Anda di halaman 1dari 15

Neglected fracture adalah suatu fraktur yang tidak ditangani atau

ditangani dengan tidak semestinya sehingga menghasilkan keadaan


keterlambatan
dalam penanganan, atau kondisi yang lebih buruk dan bahkan kecacatan.4,5
Menurut Subroto Sapardan, Neglected Fracture adalah penanganan patah tulang
pada extremitas (anggota gerak) yang salah oleh bone setter (dukun patah),
yang
masih sering dijumpai di masyarakat Indonesia.6 Arief Darmawan mengatakan
neglected fracture adalah fraktur yang penanganannya lebih dari 72 jam,
umumnya
terjadi pada masyarakat dengan pendidikan dan status sosio-ekonomi rendah.7

ENDAHULUAN
Patah tulang (Fraktur) adalah putusnya kontinuitas tulang, Tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis ,
baik yang bersifat total maupun yang parsial yang pada umumnya disebabkan oleh trauma dimana terdapat
tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan tidak langsung. 1
Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah suatu fraktur dengan atau tanpa dislokasi yang
tidak ditangani atau ditangani dengan tidak semestinya sehingga menghasilkan keadaan keterlambatan dalam
penanganan, atau kondisi yang lebih buruk dan bahkan kecacatan. Menurut Subroto Sapardan (RSCM dan RS
Fatmawati Jakarta, Februari- April 1974), Neglected Fracture adalah penanganan patah tulang pada extremitas
(anggota gerak) yang salah oleh bone setter (dukun patah), yang masih sering dijumpai di masyarakat Indonesia.
Pada umumnya neglected fractur terjadi pada orang yang berpendidikan dan berstatus sosio-ekonomi rendah.
2,3
Delayed union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3-5 bulan (3 bulan untuk anggota
gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak bawah). Nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6-8
bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudoatrosis (sendi palsu). Malunion adalah keadaan
dimana fraktur menyembuh pada saatnya , tetapi terdapat deformitas yang berbentuk angulasi, varus/valgus,
rotasi, kependekan atau union secara menyilang misalnya pada fraktur radius dan ulna.2
Penanganan fraktur yang tidak tepat atau bahkan terabaikan tentu saja akan memberikan progosis yang kurang
baik bahkan kecatatan pada pasien sehingga penting untuk diketahui lebih lanjut bagaimana fraktur , kejadian
neglected fraktur dan bagaimana penanganan fraktur yang semestinya.2
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Anatomi Fisiologi Tulang
Tulang dalam garis besarnya dibagi atas ;
1. Tulang panjang , misalnya femur, tibia, fibula, ulna dan humerus .
2. Tulang pedek , mislanya tulang vertebra dan tulang-tulang karpal.
3. Tulang pipih , antara lain tulang iga, tulang scapula dan tulang pelvis .
Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang disebut korteks dan bagian dalam yang bersifat
spongiosa berebentuk trabekula dan diluarnya dilapisi oleh periosteum. 2,3

Gambar 1. Pembagian tulang


Gambar 2. Struktur tulang
Beberapa fungsi tulang sebagai struktur dan organ yaitu ;
1.
Membentuk rangka badan
2. Tempat melekatnya otot
3.
Sebagai bagian tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam, seperti otak, sum-sum
tulang belakang, jantung dan paru-paru
4.
Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor, magnesium dan garam.
5.
Sebagai organ yang berfungsi sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi sel-sel darah merah , selsel darah putih dan trombosit. 2,4
2.
Neglected fraktur
Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah suatu fraktur dengan atau tanpa dislokasi yang tidak
ditangani atau ditangani dengan tidak semestinya sehingga menghasilkan keadaan keterlambatan dalam
penanganan, atau kondisi yang lebih buruk bahkan kecacatan.2,4
Berdasarkan pada beratnya kasus akibat dari penanganan patah tulang sebelumnya, neglected fracture dapat
diklasifikasikan menjadi 4 derajat : 5,6

