Anda di halaman 1dari 13

BAB V

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

TUJUAN

:
Mempelajari proses saponifikasi suatu lemak dengan menggunakan kalium
hidroksida dan natrium hidroksida
Mempelajari perbedaan sifat sabun dan detergen

A. Pre-lab
1. Jelaskan tentang reaksi saponifikasi suatu lemak !

Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan
mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan gliserol
dan garam karboksilat (sejenis sabun). Sabun merupakan garam (natrium) yang mempunyai
rangkaian karbon yang panjang. Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses
saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines (Irawan,2006).
Prinsip dalam proses saponifikasi yaitu lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan
gliserol dan sabun mentah (Puspitasari, 2010).
2. Jelaskan perbedaan sabun kalium, sabun natrium dan detergen, baik secara
struktur maupun sifatnya !

Sabun kalium ROOCK disebut juga sabun lunak dan umumnya digunakan untuk sabun
mandi cair, sabun cuci pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Sedangkan sabun natrium,
RCOONa, disebut sabun keras dan umumnya digunakan sebagai sabun cuci, dalam industri
logam dan untuk mengatur kekerasan sabun kalium (Priyono, 2009).
Detergen adalah garam alkali alkil sulfat atau sulfoniat. Deterjen adalah campuran zat kimia
dari sintetik ataupun alam yang memiliki sifat yang dapat menarik zat pengotor dari media,
dan sering digunakan sebagai sabun cuci pakaian (Arifin, 2008).
O
3R

K (Sabun kalium)

Na (Sabun Natrium)

O
3R

(Detergen) (Irawan,2006).
3. Jelaskan prinsip dasar proses saponifikasi dan pengujian sifat sabun yang
dihasilkan !

Prinsip dalam proses saponifikasi yaitu lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan
gliserol dan sabun mentah (Puspitasari, 2010).
Pengujian sifat sabun yang dihasilkan dapat menggunakan larutan CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%,
FeCl2 0,1% dan air kran dengan cara menambahkan larutan pada sampel sabun, lalu diaduk
dan amati endapan yang terjadi (Tim Penyusun, 2014).

B. Diagram Alir

A. Pembuatan Sabun Kalium


Alat dan
bahan

Lemak seberat 1,5 gram

Ditempatkan pada tabung reaksi

Ditambahkan larutan KOH 10% dalam etanol 95%

Tempatkan tabung reaksi pada gelas beaker 250 ml yang berisi air panas

Diteruskan hingga mendidih

Ditambahkan 2 ml etanol

Dipanaskan selama 10 menit

Hasil reaksi diteteskan ke dalam air Dilakukan uji penyabunan

Dituang hasil reaksi pada gelas beaker

Dipanaskan sampai alcohol menguap

Ditambahkan akuades 30 ml

Diaduk secara konstan hingga diperoleh sabun kalium


HASIL

B. Pembuatan Sabun Natrium


Alat dan
bahan

Diambil separuh sampel dari langkah A

Ditambah 15 ml larutan NaCl jenuh

Diaduk dengan kuat sampai terbentuk padatan

Padatan dipisahkan dengan kertas saring

Padatan berupa sabun natrium ditekan agar terbebas dari air


HASIL

C. Pengujian Sifat Sabun dan Detergen


Alat dan
bahan

Dilakukan dengan menggunakan masing-masing 1 ml larutan sabun kalium dan larutan


sabun natrium

Dioleskan minyak/lemak pada permukaan gelas arloji

Digunakan larutan sabun kalium untuk menghilangkan lemak dengan menggoyangkan


gelas arloji

Diulangi dengan menggunakan detergen hasil pelarutan 0,5 gram detergen ke dalam 50
ml akuades

Diambil 4 tabung reaksi

Diisi masing-masing 1 ml sabun kalium

Diisi berurutan pada setiap tabung, 1 ml larutan CaCl2 0,1%, 1 ml larutan MgCl2 0,1%, 1
ml larutan FeCl2 0,1% dan air kran

Diaduk dan diamati endapan yang terjadi pada setiap tabung reaksi

Diualangi proses yang terjadi dengan bahan sabun natrium dan detergen

HASIL

HASIL PERCOBAAN DAN PENGAMATAN :


