Anda di halaman 1dari 7

Pertumbuhan Janin Terhambat

Definisi
IUGR atau PJT (pertumbuhan janin terhambat) adalah janin yang berat badannya kurang dari
10% dari berat badan yang harus dicapai pada usia kehamilan tertentu. Biasanya diketahui
setelah 2 minggu tidak ada pertumbuhan (Saifuddin, 2010).

Prevalensi
Pada penelitian pendahuluan di 4 senter fetomaternal di Indonesia tahun 2004-2005
didapatkan 571 KMK dalam 14.702 persalinan atau rata-rata 4,40%. Paling sedikit di RS Dr.
Soetomo Surabaya 2,08% dan paling banyak di RS Dr. Sardjito Yogyakarta 6,44%
(Soefeowan, 2011).

Faktor Risiko
Kecurigaan akan PJT ditegakkan berdasarkan pengamatan faktor-faktor risiko dan
ketidaksesuaian tinggi fundus uteri dengan umur kehamilannya. Tetapi kurang akuratnya
pemeriksaan klinis dalam meramalkan kejadian PJT pada umumnya disebabkan oleh
(Soefeowan, 2011) :
1. kesalahan dalam menentukan umur kehamilan
2. kesalahan dalam cara pengukuran tinggi fundus uteri
3. adanya fenomena trimester terakhir, yaitu bayi-bayi yang tersangka PJT pada kehamilan
28-34 minggu, kemudian menunjukan pertumbuhan yang cepat pada kehamilan 36-39
minggu.
Faktor-faktor risiko PJT adalah (Soefeowan, 2011):
1. Lingkungan sosio-ekonomi rendah
2. Riwayat PJT dalam keluarga
3. Riwayat obstetri yang buruk
4. Berat badan sebelum hamil dan selama kehamilan yang rendah

5. Komplikasi obstetri dalam kehamilan


6. Komplikasi medik dalam kehamilan
Faktor-faktor risiko PJT sebelum & selama kehamilan (Soefeowan, 2011), yakni :
1. Faktor yang terdeteksi sebelum kehamilan
Riwayat PJT sebelumnya Riwayat penyakit kronis Riwayat APS
(Antiphospholipid syndrome) Indeks masa tubuh yang rendah Maternal hypoksia
2. Terdeteksi selama kehamilan
Peninggian MSAFP/hCG Riwayat makan obat-obatan tertentu (coumarin,
hydantoin) Perdarahan pervaginam Kelainan plasenta Partus prematurus
Kehamilan ganda Kurangnya pertambahan BB selama kehamilan

Etiologi
Penyebab PJT diantaranya adalah :
1. Hipertensi gestasional
2. Gemeli
3. Anomali janin/trisomi
4. Sindrom antifosfolipid
5. SLE
6. Infeksi : rubela, sifilis, CMV
7. Penyakit jantung
8. Asma
9. Gaya hidup ; merokok, narkoba
10. Kekurangan gizi-ekonomi rendah
Pada kehamilan 16-20 minggu sebaiknya dapat ditentukan apakah ada kelainan/cacat janin.
Apabila ada indikasi sebaiknya ditentukan adanya kelainan genetik.

Patologi
Pada kelainan sirkulasi uteroplasenta akibat dari perkembangan plasenta yang abnormal,
pasokan oksigen, masukan nutrisi, dan pengeluaran hasil metabolik menjadi abnormal. Janin
menjadi kekurangan oksigen dan nutrisi pada trimester akhir sehingga timbul pertumbuhan
janin terhambat yang asimetrik yaitu lingkar perut yang jauh lebih kecil daripada lingkar
kepala. Pada keadaan yang parah mungkin akan terjadi kerusakan tingkat seluler berupa
kelainan nucleus dan mitokondria.

Pada keadaan hipoksia,produksi radikal bebas diplasenta menjadi sangat banyak dan
antioksidanyang relative kurang (misalnya : pre eklamsia) akan menjadi lebih parah soothill
dan kawan-kawan (1987) telah melakukan pemeriksaan gas darah pada pertumbuhan janin
terhambatyang

parah

dan

menemukan

asidosis

dan

hiperkapnia,hipoglikemia,dan

eritroblastosis. Kematian pada jenis asimetrik lebih parah jika dibandingkan dengan simetrik.
PJT simetrik ialah factor janin atau lingkungan uterus yang kronik (diabetes,hipertensi).
Faktor janin ialah kelainan genetik (aneuplodi),umumnya trisomi 21,13 dan 18. Secara
keselurahan PJT ternyata hanya 20% saja yang asimetrik pada penelitian terhadap 8.722 di
Amerika (Saifuddin, 2010).

