Anda di halaman 1dari 19

HIV/AIDS DAN KONDISINYA DI INDONESIA

Oleh :

Kelompok 1 (4 SK 2)

1. Abdurrahman Datau 05.4701


2. Grahadian Saukat 06.5067
3. Ismet Ibnu Sani 06.5099
4. Za’ima Nurrusydah 06.5262

Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

Jakarta

2009

BAB I

1
DEFINISI HIV DAN AIDS

A. HIV
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat
menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4
sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat
bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.
Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak
Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah
putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika
diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat
meninggal dunia terkena pilek biasa.
CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah
putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang
menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia
menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan
dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem
kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan
sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4
semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol).
Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan
berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu
berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi
sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4
berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke
tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia.
Istilah HIV telah digunakan sejak 1986 (Coffin et al., 1986) sebagai nama untuk
retrovirus yang diusulkan pertama kali sebagai penyebab AIDS oleh Luc Montagnier dari
Perancis, yang awalnya menamakannya LAV (lymphadenopathy-associated virus) (Barre-
Sinoussi et al., 1983) dan oleh Robert Gallo dari Amerika Serikat, yang awalnya
menamakannya HTLV-III (human T lymphotropic virus type III) (Popovic et al., 1984).
HIV adalah anggota dari genus lentivirus, bagian dari keluarga retroviridae yang
ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel-host awal
yang mengelilingi sebuah pusat protein/RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia:

2
HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih "virulent" dan lebih mudah menular, dan
merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia; HIV-2 kebanyakan
masih terkurung di Afrika barat (Reeves and Doms, 2002). Kedua spesies berawal di
Afrika barat dan tengah, melompat dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang
dikenal sebagai zoonosis.
HIV-1 telah berevolusi dari sebuah simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang
ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte (Gao et al., 1999).HIV-2
melompat spesies dari sebuah strain SIV yang berbeda, ditemukan dalam sooty
mangabeys, monyet dunia lama Guinea-Bissau (Reeves and Doms, 2002).
HIV-1 memiliki 3 kelompok atau grup yang telah berhasil diidentifikasi
berdasarkan perbedaan pada envelope-nya yaitu M, N, dan O (Thomson dkk, 2002).
Kelompok M yang paling besar prevalensinya dan dibagi kedalam 8 subtipe berdasarkan
seluruh genomnya, yang masing-masing berbeda secara geografis (Carr dkk, 1998).
Subtipe yang paling besar prevalensinya adalah subtipe B (banyak ditemukan di Afrika dan
Asia), subtipe A dan D (banyak ditemukan di Afrika), dan C (banyak ditemukan di Afrika
dan Asia); subtipe-subtipe ini merupakan bagian dari kelompok M dari HIV-1. Ko-infeksi
dengan subtipe yang berrbeda meningkatkan sirkulasi bentuk rekombinan (CRFs)

GambarGambar
virus HIV-2
virus HIV-1

B. AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang
merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk
hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang

3
mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau
menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel
darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak langsung terkena AIDS. Untuk menjadi
AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat menjadi AIDS yang
mematikan. Seseorang dapat menjadi HIV positif. Saat ini tidak ada obat, serum maupun
vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS.
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency
Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang
timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau
infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-
lain).
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV)
yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus
ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor.
Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus,
namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung
antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang
mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu
ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral),
transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan,
bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-
Sahara.Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6
juta orang di seluruh dunia.Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO
memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak
pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan
salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan
kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000
jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika
Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan
sumber daya manusia di sana.
AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for
Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia

4
pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan
oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.
Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2.
HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari
mayoritas infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada
di Afrika Barat.Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari
simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan.HIV-2 berasal
dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan
Kamerun.
Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak
dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging.Teori yang
lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa
epidemik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari
penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio.Namun demikian, komunitas ilmiah
umumnya berpendapat bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.

BAB II
CARA PENULARAN HIV/AIDS

AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus
yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+

5
(sejenis sel T), makrofag, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan
tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat
berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga
kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan
akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi
infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang
diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi
tertentu.

Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi


AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami
AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada
setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang
mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti
fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi. Orang tua umumnya memiliki
kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko
mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan
kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat
perkembangan penyakit ini Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran
penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. HIV memiliki
beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju
perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula. Terapi antiretrovirus yang sangat
aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata
waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

A. Penularan seksual ”Sexual Transmitted Way”.

SIAPA YANG RAWAN TERHADAP VIRUS AIDS ? :

Infeksi virus AIDS terutama disebabkan oleh perilaku seksual berganti-ganti


pasangan. Oleh karena itu yang paling berisiko untuk tertular AIDS adalah siapa saja
yang mempunyai perilaku tersebut. Harus diingat bahwa perilaku seperti ini bukan hanya
dimiliki oleh kelompok pekerja seks tetapi juga oleh kelompok lain seperti misalnya
remaja, mahasiswa, eksekutif muda dsb. Jadi yang menjadi masalah disini bukan pada
"kelompok" mana tetapi pada "perilaku" yang berganti-ganti pasangan.

6
Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi
cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau
membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih
berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal
lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak
berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif. Kekerasan
seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya
tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan
transmisi HIV.

Penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat


menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat
kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan
makrofag) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-
Sahara, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih
besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh
sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih
kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan
trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofag.[36]

Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan
kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada
berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak
dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat
kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan
81% peningkatan laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena
perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih
besar terhadap penyakit seksual. Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi
jenis virus lain yang lebih mematikan.

B. Kontaminasi patogen melalui darah ”Blooded Transmitted Way”

Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita
hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan
kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh
organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas
infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik
merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di

7
Amerika Utara, Republik Rakyat Cina, dan Eropa Timur. Resiko terinfeksi dengan HIV
dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1
banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh
mengurangi risiko itu.[40] Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter,
dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga
terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh. Kewaspadaan
universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia karena
sedikitnya sumber daya dan pelatihan yang tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5%
dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas
kesehatan yang tidak aman. Oleh sebab itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa,
didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini, mendorong negara-negara di dunia
menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui fasilitas
kesehatan.

Resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju.
Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun
demikian, menurut WHO, mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah
yang aman dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang
terinfeksi".

C. Penularan masa perinatal ”Mother-Son Transmitted Way”

Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa
perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak
ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah
sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus
dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1%.
Sejumlah faktor dapat memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat
persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya). Menyusui
meningkatkan risiko penularan sebesar 4%.

D. Faktor-Faktor Yang Mempercepat Penyebaran HIV Pada Perempuan

Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya penyebaran HIV pada perempuan


dapat ditelusuri melalui tiga jenjang penyebab pada setiap tahap kehidupan yaitu Sebab
langsung, Sebab tidak langsung dan Sebab mendasar. Ketiga jenjang penyebab ini
melibatkan unit sosial yang berbeda yaitu, individu, keluarga, dan masyarakat.

8
Gambar 2.1

Faktor-Faktor Yang Mempercepat Penyebaran HIV Pada Perempuan

BAB III
PENYEBARAN DAN PREVALENSI HIV/AIDS

A. Penyebaran dan Prevalensi HIV/AIDS Secara Global

Gambar 3.1
A global view of HIV infection
33 million people [30–36 million] living with HIV, 2007

9
Sumber : 2008 Report on the Global AIDS epidemic, UNAIDS

Dari Gambar 3.1 di atas, pada tahun 2007 dapat dilihat bahwa wilayah Afriks
memiliki tingkat prevalensi HIV pada kelompok usia dewasa tertinggi, khususnya pada
wilayah Afrika Selatan. Hal ini sangat signifikan dibandingkan dengan Negara-negara lain
pada wilayah di luar Afrika.

