Anda di halaman 1dari 11

Artritis Reumatoid pada Perempuan

Shienowa Andaya Sari


102012445 /B4
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
shienowa.sari@civitas.ukrida.ac.id
Pendahuluan
Perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin
meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada
semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem
muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya
beberapa golongan reumatik. Salah satunya adalah atritis rheumatoid. Dengan adanya
tinjauan pustaka in diharapkan mahasiswa mampu mengetahui gangguan musculoskeletal
seperti arthritis rheumatoid, dapat menentukan diagnosis yang tepat,

serta melakukan

pemeriksaan dan pelaksanaan yang baik dan tepat.


Isi
1. Anamnesis
Sebelum melakukan pemeriksaan terhadap pasien akan lebih baik melakukan anamnesis
terlebih dahulu. Sesuai pada kasus anamnesis dilakukan pada seorang perempuan. Perempuan
tersebut berusia 21 tahun sehingga dapat dilakukan autoanamnesis pada perempuan tersebut.
Mempunyai keluhan utama berupa nyeri pada jari-jari tangan, dan pergelangan tangan pada
tangan kanan dan kiri sejak 4 bulan ini. Kemudian diketahui bahwa riwayat penyakit keluarga
berupa sang ibu juga sering mengeluh nyeri sendi terurama pada lutut kirinya.
2. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan agar dapat menentukan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang
dilakukan adalah pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
2.1.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada arthritis rheumatoid adalah mengetahui keadaan
tubuh pasien dan tanda-tanda vital pada pasien. Mengetahui pasien sakit ringan atau berat.
Kemudian lakukan inspeksi pada semua sendi apakah ada bengkak, nyeri tekan pada palpasi,
eritema, penebalan synovial, efusi sendi, kisaran gerak berkurang, ankilosis (kekakuan sendi),
subluksasi, deformitas.1
1

Pada pemeriksaan fisik diketahui berat badan 48 kg tinggi badan158 cm pasien sakit
ringan kesadaran compos mentis dengan tekanan darah 110/80 mmhg, nadi 80x/menit,
respiratory rate didapat 18x/menit, suhu tubuh 36,9oC. Status lokasi terdapat pada bagian
Proximal Interphalang (PIP) 2 sampai 4, dan Metacarpal (MCP) 2 sampai 4 terdapat tanda
inflamasi dan nyeri pada PIP dan MCP 2 sampai 4.
2.2.
Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada tes diagnostic tunggal yang definitive untuk konfirmasi diagnosis arthritis
rheumatoid. The American College of Rheumatology Subcommittee on Rheumatoid
Arthritis(ACRSRA) merekomendasikan pemeriksaan laboratorium dasar untuk evaluasi
antara lain pemeriksaan darah perifer lengkap (complete blood cell count), faktor rheumatoid
(RF), Laju endap darah atau C-reactive protein (CRP).2 Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal
juga direkomendasikan karena akan membantu dalam pemilihan terapi.
Pada C-reactive protein (CRP) umumnya meningkat sampai > 0,7 picogram/mL, bisa
digunakan untuk monitor perjalanan penyakit. Laju endap darah (LED) ditemukan sering
meningkat >30 mm/jam, bisa digunakan untuk monitor perjalanan penyakit. Kemudian
pemeriksaan hemoglobin/hematokrit sedikit menurun, Hb rata-rata sekitar 10g/dL, anmia
normokronik, mungkin juga normositik atau mikrositik. Serta didapatkan pula jumlah
leukosit mungkin meningkat, jumlah trombosit biasanya meningkat, fungsi hati normal atau
alkali fosfatase sedikit meningkat. Pada faktor rheumatoid (RF) hasilnya negatif pada 30%
penderita arthritis rheumatoid stadium dini. Jika pemeriksaan awal negative dapat diulang
setelah 6-12 bulan dari onset penyakit. Bisa memberikn hasil positif pada beberapa penyakit
seperti SLE, scleroderma, sindrom Sjogrens, penyakit keganasan, sarkoidosis, infeksi (virus,
parasit, atau bakteri). Tidak akurat untuk penilaian perburukan penyakit.
Pemeriksaan pencitraan (imaging) yang bisa digunakan untuk menilai penderita arthritis
rheumatoid antara lain foto polos (plain radiograph) dan MRI (Magnetic Resonance
Imaging).2 Pada foto polos sendi mungkin normal atau tampak adanya osteopenia atau erosi
dekat celah sendi pada stadium dini penyakit. Foto pergelangan tangan dan kaki penting
untuk data dasar sebagai pembanding dalam penelitian selanjutnya. Osteopenia juxtaarticular
adalah karakteristik untuk arthritis rheumatoid dan chronic inflammatory arthritides lainnya.
Sedangkan MRI mampu mendeteksi adanya erosi sendi lebih awal dibandingkan dengan foto
polos, tampilan struktur lebih rinci.
Selain itu ada pemeriksaan penunjang lainnnya yang juga dapat membantu diagnosis
yaitu Anticyclic Citrullinated peptide antibody (anti-CCP), anti-RA33, Imunoglobulin (Ig),
pemeriksaan cairan sendi. Anticyclic Citrullinated peptide antibody (anti-CCP) merupakan
permeriksaan yang berkolerasi dengan perburukan penyakit, sesitivitasnya meningat bila
2

