Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN
Masalah kesehatan dari penyakit pada tonsil dan adenoid termasuk penyakit yang paling
banyak ditemukan pada populasi umum. Keluhan seperti nyeri tenggorokan, infeksi
saluran pernapasan bagian atas yang sering disertai dengan masalah pada telinga, adalah
jumlah terbesar dari pasien yang datang berkunjung ke pelayanan kesehatan terutama
anak-anak.(1)
Infeksi saluran pernafasan atas pada anak-anak merupakan hal yang paling sering
dijumpai oleh dokter umum.(2) Keluhan-keluhan infeksi saluran pernafasan atas, sakit
tenggorok dan penyakit-penyakit telinga dapat disebabkan oleh karena gangguan dari
tonsil dan adenoid. Cincin Waldeyer yang tersusun dari jaringan limfoid berperan
sebagai daya pertahanan lokal dan surveilen imun.(3) Seperti halnya jaringan limfoid
lain, jaringan limfoid pada cincin Waldeyer menjadi hipertrofi pada masa kanak-kanak.
Pada umur 5 tahun, anak mulai sekolah dan menjadi lebih terbuka kesempatan untuk
mendapat infeksi dari anak yang lain.(2)
Lokasi tonsil pada saluran pernafasan dan pencernaan menyebabkan ia tidak jarang
terkena infeksi/menjadi sarang (fokal) infeksi, serta bisa juga membesar dan
mengganggu proses menelan/pernafasan(4), sehingga tonsilitis kronis tanpa diragukan
merupakan penyakit yang paling sering dari semua penyakit tenggorokan yang
berulang.(5)
Radang kronis yang terjadi pada tonsil ini dapat menimbulkan komplikasikomplikasi baik komplikasi ke daerah sekitar atau pun komplikasi jauh.(6) Pengobatan
pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil.(5)

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tonsil
Tonsil merupakan suatu akumulasi dari limfonoduli permanen yang letaknya di bawah
epitel yang telah terorganisir sebagai suatu organ.(7) Pada tonsil terdapat epitel
permukaan yang ditunjang oleh jaringan ikat retikuler dan kapsel jaringan ikat serta
kriptus di dalamnya.(7,8)
Berdasarkan lokasinya, tonsil dibagi menjadi :(7)
1. Tonsilla lingualis, terletak pada radix linguae.
2. Tonsilla palatina (tonsil), terletak pada isthmus faucium antara arcus
glossopalatinus dsan arcus glossopharingicus.
3. Tonsilla pharingica (adenoid), terletak pada dinding dorsal dari nasofaring.
4. Tonsilla tubaria, terletak pada bagian lateral nasofaring di sekitar ostium tuba
auditiva.
5. Plaques dari Peyer (tonsil perut), terletak pada ileum.
Dari kelima macam tonsil tersebut, tonsilla lingualis, tonsilla palatina, tonsilla
pharingica dan tonsilla tubaria membentuk cincin jaringan limfe pada pintu masuk
saluran nafas dan saluran pencernaan. Cincin ini dikenal dengan nama cincin Waldeyer.
(2,7,8)

Kumpulan jaringan ini melindungi anak terhadap infeksi melalui udara dan

makanan. Jaringan limfe pada cincin Waldeyer menjadi hipertrofi fisiologis pada masa
kanak-kanak, adenoid pada umur 3 tahun dan tonsil pada usia 5 tahun, dan kemudian
menjadi atrofi pada masa pubertas.(2,9)
Jaringan limfoid pada Cincin Waldeyer berperan penting pada awal kehidupan, yaitu
sebagai daya pertahanan lokal yang setiap saat berhubungan dengan agen dari luar
(makan, minum, bernafas), dan sebagai surveilen imun. Fungsi ini didukung secara
anatomis dimana di daerah faring terjadi tikungan jalannya material yang melewatinya
disamping itu bentuknya tidak datar, sehingga terjadi turbulensi khususnya udara
pernafasan. Dengan demikian kesempatan kontak berbagai agen yang ikut dalam proses
fisiologis tersebut pada permukaan penyusun cincin Waldeyer itu semakin besar.(3)

