Anda di halaman 1dari 16

Struktur dan Mekanisme Sistem Pernapasan

Shienowa Andaya Sari


102012445 /D5
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
shienowa.sari@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak
Sistem pernapasan adalah untuk mengambil oksigen (O 2) dari atmosfer ke
dalam sel-sel tubuh dan untuk mentranpor karbon dioksida (CO 2) yang
dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke atmosfer. Sistem perapasan terdiri atas saluran
dan organ yang berhubungan dengan pernapasan. Secara sistematis sistem pernapasan dibagi
menjadi saluran pernapasan atas dan saluran pernapasan bawah. Saluran pernapasan atas
terdiri atas hidung, nasofaring, orofaring, laringofaring, dan laring. Saluran pernapasan
bawah, atau biasa disebut divisi, terdiri atas trakea, semua segmen dari percabangan bronkus,
dan paru-paru. Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam
keadaan tertidur sekalipun karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom.
Dalam mekanisme pernapasan terdapat otot-otot yang berperan saat bernapas, serta pusat
pengendalian penrnapasan dan volume kaspasitas saat bernapas selain itu perubahan tekanan
juga mempengaruhi mekanisme pernapasan. Apabila terjadi gangguan pernapasan maka
seseorang akan bernapas tidak seperti keadaan normal salah satunya sesak napas.

Kata kunci: Organ sistem pernapasan, mekanisme pernapasan.


Abstract
The respiratory system is to take the oxygen (O2) from the atmosphere into the body's
cells and to mentranpor carbon dioxide (CO2) produced cells back into the atmosphere. The
respiratory system consists of channels and organs associated with breathing. Systematically
respiratory system is divided into the upper respiratory tract and lower respiratory tract.
Upper respiratory tract consists of the nose, nasopharynx, oropharynx, laringofaring, and
larynx. Lower respiratory tract, or so-called division, consisting of the trachea, all segments
of branching bronchi, and lungs. Breathing is an automatic process that occurs even in a
state asleep though because the respiratory system is affected by the autonomic nervous
system. In the respiratory mechanism are the muscles that act as breathing, as well as volume
control center penrnapasan and capacity will increase when breathing in addition to the
change in pressure also affects the respiratory mechanism. In case of respiratory problems
then someone will breathe normally do not like one of them breathless.
Keywords: Respiratory system organ, breathing mechanism.
Pendahuluan
Bernapas adalah kegiatan yang setiap makhluk hidup lakukan tiap saat.
Tubuh kita tentunya mempunyai mekanisme dalam pernapasan dan dapat
kita sebut sistem pernapasan. Fungsi sistem pernapasan adalah untuk
mengambil oksigen (O2) dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk
1

mentranspor karbon dioksida (CO 2) yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke


atmosfer.1 Dalam proses pernapasan, oksigen (O2) merupakan zat kebutuhan
utama. Oksigen (O2) untuk pernapasan diperoleh dari udara di lingkungan
sekitar. Pada pembahasan kali ini penulis akan membahas tentang struktur
organ pernapasan pada manusia secara mikroskopik dan makroskopik, serta
mekanisme pernapasan pada manusia. Tujuan pembelajaran kali ini adalah
agar dapat mengetahui dan memahami struktur organ pernapasan pada
manusia serta mengetahui dan memahami mekanisme pernapasan yang
terjadi di dalam tubuh.

Isi
1. Struktur Organ Pernapasan
Sistem perapasan terdiri atas saluran dan organ yang berhubungan dengan pernapasan.
Secara sistematis sistem pernapasan dibagi menjadi saluran pernapasan atas dan saluran
pernapasan bawah. Organ saluran pernapasan atas terletak di luar toraks, atau rongga dada,
sementara saluran pernapasan bawah terletak hampir seluruhnya di dalam toraks. (Gambar 1).
Saluran pernapasan atas terdiri atas hidung, nasofaring, orofaring, laringofaring, dan laring
(Gambar 2). Saluran pernapasan bawah, atau biasa disebut divisi, terdiri atas trakea, semua
segmen dari percabangan bronkus, dan paru-paru. 2,3 Pada pembahasan kali ini struktur organ
pernapasan akan di bahas secara mikroskopis dan makroskopis.

Gambar 1. Struktur Sistem Pernapasan 3

Gambar 2. Potongan Midsagital Kepala dan Leher Struktur Saluran Pernapasan Atas. 3
1.1 Hidung
Hidung memiliki fungsi sebagai saluran udara, saringan udara dari partikel debu kasar
maupun halus, menghangatkan udara pernapasan, melembabkan udara pernapasan, dan
2

sebagai alat pembau. Hidung bagian luar berbentuk pyramid disertai dengan suatu akar dan
dasar. Bagian ini tersusun dari kerangka kerja tulang, tulang rawan hialin, otot bercorak, dan
jaringan ikat.4 Kulit luar hidung merupakan epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk.
Terdapat rambut sangat halus dengan kelenjar sebasea besar-besar.
Kearah inferior hidung memiliki dua pintu masuk berbentuk bulat panjang yaitu nostril
atau nares yang terpisah oleh septum nasi atau septum nasal. Septum nasal membagi hidung
menjadi sisi kiri dan sisi kanan rongga nasal (kavum nasi). 4 Lubang hidung bagian depan
disebut nares anterior sementara lubang hidung bagian belakang disebut nares posterior. Luas
permukaannya diperbesar oleh tiga tonjolan mirip gulungan dari dinding lateral, yang disebut
konka nasalis superior, konka nasalis media, dan konka nasalis inferior.5
Sinus paranasalis terdiri atas fontalis, etmoidalis, spgenoidalis dan maxillaries. Sinus
berfungsi untuk meringankan tulang kranial, memberi area permukaan tambahan pada
saluran nasal untuk menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk, memproduksi
mukus, dan memberi efek resonasi dalam produksi wicara.1

