Anda di halaman 1dari 126

contoh laporan praktikum plankton

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Plankton adalah jasad atau organisme yang hidup melayang dalam air, tidak bergerak
atau bergerak sedikit dan selalu mengikuti pergerakan/ arus air. Plankton yang tergolong
fitoplankton adalah jenis plankton yang umumnya beraktifitas pada pagi hingga siang hari. Hal
ini dikarenakan fitoplankton merupakan jenis tumbuhan mikroskopis yang dapat berfotosintesis.
Fitoplankton umumnya terdiri dari diatome dan dinoflagellata. (Tahrin, 2009).
Untuk pertumbuhan, manusia memerlukan protein dalam jumlah yang besar. Agar
kebutuhan tersebut dapat terpenuhi maka manusia berusaha untuk meningkatkan produksi bahan
pangan. Bahan pangan yang menjadi sumber protein adalah bahan pangan yang berasal dari
hewan, terutama yang berasal dari ikan. Agar kebutuhan ikan terpenuhi maka dapat dilakukan
usaha budidaya perikanan.
Di Indonesia usaha budidaya ikan sampai saat ini sudah memperlihatkan suatu
keberhasilan dalam meningkatkan produksi ikan, hal ini disebabkan tersedianya benih yang
memadai baik kualitas maupun kuantitas yang merupakan salah satu syarat untuk keberhasilan
usaha budidaya ikan.
Salah satu masalah yang sampai saat ini masih merupakan faktor penyebab utama
dari kegagalan usaha budidaya perikanan adalah adanya keterbatasan benih. Benih biasanya
tidak sesuai dengan periode penebaran dan pemanenan, selain itu jumlahnya tidak mencukupi
dan harganya relatif mahal. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu dibangun balai benih
ikan agar dapat mensuplay benih ikan seperti yang diinginkan.
Kurangnya benih yang diperlukan untuk usaha budidaya dapat disebabkan tingginya
kematian benih pada tingkat fase larva, terutama pada saat larva kehabisan kuning telur. Adapun
salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah pemberian makanan alami.
Zooplankton merupakan salah satu makanan alami terbaik bagi anak ikan. Namun
demikian tidak samua zooplankton bisa dijadikan makanan awal yang baik. Adapun makanan
alami yang akan digunakan haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) tidak
mengandung racun, 2) mempunyai ukuran yang lebih kecil dari bukaan mulut ikan, 3)

mempunyai nilai gizi yang tinggi dan dapat dicerna oleh ikan, 4)terapung dan bergerak lambat
sehingga mudah diperoleh dan 5) harganya murah dan disenangi oleh ikan.
Makanan alami yang dijadikan makanan hidup bagi anak ikan yang diambil langsung
dari perairan umum kurang baik diberikan secara langsung pada anak ikan. Hal ini disebabkan
masih banyaknya jenis parasit yang ikut tertangkap. Untuk itu sebaiknya dilakukan kultur
tanggal lebih dahulu, sehingga makanan alami yang dikehendaki dapat tepat dalam jumlah dan
waktu.
Untuk mendapatkan benih yang baik dan bermutu tinggi setiap pembenihan
sebaiknya mempelajari sifat dan tingkah laku ikan serta makanan alami yang digunakan untuk
menjamin kelangsungan hidupnya. Untuk menumbuhkan makanan alami tersebut biasanya
dilakukan dengan pemberian pupuk yang murah di dapatkan dan efesien. Salah satu pupuk yang
bisa digunakan adalah pupuk kandang. Yang dimaksud dengan pupuk kandang adalah kotoran
yang berasal dari hewan ternak.
Selain pupuk kandang dapat pula ditambahkan pupuk organik cair. Alasan
menggunakan pupuk organik cair karena dapat membantu menjaga kualitas air agar selalu dalam
kondisi baik selain itu mengandung mineral-mineral, protein dan unsure hara yang dapat
menambah nutrisi untuk perkembangbiakan plankton.

1.2.Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk :
a)

Mengetahui pengaruh dari penambahan pupuk organik cair pada perkembangan populasi
plankton serta untuk mengetahui dosis yang baik dan cocok untuk perkembangan populasi
plankton.

b)

Mempelajari komunitas plankton (fitoplamkton dan zooplankton) yang terdapat pada wadah
budidaya.

c)

Mengukur dan mengetahui kualitas air( Suhu, pH, DO) yang mempengaruhi komunitas
plankton.
d)

menambah keterampilan dalam penggunaan mikroskop

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Plankton
Plankton adalah makhluk ( tumbuhan atau hewan ) yang hidupnya, mengambang, atau
melayang di dalam air yang kemampuan renangnya terbatas sehingga mudah terbawa arus.
Plankton berbeda dengan nekton yang berupa hewan yang memiliki kemampuan aktif berenang
bebas, tidak tergantung pada arus air, contohnya : ikan, cumi-cumi, paus dll. Bentos adalah biota
yang hidupnya melekat pada, menancap, merayap, atau membuat liang di dasar laut, contohnya :
kerang, teripang, bintang laut, karang dll (WordPress, 2009).

Menurut Bornforthesea (2009), plankton adalah organisme yang hidupnya melayang


atau mengambang di daerah pelagik. Namun demikian, ada juga plankton yang memiliki
kemampuan renang cukup kuat sehingga dapat melakukan migrasi harian.
Plankton adalah organisme atau makhluk hidup yang halus dan disebut pula sebagai
jasad-jasad renik yang melayang di dalam air. Istilah plankton dari bahasa Yunani, yang artinya
drifting, yaitu berarti plankton hanya dapat melayang di dalam kolam air, tidak bisa bergerak,
dan hanya bergantung pada kecepatan arus (Adnan, 2003).

2.2. Pengelompokan Plankton


a) Berdasarkan Ukuran
Menurut Murwani (2009), pengelompokkan plankton berdasarkan ukuran, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
b)

Megaplankton : plankton dengan ukuran20-200 cm


Makroplankton
: plankton dengan ukuran 2-20 cm
Mesoplankton
: plankton dengan ukuran 0,2-20 mm
Mikroplankton
: plankton dengan ukuran 20-200 m
Nanoplankton : plankton dengan ukuran 2-20 m
Pikoplankton
: plankton dengan ukuran kurang dari 2 m
Berdasarkan Asal
Menurut Herawati (1984), berdasarkan asalnya plankton dapat dibedakan menjadi :

Autogenik : plankton yang berasal dari perairan itu sendiri

Allogenik

: plankton yang berasal dari perairan lain

Menurut Sofa (2006), berdasarkan asal-usulnya, plankton dibedakan menjadi 2, yaitu:


Autoplankton : plankton yang berasal dari habitat tersebut
Alloplankton : plankton yang berasal dari luar habitat tersebut
c) Berdasarkan Siklus Hidup

Menurut Herawati (1984), plankton juga bisa diklasifikasikan berdasarkan siklus hidup dari
organism tersebut, yaitu :

Holoplankton :
Holoplankton adalah plankton yang seluruh hidup tidak pernah keluar dari sifatnya sebagai
plankton.

Meroplankton:
Meroplankton yaitu plankton yang mempunyai karakteristik hanya sementara saja dari siklus
hidupnya bersifat sebagai plankton.

Tikoplankton :
Tikoplankton sebenarnya bukanlah plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan
normalnya hidup di dasar sebagai bentos. Namun karena gerak air menyebabkan ia terlepas dari
dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton.

d) Berdasarkan Sebaran Horizontal


Plankton neritik
Plankton oseanik
e) Berdasarkan Sebaran Vertical
Epiplankton
Epiplankton adalah plankton yamh hidup di lapisan permukaan sampai kedalaman sekitar 100m.
Mesoplankton
Mesoplankton yakni plankton yang hidup di lapisan tengah, pada kedalaman sekitar 100-400 m.
Hipoplankton
Hipoplankton adalah plankton yang hidupnya pada kedalaman lebih dari 400m. Termasuk dalam
kelompok ini adalah bathyplankton yang hidup pada kedalaman lebih dari 600m dan
abyssoplankton yang hidupdi lapisan yang paling dalam sampai 3000-4000m
f) Berdasarkan Jenis Makanan
Menurut Herawati (1989), jenis plankton berdasarkan makanannya di bagi 2, yaitu:
1. Plankton tanaman atau nabati disebut phytoplankton. Phytoplankton memiliki klorofil sehingga
memungkinkan untuk melakukan fotosintesis.
2. Zooplankton terdiri dari plankton yang makanannya bersifat holozoik, termasuk semua jenis
plankton hewan.
Berdasarkan kemampuan memmbuat makanan, plankton digolongkan menjadi 2
golongan utama, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton disebut juga plankton nabati

adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung/melayang dilaut. Ukurannya sangat kecil sehingga
tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Zooplankton ada yang hidup dipermukaan dan ada pula
yang hidup diperairan dalam. Ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan
dalam kepermukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (netton) atau yang
hidup (bentos) (Arianti, 1997 dalam Asconiwara, 2009).

2.3. Klasifikasi Fitoplankton


a) Phylum Chlorophyta
Menurut Herawati (1989), ciri-ciri chlorophyta, antara lain :

Berwarna hijau karena proporsi pigmen pada chloroplas jauh lebih banyak.
Kebanyakan bersifat epiphytic sessik, comensalisme, atau simbiotik sebagian besar yang hidup

di danau atau kolam bersifat sebagai plankton di laut, tidak ada yang bersifat pelagik.
Dinding sel sebagian dalam terdiri dari 2 lapisan utama.
Sering menyebabkan blooming perairan.
Hidup melayang pada atau dekat permukaan air.
Hidup secara koloni.
Jika mati menghasilkan bau busuk.
Menurut Alvyanto (2009), Chlorophyta (ganggang hijau) adalah salah satu kelas dari
ganggang yang sel-selnya bersifat eukariotik (materi inti dibungkus oleh membran inti). Pigmen
klorofil terdapat dalam jumlah banyak sehingga ganggang ini berwarna hijau. Pigmen lain yang
dimiliki adalah korotan dan Nantafil.
b) Phylum Cyanophyta
Blooming blue green algae biasanya terjadi danau atau kolam yang sadah, spesies ini muncul
pada musim panas sampai awal penghujan spesies tertentu ditentukan juga pada kolam atau
danau dengan kesadahan rendah. Tapi pada kondisi tersebut, mereka jarang sekali membentuk
blooming. Adapun ciri-cirinya yaitu :

1. Ganggang hijau bersel satu


2. Ganggang hijau biru berkoloni
3. Ganggang hijau biru berfilamen
Menurut Herawati (1989), menyatakan bahwa ciri-ciri Cyanophyta adalah :

Mengandung warna disebabkan oleh klorofil dan kadang juga oleh pigmen sel serta

warna oleh pseudaracuce.


Tidak mempunyai membran dan nucleolus
Reproduksi secara aseksual.
Sering menyebabkan blooming perairan.
Dinding sel terdiri dari lapisan utama, bagian dalam dan luar

Hidup melayang-layang dekat permukaan air

Hidup berkoloni

Jika mati menghasilkan bau busuk

reaksi

c). Phylum Chrysophyta


Menurut Herawati (1989), ciri-ciri Chrysophyta , yaitu :

Merupakan tanaman satu sel

Value mengandung silika

Reproduksi dengan sang pembelahan sel dan pembentukan spesies

Reproduksi seksual dengan pembentukan auxosphora


Chrysophyta / ganggang keasaman memiliki pigmen dominan hasoter berupa klorofil yang
memberikan warna keasaman. Pigmen lainnya adalah yang uniseluler soliter (contohnya:
ochromonas) ada juga yang berkoloni tidak bertogillum dan ada juga yang multiseluler
(Herawati,1989).

d). Phylum Rhodophyta


Menurut Herawati (1989), menyatakan bahwa ciri-ciri Rhodophyta, antara lain :

Hidup di laut
Tubuh bersel banyak
Mengandung pigmen pikoasilin
Bentuk tubuh seperti rumput laut
Dalam sebagian besar ganggang merah (rhodophyta) telur berupa phyta/filament bercabang.
Namun beberapa species ada yang berbentuk lembaran seperti porphyta/berbentuk sel tunggal.
Beberapa ganggang merah dapat mengapur misalnya Corallina spp. Plasmoyesmata tampaknya
tidak ada. Tapi banyak ganggang merah multikelula memuat koneksi (The-x,2010).

