Anda di halaman 1dari 8

Struktur dan Mekanisme Gigi Dalam Mengunyah

Shienowa Andaya Sari


102012445 /D5
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
shienowa.sari@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak
Fungsi utama sistem pencernaan adalah memindahkan nutrien, air, dan elektrolit dari
makanan yang telah kita telan ke dalam lingkungan internal tubuh. Mastikasi atau
mengunyah, motilitas mulut yang melibatkan pengirisan, perobekan, penggilingan, dan
pencampuran makanan oleh gigi. Menelan yang merupakan motilitas berkaitan dengan faring
dan esofagus. Faktor yang mempengaruhi meningkatnya sekresi saliva yaitu refleks saliva
sederhana (tidak terkondisi) dan refleks saliva didapat (terkondisi). Enzim yang terdapat
pada rongga mulut adalah amilase dan lisozim. Kerusakan gigi pada bagian pulpa gigi akan
menyebabkan rasa sakit dan sulit mengunyah.
Kata kunci: mengunyah, menelan.
Abstract
The main function of the digestive system is to transfer nutrients, water, and electrolytes
from the food that we ingest into the body's internal environment. Mastication or chewing,
mouth motility involving slicing, tearing, grinding, and mixing food by the teeth. Swallowing
motility which is related to the pharynx and esophagus. Factors affecting the increased
secretion of saliva is simple salivary reflex (unconditioned) and acquired salivary reflex
(unconditioned). Enzymes contained in the oral cavity is amylase and lysozyme. Tooth decay
in the tooth pulp will cause pain and hard to chew.
Keywords: chewing, swallowing.
Pendahuluan
Setiap hari tubuh memerlukan nutrisi agar tubuh kita dapat menghasilkan energi.
Tentunya nutrisi yang kita perlukan di dapat pada makanan yang kita makan melalui sistem
pencernaan. Fungsi utama sistem pencernaan adalah memindahkan nutrien, air, dan elektrolit
dari makanan yang telah kita telan ke dalam lingkungan internal tubuh. 1 Sistem pencernaan
terdiri dari saluran cerna mencakup organ-organ berikut yaitu mulut, faring, esophagus,
lambung, usus halus, usus besar, dan anus serta organ pencernaan tambahan seperti kelenjar
liur, pankreas eksokrin dan sistem empedu yang terdiri dari hati dan kandung empedu.
Dalam pembahasan kali ini akan lebih menitikberatkan pada proses mengunyah dan
menelan. Sehingga akan lebih membahas fungsi dan mekanisme dalam mengunyah serta
membahas organ yang terkait dalam proses tersebut. Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai
yaitu mahasiswa mengetahui dan memahami organ yang terkait dalam proses mengunyah,
mengetahui fungsi dan mekanisme serta enzim yang bekerja dalam proses mengunyah
makanan.
Isi
1

1. Struktur Organ Makroskopik dan Mikroskopik


1.1 Makroskopik
1.1.1 Cavum Oris2
Cavum oris ialah ruangan yang dimulai dari rima oris dan berkahir pada isthmus faucium.
Rongga ini selain berfungsi sebagai bagian dari saluran cerna juga berfungsi sebagai ruang
yang dapat dilalui udara pernapasan dan juga berperan penting dalam pembentukan suara.
Rongga ini terbagi atas 2 daerah yaitu vestibulum oris dan cavum oris proprium.

