Anda di halaman 1dari 104

INSTALASI TEGANGAN MENENGAH

TUGAS II

Di ketahui suatu instalasi tegangan menengah dengan data sebagai berikut:

1. PABRIK
Data pada LVMDP terdiri dari 4 kelompok:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kelompok 1 = 300 KVA


Kelompok 2 = 100 KVA
Kelompok 3 = 75 KVA
Kelompok 4 = 250 KVA
Kelompok 5 = 200 KVA
Kelompok 6 = 150 KVA (beban prioritas tidak boleh padam)

Note : Jarak pabrik terhadap jaringan SUTM yang ada adalah 200m & Genset 65%

2. PERUMAHAN
1. 30 Rumah type 75 dengan daya 2200 VA / 220 V
2. 25 Rumah type 45 dengan daya 1300 VA / 220 V
3. 20 Rumah type 36 dengan daya 900 VA / 220 V
Note : Jarak rumah terjauh terhadap GTT adalah 150 m dan jarak ke SUTM adalah
250 m. Perumahan di supplay oleh GTT tersendiri
3. Penerangan Jalan Umum (PJU)
a. Penerangan jalan menuju pabrik :
1. Lebar jalan 12 m
2. Kuat penerangan yang di minta 12 lux
3. Panjang 400 meter
4. Single side
5. Sumber ikut GTT
b. Penerangan jalan perumahan :
6. Lebar jalan 8 m
7. Kuat penerangan yang di minta 12 lux
8. Panjang 200 meter
9. Single side
10. Sumber ikut GTT

Instalasi Tegangan Menengah

Page 1

PERENCANAAN INSTALASI DAN INVESTASI PROYEK BANGUNAN TUGAS


II

Instalasi Tegangan Menengah

Page 2

BAGIAN I
PERENCANAAN PABRIK

A. Menentukan Daya Terpasang dan Daya Kontrak PLN


Daya lampu tersebut di tambahkan pada beban kelompok 1 data dari panel
LVMDP, sehingga data pada panel LVMDP sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kelompok 1 = 300 KVA


Kelompok 2 = 100 KVA
Kelompok 3 = 75 KVA
Kelompok 4 = 250 KVA
Kelompok 5 = 200 KVA
Kelompok 6 = 150 KVA (beban prioritas tidak boleh padam)

Total daya adalah : 300 + 100 + 75 + 250 + 200 + 150 = 1075 kVA
Perencanaan daya terpasang bertujuan untuk penghematan atau menghindari
kontrak langganan daya dari PLN yang berlebihan, dan juga merencanakan besar daya
yang mungkin di pakai, sebab pada kenyataannya tidak mungkin semua beban pada
system di pakai semua secara bersamaan.
Untuk pemakaian sekarang dan juga untuk menunjang masa depan, system ini
mengacu pada jenis bangunan PABRIK INDUSTRI MAKANAN dengan factor
kebutuhan sebagai berikut 0,7 - 0,9. Besar factor kebutuhan pada system ini di
asumsikan sebesar 0,8. Sehingga perhitungan untuk menentukan kebutuhan beban
maksimum yaitu:
Kebutuhan beban maksimum = 0,8 x 1075 kVA = 860 kVA
Di sini di asumsikan bahwa daya tersebut adalah factor kapasitas sebesar 80%, maka
untuk menunjang kebutuhan sekarang dan juga masa depan sehingga perlu di
tambahkan daya cadangan pada system ini. Perencanaan system ini menambahkan
cadangan sebesar 20%, sehingga di rumuskan sebagai berikut:
Kapasitas daya terpasang = kebutuhan beban max + cadangan
Cadangan = 20% x 860 kVA = 172 kVA
Kapasitas daya terpasang = 860 + 172 = 1032 KVA
Berdasarkan perencanaan Daya terpasang tersebut, sehingga langkah selanjutnya yaitu
mencocokan dengan TDL (table Daya dari PLN). Maka dapat di ketahui besar
langganan yang harus di kontrak.
System ini berlangganan PLN 1040 kVA, dengan alasan sebagai berikut:
Langganan di bawah acuan, sebesar 970 kVA. Sehingga mempunyai selisih
sebesar 62 kVA. Prosentase rugi sebesar 6 %
Instalasi Tegangan Menengah

Page 3

Untuk langganan di atas acuan, sebesar 1110 kVA. Mempunyai selisih sebesar
74,16 kVA. Sehingga prosentase rugi sebesar 7,2 %
Oleh sebab itu system ini berlangganan 1040 kVA
B. Pemilihan Trafo
Untuk menentukan besarnya kapasitas transformator yang di pilih hendaknya
mengetahui kebutuhan daya maksimm maupun daya terpasang dari sebuah instalasi /
system instalasi.
System ini di bagi menjadi 6 kelompok, dari keterangan penghitungan di atas.
System ini mempunyai total beban maksimum sebesar 1032 kVA dengan
menggunakan factor kebutuhan sebesar 0,8. Dan kapasitas daya terpasang sebesar
1040 kVA
Pada keadaan tersebut kerja dari belitan trafo dianggap hanya 80%, karena trafo di
Negara asal pembuatnya dirancang atau didesain dengan kondisi 4 musim sedangkan
di Indonesia hanya terdapat 2 musim yang menyebabkan pendinginan trafo tidak
merata. Selain itu factor kebutuhan beban juga diperhitungkan.
Hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan kapasitas daya dari trafo yaitu:
1.

Load factor

: yaitu perbandingan antara beban rata-

rata dalam suatu jangka waktu tertentu dengan beban maksimum dalam jangka
waktu tersebut, yaitu:

Load factor(f )

2)

Diversity Factor (F )
Diversity atau ke tak serempakan merupakan perbandingan antara jumlah seluruh
beban maksimum dari setiap bagian system dengan beban max dari seluruh
system sebagai suatu kelompok beban

Diversity Factor :
3)

Coincidence Factor :
Yaitu factor keserempakan beban yang nilainya dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut:

Instalasi Tegangan Menengah

Page 4

Coincidence Factor (F ):
4)

Demand Factor :
Demand factor atau factor kebutuhan didefinisikan sebagai perbandingan
antara daya terpakai maksimum dengan daya yang disambung, yaitu:

f =

x 100%

dimana

= Demand Factor (factor kebutuhan).

Pmax

= Daya terpakai maksimum.

Pinst

= daya tersambung.

Selain itu kita harus memperhitungkan pertumbuhan beban atau melonjakknya


kebutuhan tenaga listrik, dan pada umumnya di Indonesia kita harus meramalkan hal
tersebut sampai 5 tahun mendatang, untuk konsumen komersil dalam hal ini kalangan
industri, peramalan kebutuhan beban didapat menurut permintaan dari konsumen
industri tersebut.
Dalam perencanaan ini mengacu pada metode Demand Factor (factor kebutuhan)
dengan memperhatikan pertimbangan di atas sehingga di dapat daya trafo sebesar
1040 KVA.
Karena di pasaran trafo dengan daya sebesar 1040 KVA tidak tersedia, sehingga daya
trafo yang di pilih di atas dari kapasitas daya terpasang pada system ini yaitu sebesar
1250 kVA.
Berdasarkan peraturan yang ada dengan daya trafo di atas 200 kVA adalah trafo milik
pelanggan, sehingga trafo yang di gunakan adalah trafo milik pelanggan karena rugirugi trafo di tanggung oleh pelanggan.
Trafo distribusi di Indonesia umumnya pada sisi tegangan tinggi menggunakan 20 kv
dan sisi tegangan rendah sebesar 220/380 v. Trafo yang di pilih pada system ini sisi
tegangan rendahnya sebesar 400 V.
Pada trafo tenaga, variasi tegangan yang di perbolehkan adalah 5% sehingga trafo
harus di lengkapi dengan tap-changer.
Instalasi Tegangan Menengah

Page 5

Untuk pemilihan kelas isolasi, kelas isolasi yang di pilih adalah 24 kv. Hal ini
bertujuan apabila surja datang dari saluran trafo yang serentak tiga fasa, trafo akan
tetap aman. Karena kemungkinan titik netral trafo yang di ketanahkan mengalami
tekanan yang berbahaya, oleh karena itu kelas isolasi yang di pilih berdasarkan
tegangan primer trafo yaitu 20 kv dengan BIL 150 kv.
Supaya pemilihan trafo lebih maksimal maka sebelum memilih trafo yang akan di
gunakan harus membandingkan antara trafo merk satu dengan yang lainya, sistem ini
membandingkan 3 merk terkenal product trafo dari Indonesia maupun luar Indonesia.
Sehingga trafo yang di pilih memiliki spesifikasi minimal sebagai berikut:
Trafo 1

Daya Trafo

1250 KVA

Merk

Trafindo

Jumlah fase

Tiga

Frekuensi pengenal

50 HZ

Teg primer pengenal :

20KV

Teg sekunder pengenal


(beban nol)

0,4 KV

No load Losses
: 2500 W
Load Losses
: 15000 W
Total Losses
: 17500 W
Untuk keterangan yang lebih detail, bisa di lihat pada lampiran katalog trafo Trafindo
Trafo 2

Daya Trafo

1250 KVA

Merk

Schneider Minera

Jumlah fase

Tiga

Frekuensi pengenal

50 HZ

Teg primer pengenal :

20KV

Teg sekunder pengenal


(beban nol)

C. No load Losses
D. Load Losses
E. Total Losses

0,4 KV

: 1350 W
: 13500 W
: 17000 W

Untuk keterangan yang lebih detail, bisa di lihat pada lampiran katalog trafo Schneider
Instalasi Tegangan Menengah

Page 6

Maka dipilih trafo : Schneider


Dengan pertimbangan losses yang lebih rendah.

Instalasi Tegangan Menengah

Page 7

C. PERENCANAAN GARDU DISTRIBUSI


1. Perhitungan Celah Ventilasi
Dalam kerjanya transformator tidak lepas dari kerugian salah satunya adalah panas,
panas yang berlebihan pada trafo dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan antara
lain :
1)

Drop tegangan.

2)

Pemanasan pada minyak trafo yang berlebihan, sehingga menyebabkan


turunnya kualitas minyak trafo yang dapat mengakibatkan tegangan tembus
minyak trafo turun.

Sehingga dalam kerjanya trafo menuntut sistem pendinginan yang baik, oleh karena
itu sistem pendinginannya harus mempunyai kinerja yang baik, dari berbagai macam faktor
yang mempengaruhi pendinginan salah satunya adalah sirkulasi udara, karena dalam
perencanaan ini trafo yang digunakan diletakkan dalam ruangan (indoor).Untuk itu kita harus
menghitung seberapa besar celah ventilasi yang dibutuhkan agar sirkulasi udara dapat berjalan
dengan baik.

Menurut PUIL 1977 celah minimal suatu ventilasi trafo adalah 20cm KVA terpasang,
dengan perhitungan sebagai berikut:
Celah ventilasi pada trafo dihitung pada saat load losses pada suhu 65 oC dengan losses
sebesar 13000 Watt = 13 KW hal tersebut dapat dilihat pada data trafo.
Data lain yang diketahui adalah sebagai berikut:
1)

Temperatur udara masuk(t1) 20oC

2)

Temperatur udara keluar (t2) 35oC

3)

Koefisiensi muai udara

4)

Tinggi ruangan = 4 meter.

Dengan data diatas dapat dicari volume udara yang dibutuhkan untuk mensirkulasi
panas adalah sebagai berikut:

V=

860 Pv
1116(t 2t 1 )

x (1 at1)

Instalasi Tegangan Menengah

Page 8

dimana:
Pv = rugi trafo (Kw)
t1 = temperatur udara masuk (oC)
t2 = temperatur udara keluar (oC)
= koefisien muai udara
H = ketinggian ruangan (m)

sehingga:

V = 0,668 0,10162

Kemampuan pemanasan udara yang mengalir disepanjang tangki trafo adalah

dimana:
H=ketinggian (m)
= koefisien tahanan aliran udara
Koefisien tahanan aliran udara berbeda-beda tergantung pada kondisi daripada tempat
diletakkannya trafo itu sendiri.
Kondisi tempat
Sederhana
Instalasi Tegangan Menengah

4.....6
Page 9

Sedang

7.....9

Baik

9.....10
(jaringan konsen)>20

Apabila kondisi tempat dimisalkan adalah sedang maka = 9.


Sehingga:

Maka dapat kita hitung celah ventilasi sebagai berikut:

qc (penampang celah udara yang masuk) :

qc

: 1,287

Karena udara yang keluar memiliki temperatur yang lebih tinggi daripada udara yang
masuk yang diakibatkan proses pendinginan trafo dalam ruangan sehingga terjadi pemuaian
maka ventilasi udara keluar yang dibutuhkan harus lebih besar daripada celah ventilasi udara
masuk, dengan kata lain:

Sehingga:

Instalasi Tegangan Menengah

Page 10

Nilai perhitungan diatas adalah nilai minimum, sehingga pemakaian ventilasi udara di
lapangan bisa memakai ukuran yang lebih besar dari ukuran perhitungan diatas.
Maka digunakan 2 buah ventilasi di bagian atas depan dengan ukuran
60 cm x 400 cm = 24000 cm2
Dan satu buah dibagian bawah dekat trafo
50 x 300 = 15000 cm2.
Ventilasi diberi pelindung agar tidak ada benda atau hewan yang dapat masuk dari luar
2.

Penghitungan sangkar Faraday

Medan listrik berpengaruh dan berbahaya bagi pekerja yang bekerja pada atau dekat
sekali dengan bagian dari jaringan yang bertegangan. Pekerja dapat mempergunakan
perlindungan untuk hal tersebut seperti sangkar faraday dimana kuat medan listrik didalam
pelindung konduktor ini merupakan fungsi dari derajat perlindungannya.
Sangkar pelindung terbuat dari bahan konduktor dan beberapa tahun yang lalu Faraday
telah menunjukkan bahwa kuat medan listrik didalam sangkar adalah nol (0) bila sangkar
berbentuk kotak penuh. Namun jika sangkar tersebut berbentuk kotak penuh sehingga pekerja
didalamnya bebas terhadap medan listrik, maka hal ini tidak dapat dipakai untuk bekerja.
Perlindungan terhadap medan ini hanya dilakukan oleh sangkar yang hanya berbentuk
setengah kotak atau sangkar yang tidak berbentuk kotak penuh, tergantung pada derajat
perlindungan yang kita inginkan.
Dalam perhitungan ini yang perlu diperhatikan adalah system pengaman dari sisi TR
maupun TT pada trafo. Sesuai dengan catalog yang ada jarak aman sisi tegangan tinggi adalah
= 500 mm dengan perkiraan panjang tangan manusia sekitar kurang lebih 500 mm. Sehingga
dapat terhitung sangkar faraday sesuai dengan dimensi trafo yang digunakan.
Dimensi trafo yang digunakan dengan data sebagai berikut :
Panjang (L)
: 1800 mm
Lebar (W)
: 1150 mm
Tinggi (H)
: 1350 mm
Sehingga diperoleh dimensi sangkar faraday terpasang sebagai berikut :
Panjang

:
:

(jarak aman trafo+panjang tangan manusia) x 2 + panjang trafo


( 500 + 500 ) x 2 + 1800 mm

Instalasi Tegangan Menengah

Page 11

Lebar

Tinggi

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

2000 + 1800 mm
3800 mm.
(jarak aman trafo+panjang tangan manusia) x 2 + lebar trafo
(500 + 500) x 2 + 1150 mm
2000 + 1150 mm
3150 mm, dibulatkan menjadi 3200 mm
(jarak aman trafo dengan atap) + tinggi trafo
1000 mm + 1350 mm
3350 mm
3350 mm, dibulatkan menjadi 3400 mm.

