Anda di halaman 1dari 9

Pendekatan Ilmiah Non Positivistik Model Pendekatan

Teori Revolusi Paradigma


Oleh Thomas S. Kuhn : Revolusi Sains

Di Susun Oleh :
Risalatul Muawanah (14650014)
Jurusan Teknik Informatika
Fakultas Sains dan Teknologi
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Istilah paradigma menjadi begitu popular setelah diintroduksikan oleh ThomasKuhn


melalui bukunya The Structure of Scientific Revolution,University of ChicagoPress,
Chicago,1962 yang membicarakan tentang Filsafat Sains. Khun menjelaskan bahwa
Paradigma merupakan suatu cara pandang, nilai-nilai, metode-metode,prinsip dasar atau
memecahkan sesuatu masalah yang dianut oleh suatu masyarakatilmiah pada suatu tertentu.
Apabila suatu cara pandang tertentu mendapat tantangandari luar atau mengalami krisis
(anomalies), kepercayaan terhadap cara pandangtersebut menjadi luntur, dan cara pandang
yang demikian menjadi kurang berwibawa,pada saat itulah menjadi pertanda telah terjadi
pergeseran paradigma. Untuk lebihjelasnya berikut diuraikan beberapa pemikiran penting
dari Thomas Kuhn, yakni:1. Thomas Kuhn bertitik tolak dari subject to subject dalam karya
bukunya yangberjudul: The Structure of Scientific Revolutions (1962), yang
mengemukakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah terjadisecara kumulatif
melainkan terjadi secara relatif. Model perkembangan ilmupengetahuan menurut Kuhn
adalah: Paradigma I( Normal Science,Anomalies &Crisis,Revolusi).
Pada perkembangan filsafat ilmu dalam memahami beberapa kerangka teori keilmuwan
dan juga paradigma keilmuwan, terdapat beberapa filsuf yang terkenal karena hasil
pemikiran dan karyanya berpengaruh terhadap perkembangan suatu ilmu, Salah satu tokoh
filsafat yang terkenal yakni Thomas Kuhn yang mengarang buku The Structure of Scientific
Revolution tahun 1962. Kuhn melihat adanya kesalahan-kesalahan fundamental tentang
image atau konsep ilmu terutama ilmu sains yang telah dielaborasi oleh kaum filsafat
ortodoks, sebuah konsep ilmu yang dengan membabi-buta mempertahankan dogma-dogma
yang diwarisi dari Empirisme dan Rasionalisme klasik.
Menurut Thomas Kuhn sendiri menjelaskan bahwa Paradigma merupakan suatu cara
pandang, nilai-nilai, metode-metode,prinsip dasar atau memecahkan sesuatu masalah yang
dianut oleh suatu masyarakat ilmiah pada suatu tertentu. Apabila suatu cara pandang tertentu
mendapat tantangan dari luar atau mengalami krisis, kepercayaan terhadap cara pandang
tersebut menjadi luntur, dan cara pandang yang demikian menjadi kurang berwibawa, pada
saat itulah menjadi pertanda telah terjadi pergeseran paradigma. Bahwa dari pemaparan di
atas pemakalah dapat memahami pendapat Thomas Kuhn tentang pradigma itu sendiri yaitu
suatu teori yang akan kita pakai, gunakan, terapkan/paparkan berdasarkan dari pengujianpengujian sikap atau prilaku dalam anggota-anggota masyarakat ilmiah yang sudah
ditetapkan menurut teori sebelumnya. Pradigma digunakan untuk semua niai-nilai,

keyakinan, teknik, dan semua yang pernah dilakukan oleh anggota-anggota masyarakat yang
sudah sah.

Rumusan Masalah

1. Apa yang disebut Paradigma Revolusi Sains ?


2. Bagaimana terjadinya paradigma Thomas S. Kuhn untuk mengembangkan suatu
keilmuannya?
3. Mengetahui Cara Kerja Paradigma dan Terjadinya Revolusi Ilmiah

Tujuan Penulisan

1. Untuk memahami aspek paradigma Thomas S. Kuhn.


2. Menjelaskan tentang teori non-positivistik melalui teori revolusi paradigam oleh
Thomas Kuhn.

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

Pendekatan Ilmiah Non Positifistik Model Pendekatan Teori Revolusi Paradigma


Oleh Thomas S. Kuhn : Revolusi Sains
Pengantar
Thomas S. Kuhn lahir pada 18 Juli 1992 di Cincinnati, Ohio Amerika Serikat. Pada
tahun 1949 ia memperoleh gelar Ph. D dalam bidang ilmu fisika di Havard University. Pada
tahun 1964, ia mendapat anugerah gelar Guru Besar (profesor) dari Pricenton University
dalam bidang filsafat dan sejarah sains.selanjutnya pada tahun 1983 ia dianugerahi gelar
profesor dari Massachusetts Institute of University. Thomas Kuhn menderita penyakit kanker
selama beberapa tahun di akhir masa hidupnya, yang akhirnya meninggal dunia pada 17 Juni
1996 dalam usia 73 tahun. Karya Thomas Kuhn yang paling terkenal dan banyak mendapat
sambutan dari para filsuf dan ilmuwan umumya adalah The Structure of Scientific
Revolusion, yang terbit pada tahun 1962 oleh University of Chicago Press.
Latar Belakang Pemikiran Kuhn
Pandangan Kuhn tentang ilmu dan perkembangannya pada dasarnya merupakan
respons terhadap pandangan neo positivisme dan Popper. Proses verifikasi dan konfirmasieksperimentasi dari bahasa ilmiah, dalam pandangan Vienna Circle, merupakan lngkah dan
proses perkembangan ilmu, sekaligus sebagai garis pembeda antara apa yang disebut sebagai
ilmu dengan yang bukan ilmu. Sementara pada Popper, proses perkembangan ilmu yang
menurutnya harus berkemungkinan mengandung salah, itu adalah dengan proses yang disebut
falsifikasi (proses eksperimen untuk membuktikan salah satu dari teori ilmu) dan refutasi
(penyangkalan teori).
Kuhn menolak pandangan diatas, kuhn memandang ilmu dari perspektif sejarah,
dalam arti sejarah ilmu, suatu hal yang sebenarnya dilakukan Popper. Jika Popper
menggunakan sejarah ilmu sebagai bukti untuk mempertahankan pendapatnya, Kuhn justru
menggunakan sejarah ilmu sebagai titik tolak penyelidikannya. Baginya, filsafat ilmu harus
berguru kepada sejarah ilmu, sehingga dapat memahami hakikat ilmu dan aktivitas ilmiah
yang sesungguhnya.

Paradigma dan Konstruksi Komunitas Ilmiah


Kuhn memakai istilah paradigma untuk menggambarkan sistem keyakinan yang
mendasari upaya pemecahan teka-teki dalam ilmu. Dengan memakai istilah paradigma, ia
bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang diterima tentang praktek ilmiah nyata,
termasuk hukum, teori, plikasi dan instrumentasi yang menyediakan model-model yang
menjadi sumber konsistensi dari tradisi riset ilmiah tertentu.
Pandangan Kuhn ini telah membuat dirinya tampil sebagai prototipe pemikir yang
mendobrak keyakinan para ilmuwan yang bersifat positivistik. Pemikiran positivisme
memang lebih mengaris bawahi validitas hukum-hukum alam dan hukum sosial yang bersifat
universal, yang dapat dibangun oleh rasio.
Fokus pemikiran Kuhn ini memang menentang pendapat golongan realis yang
mengatakan bahwa sains-fisika dalam sejarahnya berkembang melalui pengumpulan faktafakta bebas konteks. Kuhn mengatakan bahwa perkembangan sains berlaku melalui
paradigma ilmu, yaitu suatu kerangka teoritis, atau suatu cara memandang dan memahami
alam, yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai pandangan dunia. Paradigma
ilmu berfungsi sebagai lensa yang melaluinya ilmuawan dapat mengamati dan memahami
masalah-masalah ilmiah dalam bidang masing-masing dan jawabannya.
Dengan demikian, paradigma ilmu tidak lebih dari suatu konstruksi segenap
komunitas ilmiah yang dengannya mereka membaca, menafsirkan, mengungkap dan
memahami alam. Berdasarkan bukti-bukti dari sejarah ilmu, Kuhn menyimpulkan bahwa
faktor hisoris yakni faktor non-matematis-positivtistik, merupak faktor penting dalam
pembangunan paradigmakeilmuan secara utuh.
Konsenkuesi lebih jauh dari pandangan Kuhn, bahwa metode ilmiah (proses bservasi,
eksperimentasi, dedukasi dan konklusi yang didealisasikan). Bagi Kuhn, paradigmalah yang
menentukan jenis eksperiment yang dilakukan para ilmuwan, jenis pertanyaan yang mereka
ajukan, dan masalah yang mereka anggap penting. Tanpa paradigma para ilmuwan tidak bisa
menggumpulkan data. Akibatnya, pengumpulan fakta hampir semuanya merupakan aktivitas
acak.