Palatum molle
Uvula
Arkus Anterior
Arkus Posterior
Tonsil

Gambar 2.1 Penampang Kavum Oris


2.1.1 Embriologi Tonsilla Palatina
Perluasan ke lateral dari kantong faringeal kedua diserap dan bagian dorsalnya tetap ada
dan menjadi epitel tonsilla palatina. Pilar tonsil berasal dari arcus branchial kedua dan
ketiga. Kripte tonsillar pertama terbentuk pada usia kehamilan 12 minggu dan kapsul
terbentuk pada usia kehamilan 20 minggu.(10)
2.1.2 Anatomi Tonsilla Palatina
Tonsilla palatina adalah dua massa jaringan limfoid berbentuk ovoid yang terletak pada
dinding lateral orofaring dalam fossa tonsillaris. Tiap tonsilla ditutupi membran mukosa
dan permukaan medialnya yang bebas menonjol kedalam faring. Permukaannnya
tampak berlubang-lubang kecil yang berjalan ke dalam cryptae tonsillares yang
berjumlah 6-20 kripte. Pada bagian atas permukaan medial tonsilla terdapat sebuah
celah intratonsil dalam. Permukaan lateral tonsilla ditutupi selapis jaringan fibrosa yang
disebut capsula tonsilla palatina, terletak berdekatan dengan tonsilla lingualis.(9,10,11)
Adapun struktur yang terdapat disekitar tonsilla palatina adalah :(9,10)
1. Anterior : arcus palatoglossus
2. Posterior : arcus palatopharyngeus
3. Superior : palatum mole
4. Inferior : 1/3 posterior lidah
5. Medial : ruang orofaring
6. Lateral : kapsul dipisahkan oleh m. constrictor pharyngis superior oleh jaringan
areolar longgar. A. carotis interna terletan 2,5 cm dibelakang dan lateral tonsilla.
2.1.3 Vaskularisasi
3

Arteri terutama masuk melalui polus caudalis, tapi juga bisa melalui polus cranialis.
Melalui polus caudalis : rr. tonsillaris a. dorsalis linguae, a. palatina ascendens dan a.
facialis. Melalui polus cranialis : rr. tonsillaris a. pharyngica ascendens dan a. palatina
minor. Semua cabang-cabang tersebut merupakan cabang dari a. carotis eksterna.
Darah venous dari tonsil terutama dibawa oleh r. tonsillaris v. lingualis dan di sekitar
kapsula tonsillaris membentuk pleksus venosus yang mempunyai hubungan dengan
pleksus pharyngealis. Vena paratonsillaris dari palatum mole menuju ke bawah lewat
pada bagian atas tonsillar bed untuk menuangkan isinya ke dalam pleksus pharyngealis.
Cairan limfe dituangkan ke lnn. submaxillaris, lnn. cervicalis superficialis dan
sebagian besar ke lnn. cervicalis profundus superior terutama pada limfonodi yang
terdapat di dorsal angulus mandibular (lnn. tonsillaris). Nodus paling penting pada
kelompok ini adalah nodus jugulodigastricus yang terletak di bawah dan belakang
angulus mandibulae.(4,9,11)
2.1.4 Innervasi
Innervasi terutama dilayani oleh n. IX (glossopharyngeus) dan juga oleh n. palatina
minor (cabang ganglion sphenopalatina). Pemotongan pada n. IX menyebabkan
anestesia pada semua bagian tonsil (Dandy).(4,11)
2.1.5 Imunologi
Tonsil merupakan organ yang unik karena keterlibatannya dalam pembentukan imunitas
lokal dan pertahanan imunitas tubuh. Limfosit B berproliferasi di germinal center.
Imunoglobulin (Ig G, A, M, D), komponen komplemen, interferon, lisosim dan sitokin
berakumulasi di jaringan tonsillar. Infeksi bakterial kronis pada tonsil akan
menyebabkan terjadinya antibodi lokal, perubahan rasio sel B dan sel T. (10,11)
Efek dari adenotonsilektomi terhadap integritas imunitas seseorang masih
diperdebatkan. Pernah dilaporkan adanya penurunan produksi Imunoglobulin A
nasofaring terhadap vaksin polio setelah adenoidektomi atau adanya peningkatan kasusu
Hodgkins limfoma. (1) Namun bagaimanapun peran tonsil masih tetap kontroversial dan
sekarang ini belum terbukti adanya efek imunologis dari tonsilektomi.(10,11)
2.2 Tonsilitis Kronis

