Anda di halaman 1dari 23

HIDROLISA PATI (STARCH) MENJADI GLUKOSA

TUJUAN
o Melakukan proses hidrolisa pati (starch) dengan menggunakan katalisator Asam
Klorida (HCl)
o Melakukan analisa glukosa hasil hidrolisis secara kualitatif

II

DASAR TEORI
Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh penduduk dunia,

khususnya bagi penduduk negara sedang berkembang. Walaupun jumlah kalori yang dihasilkan
oleh satu gram karbohidrat hanya 4kkal bila dibandingkan protein dan lemak, karbohidrat
merupakan sumber kalori yang murah. Selain itu, beberapa golongan karbohidrat menghasilkan
serat-serat fiber yang berguna bagi pencernaan.
Di samping merupakan sumber energi bagi makhluk hidup, senyawa-senyawa karbohidrat
mempunyai kegunaan yang luas dalam bidang industri, misalnya pada pembuatan serat pakaian,
kertas film, industri fermentasi, industri gula, dan sebagainya.
Karbohidrat juga mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan
makanan, misalnya rasa, warna, tekstur, dan lain-lain. Sedangkan di dalam tubuh, karbohidrat
berfungsi untuk mencegah timbulnya ketosis, pemecahan protein tubuh yang berlebihan,
kehilangan mineral, dan berguna untuk membantu metabolisme lemak dan protein.
Pada tanaman, karbohidrat dibentuk dari reaksi CO2 dengan H2O dengan bantuan sinar
matahari melalui proses fotosintesis di dalam sel tanaman yang berklorofil. Karbohidrat bisa di
sintesis secara kimia, misalnya pada pembuatan sirup formosa dengan penambahan larutan alkali
encer pada aldehida.
Cara yang lebih mudah dan murah untuk mendapatkan karbohidrat adalah dengan
mengekstraknya dari bahan-bahan nabati sumber karbohidrat, yaitu serelia, sagu, beras, dan
umbi-umbian, misalnya ketela pohon.

Pada umumnya karbohidrat dikelompokkan menjadi monosakarida, oligosakarida, dan


polisakarida. Monosakarida merupakan suatu molekul yang dapat terdiri dari 5 atau 6 atom C,
sedangkan oligosakarida merupakan polimer terdiri dari 2-10 monosakarida, dan pada umumnya
polisakarida mempunyai lebih dari 10 monomer monosakarida.
Senyawa-senyawa monosakarida dan oligosakarida berbentuk kristal, larut dalam air, serta
memiliki rasa manis. Sedangkan senyawa-senyawa polisakarida berbentuk serbuk atau amorf,
tidak larut dalam air, dan tidak berasa (tawar).
Polisakarida merupakan polimer molekul-molekul monosakarida yang dapat berupa rantai
lurus atau bercabang dan dapat dihidrolisis dengan enzim-enzim yang spesifik kerjanya. Hasil
hidrolisisnya sebagian akan menghasilkan oligosakarida dan dapat dipakai untuk menentukan
struktur polisakarida. Berat molekul polisakarida bervariasi sekitar 5000 sampai 500.000,
tergantung pada jumlah monomer monosakarida yang dikandungnya. Jenis-jenis polisakarida
yang penting antara lain : pati (amilum),glikogen, dan selulosa.
Pati, disebut juga amilum atau tepung dapat ditemukan dalam semua tumbuh-tumbuhan. Ia
tersimpan dalam semua buji dan umbi. Oleh karena pati mudah terhidrolisis menghasilkan
glukosa-glukosa, maka pati banyak digunakan sebagai bahan makanan pokok.
Hidrolisis pati atau polisakarida dalam bidang keilmuan merupakan langkah awal untuk
mengetahui struktur molekul dari polisakarida yang diinginkan. Hidrolisis pati dengan sejumlah
larutan asam (suasana asam) akan menghasilkan unit-unit monosakarida.
Reaksi hidrolisis pati dalam suasana asam berlangsung menurut reaksi sebagai berikut :
(C6H10O5)n +nH2O

HCl

nC6H12O6

Untuk mempercepat jalannya hidrolisis pati, dibutuhkan suatu katalis HCl. Jalannya proses
hidrolisis pati tapioka secara kimiawi dengan menggunakan katalis HCl sangat berkaitan erat
dengan mekanisme kerja dari katalis itu sendiri. Secara mikro, mekanisme kerja katalis dapat
dijelaskan sebagai terjadinya tumbukan antar elektron yang mengakibatkan adanya perubahan
konfigurasi elektron sehingga didapat unsur baru yang pada akhirnya menghasilkan senyawa
baru.

