Anda di halaman 1dari 9

KEMAMPUAN BACA-TULIS SISWA DISLEKSIA

RifaHidayah
FakultasPsikologi,UniversitasIslamNegeriMaulanaMalikIbrahim(UIN)Malang
Email:mbakrifa@yahoo.co.id

Abstract
Thepurposesofthisresearchare(1)comprehendingthereadingandwritingabilityofchildofdyslexia,
(2) Reading and writing resistant factor, and (3). Study model for child of dyslexia. The result of the
researchshows;(1).Readingabilityandwritesabilityofdyslexiaarelow,(2).Thefactorinfluencingthe
readingdisabilityare(a).disfunctionnervesystem,(b).Slowdevelopmentandlackingofnutrition,(c).
Slowshorttermmemory,(d).Lackoffamilysupportandsupportingfacilitiesforstudy,(e).lessmatureof
physical,emotionalandsocial.(3).Learningmodel.Ingeneral,Learningprocessforchildofdyslexiain
class is equal to other children, but there is special treatment for dyslexia that is they have special
requirement,suchasspecialteacher,methodandprivatespace andtimeespecially.Thetreatmentwas
speciallygivenfortheimprovementofreadingandwritingabilityofchildofdyslexia.

Keywords
ReadingAbility,WritingAbility,LearningModels,Dyslexia

Pendahuluan
Problem kesulitan belajar membaca paling banyak ditemui dengan suatu proporsi yang besar, di mana
anakanak lebih dari 50% beresiko kesulitan belajar membaca, bahkan di estimasikan siswa yang
mengalamikesulitanbelajarmembacapalingbanyakfrekuensinyamengalamiproblemakademiksebesar
90%(Bender,2004).Siswayang mengalamikesulitanbelajarmembacamendudukiperingkattinggidi
antara kesulitan belajar yang lain, prosentasenya gangguan membaca meliputi 80% dari jumlah anak
yang berkesulitan belajar (Pierson, 2002), bahkan ada yang berpendapat hampir 90% anak yang
berkesulitanbelajarmengalamikesulitanmembaca(Lyon,1995),
Kejadian disleksia di dunia berkisar 517% pada anak usia sekolah. Disleksia adalah gangguan yang
paling sering terjadi pada masalah belajar. Kurang lebih 80% penderita gangguan belajar mengalami
disleksia.510%anakanakdanorangdewasaterkenadisleksia(Wolfensberger&Ruijssnaars,1997).
Diantaranegaranegarayangmengalamiproblemkesulitanbelajarmembaca,Indonesiatermasuksalah
satunegarayangmemilikiproblemkesulitanbelajarmembaca.SecaranasionalberdasarkandataDinas
PendidikankemampuanmembacasiswaSDdiIndonesiamasihrendah,indeksnyamasih3,5jauhberada
dibawahindeksSingapua7,8(Kompas,2008).
SampelstudiPISA(2001)diIndonesiameliputi7.355siswausia15tahundari290sekolahmenengah,
menunjukkan sekitar 75.6% siswa Indonesia usia 15 tahun memiliki kemampuan membaca yang
termasuktingkatterendahsecarainternasional.MenurutdataOrganizationforEconomicCooperationand
Development (OECD), negara dengan kemampuan membaca tertinggi, saat diukur pada 20062007,
adalah Finlandia. Sedangkan negara yang mendapat skor terendah adalah Tunisia dengan 374,62,
kemudian disusul Indonesia (381,59), Meksiko (399,72), Brazil (402,80), Serbia (411,74). Berdasarkan
studi Progress In International Reading Literacy Study (PIRLS) Internasional Association for the
EvaluationofEducationalAchievement(IEA)yangberkantordiAmsterdam,Belandadiikuti40negara
pada tahun 2007, Indonesia dengan sampel penelitian 4.950 siswa dari 170 SD/MI swasta dan negeri
Indonesiatermasukmemilikitingkatkemampuanmembacarendah.
Fenomena tersebut lebih ironis lagi bila dialami anak berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan
belajar, seperti anak dengan gangguan disleksia, di mana menurut Gillis (Beacham, 2006) berdasarkan
hasilpenelitiannyamenemukanbahwa50100%orangdisleksiabukanhanyasulitmembacaakantetapi
jugamempunyaikesulitanmatematis.
Berbagai studi menunjukkanbahwa kebanyakan anakyang mengalami disleksiamengalami kelemahan
padaketrampilanfonologi(Marshall,2001)kelemahanmenamaidengancepat/speednaming(Wolf,2000
dan Snowling, 2004) memiliki ingatan yang pendek yang sangat kurang sekali sehingga menyebabkan

sulit mengingat apa yang diucapkan (Wadlington, 2000), padahal kesadaran fonologi merupakan
prediktorterhadapkemampuanbacaanak(Studimetaanalisisterhadap1.180subjekyangdilakukanBus,
999). Penelitian Sofie (2002) menunjukkan bahwa ketrampilan fonologi memiliki hubungan dengan
kesulitan membaca. Begitu pula bagi anak yang mengalami kemampuan menulis yang rendah akan
menghambat proses belajar anak di sekolah. Kemampuan menulis merupakan salah satu ketrampilan
berbahasayangsangatdibutuhkanmanusiadankarenanyaharusdikuasaianak.Tidaksedikitanakusia
sekolah dasar yang mengalami kesulitan membaca terutama dari anak yang berkebutuhan khusus,
padahalkesulitanmenulisakanmenghambatprestasiakademikkarenaakanmengalamikesulitandalam
menuangkanidesecaratertulis..
Penguasaan berbahasa bagi anak disleksia perlu dikembangkan dan ini merupakan salah satu hal yang
terpentingdalampengembanganbahasaanakdisleksia.Untukitudiperlukanlatihandanbimbinganyang
lebihintensifbagisiswayangberkesulitanmembacamenulis
Penanganan kesulitan membaca dan menulis sangat diharapkan, karena aktivitas belajar pada anak di
mulaidaribagaimanaindividumembaca,danprosesmembacabukuakansangatdipentingkanbagianak
untukkehidupanmendatang.Bagianakyangtidakmampumembacaakanketinggalanbanyakinformasi.
KemampuanmembacamerupakankemampuandasarpadajenjangpendidikandasardanSDmerupakan
satuan pendidikan yang memberikan kemampuan dasar tersebut sebagaimana yang dinyatakan dalam
Bab II pasal 3 PP No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar. Selain itu sekolah dasar sebagai lembaga
pendidikan formal perlu mengembangkan berbagai model pembelajaran untuk meningkatkan
ketrampilanberbahasatermasukkemampuanbacatulis.
Riset tentang tekniktekniktreatmen khusus untuk disleksia masih kurang dan belum ada satu metode
yang cocok untuk semua anak disleksia (Carl & Uhry, 1995; Putnam, 1996: Spafford & Grosser, 1996,
dalam Wadlington, 2000). Bagi Indonesia membaca dianggap sebagai aktivitas individual, atau dengan
katalain,membacadikategorikansebagaiaktivitasyangantisosial(Pudyarjo,1997).Karenaitulangkah
awal adalah dengan memahami siapa sebenarnya anak di disleksia, serta ketrampilan berbahasa yang
dimiliki anak disleksia dengan berbagai pendekatan. Termasuk bagaimana menerapkan pembelajaran
sejak awal dan intervensi bagi anak yang mengalami disleksia sangat penting. Misalnya anak disleksia
bisadibantudengancarapenambahanjampelajaranprasekolah(Hindson,2000).
Menyadaribetapapentingnyakemampuanbahasayangdimilikianaktermasukpenderitadisleksiamaka
pentingsekaliuntukmelakukanpenelitiankemampuanmembacamenulisbagipenderitadisleksiapada
usiasekolahdasar.
Bertitik tolak permasalahan fenomena disleksia maka penelitian ini bertujuan; pertama, melakukan
identifikasi kemampuan membaca dan menulis penderita disleksia pada usia sekolah dasar; kedua,
menemukan faktor penghambat kemampuan membaca anak disleksia; ketiga, mendapatkan informasi
modelpembelajaranberbahasabagianakberkesulitanmembacadisekolahdasar.

MetodePenelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan analisa data secara kualitatif.
Penelitian ini berbasis paradigma post positivisme phenomenologicinterpretatif dengan memakai
pendekatan teori mendasar/grounded theory (Faisal, 1990). Penjelasan ini lebih menekankan pada
penjelasaninterpretatifdanpemaknaanterhadapgejalayangrelevan,tidaksekedarmelakukankategori
benarsalah(truthorfalse),tetapilebihluasdariitujugamencakupaspeknormadanmoralyangselalu
melekat dari hubungan antara peneliti dengan yang diteliti. Penelitian ini memfokuskan pada
kemampuanmembacasiswasekolahdasaryangmemilikikecenderunganmenderitadisleksia.
SubyekPenelitian
Subjekadalah orang yang terlibat dalambahasanpenelitian terutama dalamidentifikasi disleksia, yang
terdiri atas: siswa sekolah dasar yang cenderung mengalami disleksia dan guru bahasa Indonesia atau
guru kelas atau orangtua yang memahami kemampuan membaca siswa yang cenderung mengalami
disleksia.
Pada awalnya peneliti melakukan observasi terhadap anak yang berkebutuhan khusus di SD. Setelah
dilakukan penelitian mendalam peneliti menetapkan 5 subjek sebagai responden penelitian mengingat
kelima subjek sesuai dengan kriteria penelitian yaitu: siswa berkebutuhan khusus yang mengalami
kesulitanmembacaatauberkesulitanmenulis.
MetodePengumpulanData

Metodepenelitianlapanganyangdigunakanadalahwawancara,observasi,teskemampuanbahasa,
laporanprestasiakademiksiswa
Analisisdata
Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif untuk menganalisis data kualitatif.
Analisisinduktifdigunakansebagailandasanutamauntukmengkajiberbagaidatayangtelahdiperoleh,
tehnik analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu: tahap open coding, axial coding dan selective
coding.

DiskusidanTemuan
Kemampuanbacadantulissiswadisleksia
Darihasilteskemampuanbahasaterhadap5siswaberkebutuhankhususdiketahuibahwakemampuan
bacatulissiswadisleksiarendah.Hasilkemampuanbacaresponden1(w).
Tabel1:Skorkemampuanmembacaresponden1
Aspekaspekyangdinilai
Responden

Rekognisi
kata

Semantik

Sintaktis

Useof
conteks

W(9than)

18

Jumlah
Penjelasan
Skor
22

Kurang

Responden 1 (W) berusia 9 tahun mengalami kesulitan membaca terutama dalam mengekpresikan ide
dalam bahasa lisan. (skor sintaktis dan use of konteks sangat rendah). Saat membaca, subjek juga
mengalami mengalami banyak kelemahan dalam vocal maupun konsonan. Subjek hanya mampu
menghafal5abjad,yaituaf,itupunmemerlukanwaktuyanglama.Subjekmemilikiingatanyanglemah
dan cepat melupakan apa yang telah di baca. Saat membaca memerlukan waktu yang cukup lama, satu
kalimatpendekrataratamembutuhkanwaktu510menitdenganbanyakkesalahan.Prestasiakademik
subjek rendah, untuk kemampuan berbahasa ratarata persemester nilai 35, sehingga subjek 2 tahun
dudukdikelas1.Hasilkemampuanbacaresponden2(KK).
Tabel2:Skorkemampuanmembacaresponden2
Aspekaspekyangdinilai
Responden
K(13thn)

Rekognisi
kata

Semantik

17

13

Sintaktis
3

Useof
conteks
1

Jumlah
Penjelasan
Skor
34

Kurang

Responden 2 (KK, 13 tahun). Kemampuan berbahasa subjek; membaca dan menulis rendah. Subjek
termasukanakyangmengalamikesulitanmembacadanmenulis(disleksia).Kesulitanberbahasasubjek
telahnampakpadasaatmemasukitamankanakkanakyangsulitberkomunikasi,membacadanmenulis.
Tulisan subjek sulit terbaca orang lain. Subyek pernah tinggal kelas di SD sebanyak 2 kali pada waktu
maunaikkelasIIIdanpadawaktunaikkekelasV.Nilaibahasaratarata46.Kesulitanlainyangdialami
subjeksaatmenulis,tangansubjektremor(gemetar)sehinggamembuattulisansubjektidakfokus.
Subyek3(D,10tahun)mengalamigangguanmenulis.Tulisansubyeksulitterbacadantidakrapi.Pada
saatmenulis,subyekmenulisdenganlambatdancepatlelah,sehinggadalammenyelesaikantugasbelajar
disekolahseringlambatdanseringtidakmampumenyelesaikansemua(hasilwawancaradenganguru).
Subjek mampu meniru/menjiplak tulisan akan tetapi bila didikte, subjek kesulitan. Cara subyek
memegangpensil,pensilyangdipeganghampirmenempelpadakertaskarenacarasubjekmemegangnya
dengandisanggaolehjarikelingking,tidaksepertibiasanya.Hasilkemampuanbacaresponden4(M).
Tabel3:Skorkemampuanmembacaresponden4;
Aspekaspekyangdinilai
Responden
M(9th)

Rekognisi
kata
28

Semantik

Sintaktis

17

Useof
conteks
3

Jumlah
Skor

Penjelasan

50

Cukup

Subjek 4 (M) 9 tahun. Hasil wawancara menunjukkan bahwa subjek mengalami kesulitan menulis dan
kurang mampu membaca. Tulisan kurang bisa terbaca dan cara membaca subjek dengan mengeja. Ia
memerlukanwaktucukuplamauntukmenyelesaikansuatubacaan.Kesulitanlainsubjekmenuliskalimat
ny,ng/diftongdanpenyelipankata.Subjekjugabelumbisamenulisnamanyasendirisecarabenar.Beban

psikologissubjekmenjaditinggimanakaladaritemantemannyamengolokngolokdenganmengatakan,
Eh, sudah besar kok tidak bisa dan masih mengeja. Kemampuan berbahasa subyek, amat rendah. Itu
terlihat dari nilai raport subjek, terutama kemampuan mendengar dan mengapresiasi sastra yaitu nilai
50. Dalam cacatan yang diberikan guru wali kelas memberi cataan untuk lebih giat dalam belajar
membaca.Kesulitanmembacasubjekpadabagianmemahamisistimsemantikdankemampuanbercerita
(nilaitessemantikdanuseofconteksrendah).
Subjek5(DS)10tahun.Subjekpadaawalnyamenurutinformasigurudanorangtuatermasukanakyang
sulitbacatulis.Padausia10tahuninibarubisabacatulis,itupunbilasubjektidakbelajartiapharidan
mengulangnya,iaakanlupa.Saatdilakukanteskemampuanmembaca,subjeklancarmembaca,hanyaada
beberapakesulitanmembacatulis,terutamamembunyikanhurufberurutanvokalkonsonanmasihsulit.
Membaca kata ekspresikan, terbaca epresikan. Kata menyambung terbaca meyabung, aku
terbacaanaku.Tulisansosistertulissosi,rumahtertulisruma.
Faktorfaktorkesulitanbacatulissiswadisleksia
Berdasarkan penelitan terhadap 5 sampel penelitian dapat disimpulkan faktor kesulitan membaca
menulissangatkomplek,antaralain:
1.Disfungsi sistem saraf (subjek 3), Subyek memiliki kelainan pada sistem syaraf tubuh sebelah kanan
setelah subyek mengalami kejangkejang pada saat subyek berumur 3 bulan. Hal ini menyebabkan
subyekmengalamigangguanpadasystemmotoriknyaterutamapadamatadantangannya
2.Lambatperkembangandankekurangangizi,kurangnutrisi(subjek1,2).PadaRespondenTmengalami
kelambatanperkembangandalambicaradanpadausia3tahunbarubisabicara.
3.Lemahnya kemampuan mengingat, memori jangka pendek lambat (subjek 5) dan intelegensi terbatas
(subjek1,intelegensisubjekdibawahratarata,subjekW),
4.Pengaruhlingkungankeluarga.Keluargatidakharmonisdansaranapembelajaranyangkurang(subjek
1), Dukungan keluarga yang sedikit terhadap kegiatan belajar subyek terutama kegiatan untuk
melatihkemampuanmenulisnya.
5.Kurangmatangfisik,sosialdanemosional,contohsubjekinginmenangsendiridanmengamuk(subjek
2). Subyek terlihat sering terdiam seperti melamun diselasela menulis soal mata pelajaran.
Meskipun begitu, subyek merupakan anak yang cepat tanggap dengan perintahperintah yang
diberikanguru kepadanya. Subyek merupakan anak dengan pemahaman yangbagusdalam sebuah
bacaan meskipun memiliki kesulitan menulis. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan subyek
membaca dengan lancar, bersemangat dan dengan suara yang lantang. Subyek merupakan siswa
yang supel dan ramah dengan orang lain meskipun itu orang asing. Pada saat melakukan aktivitas
dengan temanteman sebayanya di sekolah, subyek terlihat sering diam atau menyendiri menjauhi
temantemannya. Pada saat di dalam kelas, subyek sering menjadi bahan ejekan temantemannya
terutama padasaat subyek mendapat giliran untuk menjawab soal yang ada di papan tulis. Subyek
merasaminderkarenaejekantemantemansebayanyadisekolah
ondisiekonomikeluargayangtidakmemadaiataumendukungkegiatanbelajarsubyek.
Modelpembelajaransiswadialeksia
Modelpembelajaranbahasabagianakdisleksiadisekolahdasarsecaraumumsamadengananaknormal
yang tidak mengalami disleksia. Siswa disleksia tetap diberi kesempatan untuk belajar di sekolah
bersamaanakanaknormallainnya.Sekolahtersebutdikenaldenganistilahsekolahdasarinklusidengan
menerapkanpakem.Siswadisleksiamendapatkankeistimewaanpembelajarankhususnyapembelajaran
bahasayangdilakukanmelaluikelompokatausecaraindividudiluarjampelajaransekolahyangreguler.
Pembelajaran khusus diberikan bagi anak disleksia dengan guru khusus dan ruangan khusus yang
dilakukandisorehariatauselaselaistirahatsiswa.

Pembahasan
Bahasa bagi seseorang memiliki fungsi sangat penting, yaitu: (1) aspek ekspresi untuk menyatakan
kehendakdanpengalamanjiwa,(2)aspeksosialuntukmengadakankomunikasidenganoranglain,(3)
aspek internasional berfungsi untuk menunjukkan atau membanggakan sesuatu (Torgessen, 1992).
Melihat betapa pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia, maka kemampuan berbahasa harus
dikembangkantermasukkemampuanmembaca,sebabmembacamerupakanjendelailmupengetahuan,
meskipununtukanakberkebutuhankhusus,sepertisiswadisleksia.Berdasarkanhasilpenelitiandiatas,

walaupunsiswadisleksiamemilikikemampuanbacatulisrendah,justruhalinimenjadisuatutantangan
tersendiri dalam dunia pendidikan, psikologi dan ahli bahasa untuk terus menerus mengembangkan
penelitianmengenaimodelpembelajaranbahasayangtepatbagisiswadisleksia.
Anakdisleksialemahdalamingatanjangkapendekyangmengakibatkankesulitanmengulangkatayang
diucapkan dan lemah dalam mengurutkan huruf atau angka, padahal kemampuan tersebut sangat
diperlukan dalam proses membaca (Marshal, 2001). Mengingat kompleknya permasalahan siswa
disleksia, deteksi dini terhadap tumbuh kembang anak sangat diperlukan, terutama sebagai usaha
pencegahan,sepertigangguanpenglihatan,pendengarandanmotorikanak.
Usahaintervensidanterapibagianakyangmengalamikesulitanmembacadapatdilakukandengancara
bekerjasamadenganparaahlimedis,sepertipediatri(ilmukedokterananak)optamologi(spesialismata)
dan neurologi (spesialis neurologis), otologi (spesialis pendengaran), maupun psikiatri (ahli jiwa),
psikologdangurukhususuntukmemahamisejauhmanakemampuanmembacapadadisleksiadanfaktor
penghambatkemampuanmembaca.Dengancarakerjasamaini,makaperkiraanbantuandanintervensi
bagi disleksia akan lebih mudah terealisasi, dan pemberian bantuan yang tepat terutama model
pembelajaran, akan sangat membantu anak disleksia sebab penguasaan bahasa yang baik dan benar
menurutBukhori(1996)dapatmeningkatkandayaanalisayanglogis,kecerdasan,percayadiri,hargadiri
(selfesteem)sertafulfilment.
Bagi pendidik, ia harus memahami bahwa proses membacamenulis membutuhkan pembelajaran yang
lebih komplek. Pendidik dapat ikut terlibat meningkatkan kemampuan membaca pada anak yang
mengalami kesulitan membaca melalui: (1) praktek dan kebijakan pendidikan di sekolah yang harus
berusaha lebih keras lagi dalam menyediakan intervensi bagi anak berkesulitan membaca. (2) harus
menemukan cara untuk melakukan intervensi pada anak yang memiliki gangguan membaca yang
seharusnyalebihdiperhatikansecaraintensif.(Torgessen,1992).Selainitu,pendidikperluketerampilan
khusus dalam pemberian instruksi kepada anak yang mengalami kesulitan membaca, yaitu: 1)
memberikan kesempatan untuk mempraktekkan membaca dengan keterampilan baru, 2). pemberian
instruksi yang cukup intensif, isyarat yang sistematik dengan strategi yang tepat dalam membaca kata
ataupun teks (sebuah paragraf), 3). instruksi yang cukup tegas dalam strategi pengkodean fonemik
(Wolfgang,2000).
Prosesmembacamemerlukanpencapaiankemampuankognitiftertentuuntukdapatmempersepsihuruf
dan kata hingga merecallnya, karena stimulus suara lebih mudah dipersepsi anak dan akan bertahan
lebihlamadalammemorijangkapendeknya.PenelitianRansby(2003)terhadaporangdewasadisleksia
menunjukkan bahwa orang disleksia memiliki skor rendah pada proses fonologi, kecepatan menamai,
pengetahuan secara umum, dan kosakata. Umumnya pada usia dewasa mereka mengalami kelemahan
dalamberapahaltersebutbiladibandingkandenganusiasebenarnya.
Intervensi bagi peningkatan kemampuan berbahasa bagi anak disleksia dapat dimulai dari lingkungan
bahasaanak,termasukmetodepembelajaran,antaralain;(a)Metodemultisensorisdenganmenggunakan
VAKT(visual,auditory,kinesthetic,andtactile).Metodeinimenggunakanmateribacaanyangdipilihdari
katakata yang diucapkan oleh anak, dan setiap kata diajarkan secara utuh. Metode ini menggunakan
empattahapanmelaluivisual,auditory,kinesthetic,andtactile.Metodeinicocokterutamabagianakyang
mengalami gangguan motorik. (b). Metode analisis glass, yaitu metode pengajaran dengan pemecahan
sandi kelompok huruf dalam kata. Melalui metode ini anakdibimbing untuk mengenal kelompok huruf
sambil melihat kata secara keseluruhan. Metode ini lebih mengembangkan metode visual dan auditori
yang terpusat pada kata yang sedang dipelajari.Cara penerapan di Indonesiaadalah dengan berbentuk
sukukata.Misalnyakataibuterdiriatasduakelompokhurufidanbu.Caramengajarmelaluimetode
glass menurut Lerner (1988) adalah: (1) mengidentifikasikan keseluruhan kata, huruf, dan bunyi
kelompokkelompk huruf.(2). mengucapkan bunyibunyi kelompok huruf dan huruf (3). menyajikan
kepadaanak,hurufataukelompokhurufdanmemintauntukmengucapkannya.(3).menyajikankepada
anak,huruf,ataukelompokhurufdanmeminytamengucapkannyaserta(4).gurumengambilbeberapa
hurufpadakatadananakdimintamengucapkankelompokhurufyangmasihtersisa.
Model pembelajaran lain bagi disleksian yaitu; pelatihan ketrampilan phonologi efektif untuk
meningkatakankemampuanmembaca.Daribeberapapelatihanfonologiuntukmembantuanakdisleksia
yangmengalamikesulitanbelajartelahdilaporkanberhasil,antaralain:
No Peneliti
1 Jimenez

Tahun
2000

Hasil
Kesadaran fonologi efektif meningkatkan
kemampuan membaca bagi anak yang

mengalamikesulitanmembaca
2

RicardL
Sparks

2004

Sofie,.et,al

2002

Schneider,
dkk

2000

Kleeck

1998

Murray

1998

Wolfgang

2000

Murray

1998

Kesadaran
fonologi
meningkatkan
kemampuan
membaca
bagi
pemula
pembelajaranbahasaInggris
Ketrampilan fonologi memiliki hubungan
dengankesulitanmembaca.
ketrampilan fonologis yang berisi segmentasi
dan analisis kata lebih tepat untuk mengatasi
problem disleksia dibandingkan pelatihan
pengenalanhubunganhurufdanbunyi.
Penelitian dilakukan terhadap 16 anakanak
prasekolah yang mengalami kesulitan bahasa.
Setelah dilakukan pelatihan kesadaran
fonologi (termasuk kesadaran rhyming dan
fonem) dalam waktu 9 bulan anakanak pra
sekolah
mengalami
perkembangan
kemampuanmembaca.
Pelatihan identifikasi fonem lebih baik dalam
mempengaruhi alphabetical insight anak
prasekolah.
Efektifitas pelatihan ketrampilan fonologi
terhadap138disleksia.
Pelatihan identifikasi fonem lebih baik dalam
mempengaruhi alphabetical insight anak
prasekolah.

Aktifitasaktifitas kesadaran fonologi dalam upaya meningkatkan ketrampilan fonologi salah satunya
adalahuntukmembantuanakanakbelajarmemahamisuaradiawalatauakhirdarikata(Kleeck,1998).
Contoh metode belajar yang dapat digunakan melalui pengembangan ketrampilan fonologi adalah
melalui pelatihan aktivitas sajak (rhyming). Motode lain yang diperlukan untuk pengembangan
ketrampilan fonologi adalah: (a) Metode fonik, metode ini menekankan pada pengenalan kata melalui
proses mendengarkan bunyi huruf. Bila melihat prosesnya metode ini lebih sintesis dari pada
analitis.model pembelajaran yang dikembangkan adalah dengan mengenalkan bunyi hurufhuruf
kemudian mensintesiskan hurufhuruf tersebut dalam suku kata, (b) Metode analisis, metode ini
didasarkan pada psikologi Gestal dan lebih condong pada metode yang menekankan penguasaan kata
yang perlu didahului oleh penguasan kesatuan (Smith & Johnson, 1980). Model pelatihan ketrampilan
fonologidapatdilaksanakansesuaidengankondisianakdisleksia.
Pembelajaran bahasa bagi anak berkesulitan membaca dapat dilakukan dengan melakukan kombinasi
antaraketrampilan fonologi dan model membacacepat.Dalam penelitian neuroscience, adabukti yang
kuatbahwabanyakpembacayanglemahdalamkecepatanmenamai,yaitukelemahandalamprosesyang
mendasari kecepatan mengenali stimuli bahasa yang ditampilkan secara visual (Ackerman & Dykman,
1993etal.dalamWing,2005).Walhasildenganpengetahuanyangterbaikdanmodelpembelajaranyang
tepatdiharapkandapatmembantumengatasikesulitanmembacadanmenulisbagisiswadisleksiayang
membutuhkan.

Penutup
Perhatiankhususbagianakdisleksiaterutamaunsurpsikologisangatdiperlukan.Pengembanganmodel
pembelajarankombinansisepertipakem,kombinasifonologiakanefektifdilakukandiIndonesia,melalui
pendidikan inklusi yang ditawarkan pemerintah melalui Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, sesuai amanat UUSPN No. 2/1989 agar setiap warga negara
memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Karena itulah pelaksanaan pendidikan inklusi
bagianakberkesulitanbelajarsecaraterencanadanterprogram sebaikmungkinakandapatmembantu
meningkatkankualitaskemampuanmembacaanak.Selainituperlu puladikembangkanmetodebelajar
yangmenyenangkandankesempatanbelajarbagianakdisleksiaseluasluasnyadandisesuaikandengan
kondisi anak disleksia, seperti pelatihan metode fonologi yang dikombinasikan dengan pelatihan
multisensorismisalnyamelaluiVAKT(visual,auditory,kinesthetic,andtactile),maupunmetodeanalisis
glass.Penerapanmodelpembelajarandisekolah,diperlukanpulabimbinganorangtuamisalkanmelalui
bimbingan untuk fasih berbahasa dengan cara mengulang kata atau membaca secara lesan, dan dapat
dilakukandenganalatbantu,sepertipapan,laptop,musikataukomputer(Vance,2004).

Pelaksananan pembelajaran model kombinasi penemaan secara cepat dan ketrampilan fonologi harus
pula disesuaikan dengan kondisi anak dengan dan guru yang ahli dengan pemberian pelayanan yang
terbaik. Yang terpenting bagi anak berkebutuhan khusus pembelajaran inklusi sebaiknya dibarengi
dengan pemotivasian siswa yang berkebutuhan khusus dan pemahaman pada siswa lain yang normal
secaralebihbaik.Sehinggaanakyangberkeutuhankhusustidakmenjadirendahdiri.

DAFTARPUSTAKA
Abdurrahman,M.2003.PendidikanBagiAnakBerkesulitanBelajar.Jakarta:RinekaCipta
Bender,W.N.,Rosenkrans,C.B.,&Crane,M.K.1999.Stress,depression,andsuicideamongstudentswith
learningdisabilities:Assessingtherisk.LearningDisabilityQuarterly,22,143156
Beacham,NigelA.&JamesL.Alty2006.Aninvestigationintotheeffectsthatdigitalmediacanhaveonthe
learningoutcomesofindividualswhohavedyslexia.Computers&Education477493
ByrneBrian;CaraDelaland;RuthFieldingBarnsley;PeterQuain;etal.2002.Longitudinaltwinstudyof
earlyreadingdevelopmentinthreecountries:Preliminaryresult.AnnalsofDyslexia;52,ProQuest
MedicalLibrary.pg.49
Colledge, Essi, et.al. 2002. The structure of language ability at 4 years: A Twin Studi. Development
psychology.Vol38.no.5,749757.
Carrol.M,Julia.2003.Thedevelopmentofphonologicalawarenessinpreschoolchildren.Developmental
psychology.Vol39.no5.913923
Cossu,Giuseppe,MariaGugliottaandJohnC.Marshall.1996.TranspositionErrorsInVisualMatchingOf
Orthographic Stimuli: A Study Of Normal Children With Aplications For Ortons Theory Of
DevelopmentalDyslexia.Neurolinguistics,Vol.9,No.4,Pp.289295.
Erskine, M. Jane. 2005. Proximal Analysisi of Developmenl Dyslexia in Adulthood: The Cognitif Mosaic
Model.JournalofeducationalPsychology.Vol.97.No.3,406424
Fisher, Simon E. and John C.DeFries.2002. Developmental Dyslexia: Genetic Dissection Of A Complex
CognitiveTrait..vol3.NaturePublishingGroup.767780.

Faisal.Sanapiah.1990.Penelitiankualitatif;DasardasardanAplikasi.Malang:YA3;19
Goswami, Usha. 2002. Annals of Dyslexia; Phonology, reading development, and dyslexia: A cross
linguisticperspective.52,ProQuestMedicalLibrary.pg.141.
JohnWSantrock.1995.LiveSpanDevelopment(terjemahan).PenerbitErlangga.
Kame'enui, Edward J; Deborah C Simmons; Michael D Coyne. 2000. Schools as hosts environments:
Toward a schoolwide reading improvement model. Annals of Dyslexia; 50, ProQuest Medical
Librarypg.33
Kleeck,Annevan;RonaldBGillam;TeresaUMcFadden.1998.Astudyofclassroombasedphonological
awareness training for preschoolers. American Journal of Speech Language Pathology; 7, 3;
ProQuestMedicalLibrary.pg.6576
Kidd, Jaanna C. 2006. Development Of Auditory Saltation And Its Relationship To Reading And
PhonologicalProcessing.JournalOfSpeech,Language,AndHearingResearch;Aug2001;42,2;352.
ProquestMedicalLibrary.Pg.925
Kompas,2008.KemampuanbacasiswaIndonesia.
Lyytinen,Paula.2005.Languagedevelopmentandliteracyskillsinlatetalkingtoddlerswithandwithout
familialriskfordyslexia.Annalsofdyslexia.Vol.55.no.2.166192.
Lyon, G.R., Fletcher, J.M., Shaywitz, S.E., Shaywitz, B.A., Torgesen, J.K., Wood, F.B., Schulte, A., Olson, R.
2001. Rethinking Learning Disabilities. Thomas B. Fordham Foundation. (Online). Sumber:
http://www.edexcellence.net/library/special_ed/special_ed_ch,12.pdf
Lyon, G,R . 1996. Learning disabilities. In E.J. Mash & RA Barkey (Eds), Child psychopathology.pp.390
35.NewYork;theGuilfordPress.

Meyler, Ann and Zvia Breznitz. 2005. Impaired Phonological and Orthographic Word Representations
AmongAdultDyslexia..TheJournalofGeneticPsychology;166,2;ProQuestMedicalLibrarypg.215
Lerner, J. 2003. Learning Disabilities: Theories, Diagnosis, and Teaching Strategies. Boston: Houghton
MifflinCompany
Marshall, Catherine M; Margaret J Snowling; Peter J Bailey. 2001. Rapid auditory processing and
phonological ability in normal readers and reading. Journal of Speech, Language, and Hearing
Research;44,4;ProQuestMedicalLibrary.pg.925.
Ransby,MarilynJ;HLeeSwanson.2003.ReadingComprehensionSkillsOfYoungAdultsWithChildhood
DiagnosesOfDyslexia.JournalOfLearningDisabilities;Nov/Dec;36,6;RoquestMedicalLibrary.Pg.
538.
Ramus,Franck.2001.Talkoftwotheories.MacmillanMagazinesLtd.Nature.|Vol412|26July2001.
SanapiahFaisal.(1990)Penelitiankualitatif;DasardasardanAplikasi.Malang:YA3;19
Singer,Elly.2005.TheStrategiesAdoptedbyDutchChildrenwithDyslexiatoMaintainTheirSelf.Journal
ofLearningDisabilities;Sep/Oct38,5;ProQuestMedicalLibrarypg.411
Senechal, MoniQue, and JoAnne LeFevre. 2002. Parental involvement in tehe development of childres
readingskiill:AfiveYearlongitudinalStudy.ChildDevelopment;volume73.No.2.Pages445460.
Samuelsson,Stefen.2003.TheImpactofenvironmentalfactorsoncomponentsofreadinganddyslexia.
Annalsofdyslexia.53.201217
Marshall , Catherine, Margaret, snowling, and Pater, Bailey. 2004. Rapid auditory processing and
phonologicalabilityinnormalreadersandreaderswithdyslexia.JournalofSpeech,Language,and
HearingResearch;Dec2004;47,6;ProQuestMedicalLibrary.pg.1301.
MillerShaul, Shelley,; Zvia Breznitz. 2004. Electrocortical Measures During a Lexical Decision Task: A
ComparisonBetweenTheJournalofGeneticPsychology;Dec;165,4;ProQuestMedicalLibrary.pg.
399
Schneider, Wolfgang. 2000. Traning phonological skills. Dyslexia in Chinese: Clues from Cognitive
Neuropsychology.Vol.92.no2.284295.
SofieCeciliaA;CynthiaARiccio.2002.Acomparisonofmultiplemethodsfortheidentificationofchildren
withreading.JournalofLearningDisabilities;35,3;ProQuestMedicalLibrary.pg.234
Smith,AllanB.JennyRobert,SusanLambrechtSmith.2006.Reducedspeakingrateasanearlypredictorof
reading disability. Journal of Speech, Language, and Hearing Research;15:3.; ProQuest Medical
Library.pg.289.
Serniclaes Willy; Liliane SprengerCharolles; Rene Carre; JeanFrancois Demonet. 2001.Perceptual
discrimination of speech sounds in developmental dyslexia. Journal of Speech, Language, and
HearingResearch;Apr;44,2;ProQuestMedicalLibrary/pg.384
Torgessen, JK. Morgan, ST, Davis, C. 1992. Effect of Two Types of Phonological Awareness Training on
WordLearninginKindergartenChildren.JournalofEducationalPsychology.84.364370.
Vance, Kate O'Brien. 2004. Adapting Music Instruction for Students with Dyslexia. Music Educators
Journal;May;90,5;AcademicResearchLibrary.pg.27
Wadlington, Elizabeth. 2000. Effective language arts instruction for students with dyslexia. Preventing
SchoolFailure;44,2;AcademicResearchLibrary.pg.61.
Wolfgang Schneider. 2000. Traning phonological skills. Dyslexia in Chinese: Clues from Cognitive
Neuropsychology.Vol.92.no2.284295.
Wing, Bonnie. 2005. Phonological processing skills and early reading abilities in Hongkong Chinese
kindergarteners learning to read English as a.second language. Journal of educational Psychology.
Vol.97.No.1,8187.
Widyastono. 1998. Siswa SD yang berkesulitan Belajar Umum dan Penanganan Kesulitan Belajar
Membaca.KajianDikbudno.013tahunIVJuni1998.,hal2027.
Widyana, R. 1999. Efektivitas Pelatihan Kesadaran Fonemik dalam Meningkatkan Kemampuan Pra

MembacaAnakanakPrasekolah.Tesis.Yogyakarta.ProgramPascasarjanaUGM.
Weggelaar,Cornelis.2006.KinestheticFeedbackAndDyslexicStudentsLearningToReadAndWrite.Et
Cetera;;63,2;AcademicResearchLibrary.Pg.144
Wolf, Maryanne. 1999. The Doble Hipotesis For Develompmental Dyslexia. Journal of educational
Psychology.Vol.91.No3.415438.