Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah sampah memang tidak ada habisnya. Permasalahan sampah sudah menjadi
persoalan serius terutama di kota-kota besar, tidak hanya di Indonesia saja, tapi di seluruh
dunia. Negara-negara maju telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah
tersebut. Misalnya saja dengan cara insinerasi yang kemudian dikoneksikan ke pembangkit
listrik untuk mengurangi volume sampah.
Selain itu juga dilakukan berbagai upaya dengan cara-cara yang lebih maju dan modern,
sehingga permasalahan sampah dapat direduksi secara signifikan. Tapi lain halnya dengan
negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Produksi sampah terus meningkat dari tahun
ke tahun, namun kondisi perekonomian negara tidak mencukupi untuk mengolah sampah
dengan cara modern seperti di negara-negara maju.
Pemerintah hanya menerapkan pengelolaan sampah dengan metode open dumping yang
mana sangat tidak efektif mengingat lahan yang tersedia sangat terbatas dan adanya resistensi
dari masyarakat sekitar.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengelolaan Sampah

1.

2.
3.
4.

Sampah (refuse) adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau
sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh
manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis (karena human waste tidak
termasuk didalamnya) dan umumnya bersifat padat (Azwar, 1990). Sumber sampah bisa
bermacam-macam, diantaranya adalah : dari rumah tangga, pasar, warung, kantor, bangunan
umum, industri, dan jalan.
Berdasarkan komposisi kimianya, maka sampah dibagi menjadi sampah organik dan
sampah anorganik. Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia menunjukkan bahwa 80%
merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat digunakan
kembali (Outerbridge, ed., 1991).
Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah
sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara garis besar, kegiatan di dalam
pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer
dan transport, pengolahan dan pembuangan akhir (Kartikawan, 2007)
Pengelolaan sampah adalah Pengumpulan, Pengangkutan, Pemrosesan, Pendaul-ulangan
atau Pembuangan dari Material Sampah. Pengolahan sampah bisa melibatkan zat padat, cair,
gas, atau radioaktif dengan metode dari keahlian khusus untuk masing-masing jenis zat.
Mengelola sampah berarti mengumpulkan, mengangkut, memproses, mendaur ulang,
atau membuang material sampah. Setiap harinya, manusia pasti menghasilkan sampah. Baik
itu sampah rumah tangga seperti sisa makanan, plastik, hingga sampah dari proses industri.
Pada tahun 2012 lalu, Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa penduduk
Indonesia menghasilkan rata-rata 2,5 liter sampah setiap harinya. Misalkan penduduk
Indonesia ada sekitar 250 juta orang, berapa volume sampah yang dihasilkan setiap harinya?
625 liter. Itu baru dalam sehari, jika selama 1 tahun, berapa sampah yang akan dihasilkan?
Jika tidak dikelola dengan baik, bisa-bisa wilayah Indonesia akan diselimuti oleh sampah.
Oleh karena itu, kita harus tahu bagaimana mengelola sampah yang benar. Sampah yang
tidak dikelola dengan benar dapat menimbulkan berbagai macam bibit penyakit. Tak perlu
menunggu menjadi presiden atau Menteri Lingkungan Hidup terlebih dahulu untuk mengatasi
masalah sampah. Kita bisa melakukannya dari diri kita sendiri.
Sekecil apapun yang kita lakukan, secara tidak langsung kita sudah turut serta
melestarikan lingkungan. Lalu, bagaimana cara mengelola sampah yang baik dan benar?
Berikut ini adalah yang bisa kita lakukan untuk mengelola sampah:
Pilahlah sampah di rumah anda. Pisahkan sampah yang mudah terurai atau sampah organik
dengan sampah yang sulit terurai atau sampah anorganik. Yang termasuk dalam sampah
organik adalah sampah dapur, seperti sisa makanan, sisa sayuran, dan lain-lain. Sedangkan
yang termasuk sampah anorganik misalnya sampah plastik, kemasan bekas
makanan/minuman, kertas bekas, dan lain-lain.
Sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk kompos. Sedangkan untuk sampah anorganik
bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai ekonomis, seperti vas bunga, tas, tempat
tissue, tempat Koran, dan lain sebagainya.
Menerapkan teknik landfill, yaitu membuang dan menumpuk sampah di tanah yang rendah
pada areal terbuka.
Menerapkan teknik sanitary landfill. Mirip dengan teknik landfill, hanya saja sampah ditutup
atau diuruk dengan tanah.