1. Saponifikasi lemak : pembuatan sabun kalium

Jenis
sampel

Sabun
kalium

Sabun
natriu
m

Berat
sampel

1,5 g

Setelah
10
menit

Tes
penyabuna
n

Tidak
ada
minyak,
warna
kuning
terang

Sempurna
karena tidak
ada tetesan
minyak

Setelah
dipanaskan

Terbentuk
cairan dan
buih yang
mengental

15 ml

Akuade
s 30 mL
dan
dibagi
dua

Ditamb
ah NaCl

Diaduk
kuat

Warna
menjadi
putih
keruh

Mulai
terdapa
t
endapa
n

Terbent
uk
sabun
kalium

Jenis sampel

Warna

Bentuk

Sabun kalium

Keruh

Cair, terdapat buih


mengental

Sabun natrium

Kekuningan

Padatan

Detergen

Putih keruh

Cairan

2. Sifat sabun dengan detergen

Jenis sampel

Ditambah lemak / minyak


Kelarutan

Warna

Agak larut

Putih keruh

Sabun natrium

Larut

Putih kekuningan

Detergen

Larut

Putih keruh

Sabun kalium

Jenis
sampel

Penambahan larutan

Pengamatan

Diaduk

1 mL larutan CaCl2 0,1%

Warnanya putih keruh

Terdapat endapan putih

Warnanya bening berair

Terdapat endapan kecilkecil

Warnanya orange kecoklatan

Terdapat endapan coklat


muda

Warnanya bening keruh

Tidak terdapat endapan

Warna putih keruh dan


sedikit larut

Terdapat endapan sabun


natrium

Warnanya putih keruh

Terdapat endapan
natrium lebih banyak

Warnanya orange keruh

Terdapat endapan sabun


natrium

Air kran

Warnanya putih keruh

Terdapat sedikit endapan

1 mL larutan CaCl2 0,1%

Warnanya lebih purih keruh

Tidak ada endapan

Warnanya putih (bening)


keruh

Tidak ada endapan

1 mL larutan MgCl2 0,1%

Warnanya orange keruh

Tidak ada endapan

Warnanya putih susu

Tidak ada endapan

1 mL larutan MgCl2 0,1%


1 mL sabun
kalium

1 mL larutan FeCl2, 0,1%


Air kran
1 mL larutan CaCl2 0,1%

1 mL sabun
natrium

1 mL larutan MgCl2 0,1%


1 mL larutan FeCl2, 0,1%

1 mL
detergen
1 mL larutan FeCl2, 0,1%
Air kran

Analisa Prosedur
A. Pembuatan Sabun Kalium
Pertama disiapkan alat dan bahan, lalu ditimbang lemak seberat 1,5 gram yang
ditempatkan pada tabung reaksi. Timbang menggunakan timbangan analitik yang telah
dikalibrasi terlebih dahulu, tujuan kalibrasi adalah agar ukuran bahan yang ingin kita
timbang adalah berat murni bahan. Jika tidak dikalibrasi maka berat bahan yang
ditimbang merupakan berat bahan ditambah dengan wadah penampang bahan. Lakukan
secara hati-hati. Lalu ditambahkan 10 mL larutan KOH 10% dalam etanol 95%. Setelah
itu tabung reaksi ditempatkan pada gelas beaker 250 mL yang telah berisi air yang sudah
dipanaskan yang berfungsi sebagai penangas air. Proses pemanasan diteruskan hingga
mendidih, lalu ditambahkan 2 mL etanol yang berfungsi untuk menggantikan etanol yang
telah menguap saat proses pemanasan.
Setelah tabung dipanaskan selama 10 menit, kita harus melakukan uji penyabunan
untuk melihat dan memastikan proses saponifikasi sudah berlangsung secara sempurna
atau belum dengan cara meneteskan hasil reaksi ke dalam air dan lihat apakah ada tetesan

