Anda di halaman 1dari 324

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGALIHAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN


SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 93 UNDANGUNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DAN
PERATURAN PELAKSANANYA DALAM PERSPEKTIF HAK
MENGUASAI NEGARA BERDASARKAN PASAL 33 AYAT (3)
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK
INDONESIATAHUN 1945

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan Gelar Magister
Hukum dalam Ilmu Hukum

Nur Hayati Wisnu Wardani


1106151165

FAKULTAS HUKUM
PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM
UNIVERSITAS INDONESIA
2014

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGALIHAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN


SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 93 UNDANGUNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DAN
PERATURAN PELAKSANANYA DALAM PERSPEKTIF HAK
MENGUASAI NEGARA BERDASARKAN PASAL 33 AYAT (3)
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK
INDONESIATAHUN 1945

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan Gelar Magister
Hukum dalam Ilmu Hukum

Nur Hayati Wisnu Wardani


1106151165

FAKULTAS HUKUM
PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM
UNIVERSITAS INDONESIA
2014

i
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

HALAMAN PERSEMBAHAN

Tesis ini penulis persembahkan untuk


ibunda dan ayahanda serta adik-adikku tercinta,
semoga Allah senantiasa memberikan karunia, kasih sayang,
nikmat iman dan Islam, serta melapangkan rizqi-Nya
untuk kita menuntut ilmu sepanjang usia kita
Amiin Allahuma Amiin

Demi masa,
sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran (QS. Al Ashr)

ii
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber yang dikutip maupun dirujuk

teiah saya nyatakan dengan benar

Nama

: Nur Hayati Wisnu Wardani

NPM

: 1106151165

TandaTangan:

Tanggal

: 7 Januari2014

III

Pengalihan Izin

NurHayati Wisnu Wardani, FHUl, 2014

HALAMAN PENGESAHAN

Tesis ini diajukan oleh :

Nama

Nur Hayati Wisnu Wardani

NPM

1106151165

Program Studi

limu Hukum

Judul Tesis

Pengalihan

Izin Usaha

Pertambangan

Sebagaiinana

Dimaksud Dalam Pasal 93 Undang-Undang Nomor 4

Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara


dan

Peraturan Peiaksananya dalam Perspektif Hak

Menguasai Negara Berdasarkan Pasal 33 ayat (3)


Undang-Undang

Dasar Negara

Republik Indonesia

Tahun 1945

Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai persyaratan yang diperlukan untuk mcmperoleh gelar Magister

Hukum pada Program Pascasarjana Fakultas Hukum, Universitas Indonesia

DEWAN PENGUJI

Pembimbing ; Dr. Tri Hayati, SH., MH.

Penguji 1

: Dr. Andhika Danesjvara S.H., M.Si

Penguji 2

: Yuli Indrawati S.H., LL.M,

)
A

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal

7 Januari20l4

IV

-OAC

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
Alkhamdulillahirobbil alamin, puji syukur kehadirat Allah Subkhanahu
Wa Taala, Tuhan Maha Esa, Robb semesta alam, tempat kita bergantung, sumber
dari segala sumber ilmu dan kebenaran, Yang Maha Pengasih dan Yang Maha
Penyayang, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Di antara berbagai
hal dan keadaan yang menyulitkan, di antara perasaan gundah dan emosi jiwa atas
berbagai peristiwa di negeri ini yang tidak dapat dipahami secara logika dan akal
sehat, penulis masih diberi kekuatan, kesabaran, ketabahan, dan kemudahan untuk
menyelesaikan tesis yang berjudul Pengalihan Izin Usaha Pertambangan
Sebagaimana Dimaksud Dalam Pasal 93 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan Peraturan Pelaksananya dalam
Perspektif Hak Menguasai Negara Berdasarkan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Menimba ilmu di Program Pascasarjana, sama sekali tidak pernah
terbayangkan, dan belum pernah ada keberanian untuk memimpikannya. Hanya
atas karunia Allah lah, apa yang tidak pernah disangka, pada akhirnya dapat
dijalankan dan diselesaikan, meskipun banyak kendala yang harus dihadapi.
Sungguh Allah Maha Besar dan Maha Pemurah, telah memberikan jalan kepada
penulis untuk dapat menimba ilmu di Program Pascasarjana, dan dapat mencapai
gelar Magister, meski terkadang muncul perasaan siap tidak siap untuk
menjalaninya karena segala keterbatasan dan kemampuan dari penulis.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Kepala Badan Pendidikan dan
Pelatihan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan jajarannya yang
telah memfasilitasi dengan memberikan beasiswa kepada penulis untuk mengikuti
Program Pascasarjana. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Biro
Kepegawaian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan jajarannya yang
telah memberikan Tugas Belajar kepada penulis, serta Bapak Fadli Ibrahim,
Kepala Bagian Hukum Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara yang telah
memberikan dorongan dan izinnya sehingga penulis dapat mengikuti Program
Pascasarjana ini.

v
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Terima kasih kepada Dr. Tri Hayati, SH., MH., yang dengan penuh
kesabaran, diantara kesibukannya, beliau telah bersedia meluangkan waktu untuk
memberikan bimbingan, saran, arahan dan dorongan kepada penulis, baik pada
saat perkuliahan maupun saat penyusunan tesis ini. Beliau telah banyak
memberikan ilmu dan pengetahuan yang telah membuka wawasan penulis tentang
hukum pertambangan, tentang bagaimana melihat konsep perizinan yang
seharusnya diterapkan dalam mengelola mineral dan batubara sesuai dengan
ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. Andhika
Danesjvara S.H., M.Si. dan ibu Yuli Indrawati S.H., LL.M. yang telah
memberikan saran perbaikan untuk tesis ini.
Terima kasih penulis ucapkan kepada bapak dan ibu dosen Pascasarjana
Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang telah memberikan ilmu dan
pengetahuan kepada penulis selama menimba ilmu di Program Pascasarjana ini,
sehingga pengetahuan serta wawasan penulis tentang hukum pertambangan dan
hukum yang berkaitan dengan sumber daya alam bertambah. Terima kasih pula
penulis ucapkan kepada Pak Huda, Pak Watijan, mas Hary dan mas Tono serta
seluruh staf Sekretariat Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, yang
telah banyak membantu penulis dalam melaksanakan perkuliahan dan
menyelesaikan Program Pascasarjana ini. Terima kasih atas semuanya.
Terima kasih untuk ibunda Sukarti, yang tanpa lelah dan tanpa pernah
berkeluh kesah, dengan setia memberikan cinta kasihnya, meskipun terkandang
ananda salah langkah dan membuat ulah yang mengecewakan. Terima kasih untuk
ayahanda Sugimin, yang selalu setia menemani saat ananda rapuh dan terjatuh,
dan tidak pernah merasa lelah sehingga ananda bisa sampai pada tempat ini yang
mengantarkan ananda pada kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih
tinggi di Program Pascasarjana ini. Sekali lagi bahkan ribuan kali lagi ucapan
terima kasih untuk ayahanda dan ibunda tiadalah pernah cukup untuk melukiskan
kesetiaan cinta dan kasih sayang ayahanda dan ibunda, meski ananda pernah
berada pada fase memberontak dan tidak lagi taat pada nasehat. Semoga Allah
senantiasa menjaga dan melindungi ayahanda dan ibunda, dan memberikan
kesehatan dan umur panjang kepada ayahanda dan ibunda.

vi
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Terima kasih untuk adikku tercinta dan keluarganya, Dwi Inti Widi Astuti,
Bambang Umar, Halim Azizi Umar dan Raisya Aulia Umar, yang sudah setia
mendampingi, mendukung, dan memberikan perhatian, bantuan, dan kasih sayang
dalam kehidupan penulis di perantauan ini. Semoga sukses selalu dalam menjalani
kehidupan berumah tangga serta dalam mendidik putra putrinya. Ucapan terima
kasih juga untuk adikku tercinta dan keluarganya yang berada jauh di Mataram,
Muchtar Kusuma Atmaja, Dewi Lestariny, dan Axelia Chalista Feodora Atmaja,
semoga sukses dalam menjalankan tugas dan menjalani hidup di perantauan.
Kalian semua selalu ada dalam doa dan harapanku.
Terima kasih penulis ucapkan untuk teman-teman satu kelas Program
Pascasarjana Hukum Sumber Daya Alam, Erlangga Matin, mbak Ane, Mas
Cuncun, Anita, Nurul, Taufik, Mbak Santi, Oktoaji, Dani, Yahdi, Rintis, Putri,
Resna, Pak Bambang, Pak Adis, Desy, Bowo, Bu Endah, Ika, Fahmi, dan Mitra
atas kebersamaan dan kekompakan selama kita menimba ilmu. Semoga kita selalu
mendapat bimbingan Allah dan selalu diberikan kemudahan untuk meraih
kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Amiin Allahuma Amiin.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman di
Bagian Hukum Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Erlangga Matin, Rani,
Bayu, Iko, Wawan, Sony atas segala bantuan, pengertian, dan dukungannya untuk
pelaksanaan tugas-tugas kantor dan untuk menyelesaikan tesis ini. Semoga kita
tetap kompak demi memperbaiki segala keadaan yang ada, dapat membawa
perubahan, dan dapat merubah pola pikir yang salah, demi tercapainya good
governance dalam mengelola pertambangan mineral dan batubara. Terima kasih
kepada Pak Helmi, Pak Nazar, Pak Buama, tetap laksanakan tugas dan kewajiban
dengan sebaik-baiknya. Terima kasih kepada Bu Subur, jangan kapok untuk terus
membantu kelancaran tugas Bagian Hukum. Terima kasih kepada Bu Ade, Kepala
Sub Direktorat Pelayanan Usaha Batubara, mbak Sinta, dan Rizqi yang telah
membantu penulis dalam mendapatkan data untuk tesis ini.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, karena
hanya Allah lah Yang Maha Sempurna, sumber dari segala sumber ilmu dan
kebenaran. Meski telah diusahakan semaksimal mungkin, tesis ini masih banyak
kekurangannya, hal ini dikeranakan keterbatasan penulis sebagai manusia biasa.

vii
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Untuk itu kritik dan saran untuk perbaikan agar tesis ini menjadi lebih baik, sangat
penulis harapkan.
Harapan penulis, semoga tesis ini dapat memberikan sedikit sumbangan
pemikiran dan dapat bermanfaat bagi penyelesaian permasalahan pertambangan
dan pengembangan prinsip-prinsip serta falsafah dalam pelaksanaan pengusahaan
pertambangan di Indonesia sesuai dengan amanah konstitusi, yaitu Pasal 33 ayat
(3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Selain itu,
juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengambil
kebijakan dan pembentuk peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan
mineral dan batubara yang perlu diperbaiki demi tercapainya tujuan negara
Indonesia merdeka di masa sekarang dan masa yang akan datang.
Akhirul kata, semoga Allah Subhanahu Wa Taala meridhoi apa yang
menjadi niat baik penulis yang dituangkan dalam tesis ini dan memberikan
kesempatan untuk mengembangkan dan mengabdi dalam pemerintahan demi
pengelolaan pertambangan mineral dan batubara yang lebih baik demi sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat. Amiin Allahuma Amiin.

Jakarta, 7 Januari 2014


Penulis,

Nur Hayati Wisnu Wardani

viii
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama

: Nur Hayati Wisnu Wardani

NPM

: 110615II65

Program Studi : Ilmu Hukum


Fakultas

: Hukum

Jenis Karya

: Tesis

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty

Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: "Pengalihan Izin Usaha
Pertambangan Sebagaimana Dimaksud Daiam Pasal 93 Undang-Undang
Nomor 4 Tabun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan
Peraturan Pelaksananya dalam Perspektif Hak Menguasai Negara
Berdasarkan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tabun 1945", beserta perangkat yang ada Oika diperlukan).

Dengan Hak bebas Royalty Non Eksklusif ini Universitas Indonesia berhak
menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data
(database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin
dari saya selama tetap mencantumnkan nama saya sebagai penulis/ pencipta dan
sebagai pemilik hak cipta.

Demikian pemyataan ini saya buat dengan sebenamya.


Dibuat di

: Jakarta

Padatanggal:

7Januari20I4

Yang menyatakan,

(Nur Hayati Wisnu Wardani)


ix

Pengalihan Izin

Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

ABSTRAK

Nama
: Nur Hayati Wisnu Wardani
Program Studi : Magister Ilmu Hukum
Judul
: Pengalihan Izin Usaha Pertambangan Sebagaimana Dimaksud
Dalam Pasal 93 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara dan Peraturan
Pelaksananya dalam Perspektif Hak Menguasai Negara
Berdasarkan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Dasar 1945, mengatur Hak Menguasai Negara atas
sumber daya alam mineral dan batubara, di mana kewenangan Pemerintah untuk
mengatur diwujudkan dengan aturan tentang pengalihan IUP. Pasal 93 UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
mengatur bahwa pemegang IUP tidak boleh memindahkan IUP-nya kepada pihak
lain; pengalihan kepemilikan dan/atau saham harus diberitahukan kepada pemberi
izin. Berbeda dengan undang-undang, Pasal 7A dan Pasal 7B Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan
Mineral dan Batubara, justru mengisyaratkan bahwa IUP boleh dialihkan, dengan
mengatur pihak lain. Yang menjadi pertanyaan yuridis adalah: bagaimana
pengaturan pengalihan IUP dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dan
peraturan pelaksananya dalam perspektif Hak Menguasai Negara berdasarkan
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945; mengapa dalam Pasal 93 Undang-Undang Nomor 4
Tahun 2009 IUP tidak boleh dipindahkan; dan mengapa dalam Pasal 7A dan Pasal
7B Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 IUP boleh dipindahkan?
Penelitian akan dilakukan dengan menggunakan metodologi penelitian Yuridis
Normatif. Jadi data yang dikumpulkan adalah data sekunder (terdiri dari bahan
hukum primer, sekunder dan tertier). Kesimpulan, dalam perspektif Hak
Menguasai Negara, di mana Pemerintah melakukan sendiri atau campur tangan
melalui kepemilikan saham pada BUMN/BUMD, idealnya IUP tidak boleh
dialihkan. Dalam konsep tersebut yang dapat dialihkan adalah perjanjian
kerjasama BUMN/BUMD dengan pihak lain dengan persetujuan Pemerintah.
Rumusan Pasal 93 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 bahwa IUP
tidak boleh dialihkan sudah tepat, untuk mempertahankan Hak Menguasai Negara.
Namun rumusan ayat (2) dan ayat (3)-nya bertentangan dengan Hak Menguasai
Negara. Rumusan Pasal 7A dan Pasal 7B Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun
2012, selain bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009, juga
bertentangan dengan Hak Menguasai Negara. Aturan tentang pengalihan IUP
dibutuhkan, karena Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 mengatur bahwa
pemegang IUP hanya dapat diberikan satu IUP dan apabila mereka memiliki lebih
dari satu IUP, berarti IUP yang lain harus dialihkan.

Kata Kunci: Pengalihan, Izin Usaha Pertambangan, Hak Menguasai Negara

x
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

ABSTRACT

Name
: Nur Hayati Wisnu Wardani
Study Program : Legal Studies
Title
: The transfer of Mining Business License as referred to in Article
93 of Law No. 4 of 2009 Concerning Mineral and Coal and Its
Implementation Regulations in the States Authority Rights
Perspective Based on Article 33 paragraph (3) of the
Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945
Constitution of Republic of Indonesia Year 1945, regulates States
Authority Rights in natural resources, especially mineral and coal, where
Governments Authority to regulate, is realized with regulate about transfer of
IUP. Article 93 of Law No. 4 of 2009 Concerning Mineral and Coal, regulates
that IUP holders should not be transferred their IUP to other parties; transfer of
ownership and/or shares must be notified to the licensor. There is differentiation
between Law No. 4 of 2009 and Government Regulation No. 24 of 2012 on
Revision of Government Regulation No. 23 of 2010 on Implementation of
Mineral and Coal Mining, especially Article 7A and Article 7B. Those articles
regulate that IUP should be transferred to other parties and there are further
explanation for definition of other parties. The questions are: how to regulate
transfer of IUP in Law No. 4 of 2009 and its implementation regulations in the
States Authority Rights perspective based on Article 33 paragraph (3)
Constitution of Republic of Indonesia Year 1945, why Article 93 of Law Number
4 on 2009 regulates that IUP should not be transferred, and why Article 7A and
Article 7B Government Regulation No. 24 of 2012 regulates that IUP should be
transferred? Research will be done by using the research methodology of
normative juridical. So the data collected is mainly secondary data (consisting of
primary legal materials, secondary and tertiary). The conclusions, in the States
Authority Rights perspective, where the government do mining activities by
themselves or intervene through shares ownership in states-owned
companies/regionals-owned company, ideally IUP should not be transferred. In
this concept, that should be transferred is cooperation agreement between statesowned companies/regionals-owned company and other parties, with terms of
Government approval. Article 93 paragraph (1) Law No. 4 of 2009, which
regulates IUP should not be transferred, is already correct, to maintain of States
Authority Rights. However, paragraph (2) and paragraph (3) are contradicted to
States Authority Rights. Article 7A and Article 7B Government Regulation No.
24 of 2012, which regulate IUP should be transferred to other parties, besides they
are contradicted to Law No. 4 of 2009, but also are contradicted to States
Authority Rights. Regulation about transferred IUP has to be regulated, because
content of Government Regulation No. 23 of 2010 indirectly regulates that IUP
holders shall have one IUP and if they have more than one, the others should be
transferred.

Keywords: Transferred, Mining Business License, States Authority Rights

xi
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSEMBAHAN

ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

iii

HALAMAN PENGESAHAN

iv

KATA PENGANTAR

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

ix

ABSTRAK

DAFTAR ISI

xi

DAFTAR TABEL

xvi

DAFTAR GAMBAR

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I

xviii

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

B. Perumusan Masalah

10

C. Tujuan Penelitian

12

D. Manfaat Penelitian

13

E. Kerangka Konsep

14

F. Metode Penelitian

21

G. Sistematika Penulisan

24

BAB II

ADMINISTRASI NEGARA, KEPUTUSAN ADMINISTRASI


NEGARA, IZIN, HAK MENGUASAI NEGARA, DAN
PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. Administrasi Negara dalam Negara Hukum Indonesia

26

A.1. Negara Hukum Indonesia

26

A.2. Administrasi Negara

29

A.3. Administrasi Negara Indonesia di Bidang Pertambangan

31

xii
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

B. Sumber Kewenangan Administrasi Negara

35

B.1. Sumber Kewenangan Administrasi Negara Indonesia dalam


Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara

35

B.2. Kewenangan Pengelolaan usaha Pertambangan Mineral


dan Batubara
C. Keputusan Administrasi Negara

37
43

D. Izin
D.1. Izin Sebagai Bentuk Keputusan Administrasi Negara

50

D.2. Izin dalam Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batubara

57

D.2.1. Izin Tambang dalam Lintasan Sejarah

57

D.2.1.1. Izin Tambang Era Kerajaan Nusantara dan


Sebelum Kolonialisme Belanda

57

D.2.1.2. Izin Tambang Era Kolonialisme Belanda

58

D.2.1.3. Izin Tambang Era Awal Kemerdekaan

59

D.2.1.4. Izin Tambang berdasar Undang-Undang Nomor 11


Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pertambangan

59

D.2.2. Izin Tambang dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun


2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

60

E. Hak Menguasai Negara

61

F. Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan

65

BAB III PENATAAN


PERIZINAN
DALAM
KEBIJAKAN
PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DI
INDONESIA SETELAH TERBITNYA UNDANG-UNDANG
NOMOR 4 TAHUN 2009
A. Sekilas Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan berdasarkan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pertambangan

76

A.1. Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan Sebelum Era


Otonomi Daerah
A.2.Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan Era Otonomi Daerah

76
86

xiii
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

B. Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan berdasarkan


Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara Perbandingan dengan Philipina

89

B.1. Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan berdasarkan


Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
B.2. Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan di Philipina

89
98

C. Kewajiban Penyesuaian Bentuk Perizinan Tambang setelah


Terbitnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara sebagai Dasar Kebijakan
Penataan Perizinan

102

D. Rekonsiliasi Izin Usaha Pertambangan dalam Rangka Penataan


Perizinan di Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara

111

E. Pengalihan Izin Usaha Pertambangan setelah terbitnya UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara

119

E.1. Pengaturan Pengalihan Izin Usaha Pertambangan

119

E.2. Kasus Pengalihan Izin Usaha Pertambangan

128

E.2. 1. Kasus Pengalihan IUP Eksplorasi PT. Sungai Danau Jaya

128

E.2. 2. Kasus Pengalihan IUP PT. Irja Tambang Perkasa

130

E.2. Kasus Jual Beli Izin Usaha Pertambangan

132

BAB IV ANALISIS PENGALIHAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN


DALAM
PENYELENGGARAAN
PENGELOLAAN
PERTAMBANGAN
MINERAL
DAN
BATUBARA
BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009
DAN PERATURAN PELAKSANANYA DALAM PERSPEKTIF
HAK MENGUASAI NEGARA
A. Analisis Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan Mineral dan
Batubara Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dan
Peraturan Pelaksananya dalam Perspektif Hak Menguasai Negara

135

A.1. Analisis Pengaturan Penyelenggaraan Pengelolaan


Pertambangan Mineral dan Batubara dalam Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 dalam Perspektif Hak Meguasai Negara

135

xiv
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

A.2. Analisis Penyesuaian Kuasa Pertambangan menjadi Izin


Usaha Pertambangan sesuai dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 23 Tahun 2010

157

A.3. Analisis Kebijakan Penataan Perizinan Melalui Rekonsiliasi


Nasional IUP dalam Perspektif Hak Menguasai Negara

160

B. Analisis Pengalihan Izin Usaha Pertambangan Berdasarkan UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 dan Peraturan Pelaksananya dalam
Perspektif Hak Menguasai Negara

169

B.1. Analisis Pengalihan Izin Usaha Pertambangan dalam Pasal 93


Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dalam Perspektif Hak
Menguasai Negara

169

B.2. Analisis Pengalihan Izin Usaha Pertambangan dalam


Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 dalam Perspektif
Hak Menguasai Negara
C. Analisis Kasus Pengalihan dan Jual Beli Izin Usaha Pertambangan

187
195

C.1. Analisis Pengalihan IUP PT. Sungai Danau Jaya

195

C.2. Analisis Pengalihan IUP PT. Irja Tambang Perkasa

199

C.3.Analisis Jual Beli IUP Melalui Situs Internet

201

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

204

B. Saran

207

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xv
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Perbandingan Asas-Asas Pembentukan Peraturan PerundangUndangan antara UU Nomor 10 Tahun 2004 dan UU Nomor 12
Tahun 2011

71

Tabel 2.2. Perbandingan Asas-Asas yang Harus dipenuhi dalam Materi


Muatan Peraturan Perundang-Undangan antara UU Nomor 10
Tahun 2004 dan UU Nomor 12 Tahun 2011

73

Tabel 3.1. Data Permasalahan IUP Hasil Rekonsiliasi Data IUP Nasional
per 28 Juni 2011

113

Tabel 3.2. Permasalahan dalam Penentuan Status IUP Clear and Clean
dalam Rekonsiliasi IUP Nasional Tahap II Tahun 2012

117

Tabel 4.1. Perbandingan Permasalahan Penentuan Status IUP Clear and Clean
dalam Rekonsiliasi IUP Nasional Tahap I dan Tahap II

165

xvi
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Gambar Konsep HMN dalam UU Nomor 4 Tahun 2009

64

Gambar 2.2 Syarat agar hukum tidak gagal dalam Morality of Law
Lon. L. Fuller

75

Gambar 3.1. Tata Cara Mendapatkan WIUP dan IUP Sesuai UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009

92

Gambar 3.2. Skema Bentuk Perizinan Sesuai Undang-Undang Nomor 4


Tahun 2009

95

Gambar 3.3. Skema Perizinan Pertambangan Rakyat Sesuai UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009

96

Gambar 3.4. Ruang Lingkup Wilayah Pertambangan Sesuai UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009

108

Gambar 3.5. Penataan IUP dalam Proses Rekonsiliasi IUP Nasional

118

Gambar 3.6. Iklan Tambang Batubara di Toko Bagus.com

133

Gambar 3.7. Iklan Tambang Batubara di Indonetwork.co.id

134

xvii
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

DAFTAR LAMPIRAN

1. Berkas Pengalihan IUP PT. Sungai Danau Jaya, meliputi:


a. Format evaluasi IUP Clear and Clean PT. Sungai Danau Jaya
b. Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor 545/54/KP/DPE tentang
Pemberian Kuasa Pertambangan Eksplorasi kepada PT. Cahaya Alam
Sejahtera (TB. 08 MEIPR 43), tanggal 30 Mei 2008
c. Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor 545/040/IUP-E/D.PE/2009
tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi kepada PT.
Cahaya Alam Sejahtera, tanggal 26 Oktober 2009
d. Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor 545/024/IUP-E/D.PE/2010
tentang Persetujuan Pemindahan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi PT.
Cahaya Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya (TB.08 MEIPR
43), tanggal 15 Februari 2010
e. Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor 188.45/481/DISTAMBEN/2012
tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Batubara
kepada PT. Sungai Danau Jaya (TB. 08 MEIPR 43) Blok II, tanggal 03
Desember 2012
2. Berkas Pengalihan IUP PT. Irja Tambang Perkasa
a. Format evaluasi IUP Clear and Clean PT. Irja Tambang Perkasa untuk
Keputusan Bupati Manokwari Nomor 12 Tahun 2010,beserta:
1) Keputusan Bupati Manokwari Nomor 54 Tahun 2008 tentang
Persetujuan Izin Kuasa Pertambangan Eksplorasi kepada PT. Irja
Tambang Perkasa, tanggal 24 November 2008
2) Keputusan Bupati Manokwari Nomor 12 Tahun 2010 tentang
Persetujuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi kepada PT. Itja
Tambang Perkasa, tanggal 2 Februari 2010

xviii
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

b. Format evaluasi IUP Clear and Clean PT. Irja Tambang Perkasa untuk
Keputusan Bupati Manokwari Nomor 16 Tahun 2010,beserta:
1) Keputusan Bupati Manokwari Nomor 64 Tahun 2008 tentang
Persetujuan Izin Kuasa Pertambangan Eksplorasi kepada PT. Irja
Tambang Perkasa, tanggal 12 Desember 2008
2) Keputusan Bupati Manokwari Nomor 16 Tahun 2010 tentang
Persetujuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi kepada PT. Itja
Tambang Perkasa, tanggal 9 Februari 2010
c. Pernyataan Afiliasi PT. Irja Tambang Perkasa Nomor 005/ITP/SP/I/2013,
tanggal 30 Januari 2013

xix
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN


Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD
1945) merupakan hukum dasar peraturan perundang-undangan. 1 Yang dimaksud
dengan hukum dasar adalah norma dasar bagi pembentukan peraturan
perundang-undangan yang merupakan sumber hukum bagi pembentukan
peraturan perundang-undangan di bawah UUD 1945. 2 Dengan demikian, UUD
1945 dijadikan dasar dan landasan konstitusional dalam setiap penyusunan
peraturan perundang-undangan, termasuk dalam pembentukan undang-undang
yang mengatur pengelolaan dan pengusahaan sumber daya alam 3 mineral dan
batubara beserta peraturan pelaksananya.
Sumber daya alam mineral dan batubara sebagai sumber daya alam non
hayati merupakan salah satu bentuk kekayaan alam bangsa Indonesia yang tidak
dapat diperbaharui (non renewable), sehingga dalam pengelolaannya harus
dilaksanakan dengan hati-hati, arif bijaksana demi kelangsungan hidup berbangsa
dan bernegara. Sesuai dengan UUD 1945 mineral dan batubara dikuasai oleh
Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 4 Demi
mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat maka pengaturan dalam
pengelolaan sumber daya alam mineral dan batubara harus dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya berdasarkan asas manfaat, keadilan, keseimbangan, serta
1

Indonesia (1), Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan, UU Nomor 12 Tahun 2011, LN Nomor 82 Tahun 2011, TLN Nomor 5234, Ps. 3 ayat
(1) berbunyi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum
dasar dalam Peraturan Perundang-undangan.
2

Ibid, penjelasan Ps. 3 ayat (1).

Sumber daya alam menurut kamus hukum adalah unsur lingkungan hidup terdiri atas
sumber daya hayati dan non hayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem
(Rocky Marbun, et. al., Kamus Hukum Lengkap, Mencakup Istilah Hukum&Perundang-Undangan
Terbaru, cet. 1, (Jakarta: Visi Media, 2012) hlm. 300).
4

Indonesia (2), Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Ps. 33
ayat (3) menyebutkan bahwa kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

1
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

keberpihakan pada kepentingan bangsa. Sumber daya alam mineral dan batubara
harus dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional demi
tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara merata dan berdaya
guna.
Dengan jumlah cadangan batubara sekitar 28 miliar ton 5 yang hanya tiga
persen dari jumlah cadangan batubara dunia, 6 maka pengelolaan sumber daya
alam batubara Indonesia harus dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan untuk
kepentingan pembangunan nasional, pasokan kebutuhan energi dalam negeri baik
untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang serta pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Demikian pula mineral logam, dengan jumlah
cadangan yang tidak terlalu banyak 7 dan kenyataan selama kurun waktu hampir
68 tahun Indonesia Merdeka, pengelolaannya masih banyak dilakukan oleh asing
dengan menggunakan tenaga kerja asing dan penambangannya dilakukan oleh
pihak ketiga (sub kontraktor), serta berorientasi pada eksploitasi atas sumber daya
mineral, perlu dilakukan perubahan kebijakan dalam pengelolaannya sehingga
dapat memberikan nilai tambah bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pengelolaan sumber daya alam mineral dan batubara selama kurun waktu tersebut
dengan

berbagai

bentuk

pengaturan

pelaksanaan

kegiatan

usaha

pertambangannya, belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan bangsa 8 dan


5

Data cadangan batubara Indonesia Tahun 2011 dari Badan Geologi Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (http://psdg.bgl.esdm.go.id/images/bb.html, diunduh 26 Maret
2013)
6

Direktorat Pembinaan Pengusahaan Batubara, Pengendalian Produksi Batubara,


Disampaikan dalam presentasi Konsultasi Publik Rancangan Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral tentang Tata Cara Pengendalian Produksi dan Penjualan Mineral dan
Batubara, di Medan Sumatera Utara pada tanggal 27 Maret 2013
7

Cadangan mineral logam bervariasi, misalnya nikel pada awal tahun 2012 sekitar 1
miliar ton, timah hanya 396 ribu ton, bauksit 278 juta ton, tembaga 27 juta ton, emas 14 ribu ton
(dari
Badan
Geologi
Kementerian
Energi
dan
Sumber
Daya
Mineral,
http://psdg.bgl.esdm.go.id/images/logam.html, diunduh 10 April 2013) dengan jumlah izin hampir
10 ribu (mineral dan batubara) berdasarkan data Rekonsiliasi Nasional IUP I yang dilaksanakan
oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara pada tanggal 3-6 Mei 2011 tentunya cadangan
mineral dan batubara akan cepat habis.
8

Sampai saat ini komoditas tambang masih diekspor dalam bentuk row material (tanpa
melalui proses pengolahan dan pemurnian). Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang mewajibkan adanya peningkatan nilai
tambah dengan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri, fakta yang terjadi justru sangat
mencengangkan. Para pemegang izin dan kontrak di bidang pertambangan mineral dan batubara
justru melakukan produksi dan ekspor secara besar-besaran.

2
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

sampai saat ini nyatanya belum mampu mewujudkan kemakmuran dan


kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. 9
Eksploitasi atas sumber daya alam mineral dan batubara di Indonesia
telah dimulai sejak masa kolonialisme. Regulasi yang mengatur pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara juga telah ada sejak masa kolonialisme
Belanda. Pengelolaan pertambangan di Indonesia pada masa kolonialisme
Belanda diatur melalui Indische Mijnwet dengan beberapa aturan pelaksanaannya
yang berupa: 10

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Mijnordonantie (S.1930-38);
Mijnpolitie Reglement (S.1927-341);
Petroleom Opslag Ordonantie (S.1927-199);
Petroleom Vervoer Ordonantie (S.1927-214);
Petroleom Opslag Verordening (S.1927-200); dan
Petroleom Vervoer Verordening (S.1928-144).

Pada periode awal kemerdekaan Indonesia sampai dengan tahun 1959,


Indische Mijnwet tetap berlaku sebagai dasar hukum dalam pengelolaan dan
pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan. Baru pada tahun 1960 Pemerintah
menerbitkan suatu peraturan mengenai pertambangan yang diundangkan sebagai
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang kemudian menjadi
Undang-Undang Nomor 37 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan (UU Nomor
37 Prp. 1960). Dengan lahirnya UU Nomor 37 Prp. 1960 maka Indische Mijnwet
1899 yang dinilai tidak selaras dengan cita-cita dan kepentingan nasional bangsa
Indonesia tidak lagi berlaku. UU Nomor 37 Prp. 1960 inilah yang merupakan
undang-undang pertambangan nasional yang pertama, namun dalam undang-

Penerimaan negara dari sub sektor pertambangan mineral dan batubara, yang pada
prinsipnya dikuasai oleh negara sangatlah tidak sebanding dengan apa yang diperoleh oleh pelaku
usaha. Iuran tetap dan iuran produksi yang sangat kecil tidak sebanding dengan hilangnya hutan
dan kerusakan lain sebagai akibat kegiatan pertambangan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 45
Tahun 2003 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral iuran tetap hanya berkisar antara Rp 500,- s.d. Rp.
25.000,-/ha dan iuran produksi (sebagai syarat pengalihan hak dari negara kepada pelaku usaha)
hanya berkisar antara 3 s.d. 7 persen untuk batubara dan 2,5 s.d. 5 persen untuk mineral (dihitung
dari harga jual).
10

http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/129249T%2026736Upaya%20pemerintahPendahuluan.pdf, diunduh 20 Mei 2012

3
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

undang ini selain mengatur pertambangan umum juga mengatur pertambangan


minyak dan gas bumi.
Terkait dengan cita-cita dan kepentingan nasional bangsa Indonesia, para
pendiri bangsa (founding fathers) telah merumuskannya dalam alenia IV
Pembukaan UUD 1945, bahwa tujuan dibentuknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia untuk:
1.

melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,

2.

memajukan kesejahteraan umum;

3.

mencerdaskan kehidupan bangsa; dan

4.

ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi


dan keadilan sosial.

Untuk mewujudkan tujuan bangsa Indonesia tersebut para pendiri bangsa


(founding fathers) telah merumuskan suatu pengaturan tentang konsep
penguasaan negara atas cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai
hajat hidup orang banyak serta bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dengan merumuskan suatu pasal di dalam batang tubuh UUD 1945
yaitu Pasal 33. 11 Pasal 33 ayat (3) mengandung tiga hal penting, yaitu: (i) bumi
dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, (ii) dikuasai oleh
negara, (iii) digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Mengenai pengertian dikuasai oleh negara dapat dijelaskan dengan
membandingkan rumusan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dengan rumusan yang
mirip dengan konstitusi negara lain. Ada negara yang menggunakan istilah owned
by, belong to, dan ada juga yang secara tegas menyebutnya sebagai states
property. Dengan perbandingan tersebut, dikuasai oleh negara dalam Pasal 33
ayat (3) UUD 1945 adalah penguasaan dalam arti seutuhnya yang mencakup juga
makna kepemilikan, yaitu kepemilikan dalam pengertian hukum publik tentunya
berfungsi sebagai sumber bagi pengertian kepemilikan perdata (private
ownership). Dengan dikuasai oleh negara, maka kekayaan sumber daya alam

11

Indonesia (2), op. cit., Ps. 33 ayat (2) berbunyi Cabang-cabang produksi yang
penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Ps. 33
ayat (3) berbunyi Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

4
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

mineral dan batubara yang kita miliki, seluruhnya adalah untuk kepentingan
rakyat. 12 Konsep penguasaan negara dalam Pasal 33 UUD 1945 inilah yang
menjadi landasan konstitusional dan dasar hukum tertinggi dalam pengelolaan
sumber daya alam termasuk mineral dan batubara.
Hak penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya yang berupa mineral dan batubara berisi wewenang untuk
mengatur, mengurus, dan mengawasi pengelolaan atau pelaksanaan kegiatan
usaha pertambangan termasuk kewajiban untuk mempergunakannya bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Pengelolaan mineral dan batubara sebagai sumber
daya alam yang tak terbarukan perlu dilakukan seoptimal mungkin, efisien,
transparan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan, serta berkeadilan agar
memperoleh

manfaat

sebesar-besarnya

bagi

kemakmuran

rakyat

secara

berkelanjutan. 13
Kewenangan negara dalam bentuk penguasaan terhadap sumber daya
alam, pada masa pemerintahan orde lama ditafsirkan dengan dikeluarkan UndangUndang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
(UPPA). Tujuan utama dibentuknya UUPA adalah untuk melakukan redistribusi
tanah dan sebagai upaya untuk pemerataan penguasaan tanah bagi rakyat. 14
Menurut Mafud MD UUPA merupakan produk hukum yang sangat responsif,
berwawasan kebangsaan, dan sebagai pendobrak watak kolonialisme yang selama
15 tahun sejak Indonesia menjadi bangsa dan Negara merdeka masih
mencengkeram (tahun 1945 sampai tahun 1960). 15 Dalam Pasal 8 UUPA terdapat
kewenangan untuk pengaturan atas pengambilan/pemanfaatan sumber daya alam
mineral dan batubara.

12

Jimly Asshiddiqie, Konstitusi Ekonomi, (Jakarta: Kompas, 2010), hlm. 279-281

13

Martha Pigome, Politik Hukum Pertambangan Indonesia dan Pengaruhnya terhadap


Pengelolaan Lingkungan Hidup di Era Otonomi Daerah, ejournal.undip.ac.id/index.php/
mmh/article/download/3475/3122, diunduh 20 Mei 2012
14

Yance Arizona, Konstitusionalitas Penguasaan Negara Atas Sumber Daya Alam


dalam Putusan Mahkamah Konstitusi, (makalah disampaikan pada Konferensi Warisan
Otoritarianisme, Demokrasi di Bawah Tirani Modal, FISIP UI, 5 Agustus 2008), hlm. 2
15

Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia, (Yogyakarta: Gama Media,
1999), hlm. 112

5
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 8 UUPA 16 dan berdasarkan


kewenangan yang dimiliki oleh Presiden sebagaimana diatur dalam Pasal 5 UUD
1945 (sebelum amandemen) 17 dibuatlah suatu Undang-Undang yang mengatur
kegiatan pengambilan kekayaan alam yang terkandung di dalam tanah yang
berupa bahan galian, yaitu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (UU Nomor 11 Tahun 1967), sebagai
perwujudan dari HMN yang secara konstitusional telah diatur dalam Pasal 33 ayat
(3) UUD 1945 sebagaimanaan telah dijabarkan dalam Pasal 2 UUPA. HMN
berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1967 berisi wewenang untuk mengatur,
mengurus dan mengawasi pengelolaan atau penguasaan bahan galian. Selain itu
hak menguasai Negara juga berisi kewajiban untuk mempergunakannya bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 18
UU Nomor 11 Tahun 1967 mengatur pengusahaan bahan galian 19 berupa
bahan galian strategis, bahan galian vital, dan bahan galian yang tidak termasuk
keduanya. 20 Pengusahaan bahan galian yang bersifat strategis dapat diberikan
kepada badan usaha swasta dalam rangka penanaman modal asing dalam bentuk
perjanjian karya dengan syarat-syarat ditentukan oleh Menteri dan disyahkan oleh
Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat. 21 Sementara

16

Indonesia (3), Undang-Undang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, LN


Nomor 104 Tahun 1960, TLN Nomor 2043, Ps. 8 UUPA disebutkan bahwa Atas dasar hak
menguasai dari Negara sebagai yang dimaksud dalam pasal 2 diatur pengambilan kekayaan alam
yang terkandung dalam bumi, air dan ruang angkasa. Dalam penjelasan Pasal 8 UUPA dapat
dilihat bahwa penguasaan atas tanah hanya pada tanah permukaan saja, tidak termasuk kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya. Untuk mengusahakan kekayaan alam yang ada di dalam tanah
memerlukan pengaturan tersendiri. Ketentuan ini merupakan pangkal bagi perundang-undangan
pertambangan dan lain-lainnya.
17

Indonesia (2), op. cit., Ps. 5 ayat (1) Presiden memegang kekuasaan membentuk
Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
18

Abrar Saleng, Hukum Pertambangan, (Yogyakarta: UII Press, 2004), hlm. 32

19

Indonesia (4), Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan,


UU Nomor 11 Tahun 1967, LN Nomor 22 Tahun 1967, TLN Nomor 2831, Ps. 2 huruf a Bahan
galian didefinisikan sebagai unsur-unsur kimia, mineral-mineral, bijih-bijih dan segala macam
batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan-endapan alam.
20

Ibid, Ps. 3 ayat (1) Bahan-bahan galian dibagi atas tiga golongan: a. golongan bahan
galian strategis; b. golongan bahan galian vital; c. golongan bahan galian yang tidak termasuk
dalam golongan a atau b.
21

Ibid, Ps. 10

6
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

untuk pengusahaan bahan galian yang bersifat vital diberikan dalam bentuk Kuasa
Pertambangan yang dapat diberikan kepada: 22

1.
2.

3.

badan hukum koperasi;


badan hukum swasta yang didirikan sesuai dengan peraturanperaturan Republik Indonesia bertempat kedudukan di Indonesia dan
bertujuan berusaha dalam lapangan pertambangan dan pengurusnya
mempunyai kewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di
Indonesia; dan
perseorangan yang berkewarganegaraan Indonesia dan bertempat
tinggal di Indonesia.

Pengusahaan dalam bentuk Kuasa Pertambangan (Izin) Pertambangan


Rakyat dapat diberikan untuk jumlah endapan bahan galian sedemikian kecil
sehingga menurut pendapat Menteri akan lebih menguntungkan apabila
diusahakan secara sederhana atau kecil-kecilan. 23 Dalam Pasal 15 ayat (4) UU
Nomor 11 Tahun 1967 diatur secara tegas bahwa Kuasa Pertambangan dapat
dipindahkan kepada perusahaan atau perseorangan lain bilamana memenuhi
ketentuan-ketentuan dalam Pasal 5, 6, 7, 8, 9, dan 12 dengan persetujuan
Menteri.
Seiring dengan bergulirnya era reformasi dan terjadinya berbagai krisis
diantaranya krisis sumber daya alam dan politik, sosial, ekonomi yang
menyertainya, mendorong adanya upaya penataan ulang pada struktur penguasaan
dan sistem pengelolaan sumber daya alam dengan diterbitkannya Ketetapan
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IX/ MPR/2001
tanggal 9 November 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber
Daya Alam (TAP MPR Nomor IX/MPR/2001). Sesuai dengan TAP MPR Nomor
IX/MPR/2001 dan dalam rangka memberikan landasan hukum bagi langkahlangkah pembaruan dan penataan kembali kegiatan pengelolaan dan pengusahaan
sumber daya alam mineral dan batubara, Pemerintah dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menerbitkan Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Nomor 4

22

Ibid, Ps. 12

23

Ibid, Ps. 8 dan Ps. 11

7
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Tahun 2009) sebagai pengganti dari UU Nomor 11 Tahun 1967. Selain sebagai
pengejawantahan dari TAP MPR Nomor IX/MPR/2001, lahirnya UU Minerba
sebagai pengganti UU Nomor 11 Tahun 1967 dikarenakan: 24
1.

2.

3.

materi muatan dalam undang-undang tersebut yang bersifat


sentralistik sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi
sekarang dan tantangan di masa depan;
pembangunan pertambangan harus menyesuaikan diri dengan
perubahan lingkungan strategis, baik bersifat nasional maupun
internasional;
untuk menjawab tantangan pengaruh globalisasi yang mendorong
demokratisasi, otonomi daerah, hak asasi manusia, lingkungan
hidup, perkembangan teknologi dan informasi, hak atas kekayaan
intelektual serta tuntutan peningkatan peran swasta dan masyarakat.

Lahirnya UU Nomor 4 Tahun 2009 merubah bentuk pengusahaan


pertambangan mineral dan batubara. Di mana sebelumnya tentang pengusahaan
mineral dan batubara diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 1967 melalui bentuk
kontrak karya dan Kuasa Pertambangan (KP). Kedua bentuk pengusahaan mineral
dan batubara berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1967 diperoleh melalui
mekanisme permohonan wilayah. Sedangkan dalam UU Nomor 4 Tahun 2009
bentuk pengusahaan mineral dan batubara berubah menjadi izin. Bentuk perizinan
dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 berupa izin usaha pertambangan (IUP), izin
pertambangan rakyat (IPR), dan izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). 25
Perbedaan lain adalah pengelompokan usaha pertambangan dan adanya
mekanisme lelang untuk pengusahaan mineral logam dan batubara dalam bentuk
IUP dan mekanisme lelang untuk IUPK dengan prioritas kepada Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) 26 dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). 27

24

Indonesia (5), Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, UU


Nomor 4 Tahun 2009, LN Nomor 4 Tahun 2009, TLN Nomor 4959, Penjelasan Umum
25

Ibid, Ps. 35 berbunyi Usaha pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34


dilaksanakan dalam bentuk: a. IUP; b. IPR; dan c. IUPK
26

Indonesia (6), Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha


Pertambangan Mineral dan Batubara, PP Nomor 23 Tahun 2010, LN Nomor 29 Tahun 2010,
TLN Nomor 5111, Ps. 1 angka 4 berbunyi Badan usaha milik negara yang selanjutnya disebut
BUMN, adalah BUMN yang bergerak di bidang pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan

8
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Dalam Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 diatur larangan untuk


memindahkan IUP yang dimiliki kepada pihak lain, sebagai berikut:
(1) Pemegang IUP dan lUPK tidak boleh memindahkan IUP dan IUPK-nya
kepada pihak lain.
(2) Untuk pengalihan kepemilikan dan/atau saham di bursa saham Indonesia
hanya dapat dilakukan setelah melakukan kegiatan eksplorasi tahapan
tertentu.
(3) Pengalihan kepemilikan dan/atau saham sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
hanya dapat dilakukan dengan syarat:
a.

harus memberitahu kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota


sesuai dengan kewenangannya; dan

b.

sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Ketentuan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 tersebut, nyatanya tanpa


ada amanah untuk pengaturan lebih lanjut diatur secara berbeda dalam Pasal 7A
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 28 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara (PP Nomor 24 Tahun 2012), yang mengatur
bahwa ayat (1) Pemegang IUP dan IUPK tidak boleh memindahkan IUP dan
IUPK-nya kepada pihak lain dan ayat (2) Pihak lain sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi badan usaha yang 51% (lima puluh satu persen) atau lebih
sahamnya tidak dimiliki oleh pemegang IUP atau IUPK.
Tidak hanya itu, ketentuan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 juga
diperluas dengan pengaturan dalam Pasal 7B PP Nomor 24 Tahun 2012, yang
mengatur bahwa:
27

Ibid, Ps. 1 angka 5 berbunyi Badan usaha milik daerah yang selanjutnya disebut
BUMD, adalah BUMD yang bergerak di bidang pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
28

Indonesia (7), Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah


Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara, PP Nomor 24 Tahun 2012, LN Tahun 2012 Nomor 45, TLN Nomor 5282, salah satu
pertimbangan diterbitkannya peraturan pemerintah ini adalah adanya gugatan Churcil Mining
kepada Pemerintah dan kerjasama PT Bukit Asam dengan pihak lain untuk pembangunan rel
kereta sebagai sarana pengangkutan batubara di mana pihak lain menuntut adanya hak
pengusahaan atas batubara di area pembangunan rel kereta.

9
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

(1) IUP atau IUPK yang dimiliki oleh BUMN sebagian WIUP atau WIUPK
Operasi Produksinya dapat dialihkan kepada pihak lain.
(2) Pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha yang
51% (lima puluh satu persen) atau lebih sahamnya dimiliki oleh BUMN
pemegang IUP atau IUPK.
(3) Pengalihan sebagian WIUP atau WIUPK Operasi Produksi sebagaimana
dimaksud ayat (1) dilakukan dengan persetujuan Menteri.

Hal tersebut sangat berbeda dengan undang-undang sebelumnya yang


secara tegas mengatur bahwa Kuasa Pertambangan boleh dialihkan, 29 sehingga
peraturan pelaksananya Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang KetentuanKetentuan Pokok Pertambangan (PP Nomor 32 Tahun 1969) Pasal 23 dan Pasal
24

serta

Keputusan

Direktur

Jenderal

Pertambangan

Umum

Nomor

472.K/20.01/DJP/1998 tentang Pemberian Izin Pemindahan Kuasa Pertambangan


(Kepdirjen Nomor 472 Tahun 1998) tinggal mengatur mekanisme pelaksanaan
pemindahan Kuasa Pertambangan.
Bertolak dari uraian di atas, pada kesempatan ini dilakukan penelitian
tentang pemindahan/pengalihan IUP yang diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 2009
dan peraturan pelaksananya dikaitkan dengan konsep HMN dalam Pasal 33 ayat
(3) UUD 1945. Untuk itu, akan dilakukan penelitian dalam rangka penyusunan
tesis dengan judul : Pengalihan Izin Usaha Pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 93 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara dan Peraturan Pelaksananya dalam
perspektif Hak Menguasai Negara berdasarkan Pasal 33 ayat (3) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

B. PERUMUSAN MASALAH
Paradigma baru dalam pengelolaan usaha pertambangan mineral dan
batubara dengan lahirnya UU Nomor 4 Tahun 2009, yang memberikan pengaturan
29

Indonesia (4), op. cit., Ps. 15 ayat 4 disebutkan bahwa Kuasa Pertambangan dapat
dipindahkan kepada perusahaan atau perseorangan lain bilamana ketentuan-ketentuan dalam pasal
5, 6, 7, 8, 9 dan 12 dengan persetujuan Menteri.

10
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pengusahaan mineral dan batubara dalam pengelompokan mineral dan batubara,


serta pembedaan golongan mineral menjadi mineral radioaktif, mineral logam,
mineral bukan logam, dan batuan dengan pemberian kesempatan yang sama bagi
badan usaha, koperasi, dan perseorangan untuk mendapatkan IUP dalam
pelaksanaannya tidak selalu sesuai dengan apa yang telah tersurat. UU Nomor 4
Tahun 2009 hanya mengatur pemrosesan perizinan sesuai dengan undang-undang
ini terhadap permohonan kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara yang telah diajukan sebelum berlakunya UU Nomor 4
Tahun 2009. 30
Kewajiban penyesuaian atas Kuasa Pertambangan menjadi IUP dan
diperbolehkannya pemrosesan permohonan Kuasa Pertambangan yang telah
mendapatkan pencadangan wilayah sebelum terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009
tanpa melalui mekanisme lelang (untuk mineral logam dan batubara) yang baru
diatur kemudian dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (PP Nomor 23
Tahun 2010), 31 menyisakan berbagai persoalan. Belum dilaksanakannya
penyesuaian

Kuasa

Pertambangan

menjadi

IUP

oleh

gubernur

atau

bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya, tumpang tindih WIUP maupun


kewenangan dalam pelaksanaan penyesuaian Kuasa Pertambangan menjadi IUP,
adanya IUP yang telah dipindahtangankan/dialihkan dalam proses penyesuaian
Kuasa Pertambangan menjadi IUP (pergantian nama pemegang izin), adanya
perubahan penanaman modal dalam bentuk modal asing pada saat masih dalam
30

Indonesia (5), op. cit., Ps. 172 berbunyi Permohonan kontrak karya dan perjanjian
karya pengusahaan pertambangan batubara yang telah diajukan kepada Menteri paling lambat 1
(satu) tahun sebelum berlakunya Undang-Undang ini dan sudah mendapatkan surat persetujuan
prinsip atau surat izin penyelidikan pendahuluan tetap dihormati dan dapat diproses perizinannya
tanpa melalui lelang berdasaskan Undang-Undang ini.
31

Indonesia (6), op. cit. Ps. 112 angka 4 huruf a berbunyi Kuasa pertambangan, surat
izin pertambangan daerah, dan surat izin pertambangan rakyat, yang diberikan berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini tetap
diberlakukan sampai jangka waktu berakhir serta wajib: disesuaikan menjadi IUP atau IPR sesuai
dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak
berlakunya Peraturan Pemerintah ini dan khusus BUMN dan BUMD, untuk IUP Operasi Produksi
merupakan IUP Operasi Produksi pertama dan angka 5 berbunyi Permohonan Kuasa
Pertambangan yang telah diterima Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sebelum terbitnya
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan telah
mendapatkan Pencadangan Wilayah dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dapat diproses perizinannya dalam bentuk IUP tanpa melalui lelang paling lambat
3 (tiga) bulan setelah berlakunya Peraturan Pemerintah ini

11
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

bentuk Kuasa Pertambangan sebelum disesuaikan menjadi IUP adalah sebagian


persoalan dalam masa transisi setelah berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009 dan
PP Nomor 23 Tahun 2010. 32
Berdasarkan hal-hal tersebut, maka permasalahan dalam penelitian
mengenai pengalihan izin usaha pertambangan dalam UU Minerba dan peraturan
pelaksananya, dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pengalihan Izin Usaha Pertambangan yang diatur dalam
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara dan Peraturan Pelaksananya dalam Perspektif Hak Menguasai Negara
berdasarkan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945?
2. Mengapa berdasarkan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara Izin Usaha Pertambangan tidak boleh
dipindahkan?
3. Mengapa rumusan Pasal 7A dan Pasal 7B Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun
2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara memperbolehkan Izin Usaha Pertambangan dipindahkan?

C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian secara umum untuk menelaah, mengkaji, dan
menganalisis ketentuan tentang pengalihan IUP/IUPK yang diatur dalam UU
Nomor 4 Tahun 2009 dan PP Nomor 24 Tahun 2012 dalam perspektif Hak
Menguasai Negara berdasarkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

Secara khusus, tujuan penelitian adalah untuk:


1. Mengetahui bagaimanakah pengalihan Izin Usaha Pertamabngan yang diatur
dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dan Peraturan Pelaksananya

32

Beberapa persoalan dalam pelaksanaan penyesuaian Kuasa Pertambangan menjadi


IUP dari hasil Rekonsiliasi Nasional IUP I yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Mineral dan
Batubara pada tanggal 3-6 Mei 2011 sebagai salah satu dasar diambilnya kebijakan Clear and
Clean dalam penyesuaian Kuasa Pertambangan menjadi IUP.

12
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dalam perspektif hak menguasai negara berdasarkan Pasal 33 ayat (3) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Menjelaskan mengapa berdasarkan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Izin Usaha Pertambangan
tidak boleh dipindahkan.
3. Menjelaskan mengapa dalam Pasal 7A dan Pasal 7B Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor
23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral
dan Batubara memperbolehkan Izin Usaha Pertambangan dipindahkan.

D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat teoritis
1. Diharapkan dapat memperkaya bahan kepustakaan ilmu hukum, khususnya
hukum perizinan dan hukum pertambangan yang jumlahnya masih sangat
terbatas.
2. Diharapkan

dapat

memberikan

sumbangan

pemikiran

sebagai

bahan

perbandingan dalam penelitian serta memberikan masukan kepada mahasiswa


lainnya.
3. Diharapkan dapat memberikan ide-ide dasar dalam bentuk pemikiran baru
terkait pemindahan/pengalihan IUP yang bermanfaat bagi pengkajian dan
pemahaman secara teoritis.

Manfaat praktis
1. Diharapkan dapat memberikan masukan bagi para praktisi yang terlibat dalam
proses pemindahan/pengalihan IUP baik pemegang IUP pertama maupun calon
pemegang IUP baru yang akan menerima pemindahan/pengalihan IUP.
2. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada instansi terkait
dan pemerintah dalam pelaksanaan ketentuan UU Nomor 4 Tahun 2009 dan
peraturan pelaksananya terutama dalam pengaturan pemindahan/pengalihan
IUP.

13
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

E. KERANGKA KONSEP
Guna mendapatkan pemahaman yang lebih baik sehubungan dengan
tema penelitian ini, penulis akan menguraikan beberapa pengertian terkait subyek
dan tema penelitian ini, yaitu pengertian tentang konsep hukum dan keadilan,
tujuan negara, jenis dan hierarkhi peraturan, perizinan, usaha pertambangan,
pengalihan, Izin Usaha Pertambangan, Izin Usaha Pertambangan Khusus, Wilayah
Izin Usaha Pertambangan, Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus, saham, dan
Kuasa Pertambangan. Sedangkan sedikit ulasan mengenai pengaturan pemindahan
IUP (KP) berdasar UU Nomor 4 Tahun 2009, PP Nomor 24 Tahun 2012 serta UU
Nomor 11 Tahun 1967, PP Nomor 32 Tahun 1969, dan Kepdirjen Nomor 472
Tahun 1998 telah diuraikan dalam bagian latar belakang permasalahan.

1. Konsep Hukum dan Keadilan


Konsep hukum yang secara luas seringkali berhubungan dengan bias
politik dan bias ideologis dalam beberapa rezim (bolshevism, sosialisme,
nasionalisme, dan fasisme) telah menyebabkan penindasan kebebasan, sehingga
bias politik telah mempengaruhi definisi hukum. Hal ini pada akhirnya membuat
hukum terkait dengan cita keadilan, yaitu demokrasi dan liberal. Sedangkan bias
ideologis terkait dengan kuatnya pengaruh aliran hukum alam dalam
perkembangan hukum. 33
Pada kenyataannya membebaskan konsep hukum dari keadilan bukanlah
hal yang mudah, karena secara politis terus menerus dicampur adukkan dengan
tendensi ideologis sehingga hukum terlihat sebagai keadilan. Secara politis
pemikiran kita akan dibawa kepada arah bahwa hanya tata aturan yang adil yang
disebut sebagai hukum. Namun tata aturan tersebut sebenarnya hanyalah aturan
yang mengatur perilaku manusia yang berlaku bagi semua orang dan semua orang
menemukan kegembiraan di dalamnya. Maka keadilan sosial adalah kebahagiaan
sosial. Dengan demikian keadilan adalah bagaimana pemenuhan atas kebutuhan
sosial, termasuk kebutuhan individu pada suatu tahapan tertentu. Atau dalam lain

33

Jimly Assiddiqie dan M. Ali Safaat, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, Cetakan
Pertama, Juli 2006 (Jakarta: Sekretariat Jenderal & Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI) , hlm.
15.

14
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

kata keadilan adalah bagaimana pemenuhan kebutuhan untuk sebanyakbanyaknya orang. 34

2. Tujuan Negara
Mencapai suatu keadilan adalah salah satu tujuan negara. Terkait tujuan
negara, terdapat beberapa pendapat tentang tentang pembagian tugas negara.
Menurut Prestrus sebagaimana dikutib oleh Ridwan HR, tugas negara meliputi
dua hal, yaitu 35:

policy making (penentu haluan negara) dan task executing

(pelaksanaan tugas menurut haluan negara).


Sejalan dengan pendapat tersebut, E. Utrecht sebagaimana pendapat
Donner, membagi tugas negara menjadi dua bidang yang biasanya dilalui dalam
setiap usaha (aktivitas) Pemerintah, yaitu 36: Bidang pertama adalah bidang yang
menentukan tujuan dan tugas negara dalam arti jalan mana yang harus ditempuh
oleh penghidupan bernegara di mana orang berada di bidang politik, dan bidang
kedua adalah bidang yang merealisasi (mencapai) tujuan atau tugas yang telah
ditentukan dalam arti penyelenggaraan keputusan-keputusan yang telah dibuat di
bidang politik yang membawa orang ke bidang administrasi negara.
Berbeda dengan kedua pendapat tersebut, Van Vollenhoven dalam
Ridwan HR membagi tugas negara menjadi empat, yaitu 37: a. regeling (membuat
peraturan dalam bentuk undang-undang baik formil maupun materiil), b. bestuur
(pemerintahan dalam arti secara nyata memelihara kepentingan umum), c.
yustitusi (penyelesaian sengketa dalam peradilan perdata), dan d. politie
(mempertahankan ketertiban umum baik secara preventif maupun represif,
termasuk di dalamnya peradilan pidana).

34

Ibid, hlm. 17-18

35

Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara Edisi Revisi, (Jakarta: RajaGravindo


Persada, 2011), hlm. 13.
36

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia,


(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1985), hlm. 16
37

Ridwan HR, loc. cit., hlm. 13

15
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

3. Jenis dan Hierarki Peraturan


Sehubungan dengan tugas negara sebagai regeling, perlu kiranya kita
melihat bagaimana pendapat Hans Kelsen di dalam bukunya General Theory of
Law and State yang mengatakan sistem norma dinamis (nomodynamics) adalah
suatu sistem norma yang dilihat dari berlakunya atau dari cara pembentukannya
dan penghapusannya. 38 Dalam bukunya tersebut, Hans Kelsen mengemukakan
teori Jenjang Norma (Stufentheorie) bahwa norma-norma itu berjenjang-jenjang
dan berlapis-lapis dalam suatu hierarkhi tata susunan, di mana norma yang lebih
rendah berlaku, bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi, demikian
seterusnya sampai pada suatu norma tertinggi yang tidak dapat ditelusuri lebih
lanjut dan bersifat hipotesis, serta fiktif, yaitu norma dasar (grundnorm/basic
norm/fundamental norm). 39
Menurut Hans Kelsen, dalam pembuatan norma hukum, dapat ditentukan
dengan dua cara: (1) organ dan prosedur yang akan membuat norma yang lebih
rendah, (2) isi dan norma yang lebih rendah. Norma yang lebih tinggi paling tidak
harus menentukan organ yang akan membuat norma yang lebih rendah. Suatu
pembuatan norma yang tidak ditentukan sama sekali oleh norma lain tidak tidak
dapat menjadi bagian dari tata hukum. Jadi fungsi pembuatan norma adalah
pelaksanaan dari norma yang lebih tinggi, meskipun hanya ditentukan mengenai
organ pembuatnya. Maka setiap norma hukum yang lebih tinggi adalah sumber
bagi norma hukum yang lebih rendah. 40

4. Perizinan
Lahirnya UU Nomor 4 Tahun 2009 sebagai salah satu pelaksanaan tugas
negara sebagai regeling, dan pengejawantahan HMN dalam konstitusi, telah
mengatur bentuk pengusahaan sumber daya mineral dan batubara berupa izin.
Apabila kita melihat kembali pendapat E. Utrecht bidang kedua tugas negara yang
tertuju pada bidang administrasi negara, maka izin merupakan salah satu bentuk
38

H. Aziz Syamsuddin, Proses & Teknik Penyusunan Undang-Undang, (Jakarta: Sinar


Grafika, 2011), hlm. 14
39

Ibid, hlm. 15

40

Hans Kelsen, General Theory of Law and State, Transleted by Anders Wetberg,
(New York: Russel & Russel, 1961), hlm. 131-132

16
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

keputusan administrasi negara dalam rangka mencapai tujuan negara yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Sehubungan dengan hal tersebut, berikut akan diuraikan beberapa
definisi tentang izin. Menurut Spelt dan Ten Berge 41 izin adalah suatu persetujuan
dari penguasa berdasarkan undang-undang atau peraturan pemerintah untuk dalam
keadaan tertentu menyimpang dari ketentuan ketentuan larangan perundangan,
dengan memberi izin penguasa memperkenankan orang yang memohonnya untuk
melakukan tindakan-tindakan tertentu yang sebenarnya dilarang Ini menyangkut
perkenaan bagi suatu tindakan yang demi kepentingan umum diharuskan
pengawasan khusus atasnya.
Menurut Van der Pot, bilamana pembuat peraturan tidak umumnya
melarang suatu perbuatan, tetapi masih juga memperkenankannya asal saja
diadakan secara yang ditentukan untuk masing-masing hal konkrit (sikap pembuat
peraturan

indefferent),

maka

keputusan

administrasi

negara

yang

memperkenankan perbuatan tersebut bersifat suatu izin (vergunning). Van der Pot
memberikan pengertian izin bukan berdasar atas hukum, tetapi didasarkan atas
sikap dari pembuat peraturan terhadap suatu perbuatan. 42
Pendapat lain tentang izin dikemukakan oleh Sjachran Basah,
sebagaimana dikutip Juniarso Ridwan 43, izin adalah perbuatan hukum
administrasi negara bersegi satu yang mengaplikasikan peraturan dalam hal
konkret berdasarkan persyaratan dan prosedur sebagaimana ditetapkan oleh
ketentuan

peraturan

perundang-undangan.