Reaksi dan mekanisme kerja katalis HCl dalam menghidrolisis pati menjadi glukosa dapat
dituliskan sebagai berikut :
CH2OH

CH2OH
H
RO

O H
H

RO

H OR

OH

O H

H+

H
OH

O+

H
H

OH

OH

Pati
CH2OH
H
RO

CH2OH
O
+

H
OH

H + ROH

H2O

RO

O H

- H+

H
OH

O+

H
H

OH

CH2OH
H
RO

OH

O H
H
OH

H OH

OH

Glukosa

Hidrolisis dengan menggunakan asam menyebabkan gelatinasi sempurna dari semua pati,
dan menghasilkan hidrolisat yang mudah disaring. Akan tetapi didapat juga produk reverse yaitu
garam-garam dan timbulnya warna akibat kerja katalitik yang tidak spesifik. Pati yang derajat
kemurnianya kurang, mengandung kontamin protein yang akan ikut terhidrolisis bila digunakan
asam, hal ini merupakan penyebab timbulnya warna coklat pada produk.

Faktor-faktor yang berpengaruhterhadapreaksihidrolisa :


1 Katalisator
Hampir semua reaksi hidrolisa memerlukan katalisator untuk mempercepat jalannya
reaksi. Katalisator yang dipakai dapat berupa enzim atau asam sebagai katalisator, karena
kerjanya lebih cepat.Asam yang dipakai beranekaragam mulai dari asam klorida (Agra
dkk, 1973; Stout & Rydberg Jr., 1939), Asam sulfat sampai asam nitrat.
2

Suhudantekanan
PengaruhsuhuterhadapkecepatanreaksimengikutipersamaanArhenius.

Semakin

tinggisuhu, maka semakincepatjalannyareaksi.


3

Pencampuran (pengadukan)
Supayazatpereaksidapatsalingbertumbukandengansebaik-baiknya,
makaperluadanyapencampuran.Untuk

proses

batch,

halinidapatdicapaidenganbantuanpengadukataualatpengocok (Agra dkk,1973).


4

Perbandinganzatpereaksi
Kalausalahsatuzatpereaksiberlebihanjumlahnya,
makakeseimbangandapatmenggeserkesebelahkanandenganbaik.Olehkarenaitu,
suspensipati

yang

kadarnyarendahmemberhasil

yang

lebihbaikdibandingkankadarpatinyatinggi.

Perkembangan Hidrolisis Pati


Proses hidrolisis pati dalam suasana asam pertama kali ditemukan oleh Kirchoff pada tahun
1912, namun produksi secara komersial mulai terjadi sejak tahun 1950. Pada proses ini sejumlah
pati diasamkan hingga pH 2 kemudian dipanaskan dengan uap pada tanki bertekanan pada suhu

120 140oC. Derajat konversi yang diperoleh bergantung pada konsentrasi asam, waktu
konversi, suhu, dan tekanan selama reaksi.
Beberapa