Gambar 3. Anatomi Hidung


Epitel hidung terdiri atas sel-sel kolumnar bersilia, sel goblet, dan sel-sel basofilik kecil
pada dasar epitel, yang dianggap sebagai sel-sel induk bagi penggantian jenis sel yang lebih
berkembang. Pada msnusia, jumlah sel goblet berangsur bertambah dari anterior ke posterior.
Selain mukus, epitel juga mensekresi sedikit cairan yang membentuk laposan di antara
bantalan mukus dan permukaan epitel.5
Silia melecut di dalam lapis cairan yang membentuk laposan di antara bantalan mukus
dan permukaan epitel. Dibawah epitel terdapat lamina propria tebal yang mengandung
kelenjar submukosa, terdiri atas sel-sel mukosa dan serosa. Di dalam lamina propia juga
terdapat sel plasma, sel mast, dan kelompok jaringan lomfoid. Dibawah epitell konka inferior
tedapat pelksus vena luas yang merupakan tempat terjadinya mimisan.5
Reseptor bagi sensai mencium terdapat di dalam epitelolfaktoria, daerah khusus pada
mukosa hidung, yang terdapat di atap rongga hing dan meluas ke bawah sampai 8-10 mikro
meter pada kedua sisi septum.dan sedikit ke atas konka nasalis superior. Daerah khusus pada
epitel ini tidak rata dan mencakup sekitar 500 mm2.

Epitel olfaktorius adalah epitel bertingkat tinggi dengan tebal sekitar 60 mikro meter. Ia
terdiri atas tiga jenis sel yaitu sel sustentakular, sel basal dan sel olfaktorius. Sel olfaktorius
adlah neuron bipolar , tersebar merata di antara sel-sel sustentakular. Inti bulatnya menempati
zona lebih rendah dari yang berasal dari sel-sel penyokong. Terdapat kompleks Golgi
supranuklear kecil dan beberapa elemen tubuvestibular dan retikulum endoplasma licin.
Bagian apikal sel menyempit menjadi juluran silindris yang halus yang meluas ke atas ke
permukaan epitel tempatnya berakhir dengan melebar yang disebut bulbus olfaktorius. Merka
sedikit menonjol di atas permukaan sel-sel penyokong sekitarnya dan mengandung badanbadan basal daro enam sampai delapan silia olfaktoria yang memancardari paralel terhadap
permukaan epitel.
Otot yang melapisi hidung merupakan bagian dari otot wajah. Otot hidung tersusun dari
M.nasalis dan M.depressor septum nasi. Pendarahan hidung bagian luar disuplai oleh cabangcabang A.facialis, A.dorsalis nasi cabang, A.opthalamica dan A.infraorbitalis cabang
A.maxillaries interna. Pembuluh baliknya menuju V.facialis dan V.opthalamica. persarafan
otot-otot hidung oleh N.facialis, kulit sisi medial punggung hidung sampai ujung hidung
dipersarafi oleh cabang-cabang infratrochlearis dan nasil externus N.opthalmicus. Kulit sisi
lateral hidung dipersarafi oleh cabang infraorbitalis N.maxillaries.4
Pembuluh-pembuluh nadi yang mendarahi rongga hidung adalah: Aa.etmoidalis anterior
dan posterior, cabang A.opthalmica yang mendarahi pangkal hidung, sinus-sinus ethmoidalis
dan forntalis. A.sphenopalatina, cabang A.maxillaries interna, mendarahi mukosa dindingdinding lateral dan medial hidung. A.palatina major, cabang palatina descendens
A.maxillaries interna, yang melewati foramen palatinum majus dan canalis incisivus serta
beranastomosis dengan A.sphenopalatina. A.labialis superior, cabang A.facialis, yang
mendarai septum nasi daerah vestibulum, beranastomosis dengan A.sphenopalatina dan
seringkali menjadi lokasi kejadian epistaxis.4
1.2 Faring
Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai perssambungannya
dengan usofagus dan ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang hidung
(naso-farinx), di belakang mulut (oro-farinx) dan di belakang larinx (faring-laringeal). Nares
posterior adalah muara rongga-rongga hidung ke naso-farinx.2 Faring adalah tabung muskular
berukuran 12,5 cm yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak sampai esofagus.
Faring terbagi menjadi naofaring, orofaring, dan laringofaring.1
Gambar 4. Pembagian Faring

1.2.1 Nasofaring
Nasofaring adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka ke arah rongga nasal
melalui dua naris internal (koana). Dua tuba eustachius menghubungkan nasofaring dengan
telinga tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi gedang
telinga. Amadel (adenoid) faring adalah penumpukan jaringan limfatik yang terletak di dekat
naris internal. Pembesaran adenoid dapat menghambat aliran udara.1
Naosfaring terdiri dari epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Dibawah membrana
basalis, pada lamina propia terdapat kelenjar campur. Pada bagian posterior terdapat jaringan
limfoid yang membentuk tonsila faringea. Terdapat muara dari saluran yang menghubungkan
rongga hidung dan telinga tengah disebut osteum faringeum tuba auditiva. Disekelilingnya
banyak kelompok jaringan limfoid disebut tonsila tuba faringea.
1.2.2 Orofaring
Orofaring dipisahkan dari nasofaring oleh palatum lunak muskular, suatu perpanjangan
paatum keras tulang. Uvula adalah prossesus kerucut kecil yang menjulur ke bawah dari
bagian tengah tepi bawah palatum lunak. Amandel palatinum terletak pada kedua sisi
orofaring posterior.1
Epitel penyusun orofaring adalah epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Osofaring
terletak di belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah. Orofaring akan dilanjutkan
ke bagian atas menjadi epitel mulut dan ke bawah ke epitel oesophagus. Disini terdapat
tonsila palatina yang sering meradang disebut tonsilitis.
1.2.3 Laringofaring
Laringofaring mengelilingi mulut esofagus dan laring, yang merupakan gerbang untuk
sistem respiratorik selanjutnya.1 Epitel pada laringofaring bervariasi, sebagain besar epitel
berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Laringofaring terletak di belakang larings.
1.3 Laring1
Laring (kotak suara) menghubungkan faring dengan trakea. Laring tersusun atas epitel
bertingkat torak bersilia bersel goblet kecuali ujung plika vokalis berlapis gepeng. Fungsi dari
laring adalah untuk membentuk suara (fonasi) dan mencegah benda asing memasuki jalan
nafas dengan adanya refleks batuk. Laring adalah tabung pendek berbentuk seperti kotak
triangular dan ditopang oleh sembilan katilago (tiga berpasangan dan tiga tidak berpasangan).

