Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Definisi Tulang
Tulang adalah struktur hidup yang tersusun oleh protein dan

mineral. Penyusunan utama tulang adalah protein yang disebut kolagen


serta mineral tulang (kalsium fosfat). Lebih dari 99% kalsium tubuh
terdapat dalam tulang dan gigi, dan 1% terdapat dalam darah.
Terdapat dua tipe tulang dalam tubuh, yaitu cortical dan
trabecular. Tulang korteks adalah tulang yang padat atau rapat dan
merupakan bagian terluar dari tulang. Tulang trabekular merupakan bagian
dalam tulang yang berongga.
Tulang merupakan organ dinamis yang selalu brubah dan
mengalami pembaruan. Sel-sel utama yang berperan dalam tulang
(Trihapsari, 2009):
1. Ostoblas
Osteoblas adalah sel pembentuk tulang. Osteoblas bekerja
membentuk dan mensekresikan kolagen dan nonkolagen
organik (komponen matrik tulang). Jadi, osteoblas berperan
dalam mineralisasi matrik organnik.
2. Osteoklas
Osteoklas (sel pemecahan tulang) adalah sel terpenting pada
resopsi tulang yang berasal dari sel induk sumsum tulang
(penghasil makrofag-monosit).

1.2 Definisi Osteoporosis


Osteoporosis adalah kondisi dimana berkurangnya massa tulang dan
gangguan struktur tulang (perubahan mikroarsitektur jaringan tulang)
sehingga menyebabkan tulang menjadi mudah patah. Selain itu osteo
porosis sering juga disebut dengansilent disease, karena penyakit ini
datang secara tiba tiba, tidak memiliki gejalah yang jelas dan tidak
terdeteksi hingga orang tersebut mudah mengalami patah tulang.

Menurut World Health Organization (WHO) Osteoporosis adalah


penyakit yang ditandai dengan rendahnya massa tulang dan
memburuknya mikrostruktural jaringan tulang, yang menyebabkan
kerapuhan tulang sehingga meningkatkan resiko terjadinya fraktur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Osteoporosis
Ada dua jenis osteoporosis yakni :
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer berkaitan dengan usia dan jenis kelamin
penderita, hormon dibagi 3 subtipe:
a. subtipe pertama, terjadi pada wanita yang telah mengalami
menopause.
b. subtipe kedua, didapati pada lansia, lebih dari 70 tahun.
c. subtipe idiophatik (tak diketahui persis penyebabnya), didapati
pada wanita dan pria dalam usia yang relatif lebih muda,
disebabkan faktor genetika.Kadar kalsium fosfat, vitamin D,
hormon pengatur tulang sudah memadai, namun karena terdapat

kelainan fungsi sel-sel osteoblast dalam menjalankan kerjanya,


terjadi kemunduran proses mineralisasi tulang.
2. Osteoporosis sekunder.
Terjadi akibat penyakit kronis lain seperti gangguan hati
(lever) dan gangguan hormon. Tipe osteoporosis sekunder disebabkan
faktor

kelainan

hormonal

(endokrin),

kelainan

pola

makan,

penggunaan obat-obatan, serta gaya hidup yang tidak sehat. Dalam


penggunaan obat-obatan dengan jangka lama dapat menimbulkan
osteoporosis misalnya obat kortikosteroid.

2.3 Katagori Osteoporosis


Osteoporosis post
menopause
Mempengaruhi
tulang trabekular
pada decade
setelah
menopause

Osteoporisis terkait usia

Osteoporosis
sekunder
Diakibatkan hilangnya masa
Disebabkan oleh
tulang yang dimulai setelah
pengobatan tertentu
masa tulang mencapai dan
dan penyakit dan
mempengaruhi baik tulang
mempengaruhi kedua
kotikal maupun trabekuler
tipe tulang
Tabel 1. Katagori Osteoporosis

2.4 Pravelensi
Osteoarthritis adalah penyakit artikular yang paling umum terjadi
di seluruh dunia. Prevalensi dan keparahan osteoarthritis meningkat seiring
bertambahnya usia. Osteoarthritis menyerang sekitar 50% individu yang
berusia di atas 65 tahun dan sekitar 80% pada individu yang berusia di atas
75 tahun. Usia dan jenis kelamin berinteraksi untuk mempengaruhi waktu
on-set dan, bersama dengan ras, mempengaruhi pola keterlibatan sendi.
Pria lebih cepat terkena osteoarthritis umumnya pada usia muda
dibandingkan dengan wanita, namun kecepatan terkena osteoarthritis pada
wanita akan melebihi pria pada usia 45-60 tahun. Osteoarthritis sendiri

pertama kali muncul antara usia 30 tahun hingga 40 tahun, dan muncul
hampir pada semua orang pada usia 70 tahun.
Prevalensi osteoarthritis berbeda antara kelompok etnik yang
berbeda. Osteoarthritis pada tangan lebih cenderung terjadi pada wanita
kulit putih sedangkan osteoarthritis lutut lebih umum terjadi pada wanita
kulit hitam. Insiden osteoarthritis pinggul lebih kecil terjadi pada orang
cina daripada orang eropa, hal ini mungkin merepresentasikan pengaruh
dari berbagai faktor seperti pekerjaan, obesitas atau keturunan. Dengan
meningkatnya usia, prevalensi osteoarthritis yang mempengaruhi tangan
dan lutut pada orang afrika-amerika lebih sering dari pada orang kulit
putih.