e). Phylum Dinoflagelata


Phyrhophyta atau ganggang api disebut juga Dinoflagelata karena memiliki alat gerak berupa
flagella. Ganggang ini termasuk dalam calon kingdom Alveolata dalam sistem klasifikasi tiga

dominan. Ganggang ini umumnya bersifat autotrof, namun ada sebagian spesies yang bersifat
heterotrof parasitic (Freaks,2010).
Menurut Sapri (2010), menyatakan bahwa Phyrhophyta berasal dari lautan (dominan) tetapi ada
beberapa ratus spesies yang lain yang berada di air segar. Phyrhophyta memiliki variasi nutrisi
yang besar dari autotropik ke bentuk heterotropik yang mana terdapat vertebrata parasit dan ikan
atau alga phagocytiza yang lain.
2.4. Klasifikasi Zooplankton
1. Phylum Rotifera
Jumlah anggota filum ini sedikit, merupakan hewan yang berukuran mikroskopis.
Rotifera adalah hewan bersel banyak(setiap species memiliki jumlah sel tertentu). Hewan ini
seringkali menempel di objek yang ada dalam air,dengan mempergunakan jari kaki. Makanan
rotifera berupa mikroorganisme yang ada dalam air. Disekitar mulut terdapat silia yang tersusun
secara melingkar (Madical, 2010).
Menurut Timothymalau (2009), menyatakan bahwa rotifera termasuk metazoan yang
paling kecil berukuran antara 40-2500mikron, rata-rata 200 mikron. Umumnya hidup bebas,
solliter,koloni/sessile. Beberapa jenis merupakan endoparasit pada insang crustacea, telur siput,
cacing tanah dan dalam ganggang jenis vaucheria dan volvox. Biasanya transparan , beberapa
berwarna cerah seperti merah atau coklat disebabkan warna saluran pencernaan.
2. Phylum Arthropoda
Arthropoda (dalam bahasa latin artinya:ruas,buku, segmen, dan podos artinya:kaki)
merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas , berbuku atau bersegmen. Segmen tersebut
juga berada pada tubuhnya. Tubuh arthropoda merupakan simetri bilateral dan tergolong
tripoblastik selomata (Guru, 2008).
Menurut Black (2010), menyatakan bahwa ciri umum :kaki tampak seperti bersendi-sendi atau
bersegmen segmen; segmen biasanya bersatu menjadi 2/3 daerah yang jelas. Sebagian hewan
itu tubuhnya dilindungi oleh kulit yang keras (zat kitin) yang berfungsi sebagai rangka luar
anggota tubuh bersegmen berpasangan (asal penamaan arthropoda).
3. Phylum Copepoda
Menurut Zeva (2010), menyatakan bahwa copepoda adalh grup crustacea kecil yang
dapat ditemui dilaut dan hampir semua habitat air tawar dan mereka membentuk sumber tersebar

protein di samudra. Copepoda termasuk zooplankton, dewasanya berukuran antara 1 dan 5 mm


dan biasanya dimanfaatkan sebagai pakan larva ikan.
Menurut Sutomo (2003) dalam Akuakultur (2008), copepoda laut jenis tirgropus
brevicornis dapat hidup pada kisaran salinitas yang cukup luas yakni mulai dari 10-40 ppt,
namun pada salinitas 10 ppt tidak didapatkan copepoda yang bertelur. Hasil penelitian lain
menyatakan bahwa copepoda dapat dikultur dari air laut dengan salinitas 25 30 ppt.
2.5. Parameter Kualitas Air dan Faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton
1. Suhu
Suhu yang optimal untuk budidaya plankton berkisar antara 20-24 % walaupun hal ini
dapat bervariasi dengan dekomposisi media budidaya dan mikro alga toleran suhu 16-27 oC.
Suhu dibawah 16 oC dapat menghambat pertumbuhan. Sedangkan suhu 36 oC adalah mematikan
untuk beberapa jenis (Ekawati,2006).
Faktor-faktor yang mempengeruhi suhu antara lain musim, ketinggian permukaan laut
(attitude), waktu dalam hari,sirkulasi udara, penutup awan dan aliran serta kedalaman bahan air.
Pengaruh suhu juga didasarkan oleh organisme aquatic. Organisme aquatic mempunyai kisaran
suhu tertentu (batas atas dan bawah) yang disukai bagi pertumbuhannya. Misalnya algae dari
filum chlorophyta dan diatom akan tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 20 oC-30 oC (Hastun
dalam Effendi.2008).
2. pH
Kisaran PH untuk budidaya algae antara 7-9 dalam kisaran yang optimal 8,2 - 8,7.
Kegagalan dalam budidaya algae dapat disebabkan oleh kegagalan dalam mempertahankan pH
media budidaya. Hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan aerasi (Ekawati,2005).
Menurut Chalik (1988), pH adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan
menunjukkan suasana air tersebut, apakah bereaksi asam atau basa. Skala pH mempunyai deret
1-14, dan pH 7 adalah netral berarti air tidak bersipat asam atau basa. Bila materi pH dibawah 7
berarti asam dan bila diatas 7 berarti basa.

3. Kecerahan

Banyaknya cahaya yang menembus permukaan laut dan memerangi. Lapisan permukaan
laut setiap hari dan perubahan intensitas dengan bertambah banyak kejelasan peran yang penting
dalam menentukan pertumbuhan fitoplankton (Ramimintarto,2001).
Kecerahan atau kekeruhan air disebabkan oleh adanya partikel-partikel liat,lumpur, atau
lainnya yang mengendap dan memisah nilai guna dasar perairan yang merupakan daerah
pemijahannya dan habitat sebagai organism (Subarjanti,2005).
4. DO
Apabila sudah terjadi derisiensi oksigen dan kandungan amoniak tinggi, maka seringkali
menyebabkan kematian biota-biota hewani seperti zooplankton, benthos, maupun ikan yang
hidup diperairan tersebut (Subardari,2009).
Oksigen terarut (DO) merupakan parameter penting untuk mengukur pencemaran air. Walaupun
oksigen(O2) sulit larut, tapi dibutuhkan banyak oleh semua jenis organism air. Tahap adanya
oksigen tidak ada kehidupan tanaman dan binatang diperairan (Sutrisno,2009).

BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Pratikum lapang Planktonologi dilaksanakan pada hari Minggu 3 Maret sampai
dengan 20 Maret 2013, bertempat di Balai Benih Ikan (BBI) Fakultas Pertanian Universitas
Islam Riau.
3.2. Bahan dan Alat

3.2.1. Bahan

Pupuk kandang (Kotoran sapi dari BPTP Pekanbaru)

Pupuk Organik Cair (Viterna)

Pupuk Organik Cair (Raja ikan)

Pupuk Organik (Vitsal)

Air sumur bor

Bibit plankton dari kolam BBI

Tissu
3.2.2. Alat

Wadah kultur (toples berukuran 10 liter sebanyak 12 Buah)

Selang aerasi

Keran aerasi

Batu aerasi

Lampu neon

Plankton net

Pipet tetes

pH meter

DO meter

Termometer

Gelas Ukur

Mikroskkop

Objek dan Coverglass


3.3. Metode
3.3.1. Prosedur Penelitian
a. Persiapan Media

1. Wadah kultur sebelum digunakan dicuci terlebih dahulu serta disterilkan dengan mencuci dengan
air mendidih.

2. Apabila sterilisasi telah selesai dilakukan, wadah kultur tersebut disusun secara acak diatas meja.
3. Toples kemudian diisi dengan air dari sumur bor sebanyak 4,5 liter.
4. Rebus pupuk kandang dengan dosis 3 gram per liter. Untuk kultur plankton ukuran air 5 liter
didapat :
3 gr x 5 liter x 12 toples = 180 gram
Perebusan pupuk yang akan digunakan adalah untuk membunuh organisme penggangu yang
terdapat dalam pupuk kandang yang akan digunakan. Setelah dilakukan perebusan, dilanjutkan
dengan pendinginan terhadap air rebusan kotoran yang akan digunakan selama lebih kurang 15
menit.
5. Tambahkan Pupuk Organik Cair Viterna dengan dosis yang berbeda yaitu : 1 ml/lt ; 1,5 ml/lt ;
dan 2 ml/lt masing-masing 3 kali ulangan. Tambahkan Pupuk Organik Cair Vitsal dengan dosis
yang berbeda yaitu : 1 ml/lt ; 1,5 ml/lt ; dan 2 ml/lt masing-masing 3 kali ulangan. Tambahkan
Pupuk Organik Cair Raja ikan dengan dosis yang berbeda yaitu : 1 ml/lt ; 1,5 ml/lt ; dan 2 ml/lt
masing-masing 3 kali ulangan
6. Bibit plankton didapat dari air kolam BBI Fakultas Pertaian Universitas Islam Riau.

b. Pelaksanaan
Air rebusan pupuk kandang tadi dimasukkan kedalam wadah kultur (stoples) sebanyak 0,5
liter/wadah dan diaerasi. Setelah itu masukkan bibit planton dari air kolam yang telah disaring
dengan plankton net ke dalam masing masing media kultur dengan volume yang sama.
Pegamatan dilakukan selama 2 minggu setiap 2 atau 3 hari sekali. Setiap pengamatan dicatat
jenis dan jumlah kepadatan masing masing perlakuan.
3.3.2. Parameter Kualitas Air

Parameter kualitas air seperti oksigen terlarut dan pH diukur pada awal dan akhir
penelitian.Untuk suhu diukur setiap hari selama penelitian. Adapun alat yang digunakan untuk
mengukur parameter kualitas air seperti pH diukur dengan mengunakan pH meter, suhu diukur
dengan termometer yang dilakukan pengukuranya sebanyak tiga kali dalam satu hari yaitu pada
pagi (08.00 Wib) , siang hari (12.00 Wib), dan sore hari (17.00 Wib). Oksigen terlarut diukur
dengan menggunakan DO meter.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Dari hasil praktikum didapat 7 jenis phytoplankton yaitu : Oscillatoria sp, Lyngbya sp,
Mycrocystis sp, Selenastrum,Spirulina,Crucigenia,Nitzchia dan 1 jenis zooplankton Moina sp.
4.2. Pembahasan
4.2.1. Perkembangan plankton
Pertumbuhan plankton di pengaruhi oleh ketersediaan makanan didalam perairan dan
juga pertumbuhan plankton dipengaruhi oleh unsur hara yang terkandung di dalam kolam

karena unsure hara ini di manfaatkan oleh phytoplankton untuk mendukung terjadinya proses
fotosintesis dan sekaligus unsure hara merupakan makanan utama bagi phytoplankton. Dari
praktek yang telah dilakukan maka didapatlah hasil pertumbuhan plankton pada kolam
percobaan.
Pertumbuhan plankton mulai mengalami pelimpahan padahari kedu itu dikarenakan
unsur-unsur hara yang ada didalam kolam sudah mengalami proses dekomposisi dengan baik dan
menghasilkan makanan yang baik bagi phytoplankton sehingga phytoplankton dapat
berkembang dengan baik pula, dan phytoplankton dapat menjadi makanan utama bagi
zooplankton. Dengan kata lain didalam wadah percobaan terjadinya interaksi
individu dengan individu lainnya.Dan

antara satu

plankton jenis Microcytis yang dominan dijumpai .

Dengan menggunakan pupuk Organi Cair yaitu Viterna .Dan Plankton yang sangat jarang
dijumpai adalah jenis Nitzchia.
Plankton adalah makhluk ( tumbuhan atau hewan ) yang hidupnya, mengambang,
atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya terbatas sehingga mudah terbawa arus
dan juga bergerak tergantung arus, plankton bergerak hanya menggunakan tentakel-tentakel yang
ada pada tubuhnya, dia bergerak dengan cara memanjangkan dan memendekan tentakelnya.
Plankton adalah organisme atau makhluk hidup yang halus dan disebut pula sebagai
jasad-jasad renik yang melayang di dalam air. Istilah plankton dari bahasa Yunani, yang artinya
drifting, yaitu berarti plankton hanya dapat melayang di dalam kolam air, tidak bisa bergerak,
dan hanya bergantung pada kecepatan arus (Adnan, 2003). Saat kita melakukan praktikum
sebaiknya kita mengukur suhu, pH dan amoniak pada masing- masing perlakuan yang terdapat
pada tabel I.
Tabel 1. Pada hari pertama pengukuran suhu
N
SUHU
PAGI
O
1
30,50C