Kartilago tidak berpasangan terdiri dari kartolago tiroid, kartilago krikoid, dan epiglotis.
Kartilago tiroid (jakun) terletak di bagian proksimal kelenjar tiroid. Biasanya berukuran lebih
besar dan lebih menonjol pada laki-laki akibat hormon yang disekresi saat pubertas. Kartilago
krikoid adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih tebal, terletak di bawah kartilago
tiroid. Sementara epiglotis adalah katup kartilago elastis yang melekat pada tepian anterior
kartilago tidorid. Saat menelan, eiglotis melekat pada tepian anterior menutupi laring untuk
mencegah masuknya makanan dan cairan.
Kartilago berpasangan terdiri dari kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, dan kartilago
kuneiform. Kartilago aritenoid terletak di atas dan di kedua sisi kertilago krikoid. Kartilagi
aritenoid melekat pada pita suara sejari, yaitu lipatan berpasangan dari epitelium skuamosa
bertingkat. Kartilago kornikulata melekat pada bagian ujung kartilago aritenoid. Kartilago
kuneiform berupa batang-batang kecil yang membantu menopang jaringan lunak.

Gambar 5. Laring
1.2 Trakea
Trakea adalah tuba dengan panjang 10-12cm dan diameter 2,5cm serta terletak di atas
pemukaan anterior esophagus. Tuba ini merentang dari laring pada area vertebra serviks
keenam sampai area vertebra toraks kelima tempatnya membelah menjadi dua bronkus
utama. Trachea dapat tetap terbuka karena adanya 16-20 cincin kartilago berbentuk C. Ujung
posterior mulut cincin diubungkan oleh jaringan ikat dan otot sehingga memungkinkan
ekspansi esophagus. Trakea juga dilapisi oleh epithelium repiratorik yang mengandug banyak
sel goblet. 4
Susunan demikian memberi trakea keleluasan gerak yang besar, sedangkan cincin-cincin
tulang rawabnnya memungkinkannya menahan tekanan dari luar yang dapat menutup jalan
napas. Di luar tulang wan terdapat lapis jaringan ikat padat dengan banyak serta elastin.
Dinding posterior trakea tidak dilengkapi tuang rawan terdapat lapis jaringan ikat padat
dengan banyak serat elastin. Dinding posterior trakea tidak dilengkapi tulang rawan. Seagai
gantinya terdapat pita tebal dari otot poloss yang terorientasi melintang, yang ujung-ujungnya
berbaur dengan lapis jaringan ikat padat di luar ruang rawan tadi.5
Dengan mikroskop elektron dapat dilihat 6 jenis sel. Yaitu sel bersilia, sel goblet, sel
sikat, sel basal, dan sel sekretorik/bergranula. Sel bersilia mempunyai silia yang panjang,
aktif, motil yang bergerak kearah faring. Sel goblet mensintesa dan mensekresi lendir,
mempunyai apparatus golgi dan retikulum endoplasma kasar di basal sel. Pada sel goblet ada
mikrovili di apex dan mengandung tetesan mukus yang kaya akan polisakarida.

Sel sikat mempunyai mikrovilli di apex yang berbentuk seperti sikat. Ada dua macam sel
sikat, yaitu sel sikat 1 (mempunyai mikrovili sangat panjang) dan sel sikat 2 (dapat berubah
menjadi sel pendek). Sel basal merupakan sel induk yang akan bermitosis dan beruba menjadi
sel lain. Sel sekretorik/bergranula memiliki diameter 100-300 milimikron.

Gambar 6. Saluran Pernapasan


1.3 Bronkus
Bronkus kanan dan kiri berjalan ke bawah dan ke luar dari bifurkasio trakea ke hilus
maisng-masing paru.6 Bronkus utama kanan lebih pendek, lebih lebar, dan lebih vintrikal
letaknya daripada yang kiri. Oleh karena itu benda asing yang terhirup lebih cenderung
masuk ke bronki kanan dan terus ke lobus kanan tengah dan lobus bawah bronki. Bronkus
uatama kiri memasuki hilus dan terbagi menjadi brokus lobus superior dan inferior. Bronkus
utama kanan bercabang menjadi bronkus ke lobus atas seelum memasuki hilus dan bergitu
masuk hilus terbagi menjadi bronki lobus medial dan inferior.7
Setiap bronkus primer bercabang 9-12 kali untuk membentuk bronki sekunder dan tertier
dengan diameter yang semakin kecil. Saat tuba semakin menyempit, batang atau lempeng
kartilago mengganti cincin kartilago. Bronki disebut juga ekstrapulmonar sampai memasuki
paru-paru, setelah itu disebut intrapulmonar. Struktur mendasar dari kedua paru-paru adalah
percabangan bronchhial yang selanjutnya bronchi, bronchiolus, bronchiolus terminal,
bronchiolus respiratorik, duktus alveolar, dan alveoli.1
Gambar 7. Bronkus

