Anda di halaman 1dari 9

Budidaya Gerut Untuk Kesejahteraan Masyarakat1

Oleh: Akhmad Mukhyiddin


Mengenal Tanaman Gerut
Sudah tidak asing bagi masyarakat Bojonegoro mendengar kerajinan
kayu jati di Desa Sukorejo, ledre di Padangan, salak wedi, blimbing
Ngringinrejo, dan pastinya tambang minyak di Gayam dan Ngasem.Di luar
itu, di salah satu sudut wilayah Bojonegoro, menyimpan potensi tak kalah
besar, terutama potensi pangan.Di luar gegap gempita eksplorasi minyak di
Kecamatan Ngasem ternyata kecamatan yang terletak 20 km sebelah barat
daya pusat Kota Bojonegoro itu memiliki potensi yang belum banyak
diketahui

masyarakat.Hampir

Kecamatan

Ngasem

di

terlihat

beberapa
tanaman

sudut
gerut

Desa

Ngadiluwih,

yang

ditanam

masyarakat.Bahkan sudah dibudidayakan kurang lebih 10 tahun.


Tanaman gerut yang memiliki nama ilmiah Maranta arundinaceae
adalah jenis tanaman yang masih satu ordo dengan tanaman kencur, jahe,
lengkuas, kunyit, dan temu lawak. Di setiap daerah di Indonesia nama
tanaman gerut berbeda-beda. Seperti di Jawa Tengah dikenal dengan nama
irut, jlarut dan lerut. Sementara itu di Jawa Timur termasuk di Bojonegoro
sendiri tanaman gerut ada yang menyebut kerut, garut dan jengkerut. Dalam
bahasa Inggris tanaman gerut adalah west indian arrowot atau st vincent
arrowot. Diduga masuknya jenis tanaman ini ke Indonesia adalah pada masa
penjajahan Belanda.Kebijakan Belanda menerapkan culturstesel pada tahun
1830-1970 yang salah satunya dengan menambah jenis-jenis tanaman baru
dari luar Indonesia, terutama jenis tanaman pertanian produktif dan cocok
dibudidayakan di tanah Indonesia.
Tanaman gerut dapat diperbanyak secara vegetatif, baik melalui umbi
maupun

anakan.Perbanyakan

melalui

umbi

dapat

dilakukan

dengan

1Tulisan ini merupakan rangkuman hasil penelitian penulis di Desa Ngadiluwih


Kecamatan Ngasem (2012).Alumni Jurusan Budi Daya Hutan Fakultas Kehutanan
UGM.

pembuatan persemaian yang tidak terlalu luas. Pada umur 30 hari setelah
disemaikan umbi sudah muncul tunas sehingga bisa siap dipindahkan untuk
ditanam

dilapangan

dan

penanaman

juga

bisa

dilakukan

dengan

pemotongan rimpang yang bertunas. Untuk perbanyakan melalui anakan


dapat dilakukan dengan mengambil anakan tunas tanaman yang berumur 4
bulan dan selanjutnya dipindahkan ke lahan yang akan siap ditanami.
Tanaman gerut dapat dibudidayakan di daerah dataran rendah dan kering
seperti halnya kondisi wilayah Kecamatan Ngasem yang didominasi lahan
tidak produktif, topografi yang tidak datar, dan krisis persediaan sumber air
bersih di beberapa tempat. Selain itu, tanaman gerut memang tidak
memerlukan perawatan yang intensif untuk tumbuh.
Di Indonesia, termasuk juga di Bojonegoro tanaman gerut belum
banyak di budidayakan secara intensif karena masyarakat belum banyak
mengetahui fungsi tanaman dan keuntungan menanam gerut. Masyarakat
hanya mengenal gerut sebagai tanaman pangan biasa seperti singkong dan
ubi jalar.Padahal tanaman gerut juga mampu berfungsi baik secara ekonomi,
kesehatan, dan ekologi.Dari fungsi ekonomi umbi gerut dapat diolah menjadi
tepung, pati, maupun emping.Sedangkan dari fungsi kesehatan daun dan
umbi

gerut

dapat

dijadikan

bahan

pakan

ternak

dan

obat-

obatan.Penggunaan obat-obatan seperti obat disentri, penurun panas,


mendinginkan perut, memperbanyak ASI, obat penyembuh borok, sekaligus
parutan gerut juga bisa digunakan untuk penawar racun sengatan lebah dan
ular.Sementara dari fungsi ekologi, penanaman gerut dapat berfungsi
sebagai pembentuk iklim mikro, sebagai penahan erosi, maupun sebagai
sumber makanan untuk satwa herbivora yang ada di hutan.
Budidaya dan Pemanfaatan Tanaman Gerut di Desa Ngadiluwih
Di Desa Ngadiluwih para warganya yang memiliki lahan pribadi
beberapa tahun ini sudah banyak yang menanam tanaman gerut dan
mengolahnya.Penanaman gerut oleh warga Ngadiluwih masih bersifat
tradisional. Itu terlihat dari cara penanaman tanpa alat modern serta tanpa