31,90C

31,50C

Tabel 2. Pada hari kedua pengukuran suhu


N
SUHU
O

SIANG

SORE

PAGI

SIANG

SORE

30,000C

32,10C

31,50C

Tabel 3. Pada hari ke3 penegukuran suhu


N
SUHU
O
1
30,10C
2

31,90C

30,70C

PAGI

SIANG

SORE

Tabel 4. hari ke 4 pengukuran suhu


NO

SUHU

29,80C

31,80C

30,90C

PAGI

32,20C

31,00C

Tabel 6. hari ke 6 pengukuran suhu


N
SUHU
PAGI
O
1
24,40C

31,80C

23,50C

SORE

Tabel 5. hari ke 5 pengukuran suhu


N
SUHU
PAGI
O
1
24,10C

SIANG

SIANG

SORE

SIANG

SORE

Tabel 7. Hari ke 7 pengukuran suhu


N
SUHU
PAGI
O
1
28,60C

30,80C

24,40C

Tabel 8. Hari ke 8 pengukuran suhu


N
SUHU
PAGI
O
1
25,10C

31,30C

31,10C

Tabel 9. Pada hari ke 9 pengukuran suhu


N
SUHU
PAGI
O
1
30,70C

32,30C

31,20C

SIANG

SIANG

31,20C

31,10C

SORE

SIANG

SORE

Tabel 10. Pada hari ke 10 pengukuran suhu


N
SUHU
PAGI
SIANG
O
1
30,40C

SORE

SORE

Tabel 11. Pada hari ke 11 pengukuran suhu


N
SUHU
PAGI
SIANG
O

SORE

30,50C

31,30C

31,80C

Tabel 12. Pada hari ke 12 pengukuran suhu


N
SUHU
PAGI
SIANG
O
1
30,10C

30,60C

30,30C

Tabel 13. Pada hari ke 13 pengukuran suhu


N
SUHU
PAGI
SIANG
O
1
30,20C

31,40C

31,80C

SORE

SORE

4.2.2. Kandungan Hara Pupuk Kandang


Pupuk kandang adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak, baik berupa
padatan (feces) yang bercampur sisa makanan, ataupun air kencing (urine). Walaupun demikian
sepertinya orang-orang sepertinya enggan membicarakan kotoran cair yang berupa urine ternak.
Dalam hal ini mengumpulkan kotoran padat memang jauh lebih praktis dibanding urin ternak.
Padahal dari segi kadar haranya, urine jauh lebih tinggi dibanding feces.
Kadar hara kotoran ternak berbeda-beda karena masing-masing ternak mempunyai
sifat khas tersendiri. Makanan masing-masing ternak berbeda-beda. Padahal makanan inilah
yang menentukan kadar hara. Jika makanan yang diberikan banyal mengandung hara N, P dan K
maka kotorannyapun akan kaya dengan zat tersebut.
Selain jenis makanan usia ternak juga menentukan kadar hara dalam kotorannya.
Ternak muda akan menghasilkan feses dan urine yang kadar harannya rendah terutama N, karena
ternak muda memerlukan sangat banyak zat hara N dan beberapa macam mineral dalam
pembentukan jaringan tubuhnya. berikut komposisi unsur hara kotoran dari berbagai jenis ternak.

KOMPOSISI UNSUR HARA KOTORAN DARI BERBAGAI JENIS TERNAK


Jenis Ternak
Nitrogen

Kadar Hara (%)


Phospor
Kalium

Selain
air

Sapi
-padat

0.40

0.20

0.10

85

-cair

1.00

0.50

1.50

92

-padat

0.60

0.30

0.17

60

-cair

1.50

0.13

1.80

85

1.00

0.80

0.40

55

Kambing

Ayam
-padat

-cair
1.00
0.80
0.40
55
mengandung 3 unsur di atas pupuk kandang mempunyai kandungan unsur hara mikro yang
sangat lengkap walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit. Dan sebaiknya saat kita
membicarakan pupuk kandang, janganlah kita terpatok pada kandungan haranya saja, namun
lebih dari itu bahwa pupuk kandang mempunyai kelebihan lain yaitu semakin memperbanyak
dan beragamnya bakteri positif tanah yang ada pada lahan kita, dimana bakteri tersebut sebagian
adalah bakteri penambat N, P dan K sehingga secara tidak langsung bakteri-bakteri tersebut akan
menyediakan unsur hara bagi tanaman kita.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Pada hari kedua mengalami kelimpahan plankton yang sangat banyak dan pesat sekali
perubahannya ,yaitu plankton jenis Microcytis dengan menggunakan pupuk Organik cair yaitu
Viterna .dan plankton yang dominan ada dari hari 1 sampai hari 5 adalah Lyngbya sp.Dan
plankton yang sangat jarang adalah plankton jenis Nitzchia .
Jadi ,dapat disimpulkan bahwa pupuk yang sangat baik untuk perkembangan plankton
adalah Pupuk Organik Cair yaitu Viterna dan pupuk kandang .Dan jumlah plankton yang sangat
banyak dari semua keseluruhan adalah plankton jenis Microcytis dan Lyngbya sp .
Siklus Produksi phytoplankton sangat pendek bila dibandingkan dengan zoo
plankton,akibatnya plankton dapat memperbanyak jumlah secara cepat. Plankton itu mempunyai
sifat yang berbeda dengan jenis lainnya sifatnya yaitu seperti zooplankton yang sifatnya selalu
menjauhi cahaya dan phytoplankton yang suka mendekati cahaya dan memanfaatkan cahaya
tersebut untuk proses fotosintesis, dan plankton juga mempunyai sifat yang suka hidup di
perairan yang kotor.
5.2. Saran
Penulis juga menulis saran pada laporan ini, saran dari penulis yaitu agar praktek
plankton ini lebih sering lagi di laksanakan bertujuan untuk menambah wawasan lagi tentang
plankton bagi para mahasiswa.agar tercapainya tujuan yang diharapkan. Maka dengan itu
sangatlah di perlukan kritik,saran ataupun nasihat demi mendukung tercapainya wawasan ilmu
yang diharapkan.

Laporan Praktikum Plankton


undefined
undefined. undefined

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plankton adalah mikroorganisme yang ditemui hidup diperairan baik di sungai, waduk, danau
maupun diperairan payau dan laut. Organisme ini baik dari segi jumlah dan jenisnya sangat
banyak. Plankton merupakan salah satu komponen utama dalam sistem mata rantai makanan
(food chain) dan jaring makanan (food web). Mereka menjadi pakan bagi sejumlah konsumen
dalam sistem mata rantai makanan dan jaring makanan. Mikroorganisme (plankton) ini ada yang
dapat bergerak aktif sendiri seperti bahwa hewan dan kita sebagai hewani (zooplankton) dan ada
juga plankton yang dapat melakukan asimulasi (photosyntesis) seperti halnya tumbuhan.
Kelompok ini disebut plankton nabati (phytoplankton). Plankton juga mempunyai kemampuan
berkembang biak dengan cepat dan dapat dengan mudah dibudidayakan secara massal, sehingga
tidak perlu dikhawatirkan mereka akan punah. (Rizky,2009)
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan dari materi Penggunaan Mikroskop adalah
- Menambah ketrampilan mahasiswa terutama dalam penggunaan mikroskop dan memelihara
mikroskop
- Menambah kemampuan mahasiswa untuk menghitung luas bidang pandang
1.2.2 Tujuan dari materi Jenis dan Klasifikasi Plankton adalah
- Menambah pemahaman mahasiswa tentang jenis dan klasifikasi plankton
- Menambah ketrampilan mahasiswa dalam identifikasi plankton
1.2.3 Tujuan dari materi Kelimpahan Plankton adalah
- Menambah pemahaman mahasiswa tentang jenis dan kelimpahan plankton
- Menambah ketrampilan mahasiswa dalam menghitung kelimpahan plankton
1.2.4 Tujuan dari materi Pengumpulan Plankton adalah
- Menambah pemahaman mahasiswa tentang pengumpulan plankton
- Menambah ketrampilan mahasiswa terutama dalam penentuan lokasi dan pengambilan sampel
plankton
1.3 Tempat dan Waktu
Pelaksanaan praktikum Planktonologi ini pertama dilakukan di Balai Benih
Ikan Jalan Mawar Putih 86 Sidomulyo Punten, Batu pada tanggal 16 November 2009 pukul
07.00 15.00 WIB.
Dan kedua dilakukan di Laboratorium Hidrologi gedung C lantai 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, pada tanggal 21 November 2009 pukul 07.00 10.00 WIB

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Materi Pengumpulan Plankton
2.1.1 Parameter kualitas air dan faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan plankton :
2.1.1.1 Parameter fisika
Suhu
Menurut Cholik. Etall (1996), suhu sangat berpengaruh terhadapproses kimiawi dan biologi.
Kaidah umum menunjukkan bahwa reaksi kimia dan biologi meningkatkan lipat dua untuk setiap
kenaikan suhu sebesar 10oC.Hal ini dapat diartikan bahwa jasad perairan akan menggunakan
oksigen terlarut dua kali lebih banyak pada suhu lebih kritis dalam air bersuhu tinggi dibanding
dengan yang rendah.
Pertumbuhan dari kehidupan biota budidaya sangat dipengaruhi suhu air. Umumnya batas-batas
tertentu kecepatan pertumbuhan biota meningkat sejalan dengan naiknya suhu air. Sedangkan
derajat kelangsungan kehidupan bereaksi sebaliknya terhadap kenaikan suhu (Kordi dan Andi,
2007).
Kecerahan
Kecerahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan kedalam air dan dinyatakan dalam persen
dari beberapa panjang gelombang didaerah spectrum yang terlihat cahaya yang
melampauilapisan sekitar 1 meter, jatuh agak lurus pada permukaan air. Kemampuan cahaya
matahari untuk menembus sampai kedasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (terbidity)
air,kekeruhan dipengaruhi oleh (1) benda-benda halus yang disuspensikan seperti lumpur dan
sebagainya,(2) adanya jasad-jasad renik (plankton) dan (3) warna air (Kordi dan Andi,2007).
Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan, kecerahan merupakan ukuran transparansi
perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchidisk (Effendi, 2003).
2.1.1.2 Parameter Kimia
Oksigen Terlarut (DO)
Menurut Kordi dan Andi (2007) dilihat dari jumlahnya oksigen adalah satu jenis gas terlarut
dalam air dengan jumlah sangat banyakyaitu menempati ukuran kedua setelah nitrogen. Namun

jika dilihat dari segi kepentingan untuk budidaya perairan oksigen menempati urutan teratas,
oksigen yang diperlukan biota air untuk pernafasannya harus terlarut dalam air. Oksigen
merupakan salah satu factor pembatas sehingga bila ketersediaanya didalam air tidak mencukupi
kebutuhan biota budidaya, maka senjata aktivitas biota akan terhambat.
Menurut Barnis (2005), sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari
udara melalui kontak antara permukaaan air dengan udara dan dari proses fotosintesis
selanjutnya air kehilangan oksigen melalui perlepasan dari permukaan ke atmosfer dan melalui
kegiatan respirasi dari semua organisme air.
Karbondioksida (CO2)
Menurut Kordi dan Andi (2007), karbondioksida (CO2) atau biasa disebut orang sangat mudah
larut dalam suatu larutan. Pada umunya perairan alam mengandung karbondioksida sebesar
2mg/l. Pada konsentrasi yang tinggi (> 10mg/l), karbondioksida dapat beracun, karena
keberadaanya dalam darat dapat menghambat pengikatan oksigen oleh hemoglobin.
Sumber karbon utama dibumi adalah atmosfer dan perairan, terutama lautan. Laut mengandung
karbon lima puluh kali lebih banyak daripada karbon diatmosfer (Effendi,2003).
pH
Menurut cholik. et all (1986). pH adalah ukuran dari konsentrasi ion hydrogen dan menunjukkan
suasana air tersebut apakah bereaksi asam atau basa. Skala pH mempunyai deret 0-14 dan pH 7
adalah netral, berarti air tidak bersifat basa ataupun asam. Bila nilai pH dibawah 7 berarti air
tersebut asam dan bila diatas 7 berarti basa. Secara alamiah, pH perairan dipengaruhi oleh
konsentrasi karbondioksida dan senyawa bersifat asam. Fitoplankton dan tanaman air lainya akan
mengambil karbondioksida dari air selama proses fotosintesis sehingga mengakibatkan pH air
meningkat dari siang hari dan menurun pada waktu malam hari.
pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik.
Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh hewan budidaya pada pH rendah,
kandungan oksigen terlarut akan berkurang (Kordi dan Andi,2007).
TOM (total organic matter)
Menurut Sutrisno dan Suciastuti (2004), zat organic yang terdapat didalam air bias berasal dari :
- Alam, minyak tumbuh-tumbuhan, serat-serat minyak dan lemak hewan, alcohol, gula, pati,
sellulose, dan sebagainya.
- Sintesa berbagai persenyawaan dan buah-buahan yang dihasilkan dari proses-proses dalam
pabrik.
- Fermentasi, alcohol, aseton, glycerol, antibiotic,asam-asam dan sejenisnya yang berasal dari
kegiatan mikroorganisme terhadap bahan-bahan organic. Adanya bahan organic erat dengan
perubahan sifat fisik air seperti warna , bau, rasa dan kekeruhan itu sendiri, jasad mati
merupakan sumber nutrisi jasad heterotrofik buangan berbentuk CO2, H2O,alcohol, asam asetat,
NH, dan sebagainya. Beberapa digunakan sebagai sumber nutrisi jasad heterotrofik.
Nitrat
Menurut Yuli dan Kusriani (2005), nitrat adalah sumber nitrogen dalam air laut maupun tawar.