Bronkus primer atau ekstrapulmonal bercabang dan menghasilkan sederetan bronki


intrapulmonal yang lebih kecil. Bronki ini dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris
bersilia, lamina propia tipis jaringan ikat halus dengan banyak serat elastin dan sedikit
limfosit. Duktus dari kelenjar bronchial submukosa melalui lamina propria untuk bermuara
ke dalam lumen bronkus. Di antara lempeng tulang rawan, jaringan ikat submukosa menyatu
dengan adventisia yang tebal. Pembuluh bronchial yang tampak pada jaringan ikat bronkus
mencakup sebuah arteriol, sebuh venul, dan kapiler.8
1.4 Bronkiolus
Ini adalah segmen intraloburalis dengan garis tengah 1 mm atau kuarang. Bronkiolus
tidak mempunyai rawan atau kelenjar pada mukosanya dan hanya menunjukkan sel-sel goblet
yang tersebar dalam epitel segmen permulaan. Pada bronkiolusyang lebih besar , epitelnya
bertingkat toraks tinggi bersilia dan kekomplekkannya berkurang dan menjadi epitel kubis
bersilia pada bronkiolus terminalis.selain sel-sel barsilia , bronkus terminalis juga mempunyai
sel-sel clara yang permukaan apikalnya berbentuk kubah yang menonjol ke dalam lumen.
Pemeriksaan pada sel-sel Clara manusia berkesimpulan bahwa meraka adalah sel-sel
sekretoris akan tetapi hingga sekarang fungsinya tidak diketahui.
Sebagian besar lamina propia adalah otot polos dan serabut-serabut elastin. Otot bronkus
dan bronkiolus dibawah pengawasan nervus vagus dan sistem simpatis. Perangsangan nervus
vagus mengurangi garis tengah susunan tersebut, sedangkan perangsangan simpatis
menimbulkan efek yang berlawanan.
1.5 Bronkiolus Terminalis
Bronkiolus terminalis memiliki diameter kecil. Terdapat banyak lipatan mukosa yang
menyolok dan epitelnya bertingkat semua silindris rendah bersilia dan sedikit sel goblet. Pada
bronkiolus terminal, epitelnya silindris bersilia tanpa sel goblet. Lapisan otot polos yang
berkembang baik mengelilingi lamina propia tipis, yang pada gilirannya dikelilingi ole
adventisia. Di dekat bronkiolus terdapat sebuah cabang kecil yaitu arteri pulmonaris.
Bronkiolus ini dikelilingi ole alveoli paru.9
1.6 Bronkiolus Respiratorius
Tiap-tiap bronkiolus terminalis bercabang menjadi 2 bronkiolus atau lebih yang
berperanan sebagai daerah peralihan antara bagian konduksi dan respirasi sistem respirasi.
Mukosa bronkiolus respiratorius terminalis kecuali bahwa dindingnya diselilingi oleh banyak
sakus alveolaris. Bagian-bagian bronkiolus respiratorius dibatasi oleh epitel kubis bersilia,
tetapi pada pinggir lubang-lubang alveolaris, epitel bronkiolus dilanjutkan dengan epitel
pembatas alveolus, selapis gepeng. Makin ke distal bronkiolus , jumlah alveoli bertambah
dgn nyata, dan jarak antara alveoli jelas makin dekat. Antara alveoli, epitel bronkiolus terdiri
atas epitel kubis bersilia: akan tetapi, pada bagian yg lebih distal, silia mungkin tdk ada.
Sepanjang dinding yg sangat banyak mengandung alveoli, sifat bronkiolus hanya trdpt antara
alveoli dan terdiri atas sekelompok kubis-kubis yg terletak siatas pita otot poloss dan jaringan
penyambung elastin. Karna alveoli merupakan tempat pertukaran gas digunakan utk
menggambarkan fungsi ganda segmen jalan pernapasan ini.
Dinding bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel selapis kuboid. Pada bagian
proksimalnya terdapat silia, namun hulang di bagian disatal bronkiolus respiratorius. Sebuah
8

duktus alveolaris muncul dari bronkiolus respiratorius dan banyak alveoli bermuara ke dalam
duktus alveolaris. Pada setiap pintu masuk ke alveolus terdapat epitel selapis gepeng.9
1.7 Duktus Alveolaris
Duktus alveolaris dan alveoli dibatasi oleh sel-sel epitel selapis gepeng yang sangat tipis.
Dalam lamina propria sekitar pinggir alveoli merupakan suatu jala-jala sel-sel otot polos yang
saling menjalin. Berkas-berkas halus yang menyerupai sinkter ini tampak sebagai tomboltombol antara alveoli yang berdekatan. Hanya matriks yang kaya akan serabut elastin dan
kolagen yang menyokong duktus dan alveolinya.
Duktus alveolaris bermuara ke dalam arteri, ruang yang menghubungkan sakus
multilokularis alveoli, dua sakus alvelolaris atau lbh terbentuk dari tiap-tiap atrium. Serabut
elastin dan kolagen yang banyak sekali terdapat membentuk jaringan kompleks yg melingkari
lubang2 atria, sakus alveolaris, dan alveoli. Serabut-serabut elastin memungkinkan alveoli
mengembang wkt inspirasi dan secara pasif berkontraksi waktu ekspirasi. Kolagen
berperanan sbg penyokong yg mencegah peregangan berlebihan dan kerusakan kapiler2 halus
dan septa alveoli yg tipis.
Dari ujung duktus alveolaris terbuka pintu lebar menuju beberapa sakus alveolaris.
Saluran ini terdiri atas beberapa alveolus yang bermuara bersama membentuk ruangan serupa
rotunda yang disebut atrium. Alveolus paru merupakan kantong yang dibatasi oleh epitel
selapis gepeng yang sangat tipis, yang salah satu sisinya terbuka sehingga menyerupai busa
atau mirip sarang tawon.10
1.8 Alveoli
Secara struktural, alveoli menyerupai kantong kecil yang terbuka pada salah satu sisinya,
mirip sarang tawon. Dalam struktur yang menyerupai mangkok ini, oksigen CO2
mengadakan pertukaran antara udara dan darah.
1.9 Paru-paru
Paru-paru adalah organ berbentuk pyramid seperti spons dan berisi udara, terletak dalam
rongga toraks. Paru kanan memiliki tiga lobus; pari kiri memiliki dua lobus. Setiap paru
memiliki sebuah apeks yang mencapai bagian atas iga pertama, sebuah permukaan
diafragmatik (bagian dasar) terletak di atas diafragma, sebuah permukaan mediastinal
(medial) yang terpisah dari paru lain oleh mediastinum, dan permukaan kostal terletak di atas
kerangka iga. Permukaan mediastinal memiliki hilus (akar), tempat masuk dan keluarnya
pembuluh darah bronki, pulmonary, dan bronchial dari paru. Pleura adalah membrane
penutup yang membungkus setiap paru. Pleura parietal melapisi rongga toraks (kerangka iga,
diafragma, mediastinum). Pleura visceral melapisi paru dan bersambungan dengan pleura
parietal di bagian bawah paru.
Rongga pleura (ruang intrapleural) adalah ruang potensial antara pleura parietal dan
visceral yang mengandung lapisan tipis cairan pelumas. Cairan ini disekresi oleh sel-sel
pleural sehingga paru-paru dapat mengembang tanpa melakukan friksi. Tekanan cairan
(tekanan intrapleura) agak negative dibandingkan tekanan atmosfer. Resesus pleura adalah
rongga pleura yang tidak berisi jaringan paru. Area ini muncul saat pleura parietal bersilangan
dari satu permukaan ke permukaan lain. Saat bernapas, paru-paru bergerak keluar masuk area
ini. Resesus pleura kostomediastinal terletak di tepi anterior kedua sisi pleura, tempat pleura
parietal berbelok dari kerangka iga ke permukaan lateral mediastinum. Resesus pleura
9