lemak dalam hasil reaksi tersebut. Jika tidak ada gumpalan lemak, maka proses
saponifikasi terjadi sempurna.
Saat proses saponifikasi sudah sempurna maka tuang hasil reaksi ke dalam gealas
beaker lalu di panaskan kembali sampai alcohol dapat menguap secara sempurna. Alcohol
menguap sempurna ditandai dengan terbentuknya cairaran kental dan liat. Terus amati
proses pemanasan, jangan sampai gosong. Selanjutnya kita tambahkan dengan aquades
sebanyak 30 mL lalu aduk secara konstan sehingga diperolehlah sabun kalium cair. Lalu
larutan dibagi dua, sebagian dipergunakan untuk membuat sabun natrium dan sebagian
lagi digunakan untuk pengujian sabun dan detergen.
B. Pembuatan Sabun Natrium
Pertama disiapkan alat dan bahan. Kita telah memperoleh sabun kalium dari
proses saponifikasi lemak menggunakan KOH (Kalium Hidroksida). Ambil sebagian
sabun kalium cair dan ditambahkan larutan NaCl jenuh, lalu dicampur dan diaduk dengan
kuat dan konstan sampai terbentuk endapan berwarna putih. Setelah diperoleh
padatannya, kita saring menggunakan kertas saring dan endapan yang tersaring adalah
sabun natrium, namun dalam praktikum kita tidak melakukan proses penekanan pada
sabun natrium yang bertujuan untuk membebaskan sabun natrium dari kadar air.
C. Pengujian Sifat Sabun dengan Detergen
Pertama disiapkan alat dan bahan, pengujian dilakukan dengan menggunakan
masing-masing 1mL sabun kalium dan 1mL sabun natrium. Lalu dioleskan minyak atau
lemak pada permukaan gelas arloji setelah itu diteteskan sabun kalium dan goyangkan
gelas arloji untuk dapat menghilangkan minyak atau lemak dan lihat apakah minyak atau
lemak dapat hilang atau tidak lalu catat hasilnya.
Yang kedua dengan menggunakan sabun natrium yang terlah kita buat. Yaitu
dengan dioleskan lemak pada permukaan gelas arloji, lalu dicambil sabun natrium
mweggunakan pengaduk dan ditaruh pada lemak dipermukaan gelas arloji lalu campur
dan aduk menggunakan jari dengan cara memutar. Setelah itu kita lihat apakah masih ada
lemak atau minyak pada campuran tersebut, dan apakah lemak dapat hilang atau tidak.
Lalu catat hasilnya.
Yang ketiga menguji sifat detergen. Pertama disiapkan alat dan bahan. Lalu ambil
bubuk detergen sebanyak 0,5 gram menggunakan spatula dan timbang menggunakan
timbangan analitik, serta wadahi dengan gelas arloji. Setelah ditimbang, diletakkan pada
gelas beaker lalu ditambahkan oleh aquades sebanyak 50 ml lalu diaduk menggunakan
pengaduk hingga larut dan tercampur sempurna. Lalu diambil lemak atau minyak dan
diletakkan pada gelas arloji, dan tambahkan detergen yang telah dibuat tadi menggunakan
pipet tetes. Lalu gelas arloji digoyangkan untuk menghilangkan lemak atau minyak, dan
lihat apakah larutan detergen dapat menghilangkan lemak atau minyak. Lalu dicatat
hasilnya.
Setelah itu kita menguji sifat kesadahan pada sabun dan detergen menggunakan
larutan CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%, larutan FeCl2 0,1% dan air kran. Pertama diuji sifat
kesadahan sabun kalium pada CaCl2 0,1% yaitu dengan mengambil larutan sabun kalium
dengan menggunakan pipet tetes dan ditauh pada tabung reaksi. Lalu ditambahkan larutan
CaCl2 0,1% sebanyak 1 ml pada sabun kalium, diambil menggunakan pipet tetes sekitar
sebanyak 20 tetes. Lalu goyang-goyangkan dan catat hasil atau reaksi yang terjadi.
Setelah itu tabung reaksi dibersihkan hingga bersih. Lalu kita menguji kesadahan sabun
kalium pada larutan MgCl2 0,1%, yaitu dengan mengambil larutan sabun kalium
menggunakan pipet tetes dan ditaruh ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan larutan