Bentuk kombinasi lain dari element isi bias tersedia dalam bentuk amonia, nitrit dan komponen
organic. Kombinasi element ini sering dimanfaatkan oleh fitoplankton terutama kalau unsure
nitrat terbatas. Pemanfaatan nitrat oleh fitoplankton mencakup konversi nitart menjadi amonia
sebelum diasimilasi oleh material sel.
Menurut Barrus (2001), nitrat adalah merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan
untuk dapat tumbuh dan berkembang.
Phosphat
Pada perairan alami, phosphorus terdapat dalam bentuk terlarut baik dalam bentuk organic atau
anorganik dan Orthophospat kelihatan merupakan sumber utama phosphorus. Sel fitoplankton
dapat mengakumulasi phosphat jika nutrient tersedia dalam jumlah yang berlebih. Hal ini disebut
Luxury consumtion, phosphat tersebut selanjunya akan dimanfaatkan kalau sumber juga bias
dimanfaatkan oleh beberapa spesies fitoplankton selama defisiensi phosphat anorganik (Yuli dan
Kusriani, 2005).
Menurut Dugon (1972) dalam Effendi (2003), fosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat
dimanfaatkan oleh tumbuh-tumbuhan. Fosfat yang berikatan dengan Ferri (Fe2(PO4)) bersifat
tidak dan mengendap didsar perairan.
2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan
A. Fitoplankton
Fisika
1. Suhu
Aktivitas fotosintesis oleh fitoplankton bisa terjadi pada kondisi suhu yang ekstrim seperti
habitat antarfik dengan suhu dibawah OoC dan tropical muaflat yang suhunya mencapai 30oC
atau bahkan lebih. Pengamatan dilapangan memang menunjukkan fluktuasi yang mempunyai
pola musiman yang dikontrol oleh temperature (Yuli dan kusriani,2005).
2. Kecerahan
Menurut Nantji (1986), fitoplankton bisa ditemui diseluruh masa air melalui dari permukaan laut
sampai pada kedalaman dengan intensitas chaya yang memungkinkan terjadinya fotosintesis.
Banyaknya cahaya yang menembus permukaan laut dan menerangi lapisan permukaan laut
setiap harridan perubahan intensitas dengan bertambahnya memegang perairan penting dalam
menentukan pertumbuhan fitoplankton. (Rommimohtartodan Juwana, 2001).
Kimia
1. pH
Kisaran pH untuk budidaya alga 7-9 dengan besaran yang optimal 8,2; 8,7 kegagalan dalam
budidaya alga dapat disebabkan oleh kegagalan dalam mempertahankan pH media budidaya. Hal
tersebut dapat diatasi dengan penggunaan aerasi (Ekawati,2005).
Secara alamiah pH perairan dipengaruhi oleh konsentrasi karbondioksida da senyawa yang
bersifat asam. Fitoplankton dan tumbuhan air lainnya akan mengambil CO2 dari air selama
proses fotosintesis, sehingga mengakibatkan pH air meningakat pada siang hari dan menurun
pada malam hari (Wirawan, 1995).

2. Nitrat
Menurut Yuli dan Kusriani (2005), nitrat adalah sumber nitrogen dalam air laut maupun air
tawar. Bentuk kombinasi lain dari element ini biasa tersedia dalam bentuk amonia, nitrit dan
komponen organic. Kombinasi element ini sering dimanfaatkan fitoplankton terutama kalau
unsure nitrat terbatas, nitrogen terlarut juga bisa dimanfaatkan oleh jenis blue green algae dengan
fiksasi nitrogen. Pemanfaatan nitrogen oleh fitoplankton mencakup konversi nitart menjadi
amonia sebelum diasimilasi oleh material sel. Oleh karena itu pengambilan komponen
ammonium dalam pengukuran jauh lebih bermanfaat, sementara dari percobaan culture
menunjukkan bahwa ammonium N lebih disukai dalam bentuk nitrat, dan unsur nitrat ternyata
tersedia dalam jumlah yang diperairan alami.
Menurut beberapa peneliti kadar N diperairan sangat kecil, umunya kurang dari 5 ppm,
sedangkan batas minimal untuk tumbuh algae adalah 0,35 ppm. Nitrogen tidak selalu menjadi
factor pembatas bagi semua algae, misalnya dari jenis diatome dan cyanophyceae walaupun
unsure N ini merupakan bagian dari protoplasma jasad-jasad tersebut (Subahjanto,2005).
Biologi
1. Substrat
Dalam budidaya fitoplankton, media kultur digunakan sebagai tempat bertumbuh dan
berkembang biak. Menurut Suriawira (1985), susunan bahan baik bahan alami maupun bahan
buatan yang digunakan untuk perkembangan dan berkembang biakan mikro dinamakan media.
Media yang digunakan dalan budidaya fitoplankton berbentuk cair yang didalamnya terkandung
beberapa senyawa kimia (pupuk) yang merupakan sumber nutrient untuk keperluan hidupnya.
Selanjutnya menurut Chen J dan H. PC. Slaelye (1991) dalam Nelvy.D dan Sudjiharno (2002),
pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton memerlukan berbagai nutrient yang diabsorbsi dari
luas (media). Hal ini berarti keterangan unsure mikro nutrient dan makro nutrient dalam media
tumbuhnya mutlak diperlukan.
2. Kompetisi
Organisme akan mengadakan kompetisi satu sama lain dan hal ini menyebabkan kondisi
interfisik dalam memenfaatkan, sumber energy maksimum. Biasanya digunakan untuk kapasitas
reduksi yang berlebihan kelimpahan fitoplanktonadalah lebih sedikit dalam kolam 10-25%
dibandingkan kolam 0 dan 5% menutupi kolam, kompetisi sejenis bunga baku dengan
fitoplankton yang berhubungan dengan macrophytes lain untuk mengurangi efisiensi
fitoplankton dalam kolam (Musa dan Yanuhar, 2006).
3. Predasi
Kontaminasi oleh bakteri protozoa atau spesies lain merupakan masalah yang serius dalam
budaya mikroalga mono spesifik atau axenix (Ekawati, 2005).
B. Zooplankton
Fisika
1. Suhu

Pemilihan suhu yang optimal untuk budidaya pada pembesaran tergantung dari tipe
morfologinya, small type dan long type juga berbeda dalam kebutuhanya terutama suhu optimal
untuk pertumbuhannya. Suhu optimal antara 15-25oC. pada umumnya peningkatan suhu didalam
batas-batas optimal biasanya mengakibatkan aktivitas reproduksi juga meningkat (Ekawati,
2005).
2. Kecerahan
Kecerahan atau kekeruhan air disebabkan oleh adanya partikel-partikel liat lumpur atau lainya
yang mengendap, akan merusak nilai guna dasar perairan yang merupakan daerah pemijahan dan
habitat berbgai organism (Wirawan, 1992).
Banyaknya cahaya yang menembus permukaan laut dan menerangi lapisan permukaan air laut
setiap hari dan perubahan intensitas dengan bertambahnya memiliki peranan penting dalam
menentukan pertumbuhan fitoplankton (juga zooplankton yang ada didalamnya)
(Rommimohtarto dan Juwono, 2001).
Kimia
1. pH
Zooplankton biasanya banyak terdapat diperairan yang kaya bahan organic, zooplankton alam
hidup pada pH > 6,6, sedangkan pada kondisi biasa yang optimal hidup pada kondisi pH 6-8
(Ekawait, 2005).
pH merupakan salah satu bagian dari factor yang sangat berpengaruh terhadap banyak tidaknya
kelimpahan zooplankton disuatu perairan, adapun pH optimum yang baik untuk pertumbuhan
atau kelimpahan zooplankton disuatu perairan alami adalah pH antara 6,2-8.6
(www.research.vi.oc.id, 2005).
2. DO (Oksigen Terlarut)
Porifera merupakan salah satu zooplankton yang dapat bertahan hidup di air dengan kadar
oksigen terlarut yang rendah yakni 2mg/l. tingkat oksigen tertinggi dalam air budidaya
tergantung apda suhu, salinitas, kepadatan, jenis makanan yang yang digunakan (Ekawati, 2005).

3. TOM
Menurut Barrus (2001), sebagian besar zooplankton menggantungkan sumber nutrisinya pada
materi organic, baik berupa fitoplankton maupun detritus.
Biologi
1. Substrat
Menurut Subahjanti (2005), zooplankton biasanya banyak terdapat diperairan yang kaya akan
bahan organic karena sebagai makananya.
2. Kompetisi
Organisme yang mengadakan kompetisi satu sama lain dan hal ini menyebabkan kompetisi inter
spesifik dalam memenfaatkan sumber energy maksimum, biasanya digunakan untuk kapasitas
reproduksi yang berlebihan (Musa dan Yanuhar, 2005).

3. Predasi
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat
sebab tanpa mangsa, predator tidak dapat hidup, sebaliknya predator juga berfungsi sebagai
pengontrol populasi mangsa, seperti adanya zooplankton sebagai pemangsa fitoplankton yang
ada diperairan (Pendamping praweda biologi, 2001).

2.2 Materi Penggunaan Mikroskop


2.2.1 Pengertian Mikroskop
Menurut Putra dan Permana (2000), mikroskop adalah peralatan yang digunakan untuk
memperbesar gambaran objek atau specimen yang berukurab kecil
Bagian-bagian mikroskop dan fungsinya adalah :
- Okuler : sebagai pembesar objek 10 x ukuran sebenarnya.
- Tangkai : sebagai penyokong body.
- Body : sebagai tempat system lensa.
- Revolver : untuk membantu dalam memilih daya perbesaran
tertentu.
- Obyektif : untuk memperbesar objek.
- Meja preparat : untuk tempat objek dan slide mikroskop berfungsi
untuk memindahkan objek ketempat yang bisa
terlihat dengan jelas.
- Kondensor : untuk mengkondersasikan cahaya yang masuk
melalui mikroskop.
- Diafragma : untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk
melalui kondensor
- Pengatur kondensor : untuk menaikkan atau menurunkan kondensor,
membantu untuk mengatur pemusatan cahaya ke
objek.
- Tombol pengatur
Focus : untuk mengatur secara kasar dan halus.
- Sumber cahaya : untuk menyediakan cahaya terang/putih untuk
melihat objek
- Kaki : untuk menyokong mikroskop dan juga untuk
membawa mikroskop
2.3 Materi jenis dan klasifikasi plankton
2.3.1 Pengertian plankton
Menurut yuli dan kusriani (2000) ,plankton adalah organisme hidup yang melayang dalam air
laut atu air tawar dan pergerakannya secara pasif tergantung pada arus dan angin.
Plankton adalah biota yang hidup di pintaka pelagic dan mengapung, menghambat atau berenang
sangat lemah, artinya mereka tidak dapat melawan arus plankton terdiri dari fitoplankton atu

plankton tumbuhan dan zooplankton atau plankton hewan (rommimohtarto dan juwana)
2.3.2 Pengelompokan plankton
a. berdasarkan ukuran
menurut yuli dan juwano (2005), euplankton bisa di klasifikasi secara artifosial berdasarkan
ukuran yaitu :
Makroplankton :plankton yang ukurannya >3 mm
Mikroplankton :plankton yang ukurannya < 3mm
Nanoplankton :plankton yang tertangkap dengan net
plankton ukuran 25 sehingga diameternya
lebih kecil dari plankton 60 mikron.
b. Berdasarkan asal
menurut Herawati (1989) ,plankton bisa di klasifikasakan berdasatkam asal, yaitu:
Aurogenetik plankton :plankton yang berasal dari perairan
sendiri
Allogenetik plankton :plankton yang berasal dari perairan lain
c.Berdasarkan siklus hidup
Menurut Herawati (1989),Plankton bisa di klasifikasikan berdasarkan siklus hidup, yaitu:
Holoplankton :plankton yang seluruh hidupnya tidak pernah
keluar dari sifatnya sebagai plankton
Mesoplankton :plankton yang mempunyai karekteristik hanya
sementara saja dri siklus hidupnya bersifat
sebagai plankton
Tycopalnkton :plankton yang sebagian siklus hidupnya sebagai
plankton dan setelah dewasa menjadi organism lain seperti sea bass
d. Berdasarkan Habitat
Menurut Herawati (1989), plankton dibedakan menjadi:
Limnoplankton :jeni plankton yang hidup di parairan danau
Rheopplankton :jenis plankton yang hidup di lingkungan sungai
Haliplankton :jenis plankton yang hidup di laut
Hipalmesoplankton :plankton yang hidup di daerah estuari.
Hypapplankton :plankton yang hidup mendekat dasar
perairan
Epiplankton :plankton yng hidup di zona eupotik
Bathiplankton :plankton yang biasa hidup di daerah zona apothik
Mesoplankton :plankton yang hidup di daerah zona disphotik
e.Berdasarkan jenis makanannya
menurut Herawati (1989), berdasarkan jenis makanannya plankton di bedakan menjadi 2 yaitu:
Plankton tanaman disebut fitoplankton
Zooplankton terdiri dari plankter yang makanannya bersifat holosit termasuk semua jenis
semua planton hewani
2.3.3 Ciri-ciri plankton

a.phylum chlorophyta
menurut Herawati (1989), cirri chlorophyta antara lain:
Berwarna hijau karena mempunyai proporsi pigmen pada chloroplas nya jauh lebih baik
Tersebar luas paada daerah air stagner dari perairan tawar sampai kelaut tetapi lebih spesifik
pada perairan tawar
Reproduksinya secara seksual
Dinding selnya bagain bawah terdiri dari selulosa yang dilapisi jaringan pectin
Bisa menyebabkan blooming perairan jika mereka membentuk lapisan pectin dan tebal
b. Phylum Chyanophyta
Menurut Herawati (1989) cirri Cyanophyta antara lain:
Mengandung pigmen kebiruan cphycocianin dan sering juga pigmen kemerahan
Variasi warna disebabkan oleh clorofil ,care tonoid,phyloocoanin,plycococoid,dan kadang
kadang juga oleh pigmen sel serta refraksi warna oleh pseudova
Tidak mempunyai membrane nucleus dan nukleous
Reproduksi aseksual
Sering menyebakan blooming perairan
Hidup meleyang pda atau dekat permukaan
Hidup secara berkoloni
Jika mati menghasilkan bau busuk
c.Phylum Chryscphyta
Menurut Herawati ,cirri-ciri Chryscphyta antara lain:
Bersift bentis atau bahkan arsial dan tertestial,sedangkan lainnya bersifat ephiphytic/epizopic
Dapat berkembang cepat sebagai ,flora planktonik
Merupakan tanaman satu sel
Sel diatom terdiri dua bagian disebut value. Bagian atau atsas epiteca dan bagian bawah
hypoteca
Value mengandung silica
Reproduksinya dengan cara pembesaran sel dan pembentukan spora
Reproduksi seksual
d.Phylum Rhodophyta
Dalam selnya mempunyai dinding yang terdiri dari selulosa dan agar karagen.tidak pernah
menghasilkan sel-sel berflagel.pigmen klorofil terdiri dari klorofil A dan P,pigmenn fikobilin
terdiri dari fitoetrin dan tikosia yang sering disebut pigmen aksesoris.pigmen tersebut ada dalam
kloroplas cadangan makanan berupa tepung holidea dan berada diluar klorofil.Reproduksi secara
vegetative dilakukan dengan frekmentasi rhodophyta memberi bermacam-macam spora,dan
pospora(spora seksual) sperta nektral, monopora ,tetrasporo, biospora, polispora (Davisi ,1995)
2.4 Materi Kelimpahan plankton
2.4.1 Tingkat kesuburan perairan

a.Kesuburan perairan berdasarkan kelimpahan fitoplankton


Menurut Ladner (1976) dalam wikepedia (2008) ada 3 pembagian
perairan berdasarkan kelipahan fitoplankton:
Oligotrofik :0-2000 individu
Mesotrofik :200- 15000 individu
Eutrofik :15000 individu
b. Kesuburan perairan berdasarkan kelimpahan Zooplankton
Menurut Ladner (1976) ,dalam wikepedia (2008) ada 3 macam pembagian peralatan berdasarkan
kelimpahan Zooplankton:
Oligotrofik :1 individu
Mesotrofik :1 500 individu
Eutrofik :7500 individu
2.4.2 Indek Keragaman
Indek keragaman menurut Shanon wheirer (1949) dalam Djonthani(2000) :
H ~ in .pi
Dimana H= indeks keanekaragaman
Pi=m/h
n= jumlah individu jenis kel 1
N=jumlah total individu
H < 2 ,3026 =keanekaragaman kecil dan kestabilan komunitas rendah
2 , 3026 H >6,9076 =keanekaragaman sedang dan kestabilan komunitas sedang
H > 6,9078 =keanekaragaman tinggi dan kestabilan komunitas tinggi
2.4.3 Indeks Domnasi
Indeks Dominasi (D) menurut Sinpson 1949
D= x 100 %
Dimana D = Indeks dominasi
n =jumlah individu jenis ke i
N = jumlah total Individu
D mendekati O tidak ada jenis yang mendominasi dan D mendekati terdapat jenis yang
mendominasi (Njonthoni , 2008)

3. MATERI DAN METODE


3.1 MATERI PRAKTIKUM
3.1.1 Penggunaan Mikroskop
Materi praktikum adalah pengenalan penggunaan dan pemeliharaan mikroskop setelah dipakai
serta mengetahui cara perhitungan luas bidang pandang. Mikroskop yang dipakai dalam
praktikum ini adalah mikroskop cahaya binokuler dengan cahaya dari lampu listrik. Praktikum
dilakukan diLaboratorium Hirologi Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Brawijaya,
Malang. Selama praktikum praktikan diharapkan mampu menggunakan mikroskop dengan baik
dan benar.
3.1.2 Jenis dan Klasifikasi Plankton
Materi praktikum adalah identifikasi dan pengklasifikasian plankton. Identifikasi merupakan
metode untuk mengetahui jenis atau spesies plankton ynag ada dalam perairan. Identifikasi
merupakan metode kualitatif. Namun hal ini sangat penting jika ingin mengenal plankton lebih
khusus, tidak seperti potensi umum seperti yang telah kita bicarakan terdahulu. Untukitu buku
petunjuk identifikasi sangat diperlukan sekali terutama buku identifikasi untuk plankton didaerah
tropik.
Selain itu pengalaman juga sangat diperlukan dalam melakukan identifikasi. Namun sebagai
pengetahuan dasar, pada praktikum kali ini kita akan mengenal berbagai jenis plankton secara
umum berdasarkan buku identifikasi seperti Needham prescult dan Davis.
3.1.3 Kelimpahan Plankton
Materi praktikum adalah metode penghitungan plankton pada pola distribusi kelimpahannya.
Tempat pengambilan contoh bisa didapat dari kolam, tambak, laut, waduk atau danau.
Sedangkan anialisa akan dilakukan diLaboratorium Hidrologi Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Brawijaya, Malang. Pada praktikum ini setiap praktikan diharapkan mampu
untuk menghitung kelimpahan palnkton.
3.1.4 Pengumpulan Plankton
Materi praktikum adalah pengumpulan atau konsentrasi plankton dalam air dan mengukur
parameter-parameter yang mempengaruhi kehidupan plankton. Tempat pengambilan sampel
adalah diperairan tawar. Selama praktikum,praktikan diharapkan mampu mengoperasikan alat

dan prosedur pengambilan sampel plankton


3.2 Fungsi Alat dan Bahan
Parameter fisika
3.2.1 Suhu
Alat :
- Thermometer Hg : untuk mengukur suhu perairan
Bahan :
- Air Sampel : untuk bahan utama pengukuran yang akan diukur suhunya
3.2.2 Kecerahan
Alat :
- Secchi Disk : alat untuk mengukur kecerahan perairan
- Tali : untuk mengikat secchi disk
Bahan :
- Air Sampel : untuk bahan utama pengukuran yang akan diukur
kecerahannya

Parameter kimia
3.2.3 Karbondioksida (CO2)
Alat :
- Gelas ukur : untuk menakar air sampel yang diambil sesuai takaran
- Erlenmeyer 250 ml : tempat air sampel yang akan direaksikan
- Pipet tetes : untuk mengambil dan meneteskan larutan
Bahan :
- Air Sampel : bahan utama yang akan diukur CO2 nya
- Indikator PP : sebagai indikator suasana basa
- Na2CO3 (0,0454 N) : indikator warna merah muda/pink dan mengikat CO bebas di
perairan menjadi 2NaHCO3.
3.2.4 Nitrat Nitrogen
Alat :
- Spektrofotometer : alat untuk mengukur kadar nitrat nitrogen
- cawan petri : tempat sampel yang diuapkan /tempat kerak
nitrat
- Pipet tetes : untuk mengambil dan meneteskan larutan
- Pipet volum : untuk mengambil aquades
- Bola hisap : alat bantu untuk mengambil larutan
- Beaker glass : tempat larutan yang direaksikan
- Gelas ukur : tempat untuk mereaksikan
- Spatula : untuk mengaduk larutan agar homogen
- Hotplate : memanaskan sampel
- Kertas saring : untuk menyaring
- Cuvet : tempat larutan yang akan diukur dalam

spektrofotometer
- Rak : tempat cuvet
Bahan :
- Asam Fenol Disulfonik : untuk melarutkan kerak nitrat
- Aquades : sebagai pereaksi/pengencer
- NH4OH (1:1) : untuk melarutkan lemak dan minyak dari kerak
nitrat
- Air Sampel : sebagai pembuatan kerak nitrat
- Kertas label : untuk memberi nama pada cuvet
3.2.5 pH
Alat :
- Stopwatch : untuk mengukur waktu
- Kotak pH : untuk mencocokkan warna pada kertas pH
Bahan :
- Kertas pH : untuk mengukur derajat keasaman (pH) dari suatu
perairan
- Air Sampel : untuk bahan utama pengukuran yang akan diukur
PHnya
3.2.6 Oksigen Terlarut (DO)
Alat :
- Botol DO : sebagai tempat air sampel yang akan diukur DOnya
- Buret : sebagai tempat larutan titran dan sebagai alat untuk
titrasi
- Statif : sebagai penyangga buret untuk titrasi
- Selang air : alat membuang cairan bening di atas endapan
- Pipet tetes : untuk mengambil dan meneteskan larutan
Bahan :
- Air Sampel : sebagai bahan utama yang akan diukur DOnya
- MnSO4 : mengikat oksigen
- NaOH+KI : melepas I2 dan membentuk endapan coklat
- H2SO4 pekat : pengkondisian asam dam melarutkan endapan
- Amilum : indiktor warna ungu
- N2S2O3 (0,025 N) : sebagai penitrasi dan mengikat I2 membentuk 2NaI
3.2.7 Orthophosfat
Alat :
- Erlenmeyer 250 ml : tempat air sampel yang direaksikan
- Pipet tetes : untuk mengambil dan meneteskan larutan
- Spektrofotometer : alat untuk mengukur kadar ortofosfat
- Cuvet : tempat larutan yang akan diukur dalam
spektrofotometer
- Rak : tempat cuvet

Bahan :
- Air Sampel : bahan utama yang akan diukur kadar
orthofosfatnya
- SnCl2 : sebagai indikator warna biru
- Ammonium molybdat : mengikat fosfat terlarut membentuk ammonium
phosphomolybdat
- Kertas label : untuk memberi nama pada cuvet

3.2.8 Pengambilan sampel plankton


Alat :
- Plankton net : untuk menyaring sampel plankton dari dalam kolam
- Botol film : untuk menampung sampel plankton dari dalam kolam
- Ember : untuk mengambil air dari kolam untuk disaring
diplankton net.
- Pipet tetes : untuk menenteskan larutan lugol pada sampel plankton
Bahan :
- Air kolam : sebagai bahan ynag diambil sampel planktonnya
- Lugol : untuk mengawetkan sampel plankton
3.2.9 Penggunaan mikroskop
Alat
- Mikroskop binokuler : untuk mengamati plankton
- Objek glass : untuk meletakkan sampel plankton yang akan diamati
- Cover glass : untuk menutup sampel plankton diatas objek glass
Bahan
- Air sampel plankton : sebagai bahan yang diamati planktonnya
- Aquadest : untuk membersihkan objek glass dan cover glass
3.2.10 Penggunaan preparat
Alat
- Nampan plastik : digunakan untuk wadah alat
- Objek glass : untuk meletakkan sampel plankton yang diamati
dibawah mikroskop
- Cover glass : untuk menutup sampel plankton diatas objek glass
- Pipet tetes : untuk meneteskan sampel plankton diatas objek glass
- Washing bottle : sebagai tempat aquadest
- Botol film : sebagai wadah sampel plankton
Bahan
- Air sampel plankton : sebagai bahan yang akan diamati planktonnya
- Aquadest : untuk memebersihkan objek glass dan cover glass
- Tissue : untuk mengelap cover glass dan objek glass

3.2.11 Pengamatan plankton dan perhitungan kelimpahannya


Alat
- Mikroskop binokuler : untuk mengamati plankton
- Objek glass : untuk meletakkan sampel plankton yang
diletakkan dibawah mikroskop
- Cover glass : untuk menutup sampel plankton diatas objek
glass
- Alat tulis : untuk mencatat hasil pengamatan
- Buku prescott : untuk mengidentifikasi jenis plankton yang
ditemukan
Bahan
- Air sampel plankton : sebagai bahan yang diamati planktonnya
- Aquadest : untuk membersihkan objek glass dan cover glass
- Tissue : untuk mengelap cover glass dan objek glass
- Kertas : untuk mencatat hasil pengamatan
3.3 Skema Praktikum
Parameter kimia
3.3.1 Prosedur Pengambilan Sampel DO

