Anda di halaman 1dari 8

Fotogrametri adalah suatu seni, pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh

data dan informasi tentang suatu obyek serta keadaan di sekitarnya melalui
suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi bayangan fotografis (hasil
pemotretan). Bedasarkan definisi tersebut, maka pekerjaan fotogrametri dapat
dibagi menjadi dua, yaitu:
a)

Metric fotogrametri

suatu pengukuran yang sangat teliti dengan hitungan-hitungannya untuk


menentukan ukuran dan bentuk suatu objek.
b)

Intrepretasi fotogrametri

kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek.


Topografi
topografi adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti
planet, satelit alami (bulan dan sebaginya) dan asteroid. Topografi umumnya
menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identitas jenis lahan.
Relief adalah bantuk permukaan suatu lahan yang dikelompokkan atau
ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitude) dari permukaan bumi
(bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform). Sedang topografi secara
kualitatif adalah bentang lahan (landform) dan secara kuantitatif dinyatakan
dalam satuan kelas lereng (% atau derajat), arah lereg, panjang lereng dan
bentuk lereng.
Dalam kaitannyan dengan topografi dalam pembentukan tanah dapat
ipahami sebagai berikut:
Topografi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada
tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah yang berombak.
Topografi miring mempergiat berbagai proses erosi air, sehingga membatasi
kedalaman solum tanah, sebaliknya genangan air di dataran, dalam waktu lama
atau sepanjang tahun, pengaruh iklim nibsi tidak begitu nampak dalam
perkembangan tanah.
Didaerah beriklim humid tropika dengan bahan induk tuff vulkanik, pada tanah
yang datar membentuk tanah jenis latosol berwarna coklat, sedangkan di lereng
pegunungan akan terbentuk latosol merah. Didaerah semi aris (agak kering)
dengan bahan induk naval pada topografi datar akan membentuk tanah jenis
tanah grumusol kelabu, sedangakan di lereng pegunungan terbentuk tanah jenis
grumusol bewarna kuning coklat. Di lereng pegunungan yang curam akan
terbentuk tanah dangkal. Adanya pengaliran air menyebabkan tertimbunya
garam-garam dikaki lereng, sehingga di kaki gunung berapi didaerah sub humid
terbentuk tanah berwarna kecoklat-coklatan yang bersifat seperti grumusol, baik
secara fisik maupun kimianya. Dilereng cekung seringkali bergabun membentuk
cekungan pengendapan yang mampu menampung air dan bahan-bahan tertentu
sehingga terbentuk tanah rawang atau merawang.

Keadaan relief suatu daerah akan mempengaruhi:


a. Tebal atau tipisnya lapisan tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis
karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena
terjadi sedimentasi.

b. Sistem drainase/pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya
menjadi asam.
Topografi mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan 4 cara :
1.

Jumlah air hujan yang dapat meresap atau disimpan oleh massa tanah

2.

Kedalaman air tanah

3.

Besarnya erosi yang terjadi

4.
Arah pergerakan air yang membawa bahan-bahan terlarut dari tempat
yang tinggi ketempat yang rendah
Relief atau topografi adalah merupakan faktor pembentuk dan pengubah sifat
dan jenis tanah yang pengaruhnya dapat dibedakan sebagai berikut :

Posisi singkapan batuan (out crops) terhadap matahari

Posisi permukaan tanah terhadap penyinaran dan curah hujan

Sehingga dengan demikian komponen relief dan topografi yang menimbulkan


efek terhadap pembentukan tanah adalah :

Beda tinggi permukaan lahan (amplitude)

Bentuk permukaan lahan

Derajat kelerengan

Panjang lereng

Arah lereng

Bentuk punggung lereng

Semua komponen relief atau topografi tersebut bersama elemen iklim secara tak
langsung berkolerasi terhadap :

Pelapukan fisik dan kimiawi batuan

Transportasi (erosi) bahan terlapuk di permukaan tanah

Translokasi (pemindahan secara gravitasi) atau euvasi dan podsolisi

Deposisi dan sedimentasi atau illuviasi (penimbunan)

Dengan demikian efek langsung relief dan topografi terhadap tanah adalah
pada :

Tebal daging (solum) tanah

Solum tanah pada daerahlembah dan dataran akan lebih tebal dibandingkan
solum tanah yang terdapat dipuncak bukit atau lereng terjal.