1.
Neglected derajat satu
Bila pasien datang saat awal kejadian maupun sekarang, penangannya tidak memerlukan tindakan operasi dan
hasilnya sama baik.
2.
Neglected derajat dua
Keadaan dimana apabila pasien datang sejak awal kejadian, peanganannya tidak memerlukan tindakan operasi,
sedangkan saat ini kasusnya menjadi lebih sulit dan memerlukan tindakan operasi . setelah pengobatan, hasilnya
tetap baik.
3.
Neglected derajat tiga
Keterlambatan menyebabkan kecacatan yang menetap bahkan setelah dilakukan operasi. Jadi pasien datang saat
awal maupun sekarang tetap memerlukan tindakan operasi dan hasilnya kurang baik.
4.
Neglected derajat empat
Keterlambatan disini sudah mengancam nyawa atau bahkan menyebabkan kematian pasien. Pada kasus ini
penanganannya memerlukan tindakan amputasi.
Arief Darmawan menyebutkan bahwa neeglected fraktur adalah fraktur yang penaganannya lebih dari 72 jam
atau disebut sebagai kasus terlantar akibat penaganan yang tidak tuntas baik dari tenaga medis ataupun dukun
5,6
Derajat 1. Fraktur yang telah terjadi antara 3 hari-3 minggu
Derajat 2 : fraktur yang telah terjadi antara 3 minggu- 3 bulan
Derajat 3 : fraktur yang telah terjadi antara 3 bulan 1 tahun
Derajat 4. Fraktur yang telah terjadi lebih dari satu tahun.
3.
Etiologi dan proses terjadinya fraktur.
a.
Trauma
Trauma adalah kata lain untuk cedera atau rudapaksa (Injury) yang dapat mencederai fisik maupun psikis.
Penyebab utama trauma adalah kecelakaan lalu lintas, kecelakaan industri, cedera saat olahraga, dan kecelakaan
rumah tangga. 2,3,4
Tekanan pada tulang dapat berupa :
Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau obliq.
Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi atau fraktur
dislokasi.
Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah misalnya pada badan vetebra,
talus atau fraktur buckle pada anak-anak.
Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan menyebabkan fraktur obliq atau
fraktur Z.
Fraktur oleh karena remuk
Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian tulang. 2,3,4
b.
Non trauma
Fraktur terjadi karena kelemahan tulang akibat kelaian patologis didalam tulang , nontrauma ini bisa karena
kelainan metabolik atau infeksi 2,3,4
c.

Stress terjadi karena trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu 2,3,4

4.
Jenis dan klasifikasi fraktur
Klasifikasi berdasarkan etiologis 2,4,7
Fraktur traumatik ; terjadi karena trauma yang tiba-tiba
Fraktur patologis ; terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis dalam tulang
Fraktur stres ; terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu
Klasifikasi berdasarkan anatomi 2,4,7
Fraktur epifisis
Fraktur lempeng epifisis
Fraktur metafisis
fraktur diafisis
Klasifikasi berdasarkan radiologi 2,4,7
Fraktur buckle atau torus ;
Tulang melengkung
Fraktur greenstick
Fraktur total

Klasifikasi berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma 2,4,7
Garis patah melintang ; trauma angulasi atau langsung
Garis patah obliq ; trauma angulasi
Garis patah spiral ; trauma rotasi
Fraktur kompresi ; trauma aksial-fleksi pada tulang spongiosa
Fraktur avulsi ; trauma tarikan atau traksi otot pada tulang , contohnya fraktur pada patela
Klasifikasi berdasarkan kondisi 2,4,7
Fraktur komplit ; garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang
misalnya :

Fraktur transversal

Fraktur Oblique

Fraktur spiral

Fraktur segmental

Fraktur kominutif

Fraktur kompresi

Fraktur impresi

Fraktur avulsi
Fraktur tidak komplit ; garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti 2,4,7
a.
Hairline fracture (patah retak rambut)
b.
Buckle fracture atau torus fracture ( terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa
dibawahnya ). Biasa terjadi pada distal radius anak-anak.
c.
Greenstick fracture (fraktur tangkai dahan muda). Mengenai suatu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.

Gambar 3. Jenis-jenis fraktur


Klasifikasi Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya 2,4,7
a.
Tidak bergeser (undisplaced)
b.
Bergeser (displaced)
Bersampingan
Angulasi
Rotasi
Distraksi
Over-riding
Impaksi
Klasifikasi berdasarkan klinis 2,4,7
Fraktur tertutup (simple fracture) ; adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia
luar.
klasifikasi cidera tertutup Triderks
Grade 1. Fraktur dengan memar pada kulit atau jaringan subkutan
Grade II. Fraktur yang lebih berat dengan contusio jaringan lunak bagian dalam dan pembekkan
Grade III. Cedera berat kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman sindrom kompartemen
Fraktur terbuka (compound fracture) ; adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar
melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from without (dari
luar). Sedangkan, oleh Gustilo Anderson, berdasarkan kerusakan jaringan lunak dan tulang, fraktur terbuka
dibagi lagi menjadi 3 derajat
Derajat I. Luka kurang dari 1 cm, luka relatif bersih, kerusakan jaringan tidak berarti. Contohnya; fraktur simple

, dislokasi fraktur minimal.