Tabel 3.1

Global summary of the AIDS epidemic

December 2008

10
Dari Tabel 3.1 di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besar penderita HIV adalah
orang dewasa sebesar 31,3 juta atau hampir sekitar 94% dari total penderita. Begitu pula
dengan kasus baru infeksi HIV, mencapai 2,7 Juta kasus pada orang dewasa atau sekitar
85% dari total kasus baru. Seiring dengan jumlah penderita dan kasus baru HIV pada orang
dewasa sangat besar, begitu pula dengan kasus kematian yang berhubungan dengan AIDS,
persentase terbesar juga berada pada orang dewasa yaitu sekitar 1,7 juta atau 85%.

B. Penyebaran dan Prevalensi HIV/AIDS di Indonesia


Di Indonesia , secara kumulatif pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS dari 1
Januari 1987 s.d. 31 Maret 2009, terdiri dari 6668 pengidap infeksi HIV dan 16964 kasus
AIDS, dengan juumlah kematian 3492 (Ditjen PPM dan PL Depkes RI).

Grafik 3.1

Persentase Kumulatif Kasus AIDS di Indonesia berdasarkan kelompok umur

s.d Maret 2009

11
Dari Grafik 3.1 di atas, kasus tertinggi AIDS berada pada kelompok usia 20-29
tahun, yaitu sekitar 50,50%.

Grafik 3.2
Estimasi populasi beresiko di indonesia, 2006

Sumber : Depkers RI, estimasi tahun


2006

Populasi manakah yang paling beresiko untuk terkena HIV/AIDS? Berdasarkan


Grafik 3.2, populasi yang paling beresiko terkena HIV/AIDS adalah para pelanggan
Wanita Penjaja Seks (WPS), yaitu sekitar 3.138.420 jiwa, sangat berbeda jauh dengan
populasi lainnya.

Grafik 3.3
Estimasi Prevalensi HIV di indonesia, 2006

12
Sumber : Depkers RI, estimasi tahun
2006

Dari Grafik 3.3 di atas, dapat terlihat bahwa jumlah penderita HIV terbesar berasal
dari kelompok Pengguna Jarum Suntik (Penasun).

Gambar 3.2
Sebaran Prevalensi HIV Di Indonesia, 2006

Dari Gambar 3.2 di atas, dapat terlihat bahwa prevalensi HIV tertinggi di Indonesia
berada pada wilayah Papua yaitu lebih dari 1%.

BAB IV

13
VOLUNTARY COUNSELING AND TESTING (CVT)

Salah satu program yang dilaksanakan untuk mencegah penularan HIV-AIDS


adalah Voluntary Counselling dan Testing (VCT)

A. Apa itu VCT?

VCT atau Voluntary Counseling and Testing, atau konseling dan test sukarela,
adalah kegiatan konseling bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan oleh seorang
konselor VCT yang terlatih, yang dilakukan sebelum (pre-test counselling) dan sesudah
(post-test counselling) test darah untuk mengetahui status HIV di laboratorium. Proses ini
disebut "voluntary" karena sifatnya sukarela. Artinya, konseling dalam rangka tes HIV dan
tes HIV itu sendiri pada prinsipnya tidak bisa diharuskan. Hal ini terutama untuk mencegah
terjadinya diskriminasi. Misalnya supaya perusahaan atau institusi tidak bisa
mengharuskan tes HIV lalu menolak lamaran kerja calon pegawai atas dasar hasil tes yang
positif atau memecat pegawai yang ternyata positif HIV.

B. Apa itu konseling pra dan pasca-tes HIV dan mengapa konseling ini penting?

Konseling sebelum tes (pre-test counselling) dan setelah tes HIV (post-test
counselling) adalah penting dan merupakan bagian prosedur baku tes HIV. Konseling pra
tes artinya mempersiapkan seseorang yang akan menjalani pemeriksaan HIV untuk
menghadapi kemungkinan hasil tes yang positif, termasuk di dalamnya penilaian risiko.

Orang yang akan menjalankan tes HIV harus dipersiapkan untuk dapat menerima
‘berita buruk’. Jika ia dianggap tidak mampu menghadapi ini, maka ia harus menunda
pemeriksaan hingga mentalnya telah benar-benar siap. Persiapan ini sangatlah penting,
karena bunuh diri atau perilaku merusak-diri lainnya, telah banyak terjadi pada individu
yang tidak menjalani konseling pra maupun pasca-tes, setelah individu tersebut menerima
hasil tes yang positif.