Drainase tanah

Tanah didaerah lembah atau cekungan akan lebih jelek atau lambat dan
sebaliknya untuk daerah-daerah berlereng lebih cepat atau baik.

Satuan tanah

Jenis tanah yang perbedaanya ditentukan oleh regim kelembaban dan kelas
drainase serta penciri oksida reduksi, sangat dipengaruhi oleh reliefatau
topografi.

Tingkat erodibilitas tanah

Semakin besar selisih tinggi, derajat kelerenga, dan panjang lereng maka
semakin besar tingkat erodibilat tanah.
Kata hidrografi merupakan serapan dari bahasa Inggris hydrography. Secara
etimologis, hydrography ditemukan dari kata sifat dalam bahasa Prancis abad
pertengahan hydrographique sebagai kata yang berhubungan dengan sifat dan
pengukuran badan air, misalnya kedalaman dan arus (Merriam-Webster Online,
2004). Hingga sekitar akhir 1980-an, kegiatan hidrografi utamanya didominasi
oleh survey dan pemetaan laut untuk pembuatan peta navigasi laut (nautical
chart) dan survey untuk eksplorasi minyak dan gas bumi (Ingham, 1975). Peta
navigasi laut memuat informasi penting yang diperlukan untuk menjamin
keselamatan pelayaran, seperti kedalaman perairan, rambu-rambu navigasi,
garis pantai, alur pelayaran, bahaya-bahaya pelayaran dan sebagainya. Selain
itu, kegiatan hidrografi juga didominasi oleh penentuan posisi dan kedalaman di
laut lepas yang mendukung eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi.
Survei adalah kegiatan terpenting dalam menghasilkan informasi hidrografi.
Adapun aktivitas utama survei hidrografi meliputi :
Penentuan posisi dan penggunaan sistem referensi

Pengukuran kedalaman (pemeruman)


Pengukuran arus
Pengukuran (pengambilan contoh dan analisis) sedimen
Pengamatan pasut
Pengukuran detil situasi dan garis pantai (untuk pemetaan pesisir)
Data yang diperoleh dari aktivitas-aktivitas tersebut di atas dapat disajikan
sebagai
informasi dalam bentuk peta dan non-peta serta disusun dalam bentuk basis
data
kelautan.
Remote sensing atau yang lebih dikenal dengan penginderaan jauh adalah
pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat
yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut atau
pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat
dari jarak jauh, (misalnya dari pesawat, pesawat luar angkasa, satelit, kapal atau
alat lain). Contoh dari penginderaan jauh antara lain satelit pengamatan bumi,
satelit cuaca, memonitor janin dengan ultrasonik dan wahana luar angkasa yang
memantau planet dari orbit. Definisi Penginderaan Jauh beraneka ragam yang
umumnya akan terkait dengan pemanfaatan alat tersebut untuk membantu
aktivitas kerja atau penelitian.
Pada umumnya sensor sebagai alat pengindera dipasang pada wahana
(platform) berupa pesawat terbang, satelit, pesawat ulang-alik, atau wahana
lainnya. Obyek yang diindera adalah obyek di permukaan bumi, dirgantara, atau
antariksa. Proses penginderaan dilakukan dari jarak jauh sehingga sistem ini
disebut sebagai penginderaan jauh. Sensor dipasang pada lokasi yang berada
jauh dari obyek yang diindera . Oleh karena itu, agar sistem dapat bekerja
diperlukan tenaga yang dipancarkan atau dipantulkan oleh obyek tersebut.
Antara tenaga dan obyek yang diindera terjadi interaksi. Masing-masing obyek
memiliki karakteristik tersendiri dalam merespon tenaga yang mengenainya,
misalnya air menyerap sinar banyak dan hanya memantulkan sinar sedikit.
Sebaliknya, batuan karbonat atau salju menyerap sinar sedikit dan memantulkan
sinar lebih banyak. Interaksi antara tenaga dengan obyek direkam oleh sensor.
Perekaman menggunakan kamera atau alat perekam lainnya. Hasil rekaman ini
disebut data penginderaan jauh. Data penginderaan jauh harus diterjemahkan
menjadi informasi tentang obyek, daerah, atau gejala yang diindera. Proses
penerjemahan data menjadi informasi disebut analisis atau interpretasi data.
Penginderaan jauh didefinisikan pula sebagai teknik yang dikembangkan untuk
perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut khusus
berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari
permukaan bumi.