5.

Menerapkan teknik incineration, yaitu dengan cara membakar sampah baik dengan cara
sederhana maupun cara modern. Teknologi memungkinkan hasil energi pembakaran diubah
menjadi energi listrik.

Gambar. pengelolaan sampah

B. Metode Pengelolaan Sampah


1. Metode Pembuangan
Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk penguburan untuk membuang
sampah. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai. Lubang bekas
pertambangan, atau lubang-lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yang dirancang
dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan
murah. Sedangkan penimbunan darat yang dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan
menyebabkan berbagai masalah lingkungan, diantaranya angin berbau sampah, menarik
berkumpulnya hama, dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah
adalah gas methan dan karbon dioksida.
Karakteristik desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah Metode
Pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat / pelapis plastik.banyak penimpunan
sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang dipasang untuk mengampil gas yang
terjadi.
2. Metode Daur-ulang
Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan
kembali disebut sebagai Daul-ulang. Ada beberapa cara daur ulang yaitu pengampilan bahan
sampah untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk
membangkitkan listrik. Metode baru dari Daur-Ulang yaitu :

Pengolahan kembali secara fisik


Metode ini adalah aktivasi paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan
menggunakan kembali sampah yang telah dibuang contohnya kaleng minum alumunium.
Kalag baja makanan / minuman, botol bekas, kertas karton, koran, majalah dan kardus.
Pengumpulan biasanya dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak
sampah / kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air limbah, diharapkan
agar bahan-bahan tersuspensi dalam air limbah yang berukuran besar dan yang mudah
mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Tahap penyaringan
(screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi
yang berukuran besar biasanya dengan menggunakan sand filter dengan ukuran silica yang
disesuaikan dengan bahan-bahan tersuspensi yang akan disaring. Bahan tersuspensi yang
mudah mengendap dapat disisihkan secara mudahdengan proses pengendapan, pada proses
ini bisa dilakukan tanpa tambahan bahan kimia bila ukurannya sudah besar dan mudah
mengendap tapi dalam kondisi tertentu dimana bahan-bahan terususpensi sulit diendapkan
maka akan digunakan bahan kimia sebagai bahan pembantu dalam proses sedimentasi, pada
proses ini akan terjadi pembentukan flok-flok dalam ukuran tertentu yang lebih besar
sehingga mudah diendapkan pada proses yang menggunakan bahan kimia ini masih
diperlukan pengkondisian pH untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap
partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap. Proses flotasi banyak digunakan
untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak
mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara
penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge
thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation). Proses filtrasi di dalam
pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses
reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel
tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran
yang dipergunakan dalam proses osmosa.
Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa
aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika diinginkan
untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. Teknologi membran (reverse osmosis)
biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan
untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.