Derajat II. Luka lebih dari 1 cm, kerusakan jaringan lunak tidak luas, flap atau avulsi dengan derajat kemerahan
yang sederhana. Umumnya fraktur yang terjadi adalah fraktur simple, transverse, dan oblique dengan komunitif
yang minimal.
Derajat III. Terjadi fraktur yang berat disertai kerusakan jaringan lunak yang luas dan gangguan neurovaskular
sering diakibatkan oleh trauma tumpul yang hebat atau disertai cedera akibat kecepatan tinggi (high velocity).
Contohnya fraktur kominutif , fraktur segmental, fragmen tulang ada yang hilang.
Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) ; adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi
misalnya malunion, delayed union, nonunion, infeksi tulang.
5.
Diagnosa fraktur .
Anamnesa 2,4,7
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik fraktur), baik yang hebat maupun trauma ringan dan
diikuti dengan ketidak mampuan untuk menggunakan anggota berat. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan
lalu lintas, jatuh dari ketinggian atau jatuh dikamar mandi pada orang tua. Penderita juga kadang datang dengan
gejala nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau datang
dengan gejala-gejala lain.
Pemeriksaan umum 2,4,6,7
Dicari kemungkinan komplikasi umum, misalnya syok pada fraktur multiple, fraktur pelvis atau fraktur terbuka,
tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka terinfeksi.
Pemeriksaan status lokalis
Terdapat tanda-tanda fraktur yang klasik untuk fraktur tulang panjang diantaranya :
Look
a.
Deformitas 2,4,8
Penonjolan yang abnormal
Angulasi
Rotasi
Pemendekan
b.
Fungsio laesa 2,4,8
Hilangnya fungsi ; misalnya pada fraktur kruris tidak dapat berjalan dan pada fraktur antebrakhii tidak
dapat menggunakan lengan.

Feel
Terdapat nyeri tekan dan nyeri sumbu 2,4
Move
a.
Krepitasi ; teraba krepitasi bila fraktur digerakan, krepitasi timbul oleh pergeseran atau beradunya ujungujung tulag kortikal. Pada tulang spongiosa atau tulang rawan epifisis tidak terasa krepitasi.
b.
Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif maupun gerakan pasif.
c.
Terdapat gangguan-gangguan fungsi, gerakkan-gerakkan yang tidak mampu dilakukan,gangguan kekuatan
otot.
d.
Gerakan yang tidak normal; gerakkan yang terjadi tidak pada sendi hal ini diakibatkan putusnya
kontinuitas tulang 2,4,8
Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Beberapa
pemeriksaan radiologis yang sering digunakan antara lain : foto polos, CT-Scan, MRI dan radioisotop scaning.
2,4,6,8
6.
Penyembuhan fraktur.
Proses penyembuhan fraktur pada tiap tulang berbeda sesuai dengan jenisnya. secara garis besar. 2,4,7,8
Tulang kortikal 2,4,7,8
Penyembuhan terutama oleh aktifitas priosteum yang membentuk kalus oleh rangsangan hematoma fraktur .
ujung-ujung fraktur yang avaskuler tidak berperan pada tahap awal penyembuhan, pada akhirnya menyambung
melalui ossifikasi endokhondral dan terjadilah konsolidasi.
Pada anak anak dengan periosteum yang tebal dan aktif pada tulang-tulang dengan vaskularisasi yang baik dan
terbungkus otot, penyembuhan terjadi lebih cepat.

Gambar 4. Proses penyembuhan fraktur


Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu :
1.
Fase hematoma (1-24 jam) :
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang , maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem
Haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur.
Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekkan
akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati,
yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah
trauma. 2,4,7
2.
Fase proliferasi (1-3 hari) :
Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Penyembuhan
fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang berploriferasi dari periosteum untuk membentuk kalus
eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis
medularis. 2,4,7
Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel barasal dari diferesiasi sel-sel
mesenkimal yang tidak berdefernsiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini
terjadi pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yag memberi pertumbuhan yang cepat pada jaringan
osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Pembentukan jaringan seluler tidak terbentuk dari
organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan
membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologis kalus belum
mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radiolusen.2,4,7
3.
Fase pembentukan callus (6-21 hari) :
Setela pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas
dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat osteoblast diduduki oleh matriks intraseluler
kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk
tulang ini disebut sebagai woven bone. Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan
merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur. 2,4,7
4.
Fase konsolidasi (3-10 minggu)
Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturasi lebih lanjut oleh aktivitas osteoblas, callus menjadi
yang lebih dewasa (mature) dengan pembentukan lamela-lamela. Fase ini terjadi sesudah empat minggu, namun
pada anak-anak lebih mudah lebih cepat. Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi dan diganti
dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang normal. 2,4,7
5.
Fase remodeling (setelah 9 bulan) :
Bilamana union telah lengkap, maka tulang baru membentuk bagian yang menyerupai bulbus yang meliputi
tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini, perlahan-lahan terjadi resorpsi secara
osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan
menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus
bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membetuk ruang sumsum. 2,4,7
Tulang spongiosa
Penyembuhan terutama oleh aktivitas endosteum dalam trabekula tulang spongiosa. Oleh vaskularisasi yang
baik dan bila mana kontak antara fragmen cukup baik maka penyembuhan akan cepat. 2,4,7
Lempeng epifisis
Oleh karena epifisis aktif dalam pembentukan tulang dalam proses pertumbuhan panjang, fraktur epifisis sangat
cepat penyembuhannya.2,4,7
Tulang rawan sendi
Oleh karea tulang rawan sendi vaskularisasinya tidak ada dan nutrisinya dari cairan sendi maka
penyembuhannya fraktur tulang rawan sendi adalah sulit. Bila ada celah fraktur akan diisi jaringan ikat.
Penyembuhan kembali menjadi tulang rawan hialin dimungkinkan bila dilakukan reposisi anatomis dengan
fiksasi interna khusus dan gerak sendi yag terus menerus setelah operasi dengan alat CPM (Continous Passive
Movement). 2,4,7
Waktu penyembuhan fraktur