dikombinasi dengan pemeriksaan RF. Lebih spesifik dibadingkan RF tetapi tidak semua
laboratorium mempunyai fasilitas pemeriksaan anti-CCP. Kemudian Anti-RA33 merupakan
pemeriksaan lanjutan bila RF dan anti-CCP negatif untuk membedakan penderita arthritis
rheumatoid yang mempunyai resiko tinggi mengalami prognosis yang buruk. Sedangkan
immunoglobulin (Ig) berupa Ig -1 dan -2 ingkin meningkat.2
3. Diagnosis
Seperti yang telah kita ketahui diagnosis terbag menjadi diagnosis kerja (working
diagnosis) dan diangnosis banding (differential diagnosis). Diagnosis kerja pada kasus ini
yaitu rheumatoid arthritis. Sedangkan diagnosis banding berupa osteoarthritis, pirai/gout,
psedougout, SLE, septic arthritis.
3.1 Diagnosis Kerja
Arthritis rheumatoid adalah penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi sistemik
kronik dan progresif, dimana sendi merupakan target utamanya.2,3 Arthritis rheumatoid
terjadi antara usia 30-50 tahun dengan puncak insiden antara usia 40 tahun dan 60 tahun.4
Reumatoid artritis menyerang lapisan dalam bungkus sendi (sinovium) yang
mengakibatkan radang pada pembungkus sendi. Akibat sinovitis (radang pada sinovium)
yang menahun, akan terjadi kerusakan pada tulang rawan sendi, tulang, tendon dan ligamen
dalam sendi.
Peradangan sinovium menyebabkan keluarnya beberapa zat yang menggerogoti tulang
rawan sel sehingga menimbulkan kerusakan tulang dan dapat berakibat menghilangnya
permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Gejala arthritis rheumatoid Terjadi
peradangan pada sendi, terasa hangat di bagian sendi, bengkak, kemerahan dan sangat sakit.
Biasanya pada banyak sendi, simetris, sendi terasa kaku di pagi hari. Selain itu, gejala lainnya
adalah demam, nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah, dan anemia.
3.2 Diagnosis Banding
3.2.1 Osteoarthritis
Osteoarthritis merupakan penyakit arthritis yang paling sering terjadi. Sering disebut juga
degeneratif osteoarthritis atau hipertropic OA. OA merupakan radang sendi yang bersifat
kronis dan progresif disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa integrasi (pecah) dan
perlunakan progresif permukaan sendi dengan pertumbuhan tulang rawan sendi ( osteofit) di
tepi tulang.4
Pada umumnya penderita OA mengatakan bahwa keluhannya sudah berlangsung lama
tetapi berkembang secara perlahan-lahan. Penderita OA biasanya mengeluh pada sendi yang
terkena yang bertambah dengan gerakan atau waktu melakukan aktivitas dan berkurang
dengan istirahat. Selain itu juga terdapat kaku sendi dan krepitus, bentuk sendi berubah dan

