Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

ALIRAN-ALIRAN DALAM AGAMA ISLAM


http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Disusun Oleh:

Elha Ayu Alinda

071114005

Erika Is naini Maulida

071114016

Muhammad Alhada Fuad 071114030


Rafelita Nian Sari

071114019

Ye ni Meytasari

071114038

DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014

i
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan pada kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami
berhasil menyelesaikantugas makalah Agama Islam II yang berjudul Aliranaliran dalam Agama Islam tepat pada waktunya.
Kami menyadari bahwa makalah yang kami selesaikan ini masih jauh
dari kesempurnaan. Seperti halnya pepatah tak ada gading yang tak retak ,
oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua kalangan yang
bersifat membangun guna kesempurnaan makalah kami selanjutnya.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Serta
kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan.Amin!

Surabaya, 18 Mei 2014

PENYUSUN

ii
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.........................................................................................

KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii


DAFTAR ISI...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.Latar Belakang Masalah....................................................................

2.Rumusan Masalah..............................................................................

3.Tujuan.................................................................................................

4. Manfaat .............................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN
1.Prinsip-Prinsip Dasar Islam dalam Tataran Keilmuan dan
Praktis...............................................................................................

2.Proses Terjadinya Perbedaan Pendapar dalam Agama Islam .......

13

3. Ahlu Sunnah Wal Jamaah ..............................................................

15

4. Studi Kasus Konflik Internal Umat Islam .........................................

19

BAB III PENUTUP


1. Simpulan ...........................................................................................

25

2. Saran .................................................................................................. 25
REFERENSI ...................................................................................................... 27

iii
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dalam sejarah agama Islam telah tercatat adanya firqah- firqah (golongan) di
lingkungan umat Islam, yang antara satu sama lain bertentangan pahamnya secara tajam yang
sulit untuk diperdamaikan, apalagi untuk dipersatukan.Hal ini sudah menjadi fakta dalam
sejarah yang tidak bisa dirubah lagi, dan sudah menjadi ilmu pengetahuan yang termaktub
dalam kitab-kitab agama, terutama dalam kitab-kitab ushuluddin.Barang siapa yang membaca
kitab-kitab ushuluddin akan menjumpai didalamnya perkataan-perkataan: Syiah, Khawarij,
Qodariah, Jabariah, Sunny (Ahlussunnah Wal Jamaaah), Asy-Ariah, Maturidiah, dan lainlain.
Umat Islam, khususnya yang berpengetahuan agama tidak heran melihat membaca hal
ini karena Nabi Muhammad SAW sudah juga mengabarkan pada masa hidup beliau.Abu
Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Orang-orang Yahudi terpecah kedalam 71 atau 72 golongan, demikian juga orangorang Nasrani, dan umatku akan terbagi kedalam 73 golongan. HR. At-Tirmidzi.
Dari Auf bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:"Yahudi telah
berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan
Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga.
Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah
belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka." Lalu beliau
ditanya: "Wahai Rasulullah siapakah mereka ?" Beliau menjawab: "Al Jamaah." HR Sunan
Ibnu Majah.
Munculnya fenomena aliran sesat tidak terlepas dari problem psikologis baik para
tokoh pelopornya, pengikutnya serta masyarakat secara keseluruhan. Problem aliran sesat
mengindikasikan adanya anomali nilai- nilai di masyarakat.
Aliran sesat bukan fenomena baru, selain dia mengambarkan anomali, juga
kemungkinan adanya deviasi sosial yaitu selalu ada komunitas yang abnormal. Baik ia berada
1
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

dalam abnormalitas demografis, abnormalitas sosial, maupun abnormalitas psikologis.


Sedangkan bentuk deviasi dapat bersifat individual, situasional dan sistemik (Kartono,
2004:16). Abnormalitas perilaku seseorang tidak dapat diukur hanya dengan satu kriteria,
karena bisa jadi seseorang berkategori normal dalam pengertian kepribadian tetapi abnormal
dalam pengertian sosial dan moral. Demikian halnya dengan para penganut aliran sesat, akan
diperoleh kriterium kategori yang tidak tegas. Salah satu yang paling mungkin untuk
menyatakan kesesatan adalah defenisi atau batasan ketidaksesatan yang bersifat formalistik
atau diakui sebagai batasan institusional.
Aliran sesat didefinisikan sebagai aliran yang menyimpang dari mainstream
masyarakat, namun batasan ini menjadi rancu karena kriteria kesesatan bersifat multikriteria.
Oleh karena itu silang pendapat apakah suatu aliran sesat atau tidak merupakan masalah
tersenidri yang tidak mudah.
Aliran hanya dapat dinyatakan sebagai sesat apabila mengacu pada satu kumpulan
kriteria yang dinyatakan secara apriori sebagai tidak sesat. Oleh karena itu ukuran
sosiologis, politis dan psikologis hanya merupakan penjelas saja tentang kemungkinankemungkinan mengapa seseorang/kelompok menjadi bagian dari aliran sesat.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan sepuluh kriteria suatu aliran dapat
digolongkan tersesat. Namun, tidak semua orang dapat memberikan penilaian suatu aliran
dinyatakan keluar dari nilai-nilai dasar Islam.Suatu paham atau aliran keagamaa n dapat
dinyatakan sesat bila memenuhi salah satu dari sepuluh kriteria,' kata Ketua Panitia Pengarah
Rakernas MUI Tahun 2007, Yunahar Ilyas, di Jakarta, Selasa (6/11).Sekretaris MUI, Ichwan
Sam, menambahkan, kriteria tersebut tidak dapat digunakan sembarang orang dalam
menentukan suatu aliran itu sesat dan menyesatkan atau tidak. Ada mekanisme dan
prosedur yang harus dilalui dan dikaji terlebih dahulu. Harus diingat tidak semudah itu
mengeluarkan fatwa,' tegasnya. Pedoman MUI itu menyebutkan, sebelum s uatu aliran atau
kelompok dinyatakan sesat, terlebih dulu dilakukan penelitian. Data, informasi, bukti, dan
saksi tentang paham, pemikiran, dan aktivitas kelompok atau aliran tersebut diteliti oleh
Komisi Pengkajian. Selanjutnya, Komisi Pengkajian memanggil pimpinan aliran atau
kelompok dan saksi ahli atas berbagai data, informasi, dan bukti yang didapat. Hasilnya
kemudian disampaikan kepada Dewan Pimpinan. Bila dipandang perlu, Dewan Pimpinan
dapat menugaskan Komisi Fatwa untuk membahas dan mengeluarkan fatwa. Di batang
tubuh fatwa mengenai aliran sesat juga ada poin yang menyatakan akan menyerahkan segala
2
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

sesuatunya kepada aparat hukum dan menyeru masyarakat jangan bertindak sendiri-sendiri,'
jelas Ichwan.Wapres Jusuf Kalla, meminta seluruh komponen masyarakat, terutama para
ulama dan tokoh agama, tidak lari menyikapi maraknya aliran sesat. Untuk menyikapi
aliran sesat ini, kita tidak bisa menggunakan langkah- langkah kekerasan, seperti lemparlemparan, bakar-bakaran, dan sebagainya. Polisi dan jaksa boleh mengambil tindakan formal,
tetapi jika secara hati nurani tidak selesai. Kita harus introspeksi,' kata Kalla di hadapan
peserta Rakernas MUI. Pemerintah, sambung Menag, Maftuh Basyuni, terus berupaya
meyakinkan para penganut aliran sesat agar dapat kembali ke jalan yang benar. Upaya
kekerasan atau anarkis dalam menyikapi aliran sesat, menurut Maftuh, tak akan
menyelesaikan masalah.
Malah akan menambah genting suasana. Toh sekarang sudah banyak tokoh aliran
sesat yang ditangkap dan menyerahkan diri, tergantung aparat untuk menindaklanjutinya.'
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Adian Husaini, menyebut
keluarnya putusan MUI sebagai sesuatu yang ditunggu-tunggu umat Islam. Dengan
demikian, jelas apa saja kriteria aliran sesat itu,' kata Adian. Sepuluh kriteria yang ditetapkan
MUI itu merupakan ajaran Islam yang mendasar. Ini penekanannya lebih untuk umat
sendiri.'
Sepuluh Kriteria Aliran Sesat:
1. Mengingkari rukun iman dan rukun Islam
2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan assunah),
3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
7. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syari
Sesungguhnya ikhtilaf (perbedaan pendapat) adalah sunatullah namun Ikhtilaf yang
membawa iftiraq (perpecahan) itulah yang dicela oleh Allah SWT. Sebab timbulnya iftiraq
3
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