ilmuwan

mencoba

mengembangkan

parameter-parameter

reaksi

guna

mendapatkan hasil reaksi yang lebih baik dan lebih efisien, misalnya, merekomendasikan untuk
menghidrolisis pati dengan HCl atau asam sulfat pada suhu 100 oC paling lama selama 75 menit.
Percobaan ini dikembangkan lagi olewh Somogy dengan cara menentukan parameter
konsentrasinya. pada penemuannya diketahui bahwa campuran antara 0,5 % larutan pati dengan
larutan H2SO4 4N pada suhu 100 oC selama 75 menit dapat menghasilkan 96% D-glukosa.
Sementara itu, Bourne menemukan bahwa hidrolisis pati dengan asam oksalat 1gr/cm 3 pada suhu
100oC selama 4 jam akan menghasilkan glukosa sebagai produk utama.
Hidrolisis tapioka (hasil ekstraksi di pabrik pengolahan tepung tapioka) dapat digunakan
saebagai bahan baku pembuatan glukosa (sirup glukosa). Hidrolisis tapioka secara sam
sebenarnya merupakan proses likuifaksi tapioka, yakni berupa pemutusan ikatan rantai-rantai
molekul pati yang lemah sehingga perolehan glukosanya belum maksimal.
Hidrolisis dengan menggunakan asam sudah sejak lama berusaha digantikan dengan
menggunakan enzim. Enzim bekerja secara spesifik sehingga diharapkan bahwa kandungan
bahan penyususn glukosa yang dihasilkan dapat diatur perbandingannya saesuai dengan
sp[esifikasi yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Contoh enzimnya : P-amilase, glokoamilase,
dan lain-lain.
Sirup glukosa adalah sejenis larutan yang amat kental dihasilkan dari hidrolisis pati dengan
menggunakan katalisator asam, enzim, atau gabungan keduanya. Kandungan bahan gula
pereduksi diukur sebagai ekivalen dari glukosa (DE) berkisar antara 18 73%, tergantung pada
dosis enzim yang diberikan, lamanya proses, dan keinginan konsumer. Kandungan sakarida
dalam sirup (umumnya disebut sprektrum gula) sangat bervariasi, terdiri dari glukosa, maltosa,
iso amilosa, dekstrin, dan oligosakarida lainnya.
Hidrolisis pati secara enzimatis merupakan proses sakarifikasi, yaitu proses pemutusan
seluruh rantai molekul pati sehingga didapatkan perolehan glukosa yang maksimal. Karena itu,
pada proses pembuatan glukosa secara asam biasanya diikuti oleh proses enzim dengan tujuan
agar produk yang dihasilkan benar-benar murni glukosa.

Proses hidrolisis lain yang mulai digunakan adalah hidrolisis secara mikrobiologi. Proses ini
terutama bertujuan untuk mengkonversikan pati menjadi glukosa dengan menggunakan
mikroorganisme tertentu dari golongan jamur, yaitu jenis Rhizopus delemar atau Rhizopus
boulard. Proses secara mikrobiologi dibagi dalam 4 tahap, yaitu tahap di laboratorium, pilot
plant pertama, pilot plant kedua, dan tahap pemurnian.
Selain ketiga cara di atas, proses hidrolisis dapat juga dilakukan secara basa, tetapi produk
yang dihasilkan bukan glukosa, melainkan saccharinate (sakarin), salah satu zat pemanis sintesis.
Pada proses secara asam, larutan berfungsi sebagai katalis, tetapi pada proses basa, larutan basa
ikut sebagai pereaksi bersama pati.
Jika basa yang digunakan adalah NaOH maka terbentuk natrium sakarin, jika yang
digunakan Ca(OH)2, maka produknya adalah kalsium sakarin. Reaksi pembentukan sakarin akan
menjadi lambat jika dalam pereaksi terdapat oksigen terlarut, karena adanya oksigen ini akan
terbentuk asam-asam volatile seperti asam asetat dan asam format.

III

PERCOBAAN

3.1 Alat
No.

Alat

Spesifikasi

1.

Neraca Analitik

2.

Penangas Air

3.

Thermometer

4.

Gelas Kimia 500 ml, 1000 ml

5.

Gelas Ukur 250 ml

6.

Pipet Ukur 5 ml

7.

Pipet Tetes

8.
9.
10.

Bola Hisap
Batang Pengaduk
Tabung Reaksi dan Rak Tabung

1
1
12 & 1

3.2 Bahan
No.

Bahan

Spesifikasi

1.

Pati Ketela Pohon

36 gr

2.

HCl 25%

10 ml

3.

Reagen Benedict

15 ml

4.

Indikator PH

5.