Sementara

itu,

Bagir

Manan

sebagaimana dikutip Ridwan HR, memberikan definisi izin, sebagai berikut, izin
merupakan suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan peraturan perundang-

41

NM Spelt dan Ten Berge disunting Philipus M. Hadjon, Pengantar Hukum Perizinan,
Bahan Penataran Hukum Administrasi dan Hukum Lingkungan, (Surabaya: Fakultas Hukum
Universitas Airlangga, 1992), hlm. 3
42

E. Utrecht, op. cit. hlm. 114

43

Juniarso Ridwan dan Ahmad Sodik Sudrajat, Hukum Administrasi Negara dan
Kebijakan Pelayanan Publik, Cetakan III, (Bandung: Nuansa Bandung, 2012), hlm. 92 (Definisi
izin diambil dari Makalah yang disampaikan Sjachran Basah pada Penataran Hukum Administrasi
dan Hukum Lingkungan di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, 1995, dengan judul
Pencabutan Izin Salah Satu Sanksi Hukum Administrasi, hlm. 3)

17
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

undangan untuk memperbolehkan melakukan tindakan atau perbuatan tertentu


yang secara umum dilarang. 44
Selain istilah izin, perlu pula disajikan pengertian lain yang termasuk
dalam definisi perizinan dalam arti luas, yaitu dispensasi dan konsesi. Dispensasi
adalah keputusan administrasi negara yang dimaksudkan untuk meniadakan
akibat-akibat suatu peraturan yang oleh pembuat peraturan tidak diharapkan. 45
Menurut Spelt dan Ten Berge 46 pelepasan atau pembebasan (dispensasi)
adalah kecualian atas larangan sebagai aturan umum. Pemberian perkenan
berhubungan erat dengan keadaan-keadaan khusus peristiwa, di mana aturanaturan tersebut pada dasarnya dimaksudkan untuk ditaati, demi mendapatkan
pengawasan optimal, suatu sistem dispensasi telah dimasukkan dalam undangundang. WF. Prins 47 sebagaimana dikutip Ridwan HR mengatakan bahwa
dispensasi adalah tindakan pemerintahan yang menyebabkan suatu peraturan
undang-undang menjadi tidak berlaku bagi sesuatu hal yang istimewa (relaxatio
legis).
Kadang-kadang pembuat peraturan beranggapan bahwa suatu perbuatan
yang penting bagi umum, sebaiknya dilakukan oleh subyek hukum partikelir
dengan turut campur fihak pemerintah. Suatu keputusan administrasi negara yang
memperkenankan yang bersangkutan mengadakan perbuatan tersebut, membuat
suatu konsesi (concessie). 48 Menurut Prins, antara izin dan konsesi itu suatu
perbedaan nisbi (relatif) saja. Konsesi itu suatu izin pula, tetapi suatu izin yang
mengenai hal-hal yang penting bagi umum. 49

44

Ridwan HR, op.cit., hlm. 199 (Definisi izin diambil dari Makalah yang disampaikan
Bagir Manan, tidak dipublikasikan, di Jakarta, 1995, dengan judul Ketentuan-Ketentuan
Mengenai Peraturan Penyelenggaraan Hak Kemerdekaan Berkumpul Ditinjau dari Perspektif
UUD 1945, hlm. 8)
45

E. Utrecht, loc. cit., hlm. 114

46

NM Spelt dan Ten Berge, op.cit., hlm. 6

47

Ridwan HR, op.cit., hlm. 197

48

E. Utrecht, loc. cit., hlm. 114

49

Ibid., hlm. 115

18
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

5. Usaha Pertambangan
Usaha Pertambangan menurut ketentuan Pasal 1 angka 6 UU Nomor 4
Tahun 2009 adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara
yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan,
konstruksi, penambangan, pengolahan, dan pemurnian, pengangkutan dan
penjualan, serta pascatambang.

6. Pengalihan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia 50 pengalihan /peng-a-lih-an/n
adalah

proses,

cara,

perbuatan

mengalihkan,

pemindahan,

penggantian,

penukaran, pengubahan.

7. Izin Usaha Pertambangan


Dalam Pasal 1 angka 7 UU Nomor 4 Tahun 2009 disebutkan bahwa Izin
Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan.
8. Izin Usaha Pertambangan Khusus
Dalam Pasal 1 angka 11 UU Nomor 4 Tahun 2009 disebutkan bahwa Izin
Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut dengan IUPK, adalah izin
untuk melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan
khusus.
9. Wilayah Izin Usaha Pertambangan
Dalam Pasal 1 angka 31 UU Nomor 4 Tahun 2009 disebutkan bahwa
Wilayah Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WIUP, adalah
wilayah yang diberikan kepada pemegang IUP.

50

http://kbbi.web.id/, diunduh 4 April 2013

19
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

10. Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus


Dalam Pasal 1 angka 35 UU Nomor 4 Tahun 2009 disebutkan bahwa
Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut WIUPK,
adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUPK.
11. Saham
Dalam

Kamus

Besar

Bahasa

Indonesia 51,

saham

artinya:

1. Bagian; andil; sero (tentang permodalan);


2. Sumbangan (pikiran dan tenaga);
3. Surat bukti pemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberi
hak atas dividen dan lain-lain menurut besar kecilnya modal yg
disetor;
4. Surat bukti pemilikan modal perseroan terbatas yg memberi hak atas
dividen dan lain-lainnya;
5. Hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan
berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagi dalam
pemilikan dan pengawasan.

Sedangkan pengertian saham menurut Mishkin adalah suatu sekuritas


yang memiliki klaim terhadap pendapatan dan asset sebuah perusahaan. Sekuritas
sendiri dapat diartikan sebagai klaim atas pendapatan masa depan seorang
peminjam yang dijual oleh peminjam kepada yang meminjamkan, sering juga
disebut instrumen keuangan. 52
Menurut Husnan, menyebutkan bahwa sekuritas (saham) merupakan
secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas
tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang
menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang memungkinkan
pemodal tersebut menjalankan haknya. 53 Dalam kamus hukum, istilah saham

51

http://kbbi.web.id/, diunduh 4 April 2013

52

http://www.untukku.com/artikel-untukku/pengertian-saham-untukku.html, diunduh 4

April 2013
53

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20414/4/Chapter%20II.pdf, diunduh

4 April 2013

20
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

diartikan sebagai satuan nilai atau pembukuan dalam berbagai instrument


finansial yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan. 54

12. Kuasa Pertambangan


Dalam Pasal 2 huruf e UU Nomor 11 Tahun 1967 kuasa pertambangan
adalah

wewenang

yang

diberikan

kepada

badan/perseorangan

untuk

melaksanakan usaha pertambangan.

F. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
normatif berupa pendekatan dari aspek hukum pertambangan mineral dan
batubara dan aspek hukum perizinan. Penelitian normatif dilakukan melalui studi
literatur dan pustaka terutama peraturan perundang-undangan di bidang
pertambangan mineral dan batubara baik sebelum maupun sesudah berlakunya
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Untuk mendukung analisis yang dalam
pembahasan, dilakukan studi literatur dan pustaka terutama buku maupun hasil
penelitian terdahulu yang berkaitan dengan teori perizinan dan membahas
mengenai hukum pertambangan.

1. Bentuk Penelitian
Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian hukum normatif 55, yaitu
dengan menganalisis norma-norma hukum yang berlaku di sub sektor
pertambangan mineral dan batubara, antara lain Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23
Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara terkait ketentuan tentang pemindahan/pengalihan IUP, dengan
54

Rocky Marbun, et. al., op. cit., hlm. 281

55

Penelitian hukum normatif dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data
sekunder belaka, yang mencakup: a. penelitian terhadap asas-asas hukum, b. penelitian terhadap
sistematik hukum, c. penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertical dan horizontal perbandingan
hukum, d. perbandingan hukum, e. sejarah hukum (lihat Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji,
Penelitian Hukum Normatif, Suatu Kajian Singkat, Cetakan ke-14, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,
2012), hlm. 13-14).

21
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

perbandingan terhadap ketentuan pemindahan/pengalihan Kuasa Pertambangan


yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang KetentuanKetentuan Pokok Pertambangan dan peraturan pelaksananya, yaitu Peraturan
Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor
11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan dan
Keputusan Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor 472.K/20.01/DJP/1998
tentang Pemberian Izin Pemindahan Kuasa Pertambangan. Peraturan perundangundangan tersebut digunakan untuk memecahkan dan menganalisis suatu
permasalahan pengalihan izin (IUP) dilihat dari perspektif HMN sesuai dengan
ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
Dari norma hukum yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan
tersebut dikaji dan dianalisa bagaimana ketentuan pemindahan/pengalihan IUP
antara undang-undang dan peraturan pelaksananya setelah berlakunya UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
kemudian dikaitkan dengan ketentuan HMN dalam konstitusi untuk mendapatkan
jawaban dari permasalah yang ada.

2. Tipologi Penelitian
Tipologi penelitian ini adalah penelitian preskriptif, bertujuan untuk
memberikan gambaran atau merumuskan masalah sesuai dengan keadaan/fakta
yang ada. Melalui penelitian preskriptif diharapkan dapat memberikan saran-saran
mengenai apa yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan dalam
penelitian ini khususnya dalam menyusun norma dalam suatu undang-undang dan
peraturan pelaksananya ditinjau dari norma dalam konstitusi.

3. Jenis Data
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder 56,
yaitu data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka. Data sekunder terdiri dari
bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier.

56

Data sekunder memiliki ciri-ciri utama: a. data sekunder pada umumnya ada dalam
keadaan siap terbuat (ready-made), b. bentuk maupun isi data sekunder telah dibentuk dan diisi
oleh peneliti-peneliti terdahulu, c. data sekunder dapat diperoleh tanpa terikat atau dibatasi oleh
waktu dan tempat (ibid, hlm. 24)

22
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

4. Jenis Bahan Hukum


Dalam penelitian ini bahan hukum yang digunakan berupa:
a.

bahan hukum primer, yaitu peraturan dasar (UUD 1945), peraturan


perundang-undangan, dan yurisprudensi (Putusan MK).

b.

bahan hukum sekunder, yaitu: buku-buku, hasil penelitian, artikel-artikel


yang terkait, dan data yang ada pada Direktorat Jenderal Mineral dan
Batubara, berupa data IUP (KP yang telah disesuaikan menjadi IUP) yang
telah berpindah/beralih kepemilikan IUP-nya.

c.

bahan hukum tertier, yaitu kamus hukum, kamus besar Bahasa Indonesia.

5. Teknik Pengumpulan Data


Dalam pengumpulan data diusahakan untuk mendapatkan data sebanyakbanyaknya melalui penelusuran literatur sebagai bahan studi dokumen melaui
perpustakaan dan penghimpunan data dari Direktorat Pembinaan Pengusahaan
Mineral dan Direktorat Pembinaan Pengusahaan Batubara sebagai data dukung
dalam pembahasan.

6. Teknik Analisa Data


Analisis data/bahan hukum dilakukan dengan metode yuridis kualitatif
sehingga didapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh mengenai fakta-fakta
dan permasalahan yang terkait dengan objek penelitian dan agar dapat diperoleh
simpulan mengenai permasalahan yang diteliti. Dengan analisis kualitatif
diharapkan didapatkan penjelasan mengenai sinkronisasi peraturan perundangundangan secara vertikal di dalam perspektif hierarkisnya, menyangkut pula
terhadap asas perundang-undangan.

7. Bentuk Hasil Penelitian


Bentuk hasil penelitian ini adalah preskriptif analitis. Hasil penelitian ini
berupa saran-saran mengenai apa yang harus dilakukan untuk mengatasi
permasalahan dalam penelitian ini khususnya dalam menyusun norma dalam suatu
undang-undang dan peraturan pelaksananya ditinjau dari norma dalam konstitusi
dan penerapan asas perundang-undangan.

23
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

G. SISTEMATIKA PENULISAN
Penelitian hukum yang berbentuk tesis ini disusun dengan sistematika
yang tebagi atas enam bab. Masing-masing bab membahas materi yang saling
terkait satu sama lainnya agar terjadi kesinambungan pemikiran mulai dari bab I
sampai dengan Bab VI yang menggambarkan pelaksanaan pengusahaan
pertambangan mineral dan batubara dalam bentuk IUP terkait dengan
pemindahan/pengalihan IUP dalam perspektif HMN sesuai dengan Pasal 33 ayat
(3) UUD 1945.
Bab I berisi uraian tentang latar permasalahan penelitian dengan
dipilihnya judul Pengalihan Izin Usaha Pertambangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 93 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara dan Peraturan Pelaksananya dalam perspektif Hak
Menguasai Negara berdasarkan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Juga dikemukakan permasalahan yang
diangkat dalam penelitian ini. Selanjutnya dikemukakan tentang tujuan dan
manfaat penelitian, kerangka teori dan konsep, dan metode penelitian. Pada akhir
bab I disajikan sistematika penulisan tesis.
Pada bab II dibahas tentang teori-teori yang mendukung analisis dari
permasalahan penelitian meliputi: teori tentang Administrasi Negara dalam
konsep Hukum Administrasi Negara dalam pelaksanaan tugas sehari-hari
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah termasuk dalam fungsi regeling,
Keputusan Administrasi Negara, Izin, dan Hak Menguasai Negara dalam
konstitusi sebagai landasan hukum pembuatan undang-undang pertambangan
mineral dan batubara yang menjadi dasar pemberian izin, dan pembentukan
peraturan perundang-undangan.
Pada bab III dibahas tentang penataan perizinan dalam penyelenggaraan
pengelolaan pertambangan di Indonesia setelah terbitnya UU Nomor 4 Tahun
2009. Dalam bab ini dikemukakan sekilas penyelenggaraan pengelolaan
pertambangan berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1967, termasuk setelah
bergulirnya otonomi daerah di tahun 1999 dengan diterbitkannya PP Nomor 75
Tahun 2001; penyelenggaraan pengelolaan pertambangan berdasarkan UU Nomor
4 Tahun 2009 perbandingan dengan Philipina; kewajiban penyesuaian bentuk

24
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

perizinan pasca terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009 sebagai dasar kebijakan


penataan perizinan; rekonsiliasi IUP dalam rangka penataan perizinan di bidang
pertambangan mineral dan batubara; pengalihan IUP setelah terbitnya UU Nomor
4 Tahun 2009 dengan menguraikan kronologis lahirnya pengaturan pengalihan
IUP dan beberapa kasus termasuk jual beli IUP di situs internet.
Pada bab IV dilakukan analisis tentang pengalihan IUP dalam perspektif
HMN, dengan menganalisis penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 dalam perspektif HMN. Selain itu
juga akan dianalisis bagaimana penyesuaian KP menjadi IUP sesuai PP Nomor 23
Tahun 2010, analisis terhadap ketentuan pengalihan IUP dalam perspektif HMN
sesuai Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan beberapa kasus pemindahan/pengalihan
IUP yang di dasarkan pada permasalahan penelitian dengan menggunakan analisis
berdasarkan teori-teori yang dikemukakan pada bab II. Hal-hal yang dianalisis
dalam bab IV menyangkut pula analisis terhadap sinkronisasi pengaturan
pemindahan IUP dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 dan PP 24 Tahun 2012.
Terakhir adalah Bab VI penutup yang berisi simpulan untuk menjawab
pertanyaan dan tujuan penelitian. Serta juga berisi saran yuridis, yang dapat
dijadikan masukan dalam memberikan sumbang saran terhadap berbagai masalah
yang timbul dalam implementasi pengusahaan pertambangan mineral dan
batubara, khususnya dalam penyusunan kebijakan dan peraturan pelaksana dari
undang-undang.

25
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

BAB II
ADMINISTRASI NEGARA, KEPUTUSAN ADMINISTRASI NEGARA,
IZIN, HAK MENGUASAI NEGARA, DAN PEMBENTUKAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Perubahan paradigma baru dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha


pertambangan, dari rezim kontrak dan KP menjadi bentuk IUP dan ketentuan
untuk menyesuaikan KP menjadi IUP sesuai dengan UU Nomor 4 Tahun 2009
dan peraturan pelaksananya telah menimbulkan berbagai persoalan. Terutama
terkait pengalihan atau pemindahan IUP, yang seringkali menjadi kendala dalam
pemrosesan status clean and clear yang ditetapkan oleh Pemerintah. Untuk
mengkaji permasalahan tersebut dan ketentuan hukum yang mengaturnya, perlu
disajikan beberapa teori sebagai landasan dasar pembahasan terkait dengan prinsip
keadilan dan HMN sesuai dengan ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

A. Administrasi Negara dalam Negara Hukum Indonesia


A.1. Negara Hukum Indonesia
Negara Indonesia sebagai negara modern, sesuai dengan UUD 1945
merupakan negara hukum (rechtsstaat). 57 Negara hukum mempunyai tiga asas
pokok, yakni: 58
1. Asas monopoli pakca (zwangmonopol), kekuasaan negara dan monopoli
penggunaan paksaan untuk membuat orang mentaati apa yang menjadi
keputusan penguasa negara hanya berada pada tangan pejabat penguasa negara
yang berwenang dan berwajib untuk itu.
2. Asas persetujuan rakyat, berarti bahwa setiap orang (warga masyarakat) hanya
wajib tunduk, dan dapat dipaksa untuk tunduk pada peraturan yang dicipta
secara sah dengan persetujuan langsung (undang-undang formal) atau tidak

57

Indonesia (2), op. cit., Ps. 1 ayat (3) menyebutkan bahwa Negara Indonesia adalah
negara hukum (perubahan III, 9 November 2001).
58

S. Prajudi Atmosudirjo, Hukum Administrasi Negara, Seri Pustaka Ilmu Administrasi


VII, cet. 10, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1994), hlm. 22

26
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

langsung (legislasi delegatif, peraturan atas kuasa undang-undang) dari DPR


RI.
3. Asas persekutuan hukum (rechtsgemeenschap), berarti bahwa rakyat dan
penguasa

negara

sama-sama

merupakan

suatu

persekutuan

hukum

(rechtsgemeenschap, legal partnership), sehingga para pejabat penguasa


negara di dalam menjalankan tugas dan fungsi beserta menggunakan
kekuasaan negara mereka tunduk kepada hukum (undang-undang) yang sama
dengan rakyat (warga masyarakat).

Pelaksanaan negara hukum Indonesia melalui campur tangan penguasa


negara dalam kehidupan masyarakat dengan memperhatikan fungsi-fungsi hukum
modern, yaitu untuk: (i) menata tertibkan masyarakat; (ii) mengatur lalu lintas
kehidupan bersama masyarakat; (iii) mencegah atau menyelesaikan sengketa
(konflik); (iv) menegakkan keamanan dan ketertiban, jika perlu dengan kekerasan;
(v) mengukur tata cara penegakan keamanan dan ketertiban; (vi) mengubah
tatanan masyarakat seperlunya, bila mana perlu disesuaikan dengan kebutuhan
(perubahan) keadaan; dan (vii) mengatur tata cara pengubahan atau perubahan
keadaan. 59 Salah satu bentuk campur tangan penguasa negara tersebut adalah
dalam pelaksanaan penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan mineral
dan batubara, di mana peran negara sangatlah penting.
Negara sebagai pemegang amanah untuk menguasai 60 sumber daya alam
mineral dan batubara dituntut untuk menjalankan tugas dan fungsinya sesuai
dengan tujuan nasional bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam alenia
keempat pembukaan UUD1945, yaitu: (i) melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia; (ii) memajukan kesejahteraan umum; (iii)
mencerdaskan kehidupan bangsa; dan (iv) ikut serta melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dalam
hubungannya dengan negara hukum Indonesia, dalam mencapai tujuan negara
yang mencakup aspek keadilan sosial, tidaklah mudah membebaskan konsep
59

Ibid, hlm. 25-26

60

Penguasaan negara atas mineral dan batubara harus dapat memberikan manfaat untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakya, sesuai ketentuan Ps. 33 ayat (3) UUD 1945 bahwa kekayaan
alam dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

27
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

hukum dari keadilan, karena secara politis terus menerus dicampur adukkan
dengan tendensi ideologis sehingga hukum terlihat sebagai keadilan.
Secara politis pemikiran kita akan dibawa kepada arah bahwa hanya tata
aturan yang adil yang disebut sebagai hukum. Namun tata aturan tersebut
sebenarnya hanyalah aturan yang mengatur perilaku manusia yang berlaku bagi
semua orang dan semua orang menemukan kegembiraan di dalamnya. Maka
keadilan sosial adalah kebahagiaan sosial. Dengan demikian keadilan adalah
bagaimana pemenuhan atas kebutuhan sosial, termasuk kebutuhan individu pada
suatu tahapan tertentu. Atau dalam lain kata keadilan adalah bagaimana
pemenuhan kebutuhan untuk sebanyak-banyaknya orang. 61 Tujuan negara untuk
mencapai suatu keadilan tidak terlepas dari pelaksanaan tugas negara, yang
meliputi dua hal, yaitu: 62 policy making (penentu haluan negara) dan task
executing (pelaksanaan tugas menurut haluan negara).
Sejalan dengan pendapat tersebut, E. Utrecht sebagaimana pendapat
Donner, membagi tugas negara menjadi dua bidang yang biasanya dilalui dalam
setiap usaha (aktivitas) Pemerintah, yaitu 63: bidang pertama adalah bidang yang
menentukan tujuan dan tugas negara dalam arti jalan mana yang harus ditempuh
oleh penghidupan bernegara di mana orang berada di bidang politik, dan bidang
kedua adalah bidang yang merealisasi (mencapai) tujuan atau tugas yang telah
ditentukan dalam arti penyelenggaraan keputusan-keputusan yang telah dibuat di
bidang politik yang membawa orang ke bidang administrasi negara. Berbeda
dengan kedua pendapat tersebut, Van Vollenhoven dalam Ridwan HR membagi
tugas negara menjadi empat, yaitu: (i) regeling (membuat peraturan dalam bentuk
undang-undang baik formil maupun materiil); (ii) bestuur (pemerintahan dalam
arti secara nyata memelihara kepentingan umum); (iii) yustitusi (penyelesaian
sengketa dalam peradilan perdata); dan politie (mempertahankan ketertiban umum
baik secara preventif maupun represif, termasuk di dalamnya peradilan pidana). 64

61

Jimly Assiddiqie dan M. Ali Safaat, op. cit., hlm. 17-18

62

Ridwan HR, loc. cit., hlm. 13.

63

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, loc. cit., hlm. 16

64

Ridwan HR, loc. cit., hlm. 13

28
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

A. 2. Administrasi Negara
Campur tangan penguasa negara dalam bentuk pelaksanaan tugas dan
fungsi negara, dilaksanakan oleh administrasi negara, yang keberadaannya tidak
dapat dipungkiri oleh setiap warga masyarakat. Menurut Prajudi, administrasi
negara mempunyai tiga arti, yaitu: (i) sebagai aparatur negara, aparatur
pemerintah, atau sebagai institusi politik (kenegaraan); (ii) administrasi negara
sebagai fungsi atau sebagai aktifitas melayani Pemerintah yakni sebagai
kegiatan pemerintah operasional; dan (iii) administrasi negara sebagai proses
teknis penyelenggaraan undang-undang. 65
Dari pengertian administrasi negara di atas, menurut Prajudi pengertian
administrasi negara bersifat kombinatif (verzamelterm), yakni: administrasi
negara sebagai organisasi dan administrasi yang secara khas mengejar tercapainya
tujuan yang bersifat kenegaraan (publik), artinya tujuan-tujuan yang ditetapkan
undang-undang secara dwingend recht (hukum yang memaksa). 66 Dilihat dari
perspektif organisasi, terdapat empat asas yang dapat dijadikan alternatif dalam
suatu organisasi administrasi negara, yaitu: (i) tujuan yang dicapai, (ii) kelompok
yang dilayani, (iii) proses yang dijalankan, dan (iv) wilayah geografis dalam
negara.
Sementara itu, E. Utrech dengan menggunakan teori trias politica dari
Mountesquieu merumuskan lapangan administrasi negara sebagai: 67

Gabungan jabatan-jabatan (complex van ambten) - apparat (alat)


administrasi - yang di bawah pimpinan pemerintah melakukan sebagian
pekerjaan pemerintah (tugas pemerintah (overheidstaak) - fungsi
administrasi - yang tidak ditugaskan kepada badan-badan pengadilan,
badan legislatif (pusat) dan badan-badan pemerintah dari persekutuan
hukum (rechtsgemeenschappen) yang lebih rendah negara (sebagai badan
hukum tertinggi) yaitu badan pemerintahan dari persekutuan hukum
daerah swatantra tingkat I, II, dan III dan daerah istimewa) yang masing-

65

Ibid.

66

Philipus M. Hadjon, et. al, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Introduction to


the Indonesian Administrative Law, Cet. 10, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2008),
hlm. 26
67

Ibid, hlm. 24

29
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

masing diberi kekuasaan untuk - berdasarkan inisiatif sendiri memerintah sendiri daerahnya.

Apabila dilihat dari hubungan hukum antara penguasa sebagai subyek


yang memerintah dengan warga masyarakat sebagai subyek yang diperintah,
penguasa

dalam

hal

ini

Pemerintah,

melaksanakan

bestuurzorg,

menyelenggarakan kepentingan umum yang dilaksanakan penguasa administrasi


negara, di mana penguasa tersebut harus mempunyai wewenang. Dengan
wewenang yang dimilikinya, seorang aparatur pemerintah dapat membuat suatu
kebijakan yang dapat berbentuk keputusan, baik yang bersifat pengaturan
(regeling) maupun yang bersifat penetapan (beschikking). 68
Izin termasuk dalam kategori penetapan (beschikking), yang dibuat oleh
pejabat administrasi negara, yang biasanya berbentuk keputusan. Administrasi
negara pada negara kesejahteraan Indonesia, sesuai dengan pendapat Irving
Swerdlow sebagaimana dikutip Bintoro Tjokroamidjoyo, ditandai dengan
banyaknya campur tangan penguasa ke dalam kehidupan masyarakat, melalui: 69
1. Operasi langsung (operations), pada pokoknya pemerintah menjalankan
sendiri kegiatan-kegiatan tertentu;
2. Pengendalian langsung (direct control), dilakukan oleh badan-badan
pemerintah yang berwenang dengan memberikan berbagai perizinan, alokasi,
tarif, dan sebagainya;
3. Pengendalian tak langsung (indirect control), dilakukan dengan cara
memberikan pengaturan dan syarat-syarat yang dibuat oleh badan pemerintah
yang berwenang;
4. Pemengaruhan langsung (direct influence), dilakukan dengan cara persuasi
dan nasehat kepada masyarakat agar turut secara aktif dalam menunjang
pelaksanaan tugas-tugas penyelenggaraan kesejahteraan;
5. Pemengaruhan tak langsung (indirect influence), merupakan bentuk campur
tangan yang paling ringan, antara lain dengan memberikan informasi,
68

Safri Nugraha, et. al, Hukum Administrasi Negara, (Jakarta: Center For Law and
Good Governance Studies (CLGS), Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2007), hlm. 27-28
69

Bintoro Tjokroamidjoyo, Pengantar Administrasi Pembangunan, (Jakarta: LP3ES,


1974), hlm. 19

30
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

menjelaskan kebijakan pemerintah, melalui penyuluhan dan pembinaan untuk


bias lebih menerima hal-hal yang bersifat baru.

Izin termasuk dalam kategori pengendalian langsung (direct control).


Dengan demikian pemerintah berperan dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan

melalui

pemberian

izin,

pemerintah

mengendalikan

dan

mengarahkan agar pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan


tujuan negara untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sebagaimana
diamanahkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Menurut Prajudi Atmosudirjo,
peran pemerintah tersebut dilakukan oleh pejabat administrasi negara dengan
wewenang pemeritahan dan sedang menjalankan fungsi pemerintahan. Fungsi
pemerintahan 70 adalah fungsi politik dan pemerintahan berarti sama dengan
penegakan (handhaving) dan/atau penggunaan (aanwending) daripada wibawa
(gezag) dan/atau kekuasaan (macht) negara. Peran pemerintah dalam pemberian
izin merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan tujuan negara kesejahteraan
Indonesia dalam mewujudkan kemakmuran seluruh masyarakat. Keputusan
pemerintah untuk memberikan izin tergolong keputusan administrasi negara.

A. 3. Administrasi Negara Indonesia di Bidang Pertambangan


Bintoro Tjokroamidjojo memberikan pengertian administrasi negara
adalah manajemen dan organisasi manusia-manusia dan peralatannya guna
mencapai tujuan-tujuan pemerintah. 71 Dikaitkan dengan administrasi negara di
Indonesia, maka manajemen dan organisasi manusia-manusia dan peralatannya
untuk mencapai tujuan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
70

1.
2.
3.
4.

Fungsi pemerintahan dijalankan melalui:


Pengaturan perundangan, menetapkan peraturan yang berlaku umum dan mempunyai
kekuatan undang-undang;
Pembinaan masyarakat umum, dapat melakukan pemanggilan, pengumuman, penerangan, dan
sebagainya yang tidak dapat dilawan;
Kepolisian, artinya dapat dapat secara langsung bertindak terhadap setiap pelanggar undangundang; dan
Peradilan, artinya menyelesaikan atau mendamaikan persengketaan di luar pengadilan. (S.
Prajudi Admosudirjo, op. cit, hlm. 48)
71

Bintoro Tjokroamidjojo, op. cit., hlm. 1

31
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian


abadi dan keadilan sosial sesuai dengan alenia keempat UUD 1945.
Dilihat dari sejarah pelaksanaan ketatanegaraan di Indonesia, peran dan
wewenang administrasi negara telah mengalami banyak perkembangan. Hal ini
berhubungan dengan dianutnya welfare state (negara kesejahteraan), yang
menyebabkan semakin besarnya kewenangan dan peran administrasi negara. Di
mana administrasi negara tidak hanya berperan sebagai penegak hukum dan
ketertiban, tetapi juga dalam sektor sosial dan ekonomi masyarakat. Peran
administrasi negara yang lebih besar telah difasilitasi oleh hukum administrasi
negara, yakni Greenlight Theory, yang memberikan kewenangan dan peran
kepada administrasi negara yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan
masyarakat. Hal ini memberi konsekuensi terbentuknya struktur administrasi
negara yang besar dan hierarkhis. 72
Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, selain administrasi negara
di tingkat pusat (Pemerintah) terdapat pula administrasi di tingkat daerah
(pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota), termasuk dalam pengelolaan
usaha pertambangan mineral dan batubara setelah bergulirnya era otonomi daerah.
Administrasi negara di tingkat daerah dalam pengelolaan usaha pertambangan
mineral dan batubara didasarkan atas dekonsentrasi dan desentralisasi.
Dekonsentrasi menurut Henry Maddick sebagaimana dikutip Dwi
Andayani Budisetyowati, merupakan pelimpahan wewenang oleh pemerintah
kepada para pejabatnya di daerah untuk menjalankan fungsi-fungsi yang terinci. 73
Dalam dekonsentrasi terjadi pelimpahan wewenang untuk mengurus, sedangkan
wewenang untuk mengatur tetap berada pada pemerintah pusat. Pengelolaan
usaha pertambangan mineral dan batubara melalui dekonsentrasi kepada
pemerintah provinsi diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral yang diterbitkan setiap tahun dan berlaku untuk satu tahun, terakhir
dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 04 Tahun
72

Tri Hayati, Perizinan Pertambangan di Era Reformasi Pemerintahan Daerah Studi


tentang Perizinan Pertambangan Timah di Pulau Bangka, Cet. 1, (Jakarta: Badan Penerbit FH
UI), hlm. 36
73

Dwi Andayani Budisetyowati, Keberadaan Otonomi Daerah di Negara Kesatuan


Republik Indonesia, Disertasi, (Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2004), hlm.
62

32
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

2013 tentang Pelimpahan Sebagian Wewenang Urusan Pemerintahan di Bidang


Energi Dan Sumber Daya Mineral Kepada Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah
dalam Rangka Penyelenggaraan Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2013.
Sedangkan desentralisasi menurut Philip Mawhood sebagaimana dikutip
Dwi Andayani Budisetyowati, melahirkan badan-badan yang terbentuk dengan
undang-undang dan terpisah dari pemerintah pusat. Diantara badan-badan tersebut
terdapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang memiliki wewenang
untuk mengambil keputusan publik. Badan-badan tersebut memiliki keberadaan
hukum yang terpisah (separate legal existence), anggaran sendiri, wewenang
untuk mengalokasikan sumber daya substansial bagi berbagai fungsi dan
keputusan yang dibuat oleh lembaga perwakilan masyarakat, dengan penilaian,
prakarsa, dan pengelolaan sendiri. 74 Dalam rangka desentralisasi dibuatlah
daerah-daerah otonom.
Menurut Laica Marzuki, dilihat dari perspektif ajaran rumah tangga
daerah,

terdapat

tiga

cakupan

kewenangan

otonomi

daerah

dalam

menyelenggarakan urusan rumah tangga daerahnya, yaitu kewenangan untuk


mengatur rumah tangga sendiri: (i) secara materiil (materiele huishouding),
pemberian kewenangan mengatur rumah tangga daerah didasarkan atas
pembagian tugas antara Pemerintah dan daerah otonom secara tegas dan rinci
dalam undang-undang pembentukannya; (ii) secara formal (formele huishouding),
daerah otonom bebas mengatur dan mengurus segala sesuatu yang dianggap
penting dan berguna bagi daerahnya, kewenangan daerah otonom tidak dirinci
secara detail dalam undang-undang pembentukannya, dan (iii) secara riil (riele
huishouding), kewenangan yang diberikan kepada daerah otonom guna mengatur
dan mengurus hal-hal tertentu berdasarkan kondisi sumber daya daerah yang
bersangkutan, dapat bertambah dari waktu ke waktu sesuai dengan kemampuan
daerah otonom. 75
Administrasi negara dalam pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara dengan penerapan otonomi daerah dapat dilihat dalam pokok-pokok
74

Ibid., hlm. 59-60

75

H.M. Laica Marzuki, Berjalan-Jalan di Ranah Hukum, Cet. 1, (Jakarta: Mahkamah


Konstitusi Republik Indonesia, 2006), hlm. 152

33
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pikiran angka 1 sampai denagn angka 3 sebagaimana tercantum dalam Penjelasan


Umum UU Nomor 4 Tahun 2009, bahwa:
1. mineral dan batubara sebagai sumber daya yang tak terbarukan dikuasai oleh
negara dan pengembangan serta pendayagunaannya dilaksanakan oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah bersama dengan pelaku usaha;
2. Pemerintah selanjutnya memberikan kesempatan kepada badan usaha yang
berbadan hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat
setempat untuk melakukan pengusahaan mineral dari batubara berdasarkan
izin, yang sejalan dengan otonomi daerah, diberikan oleh Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya masing-masing; dan
3. Dalam

rangka

penyelenggaraan

desentralisasi

dan

otonomi

daerah,

pengelolaan pertambangan mineral dan batubara dilaksanakan berdasarkan


prinsip eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi yang melibatkan Pemerintah
dan pemerintah daerah.

Hal ini sejalan dengan pendapat Bhenyamin Hoessein, bahwa dengan


diselenggarakannya desentralisasi tidak berarti asas sentralisasi ditinggalkan,
karena sentralisasi dan desentralisasi sebagai organisasi pemerintahan masingmasing tidak ditempatkan pada kutub yang berlawanan, tetapi ditempatkan dalam
suatu rangkaian kesatuan (continuum). 76 Desentralisasi dalam pengelolaan usaha
pertambangan mineral dan batubara tidak terlepas dari sentralisasi terkait dengan
berbagai

kewenangan

dalam

pembuatan

kebijakan

nasional

di

bidang

pertambangan mineral dan batubara, dengan kewenangan Pemerintah membuat


peraturan perundang-undangan yang berlaku secara nasional dalam mewujudkan
usaha pertambangan yang memberi manfaat ekonomi dan sosial yang sebesarbesar bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.

76

Bhenyamin Hoessein, Perubahan Model, Pola, dan Bentuk Pemerintahan Daerah,


dari Era Orde Baru ke Era Reformasi, Edisi Revisi, Cet. 2, (Jakarta: Departemen Ilmu
Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, 2011), hlm. 1

34
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

B. Sumber Kewenangan Administrasi Negara


B. 1. Sumber Kewenangan Administrasi Negara Indonesia
Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara

dalam

Secara umum, wewenang merupakan kekuasaan untuk melakukan semua


tindakan hukum publik. 77 Tindakan ini dijabarkan sebagai hak untuk menjalankan
urusan pemerintahan dan hak untuk dapat secara nyata mempengaruhi keputusan
yang akan diambil oleh instansi pemerintah. 78 Menurut Peter Leyland,
kewenangan publik mempunyai dua ciri utama, yaitu setiap keputusan yang dibuat
oleh pejabat pemerintah mempunyai: (i) kekuatan mengikat kepada seluruh
anggota masyarakat; dan (ii) fungsi publik (melakukan publik service). 79
Menurut Prajudi Atmosudirdjo, kewenangan itu sendiri terdiri atas
beberapa wewenang, berupa kekuasaan terhadap segolongan orang tertentu atau
kekuasaan terhadap suatu badan pemerintahan tertentu. Wewenang adalah
kekuasaan untuk melakukan suatu tindakan hukum publik, 80 misalnya wewenang
untuk menandatangani izin dari seorang pejabat atas nama Menteri, sedangkan
kewenangan tetap berada pada Menteri (delegasi kewenangan).
Berdasarkan kewenangannya, Pemerintah berhak mengeluarkan perintah,
melakukan suatu perbuatan tertentu, termasuk membuat peraturan perundangundangan. Kewenangan dapat berupa kewenangan formal yang melahirkan
kekuasaan yang berasal dari kekuasaan legislatif. Kewenangan formal ini lahir
dari hukum publik sebagai dasar untuk melakukan perbuatan sesuai dengan
ketentuan hukum publik bagi pemerintah untuk melakukan perbuatan hukum
sehingga tercipta hubungan hukum antara penguasa sebagai subyek yang
memerintah dan warga masyarakat sebagai subyek yang diperintah. Penguasa
dalam

hal

ini

adalah

Pemerintah,

melaksanakan

bestuurszorg,

yaitu

penyelenggaraan kepentingan umum yang dijalankan oleh penguasa yang

77

S. Prajudi Admosudiro, op.cit, hlm. 7

78

Safri Nugraha, et. al., op. cit., hlm. 29-30

79

Peter Leyland and Terry Woods, Administrative Law, dalam Safri Nugraha, et. al, op.
cit., hlm. 139-144
80

S. Prajudi Admosudiro, op.cit, hlm. 78

35
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

berwenang untuk itu. Pelaksanaan tugas administrasi negara dilandasi suatu


wewenang yang sah yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. 81
Adapun sifat dari wewenang pemerintah adalah: 82 (i) terikat pada suatu
masa tertentu; (ii) tunduk pada batas materi kewenangan tertentu; dan (iii) tunduk
pada wilayah berlakunya wewenang. Untuk memperoleh wewenang pemerintah
tersebut, dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu: 83
1. Atribusi, pemberian wewenang pemerintah yang baru oleh suatu peraturan
perundang-undangan

(produk

hukum

legislatif)

untuk

melaksanakan

pemerintahan, secara penuh, termasuk untuk membuat kebijakan yang berlaku


ke luar dan ke dalam dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Penerima
kewenangan berdasarkan atribusi, bertanggung jawab secara penuh.
2. Delegasi, pelimpahan wewenang yang telah ada yang berasal dari wewenang
atribusi, kepada pejabat administrasi negara, tidak secara penuh, tidak
termasuk kewenangan untuk membuat kebijakan yang berlaku ke dalam dan
ke luar. Kewenangan delegasi selalu didahului dengan kewenangan atribusi.
Tanggung jawab penerima delegasi sebatas kewenangan yang didelegasikan.
3. Mandat, pemberian tugas dari mandans (pemberi mandat-menteri) kepada
mandataris (penerima mandat-direktur jenderal/sekretaris jenderal), untuk atas
nama menteri membuat keputusan administrasi negara. Wewenang dan
tanggung jawab tetap berada pada pemberi mandat.

Dalam menjalankan wewenangnya, agar tidak terjadi penyalahgunaan


wewenang dan tindakan sewenang-wenang, Purbopranoto sebagaimana dikutip
Tri Hayati, memberikan pembatasan, yaitu: (i) bahwa tindakan pemerintah tidak
boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau kepentingan
umum; (ii) tidak boleh melawan hukum baik formil maupun materiil; (iii) tidak
boleh melampaui kewenangannya menurut kompetensinya. 84 Agar tidak terjadi
penyalahgunaan wewenang oleh pejabat administrasi negara dalam mengambil
81

Tri Hayati, op. cit., hlm. 57-58

82

Safri Nugraha, et. al., op.cit. hlm. 39

83

Ibid.. hlm. 33-36

84

Tri Hayati, op. cit., hlm. 60

36
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

suatu kebijakan, perlu ada ketegasan mengenai pelimpahan kepada pejabat


administrasi negara dalam membuat peraturan, yaitu: 85
1. Undang-undang harus menetapkan asas yang tidak dapat dijabarkan atau
diintepretasikan lebih lanjut;
2. Pendelegasian ditentukan secara tegas dengan menetapkan pasal yang
bersangkutan dengan hal yang dapat didelegasikan, dan menetapkan dalam
pasal undang-undang yang bersangkutan semacam suatu pedoman untuk
pejabat administrasi negara;
3. Mensyaratkan dengan undang-undang agar sebelumnya diadakan studi yang
cukup;
4. Undang-undang menetapkan berat dan jenis sanksi hukum bagi pelanggaran
peraturan;
5. Pelimpahan dilakukan hanya kepada pejabat administrasi negara;
6. Undang-undang menetapkan diadakannya badan untuk menampung keluhan,
pengaduan atau gugatan.

B. 2. Kewenangan Pengelolaan usaha Pertambangan Mineral dan Batubara


Kewenangan administrasi negara dalam pengelolaan sumber daya alam
mineral dan batubara pada masa sekarang ini diatur dalam UU Nomor 4 Tahun
2009, dengan demikian kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara merupakan kewenangan atribusi. Kewenangan administrasi negara
dalam pengelolaan sumber daya alam mineral dan batubara, dijalankan oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah, dengan pembagian kewenangan sebagai
berikut: 86
1. Pemerintah, diatur dalam Pasal 6, bahwa kewenangan Pemerintah dalam
pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, antara lain:

penetapan

kebijakan nasional; pembuatan peraturan perundang-undangan; penetapan


standar nasional, pedoman, dan kriteria; penetapan sistem perizinan
pertambangan mineral dan batubara nasional; penetapan WP yang dilakukan

85

S. Prajudi Admosudiro, op.cit, hlm. 104

86

Indonesia (5), op. cit., Ps. 6, Ps. 7, Ps. 8, Ps. 37, Ps. 48, Ps. 67, dan Ps. 74

37
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

setelah berkoordinasi 87 dengan pemerintah daerah dan berkonsultasi dengan


Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; pemberian IUP, pembinaan,
penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan usaha pertambangan yang
berada pada lintas wilayah provinsi dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua
belas) mil dari garis pantai; pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik
masyarakat,

dan

pengawasan

usaha

pertambangan

yang

lokasi

penambangannya berada pada lintas wilayah provinsi dan/atau wilayah laut


lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai; pemberian IUP, pembinaan,
penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan usaha pertambangan
operasi produksi yang herdampak lingkungan langsung lintas provinsi
dan/atau dalam wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
pemberian IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi; pengevaluasian IUP
Operasi Produksi, yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah, yang telah
menimbulkan kerusakan lingkungan serta yang tidak menerapkan kaidah
pertambangan yang baik; penetapan kebijakan produksi, pemasaran,
pemanfaatan, dan konservasi; penetapan kebijakan kerja sama, kemitraan, dan
pemberdayaan masyarakat; perumusan dan penetapan penerimaan negara
bukan pajak dari hasil usaha pertambangan mineral dan batubara; pembinaan
dan pengawasan penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah; pembinaan dan
pengawasan

penyusunan

peraturan

daerah

di

bidang

pertambangan;

penginventarisasian, penyelidikan, dan penelitian serta eksplorasi dalam


rangka memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sebagai bahan
penyusunan WUP dan WPN; pengelolaan informasi geologi, informasi
potensi sumber daya mineral dan batubara, serta informasi pertambangan pada
tingkat nasional; pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan
pascatambang; penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara tingkat
nasional; pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha
pertambangan; dan peningkatan kemampuan aparatur Pernerintah, pemerintah

87

Mahkamah Konstitusi (1), Putusan Atas Perkara Nomor 10/PUU-X/2012, tanggal 22


November 2012, hlm. 98, frasa setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah bertentangan
dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sepanjang tidak dimaknai
setelah ditentukan oleh pemerintah daerah.

38
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan


usaha pertambangan.
2. Pemerintah provinsi, diatur dalam Pasal 7, bahwa kewenangan pemerintah
provinsi dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, antara lain:
pembuatan

peraturan

perundang-undangan

daerah;

pemberian

IUP,

pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha


pertambangan pada lintas wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4
(empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil; pemberian IUP, pembinaan,
penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan operasi
produksi yang kegiatannya berada pada lintas wilayah kabupaten/kota
dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil;
pemberian IUP, pembinaan, penyesaian konflik masyarakat dan pengawasan
usaha

pertambangan

yang

berdampak

lingkungan

langsung

lintas

kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua


belas) mil; penginventarisasian, penyelidikan dan penelitian serta eksplorasi
dalam rangka memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sesuai
dengan kewenangannya; pengelolaan informasi geologi, informasi potensi
sumber daya mineral dan batubara, serta informasi pertambangan pada
daerah/wilayah provinsi; penyusunan neraca sumber daya mineral dan
batubara pada daerah/wilayah provinsi; pengembangan dan peningkatan nilai
tambah kegiatan usaha pertambangan di provinsi; pengembangan dan
peningkatan peran serta masyarakat dalam usaha pertambangan dengan
memperhatikan kelestarian lingkungan; pengoordinasian perizinan dan
pengawasan penggunaan bahan peledak di wilayah tambang sesuai dengan
kewenangannya; penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan
umum, dan penelitian serta eksplorasi kepada Menteri dan bupati/walikota;
penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor
kepada Menteri dan bupati/walikota; pembinaan dan pengawasan terhadap
reklamasi lahan pascatambang; dan peningkatan kemampuan aparatur
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan
pengelolaan usaha pertambangan.

39
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

3. Pemerintah kabupaten/kota, diatur dalam Pasal 8, bahwa kewenangan


pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara, antara lain: pembuatan peraturan perundang-undangan daerah;
pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan
pengawasan usaha pertambangan di wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah
laut sampai dengan 4 (empat) mil; pemberian IUP dan IPR, pembinaan,
penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan operasi
produksi yang kegiatannya berada di wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah
laut sampai dengan 4 (empat) mil; penginventarisasian, penyelidikan dan
penelitian, serta eksplorasi dalam rangka memperoleh data dan informasi
mineral dan batubara; pengelolaan informasi geologi, informasi potensi
mineral dan batubara, serta informasi pertambangan pada wilayah
kabupaten/kota; penyusunan neraca sumber daya rnineral dan batubara pada
wilayah kabupaten/kota; pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
setempat dalam usaha pertambangan dengan memperhatikan kelestarian
lingkungan; pengembangan dan peningkatan nilai tambah dan manfaat
kegiatan usaha pertambangan secara optimal; penyampaian informasi hasil
inventarisasi, penyelidikan umum, dan penelitian, serta eksplorasi dan
eksploitasi kepada Menteri dan gubernur; penyampaian informasi hasil
produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor kepada Menteri dan gubernur;
pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang; dan
peningkatan

kemampuan

aparatur

pemerintah

kabupaten/kota

dalam

penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.

Kewenangan Pemerintah dalam pengelolaan pertambangan mineral dan


batubara dilaksanakan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, di mana
dalam tataran pelaksanaan penerbitan izin didelegasikan kepada Direktur Jenderal
Mineral dan Batubara melalui pelimpahan. Kewenangan penerbitan izin dalam
pengelolaan pertambangan mineral dan batubara pada pemerintah provinsi
dilaksanakan oleh gubernur. Sedangkan kewenangan penerbitan izin dalam
pengelolaan pertambangan mineral dan batubara pada pemerintah kabupaten/kota
dilaksanakan oleh bupati/walikota.

40
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Selain kewenangan dalam penerbitan IUP, IUPK, dan/atau IPR, UU


Nomor 4 Tahun 2009 memberikan kewenangan kepada Menteri, gubernur, dan
bupati/walikota memberikan izin yang sifatnya khusus, yaitu:
1. Izin sementara, yaitu izin yang diberikan kepada pemegang IUP/IUPK
Eksplorasi untuk melakukan pengangkutan dan penjualan mineral atau
batubara yang tergali dalam kegiatan eksplorasi atau studi kelayakan; 88
2. IUP Operasi Produksi untuk penjualan, yaitu izin yang diberikan kepada
badan usaha yang tidak bergerak di bidang pertambangan, untuk melakukan
pengangkutan dan penjualan mineral atau batubara tergali dalam kegiatan
usahanya; 89
3. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian; 90 dan
4. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan. 91

Pembagian kewenangan pemberian IUP Operasi Produksi khusus untuk


pengolahan dan pemurnian serta IUP Operasi Produksi khusus untuk
pengangkutan dan penjualan diatur lebih lanjut dalam PP Nomor 23 Tahun 2010,
sebagai berikut: 92
(1) IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan 93,
diberikan oleh:
a. Menteri apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dilakukan
lintas provinsi dan negara;
b. gubernur apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan
dilakukan lintas kabupaten/kota; atau

88

Indonesia (5), op. cit., Ps. 43 jo. Ps. 44 dan Pasal

89

Ibid., Ps. 105

90

Ibid., Ps. 104 ayat (2)

91

Indonesia (6), op. cit., Ps. 36 huruf b jo. Ps. 37 huruf b

92

Ibid.

93

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (1), Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral tentang Tata Cara Pemberian Izin Khusus di Bidang Pertambangan
Mineral dan Batubara, Permen ESDM Nomor 32 Tahun 2013, Berita Negara Nomor 1366 Tahun
2013, Ps. 1 angka 7, menyebutkan bahwa IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan
penjualan adalah izin usaha yang diberikan kepada perusahaan untuk membeli, mengangkut, dan
menjual komoditas tambang mineral atau batubara.

41
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

c. bupati/walikota apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan


dalam 1 (satu) kabupaten/kota.
(2) IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian 94,
diberikan oleh:
a. Menteri, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal
dari provinsi lain dan/atau lokasi kegiatan pengolahan dan
pemurnian berada pada lintas provinsi, serta bahan baku yang
akan dioleh berasal dari impor;
b. gubernur, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal
dari beberapa kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi dan/atau
lokasi kegiatan pengolahan dan pemurnian berada pada lintas
kabupaten/kota; atau bupati/walikota, apabila komoditas
tambang yang akan diolah berasal dari 1 (satu) kabupaten/kota
dan/atau lokasi kegiatan pengolahan dan pemurnian berada pada
1 (satu) kabupaten/kota.

Sedangkan terkait kewenangan dalam pemberian IUP Operasi khusus


untuk penjualan, diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral Nomor 32 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pemberian Izin Khusus di
Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara, sebagai berikut: 95
1. Menteri, apabila mineral dan/atau batubara yang tergali berada pada lintas
provinsi dan/atau berbatasan langsung dengan negara lain dan/ atau dalam
wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
2. gubernur, apabila mineral dan/atau batubara yang tergali berada pada lintas
wilayah kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi dan/atau wilayah laut 4
(empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil; atau
3. bupati/walikota apabila mineral dan/atau batubara yang tergali berada dalam 1
(satu) wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat)
mil.

94

IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian adalah izin usaha
yang diberikan kepada perusahaan untuk membeli, mengangkut, mengolah, dan memurnikan
termasuk menjual komoditas tambang mineral atau batubara hasil olahannya, (Ibid., Ps. 1 angka
8).
95

Ibid., Ps. 8 ayat (4)

42
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

C. Keputusan Administrasi Negara


Dalam pelaksanaan wewenang pemerintah, pejabat adminisrasi negara
dapat mengambil suatu keputusan yang pada dasarnya harus atas permintaan
tertulis, baik dari instansi atau orang perorangan. Dalam membuat keputusan
tersebut, pejabat administrasi negara terikat pada tiga asas hukum: 96
1. Asas yuridikitas (rechtmatigeheid), bahwa setiap tindakan pejabat administrasi
negara tidak boleh melanggar hukum secara umum (harus sesuai dengan rasa
keadilan dan kepatuhan);
2. Asas legalitas (wetmatigeheid), setiap tindakan pejabat administrasi negara
harus ada dasar hukumnya (ada peraturan yang melandasinya); dan
3. Asas diskresi (freis ermessen), kebebasan dari seorang pejabat administrasi
negara untuk mengambil keputusan berdasarkan pendapatnya sendiri, asalkan
tidak melanggar asas yuridikitas dan asas legalitas.

Terkait ketiga asas hukum di atas, Prayudi mengemukakan bahwa semua


keputusan yang diambil pada asasnya harus atas permintaan tertulis, baik dari
instansi atau orang perorangan. Keputusan tanpa adanya suatu (surat) permintaan
adalah batal karena hukum. Keputusan-keputusan tersebut terikat kepada tiga asas
hukum, yakni: 97
1. Asas yuridikitas (rechtmatigeheid), artinya, keputusan pemerintahan maupun
administratif tidak boleh melanggar hukum (Onrechtmatige overheidsdaad);
2. Asas legalitas (wetmatigeheid), artinya, keputusan harus diambil berdasarkan
suatu ketentuan undang-undang;
3. Asas diskresi (discretie, freis ermessen), artinya, pejabat penguasa tidak boleh
menolak mengambil keputusan dengan alasan tidak ada peraturannya, dan
oleh karena itu diberi kebebasan untuk mengambil keputusan menurut
pendapatnya sendiri asalkan tidak melanggar asas yuridikitas dan asas
legalitas tersebut di atas. Ada dua macam diskresi, yaitu diskresi bebas
bilamana undang-undang hanya menetukan batas-batasnya, dan diskresi

96

Safri Nugraha, op. cit., hal. 39

97

S. Prajudi Admosudiro, op.cit, hlm. 89

43
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

terikat bilamana undang-undang menetapkan beberapa alternatif untuk dipilih


salah satu yang oleh pejabat administrasi dianggap paling dekat.

Terkait asas freis ermessen, Sjachran Basah mengemukakan unsur-unsur


freis ermessen dalam suatu negara hukum, yaitu: 98
1. Ditujukan untuk menjalankan tugas-tugas servis publik;
2. Merupakan sikap tindak yang aktif dari administrasi negara;
3. Sikap tindak itu dimungkinkan oleh hukum;
4. Sikap tindak itu diambil atas inisiatif sendiri;
5. Sikap tindak itu dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
penting yang timbul secara tiba-tiba; dan
6. Sikap tindak itu dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral kepada
Tuhan Yang Maha Esa maupun secara hukum.

Keputusan-keputusan yang dibuat oleh pejabat administrasi negara


tersebut bersifat individual konkrit (tertuju pada suatu instansi atau orang
tertentu). Keputusan yang demikian merupakan keputusan yang bersifat penetapan
(beschikking). Di Indonesia, istilah beschikking pertama kali diperkenalkan oleh
WF. Prins. Istilah beschiking meliputi dua pengertian, yaitu ketetapan dan
keputusan. E. Utrecht, menggunakan istilah ketetapan, yang mengandung
pengertian perbuatan hukum yang bersegi satu, yang diadakan oleh alat-alat
pemerintah menurut suatu wewenang istimewa. Ketetapan itu dibuat dengan
maksud baik untuk menyelenggarakan hubungan-hubungan dalam lingkungan alat
negara (staatsorgan) yang membuatnya - ketetapan intern (interne beshikking) maupun menyelenggarakan hubungan-hubungan antara alat negara yang
membuatnya dengan seorang partikelir atau badan privat (swasta) atau antara dua
atau lebih alat negara - ketetapan ekstern (externe beschikking). 99
H.D. van Wijk/Willem Konijnenbelt sebagaimana dikutip oleh Ridwan
HR., menggunakan istilah keputusan, dengan memberikan pengertian beschikking
98

Sjahran Basah, Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Adminsitrasi Negara,
(Bandung: Alumni, 1985), hlm. 151
99

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, op.cit, hlm. 68

44
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

merupakan keputusan pemerintahan untuk hal yang bersifat konkret dan


individual (tidak ditujukan untuk umum) dan sejak dulu telah dijadikan istrumen
yuridis

pemerintahan

yang

utama. 100

Prajudi

merumuskan

penetapan

(beschikking) sebagai suatu perbuatan hukum sepihak yang bersifat administrasi


negara dilakukan oleh pejabat atau instansi penguasa (negara) yang berwenang
dan berwajib khusus untuk itu. Dalam pengertian ini, syarat utama dari penetapan
adalah bahwa tindak hukum atau perbuatan hukum (rechtshandeling) tersebut
harus sepihak (eenzijdig) dan harus bersifat administrasi negara, artinya realisasi
dari suatu kehendak atau ketentuan undang-undang secara nyata kasual,
individual. 101
Menurut Prajudi, perbuatan-perbuatan hukum (rechtshandelingen) serta
keputusan-keputusan (beslissingen) daripada administrasi negara yang nyata ada
empat, yakni (1) penetapan (beschikking), (2) rencana 102 (plan), (3) norma jabaran
(concrete normgeving), dan (4) legislasi-semu (pseudo-wetgeving). 103 Terkait
beschikking sebagai keputusan administrasi negara ini, E. Utrecht, membagi
beschikking (dalam istilah yang ia gunakan ketetapan) menjadi empat golongan,
yaitu: (i) ketetapan yang positif dan ketetapan yang negatif; (ii) ketetapan yang
deklaratur (declaratoir) dan ketetapan konstitutif (constitutief); (iii) ketetapan
yang kilat (vluchtig) dan ketetapan yang tetap (blijvend); dan dispensasi
(dispensatie), izin (vergunning), lisensi (licentie) dan konsesi (consessie). 104
Keputusan administrasi negara dalam bidang pertambangan mineral dan
batubara sesuai dengan UU Minerba berupa pemberian izin (IUP, IUPK, dan
IPR). Izin merupakan bentuk penetapan atau keputusan yang bersifat positif.
Menurut Prajudi, penetapan atau keputusan positif adalah keputusan yang
permohonannya dikabulkan (seluruhnya atau sebagian), diklasifikasikan menjadi
100

Ridwan HR., op.cit, hlm. 141

101

S. Prajudi Atmosudirjo, op. cit., hlm. 94

102

Rencana merupakan salah satu bentuk dari perbuatan hukum administrasi negara
yang menciptakan hubungan hukum (yang mengikat) antara penguasa dan para warga masyarakat,
berupa tindakan-tindakan terpadu dengan tujuan agar tercipta suatu keadaan yang tertib bilamana
tindakan-tindakan tersebut selesai direalisasikan (S. Prajudi Atmosudirjo, ibid., hlm. 99)
103

Ibid, hlm. 93

104

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, op. cit., hlm. 112 113

45
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

lima golongan, yakni: (i) penetapan yang menciptakan keadaan hukum


(rechtstoestand) baru pada umumnya; (ii) penetapan yang mencipta keadaan
hukum baru hanya terhadap suatu obyek tertentu saja; (iii) penetapan yang
membentuk/mencipta atau membubarkan suatu badan hukum; (iv) penetapan yang
memberi beban (kewajiban, obligasio) kepada suatu badan atau perorangan; (v)
penetapan administrasi negara yang memberikan keuntungan kepada suatu
instansi, badan, perusahaan, atau perorangan. 105
E. Utrecht, dengan istilah ketetapan, mengemukakan bahwa ketetapan
positif adalah ketetapan yang: (i) ketetapan yang menimbulkan hak dan
kewajiban;

(ii)

ketetapan

yang

menimbulkan

suatu

keadaan

hukum

(rechtssituatie) yang baru; (iii) ketetapan yang membatalkan suatu ketetapan yang
lain; (iv) ketetapan yang baru membatalkan ketetapan yang lama. 106 Sementara
itu, Philipus M. Hadjon membagi keputusan dilihat dari dampak suatu keputusan
terhadap orang, yang kepadanya keputusan itu ditujukan, yaitu: (i) keputusankeputusan dalam rangka ketentuan-ketentuan larangan dan/atau perintah (gebod);
(ii) keputusan-keputusan yang menyediakan sejumlah uang; (iii) keputusankeputusan yang membebankan suatu kewajiban keuangan; (iv) keputusankeputusan yang memberikan suatu kedudukan; (v) keputusan penyitaan. 107
Kewenangan penerbitan IUP berada pada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan letak WIUP untuk
IUP Eksplorasi, dan berdasarkan letak lokasi penambangan, lokasi pengolahan
dan pemurnian, lokasi pelabuhan khusus, atau berdasarkan dampak lingkungan
sesuai dengan dokumen lingkungan hidup yang telah disetujui oleh instansi yang
berwenang. 108 Untuk mencegah penyalahgunaan jabatan dan wewenang dalam

105

S. Prajudi Atmosudirjo, op. cit., hlm. 95-96

106

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, op. cit., hlm. 112

107

Philipus M. Hadjon, et. al, op.cit, hlm. 125-126

108

Instansi yang berwenang adalah Kementerian atau instansi daerah yang tugas dan
tanggung jawabnya di bidang pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan dan perlindungan lingkungan
hidup.

46
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pengambilan keputusan terhadap permohonan IUP, terdapat beberapa asas yang


dapat dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan dimaksud, yakni: 109
1. Asas-asas yang mengenai prosedur dan atau proses pengambilan keputusan,
yang bilamana dilanggar secara otomatis membuat keputusan yang
bersangkutan batal karena hukum tanpa memeriksa lagi kasusnya. Yang
termasuk dalam kategori ini, adalah:
a. Asas yang menyatakan, bahwa orang-orang yang ikut menentukan atau
dapat mempengaruhi terjadinya keputusan tidak boleh mempunyai
kepentingan pribadi (vested interest) di dalam keputusan tersebut, baik
secara langsung maupun tidak langsung; dan
b. Asas, bahwa keputusan-keputusan yang merugikan atau mengurangi hakhak seorang warga masyarakat atau warga negara tidak boleh diambil
sebelum memberi kesempatan kepada warga tersebut untuk membela
kepentingannya; dan
c. Asas yang menyatakan, bahwa konsiderans (pertimbangan, motivering)
dari keputusan wajib cocok dengan atau dapat membenarkan dictum
(penetapan) daripada keputusan tersebut, dan bahwa konsiderans tersebut
menggunakan fakta-fakta yang benar.
2. Asas-asas yang mengenai kebenaran dari fakta-fakta yang dipakai sebagai
dasar untuk pembuatan keputusannya. Yang termasuk dalam kategori ini
adalah asas: (i) larangan kesewenang-wenangan; (ii) larangan detournement
de pouvoir; (iii) kepastian hukum; (iv) larangan melakukan diskriminasi
hukum; dan (v) batal karena kecerobohan pejabat yang bersangkutan.

