Anda di halaman 1dari 6

A.

PENANDA WACANA
Penanda wacana ialah perkataan ataupun rangkaian perkataan yang berfungsi merangkai ayat
untuk melanjutkan sesuatu maklumat. Kegagalan dalam penggunaan penanda wacana yang tepat
akan menyebabkan seluruh wacana tidak mempunyai kesatuan dan perpautan yang lengkap
3 jenis penanda wacana:
i. Menunjukkan pertautan dari segi kronologi
ii. Memperjitu organisasi penulisan.
iii. Menghubungkan fakta dengan fakta atau idea dengan idea lain.
Menunjukkan pertautan dari segi kronologi
Beri pengertian kepada persoalan berkaitan waktu.
Contoh:
Lepas itu, lantas, semenjak itu, kini, mula-mula, kemudian, sebelum, pada zaman dahulu, pada
hari esoknya, dsbnya.
Tidak ada tanda koma (,) setelah contoh-contoh di atas.
Memperjitu orgonisasi Penulisan
Berfungsi untuk mempertautkan hubungan bagian wacana dengan bagian yang lain.
Memberitahu pembaca apa-apa yang dibuat kepada bagian tertentu.
Contoh:
Sebagai kesimpulan,
untuk merumuskan,
contohnya,
tegasnya,
dapat dinyatakan bahawa
pertama,
ahkir sekali,
dengan kata lain,
dalam hal ini,
dalam hubungan ini
untuk menjelaskan lagi
Nota: Setiap frasa yang diikuti koma (,) seperti contoh di atas diwajibkan meletakkan koma
dalam penulisan.
Menghubungkan fakta dengan fakta atau ide dengan ide yang lain
Halliday (1976) membaginya kepada 3 bagian, Yaitu:
a. Menambah atau memperluas ide
Contoh:
dan
selanjutnya,
di samping itu,
selain itu,
lebih-lebih lagi
tambahan pula,
begitu juga,
seterusnya,
satu lagi
dsbnya.

b. Menunjukkan pertentangan ide


Contoh:
tetapi
Sebaliknya,
pada masa yang sama
walaupun
walau bagaimanapun,
walaupun demikian
sama ada
sebenarnya,
dan sebagainya.
c. Menunjukkan hubungan antara sebab-akibat, tujuan-syarat.
Contoh:
jadi,
Oleh sebab itu,
disebabkan
oleh yang demikian,
untuk tujuan itu,
maka (kata pangkal KALIMAT)
Berikutan itu,
Dengan demikian,
kecuali
dengan syarat
justeru
tetapi - Sekiraya tetapi terletak pada permulaan ayat ia mestilah diikuti dengan tanda koma.
contoh: ... Tetapi, ...
sebaliknya - Sekiranya di pertengahan ayat, tanda koma (,) sebelum perkataan 'sebaliknya'.
Contoh:..., sebaliknya...
pangkal kalimat - Di antara contoh-contoh pangkal ayat ialah seperti berikut: hatta, arakian,
sebermula, alkisah.
justru - penggunaan 'justru itu' adalah salah dari segi tatabahasa

B. KATA GANTI (PROMINA


Kata ganti adalah kata yang berfungsi menggantikan orang, benda, atau sesuatu yang
dibendakan.
Kata ganti dibedakan atas:
A. Kata ganti orang
a. Kata ganti orang pertama, terbagi atas:
1. Kata ganti orang pertama tunggal
Contoh: aku, saya, daku, ku,-ku
2. Kata ganti orang pertama jamak
Contoh: kami, kita
b. kata ganti orang kedua, terbagi atas:
1. Kata ganti orang kedua tunggal
Contoh: kamu, anda, engkau, kau, dikau, -mu

2. Kata ganti orang kedua jamak


Contoh: kalian, kamu sekalian
c. kata ganti orang ketiga, terbagi atas:
1. Kata ganti orang ketiga tunggal
Contoh: dia, beliau, ia, -nya
2. Kata ganti orang ketiga jamak
Contoh: mereka, -nya

