Anda di halaman 1dari 16

BAB.

I
PENDAHULUAN
Sinusitis merupakan penyakit dengan persentase yang signifikan di dalam populasi dan
dapat menyebabkan morbiditas jangka panjang. Sinus maksilaris, yang secara anatomi berada di
pertengahan antara hidung dan ronggamulut merupakan lokasi yang rentan terinvasi organisme
patogen lewat ostium sinus maupun lewat rongga mulut.
Sinusitis dentogen dapat mencapai 10% hingga 12% dari seluruh kasus sinusitis
maksilaris. Sinusitis dentogen merupakan salah satu penyebab penting sinusitis kronik. Dasar
sinus m a k s i l a a d a l a h p r o s e s u s a l v e o l a r i s t e m p a t a k a r g i g i r a h a n g a t a s ,
s e h i n g g a r o n g g a s i n u s maksila hanya dipisahkan oleh tulang tipis dengan akar
gigi, bahkan kadang-kadang tanpa t u l a n g p e m b a t a s . I n f e k s i g i g i r a h a n g a t a s
s e p e r t i i n f e k s i a p i k a l a k a r g i g i a t a u i n f l a m a s i jaringan periodontal mudah
menyebar secara langsung ke sinus atau melalui pembuluh darah dan limfe.
Curiga adanya sinusitis dentogen pada sinusitis maksila kronik yang
mengenai satu sisi dengan ingus purulen dan napas berbau busuk. Untuk mengobati
sinusitisnya, gigi yang t e r i n f e k s i h a r u s d i c a b u t a t a u d i r a w a t , d a n p e m b e r i a n
a n t i b i o t i k y a n g m e n c a k u p b a k t e r i anaerob. Seringkali perlu dilakukan irigasi sinus
maksila.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.1 Anatomi Sinus Paranasal


2.1. Anatomi Sinus Paranasal
Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit dideskripsi karena
bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari
yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri
(Mehra dan Murad, 2004). Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala,
sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam
rongga hidung (Soetjipto dan Mangunkusomo,2007). Semua sinus dilapisi oleh epitel saluran
pernafasan bersilia yang mengalami modifikasi dan mampu menghasilkan mukus serta sekret
yang disalurkan ke dalam rongga hidung. Pada orang sehat, sinus terutamanya berisi udara
(Hilger,1997).

Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus media, ada muara-muara
saluran dari sinus maksila, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan sempit,
dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di
belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan
ostiumnya dan ostium sinus maksila (Drake,1997).
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan
perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus frontal dan sinus sfenoid.
Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal berkembang
dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih delapan tahun. Pneumatisasi
sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior rongga
hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun
(Soetjipto dan Mangunkusomo, 2007; Lee, 2008).

Gambar 2.3 Komplek Osteomeatal


2.1.1. Sinus Maksila

Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Sinus maksila disebut
juga antrum Highmore (Tucker dan Schow, 2008). Saat lahir, sinus maksila bervolume 68 ml. Sinus ini kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran
maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa (Mehra dan Murad, 2004). Sinus maksila berbentuk
piramid. Dinding anterior sinus adalah permukaan fasial os maksila yang disebut fossa
canina, dinding posteriornya adalah permukaan infratemporal maksila, dinding medialnya
adalah dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya adalah dasar orbita, dan
dinding inferiornya adalah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada
di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui
infundibulum etmoid ( Tucker dan Schow, 2008)
Menurut Soetjipto dan Mangunkusomo (2007) dari segi klinik yang perlu
diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah:
a. Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas yaitu
premolar (P1 dan P2), molar (M1 dan M2), dan kadang-kadang juga gigi taring
dan gigi M3, bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus
sehingga infeksi gigi rahang atas mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis.
b. Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita.
c. Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase
hanya tergantung dari gerak silia, lagipula drainase juga harus melalui
infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior
dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi
drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.