Dalam pembuatan ketetapan, selain harus memperhatikan asas-asas di


atas, maka administrasi negara harus memperhatikan ketentuan-ketentuan tertentu,
dalam hukum tata negara (mengenai kompetensi dan tujuan) maupun dalam
hukum administrasi negara (mengenai procedure). Diabaikannya asas-asas dan
ketentuan-ketentuan tertentu dalam pengambilan keputusan dapat berakibat
keputusan yang dibuat oleh administrasi negara menjadi tidak sah, dapat berupa:
(i) ketetapan yang batal, (ii) ketetapan yang batal karena hukum, atau (iii)
109

S. Prajudi Atmosudirjo, op. cit., hlm. 90-91

47
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

ketetapan yang dapat dibatalkan. 110 Van der Pot 111 sebagaimana dikutip oleh E.
Utrecht, mengemukakan empat syarat yang harus dipenuhi agar ketetapan dapat
berlaku sebagai ketetapan yang sah: 112
1. Ketetapan harus dibuat oleh alat (orgaan) yang berwenang (bevoegd)
membuatnya. Kewenangan dalam hal ini tidak hanya mencakup kewenangan
administrasi negara saja, tetapi termasuk di dalamnya kalangan badan
peradilan dan kalangan badan perundang-undangan. Yang sering terjadi dalam
pengambilan keputusan tidak sesuai dengan syarat kewenangan, berupa: (a)
tidak berwenang ratione materiae, yakni suatu alat negara lain yang
berwenang (pokok yang menjadi obyek ketetapan yang bersangkutan menurut
sifatnya harus termasuk kompetensi alat negara yang membuat ketetapan itu);
(b) ratione loci, yakni ketidakwenangan di karenakan bukan wilayah
kewenangan dari pejabat yang bersangkutan; dan (c) ratione temporis, yakni
ketidakwenangan karena salah kira dalam memberikan jangka waktu
berlakunya ketetapan.
2. Karena ketetapan itu suatu pernyataan kehendak (wilsverklaring), maka
pembentukan kehendak itu tidak boleh memuat kekurangan yuridis (geen
juridische gebreken in de wilsvorming). Kekurangan yuridis dalam
pembentukan kehendak alat negara dalam mengeluarkan suatu ketetapan dapat
disebabkan oleh: (a) salah kira (dwaling), terjadi bilamana seseorang (subyek
hukum) menghendaki sesuatu dan membuat suatu pernyataan yang sesuai
dengan kehendak itu, tetapi kehendak itu didasarkan pada suatu bayangan
tentang suatu hal yang salah, mengenai pokok maksud pembuat, mengenai
seseorang (subyek hukum), mengenai hak orang (subyek hukum) lain,

110

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, op. cit., hlm. 75

111

Selain persyaratan materiil sebagaimana telah dikemukakan oleh Van der Pot,
terdapat pula persyaratan formil yang menurut Van der Pot harus dipenuhi dalam membuat
ketetapan, yaitu: (E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, op. cit., hlm. 129)
1. Syarat-syarat yang ditentukan berhubung dengan persiapan dibuatnya ketetapan dan
berhubung dengan cara dibuatnya ketetapan, harus dipenuhi;
2. Ketetapan harus diberi bentuk yang ditentukan;
3. Syarat-syarat yang ditentukan berhubung dengan dilakukannya ketetapan, harus dipenuhi;
4. Jangka waktu yang ditentukan antara timbulnya hal-hal yang menyebabkan dibuatnya
ketetapan dan diumumkannya ketetapan itu, tidak boleh diliwati.
112

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, op. cit., hlm. 79-95

48
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

mengenai peraturan hukum, atau salah kira mengenai wewenang sendiri; (b)
paksaan (dwang); atau tipuan (bedrog).
3. Ketetapan harus diberi bentuk (vorm) yang ditetapkan dalam peraturan yang
menjadi dasarnya dan pembuatannya harus juga memperhatikan cara
(procedure) membuat ketetapan itu, bilamana cara itu ditetapkan dengan tegas
dalam peraturan dasar tersebut. Bentuk ketetapan ada dua macam, yakni: (a)
lisan (mondelinge beschikking), dibuat dalam hal yang tidak membawa akibat
kekal dan yang tidak begitu penting bagi administrasi negara, sehingga tidak
memerlukan ketetapan tertulis, dan bilamana oleh yang mengeluarkan suatu
ketetapan dikehendaki suatu akibat yang timbul dengan segera; (b) tertulis
(schriftelijke atau geschreven beschikking).
4. Isi dan tujuan ketetapan harus sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasar.
Tiap ketetapan yang dibuat harus berdasar pada undang-undang, dan isi dan
tujuannya harus sesuai dengan isi dan tujuan dari undang-undang yang
menjadi dasar ketetapan itu. Syarat ini adalah suatu syarat yang harus dipenuhi
dalam suatu negara hukum dan merupakan salah satu tiang (zuil) negara
hukum. Kranenburg-Vegting sebagaimana dikutip E. Utrecht, disebut empat
hal suatu alat negara memberi kepada ketetapan suatu isi yang-menurut
peraturan yang menjadi dasar ketetapan itu, tidak sesuai, yakni: 113
a. Suatu alat negara membuat ketetapan, tetapi peristiwa hukum atau
peristiwa yang bukan peristiwa hukum (juridische atau feitelijke
omstandigheid) yang melandasi dibuatnya ketetapan tidak ada dalam
peraturan atau tidak ada alasan untuk membuat ketetapan (geen oorzaak);
b.

Suatu alat negara membuat ketetapan, tetapi peristiwa-peristiwa yang


disebut dalam ketetapan itu dalam peraturan merupakan alasan untuk
pembuatan ketetapan yang lain atau salah alasan dalam membuat
ketetapan (valse oorzaak);

c. Suatu alat negara membuat ketetapan

sesuai dengan peraturan, tetapi

peristiwa-peristiwa yang disebut tidak dapat dijadikan alasan atau alasan


yang disebut tidak dapat dijadikan alasan dalam membuat ketetapan
(ongeoorloofde oorzaak);
113

Ibid., hlm. 94-95

49
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

d. Suatu alat negara membuat ketetapan, tetapi terjadi penyalahgunaan


wewenang atau menggunakan wewenang tidak sesuai dengan peraturan
(detournement de pouvoir).

Menurut Frederick C. Mosher, sebagaimana dikutip Tri Hayati, dalam


penyelenggaraan negara, keputusan administrasi negara merupakan keputusan
yang terbanyak dibandingkan dengan keputusan dari organ negara lain. Keputusan
tersebut dibuat oleh para pejabat negara yang diangkat bukan dipilih, dan
mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan masyarakat.
Macam keputusan tersebut tergantung pada kemampuan orientasi dan nilai para
pejabat tersebut berakar pada latar belakang, pendidikan dan pelatihan pejabat
tersebut. 114 Dalam praktek penyelenggaraan administrasi negara di Indonesia pada
masa sekarang, kewenangan untuk mengambil keputusan administrasi negara
dalam bentuk izin di bidang pertambangan mineral dan batubara berada pada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota. Menteri merupakan pejabat yang
ditunjuk oleh Presiden. Sedangkan gubernur dan bupati/walikota merupakan
pejabat administrasi negara yang dipilih 115 secara langsung oleh masyarakat
setempat melalui pemilihan kepala daerah (Pilkada). Ini berbeda dengan masa
orde lama dan orde baru, di mana gubernur dan bupati/walikota diangkat oleh
Pemerintah.

D. Izin
D. 1. Izin Sebagai Bentuk Keputusan Administrasi Negara
Lahirnya UU Nomor 4 Tahun 2009 sebagai salah satu pelaksanaan tugas
negara sebagai regeling, dan pengejawantahan HMN di dalam konstitusi, telah
mengatur penyelenggaraan dan pengelolaan usaha pertambangan untuk sumber
daya alam mineral dan batubara melalui pemberian wewenang kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya untuk pemberian

114

Tri Hayati, op. cit., hlm. 44

115

Indonesia (2), Pasal 18 ayat (4) menyebutkan bahwa Gubernur, Bupati, dan
Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah propinsi, kabupaten, dan kota dipilih
secara demokratis (perubahan II, 18 Agustus 2000)

50
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

izin kepada badan usaha, koperasi, dan perorangan 116 untuk mengusahakan
mineral dan batubara. Izin merupakan salah satu alat yang digunakan oleh
Pemerintah dalam pengelolaan usaha pertambangan mineral dan batubara dalam
rangka mencapai kesejahteraan umum sebagai tujuan negara negara kesejahteraan
Indonesia. Sejalan dengan pendapat E. Utrecht, bidang kedua tugas negara yang
tertuju pada bidang administrasi negara, maka izin merupakan salah satu bentuk
keputusan administrasi negara dalam rangka mencapai tujuan negara yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Indonesia sebagai negara kesejahteraan, dapat dilihat dari beberapa
indikator, antara lain:
1. Rumusan sila kelima Pancasila yang berbunyi Keadilan Sosial bagi Seluruh
Rakyat Indonesia. Ini berarti tujuan negara Indonesia adalah mewujudkan
kesejahteraan lahir dan batin bagi seluruh masyarakat Indonesia.
2. Alenia keempat UUD 1945 bahwa tujuan pembentukan negara Indonesia
adalah untuk melindungi sepenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
3. Rumusan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajad
hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan Bumi dan air dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dalam rangka mencapai tujuan negara untuk mewujudkan kesejahteraan


rakyat, negara melakukan campur tangan dalam penyelenggaraan pengelolaan
usaha pertambangan mineral dan batubara. Campur tangan Pemerintah tersebut
dilakukan dalam bentuk pengendalian langsung melalui pemberian izin di bidang
usaha pertambangan (IUP, IUPK, dan IPR). Menurut Irving Swerdlow
sebagaimana dikutip Tri Hayati, izin merupakan bentuk pemaksaan dari kegiatan
administrasi, di mana sistem perizinan pada dasarnya mencakup: (i) meletakkan
116

Indonesia (5), op. cit., Ps. 38 menyebutkan IUP diberikan kepada: a. badan usaha; b.
koperasi; dan c. perorangan.

51
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

standard perizinan (setting a standard for the licenses), (ii) melarang segala
bentuk kegiatan sampai mendapatkan izin (prohibiting action of this type until a
license

is

obtained),

(iii)

membentuk

prosedur

permohonan

perizinan

(establishing procedure for applying license), (iv) memberikan izin untuk


menunjukkan ketaatan terhadap standard yang telah ditentukan yang akan
berdampak pada perbaikan hukum (granting a license to show adherence to the
standard and conveying the legal right to proceed). Pemberian izin dapat dibuat
pada seluruh tingkat pemerintahan dan izin mempunyai tiga fungsi, yaitu: (1) To
limit the number of recipients, (2) To ensure that the recipients meet minimum
standards, (3) To collect funds. 117
Menurut Spelt dan Ten Berge, izin adalah suatu persetujuan dari
penguasa berdasarkan undang-undang atau peraturan pemerintah untuk dalam
keadaan tertentu menyimpang dari ketentuan ketentuan larangan perundangan,
dengan memberi izin penguasa memperkenankan orang yang memohonnya untuk
melakukan tindakan-tindakan tertentu yang sebenarnya dilarang Ini menyangkut
perkenaan bagi suatu tindakan yang demi kepentingan umum diharuskan
pengawasan khusus atasnya. 118 Sedangkan Van der Pot, mengemukakan bilamana
pembuat peraturan tidak umumnya melarang suatu perbuatan, tetapi masih juga
memperkenankannya asal saja diadakan secara yang ditentukan untuk masingmasing hal konkrit (sikap pembuat peraturan indefferent), maka keputusan
administrasi negara yang memperkenankan perbuatan tersebut bersifat suatu izin
(vergunning). Van der Pot memberikan pengertian izin bukan berdasar atas
hukum, tetapi didasarkan atas sikap dari pembuat peraturan terhadap suatu
perbuatan. 119
Di dalam perkembangannya, terdapat beberapa definisi tentang izin,
antara lain dikemukakan oleh: (i) Sjachran Basah sebagaimana dikutip Juniarso
Ridwan, izin adalah perbuatan hukum administrasi negara bersegi satu yang
mengaplikasikan peraturan dalam hal konkret berdasarkan persyaratan dan
prosedur

sebagaimana

ditetapkan

oleh

ketentuan

117

Tri Hayati, op. cit., hlm. 45-46

118

NM Spelt dan Ten Berge, op. cit., hlm. 3

119

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, op. cit. hlm. 114

peraturan

perundang-

52
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

undangan; 120 dan (ii) Bagir Manan sebagaimana dikutip Ridwan HR, izin
merupakan suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan peraturan perundangundangan untuk memperbolehkan melakukan tindakan atau perbuatan tertentu
yang secara umum dilarang. 121
Dari beberapa pendapat tentang izin diatas, dapat disebutkan bahwa izin
adalah perbuatan pemerintah bersegi satu berdasarkan peraturan perundangundangan untuk diterapkan pada peristiwa konkret menurut prosedur dan
persyaratan tertentu. Dari pengertian tersebut, ada beberapa unsur dalam
perizinan, yaitu sebagai berikut: 122 (i) berupa instrumen yuridis dalam bentuk
keputusan Tata Usaha Negara; (ii) dibuat berdasarkan wewenang yang diberikan
oleh peraturan perundang-undangan atau berdasarkan diskresionare power; (iii)
dikeluarkan oleh organ pemerintah; (iv) ditujukan pada peristiwa konkret; (v)
telah memenuhi prosedur dan persyaratan tertentu.
Dari unsur-unsur tersebut terlihat bahwa izin merupakan instrumen
yuridis yang digunakan oleh pemerintah untuk mempengaruhi para warga agar
mau mengikuti cara yang dianjurkannya guna mencapai suatu tujuan konkret.
Sebagai suatu instrumen, izin berfungsi selaku ujung tombak dari instrumen
hukum sebagai pengarah, perekayasa, dan perancang masyarakat sehingga
terwujud masyarakat adil dan makmur. Dengan mengikatkan diri pada suatu
sistem perizinan, pembuat undang-undang dapat mencapai berbagai tujuan,
yaitu: 123 (i) keinginan mengarahkan (mengendalikan - sturen) aktifitas-aktifitas
tertentu (misalnya izin bangunan); (ii) mencegah bahaya bagi lingkungan (izinizin lingkungan); (iii) keinginan melindungi obyek-obyek tertentu (izin tebang,
izin membongkar pada monument-monumen); (iv) hendak membagi benda-benda
120

Juniarso Ridwan dan Ahmad Sodik Sudrajat, loc. cit., hlm. 92 (Definisi izin diambil
dari Makalah yang disampaikan Sjachran Basah pada Penataran Hukum Administrasi dan Hukum
Lingkungan di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, 1995, dengan judul Pencabutan
Izin Salah Satu Sanksi Hukum Administrasi, hlm. 3)
121

Ridwan HR, op.cit., hlm. 199 (Definisi izin diambil dari Makalah yang disampaikan
Bagir Manan, tidak dipublikasikan, di Jakarta, 1995, dengan judul Ketentuan-Ketentuan
Mengenai Peraturan Penyelenggaraan Hak Kemerdekaan Berkumpul Ditinjau dari Perspektif
UUD 1945, hlm. 8)
122

Bab V, Sistem Pemerintahan, http://www.fakultashukum-universitaspanjisakti.com


/informasi-akademis/bahan-kuliah/33-bahan-kuliah-han.html, diunduh 1 Juni 2012
123

NM Spelt dan Ten Berge, op. cit., hlm. 9

53
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

yang sedikit (izin penghunian di daerah padat penduduk); dan (v) pengarahan
dengan menyeleksi orang-orang dan aktifitas-aktifitas (izin berdasarkan Dranken Horecawet, di mana pengurus harus memenuhi syarat-syarat tertentu).
Selain istilah izin, perlu pula disajikan pengertian lain yang termasuk
dalam definisi perizinan dalam arti luas, yaitu dispensasi dan konsesi. Dispensasi
adalah keputusan administrasi negara yang dimaksudkan untuk meniadakan
akibat-akibat suatu peraturan yang oleh pembuat peraturan tidak diharapkan. 124
Menurut Spelt dan Ten Berge 125 pelepasan atau pembebasan (dispensasi) adalah
kecualian atas larangan sebagai aturan umum. Pemberian perkenan berhubungan
erat dengan keadaan-keadaan khusus peristiwa, di mana aturan-aturan tersebut
pada dasarnya dimaksudkan untuk ditaati, demi mendapatkan pengawasan
optimal, suatu sistem dispensasi telah dimasukkan dalam undang-undang.
Menurut WF. Prins dalam Ridwan HR mengatakan bahwa dispensasi adalah
tindakan pemerintahan yang menyebabkan suatu peraturan undang-undang
menjadi tidak berlaku bagi sesuatu hal yang istimewa (relaxatio legis). 126
Kadang-kadang pembuat peraturan beranggapan bahwa suatu perbuatan
yang penting bagi umum, sebaiknya dilakukan oleh subyek hukum partikelir
dengan turut campur fihak pemerintah. Suatu keputusan administrasi negara yang
memperkenankan yang bersangkutan mengadakan perbuatan tersebut, membuat
suatu konsesi (concessie). 127 Menurut Prins, antara izin dan konsesi itu suatu
perbedaan nisbi (relatif) saja. Konsesi itu suatu izin pula, tetapi suatu izin yang
mengenai hal-hal yang penting bagi umum. 128
Sistem perizinan dipilih sebagai bentuk campur tangan langsung
administrasi negara dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan
mineral dan batubara, yang mewajibkan subyek hukum memiliki izin terlebih

124

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, loc. cit., hlm. 114

125

NM Spelt dan Ten Berge, op.cit., hlm. 6

126

Ridwan HR, op.cit., hlm. 197

127

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, loc. cit., hlm. 114

128

Ibid., hlm. 115

54
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dahulu sebelum melaksanakan kegiatan usaha pertambangan, terdapat beberapa


alasan, antara lain: 129
1. Segi pungutan, Penguasa ingin mendapatkan pajak dan berbagai pungutan lain
dari perizinan yang diberikan;
2. Segi dokumentasi dan informasi, Penguasa ingin mencatat dan mengetahui
orang atau badan usaha yang melakukan kegiatan usaha dan jenis kegiatan
usahanya di wilayahnya;
3. Segi ekonomi, Penguasa ingin mengatur kegiatan perekonomian di
wilayahnya dengan berbagai cara, antara lain dengan pembatasan pemberian
izin;
4. Segi kepentingan Penguasa, pembatasan izin untuk usaha tertentu dan untuk
orang tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu dengan penguasa
tertentu;
5. Segi pengendalian, izin digunakan oleh Penguasa untuk mengendalikan suatu
kegiatan usaha yang dilakukan di wilayahnya;
6. Segi hukum, Penguasa mewajibkan para usahawan di wilayahnya untuk
mematuhi segala ketentuan yang berlaku dan persyaratan-persyaratan yang
telah ditetapkan;
7. Segi

kepastian

usaha,

izin

memberikan

kepastian

usaha

bagi

penerimanya/pemegang izin;
8. Segi lain-lain, perizinan berkaitan dengan berbagai segi, antara lain: keamanan
(security), kesejahteraan (welfare), kemasyarakatan (community), sosial
(social), lingkungan (environment).

Izin dalam arti sempit atau yang disebut dengan istilah vergunning
sebagai suatu instrument yuridis yang berbentuk keputusan administrasi negara,
menurut WF. Prins, termasuk kategori izin yang bersifat publik, merupakan
penetapan dispensasi daripada suatu larangan oleh undang-undang. 130 Izin sebagai

129

Safri Nugraha, et. al., op.cit. hlm. 124-127

130

Prajudi Atmosudirjo, op. cit., hlm. 97

55
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

suatu penetapan (beschikking), bentuk dari ketetapan 131 administrasi negara,


memuat empat unsur: 132
1. Adanya perbuatan hukum: sebagai perbuatan hukum, maka ketetapan
melahirkan hak dan kewajiban bagi pihak tertentu;
2. Bersifat sebelah pihak: ketetapan merupakan perbuatan sebelah pihak yang
berdasarkan hukum publik (publiekrechtstelijk), jadi tetap mengikat
masyarakat. Berarti perbuatannya mencerminkan kehendak satu pihak saja,
yaitu pihak Pemerintah yang mempunyai wewenang, sehingga walaupun
bersifat sebelah pihak tetapi tetap mengikat umum;
3. Dalam lapangan pemerintahan: yang membuat ketetapan dan yang
melaksanakan peraturan adalah fungsi dari pemerintahan (eksekutif), bukan
oleh peradilan (yudikatif) atau bukan juga pembuat peraturan perundangundangan (legislatif). Atau dapat dikatakan bahwa ketetapan adalah perbuatan
pemerintah (overhead) yang khusus berada dalam lapangan pemerintahan
yang dilakukan oleh organ-organ atau badan-badan pemerintah (bestuur);
4. Berdasarkan kekuasaan khusus: kekuasaan khusus adalah kekuasaan yang
diperoleh dari undang-undang yang diberikan khusus kepada pemerintah saja
dan tidak diberikan kepada badan-badan lainnya (yudikatif dan legislatif).

Izin yang merupakan keputusan dari pejabat ini diberikan berdasarkan


atas permohonan tertulis dan dapat diulang apabila permohonan ditolak. Izin
mempunyai sifat individual, konkrit, kasual, dan eenmaalig (sekali diberikan
selesai). Dalam arti bahwa izin harus bersifat individual, ditujukan kepada subyek
hukum tertentu (orang perorangan atau badan hukum tertentu). Izin bersifat
konkrit, artinya bahwa keputusan bersifat nyata untuk suatu hal tertentu. Jadi tidak
bersifat abstrak seperti peraturan perundang-undangan yang mengatur umum. Izin
bersifat kasual, artinya bahwa ketetapan tentang izin ditetapkan untuk masalahmasalah tertentu, yang memerlukan dispensasi dari pejabat yang berwenang. Izin

131

Ketetapan adalah suatu perbuatan hukum sepihak yang bersifat administrasi negara,
yang dilakukan oleh suatu instansi atau badan pemerintah (penguasa) yang berwenang dan
berwajib khusus untuk itu (Prajudi Atmosudirjo, op. cit., hlm. 94)
132

Safri Nugraha, et. al., op.cit. hlm. 77

56
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

bersifat eenmaalig, artinya bahwa izin diberikan untuk satu kali saja dan tidak
diberikan untuk berkali-kali terhadap suatu penetapan. 133
Izin tambang sebagai bentuk campur tangan penguasa melalui
pengendalian langsung, dalam penerbitannya harus sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Dengan demikian setiap orang yang mendapatkan izin harus
memenuhi persyaratan dan mekanisme yang telah ditetapkan dalam peraturan.
Pejabat administrasi negara dalam menerbitkan izin juga harus berdasarkan pada
peraturan perundang-undangan. Sedangkan pembentukan peraturan perundangundangan yang mengatur persyaratan, mekanisme permohonan izin dan
mekanisme penerbitan izin merupakan campur tangan pemerintah dalam bentuk
pengendalian tidak langsung terhadap pelaksanaan kegiatan administrasi negara.

D. 2. Izin dalam Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batubara


D. 2. 1. Izin Tambang dalam Lintasan Sejarah
D. 2. 1. 1. Izin Tambang Era
Kolonialisme Belanda

Kerajaan

Nusantara

dan

Sebelum

Kegiatan pertambangan di Indonesia, telah dimulai ribuan tahun yang


lalu, sejak masa kerajaan nusantara, di mana dalam perdagangan telah dilakukan
jual beli emas dan perak dengan negara lain (Cina, Arab, India). Pada masa
kerajaan nusantara penambangan dilakukan berdasarkan perintah lisan dari raja
atau tulisan pada pelepah lontar. 134
Pada tahun 1709 VOC Belanda melakukan perjanjian pembelian timah
dengan Sultan Palembang yang ditindaklanjuti dengan penggalian timah di Pulau
Bangka, Belitung dan Singkep. 135 Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1800,
pengusahaan timah diambil alih oleh Belanda, dengan mendirikan Bangka Tin

133

Tri Hayati, op. cit., hlm, 52

134

Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia, http://library.utem.edu.my/emelaka/koleksi%20


melaka/sejarah/mn2008.pdf, diunduh 4 Desember 2013
135

Sabtanto Joko Suprapto, Tinjauan Bahan Galian Tertinggal Pada Wilayah Bekas
http://psdg.bgl.esdm.go.id/buletin_pdf_file/Bul%20Vol%202%20
Tambang
di
Indonesia,
no.%203%20thn%202007/1.%20Tinjauan%20bahan%20galian%20tert;.%20P.%20Sabtanto.pdf,
diunduh 4 Desember 2013

57
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Winning Bedrijft (BTW), Gemeenschaappelijke Mijnbouw Maatschaappij Billiton


(GMB), dan Singkep TIN Exploitatie Maatschappij (SITEM). 136

D. 2. 1. 2. Izin Tambang Era Kolonialisme Belanda


Pada awal masa kolonialisme Belanda, pengusahaan pertambangan
didasarkan pada aturan yang ada di negeri Belanda, yaitu Undang-Undang
Pertambangan Tahun 1810. Baru pada tahun 1899, Pemerintah Kolonial Belanda
mulai membuat aturan tertulis mengenai pertambangan di wilayah Hindia Belanda
melalui Indische Mijnwet (Staatblad 1899-214), sebagai Undang-Undang
Pertambangan pertama produk Hindia Belanda. Dalam Indische Mijnwet 1899,
terdapat perlakuan diskriminatif untuk pengusahaan bahan tambang, seperti
tercermin dalam Pasal 4 ayat (1) yang menyatakan bahwa, surat izin penyelidikan
atau konsesi tidak boleh diberikan, kecuali kepada: (a) orang Belanda, (b)
penduduk Belanda dan penduduk Hindia Belanda, dan (c) perusahaan yang
berkedudukan di Belanda dan Hindia Belanda yang pengurusnya mayoritas orang
Belanda atau penduduk Hindia Belanda.
Pada tahun 1910, Indische Mijnwet 1899 diamandemen dengan
penambahan Pasal 5A, yang mengatur pengusahaan pertambangan oleh bukan
orang Belanda dan bukan penduduk Hindia Belanda, dilakukan berdasarkan
kontrak dengan Pemerintah Hindia Belanda. 137 Dalam praktek perjanjian antara
swasta dengan Pemerintah Hindia Belanda, dikenal dengan istilah Kontrak 5A.
Dengan adanya Pasal 5A, yang membuka peluang untuk keterlibatan swasta
dalam melakukan penambangan, pada akhir tahun 1938 jumlah konsesi (hak
pertambangan) dan lisensi (izin pertambangan) yang masih berlaku sebanyak 471
buah, diantaranya terdiri dari: 268 konsesi dalam Indische Mijnwet, 148 izin
penambangan galian yang tidak diatur Indische Mijnwet (bahan galian bukan
logam yang dianggap kurang penting), 14 izin eksplorasi dan 34 izin eksplorasi

136

http://www.timah.com/v2/ina/tentang-kami/5410052012110557/sejarah/, diunduh 4
Desember 2013
137

Tri Hayati, op. cit., hlm. 75

58
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dan eksploitasi yang tunduk pada ketentuan 5a kontrak, dan 2 izin usaha patungan
antara Pemerintah dengan swasta. 138

D. 2. 1. 3. Izin Tambang Era Awal Kemerdekaan


Pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1945-1949 Indonesia mulai
melakukan pembenahan terhadap tambang yang ditinggalkan penjajah termasuk
menyusun kebijakan dalam pengelolaannya. Pada masa revolusi kemerdekaan
Indonesia ini, pembenahan dan pengusahaan pertambangan masih berdasarkan
pada Indizche Mijnwet peninggalan Belanda. Indische Mijnwet berlaku sampai
dengan tahun 1959. Baru pada tahun 1960 pemerintah menerbitkan suatu
peraturan mengenai pertambangan yang diundangkan sebagai Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang kemudian menjadi Undang-Undang
Nomor 37 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan (UU Nomor 37 Prp. Tahun
1960) yang lebih dikenal sebagai Undang-Undang Pertambangan 1960.
Berdasarkan UU Nomor 37 Prp. Tahun 1960, izin diberikan berupa KP.

D. 2. 1. 4. Izin Tambang berdasar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967


tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan
Dalam masa berlakunya UU Nomor 11 Tahun 1967 ini kuasa
pertambangan yang pada waktu itu didominasi oleh perusahaan asing diberikan
dalam bentuk kontrak

(Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan

Pertambangan Batubara) yang mana masa kontraknya 35 tahun dan dapat


diperpanjang 25 tahun sehingga bila ditotalkan jangka waktu untuk satu kontrak
kerja adalah 60 tahun. Bentuk perizinan berupa KP (Penugasan, IPR, KP), dan
kontrak/perjanjian karya dengan kewenangan ada pada Menteri. Pengusahaan
pertambangan mineral dan batubara lebih didominasi oleh modal asing, baik pihak
yang mempunyai izin atau berkontrak maupun pihak yang bergerak di bidang jasa
pertambangan (sub kontraktor).
Pada tahun 2001, seiring bergulirnya otonomi daerah, diterbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua Atas
138

Otong Rosadi, Inkorporasi Prinsip Keadilan Sosial dalam Pembentukan UndangUndang tentang Kehutanan dan Undang-Undang tentang Pertambangan Periode Tahun 19672009, Ringkasan Disertasi, Universitas Indonesia, Depok, 2010, hlm. 103

59
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok


Pertambangan, yang memberikan kewenangan pemberian KP sampai pada
pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota, baik untuk pengusahaan bahan
galian yang bersifat strategis, vital, maupun yang tidak termasuk keduanya.

D. 2. 2. Izin Tambang dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang


Pertambangan Mineral dan Batubara
Bentuk dan jenis izin yang diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 dan
peraturan pelaksananya, terdiri atas: (i) IUP, terdiri atas IUP Eksplorasi 139 dan
IUP Operasi Produksi; 140 (ii) IUPK, terdiri atas IUPK Eksplorasi 141 dan IUPK
Operasi Produksi 142; (iii) IPR; 143 (iv) Izin sementara; (v) IUP Operasi Produksi
untuk penjualan; (vi) IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan
penjualan; (vii) Izin Prinsip untuk pengolahan dan/atau pemurnian 144; dan (viii)
IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian. Selain itu
terdapat pula izin yang diberikan kepada pelaku jasa pertambangan, yaitu Izin
Usaha Jasa Pertambangan (IUJP).
UU Nomor 4 Tahun 2009 menghormati berlakunya kontrak dan KP yang
telah ada sebelum berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009, dengan kewajiban
menyesuaikan dengan undang-undang ini. Penyesuaian kontrak diberi jangka
waktu paling lama satu tahun sejak berlakunya undang-undang sesuai dengan
139

IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan
penyelidikan unium, eksplorasi, dan studi kelayakan, (Indonesia (5), op. cit., Ps. 1 angka 8).
140

IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang dlberikan setelah selesai pelaksanaan
IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi, (Ibid., Ps. 1 angka 9).
141

IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan
kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan di wilayah izin usaha pertambangan
khusus (Ibid., Ps. 1 angka 10).
142

IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan
IUPK Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi di wilayah izin usaha
pertambangan khusus, (Ibid., Ps. 1 angka 11)
143

IPR adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah


pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan investasi terbatas (Ibid., Ps. 1 angka 10)
144

Izin Prinsip untuk pengolahan dan/atau pemurnian adalah izin yang diberikan
sebelum perusahaan mendapatkan IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau
pemurnian sebagai persyaratan dalam pengurusan perizinan dari instansi terkait dan persiapan
dokumen lainnya.

60
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Pasal 169 UU Nomor 4 Tahun 2009. Sedangkan untuk penyesuaian KP diberi


jangka waktu tiga bulan sejak berlakunya PP Nomor 23 Tahun 2010 sesuai
dengan ketentuan Pasal 112 angka 4 PP Nomor 23 Tahun 2010.

E. Hak Menguasai Negara


Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menentukan bahwa Bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dalam ayat ini dapat
dilihat terdapat tiga hal penting, yaitu: (i) bumi dan air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya, (ii) dikuasai oleh negara, (iii) dimanfaatkan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Menurut Jimly Asshiddiqie, pengertian dikuasai oleh negara dalam
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dalam makna dimiliki oleh negara, yaitu
kepemilikan dalam arti yang luas, kepemilikan dalam pengertian hukum publik.
Dalam pengertian ini, tidak hanya dipahami sekedar penguasaan melalui kontrol
dan fungsi regulasi semata. Dengan dikuasai oleh negara, maka kekayaan sumber
daya alam yang kita miliki, seluruhnya adalah untuk kepentingan rakyat. 145
Mengenai pengertian dikuasai oleh negara, Jimly membandingkan
dengan membandingkan rumusan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dengan rumusan
yang mirip dalam konstitusi negara-negara lain. Untuk pengertian yang sama
dengan dikuasai oleh negara itu, ada negara yang menggunakan istilah owned
by, belong to, atau ada yang tegas menyebutnya sebagai states property.
Misalnya dalam Konstitusi RRC 1982 Pasal 9 menentukan Mineral resources,
waters, forrests, mountains, grassland, wild land, beaches and other natural
resources are owned by the state, ; with the exception of the forrest, mountains,
grassland, wild land, and beaches that are owned by collectives in accordance
with the law. Dalam Konstitusi Taiwan Pasal 143 ayat (2) menentukan Mineral
ores embedded in the land and natural forces which can be economically utilized
for public benefit shall belong to the State, even if ownership of the land may
have been acquired by private individuals. 146
145

Jimly Asshiddiqie, op. cit., hlm. 281

61
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Sedangkan istilah state property digunakan dalam Konstitusi Uni Soviet


tahun 1918 yang berlaku sampai dengan Konstitusi Uni Soviet yang terakhir
tahun 1977. Dalam Pasal 11 diatur tentang hak milik negara (state property),
berisi dua ayat, yaitu: (1) Kekayaan negara, yaitu kekayaan bersama seluruh
rakyat Soviet, adalah bentuk utama dari kekayaan sosialis, dan (2) Tanah dan
mineral, air dan hutan merupakan kekayaan negara yang bersifat eksklusif;
demikian pula negara memiliki sarana dan prasarana dasar atau infrastruktur
untuk menunjang sektor perindustrian, konstruksi, dan pertanian; sarana dan
prasarana transportasi dan komunikasi; bank; kekayaan organisasi dan badanbadan usaha negara; sarana dan prasarana umum; dan lain sebagainya, secara
langsung dinyatakan dimiliki oleh negara. 147
Terkait konsep HMN atas sumber daya alam, Mahkamah Konstitusi
(MK) telah memberikan pengertian atas HMN dalam Putusan MK pada perkara
nomor 01-021-022/PUU-I/2003 mengenai pengujian Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan 148, tanggal 21 Desember 2004 dan
002/PUU-I/2003 mengenai pengujian Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001
tentang Minyak dan Gas Bumi, 149 tanggal 4 Januari 2005, yang merumuskan
bahwa:

pengertian dikuasai oleh negara dalam Pasal 33 UUD 1945 mengandung


pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas daripada pemilikan dalam
konsepsi hukum perdata, maka penguasaan sumber daya alam mineral
dan batubara oleh negara merupakan konsepsi hukum publik yang
berkaitan dengan prinsip kedaulatan rakyat yang dianut dalam UUD
1945, baik di bidang politik (demokrasi politik) maupun ekonomi
146

Ibid, hlm. 279 280

147

Ibid, hlm. 88 (dalam catatan kaki disebutkan State property, i.e. the common
property of the Soviet people, is the principal form of socialist property dan The land, its
minerals, waters, and forests are the exclusive property of the state. The state owns the basic
means of production in industry, construction, and agriculture; means of transport and
communication; the banks; the property of state-run trade organizations and public utilities, and
other state-run undertakings; most urban housing; and other property necessary for state
purposes.
148

Mahkamah Konstutusi (2), Putusan Mahkamah Konstitusi atas Perkara Nomor 01021-022/PUU-I/2003 (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 2004), hlm. 332-333
149

Mahkamah Konstitusi (3), Putusan Mahkamah Konstitusi atas Perkara Nomor


002/PUU-I/2003 (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2005), hlm. 207

62
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

(demokrasi ekonomi). Dalam paham kedaulatan rakyat itu, rakyatlah


yang diakui sebagai sumber, pemilik dan sekaligus pemegang kekuasaan
tertinggi dalam kehidupan bernegara, sesuai dengan doktrin dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat, yang mencakup pula pengertian
kepemilikan publik oleh rakyat secara kolektif.
Dalam Putusan MK atas perkara nomor 01-021-022/PUU-I/2003 150 dan
002/PUU-I/2003 151 di atas, juga memberikan pengertian atas konsep HMN
sebagai berikut:
Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan oleh UUD 1945 memberikan
mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan (beleid) dan
tindakan pengurusan (bestuursdaad), pengaturan (regelendaad),
pengelolaan (beheersdaad), dan pengawasan (toezichthoudensdaad)
untuk tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Fungsi pengurusan
(bestuursdaad) oleh negara dilakukan oleh Pemerintah dengan
kewenangannya untuk mengeluarkan dan mencabut fasilitas perijinan
(vergunning), lisensi (licentie), dan konsesi (consessie). Fungsi
pengaturan oleh negara (regelendaad) dilakukan melalui kewenangan
legislasi oleh DPR bersama Pemerintah, dan regulasi oleh Pemerintah.
Fungsi pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme
pemilikan saham (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan langsung
dalam manajemen Badan Usaha Milik Negara atau Badan Hukum Milik
Negara sebagai instrumen kelembagaan, yang melaluinya Negara, c.q.
Pemerintah, mendayagunakan penguasaannya atas sumber-sumber
kekayaan itu untuk digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
Demikian
pula
fungsi
pengawasan
oleh
negara
(toezichthoudensdaad) dilakukan oleh negara, c.q. Pemerintah, dalam
rangka mengawasi dan mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh
negara atas sumber-sumber kekayaan dimaksud benar-benar dilakukan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat.

Dari kedua Putusan MK di atas, HMN atas sumber daya alam mineral
dan batubara mengandung pengertian yang lebih luas dari kepemilikan dalam
konsepsi perdata. HMN mengandung pengertian kepemilikan oleh publik, oleh
seluruh rakyat Indonesia, di dalamnya terdapat prinsip kedaulatan rakyat. Dalam
pelaksanaan terhadap sumber daya alam mineral dan batubara, rakyat memberikan
mandat kepada negara untuk membuat kebijakan, mengurus, mengatur,

150

Mahkamah Konstitusi (2), op.cit., hlm. 334

151

Mahkamah Konstitusi (3), op.cit., hlm. 208-209

63
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

mengelola, dan melakukan pengawasan untuk mencapai tujuan sebesar-besarnya


kemakmuran rakyat. Fungsi negara diawali dengan pengaturan terhadap sumber
daya mineral dan batubara, yang dilandasi oleh Konstitusi Negara (UUD 1945)
Pasal 33 ayat (3) di mana pengaturan terhadap pengurusan, pengelolaan,
pemanfaatan atas mineral dan batubara harus bisa mewujudkan sebesar-besarnya
kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, tanpa membedakan suku, ras, agama,
kelompok/golongan.
Fungsi

pengaturan 152

dilaksanakan

oleh

DPR

bersama

dengan

Pemerintah melalui pembentukan undang-undang yang mengatur mengenai


pertambangan mineral dan batubara (UU Nomor 4 Tahun 2009). Selanjutnya
Pemerintah membentuk Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari UU
Minerba. Selanjutnya fungsi pengurusan, pengelolaan, dan pengawasan
dilaksanakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah berdasarkan UU Nomor 4
Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah pelaksananya.
Konsep HMN dalam UU Nomor 4 Tahun 2009, dapat digambarkan
sebagai berikut:

Gambar 2.1. Gambar Konsep HMN dalam UU Nomor 4 Tahun 2009

152

Indonesia (2), Ps. 5 ayat (1) berbunyi Presiden berhak mengajukan rancangan
Undang-Undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Ayat (2) berbunyi Presiden menetapkan
Peraturan Pemerintah untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (Perubahan I
tanggal 19 Oktober 1999, sebelumnya ayat (1) berbunyi Presiden memegang kekuasaan
membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

64
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

F. Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan


Dalam

penyelenggaraan

administrasi

negara

khususnya

untuk

pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, pembentukan hukum melalui


pembentukan peraturan perundang-undangan sangatlah penting. Peraturan
perundang-undangan

pada

dasarnya

merupakan

proses

penyelenggaraan

negara/pemerintah dalam rangka tercapainya tata tertib dalam bernegara.


Peraturan perundang-undangan merupakan alat atau sarana untuk tercapinya citacita dan tujuan negara yaitu kesejahteraan masyarakat (welfare state). Untuk
mewujudkan cita-cita dan tujuan Negara Republik Indonesia harus didasarkan
pada: 153 (i) Proklamasi Kemerdekaan 17 agustus 1945, yang merupakan dasar
hukum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); (ii) Filsafat
Bangsa/Dasar Negara yaitu Pancasila yang merupakan Landasan Idiil dan Sumber
dari segala sumber hukum; (iii) Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan
Landasan Konstitusional bagi setiap peraturan Perundang-Undangan yang berlaku
di Negara ini.
Perundang-undangan (legislation, wetgeving, atau gesetzgebung), dalam
beberapa kepustakaan mempunyai dua pengertian yang berbeda. Legislation
diartikan dengan perundang-undangan dan pembuatan undang-undang, wetgeving
diterjemahkan dengan pengertian membentuk undang-undang dan keseluruhan
daripada undang-undang negara, sedangkan gesetzgebung diterjemahkan dengan
pengertian perundang-undangan. 154 Melihat pegertian di atas, dua pengertian dari
istilah perundang-undangan dapat disimpulkan sebagai berikut: (i) Perundangundangan sebagai sebuah proses pembentukan atau proses membentuk peraturanperaturan negara, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah; dan (ii)
Perundang-undangan sebagai segala peraturan negara, yang merupakan hasil
proses pembentukan peraturan-peraturan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat
daerah.

153

Bewa Ragawino, Sistem Peraturan Perundang-Undangan Negara Republik


Indonesia, Penelitian, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjajaran, Bandung,
2005, hal. 3
154

Maria Farida Indrati S., Ilmu Perundang-Undangan (1), Jenis, Fungsi, Materi
Muatan, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 10

65
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan, pada saat


pembentukan UU Nomor 4 Tahun 2009 berlaku Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (UU Nomor
10 Tahun 2004). Dalam pembentukan PP Nomor 24 Tahun 2012 berlaku UndangUndang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan (UU Nomor 12 Tahun 2011). Istilah yang digunakan dalam kedua
undang-undang tersebut adalah peraturan perundang-undangan, didefinisikan
sebagai:
1. Dalam Pasal 1 UU Nomor 10 Tahun 2004, peraturan tertulis yang dibentuk
oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara
umum.
2. Dalam Pasal 1 angka 2 UU Nomor 12 Tahun 2011, peraturan tertulis yang
memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau
ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur
yang ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan.

Terkait pembentukan peraturan perundang-undangan, Lon L. Fuller


dalam bukunya Morality of Law, mengemukakan pentingnya moral dalam hukum
termasuk dalam pembentukan aturan. Moralitas, menjadi bangunan dalam
pembentukan peraturan perundang-undangan dalam mengatur masyarakat. Lon F.
Fuller membedakan moral menjadi dua, yaitu: 155
1. Morality of duty, berkenaan dengan moral yuridis yaitu syarat-syarat minimal
yang harus dipenuhi oleh tatanan kemasyarakatan, yang ditujukan pada sikap
warga masyarakat, yang dapat diterapkan dengan membentuk aturan hukum.
Morality of duty inilah yang ditransformasikan ke dalam hukum positif,
sehingga morality of duty memungkinkan untuk diubah atau disesuaikan
dengan hukum positif.
2. Morality of aspiration, mengarah kepada manusia individual dalam upayanya
mencapai kesempurnaan. Moral aspirasi lebih banyak memiliki jalan daripada
estetika dan memberikan kebebasan kepada individu untuk menempuh
jalannya sendiri.
155

J.J.H. Bruggink, Refleksi Hukum, diterjemahkan oleh Arief Sidarta, (Bandung: PT.
Citra Aditya Bhakti, 1996), hlm. 260

66
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Fuller juga membedakan moralitas menjadi: 156


1. Moralitas hukum internal terdiri atas syarat-syarat formal yang harus dipenuhi
agar layak menyandang nama hukum. Syarat-syarat formal ini adalah sejenis
aturan-aturan teknikal yang diperlukan untuk membentuk hukum. Aturanaturan yang tidak memenuhi tuntutan-tuntutan moral hukum internal, tidak
dapat dipandang sebagai aturan hukum dan keputusan hukum.
2. Moralitas hukum eksternal, berkenaan dengan syarat-syarat substansial bagi
hukum, jika ingin berfungsi dengan baik dan disebut adil, termasuk bahwa
hukum

itu

harus

mempertahankan

standar

hidup

minimal

dan

menyelenggarakan ketertiban dan keamanan di dalam masyarakat, hukum juga


harus melindungi pihak-pihak yang lemah.

Selain Fuller, Thomas Aquinas juga mengemukakan pandangannya


tentang hubungan hukum dengan moral. Ia memberikan pengertian hukum
sebagai Quendam rationis ordiratio ad bonum commune, ab eo curam
communitatis habet, promulgata (perintah yang masuk akal, yang ditujukan
untuk kesejahteraan umum, dibuat oleh mereka yang mengemban tugas suatu
masyarakat dan dipromulgasikan atau diundangkan). 157 Thomas Aquinas
merumuskan bahwa tujuan hukum tidak lain adalah untuk menghadirkan
kesejahteraan bagi rakyat secara umum, meliputi antara lain: keadilan,
perdamaian, ketentraman hidup, keamanan, dan jaminan bagi warganya. 158 Hal ini
berhubungan erat dengan hukum kodrat. Thomas Aquinas menyebutkan hukum
kodrat berakar pada kodrat manusia, bergerak pada hakikat manusia dan terarah
demi kesejahteraan dan kebahagiaaan manusia itu sendiri untuk mewujudkan
hukum positif yang adil, yang memiliki daya ikat melalui hati nurani. Hukum
positif disebut adil jika memenuhi syarat: diperintahkan atau diundangkan demi
156

Ibid., hlm. 261.

157

Otong Rosadi, Hukum Kodrat, Pancasila, dan Asas Hukum dalam Pembentukan
Hukum di Indonesia, Jurnal Dinamika Hukum, Vol. 10 No. 3, 3 September 2010, hlm. 278,
Fakultas Hukum dan Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Ekasakti Padang,
http://fh.unsoed.ac.id/sites/default/files/fileku/dokumen/JDHvol102010/8.%20Otong.pdf, diunduh
3 Desember 2013
158

E. Sumaryono, Etika dan Hukum: Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas


Aquinas, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 32

67
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

kebaikan umum; diperintahkan oleh legislator yang tidak menyalahgunakan


kewenangan legislatifnya; dan memberikan beban yang setimpal demi
kepentingan kebaikan umum. 159
Hans Kelsen di dalam bukunya General Theory of Law and State yang
mengemukakan adanya dua sistem norma, yaitu sistem norma yang statik
(nomostatics) dan sistem norma yang dinamik (nomodynamics). Sistem norma
statik (nomostatics) adalah sistem norma yang melihat pada isi norma. Menurut
sistem ini, norma umum dapat ditarik menjadi norma khusus. Sistem norma
dinamik (nomodynamics) adalah sistem norma yang melihat pada berlakunya
suatu norma atau dari cara pembentukannya atau penghapusannya. 160 Dalam
bukunya tersebut, Hans Kelsen juga mengemukakan teori Jenjang Norma
(Stufentheorie) bahwa norma-norma itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis
dalam suatu hierarkhi tata susunan, di mana norma yang lebih rendah berlaku,
bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi, demikian seterusnya
sampai pada suatu norma tertinggi yang tidak dapat ditelusuri lebih lanjut dan
bersifat

hipotesis,

serta

fiktif,

yaitu

norma

dasar

(grundnorm/basic

norm/fundamental norm). 161


Menurut Hans Kelsen, dalam pembuatan norma hukum, dapat ditentukan
dengan dua cara: (1) organ dan prosedur yang akan membuat norma yang lebih
rendah, (2) isi dan norma yang lebih rendah. Norma yang lebih tinggi paling tidak
harus menentukan organ yang akan membuat norma yang lebih rendah. Suatu
pembuatan norma yang tidak ditentukan sama sekali oleh norma lain tidak dapat
menjadi bagian dari tata hukum. Jadi fungsi pembuatan norma adalah pelaksanaan
dari norma yang lebih tinggi, meskipun hanya ditentukan mengenai organ
pembuatnya. Maka setiap norma hukum yang lebih tinggi adalah sumber bagi
norma hukum yang lebih rendah. 162
Pembentukan peraturan perundang-undangan selain harus bersumber
pada peraturan perundang-undangan (norma hukum) yang lebih tinggi, sangat
159

Otong Rosadi, op. cit., hlm. 279

160

Maria Farida, op. cit., hlm. 20-21

161

H. Aziz Syamsuddin, op. cit., hlm. 15

162

Hans Kelsen, loc. cit., hlm. 131-132

68
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

penting aspek terpenuhinya asas-asas pembentukan peraturan perundangundangan. I. C. van der Vlies, dalam bukunya Het wetsbegrip en beginselen van
behoorlijke regelgeving sebagaimana dikutip Maria Farida, membagi asas-asas
dalam pembentukan peraturan negara yang baik (beginselen van behoorlijke
regelgeving) ke dalam: 163
1. Asas formal, meliputi:
a. Asas tujuan yang jelas (beginsel van duidelijke doelstelling);
b. Asas organ/lembaga yang tepat (beginsel van het juiste orgaan);
c. Asas perlunya pengaturan (het noodzalijkheids beginsel);
d. Asas dapatnya dilaksanakan (het beginsel van iutvoerbaarheid);
e. Asas consensus (het beginsel van consensus).
2. Asas material, meliputi:
a. Asas tentang terminology dan sistematika yang benar (het beginsel van
duidelijke terminology en duidelijke systematiek);
b. Asas tentang dapat dikenali (het beginsel van de kenbaarheid);
c. Asas perlakuan yang sama dalam hukum (het rechtsgelijkheidsbeginsel);
d. Asas kepastian hukum (het rechtszekerheidsbeginsel);
e. Asas pelaksanaan hukum sesuai keadaan individual (het beginsel van de
individuele rechtsbedeling).

A. Hamid S. Attamimi, membagi asas-asas pembentukan peraturan


perundang-undangan yang patut ke dalam: 164
1. Asas-asas formal, dengan rincian: (a) asas tujuan yang jelas; (b) asas perlunya
pengaturan; (c) asas organ/lembaga yang tepat; (d) asas materi muatan yang
tepat; (e) asas dapatnya dilaksanakan; dan (f) asas dapat dikenali.
2. Asas-asas material, dengan rincian: (a) asas sesuai dengan cita hukum
Indonesia dan norma fundamental negara; (b) asas sesuai dengan harapan
hukum dasar negara; (c) asas sesuai dengan prinsip-prinsip negara berdasar
atas hukum; dan (d) asas sesuai dengan prinsip-prinsip pemerintahan
berdasarkan sistem konstitusi.
163

Maria Farida, op. cit., hlm. 254

164

Ibid., hlm. 256

69
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Dalam UU Nomor 10 Tahun dan UU Nomor 12 Tahun 2011, pengaturan


mengenai asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik diatur
dapat dilihat dalam matriks berikut:
No.
1.

2.

3.

4.

5.

UU Nomor 10 Tahun 2004


(Pasal 5)
Asas kejelasan tujuan, bahwa setiap
Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus mempunyai tujuan
yang jelas yang hendak dicapai
Asas kelembagaan atau organ yang
pembentuk yang tepat, bahwa
setiap jenis Peraturan Perundangundangan harus dibuat oleh
lembaga/pejabat
Pembentuk
Peraturan
Perundang-undangan
yang
berwenang.
Peraturan
Perundang-undangan tersebut dapat
dibatalkan atau batal demi hukum,
apabila dibuat oleh lembaga/pejabat
yang tidak berwenang
Asas kesesuaian antara jenis dan
materi muatan, bahwa dalam
Pembentukan Peraturan Perundangundangan
harus
benar-benar
memperhatikan materi muatan yang
tepat dengan jenis Peraturan
Perundang-undangannya
Asas dapat dilaksanakan, bahwa
setiap Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan
harus
memperhitungkan
efektifitas
Peraturan
Perundang-undangan
tersebut di dalam masyarakat, baik
secara filosofis, yuridis maupun
sosiologis
Asas
kedayagunaan
dan
kehasilgunaan,
bahwa
setiap
Peraturan
Perundang-undangan
dibuat karena memang benar-benar
dibutuhkan dan bermanfaat dalam
mengatur
kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara

UU Nomor 12 Tahun 2011


(Pasal 5)
Asas kejelasan tujuan, bahwa setiap
pembentukan peraturan perundangundangan harus mempunyai tujuan
yang jelas yang hendak dicapai
Asas kelembagaan atau pejabat
pembentuk yang tepat, bahwa setiap
jenis peraturan perundang-undangan
harus dibuat oleh lembaga negara
atau pejabat pembentuk peraturan
perundang-undangan
yang
berwenang, apabila dibuat oleh yang
tidak berwenang dapat dibatalkan
atau batal demi hukum

Asas kesesuaian antara jenis,


hierarki, dan materi muatan, bahwa
dalam
pembentukan
peraturan
perundang-undangan harus benarbenar memperhatikan materi muatan
yang tepat sesuai dengan jenis dan
hierarki
peraturan
perundangundangan
Asas dapat dilaksanakan, bahwa
setiap
pembentukan
peraturan
perundang-undangan
harus
memperhitungkan
efektifitas
peraturan
perundang-undangan
tersebut di dalam masyarakat, baik
secara filosofs, sosiologis, maupun
yuridis
Asas
kedayagunaan
dan
kehasilgunaan,
bahwa
setiap
pembentukan peraturan perundangundangan dibuat karena memang
benar-benar
dibutuhkan
dan
bermanfaat
dalam
mengatur
kehidupan
bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara

70
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

No.
6.

7.

UU Nomor 10 Tahun 2004


(Pasal 5)
Asas kejelasan rumusan, bahwa
setiap
Peraturan
Perundangundangan
harus
memenuhi
persyaratan teknis penyusunan
Peraturan
Perundang-undangan,
sistematika dan pilihan kata atau
terminologi,
serta
bahasa
hukumnya jelas dan mudah
dimengerti,
sehingga
tidak
menimbulkan berbagai macam
interpretasi dalam pelaksanaannya
Asas keterbukaan, bahwa dalam
proses Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan mulai dari
perencanaan,
persiapan,
penyusunan,
dan
pembahasan
bersifat transparan dan terbuka.
Dengan demikian seluruh lapisan
masyarakat
mempunyai
kesempatan yang seluas-luasnya
untuk memberikan masukan dalam
proses
pembuatan
Peraturan
Perundang-undangan

UU Nomor 12 Tahun 2011


(Pasal 5)
Asas kejelasan rumusan, bahwa
setiap
pembentukan
peraturan
perundang-undangan
harus
memenuhi
persyaratan
teknis
penyusunan peraturan perundangundangan, sistematika, pilihan kata
atau istilah, serta bahasa hukum
yang jelas dan mudah dimengerti
sehingga
tidak
menimbulkan
berbagai
intepretasi
dalam
pelaksanaannya
Asas
keterbukaan,
bahwa
pembentukan peraturan perundangundangan mulai dari perencanaan,
penyusunan,
pembahasan,
pengesahan atau penetapan, dan
pengundangan bersifat transparan
dan terbuka. Ada kesempatan seluasluasnya bagi masyarakat untuk
memberikan
masukan
dalam
pembentukan peraturan perundangundangan.

Tabel 2.1. Perbandingan Asas-Asas Pembentukan Peraturan PerundangUndangan antara UU Nomor 10 Tahun 2004 dan UU Nomor 12 Tahun 2011

Selain itu kedua undang-undang tersebut juga juga mengatur keharusan


materi muatan peraturan perundang-undangan mencerminkan asas:

No.
1.

2.

UU Nomor 10 Tahun 2004


(Pasal 6)
Asas pengayoman, bahwa setiap
materi
muatan
peraturan
perundang-undangan
harus
berfungsi
memberikan
perlindungan
dalam
rangka
menciptakan
ketentraman
masyarakat.
asas kemanusiaan, bahwa setiap
materi
muatan
peraturan
perundang-undangan
harus

UU Nomor 12 Tahun 2011


(Pasal 6)
Asas pengayoman, bahwa setiap
materi muatan peraturan perundangundangan
harus
berfungsi
memberikan perlindungan untuk
menciptakan
ketentraman
masyarakat
Asas kemanusiaan, bahwa setiap
materi muatan peraturan perundangundangan harus mencerminkan

71
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

No.

3.

4.

5.

6.

7.

UU Nomor 10 Tahun 2004


(Pasal 6)
mencerminkan perlindungan dan
penghormatan
hak-hak
asasi
manusia serta harkat dan martabat
setiap warga negara dan penduduk
Indonesia secara proporsional
Asas kebangsaan, bahwa setiap
materi
muatan
peraturan
perundang-undangan
harus
mencerminkan sifat dan watak
bangsa Indonesia yang pluralistik
(kebhinekaan)
dengan
tetap
menjaga prinsip negara kesatuan
Republik Indonesia
Asas kekeluargaan, bahwa setiap
materi
muatan
peraturan
perundang-undangan
harus
mencerminkan musyawarah untuk
mencapai mufakat dalam setiap
pengambilan keputusan
Asas kenusantaraan, bahwa setiap
materi
muatan
peraturan
perundang-undangan
senantiasa
memperhatikan
kepentingan
seluruh wilayah Indonesia dan
materi
muatan
Peraturan
Perundang-undangan yang dibuat
di daerah merupakan bagian dari
sistem hukum nasional yang
berdasarkan Pancasila
Asas bhinneka tunggal ika, bahwa
materi
muatan
peraturan
perundang-undangan
harus
memperhatikan
keragaman
penduduk, agama, suku dan
golongan, kondisi khusus daerah,
dan budaya khususnya yang
menyangkut
masalah-masalah
sensitif
dalam
kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara
Asas keadilan, bahwa setiap materi
muatan
peraturan
perundangundangan harus mencerminkan
keadilan secara proporsional bagi
setiap warga negara tanpa kecuali

UU Nomor 12 Tahun 2011


(Pasal 6)
perlindungan dan penghormatan hak
asasi manusia serta harkat dan
martabat setiap warga negara dan
penduduk
Indonesia
secara
proporsional
Asas kebangsaan, bahwa setiap
materi muatan peraturan perundangundangan harus mencerminkan sifat
dan watak bangsa Indonesia yang
majemuk dengan tetap menjaga
prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia
Asas kekeluargaan, bahwa setiap
materi muatan peraturan perundangundangan harus mencerminkan
musyawarah
untuk
mencapai
mufakat dalam setiap pengambilan
keputusan
Asas kenusantaraan, bahwa setiap
materi muatan peraturan perundangundangan senantiasa memperhatikan
kepentingan
seluruh
wilayah
Indonesia dan materi muatan
peraturan perundang-undangan yang
dibuat di daerah merupakan bagian
dari sisten hukum nasional yang
berdasarkan Pancasila dan UUD
1945
Asas bhinneka tunggal ika, bahwa
setiap materi muatan peraturan
perundang-undangan
harus
memperhatikan
keragaman
penduduk,
agama,
suku
dan
golongan, kondisi khusus daerah
serta budaya dalam kehidupan
bermasyarakat,
berbangsa,
dan
bernegara

Asas keadilan, bahwa setiap materi


muatan
peraturan
perundangundangan harus mencerminkan
keadilan secara proporsional bagi
setiap warga negara

72
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

No.
8.

9.

10.

11.

UU Nomor 10 Tahun 2004


(Pasal 6)
Asas kesamaan kedudukan dalam
hukum dan pemerintahan, bahwa
setiap materi muatan peraturan
perundang-undangan tidak boleh
berisi
hal-hal
yang
bersifat
membedakan berdasarkan latar
belakang, antara lain, agama, suku,
ras, golongan, gender, atau status
sosial
Asas ketertiban dan kepastian
hukum, bahwa setiap materi
muatan
peraturan
perundangundangan
harus
dapat
menimbulkan ketertiban dalam
masyarakat melalui jaminan adanya
kepastian hukum
Asas keseimbangan, keserasian,
dan keselarasan, bahwa setiap
materi
muatan
peraturan
perundang-undangan
harus
mencerminkan
keseimbangan,
keserasian, dan keselarasan, antara
kepentingan
individu
dan
masyarakat dengan kepentingan
bangsa dan negara
Asas lain sesuai dengan bidang
hukum
Peraturan
Perundangundangan yang bersangkutan,
antara lain: dalam Hukum Pidana,
misalnya, asas legalitas, asas tiada
hukuman tanpa kesalahan, asas
pembinaan narapidana, dan asas
praduga tak bersalah;
dalam
Hukum Perdata, misalnya, dalam
hukum
perjanjian
(asas
kesepakatan, kebebasan berkontrak,
dan iktikad baik)

UU Nomor 12 Tahun 2011


(Pasal 6)
Asas kesamaan kedudukan dalam
hukum dan pemerintahan, bahwa
setiap materi muatan peraturan
perundang-undangan tidak memuat
hal yang bersifat membedakan
berdasarkan latar belakang, antara
lain agama, suku, ras, golongan,
gender, atau status sosial
Asas ketertiban dan kepastian
hukum, bahwa setiap materi muatan
peraturan perundang-undangan harus
dapat mewujudkan ketertiban dalam
masyarakat
melalui
jaminan
kepastian hukum
Asas keseimbangan, keserasian, dan
keselarasan, bahwa setiap materi
muatan
peraturan
perundangundangan harus mencerminkan
keseimbangan,
keserasian,
dan
keselarasan antara kepentingan
individu,
masyarakat,
dan
kepentingan bangsa dan negara
asas lain sesuai dengan bidang
hukum
peraturan
perundangundangan yang bersangkutan, antara
lain: dalam hukum pidana, misalnya
asas legalitas, asas tiada hukuman
tanpa kesalahan, asas pembinaan
narapidana, dan asas praduga tak
bersalah; dalam hukum perdata,
misalnya asas dalam hukum
perjanjian (kesepakatan, kebebasan
berkontrak, dan itikad yang baik)

Tabel 2.2. Perbandingan Asas-Asas yang Harus dipenuhi dalam Materi Muatan
Peraturan Perundang-Undangan antara UU Nomor 10 Tahun 2004
dan UU Nomor 12 Tahun 2011

73
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik harus bersumber


pada norma dasar dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, artinya
pearturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan
dengan norma dasar atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Selain
itu pembentukan peraturan perundang-undangan juga harus memenuhi asas-asas
pembentukan dan asas-asas yang harus dicerminkan dalam materi muatan
peraturan perundang-undangan. Selain kedua hal tersebut, agar hukum tidak
gagal. Fuller menekankan pada isi hukum positif (positive legal content) dengan
delapan persyaratan moral tertentu (principles of legality), meliputi: 165
1. Harus ada aturan-aturan sebagai pedoman dalam pembuatan keputusan.
Perlunya sifat tentang persyaratan sifat keumuman, artinya memberikan
bentuk hukum kepada otoritas berarti bahwa keputusan-keputusan otoritatif
tidak dibuat atas suatu dasar ad hoc dan atas dasar kebijakan yang bebas,
melainkan atas dasar aturan-aturan yang umum;
2. Aturan-aturan yang menjadi pedoman bagi otoritas tidak boleh dirahasiakan
melainkan harus diumumkan. Seringkali otoritas-otoritas cenderung untuk
tidak

mengumumkan

aturan-aturan

dengan

tujuan

mencegah

orang

mendasarkan klaim-klaimnya atas aturan-aturan tersebut, sehingga aturanaturan tadi mengikat otoritas-otoritasnya sendiri;
3. Aturan-aturan harus dibuat untuk menjadi pedoman bagi kegiatan-kegiatan di
kemudian hari, artinya, hukum tidak boleh berlaku surut;
4. Hukum harus dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat dimengerti oleh rakyat;
5. Aturan-aturan tidak boleh bertentangan satu sama lain;
6. Aturan-aturan tidak boleh mensyaratkan perilaku yang di luar kemampuan
pihak-pihak yang terkena, artinya hukum tidak boleh memerintahkan sesuatu
yang tidak mungkin dilakukan;
7. Dalam hukum harus ada ketegasan. Hukum tidak boleh diubah sewaktuwaktu;

165

Khudzaifah Dimyati dan Kelik Wardiono, Pola Pemikiran Hukum Responsif:


Sebuah Studi Atas Proses Pembangunan Ilmu Hukum Indonesia, Seri Ringkasan Penelitian Hibah
Bersaing Tahun II Kontrak: 180/SP3/PP/DP3M/II/2006, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 10, No. 1,
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/
Maret
2007:
1-24,
hlm.
4-5,
123456789/740/1.%20DIMYATI.pdf?sequence=1, diunduh 4 Desember 2013

74
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

8. Harus ada konsistensi antara aturan-aturan sebagaimana yang diumumkan


dengan pelaksanaan kenyataannya.

Syarat agar hukum tidak gagal dalam Morality of Law, dengan delapan
persyaratan moral tertentu (Principles of legality) Lon L. Fuller dapat
digambarkan sebagai berikut:

LAW

POSITIVE LEGAL
CONTENT

PRINCIPLES OF
LEGALITY

Harus ada aturan


aturan sebagai
pedoman dalam
pembuatan
Keputusan

Aturan-aturan
tidak boleh
bertentangan
satu sama lain

Aturan-aturan yang
menjadi pedoman bagi
otoritas harus tidak
boleh dirahasiakan,
melainkan harus
diumumkan

aturan-aturan tidak
boleh mensyarat-kan
perilaku di luar
kemampuan pihakpihak yang terkena,
tidak boleh
memerintahkan
sesuatu yang tidak
mungkin dilakukan

Hukum
(aturan) tidak
boleh berlaku
surut

Peraturanperaturan
disusun dalam
rumusan yang
dapat
dimengerti

Dalam hukum
harus ada
ketegasan,
Peraturan
tidak boleh
diubah
sewaktuwaktu

Harus ada
konsistensi
antara aturanaturan yang
diumumkan
dengan
pelaksanaan
sehari-hari

Gambar 2.2 Syarat agar hukum tidak gagal dalam Morality of Law Lon. L. Fuller

75
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

BAB III
PENATAAN PERIZINAN DALAM KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN
PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DI INDONESIA SETELAH
TERBITNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009

A. Sekilas Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan berdasarkan


Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pertambangan
A. 1. Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan Sebelum Era Otonomi
Daerah
UU Nomor 11 tahun 1967 berlaku pada masa pemerintahan orde baru.
Undang-undang ini dibentuk untuk mempercepat pembangunan ekonomi nasional
dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur baik materiil maupun spirituil
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 maka pertambangan
dikelola sedemikian rupa agar menjadi kekuasaan ekonomi riil untuk masa kini
dan akan datang. 166 Dalam UU Nomor 11 Tahun 1967 diatur mengenai
penggolongan bahan galian, sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (1), meliputi:
(a) golongan bahan galian yang strategis (dalam arti kata strategis untuk
pertahanan/kemanan Negara atau strategis untuk menjamin perekonomian
Negara); (b) golongan bahan galian yang vital (dalam arti menjamin hajat hidup
orang banyak); dan (c) golongan bahan galian yang tidak termasuk dalam
golongan a atau b (tidak dianggap langsung mempengaruhi hajat hidup orang
banyak).
Mengenai penggolongan bahan galian selajutnya diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan bahan-Bahan Galian
(PP Nomor 27 Tahun 1980). Dalam Pasal 1 PP Nomor 27 Tahun 1980,
dinyatakan bahwa bahan-bahan galian terbagi atas tiga golongan, yaitu:
1. Golongan bahan galian strategis adalah: (i) minyak bumi, bitumen cair, lilin
bumi, gas alam; (ii) bitumen padat, aspal; (iii) antrasit, batubara, batubara

166

Indonesia (4), op. cit., menimbang huruf a.