2.5 Patofisiologi
Didalam kehidupan,
perbaharuan. Tulang

tulang

akan

selalu

memiliki2

sel,

yaitu

mengalami

proses

osteoklas (bekerja

untukmenyerap danmenghancurkan/merusak tulang) dan osteoblas (sel


yang bekerja untuk membentuk tulang). (Compston, 2002). Tulang yang
sudah tua dan pernah mengalami keretakan, akan dibentuk kembali.
Tulang yang sudah rusak tersebut akan diidentifikasi oleh sel osteosit (sel
osteoblas menyatu dengan matriks tulang). (Cosman, 2009) Kemudian
terjadi penyerapan kembali yang dilakukan oleh sel osteoklas dan nantinya
akan menghancurkan kolagen dan mengeluarkan asam. (Tandra, 2009)
Dengan demikian, tulang yang sudah diserap osteoklas akan dibentuk
bagian tulang yang baru yang dilakukan oleh osteoblas yang berasal dari
sel prekursor di sumsum tulang belakang setelah sel osteoklas hilang.
(Cosman, 2009) Proses remodelling tulang tersebut dapat dilihat pada
gambar dibawah ini.

Gambar 4: Siklus remodelling tulang, Cosman, 2009


Menurut

Ganong,

ternyata

endokrin

mengendalikan

proses

remodeling tersebut. Dan hormon yang mempengaruhi yaitu hormon


paratiroid (resorpsi tulang menjadi lebih cepat) dan estrogen (resorpsi
tulang akan menjadi lama). Sedangkan pada osteoporosis, terjadi
gangguan pada osteoklas, sehingga timbul ketidakseimbangan antara kerja
osteoklas dengan osteoblas. Aktivitas sel osteoclas lebih besar daripada
osteoblas. Dan secara menyeluruh massa tulang pun akan menurun, yang
akhirnya terjadilah pengeroposan tulang pada penderita osteoporosis.
(Ganong, 2008) Gambar 2.2 menunjukan perbedaan tulang yang normal
dan tulang yang sudah mengalami pengeroposan.

Gambar 5: Tulang Normal dan Keropos


Tulang terdiri atas sel dan matriks. Terdapat dua sel yang
penting pada pembentukan tulang
Osteoblas

yaitu osteoclas dan

osteoblas.

berperan pada pembentukan tulang dan sebaliknya osteoklas

pada proses resorpsi tulang. Matriks ekstra seluler terdiri atas dua
komponen, yaitu anorganik sekitar 30-40% dan matrik inorganik yaitu
garam mineral sekitar 60-70 %. Matrik inorganik yang terpenting adalah
kolagen tipe 1 ( 90%), sedangakan komponen anorganik terutama terdiri
atas kalsium dan fosfat, disampinh magnesium, sitrat, khlorid

dan

karbonat.
Dalam pembentukan massa tulang tersebut tulang akan mengalami
perubahan selama kehidupan melalui tiga fase: Fase pertumbuhan, fase

konsolodasi dan fase involusi. Pada fase pertumbuhan sebanyak 90% dari
massa tulang dan akan berakhir pada saat epifisi tertutup. Sedangkan pada
tahap konsolidasi yang terjadi usia 10-15 tahun. Pada saat ini massa tulang
bertambah dan mencapai puncak ( peak bone mass ) pada pertengahan
umur tiga puluhan. Serta terdapat dugaan bahwa pada fase involusi massa
tulang berkrang ( bone Loss ) sebanyak 35-50 tahun .
Secara garis besar patofisiologi osteoporosis berawal dari Adanya
massa puncak tulang yang rendah disertai adanya penurunan massa tulang.
Massa puncak tulang yang rendah ini diduga berkaitan dengan faktor
genetic, sedangkan faktor yang menyebabkan penurunan massa tulang
adalah proses ketuaan, menopause, faktor lain seperi obat obatan atau
aktifitas fisik yang kurang serta faktor genetik. Akibat massa puncak
tulang yang rendah disertai adanya penurunan massa tulang menyebabkan
Densitas tulang menurun yang merupakan faktor resiko terjadinya fraktur.
Kejadian osteoporosis dapat terjadi pada setiap umur kehidupan.
Penyebabnya adalah akibat terjadinya penurunan bone turn over yang
terjadi sepanjang kehidupan. Satu dari dua wanita akan mengalami
osteoporosis, sedangkan pada laki-laki hanya 1 kasus osteoporsis dari
lebih 50 orang laki-laki. Dengan demikian insidensi osteoporosis pada
wanita jauh lebih banyak daripada laki-laki. Hal ini di duga berhubungan
dengan adanya fase masa menopause dan proses kehilangan pada wanita
jauh lebih banyak.