Nilai penghitunga dimensi sangkar faraday di atas adalah nilai minimal, untuk
pemasangan di lapangan bisa lebih besar dari penghitungan di atas.

Instalasi Tegangan Menengah

Page 12

D. Penghitungan & Pemilihan Kabel dan Busbar

Kabel sisi out going MVMDP (kubikel pelanggan) menuju primer trafo:

In =

S
3 .20 KV

1250 KVA
3 . 20 KV

= 36,084 A

KHA = 125% x 36,084 A = 45,105 A


Berdasarkan referensi PUIL 2000 pada Tabel 7.3-9a1
Bahwa KHA terus menerus untuk tiga kabel tanah berinti tunggal, berpenghantar
tembaga berisolasi XLPE, berpelindung bebat tembaga serta berselubung PVC dengan
tegangan pengenal 3,6/6 kV (7,2 kV), 6/10 kV (12 kV), 8,7/15 kV (17,5 kV), 12/20 kV (24
kV), 15/30 kV (36 kV) yang dipasang sejajar pada suatu sistem fase tiga pada suhu keliling
30C dan suhu udara 70C, sehingga kabel yang di gunakan adalah N2XSY.
Karena jenis kabel pada penghantar jenis N2XSY minimal 35mm2 Maka di dapat luas
penampang kabel sebesar 35mm2 dengan KHA secara umum 233 A (KHA pada table). KHA
tersebut masih belum memperhatikan factor suhu ruangan dan juga factor penempatan kabel.
namun pada kenyataannya factor-faktor tersebut tidak dapat di hindari di lapangan. Untuk
menangani hal tersebut, maka pemilihan kabel harus memperhatikan factor suhu ruangan dan
juga factor penempatan kabel seperti di bawah ini.
Factor suhu
PVC pada suhu keliling 30C dengan suhu penghantar maksimum 70C. tetapi suhu
menggunakan 35C sehingga factor koreksi sebesar KHA = 0,94% x 233 = 219,02 A
KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di katakana
kabel masih aman.
Factor penempatan
Karena pada dasarnya factor penempatan kabel juga mempengaruhi besar kecilnya KHA yang
di miliki kabel, sehingga factor penempatan kabel perlu di perhatikan.

Instalasi Tegangan Menengah

Page 13

maka kabel ini mempunyai factor koreksi sebesar 0,77 karena hanya ditempatkan 3 buah
penghantar berinti 1. Sehingga penghitungan KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 0,77 x 216,2 A = 168,64 A masih memenuhi dengan KHA yang di rekomendasikan.

Dengan perhitungan drop tegangan


Drop tegangan =
U=

I l 3
x A

U=

36,084 8 3
56 35

U =0,255 V
Sedang drop trafo max sisi sekunder dibuat 1,8 %
U =20000 0.018

U =360V
Maka dikatakan aman
Sehingga kabel yang di pilih untuk sisi out going kubikel pelanggan menuju primer trafo
adalah
Supreme N2XSY, 1 (1 x 35 mm2 )/phase

Kabel sisi sekunder trafo menuju LVMDP:

In =

S
3 . 400 V

1250 KVA
3 . 400V

= 1804,22 A

KHA = 125% x1804,22 A = 2255,27 A


Sesuai katalog maka di pilih luas penampang sebagai berikut:
150 mm2 ->430 A =

2255,27 A
430 A

= 5,24 (jumlah kabel) jumlah kabel yang di ambil

6 (hal ini bertujuan untuk menyiasati adanya factor suhu dan juga factor penempatan
kabel yang mempengaruhi KHA kabel), kabel yang di gunakanberinti 1.
Maka KHA sesungguhnya adalah ->6 x 430 A = 2580 A

Instalasi Tegangan Menengah

Page 14

Factor suhu
Suhu sekitar diperkirakan mencapai 35C. sehingga factor koreksi yang di miliki kabel
ini adalah 0,94 %. Maka di dapat KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 0,94% x 2580 A = 2425,2 A
KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di
katakan kabel masih aman.

Factor penempatan
Kabel memiliki faktor koreksi sebesar 0,88 Sehingga penghitungan KHA baru
kabel ini sebagai berikut:
KHA = 0,88 x 2425,2 A = 2134,176 A
KHA di atas masih memenehi KHA kabel yang di rekomendasikan, sehingga kabel
yang di pilih pada system ini sebagai berikut:
Supreme NYY, 6 (1 x 150 mm2) / P dan
Supreme NYY, 3 (1 x 150 mm2) / N
BC = 50 mm2
Dan busbar yang digunakan pada sisi income pengaman utama adalah
Legrand, 4 (75 x 5 )mm/ phase
Legrand, 2 (75 x 5 )mm/Netral

Kabel dari tiang TM menuju kubikel PLN:


Untuk kabel dari tiang TM yang akan di tarik ke kubikel PLN menggunakan kabel
tanah N2XSEFGBY dengan ukuran 35 mm2 dengan jumlah inti 3 (3 core).

Kabel dari kubikel PLN menuju kubikel pelanggan:


Untuk kabel dari kubikel PLN menuju kubikel pelanggan menggunakan kabel udara
N2XSY (1 x 35 mm2 )/Phase

Kabel menuju beban kelompok 1:

In =

S
3 . 400 V

300 KVA
3 . 380V

= 455,8 A

KHA = 125% x 455,8 A = 569,75 A


Sesuai Katalog maka di pilih luas penampang sebagai berikut:
Instalasi Tegangan Menengah

Page 15

95 mm ->320 A =

569,75 A
320 A

= 1,78 (jumlah kabel) jumlah kabel yang di ambil 2

(hal ini bertujuan untuk menyiasati adanya factor suhu dan juga factor penempatan
kabel yang mempengaruhi KHA kabel), kabel yang di gunakan berinti 1.
Maka KHA sesungguhnya adalah ->2 x 320 A = 640 A

Factor Koreksi
Bahwa Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal
berisolasi PVC pada suhu keliling 30C dengan suhu penghantar maksimum 70C dan
penempatan trefoil. sehingga factor koreksi yang di miliki kabel ini adalah 88%. Maka
di dapat KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 88% x 640 A = 563,2 A
KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di
katakana kabel masih aman.
Maka kabel yang di gunakan pada beban kelompok 1, adalah sebagai berikut:
Supreme NYY 2 (1 x 95 mm2)/phase
Supreme NYY 1(1 x 95 mm2)/netral
Dan Busbar yang digunakan pada pengaman cabang 1 adalah:
Legrand, 1 (50 x 5) mm/phase
Legrand , 1 (25 x 5) mm/netral

Kabel menuju beban kelompok 2:

In =

S
3 . 400 V

100 KVA
3 . 380V

= 151,93 A

KHA = 125% x 151,93 A = 189,92A


Berdasarkan katalog maka di pilih luas penampang sebagai berikut:
70 mm2 ->260 A berjumlah 1 penghantar.
Factor Koreksi
Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal berisolasi PVC
pada suhu keliling 30C dengan suhu penghantar maksimum 70C yang dipasang
posisi trefoil 3 fasa. sehingga factor koreksi yang di miliki kabel ini adalah 88%. Maka
di dapat KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 88% x 197,51 A = 173,8 A
Instalasi Tegangan Menengah

Page 16

KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di
katakana kabel masih aman.
Maka kabel yang di gunakan pada beban kelompok 2, adalah sebagai berikut:
Supreme NYY 1(1 x 70 mm2 )/phase
Supreme NYY 1(1 x 35 mm2 )/netral
Dan busbar yang digunakan di pengaman cabang 2 adalah:
Legrand,1 ( 15 x 4 )mm/ phase
Legrand,1 (12 x 2 )mm/ netral

Kabel menuju beban kelompok 3:

In =

S
3 . 400 V

75 KVA
3 . 380V

= 113,95 A

KHA = 125% x 113,95 A = 142,44 A


Berdasarkan katalog maka di pilih luas penampang sebagai berikut:
35 mm2 ->170 A. Jumlah kabel yang digunakan berjumlah 1 buah.
Factor Koreksi
Bahwa Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal
berisolasi PVC pada suhu keliling 30C dengan suhu penghantar maksimum 70C dan
pemasangan trefoil posisition. sehingga factor koreksi yang di miliki kabel ini adalah
88%. Maka di dapat KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 88% x 142,44 A = 125,34 A
KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di
katakana kabel masih aman.
Maka kabel yang di gunakan pada beban kelompok 3, adalah sebagai berikut:
Supreme NYY 1(1 x 35 mm2 )/phase
Supreme NYY 1(1 x 16 mm2 )/netral
Dan busbar yang digunakan di pengaman cabang 2 adalah:
Legrand,1 ( 12 x 4 )mm/ phase
Legrand,1 (12 x 2 )mm/ netral

Kabel menuju beban kelompok 4:

In =

S
3 . 400 V

250 KVA
3 . 380V

= 379,85 A

KHA = 125% x 379,85 A = 474,79 A


Instalasi Tegangan Menengah

Page 17

Berdasarkan katalog maka di pilih luas penampang sebagai berikut:


185 mm2 ->490 A kabel yang di gunakan berjumlah 1 dan berinti 1.
Factor suhu
Bahwa Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal
berisolasi PVC pada suhu keliling 30C dengan suhu penghantar maksimum 70C dan
pemasangan trefoil posisition. sehingga factor koreksi yang di miliki kabel ini adalah
88%. Maka di dapat KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 88% x 474,79 A = 431,2 A
KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di
katakana kabel masih aman.
Maka kabel yang di gunakan pada beban kelompok 4, adalah sebagai berikut:
Supreme NYY 1(1 x 185 mm2 )/phase
Supreme NYY 1(1 x 95 mm2 )/netral
Dan busbar yang digunakan di pengaman cabang 4 adalah:
Legrand,1 ( 50 x 5 )mm/ phase dengan KHA : 700 A
Legrand,1 (25 x 5 )mm/ netral dengan KHA 330 A

Kabel menuju beban kelompok 5:

In =

S
3 . 400 V

200 KVA
3 . 380V

= 303,87 A

KHA = 125% x 303,87 A = 379,83 A


Berdasarkan katalog maka di pilih luas penampang sebagai berikut:
150 mm2 ->430 A kabel yang di gunakan berjumlah 1 dan berinti 1.
Factor suhu
Bahwa Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal
berisolasi PVC pada suhu keliling 30C dengan suhu penghantar maksimum 70C dan
pemasangan trefoil posisition. sehingga factor koreksi yang di miliki kabel ini adalah
88%. Maka di dapat KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 88% x 430 A = 378,4 A
KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di
katakana kabel masih aman.
Maka kabel yang di gunakan pada beban kelompok 5, adalah sebagai berikut:
Supreme NYY 1(1 x 150 mm2 )/phase
Supreme NYY 1(1 x 70 mm2 )/netral
Instalasi Tegangan Menengah

Page 18

Dan busbar yang digunakan di pengaman cabang 5 adalah:


Legrand,1 ( 32 x 5 )mm/ phase dengan KHA : 450 A
Legrand,1 (18 x 4 )mm/ netral dengan KHA 250 A

Kabel menuju beban kelompok 6:

In =

S
3 . 400 V

150 KVA
3 . 380V

= 227,9 A

KHA = 125% x 227,9 A = 284,88 A


Berdasarkan katalog maka di pilih luas penampang sebagai berikut:
95 mm2 ->320 A kabel yang di gunakan berjumlah 1 dan berinti 1.
Factor suhu
Bahwa Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal
berisolasi PVC pada suhu keliling 30C dengan suhu penghantar maksimum 70C dan
pemasangan trefoil posisition. sehingga factor koreksi yang di miliki kabel ini adalah
88%. Maka di dapat KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 88% x 320 A = 281,6 A
KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di
katakana kabel masih aman.
Maka kabel yang di gunakan pada beban kelompok 6, adalah sebagai berikut:
Supreme NYY 1(1 x 95 mm2 )/phase
Supreme NYY 1(1 x 50 mm2 )/netral
Dan busbar yang digunakan di pengaman cabang 5 adalah:
Legrand,1 ( 25 x 5 )mm/ phase dengan KHA : 330 A
Legrand,1 (12 x 4 )mm/ netral dengan KHA 160 A

Instalasi Tegangan Menengah

Page 19

Instalasi Tegangan Menengah

Page 20

E. Menentukan Pengaman Utama dan Pengaman Cabang


a. Penentuan Arus Pengaman
Pengaman Utama
S
1250 KVA
a. In = 3 . 400 V =
3 . 0,4 = 1804,22A
b. KHA = 125% x 1804,22 A = 2255,27 A
c. FK = 0,8 x 1804,22 A = 1443,376 A
d. Maks = 250% x 1804,22 A = 4510,55 A
Bedasarkan data diatas maka dipilih penaman dengan spesifikasi :
ACB dengan arus pengaman 1600 A
Pengaman Cabang 1
S
300 KVA
a. In = 3 . 400 V = 3 .0,38 = 455,8A
b. KHA = 125% x 455,8A = 569,75 A
c. FK = 0,8 x 455,8A = 364,64 A
d. Maks = 250% x 455,8A = 1139,5 A
Bedasarkan data diatas maka dipilih penaman dengan spesifikasi :
MCCB dengan arus pengaman 400 A
Pengaman Cabang 2
S
100 KVA
a. In = 3 . 400 V = 3. 0,38 = 151,93A
b. KHA = 125% x 151,93A = 189,92 A
c. FK = 0,8 x 151,93A = 121,544 A
d. Maks = 250% x 151,93A = 379,825A
Bedasarkan data diatas maka dipilih penaman dengan spesifikasi :
MCCB dengan arus pengaman 125 A

Pengaman Cabang 3
S
75 KVA
a. In = 3 . 400 V = 3 . 0,38

= 113,95 A

b. KHA = 125% x 113,95 A = 142,44 A


c. FK = 0,8 x 113,95 A = 91,16 A
d. Maks = 250% x 113,95 A = 284,875 A
Bedasarkan data diatas maka dipilih penaman dengan spesifikasi :
MCCB dengan arus pengaman 100 A