76
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

muda; (iv) uranium, radium, thorium, dan bahan-bahan galian radioaktif


lainnya; (v) nikel dan kobalt; (vi) timah.
2. Golongan bahan galian vital adalah: (i) besi, mangaan, molibden, khrom,
wolfram, vanadium, titan; (ii) bauksit, tembaga, timbal, seng; (iii) emas,
platina, perak, air raksa, dan intan; (iii) arsin, antimon, bismuth; (iv) yttrium,
rhutenium, cerium dan logam-logam langka lainnya; (v) berillium, korundum,
zirkon, kristal kwarsa; (vi) kriolit, fluorspar, barit; (vii) yodium, brom, khlor,
belerang.
3. Golongan bahan galian tidak termasuk strategis dan vital adalah: (i) nitratnitrat, pospat-pospat, garam batu (halite); (ii) asbes, talk, mika, grafit,
magnesit; (iii) yarosit, leusit, tawas (alum), oker; (iii) batu permata, batu
setengah permata; (iv) pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit; (v) batu
apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth); (vi)
marmer, batu tulis; (vii) batu kapur, dolomit, kalsit; (viii) granit, andesit,
basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung unsur-unsur
mineral golonga a maupun golongan b dalam jumlah yang berarti ditinjau dari
segi ekonomi pertambangan.

Penguasaan dan pengaturan kegiatan usaha pertambangan berdasarkan


UU Nomor 11 Tahun 1967, dibagi menjadi: 167
1. golongan bahan galian strategis dan vital dilakukan oleh Menteri;
2. golongan bahan galian yang tidak termasuk strategis dan vital dilakukan oleh
Pemerintah Daerah Tingkat I tempat bahan galian berada,
3. golongan bahan galian yang vital untuk jenis tertentu, pengaturannya dapat
diserahkan oleh Menteri kepada Pemerintah Daerah Tingkat I tempat bahan
galian berada, demi memperhatikan kepentingan pembangunan Daerah
khususnya dan Negara umumnya.

Usaha pertambangan golongan bahan galian strategis tertuang dalam


Pasal 6 sampai dengan Pasal 8 UU Nomor 11 Tahun 1967, sebagai berikut:

167

Ibid., Ps. 4

77
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

1. usaha pertambangan golongan bahan galian strategis dilaksanakan oleh


Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri atau Perusahaan Negara;
2. usaha pertambangan golongan bahan galian strategis dapat diusahakan oleh
pihak swasta yang memenuhi persyaratan, menurut pendapat Menteri
berdasarkan pertimbangan ekonomi dan perkembangan pertambangan lebih
menguntungkan bagi Negara apabila diusahakan oleh pihak swasta;
3. usaha pertambangan golongan bahan galian strategis yang jumlahnya sangat
sedikit dapat diusahakan dengan pertambangan rakyat, apabila

menurut

pendapat Menteri lebih menguntungkan apabila diusahakan secara sederhana


atau kecil-kecilan.

Untuk pengusahaan golongan bahan galian vital, diatur dalam Pasal 9


UU Nomor 11 Tahun 1967, golongan bahan galian vital dapat dilaksanakan oleh:
1. Negara atau Daerah (Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri,
Perusahaan Negara, Perusahaan Daerah, perusahaan dengan modal bersama
antara Negara/Perusahaan Negara di satu pihak dengan Daerah Tingkat I
dan/atau Tingkat II atau Perusahaan Daerah di pihak lain, perusahaan dengan
modal bersama antara Negara/Perusahaan Negara dan/atau Daerah/Perusahaan
Daerah di satu pihak dengan badan/perseorangan swasta di pihak lain);
2. Badan atau Perseorangan swasta yang memenuhi persyaratan: (i) Badan
hukum koperasi; (b) Badan hukum swasta yang didirikan sesuai peraturan
Republik Indonesia bertempat kedudukan di Indonesia, bertujuan berusaha
dalam lapangan pertambangan, dan pengurusnya warga negara Indonesia
bertempat tinggal di Indonesia; (c) Perseorangan yang berkewarganegaraan
Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia.
Khusus untuk usaha eksploitasi, sebelum KP diberikan, harus didengar
terlebih dahulu pendapat dari suatu Dewan Pertambangan yang pembentukan
dan penentuan susunanya akan diatur oleh Pemerintah.

Dalam UU Nomor 11 Tahun 1967, diatur kemungkinan kerjasama dalam


bentuk kontrak karya baik dengan pihak modal dalam negeri maupun modal
asing, dengan ketentuan: (i) kontraktor ditunjuk oleh Menteri apabila diperlukan

78
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat


dilaksanakan sendiri oleh Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara selaku
pemegang kuasa pertambangan, (ii) dalam melakukan perjanjian karya dengan
kontraktor, Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada
pedoman-pedoman, petunjuk-petunjuk, dan syarat-syarat yang diberikan oleh
Menteri; (iii) Perjanjian karya berlaku sesudah disyahkan oleh Pemerintah setelah
berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat apabila menyangkut eksploitasi
bahan galian strategis berdasarkan undang-undang hanya dapat diusahakan oleh
Negara, dan/atau yang perjanjian karyanya berbentuk penanaman modal asing. 168
Mengenai bentuk dari KP diatur dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah
Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (PP Nomor 32 Tahun
1969), dan diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 1992 (PP
Nomor 79 Tahun 1992), yaitu:
1. Surat Keputusan Penugasan Pertambangan, diberikan oleh Menteri kepada
Instansi Pemerintah untuk melaksanakan usaha pertambangan;
2. Surat Keputusan Izin Pertambangan Rakyat (IPR), diberikan oleh Menteri
kepada rakyat setempat untuk melaksanakan usaha pertambangan secara kecilkecilan dengan luas wilayah yang sangat terbatas, dan
3. Surat Keputusan Pemberian Kuasa Pertambangan (KP), diberikan oleh
Menteri kepada Perusahaan Negara, Perusahaan Daerah, badan lain atau
perorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan.

Surat Keputusan Penugasan Pertambangan merupakan penugasan kepada


Instansi Pemerintah untuk melaksanakan usaha pertambangan yang memuat
ketentuan-ketentuan dari penugasan tersebut, dapat pula memuat keringanankeringanan terhadap kewajiban yang ditentukan dalam UU Nomor 11 Tahun
1967. Dalam hal keringanan-keringanan tidak dicantumkan, ketentuan mengenai
KP tidak berlaku sepenuhnya. Penugasan dapat dibatalkan apabila: (i) Instansi

168

Ibid., Ps. 10

79
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Pemerintah berubah menjadi perusahaan pertambangan, diberikan Surat


Keputusan Kuasa Pertambangan; atau (ii) kegiatan tidak dilanjutkan. 169
Pemberian

Surat

Keputusan

Izin

Pertambangan

Rakyat

dapat

dilimpahkan oleh Menteri kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I.


Permohonan IPR dilengkapi dengan keterangan wilayah dan jenis bahan galian
yang akan diusahakan. IPR diberikan untuk jangka waktu selama-lamanya lima
tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama. Luas wilayah untuk
satu IPR tidak boleh lebih dari lima hektar, untuk seseorang atau badan bukan
koperasi tidak boleh lebih dari 25 hektar. Hal ini diatur dalam Pasal 5 PP Nomor
32 Tahun 1967.
Surat Keputusan Kuasa Pertambangan Pemberian Kuasa Pertambangan,
dapat berupa: 170
1. KP Penyelidikan Umum, adalah KP yang berisikan wewenang untuk
melakukan usaha penyelidikan umum; diberikan untuk jangka waktu selamalamanya satu tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu satu tahun;
dengan luas tidak boleh melebihi 5.000 hektar dan untuk beberapa wilayah KP
Penyelidikan Umum tidak lebih dari 25.000 hektar (paling banyak lima KP);
diajukan melalui permintaan kepada Menteri dengan dilengkapi peta wilayah
dengan batas-batas yang jelas dengan skala 1:200.000 (satu permintaan untuk
satu wilayah).
2. KP Eksplorasi, adalah KP yang berisi wewenang untuk melakukan usaha
pertambangan eksplorasi; diberikan untuk jangka waktu selama-lamanya tiga
tahun dan dapat diperpanjang sebanyak dua kali masing-masing satu tahun;
dengan luas wilayah tidak lebih dari 2.000 hektar dan untuk beberapa wilayah
KP Eksplorasi tidak lebih dari 10.000 hektar (paling banyak lima KP);
diajukan melalui permintaan kepada Menteri dengan dilengkapi peta wilayah
dengan batas-batas yang jelas dengan skala 1:50.000 yang menjelaskan dan
menunjukkan ukuran arah astronomi dan jarak dari titik ke titik batas wilayah
KP tidak boleh melebihi 500 meter, bahwa salah satu titik batas harus
169

Indonesia (8), Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor


11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan, PP Nomor 32 Tahun 1969,
LN Nomor 60 Tahun 1969, TLN Nomor 2916, Ps. 3 dan Ps. 4
170

Ibid., Ps. 7 sampai dengan Ps. 46

80
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

terhubung dengan salah satu titik triangulasi atau titik induk tetap lainnya
yang tergambar dalam peta dasar yang dikeluarkan oleh instansi yang
berwenang dalam bidang topografi, dan tempat terdapatnya bahan galian
diukur dari salah satu tituk batas wilayah KP (satu permintaan untuk satu
wilayah) dan jenis bahan galian yang akan diusahakan.
3. KP Eksploitasi, adalah KP yang berisi wewenang untuk melakukan usaha
pertambangan eksploitasi; diberikan untuk jangka waktu 30 tahun dan dapat
diperpanjang sebanyak dua kali masing-masing 10 tahun; dengan luas wilayah
tidak lebih dari 1.000 hektar dan untuk beberapa wilayah KP Eksploitasi tidak
lebih dari 5.000 hektar; diajukan melalui permintaan kepada Menteri dengan
dilengkapi peta wilayah dengan batas-batas yang jelas dengan skala 1:10.000
(satu permintaan untuk satu wilayah) dan jenis bahan galian yang akan
diusahakan.
4. KP Pengolahan dan Pemurnian, adalah KP yang berisi wewenang untuk
melakukan usaha pertambangan pengolahan dan pemurnian; diberikan untuk
jangka waktu selama-lamanya 30 tahun dan dapat diperpanjang dua kali
masing-masing 10 tahun; diajukan melalui permintaaan kepada Menteri.
5. KP Pengangkutan, adalah KP yang berisi wewenang untuk melakukan usaha
pertambangan pengangkutan; diberikan untuk jangka waktu 10 tahun dan
dapat diperpanjang 5 tahun untuk setiap kali perpanjangan; diajukan melalui
permintaan kepada Menteri.
6. KP Penjualan, adalah KP yang berisi wewenang untuk melakukan usaha
pertambangan penjualan; diberikan untuk jangka waktu selama-lamanya 10
tahun dan dapat diperpanjang 5 tahun untuk setiap kali perpanjangan; diajukan
melalui permmintaan kepada Menteri.

UU Nomor 11 Tahun 1967 mewajibkan pembuktian kesanggupan dan


kemampuan terhadap usaha yang akan dijalankan dalam permintaan KP untuk
dipertimbangkan oleh Menteri, sebagaimana diatur dalam Pasal 18. Ketentuan ini
lebih lanjut diatur dalam Pasal 15 PP Nomor 32 Tahun 1969, bahwa persyaratan
pembuktian kesanggupan dan kemampuan dari peminta KP karena KP tidak dapat
dipergunakan semata-mata sebagai unsur permodalan dalam menarik kerjasama

81
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dengan pihak ketiga. Pasal 16 PP Nomor 23 Tahun 1969 mengatur prioritas


pemberian KP berdasarkan permintaan pertama (first come first serve) apabila
atas satu wilayah terdapat beberapa peminta, dengan ketentuan pengutamaan pada
Badan Koperasi.
Dalam Pasal 15 UU Nomor 11 Tahun 1967 diatur bahwa setiap usaha
pertambangan hanya dapat dilakukan setelah mendapatkan KP dari Menteri. KP
dapat dipindahkan kepada perusahaan atau perorangan lain setelah
memenuhi ketentuan dan dengan persetujuan Menteri. Mengenai pemindahan
KP lebih lanjut diatur dalam Pasal 23 dan Pasal 24 PP Nomor 32 Tahun 1969
diatur lebih lanjut tentang pemindahan KP kepada badan/orang lain dengan izin
Menteri dan telah memenuhi persyaratan. Diatur pula pemindahan KP apabila
perorangan pemegang KP meninggal dan para ahli warisnya tidak dapat
memenuhi persyaratan, KP dapat dipindahkan kepada badan/orang lain dengan
izin Menteri. Dalam pemindahan KP dapat diperhitungkan harga dan nilai dari
modal, alat perusahaan, jasa usaha yang telah ditanamkan atau yang telah
dikeluarkan untuk melaksanakan KP tersebut.
Petunjuk teknis untuk pemindahan KP diatur dalam Keputusan Direktur
Jenderal Pertambangan Umum Nomor 472.K/20.01/DJP/1998 tentang Pemberian
Izin Pemindahan Kuasa Pertambangan (Kepdirjen Nomor 472 Tahun 1998),
sebagai berikut:
1. Pemindahan Kuasa Pertambangan hanya dapat dilaksanakan dengan izin
tertulis dari Direktur Jenderal Pertambangan Umum;
2. Untuk mendapatkan izin pemindahan Kuasa Pertambangan, pemegang Kuasa
Pertambangan harus mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur
Jenderal

Pertambangan

Umum

dengan

tembusan

Direktur

Teknik

Pertambangan Umum atau Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertambangan


dan Energi setempat sesuai formulir terlampir (Lampiran I) dan harus
memenuhi syarat-syarat pemindahan Kuasa Pertambangan:
a. Akta/bukti pengesahan masuknya pemohon ke dalam/perubahan bentuk
untuk perusahaan tersebut.

82
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

b. Pernyataan dari Direktur Utama PT. yang memindahkan Kuasa


Pertambangan, yang menyatakan tidak keberatan untuk memindahkan
Kuasa Pertambangan dan disetujui oleh Komisaris Utama (Lampiran Ia).
c. Pernyataan dari Direktur Utama PT yang menerima pemindahan Kuasa
Pertambangan, yang menyatakan tidak keberatan untuk menerima
pemindahan Kuasa Pertambangan dan disetujui oleh Komisaris Utama
(Lampiran Ib).
3. Perseorangan, CV atau Firma pemegang Kuasa Pertambangan yang hendak
masuk ke dalam suatu Perseroan Terbatas (PT), atau merubah bentuk
perusahaannya menjadi PT, tetap harus mengajukan permohonan pemindahan
Kuasa Pertambangan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pertambangan
Umum sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua.
4. Pemindahan Kuasa Pertambangan atas nama perseorangan/CV/Firma yang
meninggal dunia kepada ahli warisnya harus disetujui oleh Direktur Jenderal
Pertambangan Umum. Untuk itu ahli waris yang bersangkutan harus
menunjukkan bukti yang sah sekurang-kurangnya Akta Kematian pemegang
Kuasa Pertambangan , Surat Keterangan Ahli Waris dari Kepala Desa/Lurah
setempat dan Surat Kuasa tentang penunjukan seorang ahli waris untuk
menerima Kuasa Pertambangan tersebut dari ahli waris lainnya.
5. 1. a. Direktur

Teknik

Pertambangan

Umum

(untuk

wilayah

Kuasa

Pertambangan yang terletak di Pulau Jawa dan Madura);


b. Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertambangan dan Energi (untuk
wilayah Kuasa Pertambangan yang terletak di luar pulau Jawa dan
Madura)
Memberikan

pendapat/pertimbangan

kepada

Direktur

Jenderal

Pertambangan Umum dalam rangka pemberian izin pemindahan Kuasa


Pertambangan.
2. Pendapat/pertimbangan sebagaimana dimaksud pada angka 1 disampaikan
kepada Direktur Jenderal Pertambangan Umum dalam waktu 10 (sepuluh)
hari kerja sejak diterimanya tembusan permohonan pemindahan oleh
Direktorat Teknik Pertambangan Umum atau Kantor Wilayah Departemen
Pertambangan dan Energi.

83
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

3. Dalam

hal

tenggang

waktu

pendapat/pertimbangan

belum

Pertambangan

akan

Umum

tersebuit

terlampaui

sedangkan

diterima,

maka

Direktur

menerbitkan

izin

pemindahan

Jenderal
Kuasa

Pertambangan sebagaimana mestinya.


6. Pelaksanaan pemindahan Kuasa Pertambangan dilakukan dengan serah terima
Kuasa Pertambangan dalam bentuk formulir terlampir (Lampiran II) dan
ditanda tangani oleh kedua belah pihak yang menyerahkan dan menerima
penyerahan, dengan disaksikan Direktur Jenderal Pertambangan Umum atau
pejabat yang ditunjuk.
7. Dengan telah dilaksanakan serah terima sebagaimana dimaksud dalam Diktum
Keenam,

maka

pada

halaman

dalam

Keputusan

Pemberian

Kuasa

Pertambangan (asli) harus diberi catatan bahwa Kuasa Pertambangan telah


dipindahkan dan ditanda tangani oleh Direktur Jenderal Pertambangan Umum
atau pejabat yang ditunjuk.

UU Nomor 11 Tahun 1967 mengatur kewajiban pembayaran kepada


Negara yang berupa iuran tetap, iuran eksplorasi dan/atau eksploitasi, dan/atau
pembayaran-pembayaran yang berhubungan dengan KP yang bersangkutan oleh
pemegang KP. Kepada Daerah Tingkat I dan II diberikan bagian dari pungutanpungutan Negara tersebut, sebagaimana ditegaskan dala Pasal 28. Ketentuan
mengenai hak dan kewajiban pemegang KP selanjutnya diatur dalam PP Nomor
32 Tahun 1969 Pasal 25 sampai dengan Pasal 37. Pemegang KP mempunyai hak
untuk melakukan segala usaha dalam melaksanakan usaha pertambangannya,
membangun sarana dan prasarana pendukung, memiliki bahan galian setelah
menyelesaikan kewajiban atas iuran tetap, iuran eksplorasi, atau iuran eksploitasi,
dan hak untuk tetap melanjutkan kegiatan usahanya dalam masa perpanjangan
atau dalam hal permintaan KP peningkatan kegiatan usaha

belum mendapat

persetujuan dari Menteri. Pemegang KP wajib menyampaikan laporan atas


pekerjaan yang telah dilakukan ataupun perencanaan usaha dan produksinya.
PP Nomor 32 Tahun 1967 mengatur mengenai pengusahaan bahan galian
yang tidak termasuk dalam golongan vital dan strategis, dengan bentuk Surat Izin
Pertambangan Daerah (SIPD), di mana kewenangan berada pada Pemerintah

84
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Daerah Tingkat I (provinsi) dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan


mengenai tata cara pemberian KP. Dalam PP Nomor 32 Tahun 1969 diatur
kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat I untuk menyampaikan laporan tertulis
kepada Menteri setelah menerbitkan SIPD dan setiap 6 bulan sekali. 171 Mengenai
pelimpahan pengusahaan bahan galian yang tidak termasuk dalam golongan
strategis dan vital diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1986
tentang Pelimpahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pertambangan
kepada Pemerintah Daerah Tingkat I (PP Nomor 37 Tahun 1986).
Dalam Pasal 66 PP Nomor 32 Tahun 1969, diatur mengenai
pengutamaan

untuk

kepentingan

nasional,

Menteri

dapat

menetapkan

pencadangan wilayah untuk bahan galian tertentu yang hanya boleh diusahakan
oleh negara; menetapkan pelarangan ekspor atas bahan galian tertentu; dan
menetapkan pencadangan hasil bahan galian tertentu sebagai bagian dari pungutan
yang wajib diserahkan kepada Pemerintah oleh pemegang KP atau oleh
Kontraktor dalam hal Perjanjian Karya. Pada masa berlakunya UU Nomor 11
Tahun 1967 ini kuasa pertambangan yang pada waktu itu didominasi oleh
perusahaan asing diberikan dalam bentuk kontrak (Kontrak Karya dan Perjanjian
Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara) yang mana masa kontraknya 35
tahun dan dapat diperpanjang 25 tahun sehingga bila ditotalkan jangka waktu
untuk satu kontrak kerja adalah 60 tahun. Bentuk perizinan berupa KP
(Penugasan, IPR, KP), dan kontrak/perjanjian karya dengan kewenangan ada pada
Menteri. Kewenangan dalam UU Nomor 11 TAhun 1967 ini bersifat sentralistik
sehingga tidak memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengaturnya
terutama dalam hal pemberian KP dan pembayaran keuntungan. Pengusahaan
pertambangan mineral dan batubara lebih didominasi oleh modal asing, baik pihak
yang mempunyai izin atau berkontrak maupun pihak yang bergerak di bidang jasa
pertambangan (sub kontraktor).

171

Ibid., Ps. 47

85
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

A. 2. Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan Era Otonomi Daerah


Seiring

bergulirnya

reformasi,

terjadi

perubahan

atas

sistem

pemerintahan di Negara Indonesia dengan dilakukannya amandemen atas UUD


1945, di mana Presiden selaku kepala pemerintahan, dan kepala daerah dipilih
secara demokratis, di mana dalam tataran pelaksanaannya dipilih secara langsung
oleh rakyat. Perubahan ini juga terjadi dalam sistem pemerintahan di daerah, di
mana sebelumnya bersifat sentralistik berubah menjadi otonomi daerah, dengan
diterbitkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah (UU Nomor 22 Tahun 1999).
Sehubungan dengan terbitnya UU 22 Tahun 1999, kewenangan
pengelolaan usaha pertambangan juga mengalami perubahan. Dengan berdalih
sebagai pelaksanaan Pasal 133 UU 22 Tahun 1999, 172 Pemerintah menerbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan yang memberikan kewenangan pengusahaan pertambangan yang
bersifat vital dan strategis kepada pemerintah daerah, sampai dengan
bupati/walikota. Diterbitkannya PP 75 Tahun 2001 dengan dalih sebagai
pelaksanaan UU 22 Tahun 1999 merupakan suatu kesalahan besar, karena PP 75
Tahun 2001 tidak hanya bertentangan dengan UU 11 Tahun 1967 tetapi juga
dengan UU 22 Tahun 1999 sendiri. Hal ini dapat dilihat dari Pasal 7 UU 22 Tahun
2001, yang mengatur kewenangan daerah, sebagai berikut:
(1) Kewenangan

Daerah

mencakup

kewenangan

dalam

seluruh

bidang

pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri,


pertahanan keamanan, peradilan,

moneter dan fiskal, agama, serta

kewenangan bidang lain.


(2) Kewenangan bidang lain, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan
nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi
negara dan lembaga perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan
172

Indonesia (9), Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah, UU Nomor 22 Tahun


1999, LN Nomor 60 Tahun 1999, TLN Nomor 3839, Pasal 133 menyebutkan bahwa Ketentuan
peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidak sesuai dengan undang-undang
ini, diadakan penyesuaian.

86
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi


tinggi yang strategis, konservasi, dan standardisasi nasional.

Pasal 11 ayat (1) UU 22 Tahun 1999, mengatur bahwa Kewenangan


Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan
selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam
Pasal 9. Sesuai dengan Pasal 7 ayat (2), pendayagunaan sumber daya alam
adalah kewenangan yang dikecualikan dari Kewenangan Daerah Kabupaten/Kota.
Pasal 119 UU 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa Kewenangan Daerah
Kabupaten dan Daerah Kota, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, berlaku juga
di kawasan otorita yang terletak di dalam Daerah Otonom, yang meliputi badan
otorita, kawasan pelabuhan, kawasan bandar udara, kawasan perumahan, kawasan
industry, kawasan perkebunan, kawasan pertambangan, kawasan kehutanan,
kawasan pariwisata, kawasan jalan bebas hambatan, dan kawasan lain yang
sejenis. Kewenangan di sini menurut hemat saya semestinya kewenangan terkait
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota dalam penentuan kawasan
pertambangan, bukan dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.
Perubahan yang signifikan dari PP 32 Tahun 1969 dengan lahirnya PP 75
Tahun 2001, adalah:
1. Ketentuan Pasal 1 terkait dengan kewenangan pemberian KP, dilakukan oleh
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya,
sebagai berikut:
a. Bupati/walikota,

apabila

wilayah

KP

terletak

dalam

wilayah

kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai 4 mil laut;


b. Gubernur, apabila wilayah KP terletak dalam beberapa kabupaten/kota dan
tidak

dilakukan

kerjasama

antar

kabupaten/kota

maupun

antara

kabupaten/kota denga provinsi dan/atau wilayah laut antara 4 sampai


dengan 12 mil laut;
c. Menteri, apabila wilayah KP terletak dalam beberapa wilayah provinsi dan
tidak dilakukan kerjasama antar provinsi dan/atau wilayah laut di luar 12
mil laut.

87
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

2. Ketentuan Pasal 2, bahwa kewenangan pemberian:


a. Surat Keputusan Penugasan Pertambangan, oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
b. Surat Keputusan Izin Pertambangan Rakyat, oleh bupati/walikota
c. Surat

Keputusan

Pemberian

KP,

oleh

Menteri,

gubernur,

atau

bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.


3. Pasal 7, perubahan pada KP Pengangkutan dan KP Penjualan, menjadi KP
Pengangkutan dan Penjualan.
4. Pasal 4, Pasal 5, Pasal 8 sampai dengan Pasal 13, Pasal 15, Pasal 17, Pasal 20
sampai dengan Pasal 23, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 29 sampai dengan Pasal 33,
Pasal 35 sampai dengan Pasal 37, Pasal 39 sampai dengan Pasal 42, Pasal 44,
Pasal 46; perubahan terkait kewenangan menjadi kewenangan Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
5. Pasal 59 terkait kewajiban Kontraktor KK dan PKP2B untuk memenuhi
kewajiban iuran-iuran (tetap, eksplorasi, eksploitasi).
6. Pasal 61 sampai dengan Pasal 62, terkait pengaturan tata cara pemungutan
iuran tetap, iuran eksplorasi, dan iuran eksploitasi; perimbangan penerimaan
dan perincian penggunaan iuran tetap, iuran eksplorasi, dan iuran eksploitasi
termasuk tata cara penyimpanan, pengambilan dan pengamanannya.
7. Pasal 64 terkait pembinaan dan pengawasan dengan adanya perubahan
kewenangan di mana pembinaan dan pengawasan dilakukan oleh Menteri
terhadap penyelenggaraan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh
gubernur dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. Pembinaan dan
pengawasan kepada bupati/walikota dapat dilimpahkan oleh Menteri kepada
gubernur selaku wakil Pemerintah Pusat di daerah.
8. Penambahan Pasal Peralihan, yaitu Pasal 67a yang mengakui berlakunya KP,
KK, dan PKP2B yang telah terbit sebelum berlakunya PP 75 Tahun 2001 tetap
berlaku sampai jangka waktunya berakhir. Kewenagan pengelolaan KP
tersebut dilakukan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya. Kewenangan pengelolaan KK dan PKP2B dilakukan oleh
Menteri dan berkoordinasi dengan gubernur dan bupati/walikota.

88
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Pada masa otonomi pertambangan sampai kabupaten/kota, penerbitan KP


tidak terkendali dan banyak yang tidak sesuai dengan prosedur serta seringkali
terjadi tumpang tindih wilayah KP karena setiap kali terjadi pergantian
bupati/walikota, maka terdapat KP baru yang terbit. Selain itu pemekaran wilayah
kerapkali menimbulkan persoalan tersendiri di mana dalam penerbitan KP terjadi
tumpang tindih kewenangan, hal ini juga dipicu belum tuntasnya dan belum
jelasnya luas batas wilayah kabupaten/kota yang dibuat oleh Kementerian Dalam
Negeri. Kewajiban pelaporan oleh pemerintah daerah kepada Menteri dalam
penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan tidak dilakukan, sehingga
Pemerintah tidak punya data yang pasti terkait jumlah KP yang telah diterbitkan
oleh gubernur atau bupati/walikota.

B. Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan berdasarkan UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara Perbandingan dengan Philipina
B. 1. Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan berdasarkan UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009
Pengaturan penyelenggaraan pengelolaan pertambangan dalam UU
Nomor 4 Tahun 2009 berbeda dengan UU Nomor 11 Tahun 1967. Paradigma
baru dalam penyelenggaraan pengelolaan pertambangan dalam pelaksanaannya
mengalami berbagai kendala. Harus ditetapkannya WP sebelum penerbitan izin,
merupakan salah satu persoalan yang cukup rumit dalam penyelesaiannya.
Berdasarkan ini, kedudukan bahan galian (istilah sekarang komoditas tambang)
adalah sama. Tidak ada lagi yang dianggap strategis dan vital. Semua bahan
tambang diperlakukan sebagai komoditas.
Pembagian usaha pertambangan diatur dalam Pasal 34 UU Nomor 4
Tahun 2009, dengan pengelompokkan terdiri atas: (i) Pertambangan mineral
(radioaktif, logam, bukan logam, dan batuan); dan (ii) Pertambangan batubara.
Pengaturan mengenai pengelompokan pertambangan mineral dan batubara diatur
dalam PP Nomor 23 Tahun 2010, dengan pembagian ke dalam 5 (lima) golongan
komoditas tambang: 173

173

Indonesia (6), op. cit., Ps. 2

89
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

1. mineral radioaktif meliputi radium, thorium, uranium, monasit, dan bahan


galian radioaktif lainnya;
2. mineral logam meliputi litium, berilium, magnesium, kalium, kalsium, emas,
tembaga, perak, timbal, seng, timah, nikel, mangaan, platina, bismuth,
molibdenum, bauksit, air raksa, wolfram, titanium, barit, vanadium, kromit,
antimoni, kobalt, tantalum, cadmium, galium, indium, yitrium, magnetit, besi,
galena, alumina, niobium, zirkonium, ilmenit, khrom, erbium, ytterbium,
dysprosium, thorium, cesium, lanthanum, niobium, neodymium, hafnium,
scandium, aluminium, palladium, rhodium, osmium, ruthenium, iridium,
selenium, telluride, stronium, germanium, dan zenotin;
3. mineral bukan logam meliputi intan, korundum, grafit, arsen, pasir kuarsa,
fluorspar, kriolit, yodium, brom, klor, belerang, fosfat, halit, asbes, talk, mika,
magnesit, yarosit, oker, fluorit, ball clay, fire clay, zeolit, kaolin, feldspar,
bentonit, gipsum, dolomit, kalsit, rijang, pirofilit, kuarsit, zirkon, wolastonit,
tawas, batu kuarsa, perlit, garam batu, clay, dan batu gamping untuk semen;
4. batuan meliputi pumice, tras, toseki, obsidian, marmer, perlit, tanah diatome,
tanah serap (fullers earth), slate, granit, granodiorit, andesit, gabro, peridotit,
basalt, trakhit, leusit, tanah liat, tanah urug, batu apung, opal, kalsedon, chert,
kristal kuarsa, jasper, krisoprase, kayu terkersikan, gamet, giok, agat, diorit,
topas, batu gunung quarry besar, kerikil galian dari bukit, kerikil sungai, batu
kali, kerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir urug, pasir pasang, kerikil berpasir
alami (sirtu), bahan timbunan pilihan (tanah), urukan tanah setempat, tanah
merah (laterit), batu gamping, onik, pasir laut, dan pasir yang tidak
mengandung unsur mineral logam atau unsur mineral bukan logam dalam
jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan; dan
5. batubara meliputi bitumen padat, batuan aspal, batubara, dan gambut.

Untuk pengusahaan komoditas tambang tersebut diberikan dalam bentuk


izin, yaitu berupa IUP, IPR, dan IUPK, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 35.
Untuk pengusahaan dalam bentuk IUP, IPR, atau IUPK, dapat diberikan
kepada: 174
174

Indonesia (5), op. cit., Ps. 35-Ps. 75.

90
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

1. Untuk IUP, dapat diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan
melalui: (i) lelang WIUP, apabila komoditas tambang yang akan diusahakan
mineral logam dan batubara; dan (ii) permohonan WIUP, apabila komoditas
tambang yang akan diusahakan adalah mineral bukan logam dan batuan.
2. Untuk IPR, dapat diberikan dengan pengutamaan kepada masyarakat
setempat, baik koperasi, orang perorangan, dan kelompok masyarakat melalui
permohonan IPR setelah WPR ditetapkan.
3. Untuk IUPK, dapat diberikan melalui prioritas kepada BUMN/BUMD.
Apabila BUMN/BUMD yang berminat lebih dari satu, dilakukan lelang
WIUPK. Apabila tidak ada BUMN/BUMD yang berminat, diberikan hak
pengusahaan kepada badan usaha swasta, melalui mekanisme lelang WIUPK.
4. Untuk pengusahaan mineral radioaktif, dilakukan sesuai dengan ketentuan
dalam peraturan perundang-undangan di bidang ketenaganukliran.

Mengenai tahap perizinan dalam bentuk IUP/IUPK, diatur dalam Pasal


36 dan Pasal 75,

terdiri atas dua tahap: (i) IUP/IUPK Eksplorasi, meliputi

kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan; dan (ii) IUP/IUPK
Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan. Badan usaha, koperasi, atau
perseorangan yang telah mendapatkan WIUP atau WIUPK baru mendapatkan IUP
Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi setelah mengajukan permohonan IUP Eksplorasi
atau IUPK Eksplorasi dan telah memenuhi persyaratan administratif, teknis,
lingkungan, dan finansial. Hal ini dipertegas dalam PP Nomor 23 Tahun 2010,
bahwa IUP diberikan melalui: (i) pemberian WIUP; dan (ii) pemberian IUP. 175
IUP Operasi Produksi diberikan sebagai peningkatan dari IUP Eksplorasi, dengan
ketentuan setiap pemegang IUP/IUPK Eksplorasi dijamin untuk mendapatkan
IUP/IUPK Operasi Produksi setelah memenuhi persyaratan administratif, teknis,
lingkungan, dan finansial.
Untuk selanjutnya mengenai tata cara lelang WIUP/WIUPK mineral
logam dan batubara, tata cara permohonan WIUP mineral bukan logam dan
batuan, tata cara permohonan dan pemberian IUP/IUPK serta persyaratannya
175

Indonesia (6), op. cit., Ps. 7 menyebutkan bahwa IUP diberikan melalui tahapan: (a)
pemberian WIUP; dan (b) pemberian IUP.

91
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

diatur dalam PP Nomor 23 Tahun 2010. Tata cara mendapatkan WIUP dan IUP
untuk mineral logam, mineral bukan logam, batuan, dan batubara dapat
digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1. Tata Cara Mendapatkan WIUP dan IUP Sesuai Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009

UU Nomor 4 Tahun 2009 mengatur tentang luas minimal dan maksimal


WIUP/WIUPK, sebagai berikut:
1. Mineral logam, untuk:
a. WIUP Eksplorasi minimal 5.000 hektar dan maksimal 100.000 hektar
(Pasal 52),
b. WIUPK Eksplorasi maksimal 100.000 hektare (Pasal 83 huruf a),
c. WIUP/WIUPK Operasi Produksi maksimal 25.000 hektar (Pasal 53, Pasal
83 huruf b);
2. Mineral bukan logam, untuk WIUP Eksplorasi, minimal 500 hektar dan
maksimal 25.000 hektar (Pasal 55), untuk WIUP Operasi Produksi maksimal
5.000 hektare (Pasal 56);

92
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

3. Batuan, untuk WIUP Eksplorasi, minimal 5 hektar dan maksimal 5.000 (Pasal
58), untuk WIUP Operasi Produksi maksimal 1.000 hektare (Pasal 59);
4. Batubara, untuk:
a. WIUP Esplorasi minimal 5.000 hektar dan maksimal 50.000 hektar (Pasal
61),
b. WIUPK Eksplorasi maksimal 50.000 hektar (Pasal 83 huruf c),
c. WIUP/WIUPK Operasi Produksi maksimal 15.000 hektar (Pasal 62, Pasal
83 huruf d).

Mengenai batas minimal WIUP untuk mineral logam, mineral bukan


logam, dan batubara dalam perjalanannya telah diputus oleh MK dinyatakan
bertentangan dengan UUD 1945 dan dinyatakan tidak mempunyai kekuatan
hukum mengikat dalam Putusan Atas Nomor Perkara 25/PUU-VIII/2010 pada
tanggal 4 Juni 2012. Dengan demikian untuk pelaksanaan kegiatan usaha
pertambangan mineral logam, mineral bukan logam, dan batubara tidak ada
batasan minimal.
Masa berlaku IUP dalam UU Nomor 4 Tahun 2009, sebagai berikut:
1. mineral logam; untuk:
a. IUP/IUPK Eksplorasi diberikan untuk jangka waktu 8 tahun, meliputi:
penyelidikan umum 1 tahun, eksplorasi 3 tahun dapat diperpanjang 2 kali
masing-masing untuk 1 tahun, studi kelayakan 1 tahun dapat diperpanjang
1 kali untuk 1 tahun (Pasal 42 ayat (1) dan Pasal 83 huruf e);
b. IUP/IUPK Operasi Produksi diberikan untuk jangka waktu 20 tahun
termasuk konstruksi 2 tahun, dapat diperpanjang 2 kali masing-masing
untuk 10 tahun (Pasal 47 ayat (1);
2. Mineral bukan logam, untuk:
a. IUP Eksplorasi diberikan untuk jangka waktu 3 tahun, meliputi:
penyelidikan umum 1 tahun, eksplorasi 1 tahun, dan studi kelayakan 1
tahun (Pasal 42 ayat (2);
b. IUP Eksplorasi mineral bukan logam jenis tertentu diberikan untuk jangka
waktu 7 tahun, meliputi: penyelidikan umum 1 tahun, eksplorasi 3 tahun

93
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dapat diperpanjang 1 kali untuk 1 tahun, studi kelayakan 1 tahun dapat


diperpanjang 1 kali untuk 1 tahun (Pasal 42 ayat (2);
c. IUP Operasi Produksi diberikan untuk jangka waktu 10 tahun dapat
diperpanjang 2 kali masing-masing 5 tahun (Pasal 47 ayat (2);
d. IUP Operasi Produksi mineral bukan logam jenis tertentu diberikan untuk
jangka waktu 20 tahun termasuk kontruksi 2 tahun, dapat diperpanjang 2
kali masing-masing untuk 10 tahun (Pasal 47 ayat (3);
3. Batuan, untuk:
a. IUP Eksplorasi diberikan untuk jangka waktu 3 tahun, meliputi
penyelidikan umum 1 tahun, eksplorasi 1 tahun, dan studi kelayakan 1
tahun (Pasal 42 ayat (3);
b. IUP Operasi Produksi diberikan untuk jangka waktu 5 tahun dapat
diperpanjang 2 kali masing-masing untuk 5 tahun (Pasal 47 ayat (4);
4. Batubara, untuk:
a. IUP/IUPK Eksplorasi diberikan untuk jangka waktu 7 tahun meliputi
penyelidikan umum 1 tahun, eksplorasi 2 tahun dapat diperpanjang 2 kali
masing-masing 1 tahun, dan studi kelayakan 2 tahun (Pasal 42 ayat (4) dan
Pasal 83 huruf f);
b. IUP Operasi Produksi diberikan untuk jangka waktu 20 tahun termasuk
konstruksi 2 tahun, dapat diperpanjang 2 kali masing-masing 10 tahun
(Pasal 47 ayat (5) dan Pasal 83 huruf g).

Dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 diatur mengenai perizinan yang


sifatnya khusus, yaitu:
1. Izin sementara, merupakan izin yang diberikan kepada pemegang IUP/IUPK
Eksplorasi untuk melakukan pengangkutan dan penjualan mineral atau
batubara yang tergali dalam kegiatan eksplorasi atau studi kelayakan (Pasal 43
dan Pasal 81);
2. IUP Operasi Produksi untuk penjualan, merupakan izin yang diberikan kepada
badan usaha yang tidak bergerak di bidang pertambangan untuk melakukan
penjualan mineral atau batubara yang tergali dalam kegiatan usahanya (Pasal
105);

94
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

3. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian, merupakan


izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan khusus pengolahan dan
pemurnian (Pasal 104);
4. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan, merupakan
izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan pengangkutan dan penjualan
(Pasal 36 PP Nomor 23 Tahun 2010).

Skema bentuk perizinan (IUP/IUPK Eksplorasi dan IUP/IUPK Operasi


Produksi) dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.2. Skema Bentuk Perizinan Sesuai Undang-Undang


Nomor 4 Tahun 2009

Kegiatan pertambangan rakyat dalam UU Nomor 4 Tahun 2009


dilakukan dalam bentuk IPR. IPR diberikan oleh bupati/walikota, berdasarkan
permohonan dari perseorangan atau koperasi (terutama kepada penduduk)
setempat setelah WPR ditetapkan (Pasal 67). Pasal 68 UU Nomor 4 Tahun 2009
mengatur mengenai luas wilayah untuk 1 (satu) IPR, sebagai berikut yang dapat
diberikan kepada: (a) perseorangan paling banyak 1 (satu) hektar; (b) kelompok
95
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

masyarakat paling banyak 5 (lima) hektar; dan/atau (c) koperasi paling banyak 10
(sepuluh) hektar. IPR diberikan untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun
dan dapat diperpanjang.
Skema

perizinan

dalam

kegiatan

pertambangan

rakyat,

dapat

digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.3. Skema Perizinan Pertambangan Rakyat Sesuai Undang-Undang


Nomor 4 Tahun 2009

Mengenai hak dan kewajiban pemegang IUP/IUPK, diuraikan dalam UU


Nomor 4 Tahun 2009, sebagai berikut:
1. Hak, meliputi: mendapat prioritas untuk mengusahakan mineral lain yang
bukan asosiasi dari mineral yang diusahakan yang ditemukan dalam WIUPnya; melakukan sebagian atau seluruh tahapan usaha pertarnbangan, baik
kegiatan eksplorasi maupun kegiatan operasi produksi; memanfaatkan
prasarana dan sarana umum untuk keperluan pertambangan setelah memenuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan; memiliki mineral, termasuk mineral
ikutannya, atau batubara yang telah diproduksi apabila telah memenuhi iuran
eksplorasi atau iuran produksi, kecuali mineral ikutan radioaktif.
96
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

2. Kewajiban, meliputi: menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik;


mengelola keuangan sesuai dengan sistem akuntansi Indonesia; meningkatkan
nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara melalui pengolahan dan
pemurnian di dalam negeri; melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat setempat; dan mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan;
menjamin penerapan standard dan baku mutu lingkungan sesuai dengan
karakteristik suatu daerah; menjaga kelestarian fungsi dan daya dukung
sumber daya air yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;

menyerahkan

rencana

reklamasi

dan

rencana

pascatambang pada saat mengajukan permohonan IUP/IUPK Operasi


Produksi; menyediakan dana jaminan reklamasi dan dana jaminan
pascatambang; mengikutsertakan pengusaha lokal yang ada di daerah tersebut
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; menyerahkan seluruh
data yang diperoleh dari hasil eksplorasi dan operasi produksi kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya; memberikan
laporan tertulis secara berkala atas rencana kerja dan pelaksanaan kegiatan
usaha pertambangan mineral dan batubara kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya; melakukan divestasi saham
pada Pemerintah, pemerintah daerah, badan usaha milik negara, badan usaha
milik daerah, atau badan usaha swasta nasional bagi badan usaha pemegang
IUP/IUPK yang sahamnya dimiliki oleh asing.

Mengenai penerimaan Negara atau Daerah diatur dalam Pasal 128,


pemegang IUP atau IUPK wajib membayar pendapatan Negara dan pendpatan
daerah. Pendapatan negara berupa penerimaan pajak (pajak-pajak yang menjadi
kewenangan Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
di bidang perpajakan dan bea masuk dan cukai), dan penerimaan Negara bukan
pajak (iuran tetap, iuran eksplorasi, iuran produksi, dan kompensasi data
informasi). Pendapatan daerah terdiri atas pajak daerah, retribusi daerah, dan
pendapatan lain yang sah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

97
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

B. 2. Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan di Philipina


Konsep penguasaan sumber daya alam mineral yang dianut oleh
Philipina sama dengan Indonesia, bahwa sumber daya alam mineral dan batubara
adalah milik negara. Kewajiban peningkatan nilai tambah dari sumber daya alam
mineral dan batubara ada pada negara, dilakukan dengan cara: (i) eksplorasi; (ii)
pengembangan; (iii) pemanfaatan; dan (iv) konservasi. Untuk mewujudkan
peningkatan nilai tambah sumber daya mineral, dibuatlah suatu act atau undangundang yang mengatur pertambangan di Philipina, yaitu Philippine Mining Act
of 1995. Dalam Philippine Mining Act 1995, pengelolaan sumber daya alam
mineral dapat dilakukan sendiri oleh Pemerintah dan dapat menunjuk
kontraktor. 176 Philipina menggunakan dua bentuk sistem dalam pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya alam mineral, yaitu: (i) sistem izin (permit); dan (ii)
sistem kontrak.
Izin diberikan oleh pejabat yang berwenang (Kantor Pertambangan dan
Geosciences Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Mineral) kepada
pemohon izin pertambangan untuk kegiatan eksplorasi, yang terdiri dari: individu,
partnership (persekutuan), corporations (badan hukum), cooperatives (koperasi),
dan association (perkumpulan-perkumpulan). Jangka waktu berlakunya izin
eksplorasi adalah 2 tahun dan dapat diperpanjang setelah mendapat izin dari
Direktor. Luas wilayah yang dapat diberikan untuk individu: (i) 20 blok apabila
wilayah yang dimohon untuk eksplorasi dan penambangan di dalam provinsi; (ii)
40 blok apabila wilayah yang dimohon untuk eksplorasi dan penambangan di
seluruh wilayah Philipina; dan (iii) 100 blok apabila wilayah pertambangan
berada pada 500 meter dari lepas pantai. Sedangkan bagi persekutuan, badan
hukum, koperasi atau perkumpulan: (i) 200 blok apabila wilayah yang dimohon
untuk eksplorasi dan penambangan di dalam provinsi; (ii) 400 blok apabila
wilayah yang dimohon untuk eksplorasi dan penambangan di seluruh wilayah
Philipina; dan (iii) 1.000 blok apabila wilayah pertambangan berada pada 500
meter dari lepas pantai.
Hak penerima izin eksplorasi dituangkan dalam Pasal 23 Philippine
Mining Act 1995, yaitu: (i) Mengizinkan untuk memasuki, memiliki, dan
176

Philippine Mining Act Tahun 1995, Ps. 4

98
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

melakukan kegiatan eksplorasi pada wilayah izin pertambangan; (ii) Melakukan


kegiatan eksplorasi pada wilayah yang telah ditentukan dalam izin berdasarkan
program kerja yang ditentukan; (iii) Mengubah bentuk izin menjadi bentuk
perjanjian bagi hasil, joint venture, perjanjian produksi bersama, atau bantuan
teknis.
Sistem kontrak pengusahaan pertambangan di Philipina dilakukan antara
Pemerintah dengan kontraktor, dengan objek perjanjian hak untuk melakukan
operasi penambangan di wilayah kontrak, meliputi: kegiatan eksplorasi,
pengembangan/konstruksi, dan pemanfaatan mineral. Perjanjian hak untuk
melakukan operasi penambangan, ada tiga bentuk, yaitu: 177
1. Mineral production sharing agreement, disebut juga perjanjian bagi hasil
mineral, merupakan perjanjian yang dibuat antara Pemerintah dengan
kontraktor, di mana Pemerintah memberikan hak eksklusif kepada kontraktor
untuk melakukan kegiatan penambangan pada wilayah kontrak, dengan
prinsip bagi hasil.
2. Co-production agreement, merupakan perjanjian antara Pemerintah dengan
kontraktor, di mana Pemerintah menyediakan biaya untuk pelaksanaan
kegiatan penambangan, selain sumber daya mineral.
3. Joint venture agreement, merupakan perjanjian, di mana Pemerintah dan
kontraktor membuat perusahaan patungan untuk melakukan kegiatan
penambangan, di mana kedua belah pihak memiliki saham yang sama
besarnya (equity shares). Selain memiliki modal di perusahaan, Pemerintah
juga berhak untuk mendapatkan pembagian hasil dari kegiatan penambangan
mineral.

Yang dapat mengajukan permohonan kontrak/perjanjian mineral kepada


Pemerintah, adalah: individu 178; partnership (persekutuan), corporations (badan
hukum), cooperatives (koperasi), dan association (perkumpulan-perkumpulan).
Luas maksimal wilayah yang dapat diberikan dalam kontrak/perjanjian mineral,
177

Ibid., Ps. 26

178

Syarat individu untuk dapat mengajukan permohonan kontrak/perjanjian mineral


dengan Pemerintah, yaitu: (i) yang bersangkutan harus memiliki track record dalam bidang
lingkungan hidup; dan (ii) harus berkonsultasi dengan Biro Manajemen Lingkungan.

99
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

untuk individu: (i) 10 blok apabila wilayah yang dimohon untuk eksplorasi dan
penambangan di dalam provinsi; (ii) 20 blok apabila wilayah yang dimohon untuk
eksplorasi dan penambangan di seluruh wilayah Philipina; dan (iii) 50 blok
apabila wilayah pertambangan berada di wilayah pantai seluruh Philipina.
Sedangkan bagi persekutuan, badan hukum, koperasi atau perkumpulan: (i) 100
blok apabila wilayah yang dimohon untuk eksplorasi dan penambangan di dalam
provinsi; (ii) 200 blok apabila wilayah yang dimohon untuk eksplorasi dan
penambangan di seluruh wilayah Philipina; dan (iii) 500 blok apabila wilayah
pertambangan berada di wilayah pantai seluruh Philipina.
Hak kontraktor dalam kontrak/perjanjian mineral, meliputi: (i) hak
eksklusif untuk melakukan operasi penambangan; (ii) mengambil semua sumber
daya alam mineral yang ditemukan di wilayah kontrak; (iii) mengubah perjanjian
ke dalam salah satu bentuk perjanjian mineral; atau (iv) mengubah jumlah biaya.
Sedangkan kewajiban kontraktor, meliputi: menyediakan biaya, teknologi,
manajemen, dan personil yang diperlukan untuk pelaksanaan perjanjian.
Dalam Philippine Mining Act of 1995, diatur pula mengenai pengalihan
izin (transfer or assignment). Ketentuan pengalihan izin tambang dapat dilakukan
untuk Izin Eksplorasi (Exploration Permit), permohonan perjanjian mineral
(Mineral Agreement Application), dan perjanjian mineral (Mineral Agreement).
Untuk pengalihan Izin Eksplorasi (Exploration Permit) dapat dilihat dalam
Section 25 sebagai berikut: Section 25. Transfer or Assignment of Exploration
Permit An Exploration Permit may be transferred or assigned to another
Qualified Person(s) subject to the approval of the Secretary upon the
recommendation of the Director. Dari rumusan pasal tersebut dapat dilihat
bahwa Izin Eksplorasi dapat ditransfer atau dialihkan kepada pihak lain yang
memenuhi persyaratan dengan persetujuan dari Secretary 179 atas rekomendasi
Director. 180

179

Philippine Mining Act of 1995, Section 5, letter ch jo. letter q, "Secretary" means the
Secretary of the Department. "Department" means the Department of Environment and Natural
Resources of the Republic of the Philippines.
180

Ibid., Section 5, letter t jo. letter g, "Director" means the Director of the Bureau.
"Bureau" means the Central Office of the Mines and Geosciences Bureau under the Department.

100
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Terkait pengalihan permohonan Perjanjian Mineral (Mineral Agreement


Application), diatur dalam Section 40, sebagai berikut: Section 40. Transfer or
Assignment of Mineral Agreement Application Transfer or assignment of
Mineral Agreement shall be allowed subject to the approval of the
Director/concerned Regional Director taking into account the national interest
and public welfare: Provided, That such transfer or assignment shall be subject to
eligibility requirements and shall not be allowed in cases involving speculation.
Di Philipina, permohonan Perjanjian Mineral, dapat diizinkan untuk ditransfer
atau dialihkan dengan persetujuan Direktor/Regional Director yang bersangkutan,
dengan mempertimbangkan kepentingan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Transfer atau pengalihan permohonan Perjanjian Mineral tidak akan diizinkan
dalam hal kasus yang menyangkut spekulasi.
Sedangkan untuk pengalihan Perjanjian Mineral (Mineral Agreement),
diatur dalam Section 46, sebagai berikut: Section 46. Transfer or Assignment of
Mineral Agreement:
1. A Contractor may file an application for the total or partial transfer or
assignment of its Mineral Agreement to a Qualified Person(s) upon payment
of an application fee (Annex 5-A) with the Bureau/concerned Regional Officer
for evaluation. No application shall be accepted for filing unless accompanied
by the pertinent Deed of Assignment that shall contain, among others, a
stipulation that the transferee/assignee assumes all obligations of the
transferor/assignor under the Agreement. Any transfer or assignment of rights
and obligations under any Mineral Agreement shall be subject for approval of
the Secretary upon the recommendation of the Director:
2. Provided, That any transfer or assignment of a Mineral Agreement shall not
be approved unless the transferor/assignor or Contractor has complied with
all the terms and conditions of the Agreement and the provisions of the Act
and these implementing rules and regulations at the time of the
transfer/assignment: Provided, further, That any transfer or assignment shall
be deemed automatically approved if not acted upon by the Secretary within
thirty (30) calendar days from official receipt thereof, unless patently
unconstitutional, illegal or where such transfer or assignment is violated of

101
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pertinent rules and regulations: Provided, finally, That the transferee assumes
all the obligations and responsibilities of the transferor/assignor under the
Mineral Agreement.
3. If the circumstances warrant and upon the recommendation of the Director,
the Secretary may impose additional conditions for the approval of
transfer/assignment of the Mineral Agreement.

C. Kewajiban Penyesuaian Bentuk Perizinan Tambang setelah Terbitnya


Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara sebagai Dasar Kebijakan Penataan Perizinan
UU Nomor 4 Tahun 2009 yang terbit pada tanggal 12 Januari 2009
mencabut UU Nomor 11 Tahun 1967. Dengan demikian kegiatan pertambangan
tidak lagi didasarkan UU Nomor 11 Tahun 1967. Konsekuensi dari terbitnya
undang-undang ini adalah bahwa seluruh kegiatan usaha pertambangan yang telah
ada atau diterbitkan berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1967, baik pengusahaan
pertambangan dengan bentuk kontrak, KP, SIPD, maupun IPR harus disesuaikan
dengan UU Nomor 4 Tahun 2009.
Untuk pengusahaan pertambangan dengan bentuk kontrak, kewajiban
penyesuaian sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 169, sebagai berikut:
1. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang
telah ada sebelum berlakunya Undang-Undang ini tetap diberlakukan sampai
jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian.
2. Ketentuan yang tercantum dalam pasal kontrak karya dan perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara disesuaikan selambat-lambatnya 1 (satu)
tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan kecuali mengenai penerimaan
negara.
3. Pengecualian terhadap penerimaan negara adalah upaya peningkatan
penerimaan negara.

Selain kewajiban penyesuaian kontrak dengan ketentuan dalam UU


Nomor 4 Tahun 2009, dalam undang-undang ini juga diatur mengenai
permohonan kontrak yang telah diterima oleh Menteri sebelum terbitnya UU

102
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Nomor 4 Tahun 2009, sebagai berikut: 181 Permohonan kontrak karya dan
perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang telah diajukan kepada
Menteri paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berlakunya Undang-Undang ini dan
sudah mendapatkan surat persetujuan prinsip atau surat izin penyelidikan
pendahuluan tetap dihormati dan dapat diproses perizinannya tanpa melalui lelang
berdasarkan undang-undang ini. Dengan ketentuan ini, berarti permohonan
kontrak yang memenuhi persyaratan: (i) diajukan paling lambat satu tahun
sebelum UU Nomor 4 Tahun 2009 berlaku; dan (ii) sudah mendapat surat
persetujuan prinsip atau surat izin penyelidikan pendahuluan, tetap diproses tanpa
melalui lelang dengan diberikan IUP Eksplorasi.
Sedangkan untuk pengusahaan pertambangan dalam bentuk KP dan
SIPD, kewajiban penyesuaian diatur dalam Pasal 112 PP Nomor 23 Tahun 2010,
bahwa Kuasa pertambangan, surat izin pertambangan daerah, dan surat izin
pertambangan rakyat, yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini tetap diberlakukan
sampai jangka waktu berakhir serta wajib: 182
1. disesuaikan menjadi IUP atau IPR sesuai dengan ketentuan Peraturan
Pemerintah ini dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak
berlakunya Peraturan Pemerintah ini dan khusus BUMN dan BUMD,
untuk IUP Operasi Produksi merupakan IUP Operasi Produksi pertama;
2. menyampaikan rencana kegiatan pada seluruh wilayah kuasa pertambangan
sampai dengan jangka waktu berakhirnya kuasa pertambangan kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
3. melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri dalam jangka waktu
paling lambat 5 (lima) tahun sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 4
Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Dalam Pasal 112 PP Nomor 23 Tahun 2010, juga diatur mengenai


permohonan KP yang telah diterima oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya sebelum terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009,
181

Indonesia (5), op. cit., Ps. 172

182

Indonesia (6), op. cit., Pasal 112 angka 4

103
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

sebagai berikut: 183 Permohonan Kuasa Pertambangan yang telah diterima


Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sebelum terbitnya Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan telah
mendapatkan Pencadangan Wilayah dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya dapat diproses perizinannya dalam bentuk IUP
tanpa melalui lelang paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berlakunya
Peraturan Pemerintah ini.
Selain kewajiban menyesuaikan bentuk perizinan, setelah berlakunya UU
Nomor 4 Tahun 2009, mengenai wilayah KP atau wilayah kontrak wajib
disesuaikan, sesuai dengan ketentuan Pasal 39 PP Nomor 22 Tahun 2010, yaitu:
1. Wilayah surat izin pertambangan daerah dan wilayah kuasa pertambangan
yang telah diberikan kepada pemegang Surat Izin Pertambangan Daerah atau
Kuasa Pertambangan yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan sebelum diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini, dalam
jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berlakunya Peraturan
Pemerintah ini, harus ditetapkan menjadi WIUP dalam WUP sesuai dengan
ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. 184
2. Wilayah kontrak karya dan wilayah perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara yang telah diberikan kepada pemegang kontrak karya
dan pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang
diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum
diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini, dalam jangka waktu paling lambat 3
(tiga) bulan sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini, harus ditetapkan
dalarn WUP sesuai dengan ketentuan dalarn Peraturan Pemerintah ini. 185

Kewajiban penyesuaian bentuk perizinan tambang sebelum berlakunya


UU Nomor 4 Tahun 2009, termasuk penyesuaian wilayah kerjanya, menjadi salah
satu landasan dalam penyiapan rencana WP. Pasal 6 huruf e dan Pasal 9 UU

183

Ibid., Ps. 112 angka 5

184

Indonesia (10), Peraturan Pemerintah tentang Wilayah Pertambangan, PP Nomor


22 Tahun 2010, LN Nomor 28 Tahun 2010, TLN 5110, Pasal 39 angka 2.
185

Ibid., Ps. 39 angka 3

104
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Nomor 4 Tahun 2009 yang mengamanatkan adanya penetapan WP sebagai


landasan bagi penetapan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara, oleh
Pemerintah setelah berkoordinasi 186 dengan pemerintah daerah dan berkonsultasi
dengan DPR RI, menjadi landasan bagi Pemerintah untuk melakukan suatu
rekonsiliasi data pertambangan dengan mengundang semua pemerintah daerah,
baik provinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka sinkronisasi data potensi,
sumberdaya, dan cadangan mineral dan batubara serta perencanaan wilayah yang
akan ditetapkan sebagai WP untuk jangka waktu 5 tahun ke depan. Perencanaan
wilayah ini tidak hanya mencakup wilayah yang akan diusahakan tetapi termasuk
di dalamnya wilayah eksisting yang sudah ada perizinan pertambangan sebelum
lahirnya UU Nomor 4 Tahun 2009 (wilayah KP, SIPD, IPR, KK, dan PKP2B).
Hampir lima tahun berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009, penetapan WP
belum selesai dilaksanakan. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Mineral
dan Batubara, penyiapan rencana WP telah dimulai sebelum terbitnya UU Nomor
4 Tahun 2009, dengan kronologis sebagai berikut: 187
1. Direktorat Jenderal Minerba bersama dengan Badan Geologi dan Balitbang
ESDM melakukan inventarisasi data dan potensi mineral dan batubara.
2. Tanggal 30 Agustus 2007, Kementerian ESDM menyampaikan surat kepada
Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia dengan Surat Dirjen
Minerba Pabum No.1572/34/DJB/2007, untuk menyampaikan data SK KP,
data RTRWP/RTRWK, status dan fungsi kawasan hutan, batas administrasi,
dan potensi sebaran sumberdaya mineral.
3. Tanggal 11 s/d 13 September 2007, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah Kalimantan Barat dalam rangka sinkronisasi Pemetaan dan
Perencanaan WP di Pontianak.
4. Tanggal 23 s/d 25 Oktober 2007, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah berkoordinasi dalam rangka
sinkronisasi tentang Pemetaan dan Perencanaan WP di Palangkaraya.
186

Mahkamah Konstitusi (1), loc. cit., hlm. 98, frasa setelah berkoordinasi dengan
pemerintah daerah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, sepanjang tidak dimaknai setelah ditentukan oleh pemerintah daerah
187

Kronologis diambil dari Bahan Konsultasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
dengan Komisi VII DPR RI terkait Penetapan Wilayah Pertambangan pada tanggal 7 Februari
2011.

105
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

5. Tanggal 21 s/d 23 Oktober 2008, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan


Pemerintah Daerah se provinsi Jawa bagian barat meliputi Banten, DKI
Jakarta dan Jawa Barat dalam rangka invetarisasi data perizinan, potensi dan
WPR di Bandung.
6. Tanggal 21 s/d 23 Oktober 2008, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah se provinsi Jawa bagian tengah meliputi Jawa Tengah dan
DIY dalam rangka inventarisasi data perizinan, potensi dan WPR di
Semarang.
7. Tanggal 27 s/d 29 Oktober 2008, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah dalam rangka inventarisasi data perizinan, potensi dan
WPR se provinsi Sumatera bagian utara meliputi NAD, Sumatera Utara, Riau,
Kepulauan Riau dan Sumatera Barat di Medan.
8. Tanggal 29 s/d 31 Oktober 2008, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah dalam rangka inventarisasi data perizinan, potensi dan
WPR se provinsi Sumatera bagian selatan meliputi Jambi, Bengkulu,
Sumatera Selatan, Lampung, dan Bangka Belitung di Palembang.
9. Tanggal 4 s/d 5 November 2008, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah dalam rangka inventarisasi data perizinan, potensi dan
WPR se Pulau Kalimantan di Banjarmasin
10. Tanggal 26 s/d 27 November 2008, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah se Kepulauan Maluku dan Maluku Utara dalam rangka
inventarisasi data perizinan, potensi dan WPR di Ternate
11. Tanggal 17 s/d 19 Desember 2008, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah se pulau Sulawesi dalam rangka inventarisasi data
perizinan, potensi, dan WPR di Makasar.
12. Tanggal 21 s/d 23 Januari 2009, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah Bali, NTB dan NTT dalam rangka inventarisasi data
perizinan, potensi dan WPR di Denpasar
13. Tanggal 28 s/d 30 Januari 2009, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah se pulau Papua dalam rangka inventarisasi data perizinan,
potensi dan WPR di Jayapura

106
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

14. Tanggal 30 Januari 2009, Meminta kepada Gubernur dan Bupati/Walikota


seluruh Indonesia agar menyampaikan izin pertambangan yang mereka
terbitkan dalam penyiapan WIUP dengan Surat Edaran Dirjen Minerba Pabum
No.03.E/31/DJB/2009 tentang Perizinan Pertambangan Mineral dan Batubara
Sebelum Terbitnya PP sebagai Pelaksanaan UU Nomor 4 Tahun 2009.
15. Tanggal 30 s/d 31 Maret 2009, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah se provinsi Jawa bagian timur meliputi Jawa Timur dan
sekitarnya dalam rangka inventarisasi data perizinan, potensi dan WPR di
Surabaya.
16. Tanggal 22-23 April 2010, Kementerian ESDM mengundang Rapat
Gubernur/Bupati/Walikota untuk menyepakati rancangan WP di Jakarta.