pada mulanya terjadi karena sebab yang sepele. Namun karena pelakunya mengedepankan
hawa nafsu maka hal sepele menjadi besar dan berakibat pada perselisihan dan perpecahan.
Secara garis besar di antara sebab munculnya Al Firaq Al Islamiyah (seperti : Khawarij,
Syi'ah, Mu'tazilah, Murji'ah, dll.) adalah:
1. Ghuluw (berlebih- lebihan dalam bersikap), contoh : Khawarij berangkat dari
pemahaman yang berlebihan terhadap ayat-ayat wa'id (ancaman) sehingga mereka
mengkafirkan kaum Muslimin yang melakukan dosa besar. Sedang Syi'ah muncul
karena sikap yang berlebihan dalam mencintai sebagian sahabat Rasul yaitu Ali ra dan
para Ahlul Bait.
2. Membantah bid'ah dengan bid'ah yang semisal, contoh : Murji'ah ingin mencounter
Khawarij yang berlebih- lebihan dalam menghukumi pelaku dosa besar namun
akhirnya mereka terjerumus pada bid'ah baru yaitu menganggap pelaku dosa besar
sebagai mukmin dengan keimanan yang sempurna.
3. Pengaruh dari luar Islam, contoh : Syi'ah, karena muassis (gembong)nya adalah
Yahudi yaitu Abdulah bin Saba'. Begitu juga Qodariyah, pencetusnya adalah seorang
Nashrani, Jahmiyyah pencetusnya Yahudi.
4. Mengedepankan akal.
5. Filsafat Yunani, contoh : Mu'tazilah banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani.
Selain itu ada yang disebabkan oleh :
1. Ulama yang beraqidah menyimpang,
2. Kebodohan kaum Muslimin.
3. Tidak memiliki standar pemahaman yang benar.
4. Ikhtilaf yang didasari hawa nafsu.
5. Rasa Ashabiyah (fanatisme golongan).
6. Hasad (dengki)
7. Kecenderungan menyuburkan bid'ah dan hawa nafsu.
8. Menuhankan akal dan menomorduakan naql (dalil).
9. Pengaruh eksternal.

2. Rumusan Masalah:
1. Bagaimanakah prinsip-prinsip dasar Islam dalam tataran keilmuan dan praktis?
2. Bagaimanakah proses terjadinya perbedaan pendapat dalam Islam?
4
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

3. Apakah yang dimaksud dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah?


4. Bagaimanakah konflik internal yang terjadi pada umat Islam (Studi Kasus)?

3. Tujuan
1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dasar Islam dalam tataran keilmuan dan praktis
2. Untuk mengetahui proses terjadinya perbedaan pendapat dalam Islam
3. Untuk mengetahui penjelasan mengenai Sunnah Wal Jamaah
4. Untuk mengetahuikasus nyata konflik internal dalam pada umat islam karena
perbedaan pendapat (perbedaan aliran)
4. Manfaat
Apa yang dibahas dalam makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa
pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dasar Islam dalam tataran ilmu pengetahuan dan
praktis. Bagi mahasiswa yang kelak terjun ke masyarakat diharapkan setelah membaca
makalah ini dapat memberikan pengetahuan (pencerahan) tentang prinsip-prinsip dasar Islam
dalam tataran keilmuan dan praktis. Kedepan mahasiswa diharapkan lebih kritis setelah
membaca makalah ini terutama dalam menyikapi berbagai aliran yang muncul dalam Islam
sehingga tidak terjebak pada perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam.

5
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

BAB II
PEMBAHASAN

1. Prinsip-Prinsip Dasar Islam dalam Tataran Keilmuan dan Praktis


a. Prinsip Dasar Islam (dari tataran keilmuan)
Islam sebagai agama islam yang diturunkan untuk manusia, yang didalamnya
terdapat pedoman serta aturan yang menuntun manusia membawa kebahagiaan di dunia
dan di akhirat. Serta dalam agama islam terdapat tiga sendi utama dalam agama islam
dilihat dari tataran sisi keilmuan, yaitu iman, islam dan ihsan.
HAKIKATIMAN
Iman yaitu: berasal dari kata bahasa Arab yang berarti kepercayaan atau pengakuan,
maka yang dinamakan iman adalah kepercayaan yang meresap dalam hati, dengan penuh
keyakinan kuat, serta tidak tercampur keraguan apapun dan memberikan pengaruh kepada
pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan hidup sehari-hari. Iman adalah keyakinan yang
menghujam dalam hati, kokoh penuh keyakinan tanpa dicampuri keraguan sedikitpun.
Sedangkan keimanan dalam Islam itu sendiri adalah percaya kepada Alloh, malaikatmalaikatNya, kitab-kitabNya, Rosul-rosulNya, hari akhir dan berIman kepada takdir baik dan
buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan lisan, amal hati dan amal lisan serta amal
anggota tubuh. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Kedudukan Iman lebih tinggi dari pada Islam, Iman memiliki cakupan yang lebih
umum dari pada cakupan Islam, karena ia mencakup Islam, maka seorang hamba tidaklah
mencapai keImanan kecuali jika seorang hamba telah mamapu mewujudka keislamannya.
Iman juga lebih khusus dipandang dari segi pelakunya, karena pelaku keimanan adalah
kelompok dari pelaku keIslaman dan tidak semua pelaku keIslaman menjadi pelaku
keImanan, jelaslah setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.
Keimanan tidak terpisah dari amal, karena amal merupakan buah keImanan dan salah satu
indikasi yang terlihat oleh manusia. Karena itu Alloh menyebut Iman dan amal soleh secara
beriringan dalam Quran surat Al Anfal ayat 2-4 yang artinya:
Allah Subhannahu wa Taala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang beriman
itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila
6
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang
menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada me-reka. Itulah orang-orang yang
beriman dengan sebenar-benar- nya. (Al-Anfal: 2-4).Keimanan. memiliki satu ciri yang
sangat khas, yaitu dinamis. Yang mayoritas ulama memandang keImanan beriringan dengan
amal soleh, sehinga mereka menganggap keImanan akan bertambah dengan bertambahnya
amal soleh. Akan tetapi ada sebagaian ulama yang melihat Iman berdasarkan sudut pandang
bahwa ia merupakan aqidah yang tidak menerima pemilahan (dikotomi). Maka seseorang
hanya memiliki dua kemungkinan saja: mukmin atau kafir, tidak ada kedudukan lain diantara
keduanya. Karena itu mereka berpendapat Iman tidak bertambah dan tidak berkurang.
Iman adakalanya bertambah dan adakalanya berkurang, maka perlu diketahui kriteria
bertambahnya Iman hingga sempurnanya Iman, yaitu:
1. Diyakini dalam hati
2.

Diucapkan dengan lisan

3. Diamalkan dengan anggota tubuh.


Sedangkan dalam Islam sendiri jika membahas menge nai Iman tidak akan terlepas dari
adanya rukun Iman yang enam, yaitu:
1. Iman kepada Alloh
2. Iman kepada malaikatNya
3.