MgCl2 0,1% sebanyak 1 ml atau sekitar sebanyak 20 tetes, menggunakan pipet tetes.
Setelah ditambahkan larutan MgCl2, tabung reaksi digoyang-goyangkan atau dikocok dan
lihatlah reaksi yang terjadi lalu catat. Setelah itu kita menguji sifat kesadahan larutan
sabun kalium pada larutan FeCl2 0,1%, yaitu dengan mengambil larutan sabun kalium
menggunakan pipet tetes dan ditaruh ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan larutan
FeCl2 0,1% sebanyak 1 ml atau sekitar sebanyak 20 tetes, menggunakan pipet tetes.
Setelah ditambahkan larutan FeCl2, tabung reaksi digoyang-goyangkan atau dikocok dan
lihatlah reaksi yang terjadi lalu catat. Lalu kita menguji sifat kesadahan larutan sabun
kalium pada air kran, yaitu dengan mengambil larutan sabun kalium menggunakan pipet
tetes dan ditaruh ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan air kran sebanyak 1 ml atau
sekitar sebanyak 20 tetes, menggunakan pipet tetes. Setelah itu tabung reaksi digoyanggoyangkan atau dikocok dan lihatlah reaksi yang terjadi lalu catat.
Berikutnya kita menguji sifat kesadahan pada sabun natrium. Pertama disiapkan
alat dan bahan. Pertama kita menguji sifat kesadahan sabun natrium pada larutan CaCl 2
0,1%. Diambil larutan CaCl2 dengan menggunakan pipet tetes dan diambil juga sabun
natrium dengan menggunakan ujung pengaduk . Letakkan ujung pengaduk pada bibir
tabung reaksi, diletakkan agak menyerong atau miring lalu ditambahkan larutan CaCl 2
sebanyak 1 ml atau sekitar 20 tetes. Saat ditetesi, sabun natrium akan ikut jatuh kebawah.
Jika tidak jatuh maka langsung masukkan saja sabun natrium yang ada pada pengaduk
pada larutan CaCl2 pada tabung reaksi lalu aduk hingga terlarut. lihatlah reaksi yang
terjadi lalu catat. Kemudian menguji sifat kesadahan sabun natrium pada larutan MgCl 2
0,1%. Diambil larutan MgCl2 dengan menggunakan pipet tetes dan diambil juga sabun
natrium dengan menggunakan ujung pengaduk . Letakkan ujung pengaduk pada bibir
tabung reaksi, diletakkan agak menyerong atau miring lalu ditambahkan larutan MgCl 2
sebanyak 1 ml atau sekitar 20 tetes. Saat ditetesi, sabun natrium akan ikut jatuh kebawah.
Jika tidak jatuh maka langsung masukkan saja sabun natrium yang ada pada pengaduk
pada larutan MgCl2 pada tabung reaksi lalu aduk hingga terlarut. lihatlah reaksi yang
terjadi lalu catat. Kemudian menguji sifat kesadahan sabun natrium pada larutan FeCl 2
0,1%. Diambil larutan FeCl2 dengan menggunakan pipet tetes dan diambil juga sabun
natrium dengan menggunakan ujung pengaduk . Letakkan ujung pengaduk pada bibir
tabung reaksi, diletakkan agak menyerong atau miring lalu ditambahkan larutan FeCl 2
sebanyak 1 ml atau sekitar 20 tetes. Saat ditetesi, sabun natrium akan ikut jatuh kebawah.
Jika tidak jatuh maka langsung masukkan saja sabun natrium yang ada pada pengaduk
pada larutan FeCl2 pada tabung reaksi lalu aduk hingga terlarut. lihatlah reaksi yang
terjadi lalu catat. Setelah itu kita menguji sifat kesadahan sabun natrium pada air kran
Diambil air kran dengan menggunakan pipet tetes dan diambil juga sabun natrium dengan
menggunakan ujung pengaduk . Letakkan ujung pengaduk pada bibir tabung reaksi,
diletakkan agak menyerong atau miring lalu ditambahkan air kran sebanyak 1 ml atau
sekitar 20 tetes. Saat ditetesi, sabun natrium akan ikut jatuh kebawah. Jika tidak jatuh
maka langsung masukkan saja sabun natrium yang ada pada pengaduk pada air kran pada
tabung reaksi lalu aduk hingga terlarut. lihatlah reaksi yang terjadi lalu catat.
Lalu diuji sifat kesadahan detergen pada CaCl2 0,1% yaitu dengan mengambil
larutan detergen dengan menggunakan pipet tetes dan ditauh pada tabung reaksi. Lalu
ditambahkan larutan CaCl2 0,1% sebanyak 1 ml pada larutan detergen, diambil
menggunakan pipet tetes sekitar sebanyak 20 tetes. Lalu goyang-goyangkan dan catat
hasil atau reaksi yang terjadi. Setelah itu tabung reaksi dibersihkan hingga bersih. Lalu
kita menguji kesadahan larutan detergen pada larutan MgCl2 0,1%, yaitu dengan
mengambil larutan detergen menggunakan pipet tetes dan ditaruh ke dalam tabung reaksi
lalu ditambahkan larutan MgCl2 0,1% sebanyak 1 ml atau sekitar sebanyak 20 tetes,