ada perawatan terhadap tanaman selama pertumbuhannya. Penanaman


dilakukan oleh masyarakat pada awal musim penghujan (Bulan Oktober dan
November).Bojonegoro yang memilki curah hujan > 100 mm/tahun mampu
mensuplai ketersediaan air untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman
gerut pada awal penanaman.Masyarakat menggunakan bibit tanaman gerut
dari umbi.Umbi yang dipilih sebagai bibit adalah umbi yang berukuran kecil
kurang lebih berdiameter 1 cm yang merupakan sisa dari sortiran umbi
untuk

diolah

menjadi

bahan

makanan.Penanaman

dilakukan

dengan

membuat lubang seukuran galian sekali cangkul.Selanjutnya lubang hasil


cangkulan dimasukkan 2 buah umbi gerut yang selanjutnya ditutup oleh
tanah.Setelah

penanaman

selesai

tidak

dilakukan

pemupukan

atau

perawatan lainnya.Warga membiarkan umbi tersebut tumbuh dengan


sendirinya sampai tanaman tersebut siap untuk dipanen.
Tanaman yang sudah siap panen ditandai dengan daun layu dan
luruh.Pemanenan dilakukan pada Bulan Juni-Juli.Alasannya, selain umbi
sudah banyak yang dihasilkan, pada bulan tersebut banyak konsumen yang
memesan gerut dalam bentuk kripik.Terutama di tahun akhir-akhir ini untuk
keperluan perayaan lebaran. Umbi gerut dapat dipanen saat usia 8 bulan,
hasil panen umbi tersebut memiliki kandungan serat yang sedikit sehingga
cocok sebagai bahan baku pembuatan emping gerut.
Pada awalnya warga di Desa Ngadiluwih mengolah gerut menjadi
tepung, akan tetapi beberapa tahun terahir masyarakat beralih menggolah
umbi gerut menjadi emping. Permintaan pasar sangat terbuka dengan
emping gerut. Bahkan masyarakat Ngadiluwih sangat kuwalahan men-suplay
permintaan para konsumen di tengah kontinuitas pasokan bahan baku umbi
yang tidak menentu jumlahnya. Konsumen yang datang ke Ngadiluwih tidak
hanya berasal dari Kabupaten Bojonegoro. Beberapa warga dari daerah lain
seperti Pati, Rembang, Tuban, dan Nganjuk adalah konsumen tetap umbi
gerut maupun emping gerut Ngadiluwih.
Sama halnya dengan cara penanaman gerut, proses pembutan emping
gerut juga masih sederhana, hanya alat tumbuk menyerupai palu dari kayu

(banyak orang menyebutnya ganden) dan plastik yang digunakan dalam


pembuatan emping. Pembuatan emping gerut oleh warga Ngadiluwih hampir
mirip dengan cara pembuatan emping mlinjo. Umbi hasil panen awalnya
disortir dengan mengumpulkan umbi yang memilki diameter 2-3 cm. Ukuran
umbi gerut dapat mencapai panjang >30 cm dan diameter >3 cm. Setelah
didapatkan umbi yang diingankan selanjutnya umbi dikupas kulitnya.Umbi
hasil kupasan selanjutnya dicuci dan ditiriskan.Umbi yang sudah bersih
selanjutnya dipotong kecil-kecil seukuran ruas umbi. Proses selanjutnya
adalah

potongan

umbi

direbus

selama

40-50

menit.

Hasil

rebusan

selanjutnya ditiris dan kemudian potongan umbi tersebut dipipihkan di atas


plastik dengan menggunakan penumbuk palu yang terbuat dari kayu.Hasil
tumbukan

selanjutnya

dikeringkan

langsung

pada

sinar

matahari.Pengeringan bisa dilakukan dalam satu hari jika matahari terik


seharian.Dalam satu hari masyarakat mampu menghasilkan 4-5 kg umbi
garut.Setiap 5 kg umbi gerut dapat menghasilkan 1 kg emping garut.
Selain

diolah

menjadi

emping

gerut,

umbi

gerut

juga

diolah

masyarakat Ngadiluwih menjadi tepung gerut.Berbeda dengan pembuatan


emping, pada pembuatan tepung gerut awalnya umbi dikupas kulitnya dan
dicuci hingga bersih. Setelah bersih, umbi diparut, hasil parutan selanjutnya
diperas menggunakan saringan yang menggunakan air untuk memudahkan
pemerasan dengan perbandingan 1:2. Air yang didapatkan dari hasil perasan
selanjutnya diendapkan.Setelah itu air di atas endapan dibuang dan endapan
dijemur

kering.Endapan

yang

dikeringkan

menghasilkan

tepung

dan

kemudian diayak untuk mendapatkan tepung yang halus.Sisa tepung dari


ayakan yang masih kasar selanjutya ditumbuk dan disaring lagi agar
didapatkan tepung yang halus.
Akan tetapi masyarakat masih sedikit yang mengolah umbi gerut
menjadi tepung gerut, hal ini dikarenakan proses pembuatanya yang lama
dan

konsumsi

masyarakat

terhadap

tepung

gerut

masih

kurang.