Iman kepada kitabNya

4. Iman kepada rosulNya


5. Iman kepada Qodho dan Qodar
6. Iman kepada hari akhir
Demikianlah kriteria amalan hati dari pribadi yang berIman, yang jika telah tertanam
dalam hati seorang mukmin enam keImanan itu maka akan secara otomatis tercermin dalam
prilakunya sehari- hari yang sinergi dengan kriteria keImanan terhadap enam poin di atas.
Jika Iman adalah suatu keadaan yang bersifat d inamis, maka sesekali didapati
kelemahan Iman, maka yang harus kita lakukan adalah memperkuat segala lini dari hal-hal
yang dapat memperkuat Iman kembali. Hal- hal yang dapat dilakukan bisa kita mulai dengan
memperkuat aqidah, serta ibadah kita karena Iman bertambah karena taat dan berkurang

7
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

karena maksiat.Ketika Iman telah mencapai taraf yang diinginkan maka akan dirasakan oleh
pemiliknya suatu manisnya Iman, sebagaImana hadits Nabi Muhammad saw. yang artinya:
Tiga perkara yang apabila terdapat dalam diri seseorang, maka ia akan merasakan
manisnya Iman: Menjadikan Alloh dan RosulNya lebih dicintainya melebihi dari selain
keduanya, mencintai seseorang yang tidak dicintainya melainkan karena Alloh, membenci
dirinya kembali kepada kekufuran sebagaImana bencinya ia kembali dilemparkan ke dalam
api neraka. (HR.Bukhori Muslim).
HAKIKAT ISLAM
Islam bersal dari kata, as-salamu, as-salmu, danas-silmu yang berarti: menyerahkan
diri, pasrah, tunduk, dan patuh. Berasal dari kata as-silmu atau as-salmu yang berarti damai
dan aman. Berasal dari kata as-salmu, as-salamu, dan as-salamatu yang berarti bersih dan
selamat dari kecacatan-kecacatan lahir dan batin.
Pengertian Islam menurut istilah yaitu, sikap penyerahan diri (kepasrahan,
ketundukan, kepatuhan) seorang hamba kepada Tuhannya dengan senantiasa melaksanakan
perintahNya dan menjauhi laranganNya, demi mencapai kedamaian dan keselamatan hidup,
di dunia maupun di akhirat.
Islam itu me miliki delapan saham; Islam itu sendiri merupakan saham, shalat juga
termasuk saham, zakat adalah saham, shaum adalah saham, Haji termasuk saham,
amar ma'ruf termasuk saham, nahi munkar termasuk saham, berjihad termasuk saham,
maka celakalah orang yangn tidak memiliki saham itu. (HR. Al Bazzar)
Siapa saja yang menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Alloh, maka ia seorang
muslim, dan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Alloh dan selain Alloh maka ia
seorang musyrik, sedangkan seorang yang tidak menyerahkan diri kepada Alloh maka ia
seorang kafir yang sombong.Dalam pengertian kebahasan ini, kata Islam dekat dengan arti
kata agama. Senada dengan hal itu Nurkholis Madjid berpendapat bahwa sikap pasrah kepada
Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian Islam. Dari pengertian itu, seolah Nurkholis
Madjid ingin mengajak kita memahami Islam dari sisi manusia sebagai yang sejak dalam
kandungan sudah menyatakan kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan, sebagaImana yang
telah diisyaratkan dalam surat al-Arof ayat 172 yang artinya:

8
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadapjiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku
Ini Tuhanmu? mereka menjawab Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi. (Kami
lakukanyang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya
kami (Bani Adam) adalah orang-orang yanglengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)
Berkaitan dengan Islam sebagai agama, maka tidak dapat terlepas dari adanya unsurunsur pembentuknya yaitu berupa rukun Islam, yaitu:
1. Membaca dua kalimat Syahadat
2. Mendirikan sholat lima waktu
3. Menunaikan zakat
4. Puasa Romadhon
5. Haji ke Baitulloh jika mampu.

HAKIKAT IHSAN
Ihsan berarti berbuat baik. Orang yang berbuat Ihsan disebut muhsin berarti orang
yang berbuat baik.setiap perbuatan yang baik yang nampak pada sikap jiwa dan prilaku yang
sesuai atau dilandaskan pada aqidah dan syariat Islam disebit Ihsan. Dengan demikian akhlak
dan Ihsan adalah dua pranata yang berada pada suatu sistem yang lebih besar yang disebut
akhlaqul karimah.
Adapun dalil mengenai Ihsan dari hadits adalah potongan hadits Jibril yang sangat
terkenal (dan panjang), seperti yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, ketika nabi ditanya
mengenai Ihsan oleh malaikat Jibril dan nabi menjawab:

Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihatNya. Tapi jika
engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Alloh melihatmu..
Hadits tersebut menunjukan bahwa untuk melakukan Ihsan, sebagai rumusnya adalah
memposisikan diri saat beribadah kepada Alloh seakan-akan kita bisa melihatNya, atau jika

9
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

belum bisa memposisikan seperti itu maka posisikanlah bahwa kita selalu dilihat olehNya
sehingga akan muncul kesadaran dalam diri untuk tidak melakukan tindakan selain berbuat
Ihsan atau berbuat baik
Hadis Rosulullah tentang Iman, islam dan ihsan:

Artinya:
Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata: Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di
dekat Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki
mengenakan pakaian nan sangat putih & rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tandatanda bekas perjalanan, & tak ada seorang pun di antara kami nan mengenalnya. Ia segera
duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi & meletakkan kedua
tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata: Hai, Muhammad Beritahukan
kepadaku tentang Islam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,Islam adalah,
engkau bersaksi tak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, &
sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat;
berpuasa di bulan Ramadhan, & engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah
mampu melakukannya, lelaki itu berkata,Engkau benar, maka kami heran, dan ia bertanya
dan ia pula membenarkannya. Kemudian ia bertanya lagi: Beritahukan kepadaku tentang
Iman. Nabi menjawab,Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitabkitabNya; para RasulNya; hari Akhir, & beriman kepada takdir Allah nan baik & nan buruk,
ia berkata, Engkau benar. Dia bertanya lagi: Beritahukan kepadaku tentang ihsan. Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakanakan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.
10
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Lelaki itu berkata

lagi:

Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat? Nabi

menjawab,Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada nan bertanya. Dia pun bertanya lagi:
Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya Nabi menjawab,Jika seorang budak wanita
telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang nan bertelanjang kaki, tanpa memakai
baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dlm mendirikan
bangunan megah nan menjulang tinggi. Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun
terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku: Wahai, Umar Tahukah engkau, siapa nan
bertanya tadi? Aku menjawab,Allah & RasulNya lebih mengetahui, Beliau bersabda,Dia
adalah Jibril nan mengajarkan kalian tentang agama kalian. [HR Muslim, no. 8]
Menurut pemikiran KH Ahmad Siddiq dari sisi keilmuan ketiganya (iman, islam dan
ihsan) merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan sehingga menjadi bagian ilmu
tersendiri. Bagian-bagian itu mereka elaborasi sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri,
seperti halnya perhatian terhadap iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam, perhatian
pada ilmu islam menghadirkan ilmu fiqih atau ilmu hukum islam danperhatian pada dimensi
ihsan melahirkan ilmu taawuf dan ilmu akhlak.
b. Sistematika Agama Islam (dari tataran praktis)
Dalam tataran pengalaman kehidupan beragama, meskipun iman, islam, da ihsan telah
menjadi ilmu tersendiri, keytiganya tetap dilakukan bersamaan tanpa melakukan perbedaan.
Oleh karena itu, jika dilihat dari segi tataran praktis, sistematika agama islam ada lah sebagai
berikut:
SISTEMATIKA AGAMA ISLAM
AQIDAH