Gambar 1. Cavum
Oris

1.1.1.1 Vestibulum Oris


Merupakan daerah di antara bibir dan pipi di sebelah luar dan gigi geligi dengan
processus alveolarisnya di sebelah dalam. Bibir (labium) di sudut kanan-kiri saling
berhubungan pada angulus oris. Terdapat sulcus nasolabialisalur di antara sudt bibir atas
dengan hidung (nasus), sulcus mentolabialis alur di antara bibir bawah dengan dagu
(mentum), philtrum yaitu lekuk di atas pertengahan bibir atas. Pipi (bucca) daerah di antara
angulus oris sampai tepi depan m. masseter.
1.1.1.2 Cavum Oris Propium
Cavum oris proprium adalah daerah yang berada di belakang vestibulum oris yang
berhadapan dengan palatum durum dan palatum molle di bagian atasnya. Ruang ini berakhir
di isthmus faucium serta berisi organ sensibel yang berfungsi dalam pengecapan yaitu
lingua/lidah.
a.
Gigi
Gigi-geligi terletak pada processus alveolaris, yang dilapisi oleh selaput lendir (ginggiva).
Gigi-geligi pada manusia berjumlah 32 buah yang terbagi 2 menjadi 16 buah masing-masing
pada bagian atas dan bawah. 16 gigi tersebut terdiri dari 2 gigi seri (dens incisivus), 1 gigi
taring (dens caninus), 2 gigi geraham depan (dens premolaris) dan 3 gigi geraham belakang
(dens molaris). Gigi bagian atas mendapat pendarahan dari cabang a. fascialis yaitu rr.
Alveolaris superior dan a. infra orbitalis. Sedangkan gigi bagian bawah mendapat pendarahan
dari a. alveolaris inferior yang juga merupakan cabang dari a. fascialis.
Sedangkan sistem pembuluh baliknya ialah plexus pterygoideus yang menuju ke v.
fascialis dan v. alveolaris inferior yang bermuara ke v. maxilaris. Sistem getah beningnya
bermuara ke nnll. Submentales, submandibulares dan cervical profunda pars superior.
Persarafan gigi meliputi nn. Alveolaris superiores anteriores medii, posteriores yang
2

merupakan cabang dari n. maxilaris dan nn. alveolaris inferior yang merupakan cabang dari
nn. mandibulares, serta nn. mentales dan bucales.
b. Palatum
Langit-langit mulut terdiri dari palatum durum yang merupakan tulang dan palatum molle
yang merupakan suatu aponeurosis yang merupakan tempat lekat beberapa otot seperti m.
tensor veli palatini, m. levator veli palatini, mm. uvulae, m. palatoglossus serta mm.
palatopharyngeus.
c. Lingua
Lidah merupakan struktur yang lentur berfungsi dalam proses berbicara. Organ ini juga
memiliki kuncup pengecap yang menjadikannya juga berfungsi sebagai organ perasa. Lidah
dapat dibedakan menjadi bagian oral yang terdiri dari apex dan corpus, serta bagian
pharingeal yang padanya terdapat akar lidah (radix lingua). Corpus dan radix lingua dibatasi
oleh alur yang disebut dengan sulcus terminalis. Dorsum linguae merupakan bagian yang
disebut juga dengan punggung lidah. Pada garis tengahnya terdapat sulcus medianus yang
2
bersesuaian dengan septum lingue di bagian bawahnya yang berjalan secara vertikal. 3
bagian depan dari dorsum linguae mengandung selaput lendir yang memiliki papila.
1
Papila terdiri atas papilla filiformis, fungiformis, foliatae dan vallatae. 3

bagian

belakangnya terdiri aras kelenjar getah bening yang disebut dengan tonsila lingualis yang
akan membentuk cincin Waldeyer bersama dengan tonsilae palatinee dan tonsila pharyngea
(adenoid). Lidah memiliki otot ekstrinsik yaitu M. genioglossus, M. hyoglossus, M.
styloglossus dan M. palatoglossus. Selain itu, ada otot intrinsik lidah yaitu M. verticalis, M.
longitudinalis superior, M. longitundinalis inferior dan M. transversalis.
Lidah mendapat pendarahan dari a. lingualis yang melalui sisi medial m. hyoglossus
bercabang menjadi a. dorsalis linguae untuk radix linguae dan a. profunda linguae untuk
corpus dan apex linguae. Sedangkan sistem pembuluh baliknya terdiri atas v. dorsalis linguae,
vv. profunda linguae dan v. sublingualis.
Getah bening lidah akan bermuara menuju nnll. submentales dan nnll. cervicales
profunda pars superior. Sedangkan untuk sistem persarafannya terdiri dari sistem motorik
yang dipersarafi oleh n. hypoglossus kecuali untuk n. palatoglossus yang dipersarafi oleh n.
glossopharyngeus. Sistem persarafannya juga terdiri dari sistem sensorik yang terbagi untuk
bagian

