Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Pada dasarnya sebuah Negara tidak akan mampu untuk menjalankan roda
pemerintahannya yang terdiri atas berbagai kegiatan dalam suatu periode tanpa adanya dana
yang mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Terlebih lagi sebuah negara tidak memiliki dana
yang sepenuhnya merupakan miliknya pribadi karena sebagian besar dana pemerintah berasal
dari masyarakat (misalkan dana dari pembayaran pajak oleh masyarakat), sehingga pemerintah
hanya bertugas sebagai pengelola atas dana masyarakat tersebut demi meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan dana tersebut tercermin dari perencanaan penggunaan
dana dalam kegiatan pemerintahan yang terdiri atas rincian penerimaan dan pengeluaran
pemerintah selama satu periode yang kita sebut sebagai Anggaran Negara tapi pada masyarakat
awan lebih dikenal dengan nama Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).
Anggaran penerimaan dan belanja Negara (APBN ), bila kita simak secara seksama
bukanlah sekedar instrument untuk mencapai stabilitasi suatu pemerintahan dalam jangka waktu
yang relatif pendek namun pada esensinya sebuah APBN sebagaimana fungsinya yakni ,
1.

Sebagai mobilisasi dana investasi yang merupakaninstrument untuk mengatur


pengeluaran dan penerimaan Negara dalam rangka menbiayai pelaksanaan kegiatan

2.
3.

pemerintahan berupa pembangunan.


Mencapai pertumbuhan ekonomi guna meningkatkan penerimaan nasional.
mencapai stabilitas perekonomian dan menentukanarah serta prioritas pembangunan

secara umum.
Dalam konteks yang lebih spesifik anggaran suatu Negara secara sederhana biasa pula
kita ibaratkan dengan anggaran rumah tangga ataupun anggaran perusahaan yang memiliki
2(dua) sisi, yakni: (1) sisi penerimaan/pemasukan dan (2) pengeluaran/pemakaian.
Penyusunan anggaran senantiasa dihadapkan pada ketidakpastian antara kedua sisi
tersebut, misalnya: sisi penerimaan anggaran rumah tangga akan sangat tergantung pada
ada/tidaknya perubahan upah/gaji.
Demikianpula sisi pengeluaran anggaran rumah tangga banyak dipengaruhi
perubahan harga barang dan jasa yang di konsumsi. Jadi, anggaran penerimaan dan belanja
negara dalam suatu pemerintahan merupakan salah satu struktural yang berperan sebagai tulang
Penganggaran Sektor Publik 2013| 1

punggung dalam menopang kehidupan negara baik itu dalam hal kemakmuran, kesejahteraan,
bahkan berlangsungnya perkembangan suatu negara untuk menjadi lebih baik.
Pada kesempatan kali ini, kami selaku kelompok penyaji akan memberikan sedikit
penjelasan mengenai apa saja sistem anggaran negara yang ada, siklus APBN, struktur dari
anggaran, struktur dan komponen APBN-RI, dan klasifikasi anggaran.
B.

1.
2.
3.
4.
5.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diangkat oleh penulis pada penulisan makalah pada
kesempatan kali ini antara lain :
Mengetahui apa saja Sistem Anggaran Negara yang ada
Mengetahui Siklus dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN)
Dapat mengetahui Struktur Anggaran
Mengetahui apa Struktur dan Komponen dalam APBN-RI
Mengetahui tentang Klasifikasi Anggaran.

BAB II
PEMBAHASAN

Sebelum menginjak pada apa saja sistem anggaran yang ada, perlu kiranya kita
mengetahui apa pengertian dari Anggaran Negara terlebih dahulu. Menurut John F. Due (1975)
Penganggaran Sektor Publik 2013| 2

yang dikutip oleh Revrisond Baswir dalam bukunya yakni Akuntansi Pemerintahan Indonesia
memiliki pengertian sebagai berikut Anggaran negara adalah suatu pernyataan tentang
perkiraan pengeluaran dan penerimaan yang diharapkan akan terjadi dalam suatu periode di masa
depan, serta data dari pengeluaran dan penerimaan yang sungguh-sungguh terjadi di masa yang
lalu. Selain dari beberapa fungsi dari anggaran negara yang telah disebutkan dalam latar
belakang diatas ada beberapa fungsi lain dari anggaran negara, yakni :
a)

Anggaran negara berfungsi sebagai pedoman bagi pemerintah dalam mengelola negara
untuk satu periode di masa yang akan datang.

b)

Karena sebelum anggaran negara dijalankan ia harus mendapatkan pengesahan terlebih


dahulu dari lembaga perwakilan rakyat, berarti anggaran negara juga berfungsi sebagai alat
pengawas bagi masyarakat terhadap kebijaksanaan yang dipilih oleh pemerintah.

c)

Anggaran negara juga berfungsi sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap
kemampuan pemerintah dalam melaksanakan kebijaksanaan yang telah dipilihnya.