Waktu penyembuhan fraktur berfariasi secara individual dan berhubungan dengan beberapa faktor penting pada
penderita antara lain:
1.
Umur penderita
Waktu penyembuhan tulang pada anak-anak jauh lebih cepat dari pada orang dewasa. Hal ini terutama
disebabkan karena aktifitas proses osteogenesis pada periosteum dan endosteum dan juga berhubungan dengan
proses remodeling tulang yang pada bayi sangat aktif dan makin berkurang apabila umur bertambah.2

2.
Lokalisasi dan konfigurasi fraktur
Lokalisasi fraktur memegang peranan penting. Fraktur metafisis penyembuhannya lebih cepat daripada diafisis.
Disamping itu konfigurasi fraktur seperti pada fraktur transversal lebih lambat penyembuhannya dibandingkan
dengan fraktur obliq karena kontak yang lebih banyak.2
3.
Pergeseran awal fraktur
Pada fraktur yang tidak bergeser dimana periosteum intak, maka penyembuhannya dua kali lebih cepat
dibandingkan pada fraktur yang bergeser. Terjadinya pergeseran fraktur yang lebih besar juga akan
menyebabkan kerusakan periost yang lebih hebat.2
4. Vaskularisasi pada kedua fragmen
Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasi yang baik, maka penyembuhan biasanya tanpa komplikasi.
Bila salah satu sisi fraktur vaskularisasinya jelek sehingga mengalami kematian , maka akan menghambat
terjadinya union atau bahkan terjadi nonunion.2
5.
Reduksi serta imobilisasi
Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya.
Imobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang akan mengganggu
dalam penyembuhan fraktur.2
6. Waktu imobilisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union, maka kemungkinan
untuk terjadinya nonunion sangat besar.2
7.
Ruangan di antara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak
Bila ditemukan interposisi jaringan baik periosteum, maupun otot atau jaringan fibrosa lainnya, maka akan
menghambat vaskularisasi kedua ujung fraktur.2
8.
Faktor adanya infeksi
Bila terjadi infeksi pada daerah fraktur, misalnya pada operasi terbuka fraktur tertutup atau fraktur terbuka,
maka akan mengganggu terjadinya proses penyembuhan.2
9.
Cairan sinovia
Pada persendian dimana terdapat cairan sinovia merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur.2
10. Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak
Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak akan meningkatkan vaskularisasi daerah fraktur tapi gerakan yang
dilakukan pada daerah fraktur tanpa imobilisasi yang baik juga akan mengganggu vaskularisasi.2
Penyembuhan fraktur berkisar antara tiga minggu sampai empat bulan. Waktu penyembuhan pada anak secara
kasar waktu penyembuhan dari pada orang dewasa.2
Perkiraan penyembuhan fraktur pada orang dewasa
Lokalisasi
Falang / metakarpal/ metatarsal / kosta
Distal radius
Diafisis ulna dan radius
Humerus
Klavikula
Panggul
Femur
Kondilus femur/ tibia
Tibia/ fibula
Vertebra
Waktu penyembuhan
3 6 minggu
6 minggu
12 minggu