2
3

anterior oleh n. lingualis (N. V3) dan chorda tympani (N. VII). Bagian

1
3

posterior dipersarafi oleh n. IX dan X. Sedangkan untuk pengecapan dipersarafi oleh saraf
pengecap yaitu N. IX.
1.1.2 Kelenjar-kelenjar Ludah3
1.1.2.1
Glandula Parotis
Glandula parotis berbentuk seperti piramid dan terletak pada fossa mandibula antara os
mandibula dan m. sternocleidomastoideus. Dalam kelenjar ini terletak n. fascialis, v. fascialis
posterior dan a. carotis externa. Saluran keluar dari glandula parotis ialah ductus parotideus
yang sejajar dengan arcus zygomaticus.
1.1.2.2 Glandula Submandibularis
3

Glandula submandibularis terdiri dari 2 bagian yaitu bagian yang dangkal dan yang
dalam. Saluran keluarnya disebut dengan ductus submandibularis Whartoni dan bermuara di
caruncula sublingualis s. Papila salivaris inferior yang terletak di belakang gigi seri rahang
bawah.
1.1.2.3 Glandula Sublingualis
Glandula sublingualis merupakan kelenjar dengan bentuk memanjang dan terletak di
dasar rongga mulut dekat dengan frenulum linguae antara m. geniohyoideus dan m.
genioglossus pada bagian medial dan m. hyoglossus pada bagian lateral. Saluran keluarnya
disebut dengan ductus sublingual major dan minor.
1.1.3 Otot-otot Pengunyah
Otot pengunyah terdiri dari otot yang dangkal dan otot yang dalam. Otot yang dangkal
terdiri atas m. masseter dan m. temporalis. Sedangkan otot yang dalam terdiri atas m.
pterygoideus lateralis/externus dan m. pterygoideus medialis/internus. Otot-otot ini
dipersarafi oleh n. mandibularis (N. V3).
1.2 Mikroskopik4
1.2.1 Cavum Oris
Cavum Oris merupakan rongga yang terdiri atas labium oris, buccal, dentis, gingivae,
linguae, palatum molle dan palatum durum. Labium oris merupakan area yang secara garis
besar dapat terbagi menjadi 3 bagian, yaitu area cutanea merupakan struktur kulit yang tipis
area merah bibir (Intermedia), merupakan area yang terdiri atas epitel berlapis gepeng tidak
bertanduk. Epitel disini transparan karena mengadung butir-butir eleidin. Kemudian
papilanya mengandung banyak kapiler. Area oral mukosa memiliki struktur yang mirip
seperti pipi dan memiliki epitel berlapis gepeng tidak bertanduk. Didapati pula glandula
labialis yang bersifat seromukosa. Selain itu dibawah lapisan submukosa didapati m.
orbikularis oris.
1.2.2 Gigi
Gigi terdiri dari mahkota gigi, mahkota anatomis yang dilapisi email, akar gigi, dan leher
gigi/serviks. Dentin merupakan bagian terbesar dari gigi yang mengalami mineralisasi
seperti halnya pada tulang. Dentin dibentuk oleh odentoblas, kadar garam kalsiumnya
mencapai 80% dan zat organik lainnya mencapai 20%. Sedangkan email pada gigi tersusun
terutama dari bahan anorganik dan hanya satu persennya yang merupakan bahan organik.
Jaringan penyokong gigi terdiri atas cementum, membrana periodentalis, processus
alvolaris, dan ginggiva.

Gambar 2. Gigi6
Sementum adalah lapisan tipis yang meliputi dentin akar gigi, muai dari leher sampai
ujung bawahnya dan berfungsi untunk mengikat gigi pada membrane periodontal. Pulpa gigi
terdiri dari jaringan ikat longgar dengan fibroblast, kolagen, sbubstansi dasar, saraf, dan
4