Gambar 6. Percepatan Pertumbuhan Tulang

Gambar diatas menunjukan bahwa terjadi percepatan pertumbuhan


tulang, yang mencapai massa puncak tulang pada usia berkisar 20 - 30
tahun, kemudian terjadi perlambatan formasi tulang dan dimulai resorpsi
tulang yang lebih dominan. Keadan ini bertahan sampai seorang wanita
apabila mengalami menopause akan terjadi percepatan resorpsi tulang,
sehingga keadaan ini tulang menjadi sangat rapuh dan mudah terjadi
fraktur.
Setelah usia 30 tahun, resorpsi tulang secara perlahan dimulai
akhirnya akan lebih dominan dibandingkan dengan pembentukan tulang.
Kehilanga massa tulang menjadi cepat pada beberapa tahun pertama
setelah menopause dan akan menetap pada beberapa tahun kemudian
pada masa postmenopause. Proses ini terus berlangsung pada akhirnya
secara perlahan tapi pasti terjadi osteoporosis. Percepat osteoporosis
tergantung dari hsil pembentukan tulang sampai tercapainya massa tulang
puncak.
Massa tulang puncak ini terjadi sepanjang awal kehidupan sampai
dewasa muda. Selama ini, tulang tidak hanya tumbuh tetapi juga menjdai
solid. Pada usia rata-rata 25 tahun tulang mencapai pembentuk massa
tulang puncak. Walaupun demikian massa puncak tulang ini secara
individual sangat bervariasi dan pada umumnya pada laki-laki lebih tinggi
dibanding pada wanita. Massa puncak tulang ini sangatlah penting, yang
akan menjadi ukuran seseorang menjadi risiko terjadinya fraktur
pada kehidupannya. Apabila massa puncak tulang ini rendah maka akan
mudah terjadi fraktur kan saja, tetapi apabila tinggi makan akan terlindung
dari ancaman fraktur.
Faktor faktor yang menentukan tidak tercapainya massa tulang puncak
sampai saai ini belum dapat dimengerti sepenuhnya tetapi diduga
terdapat beberapa faktor yang berperan, yaitu genetik, asupan kalsium,
aktifitas fisik, dan hormon seks. Untuk memelihara dan mempertahan

massa puncak tulang adalah dengan diet, aktifitas fisik, status reproduktif,
rokok, kelebiham konsumsi alkohol, dan beberapa obat (Permana, 2009).
2.6 Manifestasi Klinik
1. Penurunan tinggi badan, nyeri pada tulang, atau fraktur, biasanya pada
vertebra, pinggul, atau lengan bagian bawah.
2. Nyeri fraktur akut biasanya dapat diatasi dalam 2 minggu hingga 3
bulan. Nyeri fraktur kronis dimanifestasikan sebagai rasa nyeri yang
dalam dan dekat dengan tempat patahan.
Pada beberapa penderita tidak memiliki gejala.
Nyeri pada tulang dan timbul kelainan bentuk.
Gangguan pada tulang belakang menyebabkan nyeri punggung
yang menahun.
Timbul nyeri secara tiba-tiba di daerah punggung, yang akan
bertambah nyeri jika berdiri atau berjalan, dan terasa sakit bila
disentuh
Tinggi badan berkurang
Kifosis, yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit.
Fraktur yang terjadi sesudah cedera/ trauma yang ringan
2.7 Etiologi
Seseorang dinyatakan osteoporosis jika kepadatan tulangnya kurang
atau sama dengan -2,5.jika hasil pengukuran kepadatan tulang antara
-1 sampai lebih dari -2,5 disebut osteopeni (penurunan masa tulang)
Pembentukan masa tulang paling pesat terjadi sejak dalam kandungan
sampai anak berusia 17 tahun, yaitu sekitar 91%
Pada usia 20an kepadatan tulang mencapai puncaknya saat wanita
hamil, masa tulang berkurang untuk pertumbuhan janin demikian pula
pada masa menyusui
Setelah usia 35 tahun seiring berkurangnya estrogen, masa tulang
berkurang 2-3% pertahun. Sampai saat menopause(49-51 tahun)
selanjutnya penurunan masa tulang melambat sekitar 1-2 % pertahun.
Pada laki-laki, proses penurunan masa tulang terjadi ketika hormon
testosteron mulai berkurang, kemungkinan orang berusia 20 30

tahun mengalami osteoporosis umumnya terjadi pada orang yang


mengalami kelainan hormon, mengkonsumsi steroid atau kurang gizi.
2.8 Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya osteoporosis:
1.
wanita
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan
pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam
tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause
2.

yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.


Usia
Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun.
Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan
pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses
penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid

3.

meningkat.
Ras/Suku
Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia
memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi
kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90%
intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan
wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan

4.

meskipun rendah.
Keturunan Penderita Osteoporosis
Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhatihatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang
tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu
artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang

5.

sama.
Gaya Hidup Kurang Baik
a. Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya
mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman
parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.
b. Minuman berkafein dan beralkohol.
Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat

menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas


oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton
University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang
menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya
tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak
mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses
pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin
yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).
c. Malas Olahraga
Mereka yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses
osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu
kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan
olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa.
d. Merokok
Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis.
Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di
dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan
tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen
dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak
kuat dalam menghadapi proses pelapukan. Disamping itu, rokok
juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit
jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau
darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit
terjadi. Jadi, nikotin jelas menyebabkan osteoporosis baik secara
langsung tidak langsung. Saat masih berusia muda, efek nikotin pada
tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang
masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek rokok pada
tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur
tersebut sudah berhenti.
e. Kurang Kalsium
Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon

yang akanmengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang


ada di tulang.
6.

Mengkonsumsi Obat
Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan
pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit
osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan
mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses
osteoblas. Selain itu, obat heparin dan anti kejang juga menyebabkan
penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi
obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.
Tulang adalah jaringan dinamis yang diatur oleh faktor endokrin,
nutrisi, dan aktivitas fisik. Biasanya penanganan gangguan tulang
terutama osteoporosis hanya fokus pada masalah hormon dan kalsium,
jarang dikaitkan dengan olahraga. Padahal, Wolff sejak 1892
menyarankan bahwa olahraga sangatlah penting.
Osteoporosis (kekeroposan tulang) adalah proses degenerasi pada
tulang. Mereka yang sudah terkena perlu berolahraga atau beraktivitas
fisik sebagai bagian dari pengobatan. Olahraga teratur dan cukup
takarannya tidak hanya membentuk otot, melainkan juga memelihara
dan meningkatkan kekuatan tulang. Dengan demikian, latihan olahraga
dapat mengurangi risiko jatuh yang dapat memicu fraktur (patah tulang)
(Mulyaningsih, 2008).

