Anda di halaman 1dari 2

ABSTRAK

Seperti yang telah diketahui, pembayara merupakan kegiatan pokok yang selalu terjadi
dalam kegiatan ekonomi. Sistem pembayaran sendiri terbagi menjadi dua jenis yakni,
sistem pembayaran tunai dan sistem pembayaran non-tunai. Belakangan ini bermunculan
kasus-kasus korupsi yang melibatkan sistem pembayaran tunai salah satunya merupakan
kasus korupsi pembayaran Listrik, Air dan Telepon di RSUD Cilegon. Oleh karena itu,
peneliti melakukan studi mengenai keterkaitan kasus tersebut dengan sistem pembayaran
tunai dan sistem pembayaran non-tunai. Dalam karya tulis ilmiah ini metode penulisan
yang penulis gunakan adalah studi literatur atau kajian pustaka. Berdasarkan hasil dari
studi ini, penulias dapat menyimpulkan bahwa sistem pembayaran tunai memiliki resiko
lebih besar dibanding dengan sistem pembayaran non-tunai. Seperti yang terjadi pada
kasus korupsi RSUD Cilegon, adanya bukti pembayaran yang mudah dipalsukan
merupakan kelemahan sistem pembayaran tunai. Hal-hal seperti ini dapat diminimalisir
dengan menggunakan sistem pembayaran non-tunai. Oleh karena itu Bank Indonesia
sebagai otoritas sistem pembayaran yang memiliki tugas untuk mewujudkan sistem
pembayaran yang aman, efisien, dan lancar dengan memperhatikan aspek perluasan akses
dan perlindungan konsumen mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).

Referensi :
http://sebelasnews.com/hari-ini-sidang-perdana-korupsi-pembayaran-airlistrik-dantelepon-di-rsud-cilegon.html
http://www.bpn.go.id/Publikasi/Inovasi/Layanan-Non-Tunai
http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_165814.aspx
Kelompok :
Rizki Rachmadia (2012)
Nur Laily (2013)
Muara (2014)