10 12 minggu
6 minggu
10 12 minggu
12 16 minggu
8 10 minggu
12 16 minggu
12 minggu
7.
Penatalaksanaan fraktur
Enam prinsip penanganan fraktur 2,4,7,8
1.
Firstly do no harm
Jangan membuat keadaan lebih jelek
2.
Base treatment on an accurate diagnosis and prognosis
Pengobatan berdasarkan atas diagnosis dan prognosis yang akurat.
3.
Select treatment with spesific aims
Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus, yaitu menghilangkan nyeri, memperoleh posisi yang baik dari
fragmen, menusahakan terjadinya penyambungan tulang, mengembalikan fungsi secara optimal.
4.
Cooperate with the law of nature
Mengingat hukum-hukum penyembuhan alami
5.
Be realistic dan practical in your treatment.
Bersifat realistik dan praktis dalam memilih jenis pengobatan.
6.
Select treatment for your patien as an individual
Seleksi pengobatan sesuai dengan penderita secara individual.
Penanganan kelainan muskuloskeletal harus selalu disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia, sebaikanya dipilih
tindakan yang sesederhana dan yang pertama dilakuka adalah menghilangkan nyeri dan harus mengingat tujuan
pengobatan fraktur , yaitu : mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat
mungkin.2,4,7,8
1. Terapi konservatif
a.
Proteksi saja
Misalnya mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan dengan kedudukan baik.
b.
Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan kedudukan baik.
c.
Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Misalya fraktur supracondylari , fraktur colles, fraktur smith . reposisi dapat dengan anastesi umum atau anastesi
lokal dengan menyuntikan obat anastesi dalam hemtoma fraktur. Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan
semula terhadap fragmen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips. Misalnya,
fraktur distal radius, immobilisasi dalam pronasi penuh dan fleksi pergelangan.
d. Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh dipasang gips setelah tidak sakit
lagi. 2,4,7,8
2. Terapi operatif
a.
Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan melihat foto radiologi
1.
Reposisi tertutup fiksasi eksterna
Setelah reposisi baik berdasarkan kontrol radiologis intraoperatif maka dipasang fiksasi eksterna.
3.
Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi internal
Cara ini sekarang terus dikembangkan menjadi close nailing) pada fraktur femur dan tibia , yaitu pemasangan
fiksasi interna intra meduller (pen) tanpa membuka frakturya. 2,4,7,8
b. Terapi operatif dengan membuka frakurnya: 2,4,7
1.
Reposisi terbuka dan fiksasi interna
ORIF (Open Reduction and Internal Fixation)
2.
Excisional Arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi, misalnya :
3.
Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
4.
Dilakukan excici caput femur dan pemasangan endoprosthesis moore atau yang lainnya.
3.
Terapi Rehabilitasi
Bila penyatuan tulang pada terjadi, maka rehabilitasi terutama merupakan masalah pemulihan jaringan lunak .
kapsula sendi, otot dan ligamentum berkontraksi membatasi gerakan sendi sewaktu gips atau bidai dilepaskan.
Batas ini lebih terbukti dalam fraktur dekat sendi dibandingkan fraktur pada pertengahan korpus tulang
panjang. Dianjurkan terapi fisik untuk gerakan aktif dan pasif serta penguatan otot. Edema statis, yang terjadi

setelah gips dilepaskan, secara bertahap berkurang dengan kembalinya gerakan dan tonus otot. 2,4
8.
Komplikasi fraktur
Komplikasi fraktur terhadap organ: 1,2,4,8
1.
Komplikasi pada kulit
Lesi akibat penekanan
Ulserasi akibat dekubitus
Ulserasi akibat pemasangan gips
2.
Komplikasi pada pembuluh darah
Ulserasi akibat pemasangan gips
Lesi akibat traksi dan penekanan
Iskemik volkmann
Gangren
3.
4.
5.
-

Komplikasi pada saraf


Lesi akibat traksi dan penekanan
Komplikasi pada sendi
Infeksi (arthritis septic) akibat operasi terbuka pada trauma tertutup
Komplikasi pada tulang
Infeksi akibat operasi terbuka pada trauma tertutup (osteomielitis).

Komplikasi penyembuhan fraktur ,2,4,7,8


1.
Malunion
Fraktur sembuh dengan deformitasi (angulasi, perpendekan atau rotasi). Malunion adalah keadaan dimana
fraktur menyembuh pada saatnya, tetapi terdapat deformitas yang berbentuk angulasi, varus/valgus, rotasi,
kependekan atau union secara menyilang. Malunion biasa dikarenakan fraktur tanpa pengobatan, pengobatan
yang tidak adekuat, reduksi dan imobilisasi yang tidak baik , pengambilan keputusan serta teknik yang salah
pada awal pengobatan dan osifikasi prematir pada lempeng epifisis karena adanya trauma. Malunion juga dapat
timbul jika ada ketidakselarasan rotasi atau angularis berlebihan yang mengikuti penyembuhan. 2,4,7,8
2.
Delayed union
Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih lama dari normal. Delayed union adalah fraktur yang tidak
sembuh setelah selang waktu 3-5 bulan (tiga bulan untuk anggota gerak atas dan lima bulan untuk anggota gerak
bawah). 2,4,7,8
3.
Nonunion ;
Disebut nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6-8 bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga
terdapat pseudoatrosis (sendi palsu). Pseudoatrosis dapat terjadi tanpa infeksi tetapi dapat juga terjadi bersamasama infeksi disebut infected pseudoarthrosis. 2,4,7,8

Beberapa jenis nonunion terjadi menurut keadaan ujung-ujung fragmen tulang.


a.
Hipertrofik
Ujung- ujung tulang bersifat sklerotik dan lebih besar dari normal yang disebut gambaran elephants foot. Garis
fraktur tampak dengan jelas . ruang antar tulang diisi dengan tulang rawan dan jaringan ikat fibrosa. Pada jenis
ini vaskularisasi baik sehingga biasanya hanya diperlukan fiksasi yang rigid tanpa pemasangan bone graft.2
b. Atrofik (oligotrofik)
Tidak ada tanda-tanda aktifitas seluler pada ujung fraktur. Ujung tulang lebih kecil dan bulat serta osteoporotik
dan avaskuler. Pada jenis ini disamping dilakukan fiksasi rigid juga diperlukan pemasangan bone graft.2
LAPORAN KASUS
STATUS KOAS
Bagian Ilmu Bedah
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Tadulako Palu

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Pekerjaan
Tgl masuk
RM
Ruangan
Rumah sakit

II.

