Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FORMULASI KOSMETIKA

ALCOHOL HANDSANITIZER GEL

KELOMPOK : A.2.B
ANGGOTA:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Inamas Ike Agustina


Khalimatus Sadiyah
Lia Fitriyani
Lidya Putri Apriyanti
Mentari
Mutiara Muhdianti

AKADEMI FARMASI MUHAMMADIYAH


CIREBON
2015

I.

Tujuan
Mengetahui langkah-langkah cara pembuatan sediaan gel yang baik dan tepat.

II.

Manfaat
a. Dapat memahami langkah-langkah dalam pembuatan sediaan gel.
b. Untuk mengetahui kriteria gel yang baik.
c. Untuk dapat mengaplikasikan di dunia kerja.

III.

Teori sediaan yang dibuat :


Definisi Gel
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, gel kadang-kadang disebut jeli, merupakan

sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau
molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
Menurut Formularium Nasional, gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa
suspensi yang dibuat dari zarah kecil senyawa anorganik atau makromolekul senyawa
organik, masing-masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan.
Menurut Ansel, gel didefinisikan sebagai suatu system setengah padat yang terdiri
dari suatu disperse yang tersusun baik dari partikel anorganik yang terkecil atau molekul
organic yang besar dan saling diresapi cairan.
Penggolongan Gel
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV penggolongan sediaan gel dibagi menjadi dua
yaitu:
1. Gel sistem dua fase
Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar , massa gel
kadang-kadang dinyatakan sebagai magma misalnya magma bentonit. Baik gel maupun
magma dapat berupa tiksotropik, membentuk semipadat jika dibiarkan dan menjadi cair pada
pengocokan.Sediaan harus dikocok dahulu sebelum digunakan untuk menjamin homogenitas.
2. Gel sistem fase tunggal
Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar sama dalam suatu cairan
sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan
cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik misalnya karboner atau dari
gom alam misanya tragakan.
Keuntungan dan Kekurangan Gel
Keuntungan dan kerugian menurut Lachman, 1994 :
A. Keuntungan sediaan gel
Untuk hidrogel: efek pendinginan pada kulit saat digunakan, penampilan sediaan yang
jernih dan elegan, pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus

pandang, elastis, mudah dicuci dengan air, pelepasan obatnya baik, kemampuan
penyebarannya pada kulit baik.
B. Kekurangan sediaan gel
Untuk hidrogel: harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga diperlukan
penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih pada berbagai
perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang ketika berkeringat,
kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal.
Kegunaan Gel
Kegunaan sediaan gel menurut Lund,1994 di bagi menjadi empat seperti:
1. Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral, dalam bentuk
sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk
bentuk sediaan obat longacting yang diinjeksikan secara intramuskular.
2. Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi tablet, bahan
pelindung koloid pada suspensi, bahan pengental pada sediaan cairan oral, dan basis
suppositoria.
3. Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik, termasuk pada
shampo, parfum, pasta gigi, kulit dan sediaan perawatan rambut.
4. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non streril) atau
dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril).
Sifat dan Karakteristik Gel
Menurut Lachman, dkk. 1994 sediaan gel memiliki sifat sebagai berikut:
Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert, aman dan tidak
bereaksi dengan komponen lain.
Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang baik selama
penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan kekuatan atau daya yang
disebabkan oleh pengocokan dalam botol, pemerasan tube, atau selama penggunaan topical.
1.Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang diharapkan.
2.Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM besar dapat
menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau digunakan.
3.Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga pembentukan gel terjadi
setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Contoh polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut
hanya pada air yang dingin yang akan membentuk larutan yang kental dan pada peningkatan
suhu larutan tersebut akan membentuk gel.
4.Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut
thermogelation.
Klasifikasi Gel :
1. Berdasarkan bahan pembentuk :