Diagnosis
Penegakan diagnosis: estimasi berat janin sama atau kurang dari 10 persentil dan lingkaran
perut (AC) yang sama atau kurang dari 5 persentil atau FL/AC > 24, atau biometri tidak
berkembang setelah 2 minggu (Soefeowan, 2011).
A. Suspek PJT jika terdapat satu atau lebih tanda-tanda di bawah ini :
1. TFU 3 cm atau lebih dibawah normal
2. Pertambahan berat badan < 5 kg pada UK 24 minggu atau < 8 kg pada UK 32 minggu
3.
4.
5.
6.
7.

(untuk ibu dengan BMI < 30)


Estimasi berat badan < 10 persentil
HC/AC > 1
AFI 5 cm atau kurang
Sebelum UK 34 minggu plasenta grade 3
Ibu merasa gerakan janin berkurang (MUHC; Guideline)

B. Diagnosis

Palpasi: akurasinya terbatas, dapat mendeteksi janin KMK sebesar 30%, sehingga

perlu tambahan pemeriksaan biometri janin (Evidence III dan IV).


Mengukur tinggi fundus uteri (TFU): terbatas akurasinya untuk mendeteksi janin
KMK, sensitivitas 56-86%, spesifisitas 80-93%. Dengan jumlah sample 2941,
sensitifitas 27%, spesifisitas 88%. Pengukuran TFU secara serial akan meningkatkan
sensitifitas dan spesifisitas (Evidence II dan III). Dengan jumlah sample 1639. TFU

tidak meningkatkan luaran perinatal (Evidence Ib).


Estimasi berat janin (EFW) dan abdominal circumference (AC) lebih akurat untuk
diagnosis KMK. Pada KRT AC< 5 cm meningkatkan bedah sesar atas indikasi gawat
janin. AFI dilakukan setiap minggu atau 2 kali seminggu tergantung berat ringannya

PJT (Evidence I dan III). Doppler pada a, uterine akurasinya terbatas untuk
memprediksi PJT dan kematian perinatal. (RCOG, Guideline No.31)
Diagnosis tersebut di atas disesuaikan berdasarkan tingkat pengetahuan, skill dan peralatan
yang dimiliki baik pada bidan, dokter umum, dokter spesialis obgin atau konsultan
fetomaternal (Soefeowan, 2011).
Secara klinik awal pertumbuhan janin yang terhambat dikenal setelah 28 minggu. Namun,
secara ultrasonografi mungkin sudah dapat diduga lebih awal dengan adanya biometri dan
taksiran berat janin yang tidak sesuai dengan usia gestasi. Secara klinik pemeriksaan tinggi
fundus umumnya dalam sentimeter akan sesuai dengan usia kehamilan. Bila lebih rendah dari
3cm,patut dicurigai adanya PJT, meskipun sensitivitasnya hanya 40%.
Sebaiknya kepastian PJT dapat dibuat apabila terdapat data USG sebelum 20 minggu
sehingga pada kehamilan 32-34 minggu dapat ditentukan secara lebih tepat.
Biometri yang menetap terutama pengawasan lingkar abdomen yang tidak bertambah
merupakan pertanda awal PJT, terlebih diameter biparietal yang juga tidak bertambah setelah
lebih dari 2 minggu .
Pemeriksaan secara Doppler arus darah : a. Umbilikal, a. Uterina, a. Spiralis mungkin dapat
mencurigai secara awal adanya arus darah yang abnormal atau PJT (Saifuddin, 2010).
Pembuluh darah
Arteri urterina

Resistensi indeks
Lekukan (notching) diastolik +RI >
0,55 atau RI > 0,7 tanpa lekukan

Arteri umbilikal
SD > 3 setelah usia gestasi 30 minggu
Tabel jenis pembuluh darah dan indikator (Saifuddin, 2010)
Cairan amnion merupakan petanda kesejahteraan janin.. jumlah cairan amnion yang normal
merupakan indikasi fungsi sirkulasi janin relatif baik. Bila terdapat oligohidramnion, patut
dicurigai perburukan fungsi janin. Patut dipahami,sekalipun tidak ditemukan kelainan mayor
pada USG, ternyata masih mungkin ditemukan kelainan bawaan sebanyak 20% (Saifuddin,
2010).