gangguan fungsi sendi. Pada derajat yang lebih berat, nyeri dapat dirasakan terus menerus
sehingga sangat mengganggu mobilitas penderita.
OA sendi lutut ditandai oleh nyeri pada pergerakan yang hilang bila istirahat, kaku sendi
terutama setelah istirahat lama atau bangun tidur, krepitasi sewaktu pergerakan dan dapat
disertai sinovitis dengan atau tanpa efusi cairan sendi. Nyeri akan bertambah jika melakukan
kegiatan yang membebani lutut seperti berjalan, naik turun tangga, berdiri lama. Gangguan
tersebut mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat sehingga penderita tidak bisa
berjalan.
OA sendi lutut merupakan kelainan sendi yang mempunyai dampak terhadap kehidupan
sehari-hari penderitanya. Walaupun belum ada pengobatan medis yang dapat menyembuhkan
dan menghentikan progresifitas OA, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkan
nyeri, menjaga mobilitas dan meminimalkan disabilitas.
3.2.2 Pirai/Gout
Gout ditandai oleh meningkatnya kadar asam urat plasma dengan serangan artritis
berulang. Kelainan ini disebabkan oleh kelainan metabolisme bawaan dan secara dominan
menyerang laki-laki.5
Secara umum, gejala penyakit gout adalah sendi yang membengkak dan nyeri biasanya
pada sendi metatarsofalang (MTP) pertama dan hiperurisemia asimptomatik. Perubahan
radiologi terjadi setelah bertahun-tahun timbulnya gejala. Terdapat predileksi pada sendi
MTP pertama, walaupun pergelangan kaki, lutut, suku, dan sendi lainnya juga terlibat. Film
polos dapat memperlihatkan efusi dan pembengkakan sendi; erosi yang cenderung
menimbulkan penampakan punched out yang berada terpisah dari permukaan artikular;
densitas tulang tidak mengalami perubahan; dan ditemukan tofi yang mengandung natrium
urat dan terdeposit pada tulang, jaringan lunak, dan sekitar sendi.Gout dapat merusak ginjal
sehingga dapat ditemukan batu ginjal pada pemeriksaan radiologi.
3.2.3 Psedougout
Pseudogout adalah gejala radang sendi yang mirip dengan gout tetapi penyebabnya lain
yaitu adalah Kristal kalsium piropospat sehingga disebut radang sendi CPPD (Calcium
Pyrophospate Deposition Disease).5 Karena gejalanya mirip seringkali didiagnosa sebagai
arthritis gout, arthritis rheumatoid, atau osteoarthritis. Pseudogout disebabkan karena jumlah
kalsium pirofosfat berlebihan dan mengkristal pada sendi yang rusak sehingga menyebabkan
gangguan gerakan dan rasa nyeri. Kondisi ini sering terjadi pada mereka yang berusia lanjut.
Namun, dapat juga terjadi pada usia muda dengan pemicunya penyakit tiroid, akromegali,
okronosi, hemokromatosis, paratirois, dan penyakit Wilson.
3.2.4 Sistemik Lupus Eritematosus (SLE)
Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) adalah penyakit reumatik autoimun yang ditandai
adanya inflamasi tersebar luas yang mempengaruhi setiap organ atau sistem dalam tubuh.
4

Gambaran klinis SLE dapat membingungkan, terutama pada awalnya. Gejala yang paling
sering adalah artritis simetris atau atralgia. Nodul subkutan juga jarang ditemukan pada
penyakit SLE.3
Gejala berupa adalah demam, rasa lelah, lemah, dan berkurangnya berat badan yang
biasanya timbul pada awal penyakit dan dapat berulang dalam perjalanan penyakit ini.
Manifestasi kulit mencakup ruam eritematosa yang dapat timbul di wajah, leher, ekstremitas,
atau pada tubuh. Dapat timbul alopesia yang dapat menjadi berat. Juga dapat terjadi ulserasi
pada mukosa mulut dan nasofaring. Pleuritis dapat timbul akibat proses peradangan kronik
dari SLE. SLE juga dapat menyebabkan karditis yang mehyerang miokardium, endokardium,
atau perikardium.
Fenomena Raynaud timbul pada sekitar 40% pasien. Vaskulitis dapat menyerang semua
ukuran arteria dan vena. Kira-kira 65% padien SLE akan mengalami gangguan pada
ginjalnya. SLE juga dapat menyerang sistem saraf pusat maupun perifer. Gangguan
reumatologik lain dapat meyebabkan ANA menjadi postif, namun anti-dsDNA dan anti-Sm
jarang ditemukan kecuali pada SLE. Antibodi dsDNA merupakan uji spesifik untuk SLE.
Laju endap darah pada pasien SLE biasanya meningkat, merupakan uji nospesifik untuk
mengukur peradangan dan tikda berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit.
Uji laboratorium yang kadang masih dipakai sampai sekarang adalah uji faktor LE. Sel
LE dapat juga ditemukan pada gangguan sistemik lain dari penyakit golongan reumatik yang
juga diperantarai oleh imunitas. Urin diperiksa untuk mengaetahui adanya protein, leukosit,
eritrosit, dan silinder. Uji ini dilakukan untuk menentukan adanya kompliksi ginjal dan untuk
pemantauan perkembangan penyakit.
3.2.5 Septic Arthritis
Infeksi bakteri piogenik (penghasil nanah) akut pada sendi yang jika tidak segera
ditangani dapat berlanjut menjadi kerusakan pada sendi.3 Gejala klinis yang tampak pada bayi
berbeda dengan pada anak-anak dan dewasa. Dapat ditemukan kekakuan pada sendi yang
terkena, nyeri pada pergerakan sendi, dapat terjadi demam, namun gejala ini bukan patokan
utama, dapat terjadi dislokasi patologik pada sendi pada minggu kedua. Sedangkan pada
anak-anak dan orang dewasa dapat memberitahu lokasi terjadinya sakit dan nyeri yang timbul
saat pergerakkan. Karena sendi sakit, maka tubuh secara otomatis berusaha untuk
melindunginya dengan mengontraksikan otot-otot disekitar sendi. Kekakuan sendi jelas
terlihat, adanya demam,subluksasi lebih sering terjadi daripada dislokasi . Bakteri yang paling
sering menyebabkan terjadinya penyakit ini adalah Stafilokokus aureus. Bakteri lain yang
dapat menyebabkan terjadinya penyakit ini adalah golongan Streptokokus, Pneumokokus,