pembuluh darah. Membran (ligamentum) periodontal terdiri dari jaringan ikat padat fibrosa
khusus mengandung glikosaminoglikan, fibroblast, osteoblas, pembuluh darah, limf, dan
saraf. Sementara gusi (ginggiva) adalah membran mukosa yang meliputi periosteum tulang
alveolar dan melekat pada leher gigi. Membran mukosa gusi merupakan epitel berlapis
gepeng dengan lapisan tanduk, dimana lamina proprianya membentuk papil tinggi dan
ramping serta memiliki banyak jala kapiler sehingga tampak merah muda.
1.2.3 Lingua
Lingua merupakan otot yang permukaan dorsalnya dilingkupi oleh papila. Epitel pada
lingua ialah epitel berlapis gepeng bertanduk maupun tidak bertanduk. Papila pada lidah
berfungsi sebagai reseptor perasa. Adapun papila ini tersebar pada 2/3 permukaan anterior
lingua. Papila yang dimaksud adalah papila circumvalata tersusun dalam sulcus terminalis
yang dikelilingi epitel lidah. Papila filiformis memiliki epitel berlapis gepeng bertanduk,
berbentuk runcing, serta tidak punya taste bud. Papila fungiformis tersebar diantara papila
filiformis, memiliki taste bud dan punya bentuk modifikasi yang disebut papila lentiformis.
2. Fungsi dan Mekasnisme Proses Mengunyah dan Menelan1
Langkah pertama dalam proses pencernaan adalah mastikasi atau mengunyah, motilitas
mulut yang melibatkan pengirisan, perobekan, penggilingan, dan pencampuran makanan oleh
gigi. Kemudian proses selanjutnya adalah menelan yang merupakan motilitas berkaitan
dengan faring dan esofagus.
2.1.
Gigi Berperan Dalam Mengunyah1,5,6
Gigi tertanam kuat di tulang rahang dan menonjol dari tulang rahang. Seperti yang telah
kita bahas sebelumnya gigi terbuat dari bahan yang sangat keras yaitu dentin. Didalam pusat
strukturnya terdapat rongga pulpa. Pulpa gigi berisi sel jaringan ikat, pembuluh darah, dan
serabut saraf. Bagian gigi yang menjulang diatas gusi ditutupi email yang jauh lebih keras
daripada dentin. Email terbentuk sebelum gigi tumbuh, oleh sel-sel khusus yang lenyap
sewaktu gigi muncul. Karena email tidak dapat dibentuk kembali setelah gigi tumbuh maka
setiap defek (karies dentis atau lubang) yang terbentuk di email harus ditambal oleh bahan
buatan atau permukaan akan terus tererosi ke dalam pulpa hidup dibawahnya.
Gigi dapat menghasilkan gaya yang jauh lebih besar daripada yang diperlukan untuk
menyantap makanan biasa. Fungsi mengunyah adalah untuk mengiling dan memecahkan
makanan menjadi potongan-potongan kecil sehingga makanan mudah ditelan dan untuk
meningkatakan luas permukaan makanan yang akan terkena enzim, untuk mencampur
makanan dengan air liur, dan untuk merangsang kuncup kecap.
Menggigit makanan dilakukan melalui kombinasi gerak membuka rotasi dan gerak
protusi dari mandibula, sementara gerak menutup pada bolus dikendalikan secara refleks oleh
konstitensi makanan dan hubungan antara gigi-gigi insisivus maxilla dan mandibula. Oleh
karena itu pola gerak mandibulla dan hubungan ggi-gigi saling bergantung.
Aksi mengunyah makanan untuk menyiapkan makanan sebelum ditelan melibatkan
aktivitas dari bibir, pipi, lidah, sendi mandibula, palatum, sekresi kelenjar saliva, dan gigigigi serta jaringan pendukungnya. Gerakan lidah dan pipi membantu memindahkan makanan
lunak ke palatum keras dan ke gigi-gigi. Fungsi neuromuscular yang mendapat rangsang dari
bolus mengkoordinasikan aktivitas ini dan memberi respons dengan menggerakkan
mandibula sehingga gigi-gigi dapat menghaluskan makanan. Perangsangan formatio
retikularis dekat pusat batang otak untuk pengecapan. Sedangkan perangsangan area di
5