kostommediastinal terletak di tepi posterior kedua sisi pleura di antara diafragma dan
permukaan kostal internal toraks.1
2. Mekanisme Pernapasan
Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur
sekalipun karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom. Menurut tempat
terjadinya pertukarn gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar
dan pernapassan dalam. Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara
dalam alveolus dengan darah dalam kapiler, sedangkan pernapasan dalam adalah pernapasan
yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh. Masuk keluarnya udara dalam
paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan
udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar ronga dada lebih besar maka udara akan masuk.
Sebaliknya, apaila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar.11
2.1.
Transpor Oksigen
Sistem pengangkut O2 di tubuh terdiri atas paru dan sistem kardiovaskular.
Pengangkutan O2 menuju jaringan tertentu bergantung pada jumlah O 2 yang masuk ke dalam
paru, adanya pertukaran gas di paru yang adekuat, aliran darah yang menuju jaringan, dan
kapasitas darah untuk mengangkut O2. Aliran darah bergantung pada derajat konstriksi jalinan
vaskular di jaringan serta curah jantung. Jumlah O2 di dalam darah ditentukan oleh jumlah
O2 yang larut, jumlah hemoglobin dalam darah, dan afinitas hemoglobin terhadap O2.11
Terdapat tiga keadaan penting yang memengaruhi kurva disosiasi hemoglobin-oksigen
yaitu pH, suhu dan kadar 2,3-bifosfogliserat (BPG; 2,3-BPG). Peningkatan suhu atau
penurunan pH mengakibatkan PO2 yang lebih tinggi diperlukan agar hemoglobin dapat
mengikat sejumlah O2.Sebaliknya, penurunan suhu atau peningkatan pH dibutuhkan PO 2 yang
lebih rendah untuk mengikat sejumlah O2. Suatu penurunan pH akan menurunkan afinitas
hemoglobin terhadap O2, yang merupakan suatu pengaruh yang disebut pergeseran Bohr.
Karena CO2 bereaksi dengan air untuk membentuk asam karbonat, maka jaringan aktif akan
menurunkan pH di sekelilingnya dan menginduksi hemoglobin supaya melepaskan lebih
banyak oksigennya, sehingga dapat digunakan untuk respirasi selular.4,11
2.2.

Transpor Karbondioksida
Selain perannya dalam transport oksigen, hemoglobin juga membantu darah untuk
mengangkut karbon dioksida dan membantu dalam penyanggan pH darah yaitu, mencegah
perubahan pH yang membahayakan. Sekitar 7% dari karbon dioksida yang dibebaskan oleh
sel-sel yang berespirasi diangkut sebagai CO 2 yang terlarut dalam plasma darah. Sebanyak
23% karbon dioksida terikat dengan banyak gugus amino hemoglobin. Sebagian besar karbon
dioksida, sekitar 70%, diangkut dalam darah dalam bentuk ion bikarbonat. Karbon dioksida
yang dilepaskan oleh sel-sel yang berespirasi berdifusi masuk ke dalam plasma darah dan
kemudian masuk ke dalam sel darah merah, dimana CO 2 tersebut diubah menjadi bikarbonat.
Karbon dioksida pertama bereaksi dengan air untuk membentuk asam karbonat, yang
kemudian berdisosiasi menjadi ion hydrogen dan ion bikarbonat. Sebagian besar ion
hydrogen berikatan di berbagai tempat pada hemoglobin dan protein lain sehingga tidak
mengubah pH darah. Ion bikarbonat lalu berdifusi ke dalam plasma. Ketika darah mengalir
melalui paru-paru, proses tersebut dibalik. Difusi O 2 keluar dari darah akan menggeser

10

kesetimbangan kimiawi di dalam sel darah merah ke arah pengubahan bikarbonat menjadi
CO2.12
2.3.