Bagi orang yang berpikir bahwa mereka akan kecewa atau jiwa mereka akan
menjadi tidak stabil setelah menerima hasil tes, akan lebih baik jika mereka menjalani tes

14
dengan ditemani oleh teman yang mereka percaya, atau oleh petugas lapangan MSM atau
pendidik sebaya.

Selama menjalani konseling pasca-tes, informasi mendasar tentang HIV diberikan


ke individu yang menjalani tes. Orang yang menerima hasil tes positif diberitahu mengenai
bagaimana mencegah penularan HIV ke pasangan mereka dan mengenai cara-cara
menghindari IMS lainnya, atau cara menghindari terjadinya infeksi ulang oleh jenis galur
(strain) HIV lainnya.

Mereka juga mendapat rujukan untuk menjalani terapi dan mendapatkan dukungan
(termasuk tes CD4), dan menerima bimbingan dalam menjaga kesehatan mereka yang
biasanya hal ini dilakukan melalui layanan manajemen kasus.

Bagi yang mendapatkan hasil tes negatif, informasi konseling bisa membantu
dalam mencegah infeksi di masa mendatang. Ingat bahwa sebagian besar orang yang
menjalani tes mempunyai alasan dan penjelasan bagaimana mereka terlibat dalam perilaku
yang berisiko terkena HIV.

Tes dengan konseling bisa menyebabkan adanya perbedaan yang kritis dalam
kehidupan penderita HIV positif, karena mengetahui bahwa mereka terkena HIV dapat
mendorong mereka untuk mengambil tindakan yang sesuai dalam merencanakan
kehidupan mereka dan dalam mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan.

Secara ringkas Konseling HIV-AIDS merupakan proses dengan tujuan:

1. Menyediakan dukungan psikologik, misal dukungan yang berkaitan dengan


kesejahteraan emosi, psikologik, sosial dan spiritual seseorang yang mengidap virus
HIV atau virus lainnya.

2. Pencegahan penularan HIV dengan menyediakan informasi tentang perilaku


beresiko dan membantu orang dalam mengembangkan ketrampilan pribadi yang
diperlukan dalam perubahan perilaku dan negosiasi praktek lebih aman.

3. Memastikan efektivitas rujukan kesehatan, terapi dan perawatan melalui


pemecahan masalah kepatuhan berobat.

A. Model Pelayanan VCT

15
Layanan VCT dapat diimplementasikan dalam berbagai kebutuhan dan sangat
bergantung pada kondisi dan situasi daerah setempat, kebutuhan masyarakat dan profil
klien, seperti individual atau pasangan, perempuan atau laki-laki, dewasa atau anak muda.

• Mobile VCT (penjangkauan dan keliling)


Layanan VCT model penjangkauan dan keliling dapat dilaksanakan oleh LSM
atau layanan kesehatan yang langsung mengunjungi sasaran kelompok masyarakat
yang memiliki perilaku beresiko atau beresiko tertular HIV di wilayah tertentu.
Layanan ini diawali dengan survei atau penelitian atas kelompok masyarakat diwilayah
tersebut dan survei tentang layanan kesehatan dan layanan dukungan lainnya di daerah
setempat.
• Statis VCT (Klinik VCT tetap)
Pusat VCT dalam sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya, artinya
bertempat dan menjadi bagian dari layanan kesehatan yang telah ada. Sarana kesehatan
dan sarana kesehatan lainnya harus memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan
masyarakat akan VCT HIV-AIDS, layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan
pengobatan terkait dengan HIV-AIDS.
• Online VCT.
Untuk memerangi penyebaran HIV melalui penjangkauan online dan intervensi,
mengingat bahwa sebagian dari mereka yang menduga bahwa mereka mungkin HIV
positif atau hanya ingin tahu untuk mengetahui status HIV mereka sering malu untuk
datang ke VCT untuk berbicara dengan konselor yang telah bersertifikasi dan diuji,
karena adanya stigma yang kuat melekat pada penyakit ini. Melalui program ini,
konsultasi terkait dengan tes HIV dapat dilakukan secara online melalui Private Secure
Chatting dengan konselor. Peserta tidak perlu khawatir mengenai hasil konsultasi
mereka dikenal oleh orang lain karena mereka tidak diharuskan untuk mengungkapkan
identitas. Dan apabila mereka dengan hasil tes positif diharapkan untuk datang ke
klinik VCT untuk konseling secara bertatap muka langsung dengan konselor. Pada saat
ini peserta akan diminta untuk mengungkapkan identitas mereka yang sebenarnya
karena mereka akan mendapat pelayanan dukungan dari klinik VCT.