hipotalamus, amigdala, dan korteks serebri dekat area sensoris untuk pengecpan dan
penghidu. Otot utama untuk pengunyahan ialah maseter,otot temporalis, dan otot pterigoid
medial dan lateral.
2.2.
Saliva (air liur)1,3
Saliva (liur), sekresi yang berkaitan dengan mulut, terutama dihasilkan oleh tiga pasang
kelenjar liur utama yang terletak di luar rongga mulut dan mengeluarkan liur melalui duktus
pendek ke dalam mulut. Saliva terutama dari sekresi serosa yaitu 99,5% H 2O dan 0,5%
elektrolit dan protein. Konsentrasi NaCl (garam) liur hanya sepertujuh dari konsentrasinya di
plasma yang penting dalam mepersepsikan rasa asin. Demikian juga diskriminasi rasa manis
ditingkatkan oleh tidak adanya glukosa di air liur. Sekresi mukus yang lebih kental dan lebih
sedikit yang mengandung glikorotein (musin), ion, dan air.
Fungsi saliva yaitu untuk melarutkan makanan secara kimia untuk pengecapan rasa,
melembabkan dan melumasi makanan sehingga dapat ditelan. Saliva juga memberikan
kelembaban pada bibir dan lidah sehingga terhindar dari kekeringan. Amilase pada saliva
mengurangi zat tepung menjadi polisakarida dan maltose suatu disakarida. Zat buangan
seperti asam urat dan urea, serta berbagai zat lain seperti obat, virus dan logam, disekresi ke
dalam saliva. Zat anti bakteri dan antibody dalam saliva berfungsi untuk membersihkan
rongga oral dan membantu memelihara kesehatan oral serta mencegah kerusakan gigi.
Meskipun memiliki banyak fungsi tetapi liur tidak esensial untuk pencernaan dan penyerapan
makanan, karena nantinya enzim-enzim di produksi oleh pankreas dan usus haluslah yang
akan menuntaskannya.
Sekresi saliva bersifat konstan dan kontinu karena adanya stimulasi konstan tingkat
rendah ujung-ujung saraf parasimpatis yang berkahir di kelenjar saliva. Masalah utama yang
berkaitan dengan berkurangnya sekresi air liur , suatu kondisi yang dinamai xerostomia,
adalah kesulitan mengunyah dan menelan, dan peningkatan mencolok karies dentis kecuali
jika diamil tidakan pencegahan khusus.
2.2.1 Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Sekresi Saliva
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi meningkatnya sekresi saliva yaitu refleks saliva
sederhana (tidak terkondisi) dan refleks saliva didapat (terkondisi). Refleks saliva sederhana
atau terkondisi terjadi pada saat ada bolus yang masuk kedalam mulut dengan kata lain
kemoreseptor dan mekanoreseptor di dalam rongga mulut berespon terhadap keberadaan
makanan. Refleks saliva didapat atau terkondisi terjadi dengan melihat, mencium, dan
medengar pembuatan makanan yang lezat memicu salivasi melalui refleks ini.
Sistem saraf otonom, baik simpatis maupun parasimpatis sama-sama meningkatkan
sekresi saliva. Hanya saja sifat dari rangsangan parasimpatis dan simpatis berbeda. Saraf
parasimpatis mengahsilkan saliva lebih dominan, bersifat encer, jumlah lebih besar dan kaya
akan enzim. Sedangkan saraf simpatis menghasilkan saliva dengan jumlah yang lebih sedikit,
bersifat kental, dan kaya mukus.

Faring dan Esofagus Dalam Proses Menelan1


Menelan adalah keseluruhan proses memindahkan makanan dari mulut melalui esophagus
hingga ke lambung. Keseluruhan waktu transit di faring dan esophagus hanya sekitar 6
sampai 10 detik, terlalu singkat untuk terjadinya pencernaan atau penyerapan dibagian ini.
Menelan dimulai ketika suatu bolus atau gumpalan makanan yang telah dikunyah atau encer
secara sengaja didorong oleh lidah ke belakang mulut menuju faring. Menelan dimulai secara
volunter tetapi sekali dimulai maka gerakan ini tidak bisa dihentikan. Menelan dibagi
menjadi tahap orofaring dan tahap esophagus.
2.3.