2.1 Sistem Anggaran Negara


Pada setiap negara di dunia menggunakan sistem anggaran negara yang berbeda yang
mana akan menyebabkan perbedaan pada orientasi penekanannya, juga akan menyebabkan
perbedaan perlakuan akuntansinya. Meskipun demikian, dalam setiap sistem anggaran negara
memiliki tiga aspek sebagai berikut: aspek perencanaan, aspek pengelolaan dan pelaksanaan,
serta aspek pertanggungjawaban. Beberapa sistem anggaran yang telah dikenal oleh negaranegara di dunia antara lain: sistem anggaran tradisional, sistem anggaran program (PPBS), sistem
anggaran dengan dasar nol (ZBB) serta sistem anggaran kinerja (performance budgeting system).
a) Sistem Anggaran Tradisional (line-item budgeting system) yang lebih dikenal dengan
sistem anggaran berdasarkan objek pengeluaran, titik berat perhatian pada segi
pelaksanaan dan pengawasan atau lebih menekankan di segi administrasi saja, yang
meliputi:

penyusunan

anggaran,

pengesahan

oleh

lembaga

yang

berwenang,

pembelanjaan, pembuatan laporan, dan pertanggungjawaban kas.

Penganggaran Sektor Publik 2013| 3

b) Sistem Anggaran Program, meliputi tahap-tahap berupa: perencanaan, penyusunan


program, penyusunan anggaran, pengendalian (pengawasan dan penilaian). Indonesia
mengarah ke sistem ini.
c) Sistem Anggaran dengan dasar nol, sistem anggaran yang mengasumsikan bahwa
kegiatan pada tahun anggaran yang bersangkutan dianggap berdiri sendiri, tidak ada
kaitannya dengan anggaran yang lalu.
d) Sistem Anggaran Kinerja, dititikberatkan pada segi pengendalian anggaran. Sasaran
yang hendak dicapai harus dirumuskan terlebih dahulu dengan jelas, barulah jumlah
biaya yang ditetapkan. Adapun keterbatasan sistem ini, yaitu terbatasnya tenaga ahli
dalam bidang anggaran dan akuntansi yang dimiliki, kegiatan dan jasa umumnya tidak
dapat segera diukur (per unit output maupun biaya per unit), klasifikasi rekening
pemerintah berdasarkan anggaran bukan akuntansi biaya.
2.2 Siklus Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN)
Siklus APBN adalah masa atau jangka waktu saat anggaran disusun sampai dengan
laporan keuangan disahkan oleh undang-undang. Tahap Tahap Siklus APBN: 1) Tahap
Penyusunan Rancangan APBN, 2) Tahap Penetapan APBN, 3) Tahap Pelaksanaan APBN, 4)
Tahap Pengawasan Pelaksanaan APBN, dan 5) Tahap Pertanggungjawaban APBN.
1. Tahap Penyusunan Rancangan APBN
Proses penyusunan RAPBN berlangsung dari bulan Januari sampai dengan bulan Juli
tahun n-1. Misalnya RAPBN untuk tahun 2009 sudah mulai disusun bulan Januari sampai
dengan Juli 2008. Penyusunan RAPBN dimulai dengan dikeluarkannya surat edaran pagu
indikatif dan prioritas program dari Departemen Keuangan dan Bappenas. Penyusunan pagu
indikatif dan progam ini didasarkan pada arah rencana kerja pemerintah tahun bersangkutan yang
kemudian diberikan kepada masing-masing Kementrian Negara/Lembaga (K/L).
Berdasarkan pagu indikatif dan prioritas program K/L menyusun Rencana Kerja K/L
(RKK/L) yang dibuat berdasarkan rencana strategis (renstra) masing-masing K/L. Pada bulan
Mei sampai dengan bulan Agustus DPR dan pemerintah membahas pokok-pokok kebijakan
Penganggaran Sektor Publik 2013| 4