2.9 Diagnosis Osteoporosis


Tiga metode yang digunakan dalam mendiagnosis osteoporosis yaitu:
1. Pengukuran kepadatan tulang secara radiografik
Ada beberapa metode dalam pengukuran kepadatan tulang antara lain
a. Dual Energy X-ray Absorptiometry (DXA atau DEXA)
b. Quantitative Computed Tomograpy (QCT)
c. Qualitative Ultrasound (QUS)
d. Single Proton Absorpsimetry (SPA)
e. Dual Proton Absorpsimetry(DPA)
f. Digital X-ray Radiogrammetry (DXR)

g. Single Energy X-ray Absorpsimetry (SEXA)


Metode ini digunakan untuk mengetahui BMD (Bone Mineral
Density) dari seseorang yang mengalami osteoporois dan yang
memiliki resiko tinggi terkenanya osteoporosis.
BMD digunakan untuk mengukur kepadatan

tulang

dan

menentukan resiko patah tulang pada osteoporosis. Hasil pengukuran


biasanya dinilai dari dua pengukuran yaitu:
1) T-score (Nilai T)
Nilai T adalah perbandingan antara BMD pasien dengan
pasien sehat yang berumur 30 tahun yang sama jenis
kelamin dan etniknya
Kriteria nilai T berdasarkan WHO:
a. Normal
: nilai T 0,1 atau lebih tinggi
b. Osteopenia :nilai T lebih
kecil dari 0,1 dan lebih
besar 2,5
:nilai T 2,5 atau lebih rendah

c. Osteoporosis
2) Z-score (Nilai Z)
Nilai Z adalah angka standar deviasi di atas atau di bawah
normal untuk usia anda, jenis kelamin, berat dan etnis atau
asal ras.
Kategori WHO
Normal
Osteopenia
Osteoporosis

Usia 50-64 tahun


5,3
11,4
22,4

Usia lebih 64 tahun


9,4
19,6
46,6

Gambar 2. Kategori WHO


2. Pemeriksaan laboratorium maker biokimia
a. Marker biokimia yang utama untuk pemeriksaan bentuk tulang
yaitu:
i. Akalin fosfatase
ii. Osteokalsin
b. Marker untuk pemeriksaan resorpsi
i. Kalsium dalam urin
ii. Hidroksiprolin dalam urin.
3. Biopsi tulang dengan penilaian patologi

over
6,6
15,7
40,6

Tes ini mempunyai keterbatasan kemampuan dan


penggunaan terbaik sebagai teknik penelitian untuk analisis
regimen pengobatan untuk penyakit tulang.
2.10 Pencegahan dan Pengobatan Non Farmakologi
1. Mengurangi asupan protein hewani: Protein hewani meningkatkan
kehilangan kalsium.
Studi lintas budaya telah menemukan hubungan yang kuat antara
asupan protein hewani dan risiko patah tulang pinggul. Tingginya
asupan daging (lima atau lebih porsi per minggu) secara signifikan
meningkatkan risiko retak tulang lengan bawah pada perempuan,
dibandingkan dengan makan daging kurang dari sekali per minggu.
Wanita lansia yang mengkonsumsi sejumlah besar daging kehilangan
tulang lebih cepat dan risiko lebih besar terkena retak tulang
pinggul.Risiko masalah tulang tampaknya berkurang ketika protein
hewani diganti dengan protein dari sumber nabati, terutama kedelai.
Dalam studi klinis dengan wanita menopause, makanan kedelai telah
ditemukan mencegah keropos tulang. Penelitian telah menunjukkan
hubungan positif antara protein kedelai dan kepadatan mineral tulang
pada wanita menopause. Hal ini mungkin karena konsentrasi senyawa
yang relatif tinggi yang disebut isoflavon dalam protein nabati.
2. Peningkatan konsumsi buah dan sayuran
Penelitian telah menunjukkan bahwa diet kaya buah-buahan dan
sayur-sayuran berkaitan dengan kepadatan mineral tulang lebih tinggi
pada pria dan wanita. Asosiasi ini mungkin karena kalium,
magnesium, dan vitamin K dalam buah-buahan dan sayuran.
3. Mengurangi asupan natrium
Beberapa studi telah menemukan bahwa asupan tinggi natrium
menyebabkan hilangnya kalsium dari tubuh. Namun, efek dari
pembatasan natrium terhadap integritas tulang jangka panjang dan

risiko patah tulang masih belum jelas dan memerlukan penelitian lebih
lanjut.
4. Pola makan rendah lemak
Studi telah menemukan bahwa asupan lemak yang lebih tinggi
dikaitkan dengan kehilangan tulang yang lebih besar dan risiko patah
tulang lebih besar. Mekanisme yang mungkin meliputi kecenderungan
asupan lemak yang berlebihan mengurangi penyerapan kalsium dan
mempengaruhi produksi hormon. Secara khusus, asam lemak omega-6
dapat

menyebabkan

hilangnya

tulang

dengan

mengorbankan

pembentukan tulang baru.