Penatalaksanaan
Setelah ditetapkan tidak ada kelainan janin, perlu dipertimbangkan bila janin akan dilahirkan.
Saat yang tepat ialah bergantung pada arus darah a. Umbilikalis dan usia gestasi. Arteri

umbilikalis yang tidak memiliki arus diastolik bahkan adanya arus terbalik akan mempunyai
prognosis buruk berupa kematian janin dalam < 1 minggu. Usia optimal untuk melahirkan
bayi adalah 33-34 minggu dengan pertimbangan sudah dilakukan pematangan paru.
Skor fungsi dinamik jantung janin plasenta yaitu upaya mengukur peran PJT pada profil
biodisik akan membantu menentukan saatnya melakukan terminasi.
Skor 2
0
Hasil NST
reaktif
Non reaktif
NST + stimulasi akustik
akselerasi
Tanpa akselerasi
Gerak napas
+
SD a. Umbilikalis
3
>3
AFI
10
< 10
Tabel Skor fungsi dinamik janin-plasenta (Saifuddin, 2010)
Skor maksimum adalah 10 dimana dianggap janin masih baik. Bila skor < 6 maka dapat
dicurigai adanya asidosis, sehingga sebaiknya dipilih melahirkan dengan SC. Namun bila
ditemukan skor 6 maka perlu dipertimbangkan melahirkan bayi dengan induksi. Akibat
oligohidramnon, mungkin terjadi kompresi tali pusat atau sudah terjadi insufisiensi plasenta,
sehingga dapat membahayakan janin yang asidosis, sehingga dipertimbangkan SC.
Pengobatan dengan kalsium bloker, betamimetik, dan hormon ternyata tidak mempunyai
dasar dan bukti yang bermakna (Saifuddin, 2010).
Dilakukan terminasi kehamilan bila:
A.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Rasio FL/AC biometri 26, janin termasuk PJT berat


Doppler velocimetry a atau v umbilikalis (PI 1,8) yang disertai AEDF/REDF
AFI 4
BPS memburuk
KTG: deselerasi lambat
Tambahan: Doppler a. Uterina, MCA, DV.

Terminasi kehamilan mutlak bila: a, b dan c terpenuhi


B. Umur kehamilan :
g. Umur kehamilan 37 minggu: terminasi kehamilan dengan seksio sesaria atau
pervaginam bila Bishop Score 5.
h. Umur kehamilan 32-36 minggu: konservatif selama 10 hari dapat berlangsung lebih
dari 50% kasus PJT terutama pre-eklampsia.

i. Umur kehamilan < 32 minggu: perawatan konservatif tidak menjanjikan, sebagian


besar kasus berakhir dengan terminasi.
j. Terapi lain.
Bed rest masih dipertanykan manfaatnya, tidak ada perbedaan keluaran janin antara
perawatan bed rest dengan perawatan jalan/ambulatoir. Bed rest bisa menyebabkan
thromboembolism, makan biaya dan tidak menyenangkan. Nutrisi dengan protein
tinggi, balanced energy/protein supplementation (protein < 25% energi total) dapat
mengurangi PJT. Kurang bukti bahwa pemberian oksigen, dekompensasi abdomen,
obat-obat seperti: Ca channel blocker, beta mimetic dan magnesium menguntungkan
dan efektif mencegah PJT.

Skema manajemen PJT (Soefeowan, 2011)

References
Peleg, D., Kennedy, C. M., & Hunter, S. K. (1998). Intrauterine Growth Restriction:
Identification and Management. Am Fam Physician, 453-460.
Saifuddin, A. B. (2010). Ilmu Kebidanan Sarwono. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Soefeowan, H. S. (2011). Panduan Penatalaksanaan Kehamilan dengan PJT di Indonesia .
Jakarta: POGI.

Anda mungkin juga menyukai