Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perlu diketahui bahwa orang-orang dengan berbagai usia membutuhkan

jumlah waktu tidur yang berbeda. Seorang bayi yang baru lahir bisa tidur 16 jam,
sedangkan orang yang berusia 50 tahun mungkin tidur hanya 6 jam. Waktu tidur
tergantung pada dua faktor, yaitu jumlah data yang perlu ditransfer ke long-term
memory dan kecepatan transfer data dari temporary memory ke long-term
memory. Hal ini jelas bahwa database long-term memory di bayi yang baru lahir
masih mulai terbentuk. Berbeda dengan orang dewasa, memiliki informasi kurang
signifikan yang perlu ditransfer ke long-term memory karena database yang besar
telah dibuat1.
Selama tidur, terjadi perubahan di respiratory mechanics place terhadap
kebutuhan tambahan mekanisme kontrol pernapasan, jika pertukaran gas
dipertahankan. Kehilangan kesadaran disertai dengan penurunan eferen aktivitas
saraf untuk kedua saluran napas dan pompa pernapasan otot menyebabkan potensi
penurunan otot inspirasi kekuatan dan peningkatan resistensi terhadap aliran
udara2.
Fungsi tidur adalah proses menyimpan data dalam temporary memory,
encode, dan mentransfer data ke long-term memory. Ini akan membandingkan
informasi yang baru disimpan dari temporary memory dengan file lama yang
disimpan di long-term memory. Sebuah model memori baru diberikan pada
gambar 1 dan gambar 2. Model baru ini memiliki dua tahap, yaitu waking brain
dan sleeping brain. Selama waking time, memori sensorik menerima informasi
dari seluruh panca indera. Selama sleeping time, tingkat penginderaan semua
sensor lambat dan ambang gairah meningkat. Setiap kegiatan otak, seperti mimpi,
tidak dapat direkam ke temporary memory1.
REM (Rapid Eye Movement) sleep adalah keadaan otak yang paling terkait
dengan mimpi. Dalam bermimpi, banyak aspek dari kesadaran primer meningkat,

di antaranya a sense of first person agency, internally generated percepts


termasuk gerakan ruang fiktif dan emosi yang kuat, terutama kecemasan,
kegembiraan, dan marah. Otak bukanlah organ refleks, otak adalah synthesizer
1

sensasi, persepsi, dan perilaku. Sistem otak bertanggung jawab untuk sintesis ini,
pada REM (Rapid Eye Movement) sleep. Salah satu sistem yang paling relevan
dalam hal ini adalah the pontinegeniculate - occipital sistem3.
Ada dua jenis mimpi sebagai hasil dari aktivitas mental yang berbeda dari
sleeping brain. Tipe I mimpi, sebuah pemikiran seperti, konsekuensi dari memory
replay ketika declarative memory data diambil dari temporary memory. Tipe II
mimpi, lebih seperti mimpi pemikiran, sering terjadi selama REM sleep, bila
procedural memory ditransfer dari temporary memory ke long-term memory1.
1.2

Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi salah satu

tugas mata kuliah Fisiologi, pembuatan makalah ini juga mempunyai tujuan
sebagai berikut :
1. Mampu memahami definisi dan fisiologi tidur, serta mimpi.
2. Mampu mengetahui hubungan antara otak dengan tidur dan mimpi.
3. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mendorong seseorang dapat bermimpi.
1.3

Manfaat Penulisan

1. Memberikan informasi kepada pembaca tentang hubungan antara otak dengan


tidur dan mimpi.
2. Mengetahui respon proses syaraf pada saat tidur dan bermimpi.
3. Mengetahui faktor yang mempengaruhi sesorang dapat bermimpi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tidur
2.1.1

Definisi Tidur
Tidur merupakan keadaan tidak sadar yang relatif lebih responsif

terhadap rangsangan internal. Perbedaan tidur dengan keadaan tidak sadar


lainnya adalah pada keadaan tidur, siklusnya dapat diprediksi dan kurang
respons terhadap rangsangan eksternal. Otak berangsur-angsur menjadi
kurang responsif terhadap rangsang visual, auditori, dan rangsangan
lingkungan lainnya. Tidur dianggap sebagai keadaan pasif yang dimulai
dari input sensoric walaupun mekanisme inisiasi aktif juga mempengaruhi
keadaan tidur. Faktor homeostatik (faktor S) maupun faktor sirkadian
(faktor C) juga berinteraksi untuk menentukan waktu dan kualitas tidur4.
2.1.2

Fungsi Tidur
Fungsi tidur adalah restorative (memperbaiki) kembali organ-organ

tubuh. Kegiatan memperbaiki kembali tersebut berbeda saat Rapid Eye


Movement (REM) dan Nonrapid Eye Movement (NREM). Nonrapid Eye
Movement akan mempengaruhi proses anabolik dan sintesis makromolekul
ribonukleic acid (RNA). Rapid Eye Movement akan mempengaruhi
pembentukan hubungan baru pada korteks dan sistem neuroendokrin yang
menuju otak. Selain fungsi di atas, tidur juga digunakan sebagai tanda
terdapatnya kelainan pada tubuh yaitu terdapatnya gangguan tidur yang
menjadi peringatan dini keadaan patologis yang terjadi di tubuh4.
2.1.3

Fisiologi Tidur
Tidur adalah suatu periode istirahat bagi tubuh berdasarkan

kemauan serta kesadaran, dan secara utuh atau sebagian fungsi tubuh yang
akan dihambat atau dikurangi5. Tidur juga digambarkan sebagai suatu
tingkah laku yang ditandai dengan karakteristik pengurangan gerakan,
tetapi bersifat reversible terhadap rangsangan dari luar. Secara garis besar,
tidur dibagi menjadi dua tahap, yaitu6 :
1. Fase Rapid Eye Movement (REM) disebut juga active sleep.