a. Senyawa organic
b. Senyawa anorganic
2. Berdasarkan pelarut :
a. Hidrogels, pelarutnya H2O
b. Organogels, pelarutnya etanol
Sediaan gel umumnya memiliki karakteristik tertentu, yakni (disperse system, vol 2 hal
497):
1. Swelling
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorbsi larutan
sehingga terjadi pertambahan volume. Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel
dan terjadi interaksi antara pelarut dengan gel. Pengembangan gel kurang sempurna
bila terjadi ikatan silang antar polimer di dalam matriks gel yang dapat menyebabkan
kelarutan komponen gel berkurang.
2. Sineresis
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel. Cairan yang
terjerat akan keluar dan berada di atas permukaan gel. Pada waktu pembentukan gel
terjadi tekanan yang elastis, sehingga terbentuk massa gel yang tegar. Mekanisme
terjadinya kontraksi berhubungan dengan fase relaksasi akibat adanya tekanan elastis
pada saat terbentuknya gel. Adanya perubahan pada ketegaran gel akan
mengakibatkan jarak antar matriks berubah, sehingga memungkinkan cairan bergerak
menuju permukaan. Sineresis dapat terjadi pada hidrogel maupun organogel.
3. Efek suhu
Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Gel dapat terbentuk melalui penurunan
temperatur tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu
tertentu. Polimer seperti MC, HPMC, terlarut hanya pada air yang dingin membentuk
larutan yang kental. Pada peningkatan suhu larutan tersebut membentuk gel.
Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan
disebut thermogelation.
4. Efek elektrolit
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik dimana
ion berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut yang ada dan koloid
digaramkan (melarut). Gel yang tidak terlalu hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit
kecil akan meningkatkan rigiditas gel dan mengurangi waktu untuk menyusun diri
sesudah pemberian tekanan geser. Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan
adanya sejumlah konsentrasi ion kalsium yang disebabkan karena terjadinya
pengendapan parsial dari alginat sebagai kalsium alginat yang tidak larut.
5. Elastisitas dan rigiditas

Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan nitroselulosa, selama
transformasi dari bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas dengan
peningkatan konsentrasi pembentuk gel. Bentuk struktur gel resisten terhadap
perubahan atau deformasi dan mempunyai aliran viskoelastik. Struktur gel dapat
bermacam-macam tergantung dari komponen pembentuk gel.
6. Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang terflokulasi
memberikan sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan menunjukkan jalan aliran non
newton yang dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan peningkatan laju aliran.
Evaluasi Sediaan
1. Organoleptis
Evaluasi organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau, warna, tekstur
sedian, konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek responden (dengan kriteria tertentu)
dengan menetapkan kriterianya pengujianya (macam dan item), menghitung prosentase
masing-masing kriteria yang di peroleh, pengambilan keputusan dengan analisa statistik.
2. Homogenitas
3. Viskositas
Viskositas diukur dengan menggunakan bantuan viscometer Brookfield. Bahan
handsanitizer dimasukkan ke dalam beaker gelas dan ujung viskometer dimasukkan ke dalam
sediaan dan diukur nilai viskositasnya. Pengukuran dilakukan dengan 3x pengujian.
4. pH
Sebanyak 5 gram gel dilarutkan dengan aquades hingga 50 ml (larutan sampel gel
10% b/v). Elektroda pada pH meter dicuci terlebih dahulu dengan aquades selanjutnya di
kalibrasi pada larutan standart pH 4 dan pH 7. Elektroda yang telah dikalibrasi dicelupkan ke
sampel dan diketahui angka yang ditunjukkan pada pH meter
5. Ukuran partikel
Dilakukan dengan mengoleskan gel pada objek gelas bersih kemudian ditutup dengan
cover glass, kemudian diamati menggunakan mikroskop. Diamati pada beebrapa bagian
apakah menunjukkan ukuran yang sama atau berbeda jauh (Lachman, et. al., 1994).
6. Uji konsistensi
Dilakukan dengan mengamati perubahan konsistensi dari sediaan gel yang dibuat
apakah terjadi pemisahan antara bahan pembentuk gel denganpembawanya yaitu air.
Pengujian konsistensi menggunakan pengujian centrifugal test dimana sampel gel
disentrifugasi pada kecepatan 3800 rpm selama 5 jam kemudian diamatiperubahan fisiknya
(Djajadisastra, 2009).