2.3.1 Tahap Orofaring


Tahap orofaring berlangsung sekitar 1 detik dan terdiri dari pemindahan bolus dari mulut
melalui faring untuk masuk ke esophagus. Makanan harus dijaga agar tidak masuk kembali
ke mulut, masuk saluran hidung, atau masuk ke trakea yaitu meliputi aktivtas berikut yaitu
pusat menelan menghambat pusat pernapasan di batang otak, elevasi uvula mencegah
makanan masuk ke saluran hidung, posisi lidah mencegah makanan masuk kmbali ke mulut,
dan epiglottis tertekan ke bwah menutupi glottis sebagai mekanisme tambahan untuk
mencegah makanan masuk ke saluran napas. Setelah saluran napas tertutup otot-otot faring
berkontraksi untuk mendorong bolus ke esophagus.
Esofagus adalah saluran berotot lurus yang relatif lurus terbentang antara faring dan
lambung. Esophagus dijaga di keuda ujungnya oleh sfingter. Sfingter adalah sturktur otot
berbentuk cincin yang ketika tertutup mencegah lewatnya sesuatu melalui saluran yang
dijaganya. Sfingter esophagus atas adalah singter faringoesofagus dan sfingter esophagus
bawah adalah sfingter gastroesofagus.
Sewaktu menean sfingter faringoesofagus terbuka dan bolus masuk ke dalam esophagus.
Setelah bolus berada di dalam esophagus, sfingter esophagus menutup. Saluran pernapasan
terbuka dan bernapas kembali dilakukan.
2.3.2 Tahap Esofagus
Tahap esophagus dari proses menelan dimulai. Pusat menelan memicu gelombang
peristaltik primer yang menyapu dari pangkal ujung esophagus mendorong bolus di depannya
menelusuri esophagus untuk masuk ke lambung. Gelombang peristaltik memerlukan waktu 5
menit sampai 9 detik untuk mencapai ujung bawah esophagus. Perambatan gelombang
dikontrol oleh pusat menelan dengan persarafan melalui saraf vagus.
Jika bolus yang tertelan besar atau lengket tidak dapat didorong mencapai lambung oleh
gelombang peristaltis primer, maka bolus akan merenggangkan esophagus, merangsang
reseptor tekan di dindingnya. Akibatnya terjadi pengaktifan gelombang peristaltic kedua yang
lebih besar yang diperantarai oleh pleksus saraf intrinsik di tempat peregangan. Peregangan
esophagus juga secara refleks meningkatkan sekresi liur. Bolus yang terperangkap akhirnya
terlepas dan bergerak maju melalui kombinasi pelumasan oleh air liur tambahan yang tertelan
dan gelombang peristaltic kedua yang kuat.
Sewaktu gelombang peristaltis menyapu menuruni esophagus, sfingter gastroesofagus
melemas secara refleks sehingga bolus dapat masuk ke dalam lambung. Setelah bolus masuk
ke lambung proses menelan tuntas dan sfingter gastroesofagus kembali berkontraksi.

2.4.

Enzim Terkait Proses Mengunyah dan Menelan


Enzim merupakan katalis biologis. Katalis mempercepat kecepatan reaksi tetapi tidak
digunakan atau tidak berubah dalam reaksi. 7 Rongga mulut mensekresikan saliva, seperti
yang telah dibahas diatas bahwa sebagian komposisi saliva adalah enzim. Enzim-enzim
tersebut adalah amilase dan lisozim. Amilase yaitu suatu enzim yang menguraikan
poliskarida menjadi maltose, suatu disakarida yang terdiri dari dua molekul glukosa.
Sedangkan lisozim adalah suatu enzim yang melisiskan atau menghancurkan bakteri tertentu
dengan merusak dinding sel dan kedua dengan membilas bahan yang mungkin berfungsi
sebagai sumber makanan untuk bakteri.
Kesimpulan
Skenario yang di dapat pada kasus kali ini adalah seorang ibu S usia 20 tahun datang ke
UGD dengan keluhan sakit gigi sehingga kesulitan mengunyah makanan. Berdasarkan
hipotesis yang telah ada bahwa sakit gigi disebabkan karena adanya kerusakan pada gigi yang
sudah menjalar ke bagian pulpa. Hipotesis dibenarkan karena pulpa gigi merupakan tempat
dimana saraf dan pembuluh darah berada sehingga apabila terjadi kerusakan dan menjalar
sampai ke bagian tersebut akan menyebabkan rasa sakit.
Daftar Pustaka
1. Sherwood L. Fisiologi manusia. Ed. 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2007.
2. Wong WW, Kindangen K, Inggriani Y. Buku ajar traktus digestivus. Jakarta: Bagian
Anatomi Universitas Kristen Krida Wacana. 2010.
3. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004.
4. Mescher AL. Junqueiras basic histology text & atlas. Singapore: McGraw Hill
Medical;2009.
5. Thomson H. Oklusi. Ed. 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.(5
6. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama;
2005.
7. James J, Baker C, Swain H. Prinsip-prinsip sains untuk keperawatan. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2008.
8. Netter FH. Atlas of human anatomy. Saunders: Elsevier. 2006.