Anda di halaman 1dari 16

A.

DASAR TEORI
a.Emulsi
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi
dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok
(DepKes RI, 1979).
Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu:
a.

Komponen dasar

Adalah pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri dari:
o Fase dispers/ fase internal/ fase diskontinue
Yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain.
o Fase kontinue/ fase exsternal/ fase luar
Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi
tersebut.
o Emulgator
Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
b.

Komponen tambahan

Corigen saporis, corigen odoris, corigen colouris, preservative, anti oksidan. (Anonim, 2009).

Jenis emulsi ada 2, yaitu:


a.
Zat yang tak larut (umpamanya minyak) terdispers dalam air. Terdiri dari tetesantetesan minyak yang halus yang melayang dalam air. Emulsi ini dapat diencerkan dengan air
dan disebut emulsi O/W (minyak dalam air).
b.
Air berbentuk tetesan-tetesan terbagi dalam zat yang tidak larut, disebut emulsi tipe
W/O (air dalam minyak).
Dalam praktik kita bagi dalam:
a.
Emulsi alam (emulsi vera), dibuat dari bahan-bahan bakal, dimana terdapat minyak
yang harus diemulsikan bersama emulgatornya atau emulgatornya sudah terdapat dalam biji.
Contoh: emulsi Amygdalae dulces, Semen Lini, Semen Cucurbitae, dan Fructus Canabis.
b.
Emulsi buatan (emulsi spuria), dimana harus ditambahkan emulgator dan air. Contoh:
Oleum Ricini (Duin, 1954).

Ketidakstabilan dalam emulsi farmasi dapat digolongkan sebagai berikut:


a.

Flokulasi dan Creaming

Merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis cairan, dimana masing-masing
lapis mengandung fase dispers yang berbeda.
b.

Koalesen dan pecahnya emulsi (cracking)

Proses cracking bersifat tidak dapat kembali.


c.

Inversi

Peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi M/A ke tipe A/M atau sebaliknya
(Anief, 2000).

Faktor yang memecah emulsi:


a.
Pemecahan emulsi secara kimia, dengan penambahan zat yang mengambil air, seperti
CaCl2 eksikatus dan CaO.
b.

Pemecahan emulsi secara fisika:

o
Kenaikan suhu menyebabkan perubahan viskositas, mengubah sifat emulgator dan
menaikkan benturan butir-butir tetesan.
o Pendinginan menyebabkan terpisahnya air dari sistem emulsi.
o Penambahan granul kasar
o Pengenceran emulsi yang berlebihan
o Penyaringan
o Pemutaran dengan alat sentrifugal
c.

Efek elektrolit terhadap stabilitas emulsi

Faktor- faktor yang mempengaruhi stabilnya emulsi adalah:


a.

Ukuran partikel

b.

Viskositas

c.

Rasio fase volume

d.

Muatan listrik pada lapisan ganda listrik

Pembuatan emulsi:
a.

Metode gom basah (metode Inggris)

Dibuat mucilago yang kental dengan sedikit air lalu ditambahkan minyak sedikit demi sedikit
dengan diaduk cepat.
b.

Metode gom kering

Korpus emulsi dibuat dengan 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian gom, sselanjutnya
sisa air dan bahan lain ditambahkan. Metode ini juga disebut metode 4:2:1.
c.

Metode HLB

Untuk memperoleh efisiensi emulgator perlu diperhatikan sifat-sifat dari emulgator untuk tipe
sistem yang dipilih (Anief, 2007).

b. Potio (larutan)
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut.
Misal : terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang
saling bercampur.
Karena molekul-molekul dalam pelarut terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan
sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki
ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur.
Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan menjadi tipe larutan sebagai berikut:
1. Larutan encer, yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut.
2. Larutan, yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut.
3. Larutan jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut
dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu.
4. Larutan lewat jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi
batas kelarutannya didalam air pada temperature tertentu.
Zat pelarut disebut juga solvent, sedangkan zat yang terlarut disebut solute. Solvent yang
biasa dipakai :
1. Air, untuk macam-macam garam.
2. Spirtus, misalnya untuk kamfer, iodium, menthol.
3. Gliserin, misalnya untuk tanin, zat samak, borax dan fenol.
4. Eter, misalnya untuk kamfer, fosfor dan sublimat.
5. Minyak, misalnya untuk kamfer dan menthol.
6. Parafin, liquidum, untuk cera, cetaceum, minyak-minyak, kamfer, menthol dan
klorbutanol.
7. Eter minyak tanah, untuk minyak-minyak lemak.
B. Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan

1. Sifat dari solute dan solvent


Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Misalnya garam-garam anorganik
larut dalam air. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpoar pula. Misalnya
alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam kloroform.
2. Cosolvensi
Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut
lain atau modifikasi pelarut. Misalnya luminal tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
campuran air dan gliserin atau solutio petit.
3. Kelarutan
Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar larut
memerlukan banyak pelarut. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi
umumnya adalah :
a. Dapat larut dalam air
Semua garam klorida larut, kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2. Semua garam nitrat larut kecuali
nitrat base. Semua garam sulfat larut kecuali BaSO4, PbSO4, CaSO4.
b. Tidak larut dalam air
Semua garam karbonat tidak larut kecuali K2CO3, Na2CO3. Semua oksida dan hidroksida
tidak larut kecuali KOH, NaOH, BaO, Ba(OH)2. semua garam phosfat tidak larut kecuali
K3PO4, Na3PO3.
4. Temperatur
Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat padat tersebut dikatakan
bersifat endoterm, karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas.
Zat terlarut + pelarut + panas larutan.
Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut, zat tersebut
dikatakan bersifat eksoterm, karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas.
Zat terlarut + pelarut larutan + panas
Contoh : KOH dan K2SO4
Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan, misalnya :
a. Zat-zat yang atsiri, Contohnya : Etanol dan minyak atsiri.
b. Zat yang terurai, misalnya : natrium karbonas.
c. Saturatio
d. Senyawa-senyawa kalsium, misalnya : Aqua calsis.
5. Salting Out

Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih
besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau
terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. Contohnya : kelarutan minyak atsiri dalam air
akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.
6. Salting In
Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam
solvent menjadi lebih besar. Contohnya : Riboflavin tidak larut dalam air tetapi larut dalam
larutan yang mengandung Nicotinamida.
7. Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan
zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. Contohnya : Iodium larut dalam larutan
KI atau NaI jenuh.
Kecepatan kelarutan dipengauhi oleh :
1. Ukuran partikel : Makin halus solute, makin kecil ukuran partikel ; makin luas permukaan
solute yang kontak dengan solvent, solute makin cepat larut.
2. Suhu : Umumnya kenaikan suhu menambah kenaikan kelaruta solute.
3. Pengadukan.
C.Macam-Macam Sediaan Larutan Obat
Bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya dibedakan atas :

Larutan oral
Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan
atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran
cosolvent-air.
1. Potiones (obat minum)
Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam (peroral). Selain berbentuk larutan
potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi.
2. Sirup
Ada 3 macam sirup yaitu :
a. Sirup simpleks, mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0,25 % b/v.
b. Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan
digunakan untuk pengobatan.
c. Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain.
Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak.
3. Elixir

Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis,
pengawet, pewarna dan pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai
pelarut digunakan campuran air etanol.
Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat pada elixir dapat pula ditmbahkan
glicerol, sorbitol atau propilenglikol. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup
gula.
4. Netralisasi, saturatio dan potio effervescent.
a. Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian
basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral. Contohnya : solutio citratis magnesici,
amygdalas ammonicus.
b. Saturatio adalah Obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi
gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas.
c. Potio effervescent adalah Saturatio yang CO2 nya lewat jenuh.
5. Guttae (drops)
Guttae / obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan, emulsi atau suspensi, apabila tidak
dinyatakan lain maka dimaksudkan untuk obat dalam.
6.Dll
Larutan topikal
Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut
lain, misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal
pada mukosa mulut. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio. Sediaan-sediaan
termasuk larutan topikal :
1. Collyrium
Adalah sediaan berupa larutan steril, jernih, bebas pirogen, isotonis, digunakan untuk
membersihkan mata. Dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet.
2. Guttae Ophthalmicae
Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan
dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. Tetes mata juga tersedia dalam
bentuk suspensi, partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi
atau goresan pada kornea.
3. Gargarisma
Gargarisma / obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat
yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai
pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. Contohnya : Betadin gargle.
4. Guttae Oris
Tetes mulut adalah Obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih
dahulu dengan air untuk dikumur-kumur, tidak untuk ditelan.