C. Konsep Pengelolaan Sampah


Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaansampah yang berbeda penggunaanya
antara negara-negara atau daerah yaitu :
1) Hirarki sampah . hirarki limbah merujuk pada 3M mengurangi sampah, menggunakan
kembali sampah dan daur ulang yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai
dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah.
Tujuan limbah hirarki adalah untuk mengambil keuntungan meksimum dari produk-produk
praktis dan menghasilkan jumlah minimum limbah.
2) Perpanjangan tanggung jawab penghasil sampah/extended producer responsibility (EPR).
(EPR) adalah suatu strategi yang dirancang untuk mempromosikan integrasi semua biaya
yang berkaitan dengan produk-produk mereka si seluruh siklus hidup (termasuk akhir-ofpembuangan biaya hidup) ke dalam pasar harga produk. Tanggung jawab produsen di
perpanjang dimaksudkan untuk menentukan akuntabilitas atas seluruh lifecycle produk dan
kemasan di perkenalkan ke pasar.
3) Prinsip pengotor berguna membayar. Prinsip pengotor membayar adalah prinsip di mana
pajak pencemar membayar dampak akibatnya ke lingkungan.
D. Manfaat Pengolahan Sampah
Manfaat dari pengolahan sampah yaitu:
1. Penghematan sumber daya alam
2. Penghematan energy
3. Penghematan lahan TPA
4. Lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman)
5. Mengurangi Pencemaran
6. Sebagai pupuk organik, sampah dapat menyuburkan tanaman.
7. Lingkungan yang bersih dapat mencegah terjangkitnya berbagai macam bibit penyakit.
8. Dapat meningkatkan kesejahteraan dengan mendaur ulang sampah menjadi barang yang
bernilai ekonomis
Sampah yang tidak dikelola akan menyebabkan :
1. Longsor tumpukan sampah
2. Sumber penyakit
3. Pencemaran lingkungan
4. Menyebabkan banjir
E. Tindakan Pengelolaan Sampah
Tindakan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sampah diantaranya:
1. Penimbulan sampah (solid waste generated)
Dari definisinya dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya sampah itu tidak diproduksi,
tetapi ditimbulkan (solid waste is generated, not produced). Oleh karena itu dalam
menentukan metode penanganan yang tepat, penentuan besarnya timbulan sampah sangat
ditentukan oleh jumlah pelaku dan jenis dan kegiatannya.
Idealnya, untuk mengetahui besarnya timbulan sampah yang terjadi, harus dilakukan
dengan suatu studi. Tetapi untuk keperluan praktis, telah ditetapkan suatu standar yang
disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum. Salah satunya adalah SK SNI S-04- 1993-03
tentang Spesifikasi timbulan sampah untuk kota kecil dan kota sedang. Dimana besarnya
timbulan sampah untuk kota sedang adalah sebesar 2,75-3,25 liter/orang/hari atau 0,7-0,8
kg/orang/hari.

2. Penanganan di tempat (on site handling)


Penanganan sampah pada sumbernya adalah semua perlakuan terhadap sampah yang
dilakukan sebelum sampah di tempatkan di tempat pembuangan. Kegiatan ini bertolak dari
kondisi di mana suatu material yang sudah dibuang atau tidak dibutuhkan, seringkali masih
memiliki nilai ekonomis. Penanganan sampah ditempat, dapat memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap penanganan sampah pada tahap selanjutnya.
Kegiatan pada tahap ini bervariasi menurut jenis sampahnya meliputi pemilahan
(shorting), pemanfaatan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle). Tujuan utama dan kegiatan
di tahap ini adalah untuk mereduksi besarnya timbulan sampah (reduce)
3. Pengumpulan (collecting)
Kegiatan pengumpulan sampah dan sumbernya menuju ke lokasi TPS. Umunmya
dilakukan dengan menggunakan gerobak dorong dan rumah-rumah menuju ke lokasi TPS.
4. Pengangkutan (transfer and transport)
Kegiatan pemindahan sampah dan TPS menuju lokasi pembuangan pengolahan sampah
atau lokasi pembuangan akhir.
5. Pengolahan (treatment)
Bergantung dari jenis dan komposisinya, sampah dapat diolah. Berbagai alternatif yang
tersedia dalam pengolahan sampah, di antaranya adalah :
a) Transformasi fisik, meliputi pemisahan komponen sampah (shorting) dan pemadatan
(compacting), yang tujuannya adalah mempermudah penyimpanan dan pengangkutan.
b) Pembakaran (incinerate), merupakan teknik pengolahan sampah yang dapat mengubah
sampah menjadi bentuk gas, sehingga volumenya dapat berkurang hingga 90-95%. Meski
merupakan teknik yang efektif, tetapi bukan merupakan teknik yang dianjurkan. Hal ini
disebabkan karena teknik tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan pencemaran udara.
c) Pembuatan kompos (composting), Kompos adalah pupuk alami (organik) yang terbuat dari
bahan - bahan hijauan dan bahan organik lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat
proses pembusukan, misalnya kotoran ternak atau bila dipandang perlu, bisa ditambahkan
pupuk buatan pabrik, seperti urea (Wied, 2004). Berbeda dengan proses pengolahan sampah
yang lainnya, maka pada proses pembuatan kompos baik bahan baku, tempat pembuatan
maupun cara pembuatan dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun.
d) Energy recovery, yaitu tranformasi sampah menjadi energi, baik energi panas maupun energi
listrik. Metode ini telah banyak dikembangkan di Negara-negara maju yaitu pada instalasi
yang cukup besar dengan kapasitas 300 ton/hari dapat dilengkapi dengan pembangkit listrik
sehingga energi listrik ( 96.000 MWH/tahun) yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk
menekan biaya proses pengelolaan.
6. Pembuangan akhir
Pada prinsipnya, pembuangan akhir sampah harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dan
kelestarian lingkungan. Teknik yang saat ini dilakukan adalah dengan open dumping, di mana
sampah yang ada hanya di tempatkan di tempat tertentu, hingga kapasitasnya tidak lagi
memenuhi. Teknik ini sangat berpotensi untuk menimbulkan gangguan terhadap lingkungan.
Teknik yang direkomendasikan adalah dengan sanitary landfill. Di mana pada lokasi TPA
dilakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mengolah timbunan sampah.
Dewasa ini masalah sampah merupakan fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian
dari semua fihak, karena setiap manusia pasti memproduksi sampah, disisi lain masyarakat
tidak ingin berdekatan dengan sampah. Seperti kita ketahui bersama bahwa sampah yang
tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan.
Gangguan yang ditimbulkan meliputi bau, penyebaran penyakit hingga terganggunya estetika
lingkungan. Beberapa permasalahan yang timbul dalam sistem penanganan sampah sistem
yang terjadi selama ini adalah :