2.2.1 Definisi
Keradangan kronis yang mengenai seluruh jaringan tonsil yang pada umumnya sering
didahului oleh suatu keradangan di bagian tubuh lain, seperti misal sinusitis, rhinitis,
infeksi umum seperti morbili, dan sebagainya.(12)
Tonsilis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak jarang
tonsil tampak sehat. Tapi tidak jarang keadaan tonsil diluar serangan membesar disertai
dengan hiperemi ringan yang mengenai pilar anterior dan bila tonsil ditekan keluar
detritus.(13)
2.2.2 Etiologi
Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penyelidikan dari Commission on
Acute Respiration Disease yang bekerja sama dengan Surgeon General of the Army,
dimana dari 169 kasus didapatkan :
-

25 % disebabkan oleh Streptokokus hemolitikus yang pada masa


penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum
penderita.

25 % disebabkan oleh Streptokokus lain yang tidak menunjukkan kenaikan titer


Sreptokokus antibodi dalam serum penderita.

Sisanya adalah Pneumokokus, Stafilokokus, Hemofilus influensa.(12)

Ada pula yang menyebutkan etiologi terjadinya tonsilitis sebagai berikut :(10)
1. Streptokokus hemolitikus Grup A
2. Hemofilus influensa
3. Streptokokus pneumonia
4. Stafilokokus (dengan dehidrasi, antibiotika)
5. Tuberkulosis (pada immunocompromise)
2.2.3 Faktor Predisposisi
1.

Rangsangan kronis (rokok, makanan)

2.

Higiene mulut yang buruk

3.

Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah-ubah)

4.

Alergi (iritasi kronis dari alergen)

5.

Keadaan umum (gizi jelek, kelelahan fisik)

6.

Pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.(6,12,14)

2.2.4 Patologi
Proses keradangan dimulai pada satu atau kebih kripte tonsil. Karena proses radang
berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses
penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan
mengerut sehingga kripte akan melebar. Secara klinis kripte ini akan tampak diisi oleh
detritus (epitel yang mati, sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripte
berupa eksudat berwarna kekuning-kuningan). Proses ini meluas hingga menembus
kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fossa tonsillaris. Pada
anak, proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar submandibula.(6,12,14)
2.2.5 Manifestasi Klinis
Pasien mengeluh ada penghalang di tenggorokan, terasa kering dan pernafasan berbau,
rasa sakit terus menerus pada kerongkongan dan sakit waktu menelan.(6,12,14)
Pada pemeriksaan, terdapat 2 macam gambaran tonsil yang mungkin tampak :
1.

Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan


sekitar, kripte yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau
seperti keju.

2.

Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang seperti


terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripte yang melebar
dan ditutupi eksudat yang purulen.(5,12)

Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak


antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil,
maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi :
T0 : Tonsil masuk di dalam fossa
T1 : <25 % volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T2 : 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring(11)

Gambar Gradasi pembesaran tonsil


2.2.6 Diagnosis
1. Anamnesa
Anamnesa ini merupakan hal yang sangat penting, karena hampir 50 % diagnosa
dapat ditegakkan dari anamnesa saja. Penderita sering datang dengan keluhan
rasa sakit pada tenggorok yang terus menerus, sakit waktu menelan, nafas bau
busuk, malaise, sakit pada sendi, kadang-kadang ada demam dan nyeri pada
leher.(6,12,14)
2. Pemeriksaan Fisik
Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian
kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kriptakripta tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu bahan seperti
keju/dempul amat banyak terlihat pada kripta. Gambaran klinis yang lain yang
sering adalah dari tonsil yang kecil, biasanya membuat lekukan dan seringkali
dianggap sebagai kuburan dimana tepinya hiperemis dan sejumlah kecil sekret
purulen yang tipis terlihat pada kripta.(5,12)
3. Pemeriksaan Penunjang

Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil. Biakan
swab sering menghasilkan beberapa macam kuman dengan derajat keganasan
yang rendah, seperti Streptokokus hemolitikus, Streptokokus viridans,
Stafilokokus, Pneumokokus.(12,14)
2.2.7 Diagnosa Banding
Diagnosa banding dari tonsilitis kronis adalah:
1. Penyakit-penyakit yang disertai dengan pembentukan pseudomembran yang
menutupi tonsil (tonsilitis membranosa)
a. Tonsilitis difteri
Disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua orang
yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada
titer antitoksin dalam darah. Titer antitoksin sebesar 0,03 sat/cc darah
dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Gejalanya terbagi
menjadi 3 golongan besar, umum, lokal dan gejala akibat eksotoksin.
Gejala umum sama seperti gejala infeksi lain, yaitu demam subfebris,
nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat dan keluhan
nyeri menelan. Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak
ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan
membentuk pseudomembran yang melekat erat pada dasarnya sehingga
bila diangkat akan mudah berdarah. Gejala akibat eksotoksin dapat
menimbulkan kerusakan jaringan tubuh, misalnya pada jantung dapat
terjadi miokarditis sampai dekompensasi kordis, pada saraf kranial dapat
menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot pernafasan dan pada
ginjal dapat menimbulkan albuminuria.
b. Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa)
Gejala yang timbul adalah demam tinggi (39C), nyeri di mulut, gigi dan
kepala, sakit tenggorok, badan lemah, gusi mudah berdarah dan
hipersalivasi. Pada pemeriksaan tampak membran putih keabuan di
tonsil, uvula, dinding faring, gusi dan prosesus alveolaris. Mukosa mulut
dan faring hiperemis. Mulut berbau
submandibula membesar.

(foetor ex ore) dan kelenjar

c. Mononukleosis Infeksiosa
Terjadi tonsilofaringitis ulseromembranosa bilateral. Membran semu
yang menutup ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan, terdapat
pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak dan regio inguinal. Gambaran
darah khas, yaitu terdapat leukosit mononukleosis dalam jumlah besar.
Tanda khas yang lain adalah kesanggupan serum pasien untuk
beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (Reaksi Paul Bunnel).
2. Penyakit kronik faring granulomatus
a. Faringitis tuberkulosa
Merupakan proses sekunder dari TBC paru. Keadaan umum pasien buruk
karena anoreksi dan odinofagi. Pasien mengeluh nyeri hebat di
tenggorok, nyeri di telinga (otalgia) dan pembesaran kelenjar limfa leher.
b. Faringitis luetika
Gambaran klinis tergantung dari stadium penyakit primer, sekunder atau
tersier. Pada penyakit ini dapat terjadi ulserasi superfisial yang sembuh
disertai pembentukan jaringan ikat. Sekuele dari gumma bisa
mengakibatkan perforasi palatum mole dan pilar tonsil.
c. Lepra
Penyakit ini dapat menimbulkan nodul atau ulserasi pada faring
kemudian menyembuh dan disertai dengan kehilangan jaringan yang luas
dan timbulnya jaringan ikat.
d. Aktinomikosis faring
Terjadi akibat pembengkakan mukosa yang tidak luas, tidak nyeri, bisa
mengalami

ulseasi

dan

proses

supuratif.

Blastomikosis

dapat

mengakibatkan ulserasi faring yang ireguler, superfisial, dengan dasar


jaringan granulasi yang lunak.
Penyakit-penyakit diatas, keluhan umumnya berhubungan dengan nyeri tenggorok
dan kesulitan menelan. Diagnosa pasti berdasarkan pada pemeriksaan serologi, hapusan
jaringan/kultur, X ray dan biopsi.(6,14)
2.2.8 Komplikasi

Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar
atau secara hematogen/limfogen ke organ yang jauh dari tonsil.(6,13,14,15)
1. Komplikasi sekitar tonsil
a. Peritonsilitis
Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus
dan abses.
b. Abses Peritonsilar (Quinsy)
Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber
infeksi berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi,
menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.
c. Abses Parafaringeal
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah
bening/pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus
paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, mastoid dan os petrosus.
d. Abses retrofaring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi
pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih
berisi kelenjar limfe.
e. Krista Tonsil
Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan
fibrosa dan ini menimbulkan krista berupa tonjolan pada tonsil berwarna
putih/berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel.
f. Tonsilolith (kalkulus dari tonsil)
Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan
tonsil membentuk bahan keras seperti kapur.
2. Komplikasi ke organ jauh
a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik
b. Glomerulonefritis
c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis
d. Psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura
e. Artritis dan fibrositis