A. PITC (Provider Initiated HIV Testing and Counseling)

16
Formulasi untuk penanggulangan penyakit HIV/AIDS terus menerus dilakukan.
Penelitian, pemeriksaan, pengobatan, dan pencegahan melalui penyuluhan-penyuluhan pun
tak pernah berhenti. World Health Organization telah meluncurkan program PITC
(Provider Initiated HIV Testing and Counceling) sejak tahun 2006 dan sudah banyak
diterapkan di negara-negara dengan angka penderita HIV-AIDS yang cukup tinggi.
Bahkan para ibu hamil di Afrika, seluruhnya telah mengerti pentingnya konseling dan test
HIV-AIDS.

VCT dan PITC merupakan pendekatan yang saling melengkapi untuk menjangkau
lebih banyak sasaran yang tahu status HIV-nya. Keduanya tetap memegang 3 prinsip dasar
Testing HIV yaitu: consent, counseling dan confidentiality dengan pendekatan yang sedikit
berbeda (misal di PITC prekonseling dilakukan dengan cukup dengan prekonseling yang
singkat karena antara dokter dan pasien sudah terjalin hubungan / komunikasi).
Kekhususannya adalah di VCT klien datang atas dorongan dari dirinya atau motivasi
peer/kelompoknya, kebanyakan datang dalam tahap masih asimptomatik (tanpa ada
keluhan tentang kesehatannya), sedangkan pada PITC klien datang ke layanan karena
keluhan kesehatannya (dengan gejala / simptomatik) dan dokter curiga gejala-gejala ini
terkait AIDS sehingga perlu ditetidakkan diagnosanya agar pasien dapat mentidakses
pengobatan lebih lanjut. PITC berkembang karena pada prakteknya di rumah sakit banyak
kesakitan/kematian yg dicurigai berhubungan dengan AIDS tetapi tidak dapat ditetidakkan
diagnosanya -- yang menyebabkan hilangnya peluang pasien untuk memperoleh
pengobatan yg tepat bagi penyakitnya. Lebih dini seseorang diketahui status HIV-nya
maka akan terbuka akses terhadap layanan pencegahan dan pengobatan

B. Sasaran VCT

Sasaran CVT adalah masyarakat yang membutuhkan pemahaman diri akan status
HIV agar dapat mencegah dirinya dari penularan infeksi penyakit yang lain dan penularan
kepada orang lain.

Terutama kelompok masyarakat rentan seperti:

• Orang yang melakukan hubungan seksual berisiko. Hubungan berisiko ini bukan hanya
hubungan dengan pekerja seks, gigolo ataupun waria. Hubungan seksual dengan orang
yang tidak diketahui status HIV-nya bisa juga dianggap hubungan berisiko.
• Orang yang pernah menerima transfusi darah.
• Pengguna narkoba suntik.

17
• Orang yang mengalami Infeksi Menular Seksual berulang.

Masyarakat yang datang ke pelayanan VCT disebut klien. Sebutan klien dan bukan
pasien merupakan salah satu pemberdayaan dimana klien akan berperan aktif di dalam
proses konseling. Tanggung jawab klien dalam konseling adalah bersama mendiskusikan
hal-hal yang terkait dengan informasi akurat dan lengkap tentang HIV-AIDS, perilaku
beresiko, testing HIV dan pertimbangan yang terkait dengan hasil negatif atau positif.