5. Guttae Nasalis
Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat
kedalam rongga hidung, dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar dan pengawet. Minyak
lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa.
6. Inhalation
Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot oleh hidung atau mulut, atau disemprotkan dalam
bentuk kabut kedalam saluran pernafasan. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat
halus sehingga dapat mencapai bronkhioli.
7. Injectiones / Obat suntik
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikan dengan cara
merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.
8. Lavement / Enema / Clysma
Cairan yang pemakaiannya per rectum / colon yang gunanya untuk membersihkan atau
menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik. Enema yang digunakan untuk
membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih feces sebelum operasi, tidak
boleh mengandung zat lendir. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai
karminativa, emolient, diagnostic, sedativa, anthelmintic dan lain-lain.
9. Douche
Adalah larutan dalam air yang dimaksudkan dengan suatu alat kedalam vagina, baik untuk
pengobatan maupun untuk membersihkan. Karena larutan ini mengandung bahan obat atau
antiseptik. Contoh : Betadin Vagina Douche.
10. Epithema / Obat kompres
Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat-tempat yang sakit
dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk
mngeringkan luka bernanah. Contoh : Rivanol.
11. Litus Oris
Oles bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut.
Contoh larutan 10 % Borax dalam gliserin.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata :


Nilai isotonisitas
Pendaparan
Pengawet
Pengental
Pengkhelat

B. RESEP
1.
RUMAH SAKIT CITRA KELUARGA
JL . CIK DITIRO 45 SOLO
(0271) 8889999
28-11-2013
Dokter : dr. cristiano ronaldo
Bagian
Umum/ peg.RS/pend.ruangan
R/ LC. Scoots emulsion sec FMS 50
S S dd 1 C1
Pro : Reno (15 thn)
Resep standar :
Scott ( sec FMS hal 66 )
R/ ol. Iecoris aselli

40

Ol. Cinnamomi

0.1

Pulv. Gom arabici 15


Na. hypophos

0.5

Ca. hypophos

0.5

Glycerin

10

Aqua

34

S 3 dd C

Penimbangan bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Ol. Ic aselli
Ol. Cinnamomi
PGA
Air PGA
Na.hypophos
Ca.hypophos
Glycerin
Aqua

= 40/100,1 x 50 = 20 g
= 0.1/100,1 x 50 = 0,05 g = 2 tetes
= 15/100,1 x 50 = 7,5 g
= 2,5 x 7,3 = 18,75 ml
= 0,5/100,1 x 50 = 0,23 g
= 0,5/100,1 x 50 = 0,23 g
= 10/100,1 x 50 = 4,9 g
= 34/100,1 x 50 = 16,98 g

9. Air panas

= 18,75 17 = 3, 75 g

Cara kerja
1.
2.
3.
4.

Kalibrasi botol
Ol.iecoris aselli masukkan dalam mortir
PGA masukkan dalam mortir aduk ad homogen
Na.hypophospat dan ca.hypophospat masukkan dalam beaker glass + air panas ad
larut , masukkan dalam mortir gerus ad halus dan homogen , sampai terbentuk corpus
emulsi .
5. Dimasukkan glycerin dalam mortir gerus ad homogeny + air sisa
6. Masukkan dalam botol dan beri etiket .

No . 1

APOTEK SEHAT
JL. MOJOSIJI
SIA : 123/12/12
APT. BALE . S.FARM ,APT
tgl. 28-11-2013

Rena
1 x sehari 1 sendok makan

2.
APOTEK SEHAT FARMA
JL. RONGGO WARSITO 78 SOLO
(0271) 774444
APT : ETIKA DEWI S.Si ., Apt
COPY RESEP
Resep dari :dr. emuliana
Dibuat
: AA
Untuk
: Joni
R/ Lot. Kumerfeldi
s. obat jerawat

50

ndet
pcc
etika dwi S.Si ., Apt

Problem resep
-

Sol . hydratis calcii , aqua calcii , air kapur


Rx : Ca (OH)2 + CO2 -> CaCO3 + H20
Harus di saring dulu , sehabis mengambil / menimbang harus di kocok agar tetap
jenuh
Tidak boleh dengan cawan aluminium (logam amfoter) harus dengan beaker glass

Resep standar
Lotio kumerfeldi (sec FMS hal 82)
(aqua cosmetika kumerfeldi)
R/ sul . praec

20

Camphora

Mucil . gum arab 10


Sol. Cal. Hydrat

134

Aqua . rosae

133

s.u.e

Penimbangan bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sulf. Praec
Camphora
PGA
Air PGA
Sol. Calc. hydrat
Aqua rosae

= 20/300 x 50 = 3.3 g
= 3/300 x 50 = 0.3 g
= 10/300 x 50 = 1.6 g
= 1.5 x 1.6 = 2.4 ml
= 134/300 x 50 = 22.3 g
= 133/300 x 50 = 22.16 g

Cara kerja
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kalibrasi botol
Camphora masukkan ke dalam mortir + sp. Fortior q.s ad larut
Sulfur pp + PGA masukkan mortir gerus ad homogen
Aq. calcii masukkan dalam mortir aduk ad homogen
Dimasukkan ke dalam botol + aqua rose
Beri etiket

Etiket
APOTEK SEHAT

No. 02

tgl 28-11-2013

Jeri
Obat jerawat
KOCOK DAHULU
3.