10

2.2.9 Penatalaksanaan
Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil.
Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana penatalaksanaan medis atau yang
konservatif gagal untuk meringankan gejala-gejala. Penatalaksanaan medis termasuk
pemberian penisilin yang lama, irigasi tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk
membersihkan kripta tonsillaris dengan alat irigasi gigi/oral. Ukuran jaringan tonsil
tidak mempunyai hubungan dengan infeksi kronis/berulang.(5)
Tonsilektomi merupakan suatu prosedur pembedahan yang diusulkan oleh Celsus
dalam De Medicina (10 Masehi), tindakan ini juga merupakan tindakan pembedahan
yang pertama kali didokumentasikan oleh Lague dari Rheims (1757).(10)
Indikasi untuk dilakukan tonsilektomi yaitu (1)

Obstruksi :
- Hiperplasia tonsil dengan obstruksi.
- Sleep apnea atau gangguan tidur.
- Kegagalan untuk bernafas.
- Corpulmonale.
- Gangguan menelan.
- Gangguan bicara.
- Kelainan orofacial / dental yang menyebabkan jalan nafas sempit.

Infeksi
- Tonsilitis kronika / sering berulang.
- Tonsilitis dengan :
+ Absces peritonsilar.
+ Absces kelenjar limfe leher.
+ Obstruksi Akut jalan nafas.
+ Penyakit gangguan klep jantung.
- Tonsilitis yang persisten dengan :
+ Sakit tenggorok yang persisten.
- Tonsilolithiasis Carrier Streptococcus yang tidak respon terhadap terapi.
- Otitis Media Kronika yang berulang.

Neoplasia atau suspek neoplasia benigna / maligna.

11

Indikasi tonsilektomi secara garis besar terbagi 2, yaitu :


1. Indikasi absolut
a. Tonsilitis akut/kronis berulang-ulang
b. Abses peritonsillar
c. Karier Difteri
d. Hipertrofi tonsil yang menutup jalan nafas dan jalan makanan
e. Biopsi untuk menentukan kemungkinan keganasan
f. Cor Pulmonale
2. Indikasi relatif
a. Rinitis berulang-ulang
b. Ngorok (snoring) dan bernafas melalui mulut
c. Cervical adenopathy
d. Adenitis TBC
e. Penyakit-penyakit sistemik karena Streptokokus hemolitikus: demam
rematik. Penyakit jantung rematik, nefritis, dll.
f. Radang saluran nafas atas berulang-ulang
g. Pertumbuhan badan kurang baik
h. Tonsil besar
i. Sakit tenggorokan berulang-ulang
j. Sakit telinga berulang-ulang

Secara umum dapat disebutkan indikasi tonsilektomi adalah:


1. Infeksi berulang : 3 kali dalam setahun selama 3 tahun, 5 kali setahun selama 2
tahun, 7 kali atau lebih dalam setahun atau tidak masuk kerja/sekolah lebih dari
2 minggu dalam 1 tahun karena penyakitnya itu.
2. Hipertrofi sehingga menyebabkan obstruksi saluran nafas atas (obstruksi,sleep
apnea)
3. Abses peritonsilar
4. Kemungkinan keganasan, baik pembesaran unilateral atau mencari sumber
primer yang tidak dikeahui

12

5. Hipertrofi yang menyebabkan masalah pencernaan


6. Tonsilitis rekuren yang menyebabkan kejang demam
7. Karier difteri
Sedangkan kontraindikasi dari tonsilektomi adalah :
1. Kontraindikasi relatif
a.

Palatoschizis

b.

Radang akut, termasuk tonsilitis

c.

Poliomyelitis epidemica

d.

Umur kurang dari 3 tahun

2. Kontraindikasi absolut
a.

Diskariasis darah, leukemia, purpura, anemia aplastik, hemofilia

b.

Penyakit sistemis yang tidak terkontrol : DM, penyakit jantung, dan


sebagainya.(2,5,6,10,16)

13

BAB 3
LAPORAN KASUS
I.