Dikutip dari: Paranasal Sinuses: Atlas of Human Anatomy (Netter, F.H., 2006)
Gambar 2.2 : Anatomi Sinus Maksila
2.1.2. Sinus Frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke-empat
fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah
lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran
maksimal sebelum usia 20 tahun (Ramalinggam, 1990). Sinus frontal kanan dan kiri
biasanya tidak simetris, satu lebih besar daripada lainya dan dipisahkan oleh sekat yang
terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya mempunyai satu sinus
frontal dan kurang lebih lima persen sinus frontalnya tidak berkembang (Lee, 2008).

Ukuran sinus frontal adalah mempunyai tinggi 2.8 cm , lebarnya 2.4 cm dan
dalamnya 2 cm. Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk
(Netter, 2006; Soetjipto dan Mangunkusomo,2007). Tidak adanya gambaran septumseptum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen menunjukkan adanya infeksi
sinus (Rachman,2005). Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita
dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini
(Lund, 1997; Soetjipto dan Mangunkusomo,2007). Sinus frontal berdrainase melalui
ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang berhubungan dengan infundibulum
etmoid (Lee, 2008).
2.1.3. Sinus Etmoid
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling penting karena dapat
merupakan fokus infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa bentuk sinus
etmoid seperti piramid dengan dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari anterior ke
posterior 4-5 cm, tinggi 2.4 cm dan lebarnya 0.5 cm di bagian anterior dan 1.5 cm di
bagian posterior (Netter, 2006; Mangunkusomo, 2007).
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon,
yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara konka
media dan dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi. Berdasarkan letaknya,
sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara ke meatus media dan
sinus etmoid posterior bermuara ke di meatus superior. Sel-sel etmoid anterior biasanya
kecil-kecil dan banyak, letaknya di depan lempeng yang menghubungkan bagian
posterior konka media dengan dinding lateral (lamina basalis), sedangkan sel-sel sinus
etmoid posterior biasanya lebih besar dan sedikit jumlahnya dan terletak di posterior dari
lamina basalis (Hilger, 1997; Ballenger, 2009).
Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus
frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar disebut bula
etmoid. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut
infundibulum, tempat bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan atau

peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di


infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila (Mehra dan Murad, 2004).
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina
kribrosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi
sinus etmoid dari rongga orbita (Soetjipto dan Mangunkusomo,2007 ; Ballenger, 2009).
Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid
(Hilger,1997).
2.1.4. Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus
sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm
tingginya, dalamnya 2.3 cm dan lebarnya 1.7 cm. Volumenya bervariasi dari 5-7.5 ml.
Saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os sfenoid akan
menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus (Hilger, 1997; Netter, 2006).
Batas-batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa superior serebri media dan
kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan
sinus kavernosus dan arteri karotis interna dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan
fosa serebri posterior di daerah pons (Ramalinggam, 1990).
2.2. Fisiologi Sinus Paranasal
Menurut Drake (1997) dan Soetjipto dan Mangunkusomo (2007) sampai saat ini belum
ada persesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal. Ada yang berpendapat bahwa sinus
paranasal ini tidak mempunyai fungsi apa-apa, karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan
tulang muka.
Menurut Lund (1997) beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal
antara lain adalah:
a. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)

Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban
udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000
volume sinus pada tipa kali bernapas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk
pertukaran udara total dalam sinus.
b. Sebagai penahan suhu (thermal insulator)
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fosa
serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya sinussinus yang besar tidak terletak di antara hidung dan organ-organ yang dilindungi.
c. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka, akan tetapi
bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan pertambahan berat
sebesar satu persen dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.
d. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi
kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonansi yang efektif. Lagi pula tidak ada
korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.
e. Sebagai perendam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan besar dan mendadak, misalnya pada
waktu bersin atau membuang ingus.
f. Membantu produksi mukus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang
turut masuk dengan udara inspirasi kerana mukus ini keluar dari meatus media, tempat
yang paling strategis.

Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan palut
lendir di atasnya (Hilger,1997). Di dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan
lendir menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah tertentu polanya. Pada
dinding lateral hidung terdapat dua aliran transport mukosiliar dari sinus. Lendir yang berasal
dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum etmoid dialirkan ke nasofaring di
depan muara tuba Eustachius. Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior bergabung
dengan resesus sfenoetmoidalis, dialirkan ke nasofaring di postero-superior muara tuba. Inilah
sebabnya pada sinusitis didapati sekret pasca-nasal (post nasal drip), tetapi belum tentu ada
sekret di rongga hidung (Ramalinggam, 1990; Adam, 1997).
2.3. Klasifikasi Sinusitis
Konsensus internasional tahun 1995 membagi rinosinusitis hanya akut dengan batas
sampai delapan minggu dan kronik jika lebih dari delapan minggu (Mangunkusomo dan
Soetjipto,2007). Konsensus tahun 2004 membagi rinosinusitis menjadi akut dengan batas sampai
empat minggu, subakut antara empat minggu sampai tiga bulan dan kronik jika lebih dari tiga
bulan atau berdasarkan jenis atau tipe inflamasinya yaitu infectious atau non-infectious
(Mangunkusomo dan Soetjipto,2007; Sobol, 2011).
Klasifikasi secara klinis untuk sinusitis dibagi atas sinusitis akut, subakut dan kronis
(Hilger, 1997). Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis dibagi kepada sinusitis tipe
rinogen dan sinusitis tipe dentogen. Sinusitis tipe rinogen terjadi disebabkan kelainan atau
masalah di hidung dimana segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat
menyebabkan sinusitis. Sinusitis tipe dentogen pula terjadi disebabkan kelainan gigi serta yang
sering menyebabkan sinusitis adalah infeksi pada gigi geraham atas yaitu gigi pre molar dan
molar (Mangunkusomo dan Soetjipto,2007).
2.4. Sinusitis Tipe Dentogen
2.4.1. Definisi
Sinusitis didefinikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya
disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sering disebut rinosinusitis (Kumar dan Clark,
2005). Lapisan mukosa dari sinus paranasal merupakan lanjutan dari mukosa hidung.

Hidung dan sinus paranasal merupakan bagian dari sistem pernapasan. Penyakit yang
menyerang bronkus dan paru-paru juga dapat menyerang hidung dan sinus paranasal.
Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan proses infeksi, seluruh saluran nafas dengan
perluasan-perluasan anatomik harus dianggap sebagai satu kesatuan (Hueston,2002).
2.4.2. Insidens dan Epidemiologi
Menurut Wald (1990) di Amerika menjumpai insiden pada orang dewasa antara
10-15% dari seluruh kasus sinusitis yang berasal dari infeksi gigi. Ramalinggam (1990)
di Madras, India mendapatkan bahwa rinosinusitis maksila tipe dentogen sebanyak
sepuluh persen kasus yang disebabkan oleh abses gigi dan abses apikal. Menurut Becker
et al. (1994) dari Bonn, Jerman menyatakan sepuluh persen infeksi pada sinus paranasal
disebabkan oleh penyakit pada akar gigi. Granuloma dental, khususnya pada premolar
kedua dan molar pertama sebagai penyebab rinosinusitis maksila dentogen. Hilger (1994)
dari Minnesota, Amerika Serikat menyatakan terdapat sepuluh persen kasus rinosinusitis
maksila yang terjadi setelah gangguan pada gigi. Menurut Farhat (2004) di Medan
mendapatkan insiden rinosinusitis dentogen di Departemen THT-KL/RSUP Haji Adam
Malik sebesar 13.67% dan yang terbanyak disebabkan oleh abses apikal (71.43%).
2.4.3. Etiologi dan Faktor Predisposisi
Etiologi sinusitis tipe dentogen ini adalah :
a. Penjalanan infeksi gigi seperti infeksi periapikal atau abses apikal gigi dari gigi
kaninus sampai gigi molar tiga atas. Biasanya infeksi lebih sering terjadi pada
kasus-kasus akar gigi yang hanya terpisah dari sinus oleh tulang yang tipis,
walaupun kadang-kadang ada juga infeksi mengenai sinus yang dipisahkan oleh
tulang yang tebal (Ross, 1999).
b. Prosedur ekstraksi gigi. Pencabutan gigi ini dapat menyebabkan terbukanya dasar
sinus sehingga lebih mudah bagi penjalanan infeksi (Saragih, 2007).
c. Penjalaran penyakit periodontal yaitu dijumpai adanya penjalaran infeksi dari
membran periodontal melalui tulang spongiosa ke mukosa sinus (Prabhu; Padwa;
Robsen; Rahbar, 2009).