Aquadest

200 ml

6.

Glukosa

5 gr

7.

Yodium

3.3 Prosedur Kerja


A. Proses Hidrolisis Pati
Menimbang
Pati36 gram2
Aquades200
mL 2,5
Menambahkan
Menambahkan
1 mlIodium
untuk Pada
uji
1 ml untuk uji
tetes
Mengambil 2mlmL
patiLarutan Benedict
Larutan HCl 15% Mengamati
amilum
didalam
glukosa
didalam
Hasil
Mengamati
Hasil
setiap
larutan
sampel
Pada
setiap
larutan
setiap
10
menit
Reaktor
Proses
Terbentuk
(Peralatan
Pengadukan
Gelatin
Refluks)
tabung
reaksi
tabung
reaksi
sebanyak 10 mL
Pengujian
Pengujian
sampel

Proses
Aduk
sampai
pemanasan
homoge
Memanaskannya
selama 5
n
menit
pada suhu
94C

Benedict 2,5 ml

B. Analisa Glukosa dengan larutan Benedict

Tempatkan dalam penangas air yang mendidih sela

Biarkan dingin, amati perubahan warna

C. Analisa Amilum dengan larutan yodium

Yodium

Teteskan 2 tetes Iodin pada setiap tabung reaksi yang

Biarkan, amati
Menilai hasil uji :
Negatif

keruh.
0.5-1% glukosa
1-1.5% glukosa
2-3.5% glukosa
> 3.5 glukosa

: Tetap biru jernih / sedikit kehijau-hijauan dan agak


: Hijau kekuningan dan keruh
: Kuning keruh
: jingga atau warna lumpur keruh
: Merah keruh

IV

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


4.1 Persiapan
Bahan

Volu

Konsent

Massa

Rum

Indeks

Bera

me

rasi

molekul

us

bias

1,639

Pati

200

HCl

ml
10 ml

18% (b/v)

162

kimia
C6H10

15% (b/v)

gr/mol
36

O5
HCl

jenis
0,938
gr/ml

1,5410

2,13
gr/ml

Glukos

1 ml

10 %

192

C6H12

1,341

1.540
0

O6

g/cm3

4.2 Data Pengamatan

NO.
1.

2.

PROSEDUR
Pati ditambahkan

HASIL PENGAMATAN
Larutan pati keruh berubah menjadi

Aquadest +

gelatin karena proses refluks yang

panaskan dalam

dilakukan diatas penangas air dengan

reaktor T=940C

system pengadukan.

Larutan 1 + HCl

Gelatin menjadi cair setelah ditambahkan larutan HCl 15% 10 ml

25 %, proses

dengan warna larutan menjadi sedikit kuning

refluks dilakukan

60 menit

3.

12 mL pati yang

warna pati yang sudah di hidrolisis pada setiap t nya (t1-t6)

sudah di

adalah putih keruh

hidrolisis diambil
sebagai sampling
(6ml amilum dan
6ml glukosa)
setiap 10 menit
pada proses
4.a.

selama 60 menit
Uji amilum

Larutan berubah warna menjadi cokelat tua sampai cokelat

6 mL Pati + 1

bening.

tetes Yodium

4.b.

Uji glukosa

Larutan bening berubah warna menjadi biru.

6 mL pati + 2,5

Larutan dimasukkan dalam air mendidih, terjadi perubahan warna

mL Benedict

dari biru menjadi hijau


kecokelatan. Perubahan warna

terjadi

lebih dulu pada beberapa


pengambilan terakhir pati.
Perubahan warna terjadi secara
menyeluruh menjadi dominan cokelat setelah beberapa menit di
dalam air mendidih. Masih terdapat larutan dengan warna
campuran hijau.