Keimanan

Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat,


Iman kepada Kitab, Iman kepada Rosul, Iman
kepada Hari Akhir, Iman kepada Qodar

SYARIAH

Ibadah Khusus

Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji

(mahdhah)
Ibadah umum

Sistem Keluarga, Sistem Ekonomi, Sistem

(ghoir mahdhoh) Politik, Sistem Pembagian Waris, Hukum


Perdata dan Pidana, Pengembangan IPTEK dan
seni, Sistem Kebudayaan, Kerja sama antar

11
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Umat Beragama.
AKHLAK

Terhadap Allah

Cinta atau Mahabbah, Takut atau Al-Khouf

Terhadap

Ssesama manusia dan selain manusia

Makhluk

Tiga dasar dalam ajaran islam tersebut (akidah, syariat, akhlak) merupakan suatu
kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Sebagaimana Allah
memberikan perumpamaan dalam QS Ibrohim ayat 24-25:

Artinya: Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan


kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke
langit, (24)

Artinya: (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan
Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. (25)
Kedua ayat tersebut memberikan sebuah analogi bahwa ajaran agama islam bagaiakan
sebuah pohon yang baik, tumbuh subur menjulang tinggi dan buahnya sangat lebat. Akar
merupakan inti dari sebatang pohon yang menopang tegak dan berdirinya pohon tersebut,
bahkan akar akan menentukan baik dan tidaknya pohon itu. Jadi, akar itu baik dan kukuh
maka pohon itu akan tumbuh subur, cabangnya akan kuat dan rindang serta mengeluarkan
buah yang lebat. Demikian juga dalam ajaan agama islam, akidah bagaikan akar yang
merupakan hal yang pokok yang menopang segenap perilaku seorang muslim dan
menentukan kemuslimannya. Jika aqidah dan syariat yang terwujud dengan baik, akan lahir
pula tindakan-tindakan nyata yang berupa amal sholeh sebagai perwujudan dari akhlak
bagaiakan buah yang keluar dari cabang-cabang pohon yang rindang. Perumpamaan ersebut
bagaikan menunjjukkan makna bahwa kualitas amal sholeh yang dilakukan oleh seeorang
merupakan cermin kualitas iman dan islam seseorang. Sebaliknya iman dan islam seseorang
bisa diukur dari kualitas sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari- hari.
2.Perbedaan Pendapat antar Kelompok Beda Aliran dalam Agama Islam

12
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Dalam memahami sebuah agama kerap kali ditemukan pemahaman yang berbeda
beda antar individu satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan dalam
perolehan khasanah ilmu pengetahuan tentang agama. Begitu juga ketika jaman Rassulullah
Saw. Tiap kali terdapat perbedaan pendapat terhadap pelaksanaan ibadah keagamaan di
antara sahabat atau pengikut nabi maka langsung diselesaikan dengan keputusan akhir dari
Nabi Muhammad Saw.
Perpecahan dalam tubuh umat Islam sudah mulai terjadi beberapa waktu setelah
Rasulullah wafat, dimulai dengan terjadinya perang jamal antara pengikut Ali dan Siti Aisah
istri Rasulullah, pembunuhan terhadap kalifah Umar bin Khatab, Ustman dan Ali. Perang
Siifin antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Umayyah Gubernur Damaskus yang
memberontak terhadap Ali dan terus sampai sekarang. Didalam lingkungan pemeluk Islam
terus terjadi saling hujat, serang, bunuh demi mempertahankan atau memaksakan pendapat
dan keyakinnya pada kelompok atau orang lain.
Kelompok-kelompok keagamaan yang berpengaruh kuat ketika massa itu ,antara lain :
1. Syiah dan Khawarij : Kelompok yang menutup diri dari golongan mayoritas kaum
muslimin
2. Mutazilah : Kelompok yang memaksakan ajarannya kepada orang lain secara keras
dan apabila orang lain tidak sepaham akan dituduh musyrik. Kelompok ini
menganggap bahwa semua musuhnya yang tidak sependapat dengan panutan
kelompoknya dianggap sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Sikap Mutazilah ini
menunjukkan adanya arogansi dengan menggunakan kekuatan politik negara yang
bersifat represif. Bahkan jika saat ini ada sekelompok orang muslim yang
menyampaikan pendapat berbeda dengan kelompok Mutazilaj maka dianggap sesat
dan harus dipaksakan untuk ikut sependapat dengan cara melalui paksaan kekuatan
kekuasaan negara.
3. Ahlu Sunnah Wal Jamaah : Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad Saw. Dan sesuai dengan apa yang telah digariskan serta diamalkan oleh
sahabat Nabi.

13
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Perpecahan akibat perbedaan pendapat tersebut membuat kekacauan di berbagai


golongan yang menganut agama islam . Untuk memperkuatkan usaha persatuan tersebut,
maka seluruh umat Islam diseru agar menjadikan Rasul s.a.w sebagai satu rujukan yang
unggul.

Kerana Rasul s.a.w sudah wafat, maka sunnah beliaulah yang mesti dijadikan

sebagai rujukan. Abdul Malik mendapat sokongan dari masyarakat Islam. Di antara tokoh
kelompok Moderat yang masih hidup dan menyokong Abdul Malik adalah Ibnu Umar (wafat
th. 74 H). Umat Islam yang menyokong persatuan ini disebut Ahlu Al-Jama'ah Wa alSunnah, kemudian ada proses pembalikan sering dibaca oleh sebahagian kaum muslimin
sehingga menjadi Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah.
Jadi, baik konsep tarbi' yang sampai hari ini sering dibaca oleh sebahagian kaum
muslimin --demikian juga dengan mendo'akan pemimpin yang berkuasa-- pada khutbahkhutbah Jumaat, mahupun istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, sebenarnya lahir dari proses
sejarah yang bertujuan untuk mempersatukan umat yang sudah berpecah belah. Oleh kerana
itu, sering kita terjumpa bahawa kelompok Ahlus Sunnah Wal Jamaah sentiasa berusaha
untuk mempertemukan aliran pemikiran berbagai kelompok yang saling bertentangan.
Tetapi usaha untuk mempersatukan umat itu tidaklah berhasil sebagaimana yang
diharapkan, persaingan antara kelompok tetap juga berjalan. Kelompok Syiah, misalnya,
tetap tidak dapat bergabung dalam persatuan itu; sebab menurut keyakinan mereka hak untuk
memegang jawatan khalifah hanyalah untuk Ali dan keturunannya. Kerana jamaah tadi
merupakan inisiatif dari kelompok Umawi yang sememangnya adalah musuh politik mereka,
itulah sebabnya kelompok Syiah sampai

hari ini tetap tidak bersimpati kepada kaum

Muslimin dari golongan Ahlussunnah Wal-Jamaah. Mereka menganggap Ahlussunnah WalJamaah hanyalah penyokong dan merupakan tali barut dari kelompok Umawi. Tanpaknya
dendam kelompok syi'ah terhadap kelompok umawi tidak kesampaian, kerana mereka sudah
punah ditelan zaman; jadi golongan Ahlus-Sunnah Wal- jama'ahlah yang menerima padahnya.
Masalah politik telah menyebabkan umat Islam berpecah-belah

dalam berbagai

kelompok dan puak-puak. Perpecahan politik juga terpengaruh kepada perselisihan di dalam
bidang Akidah, Syariah, dan tidak ketinggalan juga kepada perkembangan Hadith, Tafsir,
Tasawuf, dan sebagainya. Sejauh mana pengaruhnya terhadap bidang-bidang tersebut akan
kita bahas pada kesempatan lain. Tetapi sebelum menutup tulisan ini, saya ingin menegaskan
bahwa perpecahan politik umat Islam di Malaysia ini, sehingga sebahagian menghina yang