fiskal dan rencana kerja pemerintah yang kemudian disusun pagu sementara tahun anggaran
yang datang oleh Departemen Keuangan (Depkeu).
Tahap berikutnya berdasarkan dokumen surat edaran (SE) bersama pagu indikatif yang
dikeluarkan Depkeu dan Bappenas, prioritas program K/L dan SE pagu sementara dari Depkeu,
K/L membuat Rencana Kerja Anggaran K/L (RKA-KL). Selanjutnya K/L membahas konsistensi
dengan prioritas anggaran dari RKA-KL yang telah dibuat bersama Depkeu dan membahas
konsistensi dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) bersama Bappenas.
Setelah RKA-KL dibahas bersama Depkeu, semua RKA-K/L dihimpun menjadi satu
untuk dijadikan lampiran RAPBN yang selanjutnya disampaikan kepada Presiden untuk
dibacakan pada sidang paripurna DPR yang biasanya diadakan pada tanggal 16 Agustus. Sehari
sebelum perayaan hari kemerdekaan.
Dalam penyusunan APBN ada tiga pendekatan yang digunakan berdasarkan UU No. 17
Tahun 2003 dan selanjutnya dijabarkan dalam PP No. 21 Tahun 2004 yaitu :
A. Unified Budget
Dalam pendekatan ini tidak dikenal pemisahan anggaran dalam bentuk anggaran rutin
dan anggaran pembangunan belanja dalam APBN secara ekonomi diklasifikasikan dalam
delapan klasifikasi sesuai dengan Government Finance Statistics (GFS) tahun 2001. Delapan
klasifikasi itu adalah:
a)

Belanja Pegawai : Dialokasikan antara lain untuk membayar gaji, honorarium, lembur
dan vakasi PNS baik yang berada didalam negeri maupun di luar negeri;

b)

Belanja Barang: Dialokasikan untuk pengadaan barang dan jasa, pemeliharaan, dan
perjalanan dinas yang mendukung Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) tiap-tiap K/L;

c)

Belanja Modal: Dialokasikan untuk pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya menambah


modal atau aset pemerintah.

d)

Bunga: Dialokasikan untuk pembayaran kewajiban atas penggunaan pokok utang


(principal outstanding), baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri yang dihitung
berdasarkan porsi pinjaman (Loan);

Penganggaran Sektor Publik 2013| 5

e)

Subsidi: Dialokasikan untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ataupun swasta yang
memproduksi, menjual, mengimpor ataupun mengekspor barang dan jasa untuk
memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga harga jualnya terjangkau masyarakat.

f)

Bantuan Sosial: Dialokasikan untuk melindungi masyarakat dari gangguan-gangguan


sosial semisal terjadi bencana alam, kerusuhan maupun wabah.

g)

Hibah: Dialokasikan bila ada negara sahabat memerlukan suntikan dana untuk
menanggulangi bencana, krisis nasional ataupun diberikan kepada lembaga internasional
untuk kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan sosial lainnya.

h)

Belanja Lain-lain: Dialokasikan untuk belanja pemerintah pusat yang tidak tertampung
didalam tujuh klasifikasi belanja diatas.

B. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM).


Suatu metode pendekatan anggaran terhadap pengambilan suatu kebijakan dalam
prespektif lebih dari satu tahun anggaran dengan mempertimbangkan implikasi biaya dari
kebijakan bersangkutan dengan tahun anggaran sebelumnya. KPJM merupakan proyeksi
pengeluaraan selama beberapa tahun kedepan, proyeksi pengeluaran mencerminkan dampak
kebijakan yang dilaksanakan pada tahun berjalan dan atau tahun-tahun sebelumnya.

C. Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Base Budgeting)


Penganggaran berbasis kinerja didefinisikan sebagai pengalokasian dana untuk mencapai
tujuan secara terprogram atau untuk mencapai suatu indikator pengkuran kerja, efisiensi, dan
produktifitas. Tujuan utama Penganggaran Berbasis Kinerja adalah akuntabilitas. Kinerja dan
data yang terdapat dalam PBK mendorong pejabat publik untuk bertanggungjawab terhadap
kuliatas layananan, efisiensi, biaya dan efektifitas program yang dijalankan.
2. Tahap Penetapan APBN
Jangka waktu pengesahannya terhitung sejak nota keuangan dibacakan presiden (16
Agustus) sampai dengan bulan Oktober (dua bulan sebelum APBN dilaksanakan). Jika DPR
Penganggaran Sektor Publik 2013| 6

setuju dengan RUU APBN maka RUU tersebut disahkan menjadi UU APBN. Akan tetapi bila
DPR tidak menyetujui RUU APBN dari Pemerintah maka Pemerintah menjalankan APBN tahun
anggaran yang lalu (pasal 23 ayat 1 UUD 1945). Agar mempunyai sifat yang mengikat maka UU
APBN diundangkan dalam Lembaran Negara dan penjelasannya dalam tambahan Lembaran
Negara. UU APBN mempunyai sifat :
a. Formal (hukum): bahwa anggaran tersebut membatasi ruang gerak pemerintah, maksudnya
adalah segala tindakan yang mengakibatkan pengeluaran negara harus sesuai dengan jumlah
pagu yang telah ditetapkan (tidak boleh melampuai batas pagu yang ada).
b. Material (keuangan): bahwa anggaran tersebut bagi pemerintah merupakan rencana keuangan
yang perlu disesuaikan dengan perkembangan atau perubahan dengan mengadakan
pergeseran anggaran.
c. Menggambarkan kebijakan pemerintah dalam menentukan hak dan kewajiban dalam masa
anggaran yang bersangkutan.
3. Tahap Pelaksanaan APBN
Setelah RUU APBN disahkan menjadi UU APBN kemudian Presiden menetapkan
Peraturan Presiden tentang Rincian APBN atau Pedoman Pelaksanaan APBN. Perpres ini berisi
tentang hal-hal yang belum dirinci dalam UU APBN seperti alokasi anggaran untuk kantor
pusat/daerah K/L, pembayaran gaji, dana perimbangan dan alokasi subsidi.
a. Pelaksanaan Anggaran Penerimaan Negara:
1. Penerimaan anggaran adalah penerimaan Departemen yang terjadi di dalam negeri dan
luar negeri;
2. Departeman tidak diperkenankan untuk mendakan pungutan yang tidak mencakup dalam
anggaran;
3. Departemen menetapkan kebijakan jenis dan besarnya pungutan dengan persetujuan
Menteri Keuangan.
Instansi yang terlibat
1. Penerimaan pajak, bea masuk, bea keluar, dan penerimaan cukai oleh Departemen
Keuangan;
Penganggaran Sektor Publik 2013| 7

2. Penerimaan non pajak oleh departemen yang mempunyai sumber penerimaan, dengan
menunjuk bendahara penerimaan.
b. Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara didasarkan pada prinsip:
1. Hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang disyaratkan;
2. Efektif, terarah, dan terkendali sesuai dengan rencana, program/kegiatan serta fungsi
setiap Departemen ataupun Lembaga Pemerintah Non Departemen;
3. Mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri dengan memperhatikan kemampuan.
Pedoman Pokok yang harus diperhatikan dalam mengelola APBN:
1. Tidak diperbolehkan melakukan tindakan yang mempunyai akibat bagi negara apabila
tidak tersedia dana dalam anggaran belanja negara serta tidak sesui dengan tujuan
pengeluaran negara;
2. Pengeluaran anggaran belanja negara harus didasarkan pada Daftar Isian Pelaksanaan
Anggaran (DIPA)/Dokumen sejenis lainnya -contohnya adalah SKPA- serta berdasarkan
Surat Perintah Membayar (SPM), Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) atau tanda bukti
pembayaran lainnya yang sah.
4. Tahap Pengawasan Pelaksanaan APBN
Yang berkepentingan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran
adalah Menkeu. Pengawasan anggaran dapat dikelompokkan berdasar : 1) Asal: intern
dan ekstern, 2) Waktu: preventif dan represif, 3) Bukti: dekat dan Jauh, dan 4)
Keabsahan: kebenaran formil menurut hak (rechmatigheid) dan kebenaran material
mengenai maksud tujuan (dochmatihgeid)
a. Pengawasan Intern adalah alat pengawasan dari pimpinan organisasi yang
bersangkutan untuk mengawasi apakah keigatan telah dilaksanakan sesuai dengan
kebijakan yang ditentukan. Pengawasan Intern dilaksanakan oleh: 1. BPKP (Badan
Pengawas Keuangan dan Pembangunan); 2. Inspektorat Jenderal Departemen; 3.
Bawasda Propinsi; 4. Bawasda Kabupaten/Kota.