Pemanasan 3 menit

pemanasan 5 menit

4.3 Analisis kualitatif dan Kuantitatif


4.3.1 Analisa Kualitatif
Waktu

Benedict

(menit)
10

Iodium

Merah

Ungu tua kehitaman (++)

bata (+
+)

20

Merah

Ungu tua kehitaman (+++)

bata (+
++)

30

Merahbata

Ungu tua kehitaman (++++)

bata (++
++)

40

Merah bata
kecoklatan keruh (+

Coklat

tua (++)

+)

50

Merah

Coklat kemerahan (+++)

bata

kecoklatan keruh (++


++)

60

Merah
kecoklatan

Coklat muda bening/ air teh


(++

+)

keruh (++
+++)

Berdasarkan analisa kuantitatifg yang dilakukan dengan samplingh setiap 10 menit


selama 60. Pada sampel terakhir (t-6) didapat hasil sebagai berikut :
Uji benedict : merah kecoklatan keruh
Kadar glukosa >3,5 %
Uji iodin
: coklat bening/ seperti air teh
Kadar karbohidrat sebelum hidrolisis dibuktikan dengan warna ungu kehitaman,
setelah hidrolisa pati telah terhidrolisis menjadi monosakarida karena warna
menjadi coklat setelah ditetesi iodin.
4.3.2

Analisa Kuantitatif
4.3.2.1 Analisa Kuantitatif %glukosa dengan katalis HCl 15%
No

% Glukosa

% brix

Indeks bias

1
2
3
4
5
6
7
9

2%
3,2%
4%
4,8%
20%
30%
40%
Sampel

1.2
2.7
3.8
4.5
13.6
24.5
38.1
18

1.3338
1.3365
1.3375
1.3395
1.3598
1.3701
1.3921
1.3606

kurva standar %glukosa Vs Indeks Bias


1.4
1.39
1.38

f(x) = 0.14x + 1.33

1.37
Y-Values

1.36

Linear (Y-Values)

1.35
1.34
1.33
1.32
1.31
1.3
0%

5%

10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 45%


20.35
%

y = 0.1435x + 1.3314
indeks bias = y=1.3606
1.3606
= 0.1435x + 1.3314
1.3606-1.3314 = 0.1435x
X
= 20.35%

kurva standar %glukosa Vs %Brix


45
40
35
30

%bri
x
f(x) = 89.87x - 0.72
Y-Values

25

Linear (Y-Values)

20
15
10
5
0
0%

%
5%

10% 15% 20% 25%


20. 30% 35% 40% 45%

Mencari %glukosa
y = 89.868x - 0.7233
%brix = y=18
18
= 89.868x - 0.7233
18 + 0.7233 = 89.868x
X
= 20.83%

glukosa

83

Berdasarkan interpolasi dari grafik %glukosa vs indeks bias, % glukosa adalah 20.35%
dan %glukosa vs %brix, %glukosa adalah 20.83%. Sehingga, %glukosa rata-rata dari ke
dua grafik adalah 20.6%

4.3.2.2 Analisa Kuantitatif %glukosa dengan HCl 25%

PEMBAHASAN
Nama : Rita Inayah
NIM : 131424025

Pada percobaan kali ini yaitu melakukan

Hidrolisa Pati (Starch) yang menghasilkan

produk Glukosa dengan penambahan katalis asam klorida (HCl). Proses hidrolisis dilakukan
dalam reaktor refluks dalam penangas air dengan suhu 94 oC. Produk glukosa yang dihasilkan
diamati dalam rentang waktu 10 menit selama 60 menit yang kemudian diuji seberapa besar
produk glukosa yang dihasilkan dan amylum yang masih tersisa dalam rentan waktu tertentu.
Bahan baku yang digunakan pada proses hidrolisis adalah Pati (amylum). Dimana Pati atau
amilum adalah karbohidrat kompleks yang di hasilkan oleh tumbuhan,dimana di dalamnya
terkandung kelebihan glukosa. Pati atau Amilum tergolong kedalam kelompok polisakarida
sehinga pati atau amilum tersebut bisa di hidrolisis menjadi glukosa yang merupakan
monosakarida.Hidrolisis merupakan reaksi pengikatan gugus hidroksil / OH oleh suatu senyawa,
dimana gugus OH dapat diperoleh dari senyawa air.Hidrolisis pati terjadi antara suatu reaktan
pati dengan reaktan air dengan sistem endoterm atau memerlukan kalor.