Ketidaktahuan kegunaan tepung gerut untuk diolah serta ketidaktahuan


kandungan didalam tepung gerut menyebabkan masyarakat lebih memilih

tepung beras dan tepung terigu dari pada tepung garut.Padahal jika dilihat,
kandungan tepung gerut memiliki kandungan karbohidrat dan zat besi lebih
banyak dari pada tepung beras dan tepung terigu.Selain itu kandungan
lemak pada tepung gerut lebih kecil. Hasil penelitian perbandingan
kandungan gizi beras giling, tepung terigu, dan tepung gerut oleh Direktorat
Gizi, Depkes RI (1981):
KANDUN UNI
GAN GIZI T

KANDUNGAN
Beras
Tepung Tepung
Giling

Terigu Garut

Kalori

Kal

360,0

365,0

355,0

Protein

Gr.

6,8

8,9

0,7

Lemak

Gr.

0,7

1,3

0,2

78,9

77,3

85,2

Karbohidra Gr.
t
Kalsium

Mg.

6,0

16,0

8,0

Fosfor

Mg.

140,0

106,0

22,0

Zat Besi

Mg

0,8

1,2

1,5

Vit. A

Iu

0,0

0,0

0,0

Vit. B1

Mg

0,12

0,12

0,09

Vit. C

Mg

0,0

0,0

0,0

Air

Gr

13,0

12,0

13,6

100,0

100,0

100,0

Bagian yg %
dpt
dimakan

Sumber: Direktorat Gizi, Depkes RI (1981)

Melihat kandungan lemak pada tepung gerut yang kecil maka dapat
dijadikan bahan makanan diet pengganti nasi. Selain itu emping gerut bisa

menjadi pengganti emping mlinjo untuk dikonsumsi bagi penderita diabetes


dan kencing manis.
Informasi dari salah satu warga Ngadiluwih, menyebutkan bahwa
emping yang dijual dari hasil panen setiap 1 Ha harganya mencapai Rp
6.000.000, dengan rincian dalam 1 Ha tanaman gerut dapat menghasilkan
400 kg emping mentah, sedangkan emping mentah perkilogram dijual oleh
warga seharga Rp 15.000. Lantas, jika dirata-rata dari 10 bulan penanaman
gerut, mulai dari awal hingga panen maka petani bisa memperoleh
tambahan pendapatan kurang lebih Rp.600.000/bulan.Pendapatan tambahan
yang sekiranya cukup untuk masyarakat Bojonegoro, dimana pada tahun
2012 UMK Kabupaten Bojonegoro adalah Rp 930.000.Pendapatan sebesar itu
dengan biaya pengeluaran yang kecil dan tidak butuh banyak tenaga serta
tidak menghabiskan banyak waktu bisa menjadikan keuntungan lebih baik
dari pada menjadi buruh bangunan yang harus mencari pekerjaan di luar
desa bahkan daerah.
Di

tengah

potensi

itu,

sayangnya

pemanfaatan

dan

realitas

kepemilikan lahan di Desa Ngadiluwih untuk pemudidayaan gerut sebagian


besar belum maksimal, masih dilakukan warga seadanya, terutama di paritparit tegalan.Itupun sedikit orang yang menerapkanya, hal ini dikarenakan
hanya sedikit orang yang memiliki lahan pribadi dan luas yang minimal, kirakira hektar untuk setiap kepala keuarga.Pemanfaatan tegalan dilakukan
oleh masyarakat dikarenakan tidak semua jenis tanaman pertanian mampu
hidup dan berproduksi maksimal di lahan kritis dan kering seperti lahan di
Desa Ngadiluwih.

