Anda di halaman 1dari 11

KEMOTAKSIS

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Egia Riska Fazrin


: B1J013048
:I
:2
: Tedi Septiadi

LAPORAN PRAKTIKUM BAKTERIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

A. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bakteri motil memiliki suatu sistem sensor yang berkembang baik dan
menyebabkannya dapat berhasil berkompetisi dalam lingkungan alaminya. Sistem
tersebut dapat mendetekasi perubahan konsentrasi senyawa kimia tertentu dan untuk
berpindah tempat mendekati (kemotaksis positif) atau menjauhi (kemotaksis negatif)
dari substansi, tergantung pada keadaan. Bakteri ditarik kepada beberapa senyawa kimia
yang berbeda, sebaian besar yang tersedia sebagai nutrien. Di sini tidak ada hubungan
antara metabolisme suatu senyawa kimia dan kemampuannya untuk menarik bakteri.
Meskipun sebagian besar bahan yang tidak diinginkan menyebabkan kemotaksis negatif,
bersifat racun, toxisitas tidak penting untuk suatu respon negative ( Gross,1995)
Kemotaksis merupakan metode yang baik dan dapat digunakan untuk mengikuti
gerakan bakteri dengan teknik mikroskopik dan fotomikrografik. Dalam keadaan tidak
ada stimulus bakteri berenang pada suatu garis lurus untuk beberapa detik dan
selanjutnya secara tiba-tiba, terlihat berguling-guling berbalik arah untuk beberapa saat
sebelum berenang ke suatu arah yang baru. Bakteri melakukan respon terhadap stimuli
senyawa kimia dengan perubahan pola normal berenang. Bakteri tidak sering bergulungguling ketika menghadapi peningkatan konsentrasi atraktan (senyawa kimia yang
menarik), dan akan lebih sering berguling-guling pada saat konsentrasi menurun.
Tanggapan dari perubahan konsentrasi tersebut adalah sementara; dalam hal ini bakteri
memiliki beberapa macam memori sehingga dapat membandingkan lingkungan yang
sudah dilewati dengan lingkungan yang ada dan untuk menginterpretasi sinyal tersebut
(Hastuti, 2002).
Pada kemotaksis bakteri, bakteri motil memiliki suatu sistem sensor yang
berkembang baik dan menyebabkannya dapat berhasil berkompetisi dalam lingkungan
alaminya. Sistem tersebut dapat mendetekasi perubahan konsentrasi senyawa kimia
tertentu dan untuk berpindah tempat mendekati (kemotaksis positif) atau menjauhi
(kemotaksis negatif) dari substansi, tergantung pada keadaan. Bakteri ditarik kepada
beberapa senyawa kimia yang berbeda, sebaian besar yang tersedia sebagai nutrien. Di
sini tidak ada hubungan antara metabolisme suatu senyawa kimia dan kemampuannya
untuk menarik bakteri. Meskipun sebagian besar bahan yang tidak diinginkan

menyebabkan kemotaksis negatif, bersifat racun, toxisitas tidak penting untuk suatu
respon negatif (Hastuti, 2002).

B. Tujuan
Mahasiswa mempelajari kemampuan khemotaksis bakteri Karena bakteri memiliki
flagella dan terstimuli oleh bahan yang bersifat sebagai attractant.

B. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah object glass besar, cover glass,
tabung kapiler dan mikroskop.
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah suspence E.coli, larutan
glukosa 0,1 M, akuades steril.
1.
2.
3.
4.

B. Metode
Dua tabung kapiler dibentuk huruf U sebanyak 2 buah.
Letakkan 2 tabung bentuk U pada object glass.
Teteskan sedikit suspence bakteri di tengah kedua ujung tabung bentuk U.
Satu tabung kapiler lainnya dicelupkan ke dalam larutan glukosa sehingga larutan
glukosa mengisi tabung tabung kapiler. Satu tabung kapiler lainnya dicelupakan ke

dalam akuades steril.


5. Letakkan tabung kapiler berisi larutan glukosa dan akuades steril pada area tengah
tabung U sehingga kontak dengan suspence bakteri.
6. Cover glass diletakkan di atas masing-masing tabung U sehingga terbentuk dua
ruang U dengan suspence bakteri dan tabung kapiler di dalamnya.
7. Secara hati-hati object glass dengan tabung U diletakkan pada meja mikroskop.
Diamati adanya kepadatan bakteri pada tabung kapiler yang berisi larutan glukosa
setiap 5 menit selama 1 jam. Hasil pengamatan dibandingkan dengan hal yang sama
pada tabung kapiler yang berisi akuades steril.
8. Hasil pengamatan dioelajari sebagai hasil pengujian kemampuan bakteri melakukan
khemotaksis terhadap larutan glukosa.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 1.Hasil Pengamatan Khemotaksis E. coli pada Larutan Glukosa 0,1 M
No. Waktu (menit ke)
Jenis Pergerakan
Jumlah Bakteri
1
5
Mendekati larutan
Smooth : 2

10

Mendekati larutan

Tumbling : Smooth : 1
Tumbling : 2

Tabel 2.Hasil Pengamatan Khemotaksis E. coli pada Akuades


No. Waktu (menitke-)
Jenis Pergerakan
Jumlah Bakteri
1
5
Menjauhilarutan
Smooth : 2

10

Menjauhilarutan

Tumbling : Smooth : Tumbling : 1

Tabel 3. Hasil Pengamatan Khemotaksis Rombongan I


No Kelompo WaktuKeKapiler Glukosa
Kapiler akuades
.