Proses hidrolisis menjadi glukosa, Amilum di hidrolisis menghasilkan maltose kemudian


maltose di hidrolisis menghasilkan dua satuan glukosa.Pada Hidrolisis ini memerlukan
katalisator untuk mempercepat jalannya reaksi.Katalisator yang dipakai dapat berupa enzim atau
asam sebagai katalisator, karena kerjanya lebih cepat.Katalisator yang di gunakan pada hidrolisis
kali ini adalah Asam yaitu asam klorida (HCl),yang berpengaruh terhadap kecepatan reaksi
adalah konsentrasi ion H, bukan jenis asamnya.
Reaksi yang terjadi adalah :
(C6H10O5)n + n/ 2 H2O
Amilum Maltose

n/ 2 C12H22O11
Maltose

C12H22O11 + H2O

C6H12O6 + C6H12O6

Maltose

Glukosa

Glukosa

Selain katalisator, factor yang mempengaruhi proses hidrolisis pati adalah suhu, pencampuran
( pengadukan ) dan zat pereaksi.

Suhu pada proses hidrolisis pati ini sangat mempengaruhi kecepatan reaksi yang
mengikuti persamaan Arhenius, semakin tinggi suhu maka semakin cepat jalannya reaksi.
Agar menghadilkan glukosa yang sempurna pada proses ini maka suhu harus tetap stabil

set T=94oC selama 30 menit dengan menggunakan penangas air.


Pengadukan dan penggunaan katalis. Proses pengadukan bertujuan agar terbentuk
campuran yang homogen dan tidak terdapat gumpalan pati yang tersisa, dikarenakan pati
sedikit sukar larut dalam air dan sering terbentuk lagi endapan. Penggunaan katalis
bertujuan untuk mempercepat reaksi hidrolisis sehingga menimbulkan terjadinya
tumbukan antar elektron partikel-partikel pati sehingga didapat unsur baru lalu senyawa
baru yaitu glukosa. Katalis yang digunakan Asam Klorida dapat mempercepar proses
reaksi. Selain itu penambahan katalis juga bertujuan untuk memutuskan rantai pada pati,
untuk membuat larutan dalam suasana asam, dan menyebabkan gelatinasi sempurna dari
semua pati dan menghasilkan hidrolisat yang mudah terpisah dari air.

kemudian menganalisa produk yang dihasilkan pada proses hidrolisis ini. Dengan adanya 12
sampel hasil dari pengambilan setiap 10 menit. Larutan sampel tersebut dibagi kedalam 2 bagian
tabung reaksi masing-masing 6 tabung reaksi, uji amilum kualitatif dengan yodium dengan 1 ml
glukosa dan uji glukosa (sampel) dengan penambahan benedict masing-masing tabung 2,5 ml
yang kemudian dipanaskan.
Pengujian dengan iodine berfungsi untuk menganalisa, apakah masih terdapat pati dalam
larutan hasil hidrolisa.Adanya pati dalam larutan hidrolisa dapat teridentifikasi dengan
terbentuknya warna biru pada larutan. Pembentukan warna biru ini disebabkan oleh struktur
molekul pati yang berbentuk spiral yang akan mengikat molekul iodin sehingga terbentuk warna
biru. pati akan merefleksikan warna biru bila polimer glukosa lebih besar dari dua puluh.
Pengujian dengan larutan benedict berfungsi untuk menganalisa berapa besar glukosa yang
dihasilkan dalam proses hidrolisis ini. Pada saat sebelum dipanaskan dalam penangas larutan
tetap berwarna biru, warna biru berasal dari pereaksi Benedict.Setelah dipanaskan pada
penangas, warna biru dari larutan Benedict berubah menjadi kecoklat yang kemudian pada 5
menit terakhir berubah menjadi warna merah bata.Perubahan warna dari biru menjadi keruh
lebih cepat terjadi pada larutan yang paling lama mengalami hidrolisa.Perubahan ini manandakan
adanya glukosa dengan konsentrasi lebih besar dari 3.5%. perubahan warna mejadi merah bata
keruh ini disebabkan oleh reduksi ion Cu 2+ dari larutan Benedict menjadi ion Cu + yang dalam
suasana basa menjadi Cu2O yang berwarna merah oleh gugus aldehid dari glukosa. Hal ini
menunjukan bahwa kandungan glukosa larutan hasil hidrolisis 3,5%.
Mekanisme reaksi hidrolisis:

Strach/amilum

HCl,dan T=940C

dextrose (monosakarida)

Pada analisa berat jenis dan Indeks bias glukosa yang di hasilkan dari
hidrolisa dan glukosa 5 % ,nilai berat jenis maupun indeks bias yang
dihasilkan tidak berbeda jauh .Untuk Indeks bias glukosa 5 % yaitu 1,660
sedangkan glukosa hasil hidrolisa adalah 1,673 .Untuk Berat jenis glukosa 5
% adalah 0,996 sedangkan glukosa hasil hidrolisa adalh 1,006 .Perbedaan
nilai indeks bias dan berat jenis yang tidak terlalu jauh tersebut menunjukan
bahwa glukosa yang dihasilkan pada percobaan kali ini konsentrasinya cukup

tinggi.Jika di bandingkan dengan pati yang tidak di hidrolisis maka nilai


Indeks bias dan berat jenisnya lumayan jauh dengan pati yang telah di
hidrolisis (glukosa )hasil hidrolisa,yaitu 1,639 untuk indeks bias dan 0,938
untuk berat jenis.Dengan demikian pati yang telah di hidrolisis tersebut telah
menjadi glukosa sehingga sifat fisik ataupun kimianya sama dengan glukosa
murni .
Nama: Wynne Raphaela
NIM : 131424027

Pada praktikum kali ini dilakukan hidrolisa pati (starch) menjadi glukosa. Hidrolisis
adalah reaksi kimia yang memecah molekul air (H2O) menjadi kation hidrogen (H+) dan anion
hidroksida (OH) dimana ion OH akan diikat oleh suatu senyawa yang dilakukan kali ini pada
suasana asam. Senyawa yang mengandung pati adalah amilum. Amilum mengandung
polisakarida yang dapat dihidrolisis menjadi banyak monosakarida (glukosa) dengan bantuan
katalis asam. Bahan baku yang digunakan pada proses hidrolisis adalah Pati (amylum).
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk dapat melakukan proses hidrolisa pati (starch)
dengan menggunakan katalisator Asam Klorida (HCl) dan dapat melakukan analisa glukosa hasil
hidrolisis secara kualitatif.
Proses hidrolisa dilakukan dalam reaktor refluks dengan suhu reaktor selama 60 menit
proses dipertahankan 94 oC. Amilum yang digunakan adalah sebanyak 36 gram amilum yang
dilarutkan dalam 200 ml air (18 % b/v). Katalis asam yang digunakan adalah HCl 15% sebanyak
10 ml. Selama proses refluks dilakukan sampling untuk mengetahui glukosa hasil hidrolisa setiap
10 menit. Setiap sampling diambil glukosa hasil hidrolisis sebanyak 2 ml dan dilakukan 6 kali
sampling. 1 ml sample diambil untuk uji benedict dan 1 ml sampel diambil untuk uji iodin.
Pada proses hidrolisis ini proses yang berlangsung adalah endoterm. Sehingga untuk
terbentuk produk harus ditambahkan kalor dari luar. Kalor didapat dari penangas parafin yang
dipanaskan pada suhu 120 oC. Dari pemanasan parafin pada suhu tersebut. Suhu rekator dapat
mencapai 94 oC yang merupakan suhu optimal dari reaksi ini sehinnga reaksi akan berlangsung
lebih cepat.