dan Salmonella.. Faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya penyakit ini adalah HIV,
AIDS, dan penggunaan terapi adenokortikosteroid jangka panjang secara intravena.
4. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atau terapi yang dilakukan dapat berupa terapi farmakologi dan non
farmakologi.2,6
4.1 Terapi Farmakologi2,6
Belum ada penyembuhan untuk arthritis rheumatoid. Penyakit biasanya berlangsung
seumur hidup, sehingga memerlukan penanganan seumur hidup pula. Walaupun hingga kini
belum berhasil didapatkan suatu cara pencegahan dan pengobatan arthritis rheumatoid yang
sempurna, saat ini pengobatan pasa pasien arthritis rheumatoid ditujukan untuk
menghilangkan gejala inflamasi aktif baik lokal maupun sistemik, mencegah terjadinya
destruksi jaringan, mencegah terjadinya deformitas dan memelihara fungsi persendian agar
tetap dalam keadaan baik, dan mengembalikan kelainan fungsi organ dan persendian yang
terlibat agar sedapat mungkin menjadi normal kembali.
Dalam pengobatan arthritis rheumatoid umumnya selau dibutuhkan pendekatan
multidisipliner. Suatu tim yang idealnya terdiri dari dokter, perawat, ahli fisioterapi, ahli
terapi okupasional, pekerja sosial, ahli farmasi, ahli gizi dan ahli psikologi, semuanya
memiliki peranan masing-masing dalam pengelolaan pasien arthritis rheumatoid baik dalam
bidang edukasi maupun penatalaksanaan pengobatan penyakit ini. Beberapa jenis obat yang
digunakan pada arthritis rheumatoid yaitu Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS),
kortikosteroid, Desease Modifing Anti Rheumatoid Drugs (DMARDs), obat imunosupresif,
dan suplemen antiokdsidan.
Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) obat ini diberikan sejak mulai sakit untuk
mengatasi nyeri sendi akibat proses peradangan. Golongan obat ini tidak dapat melindungi
rawan sendi maupun tulang dari proses kerusakan akibat penyakit arthritis rheumatoid.
Contoh obat golongan ini yaitu Asetosal, Ibuprofen, Natrium Diclofenak, Indometasin, Asam
flufenamat, Piroksikam, Fenilbutason, dan Naftilakanon.
Kortikosteroid obat ini berkhasiat sebagai anti radang dan penekan reaksi imun
(imunosupresif), tetapi tidak bisa mengubah perkembangan penyakit arthritis rheumatoid.
Kortikosteroid bisa digunakan secara sistemik (tablet, suntikan IM) maupun suntikan lokal di
persendian yang sakit sehingga rasa nyeri dan pembengkakan hilang secara cepat.
Pengobatan kortikosteroid sistemik jangka panjang hanya diberikan kepada penderita dengan
komplikasi berat dan mengancam jiwa, seperti radang pembuluh darah (vaskulitis).
Desease Modifing Anti Rheumatoid Drugs (DMARDs) obat pengubah perjalanan
penyakit. Bila diagnosis arthritis rheumatoid telah ditegakkan, obat golongan ini harus segera
6

diberikan. Beberapa ahli bahkan menganjurkan pemberian DMARDs, baik sebagai obat
tunggal maupun kombinasi dengan DMARDs lain pada tahap dini, baru kemudian dikurangi
secara bertahap bila aktivitas arthritis rheumatoid telah terkontrol. Bila penggunaan satu jenis
DMARDs dengan dosis adekuat selama 3-6 bulan tidak menampakkan hasil, segera hentikan
atau dikombinasi dengan DMARDs yang lain. Contoh obat golongan ini yaitu Klorokuin,
Hidroksiklorokuin, Sulfazalazine, D- penisilamin, Garam Emas (Auro Sodium Thiomalate,
AST), Methothexate, Cyclosporin-A dan Lefonomide.
Obat imunosupresif, Obat ini jarang digunakan karena efek samping jangka panjang yang
berat seperti timbulnya penyakit kanker, toksik pada ginjal dan hati. Kemudian suplemen
antiokdsidan, Vitamin dan mineral yang berkhasiat antioksidan dapat diberikan sebagai
suplemen pengobatan seperti beta karoten, vitamin C, vitamin E, dan selenium.

4.2 Terapi Non Farmakologi2,6


Ada beberapa cara dalam penanganan arthritis rheumatoid non farmakologi. Beberapa
cara tersebut yaitu olahraga dapat mengurangi rasa sakit dan dapat membantu mengontrol
berat badan seperti yoga dan tai chi, menjaga sendi menggunakan sendi dengan hati hati.
Dapat menghindari kelebihan stress pada sendi, panas / dingin panas didapat, misalnya
dengan mandi air panas. Panas dapat mengurangi rasa sakit pada sendi dan melancarkan
peredaran darah.Dingin dapat mengurangi pembengkakan pada sendi dan mengurangi rasa
sakit. Dapat didapat dengan mengompres daerah yang sakit dengan air dingin.
Pembedahan dilakukakan apabila sendi sudah benar-benar rusak dan rasa sakit sudah
terlalu kuat, akan dilakukan pembedahan. Dengan pembedahan, dapat memperbaiki bagian
dari tulang seperti tenosinovektomi, tendon repair dan joint replacement. Akupuntur dapat
mengurangi rasa sakit dan merangsang fungsi sendi serta pijat dimana pemijatan sebaiknya
dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya.
5. Komplikasi
Komplikasi pada arthritis rheumatoid adalah anemia, kanker, komplikasi kardiak,
penyakit tulang belakang, gangguan mata, peningkatan infeksi, deformitas sendi tangan,
deformitas sendi lainnya, komplikasi pernafasan, nodul rheumatoid, dan vaskulitis.2
Komlikasi anemia pada arthritis rheumatoid berkorelasi dengan LED dan aktivitas
penyakit. Dimana 75% pendertia arthritis rheumatoid mengalami anemia karena penyakit
kronik dan 25% penderita tersebut memberikan repon terhadap terapi besi.2
Kanker dapat terjadi munkin akibat sekunder dari terapi yang diberikan. Kejadian
limfoma dan leukemia 2-3 kali lebih sering terjadi pada penderita arthritis rheumatoid dan

peningkatan risiko terjadinya tumor solid. Penurunan resiko kanker genitourinaria,


diperkirakan karena penggunaan OAINS.2
Komplikasi kardiak diderita 1/3 penderita arthritis rheumatoid dan mungkin mengalami
efusi pericardial asimptomatik saat diagnosis ditetapkan, miokarditis bisa terjadi, baik dengan
atau tanpa gejala. Penyakit tulang belakang leher (cervical spine disease) seperti penyempitan
celah sendi pada foto servikal lateral, myelopatibisa terjadi ditandai oleh kelemahan bertahap
pada ekstremitas atas parastesia.2
Kemudian peningkatan infeksi merupakan efek terapi dari arthritis rheumatoid.
Deformitas sendi tangan yaitu terjadi deviasi ulnar pada sendi metakarpofalangeal,
deformitas boutonniere (fleksi PIP dan hiperekstensi DIP), deformitas swan neck (kebalikan
dari deformitas boutonniere), hipersekstensi dari ibu jari dan peningkatan resiko rupture
tendon. Deformitas sendi lainnya dapat ditemukan antara lain frozon shoulder, kista popliteal,
sindrom terowongan karpal dan tarsal.2
Komplikasi pernafasan dapat terjadi seperti nodul paru dapat bersamaan dengan kanker
dan pembentukan lesi kavitas. Bisa ditemukan perwadangan pada send cicroarytenoid dengan
gejaal suara serak dan nyeri pada laring, pleuritis ditemukan pada 20% penderita.2
Nodul rheumatoid ditemukan pada 20-30% penderita arthritis rheumatoid, biasanya
ditemukan pada permukaan ekstensor ekstremitas atau daerah penekanan lainnya tetapi bisa
juga ditemukan pada daerah skelera, pita suara atu vertebra. Selain itu komplikasi berupa
vaskulitis dapat terjadi berupa arteritis distal, perikarditis, neurpati perifer, lesi kutaneus,
arteritis organ vicera, dan arteritis koroner. Terjadi peningkatan resiko pada penderita
perempuan, titer RF yang tinggi, mendapat terapi steroid dan mendapat beberapa macam
DMARD, berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya infark miokard.2
6. Prognosis
Prediktor prognosis buruk pada stadium dini arthritis rheumatoid antara lain skor
fungsional yang rendah, status sosialekonomi rendah, tingkat pendidikan rendah, ada riwayat
keluarga menderita arthritis rheumatoid, melibatkan banyak sendi, nilai CRP atau LED tinggi
saat permulaan penyakit, RF atau anti-CCP positif, ada perubahan radiologis di awal
penyakit, ada nodul rheumatoid/manifestasi ekstraartikular lainnya. Sebanyak 30% penderita
arthritis rheumatoid dengan manisfestasi penyakit berat tidak berhasil memenuhi kriteria
ACR 20 walaupun sudah mendapat berbagai macam terapi. Sedangkan penderita penyakit
lebih ringan memberikan respon yang baik dengan terapi.2,6
7. Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menjaga berat badan. Merupakan faktor
yang penting agar bobot yang ditanggung oleh sendi menjadi ringan. Melakukan jenis
8

olahraga yang tidak banyak menggunakan persendian atau yang menyebabkan terjadinya
perlukaan sendi. Contohnya berenang dan olahraga yang bisa dilakukan sambil duduk dan
tiduran. Aktivitas olahraga hendaknya disesuaikan dengan umur. Jangan memaksa untuk
melakukan olahraga porsi berat pada usia lanjut. Tidak melakukan aktivitas gerak pun sangat
tidak dianjurkan. Meminum obat-obatan suplemen sendi (atas anjuran dokter).
Mengkonsumsi makanan sehat. Lakukan relaksasi dengan berbagai teknik. Hindari
gerakan yang meregangkan sendi jari tangan. Hal tersebut akan menyebabkan tekanan yang
tidak merata pada semua permukaan tulang. Selain itu penyuluhan untuk pemeliharaan
kesehatan juga diperlukan untuk mencegah terjadinya arthritis rheumatoid.7
8. Patofisiologi
Kerusakan sendi pada arthritis rheumatoid dimulai dari proliferasi makrofag dan
fibrioblas synovial setelah adanya faktor pencetus berupa autoimun atau infeksi. 2,3 Limfosit
menginfiltrasi daerah perivaskular dan terjadi proliferasi sel-sel endotel yang selanjutnya
terjadi neovaskularisasi. Pemubuluh darah pada sendi yang terlibat mengalami oklusi oleh
bekuan-bekuan kecil atau sel-sel inflamasi. Terjadi pertumbuhan yang irregular pada jaringa
synovial yang mengalami inflamasi sehingga membentuk jaringan panus. Panus menginvasi
dan merusak rawan sendi dan tulang. Berbagai macam sitokin, interleukin, proteinase, dan
faktor pertumbuhan dilepaskan, sehingga mengakibatkan destruksi sendi dan komlikasi
sistemik.
9. Epidemiologi
Pada kebanyakan populasi di dunia prevalensi arthritis rheumatoid relative konstan yaitu
berkisar antara 0,5-1%. Prevalensi yang tinggi didapatkan di Pima Indian dan Chipewwa
Indian masing-masing berkisar 5,3% dan 6,8%. 8 Prevalensi arthritis rheumatoid di India dan
di Negara barat kurang lebih sama yaitu sekitar 0,75%. Sedangkan di China, Indonesia, dan
Philipina prevalensinya kurang dari 0,4%, baik di daerah urban maupun rural.
Hasil survey yang dilakukan di Jawa Tengah mendapatkan prevalensi arthritis rheumatoid
sebesar 0,2% di daerah rural dan 0.3% di daerah urban. Sedangkan penelitian yang dilakukan
di Malang pada penduduk berusia di atas 40 tahun mendapatkan prevalensi sebesar 0,5% di
daerah Kotamadya dan 0,6% di daerah kabupaten. Di poliklinik Reumatlogi RSUPN Cipto
Mangunkusuo Jakarta, kasus baru arthritis rheumatoid merupakan 4,1% dari kasus baru tahun
2000 dan pada periode januari s/d juni 2007 didapatkan sebanyak 203 kasus arthritis
rheumatoid dari jumlah kunjugngan sebanyak 1346 orang (15,1%). Prevalensi arthritis
rheumatoid lebih banyak ditentukan pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki dengan