5. Moderasi dalam penggunaan kafein


Penelitian telah menemukan bahwa perempuan yang mengkonsumsi
paling banyak kafein telah mempercepat kehilangan tulang belakang
dan hampir tiga kali lipat risiko terkena patah tulang pinggul. Resiko
kehilangan tulang tampak tertinggi pada wanita yang mengkonsumsi
lebih dari 18 ons kopi per hari, atau 300 mg kafein dari sumber lain.
6. Membatasi suplemen vitamin A
Penelitian telah menunjukkan bahwa asupan vitamin A yang terlalu
tinggi, baik dengan makanan atau suplemen, dapat menyebabkan
penurunan kepadatan tulang dan peningkatan risiko fraktur pinggul.
Asupan sehat dan cukup vitamin A dapat dipastikan dengan betakaroten dari sumber tanaman, sayuran terutama oranye dan kuning.
7. Kombinasi suplemen vitamin D dan kalsium
Pada pasien dengan obat-yang menyebabkan osteoporosis, kombinasi
dari

kedua

nutrisi

tampaknya

bermanfaat

signifikan

dalam

mengurangi kehilangan tulang lebih lanjut. Suplemen vitamin D (500


sampai 800 IU/hari) dan kalsium (1200-1300 mg/hari) juga telah

ditemukan meningkatkan kepadatan tulang dan penurunan kehilangan


tulang dan risiko patah tulang pada wanita dewasa yang lebih tua.
Pasien wanita dengan diagnosa osteoporosis harus mendapatkan
asupan kalsium total dari pola makan dan suplemen sekitar 1500
mg/hari dalam dosis terbagi tiga atau lebih, ditambah sedikitnya 400
sampai 800 IU vitamin D setiap hari. Namun, pasien yang tidak
berisiko tinggi untuk osteoporosis mungkin tidak memerlukan
suplemen kalsium. Hal ini terutama berlaku untuk pria, yang mungkin
memiliki peningkatan risiko terkena kanker prostat jika mereka
mengkonsumsi terlalu banyak kalsium atau susu.
2.11

Terapi Farmakologi
Algoritma Pencegahan Osteoporosis

Semua orang sepanjang hidup seharusnya mendapat:


-

Nutrisi

karbohidrat).
Suplemen Ca dan vitamin D bila perlu untuk meningkatkan asupan

yang memadai
Aktivitas fisik yang optimal (berat badan, penguatan otot, ketangkasan,

keseimbangan)
Gaya hidup yang sehat (tidak merokok, tidak minum alcohol, dan

kafein).
Pencegahan terhadap kecelakaan atau trauma

yang

tepat

(mineral

dan

elektrolit,

vitamin,

protein,

Algoritma terapi menurut Dipiro (2005), dibagi menjadi dua yaitu:


1

Pengobatan tanpa pengukuran BMD (Bone Mineral Density)


Pertimbangan terapi tanpa pengukuran BMD :
Pria dan wanita dengan peningkatan risiko kerapuhan tulang
Pria dan wanita yang menggunakan glukokortikoid dalam jangka
waktu lama
Terapi dapat dilakukan dengan Biphosphonate, jika intolerance
dengan Biphosphonate pilihan terapi obat lainnya adalah
Raloxifene, kalsitonin nasal, teriparatide, bifosfonat parenteral. Jika
kerapuhan tetap berlanjut setelah pemakaian Biphosphonate, maka
pilihan terapi lainnya adalah teriparatide.

Pengobatan dengan pengukuran BMD (Bone Mineral Density)


Populasi yang perlu pengukuran BMD :
Untuk wanita dengan usia 65 tahun
Untuk wanita usia 60-64 tahun postmenopause dengan peningkatan
risiko osteoporotis
Pria dengan 70 tahun atau yang risiko tinggi
Dari hasil pengukuran BMD, jika T-score >-1, maka nilai BMD

termasuk normal, tetapi tetap diperlukan monitoring DXA setiap 1-5


tahun. Dan jika diperlukan pengobatan, maka pilihan pengobatannya
adalah Biphosponate, Raloxifene, Calcitonin (Dipiro et.al , 2005).
Jika T-score -1 s/d -2,5, maka termasuk dalam osteopenia. Dapat
dilakukan monitoring DXA setiap 1-5 tahun. Dan jika diperlukan

pengobatan,

maka

pilihan

pengobatannya

adalah

Biphosponate,

Raloxifene, Calcitonin.
Jika T-score <-2,0 dilakukan pemeriksaan lanjut untuk osteoporosis
sekunder, yaitu dengan pengukuran PTH, TSH, 25-OH vitamin D, CBC,
panel kimia, tes kondisi spesifik. Kemudian dilakukan terapi berdasarkan
penyebab, bila ada, yaitu dengan Biphosphonate, jika intoleransi dengan
Biphosphonate maka pilihan pengobatannya adalah Biphosphonate
parenteral, Teriparatide, Raloxifene dan Calcitonin.
Dari hasil pengukuran Osteoporosis dengan skor T < -2,5, terapi
dapat

dilakukan

dengan

Biphosphonate,

jika

intolerance

dengan

Biphosphonate pilihan terapi obat lainnya adalah Raloxifene, kalsitonin


nasal, teriparatide, bifosfonat parenteral. Jika kerapuhan tetap berlanjut
setelah pemakaian Biphosphonate, maka pilihan terapi lainnya adalah
teriparatide.