Sebelum rekonsiliasi tanggal 22-23 April 2010 dilaksanakan, sebelumnya


telah disampaikan Surat kepada gubernur dan bupati/walikota sesuai di seluruh
Indonesia, melalui Surat Direktur Jenderal Mineral, Batubara, dan Panas Bumi
atas nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 707/06/DJB/2010,
tanggal 5 Maret 2010. Dalam Surat tersebut diminta kepada gubernur dan
bupati/walikota untuk menyampaikan semua perizinan dalam bentuk KP, SIPD,
SIPR termasuk peta wilayah KP, SIPD, dan SIPR yang telah diterbitkan sebelum
berlakunya PP Nomor 22 Tahun 2010 dan PP Nomor 23 Tahun 2010, termasuk
peta wilayah yang direncanakan untuk dikembangkan menjadi WUP dalam lima
tahun ke depan disertai data geologis dan data pendukung kepada Direktorat
Jenderal Mineral, Batubara, dan Panas Bumi paling lambat 25 Maret 2010. Data
perizinan termasuk peta wilayahnya, serta peta rencana WUP yang dilengkapi
data geologis dan pendukung dijadikan dasar perencanaan WP sebagai acuan
untuk penyelenggaraan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara.
Dalam perjalanannya, penetapan WP mengalami permasalahan, terkait
dengan perizinan eksisting yang diterbitkan oleh pemerintah daerah, terutama
bupati/walikota, karena tidak dilaksanakannya kewajiban pelaporan atas
pengelolaan pertambangan mineral dan batubara yang dilaksanakan oleh
pemerintah daerah. Jangka waktu sampai dengan 25 Maret 2010 dan dalam
pelaksanaan rekonsiliasi tanggal 22-23 April 2010 belum semua data perizinan,

107
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

peta wilayah perizinan, dan peta rencana wilayah yang akan dikembangkan untuk
kegiatan pertambangan mineral dan batubara lima tahun ke depan dapat
disampaikan oleh pemerintah daerah. Dalam penetapan WP, di dalamnya
termasuk penggambaran WUP, WPR, dan WPN. Ini sesuai dengan ketentuan
Pasal 13 UU Nomor 4 Tahun 2009, bahwa WP terdiri atas: (i) WUP; (ii) WPR;
dan (ii) WPN. Ruang lingkup WP, dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.4. Ruang Lingkup Wilayah Pertambangan Sesuai


Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009

Sesuai dengan ketentuan Pasal 14 ayat (1), penetapan WUP dilakukan


oleh Pemerintah setelah berkoordinasi 188 dengan pemerintah daerah. Demikian
pula untuk penetapan luas dan batas WIUP mineral logam dan batubara yang
diatur dalam Pasal 17. Untuk penetapan WUP harus memenuhi kriteria: 189
1. memiliki formasi batuan pembawa batubara, formasi batuan pembawa
mineral logam, dan/atau formasi batuan pembawa mineral radioaktif,
termasuk wilayah lepas pantai berdasarkan peta geologi;

188

Mahkamah Konstitusi (1), loc. cit., hlm. 98, frasa setelah berkoordinasi dengan
pemerintah daerah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, sepanjang tidak dimaknai setelah ditentukan oleh pemerintah daerah
189

Indonesia (6), op. cit., Ps. 20 ayat (2)

108
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

2. memiliki singkapan geologi untuk mineral radioaktif, mineral logam,


batubara, mineral bukan logam, dan/atau batuan;
3. memiliki potensi sumber daya mineral atau batubara;
4. memiliki 1 (satu) atau lebih jenis mineral termasuk mineral ikutannya
dan/atau batubara;
5. tidak tumpang tindih dengan WPR dan/atau WPN;
6. merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertambangan
secara bekelanjutan; dan
7. merupakan kawasan peruntukan pertambangan sesuai dengan rencana tata
ruang.

Sedangkan untuk kriteria penetapan WIUP adalah: (i) letak geografis; (ii)
kaidah konservasi; (iii) daya dukung lindungan lingkungan; (iv) optimalisasi
sumber daya mineral dan/atau batubara; dan (v) tingkat kepadatan penduduk.
Dengan demikian Pemerintah maupun pemerintah daerah sebelum menetapkan
WIUP harus sudah mempunyai kajian lingkungan hidup strategis sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan
hidup.
Dengan adanya putusan MK bahwa setelah berkoordinasi dengan
pemerintah daerah dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945, sepanjang tidak
dimaknai setelah ditentukan oleh pemerintah daerah, membuat penetapan WP
semestinya didahului penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah provinsi dan
kabupaten/kota, untuk memastikan bahwa WUP dan WPR masuk dalam kawasan
peruntukan pertambangan. Dalam penetapan WPR yang dilakukan oleh
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya setelah berkonsultasi dengan
DPRD, harus memperhatikan kriteria:
1. mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau di
antara tepi dan tepi sungai;
2. mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman
maksimal 25 (dua puluh lima) meter;
3. endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba;

109
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

4. luas maksimal wilayah pertambangan rakyat adalah 25 (dua puluh lima)


hektare;
5. menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau 190
6. merupakan wilayah atau tempat kegiatan tarnbang rakyat yang sudah
dikerjakan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun. 191

Kewajiban berkonsultasi dengan DPR RI dalam rangka penetapan WP


juga menjadi permasalahan tersendiri. Sampai saat ini Kementerian ESDM telah
menyusun Rancangan WP sesuai dengan ketentuan Pasal 9 UU Nomor 4 Tahun
2009 Jo. Pasal 2 PP Nomor 22 Tahun 2010 dan telah disampaikan ke DPR dengan
surat No. 5265/30/MEM.B/2010 tanggal 11 Agustus 2010. Terkait penetapan WP,
Pemerintah telah melakukan 4 kali RDP, yaitu pada: (i) tanggal 7 Februari 2011,
(ii) tanggal 16 Juni 2011, (iii) tanggal 27 September 2011, (iv) tanggal 24
November 2011, dan (v) tanggal 10 Oktober 2011). Kemudian pada tanggal 27
November 2012 dilakukan RDP dengan DPR RI khusus membahas rekomendasi
penerbitan izin untuk mineral bukan logam dan batuan untuk kepentingan
pembangunan. 192
Belum adanya penetapan WP, berarti penerbitan izin baru setelah
terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009 belum boleh dilakukan, karena WP menjadi
landasan bagi kegiatan usaha pertambangan. Namun dalam perjalanan
perkembangan kebutuhan pembangunan nasional, kebutuhan komoditas tambang
bukan logam dan batuan semakin meningkat. Keadaan ini memicu terjadinya
penambangan tanpa izin. Begitu pula dengan pengusahaan mineral logam dan
batubara, banyak masyarakat yang melakukan penambangan tanpa izin. Kondisi
ini perlu ditanggulangi dengan percepatan penetapan WP, agar pemerintah daerah

190

Mahkamah Konstitusi (4), Putusan Atas Perkara Nomor 25/PUU-X/2012, tanggal 4


Juni 2012, hlm. 99, sepanjang frasa dan/atau dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945,
sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
191

Ibid., sepanjang frasa merupakan wilayah atau tempat kegiatan tarnbang rakyat
yang sudah dikerjakan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun dinyatakan bertentangan
dengan UUD 1945, sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
192

Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral
dan Batubara, Bahan RDP Direktur Jenderal Mineral dan Batubara dengan Panja Minerba, Komisi
VII DPR RI, Wilayah Pertambangan khusus Golongan C, tanggal 27 November 2012

110
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dapat menerbitkan perizinan di wilayah-wilayah yang telah dilakukan berbagai


kegiaatan penambangan tanpa izin.
Dalam rangka percepatan penetapan WP, maka Pemerintah dalam hal ini
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, sebagai tindak lanjut rekonsiliasi data
potensi, sumberdaya, dan cadangan mineral dan batubara pada tanggal 22-23
April 2009, membuat kebijakan Rekonsiliasi IUP Nasional. Kebijakan
Rekonsiliasi IUP Nasional inilah yang melandasi lahirnya kebijakan penataan
perizinan di bidang pertambangan mineral dan batubara.

D. Rekonsiliasi Izin Usaha Pertambangan dalam Rangka Penataan


Perizinan di Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara
Dengan diotonomikannya kewenangan penyelenggaraan pengelolaan
usaha pertambangan kepada pemerintah daerah, dengan otonomi seluas-luasnya
ada pada kabupaten/kota dengan diterbitkannya PP Nomor 75 Tahun 2001 dan
UU Nomor 4 Tahun 2009, memicu kenaikan jumlah izin yang diterbitkan oleh
pemerintah daerah terutama bupati/walikota hingga mencapai lebih dari 10.000.
Namun jumlah izin yang sangat banyak tidak disertai dengan perencanaan yang
baik dalam pengelolaan usaha pertambangan di daerah. Kewajiban pelaporan atas
penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan dari pemerintah daerah kepada
Pemerintah setiap 6 bulan sekali belum dilaksanakan secara maksimal. Hal ini
membuat Pemerintah tidak memiliki data yang valid terkait izin tambang yang
dikeluarkan oleh pemerintah daerah termasuk data sumberdaya dan cadangan
mineral dan batubara, maupun data penerimaan negara dari iuran tetap dan iuran
produksi.
Dari hasil rekonsiliasi tanggal 22-23 April 2010, belum semua data
perizinan dari pemerintah daerah yang akan dijadikan dasar penentuan WUP,
WIUP, dan WPR disampaikan kepada Pemerintah. Hal ini menyebabkan
rancangan WP yang dibahas dengan masing-masing daerah belum final. Dengan
masih belum finalnya rancangan WP tersebut, maka Pemerintah mengambil
kebijakan untuk melakukan Rekonsiliasi Data IUP Nasional I, yang dilaksanakan
pada tanggal 3 sampai dengan 6 Mei 2011.

111
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Pelaksanaan Rekonsiliasi Data IUP Nasional ini didasarkan atas UU


Nomor 4 Tahun 2009 dan dalam rangka pelaksanaan PP Nomor 22 Tahun 2010
dan PP Nomor 23 Tahun 2010, yang mewajibkan dilakukannya penyesuaian
bentuk perizinan KP, SIPD, dan SIPR menjadi IUP dan IPR, serta wilayah
kerjanya untuk ditetapkan menjadi WIUP dan WPR. Jangka waktu tiga bulan
setelah berlakunya PP Nomor 22 Tahun 2010 dan PP Nomor 23 Tahun 2010,
nyatanya tidak ditaati oleh pemerintah daerah.
Tujuan dilaksanakannya Rekonsiliasi Data IUP adalah terciptanya
koordinasi, verifikasi dan sinkronisasi IUP di seluruh wilayah provinsi dan
kabupaten/kota di Indonesia. Sehingga hasil akhirnya registrasi WIUP dalam data
base nasional pertambangan mineral dan batubara. Selain itu, dampak dari
Rekonsiliasi Data Izin Usaha Pertambangan adalah: (a) tersedia data IUP mineral
batubara secara Nasional dengan baik, (b) peningkatan Penerimaan Negara, (c)
terintegrasi data IUP pusat dan daerah. 193
Dalam pelaksanaan Rekonsiliasi Data IUP Nasional I terdapat
permasalahan-permasalahan dalam pemenuhan kewajiban penyesuaian KP, SIPD,
dan IPR dan wilayah usahanya berdasarkan PP 22 Tahun 2010 dan PP 23 Tahun
2010. Jangka waktu tiga bulan untuk penyesuaian KP, SIPD, dan IPR menjadi
IUP atau IPR sesuai dengan PP Nomor 23 Tahun 2010 serta batas penerbitan IUP
untuk permohonan KP yang telah diterima oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya sebelum terbitnya UU Nomor 4
Tahun 2009 dan telah mendapatkan pencadangan wilayah, banyak yang tidak
dijalankan. Begitu juga penyesuaian wilayah KP, SIPD, dan IPR menjadi WIUP
dan WPR sesuai dengan PP 22 Tahun 2010 juga belum dilaksanakan.
Permasalahan lain adalah tidak lengkapnya administrasi perizinan,
tumpang tindih WIUP sama komoditas, tumpang tindih kewenangan antar
bupati/walikota, maupun antara bupati/walikota dengan gubernur, belum
dipenuhinya kewajiban keuangan. Dalam Siaran Pers Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral Nomor 33/HUMAS KESDM/2011 tanggal 27 Juni 2011,
193

Siaran Pers Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 33/Humas
Kesdm/2011, Tanggal: 27 Mei 2011 tentang Koordinasi Pendataan Izin Usaha Pertambangan
http://www.esdm.go.id/siaran-pers/55-siaran-pers/4550-koordinasi-pendataanNasional 2011,
izin-usaha-pertambangan-nasional-2011.html, diunduh 7 Desember 2013

112
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

diumumkan hasil Rekonsiliasi Data IUP Nasional I, di mana di dalamnya terdapat


istilah Clear and Clean, sebagai berikut: Berdasarkan hasil inventarisasi dan
verifikasi

dari

SK

IUP

yang

disampaikan

Pemerintah

Daerah

Provinsi/Kabupaten/Kota pada acara Rekonsiliasi Nasional Data IUP tersebut,


maka sampai dengan 21 Mei 2011 pukul 13.00 hasil rekapitulasi terdapat
sejumlah 8.475 data Izin Usaha Pertambangan (sampai dengan saat ini
penghitungan masih berlangsung), terdiri dari: (a) data IUP Clear and Clean:
3.971; (b) data IUP Non Clear and Clean: 4.504. Dalam siaran pers tersebut juga
disampaikan

batas

terakhir

penyampaian

SK

IUP

oleh

Pemerintah

Propinsi/Kabupaten/Kota kepada Pemerintah pada tanggal 6 Juni 2011.


Terkait data IUP Non Clear and Clean, dalam perjalanannya terdapat
penambahan jumlah IUP. Hal ini dapat dilihat dari tabel permasalahan hasil
Rekonsiliasi Data IUP Nasional per 28 Juni 2011 (1 bulan setelah siaran pers),
sebagai berikut: 194

No.

PERMASALAHAN IUP

1.

2.

IUP CnC Terbit Setelah 1 Mei 2010 (1305 IUP)


Belum dinyatakan CnC karena melewati 3 bulan setelah berlakunya
PP 23 Tahun 2010
Tumpang Tindih (TT) WIUP sesama komoditi (278 IUP)

3.

Tumpang Tindih Beda Komoditi (236 IUP)

4.

Tumpang Tindih Kewenangan (85 IUP)

5.

Dokumen SK Pendukung tidak lengkap dan format SK tidak sesuai


(2692 IUP)

6.

Koordinat tidak sesuai dengan SK ( 634 IUP)

7.

KP, SIPD yang belum disesuaikan menjadi IUP (256 KP/SIPD)


Jumlah : 5486
Tabel 3.1. Data Permasalahan IUP
Hasil Rekonsiliasi Data IUP Nasional per 28 Juni 2011

194

Data permasalahan IUP hasil rekonsiliasi nasional IUP Direktorat Jenderal Mineral
dan Batubara, per 28 Juni 2011

113
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Berdasarkan tabel di atas, data IUP Non Clear and Clean bertambah, dari
4504 menjadi 5486 (bertambah sebanyak 982). Hal ini dimungkinkan karena
adanya batas waktu penyampaian SK IUP paling lambat 6 Juni 2011, sehingga
beberapa provinsi dan/atau kabupaten/kota menambah data IUP-nya. Dalam
pengumuman hasil Rekonsiliasi IUP Tahap I pada tanggal 1 Juli 2011, terdapat
3904 IUP yang dinyatakan Clear and Clean dari 31 provinsi. Jumlah ini lebih
kecil dari jumlah data IUP Clear and Clear dalam Siaran Pers tanggal 27 Mei
2011 (selisih 67 IUP).
Pengumuman kedua baru dilakukan pada tanggal 28 Februari 2012,
sebanyak 373 IUP dinyatakan Clear and Clean. Di dalam pengumuman ini
disebutkan Bagi IUP yang diumumkan pada hari ini dan IUP yang telah
diumumkan pada tanggal 1 Juli 2011, dalam waktu paling lambat 60 hari setelah
pengumuman ini, bagi pemegang IUP Eksplorasi wajib menyampaikan bukti setor
iuran tetap sampai dengan tahun terakhir dan pemegang IUP Operasi Produksi
wajib menyampaikan, laporan eksplorasi lengkap dan studi kelayakan, dokumen
lingkungan yang telah disetujui dan disahkan oleh pejabat yang berwenang serta
bukti setor pembayaran iuran tetap dan iuran produksi (royalti) sampai dengan
tahun terakhir, sebagai kelengkapan persyaratan untuk mendapatkan Sertifikat
Clear and Clean.
Untuk selanjutnya kebijakan penentuan status IUP Clear and Clean
bertujuan untuk: 195
1. Sebagai dasar penetapan Wilayah Pertambangan;
2. Bahan koordinasi dengan instansi lain dalam penentuan tata ruang sehingga
dapat mengetahui tumpang tindih antara daerah, tumpang tindih antar sektor,
dan tumpang tindih antar pemegang IUP;
3. Optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (iuran tetap, royalti, penjualan
hasil tambang) dari IUP;
4. Peluang untuk peningkatan nilai tambah mineral dan batubara;
5. Mengetahui potensi produksi nasional mineral dan batubara;
6. Dasar penentuan pemenuhan kebutuhan domestik (DMO);
7. Peningkatan kontribusi usaha jasa pertambangan nasional;
195

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan
Batubara, Buku Panduan Rekonsiliasi Nasional Izin Usaha Pertambangan (IUP) Tahap II, 2012

114
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

8. Peningkatan kebutuhan sumber daya manusia;


9. Pengelolaan lingkungan yang optimal.

Sampai dengan saat ini sudah dilakukan sebanyak 10 kali pengumuman


untuk menyatakan IUP Clear and Clean, dengan rincian: 196
1. Pengumuman Tahap I, dilakukan pada tanggal 1 Juli 2011, sebanyak 3.904
IUP dinyatakan clear and clean;
2. Pengumuman Tahap II, dilakukan pada tanggal 28 Februari 2012, sebanyak
373 IUP dinyatakan clear and clean;
3. Pengumuman Tahap III, dilakukan pada tanggal 11 Mei 2012, sebanyak 235
IUP dinyatakan clear and clean;
4. Pengumuman Tahap IV, dilakukan pada tanggal 30 Mei 2012, sebanyak 211
IUP dinyatakan clear and clean;
5. Pengumuman Tahap V, dilakukan pada tanggal 13 Juni 2012, sebanyak 130
IUP dinyatakan clear and clean, dan pembatalan 1 status IUP Clear and
Clean pada Pengumuman Tahap IV;
6. Pengumuman Tahap VI, dilakukan pada tanggal 1 agustus 2012, sebanyak 209
IUP dinyatakan clear and clean; dan pembatalan 2 status IUP Clear and
Clean pada Pengumuman Tahap V;
7. Pengumuman Tahap VII, dilakukan pada tanggal 16 Oktober, sebanyak 278
IUP dinyatakan clear and clean, dan pembatalan 4 status IUP Clear and
Clean pada Pengumuman Tahap I dan 1 status IUP Clear and Clean pada
Pengumuman Tahap II;
8. Pengumuman Tahap VIII, dilakukan pada tanggal 23 Januari 2013, sebanyak
382 IUP dinyatakan clear and clean;
9. Pengumuman Tahap IX, dilakukan pada tanggal 12 Juli 2013, sebanyak 400
IUP dinyatakan clear and clean;
10. Pengumuman Tahap X, dilakukan pada tanggal 2 Oktober 2013, sebanyak 53
IUP dinyatakan clear and clean, dan pembatalan 6 IUP Clear and Clean pada
Pengumuman Tahap I dan 2 status IUP Clear and Clean pada Pengumuman
Tahap VI.
196

Data Pengumuman IUP yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, www.minerba.esdm.go.id

115
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Dari sepuluh kali pengumuman status IUP Clear and Clean, terdapat
6.175 dinyatakan clear and clean, dan sebanyak 16 dibatalkan status clear and
clean-nya. Sehinga sampai pengumuman kesepuluh terdapat 6.159 IUP yang clear
and clean. Dalam perjalanan penataan IUP sampai dengan pengumuman tahap X,
ditemukan setidaknya 27 permasalahan dalam penentuan status IUP Clear and
Clean. Ke 27 permasalahan tersebut diberi kode tertentu. Ke 27 kode tersebut
berdasarkan data penyelesaian permasalahan IUP clear and clean baru diterapkan
semuanya setelah Pengumuman Tahap VI. Ke 27 kode dan permasalahannya
adalah sebagai berikut: 197
KODE

PERMASALAHAN

Pengajuan permohonan perpanjangan/peningkatan KP/IUP setelah


masa berlaku KP/IUP berakhir

Pencadangan ditetapkan sebelum UU 4/2009 dan permohonan IUP


dalam SKnya diajukan setelah UU 4/2009

Pada diktum mengingat dalam SK penyesuaian KP menjadi IUP


masih tercantum UU 11/1967

Pergeseran Wilayah Setelah UU No 4/2009

Tidak ada KP Eksplorasi, langsung KP Eksploitasi untuk bahan


galian mineral dan batubara

PT bukan perusahaan terbuka, memiliki beberapa IUP setelah


terbitnya UU No 4/2009

Satu IUP memiliki 2 blok wilayah

Masa berlaku SK penyesuaian melebihi ketentuan UU 4/2009

Keabsahan dokumen:
- SK IUP terakhir belum dilegalisir (cap basah)
- SK IUP dilegalisir tapi tidak ditanda tangani dan diberi tanggal
legalisir

10

Pengalihan IUP PT A ke PT B setelah UU 4/2009 dengan pemegang


saham berubah

11

Pengalihan IUP PT A ke PT B masih dalam tahap IUP Eksplorasi


setelah UU 4/2009

197

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan
Batubara, Buku Panduan Rekonsiliasi Nasional Izin Usaha Pertambangan (IUP) Tahap II, 2012

116
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

KODE

PERMASALAHAN

12

Peningkatan sebagian IUP Eksplorasi menjadi IUP OP setelah UU


4/2009

13

Permohonan pencadangan wilayah diajukan sebelum UU 4/2009


pada wilayah rencana penciutan KK/PKP2B/KP/IUP yang masih
aktif, sedangkan wilayah KK/PKP2B/IUP baru diciutkan setelah UU
4/2009. IUP-nya diterbitkan sebelum/setelah penciutan WIUP
KK/PKP2B/KP/IUP

14

IUP batuan bukan logam diterbitkan setelah UU 4/2009 dan telah


mendapat rekomendasi dari Dirjen Minerba sebelum April 2011

15

KP yang sampai dengan saat ini belum disesuaikan menjadi IUP

16

Permohonan penyesuaian ke IUP dan tanggal penetapan


penyesuaian KP menjadi IUP setelah 30/4/2010

17

Penggabungan beberapa KP menjadi 1 IUP, namun pada judul SK


IUP tidak dicantumkan Penggabungan. Diktum pada SK IUP tidak
menyebutkan SK KP yang digabung

18

Jangka waktu IUP yang akan diregistrasi pada DJMB telah berakhir

19

Tanggal penetapan SK berbeda dengan tanggal pada lampiran


koordinat SK

20

Jangka Waktu penyesuaian KP Eksploitasi menjadi IUP OP tidak


sama / lebih dari jangka waktu yang diberikan pada saat KP
Eksplorasi

21

Pengalihan IUP Operasi Produksi dari PT A ke PT B setelah UU


4/2009

22

Dokumen tidak lengkap

23

Dokumen Ganda (SK dengan Nomor, Tanggal, dan Subjek yang


sama) tetapi terdapat perbedaan tanggal

24

KP Terbit Setelah UU N0. 4 Tahun 2009 (12 Januari 2009)

25

Wilayah IUP masuk ke Hutan Konservasi

26

Turun status tahapan dari IUP Operasi Produksi menjadi IUP


Eksplorasi

27

Perubahan komoditas dari mineral logam menjadi batubara

Tabel 3.2. Permasalahan dalam Penentuan Status IUP Clear and Clean dalam
Rekonsiliasi IUP Nasional Tahap II Tahun 2012

117
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Ke-27 permasalahan IUP tersebut, merupakan permasalahan yang


dijadikan dasar penentuan IUP kategori clear and clean dan diupayakan untuk
diselesaikan dalam pelaksanaan Rekonsiliasi Nasional IUP Tahap II pada bulan
September sampai dengan November 2012. Sesuai dengan kebijakan baru dalam
penentuan IUP clear and clean, terkait permasalahan administrasi, termasuk
pengalihan/pemindahan IUP setelah terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009, salah
satu langkah yang ditempuh adalah dengan membuat berita acara yang
ditandatangani oleh wakil dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara serta
wakil dari gubernur atau bupati/walikota, dibuktikan dengan Surat Tugas dari
gubernur atau bupati/walikota, disaksikan oleh instansi terkait, antara lain: Biro
Hukum Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Dalam
Negeri, dan Bareskrim. 198
Penataan IUP dari Rekonsiliasi Data IUP Nasional I sampai II dapat
digambarkan sebagai berikut: 199

Gambar 3.5. Penataan IUP dalam Proses Rekonsiliasi IUP Nasional


198

Sumber Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Buku Panduan Pelaksanaan


Rekonsiliasi Nasional IUP Tahap II, 2012
199

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan
Batubara, Penataan dan Pengusahaan Wilayah Pertambangan, Bahan Presentasi disampaikan
dalam Rapat Koordinasi dalam Rangka Peningkatan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah dalam
Pengelolaan Kawasan Sumber Daya Alam di Wilayah Provinsi Jawa Tengah di Semarang, 26 Juni
2013

118
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Yang sangat disayangkan, dalam pelaksanaan Rekonsiliasi IUP Tahap I


dan Tahap II dan penentuan status IUP Clear and Clean justru jumlah total IUP
yang teregistrasi di Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara semakin bertambah
dari waktu ke waktu. Tujuan penataan perizinan justru tidak dapat tercapai, dan
waktu penyelesaian permasalahan IUP akan semakin panjang dan berlarut-larut.
Peningkatan ini jelas terlihat dari data dalam siaran pers Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral Nomor 33/HUMAS KESDM/2011 tanggal 27 Juni 2011
total IUP sebanyak 8.475, per 1 Mei 2012 total IUP 9.662, dan per 24 Juni 2013
menjadi 10.879; data terakhir per 26 November 2013 total IUP yang diajukan
untuk pemrosesan status clear and clean bertambah lagi, sehingga total IUP
menjadi 10.916. 200 Menurut tim evaluator IUP clear and clean, jumlah 10.916
belum final, karena masih banyak IUP khususnya mineral yang belum diajukan
pemrosesan untuk IUP clear and clean, jadi masih mungkin untuk terus
bertambah.

E. Pengalihan Izin Usaha Pertambangan setelah terbitnya Undang-Undang


Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
E. 1. Pengaturan Pengalihan Izin Usaha Pertambangan
UU Nomor 4 Tahun 2009 secara tegas melarang pengalihan/pemindahan
IUP, namun dalam perumusannya mengandung beberapa penafsiran. Terkait
pengalihan/pemindahan IUP ini diatur dalam Pasal 93, sebagai berikut:
(1) Pemegang IUP dan lUPK tidak boleh memindahkan IUP dan IUPK-nya
kepada pihak lain.
(2) Untuk pengalihan kepemilikan dan/atau saham di bursa saham Indonesia
hanya dapat dilakukan setelah melakukan kegiatan eksplorasi tahapan tertentu.
(3) Pengalihan kepemilikan dan/atau saham sebagairnana dimaksud pada ayat (2)
hanya dapat dilakukan dengan syarat:
a. harus memberitahu kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya; dan
b. sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
200

Data Update status IUP Clear and Clean Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara

119
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Rumusan awal terkait ketentuan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009,


sebelumnya adalah Pasal 30 dalam Rancangan Undang-Undang tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara (RUU Minerba), dengan rumusan
Pemegang IUP dapat memindahkan IUP kepada pihak lain setelah memenuhi
persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan
mendapat persetujuan dari pemberi izin. Namun rumusan Pasal 30 RUU Minerba
tersebut mendapatkan tanggapan dari beberapa fraksi di Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) yang dirangkum dalam Basis of
Memorandum Rapat Paripurna DPR-RI Tahun 2007, sebagai berikut: 201
1. Partai Golongan Karya, mengusulkan rumusan Pasal 30 RUU Minerba
menjadi Pemegang IUP dapat memindahkan kepemilikannya kepada pihak
lain setelah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan mendapatkan persetujuan dari pemberi izin.
2. Partai

Demokrasi

Indonesia

Perjuangan,

mutatis

mutandis.

Partai

Demokrasi Indonesia Perjuangan mengemukakan pertanyaan sebagai berikut:


bagaimana kalau yang terjadi adalah pengalihan saham (farm out) yang
menjadi mayoritas tetapi tanpa pengalihan IUP? Seharusnya pengalihan
saham mayoritas berarti secara substansial telah mengalihkan IUP sehingga
wajib mendapat persetujuan dari pemberi izin dan pengalihan seperti itu wajib
dilakukan secara akuntabel dan terbuka karena substansi ini bisa dilakukan
sebagai rekayasa manipulatif tersembunyi (fraudulent misrepresentation)
yang merupakan penyalahgunaan dalam lelang terbuka.
3. Partai Persatuan Pembangunan, mengusulkan perubahan rumusan Pasal 30
dengan mengubah kata IUP menjadi kepemilikannya. Usulan partai ini
selanjutnya berbunyi Pemegang IUP dapat memindahkan kepemilikannya
kepada pihak lain setelah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dan mendapat persetujuan dari pemberi izin.
Usulan ini sama dengan usulan Partai Golongan Karya.
4. Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai
Keadilan Sejahtera, dan Partai Damai Sejahtera tidak memberikan tanggapan.
5. Partai Bintang Pelopor Demokrasi, mengusulkan perubahan dengan redaksi:
201

Basis of Memorandum Rapat Paripurna DPR-RI Tahun 2007

120
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

(1) Pemegang IUP tidak dapat memindahkan kepemilikan IUP kepada pihak
lain.
(2) Pemegang IUP tidak dapat melaksanakan kewajibannya, maka IUPnya
dikembalikan kepada pemberi izin.
(3) Pemberi izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyerahkan
kepada pihak ketiga melalui proses lelang.
6. Partai Bintang Reformasi, menyetujui rumusan Pasal 30 RUU Minerba.

Dari usulan atau tanggapan terkait rumusan Pasal yang mengatur


ketentuan pengalihan izin dalam RUU Minerba dan aturan pengalihan KP dalam
UU Nomor 11 Tahun 1967, terdapat perbedaan yang signifikan dengan rumusan
Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009. Dalam UU 11/1967 dan RUU Minerba
maupun usulan atau tanggapan atas rumusan Pasal 30 dalam RUU Minerba
memperbolehkan adanya pengalihan atau pemindahtanganan izin dengan jelas
KP dapat dipindahkan kepada badan/orang lain dengan izin Menteri, dengan
memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
atau Pemegang IUP dapat memindahkan IUP kepada pihak lain setelah
memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
dan mendapat persetujuan dari pemberi izin.
Hal ini berbeda dengan rumusan Pasal 93, yang masih menimbulkan
pertanyaan apakah IUP boleh atau tidak untuk dipindahkan/dialihkan. Hal ini
terkait dengan rumusan pada ayat (2) dan ayat (3) pengalihan kepemilikan
dan/atau saham. Apa yang dimaksud dengan kepemilikan dalam rumusan ayat
(2) dan ayat (3) tidaklah jelas, apakah itu kepemilikan IUP atau kepemilikan
saham. Apabila kepemilikan di sini adalah IUP, maka tidak mungkin dialihkan
di bursa saham Indonesia. Namun apabila kepemilikan di sini adalah saham,
semestinya dirumuskan kepemilikan saham tanpa kata sambung dan/atau,
karena dengan adanya kata sambung dan/atau berarti antara kepemilikan dan
saham adalah dua hal yang berbeda.
Rumusan Pasal 93 ini juga masih menyisakan permasalahan terkait
pengalihan saham di luar bursa saham, apakah diperbolehkan atau dilarang.
Karena dalam Pasal 93 hanya diatur mengenai pengalihan saham di bursa saham

121
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Indonesia. Dalam dunia bisnis, termasuk bisnis di bidang pertambangan,


pengalihan saham atau pergantian pemegang saham tentunya adalah hal yang
umum terjadi. Disamping itu, rumusan ayat (3) yang hanya mempersyaratkan
untuk memberitahukan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya tidaklah lazim dalam izin.
Terlepas dari jelas atau tidaknya rumusan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun
2009, nyatanya dalam PP Nomor 23 Tahun 2010 terdapat rumusan yang justru
membuka peralihan hak pengusahaan mineral dan batubara. Dalam Pasal 44 ayat
(1) dan ayat (2) PP Nomor 23 Tahun 2010, mengatur: (i) dalam hal pada lokasi
WIUP ditemukan komoditas tambang lainnya yang bukan asosiasi mineral yang
diberikan dalam IUP, pemegang IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi
memperoleh keutamaan dalam mengusahakan komoditas tambang lainnya yang
ditemukan; (ii) dalam mengusahakan komoditas tambang lainnya, pemegang IUP
harus membentuk badan usaha baru. 202 Ketentuan ini juga berlaku juga untuk
pemegang IUPK apabila dalam WIUPK ditemukan komoditas tambang lain yang
bukan asosiasi mineral yang diberikan dalam IUPK, pemegang IUPK Eksplorasi
dan IUPK Operasi Produksi memperoleh keutamaan dalam mengusahakan
komoditas tambang lainnya yang ditemukan dan dalam mengusahakan komoditas
tambang lainnya harus membentuk badan usaha baru. 203
Kewajiban penyesuaian KP menjadi IUP juga menyisakan persoalan
pengalihan izin, karena dulu badan usaha, koperasi, atau perseorangan dapat
memiliki lebih dari satu KP (paling banyak lima KP). Sedangkan dalam
penyesuaian, apabila itu badan usaha tertutup, sesuai dengan Pasal 9 ayat (2) PP
Nomor 23 Tahun 2010 bahwa setiap pemohon (badan usaha, koperasi, dan
perseorangan) hanya dapat diberikan satu WIUP, artinya hanya dapat diberikan
satu IUP. Dalam pelaksanaan penyesuaian KP, untuk yang memiliki lebih dari
satu KP, menjadi kendala karena hanya boleh mempunyai satu IUP. Dalam
penentuan status clear and clean, hal ini juga menjadi penghambat untuk
pemegang IUP mendapatkan status clear and clean tersebut.

202

Indonesia (6), op. cit., Ps. 44 ayat (1) dan ayat (2).

203

Ibid., Ps. 71 ayat (1) dan ayat (2).

122
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Dalam perkembangannya, terhadap Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009,


diterjemahkan dalam PP Nomor 24 Tahun 2012. Apabila dilihat, terkait Pasal 93
UU Nomor 4 Tahun 2009, dituangkan dalam Pasal 7A dan Pasal 7B PP Nomor 24
Tahun 2012. Pasal 7A PP Nomor 24 Tahun 2012, memuat ketentuan:
(1) Pemegang IUP dan IUPK tidak boleh memindahkan IUP dan IUPK-nya
kepada pihak lain.
(2) Pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha yang
51% (lima puluh satu persen) atau lebih sahamnya tidak dimiliki oleh
pemegang IUP atau IUPK.

Tidak hanya itu, ketentuan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 juga


diperluas dengan pengaturan dalam Pasal 7B PP Nomor 24 Tahun 2012, yang
mengatur bahwa:
(4) IUP atau IUPK yang dimiliki oleh BUMN sebagian WIUP atau WIUPK
Operasi Produksinya dapat dialihkan kepada pihak lain.
(5) Pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha yang
51% (lima puluh satu persen) atau lebih sahamnya dimiliki oleh BUMN
pemegang IUP atau IUPK.
(6) Pengalihan sebagian WIUP atau WIUPK Operasi Produksi sebagaimana
dimaksud ayat (1) dilakukan dengan persetujuan Menteri.

Munculnya rumusan Pasal 7A dan Pasal 7B PP Nomor 24 Tahun 2012


berawal dari adanya rencana kerja sama antara PT. Bukit Asam (PTBA) dengan
PT. Transpacific (PTTS) dalam pembangunan proyek angkutan kereta api baru
TE-Lampung yang telah dimulai sejak tahun 2004. Rencana kerja sama tersebut
dilatarbelakangi batubara di wilayah KP PTBA adalah batubara kalori rendah,
sehingga belum diminati pasar. Hal tersebut mengakibatkan keuangan PTBA
tidak mencukupi untuk mendanai proyek pembangunan rel kereta api. PTTS
menyatakan kesanggupannya untuk membuat studi kelayakan pembangunan rel
kereta api dan pelabuhan. Pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2007, dibuat
principle agreement antara PTBA, PTTS, dan China Railway Engineering

123
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Corporation

(CREC)

dan

PTTS

telah

menyelesaikan

studi

kelayakan

pembangunan rel kereta dan pelabuhan khusus batubara dengan biaya sendiri. 204
Skema Bisnis kerja sama pembangunan proyek angkutan kereta api
tersebut, sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang
dilakukan PTBA pada tahun 2008 adalah sebagai berikut: 205
1. PTBA sebagai Pemegang KP;
2. PTBA akan memberikan otorisasi kepada PT. Bukit Asam Banko (PT.
BAB) 206 untuk mengelola tambang yaitu menjalankan aktivitas eksploitasi,
pengangkutan sampai dengan perdagangan batubara selama 20 tahun di
sebagian wilayah Banko;
3. PTBA akan mendapatkan kompensasi sebesar USD 1,21 per ton batubara
yang diproduksi oleh PT BAB;
4. PTBAB dan PT. Bukit Asam Transpacific Railway (PT. BATR) 207 akan
membuat Perjanjian pengangkutan batubara selama 20 tahun.

Sebelum perjanjian untuk pembangunan rel kereta dengan skema bisnis


di atas dapat direalisasikan, terbit UU Nomor 4 Tahun 2009, yang tidak
memungkinkan wujud kerja sama antara PTBA dengan PTBAB, karena untuk
penambangan (coal getting) tidak boleh lagi dijasakan. Atas dasar tersebut,
berdasarkan hasil pembahasan RPP Perubahan Atas PP Nomor 23 Tahun 2010 di
Kementerian Koordinator Perekonomian, maka dibuatlah rumusan Pasal 7A dan
Pasal 7B.
Pengejawantahan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009, khususnya terkait
perubahan kepemilikan saham diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber
204

Sumber: dari bahan presentasi PTBA, dalam Rapat Pembahasan RPP Perubahan Atas
PP Nomor 23 Tahun 2010 di Kementerian Koordinasi Perekonomian, 6 Oktober 2011.
205

Ibid.

206

PT. BAB adalah perusahaan patungan antara PTBA dengan PTTR dalam kegiatan
pertambangan, dengan komposisi saham masing-masing 65% dan 35% (sumber dari bahan
presentasi PTBA, dalam Rapat Pembahasan RPP Perubahan Atas PP Nomor 23 Tahun 2010 di
Kementerian Koordinasi Perekonomian, 6 Oktober 2011).
207

PT. BATR adalah perusahaan patungan antara PTBA, PTTR, dan China Railway
Engineering Corporation (CREC), dengan komposisi saham masing-masing 10%, 80%, dan 10%
(sumber dari bahan presentasi PTBA, dalam Rapat Pembahasan RPP Perubahan Atas PP Nomor
23 Tahun 2010 di Kementerian Koordinasi Perekonomian, 6 Oktober 2011).

124
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Daya Mineral Nomor 28 Tahun 2013 tentang Tata Cara dan Penetapan Harga
Divestasi Saham, serta Perubahan Penanaman Modal di Bidang Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara (Permen ESDM Nomor 28 Tahun 2013).
Dalam Pasal 15 ayat (2) huruf e, perubahan kepemilikan saham masuk dalam
kategori perubahan penanaman modal.
Mengenai perubahan kepemilikan saham, lebih lanjut diatur dalam Pasal
27 Permen ESDM Nomor 28 Tahun 2013, sebagai berikut:
(1) Permohonan perubahan kepemilikan saham sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 15 ayat (2) huruf e diajukan oleh pemegang IUP Eksplorasi, IUPK
Eksplorasi, IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, IUP Operasi
Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian, atau IUP Operasi
Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan kepada:
a. Menteri melalui Direktur Jenderal;
b. gubernur, atau;
c. bupati/walikota;
sesuai dengan kewenangannya berdasarkan format sebagaimana tercantum
dalam Lampiran VA yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
(2) Perubahan kepemilikan saham PMA untuk IUP Eksplorasi dan IUPK
Eksplorasi hanya dapat dilakukan apabila kepemilikan modal asing tidak lebih
dari 75% (tujuh puluh lima persen).
(3) Perubahan kepemilikan saham PMA untuk IUP Operasi Produksi dan IUPK
Operasi Produksi hanya dapat dilakukan apabila kepemilikan modal asing
tidak lebih dari 49% (empat puluh sembilan persen).
(4) Perubahan kepemilikan saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
penjualan, penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan saham
yang dilakukan oleh pemegang IUP Eksplorasi, IUPK Eksplorasi, IUP
Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, IUP Operasi Produksi khusus
untuk pengolahan dan/ atau pemurnian, atau IUP Operasi Produksi khusus
untuk pengangkutan dan penjualan.
(5) Permohonan perubahan keperrtilikan saham sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus melampirkan:

125
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

a. dasar atau alasan perubahan kepemilikan saham;


b. hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham sebelum dituangkan
dalam akta notaris;
c. laporan hasil kegiatan studi kelayakan yang membuktikan telah ditemukan
paling sedikit 2 (dua) wilayah prospek dalam kegiatan eksplorasi bagi
pemegang IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi;
d. bukti pelunasan pembayaran iuran tetap (deadrent) selama 2 (dua) tahun
terakhir bagi pemegang IUP Eksplorasi, IUPK Eksplorasi, IUP Operasi
Produksi, dan IUPK Operasi Produksi;
e. bukti pelunasan pembayaran iuran produksi selama 2 (dua) tahun terakhir
bagi pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi;
f. bukti pelunasan pembayaran iuran produksi bagi pemegang IUP
Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi yang memiliki izin sementara untuk
melakukan pengangkutan dan penjualan, serta pemegang IUP Operasi
Produksi

khusus

untuk

pengolahan

dan/atau

pemurnian

yang

memanfaatkan mineral ikutan;


g. laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan
publik;
h. rancangan jual beli saham;
i. akta pendirian perusahaan calon pemegang saham baru;
j. KTP dan Nomor Pokok Wajib Pajak calon pemegang saham baru Warga
Negara Indonesia atau paspor bagi calon pemegang saham baru Warga
Negara Asing apabila perubahan kepemilikan saham kepada orang
perseorangan;
k. profil calon pemegang saham baru; dan
l. salinan IUP Eksplorasi, IUPK Eksplorasi, IUP Operasi Produksi, atau
IUPK Operasi Produksi yang telah teregistrasi pada Direktorat Jenderal
dan dinyatakan clear and clean.

Permen ESDM Nomor 28 Tahun 2013, berlaku bagi pemegang


IUP/IUPK, termasuk pemegang Izin Khusus di bidang pertambangan mineral dan
batubara. Sedangkan untuk pemegang KK dan PKP2B, berlaku Peraturan Menteri

126
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2009 tentang Tata Cara
Perubahan Penanaman Modal dalam Rangka Pelaksanaan Kontrak Karya dan
Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (Permen ESDM Nomor 18
Tahun 2009). Mengenai perubahan kepemilikan saham bagi pemegang KK dan
PKP2B diatur dalam Pasal 2 ayat (2) huruf e, masuk dalam kategori perubahan
penanaman modal.
Lebih lanjut ketentuan mengenai pengalihan kepemilikan saham bagi
pemegang KK dan PKP2B diatur dalam Pasal 8 Permen ESDM Nomor 18 Tahun
2009, sebagai berikut:
(1) Permohonan perubahan kepemilikan saham sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (2) huruf e diajukan oleh perusahaan KK atau PKP2B kepada
Menteri melalui Direktur Jenderal dengan mengisi formulir sebagaimana
tercantum dalam Lampiran VA Peraturan Menteri ini.
(2) Perubahan kepemilikan saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
penjualan, penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan saham
yang dilakukan oleh perusahaan KK atau PKP2B.
(3) Permohonan perubahan kepemilikan saham sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus melampirkan:
a. hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS); bukti pelunasan
pembayaran iuran tetap/Deadrent dan Royalti/DHPB;
b. laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir yang telah diaudit akuntan publik;
c. rancangan atau akte jual beli saham;
d. akte pendirian pemegang saham baru dan profil perusahaan pemegang
saham baru, apabila perubahan kepemilikan saham kepada perusahaan.

Pengaturan terkait pengalihan kepemilikan saham tersebut dilandasi


karena dalam perjalanannya, suatu badan usaha akan mengalami perubahan
penanaman modal, di mana salah satunya adalah perubahan kepemilikan saham di
luar bursa saham Indonesia. Pengalihan saham di bursa saham Indonesia diartikan
bahwa suatu badan usaha akan merubah statusnya dari perusahaan tertutup
menjadi perusahaan terbuka (go public).

127
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

E. 2. Kasus Pengalihan Izin Usaha Pertambangan


E. 2. 1. Kasus Pengalihan IUP Eksplorasi PT. Sungai Danau Jaya
IUP Eksplorasi PT. Sungai Danau Jaya, sebelumnya adalah KP
Eksplorasi atas nama PT. Cahaya Alam Sejahtera dengan Keputusan Bupati
Tanah Bumbu Nomor 545/54/KP/D.PE tentang Pemberian Kuasa Pertambangan
Eksplorasi kepada PT. Cahaya Alam Sejahtera (TB.08 MEIPR 43), tertanggal 30
Mei 2008 dan berlaku untuk jangka waktu dua tahun. Komoditas tambang yang
diusahakan adalah batubara. Kemudian pada tanggal 26 Oktober 2009, diterbitkan
Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor 545/040/IUP-E/D.PE/2009 tentang
Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi kepada PT. Cahaya Alam
Sejahtera, berlaku sampai dengan 15 Agustus 2011, dengan luas WIUP 1.007
hektar.
Pada tanggal 15 Februari 2010 terbit Keputusan Bupati Tanah Bumbu
Nomor 545/024/IUP-E/D.PE/2010 tentang Persetujuan Pemindahan Izin Usaha
Pertambangan Eksplorasi PT. Cahaya Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau
Jaya (TB.08 MEIPR 43), berlaku sampai dengan 29 Mei 2013, dengan luas WIUP
1.007 hektar. Keputusan ini didasarkan atas: 208
a. Surat permohonan Direktur PT. Cahaya Alam Sejahtera Nomor 08/CASP/I/2010, tanggal 04 Januari 2010, perihal Permohonan Pemindahan Izin
Usaha Pertambangan Eksplorasi;
b. Surat Pernyataan Direktur PT. Cahaya Alam Sejahtera Nomor 09/CASSDJ/I/2010, tanggal 04 Januari 2010, tentang Pemindahan Izin Usaha
Pertambangan Eksplorasi;
c. Surat Pernyataan Direktur PT. Sungai Danau Jaya Nomor 001/DGACAS/I/2010, tentang Penerimaan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi;
d. Surat Kesepakatan Bersama Pemindahan Wilayah Izin Usaha Pertambangan
Eksplorasi PT. Cahaya Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya.

208

Dasar penerbitan Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor 545/024/IUPE/D.PE/2010 tentang Persetujuan Pemindahan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi PT. Cahaya
Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya (TB.08 MEIPR 43) dapat dilihat dalam konsideran
menimbang huruf a sampai dengan d.

128
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Saat ini IUP Eksplorasi atas nama PT. Sungai Danau Jaya sudah
ditingkatkan menjadi IUP Operasi Produksi dengan Keputusan Bupati Tanah
Bumbu Nomor 188.45/481/DISTAMBEN/2012 tentang Persetujuan Izin Usaha
Pertambangan Operasi Produksi Batubara kepada PT. Sungai Danau Jaya (TB.08
MEIPR 43) Blok II, tertanggal 03 Desember 2012 dan berlaku sampai tanggal 29
Mei 2022, dengan luas WIUP 41,2 hektar. Keputusan Bupati Tanah Bumbu untuk
persetujuan peningkatan IUP Eksplorasi menjadi IUP Operasi Produksi atas nama
PT. Sungai Danau Jaya tersebut adalah Surat Permohonan PT. Sungai Danau Jaya
Nomor 005/ABE/SP/X/2011 perihal Permohonan Peningkatan IUP Operasi
Produksi.
Dalam pemindahan/pengalihan ini, yang beralih adalah kepemilikan IUP.
IUP Eksplorasi atas nama PT. Cahaya Alam Sejahtera pemegang sahamnya terdiri
atas: (i) Ny. Hj. Netty Darmawati dengan komposisi kepemilikan saham sebanyak
250 lembar saham dengan total nilai 25 juta rupiah (50%); dan (ii) Rian Andika
Eka Putra dengan komposisi kepemilikan saham yang sama, 250 lembar saham
dengan total nilai 25 juta rupiah (50%). Sedangkan PT. Sungai Danau Jaya
pemegang sahamnya terdiri atas: (i) Januardi Karim dengan komposisi
kepemilikan saham 160 lembar saham dengan total nilai 160 juta rupiah (20%);
dan (ii) Yulidar Putra Karim dengan komposisi kepemilikan saham sebanyak 640
lembar dengan total nilai 640 juta rupiah (80%).
Sesuai data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, IUP Operasi
Produksi Batubara atas nama PT. Sungai Dana Jaya dengan Keputusan Bupati
Tanah Bumbu Nomor 188.45/481/DISTAMBEN/2012 tersebut belum clear and
clean. Hal ini didasarkan atas hasil evaluasi bahwa terjadinya pengalihan IUP
adalah pada saat status IUP masih IUP Eksplorasi. Sesuai dengan ketentuan Pasal
93 ayat (2) UU Nomor 4 Tahun 2009 dipersyaratkan telah melakukan eksplorasi
tahapan tertentu, di mana di dalam Penjelasan Pasal 9 ayat (2) yang dimaksud
eksplorasi tahap tertentu adalah telah ditemukan dua wilayah prospek dalam
kegiatan eksplorasi. Berdasarkan data evaluasi tim clear and clean Direktorat
Jenderal Mineral dan Batubara, dalam pemindahan/pengalihan IUP Eksplorasi
dari PT. Cahaya Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya belum

129
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

disampaikan laporan eksplorasi yang membuktikan adanya dua wilayah prospek


dalam WIUP Eksplorasi PT. Cahaya Alam Sejahtera.
Dalam data IUP clear and clean, IUP atas nama PT. Sungai Danau Jaya
tidak hanya satu, ini dapat dilihat dalam Pengumuman IUP Clear and Clean
Tahap I, 209 terdapat IUP Eksplorasi Batubara atas nama PT. Sungai Danau Jaya
dengan Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor 545/041/IUP-E/D.PE/2009,
tertanggal 30 Oktober 2009 dengan luas WIUP 134 hektar. Selain itu berdasar
data IUP clear and clean masih terdapat dua IUP atas nama PT. Sungai Danau
Jaya, yaitu: (i) IUP Operasi Produksi Batubara dengan Keputusan Bupati Tanah
Bumbu Nomor 545/045/IUP-OP/D.PE/2010, tertanggal 8 Maret 2010, dengan
luas WIUP 194,90 hektar 210; dan (ii) IUP Operasi Produksi dengan Keputusan
Bupati Tanah Bumbu Nomor 188.45/480/DISTAMBEN/2012, tertanggal 3
Desember 2012, dengan luas WIUP 773,10 hektar. 211
Sesuai dengan Pasal 9 ayat (2) PP Nomor 23 Tahun 2010, semestinya
PT. Sungai Danau Jaya sebagai badan usaha tertutup hanya boleh memiliki satu
IUP. Berdasarkan data yang ada pada Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara,
PT. Sungai Danau Jaya memiliki empat IUP, di mana tiga IUP sudah dinyatakan
clear and clean dan satu IUP (pemindahan dari PT. Cahaya Alam Sejahtera)
belum dinyatakan clear and clean.

E. 2. 2. Kasus Pengalihan IUP PT. Irja Tambang Perkasa


Sesuai data yang ada pada Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, PT.
Irja Tambang Perkasa memiliki dua IUP, yaitu: (i) IUP Eksplorasi dengan
Keputusan Bupati Manokwari Nomor 12 Tahun 2010 tentang Persetujuan Izin
Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi kepada PT. Irja Tambang Perkasa,
tertanggal 2 Februari 2010, berlaku sampai dengan tanggal 24 November 2015,
209

Pengumuman IUP Clear and Clean Tahap I tanggal 1 Juli 2011 yang dikeluarkan
oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, IUP Eksplorasi PT. Sungai Danau Jaya dengan
Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor 545/041/IUP-E/D.PE/2009 terdapat dalam nomor urut
203, untuk Provinsi Kalimantan Selatan.
210

Terdapat dalam Pengumuman IUP Clear and Clean Tahap VI tanggal 1 Agustus
2012 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, nomor urut 124.
211

Terdapat dalam Pengumuman IUP Clear and Clean Tahap IX tanggal 12 Juli 2013
yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, nomor urut 315.

130
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dengan luas WIUP 2.266 hektar; dan (ii) IUP Eksplorasi dengan Keputusan
Bupati Manokwari Nomor 16 Tahun 2010 tentang

Persetujuan Izin Usaha

Pertambangan (IUP) Eksplorasi kepada PT. Irja Tambang Perkasa, tertanggal 9


Februari 2010, berlaku sampai dengan tanggal 12 Desember 2015, dengan luas
WIUP 16.100 hektar. Komoditas dalam kedua IUP Eksplorasi atas nama PT. Irja
Tambang Perkasa adalah batubara.
IUP Eksplorasi Batubara PT. Irja Tambang Perkasa dengan Keputusan
Bupati Nomor 12 Tahun 2010, sebelumnya adalah KP Eksplorasi dengan
Keputusan Bupati Manokwari Nomor 54 Tahun 2008 tentang Persetujuan Izin
Kuasa Pertambangan Eksplorasi kepada PT. Irja Tambang Perkasa, tertanggal 24
November 2008, dan berlaku sampai dengan 24 November 2011, dengan saham
100% dimiliki oleh Sugianto Wijaya. Sedangkan untuk IUP Eksplorasi Batubara
PT. Irja Tambang Perkasa dengan Keputusan Bupati Manokwari Nomor 16 Tahun
2010, sebelumnya adalah KP Eksplorasi dengan Keputusan Bupati Manokwari
Nomor 64 Tahun 2008 tentang Persetujuan Izin Kuasa Pertambangan Eksplorasi
kepada PT. Irja Tambang Perkasa, tertanggal 12 Desember 2008, berlaku sampai
dengan tanggal 08 Desember 2011, dengan saham 100% dimiliki oleh Sugianto
Wijaya.
IUP Eksplorasi Batubara atas nama PT. Irja Tambang Perkasa dengan
Keputusan Bupati Manokwari Nomor 12 Tahun 2010 telah dinyatakan clear and
clean dalam Pengumuman IUP Clear and Clean Tahap VIII 212. Sedangkan IUP
Eksplorasi Batubara atas nama PT. Irja Tambang Perkasa dengan Keputusan
Bupati Manokwari Nomor 16 Tahun 2010 belum masuk dalam kategori clear and
clean. Berdasarkan data evaluasi IUP clear and clean, yang menghambat
penetapan status clear and clean IUP Eksplorasi PT. Irja Tambang Perkasa
dengan Nomor 16 Tahun 2010, karena PT. Irja Tambang Perkasa memiliki dua
IUP, sehingga PT. Irja Tambang Perkasa harus membuat Pernyataan Pengalihan
IUP kepada anak perusahaan (afiliasi). PT. Irja Tambang Perkasa telah membuat
Pernyataan Afiliasi Nomor 005/ITP/SP/I/2013 tanggal 30 Januari 2013, yang

212

Pengumuman IUP Clear and Clean Tahap VIII tanggal 23 Januari 2013 yang
dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, IUP Eksplorasi PT. Irja Tambang
Sejahtera dengan Keputusan Bupati Manokwari Nomor 12 Tahun 2010 terdapat dalam nomor urut
379.

131
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

berisi pernyataan kesediaan untuk mengalihkan saham pada IUP Eksplorasi


Nomor 12 Tahun 2010 kepada anak perusahaan sesuai IUP Eksplorasi Nomor 16
Tahun 2010.
Berdasarkan hasil evaluasi terakhir atas IUP Eksplorasi Batubara atas
nama PT. Irja Tambang Perkasa dengan Keputusan Bupati Manokwari Nomor 16
Tahun 2010, dengan adanya Pernyataan Pengalihan kepada Afiliasi telah
dimasukkan dalam kategori IUP clear and clean. Namun pengumuman resmi
status IUP clear and clean-nya belum dapat dilaksanakan, terkait kebijakan
penundaan status clear and clean untuk provinsi Papua dikarenakan adanya
penafsiran yang berbeda antara gubernur dengan bupati/walikota terkait UndangUndang Otonomi khusus Papua, di mana gubernur menterjemahkan setiap
penerbitan IUP harus dengan rekomendasi gubernur. 213

E. 3. Kasus Jual Beli Izin Usaha Pertambangan


Kebijakan penataan izin melalui Rekonsiliasi IUP dan penentuan status
clear and clean tidak mampu mengendalikan terjadinya pemindahan/pengalihan
IUP. Adanya IUP yang telah beralih pada pihak lain dan pemegang sahamnya
sudah berganti, membuat anggapan bahwa IUP adalah barang yang bisa diperjual
belikan seenaknya, bahkan melalui situs internet, misalnya: 214

Tambang Batu Bara Kabupaten Kapuas Hulu


Kapuas Hulu Kab., Kalimantan Barat
16/10/2013
Bekas
Nomor iklan: 32219148 Dilihat: 122
Rp250.000.000.000
Nego

deohensius
213

Data evaluasi Clear and Clean Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara terhadap
PT. Irja Tambang Perkasa dengan Keputusan Bupati Manokwari Nomor 16 Tahun 2010.
214

Salah satu iklan penjualan di Toko Bagus.com, http://www.tokobagus.com/


iklan/tambang-batu-bara-kabupaten-kapuas-hulu32219148.html#pn_4af7f621db8248786848
acff8e1f5681, diunduh 7 Desember 2013

132
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Member sejak
: 31-03-2012
08524-XXXXXX
Lihat nomor telepon
2ACXXXXXX
Lihat nomor PIN BB
Kirim Email
Lihat iklan lainnya
Spesifikasi
Luas tanah : 100000000 m2
Luas bangunan : - m2
Lokasi
Alamat lokasi : Kecamatan Manday, Kabupaten Kapuas Hulu. Kalimantan
Barat.
Kota : Kapuas Hulu Kab.
Area : Manday
Pertambangan Eksploitasi Batu Bara
Luas 10.000 Hektar.
Izin Pertambangan Legal.
Izin Penggangkutan Legal.
Gambar 3.6. Iklan Tambang Batubara di Toko Bagus.com

Selain iklan di atas, yang lebih mengherankan dan membuat kita terkejut,
ada pula penawaran IUP yang dilakukan melalui situs internet dengan
mencantumkan pula status IUP-nya yang telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai
IUP clear and clean. 215 Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan Rekonsiliasi IUP
dan pemberian status clear and clean, seolah menambah legalitas bagi pihakpihak tertentu untuk dapat memperjualbelikan IUP-nya atau menarik investasi
dengan adanya legalitas Pemerintah melalui pemberian status IUP clear and
clean.
Tidak sekedar menawarkan IUP dengan jenis komoditas, lokasi dan
harga penawaran, namun ada juga iklan jual beli IUP melalui situs internet yang

215

http://indonetwork.co.id/result.html?search_for=iup&search_cat=sell&subcat=&
owner=793331, merupakan salah satu situs internet yang menawarkan IUP (PENAWARAN 1
PT.Panen Kreasindo Loksi Kec.Bentian Barat Kab. KuBar. IUP P 2010-2022 CnC.L: 8.486 Ha
Kode Wilayah: 64( APL) Dpost: 30JT MT, Holng: 80 KM-jty 300ft (Report analis Sample ID)
mas Received : 3549.9TM: 7.42 moist in the smp: 4.37 Ash conten: 1.29, Voletile Matter: 41.83,
Fcd Carbon: 52.51 TS; 1.13, Klori value: 6.100 titik koordnt 102 titik. TO: 340 M Berminat kirim
LOI nya, Kami tunggu Hub. 0812 8000 6450/ 0819 0589 2525/ 0816 1652 494 PIN BB
327264A7), diunduh 7 Desember 2013

133
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

mencantumkan/melampirkan Keputusan Pemberian IUP dari pemerintah daerah


(copy SK IUP-nya): 216

CV.RIZKY BINTANG (data


terlampir)
data lengkap silahkan kirim
LOI, Kami akan kirimkan data
lengkapnya
Thanks
Negara
Asal:

Indonesia

Gambar 3.7. Iklan Tambang Batubara di Indonetwork.co.id

216

http://indonetwork.co.id/result.html?search_for=iup&search_cat=sell&subcat=&
owner=793331, diunduh 7 Desember 2013

134
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

BAB IV
ANALISIS PENGALIHAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN DALAM
PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL
DAN BATUBARA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4
TAHUN 2009 DAN PERATURAN PELAKSANANYA DALAM
PERSPEKTIF HAK MENGUASAI NEGARA

Bab

ini

secara

khusus

menelaah

penyelenggaraan

pengelolaan

pertambangan mineral dan batubara sebagaimana diatur dalam UU Nomor 4


Tahun 2009 dan peraturan pelaksananya dalam perspektif HMN, dengan
perbandingan konsep perizinan yang dianut di Philipina. Selain itu juga akan
dianalisis kebijakan penataan perizinan melalui Rekonsiliasi IUP Nasional,
bagaimana penyesuaian KP menjadi IUP sesuai PP Nomor 23 Tahun 2010,
analisis ketentuan pengalihan IUP dalam perspektif HMN sesuai Pasal 33 ayat (3)
UUD 1945 dan beberapa kasus pengalihan/pemindahan IUP yang didasarkan pada
permasalahan penelitian dengan menggunakan analisis berdasarkan teori-teori
yang dikemukakan pada bab II. Hal-hal yang dianalisis dalam bab ini menyangkut
pula analisis terhadap sinkronisasi pengaturan pemindahan IUP dalam UU Nomor
4 Tahun 2009 dan PP 24 Tahun 2012.

A. Analisis Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan Mineral dan


Batubara Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dan
Peraturan Pelaksananya dalam Perspektif Hak Menguasai Negara
A. 1. Analisis Pengaturan Penyelenggaraan Pengelolaan Pertambangan
Mineral dan Batubara dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
dalam Perspektif Hak Meguasai Negara
Penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara
merupakan salah satu hak dan kewajiban negara dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya untuk mencapai tujuan: (i) melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia; (ii) memajukan kesejahteraan umum; (iii)
mencerdaskan kehidupan bangsa; dan (iv) ikut serta melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sebagai negara

135
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

kesejahteraan (welfare state) yang berlandaskan hukum, maka penyelenggaraan


pengelolaan pertambangan mineral dan batubara harus dilaksanakan sesuai
dengan

ketentuan

peraturan

perundang-undangan

untuk

mewujudkan

kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan.


Pembentukan

peraturan

perundang-undangan

yang

mengatur

penyelenggaraan pengelolaan pertambangan harus berdasarkan pada landasan


konstitusional 217 dan falsafah bangsa, 218 dengan memperhatikan kepentingan
seluruh rakyat Indonesia baik masa sekarang maupun masa yang akan datang dan
berwawasan lingkungan, sehingga dapat memberikan manfaat secara luas bagi
kelangsungan hidup bangsa. Pembentukan peraturan perundang-undangan
tersebut harus berlandaskan pada ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yang
mengamanatkan penguasaan sumber daya alam mineral dan batubara kepada
negara. Terkait perspektif HMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3)
UUD 1945, Mahkamah Konstitusi (MK) telah memberikan pengertian HMN
dalam putusannya pada perkara nomor 01-021-022/PUU-I/2003 mengenai
pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan 219,
tanggal 21 Desember 2004 dan 002/PUU-I/2003 mengenai pengujian UndangUndang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, 220 tanggal 4
Januari 2005, bahwa:
rakyat secara kolektif memberikan mandat kepada negara untuk
mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan (bestuursdaad),
pengaturan (regelendaad), pengelolaan (beheersdaad), dan pengawasan
(toezichthoudensdaad) untuk tujuan sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat. Fungsi pengurusan (bestuursdaad) oleh negara dilakukan oleh
Pemerintah dengan kewenangannya untuk mengeluarkan dan mencabut
fasilitas perijinan (vergunning), lisensi (licentie), dan konsesi (consessie).
Fungsi pengaturan oleh negara (regelendaad) dilakukan melalui
kewenangan legislasi oleh DPR bersama Pemerintah, dan regulasi oleh
217

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan


konstitusional dalam pembentukan setiap peraturan perundang-undangan, termasuk pengaturan
pengelolaan usaha pertambangan mineral dan batubara
218

Filsafah Bangsa/Dasar Negara yaitu Pancasila yang merupakan Landasan Idiil dan
Sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.
219

Mahkamah Konstutusi (2), op. cit., hlm. 334

220

Mahkamah Konstitusi (3), op. cit., hlm. 208-209

136
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Pemerintah. Fungsi pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui


mekanisme pemilikan saham (share-holding) dan/atau melalui
keterlibatan langsung dalam manajemen Badan Usaha Milik Negara atau
Badan Hukum Milik Negara sebagai instrumen kelembagaan, yang
melaluinya Negara, c.q. Pemerintah, mendayagunakan penguasaannya
atas sumber-sumber kekayaan itu untuk digunakan bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Demikian pula fungsi pengawasan oleh negara
(toezichthoudensdaad) dilakukan oleh negara, c.q. Pemerintah, dalam
rangka mengawasi dan mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh
negara atas sumber-sumber kekayaan dimaksud benar-benar dilakukan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat.