rasio 3:1 dan dapat terjadi di semua kelompok umur, dengan angka kejadian tertinggi
didapatkan pada dekade keempat dan kelima.
10. Etiologi
Seperti yang telah dibahas arthritis rheumatoid adalah penyakit autoimun yang terjadi
pada individu rentan setelah respon imun terhadap agen pemicu yang tidak diketahui, selain
itu dapat juga disebabkan faktor genetik, hormone seks, faktor infeksi. 3 Agen pemicunya
adalah bakteri, mikroplasma, atau virus yang menginfekssi sendi atau mirip secara antigenik.
Biasanya respon antibody awal terhadap mikroorganisme diperantarai oleh IgG. Walaupun
respon ini berhasil menghancurkan mikroorganisme, individu yang mengalami arthritis
rheumatoid mulai membentuk antibody lain, biasanya IgM atau IgG terhadap antibody IgG
awal. Antibodi yang ditujukan ke komponen tubuh sendiri disebut faktor rheumatoid
(rheumatoid factor, RF). RF menetap di kapsul sendi sehingga menyebabkan inflamasi kronis
dan kerusakan jaringan. Arthritis rheumatoid diperkirakan terjadi karena predisposisi genetic
terhadap penyakit autoimun. Wanita lebih sering terkena daripada pria. Ada bukti kuat bahwa
berbagai sitokin, terutama faktor nekrsis tumor alfa (tumor necrosis factor alpha, TNF-)
menyebabkan siklus inflamasi dan kerusakan sendi.
Kesimpulan
Kasus kali ini ialah seorang perempuan, 21 tahun datang ke poli klinik dengan keluhan
nyeri pada jari-jari tangan, dan pergelangan tangan pada tangan kanan dan kiri. Keluhan ini
sudah berlangsung selama 4 bulan ini. Pasien mengatakan ibunya juga sering mengelh nyeri
sendi terutama pada lutut kirinya. Pada skenario, pasien menderita arthritis rheumatoid yaitu
penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi sistemik kronik dan progresif, dimana sendi
merupakan target utamanya. Penanganan yang tepat baginya yaitu terapi farmakologi berupa
Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS),

kortikosteroid, Desease Modifing Anti

Rheumatoid Drugs (DMARDs), obat imunosupresif, dan suplemen antiokdsidan serta non
farmakologi berupa olahraga, menghindari kelebihan stress pada sendi, pembedahan,
akupuntur dan pijat. Prognosis baik jika penderita penyakit ringan memberikan respon yang
baik terhadap terapi.
Daftar Pustaka
1. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2007.h.191.

10

2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam jilid III. Jakarta: InternaPublishing; 2009.h.2495-509.
3. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Ed. 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2007.h.347-9.
4. Baughman DC, Hackley JC. Keperawatan medikal-bedah: buku saku dari brunner &
suddarth. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004.h.49.
5. Sustrani L, Alam S, Hadibroto I. Asam urat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama;
2007.h.21.
6. Patrick D. At a glance medicine. Jakarta: Penerbit Buku EGC; 2011.h.384.
7. Suratum, Heryati, Manurung S, Raenah E. Klien gangguan sistem musculoskeletal: seri
asuhan keperwatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.h.113.
8. Silman AJ, Pearson JE. Epidemiology and genetic of rheumatoid arthritis. Arthritis Res
2002; (2):S265-S272.

11