Identitas Penderita
Nama

: Kadek Rizki Setia Andika

Umur

: 10 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Hindu

Pendidikan

: Sekolah dasar

Alamat

: Br. Semu Singapadu, Gianyar

Pemeriksaan

: 10 Januari 2012

II. Anamnesis
Autoanamnesis
Keluhan Utama : Terasa mengganjal di tenggorokkan.
Penderita datang dalam keadaan sadar, mengeluh rasa mengganjal pada
tenggorokannya sejak 2 minggu yang lalu. Rasa mengganjal tersebut dirasakannya
terus menerus. Pasien juga mengeluh bahwa tenggorokkannya terasa sakit yang
bertambah berat bila pasien menelan. Selama sakit pasien merasa tenggorokkannya
terasa kering. Keluhan batuk, pilek dan panas badan tidak ada. Gangguan suara,
sesak nafas, jantung berdebar-debar, serta nyeri persendian tidak ada. Riwayat gusi
mudah berdarah disangkal oleh penderita.
Riwayat makan makanan pedas, sering minum air es dan merokok disangkal oleh
pasien.
Riwayat Penyakit Sebelumnya
Sebelumnya pasien sering mengalami keluhan yang sama sebelumnya (+ 4 kali
dalam setahun) selama 3 tahun terakhir.
Riwayat Pengobatan
Sebelumnya penderita sering mengalami keluhan yang serupa, dan sempat berobat
ke dokter spesialis THT 1 tahun yang lalu. Saat itu penderita diberikan
antibiotika namun penderita mengaku tidak teratur meminumnya.

14

Riwayat Penyakit yang Sama dalam Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit yang sama seperti yang dialami
pasien.
Riwayat Sosial dan Lingkungan
Pasien memiliki sosial ekonomi yang cukup.
Keluhan Tambahan :
Telinga
Sekret
Tumor
Sakit
Tinitus
Tuli
Corp.

Kanan
-

Alienum

Kiri
-

Hidung
Sekret
Tumor
Sakit
Pilek
Tersumbat
Corp.

Kanan
-

Kiri
-

Tenggorok
Riak
Tumor
Sakit
Sesak
Gg. suara
Batuk

+
-

Corp.

Alienum
Alienum

III. Pemeriksaan Fisik


Vital Sign
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80x/menit

Respirasi

: 18x/menit

Temperatur

: 36,7C

Berat badan

: 25 kg

Status General :
Kepala

: Normocephali

Muka

: Simetris, parese nervus fasialis -/

Mata

: Anemis -/-, ikterus -/-, reflek pupil +/+ isokor

THT

: Sesuai status lokalis

Leher

: Kaku kuduk (-)


Pembesaran kelenjar limfe -/-

15

Pembesaran kelenjar parotis -/Kelenjar tiroid (-)


Thorak

Cor

: S1S2 tunggal, reguler, murmur

Po

: Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wh -/-

Abdomen

: Distensi (-), BU (+) N, hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas

: dalam batas normal

Status lokalis THT :


Telinga

Kanan

Kiri

Daun telinga

Liang telinga

lapang

lapang

intak

intak

Tumor

Mastoid

Discharge
Membran timpani

Tes pendengaran :
Suara bisik

tidak dilakukan

Weber

tidak ada lateralisasi

Rinne

Schwabach

Tes alat keseimbangan


Hidung

tidak dilakukan

Kanan

Kiri

Hidung luar

Cavum nasi

lapang

Septum

lapang
deviasi tidak ada

Discharge

tidak ada

Mukosa

merah muda

Tumor
Concha
Sinus

tidak ada
merah muda
-

dekongesti

dekongesti

nyeri tekan tidak ada

16

Choana

Tenggorokan :
Dispneu

:-

Sianosis

:-

Mukosa

: merah muda

Dinding belakang faring

: normal

Suara

: tidak ada kelainan

Tonsil :

Kanan

Kiri

Pembesaran

T3

T3

Hiperemis

Permukaan mukosa

tidak rata

tidak rata

Kripte

melebar

melebar

Detritus

Fiksasi

IV. Resume
Penderita seorang laki-laki, berumur 10 tahun, Hindu, Bali, datang dengan keluhan
rasa mengganjal di tenggorokan sejak 2 minggu yang lalu disertai rasa sakit
terutama saat menelan, rasa kering ditenggorokan. Riwayat penyakit yang sama
sebelumnya (+) dan sering kumat-kumatan (4 kali dalam setahun). Sebelumnya
penderita sempat berobat ke dokter spesialis THT 1 tahun yang lalu dan diberikan
antibiotika namun penderita tidak meminumnya dengan teratur.
Status lokalis THT :
Tonsil

Kanan

Kiri

Pembesaran

T3

T3

Hiperemis

Permukaan mukosa

tidak rata

tidak rata

Kripte

melebar

melebar

Detritus

Fiksasi

17

V. Diagnosis Diferensial
1.

Tonsilitis Kronis

2.

