) melindungi
mRNA dari degradasi; (2) meningkatkan efisiensi translasi mRNA; (3) meningkatkan pengangkutan
mRNA dari nukleus ke sitoplasma dan (4) meningkatkan efisiensi proses splicing.
TRANSLASI EUKARIOTIK
Translasi eukariot akan berlangsung setelah proses transkripsi selesai. Proses translasi
berlangsung di sitoplasma. Proses yang terjadi adalah inisiasi, elongasi, dan terminasi.
Tahap pertama adalah inisiasi. Molekul tRNA inisiator disebut tRNAiMet. Ribosom bersamasama dengan tRNAiMet menemukan start kodon (AUG) pada sekuen konsensus CCRCCCAUGG (R
adalah purin: A/G). Faktor eIF-3 mengubah subunit 40S menjadi bentuk yang siap menerima
aminoasil-tRNA pertama. Setelah aminoasil-tRNA pertama melekat, terbentuk kompleks 43S dengan

bantuan eIF-2. Dengan bantuan eIF-4, mRNA melekat ke kompleks 43S dan membentuk kompleks
48S. Faktor eIF-5 membantu subunit besar melekat pada 48S sehingga membentuk komplek 80S
yang siap untuk ditranslasi.

Gambar 9. Proses Inisiasi Translasi Eukariot


Setelah proses inisiasi selesai dilanjutkan dengan proses elongasi (pemanjangan). Pada tahap
elongasi dari translasi, asam amino-asam amino ditambahkan satu per satu pada asam amino
pertama (metionin). Ribosom terus bergeser agar mRNA lebih masuk, guna membaca kodon II.
Misalnya kodon II UCA, yang segera diterjemahkan oleh tRNA menjadi AGU sambil membawa asam
amino serine. Di dalam ribosom, metionin yang pertama kali masuk dirangkaikan dengan serine
membentuk dipeptida.
Ribosom terus bergeser, membaca kodon III. Misalkan kodon III GAG, segera diterjemahkan
oleh antikodon CUC sambil membawa asam amino glisin. tRNA tersebut masuk ke ribosom. Asam
amino glisin dirangkaikan dengan dipeptida yang telah terbentuk sehingga membentuk tripeptida.
Demikian seterusnya proses pembacaan kode genetika itu berlangsung di dalam ribobom, yang
diterjemahkan ke dalam bentuk asam amino guna dirangkai menjadi polipeptida.
Kodon mRNA pada ribosom membentuk ikatan hidrogen dengan antikodon molekul tRNA yang
baru masuk yang membawa asam amino yang tepat. Molekul mRNA yang telah melepaskan asam
amino akan kembali ke sitoplasma untuk mengulangi kembali pengangkutan asam amino. Molekul
rRNA dari subunit ribosom besar berfungsi sebagai enzim, yaitu mengkatalisis pembentukan ikatan
peptida yang menggabungkan polipeptida yang memanjang ke asam amino yang baru tiba.
Proses pemanjangan polipeptida secara umum mempunyai mekanisme 3 tahapan:
Pengikatan aminoasil tRNA pada sisi A yang ada di ribosom yang dilakukan oleh faktor
pemanjangan Tu dibantu perubahan GTP -> GDP
Pemindahan rantai polipeptida yang tumbuh dari tRNA yang ada pada sisi P ke arah sisi A
dengan membentuk dipeptidil-tRNA
Translokasi dipeptidil-tRNA dari sisi A ke P, tRNA kosong dari P ke E. Diperlukan GTO dan
faktor pemanjangan G.
Selanjutnya masuk ke dalam proses terminasi. Salah satu dari tiga kodon stop, UAA, UAG,
atau UGA, memasuki sisi A ribosom. Kodon stop tidak mengkode suatu asam amino melainkan
bertindak sebagai sinyal untuk menghentikan translasi. Polipeptida yang dibentuk kemudian
diproses menjadi protein. Faktor pengikat ke sisi P lepas (aktifnya enzim peptidil transferase) dan

mengkatalisasi pelepasan rantai polipeptida dan ribosom subunit kecil dan besar berpisah. Eukariotik
hanya mempunyai dua faktor pelepasan eRf-1 yang berfungsi mengenali kodon stop dan eRF-3 yaitu
ribosome-dependent GTPase yang membantu eRF1 melepaskan polipeptida yang telah sempurna.
Berikut adalah tabel yang berisi kodon dan protein yang disandikan