:Tn. HS
:62 tahun
:Pria
:DS. Salubomba Kabupaten Donggala
: Petani
:14 Desember 2013
:24 04 02
:Pav. Teratai Bangsal
:RSUD UNDATA Palu

ANAMNESA (Autoanamnesis)

Keluhan utama
:
Tungkai kanan tidak dapat digunakan berjalan
Anamnesis terpimpin
:
Dialam 1 tahun 6 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit akibat kecelakaan lalu lintas . Pasien
mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang dan menabrak sapi, pasien terjatuh sebelah kanan dan
tungkai kanan pasien terhimpit kendaraan miliknya. Pasien tidak bisa mengangkat tungkai kanannya. Pasien
dibawa ke puskesmas Solubomba dan mendapat penanganan awal dengan tungkai kanan pasien dibersihkan dan
dijahit untuk menghentikan perdarahan kemudian dirujuk ke RSUD Undata Palu. Pasien menolak untuk
dilakukan tindakan operasi dan pulang atas permintaan sendiri. Riwayat pengobatan tradisional ke 4 orang
dukun dilakukan pemijatan dan dipasang kayu agar kaki pasien tidak bergerak bebas namun tidak mengalami
perbaikan. Riwayat penyakit lain disangkal.
Riwayat penyakit keluarga:
DM ()
Hipertensi ()
III. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata : Sakit Sedang/ Composmentis
Tanda Vital :
TD
: 130/80 mmHg
Pernapasan
: 18 x/menit
Nadi
: 80 kali/menit
Suhu aksilla
: 36.2 C
Kepala
Mata

:Normocephal
: Konjungtiva Anemis (-)/(-), Sklera Ikterik (-)/(-)

Leher
: Pembesaran Kelenjar Getah Bening (), warna kulit sama dengan daerah sekitar, nyeri tekan ()
Thorax
Inspeksi
: Normothoraks, pergerakan simetris
Palpasi
: Vocal fremitus kanan=kiri, nyeri tekan ()
Perkusi
: Sonor (+)/(+), batas paru hepar SIC VI midclavicula dextra
Auskultasi
: Bunyi nafas vesikuler (+)/(+), Rh ()/(), Wh ()/(-)
Jantung
Inspeksi
: Pulsasi Ictus cordis tidak tampak
Palpasi
: Pulsasi ictus cordis teraba di SIC V midclacicula sinistra
Perkusi
: Pekak
Batas jantung atas SIC II parasternal sinistra
Batas jantung bawah SIC V midclavicula sinistra
Batas jantung kanan SIC IV parasternal dekstra
Auskultasi
: Bunyi jantung I dan II murni reguler
Abdomen
Inspeksi
:cembung, ikut gerak dada
Palpasi
:Nyeri tekan (), Hepar/Lien tidak teraba
Perkusi
: Timpani

Auskultasi
: Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas
Superior :
I : tidak ada kelainan
P : Nyeri tekan (/), Akral hangat (+)/(+)
Inferior : Sesuai status lokalis
Status lokalis : femur dekstra
Inspeksi :
Warna kulit sama dengan jaringan sekitar
Tampak jaringan parut
Penonjolan abnormal pada 1/3 tengah
Atrofi otot (+)
Tungkai tampak pendek sebelah kanan
Eksorotasi (+)
Palpasi :
nyeri tekan setempat (),
palse movement 1/3 tengah
suhu sama dengan sekitar (normal)
True of leg lenght dekstra 75 cm ; sinistra 80 cm (perbedaan 5 cm)
Appearence of leg lenght : 80 cm / sinistra 85 cm (perbedaan 5 cm)
Galleazi sign : perbedaan kanan dan kiri 5 cm
Lingkar paha tidak diukur

ROM :
Hip Joint
Eksorotasi : kanan lebih besar dibandingkan kiri
Endorotasi : kanan lebih kecil dibandingkan kiri
Ekstesi
: kanan sama dengan kiri
Fleksi
: kanan sama dengan kiri
Knee joint
Ekstensi : kanan lebih kecil dibandingkan kiri
Fleksi
: kanan lebih kecil dibandingkan kiri
NVD :
arteri dorsalis pedis teraba (+) kuat angkat
Sensori :
Dalam batas normal
Motoris :
baik
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologi :
-

Diskontuinitas os femur 1/3 tengah dekstra


Kallus (+)
Non Union
Operlepping (+) 5 cm
Bending (+)