Tonsilitis Difteri

3.

Angina Plaut Vincent (stomatitis ulceromembranosa)

4.

Mononukleosis Infeksiosa

5.

Tonsilitis Akut

VI. Diagnosis
Tonsilitis kronis
VII. Usulan Pemeriksaan
Biakan swab tenggorok dan tes kepekaan kuman (sensitivity test)
VIII. Rencana Terapi

Medikamentosa :
1. Erytromosin 3 x 500 mg
2. Vitamin C 1 x 500 mg

Tonsilektomy saat fase tenang (bebas infeksi)

IX. Prognosis
Dubius ad Bonam

18

BAB 4
PEMBAHASAN
Dari kasus didapatkan penderita seorang laki-laki, berumur 10 tahun, Hindu, Bali,
datang dengan keluhan rasa mengganjal di tenggorokan sejak 2 minggu yang lalu
disertai rasa sakit terutama saat menelan, rasa kering ditenggorokan. Riwayat penyakit
yang sama sebelumnya (+) dan sering kumat-kumatan (4 kali dalam setahun) selama 3
tahun terakhir. Riwayat pengobatan dengan antibiotika yang tidak teratur.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan adanya pembesaran tonsil T3/T3 yang
hiperemis, permukaan tidak rata dan pelebaran kripte pada kedua tonsil.
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik diatas, pasien didiagnosa sebagai tonsilitis
kronis. Tidak adanya pseudomembran yang mudah berdarah saat diangkat, dan kelainan
otot seperti miokarditis atau kelumpuhan otot napas, dapat menyingkirkan diagnosa
tonsilitis difteri. Untuk membedakan dengan Angina Plaut Vincent dilakukan
pemeriksaan higiene mulut. Dimana biasanya pada Angina Plaut Vincent, higiene mulut
penderita buruk yang dapat berupa gigi dan gusi yang mudah berdarah, hiperemis pada
mukosa mulut dan faring, mulut berbau dan pembesaran kelenjar submandibula. Pada
penderita ini hal tersebut tidak ditemukan sehingga diagnosa Angina Plaut Vincent
dapat disingkirkan. Pada mononukleosis infeksiosa keluhan disertai pembesaran
kelenjar limfe leher, ketiak dan regio inguional. Serta gambaran darah yang khas berupa
adanya leukosit mononukleosis dalam jumlah besar, serta kemampuan serum penderita
untuk beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (reaksi Paul Bunnel). Pada
penderita hal tersebut diatas tidak ditemukan, sehingga diagnosis Mononukleosis
infeksiosa dapat disingkirkan. Riwayat kejadian yang berulang pada anamnesis, dan
ditemukannya kripte yang melebar pada pemeriksaan fisik menunjukan proses yang
kronis.
Terapi yang direncanakan untuk penderita ini adalah tonsilektomi. Hal ini sesuai
dengan indikasinya, yaitu infeksi berulang 4 kali dalam setahun dalam 3 tahun terakhir,
dan hipertrofi tonsil hingga menimbulkan keluhan mengganjal dan dirasa mengganggu.
Penderita ini belum dapat dilakukan tonsilektomi karena sedang berada dalam keadaan
infeksi/eksarsebasi. Oleh karena itu penderita diterapi dulu dengan antibiotik untuk
mengobati infeksi dan vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita. Pada

19

pasien ini diusulkan pemeriksaan swab tenggorok dan tes kepekaan kuman sehingga
dapat diberikan antibiotika sesuai dengan sensitivitas kuman yang ditemukan.
Bila kondisi pasien sudah dalam fase tenang dapat dilakukan tindakan
tonsilektomi. Untuk tindakan operatif ini perlu diberikan KIE yang jelas kepada
penderita, dan bila setuju untuk dilakukan tindakan, maka perlu dilakukan pemeriksaan
lab dan dikonsulkan ke anestesi.