Pengaman Cabang 4
S
250 KVA
a. In = 3 . 400 V = 3 .0,38

= 379,83 A

b. KHA = 125% x 379,83 A = 474,7875 A


c. FK = 0,8 x 379,83 A = 303,864 A
d. Maks = 250% x 379,83 A = 949,575 A
Instalasi Tegangan Menengah

Page 21

Bedasarkan data diatas maka dipilih penaman dengan spesifikasi :


MCCB dengan arus pengaman 320 A
Pengaman Cabang 5
S
200 KVA
a. In = 3 . 400 V = 3 .0,38 = 303,87 A
b. KHA = 125% x 303,87 A = 379,84 A
c. FK = 0,8 x 303,87 A = 243,095 A
d. Maks = 250% x 303,87 A = 759,675 A
Bedasarkan data diatas maka dipilih penaman dengan spesifikasi :
MCCB compact NS 250 dengan arus pengaman 250 A
Pengaman Cabang 6
S
150 KVA
a. In = 3 . 400 V = 3. 0,38 = 227,9 A
b. KHA = 125% x 227,9 A = 284,88 A
c. FK = 0,8 x 227,9 A = 182,3 A
d. Maks = 250% x 227,9 A = 569,75 A
Bedasarkan data diatas maka dipilih penaman dengan spesifikasi :
MCCB dengan arus pengaman 200 A
b. Penghitungan arus hubung singkat
JARINGAN SISI ATAS
Di ketahui :
Psc
= 500 < 81,3o MVA
U0
= 400 V
2
U0
4002
Z1
= P
= 500 MV = 0,32 m
sc

= 81,3 o

cos 81,3 o

= 0,15

sin 81,3 o

= 0,988

R1
R1
X1
X1

= Z1 .cos . 10-3
= 0,32 x 0,15 x 10-3 = 0,048
= Z1 .sin . 10-3
= 0,32 x 0,988 x 10-3 = 0,316

TRAFO
Di ketahui :
S

R2 =

= 1250 KVA ; Usc = 6%

U = 400 V ;

Wc x U 0 2 x 103
S2

Instalasi Tegangan Menengah

Page 22

Wc

= 13500 W

17000 x 4002 x 103


12502

R2 =
Z 2=

Usc U 2
x
100 S

Z 2=

6
400
x
100 1250

= 1,74

Z 2=7,68

X2 =

7,6821,742

= 7,48

X2= 7,48

KABEL SEKUNDER TRAFO


L = 15m

cu = 22,5

Xtembaga = 56,2 x 106 A = 150 mm2

Ukuran kabel = NYY 6 x (1 x 150 mm2) / P


L
R3 = A

22,5 x

( 6 x15150 )

= 0,375

X3 = 0,08 x 15 = 1,2
BUSBAR sisi sekunder trafo menuju pemutus daya
L = 0,5 m , A = 75 x 5 mm , cu = 22,5
L
0,5
22,5 x
R4 = A =
75 x 5 x 4 = 0,0075
Karena luas penampangnya lebih dari 240 mm2 maka diabaikan.
X4 = 0,15 x L = 0,15 x 0,5 = 0,075
ARUS HUBUNG SINGKAT 1( pada pengaman Utama(M1))
U0
Isc = 3 R 2 + X 2
t1

t1

Rt1 = 0,048 + 1,38 + 0,375 = 1,8


Xt1 = 0,316 + 7,48 + 1,2 + 0,075 = 9,071
400
Isc = 3 1,82 +9,0712 = 24,97 kA
BUSBAR keluaran pemutus daya menuju busbar system
L = 0,5 m , A = 75 x 5 mm , cu = 22,5

Instalasi Tegangan Menengah

Page 23

L
R4 = A

22,5 x

0,5
75 x 5 x 4

= 0,0075

Karena luas penampangnya lebih dari 240 mm2 maka diabaikan.


X4 = 0,15 x L = 0,15 x 0,5 = 0,075

BUSBAR system
L = 1 m , A = 75 x 5 mm , cu = 22,5
L
R4 = A

22,5 x

1
75 x 5 x 4

= 0,015

Karena luas penampangnya lebih dari 240 mm2 maka diabaikan.


X4 = 0,15 x L = 0,15 x 1 = 0,15

BUSBAR kelompok 1
L = 0,5m , A = 250 mm2 , cu = 22,5
L
0,5
22,5 x
R7 = A =
250 = 0,045
X7= 0,15 x L = 0,15 x 0,5 = 0,075
ARUS HUBUNG SINGKAT 2 ( pada M2)
U0
Isc = 3 R 2 + X 2
t2

t2

Rt2 = 1,8 + 0,045 + 0,015 =1,86


Xt2 = 9,071+ 0,075 + 0,15 + 0,075 = 9,371
400
Isc = 3 1,862 +9,3712 = 24,17 kA
BUSBAR kelompok 2
L = 0,5m , A = 60 mm2 , cu = 22,5
L
0,5
22,5 x
R8 = A =
60 = 0,1875
X8= 0,15 x L = 0,15 x 0,5 = 0,075
ARUS HUBUNG SINGKAT 3 ( pada M3)
U0
Isc = 3 R 2 + X 2
t3

t3

Instalasi Tegangan Menengah

Page 24

Rt3 = 1,8 + 0,015+0,1875 = 2,0025


Xt3 = 9,071+ 0,075 + 0,15 + 0,075 = 9,371
400
Isc = 3 2,00252+ 9,3712 = 24,1 kA
BUSBAR kelompok 3
L = 0,5m , A = 48 mm2 , cu = 22,5
l
0,5
22,5 x
R9 = A =
48 = 0,234
X9= 0,15 x L = 0,15 x 0,5 = 0,075
ARUS HUBUNG SINGKAT 4 ( pada M4)
U0
Isc = 3 R 2 + X 2
t3

t3

Rt4 = 1,8 + 0,015+0,234=2 ,049


Xt4 = 9,071 + 0,075 + 0,15 + 0,075 = 9,371
400
Isc = 3 2 ,049 2+ 9,3712 = 24,07 kA
BUSBAR kelompok 4
L = 0,5m , A = 250 mm2 , cu = 22,5
l
0,5
22,5 x
R10 = A =
250 = 0,045
X10= 0,15 x L = 0,15 x 0,5 = 0,075

ARUS HUBUNG SINGKAT 5 ( pada M5)


U0
Isc = 3 R 2 + X 2
t3

t3

Rt5 = 1,8 + 0,015+0,045 = 1,86


Xt5 = 9,071 + 0,075 + 0,15 + 0,075 = 9,371
400
Isc = 3 1,862 +9,3712 = 24,17 kA
BUSBAR kelompok 5
L = 0,5m , A = 160 mm2 , cu = 22,5
l
0,5
22,5 x
R10 = A =
160 = 0,07
X10= 0,15 x L = 0,15 x 0,5 = 0,075
ARUS HUBUNG SINGKAT 5 ( pada M5)

Instalasi Tegangan Menengah

Page 25

U0
Isc =

3 R t 32 + X t 3 2

Rt5 = 1,8 + 0,015+0,07 = 1,885


Xt5 =9,071+ 0,075 + 0,15 + 0,075 = 9,371
400
Isc = 3 1,8852+ 9,3712 = 24,16 kA
BUSBAR kelompok 6
L = 0,5m , A = 125 mm2 , cu = 22,5
l
0,5
22,5 x
R10 = A =
125 = 0,09
X10= 0,15 x L = 0,15 x 0,5 = 0,075
ARUS HUBUNG SINGKAT 6 ( pada M6)
U0
Isc = 3 R 2 + X 2
t3

t3

Rt5 = 1,8 + 0,015+0,09 = 1,905


Xt5 = 9,071 + 0,075 + 0,15 + 0,075 = 9,371
400
Isc = 3 1,9052+ 9,3712 = 24,15 kA

Penghitugan Arus hubung singkat bertujuan untuk menentukan pemilihan pengaman


yang akan di gunakan, supaya apabila jika ada arus hubung singkat pada pengaman
tersebut pengaman tidak mengalami kerusakan (tetap aman).
Ilustrasi penghitunga arus hubung singkat di jelaskan pada gambar di bawah ini:

Instalasi Tegangan Menengah

Page 26

Maka dengan perhitungan diatas, pemangaman yang digunakan adalah :


Pengaman Utama

: ACB Masterpact NT 16 BC H1 42 kA
dengan arus pengaman 1600 A

Instalasi Tegangan Menengah

Page 27

Pengaman Cabang 1 : MCCB EasyPact EZC400N-36 kA dengan arus pengaman 400 A


Pengaman Cabang 2 : MCCB EasyPact EZC25H-36 kA dengan arus pengaman 125 A
Pengaman Cabang 3 : MCCB EasyPact EZC25H-36 kA dengan arus pengaman 100 A
Pengaman Cabang 4 : MCCB EasyPact EZC400N-36 kA dengan arus pengaman 320 A
Pengaman Cabang 5 : MCCB EasyPact EZC400N-36 kA dengan arus pengaman 250 A
Pengaman Cabang 6 : MCCB EasyPact EZC25H-36 kA dengan arus pengaman 250 A

Instalasi Tegangan Menengah

Page 28

F. Penghitungan & Pemilihan Genset serta ATS


1. Perhitungan Genset
Untuk menjaga ke andalan dalam system instalas listrik, system ini menambahkan
supply energy cadangan (genset) sebab system ini di desain hanya memiliki satu
penyulang/single feeder.Oleh sebab itu peran genset sangat berpengaruh.System ini
menambahkan genset hanya pada tempat-tempat yang sangat di preoritaskan.Contohnya
adalah ruangan khusus rapat, ruang meneger dan juga ruangan yang di gunakan sebagai
produksi semen yang tidak mungkin di berhentikan dengan alasan apapun. Maka system ini
menambahkan genset dengan kapasitas :
860 kVA x 65% = 559 kVA
Dengan asumsi kerja genset hanya 80% maka:
559 kVA x 120% = 670,8 kVA
Maka digunakan Genset :
Daya standby 705 kVA CUMMINS Power Generator C700 D5
2. Pengaman Pada Genset
Arus Nominal yang melalui adalah :
Tegangan disisi genset = 380 V
In =

S
3 . 400 V

705
3 . 380

KHAmin pada MCCB

= 1071,137 A

= 250% x In genset

= 2,5 x 1071,137 A= 2677,8425 A


Penggunaan Genset hanya 80 % sehingga
I pada MCCB = 80% x In genset
= 0,8 x 1071,137 A = 856,91 A
Pengaman yang dipilih adalah yang mempunyai rating 1000 A, maka dipilih ;
ACB Masterpact NT10 400-100A dengan Arus Pengaman = 1000 A ; Isc = 65 kA

Instalasi Tegangan Menengah

Page 29

G. Pemilihan ATS
Pemilihan ATS digunakan sebagai saklar oleh karena itu ATS harus mampu
memutuskan dan menghubungkan dalam kondisi berbeban. kemampuan ATS minimal
sama dengan arus nominal beban.
Dari data diatas maka dipilih ATS dengan Spesifikasi :
Merk

: CARTEPILAR

Standart

: NEMA

Ampere Rating

: 1200 A

Poles

:4

Height

: 229 (90)

Width

: 117 (50)

Depth

: 72 (28,25)

Refence figure

:E

Weight NEMA 1

: 712 (1570)

Application Rate

:18

Besar Kabel yang Digunakan

In =

S
3 . 400

705
3 . 400

= 1071,137 A

KHA = 125% x 1071,137 A = 1338,92 A


Sesuai katalog maka di pilih luas penampang sebagai berikut:
150 mm2 ->430 A =

1338,92 A
430

= 3,11 (jumlah kabel) jumlah kabel yang di ambil 4 (hal

ini bertujuan untuk menyiasati adanya factor suhu dan juga factor penempatan kabel yang
mempengaruhi KHA kabel), kabel yang di gunakan berinti 1.
Maka KHA sesungguhnya adalah ->4 x 430 A = 1720 A
Factor Koreksi
Berdasarkan penempatan trefoil formation dan faktor suhu 30 derajat sehingga factor koreksi
yang di miliki kabel ini adalah 88%. Maka di dapat KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 88% x 1720 A = 1513,6 A
KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di katakana
kabel masih aman. Maka besar penghantar per genset yang digunakan kabel :
Supreme NYY 4 x (1 x 150 mm2) / P dan
Supreme NYY 2 x (1 x 150 mm2) / N
Instalasi Tegangan Menengah

Page 30

BC = 50 mm2
H.

PENTANAHAN

1. Pentanahan Body Trafo, Sangkar Faraday, Body Cubicle


Pada pentanahan body trafo, sangkar faraday,body cubicle harus mempunyai
tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan sistem pentanahan elektroda
batang tunggal dengan catatan:

Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ): 100 ohm/m
Luas penampang elektroda adalah 201,02 mm2
r = 8 mm

Menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal

Panjang elektroda = 3 meter

Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda

R pentanahan =

= 13,66

Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5

Menggunakan konfigurasi Square

Instalasi Tegangan Menengah

Page 31

Factor pengali konfigurasi

= 0,3125

factor pengali konfigurasi

memenuhi persyaratan karena Rpt<5


Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang tunggal
sistem square configuration adalah sebesar 3,316 . Sehingga memenuhi syarat PUIL.

2. Pentanahan Titik Netral Trafo, Panel Mdp Body Genset Panel Genset
Pada pentanahan titik netral trafo, panel MDP, body Genset, dan panel genset
harus mempunyai tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan
pentanahan system cross dengan catatan:

Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ): 100 ohm/m
Luas penampang elektroda adalah 201,02 mm2
r = 8 mm

Menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal

Panjang elektroda = 3 meter

Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda

R pentanahan =

Instalasi Tegangan Menengah

Page 32

= 13,66

Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5

Menggunakan konfigurasi Square

Factor pengali konfigurasi

= 0,3125

factor pengali konfigurasi

memenuhi persyaratan karena Rpt<5


Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang tunggal
sistem square configuration adalah sebesar 3,315 . Sehingga memenuhi syarat PUIL.

Instalasi Tegangan Menengah

Page 33

Instalasi Tegangan Menengah

Page 34

I. PERHITUNGAN, PERENCANAAN, DESAIN CUBICAL


1. INCOMING (IMC)
Terdiri atas LBS (load break switch), coupling kapasitor dan CT
1. LBS (Load Break switch) dan Coupling capasitor daya CT
LBS adalah peralatan proteksi yang digunakan untuk memutus arus, baik saat
berbeban maupun tak berbeban . LBS dipasang untuk memutuskan koneksi dengan
beban. Kemampuan LBS disesuaikan dengan rating arus nominal jaringan yang akan
diproteksi oleh LBS. syarat LBS adalah mampu memutus jaringan dengan arus yang
sangat besar tanpa mengalami kerusakan mekanis.