Berbeda dengan Lillesand dan Kiefer yang memandang penginderaan jauh


sebagai ilmu dan teknik, Lindgren memandangnya sebagai teknik, yaitu teknik
untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Sasaran yang terletak di
permukaan bumi tentu saja meliputi sasaran hingga kedalaman tertentu, tidak
hanya yang tampak langsung di atasnya. Demikian pula halnya dengan sasaran
yang berupa atmosfer. Bulan dan planet lain pun telah menjadi sasaran
penginderaan jauh sejak dasawarsa 1960-an.
Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System
disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang
memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih
sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun,
menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis,
misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database.
Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan
mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.
Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah,
pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan
perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat
menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat
digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan
perlindungan dari polusi.

Menurut Aronaff (1989)

SIG adalah sistem informasi yang didasarkan pada kerja komputer yang
memasukkan, mengelola, memanipulasi dan menganalisa data serta memberi
uraian.

Menurut Burrough (1986)

SIG merupakan alat yang bermanfaat untuk pengumpulan, penimbunan,


pengambilan kembali data yang diinginkan dan penayangan data keruangan
yang berasal dari kenyataan dunia.

Menurut Kang-Tsung Chang (2002)

SIG sebagai a computer system for capturing, storing, querying, analyzing, and
displaying geographic data.

Menurut Murai (1999)

SIG sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan,


memanggil kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data bereferensi
geografis atau data geospatial, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam
perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam,
lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya.

Menurut Marble et al (1983)

SIG merupakan sistem penanganan data keruangan.

Menurut Bernhardsen (2002)

SIG sebagai sistem komputer yang digunakan untuk memanipulasi data geografi.
Sistem ini diimplementasikan dengan perangkat keras dan perangkat lunak
komputer yang berfungsi untuk akusisi dan verifikasi data, kompilasi data,
penyimpanan data, perubahan dan pembaharuan data, manajemen dan
pertukaran data, manipulasi data, pemanggilan dan presentasi data serta analisa
data

Menurut Gistut (1994)

SIG adalah sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan spasial dan
mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi lokasi dengan karakteristikkarakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut. SIG yang lengkap
mencakup metodologi dan teknologi yang diperlukan, yaitu data spasial
perangkat keras, perangkat lunak dan struktur organisasi

Menurut Berry (1988)

SIG merupakan sistem informasi, referensi internal, serta otomatisasi data


keruangan.

Menurut Calkin dan Tomlison (1984)

SIG merupakan sistem komputerisasi data yang penting.

Menurut Linden, (1987)

SIG adalah sistem untuk pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan (manipulasi),


analisis dan penayangan data secara spasial terkait dengan muka bumi.

Menurut Alter

SIG adalah sistem informasi yang mendukung pengorganisasian data, sehingga


dapat diakses dengan menunjuk daerah pada sebuah peta.

Menurut Prahasta

SIG merupakan sejenis software yang dapat digunakan untuk pemasukan,


penyimpanan, manipulasi, menampilkan, dan keluaran informasi geografis
berikut atribut-atributnya.