Proses Perkembangan Ilmu


Menurut kohn, proses perkembangan ilmu pengetahuan manusia tidak bisa terlepas
dari apa yang disebut keadaan normal science dan revolutionary science. Semua ilmu
yang tertulis dalam texbook termasuk dalam wilayah sains normal. Kemajuan dalam sains
normal diukur menurut banyaknya serpihan dari teka-teki yang telah dikumpulkan (yakni
beberapa lingkungan ilmiah yang dapat diamati dan dipahami oleh komunitas ilmiah
tersebut). Semakin banyak lingkungan ilmiah yang dapat diterangkan oleh suatu komunitas
ilmiah maka semakin besar pula kemajuan yang dicapainya. Begitulah paradigma berkait
erat dengan sains normal.

Dalam wilayah normal science banyak persoalan yang tidak dapat terselesaikan,
dan bahkan inkoneksitensi. Inilah keadaan yang disebut Kohn anomolies, keganjilankeganjilan, ketidakteatan, penyimpangan. Oleh karena itu terurung rutinitas para peneliti
serius tertentu, para pengamat dan kritikus yang secara relatif mengetahui adanya anomalies
tersebut. Mereka inilah yang disebut sains luar biasa.
Sains luar biasa berlaku bila dalam perjalanan sains normal, suatu komunitas ilmiah
mulai menggumpulkan data yang tidak sejalan dengan pandangan paradigma mereka
terhadap alam. Jika anomalies yang kecil-kecil tersebut terakumulasi dan menjadi terasa
begitu sehingga pada saatnya ditemukan pemecahan yang lebih memuaskan oleh para
ilmuwan. Artinya suatu komunitas ilmiah dapat menyelesaikan keadaan krisisnya dengan
menyusun diri disekeliling suatu paradigma baru, maka terjadilah apa yang disebut oleh
Kuhn dengan revolusi sains.
Sesudah suatu komunitas ilmiah mengalami revolusi dan perputaran serupa gestalt
yang menyertainya, maka kemajuan penyelesaian teka-teki yang dicapai pada fase sains
normal haruslah dinilai dari keadaan baru sebab gambarannya sudah berubah. Dalam periode
revolutionary science, hampir semua kosa kata, istilah-istilah, konsep-konsep, idiom-idiom,
cara penyelesaian persoalan, cara berfikir, cara mendekati persoalan berubah dengan
sendirinya. Sudah tentu, khazanah intelektual yang lama masih dapat dimanfaatkan sejauh ia
masih menyentuh persoalan yang dihadapi.
Dalam skema Kuhn terlihat bahwa suatu stabilitas dogmatis dapat diselingi oleh
revolusi-revolusi yang sesekali terjadi. Ia menggambarkan berrmulanya ilmu revolusioner
secara gamblang, maka dimulailah investigasi luar kelaziman. Suatu titik tercapai ketika
krisis hanya bisa dipecahkan dengan revolusi di mana paradigma lama memberikan jalan bagi
perumusan paradigma baru. Demikianlah sains revolusioner mengambil alih. Jadi, menurut
Kuhn, ilmu berkembang melalui siklus-siklus normal diikuti oleh revolusi yang diikuti lagi
sains normal dan kemudian di ikuti lagi oleh revolusi. Setiap paradigma bisa menghasilkan
karya khusus yang menentukan dan membentuk paradigma.
Pergeseran paradigma mengubah konsep-konsep dasar yang melandasi riset dan
mengilhami standar-standar pembuktian baru, teknik-teknikriset baru, serta jalur-jalur teori
dan eksperimen baru yang secara radikal tidak bisa dibandingkan lagi dengan yang lama.
Masalah masalah yang penting secara sosial, yang tak bisa direduksi menjadi bentuk
pemecahan teka-teki akan dikesampingkan, dan apapun yang berada diluar lingkup
konseptual dan instrumental paradigma itu dianggap tidak relevan.