14
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

lain di mimbar- mimbar bahkan ada yang mengkafirkan sesama Muslim, sebenarnya hanyalah
proses pengulangan sejarah yang tidak perlu dilakukan.
Umat Islam di negara ini perlu menyedari bahwa pertengkaran itu hina. Perbedaan
organisasi politik dan keagamaan hendaklah tidak dijadikan untuk saling menghina dan
memusuhi, tetapi dimanfaatkan sebagai sarana untuk berlumba- lumba bagi membuat
kebajikan demi kemajuan umat dan negara (Q.S.2:148). Apa yang akan dilihat oleh Allah swt
bukanlah organisasi yang kita miliki, tetapi adalah aktiviti (amal) yang kita lakukan
(Q.S.9:105). Rasul bersabda: Sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi manfaat bagi
orang lain. Tentangan yang akan dihadapi di masa hadapan sangatlah berat. Kerana itu
persatuan dan kerjasama (amal jamai) perlu diwujudkan. Persatuan yang dimaksudkan tidak
bererti membubarkan organisasi-organisasi yang sudah ada, tetapi mesti ada perancangan
bersama yang akan dilakukan oleh semua pihak dan setiap kelompok berusaha
mewujudkannya untuk kemajuan umat. Oleh kerana itu perlu ada dialog (musyawarah) antara
golongan untuk membicarakan agenda bersama demi terciptanya persatuan dan kesatuan
yang kokoh sesama umat beragama Islam , tanpa harus memperuncing perdebatan dan
perpecahan yang terjadi akibat dari keegoisan dan keangkuhan dari masing masing kelompok
keagamaan .

3. Ahlu Sunnah Wal Jamaah


Sebagai reaksi dari firqah yang sesat, maka pada akhir abad ke 3 H timbullah
golongan yang dikenali sebagai Ahlu sunnah wal Jamaah yang dipimpin oleh 2 orang ulama
besar dalam Usuluddin yaitu Syeikh Abu Hassan Ali Al Asyari dan Syeikh Abu Mansur Al
Maturidi. Perkataan Ahlussunnah wal Jamaah kadang-kadang disebut sebagai Ahlussunnah
saja atau Sunni saja dan kadang-kadang disebut Asyari atau Asyairah dikaitkan dengan
ulama besarnya yang pertama yaitu Abu Hassan Ali Asyari.
Aliran Al-Maturidiyah adalah sebuh aliran yang tidak jauh berbeda dengan aliran
al-Asy'ariyah. Keduanya lahir sebagai bentuk pembelaan terhadap sunnah. Bila aliran alAsy'ariyah berkembang di Basrah maka aliran al-Maturidiyah berkembang di Samargand.
Kota tempat aliran ini lahir merupakan salah satu kawasan peradaban yang
maju.

menjadi

pusat

perkembangan

Mu'tazilah disamping

ditemukannya aliran

Mujassimah. Qaramithah dan Jahmiyah, Menurut Adam Metz. juga terdapat pengikut
15
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Majusi, Yahudi dan Nasrani dalam jumlah yang besar. Al-Maturidi saat itu terlihat dalam
banyak pertentangan dan dialog setelah melihat kenyataan berkurangnya pembelaan
terhadap sunnah. Hal ini dapat dipahami karena teologi mayoritas saat itu adalah
aliran Mu'tazilah yang

banyak

menyerang

golongan

ahli fiqih dan ahli hadits.

Diperkuat lagi dengan unsur terokratis penguasa.


Asy'ari maupun Maturidi bukan tidak paham terhadap mazhab Mu'tazilah. Bahkan
al-Asy'ary pada awalnya adalah seorang Mu'taziliy

namun terdorong oleh keinginan

mempertahankan sunnah maka lahirlah ajaran mereka hingga kemudian keduanya diberi
gelar imam ahlussunnah

wal

jama'ah.Sepintas kita mungkin menyimpulkan bahwa

keduanya pernah bertemu, namun hal ini membutuhkan analisa. Pada masa itu, banyak sekali
ulama Muktazilah mengajar di Basrah, Kufah dan Baghdad. Ada 3 orang Khalifah Abbasiyah
yaitu Malmun bin Harun Ar Rasyid, Al Muktasim dan Al Watsiq adalah khalifah-khalifah
penganut fahaman Muktazilah atau sekurang-kurangnya penyokong utama daripada golongan
Muktazilah.
Dalam sejarah dinyatakan bahwa pada zaman itu terjadilah apa yang dinamakan
fitnah Al-Quran Makhluk yang mengorbankan beribu-ribu ulama yang tidak sefahaman
dengan kaum Muktazilah. Pada masa Abu Hassan Al Asyari muda remaja, ulama-ulama
Muktazilah sangat banyak di Basrah, Kufah dan Baghdad. Masa itu zaman gilang gemilang
bagi mereka, karena fahamannya disokong oleh pemerintah.
Pengertian Ahlu Sunnah Wal Jamaah
Ditinjau dari ilmu bahasa (lughot/etimologi), Ahlussunah Wal Jamaah berasal dari
kata-kata:
a. Ahl (Ahlun), berarti golongan atau pengikut
b. Assunnah berarti tabiat, perilaku, jalan hidup, perbuatan yang mencakupucapan,
tindakan, dan ketetapan Rasulullah SAW.
c. Wa, huruf athf yang berarti dan atau serta
d. Al jamaah berarti jamaah, yakni jamaah para sahabat Rasul Saw. Maksudnya ialah
perilaku atau jalan hidup para sahabat.
Secara etimologis, istilah Ahlu Sunnah Wal Jamaah berarti golongan yang
senantiasa mengikuti jejak hidup Rasulallah Saw. dan jalan hidup para sahabatnya. Atau,
golongan yang berpegang teguh pada sunnah Rasul dan Sunnah para sahabat, lebih khusus
16
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

lagi, sahabat yang empat, yaitu Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan,
dan Ali bin Abi Thalib.
Ahlu Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
dan sunnah shahabatnya radhiyallahu 'anhum. Al-Imam Ibnul Jauzi menyatakan tidak
diragukan bahwa Ahli Naqli dan Atsar pengikut atsar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan atsar para shahabatnya, mereka itu Ahlus Sunnah.
Kata "Ahlu Sunnah" mempunyai dua makna. Pertama, mengikuti sunah-sunah dan
atsar-atsar yang datangnya dari Rasulullah shallallu 'alaihi wa sallam dan para shahabat
radhiyallahu 'anhum, menekuninya, memisahkan yang shahih dari yang cacat dan
melaksanakan apa yang diwajibkan dari perkataan dan perbuatan dalam masalah aqidah dan
ahkam.
Kedua, lebih khusus dari makna pertama, yaitu yang dijelaskan oleh sebagian ulama
di mana mereka menamakan kitab mereka dengan nama As-Sunnah, seperti Abu Ashim, AlImam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Al-Khalal dan lainlain. Mereka maksudkan (As-Sunnah) itu i'tiqad shahih yang ditetapkan dengan nash dan
ijma'.
Kedua makna itu menjelaskan kepada kita bahwa madzhab Ahlu Sunnah itu
kelanjutan dari apa yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaih wa sallam dan para
shahabat radhiyallahu 'anhum. Adapun penamaan Ahlus Sunnah adalah sesudah terjadinya
fitnah ketika awal munculnya firqah- firqah.
Terdapat dua konflik ekstrim yang telah membawa perpecahan keras dan berdarahdarah dalam sejarah umat islam. Ketika muncul pertentangan antara Syiah dan
Mutazilah,dua kelompok moderat Ahlu Sunnah Waljamaah yaitu Asyariyah dan
Maturidiyah berusaha menkompromikan keduanya.
1. Asyariyah
Nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abi Basyar Ishaq bin
Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa
Al-Asyari, seorang sahabat Rasulullah saw. Kelompok Asyariyah menisbahkan pada
namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab Asyariyah.
Al-Asyari yang semula berpaham Mutazilah akhirnya berpindah menjadi
Ahli Sunnah. Sebab yang ditunjukkan oleh sebagian sumber lama bahwa Abul Hasan
telah mengalami kemelut jiwa dan akal yang berakhir dengan keputusan untuk keluar
17
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