Inspirasi dan Eksprasi


Inspirasi merupakan proses aktif. Kontraksi otot inspirasi akan meningkatkan volume
intratoraks. Tekanan intrapleura di bagian basis paru akan turun dari nilai normal sekitar -2,5
mmHg (relatif terhadap tekanan atmosfer) pada awal inspirasi, menjadi -6 mmHg. Jaringan
paru akan semakin teregang. Tekanan di dalam saluran udara menjadi sedikit lebih negatif,
dan udara mengalir ke dalam paru. Pada akhir inspirasi, daya recoil paru mulai menarik
dinding dada kembali ke kedudukan ekspirasi, sampai tercapai keseimbangan kembali antara
daya recoil jaringan paru dan dinding dada. Tekanan di saluran udara menjadi sedikit lebih
positif, dan udara mengalir meninggalkan paru.
Selama pernafasan tenang, ekspirasi merupakan proses pasif yang ridak memerlukan
kontraksi otot untuk menurunkan volume intratoraks. Namun pada awal ekspirasi, sedikit
kontraksi otot inspirasi masih terjadi. Kontraksi ini berfungsi sebagai peredam daya recoil
paru dan memperlambat ekspirasi. Pada inspirasi kuat, tekanan intrapleura turun mencapai
-30 mmHg sehingga pengembangan jaringan paru menjadi lebih besar. Bila ventilasi
meningkat, derajat pengempisan jaringan paru juga ditingkatkan oleh kontraksi aktif otot
ekspirasi yang menurunkan volume intratoraks.
2.4.

Otot-otot Pernapasan
Menurut kegunaannya, otot-otot pernapasan dibedakan menjadi otot inspirasi, mencakup
otot inspirasi utama dan tambahan, serta otot untuk ekspirasi tambahan. Otot inspirasi utama
(principal), yaitu muskulus interkostalis eksterrna, otot diafragma. Otot inspirasi tambahan
(accessory respiratory muscle) yang sering juga disebut sebagai otot bantu napas, yaitu
muskulus skalenus anterior, muskulus skalenus medius, muskulus skalenus posterior
Saat napas biasa (quiet breathing), untuk ekspirasi tidak diperlukan kegiatan otot, cukup
dengan daya elastis paru saja udara di dalam paru akan keluar saat ekspirasi. Namun, ketika
ada serangan asma, sering diperlukan active braeething, dalam keadaan ini, untuk ekspirasi
diperlukan konstribusi kerja otot-otot berikut. 4 Muskulus interkostalis interna, muskulus
interkartilaginus parasternal, muskulus rektus abdominis, muskulus ablikus abdominis
eksternus. Otot-otot untuk ekspirasi juga berperan untuk mengatur pernapasan saat berbicara,
menyanyi, batuk, bersin, dan untuk mengedan saat buang air besar serta saat bersalin..
Otot inspirasi penting lainya adalah muskulus interkostalis eksternus yang berjalan dari
iga ke iga secara miring ke arah bawah dan kedepan. Iga- iga berputar seolah olah bersendi
di bagian punggung, sehingga ketika otot interkostalis eksternus berkontraksi, iga-iga
dibawahnya akan terangkat. Gerakan ini akan mendorong sternum ke luar dan memperbesar
diameter anteroposterior rongga dada. Diameter transversal boleh dikatakan tidak berubah.1
Apabila otot ekspirasi berkontrakasi, terjadi penurunan volume intratorakal dan ekspirasi
paksa. Kemampuan ini dimiliki oleh otot otot interkostalis internus karena otot ini berjalan
miring ke arah bawah dan belakang dari iga ke iga, sehingga pada waktu berkontrkasi akan
menarik rongga dada ke bawah, kontrkasi otot dinding abdomen anterior juga ikut membantu

11

proses ekspirasi dengan cara menarik iga iga ke bawah dan ke dalam serta dengan
meningkatkan tekanan intra abdominal yang akan mendorong diafragma ke atas.
2.5.
Perubahan Tekanan
Udara cenderung mengalir dari daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah, yaitu
menuruni gradient tekanan. Hubungan antaran tekanan di dalam dan di luar paru penting
dalam ventilasi. Udara mengalir masuk dan keluar paru selama tindakan bernapas karena
berpindah mengikuti gradient tekanan antara alveolus dan atmosfer yang berbalik arah secara
bergantian dan ditimbulkan oleh aktivitas siklik otot pernapasan. Terdapat tiga tekanan yang
berperan penting dalaam ventilasi yaitu tekanan atmosfer (barometrik), tekanan intraalveolus, tekanan intrapleura.13
2.5.1 Tekanan Atmosfer (Barometrik)
Tekanan atmosfer (barometrik) adalah tekanan yang ditimbulkan oleh berat udara di
atmosfer pada benda di permukaan bumi. Pada ketinggian permukaan laut tekanan ini sama
dengan 760 mmHg. Tekanan atmosfer berkurang seiring dengan pnambahan ketinggian di
atas permukaan laut karena lapisan-lapisan di udara di atas permukaan bumi juga semakin
menipis. Pada setiap ketinggian terjadi perubahan minor tekanan atmosfer karena perubahan
kondisi cuaca (yaitu, tekanan barometrik naik atau turun).
2.5.2 Tekanan Intra-Alveolus
Tekanan intra-alveolus yang juga dikenal sebagai tekanan intraparu, adalah tekanan di
dalam alveolus. Karena alveolus berhubungan dengan atmosfer melalui saluran pernapasan
penghantar, udara cepat mengalir menuruni gradient tekanannya setiap tekanan intraalveoulus berbeda dari tekanan atmosfer, udara terus mengalir sampai kedua tekanan
seimbang (ekuilibrium).
2.5.3 Tekanan Intrapleura
Tekanan intrapleura adalah tekanan didalam kantung intrapleura. Tekanan ini, yang juga
dikenal sebagai tekanan intrathoraks, adalah tekanan yang ditimbulkan di luar paru di dalam
rongga thoraks. Tekanan intrapleura biasanya lebih rendah daripada tekanan atmosfer, rerata
756 mmHg saat istirahat. Seperti tkanan darah yang dicatat dengan menggunakan tekanan
atmosfer sebagai titik referensi (yaitu, tekanan darah sistolik 120 mmHg adalah 120 mmHg
adalah lebih besar daripada tekanan atmosfer 760 mmHg atau, dalam kenyataan, 880 mmHg),
756 mmHg kadang-kadang disebut sebaai tekanan -4 mmHg. Namun, sebenarnya tidak ada
tekanan tekanan negatif absolut. Tekanan -4 mmHg menjadi negatif karena dibandingkan
dengan amosfer normal sbesar 760 mmHg.
Tekanan intrapleura tidak menyeimbangkan diri dengan tekanan atmosfer atau tekanan
intra-pleura karena tidak ada kounikai langsung antara rongga pleura dan atmosfer pada paru.
Karena kantung pleura adalah suatu kantung pleura adalah suatu kantung tertutup tanpa
lubang, maka udara tidak dapat masuk atau keluar meskipun mungkin terdapat gradient
tekanan antara kantung pleura dan daerah sekitar.
2.6.