B. Kata ganti penunjuk


a. kata ganti penunjuk umum
Contoh: ini, itu
b. kata ganti penunjuk tempat
Contoh : sini, situ, sana, di sini, ke sana, dari situ, ke sini, dari sana, ke sini,
c. Kata ganti penunjuk ihwal
Contoh: begini, begitu
d. Kata ganti penanya
1. Kata ganti penanya benda atau orang
Contoh: apa, siapa, mana, yang mana
2. Kata ganti penanya waktu
Contoh: kapan, bilamana, apabila
3. kata ganti penanya tempat
Contoh: di mana, ke mana, dari mana
4. Kata ganti penanya keadaan
Contoh: mengapa, bagaimana
5. kata ganti penaya jumlah
Contoh: berapa
C. Kata ganti yang tidak menunjuk pada orang atau benda tertentu.
Contoh: sesuatu, seseorang, barang siapa, siapa, apa, apa-apa, anu, masing-masing, sendiri
C. VERBA
Verba adalah kata yang menunjukkan aksi , peristiwa atau keadaan. Verba terbagi dalam
enam jenis yaitu ; verba material, verba mental, verba relasional, verba verbal, verba
perilaku, dan verba eksistensial.
1. Verba material adalah kata kerja yang menunjukkan perbuatan fisik atau peristiwa,
misalnya membaca, menulis, menari, memukul, memikul, menyisir, menyanyi,
menendang, menjahit,melempar,memakai, memijat, melakukan dan lain-lain.
2. Pada verba material terdapat partisipan yang melakukan sesuatu yang disebut aktor dan
partisipan yang lain yang dituju oleh verba yang di sebut sasaran.
Contoh : Nike menyisir rambut.
Pada kalimat di atas, Nike ( aktor ), menyisir (verba material) rambut (sasaran ).

3. Verba mental adalah verba yang menerapkan presepsi (misalnya: melihat, merasa), afeksi
(misalnya: suka, khawatir), dan kognisi (misalnya: berpikir, mengerti). Pada verba
mental terdapat partisipan pengindera (senser) dan fenomena.
Contoh: Ayah (pengindera) mendengar (verba: mental) kabar itu (fenomena).
Verba Relasional adalah verba yang menunjukkan hubungan intensitas (yang
mengandung pengertian A adalah B), sirkumstansi (yang mengandung pengertian A
pada/di dalam B), dan milik (yang mengandung pengertian A mempunyai B).
Verba yang pertama tergolong kedalam verba rasional identifikatif, sedangkan verba
yang kedua dan ketiga tergolong ke dalam verba rasional atributif. Pada verba relasional
identifikatif terdapat partisipan token (token) atau teridentifikasi (identified) dan nilai
(value) atau pengidentifikasi (identifier).
Contoh: Ayah (token) adalah (verba relasional identifikatif) pelindung keluarga (nilai).
Pada verba relasional atributif terdapat partisipan penyandang (carrier) dan sandangan
(attribute). Contoh: ayah (penyandang) mempunyai (verba relasional atributif) mobil
baru (sandangan).
4. Verba verbal adalah verba yang menunjukkan pemberitahuan atau pewartaan
(misalnya: memberitahukan, mengatakan). Pada verba verbal terdapat partisipan
pewicara dan wicara.
Contoh: ayah (pewicara) berkata (verba verbal): saya lelah (wicara) atau ayah (pewicara)
berkata (verba verbal) bahwa ia lelah (wicara).
5. Verba perilaku adalah verba yang menunjukkan perilaku, baik fisik maupun psikologis.
Yang pertama disebut verba perilaku verbal, yaitu verba yang menunjukkan perpaduan
antara ucapan pada verba verbal dan tindakan pada verba material (misalnya: memuji,
menggerutu, menertawakan); dan yang kedua disebut verba perilaku mental, yaitu verba
yang menunjukkan perpaduan antara ungkapan perasaan pada verbal mental dan
tindakan pada verba material (misalnya: mengagumi, mencintai).
Pada verba perilaku terdapat partisipan pemerilaku (behaver) dan sasaran (tidak harus
ada) untuk verba perilaku verbal, serta pemerilaku dan fenomena untuk verba perilaku
mental. Contoh untuk yang pertama: ayah (pemerilaku) menggerutu (verba pemerilaku
verbal). Contoh untuk yang kedua: Ayah (pemerilaku) mencintai (verba perilaku mental)
kami (fenomena).
D. KONJUNGSI
Konjungsi, konjungtor, atau kata sambung adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan dua
satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, serta
kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau, serta.
Preposisi dan konjungsi adalah dua kelas yang memiliki anggota yang dapat beririsan. Contoh
irisannya adalah karena, sesudah, sejak, sebelum.
Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata,
klausa dengan klausa atau kalimat dengan kalimat. Umpamanya kata dan, karena, dan ketika.
Dilihat dari fungsinya, berikut ini dua macam kata penghubung:
Kata penghubung yang kedudukannya sederajat atau setara terdiri dari beberapa hal berikut:

Menggabungkan biasa; dan, dengan, serta.

Menggabungkan memilih: atau

Menggabungkan mempertentangkan: tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya

Menggabungkan membetulkan: melainkan, hanya

Menggabungkan menegaskan: bahkan, malah (malahan), lagipula, apalagi, jangankan

Menggabungkan membatasi: kecuali, hanya

Menggabungkan mengurutkan: lalu, kemudian, selanjutnya

Menggabungkan menyamakan: yaitu, yakni, bahwa, adalah, ialah

Menggabungkan menyimpulkan: jadi, karena itu, oleh sebab itu

Kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat
dibedakan sebagai berikut:

Menyatakan sebab: sebab dan karena

Menyatakan syarat: kalau, jikalau, jika, bila, apalagi, dan asal

Menyatakan tujuan: agar dan supaya

Menyatakan waktu: ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala.

Menyatakan akibat: sampai, hingga, dan sehingga

Menyatakan sasaran: untuk dan guna

Menyatakan perbandingan: seperti, sebagai, dan laksana

Menyatakan tempat: tempat

E. KALIMAT IMPERATIF, DEKLARATIF DAN INTROGRATIF DALAM TEKS


PROSEDUR
Menurut fungsinya, kalimat diklasifikasikan menjadi tiga. Yaitu kalimat imperatif, kalimat
deklaratif, dan kalimat interogatif. Ketiga macam kalimat tersebut akan dibahas semua pada
kesempatan kali ini.
1. Kalimat Imperatif
Kalimat imperatif adalah kalimat yang di dalamnya mengandung perintah. Kalimat imperatif ini
berfungsi untuk meminta / melarang seseorang untuk melakukan sesuatu.
Contoh :
Tutup pintu depan sebelum petang.
Pastikan kamu telah menguncinya dengan benar.
Buang sampah itu sebelum menumpuk.
2. Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif adalah kalimat yang di dalamnya berisi pernyataan. Berfungsi untuk memberi
informasi / berita tentang sesuatu hal.
Contoh :

Saya telah menutup pintu depan dari tadi.


Sebagian pelajar akan merasa panik ketika lupa mengerjakan pekerjaan rumah.
Sebagai pengendara kendaraan bermotor, Anda perlu mengetahui prosedur keselamatan
berkendara.
3. Kalimat InterogatiF
Kalimat interogatif adalah kalimat yang di dalamnya berisi pertanyaan. Berfungsi untuk
bertanya / meminta informasi tentang suatu hal pada orang lain. Kalimat interogatif dapat dibagi
menjadi kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban ya / tidak dan kalimat interogatif
yang menuntut jawaban berupa informasi.
Contoh kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban ya / tidak :
Apakah kamu berangkat ke sekolah tadi pagi?
Apakah kamu ingin bertukar peran denganku?
Apakah kamu mengenali orang yang berdiri di depanmu itu?
Contoh kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban berupa informasi :
Mengapa kamu tidak berangkat ke sekolah tadi pagi?
Siapa orang yang berdiri di depanmu itu?
Dimana kamu menaruh radio yang baru dibeli pamanmu?