Obat yang digunakan dalam terapi osteoporosis, yaitu :


A Kalsium
Mekanisme kerja obat
Kalsium berfungsi sebagai integritas sistem saraf dan otot, untuk
kontraktilitas jantung normal dan koagulasi darah. Kalsium berfungsi
sebagai kofaktor enzim dan mempengaruhi aktivitas sekresi kelenjar
endokrin dan eksokrin.

Data farmakokinetik

Absorpsi
Absorpsi kalsium dari saluran pencernaan dengan difusi pasif
dan transpor aktif. Kalsium harus dalam bentuk larut dan terionisasi
agar bisa diabsorpsi. Vitamin D diperlukan untuk absorpsi lasium
dan meningkatkan mekanisme absorpsi. Absorpsi meningkat
dengan adanya makanan. Ketersediaan oral pada orang dewasa
berkisar dari 25% hingga 35% jika diberikan dengan sarapan

standar. Absorpsi dari susu sekitar 29% dalam kondisi yang sama.
Distribusi
Kalsium secara cepat didistribusikan ke jaringan skelet. Kalsium
menembus plasenta dan mencapai kosentrasi yang lebih tinggi pada
darah fetah dibanding darah ibu. Kalsium juga didistribusikan
dalam susu.

Ekskresi
Kalsium dieksresikan melalui feses, urin dan keringat.

Kontraindikasi
Kalsium dikontraindikasikan pada pasien dengan hiperkalsemia dan
fibrilasi ventrikuler
Efek samping
Efek samping yang terjadi ketika mengkonsumsi kalsium yaitu
gangguan gastrointestinal ringan, bradikardia, aritmia, dan iritasi pada
injeksi intravena (Anonim, 2008).
B Vitamin D
Mekanisme kerja obat
Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang diperoleh dari
sumber alami (minyak hati ikan) atau dari konversi provitamin D (7dehidrokolesterol dan ergosterol). Pada manusia, suplai alami vitamin D
tergantung pada sinar ultraviolet untuk konversi 7-dehidrokolesterol
menjadi vitamin D3 atau ergosterol

menjadi

vitamin D2. Setelah

pemaparan terhadap sinar uv , vitamin D3 kemudian diubah menjadi


bentuk aktif vitamin D (Kalsitriol) oleh hati dan ginjal. Vitamin D

dihidroksilasi oleh enzim mikrosomal hati menjadi 25-hidroksi-vitamin


D3 (25-[OH]- D3 atau kalsifediol). Kalsifediol dihidroksilasi terutama di
ginjal menjadi 1,25-dihidroksi-vitamin D (1,25-[OH]2-D3 atau kalsitriol)
dan

24,25-dihidroksikolekalsiferol.

Kalsitriol

dipercaya

merupakanbentuk vitamin D3 yang paling aktif dalam menstimulasi


transport kalsium usus dan fosfat.
Kontraindikasi
Vitamin D dikontraindikasikan dengan hiperkalsemia, bukti adanya
toksistas vitamin D, sindrom malabsorpsi, hipervitaminosis D,
sensitivitas abnormal terhadap efek vitamin D, penurunan fungsi ginjal.
Efek samping
efek samping yang terjadi ketika mengkonsumsi vitamin D ini yaitu
sakit kepala, mual, muntah, mulut kering dan konstipasi.
C Biofosfonat
Mekanisme kerja obat
Biofosfonat bekerja terutama pada tulang. Kerja farmakologi
utamanya adalah inhibisi resorpsi tulang normal dan abnormal. Tidak
ada bukti bahwa biofosfonat dimetabolisme. Biofosfonat utnuk
menoptimalkan manfaat klinis harus dengan dosis yang tepat dan
meminimalkan resiko efeksamping terhadap saluran pencernaan. Semua
bifosfonat sedikit diabsorpsi (bioavaibilitas 1-5%).
Efek samping
Efek samping yang terjadi ketika mengkonsumsi biofosfonat yaitu
mual, nyeri abdomen dan dyspepsia (Anonim, 2008).
D

Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMs)


Raloxifene merupakan agonis estrogen pada jaringan tulang tetapi
merupakan

antagonis

pada

payudara

dan

uterus.

Raloxifen

meningkatkan BMD tulang belakang dan pinggul sebesar 2-3% dan


menurunkan fraktur tulang belakang. Fraktur non-vertebral tidak dapat
dicegah dengan raloxifene.
Mekanisme kerja

Raloxifene merupakan reseptor estrogen selektif yang mengurangi


resorpsi tulang dan menurunkan pembengkokan tulang.
Data farmakokinetik
1

Absorpsi
Raloxifene diabsorpsi secara cepat setelah pemberian oral dengan
sekitar 60% dosis oral absorpsi.
Distribusi
Volume distribusi nyata sebesar 2348L/kg dan tidak tergantung
dosis. sekitar 95% raloxifene dan konjugat monoglukoronid

terikat pada protein plasma.


Metabolisme
Raloxifene mengalami metabolisme lintas pertama menjadi
konjugat glukoronid dan tidak dimetabolisme melalui jalur
sitokrom P450.

Ekskresi
Raloxifene terutama diekskresikan pada feses dan urin.