Kebijakan penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan


batubara yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan juga harus selalu
memperhatikan falsafah bangsa, demi mewujudkan suatu tata aturan yang adil.
Dengan demikian diharapkan dengan adanya tata aturan yang adil di bidang
pertambangan mineral dan batubara, akan menjadi sarana untuk mewujudkan
kesejahteraan

rakyat

secara

berkeadilan

dari

dilaksanakannya

HMN.

Pembentukan tata aturan yang adil, perlu memperhatikan berbagai aspek


pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, sehingga mampu
membawa rakyat dan para pelaku usaha pertambangan taat dan tertib hukum,
peduli pada lingkungan, berwawasan kebangsaan, serta membawa perubahan
paradigma dari sekedar pendayagunaan dan pemanfaatan sumber daya alam
mineral dan batubara yang tak terbarukan, menjadi kegiatan yang berkelanjutan
setelah sumber daya alam mineral dan batubara habis ditambang. Perubahan
paradigma tersebut diharapkan dapat membuka dan memberikan peluang kepada
masyarakat yang terkena dampak langsung maupun yang berada di sekitar
wilayah tambang dan segenap masyarakat Indonesia untuk memiliki sikap
kemandirian,

berdayaguna,

tetap

dapat

meningkatkan

tingkat

Indeks

Pembangunan Manusia, dan dapat bersaing dengan masyarakat negara lain pada
saat pascatambang (setelah berakhirnya seluruh kegiatan usaha pertambangan).
Dengan demikian, terdapat transformasi dari sumber daya alam yang tak
terbarukan, menjadi kegiatan pemberdayaan masyarakat berkelanjutan.

137
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Pelaksanaan tugas negara, salah satunya dilakukan melalui campur


tangan penguasa, 221 dalam pembentukan tata aturan yang adil dalam
penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, yang mampu
memenuhi kebutuhan sosial untuk sebanyak-banyaknya orang 222, termasuk
kebutuhan individu pada suatu tahapan tertentu, dijalankan oleh administrasi
negara. Peran administrasi negara dalam pembentukan tata aturan yang adil ini
diwujudkan dengan dibentuknya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Nomor 4 Tahun 2009). Pembentukan
UU Nomor 4 Tahun 2009, apabila dilihat dari perspektif HMN, merupakan
mandat yang diberikan oleh rakyat secara kolektif kepada negara untuk
melaksanakan fungsi pengaturan (regelendaad) terhadap sumber daya alam
mineral dan batubara, dalam hal ini dilaksanakan oleh DPR RI bersama
Pemerintah. Dalam pembentukan UU Nomor 4 Tahun 2009, harus memperhatikan
teori dan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan, baik dari para
ahli maupun yang diatur dalam undang-undang yang mengatur tentang
pembentukan peraturan perundang-undangan (UU Nomor 10 Tahun 2004).
Rakyat secara kolektif memberikan mandat kepada negara untuk
melaksanakan fungsi pengaturan (regelendaad) terhadap sumber daya alam
mineral dan batubara, dikarenakan sumber daya alam mineral dan batubara, sesuai
amanah Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan
untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat. Pengertian dikuasai oleh negara,
menurut MK 223 mencakup pula pengertian kepemilikan publik oleh rakyat secara
kolektif. Sejalan dengan pengertian dikuasai oleh negara dari MK, Jimly

221

Campur tangan penguasa harus memperhatikan fungsi-fungsi hukum modern, yaitu


untuk: (i) menata tertibkan masyarakat; (ii) mengatur lalu lintas kehidupan bersama masyarakat;
(iii) mencegah atau menyelesaikan sengketa (konflik); (iv) menegakkan keamanan dan ketertiban,
jika perlu dengan kekerasan; (v) mengukur tata cara penegakan keamanan dan ketertiban; (vi)
mengubah tatanan masyarakat seperlunya, bila mana perlu disesuaikan dengan kebutuhan
(perubahan) keadaan; dan (vii) mengatur tata cara pengubahan atau perubahan keadaan, (S. Prajudi
Atmosudirjo, Hukum Administrasi Negara, Seri Pustaka Ilmu Administrasi VII, cet. 10, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1994), hlm. 25-26)
222

Jimly Assiddiqie dan M. Ali Safaat, op. cit., hlm. 17-18

223

Pengertian HMN diputuskan oleh MK dalam Putusan Atas Perkara nomor 01-021022/PUU-I/2003 mengenai pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan tanggal 21 Desember 2004 dan 002/PUU-I/2003 mengenai pengujian UndangUndang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi tanggal 4 Januari 2005

138
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Asshiddiqie memberi pengertian dikuasai oleh negara dalam Pasal 33 ayat (3)
UUD 1945 dalam makna dimiliki oleh negara, yaitu kepemilikan dalam arti
yang luas, kepemilikan dalam pengertian hukum publik. Dalam pengertian ini,
tidak hanya dipahami sekedar penguasaan melalui kontrol dan fungsi regulasi
semata. Dengan dikuasai oleh negara, maka kekayaan sumber daya alam yang kita
miliki, seluruhnya adalah untuk kepentingan rakyat. 224
Tujuan pembentukan UU Nomor 4 Tahun 2009 dapat dilihat dalam
Pasal 3, yaitu agar pengelolaan mineral dan batubara dapat:
1. menjamin

efektivitas

pelaksanaan

dan

pengendalian

kegiatan

usaha

pertambangan secara berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing;


2. menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara berkelaajutan
dan berwawasan lingkungan hidup;
3. menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku dan/atau
sebagai sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri;
4. mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih
mampu bersaing di tingkat nasional, regional, dan internasional;
5. meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta
menciptakan lapangan kerja untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat; dan
6. menjamin

kepastian

hukum

dalam

penyelenggaraan

kegiatan

usaha

pertambangan mineral dan batubara.

Sekilas dari rumusan Pasal 3 UU Nomor 4 Tahun 2009, pembentukan


undang-undang ini telah memperhatikan HMN sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yaitu untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan
beberapa asas pembentukan peraturan perundang-undangan dalam UU Nomor 10
Tahun 2004. Namun apabila kita melakukan kajian lebih mendalam, materi yang
diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 2009, terdapat beberapa hal yang justru tidak
sesuai dengan perspektif HMN itu sendiri. Pembagian kewenangan pengelolaan
untuk semua jenis komoditas tambang mineral dan batubara (selain mineral
radioaktif) sampai pada kabupaten/kota, telah menciptakan uforia yang berlebihan
bagi bupati/walikota sehingga seringkali penerbitan izin hanya dijadikan sebagai
224

Jimly Asshiddiqie, op. cit., hlm. 281

139
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

sarana untuk menarik investasi tanpa ada perencanaan yang baik dan tidak
memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sumber daya alam mineral dan batubara sebagai kekayaan alam yang
dalam perspektif HMN merupakan kepemilikan rakyat secara kolektif, yang
berarti kepemilikan oleh seluruh rakyat Indonesia, dianggap sebagai kepemilikan
oleh daerah. Berdalih otonomi daerah seluas-luasnya, seringkali beberapa aturan
yang pada awalnya diharapkan dapat membuat semua pihak tertib dan taat aturan,
serta

memahami

tujuan

undang-undang,

nyatanya

justru

digugat

oleh

bupati/walikota yang merupakan bagian dari administrasi negara itu sendiri. UU


Nomor 4 Tahun 2009 dibuat dengan persetujuan DPR RI yang merupakan wakil
dari seluruh rakyat Indonesia, sudah barang tentu telah mempertimbangkan
kepentingan daerah dan seluruh rakyat Indonesia.
Pembagian kewenangan penerbitan izin untuk semua jenis komoditas
mineral dan batubara tersebut, menurut pendapat penulis, justru memperlihatkan
ketidaksinkronan/ketidaksesuaian UU Nomor 4 Tahun 2009 dengan filosofis dan
maksud HMN sebagaimana diatur dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Pemberian
kewenangan secara atribusi untuk pengelolaan mineral dan batubara dalam UU
Nomor 4 Tahun 2009 seharusnya memperhatikan banyak faktor, selain
ketersediaan

dan

kemampuan

sumber

daya

manusia,

juga

harus

mempertimbangkan kesiapan daerah itu sendiri, serta kepentingan nasional.


Banyak kewajiban dari pemerintah daerah dalam pengelolaan pertambangan
mineral dan batubara yang nyatanya tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku. Berbagai alasan pembenar dikemukakan untuk pembelaan diri,
misalnya ketidak tahuan adanya aturan terkait, Pemerintah kurang dalam
melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan, baru menjabat, dan lain
sebagainya.
Pemberian kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara
dalam kerangka otonomi daerah yang telah diatur dalam UU Nomor 4 Tahun
2009 justru seringkali menimbulkan sengketa kewenangan dan rasa paling
berhak atau lebih berhak dari para pemimpin pemerintahan daerah untuk
melakukan suatu kewenangan yang secara atribusi merupakan kewenangan
Pemerintah. Hal tersebut dalam dilihat dari adanya gugatan Bupati Kutai Timur

140
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dalam penetapan WP yang menjadi landasan bagi kegiatan pertambangan.


Gugatan tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman para pemegang wewenang
pengelolaan pertambangan mineral dan batubara di daerah terhadap HMN yang
diatur dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
WP ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah
daerah dan berkonsultasi dengan DPR RI sebagaimana telah dirumuskan dalam
Pasal 9 ayat (2) UU Nomor 4 Tahun 2009, semestinya tidak dipersoalkan. HMN
yang memberikan kewenangan kepada negara untuk melakukan pengaturan dan
pengelolaan sumber daya alam mineral dan batubara, yang dalam hal ini
dijalankan oleh Pemerintah, telah diterjemahkan dengan tepat bahwa penetapan
WP oleh Pemerintah harus terlebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah
daerah untuk menghormati pemerintah daerah dalam kerangka otonomi daerah.
WP menggambarkan sebaran potensi mineral dan batubara, dan tidak melihat
batas administrasi, dalam penetapannya, sudah barang tentu dibutuhkan suatu
perencanaan yang matang, berwawasan kebangsaan dan tetap memperhatikan
kepentingan nasional, agar tujuan pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara dapat tercapai. Karena sumber daya alam mineral dan batubara dimiliki
secara kolektif oleh seluruh rakyat Indonesia, maka sudah tepat apabila
Pemerintah yang menetapkan dan juga menentukan WP.
Dalam hal ada ketentuan harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah,
ini diperlukan untuk sinkronisasi data potensi mineral dan batubara pada wilayah
yang akan ditetapkan menjadi bagian dari WP yang dimiliki oleh Pemerintah
dengan data yang dimiliki oleh pemerintah daerah setempat, serta sebagai
pertimbangan terkait kearifan budaya masyarakat setempat, dan data hak-hak atas
tanah yang ada di wilayah yang bersangkutan. Proses penetapan WP merupakan
suatu proses perencanaan awal dari seluruh aspek penyelenggaraan pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara, yang secara faktual memerlukan biaya dan
teknologi tinggi. Menurut Prajudi Atmosudirjo, rencana merupakan salah satu
perbuatan-perbuatan hukum (rechtshandelingen) serta keputusan-keputusan
(beslissingen) daripada administrasi negara yang nyata. Rencana merupakan salah
satu bentuk dari perbuatan hukum administrasi negara yang menciptakan
hubungan hukum (yang mengikat) antara penguasa dan para warga masyarakat,

141
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

berupa tindakan-tindakan terpadu dengan tujuan agar tercipta suatu keadaan yang
tertib bilamana tindakan-tindakan tersebut selesai direalisasikan. 225
Rumusan Pasal 9 ayat (2) UU Nomor 4 Tahun 2009, dalam
perjalanannya, tidak lagi memberi makna HMN dalam pengelolaan pertambangan
mineral dan batubara, pada saat gugatan Bupati Kutai Timur dalam uji materiil
UU Nomor 4 Tahun 2009 dengan perkara nomor 10/PUU-X/2012 dikabulkan
oleh MK, sehingga frasa setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah
dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 sehingga tidak mempunyai kekuatan
hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai setelah ditentukan oleh pemerintah
daerah. Setelah adanya Putusan MK tersebut, berarti sekarang WP ditentukan
oleh pemerintah daerah, dalam hal ini yang paling banyak berperan tentunya
adalah pemerintah daerah kabupaten/kota. Yang lebih terlihat dari adanya Putusan
MK tersebut adalah ego kedaerahan yang semakin kuat dibandingkan wawasan
kebangsaan dan kepentingan nasional dalam pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara. Hal ini tentu tidak sesuai dengan pengertian HMN yang telah
dirumuskan oleh MK dalam Putusan pada perkara nomor 01-021-022/PUU-I/2003
mengenai

pengujian

Undang-Undang

Nomor

20

Tahun

2002

tentang

Ketenagalistrikan 226, tanggal 21 Desember 2004 dan 002/PUU-I/2003 mengenai


pengujian Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi, 227 tanggal 4 Januari 2005, bahwa kepemilikan sumber daya alam (mineral
dan batubara) adalah kepemilikan oleh rakyat secara kolektif, berarti oleh seluruh
rakyat Indonesia, di mana pendayagunaan dan pemanfaatannya dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat.
Namun sangat disayangkan, uforia yang berlebihan dan ego kedaerahan
dari pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pengelolaan pertambangan
mineral dan batubara ini, tidak disertai adanya suatu perencanaan dan kajian atas
dampak dan segala konsekuensi dilaksanakannya kewenangan pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara. Penentuan WP oleh daerah seringkali tidak
disertai dengan pembentukan payung hukum yang menjadi dasar wilayah yang
225

S. Prajudi Atmosudirjo, op. cit., hlm. 99

226

Mahkamah Konstutusi (2), op.cit., hlm. 332-333

227

Mahkamah Konstitusi (3), op. cit., hlm. 207

142
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dapat diusahakan untuk kegiatan pertambangan, sehingga WP yang ditentukan


dan diusulkan oleh pemerintah daerah menjadi tidak sinkron dengan Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (Perda RTRW) daerah yang
bersangkutan atau bahkan daerah yang bersangkutan belum mempunyai Perda
RTRW.
Persoalan selanjutnya, anggapan dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 bahwa
semua jenis bahan tambang merupakan suatu komoditas dan diperlakukan sama
(kecuali radioaktif). Pasal 34 UU Nomor 4 Tahun 2009 membagi kegiatan
pertambangan menjadi: (i) pertambangan mineral radioaktif; (ii) pertambangan
mineral logam; (iii) pertambangan mineral bukan logam; (iv) pertambangan
batuan; dan (v) pertambangan batubara. Ketentuan tersebut berbeda dengan UU
Nomor 11 Tahun 1967, kegiatan usaha pertambangan dibagi berdasarkan
pengelompokan bahan galian, yang berupa bahan galian strategis (golongan a),
vital (golongan b), dan di luar strategis dan vital (golongan c).
Pembagian bahan tambang menjadi golongan-golongan komoditas
berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 2009, merupakan suatu kesalahan atau kealpaan
dari para pembentuk undang-undang yang justru dapat mengancam keselamatan
bangsa. Sebagai contoh, pengelompokan untuk komoditas zirkon, dalam
pengelompokannya termasuk dalam golongan komoditas tambang mineral bukan
logam, padahal zirkon mengandung zirkonium yang dalam penggolongannya
masuk mineral logam dan mengandung pula unsur radioaktif. Padahal dalam UU
Nomor 11 Tahun 1967, sebagaimana diatur dalam PP Nomor 27 Tahun 1980,
zirkon termasuk dalam kelompok bahan galian vital, yang mengandung arti
menjamin hajat hidup orang banyak.
Pilihan bentuk pengusahaan mineral dan batubara dengan pembagian
bahan tambang dalam bentuk komoditas pada saat pembentukan UU Nomor 4
Tahun 2009, tidaklah tepat apabila dikaitkan dengan HMN. Sumber daya alam
mineral dan batubara seharusnya tidak hanya sekedar dijadikan sebagai
komoditas. Dengan memperlakukan mineral dan batubara sebagai komoditas,
memicu penerbitan perizinan lebih banyak ditujuan untuk penerimaan negara
maupun penerimaan daerah, sehingga seringkali mengabaikan kepentingan
nasional dan kurang memperhatikan dampak lingkungannya. Dari uraian di atas,

143
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pembentukan UU Nomor 4 Tahun 2009, tidak lagi mempertimbangkan


kepentingan-kepentingan strategis dan vital bagi pembangunan nasional dan
kepentingan bangsa. Hal ini tentunya jauh dari harapan terwujudnya pengelolaan
pertambangan sesuai perspektif HMN.
Bentuk perizinan berupa IUP dengan perlakuan sama dalam persyaratan
pengajuan izin dan bentuk pengusahaan antara mineral logam, mineral bukan
logam, batuan, dan batubara, menunjukkan orientasi dari UU Nomor 4 Tahun
2009 adalah usaha skala besar yang selama ini berlangsung dalam bentuk kontrak.
Orientasi untuk menjadikan investasi di bidang pertambangan mineral dan
batubara sebagai sumber penerimaan negara dan juga daerah, membuat
penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara hanya
berorientasi pada bisnis dan ekspor, sehingga tanggung jawab untuk
pendayagunaan dan pemanfaatan sumber daya alam mineral dan batubara untuk
mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia
semakin jauh dari harapan. Izin sebagai bentuk penyelenggaraan pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara, yang dianut dalam UU Nomor 4 Tahun 2009,
yang memberikan perlakuan sama dalam kesempatan untuk pengusahaan
pertambangan mineral dan batubara, melalui mekanisme lelang terbuka, justru
semakin membuat rasa keadilan dalam masyarakat terusik. Izin dalam UU Nomor
4 Tahun 2009 terbagi atas 3 kategori, yaitu:
1. IUP, dapat diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan, dengan
memenuhi persyaratan. Badan usaha terdiri atas Badan Usaha Milik Negara
(BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan badan usaha swasta
termasuk badan usaha dalam rangka penanaman modal asing, dan tidak ada
pembedaan dalam mekanisme pemberian izinnya. Ini berbeda dengan undangundang sebelumnya, dimana terdapat jenjang dalam pemberian izinnya.
2. IPR, dapat diberikan kepada masyarakat setempat baik perseorangan,
koperasi, atau kelompok masyarakat, dengan pembedaan luas wilayah
maksimal yang dapat diberikan dalam perizinannya. Kewenangan untuk
penerbitan IPR ada pada bupati/walikota.
3. IUPK, dapat diberikan dengan prioritas kepada BUMN dan BUMD, baru
kepada badan usaha swasta. Dalam pengusahaan dengan IUPK, terdapat

144
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

campur tangan DPR RI terkait penentuan wilayah yang dapat diusahakan


(WIUPK-nya).

IUP sebagai izin untuk pengusahaan mineral logam dan batubara


diperoleh melalui mekanisme lelang WIUP mineral logam atau WIUP batubara
yang dilakukan secara terbuka, dengan perlakuan dan persyaratan yang sama
untuk semua lapisan unit usaha, baik perseorangan (perusahaan komanditer,
firma, dan orang perseorangan), koperasi, maupun badan usaha tanpa ada prioritas
atau klasifikasi untuk usaha berskala besar dan kecil, menurut pendapat penulis
tidak tepat. Terhadap komoditas mineral logam yang mempunyai fungsi strategis
dan mendukung ketahanan negara, semestinya diusahakan sendiri oleh Pemerintah
atau melalui BUMN dan BUMD, sehingga pelaksanaannya tetap dapat
dikendalikan oleh Pemerintah agar tujuan pengelolaan dan pemanfaatan sumber
daya alam mineral dan batubara sesuai dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dapat
diwujudkan.
Selain itu, di dalam praktek penyelenggaraan pengelolaan pertambangan
mineral bukan logam dan batuan dengan skala kecil, terutama untuk kepentingan
pembangunan, mekanisme perizinan dan persyaratan dalam UU Nomor 4 Tahun
2009 tidak dapat dilaksanakan (tidak aplikatif). Pertambangan batuan untuk
kepentingan pembangunan biasanya dengan jangka waktu yang menyesuaikan
umur proyek pembangunan, dengan memanfaatkan pasir dan batuan yang secara
kasat mata dapat dilihat, tidak aplikatif bila harus mengikuti mekanisme yang ada
dalam UU Nomor 4 Tahun 2009, melalui pencadangan wilayah dengan titik
koordinat lintang dan bujur serta membayar biaya pencadangan wilayah dan
pencetakan peta 228 baru kemudian mengajukan permohonan IUP. Ketentuan IUP
harus dilalui dalam 2 tahap, yaitu IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi,
dalam prakteknya tidak dapat diterapkan kepada para pelaku usaha pertambangan
batuan pemasok kebutuhan pembangunan, karena batuan terlihat secara kasat
mata, sehingga mereka langsung melakukan penambangan. Praktek perizinan
tersebut berbeda dengan masa berlakunya UU Nomor 11 Tahun 1967, di mana
bentuknya berupa SIPD, dengan kegiatan langsung penambangan, karena rata-rata
228

Indonesia (6), op. cit., Ps. 21 ayat (1)

145
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

umur proyek berkisar 3 sampai 6 bulan, sehingga apabila harus menunggu


eksplorasi akan menghambat jalannya pembangunan.
Persoalan lainnya yang muncul setelah UU Nomor 4 Tahun 2009 berlaku
adalah maraknya penambangan tanpa izin, dikarenakan belum adanya penetapan
WP, sehingga WUP, WIUP, dan WPR yang merupakan wilayah kerja kegiatan
usaha pertambangan belum bisa ditetapkan. Ini menghambat penerbitan IUP atau
IPR, karena untuk bisa mendapatkan IUP dan IPR harus ada wilayah terlebih
dahulu. Untuk mendapatkan IUP, badan usaha, koperasi dan perseorangan harus
mendapatkan WIUP terlebih dahulu. 229 Proyek-proyek pembangunan daerah
maupun nasional terus berjalan dan membutuhkan mineral bukan logam dan
batuan sebagai bahan utama untuk pembangunan.
Penetapan WP yang berlarut-larut dan belum dapat dilaksanakan dalam
kurun waktu hampir 5 tahun berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009, menunjukkan
bahwa asas kejelasan tujuan dan asas dapat dilaksanakan dalam pembentukan UU
Nomor 4 Tahun 2009 tidak terpenuhi. Belum adanya penetapan WP, seringkali
disinyalir sebagai penyebab maraknya penambangan tanpa izin, karena WIUP dan
WPR tidak dapat ditetapkan sebelum adanya WP. Ketentuan tersebut berbeda
dengan UU Nomor 11 Tahun 1967, di mana mekanisme untuk memperoleh izin
melalui pencadangan wilayah tanpa harus menunggu penetapan WP. Jadi calon
pelaku usaha sendiri yang meminta suatu wilayah yang akan mereka usahakan
dengan melampirkan koordinat dari wilayah yang diminta.
Dilihat dari kepemilikan terhadap objek perizinan, Anthony I.Ogus
sebagaimana dikutip Tri Hayati menyatakan bahwa terdapat dua klasifikasi izin
publik. Bentuk pertama, pemberian izin dari objek yang bersifat mempunyai
kepentingan publik (public interest) sehingga tidak ada hak kepemilikan oleh
siapapun karena objek tersebut adalah merupakan public goods dimana harus
dapat diakses dan dimanfaatkan oleh siapapun. Bentuk kedua, pemberian izin dari
objek yang memang adalah milik publik (public ownership) berati terkandung
makna hak milik seluruh rakyat atau hak milik bangsa. Jadi merupakan izin yang
terkait dengan adanya hak bangsa, sehingga izin yang diberikan akan berdampak
pada kewenangan yang besar dan berbagai hal terkait hak dan kewajiban bagi
229

Ibid., Ps. 7, IUP diberikan melalui tahapan: a. pemberian WIUP; dan b. pemberian

IUP.

146
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

penerima izin. Oleh karena itu izin yang dibuat sehubungan dengan kategori
public ownership, harus dibuatkan juga dalam suatu perjanjian yang memuat hak
dan kewajiban pemenerima izin. 230
Apabila dikaitkan dengan pendapat Anthony I. Ogus, bentuk izin yang
tepat dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan mineral dan
batubara adalah konsesi, di mana di dalamnya dibuat suatu perjanjian yang
memuat hak dan kewajiban penerima izin. Hal ini sejalan dengan UU Nomor 11
Tahun 1967. Bentuk perjanjian dalam pengelolaan pertambangan, dapat pula kita
lihat dalam Philippine Mining Act of 1995, di mana untuk kegiatan operasi
produksi bentuk izin yang digunakan adalah konsesi, berupa Mineral Agreement.
Mineral Agreement ada tiga bentuk, yaitu: 231
1. Mineral production sharing agreement, disebut juga perjanjian bagi hasil
mineral, merupakan perjanjian yang dibuat antara Pemerintah dengan
kontraktor, di mana Pemerintah memberikan hak eksklusif kepada kontraktor
untuk melakukan kegiatan penambangan pada wilayah kontrak, dengan
prinsip bagi hasil.
2. Co-production agreement, merupakan perjanjian antara Pemerintah dengan
kontraktor, di mana Pemerintah menyediakan biaya untuk pelaksanaan
kegiatan penambangan, selain sumber daya mineral.
3. Joint venture agreement, merupakan perjanjian, di mana Pemerintah dan
kontraktor membuat perusahaan patungan untuk melakukan kegiatan
penambangan, di mana kedua belah pihak memiliki saham yang sama
besarnya (equity shares). Selain memiliki modal di perusahaan, Pemerintah
juga berhak untuk mendapatkan pembagian hasil dari kegiatan penambangan
mineral.

Kaitan HMN dan teori public ownership dari Anthony I.Ogus, maka
sudah semestinya dalam pengelolaan usaha pertambangan, mineral right harus
ada di tangan negara, mining right di tangan Pemerintah, dan economic right di

230

Tri Hayati, op. cit., hlm. 152

231

Ibid., Ps. 26

147
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

tangan BUMN/BUMD. 232 Kerja sama dengan badan usaha swasta, koperasi,
perseorangan dilakukan dalam bentuk kontrak dengan BUMN/BUMD dengan
pengelolaan usaha berdasar business to business. 233 Dengan demikian, perlu
adanya pengaturan usaha pertambangan mana yang dapat dikontrakkan kepada
pelaku usaha selain BUMN/BUMD. Pengusahaan pertambangan untuk koperasi
dan perseorangan juga harus diatur dalam bentuk yang lebih bersahabat dengan
kondisi permodalan yang dimiliki, dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan
dan keselamatan pertambangan, serta peningkatan nilai tambah mineral dan
batubara untuk kepentingan nasional.
Sebagaimana Philipina, semestinya pengelolaan pertambangan di
Indonesia dengan pola konsesi tetap dipertahankan. Pemerintah tetap berperan
melalui pemilikan saham oleh Pemerintah (share-holding) pada badan usaha yang
berperan dalam pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara,
dalam hal ini berarti BUMN/BUMD. Barulah dalam hal-hal tertentu yang belum
dapat dilaksanakan secara maksimal oleh BUMN/BUMD, dapat dilakukan
perjanjian/kontrak antara BUMN/BUMD yang bersangkutan dengan pihak lain
yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan dengan persetujuan dari Pemerintah.
Persoalan yang tidak kalah penting yang dihadapi dalam perjalanan
peyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara setelah
diundangkannya UU Nomor 4 Tahun 2009, adalah meningkatnya jumlah ekspor
bijih (raw material) tanpa adanya proses peningkatan nilai tambah terhadap
produk tambang. Demikian pula dengan batubara, orientasi dari penambangan
batubara masih untuk ekspor. Jangka waktu pemurnian untuk komoditas tambang
paling lambat 5 tahun setelah berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009, justru seolah
memicu semakin besarnya arus ekspor produk tambang. Tujuan UU Nomor 4
Tahun 2009 untuk menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan
baku dan/atau sebagai sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri; rnendukung
232

Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 31/DPD


RI/II/2012-2013 tentang Rancangan Undang-Undang Usul Inisiatif Dewan Perwakilan Daerah
Republik Indonesia tentang Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Bagian Pertama, Naskah
Akademik, hlm. 5, lihat juga hlm. 17
233

Ibid., hlm. 17

148
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih mampu bersaing di


tingkat nasional, regional, dan internasional; serta meningkatkan pendapatan
masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta menciptakan lapangan kerja untuk
sebesar-besar kesejahteraan rakyat, dengan diwajibkannya pemegang IUP/IUPK
dan kontrak untuk meningkatkan nilai tambah produk tambang melalui
pengolahan dan pemurnian di dalam negeri, semakin jauh dari harapan.
Kebijakan Pemerintah dengan pelarangan ekspor bijih (raw material) dan
batasan minimal kualitas produk tambang yang boleh diekspor, tidak hanya
ditolak oleh kalangan pengusaha, tetapi juga dari Asosiasi Pemerintah Kabupaten
Seluruh Indonesia (APKASI). Penolakan tersebut dilakukan dengan diajukannya
uji materiil terhadap Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
07 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan
Pengolahan dan Pemurnian Mineral ke Mahkamah Agung (MA). 234 Karena
banyaknya tekanan dan dengan adanya Putusan MA terhadap perkara nomor 09
P/HUM/2012 dan 10 P/HUM/2012, Peraturan Menteri ESDM tersebut diubah
dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 20 Tahun 2013 tentang Perubahan
Kedua Permen ESDM Nomor 07 Tahun 2012. Terkait ekspor, sebelumnya telah
dilakukan perubahan atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 07 Tahun 2012,
dengan diterbitkannya Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2012.
Tujuan UU Nomor 4 Tahun 2009 agar paradigma penyelenggaraan
pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan pertambangan mineral dan batubara
berubah, tidak hanya sekedar menambang tetapi juga mengolah dan memurnikan
sehingga mineral ikutan dan tanah jarang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
nasional, nyatanya tidak ditaati dan tidak mendapat dukungan dari pihak-pihak
yang mempunyai kekuasaan dan kewenangan administrasi negara. Permen ESDM
Nomor 07 Tahun 2012 dalam perjalanannya justru dicabut oleh MA dengan
menyatakan bahwa Peraturan Menteri ESDM Nomor 07 Tahun 2012 tidak sah
karena bertentangan dengan UU Nomor 4 Tahun 2009 dalam Putusan terhadap
perkara nomor 13 P/HUM/2012.

234

Uji materiil dengan perkara nomor 09 P/HUM/2012 diajukan oleh Asosiasi Nikel
Indonesia, uji materiil dengan nomor perkara 10 P/HUM/2012 diajukan oleh APKASI, uji materiil
nomor 13 P/HUM/2012 diajukan oleh Alias Welo, SIP, pemegang IUP bauksit.

149
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Berbagai persoalan yang terjadi dalam perjalanan penyelenggaraan


pengelolaan pertambangan mineral dan batubara selama kurun waktu berlakunya
UU Nomor 4 Tahun 2009, semakin mempersulit dilaksanakannya kegiatan
pertambangan sesuai dengan aturan, karena masing-masing pihak merasa haknya
terganggu. Kalangan pengusaha merasa berhak melanggar aturan dengan alasan
merugikan, pemerintah daerah kabupaten/kota merasa berhak mengatur sesuka
hati dengan alasan lebih berhak daripada Pemerintah, semakin membuat asas
kejelasan tujuan dan dapat dilaksanakan dalam proses pembentukan UU Nomor 4
Tahun 2009 terlihat tidak diperhatikan.
Pemahaman HMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) UUD
1945 nyatanya belum difahami secara benar oleh Pemerintah dan pemerintah
daerah yang sebenarnya diberikan amanat oleh rakyat Indonesia untuk menguasai
sumber daya alam mineral dan batubara dengan segala tugas dan fungsi yang
melekat

di

dalamnya.

Fungsi

pengurusan

(bestuurdaad),

pengelolaan

(beheersdaad), dan pengawasan (teozichthoudensdaad) sebagai pelaksanaan


HMN yang diberikan oleh seluruh rakyat Indonesia diberikan secara atribusi oleh
UU Nomor 4 Tahun 2009 kepada Pemerintah dan pemerintah daerah.
Melihat kembali sejarah pengelolaan pertambangan mineral dan batubara
dalam kurun waktu 68 tahun Indonesia merdeka, menurut pendapat penulis, peran
administrasi negara dalam penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara belum dijalankan sebagaimana mestinya. Sebagaimana pendapat S.
Prajudi Atmosudirjo, dilihat dari perspektif organisasi, peran administrasi negara
dalam penyelenggaraan pengelolaan pertambangan belum dapat memenuhi
keempat asas yang dapat dijadikan alternatif dalam suatu organisasi administrasi
negara, yaitu: (i) tujuan yang dicapai, (ii) kelompok yang dilayani, (iii) proses
yang dijalankan, dan (iv) wilayah geografis dalam negara. Terkait asas tujuan
yang ingin dicapai, tujuan penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara untuk mewujudkan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat belum
dapat tercapai. Masih terjadi kesenjangan antara pelaku usaha pertambangan
dengan kondisi masyarakat sekitar wilayah tambang. Asas kelompok yang
dilayani, dengan berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009, di mana bahan tambang
diperlakukan sebagai komoditas, dan adanya kewajiban penyesuaian bentuk

150
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

perizinan yang lama menjadi IUP, serta lahirnya kebijakan penentuan status IUP
clear and clean, nyatanya lebih banyak kelompok yang dilayani berasal dari
kalangan badan usaha dengan modal yang besar.
Terkait dengan asas proses yang dijalankan, dalam penyelenggaraan
pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, pada kenyataannya, dengan
alasan menarik investasi, terdapat beberapa persyaratan dalam permohonan izin
yang dihilangkan, meskipun disadari bahwa itu bertentangan dengan undangundang. Dengan dalih adanya persyaratan yang menghambat investasi sehingga
menghambat penerimaan daerah. Proses ini terus menerus dijalankan, bahkan
dengan terbitnya undang-undang baru, kebiasaan untuk melanggar aturan masih
dilakukan oleh pejabat administrasi negara. Asas wilayah geografis dalam negara,
dengan lahirnya UU Nomor 4 Tahun 2009 yang mendesentralisasikan
kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara sampai pemerintah
daerah kabupaten/kota, memicu sikap arogansi bupati/walikota.
Kewenangan Pemerintah untuk melakukan pengurusan (bestuurdaad)
dalam perspektif HMN, yang berupa kewenangan untuk memberikan izin dan
mencabut izin yang tidak memenuhi peraturan perundang-undangan, dalam
praktek penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, tidak
dijalankan sebagaimana mestinya. Ini dapat dilihat dengan jelas, adanya IUP yang
terkendala untuk penentuan status clear and clean karena beberapa masalah
administrasi yang menyimpang dalam perizinan, seperti IUP yang jangka
waktunya telah berakhir tetap diajukan untuk diregistrasi untuk mendapatkan
status clear and clean. Padahal IUP yang sudah berakhir jangka waktunya
semestinya berakhir dan diterbitkan Keputusan Administrasi Negara yang berupa
pengakhiran IUP.
Kewenangan pemerintah daerah yang secara tegas diatribusikan dalam
UU Nomor 4 Tahun 2009, terkait ketentuan Pasal 112 angka 4 huruf a PP Nomor
23 Tahun 2010, nyatanya tidak dijalankan secara terencana, sehingga hasilnya pun
menjadi tidak maksimal dan pada akhirnya menimbulkan banyak persoalan dalam
pelaksanaan Rekonsiliasi IUP Nasional untuk penetuan status IUP clear and
clean. Kewajiban penyesuaian KP menjadi IUP sebagaimana diatur dalam Pasal
112 angka 4 huruf a PP Nomor 23 Tahun 2010,seharusnya menjadi tugas dari

151
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pemerintah daerah, dengan menerbitkan Keputusan Penyesuaian KP menjadi IUP.


Namun kelalaian tersebut, tentu bukan saja ada pada pemerintah daerah tetapi
juga Pemerintah. Tidak adanya petunjuk teknis terkait penyesuaian KP yang
nyatanya berjumlah lebih dari 10.000, tetapi hanya diberi waktu 3 bulan setelah
terbitnya PP Nomor 23 Tahun 2009.
Selain itu, bagaimana kewajiban pemegang KP yang memiliki lebih dari
1 KP untuk penyesuaian KP-nya menjadi IUP, dengan adanya ketentuan Pasal 9
PP Nomor 23 Tahun 2010, bahwa badan usaha, koperasi, dan perseorangan hanya
dapat diberikan 1 IUP, sama sekali tidak ada petunjuk teknis baik dalam PP
Nomor 23 Tahun 2010 ataupun aturan di bawahnya yang bisa dijadika sebagai
acuan bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan penyesuaian tersebut. Sekali
lagi hal ini menunjukkan bahwa perencanaan Pemerintah dalam penyelenggaraan
pengelolaan pertambangan mineral dan batubara sangatlah tidak matang dan tidak
maksimal. Hal tersebut juga dapat dilihat dari pembentukan peraturan perundangundangan yang terkait, yang justru menimbulkan berbagai persoalan yang pada
akhirnya tidak dapat memberikan kepastian hukum dan kepastian usaha kepada
perizinan yang eksisting yang telah ada sebelum terbitnya UU Nomor 4 Tahun
2009. Bagaimana nasib KP yang telah disesuaikan menjadi IUP yang pada
akhirnya tidak dapat dimiliki oleh pemegang KP-nya karena harus mengikuti
ketentuan baru tidak pernah terpikirkan? Siapa yang harus bertanggung jawab
untuk pengusahaan mineral dan batubara? Siapa yang harus mengganti investasi
yang telah ditanam sebelum terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009? Bukankah
peraturan tidak boleh berlaku surut sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak
yang dikenai aturan?
Berbagai persoalan dalam pelaksanaan fungsi pengurusan oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah yang telah diuraikan di atas, tentunya akan
membawa dampak yang sangat panjang. Selain itu tidak dipenuhinya kewajiban
pelaporan dalam penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara di daerah kepada Pemerintah menambah lamanya penyelesaian persoalan
yang ada. Ketidakjelasan konsep perizinan saat ini, kewajiban penyesuaian
perizinan yang eksisting dengan lahirnya undang-undang baru, membuat tujuan
dan maksud dari UU Nomor 4 Tahun 2009 dan berbagai kebijakan pendukungnya

152
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

akan menjadi sangat sulit untuk diwujudkan. Penataan perizinan melalui


Rekonsiliasi IUP Nasional, penentuan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri,
kewajiban peningkatan nilai tambah mineral dan batubara, bisa jadi hanya akan
menjadi suatu proses administratif yang tidak akan membawa perubahan ke arah
pertambangan mineral dan batubara yang lebih baik.
Kewenangan untuk melakukan pengelolaan (beheersdaad) atas sumber
daya alam mineral dan batubara, dalam pespektif HMN dilakukan melalui
mekanisme pemilikan saham (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan
langsung dalam manajemen Badan Usaha Milik Negara atau Badan Hukum Milik
Negara sebagai instrumen kelembagaan, yang melaluinya Negara c.q. Pemerintah,
mendayagunakan penguasaannya atas sumber-sumber kekayaan itu untuk
digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kewenangan pengelolaan
(beheersdaad) tersebut, apabila kita cermati, dalam kurun waktu 68 tahun
pengelolaan pertambangan di masa Indonesia merdeka, belum sepenuhnya
dijalankan. Banyaknya pelaku usaha dengan modal asing, baik pengusahaan
dalam bentuk kontrak maupun izin, menunjukkan kurang maksimalnya peran
negara, dalam hal ini Pemerintah dan pemerintah daerah dalam mengelola
pertambangan dengan mekanisme pemilikan saham pada badan usaha yang
memiliki izin usaha di bidang pertambangan mineral dan batubara.
Biaya besar, teknologi tinggi, dan kerusakan lingkungan karena
terjadinya perubahan bentang alam sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan
merupakan konsekuensi logis yang harus sudah dikaji dan ditelaah oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah sebelum memutuskan untuk menjalankan
fungsi pengelolaan (beheersdaad) atas sumber daya alam mineral dan batubara.
Peran rencana sebagai keputusan administrasi negara, sebagaimana dikemukakan
oleh Prajudi Atmosudirjo, sangat penting untuk menentukan bentuk perizinan dan
bentuk pengusahaan yang tepat, bentuk peran serta masyarakat, bentuk
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat, penghormatan hak-hak
masyarakat hukum adat, serta bagaimana pemulihan lingkungan serta kegiatan
pascatambang yang akan dijadikan sasaran untuk pembentukan peraturan
perundang-undangan yang adil, memenuhi asas-asas dalam pembentukan
peraturan perundang-undangan, sehingga dapat dipahami oleh semua pihak dan

153
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dapat dijalankan secara efektif dan efisien. Dengan perencanaan yang tepat, baik,
dan benar, maka diharapkan antara penguasa dan para warga masyarakat akan
terikat untuk mentaati segala aturan di bidang pertambangan mineral dan
batubara, saling bahu membahu membangun pertambangan yang baik dan benar,
terpadu antara pelaku usaha dan penguasa demi mencapai tujuan agar tercipta
suatu keadaan yang tertib dalam merealisasikan usaha pertambangan, sehingga
tujuan mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan seluruh
rakyat Indonesia, baik generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.
Demikian pula fungsi pengawasan oleh negara (toezichthoudensdaad)
dilakukan oleh negara, c.q. Pemerintah, dalam rangka mengawasi dan
mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh negara atas sumber-sumber
kekayaan dimaksud benar-benar dilakukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
seluruh rakyat. Namun pelaksanaan fungsi pengawasan ini, baik oleh Pemerintah
maupun pemerintah daerah tidak dilakukan secara maksimal. Ini dapat dilihat dari
pelaksanaan kebijakan penataan perizinan melalui Rekonsiliasi IUP Nasional
untuk menentukan status IUP clear and clean. Dari ke-27 persoalan yang ada
dalam penentuan status IUP clear and clean, menunjukkan lemahnya fungsi
pengawasan. Kewajiban pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara di daerahnya kepada Pemerintah, sebagai
bahan evaluasi dalam rangka pembinaan dan pengawasan oleh Pemerintah,
nyatanya tidak sepenuhnya dilaksanakan.
Keadaan ini membuat persoalan semakin rumit, antara lain sudah banyak
investasi yang masuk namun wilayahnya tumpang tindih, pemekaran daerah
menyisakan sengketa kewenangan terkait batas wilayah adminitratif, dan begitu
banyaknya izin yang diterbitkan, tetapi banyak yang tidak memenuhi kewajiban
dan persyaratan administratif, termasuk proses penyesuaian KP menjadi IUP yang
melampaui batas waktu yang telah ditentukan. Data tersebut baru muncul pada
saat evaluasi penentuan status clear and clean, setelah lebih dari 10 tahun
kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara diotonomikan
kepada pemerintah kabupaten/kota. Perbedaan persepsi antara Pemerintah dan
pemerintah daerah serta para pelaku usaha dalam menterjemahkan UU Nomor 4

154
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Tahun 2009, semakin memperparah keadaan dan membuat UU Nomor 4 Tahun


2009 tidak dapat dilaksanakan.
Kewajiban pemurnian oleh pemegang kontrak dan pengolahan dan
pemurnian oleh pemegang IUP Operasi Produksi paling lambat 12 Januari 2014,
faktanya tidak dapat diwujudkan. Tekanan demi tekanan dan kuatnya campur
tangan politik, membuat kewajiban peningkatan nilai tambah mineral dan
batubara melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri semakin jauh dari
kenyataan. Sungguh miris, sekali lagi aturan dalam UU Nomor 4 Tahun 2009
dilanggar. Belum adanya fasilitas pengolahan dan pemurnian yang dapat
diselesaikan untuk memenuhi batasan pengolahan dan pemurnian, menunjukkan
bahwa selama ini fungsi pengawasan tidak maksimal. Kewajiban peningkatan
nilai tambah ini selalu menjadi perdebatan, bahkan posisi Pemerintah semakin
lemah untuk melaksanakan ketentuan UU Nomor 4 Tahun 2009, selain komitmen
Pemerintah sendiri yang kurang kuat, dukungan dari instansi lain juga tidak ada.
Bahkan peraturan yang dikeluarkan untuk mengatur ekspor bijih untuk persiapan
pelaksanaan pengolahan dan pemurnian serta batasan kualitas produk komoditas
tambang yang boleh diekspor dibatalkan oleh MA.
Segala carut marut perizinan dengan segala persoalan yang terjadi,
menunjukkan kurang siapnya Pemerintah dan pemerintah daerah dalam
menjalankan fungsinya terkait HMN. Mulai dari fungsi perencanaan sampai
dengan pengawasan, masih belum optimal. Pemahaman terhadap HMN dan tata
aturan yang mengatur pertambangan mineral dan batubara, mulai dari pembagian
kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, sampai kewangan
untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan
yang dilakukan oleh pemegang IUP, baik oleh aparatur Pemerintah maupun
pemerintah daerah masih kurang dan belum sama. Hal ini sangat menyulitkan
pelaksanaan UU Nomor 4 Tahun 2009 dan peraturan pelaksananya.
Apabila fungsi pengawasan dilaksanakan dengan benar, kewajibankewajiban pemegang IUP maupun kontrak, akan dilaksanakan dan dipenuhi
sebagaimana mestinya. Tujuan UU Nomor 4 Tahun 2009 untuk meningkatkan
nilai tambah mineral dan batubara untuk kepentingan nasional (pemenuhan bahan
baku industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas

155
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

mineral dan batubara, dan lain-lain) akan lebih mudah diwujudkan dengan
pemenuhan kewajiban baik oleh pelaku usaha maupun pemerintah daerah.
Kewajiban pemegang IUP Operasi Produksi untuk melakukan peningkatan nilai
tambah mineral dan batubara dengan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri
yang telah secara tegas diatur dalam Pasal 103 UU Nomor 4 Tahun 2009, dengan
pengawasan yang maksimal seharusnya dapat diwujudkan sejak berlakunya UU
Nomor 4 Tahun 2009, dan semua pihak tidak selalu berpatokan bahwa kewajiban
pengolahan dan pemurnian di dalam negeri baru berlaku pada tanggal 12 Januari
2014.
Pengawasan terkait kewajiban peningkatan nilai tambah dapat diawali
dengan persetujuan atas permohonan IUP Operasi Produksi sebagai peningkatan
dari IUP Eksplorasi yang diajukan kepada pemerintah daerah. Persyaratan teknis
untuk mendapatkan IUP Operasi Produksi, antara lain laporan studi kelayakan dan
rencana pembangunan sarana dan prasarana penunjang kegiatan operasi produksi.
Sebelum menerbitkan IUP Operasi Produksi, pejabat administrasi negara sudah
seharusnya

melakukan

evaluasi

terhadap

persyaratan-persyaratan

yang

disampaikan oleh pemohon. Meskipun UU Nomor 4 Tahun 2009 menjamin


pemegang IUP Eksplorasi untuk mendapatkan IUP Operasi Produksi sebagai
peningkatan dari IUP Eksplorasinya, namun bukan berarti tidak dapat ditolak
apabila ada persyaratan yang tidak terpenuhi. Pelaksanaan kewajiban pengolahan
dan pemurnian dapat dilihat dalam laporan studi kelayakan dan rencana
pembangunan sarana dan prasarana penunjang operasi produksi (smelter) yang
disampaikan oleh pemegang IUP Eksplorasi.
Laporan studi kelayakan dari pemegang IUP Eksplorasi, seharusnya
sudah menggambarkan bagaimana perusahaan akan memenuhi kewajiban
pengolahan dan pemurnian di dalam negeri dengan sumberdaya dan cadangan
mineral yang ditemukan. Apakah mereka akan membangun sendiri smelternya
atau akan bekerja sama dengan pihak lain untuk melaksanakan pengolahan dan
pemurnian hasil tambangnya? Dalam hal pemegang IUP Eksplorasi tidak
ekonomis untuk membangun sendiri smelternya dan tidak mendapatkan mitra
untuk kerja sama pengolahan dan pemurnian, maka fungsi pembinaan dari
pemerintah

daerah

seharusnya

dilaksanakan.

Berdasarkan

perencanaan

156
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pengelolaan pertambangan mineral dan batubara yang disusun oleh pemerintah


daerah sebelum memutuskan untuk mengelola pertambangan, di mana pemegang
IUP akan melakukan pengolahan dan pemurnian hasil tambangnya, sudah dapat
ditentukan. Tentunya semua itu dapat dicapai apabila fungsi pembinaan dan
pengawasan dilaksanakan dengan optimal.
Melihat segala keadaan yang ada setelah terbitnya UU Nomor 4 Tahun
2009 dan peraturan pelaksananya, sungguh sangat ironis, karena nyatanya UU
Nomor 4 Tahun 2009 tidaklah dapat dilaksanakan. Mulai dari penetapan WP,
peningkatan nilai tambah, penyesuaian bentuk perizinan lama (kontrak maupun
KP) sampai saat ini tetap saja tidak dapat terselesaikan, di masa umur UU Nomor
4 Tahun 2009 sudah 5 tahun. Justru penyimpangan dan pelanggaran atas UU
Nomor 4 Tahun 2009 baik oleh Pemerintah dan pemeerintah daerah sendiri
maupun oleh para pelaku usaha, kian hari kian terlihat nyata. Melihat kenyataan
yang ada, perlu kiranya kita mengkaji kembali UU Nomor 4 Tahun 2009 dengan
perbandingan UU Nomor 11 Tahun 1967 yang nyatanya secara konsep lebih
sesuai dengan perspektif HMN. Hanya saja pelaksanaan dari UU Nomor 11
Tahun 1967 yang harus dibenahi, karena banyak dilakukan penyimpangan dan
pelanggaran.

A. 2. Analisis Penyesuaian Kuasa Pertambangan menjadi Izin Usaha


Pertambangan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun
2010
KP sebagai bentuk izin tambang berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1967,
dengan berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009, keberadaannya tetap diakui dan
dihormati, dengan kewajiban untuk menyesuaikan bentuk perizinan serta hak dan
kewajibannya menjadi IUP. Kewajiban penyesuaian KP termasuk juga SIPD
menjadi IUP, secara tegas diatur dalam Ketentuan Peralihan, Pasal 112 angka 4
huruf a PP Nomor 23 Tahun 2010, dengan jangka waktu penyesuaian paling
lambat 3 bulan sejak berlakunya PP Nomor 23 Tahun 2010 (1 Mei 2010), dan
khusus BUMN dan BUMD, untuk IUP Operasi Produksi merupakan IUP Operasi
Produksi pertama. Dari rumusan Pasal 112 angka 4 huruf a, terdapat perlakuan
istimewa bagi BUMN/BUMD dalam pelaksanaan penyesuaian KP menjadi IUP,
hal ini berarti apabila BUMN/BUMD sudah memegang KP Eksploitasi, baik
157
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

belum diperpanjang atau sudah, maka dianggap baru mendapatkan IUP Operasi
Produksi, sehingga masih mendapatkan kesempatan untuk diperpanjang sebanyak
2 kali, masing-masing 10 tahun.
Berbeda dengan BUMN/BUMD, penyesuaian KP Eksploitasi yang
dimiliki oleh subyek hukum lain, penyesuaiannya melihat kronologis KP
Eksploitasi yang disesuaikan, apabila belum pernah diperpanjang, maka masih
mempunyai peluang/kesempatan untuk mendapatkan perpanjangan 2 kali masingmasing 10 tahun. Sedangkan apabila KP Eksploitasi sudah pernah diperpanjang
akan dilihat sudah diperpanjang berapa kali, apabila sudah diperpanjang, maka
dianggap menjadi perpanjangan terakhir, sehingga IUP Operasi Produksinya
sudah tidak dapat diperpanjang, apabila baru diperpanjang 1 kali, maka IUP
Operasi Produksi-nya masih dapat diperpanjang 1 kali, untuk jangka waktu 10
tahun.
Berbeda dengan KP Eksploitasi, KP Eksplorasi setelah disesuaikan
menjadi IUP Eksplorasi, harus menyesuaikan ketentuan UU Nomor 4 Tahun
2009, sehingga tidak dapat diperpanjang. Ketentuan ini berbeda dengan
pengaturan dalam UU Nomor 11 Tahun 1967 yang memungkinkan KP Eksplorasi
dapat

diperpanjang.

Perbedaan

signifikan

tersebut,

dalam

pelaksanaan

penyesuaian KP Eksplorasi menjadi IUP Eksplorasi justru menjadi persoalan


tersendiri bagi pemerintah daerah dan membuat para pelaku usaha merasa tidak
mendapatkan kepastian usaha, dikarenakan jangka waktu yang selama ini
diberikan dalam KP Eksplorasi rata-rata hanya 1 tahun. Sedangkan UU Nomor 4
total jangka waktu IUP lebih dari 1 tahun.
Kewajiban penyesuaian KP menjadi IUP yang merupakan tanggung
jawab pejabat administrasi negara sebagai pihak yang berwenang mengeluarkan
izin, dalam prakteknya banyak tidak dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat pada
waktu pelaksanaan Rekonsiliasi IUP Nasional, dengan kebijakan adanya penetuan
status IUP clear and clean, mulai dari Rekonsiliasi IUP Nasional Tahap I (tanggal
3-6 Mei 2011) sampai dengan Rekonsiliasi IUP Nasional Tahap II (dilaksanakan
secara bertahap pada tahun 2012) masih ada data KP yang belum disesuaikan
menjadi IUP, dan dijadikan permasalahan yang membuat IUP tidak clear and
clean.

158
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Persoalan lain yang muncul dalam penyesuaian KP Eksplorasi menjadi


IUP Eksplorasi adalah perbedaan struktur perizinan antara UU Nomor 11 Tahun
1967 dengan UU Nomor 4 Tahun 2009, di mana UU Nomor 11 Tahun 1967,
untuk penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan masing-masing
memerlukan izin tersendiri, yaitu KP Penyelidikan Umum, KP Eksplorasi, dan KP
Studi Kelayakan, dan masing-masing dapat diperpanjang. Berbeda dengan
struktur izin dalam UU Nomor 11 Tahun 1967, dalam UU Nomor 4 Tahun 2009,
untuk kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan memerlukan
1 izin, yaitu IUP Eksplorasi. Rincian jangka waktu berlakunya IUP Eksplorasi
juga menimbulkan permasalahan, baik dalam proses penyesuaian KP Eksplorasi
menjadi IUP Eksplorasi, maupun dalam penerbitan IUP-nya.
Jangka waktu IUP Eksplorasi mineral logam paling lama 8 tahun,
dijabarkan: (i) 1 tahun untuk penyelidikan umum; (ii) 3 tahun untuk eksplorasi,
dapat diperpanjang 2 kali masing-masing 1 tahun; dan (iii) 1 tahun studi
kelayakan, dapat diperpanjang 1 kali untuk 1 tahun. Jangka waktu IUP Eksplorasi
mineral bukan logam dan IUP Eksplorasi batuan paling lama 3 tahun, dijabarkan:
(i) 1 tahun untuk penyelidikan umum; (ii) 1 tahun untuk eksplorasi; dan (iii) 1
tahun untuk studi kelayakan. Jangka waktu IUP Eksplorasi mineral bukan logam
jenis tertentu paling lama 7 tahun, dijabarkan: (i) 1 tahun untuk penyelidikan
umum; (ii) 3 tahun untuk eksplorasi, dapat diperpanjang 1 kali untuk 1 tahun; dan
(iii) 1 tahun studi kelayakan, dapat diperpanjang 1 kali untuk 1 tahun. Jangka
waktu IUP Eksplorasi batubara paling lama 7 tahun, dijabarkan: (i) 1 tahun untuk
studi kelayakan; (ii) 2 tahun untuk eksplorasi, dapat diperpanjang 2 kali masingmasing untuk 1 tahun; dan (iii) 2 tahun untuk studi kelayakan. 235
Penerbitan KP oleh pemerintah daerah dengan jangka waktu yang jauh
dari batas maksimal, seringkali membuat pemegang KP merasa dirugikan pada
saat pelaksanaan penyesuaian KP menjadi IUP. Hal seperti ini berkaitan dengan
IUP Eksplorasi yang tidak dapat diperpanjang dan IUP Operasi Produksi hanya
dapat diperpanjang sebanyak 2 kali. Artinya ketika Keputusan Pemberian IUP
Eksplorasi hanya diberikan selama 1 tahun untuk mineral bukan logam atau
batuan, maka apabila masa 1 tahun berakhir, pemegang IUP Eksplorasi belum
235

Indonesia (5), op. cit., penjelasan Ps. 42

159
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dapat meningkatkan kegiatannya ke tahap operasi produksi, IUP Eksplorasinya


berakhir dan WIUP-nya kembali ke negara.

A. 3. Analisis Kebijakan Penataan Perizinan Melalui Rekonsiliasi Nasional


IUP dalam Perspektif Hak Menguasai Negara
Kebijakan penataan perizinan di bidang pertambangan mineral dan
batubara bermula dari penyusunan rencana WP yang telah disiapkan oleh
Pemerintah sejak tahun 2007, sebagaimana telah diuraikan dalam bab III.
Kebijakan penataan IUP yang diambil oleh Pemerintah dikarenakan tidak
dimilikinya data perizinan dalam bentuk IUP (penyesuaian dari KP) yang
diterbitkan oleh daerah. Hal ini menyulitkan dalam penetapan WP yang
menggambarkan potensi sebaran mineral dan batubara, yang akan menjadi
landasan kegiatan usaha pertambangan untuk jangka waktu 5 tahun. Wilayahwilayah kerja yang telah ada sebelum terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009 harus
tetap dihormati sebagai wilayah usaha bagi para pemegang izin yang telah terbit
sebelum berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009.
Kenyataan bahwa sejak era otonomi daerah jumlah perizinan terus
meningkat, terakhir sejumlah 10.916, 236 di mana menurut tim evaluator IUP clear
and clean, jumlah 10.916 belum final, karena masih banyak IUP khususnya
mineral yang belum diajukan pemrosesan untuk IUP clear and clean, jadi masih
mungkin untuk terus bertambah, memang diperlukan adanya suatu kebijakan
penataan izin. Izin sebagai bentuk pengendalian langsung (direct control), di
mana

Pemerintah

pertambangan

berperan

melalui

dalam

pemberian

penyelenggaraan
izin,

pemerintah

pengelolaan
mengendalikan

usaha
dan

mengarahkan agar pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan


tujuan negara untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sebagaimana
diamanahkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
Diselenggarakannya otonomi daerah dengan desentralisasi sampai
kabupaten/kota, menurut pendapat Bhenyamin Hoessein, tidak berarti asas
sentralisasi ditinggalkan, karena sentralisasi dan desentralisasi sebagai organisasi
pemerintahan masing-masing tidak ditempatkan pada kutub yang berlawanan,
236

Data Update status IUP Clear and Clean Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara

160
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

tetapi ditempatkan dalam suatu rangkaian kesatuan (continuum). 237 Dengan


demikian, pemerintah daerah seharusnya tidak merasa dicampuri atau diambil alih
kewenangannya dalam penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara terkait kebijakan Pemerintah melalui Rekonsiliasi IUP Nasional.
Rekonsiliasi IUP Nasional sebagai salah satu pelaksanaan fungsi pengawasan
yang dari Pemerintah terhadap pengelolaan pertambangan mineral dan batubara
yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Rekonsiliasi IUP Nasional dengan penentuan status IUP clear and clean,
mempunyai beberapa tujuan, yaitu untuk: 238 (i) dasar penetapan WP; (ii) bahan
koordinasi dengan instansi lain dalam penentuan tata ruang sehingga dapat
mengetahui tumpang tindih antara daerah, tumpang tindih antar sektor, dan
tumpang tindih antar pemegang IUP; (iii) optimalisasi penerimaan negara bukan
pajak (iuran tetap, royalti, penjualan hasil tambang) dari IUP; (iv) peluang untuk
peningkatan nilai tambah mineral dan batubara; (v) mengetahui potensi produksi
nasional mineral dan batubara; (vi) dasar penentuan pemenuhan kebutuhan
domestik (DMO); (vii) peningkatan kontribusi usaha jasa pertambangan nasional;
(viii) peningkatan kebutuhan sumber daya manusia; (ix) pengelolaan lingkungan
yang optimal. Tujuan penentuan status IUP clear and clean, dalam perspektif
HMN, merupakan perwujudan dari fungsi pengawasan untuk mewujudkan
pertambangan mineral dan batubara yang berwawasan lingkungan demi
pemenuhan kepentingan nasional dalam rangka mencapai sebesar-besar
kesejahteraan rakyat.
Secara konsep dan tujuan, Rekonsiliasi IUP Nasional merupakan suatu
langkah atau terobosan yang tepat untuk penataan IUP. Namun dalam tataran
pelaksanaan, masih terdapat beberapa hal yang justru membuka peluang untuk
terus bertambahnya jumlah IUP. Ini dapat dilihat dari data IUP dari waktu ke
waktu terus meningkat jumlahnya (data dalam siaran pers Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral Nomor 33/HUMAS KESDM/2011 tanggal 27 Juni
2011 total IUP sebanyak 8.475, per 1 Mei 2012 total IUP 9.662, dan per 24 Juni

237

Bhenyamin Hoessein, op. cit., hlm. 1

238

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan
Batubara, Buku Panduan Rekonsiliasi Nasional Izin Usaha Pertambangan (IUP) Tahap II, 2012

161
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

2013 menjadi 10.879; data terakhir per 26 November 2013 total IUP yang
diajukan untuk pemrosesan status clear and clean bertambah lagi, sehingga total
IUP menjadi 10.916). 239
Kondisi tersebut menunjukkan kurang matangnya perencanaan dan
konsep dari Rekonsiliasi IUP Nasional. Dalam pelaksanaan Rekonsiliasi IUP
Nasional sudah semestinya ada keberanian untuk mengambil langkah tegas
terhadap IUP yang tidak memenuhi persyaratan, tidak memenuhi kewajibankewajiban yang telah ditentukan, atau yang penerbitannya menyalahi prosedur.
Rekonsiliasi IUP Nasional hendaknya tidak sekedar untuk optimalisasi
penerimaan negara, tetapi juga untuk menjamin terlaksananya kegiatan
pertambangan yang mampu memenuhi kepentingan nasional, lapangan kerja dan
peningkatan taraf hidup masyarakat melalui peningkatan nilai tambah mineral dan
batubara, serta berwawasan lingkungan.
Dengan pelaksanaan Rekonsiliasi IUP Nasional, seharusnya segala carut
marut dan persoalan dalam penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara dapat diupayakan penyelesaiannya termasuk dalam menyongsong
dilaksanakannya kewajiban pengolahan dan pemurnian di dalam negeri, yang
dianggap sebagian besar orang, bahkan dari kalangan pengadilan (MA) baru wajib
mulai tanggal 12 Januari 2014. Namun kenyataannya, Rekonsiliasi IUP Nasional
dengan adanya penentuan status IUP clear and clean, justru dijadikan sarana
pelaku usaha dan pemerintah daerah untuk melegalkan ekspor bijih (raw
material),

dengan

adanya

kebijakan

rekomendasi

ekspor

dengan

mempersyaratkan adanya sertifikat clear and clean bagi pemegang IUP Operasi
Produksi yang akan mengekspor bijih (raw material).
Rekonsiliasi IUP Nasional, hendaknya menjadi ajang atau sarana untuk
menyatukan visi dan misi penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara antara Pemerintah dan pemerintah daerah, dan menyatukan
pemahaman serta perilaku taat pada tata aturan baik Pemerintah, pemerintah
daerah, maupun para pemegang IUP. Selain itu, perlu pula dilakukan penyamaan
persepsi Pemerintah dan pemerintah daerah selaku pihak yang berwenang
menerbitkan izin, pemegang IUP selaku pelaku usaha pertambangan, dan semua
239

Data Update status IUP Clear and Clean Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara

162
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pemangku kepentingan (stakeholders) terkait HMN, karena dengan Rekonsiliasi


IUP Nasional antara Pemerintah dan pemerintah daerah, para pemegang IUP, dan
pemangku kepentingan dapat bertemu.
Penentuan status IUP clear and clean, seharusnya dilaksanakan secara
terbuka (transparan), jelas kriteria yang digunakan untuk penentuan status IUP
clear and clean, jelas jangka waktu penyelesaian, serta jelas sikap yang diambil
terkait perizinan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan dan yang tidak memenuhi kewajiban-kewajibannya. Dengan demikian,
setiap penentuan IUP clear and clean sama antara yang satu dengan yang lainnya,
dari tahap satu dengan tahap lainnya. Penentuan status IUP clear and clean yang
selama ini dilakukan, dalam perjalanannya tidak sama kriteria yang digunakan
untuk menentukan IUP clear and clean atau tidak, dan permasalahan yang
menyebabkan IUP tidak dapat dinyatakan clear and clean terus berkembang.
Perbedaan kriteria/permasalahan yang menjadikan IUP tidak bisa clear
and clean, dapat dilihat dari permasalahan yang terdapat dalam pelaksanaan
Rekonsiliasi IUP Nasional Tahap I sebanyak 7 permasalahan dan Rekonsiliasi
IUP Nasional Tahap II menjadi 27 permasalahan. Dalam perjalanan X kali
pengumuman IUP clear and clean, terdapat beberapa IUP yang awalnya
dinyatakan clear and clean, kemudian dibatalkan status clear and clean-nya.
Perbandingan permasalahan dalam Rekonsiliasi IUP Nasional Tahap I dan Tahap
II, sebagai berikut: 240

No.
1.