Laboratorium
Darah Rutin (16 Desember 2013) : dalam batas normal
RBC
: 4.71 x 1012/L
(3.6 - 6.5)
(N)
WBC
: 7.01 x 109/L
(5 - 10)
(N)
Hb
: 13.6 g/dL
(12 - 18)
(N)
Hct
: 41.89 %
(35 - 52)
(N)
Plt
: 306 x109/L
(150 - 450)
(N)
CT
: 7 30
( 4 10 menit) (N)
BT
: 3 30
( 1 5 menit) (N)
Kimia Darah (16 Desember 2013)
GDS
: 131 mg/dL
(70 - 200)
(N)
Ureum : 18 mg/dL
(8 - 53)
(N)
Kreatinin : 1.19 mg/dL
(0.3 - 0.6)
(N)
SOPT
: 30 UI/L
SGPT
: 16 UI/L
V.
Resume
Laki laki 62 tahun masuk kerumah sakit dengan keluhan tungkai kanan tidak dapat digunakan berjalan selama
1 tahun 6 bulan akibat kecelakaan lalu lintas, pasien mengendarai motor dengan kecepatan sedang dan
menabrak sapi. Tungkai kanan terhimpit motor kemudian tidak dapat digunakan. Dilakukan pembersihan luka,
penjahitan, imobilisasi di puskesmas Solubomba dan direncanakan untuk operasi di RSUD Undata Palu namun
pasien menolak. Pasien berobat ke 4 orang dukun namun tidak mengalami perbaikan.
Didapatkan status generalisata adalah sakit sedang,kompos mentis, gizi baik. Tanda vital dalam batas normal,
thoraks dan abdomen dalam batas normal. Pada pemeriksaan femur dekstra didapatkan jaringan parut,
penonjolan abnormal pada 1/3 tengah, atrofi otot, tungkai pendek sebelah, eksorotasi, palse movement 1/3
tengah, perbedaan true of leg lenght kanan dan kiri 5 cm, perbedaan appearance of leg lenght 5 cm, galleazi sign
femur 5 cm, Range of movemnet pada hip joint eksorotasi kanan lebih besar dibanding kiri, endorotasi kanan
lebih kecil dibanding kiri, pada knee joint ekstensi kanan lebih kecil dibanding kiri, fleksi kanan lebih kecil
dibanding kiri . Foto femur dektra didapatkan diskontuinitas femur 1/3 tengah dekstra , kallus (+), Non
Union ,Overlepping (+) 5 cm, Bending (+).
VI.
-

Diagnosa
Neglected nonunion fraktur femur dekstra 1/3 tengah hipertrophy tipe

VII. Terapi
- Rekonstruksi femur
- Internal fixation (Plate + screw)
Laporan operasi
Posisi supine dalam spinal anastesi
Prosedur steril dan driping
Posterior lateral aproach insisi tajam dan tumpul
Kulit , subcutis , fascia , m. Vastus lateralis
Bebaskan tulang dari jaringan fibrotik
Refresh tepi tulang , buka medulla tulang
Reduction sampai terposisi dengan baik
Pasang broad plate 10 hole + 10 buah screw
Bilas luka dengan NaCl
Kontrol perdarahan
Pasang drain
Jahit luka lapis demi lapis ( fascia, subcutis dan kulit).
Pasang elastic verban

