Anda di halaman 1dari 1

Retina merupakan selaput transparan di bagian belakang mata yang mengolah

bayangan yang difokuskan di retina oleh kornea dan lensa. Ablasio retina seringkali
dihubungkan dengan adanya robekan atau lubang pada retina, sehingga cairan di
dalam mata merembes melalui robekan atau lubang tersebut dan menyebabkan
terlepasnya retina dari jaringan di bawahnya.
Menurut Dr Anang Tribowo SpM dari RS Dr Mohammad Hosein Palembang, ablasio
adalah suatu keadaan lepasnya retina sensoris dari epitel pigmen retina (RIDE).
Keadaan ini merupakan masalah mata yang serius dan dapat terjadi pada segala
usia. Walaupun biasanya terjadi pada orang usia setengah baya atau lebih tua.
Ablasio retina lebih besar kemungkinannya terjadi pada orang yang menderita
rabun jauh (miopia) dan pada orang orang yang anggota keluarganya ada yang
pernah mengalami ablasio retina,ujar Anang sapaan akrabnya.
Selain itu dapat juga akibat penyakit mata, seperti tumor, peradangan hebat, akibat
trauma atau sebagai komplikasi dari diabetes. Bila tidak segera dilakukan
tindakan, ablasio retina dapat menyebabkan cacat penglihatan atau kebutaan yang
menetap,ungkap Anang.
Ia mengatakan, kadang-kadang proses penuaan yang normal pun dapat
menyebabkan retina menjadi tipis dan kurang sehat, tetapi yang lebih sering
mengakibatkan kerusakan dan robekan pada retina adalah menyusutnya korpus
vitreum, bahan jernih seperti agar-agar yang mengisi bagian tengah bola mata.
Korpus vitreum melekat erat pada beberapa lokasi.
Lebih jauh ia mengatakan, bila korpus vitreum menyusut, ia dapat menarik
sebagian retina ditempatnya melekat sehingga menimbulkan robekan atau lubang
pada retina. Beberapa jenis penyusutan korpus vitreum merupakan hal yang normal
terjadi pada lanjut usia dan biasanya tidak menimbulkan kerusakan pada retina.
Korpus vitreum dapat pula menyusut pada bola mata yang tumbuh menjadi besar
sekali (kadang-kadang ini merupakan akibat dari rabun jauh), oleh peradangan,
atau karena trauma,jelasnya.
Pada sebagian besar kasus, terangnya, retina baru lepas setelah terjadi perubahan
besar struktur korpus vitreum. Bila sudah ada robekan-robekan retina, cairan dari
korpus vitreum dapat masuk ke lubang di retina dan dapat mengalir di antara
lapisan sensoris retina dan epitel pigmen retina. Cairan ini akan mengisi celah
potensial antara dua lapisan tersebut diatas sehingga mengakibatkan retina lepas.
Bagian retina yang terlepas tidak akan berfungsi dengan baik dan di daerah itu
timbul penglihatan kabur atau daerah buta.
Ditambahkannya, gejala yang sering dikeluhkan penderita adalah floaters
(terlihatnya benda melayang-layang). Hal ini terjadi karena adanya kekeruhan di
vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau degenerasi vitreus itu
sendiri. Lalu terjadi photopsia/Light flashes(kilatan cahaya). Tanpa adanya sumber
cahaya di sekitarnya, yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam
keremangan cahaya atau dalam keadaan gelap.
Gejala lainnya terjadi penurunan tajam penglihatan. Penderita mengeluh
penglihatannya sebagian seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin
luas,bebernya.
Untuk pencegahannya, saran Anang, gunakan kaca mata pelindung untuk
mencegah terjadinya trauma pada mata, penderita diabetes sebaiknya mengontrol
kadar gula darahnya secara seksama, dan periksakan mata minimal setahun sekali.
(mg39)