Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Jaringan lunak rongga mulut manusia ditutupi oleh sel epitelial. Sel epitel rongga mulut
dapat mengalami beberapa perubahan karena penyakit, infeksi, cidera, dan kondisi metabolik
atau sistemik, sehingga menyebabkan lesi mukosa(Rafighi dkk., 2012). Lesi mukosa mulut
bisa diakibatkan dari fisik, kimia atau termal. Seperti menggigit-gigit mukosa mulutdengan
sengaja, makanan yang terlalu tajam, bentuk anatomi gigi yang tajam, makanan dan minuman
yang panas atau menyikat gigi yang terlalu menekan. Lesi ini juga bisa diakibatkan dari
kerusakan iatrogenik selama perawatan gigi atau prosedur lain yang melibatkan rongga mulut
seperti intubasi selama anestesi umum (Anura, 2014). Lesi mukosa mulut yang diakibatkan
dari

perawatan

ortodontik

dapat

berupa

ulkustraumatik

yangdapat

disebabkanolehgesekandarikomponenalat ortodontik dengan mukosa oral. Hal inisering


terjadipada

minggupertama

ketikamukosaoral

beradaptasi

denganalat

ortodontik.

Ulkustraumatikdapat terjadi dalam hitungan hari sampai beberapa minggudansering munculdi


kawasan yang samaatau berbeda, dapat bersifat akut ataukronis. Meskipunbersifat kronis,
namuntidak akan menyebabkan suatu keganasan karenatidak adafaktor pemicu risikoseperti
merokokdanmengkonsumsi
ketidaknyamanandanrasa

alkoholdalam
sakit

yang

jangka

panjang.Namun

demikian,

disebabkanolehulkustraumatikdapatmengganggu

aktivitaspasien, terutama ketikamakan (Ismah, Soegiharto, Debora, 2009).


Trauma pada mukosa mulut karena peralatan ortodontik sering dialami oleh banyak
pasien, dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit. (Kvam et al (1989))
melakukan penelitian di universitas Oslo untuk 79 pasien ortodontik cekat mana itu
menunjukkan bahwa 94,9% dari pasien mengalami ulkus traumatik pada mukosa mulut
mereka disebabkan oleh peralatan ortodontik tetap. Hal ini juga menunjukkan bahwa 46,8%
dari pasien dianggap ulkus traumatik sebagai aspek yang paling menjengkelkan dari
perawatan ortodontik (Ismah, Soegiharto, Debora, 2009).
Alat ortodontik adalah alat yang digunakan untuk menggerakkan gigimdengan
memberikan tekanan ke jaringan periodontal, agar gigi bergerak sesuaidengan arah yang
dikehendaki (Sutantyo, 2004).Perawatan ortodontikmembantupasiendalam meningkatkan

fungsi dari gigi geligi, estetikawajah, dan juga bisa membangunrasa percaya diri. Tujuan
utama dariperawatan iniadalah untukmeningkatkanoklusigigi danmembuat gigiselaras, yang
akhirnya

menghasilkansebuahfungsiyang

baikdaripertumbuhan

gigi

(Gupta,

Singh,

2015).Alat ortodontik ini ada yangberupa alat cekat dan alat lepasan (Susetyo, 2000). Alat
ortodontik cekat adalahalat ortodontik yang dilekatkan langsung pada permukaan gigi dengan
komponennyaberupa bracket, band, archwire dan auxiliaries akan memberi tekananpada gigi
melalui pelekatan tersebut (Houston, 1983). Seiring denganmanfaatprosedur perawatan
ortodontik, hal itu juga memilikibanyakkomplikasiyangdihadapi olehpasien yang menjalani
perawatan ortodontik. Beberapa penelitianmengeksplorasimasalah-masalah sepertinyeri,
akumulasimakanan di bawahpiranti ortodontikdan ketidaknyamananyang terjadiselama
perawatan.

Dilaporkan

bahwa95%

dari

pasienortodontikmengalamiberbagaiderajat

nyeriselama perawatanortodontik. Berbagai penelitianmenunjukkan bahwamasalah lain


sepertiulkus traumatis oral, masalah senditemporomandibular, danpenyakit periodontal juga
menyertai saat dilakukan perawatan ortodontik. Selamaperawatan, baikintra oral dan ekstra
oral

berada

padaancamancedera.