In

sesuai denga perhitungan diatas maka dipilihn LBS:


2. Current Transformer
Trafo yang digunkan adalah trafo dengan daya 1250 KVA

In Primer
Instalasi Tegangan Menengah

Page 35

Maka dengan perbandingan 36,08: 5 dengan yang ada di pasaran adalah CT 50:5,
maka dapat dipakai CT dengan spesifikasi sbb :

Merk

: Merlin Gerlin

Type

: ARM 2/N2F for unit IMC

Tranf

: 50:5

T(s)

: 1mAP

Measurement of protection

:5A
7,5 VA class 0,5

Lihat lampiran
2. METERING (CM)
a. Pemilihan PTC (Potensial Transformer)
Merk

: Merlin Gerlin

Type

: VR2Qn/S1

Un

: 24 kV

T(s)

: 1mAP

Primary Voltage

: 20/V3

Secondary Voltage

: 20/V3

1st Secondary

: 30 VA cl.05

2nd Secondary

: 10 VA sp.10

b. Voltage Transformer Protector (fused switch)


Fuse yang digunkan pada cubikel metering ini tergantung dari tegangan kerja dan
transformator daya yang di inginkan/ digunakan :
Terdapat trafo tegangan VRC2/S1 (phase to phase) 50 atau 60 Hz.

Tegangan maksimal

: 24 kV

Terminal tegangan primer

: 10/15/20 kV

Tegangan sekunder

: maksimal 100 V

Burden/ thermal power

: 500 VA

Instalasi Tegangan Menengah

Page 36

Kelas accuracy

: 0,5

Lihat lampiran selengkapanya


3. OUT GOING (DM1A)
a. LBS (Load Break Switch)

LBS adalah peralatan proteksi yang digunakan untuk


memutus arus, baik saat berbeban maupun tak berbeban . LBS dipasang untuk memutuskan
koneksi dengan beban. Kemampuan LBS disesuaikan dengan rating arus nominal jaringan
yang akan diproteksi oleh LBS. syarat LBS adalah mampu memutus jaringan dengan arus
yang sangat besar tanpa mengalami kerusakan mekanis.
In

b. Current Transformer (CT)

Trafo yang digunkan adalah trafo dengan daya 1250 KVA


In Primer

Meter yang akan difungsikan hanya memiliki kemampuan menerima arus sampai 5 A
saja sehingga dibutuhkan CT dengan spesifikasi (Untuk unit Out Going)
Type
Instalasi Tegangan Menengah

: ARJP1/N2F
Page 37

Single Primary winding

: 50/ 5A

Double secondary winding

: untuk pengukuran dan pengaman

Arus Rating

: 4kA

Lihat lampiran
c. Pemilihan DS (Disconecting switch)
DS adalah saklar pemisah yang digunkan untuk memasukkan da memutuskan
arus dalam kondisi tidak boleh berbeban/ tidak ada arus.
KHA = In x 1,5
= 36,08 x 1,5
=54,135A.
PEMILIHAN KOMPONEN KUBIKEL
1. Pemilihan Disconnecting Switch (DS).
Disconnecting switch merupakan peralatan pemutus yang dalam kerjanya
(menutup dan membuka) dilakukan dalam keadaan tidak berbeban, karena alat ini
hanya difungsikan sebagai pemisah bukan pemutus.
Jika DS dioperasikan pada saat keadaan berbeban maka akan terjadi flash over
atau percikan-percikan api yang dapat merusak alat itu sendiri.
Fungsi lain dari disconnecting switch adalah difungsikan sebagai pemisah
tegangan pada waktu pemeliharaan dan perbaikan, sehingga dperlukan saklar
pembumian agar tidak ada muatan sisa.
Karena DS dioperasikan sebagai saklar maka perhitungannya adalah
I=

S
1250
1,15=
1,15=41,497 A
3 20
3 20

Sehingga dipilih DS dengan type SF 6 with earthing switch.


2. Pemilihan Load Break Switch.
Kemampuan pemutus ini harus disesuaikan dengan rating nominal dari tegangan
kerja, namun LBS juga harus mampu beroperasi saat arus besar ( Ics ) tanpa mengalami
kerusakan.
Cara pengoperasian LBS bisa secara manual yaitu digerakkan melalui penggerak
mekanis yang dibantu oleh sisitem pegas dan pneumatic. pemilihan LBS ditentukan
berdasarkan dengan Rating arus nominal dan tegangan kerjannya :

Instalasi Tegangan Menengah

Page 38

Ipengaman=

S
1250
2,5=
2,5=90,21 A
3 20
3 20

3. Pemilihan Current Transformer.


Berdasarkan data dari trafo, dengan mengetahui tegangan kerja dan daya trafo maka
dapat dipilih CT dengan perhitungan sebagai berikut :
-

Daya trafo

= 1250 kVA

I primer

= 36,08 A

V primer

= 20 kV

Vsekunder

= 400V

Dari data pemilihan kubikel dapat dipilih CT sebagai berikut:


a. For unit IMC
Transformer ARM2/N2F
- single primary winding;
- double secondary winding for measurement and protection.
Short-time withstand current Ith (kA)
- I1n = 50 A
- Ith = 12,5 kA
- t=1s
- measurement and protection 5 A = 10 VA - 5P10
b. For 400 - 630 A unit DM-1A
Transformer ARJP1/N2F
- double primary winding;
- single secondary winding for measurement and protection..
Short-time withstand current Ith (kA)
- I1n = 20 / 40 A
- Ith = 12,5 kA
- t = 0,8 s
- measurement and protection 5 A = 5 VA - 5P10
4. Pemilihan Potential Transformer
Berdasarkan data dari trafo, dengan mengetahui tegangan kerja dan daya trafo maka
dapat dipilih PT dengan perhitungan sebagai berikut :
-

Daya trafo

= 1250 kVA

I primer

= 36,08 A

V primer

= 20 kV

Instalasi Tegangan Menengah

Page 39

I sekunder

= 1156,07 A

Vsekunder

= 230 / 380 V

Dari data pemilihan kubikel dapat dipilih PT sebagai berikut:


For units CM,
rated voltage (kV) = 24
primary voltage (kV) = 20/V3
secondary voltage (V) = 100/V3
thermal power (VA) = 250
accuracy class = 0.5
rated output for single primary winding (VA) = 30
5. Pemilihan CB
CB = 250% x Ip
= 250% x 36,08 A
= 90,21 A
Dipilih CB dengan Inominal = 90,21 A

Instalasi Tegangan Menengah

Page 40

J. Perencanaan Perbaikan Factor Daya


Kapasitor bank adalah peralatan listrik untuk meningkatkan power factor (pf), yang
terdiri dari rangkaian-rangkaian kapasitor yang dirangkai dalam suatu panel yang disebut
panel kapasitor bank, yang disusun seri atau paralel dalam suatu grup dengan lapisan logam.
Dalam kapasitor bank terdapat resistor yang berfungsi sebagai alat internal untuk membuang
sisa tegangan. Biasanya kapasitor bank disusun dalam variasi rating tegangan sekitar 240 V
24940 V dan dalam rating kapasitas sekitar 2,5 1000 kVAr.
Kapasitor banyak digunakan di industry dengan berbagai pertimbangan. Pemasangan
kapasitor mempunyai keuntugan sebagai berikut :
1. Menghilangkan kelebihan beban atas kelebihan pemakaian pemakaian daya
2.
3.
a.
b.
c.

reaktif
Menurunkan pemakaian KVA total
Optimasi jaringan
Meningkatkan daya yang bisa disuplai oleh trafo
Menurunkan susut tegangan
Menurunkan rugi rugi kabel
Diketahui data pabrik sebagai berikut :

Power factor 0.75


Power factor yang diinginkan 0.95
Daya
= 860 kVA
Daya Nyata

= 860 kVA x 0,75


= 645 kW

1. Perhitungan Model Tabel


Perhitungan menggunakan metode 1 ( tabel cos phi ). Melihat tabel cos phi
menunjukkan factor pengali sebesar 0,371. Maka daya reaktif yang diperlukan :

0,553 x 645 kW = 356,685 kVAr


(dengan Tabel terlampir pada katalog)

Kemudian kita harus memilih apakah termasuk kompensasi otomatis atau


kompensasi tetap
Instalasi Tegangan Menengah

Page 41

Qc/Sn < 15 % ( kompensasi tetap)


Qc/Sn 15 % ( kompensasi otomatis)
Qc

= 356,685 kVAr

Sn

= 860 kVA

Qc/Sn = (356,685/860)x 100%


= 41,475%
Dan Gh diasumsikan 25% maka menggunakan capasitor tipe H-range +
detuned reaktor
Maka spesifikasi yang dipilih adalah
Merk

: Schneider Varplus

kVAR di tegangan 400V

: 95 kVAr

Step

:4

semua spesifikasi terlampir.


Besar Penghantar adalah:
=

Qc
3 0,38

400
3 0,38

=607,74
Besar KHA kabel adalah :
KHA= 125

KHA=607,74 125
KHA=759,67 A

Instalasi Tegangan Menengah

Page 42

Berdasarkan katalog maka di pilih luas penampang sebagai berikut:


2

150 mm ->430 A :

759,67
430

= 1,77 ,berjumlah 2 penghantar.

Factor Koreksi
Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal berisolasi PVC
pada suhu keliling 30C dengan suhu penghantar maksimum 70C yang dipasang
posisi trefoil 3 fasa. sehingga factor koreksi yang di miliki kabel ini adalah 88%. Maka
di dapat KHA baru kabel ini sebagai berikut:
KHA = 88% x (2x 430) A = 756,8 A
KHA tersebut masih memenuhi KHA penghatar kabel yang di inginkan, bisa di
katakana kabel masih aman.
Maka kabel yang di gunakan pada beban kelompok 2, adalah sebagai berikut:
Supreme NYY 2(1 x 150 mm2 )/phase
Dan busbar yang digunakan di pengaman cabang 2 adalah:
Legrand,1 ( 63 x 5 )mm/ phase dg KHA 800 A

Instalasi Tegangan Menengah

Page 43

K. PEMILIHAN ARESTER
Arrester dipakai sebagai alat proteksi utama dari tegangan lebih. Oleh karena itu
pemilihan arrester harus sesuai dengan peralatan yang dilindunginya.Karena kepekaan
arrester terhadap tegangan, maka pemakainya harus disesuikan dengan tegangan sistem.
Pemilihan lightning arrester dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat isolasi dasar yang
sesuai dengan Basic Insulation Level (BIL) peralatan yang dilindungi, sehingga didapatkan
perlindungan yang baik.
Pada pemilihan arrester ini dimisalkan tegangan impuls petir yang datang berkekuatan 150
KV dalam waktu 0,1s, jarak titik penyambaran dengan transformator 5 Km.

Tegangan dasar arrester


Pada jaringan tegangan menengah arrester ditempatkan pada sisi tegangan tinggi
(primer) yaitu 20 KV.Tegangan dasar yang dipakai adalah 20 KV sama seperti
tegangan pada sistem. Hal ini dimaksudkan agar pada tegangan 20 KV arrester
tersebut masih bisa bekerja sesuai dengan karakteristinya yaitu tidak bekerja pada
tegangan maksimum sistem yang direncanakan, tetapi masih tetap mampu
memutuskan arus ikutan dari sistem yang effektif.

Tegangan sistem tertinggi umumnya diambil harga 110% dari harga tegangan nominal
sistem. Pada arrester yang dipakai PLN adalah :
Vmaks = 110% x 20 KV
= 22 KV, dipilih arrester dengan tegangan teraan 28 KV.

Koefisien Pentanahan
Didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms fasa sehat ke tanah dalam
keadaan gangguan pada tempat dimana penagkal petir, dengan tegangan rms fasa ke
fasa tertinggi dari sistem dalam keadaan tidak ada gangguan Untuk menetukan
tegangan puncak (Vrms) antar fasa dengan ground digunakan persamaan :

Vrms =

=
Instalasi Tegangan Menengah

Page 44

= 15,5 KV
Dari persamaan di atas maka diperoleh persamaan untuk tegangan phasa dengan
ground pada sistem 3 phasa didapatkan persamaan :

Vm(L - G)

=
= 12,6 KV

Koefisien pentanahan =
= 0,82
Keterangan :
Vm

= Tegangan puncak antara phasa dengan ground (KV)

Vrms = Tegangan nominal sistem (KV)

Tegangan pelepasan arrester


Tegangan kerja penangkap petir akan naik dengan naiknya arus pelepasan, tetapi
kenaikan ini sangat dibatasi oleh tahanan linier dari penangkap petir.
Tegangan yang sampai pada arrester :

E =

E=
= 133,3 KV
Keterangan :
Instalasi Tegangan Menengah

Page 45

= arus pelepasan arrester (A)

= tegangan surja yang datang (KV)

Eo

= tegangan pelepasan arrester (KV)

= impedansi surja saluran ()

= tahanan arrester ()

Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran yang dibatasi
oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi teganagn flasover dan probabilitas tembus
isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga harga e adalah :
e =1,2 BIL saluran
Keterangan :

= tegangan surja yang datang (KV)

BIL

= tingkat isolasi dasar transformator (KV)

Arus pelepasan nominal (Nominal Discharge Current)

I =
Z adalah impedansi saluran yang dianggap diabaikan karena jarak perambatan
sambaran tidak melebihi 10 Km dalam arti jarak antara GTT yang satu dengan yang
GTT yang lain berjarak antara 8 KM sampai 10 KM. ( SPLN 52-3,1983 : 11 )
R =

tegangan impuls100
arus pemuat

=
= 42

I =
Instalasi Tegangan Menengah

Page 46

= 15,8 KA
Keterangan :
E

= tegangan yang sampai pada arrester (KV)

e = puncak tegangan surja yang datang


K= konsatanta redaman (0,0006)
x = jarak perambatan
Jatuh tegangan pada arrester dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
V =IxR
Sehingga tegangan pelepasan arrester didapatkan sesuai persamaan :
ea = Eo + (I x R)
Keterangan :

= arus pelepasan arrester (KA)

Eo

= tegangan arrester pada saat arus nol (KV)

ea

= tegangan pelepasan arrester (KV)

= impedansi surja ()

= tahanan arrester ()

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam impulse crest
voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu gelombang 1,5 x 40 s.
Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus mempunyai karakteristik
ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut.