2.

Permasalahan Rekonsiliasi IUP


Nasional Tahap I
IUP clear and clean terbit
setelah 1 Mei 2010, belum
dinyatakan clear and clean
karena melewati 3 bulan setelah
berlakunya PP Nomor 23 Tahun
2010
tumpang tindih WIUP sesama
komoditi

Permasalahan Rekonsiliasi IUP


Nasional Tahap II
pengajuan permohonan perpanjangan
/peningkatan KP/IUP setelah masa
berlaku KP/IUP berakhir

pencadangan ditetapkan sebelum UU


4/2009 dan permohonan IUP dalam
SKnya diajukan setelah UU 4/2009

240

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan
Batubara, Data Permasalahan Penentuan IUP Clear and Clean dalam Rekonsiliasi IUP Nasional
Tahap I dan Tahap II

163
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

No.
3.

Permasalahan Rekonsiliasi IUP


Nasional Tahap I
tumpang tindih beda komoditi

4.

tumpang tindih kewenangan

5.

dokumen SK Pendukung tidak


lengkap dan format SK tidak
sesuai
koordinat tidak sesuai dengan
SK

6.

7.
8.
9.

10.

11.

12.
13.

14.

15.
16.

Permasalahan Rekonsiliasi IUP


Nasional Tahap II
pada diktum mengingat dalam SK
penyesuaian KP menjadi IUP masih
tercantum UU 11/1967
Pergeseran Wilayah Setelah UU No
4/2009
tidak ada KP Eksplorasi, langsung KP
Eksploitasi untuk bahan galian mineral
dan batubara
PT bukan perusahaan terbuka, memiliki
beberapa IUP setelah terbitnya UU No
4/2009
satu IUP memiliki 2 blok wilayah

KP,
SIPD
yang
belum
disesuaikan menjadi IUP
masa berlaku SK penyesuaian melebihi
ketentuan UU 4/2009
keabsahan dokumen:
- SK IUP terakhir belum dilegalisir
(cap basah)
- SK IUP dilegalisir tapi tidak ditanda
tangani dan diberi tanggal legalisir
pengalihan IUP PT A ke PT B setelah
UU 4/2009 dengan pemegang saham
berubah
pengalihan IUP PT A ke PT B masih
dalam tahap IUP Eksplorasi setelah UU
4/2009
peningkatan sebagian IUP Eksplorasi
menjadi IUP OP setelah UU 4/2009
permohonan pencadangan wilayah
diajukan sebelum UU 4/2009 pada
wilayah
rencana
penciutan
KK/PKP2B/KP/IUP yang masih aktif,
sedangkan wilayah KK/PKP2B/IUP
baru diciutkan setelah UU 4/2009. IUPnya
diterbitkan
sebelum/setelah
penciutan WIUP KK/PKP2B/KP/IUP
IUP batuan bukan logam diterbitkan
setelah UU 4/2009 dan telah mendapat
rekomendasi dari Dirjen Minerba
sebelum April 2011
KP yang sampai dengan saat ini belum
disesuaikan menjadi IUP
permohonan penyesuaian ke IUP dan
tanggal penetapan penyesuaian KP
menjadi IUP setelah 30/4/2010

164
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

No.
17.

Permasalahan Rekonsiliasi IUP


Nasional Tahap I
-

18.

19.

20.

21.

22.
23.

24.

25.
26.

27.

Permasalahan Rekonsiliasi IUP


Nasional Tahap II
penggabungan beberapa KP menjadi 1
IUP, namun pada judul SK IUP tidak
dicantumkan Penggabungan. Diktum
pada SK IUP tidak menyebutkan SK
KP yang digabung
jangka waktu IUP yang akan
diregistrasi pada DJMB telah berakhir
tanggal penetapan SK berbeda dengan
tanggal pada lampiran koordinat SK
jangka
Waktu
penyesuaian
KP
Eksploitasi menjadi IUP OP tidak sama
/lebih dari jangka waktu yang diberikan
pada saat KP Eksploitasi
pengalihan IUP Operasi Produksi dari
PT A ke PT B setelah UU 4/2009
dokumen tidak lengkap
dokumen ganda (SK dengan Nomor,
Tanggal, dan Subjek yang sama) tetapi
terdapat perbedaan tanggal
KP terbit Setelah UU N0. 4 Tahun 2009
(12 Januari 2009)
WIUP masuk ke Hutan Konservasi
turun status tahapan dari IUP Operasi
Produksi menjadi IUP Eksplorasi
perubahan komoditas dari mineral
logam menjadi batubara

Tabel 4.1. Perbandingan Permasalahan Penentuan Status IUP Clear and Clean
dalam Rekonsiliasi IUP Nasional Tahap I dan Tahap II

Apabila kita cermati beberapa permasalahan yang dikemukakan dalam


penentuan status IUP clear and clean, lebih banyak bersifat administratif yang
sebenarnya bisa langsung diambil/ditentukan sikap untuk tindak lanjutnya.
Permasalahan yang lebih penting, justru banyak dilewatkan dalam penentuan
status IUP clear and clean, misalnya: bukti penempatan jaminan kesungguhan
untuk IUP Eksplorasi, persetujuan/pengesahan dokumen lingkungan hidup dari
instansi

yang

berwenang,

persetujuan

rencana

reklamasi

dan

rencana

pascatambang serta bukti penempatan jaminan reklamasi dan jaminan


pascatambang, persetujuan dokumen studi kelayakan yang memuat rencana

165
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pengolahan dan pemurnian di dalam negeri untuk IUP Operasi Produksi, serta
bukti pembayaran iuran tetap (landrent) dan iuran produksi (royalty).
Dengan bukti penempatan jaminan kesungguhan untuk IUP Eksplorasi,
akan dapat menghindari kemungkinan penerbitan izin yang dibuat mundur tanggal
penerbitannya (backdate), karena penempatan jaminan kesungguhan bentuknya
deposito berjangka, sehingga tidak mungkin dapat ditanggali mundur (backdate)
sebelum tahun 2009. Persetujuan dokumen lingkungan hidup dan dokumen studi
kelayakan merupakan hal penting untuk menuju pada tahap operasi produksi, jadi
semestinya menjadi persyaratan untuk menentukan IUP Operasi Produksi clear
and clean. Persyaratan berupa persetujuan dokumen studi kelayakan dan dokumen
lingkungan hidup dan bukti setor pembayaran iuran tetap (landrent) dan iuran
produksi (royalty), dalam prakteknya justru menjadi persyaratan untuk
mendapatkan sertifikat clear and clean untuk IUP Operasi Produksi.
Kasus pengalihan IUP setelah terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009
menjadi permasalahan dalam penentuan status IUP clear and clean, terdapat 3
kategori, yaitu: (i) pengalihan IUP PT A ke PT B dengan perubahan pemegang
saham; (ii) pengalihan IUP PT A ke PT B masih dalam tahap IUP Eksplorasi; dan
(iii) pengalihan IUP Operasi dari PT A ke PT B. Kebijakan untuk
mempermasalahkan pengalihan IUP, baru muncul pada saat Rekonsiliasi IUP
Nasional Tahap II. Berdasarkan informasi dari Tim Evaluator IUP Clear and
Clean Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara baru diterapkan pada
Pengumuman IUP Clear and Clean Tahap VI (1 Agustus 2012) selang setahun
lebih dari Pengumuman IUP Clear and Clean Tahap I. Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa tidak ada ketegasan dan kejelasan untuk menentukan kriteria
dalam penetapan status IUP clear and clean. Selain itu, juga menyebabkan
terjadinya ketidakadilan dalam penentuan status IUP clear and clean.
Terkait pengalihan IUP, harus dilihat dari kronologis yang menyebabkan
terjadinya pengalihan IUP yang terjadi setelah UU Nomor 4 Tahun 2009 terbit.
Apabila pengalihan IUP dikarenakan terjadi perubahan nama PT pemegang IUP
dikarenakan akuisisi saham atau karena terjadi merger sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang mengatur Perseroan Terbatas, maka dapat dilihat dari
perubahan Akta Pendirian Perusahaan dan pengesahannya di Kementerian Hukum

166
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dan Hak Asasi Manusia. Apabila kronologis pengalihan IUP dengan pemegang
saham berbeda karena akuisisi saham atau merger, semestinya tidak menjadi
permasalahan dalam penentuan status IUP clear and clean.
Selain itu, terdapat permasalahan PT bukan perusahaan terbuka, memiliki
beberapa IUP setelah terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009. Padahal ini
berhubungan dengan kewajiban pemegang KP yang memiliki lebih dari 1 KP
untuk menyesuaikan KP menjadi IUP, di mana dalam proses penyesuaiannya
menjadi IUP harus mengikuti ketentuan Pasal 9 PP Nomor 23 Tahun 2010, di
mana 1 pemohon hanya dapat diberikan 1 WIUP, yang diartikan bahwa setiap
badan usaha, koperasi, atau perseorangan hanya dapat diberikan 1 IUP. Proses
penyesuaian KP menjadi IUP tersebut menyisakan persoalan bagaimana dengan
KP lainnya, apabila yang boleh dimiliki hanya 1. Tentu saja perlakuan seperti ini
sangat tidak adil dan merugikan pemegang KP yang telah mendapat izin untuk
mengusahakan mineral dan batubara sebelum berlakunya UU Nomor 4 Tahun
2009. Terkait persoalan tersebut, dalam kebijakan Rekonsiliasi IUP Nasional,
jalan penyelesaian yang diberikan justru akan membuat Pemerintah kembali
kehilangan data tentang IUP.
Sebagai contoh: PT A memiliki 2 KP, dalam proses penyesuaian
semestinya PT A tetap dapat memiliki 2 IUP, karena KP tetap diakui sampai
jangka waktunya berakhir dengan kewajiban untuk disesuaikan menjadi IUP.
Namun ketentuan Pasal 9 PP Nomor 23 Tahun 2010 justru tidak mengakomodir
salah satu IUP yang dimiliki oleh PT A, kecuali PT A perusahaan terbuka (go
public). Terhadap penyesuaian KP menjadi IUP tersebut, IUP yang dapat
dinyatakan clear and clean hanya 1 IUP, dengan dalih bertentangan dengan Pasal
9 PP Nomor 23 Tahun 2010. Jalan ke luar yang diberikan oleh Pemerintah untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut adalah PT A membuat pernyataan
kesanggupan untuk mengalihkan salah satu IUP-nya kepada anak perusahaan
(afiliasi) dengan materai. Setelah PT A menyampaikan pernyataan tersebut, maka
IUP yang tadinya tidak clear and clean akan dinyatakan clear and clean.
Kritik terhadap kebijakan tersebut adalah, penentuan clear and clean
untuk IUP hanya berdasarkan surat pernyataan, tanpa ada kejelasan kepada siapa
IUP tersebut akan dialihkan. Menurut evaluator clean and clean, tidak ada

167
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

kewajiban untuk menyampaikan kembali IUP yang telah dialihkan tersebut


kepada Pemerintah. Terkait kebijakan tersebut, seharusnya IUP dinyatakan clear
and clean setelah dialihkan kepada anak perusahaan (afiliasi) dengan Keputusan
Pemberian IUP kepada anak perusahaan berdasarkan pengalihan IUP, sehingga
data IUP tetap sama, hanya kepemilikannya yang berubah. Akan tetapi persoalan
nyatanya tidak berhenti sampai di sini, bagaimana jika pemegang lebih dari 1 KP
adalah koperasi atau perseorangan, apakah pengalihan IUP (penyesuaian) juga
kepada anak perusahaan? Tentu saja ini tidak adil, bagaimana koperasi dan
perseorangan yang tidak ada saham di dalamnya dipaksa untuk membentuk anak
perusahaan? Hal seperti ini nyatanya tidak pernah dipikirkan.
Kritik selanjutnya terkait penataan perizinan melalui Rekonsiliasi IUP
Nasional adalah adanya sertifikat clear and clean, di mana untuk mendapatkannya
justru masih harus menyampaikan persyaratan yang penting, yang menjadi
kewajiban pemegang IUP. Menurut pendapat penulis, kebijakan ini justru terbalik.
Seharusnya persyaratan-persyaratan dalam permohonan sertifikat clear and clean
justru menjadi persyaratan untuk penentuan status IUP clear and clean, sehingga
status IUP clear and clean yang diperoleh oleh pemegang IUP benar-benar
berperan sebagai salah satu cara untuk menata perizinan. Jadi IUP yang
dinyatakan clear and clean didasarkan pada kriteria: (i) proses penerbitan IUP
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan (ii) pemegang IUP
melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Setelah IUP dinyatakan clear and clean, maka pemegang
IUP yang bersangkutan langsung mendapatkan sertifikat clear and clean.
Dengan demikian, tujuan penataan perizinan, termasuk tujuan UU
Nomor 4 Tahun 2009 untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan batubara
melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri dapat diwujudkan. Status IUP
clear and clean yang didasarkan pada mekanisme penerbitan izin dan pemenuhan
kewajiban pemegang IUP sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan, berarti IUP yang diakui oleh Pemerintah dan dianggap sah adalah IUP
yang benar-benar sesuai aturan, benar-benar pihak yang berkompeten, terseleksi,
dan terpilih serta dapat bertanggung jawab terhadap izin yang telah
didapatkannya. Dengan demikian fungsi perencanaan dan pengawasan yang

168
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dilakukan oleh Pemerintah benar-benar dapat dipertanggung jawabkan demi


terkelolanya sumber daya alam mineral dan batubara yang optimal, berwawasan
lingkungan, bermanfaat bagi masa sekarang dan masa yang akan datang
(berkelanjutan), dan dapat memberikan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

B. Analisis Pengalihan Izin Usaha Pertambangan Berdasarkan UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 dan Peraturan Pelaksananya dalam
Perspektif Hak Menguasai Negara
B. 1. Analisis Pengalihan Izin Usaha Pertambangan dalam Pasal 93 Undang
Nomor 4 Tahun 2009 dalam Perspektif Hak Menguasai Negara
Pengalihan/pemindahan IUP diatur dalam Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun
2009, yang memuat materi pokok: (i) Pemegang IUP/IUPK tidak boleh
memindahkan IUP/IUPK-nya kepada pihak lain; (ii) Pengalihan kepemilikan
dan/atau saham di bursa saham Indonesia hanya dapat dilakukan setelah
melakukan kegiatan eksplorasi tahapan tertentu; (iii) Pengalihan kepemilikan
dan/atau saham (di bursa saham Indonesia) hanya dapat dilakukan dengan syarat:
harus memberitahu Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya, dan tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Dari rumusan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009, terdapat lima
persoalan pokok, yaitu: (i) tidak boleh memindahkan IUP; (ii) pihak lain; (iii)
kepemilikan dan/atau saham; (iv) bursa saham Indonesia; (v) eksplorasi tahap
tertentu; dan (vi) harus memberitahu.
Persoalan pertama, tidak boleh memindahkan IUP, hal ini tentunya
dimaksudkan agar IUP diperoleh oleh orang yang tepat, sehingga tidak ada lagi
makelar IUP ataupun transfer of pricing dalam kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batubara. Namun dalam praktek penyelenggaraan pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara, ketentuan tersebut banyak dilanggar atau
tidak dipatuhi. Hal ini menurut pendapat penulis terjadi karena paradigma dari UU
Nomor 11 Tahun 1967 yang begitu kuat mempengaruhi para pelaku usaha dan
pejabat administrasi negara sebagai pihak yang berwenang untuk menerbitkan
izin. UU Nomor 11 Tahun 1967 yang berlaku kurang lebih 41 tahun, dalam Pasal
15 ayat (4) mengatur bahwa Kuasa Pertambangan dapat dipindahkan kepada
perusahaan atau perseorangan lain bilamana ketentuan-ketentuan dalam pasal 5, 6,
169
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

7, 8, 9 dan 12 dengan persetujuan Menteri. Dengan berlakunya UU Nomor 4


Tahun 2009 sejak tanggal 12 Januari 2009, sudah seharusnya semua ketentuan
dalam UU Nomor 11 Tahun 1967 tidak berlaku, termasuk ketentuan KP dapat
dipindahkan, karena UU Nomor 11 Tahun 1967 dicabut dengan UU Nomor 4
Tahun 2009.
UU Nomor 4 Tahun 2009 hanya mengatur ketentuan peralihan untuk
bentuk perizinan dalam UU Nomor 11 Tahun 1967 yang berupa Kontrak Karya
dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara, bahwa kontrak
diberlakukan sampai jangka waktu berakhirnya kontrak dan pasal-pasalnya wajib
menyesuaikan dengan ketentuan UU Nomor 4 Tahun 2009, sedangkan ketentuan
peralihan untuk KP, dan Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) tidak diatur.
Kondisi seperti ini, memberikan ketidakpastian bagi KP, SIPD, sehingga
menimbulkan permasalahan terkait pengalihan/pemindahan KP setelah tanggal 12
Januari 2009, diperbolehkan atau tidak?
Persoalan kedua, pihak lain, siapa yang dimaksud sebagai pihak lain
dalam ketentuan Pasal 93 ayat (1). Frasa pihak lain juga menimbulkan
pertanyaan, adanya pihak lain apakah berarti ada pihak yang sama. Tidak ada
penjelasan terkait frasa pihak lain dalam UU Nomor 4 Tahun 2009. Rumusan
ini berbeda dengan rumusan dalam Pasal 15 UU Nomor 11 Tahun 1967 yang
menggunakan frasa perusahaan atau perseorangan lain. Rumusan UU Nomor 11
Tahun 1967 lebih tegas dan jelas dibandingkan rumusan dalam UU Nomor 4
Tahun 2009, yang masih menimbulkan perbedaan persepsi dan pertanyaan.
Persoalan ketiga, kepemilikan dan/atau saham, pertanyaan muncul
terkait adanya frasa dan/atau yang menghubungkan kepemilikan dan
saham. Frasa dan/atau memberikan pengertian opsional kepemilikan dan
saham dan kepemilikan atau saham. Dengan demikian antara kepemilikan
dan saham adalah 2 obyek yang berbeda. Pertanyaan yang muncul dari rumusan
Pasal 93 ayat (2) dan (3) terkait frasa kepemilikan dan/atau saham adalah apa
yang dimaksud dengan kepemilikan di sini. Apakah kepemilikan IUP atau
kepemilikan yang lain, yang pasti bukan kepemilikan saham, karena apabila
yang dimaksud dalam rumusan tersebut adalah kepemilikan saham, maka frasa
yang akan digunakan adalah kepemilikan saham bukan kepemilikan dan/atau

170
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

saham. Apabila kepemilikan yang dimaksud adalah kepemilikan IUP, lalu apa
makna ayat (1) tidak boleh memindahkan IUP, sehingga antara ayat (1) dan ayat
(2) menjadi kontradiktif. Mengenai frasa kepemilikan tidak dijelaskan dalam
UU Nomor 4 Tahun 2009.
Persoalan keempat, bursa saham Indonesia, pertanyaan yang muncul
adalah (i) apakah mungkin kepemilikan IUP atau kepemilikan yang lain
dialihkan melalui bursa saham Indonesia; (ii) bagaimana dengan pengalihan
kepemilikan saham di luar bursa saham Indonesia; (iii) apakah pengalihan saham
di luar bursa saham Indonenesia dilarang atau diperbolehkan; (iv) apabila di
larang, mengapa ada perlakuan berbeda antara pengalihan saham di bursa saham
Indonesia dan di luar bursa saham Indonesia; (v) apabila diperbolehkan,
persyaratan apa yang harus dipenuhi. Dalam dunia usaha dengan pilihan entitas
berbentuk badan usaha (PT) tentunya pengalihan saham adalah hal yang biasa
terjadi, untuk badan usaha yang tertutup pengalihan saham biasa terjadi di luar
bursa saham, sedangkan untuk badan usaha terbuka, pengalihan saham bisa terjadi
di luar maupun di bursa saham Indonesia.
Persoalan kelima, eksplorasi tahap tertentu, juga belum ada pedoman
teknis penentuan atau kriterianya. Penjelasan pasal ini hanya menyebutkan bahwa
yang dimaksud dengan eksplorasi tahap tertentu adalah telah ditemukan 2 wilayah
prospek dalam kegiatan eksplorasi, sehingga masih menyisakan pertanyaan: (i)
bagaimana pembuktian 2 wilayah prospek, apakah cukup dengan pernyataan dari
pemegang IUP/IUPK, atau harus dibuktikan dengan suatu kajian kelayakan; (ii)
apakah cukup dengan dua titik bor dalam kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan
kajian terdapat cadangan mineral atau batubara yang bisa dilanjutkan untuk
kegiatan penambangan atau ada kriteria lain yang digunakan untuk penilaian telah
ditemukan 2 wilayah prospek? UU Nomor 4 Tahun 2009 tidak lagi mengenal
blok-blok dalam pelaksanaan kegiatan usaha, tetapi di sini ada ketentuan 2
wilayah prospek.
Sampai saat ini kriteria 2 wilayah prospek belum ada kesepakatan dan
belum ada peraturan yang mengatur. Ada sebagian berpendapat cukup dengan
menyampaikan laporan akhir eksplorasi yang menggambarkan adanya 2 wilayah
prospek, ada pula yang berpendapat perlu menyampaikan laporan hasil studi

171
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

kelayakan yang menyatakan 2 wilayah prospek tersebut memang prospek untuk


dilanjutkan pada kegiatan operasi produksi. 241 Belum adanya aturan atau pedoman
yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam penentuan kriteria 2 wilayah prospek
menjadi hambatan dalam pelaksanaan pengalihan kepemilikan dan/atau saham.
Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara, banyak kasus pengalihan kepemilikan IUP maupun kepemilikan saham
yang ditemui dalam rekonsiliasi IUP Nasional, di mana kasus tersebut menjadi
permasalahan dalam penentuan status IUP clear and clean.
Persoalan

Keenam,

harus

memberitahu,

juga

menimbulkan

pertanyaan: (i) kapan pemberitahuan harus dilakukan, sebelum atau sesudah


terjadinya pengalihan kepemilikan dan/atau saham; (ii) bagaimana perlakuan atas
pemberitahuan tersebut, karena dengan menyampaikan pemberitahuan, pemegang
IUP sudah memenuhi kewajibannya; (iii) dengan adanya frasa harus
memberitahu, maka di mana peran Pemerintah dan pemerintah daerah yang
menjalankan tugas dan fungsi negara sebagai pemegang amanat rakyat untuk
menguasai sumber daya alam mineral dan batubara yang mempunyai kewenangan
untuk menebitkan IUP. Ketentuan ini berbeda dengan ketentuan dalam UU
Nomor 11 Tahun 1967 dengan persetujuan Menteri.
Terkait kelima persoalan pokok yang terdapat dalam rumusan Pasal 93
UU Nomor 4 Tahun 2009, dilihat dari proses pembentukan peraturan perundangundangan, asas kejelasan rumusan, bahwa setiap pembentukan peraturan
perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan
perundang-undangan, sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum
yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai
intepretasi dalam pelaksanaannya 242 tidak terpenuhi. Apabila dikaitkan dengan
syarat agar hukum tidak gagal dari Lon L Fuller, yang menekankan pada isi
hukum positif (positive legal content) dengan teorinya dalam principles of

241

Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral
dan Batubara, Pembahasan Rancangan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
tentang Pelaksanaan Perizinan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara dan
Pembahasan Rancangan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Perubahan
Penanaman Modal (terkait substansi pengalihan kepemilikan saham pemegang IUP/IUPK)
242

Indonesia (1), op. cit., Penjelasan Ps. 5 huruf f

172
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

legality 243, bahwa hukum harus dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat
dimengerti oleh rakyat, juga tidak terpenuhi. Dilihat dari sejarah penyusunan
Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009, rumusan dalam RUU Minerba Pasal 30 lebih
jelas, yaitu: Pemegang IUP dapat memindahkan IUP kepada pihak lain setelah
memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
dan mendapat persetujuan dari pemberi izin.
UU Nomor 4 Tahun 2009, mengatur adanya mekanisme lelang WIUP
mineral logam dan batubara sebagai langkah awal untuk mendapatkan IUP/IUPK
mineral logam dan batubara. Badan usaha, koperasi, atau perseorangan yang
mendapatkan WIUP mineral logam atau batubara adalah pemenang lelang, yang
dinilai tidak sekedar dari aspek administratif saja, tetapi juga teknis, dan finansial.
Persyaratan teknis antara lain berupa rencana kerja dan anggaran biaya untuk
kegiatan 4 tahun eksplorasi 244 yang akan dilaksanakan setelah diberikannya IUP.
Mekanisme lelang WIUP dan berbagai persyaratannya, menurut pendapat penulis
menunjukkan kesungguhan dan kesanggupan dari peserta lelang WIUP mineral
logam atau batubara. Demikian juga dengan penawaran harga yang disampaikan,
seharusnya membuktikan kesanggupan para peserta lelang dalam melaksanakan
kegiatan usaha pertambangan mineral logam atau batubara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Mekanisme lelang WIUP mineral logam dan batubara sebagai langkah
awal untuk memperoleh IUP, menurut pendapat penulis sebagai sarana untuk
mengendalikan kegiatan usaha pertambangan dengan menyaring para pihak yang
ingin melakukan kegiatan usaha pertambangan tersebut. Tujuan dari pengaturan
ini, siapapun pemenang lelang WIUP mineral logam dan batubara, merupakan
pihak yang sudah terpilih, terseleksi, dan mempunyai kemampuan baik secara
finansial maupun teknis guna mengusahakan mineral logam dan batubara. Dengan
demikian, kasus pengalihan/pemindahan IUP melalui jual beli IUP dengan alasan

243

Khudzaifah Dimyati dan Kelik Wardiono, Pola Pemikiran Hukum Responsif:


Sebuah Studi Atas Proses Pembangunan Ilmu Hukum Indonesia, Seri Ringkasan Penelitian Hibah
Bersaing Tahun II Kontrak: 180/SP3/PP/DP3M/II/2006, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 10, No. 1,
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/
Maret
2007:
1-24,
hlm.
4-5,
123456789/740/1.%20DIMYATI.pdf?sequence=1, diunduh 4 Desember 2013
244

Indonesia (1), op. cit., Ps. 13 ayat (3) huruf c.

173
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

kekurangan biaya atau ketidakmampuan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian


kegiatan dalam usaha pertambangan mineral logam dan batubara tidak terjadi lagi.
Penguasaan atas sumber daya alam mineral dan batubara oleh negara,
sebagaimana dimaksud dalam Putusan MK dan pendapat Jimly Assiddiqie,
mengandung pengertian kepemilikan oleh publik, dalam arti dimiliki oleh seluruh
rakyat Indonesia. Terkait kepemilikan oleh publik ini, Anthony I.Ogus,
mengemukakan pemberian izin dari objek yang memang adalah milik publik
(public ownership) berati terkandung makna hak milik seluruh rakyat atau hak
milik bangsa. Jadi merupakan izin yang terkait dengan adanya hak bangsa,
sehingga izin yang diberikan akan berdampak pada kewenangan yang besar dan
berbagai hal terkait hak dan kewajiban bagi penerima izin.
Karena kepemilikan atas sumber daya alam mineral dan batubara berada
pada negara, dan meliputi kepemilikan publik secara luas dan kolektif, yaitu oleh
seluruh rakyat Indonesia, maka IUP merupakan izin dari objek kepemilikan publik
(public ownership), menyangkut hak bangsa, sehingga izin yang diberikan hanya
memberikan hak pengusahaan terhadap barang publik (mineral dan batubara), dan
tidak memberikan hak penguasaan/hak memiliki barang publik (mineral dan
batubara). Dengan demikian, pemberian IUP tidak secara serta merta
mengakibatkan beralihnya kepemilikan sumber daya alam mineral dan batubara
dari negara kepada pelaku usaha.
IUP sebagai izin dengan objek kepemilikan publik (public ownership)
dengan hak pengusahaan terhadap hak milik bangsa, perlu suatu kajian uyang
mendalam mengenai pengalihannya. Idealnya izin yang menyangkut objek
kepemilikan publik (public ownership), dengan hak milik bangsa, yang
semestinya dilakukan sendiri oleh Pemerintah atau melalui BUMN/BUMD,
memang idealnya tidak boleh dialihkan kepada pihak lain dalam arti di luar
Pemerintah atau BUMN/BUMD itu sendiri. Dengan demikian, IUP merupakan
izin yang berbeda dengan izin yang bersifat perdata, seperti Izin Mendirikan
Bangunan (IMB). IMB merupakan izin untuk mendirikan suatu bangunan di atas
sebidang tanah, di mana tanah dan bangunan serta segala sesuatu yang ada di
atasnya secara hukum dapat dimiliki sebagai Hak Milik (dalam pengertian

174
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

perdata), sehingga IMB dapat dialihkan/dipindahkan sehubungan dengan


berpindahnya hak atas tanah kepada pihak lain.
Dalam perspektif HMN, tidaklah mudah untuk menjawab apakah IUP
dalam konsep UU Nomor 4 Tahun 2009 boleh dialihkan atau tidak. Apabila kita
lihat kembali bagaimana IUP diperoleh, sangat sulit untuk membenarkan IUP
boleh dialihkan karena mekanisme untuk mendapatkan IUP khususnya mineral
logam dan batubara, telah menyaring para pemohonnya melalui lelang. Dengan
mekanisme lelang ini sudah barang tentu pemenag lelang yang berhak
mendapatkan IUP adalah mereka yang kuat dalam permodalan dan kemampuan
teknis, sehingga tidak ada alasan untuk mengalihkan IUP-nya kepada badan
usaha, koperasi, atau perseorangan lain. Dalam hal terjadi masalah permodalan,
mekanisme yang dapat ditempuh adalah menambah modal usaha, bisa dengan
menerbitkan saham baru, melalui pinjaman, termasuk perubahan pemegang saham
melalui pengalihan saham, dengan persyaratan tertentu dan harus mendapatkan
persetujuan terlebih dahulu dari pemberi izin.
Pengalihan IUP dimungkinkan melalui mekanisme perubahan nama
perusahaan, baik melalui akuisisi saham maupun merger sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang mengatur perseroan terbatas. Atau perubahan
dari perusahaan komanditer atau firma menjadi bentuk perseroan untuk
memperbesar modal usahanya, maka pengalihan IUP dimungkinkan karena
entitas-nya telah berubah, sehingga kepemilikan IUP akan mengikuti entitas baru.
Namun persoalan baru akan muncul karena UU Nomor 4 Tahun 2009 membuka
hak pengusahaan mineral dan batubara untuk semua jenis komoditas dibuka untuk
semua kelompok usaha baik itu BUMN/BUMD, badan usaha swasta, koperasi,
perusahaan komanditer, firma, dan orang perseorangan. Pertanyaannya bagaimana
mekanisme penambahan modal usahanya apabila IUP yang dimiliki oleh koperasi,
perusahaan komanditer atau firma yang tidak berubah menjadi perseroan, dan
orang perseorangan? Tidak ada saham dalam koperasi, perusahaan komanditer,
firma, maupun orang perorangan.
Tentunya sangat tidak adil apabila kepastian kelangsungan usaha
pemegang IUP yang berupa koperasi, perusahaan komanditer atau firma yang
tidak berubah menjadi perseroan, dan orang perseorangan tidak dilindungi. Selain

175
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

itu, dalam peraturan pelaksana UU Nomor 4 Tahun 2009 yang mengatur kegiatan
usaha pertambangan mineral dan batubara (PP Nomor 23 Tahun 2010) memaksa
adanya aturan yang memungkinkan IUP untuk dialihkan. Pasal 40 ayat (1), ayat
(2), dan ayat (3) UU Nomor 4 Tahun 2009 memuat ketentuan (i) IUP diberikan
untuk 1 (satu) jenis mineral atau batubara; (ii) pemegang IUP yang menemukan
mineral lain di dalam WIUP yang dikelola diberikan prioritas untuk
mengusahakannya; dan (iii) pemegang IUP yang bermaksud mengusahakan
mineral lain wajib mengajukan permohonan IUP baru kepada Menteri, gubernur,
dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 40 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UU Nomor 4 Tahun 2009
diterjemahkan oleh PP Nomor 23 Tahun 2010 menjadi:
1. Pasal 9, setiap pemohon hanya dapat diberikan 1 (satu) WIUP (berarti hanya 1
IUP), kecuali badan usaha terbuka (go public); 245
2. Pasal 44, dalam hal pada lokasi WIUP ditemukan komoditas tambang lainnya
yang bukan asosiasi mineral yang diberikan dalam IUP, pemegang IUP
Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi memperoleh keutamaan dalam
mengusahakan

komoditas

tambang

lainnya

yang

ditemukan,

dalam

mengusahakan komoditas tambang lainnya harus membentuk badan usaha


baru.

Persoalan boleh atau tidaknya IUP dialihkan, dengan pengaturan


perizinan dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 dan PP Nomor 23 Tahun 2010,
sehubungan dengan ketentuan Pasal 9 PP Nomor 23 Tahun 2010, berhubungan
erat dengan ketentuan Pasal 112 angka 4 PP Nomor 23 Tahun 2010, yang
mengatur ketentuan peralihan untuk KP, bahwa KP dan SIPD diberlakukan
sampai jangka waktunya berakhir dan wajib disesuaikan menjadi IUP, paling
lambat 3 bulan sejak berlakunya PP Nomor 23 Tahun 2010 (1 Mei 2010).
Pertanyaannya boleh atau tidak KP dialihkan terbitnya UU nomor 4 Tahun 2009
(setelah tanggal 12 Januari 2009)? Terkait ketentuan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun
2009 dan kewajiban penyesuaian KP menjadi IUP, jawaban mengenai boleh atau
tidak KP dialihkan, bisa jadi akan beragam. Jawaban pertama, tidak boleh karena
245

Pasal 9 diubah dengan terbitnya PP Nomor 24 Tahun 2012, di mana untuk pemohon
WIUP mineral bukan logam dan batuan dapat diberikan lebih dari 1 WIUP.

176
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

KP wajib menyesuaikan menjadi IUP. Jawaban kedua, boleh sebelum tanggal 1


Mei 2010 sepanjang KP belum disesuaikan menjadi IUP. Pertanyaan tetap akan
muncul ketika dalam kenyataannya sampai sekarang ada KP yang belum
disesuaikan. Memang tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, apalagi
pengalihan KP setelah terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009, kapanpun itu
dilakukan, dalam kebijakan status IUP clear and clean menjadi permasalahan
yang menyebabkan IUP tidak dapat clear and clean. Jawaban pasti yang dapat
diberikan adalah pada saat KP sudah disesuaikan menjadi IUP, berdasarkan
ketentuan Pasal 93 ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 2009, maka IUP-nya tidak boleh
dialihkan/dipindahkan.
Pertanyaan boleh/tidaknya KP yang kemudian disesuaikan menjadi IUP
dialihkan kepada pihak lain, berhubungan pula dengan ketentuan Pasal 9 PP
Nomor 23 Tahun 2010, di mana satu pemohon hanya dapat diberikan 1 IUP,
dalam arti 1 badan usaha, koperasi, dan perseorangan hanya dapat diberikan atau
memiliki 1 IUP. Apabila mereka memiliki 2 atau lebih IUP (penyesuaian), lalu
bagaimana nasib IUP sisanya? Bukankah KP diakui sampai jangka waktunya
berakhir dengan kewajiban penyesuaian menjadi IUP? Konsekuensi diakui sampai
jangka waktunya berakhir, seharusnya terhadap semua IUP (penyesuaian) dan
bukan hanya kepada salah satunya. Kondisi tersebut selain tidak memberikan
kepastian hukum dari perizinan eksisting yang telah ada sebelum terbitnya UU
Nomor 4 Tahun 2009, juga akan sangat merugikan pelaku usaha. Melihat kondisi
tersebut, untuk memberikan kepastian hukum dan jaminan kelangsungan usaha
pemegang izin eksisting, suka tidak suka memang pada akhirnya IUP tersebut
harus diperbolehkan untuk dialihkan. Untuk itu, diperlukan aturan yang mengatur
pengalihan IUP. Pembentukan aturan pengalihan IUP harus memperhatikan asasasas dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik dan teori
morality of law dari Fuller, terkait syarat agar suatu peraturan tidak gagal
(principles of legality). Konsekuensi dari aturan pengalihan IUP itu, tentunya juga
akan berlaku ke depan, karena tidak mungkin aturan mengatur ke belakang atau
berlaku surut lalu berhenti tidak mengikat keadaan yang akan datang.
Rumusan Pasal 9 PP Nomor 23 Tahun 2010, dilihat dari asas materiil
dalam pembentukan peraturan negara yang baik (beginselen van behoorlijke

177
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

regelgeving) dari I. C. van der Vlies, tidak memenuhi asas kepastian hukum (het
rechtszekerheidsbeginsel), karena pemegang KP yang diterbitkan berdasarkan UU
Nomor 11 Tahun 1967, dengan investasi yang sudah dikeluarkan untuk
pengusahaan mineral atau batubara tidak mendapatkan kepastian hukum terkait
kelanjutan usahanya. Selain itu juga bertentangan dengan maksud dari UU Nomor
4 Tahun 2009, yang membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memiliki lebih
dari 1 IUP (Pasal 40 UU Nomor 4 Tahun 2009).
Selain itu, kebutuhan pengaturan pengalihan IUP ini juga berhubungan
dengan ketentuan Pasal 44

PP Nomor 23 Tahun 2010, yang mengharuskan

pemegang IUP membentuk badan usaha baru terkait hak prioritas yang diberikan
oleh Pasal 40 UU Nomor 4 Tahun 2009 untuk mengusahakan mineral lain yang
ditemukan dalam WIUP-nya. Padahal dalam Pasal 40 ayat (3) UU Nomor 4
Tahun 2009, pemegang IUP yang bersangkutanlah yang wajib mengajukan
permohonan IUP baru kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya. Ketentuan Pasal 44 PP Nomor 23 Tahun 2010 justru juga
memaksa keharusan dibuatnya aturan untuk pengalihan hak pengusahaan atas
mineral lain yang seharusnya dimiliki oleh pemegang IUP yang menemukannya
kepada pihak lain. Hak pengusahaan atas mineral lain baru dapat dilaksanakan
setelah IUP atas mineral lain tersebut diterbitkan. Dengan demikian, IUP atas
mineral lain suka tidak suka dipaksa oleh ketentuan Pasal 44 PP Nomor 23
Tahun 2010 harus dialihkan kepada badan usaha baru.
Pertanyaannya apakah persoalan akan selesai apabila telah dibuat aturan
pengalihan IUP atas mineral lain kepada badan usaha baru? Nyatanya tidak
sesederhana itu, karena masih ada beberapa persoalan yang tersisa, antara lain: (i)
bagaimana mekanisme pengalihan IUP atas mineral lain kepada badan usaha
baru apabila pemegang IUP sebelumnya adalah koperasi, perusahaan komanditer,
firma, atau perseorangan, sedangkan mereka bukan badan usaha; (ii) bagaimana
mekanisme pembentukan badan usaha baru bagi koperasi, perusahaan komanditer,
firma, atau perseorangan, apakah ini adil karena secara permodalan, modal
mereka tentunya tidak sebesar modal badan usaha.
Terkait ketidaksinkronan pengaturan dalam Pasal 40 dan Pasal 93 UU
Nomor 4 Tahun 2009 dengan Pasal 9, Pasal 44, dan Pasal 112 angka 4 PP Nomor

178
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

23 Tahun 2010, sesuai dengan asas-asas pembentukan peraturan perundangundangan yang baik sebagaimana diatur dalam UU Nomor 10 Tahun 2004, maka
pembentukan UU Nomor 4 Tahun 2009 dengan peraturan pelaksananya PP
Nomor 23 Tahun 2010, dapat dikatakan tidak memenuhi asas:
1. kejelasan tujuan, bahwa setiap pembentukan peraturan perundang-undangan
harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Hal ini dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a. dalam UU Nomor 4 Tahun 2009, IUP tidak boleh dialihkan dan hak
pengusahaan mineral lain yang ditemukan menjadi hak pemegang IUP
pertama dengan kewajiban mengajukan permohonan IUP baru, tujuannya
untuk mengatur agar IUP yang memberikan hak pengusahaan atas mineral
dan batubara tidak dialihkan kepada badan usaha, koperasi, atau
perseorangan (perusahaan komanditer, firma, orang perseorangan) lainnya.
b. dalam PP nomor 23 Tahun 2010, justru membuat tujuan bahwa IUP tidak
boleh dialihkan menjadi tidak jelas, memaksa dibuatnya aturan pengalihan
IUP.
2. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan, bahwa dalam
pembentukan

peraturan

perundang-undangan

harus

benar-benar

memperhatikan materi muatan yang tepat sesuai dengan jenis dan hierarki
peraturan perundang-undangan. Hal ini khususnya untuk PP Nomor 23 Tahun
2010, dalam hal UU Nomor 4 Tahun 2009 tidak memperbolehkan IUP
dialihkan, maka PP Nomor 23 Tahun 2010, sesuai dengan hierarkhinya, tidak
berhak memuat materi yang menyimpang dari UU Nomor 4 Tahun 2009.
3. dapat dilaksanakan, bahwa setiap pembentukan peraturan perundangundangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan
tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofs, sosiologis, maupun yuridis.
Rumusan Pasal 40 dan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 yang diterjemahkan
lebih lanjut dengan Pasal 9 dan Pasal 44 PP Nomor 23 Tahun 2010, bila
ditelaah lebih lanjut tidak selalu dapat dilaksanakan, apalagi untuk pemegang
IUP yang subyeknya bukan badan usaha.
4. kejelasan rumusan, bahwa setiap pembentukan peraturan perundang-undangan
harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundang-

179
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

undangan, sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas
dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai intepretasi
dalam pelaksanaannya. Hal ini dapat dijelaskan dengan perumusan pasal yang
menimbulkan banyak persepsi dan persoalan yang tidak mudah untuk dijawab
meski dibuat aturan baru yang mengatur kondisi yang timbul dari aturan yang
telah ada, sebagaimana telah diuraikan di atas.

Apabila dikaitkan dengan teori Jenjang Norma (Stufentheorie) dari Hans


Kelsen, bahwa norma-norma itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam
suatu hierarkhi tata susunan, di mana norma yang lebih rendah berlaku, bersumber
dan berdasar pada norma yang lebih tinggi,

246

maka PP Nomor 23 Tahun 2010

tidak memenuhi teori Jenjang Norma (Stufentheorie) karena tidak bersumber pada
UU Nomor 4 Tahun 2009 yang merupakan aturan yang lebih tinggi. Hal ini dapat
dijelaskan dengan perumusan Pasal 9 dan Pasal 44 PP Nomor 23 Tahun 2010
yang tidak memperhatikan ketentuan Pasal 40 dan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun
2009, sehingga menimbulkan persoalan baru dan menjadikan PP Nomor 23 Tahun
2010 tidak sinkron atau bertentangan dengan UU Nomor 4 Tahun 2009.
Berdasarkan

uraian

di

atas,

sebelum

dikemukakan

bagaimana

pengalihan/pemindahan IUP dalam rumusan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009


dan berbagai persoalan yang muncul karena ketidakjelasan rumusan dan tujuan
dari Pasal tersebut serta akibat dari rumusan Pasal 9, Pasal 44, dan Pasal 112
angka 4 PP Nomor 23 Tahun 2010 dalam perspektif HMN, perlu dilihat kembali
pengaturan pengalihan izin dalam UU Nomor 11 Tahun 1967 peraturan
pelaksananya. Selain itu, sebagai perbandingan akan dikemukakan pengaturan
pengalihan izin di bidang pertambangan yang diatur dalam Philippine Mining Act
of 1995.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, UU Nomor 11 Tahun 1967
secara tegas mengatur bahwa KP dapat dipindahkan kepada perusahaan atau
perorangan lain setelah memenuhi ketentuan (Pasal 5 sampai dengan Pasal 9
dan Pasal 12) dan dengan persetujuan Menteri. Rumusan ini dapat dilihat
dalam Pasal 15 UU Nomor 11 Tahun 1967. Mengenai pemindahan KP, lebih
246

H. Aziz Syamsuddin, op. cit., hlm. 15

180
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

lanjut diatur dalam peraturan pelaksana dari UU Nomor 11 Tahun 1967, yaitu PP
Nomor 32 Tahun 1969 dan untuk teknis pelaksanaannya diatur dalam Kepdirjen
472/1998. Pasal 23 dan Pasal 24 PP Nomor 32 Tahun 1969 mengatur pemindahan
KP kepada badan/orang lain dengan izin Menteri dan telah memenuhi persyaratan.
Diatur pula pemindahan KP apabila perorangan pemegang KP meninggal dan
para ahli warisnya tidak dapat memenuhi persyaratan, KP dapat dipindahkan
kepada badan/orang lain dengan izin Menteri. Dalam pemindahan KP dapat
diperhitungkan harga dan nilai dari modal, alat perusahaan, jasa usaha yang telah
ditanamkan atau yang telah dikeluarkan untuk melaksanakan KP tersebut.
Pengaturan pengalihan/pemindahan KP dalam UU Nomor 11 Tahun
1967 dan peraturan pelaksananya memberikan kesempatan yang sama kepada
badan usaha maupun perseorangan (orang perorangan, CV, maupun Firma),
dengan persyaratan dan mekanisme yang jelas untuk masing-masing pemegang
KP. Dengan adanya aturan yang jelas, pelaksanaan pengalihan/pemindahan KP
kepada pihak lain lebih mudah untuk dilaksanakan, karena ada kepastian hukum
dan kejelasan persyaratan serta mekanisme yang harus dilalui.
Sementara itu, perbandingan dengan Philippine Mining Act of 1995
disajikan karena terkait penguasaan sumber daya alam mineralnya, Philipina
menganut sistem yang sama dengan Indonesia, yaitu penguasaan oleh negara.
Dalam Philippine Mining Act of 1995, mengenai pengalihan izin diatur secara
tegas, di mana untuk pengalihan izin diperbolehkan atau dapat dilakukan oleh
pemegang izin dengan persyaratn dan harus mendapat persetujuan dari pemberi
izin. Ketentuan pengalihan izin tambang dapat dilakukan untuk Izin Eksplorasi
(Exploration Permit), permohonan perjanjian mineral (Mineral Agreement
Application), dan perjanjian mineral (Mineral Agreement).
Untuk pengalihan Izin Eksplorasi (Exploration Permit) dapat dilihat
dalam Section 25 sebagai berikut: Section 25. Transfer or Assignment of
Exploration Permit An Exploration Permit may be transferred or assigned to
another Qualified Person(s) subject to the approval of the Secretary upon the
recommendation of the Director. Dari rumusan pasal tersebut dapat dilihat
bahwa Izin Eksplorasi dapat ditransfer atau dialihkan kepada pihak lain yang

181
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

memenuhi persyaratan dengan persetujuan dari Secretary 247 atas rekomendasi


Director. 248
Terkait pengalihan permohonan Perjanjian Mineral (Mineral Agreement
Application), diatur dalam Section 40, sebagai berikut: Section 40. Transfer or
Assignment of Mineral Agreement Application Transfer or assignment of
Mineral Agreement shall be allowed subject to the approval of the
Director/concerned Regional Director taking into account the national interest
and public welfare: Provided, That such transfer or assignment shall be subject to
eligibility requirements and shall not be allowed in cases involving speculation.
Di Philipina, permohonan Perjanjian Mineral, dapat diizinkan untuk ditransfer
atau dialihkan dengan persetujuan Direktor/Regional Director yang bersangkutan,
dengan mempertimbangkan kepentingan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Transfer atau pengalihan permohonan Perjanjian Mineral tidak akan diizinkan
dalam hal kasus yang menyangkut spekulasi.
Sedangkan untuk pengalihan Perjanjian Mineral (Mineral Agreement),
diatur dalam Section 46, sebagai berikut: Section 46. Transfer or Assignment of
Mineral Agreement A Contractor may file an application for the total or partial
transfer or assignment of its Mineral Agreement to a Qualified Person(s) upon
payment of an application fee (Annex 5-A) with the Bureau/concerned Regional
Officer for evaluation. No application shall be accepted for filing unless
accompanied by the pertinent Deed of Assignment that shall contain, among
others, a stipulation that the transferee/assignee assumes all obligations of the
transferor/assignor under the Agreement. Any transfer or assignment of rights
and obligations under any Mineral Agreement shall be subject for approval of the
Secretary upon the recommendation of the Director. Dilihat dari rumusan
tersebut, Kontraktor Perjanjian Mineral dapat mengajukan permohonan transfer
atau pengalihan seluruh atau sebagian Perjanjian Mineral kepada pihak lain atas
biaya pendaftaran, kepada Kantor Pertambangan dan Geosciences Departemen

247

Philippine Mining Act of 1995, Section 5, letter ch jo. letter q, "Secretary" means the
Secretary of the Department. "Department" means the Department of Environment and Natural
Resources of the Republic of the Philippines.
248

Ibid., Section 5, letter t jo. letter g, "Director" means the Director of the Bureau.
"Bureau" means the Central Office of the Mines and Geosciences Bureau under the Department.

182
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Lingkungan dan Sumber Daya Mineral untuk dievaluasi. Permohonan tidak


diterima tanpa disertai Akta Pengalihan yang memuat ketentuan bahwa penerima
transfer atau penerima pengalihan bertanggung jawab atas semua kewajiban
pemberi transfer atau pemberi pengalihan. Setiap transfer atau pengalihan hak dan
kewajiban dalam Perjanjian Mineral harus mendapat persetujuan dari Secretary
atas rekomendasi Director.
Dalam Philippine Mining Act of 1995, secara tegas diatur mengenai
pengalihan izin maupun kontrak dengan persyaratan dan meknismenya. Setiap
tahapan kegiatan usaha pertambangan diberikan kemungkinan untuk transfer atau
pengalihan izinnya dengan persyaratan dan mekanisme masing-masing. Untuk
permohonan kontrak, dalam Philippine Mining Act of 1995 juga dimungkinkan
untuk ditransfer atau dialihkan dengan persyaratan dan mekanisme yang jelas.
Dari berbagai uraian tentang pengaturan pengalihan izin di atas, dapat
dilihat bahwa rumusan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 tidak secara jelas
mengatur boleh tidaknya IUP/IUPK dialihkan. Berbeda dengan UU Nomor 11
Tahun 1967 yang dengan tegas menyebutkan bahwa KP dapat dipindahkan.
Begitu juga dengan Philippine Mining Act of 1995, secara tegas mengatur bahwa
izin dan kontrak (termasuk permohonan kontrak) dapat ditransfer atau dialihkan.
Selain itu, dalam UU Nomor 4 Tahun 2009, melemahkan posisi pemberi izin,
dikarenakan pengalihan kepemilikan dan/atau saham hanya harus memberitahu
pemberi izin. Sedangkan dalam UU Nomor 11 Tahun 1967 dan Philippine Mining
Act of 1995, pengalihan izin harus mendapat persetujuan dari pemberi izin.
Sehubungan dengan perspektif HMN, IUP dalam kerangka izin yang
berkaitan dengan obyek yang mengandung kepemilikan oleh publik (public
ownership), kepemilikan secara kolektif oleh seluruh rakyat Indonesia, hanyalah
hak pengusahaan dan bukan hak untuk memiliki sumber daya alam mineral dan
batubara. Mengingat konsep IUP dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 bertentangan
dengan perspektif HMN, terutama yang berkaitan dengan fungsi pengelolaan
(beheersdaad), ibarat makan buah simalakama untuk menjawab apakah IUP boleh
dialihkan atau tidak boleh dialihkan agar tidak bertentangan dengan perspektif
HMN sesuai dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

183
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Fungsi pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme


pemilikan saham (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan langsung dalam
manajemen BUMN atau BUMN sebagai instrumen kelembagaan, yang
melaluinya Negara, c.q. Pemerintah, mendayagunakan penguasaannya atas
sumber daya alam mineral dan batubara untuk digunakan bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Dalam konteks ini, maka pengusahaan mineral dan batubara
semestinya

diberikan

melalui

izin

dalam

bentuk

konsesi,

dalam

arti

pengusahaannya dilakukan sendiri oleh Pemerintah atau BUMN/BUMD dengan


membuka kemungkinan bagi BUMN/BUMD untuk melakukan perjanjian
kerjasama (kontrak) dengan pihak lain (badan usaha swasta, koperasi,
perseorangan) yang memenuhi persyaratan dan harus mendapat persetujuan dari
Pemerintah. Dalam kondisi ini, maka izin pengusahaan oleh BUMN/BUMD tidak
boleh dialihkan kepada pihak lain. Yang dapat dialihkan kepada pihak lain adalah
perjanjian kerjasama yang dibuat oleh BUMN/BUMD dengan persyaratan dan
kualifikasi yang sama dengan pemegang kontrak dan harus mendapat persetujuan
dari Pemerintah.
Berkaitan dengan IUP yang diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 2009,
idealnya IUP tidak boleh dialihkan kepada pihak lain, dalam hal ini badan usaha,
koperasi, atau perseorangan (perusahaan komanditer, firma, dan orang
perseorangan) lain. Dalam perspektif HMN, pengalihan IUP hanya dimungkinkan
dalam artian perubahan nama badan usaha karena terjadinya akuisisi saham dan
merger sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur
perseroan terbatas dengan memenuhi persyaratan dan dengan persetujuan pemberi
izin. Namun hal ini sangat tidak adil untuk pemegang IUP yang subyeknya bukan
badan usaha (mereka tidak mempunyai saham sehingga tidak mungkin terjadi
akuisisi atau merger), mereka tidak akan mendapat perlakuan yang sama dalam
hukum, hal ini akan mengakibatkan dilanggarnya asas-asas dalam pembentukan
peraturan perundang-undangan yang baik, dan mengakibatkan tujuan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat tidak dapat diwujudkan, karena rakyat kecil
diperlakukan tidak adil. Dengan kata lain, ketentuan IUP tidak boleh dialihkan
hanya membela kepentingan badan usaha (pemodal besar).

184
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Sehubungan dengan pengalihan/pemindahan IUP dalam rumusan Pasal


93, yang secara pasti dapat dikatakan bertentangan dengan perspektif HMN
adalah rumusan ayat (3) huruf a harus memberitahu Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. Dalam konteks kepemilikan
publik (public ownership), kepemilikan kolektif oleh seluruh rakyat Indonesia,
yang dimandatkan kepada negara, dalam hal ini Pemerintah, segala perubahan
yang berkaitan dengan IUP sebagai hak pengusahaan mineral dan batubara harus
mendapatkan persetujuan dari pemberi izin, karena IUP diterbitkan berdasarkan
persetujuan dari pemberi izin terhadap permohonan dari pemegang IUP yang
bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, maka pengalihan kepemilikan (IUP)
dan/atau saham harus mendapatkan persetujuan dari Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya setelah memenuhi persyaratan.
Melihat ketidakjelasan pengaturan pengalihan IUP dalam UU Nomor 4
Tahun 2009, serta untuk memberikan rasa keadilan dalam masyarakat dan
persamaan kedudukan dalam hukum bagi segenap lapisan masyarakat, rumusan
Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 harus diubah, agar menjamin kepastian hukum
dan dapat memberi pedoman/kriteria yang jelas kapan pengalihan izin boleh
dilakukan dan dapat disetujui, kapan pengalihan izin tidak boleh dilakukan atau
dapat ditolak. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis mengusulkan perubahan atas
Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 agar tidak bertentangan dengan perspektif
HMN, sebagai berikut:
(1) Pemegang IUP/IUPK dapat mengalihkan IUP/IUPK-nya kepada badan usaha,
koperasi, atau perseorangan lain yang memenuhi persyaratan sesuai dengan
ketentuan undang-undang ini.
(2) Pemegang IUP/IUPK dapat mengalihkan kepemilikan sahamnya baik di luar
maupun di bursa saham Indonesia.
(3) Pengalihan IUP/IUPK dan kepemilikan saham sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah memenuhi persyaratan:
a. menyampaikan

laporan

akhir

eksplorasi

yang

menggambarkan

sumberdaya dan cadangan mineral atau batubara dalam WIUP/WIUPKnya dan harus ditandatangani oleh competent person;

185
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

b. menyampaikan dokumen studi kelayakan yang menyatakan layak untuk


dilanjutkan ke tahap operasi produksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang telah mendapatkan persetujuan dari Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
c. harus mendapat persetujuan dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya; dan
d. tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengalihan IUP/IUPK dan
kepemilikan saham diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Persyaratan dalam usulan perubahan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009


merupakan jalan tengah untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul
terkait dengan pengaturan pengalihan IUP sebagaimana telah diuraikan di atas.
Dengan disampaikannya laporan akhir eksplorasi yang menggambarkan
sumberdaya dan cadangan mineral atau batubara dan harus ditandatangani oleh
competent person dan dokumen studi kelayakan yang menyatakan layak untuk
dilanjutkan ke tahap operasi produksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang telah mendapatkan persetujuan dari Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya, akan memberikan gambaran
bagi Pemerintah dalam menentukan kebijakan untuk peningkatan nilai tambah
mineral dan batubara secara komprehensif, dalam arti tidak sekedar meningkatkan
mutu dari hasil kegiatan penambangan mineral dan batubara, tetapi setidaktidaknya juga dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat melalui
peningkatan pendapatan negara, peningkatan jumlah lapangan kerja, peningkatan
peran usaha jasa lokal, peningkatan pengelolaan lingkungan hidup, peningkatan
pengutamaan pasokan kebutuhan industri dan energi dalam negeri.
Dengan persyaratan tersebut, pengalihan IUP maupun kepemilikan
saham akan melindungi berbagai pihak yang terkait, sehingga tidak ada lagi yang
merasa tertipu karena ternyata IUP yang dialihkan dalam WIUP-nya tidak ada
sumberdaya atau cadangan yang dapat dipastikan kebenaran informasinya, dan
tidak dapat memberikan jaminan atau kepastian untuk ditingkatkan ke tahap
operasi produksi. Laporan akhir eksplorasi dan dokumen studi kelayakan

186
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

sebagaimana telah diuraikan di atas sebagai jaminan peningkatan ke tahap operasi


produksi, sehingga pemegang IUP boleh mengalihkan IUP-nya sebagai suatu
yang dapat dipahami, karena kegiatan dalam IUP Eksplorasi adalah kegiatan di
mana pemegang IUP Eksplorasi mengeluarkan banyak biaya dan belum
mendapatkan pemasukan dari kegiatannya.
B. 2. Analisis Pengalihan Izin Usaha Pertambangan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 dalam Perspektif Hak Menguasai
Negara
Terkait pengalihan/pemindahan IUP, Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009
tidak mengamanahkan pengaturan lebih lanjut atas ketentuan ini dalam peraturan
pelaksananya. Akan tetapi dalam kenyataannya, rumusan Pasal 93 menimbulkan
berbagai persepsi dan persoalan yang cukup rumit. Persoalan semakin bertambah
dengan lahirnya PP Nomor 23 Tahun 2010, di mana di dalamnya terdapat pasalpasal yang memaksa aturan tentang pengalihan IUP harus dibuat, yaitu Pasal 9,
Pasal 44, dan Pasal 112 angka 4 huruf a. Selain itu, UU Nomor 4 Tahun 2009
hanya mengatur ketentuan peralihan untuk kontrak, sedangkan untuk KP, SIPD,
dan IPR yang diterbitkan berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1967 sama sekali
tidak diatur. Dalam kaitannya dengan pengalihan IUP, hal tersebut menimbulkan
ketidakpastian hukum bagi KP dan SIPD yang eksisting, apalagi dalam UU
Nomor 11 Tahun 1967 sebagai dasar hukum KP dan SIPD, secara tegas
memperbolehkan KP (termasuk SIPD sebagai KP yang diterbitkan oleh
pemerintah daerah tingkat I berdasarkan pelimpahan dari Menteri) untuk dialihkan
kepada perusahaan atau perseorangan lain yang memenuhi persyaratan dan
dengan persetujuan dari Menteri.
Mengenai analisis terhadap Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 dan
segala persoalan yang terjadi telah diuraikan di atas. Dalam perjalanannya,
mengenai pengalihan IUP sebagaimana diatur dalam Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun
2009, diterjemahkan dalam Pasal 7A dan Pasal 7B PP Nomor 24 Tahun 2012,
meskipun pembentukannya bukan didasarkan atas berbagai persoalan yang telah
diuraikan di atas. Mengenai dasar pembentukan Pasal 7A dan Pasal 7B telah
diuraikan dalam bab III. Berbeda dengan Pasal 93 ayat (1) UU Nomor 4 Tahun
2009, Pasal 7A dan 7B justru memperbolehkan pengalihan IUP.

