Anda di halaman 1dari 14

PENYELESAIAN AUDIT

1. PROSES YANG DILAKUKAN MENJELANG AKHIR AUDIT


Dalam menyelesaikan pekerjaan lapangan, auditor melakukan prosedur-prosedur audit tertentu
guna memperoleh bukti tambahan. Prosedur-prosedur tersebut meliputi:
Melakukan review peristiwa peristiwa kemudian.
Membaca notulen notulen rapat.
Mendapatkan bukti tentang tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan.
Mendapatkan surat pernyataan dari klien.
Melakukan prosedur analitis.

Melakukan Review Peristiwa peristiwa Kemudian


Tanggung jawab auditor dalam menentukan kewajaran laporan keuangan klien tidak terbatas
pada pemeriksaan atas kejadian dari transaksi yang terjadi sampai dengan tanggal neraca. SA 560
tentang Peristiwa Kemudian menyatakan bahwa auditor mempunyai tanggung jawab tertentu
atas kejadian dan transaksi-transaksi yang:
Mempunyai pengaruh material atas laporan keuangan.
Terjadi setelah tanggal neraca tetapi sebelum diterbitkannya laporan keuangan dan laporan
auditor.

Tipe Peristiwa Kemudian


Ada dua tipe peristiwa kemudian:

Peristiwa Kemudian tipe 1. Meliputi peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang
berhubungan dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca dan berdampak terhadap taksiran
yang melekat dalam proses penyusunan laporan keuangan.
Peristiwa Kemudian tipe 2. Meliputi peristiwa peristiwa yang menyediakan tambahan bukti
yang berhubungan dengan kondisi yang tidak ada pada tanggal neraca yang dilaporkan namun
kondisi tersebut ada sesudah tanggal neraca.

Prosedur Pengauditan dalam Periode Kemudian


Auditor harus mengidentifikasi dan menilai peristiwa kemudian sampai dengan tanggal laporan
yang biasanya sama dengan tanggal berakhirnya pekerjaan lapangan. Tanggung jawab ini
dilakukan dengan dua cara berikut: (1) pada saat melaksanakan pengujian substantif akhir tahun,
seperti melakukan pengujian pisah batas dan mencari utang yang tidak dicatat, auditor harus
waspada terhadap kemungkinan adanya peristiwa kemudian, dan (2) dengan melaksanakan
prosedur-prosedur pengauditan pada tanggal akhir pemeriksaan lapangan atau menjelang
berakhirnya pekerjaan lapangan:
1) Membaca laporan keuangan interim yang terakhir; membandingkan laporan keuangan interim
dengan laporan keuangan yang akan dilaporkan; dan membuat berbagai perbandingan lainnya
yang dipertimbangkan cukup memadai sesuai dengan kondisi yang ada.
2) Mengajukan pertanyaan dan membicarakan dengan pejabat atau eksekutif yang bertanggung
jawab atas masalah keuangan dan akuntansi tentang:
Apakah ada utang bersyarat yang cukup besar atau komitmen yang terjadi pada tanggal neraca
yang dilaporkan atau pada tanggal pertanyaan diajukan.
Apakah ada perubahan yang cukup signifikan dalam modal saham, utang jangka panjang, atau
modal kerja sampai pada tanggal pertanyaan diajukan.
Status sekarang mengenai unsur, dalam laporan keuangan yang dilaporkan, yang
dipertanggungjawabkan berdasarkan data sementara, awal, atau data yang tidak konklusif.

Apakah penyesuaian (adjustment) yang tidak biasanya terjadi telah dibuat selama periode dari
tanggal neraca sampai dengan tanggal pertanyaan diajukan.

3) Membaca notulen rapat para pemegang saham, direktur, komite resmi lainnya; apabila notulen
rapat tidak tersedia, auditor meminta keterangan mengenai masalah yang dibicarakan dalam
rapat tersebut.
4) Mengajukan pertanyaan kepada konsultan hukum klien tentang adanya tuntutan hukum,
klaim, dan keputusan pengadilan.
5) Mendapatkan surat representasi dari pejabat yang berwenang, umumnya adalah presiden
direktur dan direktur keuangan, yang bertanggal sama dengan tanggal laporan audit, tentang
apakah setiap peristiwa yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan yang dilaporkan oleh
auditor independen, menurut pandangan para eksekutif tersebut akan memerlukan penyesuaian
atau pengungkapan dalam laporan-laporan tersebut.

Pengaruh atas Laporan Auditor


Kegagalan untuk mencatat atau mengungkapkan peristiwa kemudian dalam laporan keuangan
akan menyebabkan auditor tidak dapat memberi pendapat wajar tanpa pengecualian. Tergantung
pada materialitasnya, auditor harus memberi pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat
tidak wajar karena laporan keuangan tidak disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi
berlaku umum.

Membaca Notulen Rapat


Notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, komite komitenya, sepertinya komite
keuangan dan komite audit, mungkin berisi hal hal penting bagi suatu audit. Auditor harus
memastikan bahwa semua notulen hasil rapat yang diselenggarakan selama periode diperiksa dan
selama periode sejak tanggal neraca sampai dengan akhir pekerjaan lapangan telah disediakan

klien untuk direview. Pembacaan notulen-notulen rapat biasanya dilakukan segera setelah auditor
menerimanya, agar auditor mempunyai waktu yang cukup untuk mempelajari dan menilai
signifikansinya terhadap audit.

Mendapatkan Bukti tentang Tuntutan Hukum, Klaim, dan Keputusan Pengadilan


FASB mendefinisikan kontingensi (contingency) sebagai adanya kondisi, situasi, atau sejumlah
keadaan yang tidak pasti, baik yang bersifat menguntungkan maupun yang merugikan yang
kepastiannya akan tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih kejadian di masa
datang. Tergantung pada tingkat kemungkinan pembayaran di masa datang, prinsip akuntansi
berlaku umum mengharuskan kontingensi merugikan untuk diperlakukan sebagai salah satu dari
kemungkinan berikut: (1) dicatat sebagai utang bersyarat, (2) diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan, dan (3) diabaikan.

Pertimbangan Audit
Auditor harus mendapatkan bukti tentang:
Adanya suatu kondisi, situasi, atau sejumlah keadaan yang mengindikasikan ketidakpastian
tentang kemungkinan kerugian terhadap perusahaan yang berasal dari tuntutan hukum, klaim,
atau keputusan pengadilan.
Periode terjadinya penyebab tindakan hukum.
Tingkat kemungkinan terjadinya hasil yang tidak menguntungkan.
Jumlah atau perkiraan kerugian potensial.

Berhubung tentang tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan berada dalam pengetahuan
langsung manajemen, maka manajemen merupakan sumber informasi dalam hal ini. Oleh karena
itu, auditor harus:

Mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan dengan manajemen tentang cara untuk


mengidentifikasikan tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan.
Mendapatkan deskripsi dan evaluasi dari manajemen tentang tuntutan hukum, klaim, dan
keputusan pengadilan yang ada pada tanggal neraca.
Mendapatkan jaminan dari manajemen mengenai keberadaan klaim yang belum ada
keputusannya.

Surat Kepada Penasehat Hukum Klien


Auditor pada umumnya tidak mempunyai pengetahuan hukum yang cukup untuk bisa membuat
pertimbangan tentang segala macam dengan tuntutan hukum , klaim, dan keputusan pengadilan.
Surat penasehat hukum klien bisa menjadi cara yang paling diandalkan dalam mendapatkan bukti
penguat tentang informasi yang berkaitan dengan tuntutan hukum , klaim, dan keputusan
pengadilan yang diberikan manajemen.

Pengaruh Jawaban terhadap Laporan Auditor


Jawaban dari penasehat hukum mungkin tidak memiliki dampak terhadap laporan auditor. Dalam
hal demikian, maka auditor bisa menerbitkan laporan standar dengan pendapat wajar tanpa
pengecualian. Hal ini bisa terjadi apabila jawaban menunjukkan bahwa berdasarkan penyelidikan
yang masuk akal atas persoalan yang dihadapi disimpulkan hal-hal berikut:
1) Kemungkinan besar hasil akhirnya akan menguntungkan klien.
2) Persoalan yang dihadapi tidak material.

Mendapatkan Surat Pernyataan dari Klien


Untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan ketiga auditor harus mendapatkan surat pernyataan
dari manajemen.

Manfaat surat pernyataan dari manajemen adalah:


1) Mengkonfirmasi pernyataan lisan yang telah diberikan kepada auditor.
2) Mendokumentasikan ketepatan pernyataan tersebut secara berkelanjutan.
3) Mengurangi kemungkinan terjadinya salah pengertian tentang pernyataan manajemen.

Isi Surat Pertanyaan Manajemen


Ada empat kategori pernyataan yang seyogyanya dimasukkan dalam surat pernyataan
manajemen, yaitu pernyataan tentang:
1) Laporan keuangan.
2) Kelengkapan informasi.
3) Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan.
4) Peristiwa kemudian.

Pengaruh terhadap Laporan Auditor


Apabila auditor mendapat surat pernyataan dari manajemen dan ia bisa mendapat pendukung
atas pernyataan manajemen tersebut, maka auditor bisa menerbitkan laporan dengan pendapat
wajar tanpa pengecualian. Namun, akan terjadi pembatasan dalam lingkungan audit seandainya
auditor tidak bisa (1) mendapatkan surat pernyataan dari manajemen, atau (2) mendapat
pendukung atas pernyataan manajemen yang material terhadap laporan keuangan melalui
prosedur audit yang lain. Pembatasan lingkup akan mengakibatkan auditor hanya bisa
menerbitkan laporan dengan pendapat wajar dengan pengecualian atau menolak memberi
pendapat.

Melaksanakan Prosedur Analitis

Prosedur analitis diperlukan dalam tahap penyelesaian suatu audit sebagai suatu review
menyeluruh (akhir) atas laporan keuangan. SA 329 tentang Prosedur Analitis menyatakan bahwa
tujuan prosedur analitis yang diterapkan dalam tahap review menyeluruh suatu audit adalah
untuk membantu auditor dalam menilai kesimpulan yang diperoleh dan dalam mengevaluasi
laporan keuangan secara keseluruhan.

Dalam melaksanakan review menyeluruh, auditor membaca laporan keuangan beserta catatan
atas laporan keuangan dan mempertimbangkan kecukupan bukti yang diperoleh sebagai
tanggapan atas saldo-saldo yang tidak biasa atau di luar perkiraan serta hubungan-hubungan (1)
yang diantisipasi dalam perencanaan audit, atau (2) diidentifikasi selama pelaksanaan pengujian
substantif. Prosedur analitis kemudian diterapkan atas laporan keuangan untuk menentukan
apakah masih ada hubungan yang tidak biasa atau tidak diharapkan. Apabila hubungan demikian
masih ada, maka diperlukan prosedur audit tambahan dalam tahap penyelesaian audit.
Berbagai macam prosedur prosedur Analitis yang bisa dilakukan:
Diterapkan pada bagian bagian audit yang kritis yang ditemukan selama audit berlangsung.
Berdasarkan data laporan keuangan setelah semua penyesuaian audit dan reklasifikasikan
diterima klien atau dicatat dalam pembukuan klien.

2. EVALUASI TEMUAN AUDIT


Penilaian temuan dilakukan auditor dengan dua tujuan: (1) menetapkan jenis pendapat yang akan
diberikan dan (2) menentukan apakah standar auditing telah dipenuhi dalam audit. Untuk
memenuhi tujuan-tujuan tersebut, auditor melakukan langkah-langkah berikut:
Membuat penetapan akhir tentang materialitas dan risiko audit.
Mengevaluasi apakah terdapat keraguan substansial tentang kemampuan perusahaan untuk
melangsungkan usahanya (going concern).
Melakukan review teknis atas laporan keuangan.

Merumuskan pendapat dan membuat konsep laporan auditor.


Melakukan review akhir terhadap kertas kerja.

Membuat Penetapan Akhir tentang Materialitas dan Risiko Audit


Titik tolak dalam proses ini adalah menjumlahkan semua salah saji yang ditemukan dalam
pemeriksaan atas semua rekening yang tidak dikoreksi oleh klien. Langkah berikutnya adalah
menentukan pengaruh dari total salah saji terhadap laba bersih dan terhadap total-total lainnya
dalam laporan keuangan yang ada kaitannya dengan salah saji tersebut, seperti misalnya total
aktiva lancar atau total hutang lancar.
Penentuan salah saji dalam suatu rekening harus meliputi komponen-komponen berikut:
Salah saji tidak dikoreksi yang secara spesifik ditemukan melalui pengujian substantif detail atas
transaksi dan saldo-saldo.
Proyeksi salah saji tidak dikoreksi yang ditaksir melalui teknik sampling audit.
Estimasi salah saji yang dideteksi melalui prosedur analitis dan dikuantifikasi dengan prosedur
audit lainnya.

Menilai Kelangsungan Hidup (Going Concern)


Auditor umumnya menilai apakah terdapat kesangsian besar tentang kemampuan klien untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya berdasarkan hasil pelaksanaan prosedur-prosedur audit
yang normal baik dalam tahap perencanaan, pengumpulan bukti, maupun penyelesaian audit.
Apabila auditor yakin bahwa terdapat kesangsian besar tentang kemampuan klien untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu pantas, maka ia harus melakukan
langkah-langkah berikut: (1) dapatkan informasi tentang rencana manajemen yang ditujukan
untuk mengurangi pengaruh dari kondisi atau kejadian tersebut, dan (2) tentukan kemungkinan
rencana tersebut akan dapat diterapkan secara efektif.

Apabila setelah mengevaluasi rencana manajemen, auditor masih berkesimpulan terdapat


kesangsian besar tentang kemampuan klien untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,
maka auditor harus (1) mempertimbangkan kecukupan pengungkapan tentang ketidakmampuan
perusahaan klien untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu pantas,
dan (2) mencantumkan paragraf penjelasan (di bawah paragraf pendapat) dalam laporan auditor
untuk mencerminkan kesimpulannya. Apabila auditor berpendapat bahwa kesangsian bear sudah
tidak ada, auditor masih harus mempertimbangkan kebutuhan akan pengungkapan. Beberapa
informasi yang perlu diungkapkan meliputi:
Kondisi atau kejadian yang bersangkutan yang telah memunculkan kesangsian besar tentang
kemampuan klien untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya selama periode waktu pantas.
Dampak yang mungkin terjadi sebagai akibat dari kondisi atau kejadian tersebut.
Evaluasi manajemen mengenai signifikansi kondisi atau kejadian dan faktor-faktor yang bisa
mengurangi kesangsian tersebut.
Kemungkinan terhentinya operasi.
Informasi tentang kemungkinan pulihnya kembali keadaan perusahaan klien, atau klasifikasi
aktiva yang dicatat atau klasifikasi hutang.

Melakukan Review Teknis atas Laporan Keuangan


Kebanyakan kantor akuntan publik memiliki daftar pengecekan laporan keuangan detail yang
dikerjakan oleh auditor yang melakukan review atas laporan keuangan. Daftar pengecekan yang
telah dirampungkan selanjutnya direview kembali oleh manajer atau partner yang ditunjuk dalam
penugasan yang bersangkutan. Daftar pengecekan meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
bentuk dan isi setiap bagian pokok laporan keuangan beserta pengungkapan-pengungkapannya.

Merumuskan Pendapat dan Membuat Konsep Laporan Audit

Sebelum sampai pada keputusan akhir tentang opini yang akan diberikan, biasanya klien
menyelenggarakan pertemuan dengan auditor. Dalam pertemuan tersebut auditor melaporkan
temuan-temuan secara lisan dan memberikan alasan atas usulan penyesuaian dan/atau tambahan
pengungkapan. Sebaliknya, manajemen biasanya bertahan dengan pendapat atas kemauannya.
Apabila pada akhirnya dicapai kesepakatan untuk melakukan perubahan, maka auditor bisa
memberi pendapat wajar tanpa pengecualian. Namun apabila tidak dicapai kesepakatan, maka
auditor harus memberi pendapat lain selain pendapat wajar tanpa pengecualian.

Melakukan Review Akhir atas Kertas Kerja


Review yang dilakukan partner atas kertas kerja dimaksudkan untuk mendapat jaminan bahwa:
Pekerjaan yang dilakukan oleh para bawahan telah dilakukan dengan cermat dan teliti.
Pertimbangan yang diberikan oleh bawahan cukup beralasan dengan tepat sesuai dengan keadaan
yang dihadapi.
Penugasan audit telah selesai dikerjakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian
kerja.
Semua persoalan akuntansi, pengauditan, dan pelaporan yang menimbulkan pertanyaan yang
signifikan selama audit berlangsung telah terpecahkan dengan memuaskan.
Kertas kerja mendukung pendapat auditor.
Standar auditing dan kebijakan serta prosedur pengendalian mutu yang berlaku di kantor akuntan
publik yang bersangkutan telah terpenuhi.
3. BERKOMUNIKASI DENGAN KLIEN
Komunikasi oleh auditor dapat dilkasanakan dengan :
a.

Komite audit

b.

Manajemen

Pengkominikasian hal yang menyangkut pengendalian interen


Auditor tidak berkewajiban untuk mencari kondisi yang dapat dilaporkan. Tetapi, auditor
mungkin menemukan kondisi yang dapat dilaporkan melalui :
a.

Pertimbangannya atau pemahamannya atas unsur unsur SPI

b.

Penerapan prosedur audit terhadap saldo maupun transaksi

Laporan tersebut harus :


a.

Mengindikasikan kegunaan audit laporan keuangan adalah memberikan pendapat atas

laporan keuangan, bukan menyediakan mengenai struktur pengendalian intern klien


b.

Mencakup definisi reportable condition

c.

Mencakup pembatasan distribusi laporan

Komunikasi tentang pelaksanaan audit (dengan komite audit)


Komunikasi dapat berbentuk lisan atau tertulis. Komunikasi dengan komite audit meliputi
masalah masalah berikut :
a.

Tanggung jawab auditor berdasarkan standar pengauditan yang ditetapkan ikatan akuntan

indonesia termasuk :
Jaminan yang disediakan audit bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material
Konsep materialitas yang digunakan dalam audit
Jenis pengujian yang dilaksanakan
b.

Kebijakan akuntansi yang signifikan termasuk pilihan dan perubahan kebijakan akuntansi

serta metode akuntansi yang digunakan untuk transaksi yang tidak biasa
c.

Pertimbangan manajemen dan estimasi akuntansi termasuk dasar pertimbangan yang

dilakukan, dan proses pembuatan estimasi


d.

Penyesuaian audit yang signifikan yang berdampak signifikan atas proses pelaporan satuan

usaha.
e.

Ketidaksepakatan dengan manejemen. Ketidaksepakatan tersebut dapat berupa :

Penerapan prinsip akuntansi


Perlakuan akuntansi atas kejadian tertentu
Lingkup audit

Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan


Kata kata auditor dalam laporan audit
f.

Konsultasi dengan akuntan lain mengenai masalah akuntansi dan pengauditan

g.

Kesulitan yang dijumpai selama pelaksanaan audit.

Penundaan yang tidak beralasan oleh manajemen mengenai saat dimulainya audit
Penyediaan informasi dan data yang diperlukan
Tidak tersedianya karyawan klien dan kegagalan karyawan klien untuk menyelesaikan daftar
yang dibuat klien pada waktunya

Menyusun surat pernyataan manajemen


Management letter dapat mencakup komentar atas :
a.

Struktur pengendalian intern, yang bukan termasuk reportable condition

b.

Sumber daya manajemen seperti kas, persediaan, dan investasi

c.

Masalah perpajakan

4. TANGGUNG JAWAB SETELAH AUDIT


Peristiwa kemudian yang terjadi antara tanggal laporan audit dan penerbitan laporan
Sebenarnya auditor tidak bertanggung jawab untuk menemukan hal hal yang mempengaruhi
laporan keuangan auditan setelah tanggal laporan audit. Bila auditor menetapkan perlunya
penyesuaian atau pengungkapan, dan manajemen setuju, maka auditor dapat mengeluarkan
laporan audit bentuk baku.

Penemuan fakta baru


Langkah langkah tersebut meliputi :
a.

Memberitahu ( tertulis ) klien bahwa laporan audit tidak dapat lagi dikaitkan dengan

laporan keuangan
b.

Memberitahu ( tertulis ) badan yang berwenang seperti BAPEPAM bahwa laporan audit

tidak dapat diandalkan lagi

c.

Memberitahu ( tertulis ) melalui bda berwenang (BAPEPAM ) kepada setiap individu

yang diketahui mengandalkan laporan keuangan, bahwa laporan audit tidak dapat diandalkan lagi

Penemuan prosedur audit yang tidak dilaksanakan


Penemuan adanya prosedur audit yang tidak dilaksanakan dapat diketahui melalui :
a.

Pelaksanaan program pengendalian kualitas kantor akuntan publik

b.

Pelaksanaan peer review.

DAFTAR ISI

http://memebali.blogspot.com/2013/05/auditing-dan-atestasi-penyelesaian-audit.html
http://mengenalekonomi.blogspot.com/2014/07/tahap-penyelesaian-audit.html

Anda mungkin juga menyukai