a)

Dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari sumber sampah
sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah belum dipilah-pilah sehingga kalaupun akan
diterapkan teknologi lanjutan berupa komposting maupun daur ulang perlu tenaga untuk
pemilahan menurut jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan, dan hal ini akan memerlukan
dana maupun menyita waktu.
b) Pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah, diantaranya :
1) Perlu lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir sehingga hanya cocok bagi kota yang
masih mempunyai banyak lahan yang tidak terpakai. bila kota menjadi semakin bertambah
jumlah penduduknya, maka sampah akan menjadi semakin bertambah baik jumlah dan
jenisnya. Hal ini akan semakin bertambah juga luasan lahan bagi TPA.
2) Dapat menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri serta bibit penyakit lain
juga dapat menimbulkan bau tidak sedap yang dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan
meter yang pada akhirnya akan mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan
F. Penanganan Sampah Organik dan Non Organik
1. Penanganan Sampah Organik
Penanganan sampah organik ditujukan pada pembuatan kompos mandiri yang dilakukan di
tiap rumah tangga dan tiap RT kampung. Prosesnya sangat mudah, murah dan bermanfaat
dapat berasal dari sampah dapur (rumah tangga) ataupun sampah pekarangan (RT)
2. Penanganan sampah Non-Organik
Di tiap rumah tangga harus memisahkan sampah plastik, logam dan kaca, serta kertas
kemudian membuangnya ke tong-tong sampah sesuai jenis sampah yang telah di sediakan.
Sampah-sampah tersebut akan di bawa ke tempat pengumpulan sampah untuk dipilih mana
yang masih dapat dijual mana yang tidak dijual. Hampir semua sampah non organik dapat
dijual ke pengepul

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
makalah ini juga dimaksudkan oleh penulis untuk menjadi sebuah dokumen
pengetahuan untuk kita semua.
Setelah kami mengamati dan mencatat hal-hal yang penting dari Tanggung Jawab
Pengelolaan Sampah penulis menyimpulkan bahwa :
Pengelolaan sampah adalah Pengumpulan, Pengangkutan, Pemrosesan, Pendaul-ulangan atau
Pembuangan dari Material Sampah.
Pembuangan sampah pada penimbunan darat dilakukan di tanah yang tidak terpakai, Lubang
bekas pertambangan, atau lubang-lubang dalam
Penimbunan darat yang dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai
masalah lingkungan
Ada beberapa Metode dalam Pengelolaan Sampah, yaitu Metode Pembuangan, Metode Daululang dan Metode Penghindaran dan Pengurangan
Pengelolaan sampah sangat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan
Saran
Dari penulisan makalah ini kami mengetahui jika makalah yang kami buat belum
sempurna. Karena sumber yang didapat oleh kami tidak terlalu lengkap dan banyak. Oleh
karena itu, saran dan kritik dari para pembaca sangat kami butuhkan untuk meningkatkan
kualitas dan kesempurnaan makalah ini.