Menurut Petrus Paryono

SIG adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan,


manipulasi dan menganalisis informasi geografi.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa SIG merupakan
pengelolaan data geografis yang didasarkan pada kerja komputer (mesin).

Pegertian Kartografi
Kartografi adalah suatu teknik yang secara mendasar dihubungkan dengan
kegiatan memperkecil keruangan suatu daerah yang luas sebagian atau seluruh
permukaan bumi, atau benda-benda angkasa dan menyajikan dalam suatu
bentuk yang dapat mudah diobservasi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan komunikasi.
Dalam pengertian yang lebih luas, kartografi memasukkan setiap kegiatan yang
menyangkut penyiapan dan peggunaan peta sebagai pokok perhatiannya, serta
menganggap peta sebagai alat yang berguna untuk media komunikasi, temasuk
pula:
1. mempelajari sejarah tentang kartografi;
2. kegiatan koleksi data, klasifikasi data, dan pemberian katalog-katalog
serta bibliografis;
3. mendisain dan membuat konstruksi peta-peta, charts, plans, dan atlas.
Sedangkan menurut ICA, kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi
tentang pembuatan peta-peta, sekaligus mencakup studinya sebagai dokumendokumen ilmiah dan hasil karya seni.
Pengertian Peta
Peta ialah suatu representasi/gambaran unsur-insur atau kenampakankenampakan abstrak, yang dipilih dari permukaan bumi, atau yang ada
kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, dan umumnya
digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan (ICA, 1973).
Dalam pengertian lain, peta disebut sebagai suatu media komunikasi grafis yang
merupakan pengecilan dari permukaaan bumi atau benda angkasa yang
disiapkan menurut ukuran geometris pada bidang datar, dengan dimbol yang
digeneralisasikan untuk mewakili kenampakan-kenampakan sebenarnya. Secara
sederhana simbol dapat diartikan sebagai suatu gambar atau tanda yang
mempunyai arti tertentu. Simbol dalam peta memegang peranan sangat
penting, bahkan dalam peta-peta khusus simbol merupakan informasi utama
untuk menunjukkan tema suatu peta. Menurut bentuknya, simbol dikelompokkan
menjadi:

simbol titik

> Simbol abstrak, wujudnya tidak ada kemiripan dengan unsur yang
digambarkan
> Simbol piktoral, wujudnya melukiskan unsur yang diwakilkan

simbol garis

simbol area atau bidang

Suatu peta yang menggambarkan fenomena geografikal tidak hanya sekedar


pengecilan suatu fenomena saja, tetapi lebih dari itu. Jika peta itu dibuat dan
didisain dengan baik, akan menjadi alat yang baik pula untuk kepentingan:

Melaporkan (recording)

Memperagakan (displaying)

Menganalis (analysing)

Peta dapat diklasifikasikan menurut penggunaannya, skala, isi dan kenampakan


dari peta. ICA mengklasifikasikan peta menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Peta topografi (termasuk peta rencana dan peta geografi);
2. Chart dan peta jalan (untuk navigasi dan orientasi);
3. Peta-peta tematik (menampilkan satu tema khusus atau lebih).

Peta itu sendiri memiliki beberapa fungsi, diantaranya:


>Fungsi peta untuk perencanaan regional

Untuk memberikan informasi pokok dari aspek keruangan tentang


karakter dari suatu daerah.

Sebagai suatu alat menganalisa untuk mendapatkan suatu kesimpulan.

Sebagai alat untuk menjelaskan penemuan-penemuan dari penelitian


yang dilakukan.

Sebagai alat untuk menjelaskan rencana-rencana yang diajukan.

>Fungsi peta sebagai kegiatan penelitian

Alat bantu sebelum melakukan suvei untuk mendapatkan gambaran


tentang daerah yang akan diteliti.

Sebagai alat yang digunakan selama penelitian, misalnya memasukkan


data yang ditemukan di lapangan.