A. Ringkasan Tahapan Pelaksanaan VCT

VCT dilaksanakan dalam beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut adalah


sebagai berikut :

Tahapan pertama adalah pre konseling, pada tahap ini yang dilakukan adalah
pemberian informasi tentang HIV dan AIDS, cara penularan, cara pencegahannya dan
periode jendela. Kemudian konselor dilaksanakan penilaian risiko klinis. Pada saat ini,
klien harus jujur tentang hal-hal berikut : kapan terakhir kali melakukan aktivitas seksual,
apakah menggunakan narkoba suntik, pernahkah melakukan hal-hal yang berisiko pada
pekerjaan – misalnya dokter ataupun calon dokter- dan apakah pernah menerima produk
darah, organ atau sperma. Konselor VCT terikat sumpah untuk merahasiakan status si
klien. Jangan khawatir untuk menceritakan kegiatan-kegiatan berisiko yang telah
dilakukan. Pada saat melakukan VCT pastikan konseling dilakukan di tempat tertutup dan
menjamin privacy.

Setelah selesai pre konseling, konselor akan menawarkan kepada klien apakah
bersedia untuk melakukan tes HIV. Seandainya ragu-ragu dan tidak mau untuk melakukan
tes maka tidak masalah. Konselor tidak akan memaksa klien untuk melakukan tes HIV.
Bisa kembali lagi kapan saja. Dan kalau klien mau tes HIV, konselor akan memberikan
informed consent atau izin dari klien untuk melakukan tes HIV. di surat pernyataan ini
klien menyatakan bahwa klien yang bersangkutan telah menerima informasi yang
berhubungan dengan tes ini, HIV dan telah menjalani penilaian risiko klinis. Klien juga
menyatakan kalau dirinya bersedia untuk di tes HIV.

Pada saat melakukan tes HIV darah kita akan diambil secukupnya. Dan
pemeriksaan darah ini bisa memakan waktu antara setengah jam sampai satu minggu –
tergantung jenis tes HIV yang dipakai – Biasanya klien disuruh pulang dan kembali lagi
mengambil hasil tes beberapa hari setelahnya.

18
Seandainya klien berubah pikiran dan tidak mau mengambil hasil tes maka tidak
mengapa. Tapi kalau klien memutuskan untuk mengambil hasil tes, klien akan menjalani
tahapan post konseling. Pada tahapan ini, konselor akan memberitahukan hasil tes. Kalau
hasil tesnya negatif, balik lagi ke penilaian risiko klinis -inilah pentingnya bagi kita untuk
menjawab dengan jujur- Kalau dari penilaian risiko klinis, klien masih dalam masa periode
jendela – periode jendela adalah periode di mana orang yang bersangkutan sudah tertular
HIV tetapi antibodinya belum membentuk sistem kekebalan terhadap HIV dan hasil tes
HIV nya masih negatif, meski belum terdeteksi tapi sudah bisa menularkan – klien akan
dianjurkan untuk melakukan tes kembali tiga bulan setelahnya. Selain itu, bersama-sama
dengan klien konselor akan membantu klien untuk merencanakan program perubahan
perilaku.

Bagaimana kalau hasil tes positif?

Kalau hasil tes positif, klien bebas untuk mendiskusikan perasaannya dengan
konselor. Konselor juga akan menginformasikan fasilitas untuk tindak lanjut dan
dukungan. Misalnya, jika klien membutuhkan terapi ARV ataupun dukungan dari
kelompok sebaya. Selain itu, konselor juga akan memberikan informasi tentang cara hidup
sehat dan bagaimana cara agar tidak menularkan ke orang lain.

Yang patut diperhatikan!

1. Hasil tes HIV adalah rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh konselor dan
klien saja. Klien dapat menuntut apabila ternyata hasil HIV bocor ke orang lain
yang tidak berwenang. Kalaupun klien dirujuk dan artinya informasi tentang status
HIV klien harus diberitahukan ke orang lain, harus dengan persetujuan klien.

2. Proses VCT yang benar memegang teguh privacy dan juga memastikan kalau klien
melakukan VCT dengan sukarela. Kalau anda dipaksa untuk melakukan tes HIV
tanpa konseling, jangan mau. Anda dapat menuntut pihak yang memaksa anda
untuk melakukan tes VCT.

19