Jumla
h
bakteri

4
5

4
5

5
10
15
20
5
10
5
10
15
20
25
30
35
5
5
10
5
10

Smoot

Tumbling

Smoot

Tumbling

h
*)
*)
*)
*)
1
3
6
2
2
2
20
*)
6
6

*)
*)
*)
*)
2
2
4
2
2
1
3
1
12
*)
3
-

h
*)
*)
*)
*)
2
1
1
*)
1
3
-

*)
*)
*)
*)
1
2
4
2
3
2
*)
20
-

100
45
75
20
4
7
16
7
7
4
5
1
32
30
21
11
6

Keterangan:
*) = tanpa rincian

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil dari praktikum kali ini adalah pergerakan paling banyak yaitu
bakteri lebih mendekati glukosa sebagai senyawa atraktan. Hal ini sesuai dengan
penyataan Sanders (2013) yaitu Secara khusus, molekul attractant menyebabkan bakteri
untuk berenang ke depan mendekati nutri, sementara penolak meningkatkan
reorientations ketika menjauhi senyaea repellent.
Kemotaksis (bahasa Inggris: chemotaxis) adalah gerakan dari sel tubuh bakteri
sebagai respon akibat terpapar zat kimiawi tertentu dalam lingkungannya. Kemotaksis
merupakan hal yang sangat penting bagi bakteri untuk menemukan makanannya, seperti
glukosa dengan bergerak menuju konsentrasi tertinggi molekul makanan, atau bergerak
menjauhi zat toksik, seperti fenol. Pada organisme multiselular, kemotaksis merupakan
proses awal yang sangat penting pada fertilisasi dan fase perkembangan, seperti migrasi
neuron dan limfosit (Darkuni, 2001).
Pada E. coli, terdapat sekitar 20 reseptor attraktant dan 10 reseptor repellent
(senyawa yang tidak diinginkan yang bersifat sebagai bioaktif penolak). Sebagian besar
reseptor , spesifik untuk satu atau dua senyawa kimia pada afinitas tinggi, tetapi biasnya
memperlihatkan suatu rentang batas substansi yang akan direaksikan , beberapa cukup
dengan senyawa kimia yang berafinitas rendah. Lingkungan keseluruhan yang dirasakan
oleh bakteri, ialah suatu produk spesifisitas setiap reseptor individual dikalikan dengan
kumpulan reseptor yang ada pada permukaan. Sejumlah reseptor, seperti untuk aspartat
dan serin, adalah konstitutiv, Untuk gula secara khusus diinduksi oleh pertumbuhan pada
suatu substrat tertentu. Reseptor tersebut terdapat dalam konsentrasi yang besar, sekitar
10.000 molekul respetor galaktosa, ribosa dan maltosa periplasma per sel ketika sangat
terinduksi dan terdapat sekitar 5000 molekul reseptor aspartat dan serin per sel. Untuk
gula, sperti maltosa, ribosa dan galaktosa, kemoreseptor merupakan suatu protein
terlarut berukuran kecil yang menempati daerah periplasma. Protein tersebut merupakan
protein pengikat yang serupa, yang aktif dalam pengambilan/uptake gula, meskipun
uptake tidak penting untuk taksis. Kemorespetor lain merupakan protein membran
integral, seperti pada transpor asam amino dan gula ke dalam sel melalui sistem
fosfortransferase. Jadi transpor dan kemotaksis berhubungan sangat erat (Luca, 2001).

Empat protein transducer, atau methyl-accepting chemotaxis protein (MCPs),


memainkan peran utama dalam pemrosesan sinyal transmembran, berperan sebagai
komparator dalam sistem sensori dan menyampaikan informasi kepada badan flagel
tentang perubahan konsentrasi kemoefektor. Protein membran integral tersebut
merupakan hasil dari gen tsr (MCP I), tar (MCP II), trg (MCP III), dan tap (MCP IV),
dan masing-masing gen tersebut spesifik untuk memerantarai sinyal yang berbeda dari
serangkaian stimuli yang berbeda. Protein transducer menerima sinyal dari
kemoreseptor, yang diduga menginduksi suatu perubahan konformasi pada protein
transducer. Sebagai akibatnya, metilasi postransisional dari suatu residu glutamil oleh
metiltransferase dan donor metil tersebut, terdapat Sadenosilmetionin.Derajat metilasi
menggambarkan lingkungan sel dan peningkatan reaksi sampai pada tahap stabil yang
merupakan suatu penempatan fungsi reseptor. Adaptasi terhadap stimuli adalah lengkap,
tingkah laku prestimuli dilanjutkan ketika stabilnya reaksi metilasi dan aktivitas
metiltransferase protein diseimbangkan oleh aktivitas suatu metilesterase protein. Jadi,
hal tersebut merupakan proses metilasi dan dimetilasi yang terjadi secara konstan.
Pengendalian proses tersebut merupakan mekanisme yang memungkinkan respon dan
adaptasi (Dwidjosoeputro, 1978).
kepada spesiesnya. Berdasarkan jumlah dan posisi flagel dapat Menurut
Taringan (1988) dibedakan menjadi:

Monotrikh : mempunyai satu flagel

Ditrikh : mempunyai dua flagel

Pentrikh : mempunyai banyak flagel pada permukaan tubuh

Lopotrikh : mempunyai flagel pada salah satu ujung tubuh bakteri yang
berjumlah lebih dari dua buah

Amfitrikh : mempunyai flagel pada sisi tubuh yang berlawanan

Atrikh : tidak memiliki flagel


Flagel tersusun atas tiga bagian yaitu : Pangkal (basal) merupakan bagian yang

berhubungan dengan membran plasma, Hook merupakan bagian flagell yang pendek dan
Filamen yang bentuknya seperti benang yang panjangnya sampai beberapa kali melebihi
panjang tubuhnya. Pergerakan sel bakteri terhadap atraktan itu ada dua yaitu secara

thumbling dan smooth. Pergerakan secara thumbling itu bisa dilihat dari pergerakan
bakteri secara acak yaitu fase acak ditemukan bila kadar repellent tinggi dan menjauhi
senyawa repellent tersebut sedangkan pergerakan smooth bisa dilihat dari pergerakan
bakteri secara searah yaitu pergerakan terarah menuju ke atraktan (Gross, 1995).
Pengamatan gerak bakteri, ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu motalitas bakteri
dan gerak brown. Bakteri yang bersifat motil akan nampak jelas bergerak, dan
bergeraknya melaju kearah tertentu, sedangkan sel bakteri yang tampak sebagai gerak
brown adalah gerakan yang bukan berasal dari bakteri itu sendiri melainkan dikarenakan
adanya partikel-partikel air yang ada disekeliling sel atau adanya energi kinetik. Pada
gerak brown, organisme bergetar dengan laju yang sama dengan menjaga hubungan
ruang yang sama satu sama yang lain (Volk, 1988).
Informasi dari empat protein transducer berkumpul pada switch motor flagel,
menghasilkan suatu efek segera pada rotasi flagel. Switch terdiri dari suatu kompleks
tiga protein (FlaA 11,2, FlaQ, dan FlaN) yang menentukan arah rotasi motor, searah atau
berlawanan jarum jam, dan juga ikut serta dalam konversi energi proton menjadi kerja
mekanik rotasi. Kompleks switch tersebut kemungkinan ditempelkan kepada dasar dari
badan dasar flagel. Pada suatu sel yang berenang bebas, semua flagel bersama-sama
membentuk suatu berkas filamen berotasi secara selaras yang menyetir sel melalui
medium. Selama berenang perlahan, semua flagel berotasi berlawanan arah jarum jam.
Suatu pembalikan dari rotasi, satu atau lebih filamen mengacaukan berkas dan diikuti
pergulingan. Respon kemotaktik dari pengaturan frekuensi pergulingan jadi meningkat
sebagai hasil pengaturan pemutaran flagel. Penambahan atraktan menyebabkan
penekanan pergulingan sebagai akibat rotasi flagel bakteri yang berlawanan jarum jam,
sedangkan penambahan repellent menyebabkan peningkatan pergulingan, sebagai akibat
rotasi searah jarum jam (Taring, 1988).

III. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1. Pergerakan bakteri menjauhi senyawa repelen dinamakan thumbling, sedangkan
pergerakan mendekati atraktan dinamakan smooth
2. Pergerakan bakteri terdiri dari pergerakan thumbling dan smooth
B. Saran
Sebaiknya pada saat isolat, glukosa, dan akuades sudah diteteskan pada object glass
langsung diamati pergerakannya

DAFTAR PUSTAKA
Darkuni, M, N. 2001. Mikrobiologi . Malang: UM Press.
Dwidjoseputro. 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Gross, T. 1995. Introoductory Microbiology. London: Chapmaan & hall University and
Proffesional Dinsion.
Hastuti, Sri Utami. 2002. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: UM Press.
Luca, M. 2001. Application of Chemotaxis Model to Alzheimer Disease. Ronamia: The
University of British Columbia.
Sanders L., Tessa M., Andermann and Karen M.O. 2013. A supplemented soft agar
chemotaxis assay demonstrates the Helicobacter pylori chemotactic response to
zinc and nickel. Microbiology, 159, 4657
Taktikos, J. Holger, S. Vaslly, Z. 2013. How the Motility Pattern of Bacteria Affects
Their Dispersal and Chemotaxis, Bacterial Motility and Chemotaxis. 8(12).
Taringan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Depdikbud.
Volk, Swisley A & Margareth F Whceler. 1988. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.