187
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Hal tersebut dapat dilihat dari rumusan Pasal 7A ayat (2) PP Nomor 24
Tahun 2012, yang memberikan pengertian mengenai siapa yang dimaksud sebagai
pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat (1) UU Nomor 4 Tahun
2009, yang dalam pasal ini dirumuskan kembali menjadi ayat (1). Pihak lain,
dalam rumusan Pasal 7A ayat (2) diterjemahkan sebagai badan usaha yang 51
persen atau lebih sahamnya tidak dimiliki oleh pemegang IUP/IUPK. Pesoalan
yang muncul dari rumusan Pasal 7A ayat (2), antara lain: (i) mengapa badan usaha
yang 51 persen atau lebih sahamnya tidak dimiliki oleh pemegang IUP dianggap
sebagai pihak lain; (ii) mengapa pihak lain diartikan berdasarkan kepemilikan
saham; (iii) bagaimana jika badan usaha 51 persen atau lebih sahamnya dimiliki
oleh pemegang IUP, apakah badan usaha dimaksud tidak dapat dikatakan sebagai
pihak lain; (iv) ketentuan ini apakah juga berlaku bagi koperasi, perusahaan
komanditer, firma, dan orang perseorangan.
Persoalan pertama, badan usaha yang 51 persen atau lebih sahamnya
tidak dimiliki oleh pemegang IUP dianggap sebagai pihak lain; persoalan
kedua, pihak lain diartikan berdasarkan kepemilikan saham; dan persoalan
ketiga, badan usaha 51 persen atau lebih sahamnya dimiliki oleh pemegang IUP,
apakah badan usaha dimaksud tidak dapat dikatakan sebagai pihak lain, tidaklah
dapat terjawab apabila kita kembali berpegang pada aturan Pasal 40 UU Nomor 4
Tahun 2009, kemudian dikaitkan dengan Pasal 44 PP Nomor 23 Tahun 2009
sebagaimana telah diuraikan di atas, berapa pun saham yang dimiliki oleh
pemegang IUP pada suatu badan usaha, maka badan usaha tersebut tetap saja
pihak lain, jadi bukan masalah kepemilikan saham pemegang IUP. Selain badan
usaha tersebut merupakan entitas (subyek) yang berbeda dengan pemegang IUP,
tentu tidak ada dasar hukum yang mengikat untuk dijadikan sebagai sumber
hukum bahwa penentuan kriteria pihak lain didasarkan pada kepemilikian
saham.
Terkait dengan 51 persen atau lebih saham yang dimiliki oleh pemegang
IUP dalam suatu badan usaha tertentu, menjadikan pemegang IUP sebagai
pemegang saham mayoritas, yang dapat mengendalikan badan usaha, sehingga
dijadikan alasan untuk dapat mengalihkan IUP, tentu harus dikaji lebih mendalam
dari aspek hukum juga filosofis dan sosiologis, sehingga tidak hanya dikaji dari

188
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

aspek bisnisnya saja. Hal ini berkaitan dengan persoalan keempat, ketentuan ini
apakah juga berlaku bagi koperasi, perusahaan komanditer, firma, dan orang
perseorangan. Bagi badan usaha pemegang IUP, ketentuan ini mungkin bisa
dijalankan, kaitannya dengan perusahaan induk (holding company) dan anak
perusahaan (afiliasai). Tetapi bagaimana dengan koperasi dan subyek hukum lain,
apakah untuk dapat mengalihkan IUP harus mempunyai anak perusahaan
(afiliasi)? Apa bedanya anak perusahaan (afiliasi) dengan anak kandung dari
para pendiri perusahaan komanditer atau firma dan orang perseorangan? Mengapa
sama-sama anak diperlakukan berbeda? Bagaimana cara koperasi membentuk
anak perusahaan?
Persoalan ternyata belum selesai, dan justru bertambah dengan adanya
rumusan Pasal 7B, yang mengatur bahwa: (i) IUP atau IUPK yang dimiliki oleh
BUMN sebagian WIUP atau WIUPK Operasi Produksinya dapat dialihkan
kepada pihak lain; (ii) pihak lain meliputi badan usaha yang 51% (lima puluh satu
persen) atau lebih sahamnya dimiliki oleh BUMN pemegang IUP atau IUPK; (iii)
pengalihan sebagian WIUP atau WIUPK Operasi Produksi dilakukan dengan
persetujuan Menteri. Persoalan yang muncul dari rumusan Pasal 7B, antara lain:
(i) mengapa sebagian WIUP dapat dialihkan kepada pihak lain; (ii) mengapa
pihak lain adalah badan usaha yang 51 persen atau lebih sahamnya dimiliki oleh
BUMN pemegang IUP; (iii) mengapa kriteria pihak lain didasarkan pada
pemilikan saham.
Persoalan pertama, sebagian WIUP dapat dialihkan kepada pihak lain,
justru menimbulkan pertanyaan, apa maksud dan tujuan dari ketentuan tersebut.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa konsep IUP dalam UU Nomor 4 Tahun 2009
dipahami sebagai izin untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan mineral dan
batubara pada seluruh WIUP-nya. Dalam hal ada sebagian WIUP yang tidak
diusahakan oleh pemegang IUP dapat dikembalikan kepada negara, dan
seharusnya memang dikembalikan kepada negara beserta dengan seluruh data
sumberdaya dan cadangan mineral atau batubara yang ada di WIUP yang tidak
diusahakan sendiri oleh pemegang IUP. Ketentuan ini juga berlaku bagi BUMN
pemegang IUP. Frasa, dapat dialihkan kepada pihak lain, mengapa bisa ada
pengaturan khusus untuk BUMN, padahal dalam Pasal 7A tidak dapat dialihkan

189
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

kepada pihak lain. Siapa yang dimaksud pihak lain di sini, apakah berbeda
dengan ketentuan Pasal 7A?
Persoalan kedua, pihak lain adalah badan usaha yang 51 persen atau lebih
sahamnya dimiliki oleh BUMN pemegang IUP, dapat dijelaskan bahwa rumusan
pasal ini justru semakin memperuncing persoalan yang ada. Dalam Pasal 7A ayat
(2), frasa pihak lain telah diterjemahkan sebagai badan usaha yang 51 persen
atau lebih sahamnya tidak dimiliki oleh pemegang IUP, namun dalam Pasal 7B
ayat (2), justru memberikan pengertian yang berbeda terkait pihak lain, yaitu
badan usaha yang 51 persen atau lebih sahamnya dimiliki oleh BUMN pemegang
IUP. Mengapa pengertian pihak lain antara Pasal 7A ayat (2) dan Pasal 7B ayat
(2) berbeda? Dengan demikian siapa yang sebenarnya dimaksud sebagai pihak
lain dalam PP Nomor 24 Tahun 2012?
Persoalan ketiga, mengapa kriteria pihak lain didasarkan pada pemilikan
saham, mengenai hal ini telah diuraikan di atas berkaitan dengan persoalan dalam
rumusan Pasal 7A. Kontradiksi antara Pasal 7A ayat (2) dan Pasal 7B ayat (2),
terkait pengertian pihak lain, justru semakin menguatkan bahwa tidak ada
sumber hukum yang bisa dijadikan dasar dalam menentukan kriteria pihak lain
dikaitkan dengan kepemilikan saham. Di satu sisi yang dianggap pihak lain,
kepemilikan saham kurang dari 51 persen atau lebih sahan, satu sisi lagi yang
dimaksud pihak lain kepemilikan 51 persen atau lebih saham. Dengan
demikian, tepatkah kriteria kepemilikan saham dijadikan sebagai dasar untuk
memberi pengertian pihak lain.
Untuk menjawab segala persoalan yang ada dari rumusan Pasal 7A dan
Pasal 7B, harus kita lihat kembali perspektif HMN atas sumber daya alam mineral
dan batubara, di mana di dalamnya mengandung pengertian dikuasai oleh publik
secara luas, oleh rakyat secara kolektif, dan dalam pengelolaannya dimandatkan
kepada negara melalui Pemerintah untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat. Itu
berarti seperti apa pun aturan yang dibuat untuk pengelolaan dan pengusahaan
mineral dan batubara, hanya satu tujuan yang ingin dicapai, kesejahteraan seluruh
rakyat Indonesia secara berkeadilan. Terkait pengalihan IUP dalam perspektif
HMN, telah diuraikan di atas, bahwa idealnya apabila pengelolaan terhadap
sumber daya alam mineral dan batubara, dikaitkan dengan objek perizinannya

190
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

adalah barang publik, dengan kepemilikan oleh publik (public ownership),


mengandung arti kepemilikan oleh bangsa, seharusnya dilakukan oleh Pemerintah
sendiri atau BUMN/BUMD. Dengan demikian, Pemerintah tetap terlibat melalui
mekanisme kepemilikan saham (share-holding) dalam badan usaha pelaku usaha
pertambangan mineral dan batubara.
Apabila kita melihat kembali bagaimana sejarah munculnya kedua pasal
tersebut, khususya Pasal 7B sebagaimana telah diuraikan dalam bab III, di mana
untuk suatu proyek angkutan batubara, BUMN harus bekerja sama dengan pihak
ketiga melalui perjanjian kerjasama pengusahaan batubaranya, namun terhambat
karena terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009, yang harus dilakukan oleh Pemerintah
adalah mengkaji kembali secara lebih mendalam konsep IUP, termasuk IUPK
yang diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 2009. Dikaitkan dengan pendapat Prajudi
Atmosudirjo, terkait rencana sebagai bentuk keputusan administrasi negara,
dengan kasus lahirnya PP Nomor 24 Tahun 2012, sangat jelas terlihat bahwa telah
terjadi kesalahan dalam perencanaan pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara yang dilakukan oleh Pemerintah, khususnya konsep IUP/IUPK, dan
pengelompokan bahan tambang menjadi 5 golongan komoditas tambang.
Kritik terhadap Pasal 7A dan Pasal 7B, semestinya pasal ini muncul tidak
hanya dikaitkan adanya kepentingan pihak tertentu, karena melihat kembali
analisis Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 dikaitkan dengan Pasal 9, Pasal 44,
dan Pasal 112 angka 4 PP Nomor 23 Tahun 2010, sangat diperlukan aturan
tentang pengalihan IUP. Jadi sudah seharusnya dalam pembentukannya
memperhatikan segala persoalan yang terjadi terkait ketidaksinkronan PP Nomor
23 Tahun 2010 dengan UU Nomor 4 Tahun 2009. Dengan demikian, materi
muatannya akan mengandung unsur keadilan untuk seluruh pelaku usaha, untuk
perizinan yang eksisting, dan tidak hanya membela kepentingan tertentu. Jadi
pengaturan pengalihan IUP sudah seharusnya memperhatikan pula pelaku usaha
skala kecil (koperasi dan perseorangan).
Dengan segala pengalaman berharga pengaturan pengelolaan dan
pengusahaan mineral dan batubara dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 dan peraturan
pelaksananya, yang dalam kenyataannya tidak dapat dilaksanakan dan
mengandung ketidakadilan bagi masyarakat dengan modal usaha terbatas, maka

191
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

konsep perizinan dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 harus diluruskan kembali


menjadi bentuk konsesi dengan berpedoman pada HMN, di mana hak kepemilikan
(mineral right) ada pada negara, hak pengelolaan (mining right) ada pada
Pemerintah, dan hak pengusahaan (economic right) ada pada BUMN/BUMD.
Kerja sama dengan badan usaha swasta, koperasi, perseorangan dilakukan dalam
bentuk kontrak dengan BUMN/BUMD dengan pengelolaan usaha berdasar
business to business setelah mendapat persetujuan dari Pemerintah.
Apabila UU Nomor 4 Tahun 2009 dalam pembentukannya benar-benar
berlandaskan pada HMN sebagaimana diatur dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945,
dengan pemahaman yang benar terhadap perspektif HMN itu sendiri, tentunya
kasus lahirnya rumusan Pasal 7A dan Pasal 7B PP Nomor 24 Tahun 2012 tidak
akan terjadi, karena telah tegas izin mana yang boleh dialihkan dan telah tegas
diatur bentuk kerjasama BUMN/BUMD dengan badan usaha swasta (termasuk
PMA), koperasi, dan perseorangan. Pelaksanaan HMN dalam kaitan dengan
sumber daya alam mineral dan batubara, meliputi pula pengaturan fungsi
(regelendaad) yang dilakukan melalui kewenangan regulasi oleh Pemerintah,
tetapi bukan berarti pelaksanaan kewenangan ini dapat menyimpang dari undangundang induknya. Dalam menjalankan kewenangan regulasi ini, tentunya harus
pula memperhatikan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang
baik.
Dilihat dari teori Jenjang Norma (Stufentheorie) dari Hans Kelsen,
pembentukan Pasal 7A dan Pasal 7B PP Nomor 24 Tahun 2012, tidak bersumber
pada Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009, sehingga mengakibatkan pertentangan
maksud dan tujuan terkait pengaturan pengalihan IUP antara UU Nomor 4 Tahun
2009 dengan PP Nomor 24 Tahun 2012. Selain itu Pasal 7A dan Pasal 7B PP
Nomor 24 Tahun 2012 sendiri nyatanya tidak sinkron, sehingga pengertian pihak
lain sebagai terjemahan pihak lain sebagaimana diatur dalam Pasal 93 ayat (1)
UU Nomor 4 Tahun 2009. Pertentangan ini dapat dilihat dari pengertian pihak lain
yang terdapat dalam Pasal 7A ayat (2) dan Pasal 7B ayat (2), di mana dalam Pasal
7A ayat (2), pihak lain adalah badan usaha yang 51 persen atau lebih sahamnya
tidak dimiliki oleh pemegang IUP; sedangkan dalam Pasal 7B ayat (2), pihak
lain adalah badan usaha yang 51 persen atau lebih sahamnya dimiliki oleh

192
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

pemegang IUP. Dengan pertentangan rumusan dalam Pasal 7A dan Pasal 7B,
pengertian pihak lain tetap tidak jelas. Sehingga pengaturan IUP boleh dialihkan
terdapat perlakukan berbeda antara ketentuan IUP yang dimiliki oleh selain
BUMN dengan IUP yang dimiliki oleh BUMN.
Selain rumusan dalam Pasal 7A dan Pasal 7B, tidak memberikan
kejelasan maksud atau arti pihak lain, rumusan kedua Pasal tersebut
menyimpang dari UU Nomor 4 Tahun 2009, karena rumusan ini telah membuat
perlakuan berbeda kepada setiap subyek hukum pemegang IUP, padahal dalam
UU Nomor 4 Tahun 2009 setiap subyek hukum pemegang IUP diperlakukan
sama, mempunyai hak dan kewajiban yang sama, termasuk juga BUMN/BUMD.
Pengalihan untuk pemegang IUP koperasi dan perseorangan tidak diakomodir dari
rumusan Pasal 7A tersebut. Terkait hak dan kewajiban yang sama, mekanisme
untuk memperoleh IUP juga sama, maka apa bedanya badan usaha, koperasi, dan
perseorangan dalam pengalihan IUP, mengapa badan usaha boleh sedangkan
koperasi dan perseorangan tidak boleh.
Rumusan Pasal 7B, juga tidak memberikan kejelasan maksud atau arti
pihak lain dan menyimpang dari UU Nomor 4 Tahun 2009, karena rumusan ini
telah membuat perlakuan berbeda kepada setiap subyek hukum pemegang IUP,
padahal dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 setiap subyek hukum pemegang IUP
diperlakukan sama, mempunyai hak dan kewajiban yang sama, termasuk juga
BUMN/BUMD. Perlakuan khusus yang diberikan kepada BUMN, membuat rasa
ketidakadilan

terusik.

Frasa

yang

berbeda

untuk

kriteria

yang

sama,

memperlihatkan adanya upaya pembelaan pada suatu subyek tertentu yang justru
menyebabkan pasal satu dengan pasal lain menjadi tidak sinkron. Pemindahan
sebagian WIUP juga akan mengakibatkan ketidaksinkronan dengan Pasal lain
yang telah ada, yaitu Pasal 74. Wilayah yang tidak diusahakan oleh pemegang
IUP seharusnya diciutkan dan dikembalikan kepada negara dan selanjutnya
ditetapkan menjadi WPN. Dengan demikian mekasnisme untuk pengusahaannya
tetap diprioritaskan kepada BUMN atau BUMD. Permasalahannya apakah pihak
lain dengan kepemilikan 51 persen atau lebih saham oleh BUMN pemegang IUP
dapat dikatakan sebagai BUMN? Apa bedanya dengan BUMD, mengapa terdapat
perlakuan berbeda?

193
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Sehubungan dengan asas-asas pembentukan peraturan perundangundangan, rumusan Pasal 7A dan Pasal 7B PP Nomor 24 Tahun 2012 tidak
memenuhi: (i) asas kejelasan rumusan, karena masih menimbulkan banyak
pertanyaan; (ii) asas perlakuan yang sama dalam hukum, karena memberi
perlakuan yang tidak adil bagi koperasi dan perseorangan, pengalihan IUP hanya
melihat kepentingan badan usaha; (iii) asas materi muatan yang tepat, karena
materi muatan peraturan pemerintah seharusnya memuat materi untuk
menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya, namun dalam rumusan Pasal
7A dan Pasal 7B justru menyimpang dari apa yang diatur dalam UU Nomor 4
Tahun 2009; (iv) asas keadilan, di mana setiap materi muatan peraturan
perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi
setiap warga negara, namun aturan tersebut hanya memberikan perlindungan bagi
badan usaha, sedang untuk selain itu tidak dilindungi; (v) kesamaan kedudukan
dalam hukum dan pemerintahan, karena kedua Pasal tersebut memberikan
perlakuan berbeda bagi subyek pemegang IUP, sehingga pemegang IUP bukan
badan usaha diperlakukan tidak adil.
Keberlakuan Pasal 7A dan Pasal 7B PP Nomor 24 Tahun 2012 tidak
memberikan kriteria untuk pengalihan IUP. Permasalahan lain muncul, rumusan
Pasal tersebut menimbulkan persepsi yang berbeda, dalah hal apa IUP dapat
beralih? Dalam prakteknya ada setidaknya 3 pendapat, yaitu: (i) dapat beralih
apabila pemegang IUP yang mempunyai 51 persen atau lebih saham pada badan
usaha; (ii) pemegang saham mayoritas pada badan usaha pemegang IUP yang
mempunyai 51 persen atau lebih saham pada badan usaha; (iii) pemegang saham
pada perusahaan pemegang IUP sama dengan pemegang saham pada badan usaha.
Dengan demikian dapat kita lihat bahwa rumusan Pasal 7A dan Pasal 7B justru
menimbulkan pertentangan lagi, terkait apa sebenarnya yang dapat menyebabkan
pengalihan IUP? Kemauan dari pemegang IUP (keseluruhan pihak yang terkait),
pemegang saham mayoritas pada perusahaan pemegang IUP, atau para pemegang
saham pada perusahaan pemegang IUP masing-masing harus terlibat?
Dari berbagai uraian di atas, rumusan Pasal 7A dan Pasal 7B tidak tepat,
karena melanggar HMN, karena mengesampingkan kepentingan pelaku usaha
dengan modal kecil atau terbatas, apalagi pengaturannya menyimpang dari

194
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

undang-undang yang menjadi dasar penyelenggaraan pengelolaan pertambangan


mineral dan batubara. Pengaturan bahwa IUP dapat dialihkan kepada pihak lain,
seharusnya diatur secara tegas dalam undang-undang (UU Nomor 4 Tahun 2009)
dan bukan dalam peraturan pemerintah (PP Nomor 24 Tahun 2012) tanpa ada
pendelegasian untuk mengatur lebih lanjut. Kepada siapa IUP dapat dialihkan
harus diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 2009, termasuk persyaratan pihak yang
akan menerima pengalihan IUP. Sesuai dengan perspektif HMN, apabila IUP
dapat dialihkan, maka pengalihan tersebut harus terlebih dahulu mendapat
persetujuan dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya. Tanpa persetujuan dari pemberi izin, pengalihan IUP tidak dapat
dilakukan. Usulan rumusan pengaturan pengalihan IUP sudah disampaikan dalam
analisis Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009. Terkait rumusan dalam peraturan
pemerintah atau peraturan menteri, hanyalah untuk memberi pedoman terkait
mekanisme permohonan dan pemberian persetujuan pengalihan IUP.

C. Analisis Kasus Pengalihan dan Jual Beli Izin Usaha Pertambangan


Dalam tesis ini dikemukakan beberapa kasus pengalihan IUP, termasuk
juga jual beli IUP melalui situs internet. Berikut analisis penulis terhadap kasus
yang disampaikan dalam bab III.

C. 1. Analisis Pengalihan IUP PT. Sungai Danau Jaya


IUP Operasi Produksi PT. Sungai Danau Jaya merupakan peningkatan
dari IUP Eksplorasi PT. Sungai Danau Jaya yang merupakan pengalihan dari IUP
Eksplorasi PT. Cahaya Alam Sejahtera. Pengalihan IUP dari PT. Cahaya Alam
Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya terjadi pada tahun 2010. Artinya
pengalihan ini terjadi setelah terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2009, di mana dalam
Pasal 93 ayat (1) pemegang IUP tidak boleh memindahkan IUP-nya kepada
pihak lain. Apabila dikaitkan dengan Pasal 93 ayat (2), pengalihan kepemilikan
dan/atau saham di bursa saham Indonesia, seharusnya pengalihan IUP PT.
Cahaya Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya, secara aturan tidak sah.
Sebelum dikemukakan alasan penulis menyatakan pengalihan IUP PT.
Cahaya Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya tidak sah, perlu
195
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

dikemukakan kembali kronologis kasus yang terjadi, sehingga mempermudah kita


untuk mendapatkan gambaran keadaan. Pengalihan kepemilikan IUP Eksplorasi
dari PT. Cahaya Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya ditandai dengan
diterbitkannya

Keputusan

Bupati

Tanah

Bumbu

Nomor

545/024/IUP-

E/D.PE/2010 tentang Persetujuan Pemindahan Izin Usaha Pertambangan


Eksplorasi PT. Cahaya Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya (TB.08
MEIPR 43), berlaku sampai dengan 29 Mei 2013, dengan luas WIUP 1.007
hektar, didasarkan pada: 249
1. Surat permohonan Direktur PT. Cahaya Alam Sejahtera Nomor 08/CASP/I/2010, tanggal 04 Januari 2010, perihal Permohonan Pemindahan Izin
Usaha Pertambangan Eksplorasi;
2. Surat Pernyataan Direktur PT. Cahaya Alam Sejahtera Nomor 09/CASSDJ/I/2010, tanggal 04 Januari 2010, tentang Pemindahan Izin Usaha
Pertambangan Eksplorasi;
3. Surat Pernyataan Direktur PT. Sungai Danau Jaya Nomor 001/DGACAS/I/2010, tentang Penerimaan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi;
4. Surat Kesepakatan Bersama Pemindahan Wilayah Izin Usaha Pertambangan
Eksplorasi PT. Cahaya Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya.

Terkait kasus di atas dapat dikemukakan alasan penulis sebagai berikut:


1. Pasal 93 ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 2009 melarang pemindahan IUP kepada
pihak lain;
2. Dikaitkan dengan pengalihan kepemilikan dan/atau saham di bursa saham
Indonesia, tidak mungkin IUP dialihkan melalui bursa saham Indonesia,
karena bursa saham adalah tempat jual beli saham. Pengalihan yang dapat
dilakukan oleh PT. Cahaya Alam Sejahtera di bursa saham Indonesia adalah
pengalihan saham, dalam arti PT. Cahaya Alam Sejahtera merubah statusnya
dari PT tertutup menjadi PT terbuka (go public).

249

Dasar penerbitan Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor 545/024/IUPE/D.PE/2010 tentang Persetujuan Pemindahan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi PT. Cahaya
Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya (TB.08 MEIPR 43) dapat dilihat dalam konsideran
menimbang huruf a sampai dengan d.

196
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

3. Apabila dikaitkan dengan pangalihan saham di luar bursa saham, maka


semestinya nama pemegang saham PT. Cahaya Alam Sejahtera yang berubah.
Apabila terjadi perubahan nama perusahaan, maka yang harus disampaikan
adalah perubahan akta perusahaan, di mana di dalamnya memuat perubahan
nama perusahaan berikut alasannya. Bukan perjanjian antara PT. Cahaya
Alam Sejahtera dan PT. Sungai Danau Jaya untuk mengalihkan dan menerima
pengalihan IUP.

Terkait pengalihan IUP baru diatur dengan PP Nomor 24 Tahun 2012,


Pasal 7A. Seandainya pun kasus pengalihan IUP PT. Cahaya Alam Sejahtera
kepada PT. Sungai Danau Jaya dipaksakan untuk dilegalkan dengan aturan yang
terbit setelahnya, tetap saja pengalihan tersebut tidak sah. Pasal 7A ayat (1) PP
Nomor 24 Tahun 2012 tetap tidak memperbolehkan pemindahan IUP kepada
pihak lain. Ayat (2)-nya memberi pengertian pihak lain, yaitu badan usaha yang
51 persen atau lebih sahamnya tidak dimiliki oleh pemegang IUP. Apabila
ketentuan Pasal 7A ini diartikan bahwa IUP dapat dipindahkan kepada pihak yang
sama, yaitu badan usaha yang 51 persen atau lebih sahamnya dimiliki oleh
pemegang IUP, kondisi yang seharusnya ada adalah PT. Sungai Danau Jaya,
sahamnya dimiliki oleh PT. Cahaya Alam Sejahtera sebanyak 51 persen atau
lebih.
Dalam kasus pengalihan IUP dari PT. Cahaya Alam Sejahtera kepada
PT. Sungai Danau Jaya, tidak ada saham PT. Cahaya Alam Sejahtera di dalam PT.
Sungai Danau Jaya. PT. Sungai Danau Jaya pemegang sahamnya terdiri atas: (i)
Januardi Karim dengan komposisi kepemilikan saham 160 lembar saham dengan
total nilai 160 juta rupiah (20%); dan (ii) Yulidar Putra Karim dengan komposisi
kepemilikan saham sebanyak 640 lembar dengan total nilai 640 juta rupiah (80%).
Sedangkan PT. Cahaya Alam Sejahtera pemegang sahamnya terdiri atas: (i) Ny.
Hj. Netty Darmawati dengan komposisi kepemilikan saham sebanyak 250 lembar
saham dengan total nilai 25 juta rupiah (50%); dan (ii) Rian Andika Eka Putra
dengan komposisi kepemilikan saham yang sama, 250 lembar saham dengan total
nilai 25 juta rupiah (50%).

197
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Dengan demikian terlihat jelas bahwa pengalihan IUP PT. Cahaya Alam
Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Secara ekstrim apabila ketentuan Pasal 7A ayat (2)
diartikan juga pemegang saham mayoritas perusahaan pemegang IUP-nya yang
harus memiliki 51 persen lebih atau saham pada perusahaan yang akan menerima
pengalihan IUP, dalam kasus tersebut tetap saja tidak dapat memenuhi
persyaratan. Dari komposisi pemegang saham PT. Sungai Danau Jaya, bukan
Netty Darmawati ataupun Rian Andika Eka Putra yang memegang 50 persen
saham PT. Cahaya Alam Sejahtera yang mempunyai saham mayoritas, tetapi
orang lain (Yulidar Putra Karim) yang tidak ada hubungan hukum dengan PT.
Cahaya Alam Sejahtera.
Apabila kasus ini dikaitkan dengan ketentuan Pasal 93 ayat (3) huruf b
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, IUP dari PT. Cahaya
Alam Sejahtera kepada PT. Sungai Danau Jaya, bertentangan dengan peraturan
perundng-undangan. Hal ini dapat diberikan alasan dari ketentuan bahwa badan
usaha tertutup hanya dapat memiliki satu IUP, sedangkan PT. Sungai Danau Jaya
memiliki beberapa IUP. Pengaturan mengenai hal tersebut diatur dalam Pasal 9
PP Nomor 23 Tahun 2010 bahwa setiap pemohon IUP hanya dapat diberikan 1
IUP, kecuali perusahaan terbuka (go public). Ketentuan Pasal 9 diubah melalui PP
Nomor 24 Tahun 2012, yang membuka kemungkinan untuk memiliki lebih dari 1
IUP bagi pemohon IUP mineral bukan logam dan batuan. Ketentuan ini
berhubungan dengan kewajiban untuk penyesuaian KP menjadi IUP, sehingga
harus tunduk pada UU Nomor 4 Tahun 2009 dan peraturan pelaksananya, bagi
yang memiliki lebih dari 1 KP, dengan penyesuaian menjadi IUP harus
mengalihkan IUP-nya.
Dari kasus PT Sungai Danau Jaya tersebut dapat dilihat adanya perlakuan
tidak adil terkait pengalihan IUP. Dalam tabel permasalahan IUP, kepemilikan
IUP lebih dari 1 setelah UU Nomor 4 Tahun 2009 dijadikan penghambat penetuan
status IUP clear and clean, namun di dalam kenyataannya, PT Sungai Danau Jaya
yang telah memiliki beberapa IUP dapat menerima pengalihan IUP dari PT
Cahaya Alam Sejahtera, dan itu diperbolehkan dengan telah diumumkannya
beberapa IUP PT Sungai Danau Jaya menjadi IUP clear and clean. Perlakuan ini

198
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

berbeda dengan apa yang dialami oleh PT. Irja Tambang Perkasa, yang memiliki
2 IUP, namun IUP yang satu tidak dapat dinyatakan clear and clean sebelum ada
pernyataan kesanggupan untuk mengalihkan IUP-nya kepada pihak lain.
Mengenai IUP PT Irja Tambang Perkasa akan dianalisis pada bagian selanjutnya.

C. 2. Analisis Pengalihan IUP PT. Irja Tambang Perkasa


Kasus pengalihan IUP PT. Irja Tambang Perkasa sebagaimana telah
diuraikan dalam bab III terjadi karena sebelumnya PT. Irja Tambang Perkasa
memiliki 2 KP, sehingga dalam proses penyesuaian KP menjadi IUP dan dalam
rangka memperoleh status IUP clear and clean, maka salah satu IUP-nya harus
dialihkan. PT. Irja Tambang Perkasa memiliki 2 IUP, dengan Keputusan Bupati
Manokwari Nomor 12 Tahun 2010 dan Keputusan Bupati Manokwari Nomor 16
Tahun 2010. IUP yang dialihkan oleh PT. Irja Tambang Perkasa adalah IUP
dengan Keputusan Bupati Manokwari Nomor 16 Tahun 2010. Pengalihan IUP PT.
Irja Tambang Perkasa dilakukan untuk memperoleh status clear and clean.
Ditinjau dari ketentuan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 maupun PP
Nomor 24 Tahun 2012, sebelum memberikan analisis terhadap kasus ini, perlu
dikemukakan Pernyataan Afiliasi Nomor 005/ITP/SP/I/2013 tanggal 30 Januari
2013, yang berisi pernyataan kesediaan untuk mengalihkan saham pada IUP
Eksplorasi Nomor 12 Tahun 2010 kepada anak perusahaan sesuai IUP Eksplorasi
Nomor 16 Tahun 2010, sebagai syarat agar IUP PT. Irja Tambang Perkasa dengan
Keputusan Bupati Manokwari Nomor 16 Tahun 2010 memperoleh status clear
and clean. Pernyataan pengalihan IUP PT. Irja Tambang Perkasa dibuat pada
tahun 2013, ini berarti setelah PP Nomor 24 Tahun 2012 terbit. Pengalihan IUP
PT. Irja Tambang Perkasa kepada afiliasinya harus memenuhi ketentuan dalam
Pasal 7A ayat (2) PP Nomor 24 Tahun 2012, bahwa PT. Irja Tambang Perkasa
harus memiliki 51 persen atau lebih saham pada afiliasi yang akan menerima
pengalihan IUP.
Namun untuk melihat dan mengetahui ketaatan PT. Irja Tambang
Perkasa dalam melakukan pengalihan IUP dengan Keputusan Bupati Manokwari
Nomor 16 Tahun 2010 akan sulit dilacak. Berdasarkan keterangan dari evaluator
clear and clean Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, IUP akan dinyatakan

199
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

clear and clean setelah membuat pernyataan pengalihan IUP kepada afiliasi.
Setelah IUP mendapatkan status clear and clean, tidak ada kewajiban pemegang
IUP untuk menyampaikan kepada Pemerintah Keputusan Administrasi Negara
terkait pengalihan IUP-nya. Dengan demikian tidak akan dapat dilacak kepada
siapa akhirnya IUP PT. Irja Tambang Perkasa dialihkan, akibatnya tidak akan
dapat diketahui apakah prosesnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan atau tidak, apakah ada transfer pricing atau tidak.
Analisis yang dapat diberikan dalam kasus pengalihan IUP PT. Irja
Tambang Perkasa, adalah terhadap kebijakan terkait penerapan 1 badan usaha 1
IUP untuk penentuan status IUP clear and clean. Apabila penentuan status IUP
clear and clean hanya dengan pernyataan pemindahan IUP kepada afiliasi, maka
akan menghambat fungsi pengawasan dari Pemerintah terkait pelaksanaan
kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang dilakukan oleh
pemegang IUP. Seharusnya status IUP clear and clean diberikan kepada afiliasi
yang telah menerima pengalihan IUP (dari PT. Irja Tambang Perkasa) dan bukan
IUP PT. Irja Tambang Perkasa dengan Keputusan Bupati Manokwari Nomor 16
Tahun 2010. Dengan demikian, Pemerintah mengetahui dengan jelas kepada siapa
IUP dialihkan dan dapat dievaluasi mekanisme yang dilaksanakan apakah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atau tidak.
Dikaitkan dengan ketentuan UU Nomor 4 Tahun 2009 dan PP Nomor 24
Tahun 2012, kasus pengalihan IUP PT. Irja Tambang Perkasa yang telah
diuraikan di atas, sebagai syarat untuk mendapatkan status IUP clear and clean
dengan membuat pernyataan pengalihan IUP kepada afiliasi, justru melanggar
ketentuan Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009 dan Pasal 7A PP Nomor 24 Tahun
2012. Alasannya adalah bahwa dalam pengalihan IUP harus diberitahukan kepada
pemberi izin (Pasal 93 ayat (3) huruf a) dan pengalihan kepada afiliasi (badan
usaha yang 51 persen atau lebih sahamnya dimiliki oleh pemegang IUP (Pasal 7A
ayat (2) PP nomor 24 Tahun 2012). Jadi yang semestinya dijadikan kriteria adalah
laporan dari pemberi izin (Bupati Manokwari) bahwa PT. Irja Tambang Perkasa
telah menyampaikan pemberitahuan pengalihan IUP dengan Keputusan Bupati
Manokwari Nomor 16 Tahun 2010 kepada afiliasinya yaitu PT. X dengan
komposisi saham PT. Irja Tambang Perkasa dalam PT. X 51 persen atau lebih,

200
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

serta Keputusan Bupati Manokwari tentang Pengalihan IUP PT. Irja Tambang
Perkasa kepada PT. X. Setelah kriteria tersebut dipenuhi, barulah dapat
ditentukan status IUP clear and clean untuk IUP PT. X.
Kritik dari kebijakan ini, selain tidak jelas beralih kepada siapa, maka
tidak pernah pula diketahui apakah PT X mempunyai kualifikasi dan memenuhi
persyaratan administratif, teknis, finansial yang digunakan untuk menyeleksi
kemampuan mereka melakukan kegiatan usaha pertambangan mineral dan
batubara. Sehingga tidak akan dapat diketahui apakah kewajiban untuk
menerapkan kaidah-kaidah pertambangan yang baik (good mining practice) akan
dipatuhi.
Dikaitkan dengan HMN, kebijakan penentuan status IUP clear and clean
dalam kaitannya dengan pengalihan IUP PT. Irja Tambang Perkasa, justru
membuat pelaksanaan tuga dan fungsi negara yang dalam hal ini dilakukan oleh
Pemerintah

dan

pemerintah

daerah

dalam

rangka

pengawasan

(teozichthoudensdaad) akan terhambat, karena IUP beralih kepada siapa akan sulit
untuk dilacak, dikarenakan tidak ada kewajiban untuk menyampaikan laporan
sesudahnya, dan tidak ada peran pemberi izin karena hanya didasarkan pada
pernyataan

pengalihan

IUP.

Untuk

mengukur

apakah

pengalihan

IUP

bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, perlu adanya evaluasi dari


pejabat yang berwenang dalam administrasi negara. Dengan demikian persetujuan
terhadap pengalihan IUP sangat diperlukan, sebagai salah satu pelaksanaan fungsi
pengawasan (teozichthoudensdaad) Pemerintah dan pemerintah daerah dalam
penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara.

C. 3. Analisis Jual Beli IUP Melalui Situs Internet


Pengalihan IUP yang masih menyisakan berbagai persoalan karena
banyak

persepsi

terkait

rumusan

pasal

yang

mengaturnya

maupun

ketidaksinkronan antara peraturan pelaksana dengan undang-undang dan antar


pasal yang terkait, ternyata tidak menyurutkan pelaku usaha dan pihak-pihak
terkait untuk melakukan pengalihan IUP. Bahkan IUP diperjual belikan melalui
situs internet. Hal ini dapat dilihat dari penawaran beberapa IUP melalui situs
internet sebagaimana telah diuraikan dalam bab III.

201
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Situs internet yang dijadikan sarana untuk menawarkan IUP antara lain
adalah http://www.tokobagus.com dan http://indonetwork.co.id. Dari penawaran
IUP melalui situs internet, terdapat beberapa cara penawaran, yaitu: (i) dengan
menyebutkan kegiatan usahanya (eksploitasi batubara), letak wilayah tambang
(Kecamatan Manday, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat), luas wilayah
tambang (10.000 ha), perizinan legal, harga penawaran 250 milyar rupiah; (ii)
dengan menyebutkan nama perusahaan (PT.Panen Kreasindo),

Lokasi usaha

(Kec.Bentian Barat Kab. KuBar), masa berlaku IUP (2010-2022) status IUP
(CnC), luas wilayah (L: 8.486 Ha); (iii) menampilkan fotokopi Keputusan Bupati
tentang IUP (Keputusan Bupati Banjar Nomor 66 Tahun 2011 tentang Persetujuan
Peningkatan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi menjadi Izin Usaha
Pertambangan Operasi Produksi kepada CV. Rizky Bintang (KW. 04-048 P.BJR
2007).
Kasus jual beli IUP melalui situs internet tidak dapat dibenarkan, karena
bertentangan dengan UU Nomor 4 Tahun 2009 dan PP Nomor 24 Tahun 2012.
Pengalihan IUP dimingkinkan apabila pemegang IUP memiliki 51 persen atau
lebih saham pada perusahaan yang akan menerima pengalihan IUP. Dalam kasus
jual beli IUP melalui situs internet yang terjadi adalah IUP ditawarkan dengan
nilai tertentu kepada pihak lain, begitu pihak lain menyepakati harga, maka IUP
akan beralih. Selain itu, terkait HMN, maka hal ini tidak dapat dibenarkan.
Kepemilikan seumber daya alam mineral dan batubara adalah milik seluruh rakyat
Indonesia, yang dikuasakan kepada negara untuk mengelolanya demi sebesarbesar kesejahteraan rakyat. IUP hanyalah izin untuk mengusahakan bukan izin
untuk memiliki. Kepemilikan baru beralih setelah pemegang IUP membayar iuran
produksi (royalty) atas mineral atau batubara yang dihasilkan dari kegiatan
operasi produksinya.
Karena sumber daya alam mineral dan batubara adalah milik seluruh
rakyat Indonesia, maka pemegang IUP tidak berhak untuk melakukan jual beli
IUP. Apabila mereka tidak sanggup untuk melaksanakan kegiatan usahanya
karena kekurangan modal, semestinya dilakukan penambahan modal atau menarik
investasi dari pihak lain melalui mekanisme penanaman saham atau penambahan
modal usaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang

202
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

perseroan terbatas. Dalam hal ini tidak dapat dilaksanakan, seharusnya IUP
dikembalikan kepada Pemerintah. Apabila pemegang IUP selain badan usaha,
maka penambahan modal tentunya dapat dilakukan melalui pinjaman sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kesemua langkah tersebut
harus mendapat persetujuan dari pemberi izin dan terlebih dahulu dilakukan
evaluasi atas alasan yang diajukan oleh pemegang IUP.
Terjadinya jual beli IUP melalui situs internet menunjukkan bahwa
fungsi administrasi negara dalam membuat rencana, pengelolaan, dan pegawasan
terhadap pengusahaan dan pemanfaatan sumber daya alam mineral dan batubara
tidak maksimal dan tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya. Rencana yang
baik tentunya akan menghasilkan hubungan hukum yang baik antara administrasi
negara dengan pelaku usaha pertambangan mineral dan batubara, sehingga semua
pihak akan menaati aturan yang dibuat. Pilihan bentuk izin dalam UU Nomor 4
Tahun 2009 dan mekanisme untuk memperoleh izin harus ditinjau ulang, agar
tujuan pemberian izin tercapai, di mana semua pemegang IUP adalah orang-orang
yang memang terpilih sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan, taat
aturan, memahami HMN, sehingga tidak ada lagi jual beli IUP. Pemerintah dan
pemerintah daerah harus meningkatkan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan
usaha pertambangan, dan secara patuh melaksanakan peraturan, sehingga kasus
jual beli IUP tidak akan terjadi. Bagi pemegang IUP yang tidak melaksanakan
usaha pertambangan dalam waktu yang telah ditentukan dan tidak melaksanakan
kewajiban pelaporannya harus diberikan sanksi administrative sampai dengan
pencabutan izin. Hal ini harus tegas diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 2009, kapan
kegiatan usaha paling lambat dilaksanakan. Apabila pemegang IUP dalam jangka
waktu yang dimaksud tidak melakukan kegiatan usahanya, maka IUP-nya dicabut.
Pelarangan jual beli IUP melalui situs internet terkait juga dengan
tanggung jawab pemegang IUP yang berhubungan dengan lingkungan hidup,
kewajiban reklamasi dan pascatambang, pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat, peningkatan nilai tambah mineral dan batubara melalui kegiatan
pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Bagaimana pola persetujuan pemberi
izin dan kesepakatan kedua belah pihak untuk pemenuhan kewajiban-kewajiban
tersebut bila IUP beralih karena jual beli melalui situs internet.

203
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Dari hasil penelitian dapat diperoleh tiga kesimpulan sebagai temuan dari analisis
yang dilakukan dalam penelitian. Pertama, HMN mengandung pengertian
kepemilikan sumber daya alam oleh seluruh rakyat Indonesia, di mana terkait
objek kepemilikan oleh seluruh rakyat Indonesia (public ownership) memberi
konsekuensi pengelolaan usaha pertambangan dilakukan sendiri oleh Pemerintah
dan pemerintah daerah atau melalui mekanisme kepemilikan saham pada
BUMN/BUMD sebagai pelaku usaha pertambangan mineral dan batubara. Dalam
perspektif HMN terdapat 3 pengertian, yaitu: (i) hak penguasaan sumber daya
alam mineral dan batubara (mineral right) ada pada Negara; (ii) hak pengelolaan
sumber daya alam mineral dan batubara (mining right) ada pada Pemerintah; dan
(iii) hak pengusahaan (economic right) ada pada BUMN/BUMD. Dengan
demikian bentuk perizinan yang tepat untuk pengusahaan pertambangan mineral
dan batubara adalah konsesi, di mana peran serta badan usaha swasta, koperasi,
dan perseorangan dimungkinkan melalui kerjasama dengan BUMN dan BUMD
secara business to business melalui perjanjian kerjasama dengan: (i) persyaratan
badan usaha swasta, koperasi, dan perseorangan ditentukan dan ditetapkan oleh
Pemerintah; dan (ii) harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari
Pemerintah. Dalam konteks ideal pengelolaan pertambangan mineral dan batubara
melalui bentuk perizinan yang tepat (konsesi) dengan konsep di atas, maka
pengalihan Izin Usaha Pertambangan, dalam perspektif HMN sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 tidaklah dapat dibenarkan. Yang
dapat dialihkan adalah perjanjian kerjasama antara BUMN/BUMD dengan badan
usaha swasta, koperasi, dan perseorangan. Namun pengalihan perjanjian
kerjasama tersebut juga harus memenuhi persyaratan yang sama dengan
persyaratan perjanjian kerjasama, serta harus mendapatkan persetujuan terlebih
dahulu dari Pemerintah. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengalihan Izin
Usaha Pertambangan yang diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 dan Peraturan

204
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Pelaksananya dalam Perspektif HMN berdasarkan Pasal 33 ayat (3) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945: (i) Pasal 93 ayat (1) UU
Nomor 4 Tahun 2009 rumusannya sudah tepat, bahwa IUP tidak boleh
dipindahkan kepada pihak lain; (ii) Pasal 93 ayat (2) dan (3) UU Nomor 4
Tahun 2009, mengandung penyelundupan bahwa IUP boleh dialihkan, tetapi
perumusan disamarkan kepemilikan dan/atau saham, di mana kepemilikan di
sini adalah kepemilikan izinnya sehingga perdebatan terus terjadi karena persepsi
yang berbeda. Selain itu pengalihan hanya dengan keharusan untuk memberitahu
pemberi izin, merupakan pelanggaran terhadap HMN; (iii) Pasal 7A dan Pasal 7B
PP Nomor 24 Tahun 2012, bertentangan dengan Pasal 93 ayat (1) UU Nomor 4
Tahun 2009, dengan menterjemahkan pengertian pihak lain, namun dalam
perumusannya justru kontradiktif antara Pasal 7A dan Pasal 7B, dan terdapat
perlakuan tidak adil bagi pemegang izin selain badan usaha. Dengan demikian
Pengaturan pengalihan IUP dalam Pasal 7A dan Pasal 7B bertentangan dengan
HMN.

Kedua, Pasal 93 UU Nomor 4 Tahun 2009, pada ayat (1) secara tegas mengatur
bahwa pemegang IUP tidak boleh memindahkan IUP-nya kepada pihak lain. Hal
ini

adalah

sebagai

upaya

untuk

memenuhi

landasan

konstitusional

pembentukannya. Selain itu mekanisme untuk memperoleh izin sudah semestinya


menjadi sarana untuk memilih, menyeleksi, dan menentukan pihak-pihak tertentu
yang dapat mengusahakan mineral dan batubara. IUP tidak boleh dialihkan
tentunya ada tujuan yang ingin dicapai, antara lain agar tidak ada lagi makelar
izin, agar tidak terjadi transfer of pricing kepada anak perusahaan (afiliasi).
Dengan adanya larangan pengalihan IUP, maka kinerja para pemegang IUP harus
dibuktikan secara bersungguh-sungguh. Dengan demikian tujuan pemberian IUP
dapat tercapai. Namun dalam perjalanannya, terdapat rumusan ayat (2) dan ayat
(3) yang justru mengaburkan tujuan mulia Pasal 93 ayat (1). Hal ini terjadi karena
pemahaman terhadap HMN masih setengah-setengah dan belum sepenuhnya
dikuasai oleh Pemerintah maupun pemerintah daerah. Sehingga dalam praktek
penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, ketentuan
bahwa IUP tidak boleh dipindahkan kepada pihak lain terus dilanggar. Untuk itu

205
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

perlu dilakukan kajian lebih mendalam terkait pengalihan IUP, agar tidak
melanggar HMN, dan perlu dilakukan perumusan ulang terhadap ketentuan Pasal
93 dengan mewajibkan persyaratan sebagaimana permohonan IUP dan
pembuktian bahwa pemegang IUP telah melakukan kegiatan usahanya dengan
baik dan benar, dan dapat dilanjutkan kepada tahap operasi produksi dengan
tanggung jawab mutlak pada pembuat laporan sumberdaya dan cadangan sebagai
salah satu persyaratannya, serta harus ada peersetujuan dari pemberi izin terlebih
dahulu.

Ketiga, ketidaksinkronan peraturan pelaksana UU Nomor 4 Tahun 2009 yang


mengatur lebih lanjut mengenai pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batubara, dengan menentukan bahwa 1 pemohon hanya dapat
memperoleh 1 izin dan keharusan membentuk badan usaha baru bagi pemegang
IUP yang berminat mengusahakan mineral lain yang ditemukan dalam kegiatan
usahanya, dan pengaturan penyesuaian KP dan SIPD menjadi IUP, dalam
pelaksanaannya memaksa Pemerintah untuk membuat aturan tentang pengalihan
IUP. Mengenai pengalihan IUP, dijabarkan dalam Pasal 7A dan Pasal 7B PP
Nomor 24 Tahun 2012. Namun rumusannya tetap saja mengandung pertentangan
terkait klasifikasi pihak lain antara Pasal 7A dan 7B, dan terdapat perlakuan
diskriminasi kepada pemegang IUP yang bukan merupakan badan usaha atau
bukan BUMN. Rumusan Pasal 7A dan Pasal 7B serta pasal yang memaksa harus
diadakannya peraturan terkait pengalihan IUP (Pasal 44 PP Nomor 23 Tahun
2010), tentu saja justru bertentangan dengan UU Nomor 4 Tahun 2009.
Pengaturan yang menyamarkan bahwa IUP dan IUPK atau sebagian WIUP atau
WIUPK dari BUMN dapat dialihkan semestinya diatur secara tegas dalam
undang-undang. Termasuk kondisi yang memungkinkan pengalihan IUP,
persyaratannya, dan siapa yang dapat menerima pengalihan, harus diatur terlebih
dahulu dalam undang-undang.

206
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

B. Saran
Dari berbagai kesimpulan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, disajikan
saran-saran, sebagai berikut:
1. Pemahaman HMN, terkait kepemilikan sumber daya alam mineral dan
batubata perlu ditingkatkan baik pada level Pemerintah maupun pemerintah
daerah, termasuk peran dan fungsi dalam menjalankan mandat dari seluruh
rakyat Indonesia, baik dalam pengaturan, pengelolaan, pengusahaan, maupun
pengawasannya, sehingga dalam membuat peraturan perundang-undangan
tidak melanggar HMN itu sendiri, baik aturan berupa undang-undang maupun
peraturan pelaksananya, dan agar Pemerintah meninjau kembali bentuk
perizinan dan konsep pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara
dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 dan peraturan pelaksananya sehingga sesuai
dengan perspektif HMN.
2. Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan dalam fungsi legislasi,
agar dibuat naskah akademisnya, sehingga dapat dikaji dari segala aspek, baik
filosofis, sosiologis, hukum, mengenai kebijakan yang diambil yang akan
dituangkan sebagai materi muatan dalam undang-undang dan asas-asas
pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, sehingga tujuan dan
maksud dari undang-undang dapat dicapai dan dapat dijalankannya semua
yang telah ditentukan dalam undang-undang.
3. Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan dalam fungsi regulasi,
agar Pemerintah memahami tujuan dan maksud dari undang-undang induknya
serta memperhatikan asas-asas dalam pembentukan peraturan perundangundangan yang baik, sehingga materi yang diatur dalam peraturan pemerintah
tidak bertentangan dengan undang-undang dan menjamin kepastian bagi setiap
pelaku usaha, memberikan keadilan, serta dapat dijalankan dan dipatuhi oleh
segala pihak.

207
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

DAFTAR PUSTAKA

BUKU
Asshiddiqie, Jimly. Konstitusi Ekonomi. Jakarta: Kompas, 2010.
Assiddiqie, Jimly dan M. Ali Safaat. Teori Hans Kelsen Tentang Hukum. Cet. 1.
Jakarta: Sekretariat Jenderal & Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI,
2006.
Atmosudirjo, S. Prajudi. Hukum Administrasi Negara, Seri Pustaka Ilmu
Administrasi VII. Cet. 10. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1994.
Basah, Sjahran. Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Adminsitrasi Negara.
Bandung: Alumni, 1985.
Bruggink, J.J.H. Refleksi Hukum, diterjemahkan oleh Arief Sidarta. Bandung: PT.
Citra Aditya Bhakti, 1996.
E. Sumaryono. Etika dan Hukum: Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas
Aquinas. Yogyakarta: Kanisius, 2002.
Hadjon, Philipus M. et. al. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia,
Introduction to the Indonesian Administrative Law. Cet. 10. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2008.
Hayati, Tri. Perizinan Pertambangan di Era Reformasi Pemerintahan Daerah
Studi tentang Perizinan Pertambangan Timah di Pulau Bangka. Cet. 1.
Jakarta: Badan Penerbit FH UI, 2012
Hoessein, Bhenyamin. Perubahan Model, Pola, dan Bentuk Pemerintahan
Daerah, dari Era Orde Baru ke Era Reformasi, Edisi Revisi. Cet. 2.
Jakarta: Departemen Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Universitas Indonesia, 2011.
HR, Ridwan. Hukum Administrasi Negara Edisi Revisi. Jakarta: RajaGravindo
Persada, 2011.
Indrati, Maria Farida S. Ilmu Perundang-Undangan (1), Jenis, Fungsi, Materi
Muatan. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Kelsen, Hans. General Theory of Law and State. Transleted by Anders Wetberg.
New York: Russel & Russel, 1961.

208
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Marbun, Rocky. et. al. Kamus Hukum Lengkap, Mencakup Istilah Hukum &
Perundang-Undangan Terbaru. Cet. 1. Jakarta: Visi Media, 2012.
Marzuki, H.M. Laica. Berjalan-Jalan di Ranah Hukum. Cet. 1. Jakarta:
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2006.
MD, Mahfud. Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia. Yogyakarta: Gama
Media, 1999.
Nugraha, Safri, et. al. Hukum Administrasi Negara. Jakarta: Center For Law and
Good Governance Studies (CLGS), Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, 2007.
Ridwan, Juniarso dan Ahmad Sodik Sudrajat. Hukum Administrasi Negara dan
Kebijakan Pelayanan Publik. Cet. 3. Bandung: Nuansa Bandung, 2012.
Saleng, Abrar. Hukum Pertambangan. Yogyakarta: UII Press, 2004.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif, Suatu Kajian
Singkat. Cet. ke-14. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.
Spelt, NM dan Ten Berge. Pengantar Hukum Perizinan. disunting Philipus M.
Hadjon. Bahan Penataran Hukum Administrasi dan Hukum Lingkungan.
Surabaya: Fakultas Hukum Universitas Airlangga, 1992.
Syamsuddin, H. Aziz. Proses & Teknik Penyusunan Undang-Undang. Jakarta:
Sinar Grafika, 2011.
Tjokroamidjoyo, Bintoro. Pengantar Administrasi Pembangunan. Jakarta:
LP3ES, 1974.
Utrecht, E. dan Moh. Saleh Djindang. Pengantar Hukum Administrasi Negara
Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1985.

DISERTASI DAN PENELITIAN


Dwi Andayani Budisetyowati, Keberadaan Otonomi Daerah di Negara Kesatuan
Republik Indonesia, Disertasi, (Jakarta: Program Pascasarjana Universitas
Indonesia, 2004)
Ragawino, Bewa. Sistem Peraturan Perundang-Undangan Negara Republik
Indonesia. Penelitian. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Padjajaran, Bandung, 2005.

209
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Rosadi, Otong. Inkorporasi Prinsip Keadilan Sosial dalam Pembentukan UndangUndang tentang Kehutanan dan Undang-Undang tentang Pertambangan
Periode Tahun 1967-2009. Ringkasan Disertasi, Universitas Indonesia,
Depok, 2010

MAKALAH DAN BAHAN PRESENTASI


Arizona, Yance. Konstitusionalitas Penguasaan Negara Atas Sumber Daya Alam
dalam Putusan Mahkamah Konstitusi. makalah disampaikan pada
Konferensi Warisan Otoritarianisme, Demokrasi di Bawah Tirani Modal,
FISIP UI, 5 Agustus 2008.
Basah, Sjachran.

Pencabutan Izin Salah Satu Sanksi Hukum Administrasi.

Makalah disampaikan pada Penataran Hukum Administrasi dan Hukum


Lingkungan di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, 1995.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan
Batubara, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Batubara, Pengendalian
Produksi Batubara, Disampaikan dalam presentasi Konsultasi Publik
Rancangan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang
Tata Cara Pengendalian Produksi dan Penjualan Mineral dan Batubara, di
Medan Sumatera Utara pada tanggal 27 Maret 2013
------------------------, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Penataan dan
Pengusahaan Wilayah Pertambangan, Bahan Presentasi disampaikan
dalam Rapat Koordinasi dalam Rangka Peningkatan Kapasitas Aparat
Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Kawasan Sumber Daya Alam di
Wilayah Provinsi Jawa Tengah di Semarang, 26 Juni 2013
------------------------, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Bahan RDP
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara dengan Panja Minerba, Komisi
VII DPR RI, Wilayah Pertambangan khusus Golongan C, tanggal 27
November 2012
------------------------, Bahan Konsultasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
dengan Komisi VII DPR RI terkait Penetapan Wilayah Pertambangan pada
tanggal 7 Februari 2011.

210
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

------------------------, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. Bahan Presentasi


PTBA, dalam Rapat Pembahasan RPP Perubahan Atas PP Nomor 23
Tahun 2010 di Kementerian Koordinasi Perekonomian, 6 Oktober 2011
------------------------, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. Buku Panduan
Rekonsiliasi Nasional Izin Usaha Pertambangan (IUP) Tahap II, 2012.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Republik Indonesia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
------------------------. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria. Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043.
------------------------. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan
Pokok-Pokok Pertambangan. Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831.
------------------------, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, Undang-Undang
tentang Pemerintahan Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839.
------------------------. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004. Undang-Undang
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4389.
------------------------. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Undang-Undang
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2009mNomor 4, Tambahan Lembaran


Negara Nomor 4959.
------------------------. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012. Undang-Undang
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5234.

211
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

------------------------. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang


Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan

Pokok

Pertambangan.

Lembaran

Negara

Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 60, Tambahan Lembaran


Negara Nomor 2916.
------------------------. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang
Penggolongan bahan-Bahan Galian. Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1980 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3174
------------------------. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang
Wilayah Pertambangan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5110.
------------------------. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 29,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5111.
------------------------. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2011 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 45,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5282.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Nomor 28 Tahun 2013 tentang Tata Cara dan
Penetapan Harga Divestasi Saham, serta Perubahan Penanaman
Modal di Bidang Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor
------------------------. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
32 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pemberian Izin Khusus di Bidang
Pertambangan Mineral dan Batubara. Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 1366.
Philippine Mining Act Tahun 1995

212
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

RANCANGAN PERATURAN
Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 31/DPD
RI/II/2012-2013 tentang Rancangan Undang-Undang Usul Inisiatif Dewan
Perwakilan Daerah Republik Indonesia tentang Rancangan UndangUndang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

PUTUSAN PENGADILAN
Mahkamah Konstutusi. Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Hak Keberatan
Uji Materiil atas Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan dalam Perkara Nomor 01-021-022/PUU-I/2003. Berita
Negara Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 2004.
------------------------. Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Hak Keberatan Uji
Materiil atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi dalam Perkara Nomor 002/PUU-I/2003. Berita Negara
Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2005.
------------------------. Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Hak Keberatan Uji
Materiil atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara dalam Perkara Nomor 10/PUU-X/2012. Tanggal 22
November 2012.
------------------------. Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Hak Keberatan Uji
Materiil atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara dalam Perkara Nomor 25/PUU-X/2012. tanggal 22
November 2012.
Mahkamah Agung. Putusan Mahkamah Agung terhadap Hak Keberatan Uji
Materiil atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Republik Indonesia Nomor: 07 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai
Tambah Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral.
dalam Perkara Nomor 09 P/HUM/2012, tanggal 12 September 2012.
------------------------. Putusan Mahkamah Agung terhadap Hak Keberatan Uji
Materiil atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Republik Indonesia Nomor: 07 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai

213
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

Tambah Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral.


dalam Perkara Nomor10 P/HUM/2012, tanggal 12 September 2012.
------------------------. Putusan Mahkamah Agung terhadap Hak Keberatan Uji
Materiil atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Republik Indonesia Nomor: 07 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai
Tambah Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral.
dalam Perkara Nomor13 P/HUM/2012, tanggal 3 April 2013.

INTERNET
Bab V, Sistem Pemerintahan, http://www.fakultashukum-universitaspanjisakti.
com/informasi-akademis/bahan-kuliah/33-bahan-kuliah-han.html,
diunduh 1 Juni 2012
Dimyati, Khudzaifah dan Kelik Wardiono. Pola Pemikiran Hukum Responsif:
Sebuah Studi Atas Proses Pembangunan Ilmu Hukum Indonesia, Seri
Ringkasan

Penelitian

Hibah

Bersaing

Tahun

II

Kontrak:

180/SP3/PP/DP3M/II/2006, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 10, No. 1, Maret


2007: 1 - 24, hlm. 4-5, http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/
handle/123456789/740/1.%20DIMYATI.pdf?sequence=1, diunduh 4
Desember 2013
http://indonetwork.co.id/result.html?search_for=iup&search_cat=sell&subcat=&
owner=793331, diunduh 7 Desember 2013.
http://kbbi.web.id/, diunduh 4 April 2013
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/129249T%2026736Upaya%20pemerintahPendahuluan.pdf, diunduh 20 Mei 2012
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20414/4/Chapter%20II.pdf,
diunduh 4 April 2013
http://psdg.bgl.esdm.go.id/images/logam.html, diunduh 10 April 2013
http://www.timah.com/v2/ina/tentang-kami/5410052012110557/sejarah/, diunduh
http://www.tokobagus.com/iklan/tambang-batu-bara-kabupatenkapuashulu
32219148.html#pn_4af7f621db8248786848 acff8e1f5681, diunduh 7
Desember 2013.

214
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

http://www.untukku.com/artikel-untukku/pengertian-saham-untukku.html, diunduh
4 April 2013.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Geologi, Data Cadangan
Batubara Indonesia Tahun 2011. http://psdg.bgl.esdm.go.id/images/
bb.html, diunduh 26 Maret 2013
------------------------, Siaran Pers Nomor: 33/Humas Kesdm/2011, Tanggal: 27
Mei 2011 tentang Koordinasi Pendataan Izin Usaha Pertambangan
Nasional

2011,

pers/4550-koordinasi

http://www.esdm.

go.id/siaran-pers/55-siaran-

pendataan-izin-usaha-pertambangan-nasional-

2011.html, diunduh tanggal 7 Desember 2013


------------------------,

Direktorat

Jenderal

Mineral

dan

Batubara.

Data

Pengumuman IUP. www.minerba.esdm.go.id


Pigome, Martha. Politik Hukum Pertambangan Indonesia dan Pengaruhnya
terhadap Pengelolaan Lingkungan Hidup di Era Otonomi Daerah.
ejournal.undip.ac.id/index.php/mmh/article/download/3475/3122,
diunduh 20 Mei 2012
Rosadi, Otong. Hukum Kodrat, Pancasila, dan Asas Hukum dalam Pembentukan
Hukum di Indonesia, Jurnal Dinamika Hukum, Vol. 10 No. 3, 3
September 2010, hlm. 278, Fakultas Hukum dan Pascasarjana Ilmu
Hukum Universitas Ekasakti Padang, http://fh.unsoed.ac.id/sites/
default/files/fileku/dokumen/JDHvol102010/8.%20Otong.pdf, diunduh
3 Desember 2013
Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia, http://library.utem.edu.my/emelaka/
koleksi%20melaka/sejarah/mn2008.pdf, diunduh 4 Desember 2013
Suprapto, Sabtanto Joko. Tinjauan Bahan Galian Tertinggal Pada Wilayah Bekas
Tambang di Indonesia. http://psdg.bgl.esdm.go.id/buletin_pdf_file/
Bul%20Vol%202%20no.%203%20thn%202007/1.%20Tinjauan%20ba
han%20galian%20tert;.%20P.%20Sabtanto.pdf, diunduh 4 Desember
2013

215
Pengalihan Izin , Nur Hayati Wisnu Wardani, FHUI, 2014

I.
KOMODITAS

NAMA PERUSAHAAN
BATUBARA

PT. SUNGAI DANAU JAVA

WILAYAH TUMPAMG TINDIH : YA/TIDAK


TUMPANG TINDIH KOMODITAS : SAMA/TIDAK

PERLUASAN: YA/TIDAK

PERGESERAN : YA/TIDAK

KOORDINATWIWYAHKP/IUP

CNCATAU

-A"sv,-,^''4

Sjx,

- N0NCNC,PERMASAUHAN:4^s^p.,^, bKmu 1

VI. HASH EVALUASI: CNC/NON CNC

V.

LEMBAR EVALUASI lUP lUP NO URUT


II.

KALIMANTAN SELATAN

TANAH BUMBU

ANGSANA

LOKASI

PERIZINAN

PROVINSI

KABUPATEN

KECAMATAN

III.

IV.

YA

^:^lOas

1.007

YA

15/05/2008

1.007

...

545/40/PWTL/D.PE

30/05/2008

>

' LEGftlSIR.;'*

PENCADANGAN WILAYAH

545/54/KP/D.PE

(KABAG HUKUM)

MENGETAHUI

JAKARTA,

-.v -

'

PERMOHONAN THN 2011, BERLAKU s.d 29/05/2021

29/05/2013

SEJAHTERA KE PT.SUNGAI DANAU JAYA,


PERMOHONAN TGL 4/01/2010, BERLAKU s.d

SK PEMINDAHAN DARI PT. CAHAYA ALAM

SKa.n PT CAHAYA AlAM SEJAHTERA.


SK a.n PTCAHAYA AlAM SEJAHTERA,
PERMOHONAN TGL19/05/2008, BERLAKU s.d
30/05/2010
SK a.n PTCAHAYA ALAM SBAHTERA,
PERMOHONAN TGL 21/09/2009, BERLAKU s.d
29/05/2013

"(YA^IpAK)/ - .

KP EKSPLORASI

545/040/IUP-E/D,PE/2009

YA

YA

YA

1.007

41,2

MENGETAHUI

(OTcfj.

(KASUBDIT PEUYANAN USAHA BATUBARA)

03/12/2012

15/02/2010

1.007

Ctk-

(KASUBDITPWI)

MENGETAHUI

188.45/481/DISTAMBEN/2012

545/024/IUP-E/D.PE/2010

26/10/2009

lUP EKSPLORASI

lUP OPERASI PRODUKSI

(RIZKY

Wf

iCfiOfVTC'

BUPATITANAH BUMBU

KEPUTUSAN BUPATI TANAH BUMBU

NOMOR 188.45/ 481 /DISTAMBEN/2012


TENTANG

PERSETUJUAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN OPERASI PRODUKSI


BATUBARA KEPADA PT. SUNGAI DANAU JAYA

(TB. 08 MEIPR 43)


BLOKII

BUPATI TANAH BUMBU,

Menimbang

a.

b.

bahwa surat permohonan PT. SUNGAI DANAU JAYA


Nomor : 005/ABE/SP/X/2011 dalam perihalnya
memohon Peningkatan lUP Operasi Produksi;
bahwa berdasarkan hasil evaluasi dan rekomendasi

Kepala
Tamben,

Dinas

Pertambangan

Nomor 545/1767/PU/

tentang Persetujuan Rancangan Keputusan

Bupati Tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan

Operasi Produksi Batubara kepada PT. SUNGAI DANAU


JAYA (TB. 08 MEIPR 43) BLOK II, tanggal 03 Desember
2012;

c.

bahwa

berdasarkan

pertimbangan

sebagaimana

dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan

Keputusan Bupati Tanah Bumbu Tentang Persetujuan


Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Batubara

kepada PT. SUNGAI DANAU JAYA (TB. 08 MEIPR 43)


BLOK II;

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi


Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3419);

2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang


Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten
Balangan di Propinsi Kalimantan Selatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 22,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4265);

3. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas


Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2003 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4327);

4.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana


telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-

Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan

fhU
LEMBAR EVALUASl lUP
I.
il.
111.

IV.

NAMA PERUSAHAAN

PT IRJA TAMBANG PERKASA

KOMODITAS

BATUBARA

LOKASI
KECAMATAN

DATARAN ISIM

KABUPATEN

MANOKWARI

PROVINSI

PAPUA BARAT

V.

KOORDINAT WILAYAH KP/IUP


PERGESERAN : WriDAK
- PERLUASAN :A/TIDAK
- WILAYAH TUMPANG TINDIH : A/TIDAK
- TUMPANG TINDIH KOMODITAS : SAMA/
VI. HASH EVALUASl: CNC/NON CNC
-

CNCATAU

NON CNC, PERMASALAHAN :

PERIZINAN

tUAS : \
NO SK'

tanggAlsk

WILAYAH

(HA)

t(YA/TIDAK); ;-%SE
v;

KETERANGAN

PENCADAN6AN WILAYAH
KP PU
KP EKSPLORASI

54TAHUN2008

24/11/2008

2.266

CAP BASAH

BERLAKU 3 TH S/D 23/11/2011

12 TAHUN 2010

2/02/2010

2.266

CAP BASAH

BERLAKU S/D 22/11/2015

KP EKSPLOITASI
lUP EKSPLORASI

lUPOPERASI PRODUKSI

JAKARTA,
EVALUATOR

(RIZKYNURHADI)

MENGETAHUI

/C{KASUBt>IT PWI)

MENGETAHUI

KASUBDIT PU BATUBARA)

MENGETAHUI

(KABAG HUKUM)