Reaksi hidrolisis pati menjadi glukosa dilakukan dalam suasana asam untuk

mempercepat jalannya reaksi, menurunkan energi aktivasi, memutuskan rantai pada pati

sehinnga mudah terurai menjadi glukosa dalam suasana yang. Asam yang digunakan adalah HCl
15% sebanyak 10 ml yang ditambahkan sedikit demi sedikit ketika pemanasan amilum pada
reaktor telah merubah amilum menjadi gelatin. Proses pengadukan juga mempengaruhi jalannya
hidrolisis. Kecepatan pengadukan akan membuat campuran menjadi homogen dan akan terjadi
tumbukan antar partikel pati dengan asam dan air sehingga pati dapat terurai menjadi glukosa.
Mekanisnme reaksi hidrolisis pati (starch) secara sederhana menjadi glukosa adalah, sebagai
berikut :
HCl

(C6H10O5)n + H2O n ( C6H12O6)


Pati

air maltosa

C6H12O6 + C6H12O6
glukosa

Setelah refluks selama 60 menit, proses dihentikan. Dan selanjutnya dilakukan analisa
kualitatif sampel. Analisa yang dilakukan adalah uji benedict dan uji iodin.
Uji benedict bertujuan untuk membuktikan adanya gula reduksi. Pengujian ini
berdasarkan gula yang mempunyai gugus aldehida atau keton bebas mereduksi ion Cu2+ dalam
suasana alakalis menjadi Cu+ yang mengendap sebagai Cu2O berwarna merah bata.Uji benedict
dilakukan dengan menambahkan 2,5 ml benedict paad masing-masing sampel. Kemudian sampel
dipanaskan selama 5 menit. Warna sampel yang telah dipanaskan menandakan adanya glukosa
dalam sampel. Pada sampel ke- 6 (t-60 menit) didapat sampel setalah ditambah benedict dan
dipanaskan menjadi warna merah coklat keruh (kandungan glukosa > 3,5 %).
Uji iodin selanjutnya dilakukan untuk membuktikan adanya polisakarida (amilum, glikogen,
dan dekstrin). Identifikasi ini didasarkan pada pembentukan kompleks adsorpsi berwarna
spesifik oleh polisakarida akibat penambahan iodin. Amilum atau pati dengan iodin
menghasilkan berwarna biru, dekstrin menghasilkan warna merah anggur sedangkan glikogen
dan sebagian pati terhidrolisis bereaksi dengan iodium membentuk warna merah coklat. Pada
pengujian menggunakan KI (Iodin) didapat glukosa hasil hidrolisis membentuk warna coklat

bening seperti air teh. Ini menandakan bahwa pati (amilum) telah terhidrolisis sempurna menjadi
glukosa.
Dilakukan juga analisa kualitatif fisik dari glukosa hasil hidrolisis. Pengujian indeks bias
dilakukan dan didapat indeks bias glukosa hasil hidrolisis 1,3606. Selanjutnya indeks bias yang
didapat diinterpolasikan ke dalam kurva standar dari indeks bias glukosa yang sudah diketahui
konsentrasinya. Didapat %glukosa hasil hidrolisis dengan katalis HCl 15% adalah 20.6 %.
Konsentrasi glukosa sebanyak 20.6% adalah dari HCl 15%, dengan kondisi operasi yang sama
hidrolisis menggunakan HCl 25% menghasilkan konsnetrasi glukosa (%). Hal ini disebabkan ().

VI

KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari praktikum hidrolisa pati (starch) menjadi glukosa adalah,
sebagai berikut :

Pati dapat dihidrolisi menjadi glukosa pada suhu operasi 94 oC dengan bantuan
katalis HCl 15% disertai pengadukan. Reaksi hidrolisnya adalah
C6H10O5)n + H2O n ( C6H12O6)
Pati

air

C6H12O6 + C6H12O6

maltosa

Analisa kualitatif glukosa adalah sebagai berikut:


a. Uji benedict
: merah kecoklatan keruh
Kadar glukosa >3,5 %
b. Uji iodin : coklat bening/ seperti air teh

glukosa

Kadar karbohidrat sebelum hidrolisis dibuktikan dengan warna ungu


kehitaman,

setelah hidrolisa pati telah terhidrolisis menjadi monosakarida

karena warna menjadi coklat setelah ditetesi iodin.


Indeks bias glukosa hasil hidrolisis 1,3606.
Kadar glukosa hasil hidrolisis dengan HCl 15% adalah 20,6%.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN