Anda di halaman 1dari 13

TUGAS INTERAKSI OBAT

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN

DISUSUN OLEH
Nurul Azmi

( 14334732 )

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Interaksi obat dianggap penting karena dapat menguntungkan dan merugikan.
Salah satu dari interaksi obat adalah interaksi obat itu sendiri dengan makanan. Interaksi
antara obat dan makanan dapat terjadi ketika makanan yang kita makan mempengaruhi
obat yang sedang kita gunakan, sehingga mempengaruhi efek obat tersebut. Interaksi
anatara obat dan makanan dapat terjadi baik untuk obat dan makanan dapat terjadi baik
untuk resep dokter maupun obat yang dibeli bebas, seperti obat antasida, vitamin, dll.
Kadang-kadang apabila kita minum obat bersamaan dengan makanan, maka dapat
mempengaruhi efektivitas obat dibandingkan apabila diminum dalam keadaan perut
kosong, selain itu konsumsi secara bersamaan antara vitamin atau sumplemen herbal
dengan obat juga dapat menyebabkan terjadinya efeksamping. Contoh reaksi yang dapat
timbul apabila terjadi interaksi antara obat dan makanan, diantaranya : Makanan dapat
mempercepat atau memperlambat efek dari obat, beberapa obat tertentu dapat
menyebabkan vitamin dan mineral tidak bekerja secara tepat ditubuh, menyebabkan
hilangnya atau bertambahnya nafsu makan, obat dapat mempengaruhi nutrisi tubuh, Obat
herbal dapat berinteraki dengan obat modern.
Selain itu, besar kecilnya efek interaksi obat dengan makanan antara tiap orang
dapat berbeda, hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu seperti : Besarnya
dosis obat yang diminum, usia, kondisi tubuh dan kondisi kesehatan pasien, waktu
konsumsi makan dan waktu konsumsi obat. Untuk menghindari terjadinya interaksi obat
dan makanan, bukan berarti menghindari untuk mengkonsumsi obat atau makanan
tersebut. Yang sebaiknya dilakukan adalah pengaturan waktu antara obat dan makanan
untuk dikonsumsi dalam waktu yang berbeda. Dengan mempunyai informasi yang cukup
mengenai obat yang digunakan serta kapan waktu yang tepat untuk mengkonsumsinya,
maka kita dapat menghindari terjadinya interaksi antara obat dengan makanan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Interaksi Obat
Interaksi obat adalah modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan
pada awalnya atau diberikan bersamaan sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat
atau lebih berubah. Interaksi obat didefinisikan oleh Committee for Proprietary Medicine
Product (CPMP) sebagai suatu keadaan bilamana suatu obat dipengaruhi oleh
penambahan obat lain dan menimbulkan pengaruh klinis. Efek-efeknya bisa
meningkatkan atau mengurangi efektifitas atau menghasilkan efek baru yang tidak
dimiliki sebelumnya. Tetapi interaksi bisa saja terjadi antara obat dengan makanan, obat
dengan herbal, obat dengan mikronutrien, dan obat injeksi dengan kandungan infus.
Prevalensi interaksi obat secara keseluruhan adalah 50% hingga 60%. Obat-obatan
yang mempengaruhi farmakodinamika atau farmakokinetika menunjukkan prevalensi
sekitar 5% hingga 9%. Sekitar 7% efek samping pemberian obat di rumah sakit
disebabkan oleh interaksi obat.
Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi respons tubuh terhadap pengobatan
terdapat faktor interaksi obat. Obat dapat berinteraksi dengan makanan, zat kimia yang
masuk dari lingkungan, atau dengan obat lain. Biasanya, pengaruh ini terlihat sebagai
suatu efek samping, tetapi terkadang pula terjadi perubahan yang menguntungkan. Obat
yang mempengaruhi disebut dengan precipitant drug, sedangkan obat yang dipengaruhi
disebut sebagai object drug.
Sedangkan object drug, biasanya merupakan obat yang mempunyai kurva dose
response yang curam. Obat-obat ini menimbulkan perubahan reaksi terapeutik yang besar
dengan perubahan dosis kecil. Kelainan yang ditimbulkan bisa memperbesar efek
terapinya. Juga bila dosis toksik suatu object drug, dekat dengan dosis terapinya, maka
mudah keracunan obat bila terjadi suatu interaksi.
Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan
toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi, terutama bila
menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi rendah) seperti
glikosida jantung, antikoagulan dan obat-obat sitostatika.
Dengan kemajuan teknologi dan pengalaman pemakaian obat-obatan, maka
interaksi obat makin banyak diketahui. Secara farmakologis, obat yang bertindak sebagai
precipitant drug mempunyai sifat sebagai berikut :

a. Obat yang terikat banyak oleh protein plasma akan menggeser obat lain (object drug)
dari ikatan proteinnya. Contoh : aspirin, fenilbutazon dan golongan sulfa
b. Obat yang menghambat atau merangsang metabolisme obat lain. Contohnya :
Perangsang metabolisme : fenitoin, karbamazepan, rifampisin, antipirin, dan

griseofulvin.
Penghambat metabolisme : alopurinol, simetidin, siklosporin, luminal,

ketokonazol, eritromisin, klaritromisin, dan siprofloksasin.


c. Obat yang mempengaruhi renal clearance object drug. Contohnya : furosemid
(diuretik) dapat menghambat ekskresi gentamisin sehingga menimbulkan toksik.
Interaksi obat menurut jenis mekanisme kerja dibagi menjadi 2 yaitu interaksi
farmakodinamika dan interaksi farmakokinetika.
a. Interaksi farmakodinamika
Interaksi farmakodinamika hanya diharapkan jika zat berkhasiat yang saling
mempengaruhi bekerja sinergis atau antagonis pada suatu reseptor, pada suatu organ
sasaran atau pada suatu rangkaian pengaturan.
b. Interaksi farmakokinetika
Interaksi farmakokinetika dapat terjadi selama fasa farmakokinetika obat secara
menyeluruh juga pada absorpsi, distribusi, biotransformasi dan eliminasi.
B. Faktor faktor yang Mempengaruhi Interaksi Obat
Berbagai faktor dapat mempengaruhi kerentanan pasien terhadap interaksi obat
antara lain :
1. Faktor Usia
Distribusi obat-obatan yang larut dalam lipid (obat-obatan yang larut dalam
lemak) mengalami perubahan yang jelas, di mana wanita usia lanjut memiliki jaringan
lemak 33% lebih banyak dibandingkan wanita yang lebih muda, sehingga terjadi
akumulasi obat. Usia juga mempengaruhi metabolisme dan klirens obat akibat
perubahan yang terjadi pada hati dan ginjal. Saat tubuh semakin tua aliran darah
melalui hati berkurang dan klirens beberapa obat dapat terhambat sekitar 30-40%.
Selain itu enzim-enzim hati yang menjalankan metabolisme obat mudah melimpah
sehingga memperlambat metabolisme akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi obatobatan tertentu.
Berdasarkan WHO kelompok usia lanjut dibagi menjadi 3 golongan besar
yaitu usia 60-74 tahun (young old), 75-84 tahun (old old) dan > 85 tahun (oldest old).
Perubahan fisiologis yang terjadi pada orang usia lanjut adalah penurunan massa otot,
cairan tubuha, laju filtrasi glomerulus, aliran darah ke hati serta peningkatan lemak
tubuh.

Tabel 2.1 . Perubahan farmakokinetika pada orang usia lanjut


Faktor Farmakokinetik
Motilitas Gastrointestinal

Kemaknaan Klinis
Dapat mempengaruhi kecepatan, namun tidak
mempengaruhi tingkat, penyerapan obat

pH Lambung

Perubahan tidak bermakna pada penyerapan obat

Fungsi Ginjal

Penurunan eliminasi obat-obat yang diekskresi melalui


ginjal

Albumin dalam Serum

Penurunan pengikatan protein sehingga meningkatkan


fraksi obat bebas

Total air tubuh

Penurunan volume distribusi obat-obatan yang larut


dalam air

Rasio Lemak tubuh/massa

Peningkatan volume distribusi obat-obatan yang larut

tubuh
dalam lemak
2. Faktor Polifarmasi
Tujuan dari Polifarmasi ini tidak lain adalah untuk mencapai efek terapi yang
optimum mengurangi efek samping, menghambat timbulnya resistansi, mencegah
kemungkinan adanya efek toksik yang disebabkan oleh substansi zat aktif.
Polifarmasi berarti pemakaian banyak obat sekaligus pada seorang pasien, lebih dari
yang dibutuhkan secara logis-rasional dihubungkan dengan diagnosis yang
diperkirakan.
Banyak obat yang tidak ada hubungannya dengan penyakit pasien diberikan
pada pasien yang tentu saja merupakan pemborosan dan meningkatkan insiden
penyakit karena obat.
3. Faktor Penyakit
Diabetes, hipotensi atau hipertensi, tukak, glaucoma, pelebaran prostat,
kontrol kandung kemih yang buruk, dan insomnia adalah beberapa kondisi yang perlu
diperhatikan karena penderita penyakit seperti ini berpeluang lebih tinggi mengalami
interaksi obat-penyakit.
4. Faktor Genetik
Karena faktor genetik sebagian orang memproses (metabolisme) obat secara
lambat akibatnya suatu obat bisa berakumulasi di dalam tubuh sehingga menyebabkan
toksisitas.
C. Dampak Klinis Interaksi Obat
Dampak klinis interaksi obat dilakukan dari beberapa obat yang saling
berinteraksi dimana ha yang paling utama adalah interaksi yang berpengaruh signifikan
terhadap klinis