menggunakan pipet tetes. Setelah ditambahkan larutan MgCl 2, tabung reaksi digoyanggoyangkan atau dikocok dan lihatlah reaksi yang terjadi lalu catat. Setelah itu kita
menguji sifat kesadahan larutan detergen pada larutan FeCl2 0,1%, yaitu dengan
mengambil larutan detergen menggunakan pipet tetes dan ditaruh ke dalam tabung reaksi
lalu ditambahkan larutan FeCl2 0,1% sebanyak 1 ml atau sekitar sebanyak 20 tetes,
menggunakan pipet tetes. Setelah ditambahkan larutan FeCl 2, tabung reaksi digoyanggoyangkan atau dikocok dan lihatlah reaksi yang terjadi lalu catat. Lalu kita menguji sifat
kesadahan larutan detergen pada air kran, yaitu dengan mengambil larutan detergen
menggunakan pipet tetes dan ditaruh ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan air kran
sebanyak 1 ml atau sekitar sebanyak 20 tetes, menggunakan pipet tetes. Setelah itu tabung
reaksi digoyang-goyangkan atau dikocok dan lihatlah reaksi yang terjadi lalu catat.
Analisa hasil
Saponifikasi merupakan proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan mereaksikan
asam lemak khusunya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan gliserol dan garam
karboksilat (sejenis sabun). Pada praktikum saponifikasi ini digunakan KOH dan NaOH sebagai
basa alkali untuk menghidrolisis lemak. Dan hasilnya berupa sabun kalium dan sabun natrium.
Sabun kalium ROOCK disebut juga sabun lunak dan umumnya digunakan untuk sabun mandi
cair, sabun cuci pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Sedangkan sabun natrium, RCOONa,
disebut sabun keras dan umumnya digunakan sebagai sabun cuci, dalam industri logam dan untuk
mengatur kekerasan sabun kalium (Priyono, 2009)
Dari pengamatan endapan yang disaring, diperoleh endapan dari larutan sabun natrium
lebih banyak dari larutan sabun kalium. Hal tersebut diperoleh dari Ksp Nacl lebih kecil dari Ksp
KCl, sehingga hasil endapannya lebih banyak (Puspitasari, 2010).
Hasil warna sabun dan detergen ditambah lemak atau minyak menjadi warna agak keruh.
Pada sabun kalium menjadi warna putih keruh, pada sabun natrium menjadi warna putih
kekuningan dan pada detergen menjadi warna putih keruh. Ini disebabkan bahwa lemak telah
dihidrolisis oleh sabun.
Pada proses pembuatan sabun ditambahka 2 ml etanol, langkah ini berfungsi untuk
menggantikan etanol yang menguap saat proses pemanasan. Dilakukan pemanasan untuk
mempercepat proses reaksi karena jika suhu semakin tinggi maka energy kinetiknya semakin
besar. Lalu pemanasan yang dilakukan pada kalium berfungsi untuk membuat larutan sabun
kalium menjadi kental dan liat. Proses ini diperrlukan karena sabun kalium tidak dapat mengental
pada suhu kamar, sehingga perlu dilakukan pemanasan untuk membantu proses pengentalannya.
Setelah sabun kalium, sabun natrium dan detergen telah jadi, dilakukan pengujian
penyabunan pada minyak atau lemak. Hasilnya, lemak lebih larut dalam detergen dibandingkan
sabun kalium dan natrium karena detergen merupakan pembersih yang mengandung senyawa
petronimia atau surfaktan sintesis lainnya yang merupakan bahan pembersih utama dengan cara
kerja sebagai pembasa yang menyebabkan menurunnya tegangan permukaan air sehingga air
lebih mudah meresap ke dalam kain yang dicuci dan daspat mengangkat kotoran pada kain.
Surfaktan yang terdapat pada detergen adalah LAS (Lauril Alkil Sulfat) dan ABS (Alkil Benzene
Sulfonat).n detergen tidak terjadi endapan sama sekali
Lalu pada pengujian sifat kesadahan, kesadaha merupakanukuran kandungan tertentu
pada air dalam bentuk garam karbona. Pengujian kesadahan menggunakan CaCl2 0,1%, MgCl2