2. Fase Nonrapid Eye Movement (NREM) disebut juga quiet sleep.


Nonrapid Eye Movement merupakan keadaan aktif yang terjadi melalui
osilasi antara talamus dan korteks.
Tiga sistem utama osilasi adalah kumparan tidur, delta osilasi, dan
osilasi kortikal lambat. Kumparan tidur merupakan sebuah ciri tahap tidur
NREM yang dihasilkan dari hiperpolarisasi neuron GABAnergic dalam
nukleus retikulotalamus. Hiperpolarisasi ini menghambat proyeksi neuron
kortikotalamus. Sebagai penyebaran diferensiasi proyeksi kortikotalamus
akan kembali ke sinkronisasi talamus. Gelombang delta dihasilkan oleh
interaksi dari retikulotalamus dan sumber piramidokortikal sedangkan
osilasi kortikal lambat dihasilkan di jaringan neokorteks oleh siklus
hiperpolarisasi dan depolarisasi7.
Ciri EEG tambahan dari tidur fase REM adalah gelombang gigi
gergaji. Selama fase REM, yang berperan adalah sistem kolinergik yang
dapat ditingkatkan dengan reseptor agonis dan dihambat dengan
antikolinergik4,7. Fase REM (tahap R) ditandai oleh atonia otot, aktivasi
kortikal, desinkronisasi bertegangan rendah dari EEG, dan gerakan cepat
dari mata. Fase REM memiliki komponen saraf parasimpatomimetik dan
saraf simpatik yang ditandai oleh otot rangka berkedut, peningkatan
denyut jantung, variabilitas pelebaran pupil, dan peningkatan laju
pernapasan4,7. Atonia otot terdapat pada seluruh fase REM sebagai hasil
dari inhibisi neuron motor alfa oleh kelompok-kelompok seruleus perilokus neuron yang secara kolektif disebut sebagai korteks retikuler sel
kecil4.
Fungsi tidur NREM masih merupakan dugaan beberapa teori.
Salah satu teori yang telah diajukan menyatakan bahwa penurunan
metabolisme akan memfasilitasi peningkatan penyimpanan glikogen. Teori
lain

memanfaatkan

plastisitas

neuron

yang

menyatakan

bahwa

depolarisasi dan hiperpolarisasi dari osilasi akan berkonsolidasi dengan


proses memori dan menghilangkan sinaps yang berlebihan 4,7. Selama fase
NREM, permintaan metabolik otak berkurang. Hal ini ditunjukkan oleh
penelitian menggunakan oksigen Positron Emission Tomography (PET),

yaitu selama fase NREM, aliran darah ke seluruh otak semakin menurun.
Selama fase REM, aliran darah meningkat di talamus dan visual utama,
kortek motorik, dan sensorik relatif menurun di prefrontal dan daerah
parietal asosiasional. Peningkatan aliran darah ke daerah visual utama dari
korteks dapat menjelaskan sifat alamiah bermimpi saat REM, sedangkan
penurunan aliran darah ke korteks prefrontal dapat menjelaskan
penerimaan isi mimpi4.
Saat ini banyak dilakukan penelitian tidur menggunakan alat
polysomnography

(gambar

2.1).

Elektroda

yang

dipakai

untuk

pemeriksaan tidur dengan cara ini minimal berjumlah empat buah, yaitu
satu untuk melihat gambaran gelombang dari elektroencephalograpy
(EEG), dua saluran untuk elektrokulogram (EOG), dan satu untuk
elektromiogram (EMG). Satu elektroda EEG biasanya diletakkan pada C3
atau C4. Elektrokulogram biasanya direkam dari kedua mata dengan
elektroda diletakkan 1 cm di sebelah kantus kanan dan kiri. Untuk EEG
dan EOG reference electroda diletakkan ipsilateral atau kontralateral dari
cuping telinga atau pada mastoid, sedangkan EMG direkam secara
bilateral dari otot atau submental di dagu. Rekaman polysomnograpy
dilakukan pada saat pasien tidur dan hasil standard akan menunjukkan
kadar oksigen darah, pernapasan, dan REM sesuai dengan waktu tidur6.

Gambar 2.1

Standar polisomnogram8

Gelombang tidur yang terlihat pada gambaran polisomnogram


akan berbeda sesuai dengan fase tidur (gambar 2.2). Pada keadaan
perpindahan dari fase terjaga akan terlihat gambaran gelombang alfa. Fase
pertama, NREM akan memperlihatkan gambaran gelombang teta. Fase
kedua, NREM akan memperlihatkan gambaran spindle waves. Fase ketiga,
NREM akan memperlihatkan gambaran spindle waves ditambah dengan
slow waves. Fase keempat, NREM akan memperlihatkan gelombang yang
sama seperti fase ketiga namun ditambah gambaran gelombang delta yang
merupakan ciri fase keempat NREM. Fase REM bukan merupakan fase
tidur, karena pada keadaan tidur didapatkan sleep spindle (S) atau
kompleks K maupun delta yang tidak terdapat pada keadaan REM. Fase
REM juga bukan keadaan terjaga, karena pada EEG tidak didapatkan
gelombang alfa yang lebih dari 25% maupun EMG yang tinggi. Syarat
terjadinya REM adalah didapatkannya gelombang campuran (alfa, beta,
dan teta) tak teratur dan tidak ada kompleks K9.

Gambar 2.2

Gambaran polisomnogram fase tidur10

Gelombang tidur yang terlihat pada polisomnogram akan


memperlihatkan frekuensi dan amplitudo yang berbeda. Pada keadaan
perpindahan dari keadaan terjaga menuju tidur, gelombang alfa yang akan
muncul dengan frekuensi 8-12 Hz dengan amplitudo <50 mikrovolt.
Gelombang teta memiliki frekuensi 4-8 Hz dan amplitudo 50-100

mikrovolt. Spindle waves, slow waves, dan delta waves memiliki


amplitudo 100-200 mikrovolt dengan frekuensi 0,5-4 Hz.
Pada manusia, tidur dibagi menjadi lima fase, yaitu5 :
1. Tahapan terjaga
Fase ini disebut juga fase nol yang ditandai dengan subjek dalam
keadaan tenang, mata tertutup dengan karakteristik gelombang alfa (812,5 Hz) mendominasi seluruh rekaman, tonus otot yang tinggi, dan
beberapa gerakan mata. Keadaan ini biasanya berlangsung antara lima
sampai sepuluh menit.
2. Fase 1
Fase ini merupakan fase perpindahan dari fase jaga ke fase tidur,
disebut juga twilight sensation. Fase ini ditandai dengan berkurangnya
gelombang alfa dan munculnya gelombang teta (4-7 Hz), atau disebut
juga gelombang low voltage mix frequencies (LVM). Pada EOG tidak
tampak kedip mata atau REM, tetapi lebih banyak gerakan rolling (R)
yang lambat dan terjadi penurunan potensial EMG. Pada orang normal,
fase 1 ini tidak berlangsung lama, yaitu antara lima sampai sepuluh
menit, kemudian memasuki fase berikutnya.
3. Fase 2
Pada fase ini, tampak kompleks K pada gelombang EEG, sleep spindle
(S) atau gelombang delta (maksimum 20%). Elektrokulogram sama
sekali tidak terdapat REM atau R dan kedip mata. EMG potensialnya
lebih rendah dari fase 1. Fase 2 ini berjalan relatif lebih lama dari fase
1, yaitu antara 20 sampai 40 menit dan bervariasi pada tiap individu.
4. Fase 3
Pada fase ini gelombang delta menjadi lebih banyak (maksimum 50%)
dan gambaran lain masih seperti pada fase 2. Fase ini lebih lama pada
orang dewasa, tetapi lebih singkat pada anak remaja. Pada anak
remaja, setelah 5-10 menit fase 3 akan diikuti fase 4.
5. Fase 4

Pada fase ini gelombang EEG didominasi oleh gelombang delta


(gelombang delta 50%), sedangkan gambaran lain masih seperti fase 2.
Pada fase 4 ini berlangsung cukup lama, yaitu hampir 30 menit.
6. Fase REM
Gambaran EEG tidak lagi didominasi oleh delta, tetapi oleh LVM
seperti fase 1, sedangkan pada EOG didapat gerakan mata (EM) dan
gambaran EMG tetap sama seperti pada fase 3. Fase ini sering
dinamakan fase REM yang biasanya berlangsung 10-15 menit.
Gambaran fase tidur ini dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3

Gelombang EEG10

Fase REM umumnya dapat dicapai dalam waktu 90-110 menit,


kemudian akan mulai kembali ke fase permulaan fase 2 sampai fase 4
yang lamanya 75-90 menit. Setelah itu, muncul kembali fase REM kedua
yang biasanya lebih lama dari Eye Movement (EM) dan lebih banyak dari
REM pertama. Keadaan ini akan berulang kembali setiap 75-90 menit,
tetapi pada siklus yang ketiga dan keempat, fase 2 menjadi lebih panjang,
fase 3 dan fase 4 menjadi lebih pendek. Siklus ini terjadi 4-5 kali setiap
malam dengan irama yang teratur sehingga orang normal dengan lama
tidur 7-8 jam setiap hari terdapat 4-5 siklus dengan lama tiap siklus 75-90
menit (gambar 2.4)9.

Gambar 2.4

Hipnogram5

Waktu tidur dapat dibagi tiga bagian, yaitu sepertiga awal,


sepertiga tengah, dan sepertiga akhir. Pada orang normal, sepertiga awal
tidur lebih banyak dalam fase 3 dan 4, sepertiga tengah lebih banyak tidur
dangkal (fase 2), serta sepertiga akhir lebih banyak fase REM. Siklus tidur
pada tiap individu berbeda dan relatif dipengaruhi oleh usia, sebagai
contoh pola tidur pada laki-laki muda (20-29 tahun), pertengahan (40-49
tahun), dan tua (70-90 tahun) akan memberikan gambaran pola tidur yang
berbeda5.
Pertambahan umur seseorang dapat menyebabkan total waktu tidur
menurun, sedangkan waktu terjaga tetap. Pada orang dewasa, tidur sering
terlihat gelisah dan waktu terjaganya menjadi lebih lama, sedangkan pada
anak remaja 15% waktu tidurnya dihabiskan pada fase 4. Fase 4 biasanya
tidak ditemukan pada orang dewasa, demikian juga lama fase REM akan
mengalami penurunan, yaitu 28% dari pascapubertas menjadi 18% pada
orang dewasa (gambar 2.4)8. Hal ini menunjukkan bahwa tidur menjadi
lebih singkat, sehingga menyebabkan berkurangnya kesegaran sesuai
bertambahnya usia5.

Gambar 2.5

2.1.4

Hubungan usia dengan waktu tidur4

Kinerja Otak Saat Tertidur


Tidur menjadi waktu yang pasif dan tenang. Tidur dapat dianggap

sebagai satu siklus yang dinamis, yang merupakan terjadinya peralihan


antara tahapan-tahapan tersebut. Secara sederhana tahapan tidur dibagi
menjadi 2, yaitu tahapan Nonrapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye
Movement (REM). Tahap NREM selanjutnya dibedakan lagi dalam empat
fase, fase 1 sampai 4. Tahapan tidur akan berbeda pada tiap orang,
tergantung dari faktor internal (dalam tubuh) dan eksternal (lingkungan).
Tahapan tidur hanya dapat dibedakan dengan pemeriksaan EEG, karena
setiap fase memiliki gelombang EEG yang berbeda. Selain dengan EEG,
pemeriksaan fisiologi tidur juga dilakukan dengan elektrookulografi
(EOG) untuk memeriksa pergerakan bola mata11.
Tahapan NREM merupakan masa transisi dari bangun (sadar) ke
tidur, serta berkaitan dengan relaksasi otot dan aktivitas psikologis yang
minimal. Secara sederhana, fase 1 merupakan fase tidur ringan, mulai
terjadi perasaan mengambang (floating feeling), dan mudah untuk
dibangunkan. Fase 2 melebihi dari fase 1, tapi masih dapat dibangunkan.
10

Selanjutnya, fase 3 dan 4 masuk dalam fase tidur dan akan sulit untuk
dibangunkan. Selama satu jam pertama atau lebih dari tidur, otak
berkembang melalui serangkaian tahapan, yaitu ketika gelombang otak
melambat. Periode ini disertai dengan relaksasi otot-otot dan mata, denyut
jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh yang menurun12.
Setelah ke empat tahapan NREM dilewati, maka akan masuk ke
tahap REM. Pada tahap ini, akan sulit sekali dibangunkan, pada beberapa
orang, terkadang mereka merasakan ingin bangun, tapi badannya tidak
bisa digerakkan (terasa lumpuh). Ciri dan fase REM ini adalah pergerakan
bola mata yang cepat, tonus (kekuatan) otot sangat rendah kecuali otot
pernapasan, kadang ditemukan twitching (berkedut) pada otot, aktivitas
otak mulai mengalami perubahan yang signifikan12. Periode REM pertama
biasanya berlangsung 10-15 menit. Pada periode ini, mimpi mulai
berlangsung aktif. Bila seseorang sangat mengantuk, setiap tidur REM
berlangsung singkat dan bahkan mungkin tidak ada. Sebaliknya sewaktu
orang menjadi semakin lebih nyenyak sepanjang malam, durasi tidur REM
juga semakin lama. Pola tidur REM berubah sepanjang kehidupan
seseorang seperti periode neonatal bahwa tidur REM mewakili 50% dari
waktu total tidur. Periode neonatal ini pada EEG-nya masuk ke fase REM
tanpa melalui fase 1 sampai 4. Pada usia 4 bulan, pola berubah sehingga
persentasi total tidur REM berkurang sampai 40%. Hal ini sesuai dengan
kematangan sel-sel otak, kemudian akan masuk keperiode awal tidur yang
didahului oleh fase NREM kemudian fase REM pada anak remaja dengan
distribusi fase tidur sebagai berikut: NREM : (75%), yaitu fase 1: 5%, fase
2 : 45%, fase 3 : 12%, fase 4 : 13%, dan REM : 25 %11.
Selama setengah jam berikutnya atau lebih, dari gelombang lambat
untuk Rapid Eye Movement (REM) pada saat tidur, ditandai dengan
gelombang EEG neokorteks serupa yang diamati selama terbangun.
Aktivitas EEG pada saat terbangun seperti disertai dengan atonia, atau
kelumpuhan otot-otot tubuh. Hanya otot-otot yang memungkinkan
pernapasan dan kontrol gerakan mata tetap aktif. Selama tidur REM,

11

mimpi aktif berlangsung. Denyut jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh
menjadi jauh lebih bervariasi12.
2.2

Mimpi
2.2.1

Definisi Mimpi
Mimpi adalah sebuah ingatan yang keberadaannya tergantung

keadaan pada saat bangun tidur. Ingatan tersebut dapat mengalami sebuah
penurunan yang cepat apabila terjadi penundaan saat bangun sampai
dengan berakhirnya periode REM. Setelah berakhirnya periode REM,
tampak bahwa sebagian besar mimpi dilupakan. Mimpi pada saat malam
hari biasanya berhubungan dengan konflik emosional yang sama,
keterbatasan konflik. Mimpi juga dilaporkan melalui berbagai bentuk
gambar dan tema yang berulang-ulang dalam berbagai konteks. Fitur
fisiologis lain dari periode REM telah dipertimbangkan dan memiliki
beberapa relevansi untuk bermimpi. Salah satunya adalah kelumpuhan otot
yang bertujuan sebagai perlindungan di luar mimpi. Gerakan mata yang
cepat menjadi ciri tahap tidur ini dan telah dianggap oleh beberapa peneliti
bahwa itu berasal dari mata yang mengikuti gambaran halusinasi dari
mimpi13. Isi dan tujuan mimpi tidak dipahami secara definitif, meskipun
mereka telah menjadi topik spekulasi ilmiah dan subjek kepentingan
filosofis dan religius sepanjang sejarah. Penelitian ilmiah mimpi disebut
oneirology. Para ilmuwan percaya bahwa lainnya, mamalia non-manusia,
serta burung, juga bermimpi14.
Mimpi biasanya terjadi pada REM, ketika aktivitas otak tinggi dan
menyerupai terjaga. REM sleep digambarkan oleh gerakan terus-menerus
dari mata saat tidur. Kadang-kadang, mimpi mungkin terjadi selama tahap
lain dari tidur. Namun, mimpi ini cenderung jauh kurang jelas atau
mengesankan15.
Mimpi dapat berlangsung selama beberapa detik, atau selama dua
puluh menit. Orang lebih cenderung untuk mengingat mimpi jika mereka
terbangun selama fase REM. Rata-rata orang memiliki 3-5 mimpi per
malam, tetapi beberapa dapat memiliki hingga tujuh mimpi dalam satu

12

malam. Mimpi cenderung bertahan lebih lama, selama delapan jam tidur
malam penuh, dua jam dihabiskan untuk bermimpi16.
Dalam mimpi, banyak aspek kesadaran primer yang meningkat
diantaranya arti perasaan pada seseorang yang menghasilkan persepsi
secara internal termasuk gerakan dalam ruang fiktif dan emosi yang kuat
terutama kecemasan, kegembiraan, dan kemarahan. Sebaliknya, banyak
aspek kesadaran sekunder yang melemah seperti penilaian kritis, reflek
kesadaran diri, orientasi, dan memori. Perubahan timbal balik dalam
fenomenologi berguna untuk mengasosiasikan mimpi yang dikenal dalam
keseimbangan neuromodulatory pada saat aktivitas kolinergik dan
dopaminergik meningkat, aminergic neuromodulation menurun17.
2.2.2

Fisiologi mimpi
Suatu perkiraan anatomi yang jelas tentang mimpi adalah harus ada

hubungan langsung dan konektivitas timbal balik antara korteks dan


pontine nuclei. Hal ini dikarenakan prediksi kortikal tentang oculomotor
proprioception yang harus diteruskan secara langsung ke pontine nuclei
harus terbalas (dengan koneksi selanjutkan dapat menyampaikan prediksi
yang salah). Singkatnya, meskipun mereka terhubung secara langsung dari
pontine sistem ke geniculate lateral, mereka juga seharusnya terhubung
secara langsung ke bagian kortikal yang terlibat dalam penjabaran
gelombang PGO. Terdapat sebuah proyeksi koneksi dari pons ke korteks
yang faktanya telah didemonstrasikan dan sebuah jalur cortico-pontine
yang dapat disimpulkan dari pertunjukan yang menunjukan bahwa REM
slee adalah suatu hal yang sederhana yang mengikuti lesi visual korteks3.
REM diaktifkan dan dinonaktifkan dengan mekanisme oscillatory
yang sederhana yang terletak di bagian paling bawah dari batang otak.
Bagian otak itu memiliki sedikit hubungan dengan kondisi psikis
(fungsinya hanya mengatur kadar terjaga). Mekanisme saat bermimpi
tidak dapat dikurangi dari aktivasi sederhana otak. Aktivasi tersebut hanya
memicu suatu proses yang rumit dari hubungan internal di otak18.
Ketika

dalam

kondisi

elektrofisiologis,

orang

dapat

memprediksikan bahwa kejadian yang berhubungan dengan potensial


13

dapat diukur dengan electroencephalography (atau kejadian yang terkait


dengan magnetoencephalography) yang memiliki time locked

untuk

pergerakkan saccadic mata saat bangun dan tidur yang ditimbulkan


dengan sistem yang sama namun dengan suatu perbedaan yang penting,
yaitu postsynaptic gain dari sel piramid superficial (atau secara umum sel
utama mengelaborasikan tipe hubungan maju) pada bagian lateral
geniculate body dan korteks visual primer yang seharusnya dapat
dikurangi. Dengan kata lain, sebuah perubahan lokasi pada synaptic gain
yang terbatas pada jalur visual awal yang seharusnya cukup untuk
menjelaskan penghantaran respon yang diamati secara empiris selama eye
movements saat tidur dan bangun3.
Penelitian

terbaru

telah

mengungkapkan

bahwa

mimpi

memerlukan aktivasi bersama dari jaringan padat pada mekanisme otak


yang bertanggung pada perilaku insting, emosi, memori jangka panjang,
dan persepsi visual, dengan penonaktifan simultan dari mekanisme yang
bertanggung jawab untuk memantau dan aktifitas yang diarahkan pada
tujuan. Tampaknya mekanisme insting dan emosi di dekat pusat otak
memulai proses ini, dan terwujud mimpi merupakan puncak dari proses
proyeksi mundur pada struktur persepsi bagian belakang otak18.
Prediksi elektrofisiologikal tentang sypnatic gain dapat diuji
menggunakan model kausal dinamis yang memperbolehkan untuk
perubahan kondisi yang spesifik (bangun dan tidur) pada postsynaptic
gain dari sel utama dalam sumber yang spesifik. Dalam konteks ini,
sypnatic gain dibentuk secara eksplisit seperti komponen kunci dari
hubungan intrinsik dalam sumber dari sinyal elektromagnetis. Prediksi
disini adalah pencapaian yang akan meningkat selama REM sleep dalam
extrastriate dan sumber kortisol lain yang bertanggung jawab pada
generasi yang mengorientasikan pergerakkan saccadic mata (oksipital
lateral, parietal dan bidang mata frontal) namun akan menurun secara
selektif dalam sumber-sumber yang terdiri dari jalur visual awal (inti
geniculate lateral dan korteks striate). Catatan yang baik tentang sistem
PGO, dari sudut pandang pemodelan kausal dinamis bahwa hal tersebut

14

merupakan karakteristik sistem yang baik yang sumber hipotesis kesalahan


prediksi proprioseptif mendorong geniculate dan respon oksipital dapat
diukur secara empiris dari eye movements3.
2.2.3. Macam-macam Bagian Otak yang Berperan dalam Bermimpi
Batang Otak (Brainstem)
Ketika kita sedang tidur, kita tidak bisa mengontrol tubuh kita,
karena pada saat itu kita menjadi lumpuh. Kelumpuhan ini disebabkan
oleh pelepasan glisin dan asam amino dari batang otak (brainstem) ke
motoneurons (neuron yang melakukan impuls keluar dari otak menuju
otot) yang mencegahnya mendapatkan rangsangan ketika kita bermimpi.
Kelumpuhan ini bisa menjadi cara alami untuk memastikan kita tidak
bertindak pada saat kita bermimpi19.
a. Sistem serotonergik
Serotonin disekresikan oleh nukleus yang berasal dari rafe
medial batang otak dan berproyeksi disebagian besar daerah otak,
khususnya yang menuju radiks dorsalis medula spinalis dan menuju
hipotalamus. Serotonin bekerja sebagai bahan penghambat rasa sakit
dalam medulla spinalis, dan kerjanya di daerah sistem syaraf yang
lebih tinggi diduga untuk membantu pengaturan kehendak seseorang,
bahkan mungkin juga menyebabkan tidur20.
Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisme
asam amino trypthopan. Dengan bertambahnya jumlah trypthopan,
maka jumlah serotonin yang terbentuk juga meningkat dan akan
menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin dari trypthopan
terhambat pembentukannya, maka akan terjadi keadaan tidak bisa
tidur/jaga21.
b. Sistem Adrenergik
Neuron-neuron

yang

terbanyak

mengandung

norepineprin

terletak di badan sel nukleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel


neuron pada lobus cereleus sangat mempengaruhi penurunan atau
hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan

15

aktifitas neuron noradrenergic akan menyebabkan penurunan yang


jelas pada tidur REM dan peningkatan keadaan jaga21.
Lobus Frontalis
Lobus frontalis merupakan bagian otak yang paling menarik dalam
kaitannya dengan kekurangan tidur. Fungsinya berkaitan dengan berbicara
dan berpikir kreatif. Manusia yang kekurangan tidur mengalami kesulitan
tes memikirkan kata-kata imajinatif, mereka malah menghasilkan katakata yang repetitive. Individu yang kekurangan tidur juga kurang mampu
membuat pertanyaan yang baik, menggunakan kata-kata hinaan, gagap,
dan berbicara dalam suara yang monoton atau tempo yang lambat dari
biasanya. Subjek-subjek yang terlibat dalam penelitian juga lambat
bereaksi terhadap perubahan yang terjadi tiba-tiba, tidak memiliki
kemampuan yang kreatif dalam membuat keputusan yang logis, dan juga
tidak mampu mengimplementasikannya. Penelitian yang lain pada subjek
yang

kekurangan

tidur

menunjukkan

adanya

ketidakmampuan

memfokuskan perhatian pada beberapa tugas secara simultan, sehingga


mengurangi kecepatan dan efisiensi kerja. Seseorang bisa saja mampu
bereaksi kompleks apabila secara tiba-tiba diberikan tes, tetapi serupa
dengan tes verbal, subjek akan memberikan solusi yang tidak orisinil
artinya jika diberikan situasi yang sama, subjek memilih memberikan
solusi yang serupa meskipun solusi tersebut tidak dapat diterapkan untuk
masalah yang baru22.
Berdasarkan beberapa fungsi, lobus frontalis dibagi menjadi tiga kategori
umum, yaitu23:
1. Motor
Cortex adalah area 4. Motor cortex berfungsi untuk gerakan voluntary.
2. Premotor
Premotor cortex termasuk area 6 dan 8. Pada manusia, area 6 diperluas
menjadi area broca (44). Premotor cortex berhubungan dengan cortek
motor primer dan penting untuk integrasi dan program-program
gerakan yang berurutan.

16

3. Prefrontal
Prefrontal terbagi atas tiga area, yaitu dorsolateral (area 9,46), lateral
frontopolar cortex (area 10), dan ventrolateral prefrontal cortex (47,
45, 44). Dalam prefrontal ini terdapat tiga sirkuit, yakni sirkuit
dorsolateral, sirkuit orbitofrontal, dan sirkuit cingulatum.
Hubungan antara Motor dan Premotor
Premotor bertugas untuk mempengaruhi gerakan, menerima
proyeksi, dan berhubungan dengan motor area untuk menggerakkan
anggota tubuh, menerima proyeksi untuk gerakan mata dan mengirimnya
pada area yang akan mengeksekusi kontrol gerakan mata23.
Hubungan dengan Prefrontal Area
Dorsolateral prefrontal cortex berfungsi untuk menerima input
utama dari posterior parietal area dan superior temporal sulcus. Area
lainnya berfungsi untuk menerima proyeksi dari lobus temporal dari area
auditory dan visual. Teori dari lobus frontalis, pengaturan sementara dari
perilaku adalah fungsi utama dari lobus frontalis. Jika motor cortex
memfasilitasi mekanisme eksekusi dari individual movement, maka
premotor cortex memilih movement yang akan dieksekusi. Passingham
mengusulkan bahwa bagian premotor berfungsi untuk memilih perilaku
dalam merespon tanda dari eksternal dan suppelemtary motor cortex.
Passingham menyarankan bahwa area 8 dispesialisasikan untuk gerakan
terhadap stimulus langsung (stimulus-directed movement), dan area 8A
bertugas untuk gerakan yang distimulasi oleh drive internal (internally
driven movements). Motor cortex bertugas untuk membuat movement.
Premotor cortex bertugas untuk memilih movement. Maka prefrontal
cortex bertugas untuk mengontrol proses kognitif agar movement yang
tepat dapat dipilih di waktu yang tepat dan di tempat yang tepat.
Asymmetry of Frontal Lobe Function - Jika membahas fungsi asimetris
dari parietal dan temporal association cortex, dapat diperkirakan bahwa
frontal lobe juga berfungsi asimetris. Bersamaan dengan general
complementary organization dari hemisfer kiri dan kanan, maka lobus

17

frontal kiri memiliki peran yang penting terkait dengan bahasa. Sementara
lobus frontal kanan memiliki peran besar seperti ekspresi wajah23.
Bagian dari lobus frontalis, prefrontal cortex, memiliki beberapa
fungsi khusus, seperti judgment, control impuls, atensi dan asosiasi visual.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bagian ini biasanya merupakan
bagian otak yang paling aktif pada individu yang cukup istirahat, dan
menjadi lebih aktif pada waktu seseorang tetap terjaga dalam periode yang
lama. Bagian ini memperbaharui diri selama tahap-tahap pertama tidur,
yang membuat seseorang merasa segar setelah tertidur sebentar.
Panjangnya tahap pertama dalam siklus tidur tergantung dari berapa lama
sebelumnya

orang

tersebut

terjaga.

Makin

panjang

periode

terbangun/terjaga, makin lama otak berada dalam tahap pertama tidur.


Ketika otak memasuki tahap tidur REM , tahap di mana bermimpi terjadi,
prefrontal cortex aktif lagi22.

Sistem Limbik
Sistem limbik merupakan bagian otak yang berkaitan dengan
emosi dan instink. Dalam struktur hirarki otak, sistem limbik berada di
tengah, antara diensefalon (batang otak) dengan cerebrum. Sistem limbik
mempunyai fungsi pengendali emosi, perilaku instinktif, drives, motivasi,
dan perasaan. Baik korteks cerebri maupun sistem limbik, keduanya
mempunyai akses ke area motorik batang otak, sehingga memungkinkan
manusia belajar beradaptasi dan mengontrol perilaku instinktif mereka24.
Menurut Dictionary of Psychology, Drever (Adam & Victor, 1993),
Emotion is a complex state of the organism involving certain types of
bodily changes (mainly visceral and under control of the autonomic
nervous sistem) in association with a mental state of excitement or
perturbation and leading usually to an impulse to action or to certain
types of behavior. Dari pengertian tersebut, dapat diambil pemahaman
bahwa emosi merupakan perasaan kompleks (menyenangkan atau tidak
menyenangkan) pada organisme, melibatkan perubahan aktivitas organ

18

tubuh terutama organ visceral, berada di bawah kontrol sistem saraf


otonom, yang mendorong munculnya respon atau perilaku tertentu25.
Komponen-komponen emosi diantaranya24 :
a.
b.
c.
d.

Stimulus (real atau khayalan).


Afek atau perasaan (feeling).
Perubahan aktivitas otonom organ visceral.
Dorongan aktivitas atau perilaku tertentu.
Emosi dasar seperti rasa senang, marah, takut, dan kasih sayang,

memiliki fungsi untuk mempertahankan hidup dan jenis suatu organisme


(manusia dan hewan). Sebagai contoh, bila seseorang melihat harimau
yang akan menyerang, maka akan timbul rasa takut sehingga orang
tersebut berlari atau mencari perlindungan untuk menyelamatkan diri24.

Gambar 2.6 Anatomi sistem limbik26

Bangunan utama sistem limbik25 :


1.
2.
3.
4.
5.

Amigdala.
Septum (dinding).
Hipokampus.
Girus singulatus.
Thalamus anterior dan hipotalamus.
Bagian-bagian sistem limbik saling berhubungan secara kompleks

dan beberapa membentuk lingkaran, contoh yang terkenal adalah lingkaran


Papez. Menurut Papez, 1958 (dalam Mardiati, 1996), bagian otak yang

19

mengurus fungsi emosi adalah : hipokampus, amigdala, corpus mamillare,


nuclei anterior thalamus dan girus singulatus24.

Gambar 2.7 Bagian-bagian sistem limbik26

Fungsi spesifik bagian-bagian sistem limbik25 :


1. Hipotalamus
Merupakan pusat rasa ganjaran dan rasa hukuman. Perangsangan kuat
di nuclei anterior dan nuclei ventromedial hipotalamus menimbulkan
rasa senang, rasa puas, ketenangan (placidity), dan kejinakan
(tameness)

pada

binatang.

Sementara

perangsangan

di

zona

eriventrikuler hipotalamus menimbulkan rasa tidak senang, takut,


panik, dan rasa terhukum. Pada hewan kucing rangsangan listrik di
area tersebut membangkitkan pola perilaku ketakutan dan agresifitas.
2. Amigdala
Bagian sistem limbik yang apabila mendapat rangsangan dapat
menimbulkan

respon

agresifitas

atau

mengamuk,

sementara

pengangkatan amigdala dapat menyebabkan respon pasif dan pemalu.


3. Hipokampus
Merupakan struktur sistem limbik yang menonjol dan berperan penting
dalam proses belajar dan memori, mencatat informasi, melakukan
penyimpanan awal memori jangka panjang, dan menguatkan kembali
informasi yang baru dipelajari. Kerusakan hipokampus bilateral dapat
menyebabkan amnesia anterograd.
4. Girus singulatus
Merupakan bagian sistem limbik yang berperan dalam pengaturan
perlaku sosial, seperti pengasuhan anak. Beberapa stimuli (seperti bau-

20

bauan, suara asing, senyum bayi) akan membangkitkan emosi dan


respon tubuh (misal perasaan senang, respon motorik instinktual
seperti senyum, dan efek visceral sepeti debar jantung). Respon ini
diintegrasikan oleh sistem limbik, termasuk hipotalamus sebagai pintu
tempat keluaran utama. Jadi, sinyal untuk reaksi motorik senyum
dikirim ke pusat motorik batang otak, untuk efek motorik visceral
debar jantung ke pusat saraf otonom, dan untuk efek neurohormonal ke
sistem endokrin (kelenjar hipofisis). Perasaan diintegrasikan ke fungsi
otak luhur (korteks cerebri), sementara hipokampus terlibat dalam
proses belajar dan memori tentang stimulus-stimulus di atas.

21

BAB III
PETA KONSEP
Ciri : pergerakan bola mata
yang cepat, tonus (kekuatan)
otot sangat rendah kecuali otot
pernapasan, aktifitas otak mulai
mengalami perubahan, mimpi
mulai aktif.

TIDUR

Non REM

FASE 1
Tidur ringan

REM

Timbul sinyal
dari pons

FASE 3 dan 4
Sulit
dibangunkan

FASE 2
Masuk fase lebih dalam,
tetapi masih bisa
dibangunkan

Aktifnya path way


daerah dari sistem
limbik (amygdala,
thalamus,
hippocampus)

Keluarnya Gelombang Theta


dari Hippocampus

Menuju ke korteks serebral (lapisan


luar otak yang bertugas mengorganisir
informasi)

22

Mematikan neuron
di sum sum tulang
belakang

Terjadi kelumpuhan
sementara

Memvisualisasikan
BABinformasi
IV
sebagai mimpi
PEMBAHASAN

Kita bisa bermimpi


dengan tenang

Tidur merupakan keadaan tidak sadar yang relatif lebih responsif terhadap
rangsangan internal. Menurut Web Jurnal Online Sleepdex tidur terbagi menjadi 5
tahapan, yang pertama yaitu saat tahapan terjaga dalam keadaan tenang, mata
tertutup yang ditandai adanya gelombang alfa dengan beberapa gerakan mata dan
tonus otot yang tinggi, yang kedua yaitu fase 1 berkurangnya gelombang alfa dan
berganti menjadi gelombang teta. Gelombang teta tersebut adalah gelombang
otak pada kisaran frekuensi 4-8 Hz, yang dihasilkan oleh pikiran bawah sadar
(subconsciaus mind). Theta muncul saat kita bermimpi dan saat terjadi REM
(rapid eye movement). Bila kita berhasil masuk ke kondisi theta, kita akan
mengalami kondisi meditatif yang sangat dalam gelombang alfa diganti menjadi
teta yang lebih lambat dan dapat dibangunkan dengan mudah. Pada fase ke- 2
yaitu pada tahap tidur ringan dan proses tubuh menurun gel otak sleep spindles
atau gelombang beta dan gel K komplek pada gelombang EEG dan fase ini
berlangsung antara 20 sampai 40 menit. Pada fase ke- 3 terjadi peningkatan
gelombang delta dan gelombang delta akan mendominasi pada fase 4. Yang
terakhir yaitu fase REM, fase ini merupakan tidur dalam kondisi aktif yang
ditandai dengan mimpi yg bermacam-macam, otot-otot meregang, kecepatan
jantung dan pernafasan tidak teratur, perubahan tekanan darah, gerakan otot tidak
teratur, gerakan mata cepat, pembebasan steroid, sekresi lambung meningkat
syaraf-syaraf simpatetik bekerja. Pada saat REM, gelombang delta yang
sebelumnya mendominasi fase ke- 4 pada fase ini sudah tidak lagi mendominasi
akan tetapi tergantikan oleh gelombang lambat (theta) dan pada fase ini terjadi
peingkatan aliran darah pada pons, hipotalamus, thalamus, amigdala, dan basal
ganglia.
Otak bekerja sangat aktif dan metabolisme otak meningkat sampai 20%.
Pada fase tidur ini orang sangat sulit untuk dibangunkan atau bangun spontan.

23

Electrophysiologically belahan otak kanan juga menjadi sangat aktif selama REM,
sedangkan, sebaliknya, otak kiri menjadi lebih aktif selama N-REM.
Menurut Hobson dan peneliti lainnya, Tidur REM dimulai dengan sinyal
dari pons. Pons mengirimkan sinyal yang mematikan neuron di sumsum tulang
belakang, menyebabkan kelumpuhan sementara otot tungkai. Jika ada sesuatu
mengganggu kelumpuhan ini, orang akan mulai fisik bertindak keluar mimpilangka, masalah berbahaya yang disebut gangguan perilaku tidur REM mereka.
Misalnya, seseorang bermimpi tentang pertandingan bisbol mungkin mengalami
furnitur atau sengaja menyerang orang yang sedang tidur di dekatnya ketika
mencoba untuk menangkap bola dalam mimpi.
Daerah di dasar otak yang aktif selama tidur REM. Setelah aktif path way
daerah dari sistem limbik yang terlibat emosi, sensasi, dan memory, termasuk
ketiga bagian limbik yaitu amigdala, hippocampus dan thalamus. selama REM,
hippocampus mulai menghasilkan gelombang lambat, aktivitas theta, Yang
berhubungan dengan potensiasi jangka panjang yang berhubungan dengan
pembelajaran dan memori. Agaknya, selama REM, tindakan hippocampus dan
amygdala sebagai reservoir dari yang berbagai gambar, emosi, kata-kata, dan ideide yang ditarik dan dimasukkan ke dalam matriks aktivitas mimpi-suka tenunan
oleh belahan kanan. Hal ini mungkin hanya sebagai kemungkinan bahwa
hipokampus kanan dan amigdala berfungsi sebagai sumber bahan yang ditarik
selama melamun. dengan ketiga bagian limbik tersebut menjadi aktif yang relay
mereka menuju ke korteks serebral-lapisan luar otak yang bertanggung jawab
untuk belajar, berpikir dan mengorganisir informasi. (Heryati, E. Faizah N. 2008)
Secara keseluruhan, tampak bahwa amigdala, hipokampus, dan neokorteks dari
lobus frontalis sangat interactionally terlibat dalam produksi pengalaman
halusinasi. Agaknya, itu adalah neokorteks dari lobus frontalis yang bertindak
untuk menafsirkan persepsi. Memang, itu adalah kegiatan yang saling terkait dari
hippocampus, lobus temporal dan amygdala yang tidak hanya menghasilkan
kenangan dan halusinasi, namun mimpi. Bahkan, keterlibatan amygdalas dalam
semua aspek emosi dan fungsi seksual, termasuk kenangan terkait, produksi
ketakutan yang luar biasa serta fenomena mental aneh dan mimpi.

24

Kebanyakan individu atau sesorang, mengalami kesulitan mengingat


mimpi mereka. Hal ini mungkin tampak paradoks mengingat theta hippocampal
sedang diproduksi. Namun, hal ini teta diselingi oleh tingginya tingkat aktivitas
desychronized, yang tidak kondusif untuk belajar. Dalam hal ini, aktivitas theta
dapat mewakili aktivitas bergema dari sirkuit neural terbentuk pada siang hari,
sehingga sisa kenangan waktu hari datang untuk dimasukkan ke dalam
mimpi. Sebaliknya, karena tingginya tingkat desychronization terjadi pada
hippocampus (seperti yang begitu sangat terangsang), meskipun memberikan
kontribusi gambar dan kenangan hari, tidak berpartisipasi dalam menyimpan
pengalaman-pengalaman mimpi ke memori.
Mempertimbangkan hasil dari lobus frontalis, amygdala, dan stimulasi
listrik hippokampus pada daya ingat dan produksi halusinasi. Meskipun kenangan
pribadi sering diaktifkan pada intensitas rendah stimulasi, jika rangsangan cukup
intens, memori bukannya akan menjadi mimpi dan dihuni oleh halusinasi dan
kartun seperti karakter. Artinya, pada tingkat rendah kenangan stimulasi yang
dipicu tapi kenangan ini menjadi semakin mimpi seperti dengan tingginya tingkat
aktivitas. Selain itu, sekali ini stimulasi tingkat tinggi dihentikan, dan segera
menjadi verbal amnesic dan gagal untuk secara lisan mengingat telah memiliki
pengalaman-pengalaman. Namun, kenangan ini dapat kemudian mengingat jika
subyek disediakan dengan isyarat kontekstual tertentu. Hal yang sama dapat
terjadi sepanjang hari ketika sebuah fragmen percakapan, atau beberapa
pengalaman lain, tiba-tiba memicu penarikan kembali mimpi dari malam
sebelumnya yang telah dinyatakan telah benar-benar lupa. Mungkin itu
tampaknya sudah dilupakan karena hippocampus tidak berpartisipasi dalam
penyimpanan mereka dan dengan demikian tidak dapat membantu dalam temu
mereka.
Ada juga beberapa bukti yang menunjukkan bahwa berbagai wilayah
hippocampus menunjukkan tingkat yang berbeda dari gairah saat tidur
paradoksal. Misalnya, tampak bahwa hippocampus posterior menjadi aktif selama
tidur paradoks dan menunjukkan aktivitas theta, sedangkan bagian anterior lebih
menjadi terhambat. Sebagai bagian anterior lebih terlibat dalam pembelajaran

25

baru (setidaknya pada manusia), sedangkan hippocampus posterior lebih peduli


dengan kenangan lama dan mapan, ini akan menunjukkan bahwa hippocampus
posterior memberikan kontribusi kenangan sudah berdiri lebih tua atau isi mimpi yang menjelaskan mengapa theta, yang berhubungan dengan belajar dan memori,
juga dihasilkan selama mimpi yaitu, itu adalah mengulang kenangan berbagai
fragmentaris. Sebaliknya, penghambatan daerah anterior akan mencegah hal ini
menjadi bahan mimpi dari rememorized.

26

BAB IV
SIMPULAN

1. Lima tahapan yang terjadi ketika tidur, yaitu tahapan terjaga, fase 1 (NREM),
fase 2 (NREM), fase 3 (NREM), fase 4, dan fase REM.
2. Mimpi terjadi ketika seseorang yang tidur telah memasuki fase REM (Rapid
Eye Movement).
3. Fase REM merupakan tidur dalam kondisi aktif yang ditandai dengan mimpi
yg bermacam-macam, otot-otot meregang, kecepatan jantung dan pernafasan
tidak teratur, perubahan tekanan darah, gerakan otot tidak teratur, gerakan
mata cepat, pembebasan steroid, sekresi lambung meningkat, dan saraf-saraf
simpatetik bekerja.
4. Bagian otak yang mempunyai peran pada saat bermimpi yaitu terjadi pada
pons, sistem limbik, dan korteks serebral pada daerah frontalis.
5. Apabila terjadi gangguan pada neuron sumsum tulang belakang dan pons,
maka akan mengakibatkan terjadinya gerakan di luar kesadaran pada saat
bermimpi.
6. Fase tidur REM dimulai dengan sinyal dari pons, daerah di dasar otak yang
aktif selama tidur REM yang kemudian dalam perjalanannya akan berujung
pada korteks serebral-lapisan luar otak yang bertanggung jawab untuk
memori, belajar, dan mengorganisir informasi. Dengan demikian maka mimpi
dapat terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

27

1. Zhang J. 2004. Memory Process and the Function of Sleep. Journal of


Theoretic. Vol (6) 6. Available from: http://www.journaloftheoretics.com/.
Accesced on May 21, 2013.
2. Morrel MJ, et al. 2000. The Respiratory Response to Inspiratory Resistive
Loading During Rapid Eye Movement Sleep in Humans. Journal of
Physiology. Vol 256 (1). pp:195-202.
3. Hubson JA, Friston KJ. 2012. Waking and Dreaming Consciousness:
Neurobiological and Functional Considerations. Progress in Neurobiology.
Vol (98). pp:82-98.
4. Suzanne M, Steven G. 2009. Normal Sleep, Sleep Physiology, and Sleep
Deprivation. Available from: http://emedicine.medline.com. Accessed on May
21, 2013
5. Sleepdex. 2009. Stages of Sleep. Available from: http://www.sleepdex.org.
Accessed on 22, 2013.
6. Keenan SA. 1992. Polysomnography Technical Aspect in Adolescent and
Adult. J Clin Neurophysiol; 9:21-31.
7. Pack Al, Kline LR, Hendricks JC, Morrison AR. 2008. Control of Respiratory
During Sleep. In : Fishman AP, ed. Pulmonary Diseases an Disorders. 4th ed.
Toronto: Mc Graw Hill; 95:1680-711.
8. Saey TH. 2009. Dying to Sleep: Getting too little sleep can impair body and
brain

and

could

even

be

deadly.

Availabe

from:

http://www.emedicine.medsacpe.com. Accessed on May 22, 2013.


9. National Heart and Lung Institute. 2009. Sleep Studies. Available from:
http://www.nlbi.nih.gov. Accessed on May 23, 2013
10. Moore CA, Karacan I, Wieten RL. 1998. Basic Science of Sleep. In: Kaplan
HI, Sadock BJ, ed. Comprehensive Textbook of Psychiatry, 5th ed. Baltimore;
William & Wilkins, pp:86-92.
11. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2010. Tidur Normal dan Gangguan Tidur.
Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher. pp:210-217.
12. Kibiuk LV, Baltimore. 2012. Brain Activity During Sleep. Available from:
http://www.brainfacts.org. Accessed on May 19, 2013.
13. Eiser, Alan. 2005. Physiology and Psychology of Dreams. Seminars in
Neurologi. Vol 25 (1). pp: 100-101.
14. Suzanne, Wright. 2012. What's Causing Those Freaky Dreams?. Available
from: Webmd.com. Accessed on May 27, 2013.

28

15. Ann, Lee. 2005. HowStuffWorks Dreams and REM Sleep. Available from:
Science.howstuffworks.com. Accessed on May 27, 2013.
16. Ann,

Lee.

2005. HowStuffWorks

"Dreams:

Stages

of

Sleep".

Science.howstuffworks.com. Accessed on May 27, 2013.


17. Schredl M. 2010. Dreaming and Waking: Phenomenological and Biological
Differences. International Journal of Dream Research. Vol 3 (1). pp: 46-47.
18. Solms, Mark. 2000. Freudian Dream Theory Today. The Psychologist, Vol 13
(12). pp:618-619.
19. Atmadja B. Fisiologi Tidur. Bag: SMF. Bedah Saraf Fakultas Kedokteran
Unpad/RS. Hasan Sadikin Bandung.
20. Guyton, AC. Hall, JE. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Textbook of
medical physiology). 9th ed. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. pp:
831-833.
21. Japardi, Iskandar. 2002. Gangguan Tidur. Fakultas Kedokteran Bagian Bedah
Universitas Sumatera Utara. Available from: http://library.usu.ac.id/. Accessed
on May 19, 2013.
22. Garliah, Lili. 2009. Pengaruh Tidur Bagi Perilaku Manusia. Fakultas
Psikologi

Universitas

Sumatera

Utara

Medan.

Available

http://repository.usu.ac.id. Accessed on May 21, 2013.


23. Kolb, Bryan, Whishaw, Ian G. 1996. Fundamentals

of

from:
Human

Neuropsychology. 4th ed. New York: W. H. Freeman and Company.


24. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Alih
bahasa: dr. Braham U. Pendit. EGC. pp: 126-127.
25. Heryati, Faizah. 2008. Diktat Kuliah Psikologi Faal. Fakultas ilmu
pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
26. Guyton, Arthur C. 2006. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Elsevier,
Philadelpia. pp:732.

29