dari Muktazilah. Sumber lain menyebutkan bahwa sebabnya ialah perdebatan antara
dirinya dengan Al-Jubbai seputar masalah ash-shalah dan ashlah (kemaslahatan). AlAsyari menganut faham Mutazilah hanya sampai ia berusaha 40 tahun. Setelah itu,
secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jamaah masjid bashrah bahwa dirinya
telah meninggalkan faham Mutazilah dan menunjukkan keburukan-keburukannya.
Menurut Ibn Asakir, yang melatarbelakangi Al-Asyari meninggalkan faham
Mutazilah adalah mengakuan Al- Asyari telah bermimpi bertemu Rasulullah Saw.
sebanyak tiga kali, yaitu pada malam ke-10, ke-20, dan ke-30 bulan Ramadhan.
Dalam tiga mimpinya itu, Rasulullah memperingatkannya agar meninggalkan faham
Mutazilah dan membela faham yang telah diriwayatkan dari beliau.
Setelah itu, Abul Hasan memposisikan dirinya sebagai pembela keyakinankeyakinan salaf dan menjelaskan sikap-sikap mereka. Pada fase ini, karya-karyanya
menunjukkan pada pendirian barunya. Dalam kitab Al-Ibanah, ia menjelaskan bahwa
ia berpegang pada madzhab Ahmad bin Hambal.
Abul Hasan menjelaskan bahwa ia menolak pemikirian Muktazilah,
Qadariyah, Jahmiyah, Hururiyah, Rafidhah, dan Murjiah. Dalam beragama ia
berpegang pada Al-Quran, Sunnah Nabi, dan apa yang diriwayatkan dari para
shahabat, tabiin, serta imam ahli hadits.
Asyariyah

berpendapat

bahwa

perbuatan

manusia

diciptakan

oleh

Alllah,namun manusia memiliki peranan dalam perbuatannya.Dengan konsep


kasb,menjadikan manusia selalu berusaha secara kreatif dalam kehidupannya. Akan
tetapi tidak melupakan bahwa Tuhanlah yang menentukan semuanya. Asyariyah
berhadapan langsung dengan Mutazilah.
2. Maturidiyah
Berdasarkan buku Pengantar Teologi Islam, aliran Maturidiyah diambil dari
nama pendirinya, yaitu Abu Mansur Muhammad bin Muhammad. Di samping itu,
dalam buku terjemahan oleh Abd. Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib menjelaskan
bahwa pendiri aliran maturidiyah yakni Abu Manshur al-Maturidi, kemudian
namanya dijadikan sebagai nama aliran ini.
Maturidiyah adalah aliran kalam yang dinisbatkan kepada Abu Mansur alMaturidi yang berpijak kepada penggunaan argumentasi dan dalil aqli kalami dalam
membantah penyelisihnya seperti Mutazilah, Jahmiyah dan lain- lain untuk
menetapkan hakikat agama dan akidah Islamiyyah. Sejalan dengan itu juga, aliran
Maturidiyah merupakan aliran teologi dalam Islam yang didirikan oleh Abu Mansur
18
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Muhammad al-Maturidiyah dalam kelompok Ahli Sunnah Wal Jamaah yang


merupakan ajaran teknologi yang bercorak rasional.
Maturidiyah berpendapat bahwa perbuatan itu tetap diciptakan oleh Allah
sehingga perbuatan manusia sebagai perbuatan bersama antara manusia dan Tuhan.
Manusia yang dikehendaki adalah manusia yang kreatif,tetapi kreativitas itu tidak
menjadikan makhluk sombong karena merasa mampu menciptakan dan mewujudkan.
Tetapi manusia yang kreatif dan pandai bersyukur,karena kemampuannya
menciptakan sesuatu tetap dalam ciptaan Allah.
Asyariyah dan Maturidiyah mengupayakan perdamaian antara kelompok
jabariyah dan qadiriyah (dilanjutkan Mutazilah) yang mengagung-agungkan manusia
sebagai penentu seluruh kehidupannya. Sikapa moderatisme keduanya merupakan ciri
utama Ahlu Sunnah Waljamaah dalam berakidah.

4.Kasus Konflik Internal Umat Islam


Kian hari kian mengkhawatirkan. Ketegangan di internal umat Islam terus berlangsung.
Di Irak, beberapa hari yang lalu, kita menyaksikan adanya pemboman terhadap sejumlah
mesjid yang dilakukan oleh umat Islam sendiri. Orang Islam sunni merusak mesjid orang
Syi'ah. Dan begitu juga sebaliknya. Hal yang sama juga bisa kita saksikan di Pakistan. Antara
orang Sunni dan Syi'ah berupaya saling menghancurkan mesjid masing- masing. Mesjid yang
sering disebut sebagai rumah Allah SWT (baytullah) itu telah dijadikan seba gai reservant
untuk melakukan balas dendam dan pelampiasan angkara murka. Di tangan umat Islam
sendiri, mesjid seperti telah kehilangan daya magis dan aura karismatiknya sehingga dengan
mudah bisa dibenamkan. Mesjid tidak lagi menjadi semacam hibernasi yang menampung
segala friksi dalam syahdu.
Dalam konteks Indonesia, kita pun disodori tayangan pengrusakan mesjid- mesjid dan
rumah-rumah kelompok Islam Ahmadiyah. Kerap diberitakan, sebagian warga Ahmadiyah
mendapatkan ancaman, baik fisik maupun non fisik. Beberapa tokoh Islam mainstream pun
ikut menekan agar kelompok Ahmadiyah hengkang dari Islam jika mereka masih ngotot
dengan akidah yang dipegangnya. Negara atau persisnya pemerintah tak tahu- menahu akan
adanya tindakan kriminal yang cukup dahsyat itu. Di negerinya sendiri kelompok Ahmadiyah
diperlakukan bak seorang anak haram jadah yang terkutuk. Aparat kepolisian tak
memberikan perlindungan keamanan yang cukup terhadap mereka sehingga penghancuran