Pusat Pengendalian
Pengendalian dan pengaturan pernapasan dilakukan oleh sistem persyarafan, mekanisme
kimia, dan mekanisme non kimia.11 Sistem syaraf secara normal mengatur kecepatan ventilasi
alveolus hampir sama dengan permintaan tubuh, sehingga tekanan O2 darah arteri (PO2) dan
tekanan CO2 (PCO2) hampir tidak berubah bahkan selama latihan sedang sampai berat dan
kebanyakan stress pernapasan lainnya.
12

2.6.1

Pengendalian Pernapasan Oleh Sistem Persarafan

Pengaturan pernapasan oleh persarafan dilakukan oleh korteks cerebri, medulla


oblongata, dan pons. Korteks cerebri berperan dalam pengaturan pernapasan yang bersifat
volunter sehingga memungkinkan kita dapat mengatur napas dan menahan napas. Misalnya
pada saat bicara atau makan. Medulla oblongata terletak pada batang otak, berperan dalam
pernapasan automatik atau spontan. Pada kedua oblongata terdapat dua kelompok neuron
yaitu Dorsal Respiratory Group (DRG) yang terletak pada bagian dorsal medulla dan Ventral
Respiratory Group (VRG) yang terletak pada ventral lateral medula. Kedua kelompok neuron
ini berperan dalam pengaturan irama pernapasan.
DRG terdiri dari neuron yang mengatur serabut lower motor neuron yang mensyarafi
otot-otot inspirasi seperti otot intercosta interna dan diafragma untuk gerakan inspirasi dan
sebagian kecil neuron akan berjalan ke kelompok ventral. Pada saat pernapasan kuat, terjadi
peningkatan aktivitas neuron di DRG yang kemudian menstimulasi untuk mengaktifkan otototot asesoris inspirasi, setelah inspirasi selesai secara otomatis terjadi ekspirasi dengan
menstimulasi otot-otot asesoris. Kelompok ventral (VRG) terdiri dari neuron inspirasi dan
neuron ekspirasi. Pada saat pernafasan tenang atau normal kelompok ventral tidak aktif,
tetapi jika kebutuhan ventilasi meningkat, neuron inspirasi pada kelompok ventral diaktifkan
melalui rangsangan kelompok dorsal. Impuls dari neuron inspirasi kelompok ventral akan
merangsang motor neuron yang mensyarafi otot inspirasi tambahan melalui N IX dan N X.
Impuls dari neuron ekspirasi kelompok ventral akan menyebabkan kontraksi otot-otot
ekspirasi untuk ekspirasi aktif.
Pons pada pons terdapat 2 pusat pernapasan yaitu pusat apneutik dan pusat pnumotaksis.
Pusat apneutik terletak di formasio retikularis pons bagian bawah. Fungsi pusat apneutik
adalah untuk mengkoordinasi transisi antara inspirasi dan ekspirasi dengan cara mengirimkan
rangsangan impuls pada area inspirasi dan menghambat ekspirasi. Sedangkan pusat
pneumotaksis terletak di pons bagian atas. Impuls dari pusat pneumotaksis adalah membatasi
durasi inspirasi, tetapi meningkatkan frekuensi respirasi sehingga irama respirasi menjadi
halus dan teratur, proses inspirasi dan ekspirasi berjalan secara teratur pula.
2.6.2

Pengendalian Pernapasan Kimiawi

Banyak faktor yang mempengaruhi laju dan kedalaman pernapasan yang sudah diset oleh
pusat pernapasan, yaitu adanya perubahan kadar oksigen, karbon dioksida dan ion hidrogen
dalam darah arteri. Perubahan tersebut menimbulkan perubahan kimia dan menimbulkan
respon dari sensor yang disebut kemoreseptor. Ada 2 jenis kemoreseptor, yaitu kemoreseptor
pusat yang berada di medulla dan kemoreseptor perifer yang berada di badan aorta dan
karotid pada sistem arteri.
Kemoreseptor pusat, dirangsang oleh peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah
arteri, cairan serebrospinal peningkatan ion hidrogen dengan merespon peningkatan frekuensi
dan kedalaman pernapasan. Kemoreseptor perifer, reseptor kimia ini peka terhadap
13

perubahan konsentrasi oksigen, karbon dioksida dan ion hidrogen. Misalnya adanya
penurunan oksigen, peningkatan karbon dioksida dan peningkatan ion hidrogen maka
pernapasan menjadi meningkat.
2.6.3

Pengendalian Non Kimiawi

Beberapa faktor non kimiawi yang mempengaruhi pengaturan pernapasan di antaranya


ialah pengaruh baroreseptor, peningkatan suhu tubuh, hormon epinefrin, refleks heringbreuer. Baroreseptor, berada pada sinus kortikus, arkus aorta atrium, ventrikel dan pembuluh
darah besar. Baroreseptor berespon terhadap perubahan tekanan darah. Peningkatan tekanan
darah arteri akan menghambat respirasi, menurunnya tekanan darah arteri dibawah tekanan
arteri rata-rata akan menstimulasi pernapasan. Peningkatan suhu tubuh, misalnya karena
demam atau olahraga maka secara otomatis tubuh akan mengeluarkan kelebihan panas tubuh
dengan cara meningkatkan ventilasi.
Hormon epinefrin, peningkatan hormon epinephrin akan meningkatkan rangsangan
simpatis yang juga akan merangsang pusat respirasi untuk meningkatkan ventilasi. Refleks
hering-breuer, yaitu refleks hambatan inspirasi dan ekspirasi. Pada saat inspirasi mencapai
batas tertentu terjadi stimulasi pada reseptor regangan dalam otot polos paru untuk
menghambat aktifitas neuron inspirasi. Dengan demikian refleks ini mencegah terjadinya
overinflasi paru-paru saat aktifitas berat.