d. Trauma, terutama fraktur maksila yang mengenai prosesus alveolaris dan sinus
maksila (Ross, 1999).
e. Adanya benda asing dalam sinus berupa fragmen akar gigi dan bahan tambahan
akibat pengisian saluran akar yang berlebihan (Saragih, 2007).
f. Osteomielitis pada maksila yang akut dan kronis (Mangunkusomo; Rifki, 2001).
g. Kista dentogen yang seringkali meluas ke sinus maksila, seperti kista radikuler
dan folikuler (Prabhu; Padwa; Robsen; Rahbar, 2009).
h. Deviasi septum kavum nasi, polip, serta neoplasma atau tumor dapat
menyebabkan obstruksi ostium yang memicu sinusitis (Mangunkusomo dan
Soetjipto,2007).
2.4.4. Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya
klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam kompleks osteo-meatal. Sinus
dilapisi oleh sel epitel respiratorius. Lapisan mukosa yang melapisi sinus dapat dibagi
menjadi dua yaitu lapisan viscous superficial dan lapisan serous profunda. Cairan mukus
dilepaskan oleh sel epitel untuk membunuh bakteri maka bersifat sebagai antimikroba
serta mengandungi zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap
kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Cairan mukus secara alami menuju ke
ostium

untuk

dikeluarkan

jika

jumlahnya

berlebihan

(Ramalinggam,

1990;

Mangunkusomo dan Soetjipto,2007).


Faktor yang paling penting yang mempengaruhi patogenesis terjadinya sinusitis
yaitu apakah terjadi obstruksi dari ostium. Jika terjadi obstruksi ostium sinus akan
menyebabkan terjadinya hipooksigenasi, yang menyebabkan fungsi silia berkurang dan
epitel sel mensekresikan cairan mukus dengan kualitas yang kurang baik (Kieff dan
Busaba, 2004). Disfungsi silia ini akan menyebabkan retensi mukus yang kurang baik
pada sinus (Hilger, 1997).
Kejadian sinusitis maksila akibat infeksi gigi rahang atas terjadi karena infeksi
bakteri (anaerob) menyebabkan terjadinya karies profunda sehingga jaringan lunak gigi
dan sekitarnya rusak (Prabhu; Padwa; Robsen; Rahbar, 2009). Pulpa terbuka maka kuman
akan masuk dan mengadakan pembusukan pada pulpa sehingga membentuk gangren