Gerut dan Potensi Agroforestri


Namun selain di tegalan, ada temuan menarik lainnya, yaitu terdapat 5
kepala keluarga yang menanam gerut di bawah pohon jati berumur 9

tahun.Ternyata gerut yang ditanam masyarakat dibawah pohon jati mampu


tumbuh baik dan produktifitas umbinya tinggi.Hal ini membuktikan bahwa
selain ditanam di lahan kosong/terbuka, gerut juga mampu tumbuh dan
berkembang baik dibawah naungan pohon.
Dari temuan itu, serta melihat kemampuan gerut yang mampu tumbuh
di lahan kering, tidak memerlukan perlakuan

yang khusus, dan mampu

tumbuh dibawah naungan, maka penulis melihat ada potensi terpendam dari
tanaman gerut dan Bojonegoro. Mengingat pula dari 230.706 ha luas
Kabupaten Bojonegoro, 42,74% diantaranya dimanfaatkan sebagai hutan
negara dan 24,39% berupa tanah kering (Bojonegoro dalam angka, 2011).
Dari fakta ini, tidak menutup kemungkinan jika pelibatan masyarakat
Bojonegoro khusunya masyarakat sekitar hutan bisa diarahkan untuk ikut
mengolah lahan di kawasan hutan (selain kawasan konservasi), khususnya di
bawah pohon/tegakan dan memaksimalkan lahan kering yang tidak produktif
untuk membudidayakan tanaman gerut.Secara langsung maupun tidak
langsung pemerintah daerah juga dapat memeratakan perekonomian
masyarakatnya dengan tidak hanya fokus dilahan yang produktif.
Di

wilayah

administratif

Kabupaten

Bojonegoro

sebagian

besar

kawasan hutan dikelola oleh perhutani. Program perhutani melalui PHBM


(Penggelolaan

Hutan

Bersama

Masyarakat)

dapat

diterapkan

dengan

melibatkan masyarakat dalam mengelola dan menjaga hutan dengan pola


agroforestri penanaman tanaman gerut di bawah tanaman kehutanan seperti
jati, mahoni, sonokeling, sengon maupun jenis tanaman kehutanan yang lain.
Tanaman gerut yang memiliki tinggi sekitar 50 cm ini selain untuk diproduksi
umbinya juga daunnya dapat untuk pakan ternak masyarakat sekitar hutan.
Penerapan agroforesti dengan memaksimalkan kurang produktifnya lahan
dibawah tegakan hutan yang ditanami tanaman gerut akan memberikan
dampak sosial, ekonomi dan lingkungan yang positif. Secara ekonomi
pendapatan masyarakat akan bertambah dengan penjualan hasil olahan
umbi gerut, sehingga mampu keluar dari kungkungan kemiskinan yang
selalu mengintervensi masyarakat pedesaan khusunya masyarakat desa

hutan. Dampak ekologi atau lingkungan yang positif dari penanaman gerut
ini adalah penanaman gerut yang ditanam dibawah pohon juga akan
membentuk iklim mikro di kawasan tersebut, mengurangi erosi tanah, dan
juga sebagai sumber bahan organik untuk kesuburan tanah. Pengaruh sosial
yang didapatkan adalah adanya pelibatan masyarakat secara tidak langsung
untuk ikut menjaga dan memelihara tanaman kehutanan. Konflik sosial
antara perhutani dengan masyarakat, bawaan tragedi penjarahan pasca orde
baru diharapkan juga akan membaik.
Pembelajaran Kedepan
Melihat

potensi

gerut

dapat

menjadi

harapanpenurunan

ketergantungan masyarakat Indonesia khususnya di Bojonegoro terhadap


padi

dan

jagung

sebagai

sumber

karbohidrat

paling

utama.Karena

ketergantungan terhadap padi dan jagung dapat membahayakan ketahanan


pangan nasional.Kita memiliki sumber pangan karbohidrat yang sangat
banyak dan beragam, seperti sagu, ubi kayu, jagung, beras, sukun, tales, ubi
jalar, pisang, serta gerut tentunya.Oleh sebab itu, diversifikasi pangan bisa
menjadi

solusi

strategis

bagi

kekurangan

pangan.

Dengan

adanya

diversifikasi pangan yang tersedia dan terjangkau oleh masyarakat maka


gerut akan bisa menjadi salah satu alternatif pangan lokal yang nilainya
gizinya tinggi serta dapat bersaing dengan tepung terigu dan tepung beras.
Karena sumber karbohidrat baik dari umbi maupun pangan lokal yang lain
nyaris terlupakan ditengah gaya pola hidup makan rakyat Indonesia yang
lebih senang memilih makanan cepat saji. Tiap daerah tidak perlu
menghasilkan emping gerut maupun tepung gerut, tetapi hanya sebagai
daerah sumber bahan baku emping gerut yaitu hanya dengan menanam
tanaman gerut. Untuk itu perlu didorong pengembangan pangan berbasis
tepung berbahan baku lokal salah satunya seperti tepung gerut. Agar
nantinya kita bisa menjadikan desa-desa yang mandiri pangan dan secara
tidak langsung dapat mengurangi ketergantungan impor beras lagi dari luar
negeri.