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Brodsky, L & Poje, C (2001). Tonsillitis, Tonsillectomy, and Adenoidectomy. Dalam
: Bailey, BJ. Head & Neck Surgery Otolaryngology, Vol 1, third ed. Lippincott
Milliams & Wilkins.
2. Pracy, R. et al (1974) Pelajaran Ringkas THT, penerbit PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
3. Sudana, W., Indikasi Tonsiloadenoidektomi, Lab/UPF THT FK UNUD RSUP,
Denpasar.
4. Karmaya, N.M.; Sana, I.G.N.P. & Sukardi, E. (1979), Tonsilla Palatina, Anatomi,
Pertumbuhan dan Perkembangannya, dalam : Masna, P.W. (ed) Tonsilla Palatina dan
Permasalahannya, FK UNUD, Denpasar
5. Adams, G.L. (1997), Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring,dalam Harjanto,
E. dkk (ed) Boies Buku Ajar Penyakit THT, edisi ke6, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
6. Rusmarjono & Soepardi, E.A. (2001), Penyakit Serta Kelainan Faring dan Tonsil,
dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, FKUI,
Jakarta.
7. Wirawan, S. & Puthra, I.G.A.G. (1979), Arti Fungsionil dari Elemen-elemen
Histologis Tonsil, dalam : Masna, P.W. (ed) Tonsilla Palatina dan Permasalahannya,
FK UNUD, Denpasar..
8. Rusmarjono & Kartosoediro, S. (2001), Odinofagi, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, FKUI, Jakarta
9. Snell, R.S. (1991) Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran, bagian 3, edisi 3,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
10. Anonim (2003) The Oral Cavity, Pharynx & Esophagus dalam Lee, K.J. (eds)
Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, McGraw Hill Medical Publishing
Division, USA.
11. Masna, P.W., Tonsilitis, Tonsilektomi dan Adenoidektomi, Lab/UPF THT FK
UNUD RSUP, Denpasar
12. Oka, I.B. (1979), Tonsillitis, dalam : Masna, P.W. (ed) Tonsilla Palatina dan
Permasalahannya, FK UNUD, Denpasar.

21

13. Masna, P.W. (1992) Tonsilitis Kronis, dalam Pedoman Diagnosa dan terapi Ilmu
Penyakit THT RSUP Denpasar, Lab/UPF THT FK UNUD RSUP, Denpasar.
14. Mansjoer, A. dkk (2001) Kapita Selekta Kedokteran, edisi ke3, Jilid pertama,
penerbit Media Aesculapius, FKUI, Jakarta.
15. Suardana, W. (1979), Komplikasi Peradangan Menahun Tonsil, dalam : Masna, P.W.
(ed) Tonsilla Palatina dan Permasalahannya, FK UNUD, Denpasar.
16. Masna, P.W. (1979), Tonsillectomy & Adenoidectomy, dalam : Masna, P.W. (ed)
Tonsilla Palatina dan Permasalahannya, FK UNUD, Denpasar.

22

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul Tonsilitis
Kronis ini tepat pada waktunya.
Laporan kasus ini dibuat sebagai prasyarat untuk menyelesaikan KKM di
LAB/UPF Telinga Hidung Tenggorok FK UNUD/RS Sanglah Denpasar.
Dalam penyusunan laporan kasus ini, penulis memperoleh banyak bimbingan,
petunjuk dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. dr. I Wayan Suardana, Sp.THT selaku kepala Lab/UPF Ilmu Penyakit
THT FK UNUD RS Sanglah Denpasar
2. dr. Putu Wirya Masna, Sp.THT selaku pembimbing dalam menyusun laporan
kasus di Lab/UPF Ilmu Penyakit THT FK UNUD RS Sanglah Denpasar
3. Semua pihak yang telah membantu pembuatan makalah ini yang tidak dapat
disebutkan satu per satu, atas segala dukungan dan bantuan yang telah diberikan
kepada penulis dalam penyusunan laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa dalam laporan kasus ini masih banyak terdapat
kekurangan, sehingga kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan
laporan kasus ini.

Denpasar, September 2005


Penulis

TONSILITIS KRONIS

Oleh
Su Djie To Rante (0002005038)
Ni Made Puspa Dewi Astawa (0002005099)

Pembimbing
dr. Putu Wirya Masna, Sp.THT

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


MADYA LAB/UPF TELINGA HIDUNG TENGGOROK
FK UNUD/RS SANGLAH
DENPASAR
2005