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran yang dibatasi
oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi tegangan flasover dan probabilitas tembus
isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga harga E adalah :
e =1,2 BIL saluran

Instalasi Tegangan Menengah

Page 47

e = 1,2 x 150 KV
e = 180 KV
Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam impulse crest
voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu gelombang 1,2/50 s.
Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus mempunyai karakteristik
ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut. Sehingga dipilih BIL
arrester yang sama dengan BIL transformator yaitu 150 KV

Margin Perlindungan Arrester


Untuk mengitung dari margin perlindungan dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :
MP

= (BIL / KIA-1) x 100%

MP

= (150 KV/ 133,3 1) x 100%


= 125.28 %

Keterangan :
MP

= margin perlindungan (%)

KIA = tegangan pelepasan arrester (KV)


BIL = tingkat isolasi dasar (KV)
Berdasarkan rumus di atas ditentukan tingkat perlindungan untuk tafo daya. Kriteria
yang berlaku untuk MP > 20% dianggap cukup untuk melindungi transformator .

Jarak penempatan Arrester dengan Peralatan


Penempatan arrester yang baik adalah menempatkan arrester sedekat mungkin dengan
peralatan yang dilindungi. Jarak arrester dengan peralatan Yang dilindungi digunakan
persamaan sebagai berikut :

Ep

125

= ea +

= 133,3 KV+

Instalasi Tegangan Menengah

Page 48

8,3

= 26,6x

= 0,31 m

jadi jarak arrester sejauh 31 cm dari transformator yang dilindungi.


Perhitungan jarak penempatan arrester di atas digunakan untuk transformator
tiang.Sebagai mana pecancangan pada system ini, yaitu perencanaan Gardu Trafo
Tiang.
Tabel Batas Aman Arrester
IMPULS

BIL

BIL

PETIR

ARRESTER

TRAF0

(150 KV)

(125 KV)

(KV)

KONDIS
I

KETERANGAN

Tegangan masih
di bawah rating
transformator
120 KV

< 150 KV

<125 KV

Aman

maupun arrester
Tegangan masih
memenuhi

125 KV

<150 KV

=125 KV

Aman

batasan keduanya
Tegangan lebih
diterima arrester

130 KV

<150 KV

>125 KV

Aman

dan dialirkan ke
tanah
Masih memenuhi
batas tegangan
tertinggi yang

150 KV

=150 KV

>125 KV

Aman

Tidak
200 KV

>150 KV

Instalasi Tegangan Menengah

>125 KV

Page 49

aman

bisa diterima
arrester.
Arrester rusak,
transformator
rusak

Berdasarkan keterangan diatas maka pemilihan BIL arrester harus mempunyai


kemampuan yang sama atau diatas tegangan BIL petir (150 kV), sedangkan untuk BIL trafo
dapat menggunakan BIL yang lebih rendah yaitu 125 kV

Instalasi Tegangan Menengah

Page 50

L. UPS (Uninteruptable Power System)

UPS adalah kependekan dari Uninteruptable Power System yaitu batere dengan
inverter yang berfungsi sebagai penstabil tegangan dan penanggung daya untuk beberapa
waktu saat padam listrik.
Pada perencanaan kali ini terdapat beban yang tidak boleh mati. Yaitu beban pada kelompok 6
yaitu sebesar 150 kVA
Maka UPS yang digunakan adalah :
Merk

: BORRI

Type

: B9000FXS

Daya (kVA)

: 160 kVA

Daya (kW)

: 144 kW

Tegangan

: 380 V 3 phase

Power Factor : 0,99


Spesifikasi terlampir

Instalasi Tegangan Menengah

Page 51

BAGIAN II
PERHITUNGAN PJU DAN GTT PERUMAHAN
A. PERHITUNGAN KUAT PENERANGAN JALAN UMUM
ILLUMINASI
Hal yang ingin di capai dalam teknik penerangan
1. Menyelenggarakan, mengatur dan meningkatkan segi ekonomis dalam
penerangan.
2. Memperbaiki teknik dekorasi
3. Mengusahakan tercapainya suasana santai bagi mata.
Besaran besaran dalam teknik penerangan dan satuanya.
1. Fluk cahaya / = F (lumen)
Kapasitas pada energy yang di pancarkan untuk menghasilkan sesuatu cahaya
yang terlihat dalam 1 detik.
2. Intensitas cahaya / I (candela)
Adalah kerapatan cahaya / jumlah energy radiasi yang di pancarkan ke suatu
arah tertentu
3. Effisiensy
Jumlah fluk yang di keluarkan terhadap satuan daya (lumen/watt)
4. Illuminasi (kuat penerangan) = E (lux) lumen/m2
Adalah fluk cahaya yang jatuh pada suatu permukaan bidang dengan luas
tertentu.
Dimana kuat penerangan di pengaruhi oleh:
E berbanding lurus dengan I

1
E berbanding terbalik dengan kwadrat jaraknya E r 2

Hukum cosinus dari lambert

Instalasi Tegangan Menengah

Page 52

JALAN MENUJU PABRIK


1. Tata letak penempatan tiang

atau

E = illumination level (lux).


F = Lamp flux (lumen)
U = Koeficient of utilization (%)
M = maintenance factor (%)
W = lebar jalan (m)
S = Spacing of lighting pole for roadway (M)
K = coefficient of lamp flux life ( =75%)

W
Tinggi Tiang

= 1,5 x Tinggi Tiang


= 6,5 meter

Instalasi Tegangan Menengah

Page 53

Space Tiang
Space Tiang
Space Tiang
Space Tiang

= 3 s/d 5 Tinggi Tiang


= 4,5 * Tinggi Tiang
= 4 * 6,5
= 24 meter

Jalan pada pabrik mempunyai data sebagai berikut :


1.

Required illumination level

: 12 lux

2.

With (W)

3.

height of the lamp (H)

:6m

4.

Spacing (s)

: 24 m

5.

angle above horisontal

: 5

6.

over hung (OH)

: 0.5 m

7.

Maintenance factor (M)

: 0.75

:6m

Perhitungan coefficient of UTILIZATION ( U )


B/H (roadside) =

W OH 60,5
=
=0,916
H
6

B/H (pavementside) =

OH 0,5
=
=0,083
H
6

Dengan melihat grafik di dapat (UTILIZATION CURVES) :

Instalasi Tegangan Menengah

Page 54

U1 = 0.04 (pavement side)

U2 = 0.24 (road side)

Maka U = U1 + U2 = 0.08 +0.22 = 0.3


Jadi besanya lumen yang harus diberikan untuk tiap tiap lampu yang di gunakan
sebesar :
F=

E .W . S
U.M.K

12 x 6 x 24
F = 0,3 x 0,75 x 0,75

= 10240 lumen

Jadi lampu yang dipilih :


-

Type

: SON 150W/220 E40 1SL

Order code

: 928480009899

Base

Luminous

Tegangan nominal

Cos phi

: E40
: 14000
: 220V
: 0,8 menggunakan Kapasitor 0,9

Lampu penerangan jalan umum di pasang dengan menyesuaikan kondisi di lapangan untuk
perencanaan ini PJU di letak kan setiap jarak 24 m terpisah antara satu dengan yang lainya
peletakan jarak antar tiang tersebut sudah memenuhi peraturan/sudah di rencanakan dengan
sebaik mungkin. Untuk posisi tiang, perencanaan ini mengacu pada central Twin Bracket .
Dengan demikian jumlah lampu yang akan di pasang dapat di ketahui melalui dimensi denah
yang sudah di rencanakan.
Jumlah lampu yang di gunakan untuk penerangan jalan pada perumahan ini adalah :
Jalan Pabrik sebanyak :
400 m
=16,667 buah
24 m
16 Tiang dengan daya sebesar 150 W tiap lampu
Karena sistem penerangan adalah model Central maka banyak Lampu adalah :
2 x 16

= 32 Buah

1. Penghitungan Daya Lampu Pju Pabrik


P = S cos phi
1. Jalan Pabrik
Instalasi Tegangan Menengah

Page 55

S=

P
cos p hi

150 W
0,9

= 166,67 VA

Stotal = 32 x 166,67 VA = 5333,44 VA


Stotal pju pabrik = 5,334 kVA
Jalan Perumahan
Tata letak penempatan tiang

W
Tinggi Tiang
Space Tiang
Space Tiang
Space Tiang
Space Tiang

= Tinggi Tiang
= 8 meter
= 3 s/d 5 Tinggi Tiang
= 4 * Tinggi Tiang
=4*8
= 32 meter

Jalan utama mempunyai data sebagai berikut :


8.

Required illumination level

: 12 lux

9.

With (W)

10.

height of the lamp (H)

:8m

11.

Spacing (s)

: 32 m

12.

angle above horisontal

: 5

13.

over hung (OH)

: 0.5 m

14.

Maintenance factor (M)

: 0.75

:8m

Perhitungan coefficient of UTILIZATION ( U )


Instalasi Tegangan Menengah

Page 56

B/H (roadside) =

W OH 80,5
=
=0,93
H
8

B/H (pavementside) =

OH 0,5
=
=0,0625
H
8

Dengan melihat grafik di dapat (UTILIZATION CURVES)


U1 = 0.06 (pavement side)

U2 = 0.22 (road side)

Maka U = U1 + U2 = 0.06 +0.22 = 0.28

Instalasi Tegangan Menengah

Page 57

Jadi besanya lumen yang harus diberikan untuk tiap tiap lampu yang di gunakan
sebesar :
F=

E .W . S
U.M.K

12 x 8 x 32
F = 0,28 x 0,75 x 0,75

2048
0,1575

= 19504,76 lumen

Jadi lampu yang dipilih :


-

Type
Order code

: SON 250W E E40 CO 1SL


: 928486900091

Base

: E40

Luminous

Tegangan nominal

Cos phi

: 27000
: 220V
: 0,8 dengan menggunakan kapasitor 0,9

Lampu penerangan jalan umum di pasang dengan menyesuaikan kondisi di lapangan untuk
perencanaan ini PJU di letak kan setiap jarak 32 m terpisah antara satu dengan yang lainya
peletakan jarak antar tiang tersebut sudah memenuhi peraturan/sudah di rencanakan dengan
sebaik mungkin. Untuk posisi tiang, perencanaan ini mengacu pada single-side dengan
formasi sejajar. Dengan demikian jumlah lampu yang akan di pasang dapat di ketahui melalui
dimensi denah yang sudah di rencanakan.
Jumlah lampu yang di gunakan untuk penerangan jalan pada perumahan ini adalah :
Jalan Pabrik sebanyak :
200 m
=6,25 bua h
32m
Terhitung 6 lampu dengan daya sebesar 250 W
Tetapi untuk jumlah lampu diseluruh perumahan adalah sebanyak 16 lampu.
Penghitungan Daya Lampu Pju Perumahan
P = S cos phi
S=

P
cos p hi

250 W
0,9

= 277,78 VA

Stotal = 16 x 277,78 VA = 4444,48 VA


Instalasi Tegangan Menengah

Page 58

Stotal pju perumahan = 4,44448 kVA


= 4,445 kVA
Untuk armatur menggunakan NEOLUS COBRA-3

Instalasi Tegangan Menengah

Page 59

B. MENENTUKAN TOTAL DAYA GTT DAN PERUMAHAN


Dengan data rumah sebagai berikut :
30 Rumah type 75 dengan daya 2200 VA / 220 V
25 Rumah type 45 dengan daya 1300 VA / 220 V
20 Rumah type 36 dengan daya 900 VA / 220 V
Total daya Perumahan :

2200 VA x 30 rumah = 66000 VA


1300 VA x 25 rumah = 32500 VA
900 VA x 20 rumah = 18000 VA

Total = 66000 VA + 32500 VA + 18000 VA


= 116500 VA
= 116,5 kVA
Total Daya PJU :

PJU Pabrik + PJU Perumahan = Total PJU


5,334 kVA + 4,445 kVA = 9,779 kVA

TOTA DAYA KESELURUHAN

= 116,5 kVA + 9,779 kVA


= 126,279 kVA

PEMBAGIAN JURUSAN
GTT dibagi atas 4 Jurusan, yaitu :
1. Jurusan 1 : 16 Rumah type 75
: 20 Rumah type 36
2. Jurusan 2 : 14 Rumah type 75
: 25 Rumah type 45
3. Jurusan 3 : PJU
4. Jurusan 4 : Cadangan
PEMBAGIAN GROUP PER FASA
Setiap tiang idealnya menyupply sedikitnya 4-6 sambungan. Maka dipilih
1. Jurusan 1
Instalasi Tegangan Menengah

Page 60

Fasa R menyuply 8 rumah type 75

8 x 2200 VA

= 17600 VA

Fasa S menyuply 8 rumah type 75

8 x 2200 VA

= 17600 VA

Fasa T menyuply 20 Rumah type 36


20 x 900 VA
= 18000 VA
2. Jurusan 2
Fasa R , 9 rumah type 75
9 x 2200 VA
= 19800 VA
Total daya
= 19800 VA
Fasa S, 5 rumah type 75 dan 8 rumah type 45
5 x 2200 VA
= 11000 VA
8 x 1300 VA
= 10400 VA
Total daya= 21400 VA
Fasa T, 16 rumah type 45
17 x 1300 VA
= 22100 VA
3. Jurusan 3
PJU Jalan menuju Pabrik dan Perumahan
a. PJU Jalan Menuju Pabrik
Fasa R
= 2 x(6 x 166,67 VA)
= 2000,04 VA
Fasa S
= 2 x(5 x 166,67 VA)
= 1666,7 VA
Fasa T
= 2 x(5 x 166,67 VA)
= 1666,7 VA

= 5,334 kVA

PJU Perumahan

Fasa R = 6 x 277,78 VA
= 1666,68 VA
Fasa S = 5 x 277,78 VA
= 1388,9 VA
Fasa T = 5 x 277,78 VA
= 1388,9 VA

Total Fase R

= 2000,04 VA + 1388,9 VA
= 3388,9 VA

Instalasi Tegangan Menengah

Page 61

Total Fase S

= 1666,7 VA + 1666,68 VA
= 3333,4 VA

Total Fase T

= 1666,7 VA + 1388,9 VA
= 3055,6 VA

JUMLAH PERFASA TOTAL


FASA R

= 17600 VA + 19800 VA + 3388,9 VA


= 40788,9 VA

FASA S

= 17600 VA + 21400 VA + 3333,4 VA


= 42333,38 VA

FASA T

= 18000 VA + 22100 VA + 3055,6 VA


= 43155,6 VA

C. MENENTUKAN DAYA TRAFO PADA GTT


Untuk menentukan daya trafo pada GTT ada beberapa hal yang perlu di perhatikan
diantaranya adalah pertumbuhan beban untuk masa yang akan datang.
1. Pertumbuhan Beban
Pertumbuhan beban atau melonjaknya kebutuhan suatu perencanaan pengembangan
system tenaga listrik adalah merupakan masalah penting bagi suatu perencanaan
pengembangan system tenaga listrik. Ada beberapa factor yang mempengaruhi dan
mendorong

melonjaknya kebutuhan listrik tersebut, misalnya adanya perdagangan dan

Instalasi Tegangan Menengah

Page 62

industri yang tumbuh dengan pesat, pertambahan penduduk yang semakin meningkat dan
sebagainya.
Masalah-masalah yang timbul disini adalah untuk perencanaan tahunan untuk
memperbesar kapasitas penjualan tenaga listrik, untuk menanggulangi pertambahan beban
tersebut dan menjaga ke handalan di bidang listrik.
Untuk mengatasi hal tersebut diatas, kita harus mengetahui besar pertambahan beban
puncak untuk tahun-tahun mendatang. Untuk mengasumsikan kebutuhan tahunan, kebutuhan
beban sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu.
Ada beberapa macam cara mengasumsikan pertumbuhan beban, tetapi secara garis
besar dapat dibagi menkadi dua yaitu:
o Secar grafis.
o Secara analisis.
a) Secara Grafis.
Dengan menggunakan data-data grafis dari tahun sebelumnya, yaitu dari kurva
tahunan dan besarnyadaya(kW), maka dapat di asumsikan pertumbuhan beban untuk
tahun-tahun mendatang dengan metode extrapolar. Metode ini adalah dengan menarik
garis-garis pertumbuhan beban untuk tahun-tahun berikutnya.Dengan demikian hasil yang
diperoleh dari penganalisaan secara grafis tidak sepenuhnya akurat. Oleh karena itu cara
ini digunakan hanya sebagai pembanding.
b) Secara Analisis.
Dalam metode ini mengasumsikan kebutuhan tenaga listrik digolongkan dalam beberapa
kelompok konsumen, yaitu:
1) Konsumen perumahan(residensial).
o Jumlah anggota perumahan = A orang per rumah

o Jumlah perumahan =
o Jumlah langganan dari perumahan = (2) X electrification ratio
Dimana electrification ratio = perbandingan antara jumlah konsumen rumah
tangga yang memakai tenaga listrik dengan jumlah seluruh rumah tangga.
o Jadi jumlah kebutuhan tenaga listrik untuk konsumen Residensial adalah
Instalasi Tegangan Menengah

Page 63

= (3) X pemakaian maksimum rata-rata untuk seluruh rumah.