Arch

wires,

brackets,

bands

juga

dapat

menyebabkanulserasi. Aktivitasototyang berlebihandaripipiatau lidahjugabisa memicu dari


terjadinya cedera sehingga dapat mengakibatkan ulserasi (Gupta, Singh, 2015).Piranti
ortodontik (kawat gigi, kawat, dll), bisa menjadi salah satu dari sekian sumber utama trauma
di rongga mulut. Gesekn antara kawat gigi dan mukosa adalah jenis trauma kronis dan juga
dapat menyebabkan ulserasi mukosa mulut yang merupakan salah satu keluhan paling umum
dari pasien selama perawatan ortodontik (Rafighi dkk., 2012).
Perawatan

ortodontikmembawa

risikoyang

lebih

tinggidarilesimukosadan

menyiratkanlebih besarkesadarankebersihan mulutyang lebih baik. Instruksikebersihan


mulutdanpengobatan dinilesioral sangat penting dengan mempertimbangkan motivasipasien,
rencana perawatan, dan kesuksesan hasil (Baricecik dkk., 2010).
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatupermasalahan:
1. Seberapa jauh pasien mengetahui pengetahuan tentang alat ortodontik?
2. Apakah pasien ortodontik mengetahui efek dari penggunaan ortodontik berupa
ulserasi?

C. TUJUAN PENELITIAN
1. TUJUAN UMUM
Adapun tujuan umum yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untukmengetahui
pengetahuan pasien tentang penggunaan ortodontik dimasa sekarang berupa motivasi, efek
dan dampaknya.
2. TUJUAN KHUSUS
Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui motivasi pasien tentang pemakaian alat ortodontik.
2. Untuk mengatahui seberapa mengetahuinya efek dan dampak dari penggunaan
ortodontik berupa ulserasi et ortodontik dari pasien.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Hasil penilitian ini diharapkan memberi manfaat berupa dasar-dasar pengetahuan
ortodontik kepada pasien yang nantinya akan menggunakan alat ortodontik.
2. Dapat menjadi bahan informasi dampak penggunaan alat ortodontik berupa ulserasi
sehingga pasien bisa menjaga kebersihan mulut dan perawatan dalam menggunakan
ortodontik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

2.1 Ulkustraumatikus

2.1.1 Definisi
Ulkusatauulseradalahsuatukerusakanlapisanepitelyangberbatasjelas

yang

membentuk cekungan, ulkus sering ditemukan di rongga mulut (Regeziet al,


2008). Namun demikian, kerusakan ulkus dapat dibedakan dengan erosikarena
kerusakan ulkus lebih dalam dari erosi (Gandolfo et al,2006).
Ulkus traumatikus didefinisikan sebagai suatu kelainan yang berbentuk
ulkus pada mukosa rongga mulut yang disebabkan oleh paparantrauma
(Greenberg, 2008). Ulkus traumatikus merupakan lesi sekunder yangberbentuk
ulkus,yaituhilangnyalapisanepiteliumhinggamelebihimembranabasalisdan
mengenai lamina propria oleh karena trauma (Regezi et al,2008).
Trauma merupakan penyebab tersering terjadinya ulkus padamembran
mukosa. Biasanya pasien dapat memperkirakan kejadian yangmenimbulkan
ulkus. Pada umumnya ulkus terjadi setelah beberapa kali paparan trauma
(Soniset al,2003).
2.1.2 Insidensi
Ulkus traumatikus dapat terjadi pada mukosa rongga mulut, antara
lain:pada
lidah,bibir,lipatanmukosabukal(buccalfold),gingiva,palatum,mukosalabial
dandasarmulut.Ulkustraumatikusseringterjadipadamukosalabialdandasar
mulut.Selainitujugaterjadipadabibir,lidah,danmukosabukalkarenaterletakberdek
atan dengan daerah kontak oklusi geligi sehingga lebih mudahmengalami
gigitan pada waktu gerakan pengunyahan (Delong & Burkhart,2008).
Hampir setiap orang pernah mengalami insidensi pada mukosa
ronggamulut (83,6%), dan tidak ada perbedaan makna yang terjadi baik antara
pria danwanita. Biasanya pada pria berkisar 81,4% dan pada wanita biasanya
berkisar 85%.Ulkus traumatikus merupakan salah satu dari tiga kondisi yang
paling

seringditemukan

dalamronggamulut(15,6%),setelahvarisesdasarmulut(59,6%),danfissured tongue
(28%) (Delong & Burkhart, 2008).
2.1.3 Etiologi
Ulkus

traumatikus

dapat disebabkan oleh:

(Scully

et

al, 2003;

Greenberg,2008)
1. Trauma mekanik: makanan yang kasar (tajam), tergigit, terkena
sikatgigi, klamer gigi tiruan lepasan, tepi restorasi yangtajam.
2. Trauma kimia: Aspirin, perak nitrat 10%, H2O2 3%,fenol.
3. Thermal: makanan atau minuman panas, CO2 dingin (dryice).
4. Elektrik: sengatan listrik.
Trauma mekanik seperti menggigit bibir, pipi atau lidah, mengonsumsiatau
mengunyah makanan keras, gigitan dari tonjolan gigi yang tajam, trauma
darigigi yang patah dan iritasi gigi tiruan serta tumpatan yang tajam (Delong
&Burkhart, 2008). Selain itu dapat juga berasal dari iritasi akibat pemasangan
gigi

tiruanyang

tidakstabil,tepiprotesaatauklamergigitiruansebagianlepasan(GTSL)yangtajam,
gesekan yang terus menerus oleh karena gigi yang tajam atau gigi yang tidak
rata, trauma oleh karena benda asing seperti penggunaan pirantiortodontik
ataupun sikat gigi yang digunakan dengan teknik yang salah sehinggamembuat
erosi jaringan lunak disekitarnya, kebiasaan buruk menusuk gingiva ataumukosa
dengan kuku jari, kontak dengan makanan tajam, tergigitnya mukosasaat
mengunyah, bicara ataupun ketika tidur (Bricker, 2002). Dalam perawatandental
dapat terjadi trauma pada jaringan lunak secara tidak sengaja. Ulkusdapat
diakibatkanolehcottonrolls,tekanansalivaejectoryangtinggiatauinstrumen

bur

yang mengenai jaringan lunak (Regezi et al2008).

2.1.4 Gambaranklinis
Ulkus traumatikus tersebut dapat berupa ulkus yang tunggal ataumultipel,
berbentuk simetris atau asimetris, ukurannya tergantung dari trauma
yangmenjadipenyebab, dan biasanya nyeri. Kebanyakan merupakan keadaan
akut,sedangkan lainnya adalah kronis. Ulkus traumatikus akut memiliki karakter
adanya

kerusakan

pada

mukosa

dengan

batas

tepi

eritema

dan

ditengahnyaberwarna putih kekuningan, serta menimbulkan rasa nyeri.


Sedangkan ulkustraumatikus kronis bisa tanpa disertai rasa nyeri dengan dasar
induratif dan tepi yang meninggi. Sehingga ulkus tersebut dapat dibedakan
dengan SCC (SquamousCell Carcinoma) dari dasar lesinya secara klinis
(Long,2008).

2.2 Pengetahuan (knowledge)

2.2.1 Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetahuan adalah segala sesuatu
yang diketahui, kepandaian. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi
setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan
terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia di perolehmealui
mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007,p.143).
2.2.2 Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai6tingkat
(Notoadmodjo,2007,p.144),yakni:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telahdipelajari sebelumnya.
Termasuk

ke

dalam

pengetahuan

tingkat

iniadalahmengingatkembali(recall)terhadapsuatuspesifikdariseluruhbahan
dipelajari

atau

rangsangan

yang

telah

yang
diterima.

Olehsebabitu,tahuinimerupakantingkatpengetahuanyang palingrendah.Kata kerja


untuk

mengukur

bahwa

orang

tahu

tentang

apayangdipelajariantaralain:menguraikan,mendefinisikan,menyatakandansebagain
ya.

2. Memahami(comprehension)
Memahami

diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

menjelaskansecarabenartentangobjekyangdiketahui,dandapatmenginterpretasimate
ritersebutsecarabenar.Orangyangtelahpahamterhadapobjekatau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkancontoh,menyimpulan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap objekyangdipelajari.
3. Aplikasi(Application)
Aplikasi

diartikan

sebagai

kemampuan

untuk

mengunakanmateriyangtelahdipelajaripadasituasiataukondisiriil(sebenarnya).Aplik
asi di sini dapat diartikan aplikasi atau penggunaanhukum-hukum, rumus, metode,
prinsi, dan konteks atau situasi yanglain.Misalnya dapat menggunakan rumus
statistik dalamperhitungan-perhitunganhasilpenelitian,dapatmenggunakanprinsipprinsipsikluspemecahan

masalah

(problem

solving

cycle)

dalampemecahanmasalah kesehatan dari kasus yangdiberikan.