Penganggaran Sektor Publik 2013| 8

b.

Pengawasan

Ekstern

dilaksanakan

oleh

masyarakat

atau

organisasi

yang

berkepentingan dengan lembaga atau organisasi yang diawasi. Aparat pengawas ekstern
adalah BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Kewenangan BPK dalam melakukan
pemeriksaan anggaran meliputi:
1. Pemeriksaan Keuangan: adalah pemeriksaan keuagan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP) maupun Laporan Keuagan Pemerintah Daerah (LKPD).
Pemeriksaan ini bertujuan untuk memberikan opini tentang tingkat kewajaran
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah.
2. Pemeriksaan Kinerja: adalah pemeriksaan atas aspek dan efisiensi serta efektifitas
yang lazim dilakukan bagi kepentingan manajemen. Secara khusus pemeriksaan ini
bertujuan untuk: Bagi Legislatif mengidentifikasi hal-hal yang perlu menjadi
perhatian lembaga legislatif dan bagi eksekutif bertujuan agar kegiatan yang dibiayai
dengan keuangan negara/daerah diselenggarakan secara ekonomis, efisien dan efektif.
3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu: adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan
tujuan khusus diluar pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja. Termasuk
dalam pemeriksaan ini ada pemeriksaan investigatif.

c. Pengawasan Preventif, dilaksanakan untuk mencegah terjadinya kesalahan atau


penyimpangan dalam pelaksanaan tugas, biasanya berbentuk prosedur yang harus
ditempuh. Untuk keuangan negara yang menjadi objek pengawasan adalah: 1) UU
APBN, 2) Keppres Pelaksanaan APBN, 3) DIPA, 4) Limit penyimpangan uang bagi
bendaharawan, 5) Larangan pembayaran oleh bank kepada bendaharawan atas saldo
bendaharawan bersangkutan pada bank tersebut.
d. Pengawasan Represif, dilakukan dengan membandingkan apa yang terjadi dengan apa
yang seharusnya terjadi.
e. Pengawasan Dari Jauh (Pengawasan Pasif). Pengujian dan penelitian terhadap Surat
Pertanggungjawaban (SPJ) beserta bukti pendukung. Pemeriksaan ini hanya meninjau
dari segi formalnya tanapa diteliti segi materialnya.
Penganggaran Sektor Publik 2013| 9

f. Pengawasan Dari Dekat (Pengawasan Aktif). Pengawasan di tempat kejadian transaksi


secara langsung terhadap pelaksanaan administrasi sebagai bukti kelengkapan SPJ yang
telah dikirimkan.
g. Pemeriksaan Kebenaran Formal Menurut Hak. Dilakukan terhadap transaksi yang
mengakibatkan pembayaran atau tagihan kepada negara, dengan memperhatikan jangka
waktu, dasar hukum, dan keabsahan dokumen.
h. Pemeriksaan Kebenaran Material Mengenai Maksud dan Tujuan Pengeluaran.
Dilakukan untuk menghindari pemborosan dengan memperhatikan kebutuhan barang dan
dana yang dianggarkan.
5. Tahap Pertanggungjawaban APBN
Selambat-lambatnya 6 bulan setelah anggaran berakhir, Presiden menyampaikan RUU
tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN kepada DPR berupa Laporan Keuangan yang
telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Laporan Keuangan meliputi : a. Laporan
realisasi APBN, b. Neraca, c. Laporan Arus Kas, dan d. Catatan atas Laporan Keuangan yang
dilampiri dengan Laporan Keuangan perusahaan negara dan badan lainnya.