Operasi selesai

Terapi Post operasi


R/ Analgetik
R/ Antibiotik

R/ H2 Reseptor Antagonis
Foto rongen post operasi

Tampak posisi tulang femur sudah pada posisinya


Tampak broad palte 10 hole + 10 buah screw
VIII.
Prognosis
Dubia et bonam
DISKUSI
Berdasarkan hasil anamnesis , pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada kasus kali ini
didiagnosis sebagai neglected nonunion fraktur femur dekstra 1/3 tengah hipertrophy type.
Dari anamnesis didapatkan adanya riwayat trauma berupa kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan
pasien mengalami fraktur femur 1/3 tengah, namun pasien tidak menjalani pengobatan secara tuntas selama 1
tahun 6 bulan dan berobat ke empat orang dukun. Berdasarkan referensi pada pembahasan sebelumnya maka
kasus ini memenuhi kriteria neglected fraktur derajat 4 yakni fraktur yang terjadi lebih dari satu tahun.
Pada inspeksi didapatkan tampak jaringan parut dan penonjolan abnormal pada 1/3 tengah , atrofi otot , kaki
tampak pendek sebelah kanan, posisi abnormal (eksorotasi) . pada palpasi didapatkan palse movement 1/3
tengah , True of leg lenght dekstra 75 cm ; sinistra 80 cm (perbedaan 5 cm), Appearence of leg lenght : 80 cm /
sinistra 85 cm (perbedaan 5 cm), Galleazi sign : perbedaan kanan dan kiri 5 cm dan pada foto rongen didapatka
diskontuinitas femur 1/3 tengah dekstra, Kallus ,non union , operlepping 5 cm dan bending .
Sehingga didiagnosis sebagai neglected nonunion fraktur femur dekstra 1/3 tengah hipertrophy tipe. Pada kasus
ini terjadi nonunion disebabkan oleh Reduksi dan Imobilisasi yang tidak adekuat sehingga terjadi gerakan pada
kedua fragmen, Interposisi jaringan lunak diantara kedua fragmen danpengobatan yang salah atau sama sekali
tidak dilakukan pengobatan.
Pengobatan yang dilakukan pada kasus ini adalah rekonstruksi femur, pembebasan jaringan fibrotik diujung
fragmen fraktur side , refresh tepi fraktur side, mebebaskan medulla tulang, open reduction dan pemasangan
plate 10 hole dan screw 10 buah dengan tujuan reduksi anatomi yang adekuat, imobilisasi dan membebaskan
medulla tulang dan menghindari interposisi jaringan. Tujuan dilakukan rekonstruksi dan internal fiksasi adalah
supaya cepat dilakukan imobilisasi early mobilitation pada hari kedua post operasi.
Medika mentosa
1. Antibiotik
Penggunaan antibiotik pada pasien ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi akibat tindakan
pembedahan. Selain itu juga digunakan untuk memperpanjang fase golden period yaitu fase pertahanan tubuh
terhadap infeksi. Beberapa tujuan spesifik lainnya :
Mereduksi timbulnya infeksi yang terjadi pada pembedahan
Meminimalkan efek antibiotik pada flora normal bakteri pasien
Menurunkan mortalitas dan morbiditas pasca operasi
Mengurangi lama waktu pasien harus menjalani rawat inap pasca operasi
Meminimalkan perubahan-perubahan pada pasien terkait dengan sistem petahanan tubuh. 2,4
2. Analgetik
Analgetik atau obat peghilang nyeri adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghilangkan nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anestetik umum ). Analgetik digolongkan berdasarkan pekanisme
kerjanya ; yakni a). penekanan rasa nyeri dengan merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor nyeri
perifer (analgetik perifer, anastesi lokal) b). Menekan rasa nyeri dengan merintangi penyaluran rangsangan nyeri

dalam syaraf-syaraf sensoris (anestesi lokal), c) menghambat rasa nyeri dipusat nyeri dalam sistem saraf pusat
(analgetik narkotik, anastesi umum).
Penggunaan analgetik pada pasien ini betujuan untuk menurunkan angka morbiditas pasien sehingga pasien
tidak kesakitan. 2,4
Terapi rehabilitasi
Pasien direncanakan untuk dilakukan terapi rehabilitasi untuk meningkatkan kualitas pemulihan sehingga
fungsi anggota gerak dapat tercapai sesuai harapan.
Berdasarkan lama perawatan, pasien telah menjalani perawatan selama 7 hari. Berdasarkan teori pada bab
sebelumnya pada proses penyembuhan fraktur pada hari ke 6-21 hari sudah berada di fase pembentukan callus
setelah sebelumnya sudah melewati fase hematoma (1-24 jam), Fase proliferasi (1-3 hari).
Setela pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas
dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat osteoblast diduduki oleh matriks intraseluler
kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk
tulang ini disebut sebagai woven bone. Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan
merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur.
Pasien dipulangkan pada perawatan hari ke 7 setelah dilakukan operasi dengan kondisi pasien yang membaik ,
serta dianjurkan untuk melakukan kontrol rutin sehingga pemantauan proses penyembuhan menjadi lebih
terkontrol dan didapatkan hasil sesuai dengan harapan. 2
DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. Global Health Observatory Data Repository : Mortality Road Traffic Death
2007. C2014(cited 2014 jan 03). Available from : www.who.int.en.
2.
Chairuddin R. Pengantar Ilmu Bedah Orthopaedi. Makassar: Bintang Lamumpatue; 2003
3.
Kadar ED, Wahab A, Sapardan S. Neglected trauma of the exremities due to treatment by bone setter.
Majalah Orthopaedi Indonesia. 1979; 5 (1): 36-42
4.
Sjamsuhidayat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-3. Jakarta : EGC; 2010
5.
Kawijaya KS, Reksoprodjo S. Neglected fraktur in Cipto Mangunkusumo and Fatmawati Hospital Jakarta.
Majalah Orthopaedi Indonesia. 1985;11(2):20-8
6.
Isomo D. Jejak Bone setter pada neglected fracture. Departement of Orthopaedic Surgery and
Traumatology School of Medicine Padjadjaran University (homepage on the internet). C201 (cited 2014 Jan 14).
Available from :http://satpt.fk.unpad.ac.id/userFiles/File/NEGLECTED FRACTURE.pdf.
7. Apley GA, Solomon L. Buku Ajar Ortophedi dan Fraktur sistem apley . Edisi ke 9. Jakarta Widia Medika;
2010.
8.
Darmawan A. Presentasi kasus bedah konsep dasar fraktur (homepage on the internet ). C2014 (cited 2014
Jan 15). Available from :http://www.docstoc.com/docs/71736816/Fraktur-(Arief-Darmawan).
Translate