Kontraindikasi
Kontraindikasi pada SERMs ini yaitu pada wanita hamil dan
menyusui. hipersensitif raloxifene (Anonim, 2008).
E Kalsitonin
Mekanisme kerja
Bersama dengan hormon paratiroid, kalsitonin berperan dalam
mengatur homeostasis Ca dan metabolisme Ca tulang. Kalsitonin
dilepaskan dari kelenjar tiroidketika terjadi peningkatan kadar kalsium
serum.
Efek samping
Efek samping yang terjadi ketika mengkonsumsi kalsitonin yaitu
mual, muntah, flushing (Anonim, 2008).
F Estrogen dan terapi hormonal
Mekanisme kerja
Estrogen menurunkan aktivitas osteoklas, menghambat PTH secara
periferal, meningkatkan konsentrasi kalsitriol dan absorpsi kalsium di
usus, dan menurunkan ekskresi kalsium oleh ginjal. Penggunaan

estrogen dalam jangka waktu lamatanpa diimbangi progesteron


meningkatkan risiko kanker endometrium pada wanita yang uterusnya
utuh.
Kontraindikasi
Estrogen ini kontraindikasi dengan wanita hamil dan menyusui,
kanker estrogen-independent (Anonim, 2008).
G Fitoestrogen
Isoflavonoid (protein kedelai) dan lignan (flaxseed) merupakan
bentuk estrogen dimana efeknya terhadap tulang dapat disebabkan
aktivitas agonis reseptor estrogen tulang atau efek terhadap osteoblas
dan osteoklas. beberapa studi isoflavon menggunakan dosis yang lebih
besar dilaporkan dapat menurunkan penanda resorpsi tulang dan sedikit
meningkatkan densitas (Anonim, 2008).
H Testosteron
Penurunan konsentrasi testosteron tampak pada penyakit gonad,
gangguan pencernaan dan terapi glukokortikoid. Berdasarkan penelitian
terapi testosteron ini dapat meningkatkan BMD dan mengurangi
hilangnya massa tulang pada pasien osteoporosis laki-laki (Dipiro et.al ,
2005).
I

Teriparatide
Terapi anabolik ini hanya untuk terapi menjaga dan memelihara
bentuk tulang. Teriparatide merupakan produk rekombinan yang
mewakili 34 asam amino pertama dalam PTH manusia. Teriparatide
meningkatkan formasi tulang, perubahan bentuk tulang dan jumlah
osteoblast beserta aktivitasnya sehingga massa tulang akan meningkat.
Teriparatide disarankan oleh FDA kepada wanita postmenopouse dan
laki-laki yang memiliki resiko tinggi terjadi fraktur. Efikasi dari
teriparatide ini dapat meningkatkan BMD. PTH analog sangat penting
dalam pengelolaan pasien osteoporosis yang memiliki risiko tinggi
patah tulang karena PTH merangsang pembentukan tulang baru.
Kontraindikasi teriparatide ini yaitu pada pasien hiperkalsemia,
penyakit metabolik tulang lainnya dan kanker otot (Dipiro et.al , 2005).

Hasil penelitian terbaru membuktikan bahwa obat teriparatide


berperan lebih baik dibanding alendronate dalam meningkatkan
kepadatan tulang dan mengurangi patah tulang belakang pada pasien
dengan osteoporosis yang diinduksi glukokortikoid (glucocorticoidinduced osteoporosis) (Anonim, 2010).
J

Diuretik Tiazid
Diuretik tiazid meningkatkan reabsorbsi kalsium. Berdasarkan
penelitian pasien yang mengkonsumsi diuretik tiazid memiliki massa
tulang lebih besar dan fraktur yang lebih sedikit. Diuretik tiazid ini
diberikan ketika pasien osteoporosis dengan glukokortikoid yang lebih
besar dari 300mg dari jumlah kalsium yang dikeluarkan dalam urin
selama lebih dari 24 jam (Dipiro et.al , 2005).

2.12

Interaksi Obat
Obat Osteoporosis
Kalsium
Vitamin D
Esterogen

Bisfosfona Tiazid diuretik

Obat Lain
Tiazid diuretik
Triamteren
Verapamil
Fenolbarbital
Fenitoin
Kolesteramin
Kortikosteroid
Antasida
Suplemen Kalsium
Senyawa hipoglikemik

Testosteron

Insulin
Warfarin

Bisphosphonat

Kalsium

DAFTAR PUSTAKA

Interaksi
Eksresi kalsium dalam urin
meningkat
Efek verapamil meningkat
Efek vitamin D menurun
Efek kotikosteroid
meningkat
Absorpsi bisfosfonat
menurun
Efek senyawa hipoglikemik
menurun
Efek insulin meningkat
Efek Warfarin meningkat
Tidak boleh diberikan pada
beberapa pengobatan yang
menggunakan kalsium

Anonim, 2008, ISO Farmakoterapi, Jakarta : PT ISFI Penerbitan.


Dipiro, Joseph T., Talbert , Robert L.,Yee, Gary C., Matzke, Gary R., Wells,
Barbara

G.,

Posey,

L.

Michael.,

2005,

Pharmacotheraphy

Pathophysiologic Approach 1 Fifth Edition, United States of America :


McGraw-Hill Companies, Inc.
Dipiro, J. T., Robert L. T., Gary C. Y., Gary R. M., Barbara G. W., and L. Michael
Posey. 2006. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. Seventh
edition. New York. Mc Graw Hill Medical.
Mulyaningsih, Farida. 2008. Mencegah dan Mengatasi Osteoporosis dengan
Berolahraga. Diakses Tanggal 23 april 2015, Pukul 10.00 WIB
Keputusan Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNomor 1142 / MENKES / SK /
XII / 2008, Tentang Pedoman Pengendalian Osteoporosis Menteri
Kesehatan Republik Indonesia.
Permana, Hikmat. 2009. Patogenesis dan Metabolisme Osteoporosis pada Manula.
Diakses
dari
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/09/patogenesis_dan_met
abolisme_osteoporosis_pada_manula.pdf Tanggal 23 April 2015 Pukul
10.53 WIB.
Trihapsari E., 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit tulang
osteoporosis. FKM. Universitas Indonesia. Jakarta.