Gambar 10. Tabel Kodon dan Protein yang Disandikan


POST TRANSLASI
Dalam proses post translatsi, rantai polipeptida yang hanya terdiri dari asam-asam amino
berbeda ditambahkan gugus fungsi seperti asetat, phosphate, karbohidrat, lipid, dan lain-lain untuk
memberikan fungsi yang lebih spesifik pada protein tersebut. Tanpa tugas yang spesifik, setiap
protein sel memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin bertabrakan
dan tidak efisien. Oleh karena itu, protein yang disintesis oleh kompleks ribosom di sitoplasma harus
mengalami proses menuju spesifitas fungsi dan lokasi. Baik spesifitas fungsi dan lokasi berlangsung
dalam koridor perintah genetik yang dikandung oleh setiap protein.
Post translasi adalah proses penambahan atau penghilangan suatu bagian agar memperoleh
sebuah protein yang sempurna. Protein hasil translasi tidak dapat langsung digunakan dalam tubuh.
Protein tersebut harus sekurang-kurangnya mengalami salah satu dari proses dibawah ini:
1.
2.
3.
4.

Protein folding (pelipatan protein)


Proteolytic cleavage (pemotongan proteolitik)
Chemical modification (modifikasi kimiawi)
Intein splicing (pembuangan intein)

Gambar 11. Tipe-tipe Proses Post-Translasi

Protein Folding (Pelipatan Protein)


Protein memiliki sifat yang mirip dengan DNA yaitu merupakan suatu polimer yang dapat
mengalami denaturasi dan kemudian disintesis di ribosom yang kemudian membentuk asam amino
linear dan tidak bercabang. Protein folding yaitu proses pelipatan protein yang akan menghasilkan
struktur sekunder, dimana pada struktur ini terdapat struktur dua dimensi protein sehingga dapat
terjadi lipatan (folding) yang beraturan seperti -helix, -sheet, turn dan random karena adanya
ikatan hidrogen di antara gugus-gugus polar dari asam amino dalam rantai protein tersebut. Protein
yang merupakan rangkaian dari asam-asam amino ini harus mengalami pelipatan untuk dapat
mencapai struktur aslinya, karena protein hanya dapat berfungsi jika mempunyai struktur asli
tersebut. Proses pelipatan dibantu oleh sebuah protein yang disebut chaperon.
Pelipatan protein di dalam sel merupakan proses kompleks yang membutuhkan bantuan
molekul lain dan juga energi. Proses pelipatan dimulai dengan dua kondisi yaitu, saat rantai
polipeptida yang baru terbentuk di ribosom memiliki berbentuk yang sangat tak beraturan (random
coil state) dan konsentrasi makromolekul dalam sitosol (ribosom, asam nukleat, dan protein lain)
sangat tinggi. Dalam keadaan ini, residu asam amino hidrofobik dari polipeptida naik ke permukaan
dan proses pelipatan dari intermediet dapat berlangsung secara tidak tepat dapat mengakibatkan
terjadinya misfolding dan agregasi sebelum sintesis selesai. Kegagalan suatu protein dalam proses
pelipatan dapat menyebabkan malfungsi berbagai sistem biologis yang dapat menimbulkan
berbagai penyakit, seperti Parkinson, kanker, Alzheimer, dan katarak.
Tidak semua pelipatan protein terjadi secara spontan. Protein berukuran kecil, seperti
ribonuclease, dapat melipat secara spontan ketika denaturan (urea) dihilangkan Namun, protein
berukuran besar tidak dapat melipat secara spontan. Dua faktor yang mencegah pelipatan spontan
protein besar:
1. Kecenderungan membentuk agragrat tidak terlarut ketika denaturan dihilangkan.
2. Protein cenderung melakukan jalur pelipatan yang tidak tepat.

Gambar 12. Protein Folding

Gambar 13. Pelipatan yang Benar & Salah

Proteolytic Cleavage

Disebut Proteolytic Cleavage karena merupakan pembelahan protein oleh protease. Proses ini
dapat membuang segmensegmen dari satu atau kedua ujung polipeptida. Hasil pembelahan dapat
berupa fragmen protein aktif yang lebih pendek atau menjadi fragmenfragmen protein yang
seluruhnya aktif atau beberapa fragmen protein aktif.
Proses ini sering terjadi selama atau setelah translasi dalam sintesis protein. Pada tahap ini
biasa terjadi pemindahan N-terminal methionine, sinyal peptida, dan/atau konversi dari protein nonaktif atau non-fungsional menjadi protein aktif. Bentuk awal dari protein aktif yang dibentuk dan
memiliki gugus fungsional disebut proprotein. Proprotein yang disintesis pertama kali berbentuk
preproprotein. Misalnya, albumin pertama disintesis sebagai preproalbumin dan berisi uncleaved
peptide signal. Preproalbumin selanjutnya akan membentuk proalbumin setelah peptida sinyal
dibelah dan proses lebih lanjut untuk menghapus N-terminal propeptide 6-residu menghasilkan
bentuk matang dari protein tersebut.
Pemotongan proteolitik mempunyai dua fungsi pada pemrosesan pasca translasi, yaitu:
1. Digunakan untuk membuang potongan pendek dari ujung daerah N dan atau C dari
polipeptida, meninggalkan suatu molekul tunggal yang pendek yang melipat menjadi protein
yang aktif
2. Digunakan untuk memotong poliprotein menjadi bagian bagian dengan semua atau beberapa
diantaranya adalah potein yang aktif.
Pada prokariota dan eukariota, residu N-terminal dapat menentukan waktu paruh protein
sesuai dengan N-end rule. Protein yang ditargetkan menuju organel tertentu memiliki N-terminal
yang mengandung sinyal peptida yang menghantarkan protein ke tujuannya. Sinyal peptida tersebut
dihilangkan dengan proteolisis. Beberapa hormon pada sel eukariotik disintesis sebagai poliprotein
yang melalui proses proteolytic cleavage agar dipecah menjadi rantai-rantai polipeptida yang lebih
pendek.

Gambar 14. Proteolytic Cleavage

Gambar 15. Contoh Proteolytic Cleavage

Modifikasi Kimiawi (Chemical Modification)

Asam amino polipeptida dimodifikasi melalui penambahan gugus kimia baru. Tipe modifikasi
kimia yang paling sederhana melibatkan penambahan gugus kimia kecil (misalnya suatu asetil,
metal atau gugus fosfat) ke rantai sisi asam amino, atau gugus karboksil dari ujung asam amino
pada polipeptida.

Gambar 16. Mekanisme Modifikasi Kimia

Gambar 17. Modifikasi Kimia


Fosforilasi
Fosforilasi adalah proses penambahan gugus fosfat dan merupakan hal penting dalam
terjadinya proses signaling. Fosforilasi dapat mengakibatkan perubahan konformasi dan
menyebabkan protein menjadi bersifat lebih hidrofilik. Fosforilasi penting untuk membantu
protein berinteraksi dengan protein lain.
Sulfonasi
Sulfonasi adalah modifikasi post translasi yang termasuk dalam modifikasi kimia di
mana gugus sulfat menempel pada residu tyrosine pada suatu molekul protein. Proses ini
biasanya terjadi pada protein yang disekresi dan melewati badan golgi dan sulfonasi-nya
terjadinya pada bagian ekstraseluler membran protein. Sulfonasi hanya terdapat pada sel
hewan dan tumbuhan, sedangkan pada prokariotiki tidak terjadi sulfonasi.

Sulfonasi sendiri berfungsi untuk memperkuat interaksi antara molekul-molekul protein.


Reaksi sulfonasi terjadi akibat dari aktivitas sebuah katalis yang disebut tyrosylprotein
sulfotransferase (TPST) yang terdapat pada badan golgi.
Isoprenilasi
Isoprenilasi merupakan sebuah proses penambahan molekul hidrofobik (isoprenil) ke
dalam suatu protein. Gugus fungsi prenyl yang menempel pada protein ialah (3-methyl-but-2en-1-yl). Gugus isoprenil sendiri sangat berguna terutama pada pengikatan protein-protein
melalui sebuah ikatan yang disebut specialized prenyl-binding domains.
Glikosilasi
Glikosilasi adalah proses penambahan komponen gula pada suatu protein menjadi
glikoprotein. Glikosilasi penting untuk penanda protein-protein ekstraseluler. Misalnya,
glikoprotein dapat dikenali dengan baik karena adanya protein pengenal glikoprotein yang
dinamakan lektin, yang berasal dari biji kacang-kacangan.
Ada dua tipe umum glikolisasi, :
O-linked glycosylation : pemasangan dari suatu rantai samping gula lewat
kelompok hidroksil dari serin atau trionin asam amino.
N-linked glycosylation : melibatkan pemasangan melalui gugus amino pada
rantai samping asparagin.
Lipidasi
Lipidasi adalah sebuah proses penambahan gugus lipid pada suatu protein menjadi
lipoprotein. Lipoprotein berfungsi untuk mengatur keluar masuknya air ke dalam jaringan sel
makhluk hidup. Selain itu, proses lipidasi dapat membentuk berbagai senyawa dalam tubuh
seperti enzim, adhesion, antigen maupun toksin.
Metilasi
Metilasi merupakan sebuah proses penambahan gugus metil pada residu asam amino
dengan bantuan katalis/enzim metilase. Biasanya proses metilasi banyak ditemukan pada
aspartat dan lisin. Fungsi dari metilasi ialah regulasi ekspresi gen dan regulasi fungsi protein.
Modification