0,1%, larutan FeCl2 0,1% dan air kran. Hampir semua mengalami endapan pada sabun kalium
dan natrium krena ion 2+ menghancurkan sifat surfaktan pada sabun dengan membentuk endapan
padat (sampah sabun tersebut). Komponen utama dari sampah tersebut adalah kalsium stearat,
yang muncul dari stearat natrium, komponen utama dari sabun: 2 C 17H35COO- + Ca2+
(C17H35COO)2Ca. Namun pada detergen tidak terdapat endapan karena surfaktan pada detergen
lebih kuat dibandingkan kadar mineral dari larutan CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%, larutan FeCl2 0,1%
dan air kran.

PERTANYAAN
1. Apa fungsi penambahan KOH pada proses saponifikasi? Apakah larutan KOH
dapat digantikan dengan bahan lain, jika dapat, bahan apakah yang dapat
menggantikan larutan KOH?

Fungsi penambahan KOH pada proses saponifikasi adalah untuk mempercepat


terjadinya proses penyabunan, dimana KOH merupakan basa yang dapat menghidrolisis
lemak sehingga terbentuk gliserol dan sabun, dimana pada proses hidrolisis lemak akan
terurai menjadi asam lemak gliserol. KOH dapat diganti dengan NaOH dan NH4OH

2. Jelaskan cara kerja sabun dan detergen sebagai pembersih kotoran / lemak!
Mengapa detergen lebih efektif untuk membersihkan kotoran bila
dibandingkan dengan sabun?

a. Cara kerja sabun adalah dengan cara mengikat minyak di dalam air, pada saat sabun
bercampur dengan air, rantai asam lemak ini akan mengikat kotoran, terutama yang
berminyak dan berlemak. Kemudian, ion yang terdapat pada ujung rantai asam lemak
tadi akan bertugas untuk membawa ikatan asam lemak dan kotoran ini ke dalam air.
Akhirnya, kotoran pun bisa diangkat dan dibawa pergi bersama dengan air.
b. Detergen merupakan pembersih yang mengandung senyawa petronimia atau surfaktan
sintesis lainnya yang berfungsi sebagai bahan pembasa yang menyebabkan
menurunnya tegangan permuakaan air sehingga air lebih mudah meresap ke dalam
kain yang dicuci dan mengangkat kotoran yang menempel pada kain. Surfaktan ini
adalah bahan pembersih utama yang terdapat dalam detergen, seperti LAS ( Lauril
Alkil Sulfat ) dan ABS ( Alkil Benzene Sulfonat ) sehingga detergen lebih efektif
membersihkan kotoran dibandingkan dengan sabun.

3. Jelaskan pengaruh kesadahan terhadap fungsi sabun dan detergen sebagai


pembersih !

