Anda di halaman 1dari 3

Anemia Aplastik

DEFINISI
Anemia aplastik adalah anemia yang disertai oleh pansitopenia (atau bisitopenia) pada
darah tepi yang disebabkan oleh kelainan primer pada sumsum tulang dalam bentuk aplasia atau
hipoplasia tanpa adanya infiltrasi, supresi atau pendesakan sumsum tulang. Karena sumsum
tulang pada sebagian besar kasus bersifat hipoplastik, bukan aplastik total, maka anemia ini
disebut juga sebagai anemia hipoplastik.
EPIDEMIOLOGI
Anemia aplastik tergolong penyakit yang jarang dengan insiden di negara maju: 3 6
kasus/1 juta penduduk/tahun. Epidemiologi anemia aplastik di Timur jauh mempunyai pola yang
berbeda dengan di negara Barat. Di negara Timur (Asia Tenggara dan Cina) insidennya 2 3 kali
lebih tinggi dibandingkan dengan di negara Barat, insiden anemia aplastik di dapat di eropa dan
Israel sebanyak 2 kasus per 1 juta penduduk. laki-laki lebih sering terkena dibandingkan dengan
wanita, faktor lingkungan, mungkin infeksi virus, antara lain virus hepatitis, diduga memegang
peranan penting (Mugiyanti, 2007).
ETIOLOGI
Penyebab anemia aplastik sebagian besar (50-70%) tidak diketahui, atau bersifat
idiopatik. Kesulitan dalam mencari penyebab penyakit ini disebabkan oleh proses penyakit yang
berlangsung perlahan-lahan. Di samping itu juga disebabkan oleh belum tersedianya model
binatang percobaan yang tepat. Sebagian besar penelusuran etiologi dilakukan melalui penelitian
epidemiologik. Penyebab anemia aplastik Primer
1. Kelainan Kongenital : Sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti
microcephali, strabismus, anomaly jari, kelaianan ginjal dan sebaliknya.
2. Idiopatik: penyebabnya tidak dapat ditentukan Sekunder
a. Akibat radiasi, bahan kimia atau obat
b. Akibat idiosinkratik
c. Karena penyebab lain: Infeksi Virus: Epstein-Barr virus (EBV) Akibat kehamilan
KLASIFIKASI
Berdasarkan derajat pansitopenia tepi, anemia aplastik didapat diklasifikasikan menjadi

tidak berat, berat, atau sangat berat Risiko morbiditas dan mortalitas lebih berkorelasi dengan
derajat keparahan sitopenia ketimbang selularitas sumsum tulang. Angka kematian setelah dua
tahun dengan perawatan suportif saja untuk pasien anemia aplastik berat atau sangat berat
mencapai 80%: infeksi jamur dan sepsis bakterial merupakan penyebab kematian utama. Anemia
aplasik tidak berat jarang mengancam jiwa dan sebagai besar tidak membutuhkan terapi.
GEJALA KLINIK
Gejala klinik anemia aplastik timbul akibat adanya anemia, leukopenia dan
trombositopenia . gejala ini dapat berupa :
a. Sindrom anemia : gejala anemia bervariasi mulai dari ringan sampai berat.
b. Gejala perdarahan : paling sering timbul dalam bentuk perdarahn kulit seperti petekie dan
akimosis. Perdarahan organ dalam lebih jarang di jumpai, tetapi jika terjadi perdarahan
otak sering bersifat fatal.
c. Tanda-tanda infeksi dapat berupa febris, ulserasi mulut (stomatitis) atau syok septic.
MANIFESTASI ORAL PADA ANAK
Manifestasi pada oral biasanya terjadi ulcuserasi pada mucosa mulut atau biasa disebut
dengan stomatitis apthosa. Biasanya daerah yang paling sering timbul stomatitis aphtosa
(sariawan) ini pada daerah mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, gusi serta
langit-langit dalam rongga mulut.
Gejalanya berupa rasa panas atau terbakar yang terjadi satu atau dua hari yang kemudian
bisa menimbulkan luka (ulser) di rongga mulut. Bercak luka yang ditimbulkan akibat dari
sariawan ini agak kaku dan sangat peka terhadap gerakan lidah atau mulut sehingga rasa sakit
atau rasa panas yang dirasakan ini dapat membuat kita susah makan, susah minum, ataupun
susah berbicara.
DIAGNOSIS
Pada dasarnya diagnosis anemia aplastik dibuat berdasarkan adanya pansitopenia atau
bisitopenia di darah tepi dengan hipoplasia sum-sum tulang, serta dengan menyingkirkan adanya
infiltrasi atau supresi pada sumsum tulang. Kriteria diagnosis anemia aplastik menurut
International Agranulocytosis and Aplastic Anemia Study Group (IAASG) adalah:
1. Satu dari tiga sebagai berikut:
a. hemoglobin kurang dari 10 g/dl, atau hematokrit kurang dari 30% ,
b. trombosit kurang dari 50x10 /L
c. leukosit kurang dari 3,5x10 /L, atau netrofil kurang dari 1,5 x 109/L
2. Dengan retikulosit < 30xl09/L (<1%)

3. Dengan gambaran sumsum tulang (harus ada spesimen adekuat):


a. Penurunan selularitas dengan hilangnya atau menurunnya semua sel hemopoetik
atau selularitas normal oleh hiperplasia eritroid fokal dengan deplesi seri
granulosit dan megakariosit.
b. Tidak adanya fibrosis yang bermakna atau infiltrasi neoplastik
PENATALAKSANAAN
1. Mengobati masalah yang berbahaya dulu seperti perdarahan, infeksi, gagal jantung
konjesti
2. Transplantasi sumsum dengan donor HLA-identik (sibling) kalau kasus anemia aplastik
berat sekali.
3. Rx imunosupresif: anti-thymocyte globulin (ATG), cyclosporine, kortikosteroid, steroid
androgenik, growth factors
4. Siaga untuk kemungkinan kecil pasien aplastik kemudian menderita leukemia

DAFTAR PUSTAKA
Hasan Rusepno et all, 2007, Ilmu Kesehatan Anak 1: cetakan ke 11, Infomedika: Jakarta.
Nurhayati Desiana, 2011, Stomatitis pada anak, word press, rubric bunda magazine.
Sasanti Harum, 2009, Stomatitis yang sering dijumpai di klinik, staf pengajar FKG UI,
Jakarta.
Mugiyanti, 2007, cermin dunia kedokteran: anemia aplastik, word press: Jakarta.
Widjaya agustinus,2010, Peyakit Anemia Aplastik merupakan penyakit defisit darah,
Menyebabkan Pendarahan dan Rentan terhadap Infeksi, www.emedicine.com