2) Konsumen komersil.
o Jumlah dari langganan komersil = jumlah langganan perumahan x constituent
ratio
o Dimana constituent ratio = perbandingan antara jumlah jumlah konsumen
komersil dengan jumlah konsumen perumahan.
o Jadi jumlah kebutuhan tenaga listrik untuk konsumen komersil adalah
= (5) X pemakaian maksimum rata-rata dari tiap langganan komersil
3)

Konsumen industri.
Kebutuhan menurut permintaan dari para konsumen industri

Data-data yang diperlukan:


Total daya Perumahan :

2200 VA x 30 rumah
1300 VA x 25 rumah
900 VA x 20 rumah

= 66000 VA
= 32500 VA
= 18000 VA

Total = 66000 VA + 32500 VA + 18000 VA


= 116500 VA
= 116,5 kVA

o Rata-rata daya maksimum tiap rumah =

= 1,553 kVA.

o Dengan asumsi setiap rumah memiliki anggota keluarga sebanyak 5 jiwa per rumah
maka jumlah total penduduk = 5 x 75 = 375 jiwa.
o Pertumbuhan penduduk tiap tahun(dimisalkan) = 2% per tahun.
Dari data-data diatas kita dapat meramalkan pertumbuhan beban pada perumdin tersebut
yaitu:

1) Electrification ratio

Instalasi Tegangan Menengah

Page 64

= 1.

2) Jumlah penduduk 5 Tahun mendatang.


= (1+0,02) x 375 jiwa = 414 jiwa.
3) Jumlah perumahan 5 tahun mendatang.
= jumlah penduduk / 5
= 414 jiwa / 5 = 82,8 rumah.
= 83 rumah.
4) Jumlah konsumen perumahan 5 tahun mendatang.
=jumlah rumah x Electrification ratio
= 83 x 1.
= 83 rumah.
5) Jumlah total beban perumahan = jumlah konsumen x daya rata-rata tiap rumah
= 83 x 1,553 kVA
= 128,899 kVA
6) Beban fasilitas umum = 10 % beban total perumahan
= 10 % x 128,899 kVA = 12,8899 kVA

7) Beban total GTT

= Beban fasilitas umum + Jumlah total beban perumahan

= 12,8899 kVA + 128,899 kVA


= 141,7889 kVA
Maka Trafo yang digunakan adalah sebesar 160 kVA
2. Faktor Kebersamaan
Persyaratan Trafo GTT adalah dibawah 200kVA tapi jika diatas 200kVA maka trafo tersebut
bukan trafo GTT melainkan gardu perencanaan tersendiri / khusus.
Dalam pemilihan trafo harus memperhatikan beberapa hal, yaitu :
Instalasi Tegangan Menengah

Page 65

Faktor keserempakan beban


Faktor perkembangan beban untuk beberapa tahun mendatang.
Pada perhitungan ini menggunakan faktor keserempakan beban yang mengacu pada
banyaknya beban persambungannya. Data tabel heterogen beban dapat dilihat di bawah ini.
Maka dari sini kita dapat menentukan besar daya Trafo yang akan di pilih:
Tabel 11.1. Faktor Kebersamaan
JumlahsambunganjenispelangganHeterog

FaktorKebersamaa

en

24

0,85

6 10

0,80

11 20

0,7

21 40

0,6

> 40

0,4

Data-data yang diperlukan adalah TOTAL DAYA TERPASANG yang sudah di hitung
di atas, yaitu:
Jurusan 1
Rumah type 75

= 16 rumah x 2200
= 35200 VA
Rumah type 36 = 20 x 900
= 18000 VA
Total daya
= 35200 VA + 18000 VA
= 53200 VA
Jumlah sambungan jenis heterogen adalah mencapai 36 sambungan, sehingga :
53200 VA x 0,6 = 31920 VA
= 31,92 kVA
Jurusan 2
Rumah type 75 = 14 x 2200
= 30800 VA
Rumah type 45 = 25 x1300
= 32500 VA
Total daya
= 30800 VA + 32500 VA
= 63300 VA
Jumlah sambungan jenis heterogen adalah mencapai 39 sambungan, sehingga :
63300 VA x 0,6 = 37980 VA
= 37,98 kVA
Jurusan 3
PJU
= 9,779 kVA
Instalasi Tegangan Menengah

Page 66

TOTAL DAYA BEBAN ADALAH :


31,92 kVA + 37,98 kVA + 9,779 kVA = 79,679 kVA
CADANGAN
= 25 %
79,679 kVA x 25% = 19,92 kVA
TOTAL DAYA GTT = tota daya beban + cadangan
= 79,679 kVA + 19,92 kVA
= 99,6 kVA
Dalam penentuan besar kapasitas trafo perlu diperhatikan akan rugi-rugi daya trafo itu sendiri,
sehingga trafo hanya mampu di bebani kurang lebih 80 % dari kapasitas trafo. Untuk
pertimbangan akan adanya pengembangan beban dan musim yang ada di Indonesia. Maka
trafo di harapkan bisa dibebani dengan kemampuan 100 %. Untuk menanggulangi masalah di
atas maka besar kapasitas trafo dapat di tentukan dengan cara sebagai berikut:
Untuk mengantisipasi pertambahan daya di masa depan maka dalam penentuan kapasitas daya
trafo pada perencanaan ini selain menambahkan cadangan juga menambahkan daya tambahan
sebesar 20% dari total daya terpasang di atas. Maka penghitungan kapasitas trafo sebagai
berikut:
Penambahan 20% =

20
99,6 kVA=19,92 kVA
100

Kapasitas trafo

= penambahan 20% + total daya terpasang


= 19,92 kVA + 99,6 kVA
=119,52 kVA

Namun pada dasarnya trafo dengan kapasitas 119,52 kVA di pabrika tidak tersedia. Sehingga
perencanaan ini memilih trafo dengan kapasitas di atas dari kapasitas penghitungan di atas.
Perencanaan ini memilih besar kapasitas trafo sebesar 160 KVA. Berdasarkan peraturan yang
ada trafo dengan kapasitas 160 KVA termasuk kategori trafo tiang (GTT).
Untuk perencanaan ini, penentuan besar rating daya trafo sudah di ketahui langkah
selanjutnya perancang membandingkan beberapa product trafo buatan asing maupun local,
Yang nantinya di rasa perancang cocok untuk di gunakan. untuk perbandingan secara umum,
Instalasi Tegangan Menengah

Page 67

perancang melihat hari sisi kebisingan (dB), temperatura oil, lilitan, kelas isolasi,
pendinginan, tapping, effisiency & regulasi, bukti pengujian yang di jelaskan pada katalog
trafo. Perancang membandingkan 3 product trafo, yaitu:
1. Merk TRAFINDO

Daya Trafo

160 KVA

Jumlah fase

Tiga

Frekuensi pengenal

50 HZ

Teg primer pengenal :

20KV

Teg sekunder pengenal


(beban nol)

0,4 KV

Impedansi

4%

No Load Losses

400 Watt

Load Losses

2000 Watt

Total Losses

2400 Watt

2. Merk SCHNEIDER

Daya Trafo

160 KVA

Jumlah fase

Tiga

Frekuensi pengenal

50 HZ

Teg primer pengenal :

20KV

Teg sekunder pengenal


(beban nol)

0,4 KV

Impedansi

4%

No Load Losses

300 Watt

Load Losses

2350 Watt

Total Losses

2650 Watt

Dengan demikian perancang memilih merk trafo TRAFINDO, yang di rasa cocok untuk di
gunakan. dengan spesifikasi secara umum:
Spesifikasi di atas masih terbilang secara umum, untuk keterangan lebih lengkapnya bisa lihat
pada katalog trafo merk TRAFINDO yang sudah di lampirkan.
Instalasi Tegangan Menengah

Page 68

Instalasi Tegangan Menengah

Page 69

D. KARAKTERISTIK DAN PEMILIHAN FUSE CUT-OUT


Karakteristik utama suatu cut-out adalah sehubungan dengan kebuuhan antara waktu
dan arus. Hubungan antara minimum melting dan maksimim clearing time, ditentukan dari
test data yang menghasilkan karakteristik waktu dan arus. Kurva minimum melting time dan
maksimum clearing time adalah petunjuk yang penting dalam penggunaan fuse link pada
system yang dikoordinasikan.
Melting time adalah interval waktu antara permulaan arus gangguan dan pembusuran
awal. Interval selama dalam masa pembusuran berakhir adalah arching time. Sedangkan
clearing time adalah melting time ditambah dengan arching time.

Factor-faktor dalam pemilihan fuse cut-out


Penggunaan cut-out tergantung pada arus beban, tegangan, type system, dan arus
gangguan yang mungkinterjadi. Keempat factor diatas ditentukan dari tiga buah rating cutout, yaitu :
1) Pemilihan rating arus kontinyu
Rating arus kontinyu dari fuse besarnya akan sama dengan atau lebih besar arus
arus beban kontinyu maksimum yang diinginkan akan ditanggung. Dalam menentukan
arus beban dari saluran, pertimbangan arus diberikan pada kondisi normal dan kondisi
arus beban lebih ( over load ).
Pada umumnya outgoing feeder 20 kV dari GI dijatim mampu menanggung arus
beban maksimum 630 A, maka arus beban sebesar 100 A. pada cabang adalah cukup.
Dijatim rating arus tertinggi cut-out adalah 100 A.
2) Pemilihan Rating tegangan
Rating tegangan ditentukan dari karakteristik sebagai berikut :

Tegangan system fasa atau fasa ke tanah maksimum.

System pentanahan.

Rangkaian satu atau tiga fasa.


Sesuai dengan teganga sisitem dijatim maka rated tegangan cut-out dipilih

sebesar 20 kV dan masuk ke BIL 150.

Instalasi Tegangan Menengah

Page 70

3) Pemilihan rating Pemutusan.


Setiap transformator berisolasi minyak harus diproteksi dengan gawai proteksi arus lebih
secara tersendiri pada sambungan primer, dengan kemampuan atau setelan tidak lebih dari
250 %dari arus pengenal transformator.
Setelah melihat data- data diatas maka perhitungan pemilihan fuse cut-out adalah
sebagai berikut :

Arus untuk cut-out.

= 4,62 A x 2,5
= 11,55 A
Nilai tersebut adalah nilai maksimum sedangkan dalam perencanaan ini digunakan CO
dengan perhitungan 120 % dikalikan dengan arus pengenal transformator pada sisi primer,
yaitu 5,52 A, 20 % diambil dari pertimbangan factor pengembangan.
Rating arus kontinyu dari fuse besarnya dianggap sama atau lebih besar dari beban
kontinyu maksimal yang diinginkan / ditanggung. Oleh karena itu dipili CO dengan arus
sebesar 100 A.

Instalasi Tegangan Menengah

Page 71

E. ARRESTER
Arrester dipakai sebagai alat

proteksi utama dari tegangan lebih. Oleh karena

pemilihan arrester harus sesuai dengan peralatan yang dilindunginya. Karena kepekaan
arrester terhadap tegangan, maka pemakainya harus disesuikan dengan tegangan sistem.
Pemilihan lightning arrester dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat isolasi dasar yang
sesuai dengan Basic Insulation Level (BIL) peralatan yang dilindungi, sehingga didapatkan
perlindungan yang baik.
Pada pemilihan arrester ini dimisalkan tegangan impuls petir yang datang berkekuatan
400 KV dalam waktu 0,1s, jarak titik penyambaran dengan transformator 5 Km.

Tegangan dasar arrester


Pada jaringan tegangan menengah arrester ditempatkan pada sisi tegangan tinggi
(primer) yaitu 20 KV. Tegangan dasar yang dipakai adalah 20 KV sama seperti
tegangan pada sistem. Hal ini dimaksudkan agar pada tegangan 20 KV arrester
tersebut masih bisa bekerja sesuai dengan karakteristinya yaitu tidak bekerja pada
tegangan maksimum sistem yang direncanakan, tetapi masih tetap mampu
memutuskan arus ikutan dari sistem yang effektif.

Tegangan sistem tertinggi umumnya diambil harga 110% dari harga tegangan
nominal sistem. Pada arrester yang dipakai PLN adalah :
Vmaks

= 110% x 20 KV
= 22 KV, dipilih arrester dengan tegangan teraan 28 KV.