2.3 Struktur Anggaran


Struktur anggaran mencerminkan pengelompokkan komponen-komponen anggaran
berdasarkan suatu kerangka tertentu. Disamping mencerminkan system penganggaran,
pengelompokkan komponen-komponen anggaran berdasarkan suatu kerangka tertentu ini sangat
penting artiya dalam memudahkan proses pengelolaan anggaran. Berdasarkan strukturnya ini,
maka anggaran dapat dibedakan menjadi : anggaran terpilah (the devided budget), dan anggaran
komprehensif (the comprehensive budget).
2.3.1Anggaran Terpilah
Dalam anggaran terpilah, komponen anggaran dipisahkan secara tajam menjadi anggaran
rutin dan anggaran pembangunan. Yang dijadikan sebagai criteria dalam melakukan pemilahan
itu adalah :
Penganggaran Sektor Publik 2013| 10

a) Jangka waktu pelaksanaan kegiatan. Barang dan jasa yang diperoleh dan dikonsumsi di
dalam satu periode akuntansi atau satu tahun anggaran, diklasifikasikan sebagai anggaran
rutin.
b) Kemungkinan suatu kegiatan untukmendatangkan penerimaan Negara. Dalam hal ini
juga diharapkan proyek tersebut dapat dibiayai baik seluruhnya atau sebagian dari proyek
itu sendiri. Kriteria ini sangat berguna apabila dihubungkan dengan pendanaan suatu
kegiatan dengan pinjaman luar negeri. Walaupun terhadap pinjaman luar negeri ini kita
harus membayar bunga, namun beban tersebut akan lebih murah bila hasil pinjaman
tersebut digunakan untuk membiayai proyek-proyek yang menghasilkan penerimaan
Negara di kemudian hari.
c) Jumlah uang yang digunakan. Merupakan hal yang wajar untuk memasukkan suatu
kegiatan yang biayanya melampaui suatu jumlah tertentu ke dalam anggaran
pembangunan.
2.3.2 Anggaran Komprehensif
Anggaran komprehensif adalah suatu anggaran tunggal yang mencakup aktifitas
pemerintah secara keseluruhan. Dalam anggaran komprehensif ini, alokasi sumber dana dapat
dilakukan secara lebih rasional yaitu dengan cara mengevaluasi sumber dana dan penggunaannya
secara menyeluruh. Beberapa kekurangan anggaran komprehensif :
1. Anggaran tambahan dan perubahan yang biasanya digunakan untuk mendukung
pengeluaran-pengeluaran yang tidak terlihat pada waktu penyusunan anggaran
komprehensif, menyediakan peluang untuk mengalokasikan sejumlah dana guna
membiayai perubahan-perubahan kebijaksanaan yang belum mendapat persetujuan
dari legislatif.
2. Negara berkembang dengan system federal, transksi dari pemerintah daerah sukar
sekali dimasukkan ke dalam suatu anggaran nasional. Sehingga anggaran untuk
pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam konsolidasinya ke dalam anggaran
nasional.
3. Kemungkinan terjadinya anggaran yang berulang (repetitive budgeting).

2.4 Struktur dan Komponen APBN-RI

Penganggaran Sektor Publik 2013| 11

Struktur APBN-RI dengan mudah dapat dikelompokkan sebagai struktur anggaran


terpilah. Komponen APBN terbagi atas anggaran rutin dan anggaran pembangunan, baik
pada sisi penerimaan, maupun pada sisi pengeluaran.
2.4.1 Anggaran Penerimaan
Unsur-unsur penerimaan Negara dapat dikelompokkan atas dua kelompok besar
sebagai berikut: (a) penerimaan dalam negeri; dan (b) penerimaan luar negeri.
Penerimaan dalam negeri dapat berupa penerimaan bumi dan gas alam (migas) dan
penerimaan diluar minyak bumi dan gas alam (nonmigas), sedangkan penerimaan luar
negeri dapat berupa bantuan program dan bantuan proyek.
Yang disebut bantuan program adalah penerimaan Negara dalam bentuk pinjman atau
utang luar negeri yang diterima berupa uang. Sedangkan yang dimaksud dengan bantuan
proyek adalah penerimaan Negara dalam bentuk pinjaman atau utang luar negeri yang
diterima berupa barang dan jasa.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa anggaran penerimaan
pada dasarnya dapat dirinci kedalam lima unsur penerimaan utama sebagai berikut :
a. Penerimaan minyak bumi dan gas alam
b. Penerimaan pajak
c. Penerimaan bukan pajak
d. Bantuan program
e. Bantuan proyek
2.4.2 Anggaran Pengeluaran
Anggaran pengeluaran dalam garis besarnya juga juga dikelompokkan kedalam dua
kelompok utama yaitu: (a) pengeluaran rutin; (b) pengeluaran pembangunan.
Yang dimaksud dengan pengeluaran rutin adalah pengeluaran yang ditujukan untuk
membiayai kegiatan sehari-hari pemerintah. Pengeluaran rutin secara terinci dapat
dikelompokkan kedalam lima unsur pengeluaran sebagai berikut :
a. Belanja pegawai
b. Belanja barang
c. Subsidi daerah otonom
d. Bunga/cicilan utang
e. Pengeluaran rutin lainnya
Sedangkan yang dimaksud dengan pengeluaran pembangunan adalah pengeluaran
pemerintah yang bersifat investasi, dan ditujukan untuk melaksanakan tugas pemerintah
Penganggaran Sektor Publik 2013| 12