7. Daya sebar
Gel ditimbang sebanyak 0,5 g kemudian diletakkan ditengah kaca bulat berskala. Di
atas geldiletakkan kaca bulat lain atau bahan transparan lain dan pemberat sehingga berat
kaca bulat dan pemberat 150 g, didiamkan 1 menit, kemudian dicatat diameter
penyebarannya. Daya sebar gel yang baik antara 5-7 cm (Garget al., 2002).
8. Uji stabilitas
Gel disimpan pada suhu 40C, 25C, 45C di kulkas, suhu ruang, oven selama 30 hari hal
ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu dan kelembapan. Dari hasil penyimpanan ini,
diamati parameter fisikanya (Ramane at al, 2013).
IV.
PRA FORMULASI
A. Carbopol (HPE 5 p. 111)
Pemerian : berwarna putih, asam, bubuk hidroskopis dengan bau yang khas sedikit
Kelarutan : larut dalam air, dan setelah netralisasi larut dalam etanol 95% dan gliserin
Konsentrasi : 0,2%
Fungsi : gelling agent
B. Propilenglicolum (HPE 5 p.624)
Pemerian
: cairan jernih, kental, tidak berwarna, tidak berbau, rasa sedikit manis
Kelarutan
:
Konsentrasi : 0,25%
Fungsi
: Humektan
C. Etanol 96% (HPE 5 p.18)
Pemerian
: cairan jernih, tidak berwarna, mudah menguap dengan bau khas
Kelarutan
: campur dengan CHCl3 , eter, gliserin, air.
Konsentrasi : 40%
Fungsi
: sanitizer
D. Glycerin
Pemerian
: cairan jernih, kental, tidak berwarna, rasa manis
Kelarutan

: dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidak larut dalam

kloroform, dalam eter dalam minyak lemak dan dalam minyak menguap.
Fungsi

: humektan sehingga dapat sebagai pelembap kulit

E. Trietanolamine (TEA) (HPE 6th, hal 754)


Pemerian
: Cairan jernih, kental, tidak berwarna hingga kuning pucat, sedikit
berbau seperti amoniak
Kelarutan
: bercampur dengan aseton, dalam benzene 1:24, larut dalam
kloroform, bercampur dengan etanol.
Konsentrasi :2%
Fungsi
: Emulsifying agent
F. Oleum Citri
Pemerian
: cairan kuning pucat atau kuning kehijauan, bau khas, rasa pedas, agak
pahit

Kelarutan

: larut dalam 12 bagian volume etanol 90% larutan agak beropalesensi,

dapat bercampur dengan etanol mutlak.


Konsentrasi : 4%
Fungsi
: pewangi
V.

FORMULA
NO
1
2
3
4
5
6

Nama Bahan
Carbopol
Propilenglikol
Etanol 96%
Gliserin
TEA
Oleum Citri
Instruksi: Buat dalam 500 gram
Perhitungan
Carbophol
: 0,2

Junmlah (%)
0,2
0,25
40
0,15
2
4

propilenglikol

Etanol 96%

Gliserin

TEA

Oleum Citri

VI.

PROSEDUR KERJA
1. Dispersikan carbopol pada 100 ml aquadest panas didalam beacker glass. Biarkan

x 500 = 1
100
: 0,25 x 500 = 1,25
100
: 40 x 500 = 200
100
: 15 x 500 = 0.75
100
: 2 x 500 = 10
100
: 4 x 500 = 20
100

selama 30 menit. Setelah itu kocok lambat dengan homogenizer kecepatan 50


2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

rpm.
Tambahkan Propilenglicolum
Tambahkan Gliserin
Tambahkan etanol sedikit demi sedikit hingga setengahnya
Tambahkan Trietanolamine dengan kecepatan 75 rpm
Tambahkan oleum citri
Tambahkan sisa etanol
Masukan kedalam kemasan

VII.

LABEL KEMASAN

VIII.

FOTO HASIL SEDIAAN

IX.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI, 1989, Materia Medika Indonesia Jilid IV,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV,


Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Lachman L, Herbert A.L., Joseph L.K., 2008, Teori Dan Praktek
Farmasi Industri II edisi ketiga, UI-Press, Jakarta.
Rowe R.C., Sbeskey P.J., and Owen S.C., 2006, Handbook Of
Pharmaceutical

Exipients.

Pharmaceutical

Press,

American

Pharmaceutical Association, 5th edition.


Lund, Walter, 1994, The Pharmaceutical Codex, 12 th edition.,
Principle and Practice Of Pharmaceutics, The Pharmaceutical Press,
London.