4. Analisis (Analysis)
Analisis

adalah

suatu

kemampuan

untuk

menjabarkanmateriatausuatuobjekkedalamkomponenkomponen,tetapimasihdalamsuatustrukturorganisasitersebut,danmasihadakaitannya
satusamalain.Kemampuananalisisinidapatdilihatdaripenggunaankata-katakerja:
dapat

menggambarkan

(membuat

bagan),membedakan,memisahkan,

mengelompokkan, dansebagainya.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis

menunjuk

pada

suatu

kemampuan

untukmeletakkanataumenghubungkanbagianbagiandalamsuatubentukkeseluruhanyang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu


kemampuanuntukmenyusun formulasi-formulasi yangada.
6. Evaluasi(Evaluation)
Evaluasi

ini

berkaitan

dengan

kemampuan

untukmelakukanjustifikasiataupenilaianterhadapsuatumateriatauobjek.Penilaianpenilaianituberdasarkansuatukriteriayangditentukansendiri,ataumenggunakan
kriteria-kriteria yang telahada.

2.2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Pengetahuan

seseorang

termasuk

pengetahuan

mengenaikesehatandipengaruhiolehbeberapafaktor.Berdasarkanhasilhasilpenelitianyangtelah dilakukan diantaranya oleh yustina (2004) dalam


angkakematiantertinggi ibu di Asia Tenggara secara garis besar factorfaktortersebutadalah:
1. Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalammemberrespon
terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orangyangberpendidikan tinggi akan
memberi respon yang

lebihrasionalterhadap informasi yang datang dan akan

berfikir sejauhmanakeuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan


tersebut.
2. Paparan media masa (aksesinformasi)
Melalui

berbagai

media

cetak

maupun

elektronikberbagaiinformasidapatditerimaolehmasyarakat,sehinggaseseorangyangl
ebihseringterpaparmediamassa(TV,radio,majalah,pamphlet,danlainlain)akanmemperolehinformasiyanglebihbanyakdibandingkandengan orang yang
tidak pernah terpapar informasimedia.
3. Ekonomi(pendapatan)
Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupunkebutuhansekunder
keluarga

dengan

status

ekonomi

baik

akan

lebihmudahtercukupidibandingkankeluargadenganstatusekonomirendah.Halini
akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhansekunder.

4. Hubungan sosial
Manusia adalah makhluk sosial dimana di dalamkehidupanberinteraksi
antara satu dengan yang lain. Individu yangdapatberinteraksi secara continue akan
lebih besar terpapar informasi.

5. Pengalaman
Pengalaman

individu

berbagai

hal

bisa

diperoleh

daritingkatkehidupandalamprosesperkembangannya,missalseringmengikutikegiata
n-kegiatan yang mendidik misalnyaseminar.
6. Akses layananKesehatan
Mudah

atau

sulit

dalam

mengakses

layanan

kesehatantentunyaakan

berpengaruh terhadap pengetahuan dalam halkesehatanPendidikan.


Tingkat

pendidikan

seseorang

akan

berpengaruh

dalammemberiresponterhadapsesuatuyangdatingdariluar.Orangyangberpendidikant
inggi akan memberi respon yang lebih rasional terhadap informasiyangdatang dan
akan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkinakanmereka peroleh dari
gagasantersebut.
2.2.4 Sumber mencaripengetahuan
Menurut Yustina (2004) dalam Angka Kematian Ibu
Tenggara, sumber mencari pengetahuan bisa diperoleh melalui:
1. Buku
2. Jurnal
3. Internet
4. Paper
5. Seminar
6. Koran
7. Majalah
8. Iklan
9. Manusia

2.3 Remaja

tertinggidiAsia

2.3.1 Definisi
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anakkemasa dewasa.
Bukan hanya dalam artian psikologis tetapi jugafisik.Bahkan prubahan-perubahan
fisik yang terjadi itulah yangmerupakangejala primer dalam pertumbuhan remaja,
sedangkan
perubahanpsikologismunculsebagaiakibatdariperubahan.Diantaraperubahanperuabahanfisikitu,yangterbesarpengaruhnyapadaperkembanganjiwaremaja adalah
pertumbuhan

tubuh

(badan

menjadi

makin

panjang

dan

tinggi),mulaiberfungsinyaalat-alatreproduksi(ditandaidenagnhaidpadawanita

dan

mimpi basah pada laki-laki) (Sarlito,2011,p.62).