sebagai salah satu pelaku pembangunan. Bentuk dari pengeluaran pembangunan ini dapat
berupa proyek fisik seperti pembangunan jalan, serta proyek non fisik seperti pendidikan.

2.5 Klasifikasi Anggaran


Klasifikasi anggaran terutama ditujukan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut :
a) Untuk memudhkan proses perumusan sasaran program-program yang hendak dilakukan
b) Untuk memudahkan proses formulasi penerimaan dan pengeluaran secara kuantitatif
c) Untuk memudahkan pelaksanaan anggaran
d) Untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan program-program yang dibiayai dengan
anggaran
e) Untuk memudahkan pelaksanaan analisa ekonomi
f) Untuk memudahkan pemeriksaan terhadap realisasi anggaran
g) Untuk memudahkan pelaksanaan evaluasi terhadap pencapaian sasaran-sasaran yang telah
digariskan
Sedangkan bentuk pengklasifikasiannya dalam garis besarnya dapat dibedakan
berdasarkan beberapa pendekatan sebagai berikut :
2.5.1 Klasifikasi Organik dan Objek
Klasifikasi organic dan objek sebenarnya merupakan dua bentuk pengklasifikasian
anggaran yang berbeda. Dalam klasifikasi organic, anggaran dikelompok-kelompokkan
berdasarkan departemen atau lembaga Negara. Kemudian sebagai kelanjutan dari
klasifikasi organic, setiap pengguna uang mengklasifikasikan pengeluarannya sesuai
dengan objek atau jenis pengeluaran seperti: gaji, biaya perjalanan, pembelian alat dan
bahan, dll.
Tujuannya

adalah

untuk

menyeragamkan

standar

pengawasan

dan

pertanggungjawaban pada berbagai tingkat manajemen. Beberapa kelemahan jika


klasifikasi ini digunakan tanpa disertai dengan metode klasifikasi lainnya :
a. Klasifikasi jenis ini hanya menekankan perhatiannya pada pengeluaran secara
individual, tapi mengabaikan pelaksanaan program secara keseluruhan.
b. Seringkali sangat sulit membuat klasifikasi yang benar-benar tepat bagi semua
unit organisasi.
2.5.2 Klasifikasi Fungsional
Klasifikasi fungsional biasanya digunakan untuk menunjukkan tujuan umum yang
hendak dicapai oleh pengeluaran pemerintah. Dengan klasifikasi fungsional ini, maka
Penganggaran Sektor Publik 2013| 13

cakrawala pengalokasian dan pengkajian keputusan yang berkaitan dengan anggaran


diharapkan dapat diperluas.
Penerapan klasifikasi fungsional mendukung performance-based budgeting dengan
memberikan evaluasi kinerjanya. Tidak seperti klasifikasi sektoral yang cenderung
mengalokasikan kepada sector tertentu, klasifikasi fungsional lebih menekankan fungsi yang
dilakukan pemerintah sehingga stakeholder dapat mengukur tingkat keberhasilan
pemerintah. Klasifikasi fungsi dan subfungsi hanya akan digunakan sebagai alat analisis,
sedangkan anggaran pengeluarannya disiapkan berdasarkan program-program yang telah
diajukan oleh tiap Kementrian Negara/ Lembaga.
Seperti disebutkan di atas, penerapan klasifikasi fungsi oleh pemerintah mengacu pada
GFS yang diperkenalkan oleh IMF seperti yang disebutkan dalam manual GFS dimana
fungsi pemerintahan di breakdown ke dalam 10 fungsi (COFOG). Namun dalam
pelaksanaan di Indonesia, pemerintah hanya mengadopsinya menjadi 11 fungsi dan 79
subfungsi, (lihat lampiran B). Fungsi-fungsi tersebut antara lain: pelayanan umum,
pertahanan, ketertiban dan keamanan, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas
umum, kesehatan, pariwisata, budaya agama, pendidikan, dan perlindungan sosial.