- dicatat volumenya
- dimasukkan ke dalam air perlahan-lahan (45o), jangan sampai terjadi gelembung udara
- ditutup bila sudah terisi penuh tanpa ada gelembung dan penutupan dilakukan di dalam air
- dibuka tutup botol DO
- ditambahkan 2ml MnSO4
- ditambahkan 2ml NaOH + KI
- dibolak-balik sampai terbentuk endapan coklat
- ditunggu sampai 30 menit, sampai terlihat batas yang jelas antara endapan dengan aliran di
atasnya
- dibuang air bening diatas endapan dengan selang
- ditambahkan 2ml tetes amilum
- dititrasi dengan Na-thiosulfat 0.025 N sampai jernih pertama kali
- dicatat ml Na-thiosulfat yang terpakai (ml titran)
- dihitung dengan rumus : V titran x N titran x 8 x 1000
V botol DO 4
3.3.2 pH (Potensial Hidrogen)

-dimasukkan dalam perairan

- ditunggu selama 2 menit


- diangkat dari perairan
- dikibas-kibaskan sampai setengah kering
- dicocokkan dengan kotak standard
-dicatat nilai PH yang didapat

3.2.3 Orthofosfat
Ortofosfa
-diambil dengan gelas ukur sebanyak 25 ml
- dimasukkan sampel air ke dalam Erlenmeyer 50 ml
- ditambahkan 1 ml amonium molybdat
- dihomogenkan dengan cara Erlenmeyer digoyang-goyangkan
- ditambahkan 3 tetes SnCl2 dan dihomogenkan
- dimasukkan dalam cuvet
- diukur menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 690 m

3.3.4 Nitrat Nitrogen

-diambil sebanyak 12,5 ml dengan gelas ukur dan dituangkan ke dlm cwn
- dipanaskan hingga berbentuk kerak dan didinginkan
- ditambahkan 0,5 ml asam ferol disulfonik, diaduk dengan spatula
- diencerkan dengan 5 ml aquades
- ditambahkan dengan NH4OH sampai terbentuk warna
- diencerkan dengan aquades sampai 12,5 ml
- dimasukkan dalam cuvet
- diamati kandungan nitrogennya dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 410 m

3.3.5 CO2 (Karbondioksida)

-diambil 25ml dengan gelas ukur


- dimasukkan dalam Erlenmeyer 50 ml
- ditambahkan 1-2 tetes PP (Phenol Ptalein)
- dititrasi dengan Na2CO3 0,0454 N hingga warna larutan menjadi pink untuk pertama kali
- dihitung CO2 bebas = ml (titran) x N (titran) x 22 x 100/ml air sampel (mg/l)

3.3.6 Suhu

- dimasukkan ke dalam perairan, dengan posisi membelakangi matahari


dan jangan sampai tersentuh dengan tangan secara langsung pada
bagian air raksa
- ditunggu sampai air raksa berhenti pada skala tertentu selama 1-2 menit
- dilakukan pembacaan saat termometer masih di dalam perairan
- dicatat dalam skala oC

3.3.7 Kecerahan

- dimasukkan secara perlahan ke dalam perairan hingga batas tidak tampak pertama
- dicatat sebagai d1 diberi tanda dengan karet gelang batas yang tidak tampak pertama kali
- dimasukkan kembali dalam perairan sampai benar-benar tidak terlihat
- ditarik pelan-pelan sampai tampak pertama kali kemudian diberi tanda dengan karet gelang
sebagai d2
- dihitung dengan rumus d = d1 + d2
2

3.3.8 Pembuatan preparat


Air sampel dalam botol film
- dikocok
- diuka tutup botol film
- diambil dengan pipet tetes
- diteteskan pada objek glass sebanyak 1 tetes
- ditutup cover glas dengan kemiringan 450
- diamati dibawah mikroskop
Hasil
3.3.9 pengambilan sampel plankton
Botol film
- dipasang pada plankton net no 25
- diambil air sampel kolam dengan sampler ukuran 5 liter
- disaring dengan plankton net
- diberi alkohol sebanyak 3-4 tetes
- diberi label
Hasil
3.10 Penggunaan mikroskop
Mikroskop
- objek glass dan cover glass dibersihkan dengan aquadest
- dikeringkan dengan tissue secara searah
- diambil botol film yang berisi plankton dan dikocok
- dibuat preparat plankton demgan mengambil sampel dari botol film dengan pipet tetes
- diteteskan pada objek glass sebanyak 1 tetes
- ditutup cover glass dengan sudut 450
- diletakkan dibawah mikroskop
- dinyalakan lampu mikroskop
- diatur fokusnya dengan perbesaran 400x
- diamati organisme plankton
- dihitung luas bidang pandang dengan rumus LBP=1/4 .d2
Hasil
3.3.11 pengamatan plankton dan perhitungan kelimpahannya
Preparat
- diletakkan dibawah mikroskop dengan lensa objektif 400x
- ditempatkan dibawah lensa okuler dengan memutar revolver
- lampu dalam mikroskp dinyalakan
- diatur fokus mikroskop dengan perbesaran 400x
- dilihat gambar plankton pada bidang pandang 1-5
- digambar bentuk plankton,ditulis ciri-ciri serta dicatat jumlah plankton
- diidentifikasi dengan buku prescott (1970)
- dihitung kelimpahan plankton dengan rumus N= T X V
LXVXPXW

Hasil

3.3. Analisa Prosedur


3.3.1. Parameter Kualitas Air
a. Parameter Fisika
1. Suhu
Disiapkan alat yang digunakan untuk pengukuran suhu yaitu thermometer Hg. Thermometer
dimasukkan dalam perairan dengan membelakangi matahari agar tidak ada pengaruh suhu dari
panas matahari. Ketika memegang thermometer harus pada tali yang ada di ujung thermometer,
dengan tujuan agar suhu tubuh tidak mempengaruhi pengukuran suhu di perairan. Setelah
dimasukkan ke dalam perairan, ditunggu selama 2 menit sampai air raksa yang ada dalam
thermometer berhenti. Kemudian dicatat suhu yang diperoleh dalam satuan C. Pengukuran suhu
dilakukan 3 kali yaitu pada pukul 07.58, 10.52, dan 14.20.
2. Kecerahan
Disiapkan alat yang digunakan dalam pengukuran kecerahan yaitu secchi disk. Tali pada secchi
disk dipegang dan secchi disk dimasukkan ke dalam perairan secara perlahan sampai tidak
terlihat pertama kali, diukur dengan penggaris dan dicatat sebagai d1. kemudian secchi dish
dimasukkan lebih dalam lagi sampai benar-benar tidak tampak sama sekali dan diangkat kembali
secara perlahan sampai terlihat pertama kali, diukur dengan penggaris dan dicatat sebagai d2.
Selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus d1 + d2/2 dan hasilnya dicatat dalam satuan
meter. Pengukuran kecerahan dilakukan 3 kali yaitu pada pukul 07.58, 10.52, dan 14.20.
b. Parameter Kimia
1. Oksigen Terlarut (DO)
Disiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran DO. Pertama kali dicatat volume
botol DO. Kemudian botol DO dimasukkan dalam perairan secara perlahan dan dengan posisi
miring agar memudahkan pengambilan air dan diusahakan tidak ada gelembung udara yang
masuk dalam botol, karena gelembung udara dapat mempengaruhi nilai DO. Setelah botol DO
penuh, lalu ditutup pada saat botol DO masih berada dalam air agar tidak ada udara yang masuk
ke dalam botol DO.
Selanjutnya botol DO yang berisi air sampel dibuka tutupnya dan diberi MnSO4 sebanyak 2 ml
(44 tetes) untuk mengikat O2 terlarut dalam air dan NaOH + KI sebanyak 2 ml (44 tetes) untuk
membentuk endapan coklat dan melepas I2. lalu dibolak-balik agar homogen. Setelah itu
didiamkan selam 30 menit sampai terdapat endapan coklat di dasar dan cairan bening di atas
endapan.
Kemudian air bening dibuang. Setelah itu, endapan tersebut diberi H2SO4 sebanyak 2 ml (44
tetes) untuk melarutkan endapan coklat. Kemudian diberi 3 tetes amilum yang berfungsi sebagai
indikator suasana basa, lalu dihomogenkan dan dititrasi dengan Na2S2O3 0,025 N untuk
mengikat I2 sampai jernih pertama kali. Dicatat volume awal dan akhir titran, kemudian dihitung
DO dengan rumus
DO (mg/l) = V(titran) x N (titran) x 1000 x 8
V(botol DO)- 4
Hasilnya dicatat dengan satuan mg/l. Pengukuran DO dilakukan 3 kali yaitu pada pukul 07.58,

10.52, dan 14.20.


2. Karbondioksida (CO2)
Disiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran CO2. Air sampel diambil dan
dimasukkan dalam botol aqua 600 ml. Kemudian diukur sebanya 25 ml dengan menggunakan
gelas ukur 50 ml. Lalu dimasukkan dalam Erlenmeyer 100 ml dan diberi PP (Phenol Ptalein)
sebanyak 3 tetes sebagai indicator suasana basa. Bila air tidak berubah warna menjadi pink
menandakan ada kandungan CO2 nya, lalu dititrasi dengan Na2SO3 0,0454 N yang berfungsi
untuk mengikat CO2 bebas sampai tampak warna pink pertama kali. Dicatat volume awal dan
akhir titran dan kemudian dihitung dengan rumus
CO2 (mg/l) = V(titran) x N(titran) x 22 x 1000
ml air sampel
hasilnya dicatat dalam satuan mg/l. Pengukuran CO2 dilakukan 3 kali yaitu pada pukul 07.58,
10.52, dan 14.20.
3. pH
Disiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran pH. Diambil air sampel dan
dimasukkan dalam botol aqua 600 ml. Lalu pH paper dicelupkan dalam air sampel tadi dan
ditunggu 2 menit. Setelah itu dikibas-kibaskan sampai setengah kering, karena bila masih
basah akan sulit dicocokkan warnanya dengan warna yang ada di kotak standart. Kemudian
dicocokkan pada kotak standart dan dicatat hasilnya. Pengukuran pH dilakukan 3 kali yaitu pada
pukul 07.58, 10.52, dan 14.20.
3.3.2. Pengambilan Sampel Plankton
Disiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam pengambilan sampel plankton. Botol film
dibuka dan dimasukkan pada lubang plankton net dan diikat dengan karet. Lalu air sampel
diambil dengan ember (1 ember = 5 L). Selanjutnya, air yang ada dalam ember disaring
menggunakan plankton net. Pada saat air disaring, plankton net diputar-putar agar plankton dapat
tersaring. Kemudian setelah botol film terisi plankton, ditambahkan larutan lugol sebanyak 7
tetes sebagai bahan pengawet, digunakan lugol karena ketahanan untuk mengawetkan sampel
plankton sangat baik. Selain itu, ditandai dengan kertas label agar tidak tertukar. Selanjutnya
sampel disimpan dalam kotak cool box. Pengambilan sampel plankton ini dilakukan selama 3
kali yaitu pada pukul 07.58, 10.52, dan 14.20.
3.3.3. Penggunaan Mikroskop
Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Pertama kali objek glass dan cover glass dikalibrasi
dengan aquadest agar tidak terkontaminasi kotoran dari luar dan dikeringkan dengan tissue. Cara
membersihkan dengan tissue yaitu tissue digosokkan searah agar serabut-serabut tissue tidak
menempel pada objek glass dan cover glass. Sebelum mengambil sampel, botol film dibolakbalik dahulu agar homogen, kemudian diambil 1 tetes air sampel plankton dengan menggunakan
pipet tetes dan diteteskan pada objek glass, lalu ditutup dengan cover glass. Tahap selanjutnya
yaitu mikroskop binokuler yang sudah dihubungkan dengan sumber listrik dinyalakan dan
preparat yang sudah siap tadi diletakkan di atas meja mikroskop. Kemudian diatur focus
pembesaran 100X hingga pengatur kasar dan halus. Setelah didapat focus yang baik, lalu diamati
luas bidang pandangnya dimana ada d1 dan d2 dan dimasukkan dalam persamaan LBP = d.

3.3.4. Pembuatan Preparat


Disiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan. Pertama kali objek glass dan cover glass
dikalibrasi dengan menggunakan aquadest agar tidak terkontaminasi kotoran dari luar dan
dikeringkan dengan tissue. Cara membersihkan dengan tissue yaitu tissue digosokkan searah
agar serabut-serabut tissue tidak menempel pada objek glass dan cover glass. Sebelum
mengambil sampel, botol film dibolak-balik dahulu agar homogen, kemudian diambil 1 tetes air
sampel plankton dengan menggunakan pipet tetes dan diteteskan pada objek glass, lalu ditutup
dengan cover glass. Cara menutup objek glass dengan cover glass adalah cover glass
dimiringkan 45 agar tidak ada gelembung udara dalam preparat. Dan hasilnya diperoleh
preparat yang siap diamati dengan mikroskop.
3.3.5. Pengamatan Plankton
Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Setelah preparat sudah siap, tahap selanjutnya adalah
pengamatan plankton. Pengamatan plankton dilakukan pada bidang pandang 1 sampai bidang
pandang 5 dimana letak dari bidang pandang 1 sampai 5 digambarkan seperti dibawah ini

Pada masing-masing bidang pandang dicari planktonnya. Bila sudah ditemukan, diamati dan
digambar bentuk plankton, warna, dan cirri-ciri lainnya. Setelah itu diidentifikasi denagn
menggunakan buku Presscott (1970).
3.3.6. Penghitungan Kelimpahan Plankton
Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Setelah pembuatan preparat dan pengamatan
plankton, tahap selanjutnya adalah menghitung kelimpahan plankton dengan mengamati jumlah
plankton pada setiap bidang pandang mulai dari bidang pandang 1 samapi dengan bidang
pandang 5. Setelah itu, dihitung kelimpahan planktonnya dengan persamaan Lacky Drop :
N=TxVxN
LxVxPxW
kemudian hasilnya dimasukkan ke dalam data pengamatan.
4. DATA HASIL DAN PEMBAHASAN
Waktu Pengamatan Warna Kecerahan Suhu CO2 DO pH
07,08

10,52

14,20
Coklat kekuning kuningan

Coklat Kehijauan

Hijau 41m

38,25m

26,5 245 c

27 c

27 c 0

8
NO Gambar Perbesaran Klasifikasi Gambar literatur
1

10

11

12

13

14

15

16

17

100x

100x

100x

400x

400x

400x

400x

400x

400x

400x

400x

400x

400x

400x

400x

400x

400x P :Chrycophyta
SP :Xanthophaceae
O : Mischceater
F:Pleurochrnidaceae
G : Tetradriella

S:Tetradriella gigar

P :Chrycophyta
SP :Xanihopycea
O :Mischoccales
F:Pleurochlo clasceae
G :Batrydiopsis
S:Batridiopsis archirabazi

P : Chrycophyta
SP :Bacillario Phycea
O : Pennales
F :Pleurochlori Daiceae
G : Amphipluceae
S :Amphipluceae pehiada

P : Chrycophyta
SP : Bacillarriophyceae
O :Pewrinates
F :Fragilariaceae
G :Ophipora
S :Ophipora Marly

P :Chrycophyta
SP:Chloro
O:Pyraminoceae
G:Spareliopsil
S:Sphareliupsis gleacyfams

P:chrycophyta
SP:Chlorophyceae
O:Volvocales

F:Chlumyclomonadace
G:Haematococus
S:Haematococus Lawstris

P: chrycophyta
SP:Bacillariophyceae
O:Pennales
F:Nitzchloeae
G: S:Nirzchia Sp

P: chrycophyta
SP:Chroococcales
O: F: chroococacae
G:Aphanocapsa
S:Aphanocapsa Grevillei

P: chrycophyta
SP:Chlorophyceae
O:Volvocales
F:Clamyo Lonionadaceae
G:Polytoma
S:Poltoma Obtosuni

P: chrycophyta
SP: O:Oscillatoriaceae
F:Oscillatoriaceae
G:Borzia
S:Borzia intoclares

P: chrycophyta

SP:O:Nostocalles
F:Loriellaceae
G:Collurenema
S:collurenamal Runebve

P: chrycophyta
SP: O:Oscillatoriates
F:Oscillatoriaceae
G:Rumeria
S:Rumeria Elagans

P: chrycophyta
SP:O:Chumaesiphonales
F:Pleurorapsaceae
G:Myxasarana
S:Myxosarana amethydina

P: chrycophyta
SP: O:Nortucales
F:Scylon mataceae
G:Desmonepa
S:Desmonema Wrangeli

P: chrycophyta
SP:Chlorophyta
O:Chlorococales
F:Cooomgxaleae
G:Ourococucus
S:ourococcus Bicuudetus

P: chrycophyta

SP: O: Chruocaccales
F: chroocacaceae
G: Synethocuccus
S:Synechoecus Aerugenosus

P: chrycophyta
SP: O:Wosrucales
F:Rinulariaceae
G:Colothrix
S:Calotrix Sp

4.1.4. Data Perhitungan Kualitas Air dan Kelimpahan Plankton


a. KECERAHAN
PUKUL 07.58 WIB

PUKUL 10.52

PUKUL 14.20

b. KARBONDIOKSIDA ( CO2 )
PUKUL 07.58

= 0 mg/l

PUKUL 10.52

PUKUL 14.20

c. DISSOLVED OXYGEN ( DO )
PUKUL 07.58

PUKUL 10.52

PUKUL 14.20

PERHITUNGAN KELIMPAHAN PLANKTON

MENGGUNAKAN RUMUS MODIFIKASI LUCKY DROP

a. PUKUL 07.58

b. PUKUL 10.25

c. PIKUL 14.20

RUMUS
a. PUKUL 07.58

b. PUKUL 10.25

c. PUKUL 14.20

RUMUS INDEKS DOMINASI

a. PUKUL 07.58

b. PUKUL 10.52

c. PUKUL 14.20

RUMUS INDEKS KERAGAMAN

a. PUKUL 07.58

b. PUKUL 10.5

c. PUKUL 14.20

4.2 Pembahasan
4.2.1 Keadaan Umum Lokasi Praktikum (Lingkungan Fisik)
Pada Kelompok 7, lokasi praktikum yang digunakan adalah kolomnya persegi panjang warnanya
coklat kekuning-kuningan, airnya tergenang, ada ikannya, ada rumput serta ada pohonnya.
Untuk data pengamatan kualitas air pada kolam semipermanen pada kelompok 240C,
Karbondioksidanya bernilai 0 (terikat), nilai DO nya 4,67 dan pHnya yaitu 8. Untuk pengamatan
pada pukul 10.52 warna perairan kolamnya yaitu coklat kehijauan. Kecerahannya mencapai
38.25 cm suhunya mencapai 270C, karbondioksidanya 27,97, nilai DOnya 8,6 dan phnya 8.
Untuk pengamatan pada pukul 14.20 warna perairan kolamnya yaitu hijau, kecerahannya
mencapai 26,5 cm suhunya 270C, karbondioksidanya 39,9, nilai DOnya yaitu 7,1 dan pHnya 8.

4.2.2 Lingkungan Biologi


4.2.3 Kelompok 7 melakukan pengamatan pada kolam semipermanen yang mempunyai
kedalaman 55 cm. Bentuk kolam persegi panjang, warna perairannya yaitu coklat kekuningkuningan airnya tenang. Pada kolam tersebut ada ikannya, disekitar kolam ada tanaman serta
rumput dan pohon, yang keadaannya sangat subur.
4.2.4 Keadaan Umum BBI Punten
Balai Benih Ikan Punten terletak di daerah Punten, Kota Batu. Balai Benih Punten merupakan
balai dengan menggunakan kolam tradisional, semiparmanen dan permanent ikan yang
dibudidayakan banyak golongan ikan mas, ikan koki, ikan nila, dan ikan air tawar lainnya.
Lingkungan pada Balai Benih Punten sangat strategis karena dekat dengan sumber air terutama
air tawar. Pembenihan pada Balai Benih Ikan Punten ada yang secara tradisional, semi intensif
maupun intensif ini terlihat kolam yang digunakan pada balai tersebut.
4.2.5 Deskripsi Stasiun Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada kolam semipermanen di Balai Benih Ikan, Punten, Batu Kolam
pengamatan berbentuk persegipanjang, dengan warna perairan coklat kekuning-kuningan airnya
tenang. Disekeliling kolam dikelilingi oleh rumput-rumput yang tumbuh secara bebas. Kolam
tersebut mempunyai kedalaman 55 cm.
4.2.6 Hubungan Parameter Kualitas Air Terhadap Kelimpahan Plankton
a. Parameter Fisika
1. Suhu
Pada pukul 07.58 suhu bernilai 240C, pada pukul 10.52 bernilai 270C dan pada pukul 14.20
tetap 270C. Dari data ini terjadi akibat keadaan cuaca yang berubah atau mengalami kenaikan
suhu, dari pagi hingga siang yang suhunya semakin naik.
Suhu sangat berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Organisme aquatik memiliki
keceraan suhu tertentu (Batas atas dan Batas bawah) yang disukai bagi pertumbuhannya,
misalnya olga dari phylum cheorophyta dan dialam akan tumbuh dengan baik pada kisaran suhu

berturut-turut 30-350C dari 20-300C. Pylum Chyanophyta telah dapat bertoleransi terhadap
kisaran suhu tinggi dibandingkan dengan Cholorophyta dan diatom (Effendi, 2003).
Selain peningkatan suhu juga mengakibatkan peningkatan metabolisme dan respirasi organisme
air dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Peningkatan suhu juga
menyebabkan peningkatan dekompisisi bahan organik oleh mikroba. Kisaran suhu optimum bagi
pertumbuhan fitoplankton diperairan adalah 20-300. (Effendi, 2003).
2. Kecerahan
Pada pukul 07.58 kecerahan kolam 41 cm, pukul 10.52 kecerahan kolam 38.2 cm pada pukul
14.20 kecerahan kolam 26,5 cm. Dari data terlihat bahwa terjadi penurunan kecerahan pada
pukul 10.52 dikarenakan kurangnya cahaya matahari yang masuk kedalam perairan. Dalam
kecerahan kecerahan ini, fitoplankton bias tumbuh dengan baik karena cahaya bisa optimal
diserap oleh fitoplankton untuk berfotosintesis. Namun menurut Ghufron (2003).
Kecerahan air tergantung pada warna dan kecerahan. Kelimpahan plankton yang dominan
diperairan tumbuh erat hubungannya dengan tingkat kecerahan air. Kelimpahan yang terlalu
tinggi dan jenis plankton yang merugikan akan sangat membahayakan bagi organisme perairan.
Warna air berkaitan dengan dominant jenis plankton tertentu harus bermuara pada kondisi
diperairan tersebut (Anonymous, 2009).
b. Paramater Kimia
1. pH (Poisioning Hidrogen)
pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik.
Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh hewan budidaya. Pada pH rendah
(keadaan tinggi) kandungan okigen terlarut akan berkurang, Sebagai akibat konsumsi oksigen
menurun, Akibatnya pernapasan naik dan selera makan akan berkurang. Sebaliknya pH tinggi
menyebabkan peningkatan kadar ammonia, sehingga secara tidak langsung membahayakan biota
perairan. pH tinggi (9,0 9,5) kadang-kadang terjadi ditambak-tambak pada siang hari dan
biasanya dibarengi dengan ledakan plankton (Plankton biomin), (Kordi dan Tancung, 2007).
2. DO (Disolved Oxygen)
Biota air membutuhkan okigen guna pembakaran bahan bakarnya (makanan untuk menghasilkan
aktivitas, seperti aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi dan sebaliknya. Oleh karena itu
ketersediaan oksigen bagi biota air untuk hidup dengan baik adalah 5 ppm (Pordi dan Tancung,
2007).
Penggunaan alat Bantu dalam penanganan konsentrasi okigen terlalu rendah juga dapat
diperkecil melalui pengaturan pembenihan pakan biasanya diikuti dengan proses pembusukan
yang memanfaatkan oksigen dalam dan air dan hasil akhirnya berupa bahan organik yang
merupakan pupuk bagi fitoplankton (Kardi dan Tancung, 2007).
Dari hasil pengamatan kelompok 7 memperoleh hasil sebagai berikut pukul 07.58 DO nya 4,67
mg/l, pukul 10.52 DO nya 10.52 Do nya 8,6 mg/l, pukul 14.20 DO nya 7,1 mg/l. Kadar okigen
dalam air ini sangat baik pada perairan kolam, dan bagi organisme didalamnya yang
berkembangbiak pada kolam tersebut.
3. Karbondioksida (CO2)
Karbondioksida merupakan gas yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan air renik (pitoplankton)
maupun tingkat tinggi untuk melakukan fotosintesis meskipun peranan karbondioksida sangat
besar bagi organisme air, namun kandungan yang berlebihan sangat mengganggu, bahkan