Koefisien Pentanahan
Didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms fasa sehat ke tanah dalam
keadaan gangguan pada tempat dimana penagkal petir, dengan tegangan rms fasa ke
fasa tertinggi dari sistem dalam keadaan tidak ada gangguan Untuk menetukan
tegangan puncak (Vrms) antar fasa dengan ground digunakan persamaan :

Vrms

=
Instalasi Tegangan Menengah

Page 72

= 15,5 KV
Dari persamaan di atas maka diperoleh persamaan untuk tegangan phasa dengan ground pada
sistem 3 phasa didapatkan persamaan :

Vm(L - G)

Koefisien pentanahan

= 12,6 KV

= 0,82

Keterangan :

Vm

= Tegangan puncak antara phasa dengan ground (KV)

Vrms

= Tegangan nominal sistem (KV)

Tegangan pelepasan arrester


Tegangan kerja penangkap petir akan naik dengan naiknya arus pelepasan, tetapi
kenaikan ini sangat dibatasi oleh tahanan linier dari penangkap petir.
Tegangan yang sampai pada arrester :

=
= 133,3 KV

Keterangan :
I
e

= arus pelepasan arrester (A)


= tegangan surja yang datang (KV)

Eo = tegangan pelepasan arrester (KV)


Z

= impedansi surja saluran ()

Instalasi Tegangan Menengah

Page 73

= tahanan arrester ()

Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran yang
dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi teganagn flasover dan
probabilitas tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga harga
e adalah :
e =1,2 BIL saluran

(23)

Keterangan :

= tegangan surja yang datang (KV)

BIL

= tingkat isolasi dasar transformator (KV)

Arus pelepasan nominal (Nominal Discharge Current)

Z adalah impedansi saluran yang dianggap diabaikan karena jarak perambatan


sambaran tidak melebihi 10 Km dalam arti jarak antara GTT yang satu dengan yang
GTT yang lain berjarak antara 8 KM sampai 10 KM. ( SPLN 52-3,1983 : 11 )

R =

=
= 42

I =
= 15,8 KA
Keterangan :
E = tegangan yang sampai pada arrester (KV)
Instalasi Tegangan Menengah

Page 74

= puncak tegangan surja yang datang

K = konsatanta redaman (0,0006)


x

= jarak perambatan

Jatuh tegangan pada arrester dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :


V =IxR
Sehingga tegangan pelepasan arrester didapatkan sesuai persamaan :
ea = Eo + (I x R)

(25)

Keterangan :
I

= arus pelepasan arrester (KA)

Eo = tegangan arrester pada saat arus nol (KV)


ea = tegangan pelepasan arrester (KV)
Z = impedansi surja ()
R = tahanan arrester ()

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam impulse crest
voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu gelombang 1,5 x 40 s.
Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus mempunyai karakteristik
ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut.

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran yang
dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi tegangan flasover dan
probabilitas tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga harga
E adalah :
e =1,2 BIL saluran
e = 1,2 x 150 KV
e = 180 KV

Instalasi Tegangan Menengah

Page 75

Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam impulse crest
voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu gelombang 1,2/50 s.
Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus mempunyai karakteristik
ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut. Sehingga dipilih BIL
arrester yang sama dengan BIL transformator yaitu 150 KV

Margin Perlindungan Arrester


Untuk mengitung dari margin perlindungan dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :
MP = (BIL / KIA-1) x 100%
MP = (150 KV/ 133,3 1) x 100%
= 125.28 %
Keterangan :
MP = margin perlindungan (%)
KIA = tegangan pelepasan arrester (KV)
BIL = tingkat isolasi dasar (KV)
Berdasarkan rumus di atas ditentukan tingkat perlindungan untuk tafo daya.
Kriteria yang berlaku untuk MP > 20% dianggap cukup untuk melindungi
transformator .

Jarak penempatan Arrester dengan Peralatan


Penempatan arrester yang baik adalah menempatkan arrester sedekat mungkin
dengan peralatan yang dilindungi. Jarak arrester dengan peralatan Yang dilindungi
digunakan persamaan sebagai berikut :

Ep= ea +

126

= 133,3 KV+
8,3

= 26,6x

Instalasi Tegangan Menengah

Page 76

= 0,31 m

jadi jarak arrester sejauh 31 cm dari transformator yang dilindungi.


Perhitungan jarak penempatan arrester di atas digunakan untuk transformator tiang.
Namun di wilayah Malang juga terdapat penempatan transformator di permukaan
tanah dengan menggunakan kabel tanah. Transformator tersebut berada dalam
tempat terpisah dengan pengaman arresternya. Transformator diletakkan di atas
tanah dan terhubung dengan arrester yang tetap diletakkan di atas tiang melalui
kabel tanah.
Tabel Batas Aman Arrester
IMPUL

BIL

BIL

S PETIR

ARRESTE

TRAF0

(KV)

KONDISI

KETERANGAN

(125 KV)

(150 KV)
Tegangan masih di bawah
120 KV

< 150 KV

<125 KV

Aman

rating transformator maupun


arrester
Tegangan masih memenuhi

125 KV

<150 KV

=125 KV

Aman

batasan keduanya
Tegangan

130 KV

<150 KV

>125 KV

Aman

200 KV

=150 KV

>150 KV

>125 KV

>125 KV

Aman

diterima

arrester dan dialirkan

ke

tanah
Masih

150 KV

lebih

memenuhi

batas

tegangan tertinggi yang bisa


diterima arrester.

Tidak

Arrester

aman

transformator rusak

rusak,

Berdasarkan keterangan diatas maka pemilihan BIL arrester harus mempunyai


kemampuan yang sama atau diatas tegangan BIL petir (150 kV), sedangkan untuk BIL trafo
dapat menggunakan BIL yang lebih rendah yaitu 125 Kv
Instalasi Tegangan Menengah

Page 77

Instalasi Tegangan Menengah

Page 78

F. PERHITUNGAN PENGHANTAR DAN BUSBAR


1) Perhitungan penghantar pada SUTM.
Untuk menghitung KHA penghantar kita harus mengetahui data-data yang
diperlukan untuk kebutuhan perhitungan KHA penghantar tersebut, yaitu:

Daya total pabrik

: 1040 KVA ( dari PLN diakui sebesar 415 KVA).

Daya trafo GTT

: 160 KVA ( lihat perhitungan trafo GTT).

Dari data diatas maka In dapat dihitung yaitu:

3. In

=
= 34,64 A.

4. KHA = 1,25 In
= 43,3 Ampere.
5. Dari table KHA penghantar AAAC (PUIL 2000) didapat luas penampang penghnatar
sebesar 16 mm (KHA 110 A) tetapi dilapangan penghantar untuk saluran SUTM
paling kecil adalah 35 mm , maka dipilih penghantar AAAC dengan luas penampang
35 mm . hal tersebut dilakukan untuk menekan rugi-rugi sepanjang saluran SUTM,
contohnya seperti drop tegangan yang terlau besar.

2) Perhitungan penghantar pada SUTR.


1. Penghantar dari Trafo Menuju Pengaman Utama
Untuk menghitung KHA penghantar kita harus mengetahui data-data yang
diperlukan untuk kebutuhan perhitungan KHA penghantar tersebut, yaitu:

Daya trafo GTT

: 160 KVA ( lihat perhitungan trafo GTT).

Dari data diatas maka In dapat dihitung yaitu:

In

Instalasi Tegangan Menengah

Page 79

= 243,09 A.
KHA = 1,25 In
=303,86 Ampere.
Menggunakan Kabel NYY berinti tunggal. Dari Katalog didapat luas penampang
penghantar sebesar 95 mm (KHA 320 A), Kerena jarak kabel menuju panel dekat
maka rugi-rugi tidak begitu besar.
Dengan Busbar :
Legrand, (32 x 5mm)/phase dengan KHA 450 A
Legrand, (32 x 2mm)/netral
2. Besar Penghantar Perjurusan
Jurusan 1
Penghantar dari pengaman menuju pipa jurusan
Total besar daya : 53200 VA
53200
I nominal=
660
I nominal=80,6 A

Besar KHA
KHA=80,6 Ax 1.25
KHA=100,75

Maka besar pengahantar yang digunakan adalah NYY dengan besar 25 mm2. Tetapi
untuk mengantisipasi drop dan untuk mengantisipasi pengahantar panas maka
digunakan penghantar dengan besar 50 mm2
Penghantar TC
Dari table KHA penghantar TC (BUKU PLN) didapat luas penampang penghnatar
sebesar 25 mm (KHA 103 A), maka dipilih penghantar TC dengan luas
penampang yang lebih besar yaitu 70 mm . hal tersebut dilakukan untuk menekan
rugi-rugi sepanjang saluran SUTR, contohnya seperti drop tegangan yang terlau
Instalasi Tegangan Menengah

Page 80

besar, yang diakibatkan oleh suhu sekitar dan jarak pemasangan Digunakan kabel
TC 3X70mm +1X50mm .

Jurusan 2
Penghantar dari pengaman menuju pipa jurusan
Total besar daya : 53200 VA

I nominal=

63300
660

I nominal=95,9

Besar KHA
KHA=95,9 Ax 1.25
KHA=119,875 A
Maka besar pengahantar yang digunakan adalah NYY dengan besar 25 mm2. Tetapi
untuk mengantisipasi drop dan untuk mengantisipasi pengahantar panas maka
digunakan penghantar dengan besar 50 mm2.
Dan busbar yang digunakan adalah busbar :
Legrand

Kabel TC

Dari table KHA penghantar TC (PUIL 2000) didapat luas penampang penghantar sebesar 35
mm (KHA 125 A), maka dipilih penghantar TC dengan luas penampang yang lebih besar
yaitu 70 mm . hal tersebut dilakukan untuk menekan rugi-rugi sepanjang saluran SUTR,
contohnya seperti drop tegangan yang terlau besar, yang diakibatkan oleh suhu sekitar dan
jarak pemasangan Digunakan kabel TC 3X70mm +1X50mm .

Jurusan 3
Penghantar dari pengaman menuju pipa jurusan

Instalasi Tegangan Menengah

Page 81

Total besar daya : 53200 VA


9777,9
I nominal=
660
I nominal=14,815 A

Besar KHA
KHA=14,815 A x 1.25

KHA=18,52 A
Maka besar pengahantar yang digunakan adalah NYY dengan besar1,5 mm2. Tetapi
untuk mengantisipasi drop dan untuk mengantisipasi pengahantar panas maka

digunakan penghantar dengan besar 16 mm2


Kabel TC
Dari table KHA penghantar TC (PUIL 2000) didapat luas penampang penghnatar
sebesar 25 mm (KHA 108 A) sudah cukup untuk mengurangi Rugi-Rugi.

3) Perhitungan penghantar pada SKTM.


Kabel tersebut menghubungkan antara JTM menuju gardu PLN, untuk
perhitungannya adalah sebagai berikut:

6. In

=
= 11,54 A.

7. KHA = 1,25 In
= 14,4 Ampere.
8. Dari table KHA penghantar kabel tanah NA2XSEYBY (PUIL 2000) didapat luas
penampang penghnatar sebesar 35 mm (KHA 127 A ditanah & 139 A diudara ), maka
dipilih penghantar XLPE dengan luas penampang 35 mm .

Instalasi Tegangan Menengah

Page 82

G. PERENCANAAN PHB TR

Instalasi Tegangan Menengah

Page 83

Perhitungan Pengaman
Pengaman Utama
Besar In yang mengalir pada pengaman adalah sama dengan In trafo :

Besar Pengaman Utama adalah:


Ipengaman Utama

= In x 0,8

Besar arus dengan faktor pemakaian adalah sebesar :

Maka Pengaman yang digunakan adalah MCCB easy pact 160 A


Instalasi Tegangan Menengah

Page 84

Pengaman Jurusan

Pengaman jurusan menggunakan NH fuse. Setiap jurusan dibagi menjadi 3 fasa, yaitu R, S
dan T. Besar pengaman adalah :
Ipengaman= x 1,15

daya beban
V

a. Jurusan 1
Fasa R
Arus yang mengalir pada jurusan 1 fasa R adalah sebesar :
daya beban
=
V
=

17600
220
= 80 A

Fasa S
Arus yang mengalir pada jurusan 1 fasa R adalah sebesar :
daya beban
=
V
=

17600
220
= 80 A

Fasa T
Arus yang mengalir pada jurusan 1 fasa R adalah sebesar :
daya beban
=
V
=

18000
220
= 81,82 A

Maka menggunakan pengaman dengan besar :


I pengaman=

Total daya
3 x 220

I pengaman=

(17600+17600+18000)
3 x 220

Instalasi Tegangan Menengah

Page 85

I pengaman=

53200
660

I pengaman=80,6 Ax 1,15
I pengaman=92,65 A

Pengaman yang digunakan adalah NH Fuse type gG/gL 80 A


b. Jurusan 2
Fasa R
Arus yang mengalir pada jurusan 1 fasa R adalah sebesar :
daya beban
=
V
=

19800
220
= 90 A

Fasa S
Arus yang mengalir pada jurusan 1 fasa R adalah sebesar :
daya beban
=
V
=

21400
220
=97,27 A

Fasa T
Arus yang mengalir pada jurusan 1 fasa R adalah sebesar :
daya beban
=
V
=

22100
220
= 100,45 A

Maka menggunakan pengaman dengan besar


I pengaman=

Total daya
3 x 220

(19800+21400+22100)
I pengaman=
3 x 220
Instalasi Tegangan Menengah

Page 86

I pengaman=

63300
660

I pengaman=95,9 A x 1,15

I pengaman=110,285
Pengaman yang digunakan adalah NH fuse type gG/gL 100 A
c. Jurusan 3
Fasa R
Arus yang mengalir pada jurusan 1 fasa R adalah sebesar :
daya beban
=
V
=

3388,9
220
= 15,4 A

Fasa S
Arus yang mengalir pada jurusan 1 fasa R adalah sebesar :
daya beban
=
V
=

3333,4
220
= 15,152 A

Fasa T

Arus yang mengalir pada jurusan 1 fasa R adalah sebesar :


=

daya beban
V

3055,6
220
= 13,889 A

Maka menggunakan pengaman dengan besar


I pengaman=

Total daya
3 x 220

Instalasi Tegangan Menengah

Page 87

(3388,9+3333,4+3055,6)
I pengaman=
3 x 220

I pengaman=

9777,9
x 1,15
660

I pengaman=14,815 A x 1,15
I pengaman=17,03 A

Pengaman yang digunakan adalah NH fuse type gG/gL sebesar 16 A

Instalasi Tegangan Menengah

Page 88

H. ARUS HUBUNGA SINGKAT PENGAMAN

JARINGAN SISI ATAS


Di ketahui :
Psc
= 500 < 81,3o MVA
U0
= 400 V
2
U 02
400
Z1
= P
= 500 MV
sc

= 81,3 o

cos 81,3 o

= 0,15

Instalasi Tegangan Menengah

= 0,32 m

Page 89

sin 81,3 o
R1
R1
X1
X1

= 0,988

= Z1 .cos . 10-3
= 0,32 x 0,15 x 10-3 = 0,048
= Z1 .sin . 10-3
= 0,32 x 0,988 x 10-3 = 0,316

TRAFO
Di ketahui :
S

= 160 KVA ; Usc

R2 =

Wc x U 0 2 x 103
S2

R2 =

2400 x 400 x 10
2
160

Z 2=

Usc U 2
x
100 S

Z 2=

4 4002
x
100 160

= 4%

U = 400 V ;

Wc

= 15

Z 2=40
X2 =

40215 2

X2= 37,08

KABEL SEKUNDER TRAFO menuju panel PHB TR


L=5m

cu = 22,5

Xtembaga = 56,2 x 106 A = 95 mm2

Ukuran kabel = NYY (1 x 95 mm2) / P


L
R3 = A

22,5 x

( 955 )

= 1,18

X3 = 0,08 x 5 = 0,4
ARUS HUBUNG SINGKAT 1 (pengaman utama)

Instalasi Tegangan Menengah

Page 90

= 2400 W

U0
Isc =

3 Rt 12 + X t 12

Rt1 = 0,048 + 15 + 1,18 = 16,23


Xt1 = 0,316 + 37,08 + 0,4 = 37,796
400
Isc = 3 16,232+ 37,7962 = 5,6 kA

BUSBAR
L = 0,5 m , A = 32 x 5 mm , cu = 22,5
L
1
22,5 x
R4 = A =
32 x 5 = 0,14
X4 = 0,15 x L = 0,15 x 1 = 0,15
ARUS HUBUNG SINGKAT 2( pada pengaman jurusan)
U0
Isc = 3 R 2 + X 2
t1

t1

Rt1 = 16,23 + 0,14 = 16,37


Xt1 = 37,796 + 0,15 = 37,946
400
Isc = 3 16,372 +37,9462 = 5,59 kA

Instalasi Tegangan Menengah

Page 91

I.