Amino acids that are modified

Examples of proteins

Addition of small chemical groups


Acetylation

Lysine

Histones

Methylation

Lysine

Histones

Phosphorylation

Serine, threonine, tyrosine

Some proteins involved in


signal transduction

Hydroxylation

Proline, lysine

Collagen

N-formylation

N-terminal glycine

Melittin

Addition of sugar side chains


O-linked glycosylation

Serine, threonine

Many membrane proteins


and secreted proteins

N-linked glycosylation

Asparagine

Many membrane proteins


and secreted proteins

Addition of lipid side chains


Acylation

Serine, threonine, cysteine

Many membrane proteins

N-myristoylation

N-terminal glycine

Some protein kinases


involved in signal
transduction

Addition of biotin
Biotinylation

Lysine

Various carboxylase
enzymes

Gambar 18. Beberapa Macam Modifikasi Kimia

Pembuangan Intein (Intein Splicing)


Intein adalah urutan penyela pada beberapa protein seperti halnya intron pada mRNA. Intein
adalah bagian dalam protein yang harus dihilangkan harus dibuang (splicing) agar ekstein dapat
disambung menjadi protein aktif.
Intein splicing adalah reaksi intramolekuler dari suatu protein di mana segmen internal dari
protein (intein) dihilangkan dari suatu rantai polipeptida dengan ligasi eksternal protein C-terminal
dan N-terminal (disebut ekstein). Bagian perpotongan dari intein splicing biasanya berada pada
daerah cysteine atau serine, di mana merupakan asam amino yang mengandung sisi nukleofilik.
Reaksi intein splicing tidak membutuhkan kofaktor ataupun sumber energi
Tipe-tipe intein splicing dibedakan menjadi empat, yaitu :
1. Maxi-intein splicing: memiliki bagian splicing di terminal N dan C yang mengandung
endonuklease domain.
2. Mini-intein splicing: sama seperti maxi-intein splicing yaitu memiliki bagian splicing di
terminal N dan C, tetapi tidak memiliki endonuclease domain
3. Trans-splicing intein: adalah intein yang terpisah di mana terbagi dalam N-termini dan Ctermini.
4. Alanine intein splicing: memiliki splicing junction pada bagian alanine, bukan cystine atau
serine.

Gambar 19. Intein Splicing


RINGKASAN (SUMMARY)
Sintesis protein adalah prosedur biologis yang dilakukan oleh sel-sel makhluk hidup
untuk membuat suatu metabolit (produk metabolisme) dari molekul sederhana menjadi molekul
yang lebih kompleks dimana senyawa organik kompleks tersebut berbobot molekul tinggi dan
merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan
ikatan peptida.
Sintesis protein pada makhluk hidup terbagi menjadi dua berdasarkan dengan ada atau
tidaknya inti sel. Pembagian ini adalah sintesis protein pada eukariot dan pada prokariot. Pada
eukariot, sintesis protein terdiri dari proses transkripsi, post-transkripsi, translasi, dan post translasi.
Sedangkan, pada prokariot, sintesis protein terdiri dari proses transkripsi, translasi, dan post
translasi.

Proses transkripsi dan translasi pada prokariot berlangsung hampir serentak, hal ini
dikarenakan tidak adanya membran inti sel sehingga semua aktivitas berlangsung di sitoplasma.
Sedangkan, pada eukariot proses translasi baru dapat dilakukan jika transkripsi telah selesai.
Post translasi dibutuhkan untuk penyempurnaan protein karena protein tidak dapat
langsung aktif begitu saja, diperlukan minimal satu proses dari keempat macam proses post
translasi yaitu, protein folding, proteolytic cleavage, modifikasi kimia, dan intein splicing.

DAFTAR PUSTAKA
Neson, David L., Michael M. Cox.(2008). Principles of Biochemistry. USA: W.H. Freeman and
Company
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK22531/ (diakses Sabtu, 14 Maret 2015 pukul 21.02)
ANONIM. (2009) Sintesis Protein dan Kode Genetik [Online] Available from:
http://www.fp.unud.ac.id/biotek/wp-content/uploads/2009/02/metabolisme-protein.pdf. (diakses
Sabtu, 14 Maret 2015 pukul 21.23)
ENDRINALDI. (2010) Sintesis Protein. [Online] Available from:
repository.unand.ac.id/SINTESIS%20PROTEIN.ppt. (diakses Sabtu, 14 Maret 2015 pukul
22.05)