19
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

tetap berlangsung. Atas kondisi itu, belakangan tersiar kabar bahwa kelompok Islam
Ahmadiyah hendak meminta suaka ke luar.
Ironi ketika melihat fakta- fakta tersebut. Itukah hakekat ajaran Islam yang dibawa oleh
Rasul Muhammad SAW? Mengapakah umat Islam cenderung bersikap apokaliptik di dalam
menghadapi perbedaan-perbedaan tafsir yang muncul? Perbedaan tafsir nyaris selalu menelan
ongkos yang tak murah, yaitu pemberangusan. Mengapa pula mesjid selalu menjadi sasaran
penyerangan? Mesjid yang dimiliki oleh satu kelompok tertentu, di mata kelompok Islam
yang lain tak ubahnya mesjid dhirar yang bisa dirobohkan. Maka, ke mana gerangan sikapsikap toleran yang telah lama ditauladankan oleh Nabi Muhammad? Sikap yang arif nan
bijaksana kini semakin mewah kita temukan di kalangan umat Islam.
Peradaban kekerasan telah menjungkirbalikkan nurani dan akal sehat menjadi batu.
Alih-alih agama akan menjadi solusi, yang terjadi justeru menjadi beban dan problem.
Kekerasan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam ini, suka atau tidak, telah
menenggelamkan integritas moral Islam ke dalam kubangan kejahatan atas kemanusiaan.
Citra Islam sebagai agama damai dan anti kekerasan segera pupus, digantikan oleh citra Islam
sebagai agama kaum teroris. Teror bukan hanya dialami umat agama lain, melainkan juga
menimpa sebagian umat Islam. Kini kelompok Islam Ahamadiyah mengalami ketakutan
menghadapi ancaman kelompok Islam lain. Ahmadiyah dipandang telah melakukan makar
terhadap akidah Islam sehingga boleh dibasmi. Begitu juga antara kaum Sunni dan Syi'ah di
Irak, Pakistan, dan tidak tertutup kemungkinan akan melebar ke Negara- negara dengan kaum
Islam yang lain.
Tentu ada banyak faktor yang memicu dan melatar belakangi terjadinya konflik internal
umat Islam tersebut. Salah satunya adalah soal teologis. Umum diketahui bahwa
pertengkaran semacam itu dipicu oleh adanya perbedaan di dalam menafsirkan Islam.
Sayangnya, perbedaan tafsir itu tidak dimaknai sebagai rahmat yang harus dinikmati,
melainkan sebagai laknat yang harus dijauhi. Setiap kelompok dalam Islam selalu
berpendirian perihal adanya kebenaran tafsir tunggal, seperti yang dirumuskannya sendiri.
Sementara tafsir orang lain diposisikan sebagai berada dalam kesesatan yang terangbenderang. Dengan ini, timbullah sejumlah ketegangan di internal umat Islam. Antara Sunni
dan Syi'ah. Antara Sunni dan Mu'tazilah. Antara Sunni dan Ahmadiyah. Bahkan, di internal
Sunni pun sering terjadi perang dingin. Di Indonesia pernah terjadi hubungan tak harmonis
antara Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah karena hal- hal yang sebenarnya sangat remeh.
Itu pertarungan atau konflik yang terjadi antarkelompok dalam Islam. Nah, yang tak
kalah mengerikannya juga adalah ancaman terhadap para intelektual yang oleh Islam
20
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

mainstream dipandang memiliki tafsir keagamaan sesat. Sejarah telah merekam sejumlah
nama intelektual yang pernah mengalami ancaman ekskomunikasi bahkan ancaman dibunuh.
Di antaranya adalah Ibnu Rusyd yang perpustakaan pribadinya dan sejumlah buku hasil buah
tangannya dibakar. Nashr Hamid Abu Zaid yang oleh pengadilan Mesir divonis murtad
sehingga layak dibunuh dan harus diceraikan dari isterinya. Dengan alasan keamanan diri,
kini Abu Zaid lebih memilih tinggal Belanda ketimbang di Mesir. Dalam konteks Indonesia,
salah satunya yakni Ulil Abshar Abdalla. Sejumlah ulama di Jawa Barat memvonis Ulil telah
keluar dari Islam (murtad) sehingga pantas diganjar dengan hukuman mati. Pada faktor
pertama ini, kita sedang berhadapan dengan fallacy pemutlakan.
Faktor lain adalah soal politik-kekuasaan. Sering dikisahkan bahwa pertarungan
internal di kalangan umat Islam itu justru pemicu utamanya adalah soal politik belaka,
sementara faktor teologis hanya sekadar bumbunya. Semua kaum terpelajar Islam mesti
mengetahui bahwa perang unta (waq'ah al-jamal) antara Aisyah (isteri Nabi Muhammad)
melawan Ali bin Abi Thalib (sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad), perang shiffin
antara Ali bin Abi Thalid dan Mu'awiyah bin Abi Sofyan, sepenuhnya dipicu oleh faktor
politik kekuasaan.
Fakta-fakta seperti ini penting diungkap ke publik Islam untuk menjadi bahan
permenungan bagi semuanya. Bahwa Islam yang direklamekan Nabi sebagai agama damai,
agama cinta, telah ternoda hanya beberapa waktu setelah Nabi Muhammad wafat. Umat
Islam sibuk berperang di antara mereka sendiri. Harga yang harus dibayar pun sangat mahal.
Jika dihitung sejak perang unta hingga sekarang, maka jelas ada sekian juta umat Islam telah
mati terbunuh di tangan umat Islam yang lain. Belum lagi kalau kita mau menghitung
kerugian material akibat konflik tersebut. Sungguh, ini sebuah nestapa dari konflik internal
umat Islam. Sekiranya Nabi Muhammad SAW bangkit dari kuburnya, pastilah ia akan
kecewa. Nabi Muhammad jauh lebih bersedih menyaksikan umatnya yang saling berperang,
ketimbang sebuah karikatur yang melecehkan dirinya di Jyllands-Posten, Denmark.
Mungkin ada baiknya menghayati dan mengamalkan QS Alhujurat 10-13, sembari
memikirkan surah yang sama pada ayat 14-15. Lalu coba lihat QS.Yunus:99 yang
diterjemahkan: "Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka
bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak MEMAKSA mereka menjadi BERIMAN
SELURUHNYA ?"
Anggaplah orang lain belum "se-benar" kita, apakah kita akan memaksa mereka semua
mengikuti kebenaran yang kita yakini?

21
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Nabi Muhammad SAW selalu berdakwah ataupun menasihati umat dengan cara sebaiksebaiknya, bukan dengan cara (men-)cela, paksa, hantam dan bubarkan.
Kasus kekerasan yang bernuansa sentimen keagamaan di Indonesia menunjukkan
terhambatnya proses alir informasi tentang Islam dari segala aspeknya, dari sejak ia mulai
dilahirkan sampai sekarang; juga komunikasi antar elemen penganutnya.
Mengapa kita khawatir dengan perbedaan dan memusuhi perbedaan di antara kita,
cobalah jika ada perbedaan kita tunjukan akhlak kita yang bisa menarik mereka untuk ikut ke
kita. Bukan dengan cara kekerasan yang pada akhirnya mereka tambah antipati kepada kita
bagaimana bisa menarik kalau kita sendiri bertindak brutal malah bisa menjauhi atau
keterpaksaan. Bukankah agama tidak ada paksaan.

Yang terpenting kita sudah

mempublikasikan atau mensyiarkan dan itu sudah tanggung jawab mereka mau ikut atau
tidak dan biarkan berfikir sendiri mana yang baik
Pembincangan mengenai perpecahan umat itu juga bermula dari hadis Nabi
Muhammad saw tentang terjadinya perpecahan di tengah umat ini, di antaranya adalah hadis
yang diriwayatkan oleh Tirmidzi yakni :
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda, Sesungguhnya
umatku (Islam) akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan masuk kedalam neraka,
sedangkan hanya satu yang masuk kedalam surge. Lalu Shohabatpun bertanya, Ya
Rasulullah, siapakah satu golongan yang masuk kedalam surge itu nabi?. Maka Nabi pun
menjawab, satu golongan yang masuk kedalam surge yakni orang yang menetapi jamaah
(orang yang menetapi ajaran Rasulullah dan ajaran Shohabat Nabi ).
Di dalam hadis tersebut juga terdapat masalah, yaitu masalah penilaian perpecahan
umat menjadi lebih banyak bahwa firqah-firqah ini seluruhnya binasa dan masuk neraka
kecuali hanya satu saja. Ini akan membuka pintu bagi klaim-klaim setiap firqh bahwa dialah
firqah yang benar, sementara yang lain binasa. Hal ini tentunya akan memecah belah umat,
mendorong mereka untuk saling cela satu sama lain, sehingga akan melemahkan umat secara
keseluruhan dan memperkuat musuhnya. Hal itu akan membuat kepada penyesatan umat satu
sama lain, bahkan membuat mereka saling mengkafirkan.
Ahli hikmah mengatakan: Sesungguhnya kebenaran tidak akan dicapai oleh manusia
dalam semua aspeknya dan mereka juga tidak akan salam dalam segala bentuknya, tetapi
sebagian mereka mencapai sebagian kebenaran dan yang lain mencapai aspek kebenaran
yang lain.Mereka mengumpamakan hal itu dengan sekelompok orang buta yang memegang
seekor gajah besar. Setiap orang akan mensifatinya (gajah) seperti bagian yang dipegang dan
terlintas dalam fikiran masing- masing. Bagi orang yang memegang kaki gajah ia akan
22
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