Tabel 2.2. Dampak klinis interaksi obat berdasarkan level kejadian


Level signifikan
1

Level Skala Interaksi Obat


Level
Level Lokumentasi
Major
Established, probable atau
suspected

Moderat

Established, probable atau


suspected

Minor

Established, probable atau


suspected

Major atau Moderat

Possible

5
Minor untuk seluruh kelas
Possible dan Unlikely
a) Level signifikansi 1 risiko yang ditimbulkan berpotensial mengancam individu atau
dapat mengakibatkan kerusakan yang permanen.
b) Level signifikansi 2 efek yang timbul akibat penurunan dari status klinik pasien
sehingga dibutuhkan terapi tambahan atau perawatan di rumah sakit.
c) Level signifikansi 3 efek yang dihasilkan ringan; akibatnya mungkin dapat
menyusahkan atau tidak dapat diketahui tetapi secara signifikan tidak mempengaruhi
terapi sehingga treatment tambahan tidak diperlikan.
d) Level signifikansi 4 efek yang dihasilkan dapat berbahaya dimana respons
farmakologi dapat berubah sehingga diperlukan terpi tambahan
e) Level signifikansi 5 efek yang dihasilkan ringan dimana respons klinik dapat berubah
namun ada beberapa yang tidak mengubah respons klinik.

BAB III
PEMBAHASAN

Seperti halnya makanan obat-obatan yang diminum harus diserap melalui mukosa
lambung atau usus kecil. Akibatnya adanya makanan di dalam sistem pencernaan dapat
menurunkan absorpsi suatu obat. Biasanya interaksi semacam ini dapat dihindari dengan
meminum obat satu jam atau dua jam setelah makan. Serat makanan juga mempengaruhi
absorpsi obat.
Karakteristik fisik dan kimia suatu obat adalah faktor yang sangat menentukan potensi
interaksinya dengan makanan. Obat yang berbeda di dalam kelompok obat yang sama atau

formulasi obat-obatan identik yang berbeda bisa menunjukkan karakteristik kimia yang
berbeda sehingga menghasilkan interaksi obat dengan makanan yang benar-benar berbeda.
Terjadinya interaksi makanan dengan obat tergantung pada ukuran dan komposisi
makanan serta waktu pemberian obat dalam kaitannya dengan makan. Misalnya
bioavailabilitas obat-obatan lipofilik biasanya meningkat dengan kandungan lemak yang
tinggi atau karena peningkatan daya larut obat (misalnya albendazol dan isotretinoin) atau
perangsangan sekresi asam lambung (misalnya griseofulvin dan halofantrin). Atau kandungan
serat yang tinggi dapat menurunkan bioavailabilitas obat-obatan tertentu (misalnya digoksin
dan lovastatin) karena pengikatan terhadap serat.
Bioavailabilitas dan efek sebagian besar obat saling berkaitan sehingga perubahan
bioavailabilitas merupakan suatu parameter efek interaksi obat dengan makanan yang sangat
penting. Interaksi farmakokinetik obat dengan makanan yang paling penting disebabkan oleh
perubahan absorpsi suatu obat karena reaksi kimia yang terjadi antara obat dengan makanan
atau respons fisiologi terhadap makanan ; perubahan keasaman lambung, sekresi asam
empedu , atau motilitas saluran percernaan. Interaksi makanan dengan obat yang hanya
mempengaruhi tingkat absorpsi obat sering terjadi secara klinis namun jarang signifikan.
Namun untuk beberapa obat, ansorpsi cepat yang menghasilkan konsentrasi tertinggi obat
mungkin tidak dianjurkan karena terjadinya efek negatif yang terkandung konsentrasi
(misalnya kapsul misoprostol dan nifedipin).
Hubungan antara parameter farmakokinetik dengan efek farmakologi tidak selalu
sederhana. Umumnya perubahan-perubahan bioavailabilitas yang terkait makan hanya bisa
digunakan sebagai indikasi-indikasi obat dengan makanan. Relevan tergantung pada titik obat
(misalnya anti kuman, antihipertensi, obat penurun lipid atau anti koagulan).
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat interaksi antara makanan dan obat dimana
dampak interaksi makanan dengan obat tergantung pada sejumlah faktor seperti dosis obat,
usia subjek, ukuran dan kondisi kesehatan. Terlepas dari faktor-faktor ini, waktu konsumsi
makanan dan obat juga memperlihatkan peran penting. Pencegahan interaksi obat bukan
berarti menghindari obat atau makanan.
Tidak semua obat dipengaruhi makanan, namun banyak obat yang dapat dipengaruhi
oleh makanan dan waktu makan. Misalnya, minum obat bersamaan dengan waktu makanan
dapat mempengaruhi absorpsi obat. Makanan dapat memperlambat dan menurunkan absorpsi
obat. Itulah sebabnya obat-obatan ini mesti diminum saat perut dalam keadaan kosong. Disisi
lain, beberapa obat lebih mudah ditoleransi ketika diminum pada waktu makan.sebaiknya
ditanyakan ke dokter atau apoteker apakah obat bisa digunakan bersamaan dengan snack atau

makanan utama, atau apakah obat mesti digunakan ketika perut dalam keadaan kosong.
Makanan dapat mempengaruhi absorpsi obat didalam traktus gastrointestinalis dengan
mengubah pH lambung, sekresi, dan motilitas saluran pencernaan, serta waktu transit. Hal ini
menyebabkan perubahan kecepatan absorpsi atau tingkat absorpsi obat.
1. Contoh interaksi obat dan makanan yang diambil dari jurnal
a. Interaksi Jus Buah Nanas Dan Paracetamol
Hewan uji dikelompokkan secara acak dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok
I (parasetamol) diberikan parasetamol tunggal dosis 9 mg/200g BB peroral.
Kelompok II (parasetamol dan jus nanas dosis 1) diberikan parasetamol dosis 9
mg/200gBB bersamaan dengan jus buah nanas dosis 2,7 g/200gBB. Kelompok III
(parasetamol dan jus nanas dosis 2) diberikan parasetamol dosis 9 mg/200gBB
bersamaan dengan jus buah nanas dosis 5,4 g/200gBB. Cuplikan darah hewan uji
diambil selama 9 jam pada vena lateralis ekor tikus. Penetapan kadar parasetamol
pada plasma dilakukan dengan spektrofotometer UV. Parameter farmakokinetik
dihitung menggunakan metode regresi linear dan metode residual selanjutnya diuji
secara statistik menggunakan One Way ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95%.
Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelompok II dan kelompok III
meningkatkan secara signifikan parameter Cpmaks, tmaks, tab, tel, AUC dan
menurunkan secara signifikan parameter ka, ke, dan CL. Kelompok III memberikan
pengaruh yang paling kuat terhadap profil farmakokinetik parasetamol yaitu dengan
menurunkan parameter absorbsi dan eliminasi serta meningkatkan parameter
metabolisme parasetamol pada tikus.
b. Interaksi Madu Dan Aspirin
Penelitian menggunakan tikus putih Wistar jantan, umur 2 bulan, berat badan
rata-rata 200 gram. Sebanyak 24 ekor tikus dibagi dalam 4 kelompok, dengan
perlakuan control: diberi aquadest peroral l ml/200gram BB, perlakuan 1, 2 dan 3
diberi madu masing- masing l ml/200gram BB. 2 m1/200gram, 3 ml/200gram BB
tikus. Pemberian madu per oral selama 7 hari dan pada hari ke-7 seluruh tikus diberi
aspirin masing-masing dosis 150 mg/ekor, Pada hari ke-8, seluruh tikus dinekropsi
dan organ hepar diambil untuk selanjutnya dibuat preparat histologi dengan metode
blok parafin dan pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE). Pengamatan preparat
dilakukan dalam 5 lapang pandang mikroskopik meliputi adanya kongesti,
peradangan, hemoragi dan nekrosis. Data hasil pemeriksaan dianalisis dengan uji

statistik non parametric Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan adanya


perbedaan lesi kongesti dan peradangan antara kontrol dengan perlakuan 1, 2 dan 3.
Tidak ada perbedaan lesi yang signifikan antara perlakuan 1, 2 dan 3. Kesimpulannya
adalah ada peran madu sebagai barier pada mukosa lambung dan usus terhadap efek
samping aspirin sebagai zat hepatotoksik.
c. Interaksi Madu Dan Indometasin
Metode : Penelitian eksperimental dengan rancangan post test only control
group design ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan galur wistar dibagi dalam 6
kelompok secara random, lama perlakuan 15 hari. Kelompok I: pakan standar dan
aquadest (PS+A); kelompok II: (PS+A), dan indometasin 3,8 mg; kelompok III :
(PS+A), indometasin 3,8 mg, dan madu 3,6 ml 25%; kelompok IV: (PS+A),
indometasin 3,8 mg, dan madu 3,6 ml 50%; kelompok V: (PS+A), indometasin 3,8
mg, dan madu 3,6 ml 75%; kelompok VI: (PS+A), indometasin 3,8 mg, dan madu 3,6
ml 100%. Gambaran histopatologi lambung diukur dengan derajat gastritis dan derajat
ulkus peptikum dan diuji dengan uji Kruskal-Wallis, dilanjut dengan uji MannWhitney.
Hasil : Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan paling tidak terdapat perbedaan
bermakna derajat gastritis dan derajat ulkus peptikum antara dua kelompok (p < 0,05).
Hasil uji beda Mann-Whitney menunjukkan derajat gastritis dan derajat ulkus
peptikum antara kelompok kontrol dan perlakuan berbeda secara bermakna.

d. Permen Karet Yang mengandung Xylitol Dan Amlodipine


Metode: Penelitian ini menggunakan eksperimental dengan rancangan pre and
post test design. Jumlah sampel sebesar 15 orang lansia penderita hipertensi dengan
terapi amlodipine di Puskesmas Kedungmundu Semarang. Hasil pengukuran curah
dan pH saliva sebanyak dua kali, berupa data primer dengan skala rasio yaitu sebelum
dan sesudah pemberian permen karet yang mengandung xylitol tiga kali sehari selama
seminggu. Uji statistik menggunakan uji paired t-test yang dilanjutkan dengan uji non
parametrik Wilcoxon.
Hasil: Terdapat perbedaan bermakna curah saliva dengan nilai p=0,000 (p <
0,05) pada uji paired t-test dan perbedaan yang bermakna pH saliva dengan nilai
p=0,046 (p < 0,05) pada uji non parametrik wilcoxon.

e. Jus Alpukat Dan Aspirin


Rancangan penelitian menggunakan The Posttest-Only Control Group Design.
Subyek penelitian yaitu 30 mencit jantan galur Swiss webster, umur 2-3 bulan, dan
massa 20 gram. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling.
Sampel dibagi 3 kelompok dengan 10 mencit tiap kelompok secara acak. Kelompok
terdiri atas kelompok kontrol (K) tanpa diberi perlakuan, perlakuan 1 (P I) dengan
pemberian aspirin 0,1 mL, dan perlakuan 2 (P II) dengan pemberian aspirin 0,1 mL
setelah 1 jam sebelumnya diberi jus alpukat 0,5 mL. Pemberian perlakuan secara
peroral setiap hari selama 7 hari. Pembuatan preparat lambung dilakukan pada hari
ke-8 dengan metode blok parafin dan pengecatan Hematoxilyn-Eosin. Preparat
kemudian diobservasi seluruh lapang pandang dan dinilai berdasarkan gambaran
kerusakan yang paling berat. Dari data yang diperoleh dilakukan uji statistika
Kruskal-Wallis H ( = 0,05) dilanjutkan uji statistika Mann-Whitney U ( = 0,05) dengan
software SPSS Statistics 17.0.
Dari hasil uji Kruskal-Wallis H diperoleh p < 0,05 dan nilai = 47,923. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna di antara tiga kelompok
sampel atau dengan kata lain terdapat perbedaan gambaran histologist pada seluruh
kelompok perlakuan tanpa diketahui kelompok mana yang berbeda. Kemudian hasil
uji Mann-Whitney U diperoleh K dengan P I (p < 0,05), menunjukkan bahwa aspirin
dapat menginduksi terjadinya kerusakan pada mukosa lambung. P I dengan P II (p <
0,05), menunjukkan bahwa jus alpukat dapat mengurangi kerusakan mukosa lambung
mencit yang diinduksi aspirin. K dengan P II (p = 0,492), menunjukkan bahwa jus
alpukat dapat mengurangi kerusakan mukosa lambung mencit yang diinduksi aspirin
mendekati gambaran mukosa lambung mencit pada kelompok K.
f. Pasien peminum kopi dengan pemberian anastetikum local.
Kafein adalah derivat xantin yang bersifat memacu kerja jantung dengan
meningkatkan denyut jantung. Tampak adanya pengaruh pada sistem kardiovaskuler
yaitu terjadi penebalan pembuluh darah pada individu laki-laki usia 25 tahun keatas,
sedangkan yang berusia 40 tahun keatas sering terjadi aterosklerosis. Hal ini sering
terjadi pada individu laki-laki. Di bidang kedokteran gigi , anestetikum lokal yang
mengandung vasokonstriktor sering digunakan untuk bius lokal yang juga dapat
berpengaruh pada kardiovaskuler. Penggunaan vasokonstriktor perlu dipertimbangkan
pada pasien dengan riwayat penyakit jantung.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan denyut
jantung antara pasien laki-laki peminum kopi dan bukan peminum kopi usia 25 39
tahun setelah pemberian anestetikum lokal yang mengandung vasokonstriktor. Jenis
penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental klinis dengan rancangan
penelitian one group pretest pos test. Penelitian ini dilakukan di Klinik Bedah Mulut
Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember pada
bulan Februari-Maret 2005 dengan 20 sampel yang sesuai kriteria sampel kemudian
dipilih secara simple selective sampling. Kemudian data ditabulasi dan dilakukan
analisis data dengan paired t-test dan independent t-test. Besar rata-rata denyut
jantung pasien laki-laki peminum kopi dan bukan peminum kopi usia 25-39 tahun
dengan uji paired t-test, derajat kemaknaan 95% didapatkan probabilitas 0.000 pada
peminum kopi dan 0.003 pada bukan peminum kopi (p<0.05). Setelah dilakukan uji
independent t-test, derajat kemaknaan 95% didapatkan probabilitas 0.002 (p<0.05).
Terdapat perbedaan denyut jantung pasien laki-laki peminum kopi dan bukan
peminum kopi usia 25-39 tahun sebelum dan sesudah dilakukan anestesi lokal yang
mengandung vasokonstriktor. Terdapat perbedaan peningkatan denyut jantung setelah
dilakukan anestesi lokal yang mengandung vasokonstriktor pada pasien laki-laki
peminum kopi terhadap pasien laki-laki bukan peminum kopi.

BAB IV
KESIMPULAN

1. pemberian jus alpukat (Persea Americana Mill.) dapat memberikan efek proteksi
terhadap kerusakan mukosa lambung mencit yang diinduksi aspirin.
2. Jus buah nanas dapat mempengaruhi profil farmakokinetik parasetamol dengan menurunkan
parameter absorpsi, dan parameter eliminasi serta meningkatkan parameter metabolisme dari
parasetamol
3. Pemberian madu dapat mengurangi lesi kongesti, peradangan dan hemorhagi akibat terapi

aspirin.

4. Pemberian madu secara oral berpengaruh secara signifikan terhadap gambaran


histopatologi lambung tikus putih jantan galur wistar yang diinduksi oleh
indometasin.
5. Pemberian permen karet yang mengandung xylitol dapat mencegah terjadinya efek
samping berupa mulut kering pada lansia penderita hipertensi dengan terapi
amlodipine karena curah dan pH saliva tetap terjaga dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Sagala-Pantun, S. (2010) Efek Proteksi Jus Alpukat (Persea americana Mill.) terhadap
Kerusakan Mukosa Lambung Mencit yang Diinduksi Aspirin. Skripsi. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret.
Emy Oktaviani-Emi. dkk Pengaruh Jus Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Terhadap
profil farmakokinetik Paracetamol tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur
wistar. Skripsi . Pontianak : Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran,
Universitas Tanjungpura.
Eldha-Eka, y. (2013) Pengaruh Jus Buah Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) Terhadap profil
farmakokinetik Paracetamol tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar.
Skripsi. Pontianak : Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas
Tanjungpura.

Masniari-Nesia,H, S. dkk (2013) Studi Histopatologi Hepar Tikus Putih yang Diinduksi
Aspirin Pasca Pemberian Madu Per Oral. Skripsi. Bali : Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana Denpasar.
Dian-Mutia,P,M. (2014) pengaruh Pemberian Permen Karet Yang Mengandung Xylitol
Terhadap Curah Dan pH Saliva Pada Lansia Penderita Hipertensi Dengan Terapi
Amlodipine. Jurnal. Semarang: Universitas Diponegoro.