Cara Kerja Paradigma dan Terjadinya Revolusi Ilmiah


Cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah dapat digambarkan secara umum ke
dalam tahap-tahap sebagai berikut :
Tahap Pertama, paradigma ilmu membimbing dan mengarahkan aktivitas ilmiah
dalam masa ilmu normal (normal science). Disini ilmu para ilmuawan menjabarkan dan

mengembangkan paradigma sebagai model ilmiah yang digeluti secara rinci dan mendalam.
Dalam tahap ini para ilmuwan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing
aktivitas ilmiahnya
Tahap Kedua, menumpuknya anomali menimbulkan krisis kepercayaandari para
ilmuwan terhadap paradigma. Paradigma mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para ilmuwan
muali keluar dari jalur ilmu normal.
Tahap Ketiga, para ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama
sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma tandingan yang dipandang bisa
memecahkan masalah dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan dari
paradigma lama ke peradigma baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiah.
Mengakhiri pembahasan ini perlu disampaikan, bahwa perkembangan ilmu itu tidak
disebabkan oleh dikekuatan dan dibatalkannya suatu teori, tetapi lebih disebabkan oleh
adanya pergeseran paradigma. Paradigma pada dadasarnya adalah hasil kontruksi sosial para
ilmuwan (komunitas ilmiah), yang merupakan seperangkat keyakinan mereka sebagai cara
pandang terhadap dunia dan contoh-contoh prestasi atau praktek ilmiah konkrit. Konsepsi
Kuhn ini mendapat respon dari berbagai ilmuwan, yang melihat perkembangan disiplin ilmu
masing-masing. Para ilmuwan melihat sedemikian jauh pengaruh, implikasi dan bahkan
aplikasi dari konsepsi pemikiran filsafat keilmuan Kuhn dalam hampir seluruh bidang ilmu,
seperti sejarah, ekonomi, politik, sosiologi, budaya bahkan keagamaan.

Keunggulan Paradigma
Untuk menemukan hubungan antara kaidah, paradigma dan sains yang normal maka
perhatikan terlebih dahulu bagaimana sejarahwan mengisolasi tempat-tempat tertentu dari
komitmen sebagai kaidah-kaidah yang diterima. Penyeledikan historis yang cermat terhadap
suatu spesialitas tertentu pada masa tertentu menyingkapkan seperangkat keterangan yang
berulang-ulang dan kuasistandar tentang berbagai teori dalam penerapan konseptual,
observasional, dan instrumental. Inilah paradigma-paradigma masyarakat yang diungkapkan
dalam buku-buku teks, ceramah-sceramah dan praktek-praktek laboratoriumnya.
Penentuan paradigma-paradigma bersama itu, bagaimanapun itu, bukan penentuan
kaidah-kaidah bersama. Hal ini menuntut langkah yang berbeda jenisnya. Ketika
melakukannya, sejarahwan harus membandingkan paradigma-paradigma masyarakat itu satu
sama lain dan dengan laporan-laporan riset pada masa itu.
Sesuatu yang jenisnya sama bisa saja berlaku bagi berbagai teknik dan masalah riset
yang timbul didalam suatu tradisi sains yang normal. Apa yang menjadi kesamaan di antara
mereka bukanlah bahwa mereka memenuhi suatu perangkat kaidah dan asumsi yang jelas
atau bahkan yang dapat ditemukan seluruhnya, yaitu perangkat yang memberi karakter
kepada tradisi dan yang menyebabkan suatu tradisi mempunyai tempat di dalam pikiran
ilmiah. Paradigma paradigmabisa menentukan sains yang normal tanpa campur tangan
kaidah-kaidah yang dapat ditemukan. Sebuah teori selalu diumumkan bersama-sama dengan