2.5.3 Klasifikasi Ekonomi


Dalam klasifikasi ekonomi ini, anggaran diklasifikasikan sedemikian rupa sehingga
menyajikan informasi yang berguna bagi proses pengambilan keputusan ekonomi. Hal-hal
yang perlu diketahui oleh pemerintah dalam mengelola perekonomian misalnya adalah:
perbandingan alokasi anggaran untuk belanja konsumsi dan untuk pengadaan sarana yang
bersifat meningkatkan produksi, dampak anggaran terhadap penerimaan, dampak anggaran
terhadap penyediaan lapangan kerja, dan lain sebagainya.
2.5.4 Klasifikasi Berdasarkan Program
Dibandingkan dengan klasifikasi yang lain, klasifikasi berdasarkan program ini lebih
memusatkan perhatiannya terhadap barang dan jasa yang dihasilkan. Yang dimaksud dengan
program dalam hal ini adalah serangkaian kegiatan yang dimulai sejak penyiapan barang dan
jasa secara intern, sampai dengan penyerahannya kepada pihak ekstern.
2.5.5 Klasifikasi Terpadu

Penganggaran Sektor Publik 2013| 14

Dalam perkembangnnya, klasifikasi anggaran Indonesia secara berangsur-angsur


dilengkapi dengan klasifikasi berdasarkan fungsi dan berdasarkan karakteristik ekonomi.
Sehingga dapat dikatakan bahwa saat ini Indonesia menganut klasifikasi terpadu.
Klasifikasi yang dianjurkan untuk digunakan dalam kode anggaran pengeluaran APBNRI adalah sebagai berikut :
0 0 00 00 00 00 00 0 00
123456789
1. Bidang, terdiri dari: (1) Umum, (2) Sosial, (3) Ekonomi, (4) Hankam, dan (5) Lainlain.
2. Sektor.
3. Program.
4. Proyek untuk anggaran pembangunan, dan Kegiatan untuk anggaran rutin.
5. Bagian.
6. Unit organisasi.
7. Lokasi atau propinsi.
8. Jenis pengeluaran.
9. Perincian Jenis Pengeluaran.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Penganggaran Sektor Publik 2013| 15

Menurut John F.Due (1975), Anggaran negara adalah suatu pernyataan tentang
perkiraan pengeluaran dan penerimaan yang diharapkan akan terjadi dalam suatu periode
di masa depan, serta data dari pengeluaran dan penerimaan yang sungguh-sungguh terjadi
di masa yang lalu. Dimana anggaran negara berfungsi sebagai pedoman bagi pemerintah,
sebagai alat pengawas bagi masyarakat, baik bagi kebijaksanaan yang dipilih maupun
realisasi dari kebijaksanaan tersebut.
Sistem anggaran negara terdiri atas: sistem anggaran tradisional, sistem anggaran
program, sistem anggaran dengan dasar nol, serta sistem anggaran kinerja. Siklus APBN
terdiri atas lima tahap, yakni: tahap penyusunan APBN, tahap penetapan APBN, tahap
pelaksanaan APBN, tahap pengawasan APBN, dan tahap pertanggungjawaban APBN.
Struktur anggaran negara terbagi atas: anggaran terpisah dan anggaran
komprehensif. Kemudian pada struktur dan komponen APBN-RI, secara mudah dapat
terbagi atas anggaran rutin dan anggaran pembangunan, baik dari segi penerimaan
maupun dari segi pengeluaran.
Anggaran dapat diklasifikasikan menjadi lima, yakni:klasifikasi organic dan
objek, klasifikasi fungsional, klasifikasi ekonomi, klasifikasi berdasarkan program, serta
klasifikasi terpadu.
3.2

Saran
Bagi para pengguna makalah, makalah ini masihlah jauh dari kata sempurna,
untuk itu penulis berharap kedepannya agar makalah ini dapat lebih disempurnakan lagi
dengan menambahkan informasi-informasi pendukung terkait materi ini, sehingga
makalah ini dapat digunakan sebagai referensi maupun panduan dalam pembelajaran
terkait dengan materi yang sama untuk tahun-tahun mendatang.

Penganggaran Sektor Publik 2013| 16