mengatakan bahwa gajah adalah hewan yang bentuknya seperti pohon kurma yang tinggi dan
bulat. Dan orang yang memegang punggung gajah mengatakan bahwa gajah itu bentuknya
seperti bukit yang tinggi atau tanah yang menggunung. Begitulah masing- masing
memberikan ciri-ciri gajah dengan apa yang mereka sentuh. Dalam satu segi ia benar, tapi
jika ia mengklaim yang lain berbohong dan tidak benar, maka ia telah melakukan kesalahan.
Sesungguhnya berbeda dengan orang lain bukanlah suatu kesalahan, apalagi kejahatan,
namun sebaliknya sangat diperlukan. Tentunya, berbeda dengan pengertian ini bukan asal
berbeda atau (waton sulaya). Perbedaan harus dipandang sebagai suatu realitas sosial yang
fundamental, yang harus dihargai dan dijamin pertumbuhannya oleh masyarakat itu sendiri.
Kaitannya dengan penjelasan ini, al-Quran surah al- Hujurat ayat 13 menegaskan:
.
Artinya: Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia -mulia kamu di sisi Allah ialah yang
lebih taqwa di antara kamu.
Ayat al-Quran ini sesungguhnya mengajarkan kepada manusia untuk saling mengerti
dan memahami. Itu artinya, karena Allah swt sengaja menciptakan perbedaan di antara umat
manusia, maka manusia diperintahkan untuk saling menjaga situasi fisik dan batin sesamanya
agar tak terlukai dan melukai satu sama lain oleh sebab perbedaan yang ada. Pada akhirnya,
tinggi rendahnya manusia dihadapan Tuhan tidak ditentukan oleh fakta perbedaan yang
melekat pada dirinya, tetapi oleh kadar ketaqwaannya. Itulah sesungguhnya prestasi gemilang
manusia di hadapan sesama dan Tuhannya. Kata iman dan taqwa merupakan suatu prestasi
tersendiri bagi manusia. Seakan Tuhan berkata, Hai manusia, kalian semua sama di
hadapanku, kecuali prestasimu. Prestasi di sini adalah prestasi sosial dan prestasi spiritual di
hadapannya.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sumber ajaran Islam adalah al-Quran dan hadis.
Keduanya memiliki peranan yang penting dalam kehidupan umat Islam. Wala upun terdapat
perbedaan pendapat dari segi penafsiran dan aplikasi, namun setidaknya ulama sepakat
bahwa keduanya dijadikan rujukan. Ajaran Islam mengambil dan menjadikan pedoman
utamanya dari keduanya. Oleh karena itu, kajian- kajian terhadapnya tak akan pernah keruh
bahkan terus berjalan dan berkembang seiring dengan kebutuhan umat islam. Melalui
terobosan-terobosan baru, kajian ini akan terus mewarnai khasanah perkembangan studi
keislaman dalam pentas sejarah umat Islam.

23
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

Dalam sejarah dan bahkan saat ini, ada sekelompok kecil orang-orang yang mengaku
diri mereka sebagai orang Islam, tetapi mereka menolak hadis atau sunnah Nabi saw. Mereka
dikenal sebagai orang-orang yang berfaham inkarus-sunnah. Cukup banyak alasan mereka
menolak hadis Nabi saw sebagai sumber ajaran Islam. Dengan meyakini bahwa hadis Nabi
merupakan bagian dari sumber ajaran Islam, maka penelitian hadis khususnya hadis ahad
sangat penting.
Agak sulit kita bayangkan, jika tanpa campur tangan: Hadis, al-Quran, khususnya
yang berkaitan dengan masalah- masalah hukum dapat dipahami dan diaktualisasikan dalam
amaliah praktis kaum muslimin. Karena itulah Hadis mejadi sumber utama bagi kaum
Muslimin setelah al-Quran, sebagai juklak hukum dan ajaran-ajaran yang terdapat dalam alQuran. Oleh Karena itu pula kiranya perhatian yang diberikan umat Islam begitu besar
terhadap hadist sejalan dengan perhatian mereka terhadap al-Quran.
Perbedaan dan perpecahan tentu tidak bisa kita hindari karena berbagai sebab, akan
tetapi jangan sampai perbedaan tersebut memicu untuk saling merendahkan satu sama lain
dan hanya menganggap kelompoknya yang paling benar dan menyalahkan kelompok lain
atau bahkan mengkafirkannya. Oleh sebab it, dibutuhkan toleransi antar umat beragama,
apalagi antar pemeluk agama Islam yang dalam hal ini berbeda aliran meski sama-sama
dalam paying Islam.Dalam memahami sebuah agama kerap kali ditemukan pemahaman
yang berbeda beda antar individu satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya
perbedaan dalam perolehan khasanah ilmu pengetahuan tentang agama.

24
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Dalam sejarah agama Islam , telah tercatat adanya firqah- firqah (golongan) di
lingkungan umat Islam, yang antara satu sama lain bertentangan pahamnya dan sampai saat
ini perbedaan tersebut masih tumbuh dengan suburnya. Kenyataan ini sudah dijelaskan oleh
Rosulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Auf bin Malik
"Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golonga n
di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka
dan satu di surga. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini
pasti akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di
neraka." Lalu beliau ditanya: "Wahai Rasulullah siapakah mereka ?" Beliau menjawab: "Al
Jamaah." HR Sunan Ibnu Majah.
Islam sebagai agama islam yang diturunkan untuk manusia, yang didalamnya terdapat
pedoman serta aturan yang menuntun manusia membawa kebahagiaan di dunia dan di
akhirat. Serta dalam agama islam terdapat tiga sendi utama dalam agama islam dilihat dari
tataran sisi keilmuan, yaitu iman, islam dan ihsan.
Ahlu Sunnah Wal Jamaah adalah golongan yang senantiasa mengikuti jejak hidup
Rasulallah Saw. dan jalan hidup para sahabatnya. Atau, golongan yang berpegang teguh pada
sunnah Rasul dan Sunnah para sahabat, lebih khusus lagi, sahabat yang empat, yaitu Abu
Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

2. Saran
Apa yang dibahas dalam makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa
pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dasar Islam dalam tataran ilmu pengetahuan dan
praktis. Bagi mahasiswa yang kelak terjun ke masyarakat diharapkan setelah membaca
makalah ini dapat memberikan pengetahuan (pencerahan) tentang prinsip-prinsip dasar Islam
dalam tataran keilmuan dan praktis. Kedepan mahasiswa diharapkan lebih kritis setelah
25
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

membaca makalah ini terutama dalam menyikapi berbagai aliran yang muncul dalam Islam
sehingga tidak terjebak pada perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam.
Disarankan bagi mahasiswa untuk terus memperdalam ajaran akidah keislamannya
dengan benar, agar bisa memahami aliran-aliran agama yang benar yang sesuai dengan
Ahlus Sunah Wal Jamaah agar bisa selamat di dunia sampai akhiran dan tidak mudah
terjerumus ke dalam aliran agama yang salah (sesat)

26
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id

REFERENSI

Asiyah,

Udji.,2012., Agama Islam II (isu-isu aktual dan capital selecta

keberagaman)., Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.


http://www.belajarislam.web.id/2014/02/pengertian-agama- islam-secarabahasa.html.
Diakses pada 18 Mei 2014 Pukul 14.26
http://ceritakuaja.wordpress.com/2013/05/25/makalah-hakikat- iman-islam-dan- ihsan/.
Diakses pada 18 Mei 2014 Pukul 20.00
http://www.fadhilza.com/2009/09/tadabbur/perpecahan-dikalangan- umat-islam.html
Diakses pada 18 Mei 2014 Pukul 0:37

27
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id