PERTANYAAN OSTEOPOROSIS

1. Apakah kaki yang tidak sengaja digerakkan menimbulkan suara itu


pertanda tulang osteoporosi?
2. Dari ketiga kategori osteoporosis ada osteoporosis sekunder yang
disebabkan oleh pengobatan tertentu. jelaskan maksudnya?
3. Jelaskan proses remodeling tulang ?
4. Factor berat badan yang ringan dapat mempengaruhi osteoporosis,
bagaimana dengan orang yan kegemukan (Obesitas)?
5. Maifeststasi klinik jika sering terdengar bunyi pada persendian apa itu
gejala osteoporosis?
6. obat-obatan seperti kortikosteroid, barbiturate kenapa bias terjadi
osteoporosis?
7. Konsumsi Ca yang berlebih akan dibuang kemana?
8. Pada umur berapa pemberhentian pembentukan tulang dan antisipasinya
seperti apa?
9. Pada patofisiologinya terdapat pernyataan yang menyatakan Lebih jarang
mengalami jatuh maksudnya jelaskan?
10. Kebutuhan kalsium tiap anak sampai remaja berapa?
Jawaban
1. Tidak, itu bukan dari suara tulang saat mengerakkan badan mengakibatkan
tulang osteoporosis, melainkan itu suara dari sendi kaki.
2. Beberapa contoh obat-obatan yang dapat menganggu kinerja tulang adalah
obat antasida, yang umum dikenal sebagai obat anti maag. obat ini dapat
menghambat penyerapan kalsium. Penghambatan ini dipicu oleh
magnesium dan aluminium hidroksida yang mampu mengikat kalsium dan
mengubahnya menjadi bentukan baru yang sulit diserap sehingga asupan
kalsium berkurang dan pada penggunaan yang lama dapat menyebabkan
osteoporosis.
3. Dalam tulang itu sendiri terdapat osteosit, sel yang membentuk tulang
(osteoblast), dan yang menghancurkan tulang (osteoclas). jika tulang itu
sudah tua maka harus diganti dengan tulang yang muda karena tulang
yang tua juga menyebabkan muda fraktur, jadi sel tulang tersebut harus
berada dalam keseimbangan dimana tulang tua yang dihancurkan dan

digantikan dengan yang baru untuk mendapatkan tulang yang kuat


menopang tubuh proses ini akan berlangsung terus menerus.
4. Badan yang terlalu kurus dan badan yang terlalu gemuk (obesitas)
memiliki kesamaan dalam hal menobang beban tubuh. pada orang yang
kurus bias saja memiliki asupan kalsium yang sangat rendah karena mal
nutrisi yang terjadi sehingga dapat memicu terjadinya osteoporosis. sama
halnya dengan orang yang badannya terlalu gemuk harus memiliki tulang
yang kuat karena harus menopang semua beban tubuh kita serta lebih
rentan terkena penyakit yang juga dapat memicu osteoporosis dari
penyakit dan obat-obatan, pada umumya orang yang gemuk akan sangat
jarang bergerak atau berolahraga sehingga juga dapat menyebabkan
terjadinya osteoporosis.
5. Untuk obat-obat golongan kortikosteroid, Menyebabkan resorpsi tulang
kalsiumnya dihancurkan, sehingga tidak ada yang diserap dan dapat
mengakibatkan osteoporosis.
6. Kalsium yang dikonsumsi sebagian akan diserap oleh tubuh sebagai
tabung pada tulang-tulang dan sebagian yang kelebihan akan dieksresikan
melalui urin pada umumnya.
7. tulang terus mengalami pertumbuhan hingga pada usia maksimal 20tahun.
antisipasi yang dapat dilakukan berupa perubahan gaya hidup seseorang
dapat dimulai dari mengurangi konsumsi daging merah, minuman bersoda
sifat asamnya dapat melarutkan tulang serta kalsiumnya terganggu,
merokok karena nikotin menghambat pembentukan tulang, minuman
alcohol karena menyebabkan pelarutan tulang, upaya lain yang dapat
dilakukan untuk mencegah osteoporosis adalah pembentukan vitamin D
melalui sinar matahari (sinar UV) yang berperan (tidak lebih dari jam 10
pagi), minum susu berkalsium tinggi atau untuk yang tdak dapat meminum
susu bias mengkonsumsi vitamin pengganti atau memakan makanan
seperti kedelai, keju, brokoli, banyak berolahraga dan gerak .

8. lebih jarang jatuh maksudnya adalah karena pria memiliki struktur tulang
yang lebih kuat, kokoh dan tidak tipis seperti halnya pada wanita sehingga
Kejadiaan osteoporosis lebih rendah pada pria disebabkan oleh puncak
BMD(bone mineral density) yang lebih tinggi, kecepatan hilangnya massa
tulang lebih rendah setelah puncak, hal ini juga yang membuat pria lebih
jarang mengalami jatuh.
9. kebutuhan kalsium tiap orang perharinya
800mg anak dewasa diatas 25tahun
1000mg setelah usia 50tahun
ibu hamil dan menyusui 1200mg
bayi berumur s.d 5bulan 400mg
bayi 6bulan s.d 1 tahun 600mg
anak usia 1 s.d 10tahun 800mg
remaja usia 11 s.d 24 1200mg