pulpa. Infeksi ini meluas dan mengenai selaput periodontium menyebabkan periodontitis
dan iritasi akan berlangsung lama sehingga terbentuk pus. Abses periodontal ini
kemudian dapat meluas dan mencapai tulang alveolar menyebabkan abses alveolar.
Tulang alveolar membentuk dasar sinus maksila sehingga memicu inflamasi mukosa
sinus. Disfungsi silia, obstruksi ostium sinus serta abnormalitas sekresi mukus
menyebabkan akumulasi cairan dalam sinus sehingga terjadinya sinusitis maksila (Drake,
1997).
Dengan ini dapat disimpulkan bahwa patofisiologi sinusitis ini berhubungan
dengan tiga faktor, yaitu patensi ostium, fungsi silia, dan kualitas sekresi hidung.
Perubahan salah satu dari faktor ini akan merubah sistem fisiologis dan menyebabkan
sinusitis.
2.4.5. Gejala Klinis
Gejala infeksi sinus maksilaris akut berupa demam, malaise, dan nyeri kepala
yang tidak jelas yang biasanya reda dengan pemberian analgetik biasanya seperti aspirin.
Wajah terasa bengkak, penuh, dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak,
misalnya sewaktu naik dan turun tangga (Tucker dan Schow, 2008). Seringkali terdapat
nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk, serta nyeri di tempat lain karena nyeri alih
(referred pain). Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau
busuk. Batuk iritatif non-produktif juga seringkali ada (Sobol,2011).
Sinusitis maksilaris dari tipe odontogen harus dapat dibedakan dengan rinogen
karena terapi dan prognosa keduanya sangat berlainan. Pada sinusitis maksilaris tipe
odontogenik ini hanya terjadi pada satu sisi serta pengeluaran pus yang berbau busuk. Di
samping itu, adanya kelainan apikal atau periodontal mempredisposisi kepada sinusitis
tipe dentogen. Gejala sinusitis dentogen menjadi lebih lambat dari sinusitis tipe rinogen
(Mansjoer,2001).
2.4.6. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah inspeksi, palpasi, transiluminasi,

rhinoskopi a n t e r i o r d a n p o s t e r i o r. P a d a i n s p e k s i d i p e r h a t i k a n a d a l a h
p e m b e n g k a k a n d i p i p i s a m p a i kelopak mata bawah yang berwarna kemerahmerahan dapat menunjukkan sinusitis maksila a k u t . Pemeriksaan dengan palpasi turut
membantu menemukan nyeri tekan pada daerah sinus yang terkena (Saragih, 2007)
Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, nasoendoskopi sangat
dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini (Mangunkusomo dan
Soetjipto,2007). Rinoskopi anterior memberi gambaran anatomi dan mukosa yang edema,
eritema, dan sekret yang mukopurulen. Lokasi sekret dapat menentukan sinus mana yang
terkena. Rinoskopi posterior dapat melihat koana dengan baik, mukosa hipertrofi atau
hiperplasia (Mansjoer, 2001).
Pemeriksaan penunjang lain adalah transiluminasi. Hanya sinus frontal dan
maksila yang dapat dilakukan transiluminasi bila tidak tersedia pemeriksaan radiologik.
Pada sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap (Ross, 1999). Apabila
transiluminasi tampak gelap di daerah infraorbita, kemungkinan antrum terisi oleh pus
atau mukosa antrum menebala t a u t e r d a p a t n e o p l a s m a d i d a l a m a n t r u m . B i l a
t e r d a p a t k i s t a y a n g b e s a r d i d a l a m s i n u s maksila, akan tampak terang
pada transiluminasi, sedangkan pada foto rontgen tampak adanya perselubungan
berbatas tegas di dalam sinus maksila.Dengan nasal endoskopi dapat diketahui sinus
mana yang terkena dan dapat melihat adanya faktor etiologi lokal. Tanda khas ialah
adanya pus di meatus media pada sinusitis maksila, etmoidalis anterior dan frontal atau
pus di meatus superior pada sinusitis etmoidalis posterior dan sfenoidalis (Mehra dan
Murad, 2004; Mangunkusomo dan Soetjipto,2007). Selain itu, nasal endoskopi dilakukan
untuk menegakkan diagnosis sinusitis akut dimana pus mengalir ke bawah konka media
dan akan jatuh ke posterior membentuk post nasal drip (Ross, 1999).
Pemeriksaan pembantu yang penting adalah foto polos posisi atau CT-scan. Foto
polos posisi Waters, posteroanterior, dan lateral umumnya hanya mampu menilai kondisi
sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan yang akan terlihat adalah
perselubungan, batas udara-cairan (air-fluid level) pada sinusitis maksila atau penebalan
mukosa (Mehra dan Murad, 2004). CT-scan sinus merupakan gold standard karena
mampu menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus

secara keseluruhan dan perluasannya. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai
penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau praoperasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus (Mangunkusomo dan
Soetjipto,2007).
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret
dari meatus media atau superior, untuk mendapat antibiotik yang tepat guna. Lebih baik
lagi bila diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila (Mangunkusomo dan
Soetjipto,2007).