No .03

Dr. Messi Simbolon


Jl. Bernabeu 07
SIP : 0710/11
tanggal 28-11-2013

R/ pot.riveri 100
Adde
Acetaminophen 2
Codein HCL 0,25
S bdd part
Pro : Ny. Megi
Alamat : JL. hidup
Problem resep
1. Berat jenis larutan as. Citrate lebih besar dari larutan bicarbonate natrii , maka larutan
tersebut dapat campur baik dengan cara perlahan lahan tanpa di gojok . dengan
demikian dapat diperoleh sebanyak mungkin CO2 dalam lautan hingga dapat
memenuhi syarat saturasi
2. Larutan harus di campur dalam keadaan dingin pada suhu kamar 1 ml gas CO2 larut
dalam 1 ml air

Resep standar
Potio riveri ( sec PH V hal 354 poin 451 )
R/ as. Sitrat
Air

5
50

Spiritus citri 5
Sirup simplex 25
Na. bikarbonas 6
Air

110

Perhitungan dosis
Dosis penyesuaian untuk codein
I x p = 60 mg
I h = 300 mg
Dosis pemakaian
I x p = x 0,25 = 0,125 g
I h = 2 x 0,125 = 0,25 g
DM (%)
I x p = 0,125 g / 60 mg x 100 = 208,33 %
I h = 0,25 / 300 mg x 100 = 83,33 %
Penurunan dosis
70/208,33 x 0,25 g = 84 mg
Dp
I x p = 84 mg x = 42 mg
I h = 42 x 2 = 84 mg
Dm (%)
I x p = 42/60 x 100 % = 70 %
I h 84 / 300 mg x 100 % = 28 %

Penimbangan bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

As. Citrat
Spiritus citri
Ss
Na.bic
Aqua
Air u/ asam
Air u/ basa
Codein
PCT

5/201 x 100 g = 2,48 g


5/201 x 100 g = 2,48 g
25/201 x 100 g = 12,43 g
6/201 x 100 g = 2,98 g
100 ( 2,48 + 2,48 + 12,43 + 2, 98 )g = 79,63 ml
1/3 x 79,63 mg = 26, 54 ml
2/3 x 79,63 mg = 53, 08 ml
84,013 mg
2 gram

Cara kerja
1. Sediakan air 25 ml

2. Buat larutan asam : larutkan as.sitrat dengan air dalam beaker glass + syr simplex dan
sp. Citri + codein HCL
3. Buat larutan basa
4. Masukkan no. 1 dan no. 2 ke dalam botol
5. 2/3 bagian asam ke dalam botol , goyang-goyangkan
6. 1/3 bagian basa di masukkan botol lewat dinding botol dan langsung di tutup + ikatan
tali d botol
7. Beri etiket
Etiket
APOTEK CR7
JL. RIO DE JANEIRO
SIA :11/12/13
No. 03
tgl 28-11-2013
Ny. Megi
2 x sehari botol
TIDAK BOLEH DI ULANG TANPA
RESEP DOKTER

4.

No.04

APOTEK SEHATI
JL. RUSAK PARAH
(0271) 267626
tgl 28-11-2013

R/ mixt. Anti rheumatic comp 75


s. q dd C II

pro : nelly (17 th)

Problem resep
1. Natrii salisilat dan na.bikarbonat mengandung leburan garam yang mempercepat
oksidasi na. salisilat menjadi warna coklat
2. Solusinya penambahan natrii pyrophospat 0,25% dari jumlah bahan
3. Terjadi penggaraman natrii salisilat dan na. bikarbonat tidak larut bersama

Resep standar

Mixtura anti rheumatic comp ( sec fms hal 21)