penerapannya kepada serangkaian gejala alam yang kongret, tanpa itu teori tersebut bahkan
tidak akan merupakan calon untuk diterima. Setelah ia diterima, penerapan-penerapan yang
sama dan yang lainnya mendampingi teori tersebut masuk kedalam teori teks, dan dari sana
calon pemraktek akan mempelajari kejujurannya.

Sifat dan Perlunya Revolusi Sains


Revolusi sains dibuka oleh kesadaran yang semakin tumbuh, yang lagi-lagi sering
terbatas pada sub-devisi yang sempit dari masyarakat sains, bahwa paradigma yang ada tidak
lagi berfungsi secara memadai dalam eksplorasi suatu aspek dari alam, yang sebelumnya
paradigma itu sendiri yang menunjukkan jalan bagi eksplorasi itu. Baik dalam perkembangan
politik maupun dalam perkembangan sains, kesadaran akan adanya malafungsi yang dapat
menyebabkan krisis itu merupakan prasyarat bagi revolusi. Dalam evolusi sains, pengetahuan
yang baru harus menggantikan ketidaktahuan, bukan menggantikan pengetahuan jenis yang
lain dan yang tidak selaras.
Oleh sebab itu, marilah kita percayai saja bahwa perbedaan-perbedaan di antara
paradigma-paradigma yang berurutan itu diperlukan serta tidak dapat diselaraskan. Akan
tetapi, paradigma-paradigma berbeda pada lebih dari hakikatnya, sebab mereka tidak hanya
diarahkan kepada alam, tetapi juga ke belakang, kepada sains yang
menghasilkannya.merekalah sumber metode metode, bidang masalah, dan standar-standar
pemecahan yang diterima oleh setiap masyarakat sains yang matang pada setiap masa
tertentu.

Revolusi sebagai Perubahan Pandangan atas Dunia


Dengan bimbingan paradigma yang baru, para ilmuwan menggunakan instrumen-instruman
baru dan menengok tempat-tempat baru. Yang lebih penting lagi, selama revolusi para
ilmuwan melihat hal-hal baru dan berbeda ketika mereka menggunakan instrumen-instrumen
yang sangat dikenalnya untuk menengok tempat-tempat yang pernah dilihatnya. Seakan-akan
masyarakat profesional itu tiba-tiba dipindahkan keplanet lain di mana objek-objek yang
sangat dikenal tampak dalam penerangan yang berbeda dan juga berbaur dengan objek-objek
yang tidak dikenal. Meskipun demikian perubahan-perubahan paradigma itu memang
menyebabkan para ilmuwan berbeda memandang dunia risetnya. Sepanjang satu satunya
jalan lain mereka kedunia itu hanya melalui apa yang mereka lihat dan lakukan, kita bisa jadi
ingin mengatakan bahwa setelah revolusi, para ilmuwan menanggapi dunia yang berbeda.
Dalam tahun-tahun yang baru lalu beberapa orang yang menaruh perhatian pada seluruh sains
berpendapat bahwa jenis-jenis eksperimen sangatlah sugestif. Namun, kendatipun
eksperimen-eksperiemen psikologis itu segestif, menurut sifatnyatidak bisa lebih dari itu.

DAFTAR PUSTAKA
Thomas S. Kuhn, Thomas. S. Peran Pradigma dalam Revolusi Sains, terj. dari The Structure
of Scientific Revolutions, terj. Tjun Surjaman. Cet. VII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.
Muslih Muhammad, Filsafat Ilmu (kajian atas asumsi dasar paradigma dan kerangka teori
ilmu pengetahuan);Belukar Yogyakarta 2004