Kebanyakan

sinusitis

disebabkan

infeksi

oleh

Streptococcus

pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis. Gambaran bakteriologik


dari sinusitis yang berasal dari gigi geligi didominasi oleh infeksi gram negatif sehingga
menyebabkan pus berbau busuk dan akibatnya timbul bau busuk dari hidung (Ross,
1999).
Di samping itu, sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial
sinus maksila melalui meatus inferior, dengan alat endoskopi dapat dilihat kondisi sinus
maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi
(Mangunkusomo dan Soetjipto,2007).
2.4.7. Terapi
Prinsip terapi :
a. Atasi masalah gigi
b. Konservatif dilakukan dengan memberikan obat-obatan atau irigasi
c. Operatif
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial,
untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan
ostium sinus (Tucker dan Schow, 2008). Antibiotik pilihan berupa golongan penisilin
seperti Amoksisilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi betalaktamase, maka dapat diberikan Amoksisilin-Klavulanat atau jenis Cephalosporin
generasi kedua (Chambers dan Deck, 2009). Terapi lain dapat diberikan jika diperlukan

seperti mukolitik, analgetik, steroid oral dan topikal, pencucian rongga hidung dengan
natrium klorida atau pemanasan.
Selain itu, dapat dilakukan irigasi sinus maksilaris atau koreksi gangguan gigi
(Mangunkusomo dan Soetjipto,2007). Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF) adalah
operasi pada hidung dan sinus yang menggunakan endoskopi dengan tujuan
menormalkan kembali ventilasi sinus dan klirens mukosiliar (Longhini; Bransletter;
Ferguson, 2010). Prinsip BSEF ialah membuka dan membersihkan kompleks osteomeatal
sehingga drainase dan ventilasi sinus lancar secara alami. Selain itu, operasi Caldwell
Luc dapat juga dilakukan untuk memulihkan sumbatan sinus atau infeksi sinus maksila.
Tindakan ini dilakukan dengan mengadakan suatu rute untuk mengkoneksi sinus maksila
dengan hidung sehingga memulihkan drainase (Cho dan Hwang, 2008).
2.4.8. Komplikasi
Komplikasi sinusitis adalah kelainan orbital disebabkan oleh sinus paranasal yang
berdekatan dengan mata. Yang paling sering ialah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis
frontal

dan

maksila.

Penyebaran

infeksi

terjadi

melalui

tromboflebitis

dan

perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita,
abses subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi thrombosis sinus kavernosus
(Mangunkusomo

dan

Soetjipto,2007).

Komplikasi

lain

adalah

infeksi

orbital

menyebabkan mata tidak dapat digerakkan serta kebutaan karena tekanan pada nervus
optikus (Hilger, 1997).
Osteomielitis dan abses subperiosteal paling sering timbul akibat sinusitis frontal
dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul
fistula oroantral atau fistula pada pipi (Tucker dan Schow, 2008). Infeksi otak yang paling
berbahaya karena penyebaran bakteri ke otak melalui tulang atau pembuluh darah. Ini
dapat juga mengakibatkan meningitis, abses otak dan abses ekstradural atau subdural
(Hilger, 1997).
Komplikasi sinusitis yang lain adalah kelainan paru seperti bronkitis kronis dan
bronkiektasi. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut

sinobronkitis. Selain itu, dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronchial yang sukar
dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan (Ballenger, 2009).
2.4.9. Prognosis
Prognosis sinusitis tipe dentogen sangat tergantung kepada tindakan pengobatan
yang dilakukan dan komplikasi penyakitnya. Jika, drainase sinus membaik dengan terapi
antibiotik atau terapi operatif maka pasien mempunyai prognosis yang baik (Mehra dan
Murad, 2004).