R/ na. bikarbonat

10

Na. salicyl

10

Succ. Liq

Aqua menth pip

50

Aqua dest ad

300

S 4 dd C II
Tiap 15 cc mengandung 0,5 g Na. salicyl
Perhitungan dosis
Na. salicyl
Dm
I x p = 17/20 x 2000 mg = 1700 mg
I h = 17/20 x 18000 mg = 15300 mg
Dosis pemakaian
I x p = 2 g x 15ml x 1 x 2,5 g/75 ml = 1 g
Ih=4x1g=4g
Dm %
I x p = 1000/1700mg x 100% = 58,82 %
I h = 4000/15300 x 100 % = 26,14 %
Penimbangan bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Na. salicyl = 10/300 x 75g= 2,5 g


Na. bic = 10/300 x 75g = 2,5 g
Succ. Liq = 5/300 x 75g = 1,25 g
Aq. menth pip = 50/300 x 75 g = 12,5 g
Aqua dest = 75 18,75 = 56 , 25 ml
Natrii phospat = 0,25 % x 75 = 0, 19 g

Cara kerja
1.
2.
3.
4.
Etiket

Kalibrasi botol 75 ml
Masukkan na. bikarbonat masukkan dalam mortir , gerus tuang masukkan dalam botol
Succus liq + sir panas sama banyak ad larut
+ O.M.P dan sisa air sampai tanda batas

APOTEK SEHATI
JL. KEMANA-MANA
APT. FALCAO S.FARM Apt
No.04
28-11-2013
Nelly
4 x sehari 1 sendok makan

PEMBAHASAN
I.

Resep pertama : R/ LC. Scotts Emulsion


1. Kalibrasikan botol
2. Ditimbang ol. Iecoris dan timbang PGA masukkan kedalam mortir
gerus ad homogen
3. Ditimbang Na. Hypophospat dan Ca. Hypophospat masukkan ke dalam
beaker glass tambahkan air panas sebagian aduk ad larut, masukkan ke
dalam mortir gerus ad terbentuk corpus
4. Ditimbang Glycerine masukkan ke dalam mortir gerus ad homogen
dan tambahkan sisa air
5. Tambahkan ol. Cinammomi 2 tetes
6. Masukkan ke dalam wadah botol, dan berikan etiket + KOCOK
DAHULU

II.

Resep kedua : R/ Lot. Kumerfeldi


1. Kalibrasikan botol
2. Ditimbang Camphora masukkan ke dalam mortir + Spiritus Fortior qs
gerus ad larut
3. Ditimbang Sulfur PP dan PGA + air PGA masukkan ke dalam mortir
gerus ad homogen
4. Ditimbang Sol. Calcii masukkan ke dalam mortir gerus ad homogen
5. Masukkan ke dalam botol
6. Tambahkan Aq. Rosae
7. Berikan etiket biru + KOCOK DAHULU

III.

Resep ketiga : R/ Mix. Anti Reumatik


1. Kalibrasikan botol
2. Ditimbang Na. Bikarbonat dan Na. Salicyl masukkan ke dalam mortir
gerus tuang dengan Aqua sebagian masukkan ke botol
3. Ditimbang Succus Liq. + air panas sama banyak ad larut
4. Tambahkan OMP dan sisa Aqua ad tanda batas
5. Berikan etiket + KOCOK DAHULU

IV.

Resep keempat : R/ Potio Riveri


1. Klibrasikan botol
2. Buat larutan asam : timbang As. Citrat, Syr. Symplex, Sp. Citri, dan
Codein HCL dengan air masukkan ke dalam beaker glass.

3. Buat larutan basa : timbang Na. Bikarbonat dan airnya


4. 2/3 bagian asam masukan ke dalam botol, gojog
5. 1/3 bagian basa masukkan ke dalam botol lewat diding botol, langsung
di tutup
6. Berikan etiket + ikatkan dengan tali

KESIMPULAN
Semua Resep dapat dibuat.
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, h.c., 1981 Introduction to pharmaceutical dosage forms, Lea & &
Febiger, Philadelphia.
Farmakope Indonesia edisi III Departemen Kesehatan RI tahun 1979
Farmakope Indonesia edisi IV Departemen Kesehatan RI tahun 1995
Martin, a.n., 1970 Psyhical pharmacy , second edition, Lea & Febiger,
Philadelphia.
Moh. Anief, 1984 Ilmu Farmasi, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Moh. Anief, 1990 Ilmu Meracik Obat, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
Moh. Anef, 1994 Farmasetika, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Sulistio Gan. Dkk, 1981, Farmakologi dan terapi, bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.
Van Duin, c.f Reseptir( terjemahan )

Anda mungkin juga menyukai