2.3.2 Tahap perkembangan remaja (Sarlito,2011.p.30):

1. Remaja Awal (early adolescence) 10-13tahun


Seorang remaja dalam tahap ini masih terheran-heranakanperubahanperubahan

yang

terjadi

pada

tubuhnya

doronganyangmenyertaiperubahan-perubahanitu.Mereka
pikiranbaru,cepattertarikpadalawanjenis,dan mudah

sendiridandoronganmengembangkanpikiran-

terangsang secara

erotis.

Kepekaan yang berlebih-lebihanan ini ditambah dengan berkurangnya kendali


terhadap egomenyebabkan para remaja awal ini sulit mengerti dan

di

mengertiorangdewasa.
2. Remaja Madya (middle adolescence) 14-16tahun
Pada

tahap

ini

remaja

sangat

membutuhkan

kawan-

kawan.Iasenangkalaubanyaktemanyangmenyukainya.Adakecenderungannarcistic
, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukaiteman-teman yang punya sifat-sifat
yang

sama

dengan

dirinya.

Selain

itu,iaberadadalamkondisikebingungankarenatidaktahuharusmemilihyangmana:peka
atautidakpeduli,ramai-ramaiatausendiri,optimisatau
materialis, dansebagainya.

pesimistis,

idealis

atau

3. Remaja akhir (late adolescence) 17-19tahun


Remaja ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasadanditandai
dengan pencapaian lima hal,yaitu:
1. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsiintelek
2. Egonyamencarikesempatanuntukbersatudengan

orang-oranglain

dan

dalam pengalaman-pengalamanbaru.
3. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubahlagi.
4. Egosentrisme(terlalumemusatkanperhatianpadadirisendiri)diganti dengan
keseimbangan antara kepentingan diri sendiridengan oranglain.
5. Tumbuhdindingyangmemisahkandiripribadinya(privateself)dan
masyarakat umum (thepublic).
2.4 Ortodontik
2.4.1 Pengertian Ortodontik
Istilah ortodontik berasal dari kata Ortodonsia. Ortodonsia(Orthodontia, Bld.,
Orthodontic, Ingg.) berasal dari bahasa Yunani (Greek) yaitu orthosdan
donsyangberartiorthos(baik,betul)dandons(gigi).Jadiortodonsiadapat diterjemahkan
sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan memperbaikiatau membetulkan letak gigi
yang tidak teratur atau tidakrata (Sulandjari H, 2008).
Dalam pengertian yang lebih luas, ortodonsia ini disebutortodonti. Menurut
American Board of Orthodontics (ABO), ortodonti adalahcabang spesifik dalam
profesi kedokteran gigi

yang bertanggung jawab pada studi dansupervisi

pertumbuhkembangan geligi dan struktur anatomi yang berkaitan, sejak lahir


sampai dewasa, meliputi tindakan preventif dan korektifpada ketidakteraturan
letak gigi yang membutuhkan reposisi gigi denganpiranti fungsional dan mekanik
untuk

mencapai

oklusi

normal

dan

mukayang

menyenangkan.Tercakupdalampengertianinimasalahperkembangandalamarti yang
luas, yaitu pertumbuhkembangan gigi sampai mencapai oklusidalam fase geligi
permanen dan juga pertumbuhkembangan rahang sertamuka (Rahardjo P, 2009).

2.4.2 Tujuan Perawatan Ortodontik


Tujuan perawatan ortodontik adalah memperbaiki susunandan kedudukan
gigi-geligi untuk mendapatkan hubungan gigi-geligi (fungsioklusi) yang stabil,
perbaikan pengunyahan, keseimbangan otot dan keserasianestetika wajah
harmonis.