Dari hasil pengamatan yang diperoleh, pada larutan sabun kalium, dan sabun
natrium terjadi pengendapan pada penambahan larutan CaCl2, MgCl2, FeCl2 dan air keran.
Endapan yang diperoleh berwarna putih keruh. Hal tersebut menandakan bahwa sabun
tidak mampu bekerja secara efektif pada air yang sadah. Air sadah adalah air yang
mengandung kation divalent seperti mineral kalsium, magnesium dan besi dalam jumlah
yang cukup banyak. Disebut air sadah karena membuat sabur sukar berbuih. Hal ini
disebabkan air sadah dapat mengendapkan sabun membentuk scum (endapan berwarna
abu-abu) yang membuat cucian tidak bersih dan membuat pakaian menjadi berwarna
kusam. Sehingga sabun tidak dapat berfungsi maksimal.
Lain halnya dengan larutan sabun deterjen, tidak terjadi pengendapan pada
penambahan larutan CaCl2, MgCl2, FeCl2 dan air keran. Hal tersebut menandakan bahwa
deterjen mampu bekerja secara efektif pada air yang sadah. Sifat detergen lebih baik
daripada sabun karena detergen tidak dipengaruhi oleh kesadahan air, sedangkan sabun
dipengaruhi kesadahan air . Sehingga detergen dapat berfungsi secara maksimal.

KESIMPULAN

Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan
mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan gliserol dan
garam karboksilat (sejenis sabun). Prinsip dalam proses saponifikasi yaitu lemak akan
terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah.
Sabun kalium ROOCK disebut juga sabun lunak dan umumnya digunakan untuk sabun
mandi cair, sabun cuci pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Sedangkan sabun natrium,
RCOONa, disebut sabun keras dan umumnya digunakan sebagai sabun cuci, dalam industri
logam dan untuk mengatur kekerasan sabun kalium. Detergen adalah garam alkali alkil sulfat
atau sulfoniat. Deterjen adalah campuran zat kimia dari sintetik ataupun alam yang memiliki sifat
yang dapat menarik zat pengotor dari media, dan sering digunakan sebagai sabun cuci pakaian.
Kesadaha merupakan ukuran kandungan tertentu pada air dalam bentuk garam karbonat.
Hampir semua mengalami endapan pada sabun kalium dan natrium krena ion 2+ menghancurkan
sifat surfaktan pada sabun dengan membentuk endapan padat (sampah sabun tersebut).
Komponen utama dari sampah tersebut adalah kalsium stearat, yang muncul dari stearat natrium,
komponen utama dari sabun: 2 C17H35COO- + Ca2+ (C17H35COO)2Ca. Namun pada detergen
tidak terdapat endapan karena surfaktan pada detergen lebih kuat dibandingkan kadar mineral
dari larutan CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%, larutan FeCl2 0,1% dan air kran.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi offset
Arifin. 2008. Metode Pengolahan Deterjen (Tinjauan Pada Suatu Instalasi Pengolahan Air) .
Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri
E. Lichtfouse, Et.al. 2005. Environmental Chemistry; Green Chemistry and Pollutants in
Ecosystem. New York : Springer Berlin Heidelberg.
Irawan, wira. 2006. Laporan Praktikum : Proses Reaksi Saponifikasi. Medan: Jurusan Teknik
Kimia, Fakultas Teknologi Industri. Institut Teknologi Medan.
Kusnawan, E. 2008. Panduan Pembelajaran KIMIA untuk SMA/MA kelas XII. Bogor: PT.Siem &
Co.Jakarta
Mulyono. 2005. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi aksara
Priyono, Agus.2009.Makalah Pembuatan Sabun. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik:
Universitas Riau.
Puspitasari, Dian S.pd dan dwi Setyorini S.pd, 2010. Kamus kimia Lengkap. Dwimedia Press.
Riyadi, Adi.dkk. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Organik I. Jakarta : UIN Syarif hidayatullah
Sari, C.I., 2005. Pembuatan Keripik Pepaya (Carica papaya L.) Dengan Vacuum Frying (Kajian
Oleh Varietas Pepaya Dan Pengaruh Perendaman Dalam Berbagai Konsentrasi Kalsium
Klorida (Cacl2) Terhadap Sifat Fisika-Kimia Dan Organoleptik. Department of
Agroindustry.

Sugiarto dan Suyanti. 2010. Kimia Anorganik Logam. Yogyakarta : Graha Ilmu
Tim Penyusun.2014. Modul Praktikum Kimia Dasar II / Kimia Organik. Malang: Universitas
Brawijaya
Zhaohui Li. 2007. Removal of Cationic Surfactants From Water Using Clinoptilolite Zeolit.
Kenosha USA : University of Wisconsin