PENTANAHAN

1. Pentanahan Body Trafo, panel PHB TR, dan arrester


Pada pentanahan body trafo, panel PHB TR dan Aresster harus mempunyai
tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan sistem pentanahan elektroda
batang tunggal dengan catatan:

Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ): 100 ohm/m
Luas penampang elektroda adalah 201,02 mm2
r = 8 mm

Menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal

Panjang elektroda = 3 meter

Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda

R pentanahan =

= 13,66

Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5

Menggunakan konfigurasi Square

Instalasi Tegangan Menengah

Page 92

Factor pengali konfigurasi

= 0,3125

factor pengali konfigurasi

memenuhi persyaratan karena Rpt<5


Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang tunggal
sistem square configuration adalah sebesar 3,316 . Sehingga memenuhi syarat PUIL.

1. Pentanahan Titik Netral Trafo


Pada pentanahan titik netral trafo, panel MDP, body Genset, dan panel genset
harus mempunyai tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan
pentanahan system cross dengan catatan:

Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ): 100 ohm/m
Luas penampang elektroda adalah 201,02 mm2
r = 8 mm

Menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal

Panjang elektroda = 3 meter

Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda

R pentanahan =

= 13,66

Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5

Instalasi Tegangan Menengah

Page 93

Menggunakan konfigurasi Square

Factor pengali konfigurasi

= 0,3125

factor pengali konfigurasi

memenuhi persyaratan karena Rpt<5


Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang tunggal
sistem square configuration adalah sebesar 3,315 . Sehingga memenuhi syarat PUIL.

Instalasi Tegangan Menengah

Page 94

J. PENENTUAN JENIS TIANG


PENENTUAN JENIS TIANG PADA SUTM
Jenis jenis konstruksi tiang TM
TM1

Tiang Penyangga Lurus

TM2

Tiang Penyangga Sudut

TM3

Tiang Penyangga Akhir

TM4

Tiang Penyangga Akhir

TM5

Tiang Penyangga Ganda

TM5C
TM8

Tiang Penyangga Ganda dengan CO


Tiang Penyangga

TM8C

Tiang Penyangga Percabangan dengan CO

TM8X

Tiang Penyangga Percabangan dengan Satu Tarikan Baru

TM10

Tiang Penyangga Sudut / Belokan

TM10C

Tiang Penyangga Sudut / Belokan dengan CO

TM11

Tiang Penyangga Exit dengan Kabel Tanah

TM12

Tiang Penyangga Percabangan dengan Kabel Tanah

TM15

Tiang Penyangga Akhir dengan Arester

TMTP

Tiang Penyangga Dua Tiang / HT Pool

TMTP3

Tiang Penyangga Tiga Tiang / Tree Pool

TMV

Tiang Penyangga Vertikal


Lain-lain

Tiang B1

: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan TM

5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).
2) Tiang B2
: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan TM
5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).

Instalasi Tegangan Menengah

Page 95

3) Tiang B3

: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan

TM 5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).
4) Tiang B4

: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan TM

5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).
5) Tiang B5

: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan

TM 5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).
6) Tiang B6

: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan

TM 5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).
7) Tiang B7

: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan TM

5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).
8) Tiang B8

: karena merupakan tiang percabanga/persilangan

maka

digunakan TM 8, di tambah dengan arrester, CO dengan konstruksi tiang 12


meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter karena pemasangan tiang tersebut
berada dijalan raya).
9) Tiang B8C1

: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan

TM 5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).
10) Tiang B8C2

: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan

TM 5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).
11) Tiang B8C3

: karena merupakan tiang penyangga lurus maka digunakan

TM 5 dengan konstruksi tiang 12 meter 200 daN (tinggi tiang dipilih 12 meter
karena pemasangan tiang tersebut berada dijalan raya).
12) Tiang B8C4

: karena merupakan tiang akhir, di tambahkan guy wire untuk

menopang tiang maka di gunakan TM 4, dengan konstruksi tiang 11 meter 200


daN (sebab tiang berada di jalan masuk area pabrik).
13) GTT
o

: 2 TIANG 11 METER

Tambahan

Instalasi Tegangan Menengah

Page 96

Antara tiang B8 TM8 dengan B8C1 diberi tambahan Guard Net, karena
saluran kabel SUTM tersebut melewati jalan raya.

PENENTUAN JENIS TIANG PADA SUTR

JENIS JENIS KONSTRUKSI TR


TR1

Tiang Penyangga Lurus

TR2

Tiang Penyangga Sudut dan Belokan

TR3

Tiang Penyangga Akhir

TR4

Tiang Penyangga Percabangan

TR5

Tiang Penyangga Penegang

TR6

Tiang Penyangga Percabangan

TR6A

Tiang Penyangga Percabangan

TR7

Tiang Penyangga Penyambung ( SUTR ) Kabel TC dan A3C

TR8

Tiang Penyangga TR dengan LV Insulator

TR9

Tiang Penyangga Akhir dengan LV Insulator

b. Tiang B8A1D1

: karena merupakan tiang penyangga percabangan maka

digunakan TR 6 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 daN, ditambah dengan


horizontal guy wire untuk menahan tarikan kabel ( menggunakan 1 set Strut
Pole).
c. Tiang B8A1D1A1 :

karena merupakan tiang penyangga akhir maka

digunakan TR 3 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 dANE, ditambah


dengan guy wire untuk menahan tarikan kabel dari sisi utara ( menggunakan
1set guy wire).
d. Tiang B8A1D2

:karena merupakan tiang penyangga sudut dan belokan

maka digunakan TR 2 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 dANE, ditambah


dengan guy wire untuk menahan tarikan kabel dari sisi selatan dan sisi barat
( menggunakan 2set guy wire).
Instalasi Tegangan Menengah

Page 97

e. Tiang B8A1D2A1 : karena merupakan tiang penyangga akhir maka


digunakan TR 3 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 dANE, ditambah
dengan guy wire untuk menahan tarikan kabel dari sisi utara ( menggunakan
1set guy wire).
f.

Tiang B8A1B1

:karena merupakan tiang penyangga percabangan /

persilangan maka digunakan TR 4 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 daN.


g. Tiang B8A1B2 : karena merupakan tiang penyangga akhir maka digunakan
TR 6 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 daN, ditambah dengan guy wire
untuk menahan tarikan kabel ( menggunakan 1set guy wire).
h. Tiang B8A1B3

: karena merupakan tiang penyangga sudut dan belokan

maka digunakan TR 2 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 dANE, ditambah


dengan guy wire untuk menahan tarikan kabel dari sisi selatan dan sisi barat
( menggunakan 2set guy wire).
i. Tiang B8A1B3A1 : karena merupakan tiang penyangga akhir maka
digunakan TR 3 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 dANE, ditambah
dengan guy wire untuk menahan tarikan kabel dari sisi utara ( menggunakan
1set guy wire).
j. Tiang B8A1B2A1 : karena merupakan tiang penyangga akhir maka
digunakan TR 3 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 dANE, ditambah
dengan guy wire untuk menahan tarikan kabel dari sisi utara ( menggunakan
1set guy wire).
k. Tiang B8A1B1A1 : karena merupakan tiang penyangga akhir maka
digunakan TR 3 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 dANE, ditambah
dengan guy wire untuk menahan tarikan kabel dari sisi utara ( menggunakan
1set guy wire).
l. Tiang B8A1B1C1 : karena merupakan tiang penyangga lurus maka
digunakan TR 1 dengan konstruksi tiang 9 meter 200 dAN

Instalasi Tegangan Menengah

Page 98

STANDARD PERHITUNGAN ANDONGAN


1) Andongan dengan titik tumpu yang sama.

Gambar1. andongan dengan titik tumpu yang sama.


Lengkung kawat yang berbentuk U atau yang diberi nama D disebut berat kawat,
penghantar yang disebut sebagai andungann, besarnya dihubung berdasar persamaan kurva
Catonary sebagai berikut:

Dmax =

Rumus pendekatan sebagai berikut:

D=

Keterangan:
o D

= andongan (m).

o W

= berat kawat per-satuan panjang (kg/m).

o d

= lebar gawang (m).

o T

= tekanan kawat mendatar (kg).

o LO

= panjang kawat sebenarnya yang dipakai.

Panjang kawat sebenarnya yang dipakai : Lo = 2L +

Karena untuk tempat yang direncanakan berada pada daerah datar maka sama seperti diatas.
Besar andongan ditentukan sebesar 2 % dari panjang antar tiang penghantar.
Instalasi Tegangan Menengah

Page 99

Instalasi Tegangan Menengah

Page 100

K. PERHITUNGAN LOSSES ATAU DROP TEGANGAN PADA PENGHANTAR


DAN ANDONGAN

SUTR
JURUSAN 1
B8A1D2A1 : beban yang dipikul = 10 buah rumah 900 VA
Jarak antar B8A1D2 B8A1D2A1 adalah 40 m. Untuk andongan maka di tambahkan 2 %
Sehingga panjang penghantar adalah 40,8 m.

In =

9000
220

= 40,9 A
B8A1D2 : beban yang dipikul = 8 buah rumah 2200 VA
Jarak antar B8A1D1 - B8A1D2 adalah 35 m. Untuk andongan maka di tambahkan 2 %
Sehingga panjang penghantar adalah 35,7 m.
In =

17600
220

= 80 A
B8A1D1 : beban yang dipikul = 8 buah rumah 2200 VA
Jarak antar GTT B8A1D1 adalah 20 m. Untuk andongan maka di tambahkan 2 %
Sehingga panjang penghantar adalah 20,4 m.
In =

17600
220

= 80 A
B8A1D1A1 : beban yang dipikul = 10 buah rumah 900 VA
Jarak antar B8A1D1 B8A1D1A1 adalah 40,8 m. Untuk andongan maka di tambahkan
2%
Sehingga panjang penghantar adalah 40,8 m.
In =

9000
220

= 40,9 A
JURUSAN 2
B8A1B3A1 :beban yang di pikul = 5 rumah 1300 VA
Instalasi Tegangan Menengah

Page 101

Jarak antar B8A1B3 B8A1B3A1 adalah 40 m. untuk andoongan maka di tambahkan 2


% , sehingga panjang penghantar adalah 40,8 m
1300 x 5
In =
220
= 29,54 A
B8A1B3 : beban yang di pikul = 5 rumah 2200 VA
Jarak antar B8A1B2 B8A1B3 adalah 40 m. andongan 2%, sehingga panjang menjadi
40,8 m
5 x 2200
In =
220
= 50 A
B8A1B2 : beban yang di pikul = 8 rumah 2200 VA
Jarak antar tiang B8A1B1 B8A1B2 adalah 35 m. andongan 2% sehingga panjang
menjadi 35,7 m.
17600
In =
220
= 80 A
B8A1B2A1 : beban yang di pikul = 10 rumah 900 VA
Jarak antar tiang B8A1BA1 B8A1B2 adalah 40 m. andongan 2% sehingga panjang
menjadi 40,8 m.
9000
In = 220
= 40,9 A
B8A1B1A1 : beban yang di pikul = 10 rumah 900 VA
Jarak antar tiang B8A1B1 B8A1B2 adalah 40 m. andongan 2% sehingga panjang
menjadi 40,8 m.
9000
In = 220
= 40,9 A
JURUSAN 3
PJU pabrik
16 buah lampu dengan daya 277,78 VA
Jarak antar tiangnya adalah 24 m. untuk andoongan maka di tambahkan 2 % , sehingga
panjang penghantar adalah 24,48 m
277,78
In =
220
= 1,26 A
dan jarak menyebrang jalan raya 12 m
PJU Rumah
Instalasi Tegangan Menengah

Page 102

17 buah lampu dengan daya 277,78 VA


Jarak antar tiangnya adalah 24 m. untuk andoongan maka di tambahkan 2 % , sehingga
panjang penghantar adalah 24,48 m
277,78
In =
220
= 1,26 A
dan jarak menyebrang jalan raya 12 m

Perhitungan Luas Penampang Kabel dengan Memperhitungkan Drop Tegangan


JURUSAN 1
V = 5% x 220 = 11 V

Penghantar Jurusan 1 Pada Perhitungan Sebelumnya Baik


Dipilih Penghantar jenis NFA2X-T degan luas penampang untuk fasa 50 mm2 dan netral
35 mm2. Dipilih 50/35 mm2 .

JURUSAN 2
V = 5% x 220 = 11 V

Instalasi Tegangan Menengah

Page 103

Penghantar Jurusan 2 Pada Perhitungan Sebelumnya Baik


Dipilih Penghantar jenis NFA2X-T degan luas penampang untuk fasa 70 mm2 dan netral
50 mm2. Dipilih 70/50 mm2 karena untuk antisipasi jika terjadi pengembangan konsumsi
listrik perumahan tersebut
Dengan perhitungan ini maka Drop tegangan tidak akan mencapai 5%.
JURUSAN 3
V = 5% x 220 = 11 V

Penghantar Jurusan 3 Pada Perhitungan Sebelumnya Baik


Dipilih Penghantar jenis NFA2X-T degan luas penampang 25 mm2.
Dengan perhitungan ini maka Drop tegangan tidak akan mencapai 5%.

Instalasi Tegangan Menengah

Page 104