Secara

umum

perawatan

yang

ortodontik bertujuanmemperbaiki

kehidupan pasien dengan mengatasi kesulitan psikososialyang berhubungan


dengan penampilan wajah dangigi (Erwansyah E, 2012)
Ada 2 alasan yang jelas dari perawatan ortodontik yaitu untukestetika dan
fungsi, perawatan ortodontik tidak hanya dapat memperbaiki susunangigi geligi,
tetapi dalam kasus-kasus tertentu juga dapat mempunyai dampakyang besar pada
lingkungan seseorang dan perkembangan kariernya. Selainitu, susunan gigi yang
lebih baik dapat menyebabkan standar kebersihanmulut menjadi lebih baik. Tujuan
utama perawatan ortodontik adalahmendapatkan penampilan dentofacial yang
menyenangkan secara estetika dengan fungsiyang baik dan dengan gigi gigi
dalam posisi yang stabil, perawatan ortodontiktidak boleh dilakukan jika tidak
dapat memberikan perbaikan yang nyata serta abadi,karena alasan inilah banyak
maloklusi ringan yang dibiarkan tanpaperawatan (Willian JK, 2000).

2.4.3 Jenis Perawatan Ortodontik


Berdasarkan piranti yang digunakan untuk merawat maloklusisecara garis
besar dapat digolongkan pada piranti lepas (removable appliance),piranti fungsional
(functional appliance), dan piranti cekat (fixedappliance) (Rahardjo P, 2009).
1. PirantiLepasan
Piranti lepasan (removable appliance) adalah piranti yang dapat dipasang
dan dilepas oleh pasien. Komponen utama piranti lepasan adalah
a. komponen aktif
b. komponen pasif
c. lempeng akrilik
d. penjangkaran
Salah satu faktor keberhasilan perawatan denganpiranti lepasan adalah

kepatuhan pasien untuk memakaipiranti.


2. Piranti Fungsional (Fungsionalappliance)
Piranti fungsional digunakan untuk mengoreksi maloklusidengan
memanfaatkan, menghalangi atau memodifikasi kekuatan yangdihasilkan oleh
otot orofasial, erupsi gigidanpertumbuhkembangan dentomaksilofasial. Ada juga
yang mengatakan bahwa pirantifungsional dapat berupa piranti lepasan atau
piranti

cekat

yang

menggunakankekuatan

yangberasaldarikekuatanotot,fasial,danataujaringanyanglainuntuk

mengubah

relasi skeletal dangigi.


3. Piranti Cekat (FixedAppliance)
Piranti cekat adalah piranti ortodontik yang melekat pada gigipasien
sehingga

tidak bisa

dilepas pleh pasien. Piranti

ini

mempunyai

komponenutama, yaitu lekatan (attachment)yang berupa breket (bracket)


ataucincin (band), kawat busur (archwire) dan penunjang (accesories
atauauxiliaries) misalnya rantai elastomerik danmodul.
B. Kerangka Teori

Remaja

Pengetahuan
ttg Ortodonsi

Tujuan

Fungsi

Dampak

Ulserasi
Traumatik

Preventif

C. Kerangka Konsep

Pengetahuan ttg
Ortho pada
Remaja

Ulserasi
Traumatik

D. Hipotesis
Terdapat perbedaan angka kejadian Ulserasi Traumatik pada remaja dengan
pengetahuan rendah dan tinggi pada penggunaan ortodonsi.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode observasi cross sectional.Studi cross
sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktorfaktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data
sekaligus pada suatu saat. Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja
dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat
pemeriksaan. Hal ini tidak berarti semua subjek penelitian diamati pada waktu yang
sama. Untuk mengetahui hubungan variabel bebas dan variabel terikat yaitu untuk
melihat pengetahuan ortodontik pada remaja dengan peningkatan kejadian ulserasi
traumaticus.
B. Variabel dan Definisi Operasional
1. Variabel
a. Variabel Bebas
Variabel independent (bebas) disebut juga variabel stimulus,
prediktor,anticeden. Menjadi sebab perubahan atau timbulnya varibel
dependen (waluyo, 2009). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tentang
pengetahuan ortodontik pada remaja.
b. Variabel Terikat
Variabel dependen (terikat) disebut juga variable output, kriteria dan
konsekuen.Variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya
variabelbebas (waluyo, 2009). Variabel terikat di dalam penelitian ini adalah
tentang peningkatan kejadian ulser traumaticus.
2. Definisi Operasional
a. Pengetahuan ortodontik pada remaja adalah tingkat pengetahuan pada remja
tentang ortodontik yang meliputi tujuan, fungsi, dampak dan usaha preventif
selama perawatan ortodontik.