2.7.

Volume dan Kapasitas Paru-Paru


Volume dan kapsitas paru. Volume udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat
inspirasi dan ekspirasi dapat diukur melalui spirometer. Nilai volume paru memperlihatkan
suhu tubuh standar dan tekanan ambien serta diukur dalam milimeter udara. 1
2.7.1

Volume
Volume tidal (VT) adalah volume udara yang masuk dan keluar paru-paru selama
ventilasi normal biasa. VT pada dewasa muda sehat berkisar 500 ml untuk laki-laki dan 380
ml untuk pernafasan
Volume cadangan inspirasi (VCI) adalah volume udara ekstra yang masuk ke paru-paru
dengan inspirasi maksimum di atas inspirasi tidal. CDI berkisar 3.100 ml pada laki-laki dan
1.900 ml pada perempuan
Volume cadangan ekspirasi (VCE) adalah volume ekstra udara yang dapat dengan kuat
dikeluarkan pada akhir ekpirasi tidal normal. VCE biasanya berkisar 1.200 ml pada laki-laki
dan 800 ml pada perempuan
Volume residual (VR) adalah volume udara sisa dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi
kuat. Volume residual penting untuk kelangsungan aerasi dalam darah saat jeda pernafasan.
Rata-rata volume ini pada laki-laki sekitar 1.200 ml dan pada perempuan 1.000 ml

14

2.7.2 Kapasitas
Kapasitas residual fungsional (KRF) adalah penambahan volume residual dan volume
cadangan eksiprasi (KRF= VR+ VCE). Kapsitas ini merupakan jumlah udara sisa dalam
sistem respiratorik setelah ekspirasi normal. Nilai rata-ratanya 2.200 ml
Kapasitas inspirasi (KI) adalah penambahan volume tidal dan volume cadangan inspirasi (KI
= VT +VCI). Nilai rata-ratnya adalah 3500 ml
Kapasitas vital (KV) adalah penambahan volume tidal, volume cadangan inspirasi dan
volume cadangan ekspirasi (KV =VT + VCI + VCE). Karena diukur dengan spirometer,
kapasitas vital merupakan jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkan dengan kuat
setelah inspirasi maksimum. Kapasitas vital dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti postur,
ukuran rongga toraks dan komplians paru, tetapi nilai rata-atanya sekitar 4.500 ml
Kapasitas total paru (KTP) adalah jumlah total udara yang dapat ditampung dalam paru-paru
sama dengan kapasitas vital di tambah volume residual (KTP =KV +VR). Nilai rata-ratanya
adalah 5.700 ml
Volume ekspirasi kuat dalam satu detik (VEK1) adalah volume udara yag dapat dikeluarkan
dari paru yang terinflasi maksimal saat detik pertama ekhalasi maksimum. Nilai VEK 1 sekitar
80% KV. Volume respirasi menit adalah volume tidal dikalikan jumlah pernafasan permenit.
Kesimpulan
Skenario yang di dapat pada kasus kali ini adalah seorang perempuan umur 37 tahun
datang ke puskesmas dengan keluhan sesak napas sejak 2 hari yang lalu. Ia mengaku sudah
beberapa kali menderita penyakit seperti ini. Pada pemeriksan fisik didapat bunyi napas
vesicular mengeras, ekspirasi memanjang, dan ada wheezing. Suara napas vesikuler
merupakan suara napas normal. Udara masuk dan keluar melalui jalan napas dengan suara
inspirasi lebih keras dan panjang daripada suara ekspirasi. Apabila suara vesikuer ini
melemah, maka terjadi penyempitan pada daeah bhronkus atau keadaan ventilasi yang
kurang. Vesikuler mengeras apabila konsolidasi bertambah. Khusus pada asma, suara
vesikuler pada ekspirasi lebih panjang dibandingkan dengan inspirasi. Wheezing adalah suatu
bunyi bernada tinggi abnormal yang disebabkan oleh obstruksi parsial pada saluran napas.14
Pada skenario kali ini dapat di lihat bahwa seorang perempuan berumur 37 tahun
mempunyai keluhan sesak dapas sejak dua hari yang lalu. Dapat dikatakan bahwa perempuan
tersebut mengalami gangguan pada sistem pernapasannya karena perempuan itu tidak
bernapas dengan normal yaitu mengalami sesak napas. Dimana dikatakan bahwa napas
vesicular mengeras, ekspirasi memanjang dan ada wheezing. Sehingga hipotesis di benarkan
bahwa sesak napas yang terjadi disebabkan oleh adanya gangguan pada struktur organ dan
mekanisme pernapasan.
Daftar Pustaka
1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004.
2. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama;
2005.
3. Asih NGY, Effendy C. Keperawatan medical bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2003.
15

4. Santoso G. Anatomi sistem pernapasan. Edisi pertama. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2007.
5. Bloom, Fawcett. Buku ajar histologi. Edisi 12. Jakarta: Penerbit Buku Kedoktreran EGC;
2002.
6. Gibson J. Fisiologi & anatomi modern untuk perawat. Jakarta: Penerbit Buku Keodkteran
EGC; 2003.
7. Moffat D, Faiz O. At glance anatomi. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2008.
8. Eroschenko VP. Atlas histologi di fiore dengan korelasi fungsional. Edisi 9. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005.
9. Arifin GF. Kumpulan foto mikroskopik histologi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Universitas
Trisakti; 2007.
10. Cameron Jr. Grant RM, Skonfronick JG. Fisika tubuh manusia. Edisi 2. Jakarta: CV.
Sagung Seto; 2006.
11. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 22. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2008.
12. Campbell Neil A. Biologi. Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga; 2004.
13. Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2007.
14. Swartz MH. Buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003.

16