menjadi racun fotosintesis dari fitoplankton akan mengambil karbondioksida pada siang hari,
sedangkan respirasi tanaman akan menghasilkan karbondioksida pada malam hari. Kadar
karbondioksida sebesar 5 ppm didalam air masih dapat ditoleransi oleh hewan air termasuk
zooplankton asalkan kadar oksigennya cukup tinggi (Kardi dan Tancung, 2001).
Menurut Effendi (2003) bahwa perairan yang diperuntukkan kadar karbondioksida bagi
kepentingan perikanan kurang dari 5 mg/l.
Dari data pengamatan kelompok 7 diperoleh nilai sebagai berikut : pukul 07.58 memperoleh nilai
0 mg/l, pukul 10.52 memperoleh 27,97 mg/l, pukul 14.20 memperoleh nilai 39,9 mg/l. Menurut
Kardi dan Tancung, (2007). Kadar karbondioksida 50-100ppm dapat mematikan hewan air. Jadi
kadar CO2 pada siang hari dan sore hari masih dapat ditoleransi yaitu 23,97 mg/l dan 10,56 mg/l.
4. Phospot
Berdasarkan kadar fosfat total, perairan diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu perairan tingkat
kesuburan rendah (0-0,2 mg/l) Perairan dengan tingkat keseburan sedang (0,021-0,05 mg/l) dan
perairan dengan tingkat kesuburan tinggi (0,051-0,1 mg/l) (Low dalam Effendi, 2003).
Kadar fosfat yang diperkenankan bagi kepentingan air minum adalah 0,2 mg/l dalam bentuk
fosfat (PO4) kadar fosfat pada perairan alami berkisar untuk 0,005-0,02 Mg/l. Keberadaan fosfat
secara berlebihan yang disertai dengan keberadaan nitrogen dapat menstimular pedakal
pertumbuhan alga diperairan (alga bloman).
Algae berlimpah ini dapat membentuk lapisan pada permukaan air selanjutnya dapat
menghambat penetrasi oksigen dan cahaya matahari sehingga kurang menguntungkan bagi
ekosistem perairan (Effendi, 2003).
5. Nitrat
Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen diperairan alami dan merupakan nutrient utama bagi
pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil.
Nitrifikasi merupakan proses oksidasi ammonia menjadi nitrit dan nitrat adalah proses yang
paling penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung pada kondisi aerob. Oksidasi ammonia ini
menjadi nitrit dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas dan oksidasi nitrit menjadi nitrat dilakukan
oleh bakteri nitro bakteri (Effendi, 2003).
Kadar nitrat nitrogen pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0,1 mg/l. Kadar nitrat
lebih dari 0,1 mg/l. Kadar nitrat lebih dari 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran
antrophogenin yang berasal dari aktivitas manusia dari 0,2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya
eutrafikasi perairan, yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara
pesat (bloming) (Effendi, 2003)
4.2.6. Tingkat Keseburan Perairan Berdasarkan Plankton Yang Ditemukan
a. Berdasarkan Kelimpahan Fitoplankton
Menurut Iadner (1976) dalam wikipedia (2008), terdapat pembagian perairan berdasarkan
kelimpahan fitoplankton yaitu oligotropik : 0-2000 in/liter mesotrofik = 2000-15.000
individu/liter, oligotropik > 15.000 individu/liter. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa perairan
tersebut bersifat Oligotropik.
Dari hasil praktikum diperoleh hasil bahwa pada pukul 07.50 terdapat beberapa phylum antara
lain Chrsophyta yang terdiri dari beberapa genus antara lain tetrodriella, batnydiopsis,
amphipleura, ophipora, nitztha. Phylum chlorophyta tersiri dari beberapa genus antara lain

sphoerelipsis, haemorococcus, cholorotylum. Pada pukul 10.52 terdapat 2 phylum antara lain
chynophyta, dengan genusaphanocopya, dan phylum cholorophyta dengan genus politama. Pada
pukul 14.20 terdapat beberapa phylum plankton antara lain : chynophyta yang terdiri dari genus
mborzia, coltorenema, romeria, mysosarano, aeromonema,. Phylum chlorophyta dengan genus
ouroccocus dan phylum chynophyta dengan macam genus synccacus, carathrix sp.
b. Berdasarkan Kelimpahan zooplankton
Bahwa zooplankton adalah sejenis plankton hewani yang bersifat tototaksin negative dan
hidupnya adalah dibawah perairan. (Anonymous, 2008)
Dari hasil praktikum tidak ditemukan adanya zooplankton. Hal ini dikarenakan mungkin pada
saat pengambilan sampel kurang kedalam sehingga zooplankton tidak terambil. Hal ini sesuai
yang di katakan Wikipedia (2009). Bahwa zooplankton adalah sejenis plankton hewani yang
bersifat fototaksis negative dan hidupnya adalah dibawah perairan.
4.2.7 Jenis Plankton yang Mendominasi
a. Berdasarkan Data Indeks Dominasi
Dari hasil praktikum pada pukul 07.58,Jenis fitoplankton yang mendominasi adalah Nischiya Sp
dari phylm chrisophyta yang mendominasi sebanyak 1,69%. Pada pukul 10.52. jenis fitoplnkton
yang mendominasi adalah Aphanocapsa grefelley dari phylum chyanophyta,yang mendominasi
sebanyak 10,54 %. Pada pukul 14.20 jenis phytoplankton yang mendominasi adalah Borzia
triloculahylum chyanophyta yang mendominasi sebanyak 0,607 % di perairan.
b. Berdasarkan Data Indeks Keragaman
Dari hasil praktikum pada pukul 07.58, jenis keragaman fitoplankton yang mendominasi adalah
nitzchia sp dari phylum crysophyta dengan nilai keragaman sebanyak 12,673 %. Pada pukul
10.52 jenis keragaman fitoplankton yang mendominasi adalah Aphanochapsa dreville dari
phylum chyanophyta dengan nilai keragaman sebanyak 46,84%. Pada pukul 14.20, jenis
keragaman fitoplankton yang mendominasi adalah Borzhia triloculari dari phylum chyanophyta
dengan nilai keragaman sebanyak 5,56 % diperairan.

5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum diperoleh beberapa kesimpulan antara lain :
- Plankton adalah mikroorganisme yang ditemui hidup diperairan baik di
sungai, waduk, danau maupun diperairan payau dan laut

- Kehidupan fitoplankton dipengaruhi oleh suhu, kecerahan, substrat, pH, nitrat,


phospat, DO dan CO2
- Kehidupan zooplankton dipengaruhi oleh suhu, kecerahan,substrat,Ph,
TOM dan DO
- Jenis kolam yang diamati oleh kelompo 7 yaitu semi permanen yang
mempunyai kedalaman 55 cm. Gambaran ekologi pada kolam semi
permanen adalah bentuk kolam persegi panjang, airnya tergenang dan
berwarna coklat kekuning-kuningan, pada kolam terdapat ikan, disekitar
kolam
terdapat tanaman, rumput dan pohon yang kondisi lingkungannya sangat
subur
- Dari data pengamatan kualitas air didapat hasil sebagai berikut pada waktu
pengamatan pukul 07.58 warna air kolam yaitu coklat kekuning-kuningan,
kecerahannya mencapai 41 cm, suhu 24oC, CO2 0 mg/l karena CO2 terikat,
DOnya 4,67 mg/l, Ph 8. Pada pengamatan pukul 10.52 warna air kolam
coklat kehijau-hijauan, kecerahannya 38,2 cm, suhu 27oC, CO2nya 27,97
mg/l, DOnya 8,6 mg/l, pH 8. Pada pengamatan pukul 14.20 warna air kolam
hijau, kecerahannya 26,5 cm, suhunya 27oC, CO2nya 39,9 mg/l, DOnya 7,1mg/l dan pH 8.
5.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum plankton ditambah alat alat, agar dalam praktikum tidak saling
menunggu dan praktikum dapat berjalan dengan lancer
DAFTAR PUSTAKA
Arfiati. 2001. Limnolgi.Fakultas Perikanan.Universitas Brawijaya. Malang
Baru, S. 2003. Pengantar Limnologi. Linulus. Amerika Serikat
Effendi. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta
Herawati. 1989. Diktat Kuliah Planktonologi. UB. Malang
Hatabarat dan Evans. 1985. Pengantar Oceanografi. UI press. Jakarta
Musa dan Uun. 2006. Diktat Limnologi. UB. Malang
Romimohtarto dan Jawana. 2006. Biologi Laut. Djumbatan. Malang
Subahjanti. 2005. Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Plankton Universitas
Brawijaya. Malang 2008
Yuli dan Kusriani. 2005. Planktonologi. Universitas Brawijaya. Malang

Laporan Lengkap Plankton


5:44 PM

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang

Plankton adalah mikroorganisme yang ditemui hidup melayang di


perairan,mempunyai gerak sedikit sehingga mudah terbawa arus,artinya biota ini
tidak dapat melawan arus. Mikroorganisme ini baikdari segi jumlah dan jenisnya
sangat banyak dan sangatberanekaragam serta sangat padat. Selanjutnya
diketahui bahwaplankton merupakan salah satu komponen utama dalam sistem
matarantai makanan (food chain) dan jaringan makanan (food web). Merekamenjadi
pakan bagi sejumlah konsumen dalam sistem rantai makanandan jaring makanan
tersebut (Ferianti, 2007).
Berdasarkan habitatnya plankton ditemui hidup di perairan, baikdi sungai,
danau, waduk, maupun di perairan payau dan laut. Planktonini ada yang bergerak
aktif sendiri seperti hewan yang disebut denganzooplankton (plankton hewan), dan
ada juga plankton yang dapatberfotosintesis seperti tumbuhan di darat, kelompok
ini disebut denganfitoplankton (plankton nabati) (Ferianti, 2007).Ukuran plankton
sangat beraneka ragam dari yang terkecil yang disebut ultraplankton ukurannya <
0.005 mm atau 5 mikron, sepertibakteri dan diatom kecil, sampai nanoplankton
yang berukuran 60-70mikron. Nanoplanktoterlalu kecil untuk dikumpulkan dengan
jaringplankton biasa dan hanya dapat dikumpulkan dengan cara mengambil jumlah
besar air laut (Kasijan dkk,2004).
Plankton umumnya berukuran sangat kecil dan jumlahnya banyak, oleh
karena itu pengambilan sample plankton harus dilakukandengan menggunakan alat
yang dapat menyaring air sedemikian rupasehingga plankton yang tersaring cukup
jumlahnya untukdianalisis.Untuk keperluan ini alat khusus yang biasa digunakan
adalah jaring plankton atau plankton net . Setiap mata jaring yang digunakan
ukurannya (mesh-size) harus berbeda, tergantung dari plankton yangakan
dikumpulkan, apakah itu fitoplankton atau zooplankton. Jika yangdiinginkan
fitoplankton,maka ukuran mata jaring harus kecil,sedemikian sebaliknya untuk
zooplankton. Sample plankton yang 2 didapat dapat diawetkan dengan
menggunakan formalin dan disimpandidalam suhu yang rendah (Kasijan dkk, 2004).

I.2

Tujuan Praktik Lapang

Praktikum ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai


kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi plankton pada stasiun
di Anjungan Pantai Losari

I.3

Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian dilihat dari tiga hal, yakni kelimpahan,


keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 PLANKTON
Plankton adalah meliputi biota yang hidupnya terapung atau hanyut di
perairan pelagik. Tempat hidupnya ada yang terapung-apung di lapisan permukaan,
bahkan sampai lapisan kedalaman sekitar 500 meter. (Arinardi et al, 1997) Secara
sederhana plankton diartikan sebagai hewan dan tumbuhan renik yang terhanyut di
laut. Nama plankton berasal dari akar kata Yunani planet yang berarti
pengembara. Istilah plankton pertama kali diterapkan untuk organisme di laut oleh
Victor Hensen direktur Ekspedisi Jerman pada tahun 1889, yang dikenal dengan
Plankton Expedition yang khusus dibiayai untuk menentukan dan membuat
sitematika organisme laut (Sunarto, 2008).
Ukuran dari organisme plankton pada umumnya relative sangat kecil atau
berukuran mikroskopis. Sepanjang hidupnya selalu terapung dan daya hidupnya
tergantung dari pergerakan masa air ata pola arus. Namun demikian, terdapat pula
jenis plankton yang pergerakannya sangat kuat sehingga dapat melakukan migrasi
harian. (Trimaningsih,2005)
Plankton terdiri dari dua kelompok besar organisme akuatik yang berbeda
yaitu organisme fotosintetik atau fitoplankton dan organisme non fotosintetik atau
zooplankton. (Sunarto, 2008). Fitiplankton atau plankton nabati diantaranya adalah
diatome, dinoflagellata, coccolitophore, dan criptomonads. Sedang yang
termasuk zooplankton atau plankton hewani adalah mulai filum protozoa sampai
filum chordate (Trimaningsih,2005).
II.1.1 Fitoplankton
Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya
mengapung atau melayang dilaut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat
dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 200m (1 m =
0,001mm). fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada
yang berbentuk rantai.
Meskipun ukurannya sangat kecil, namun fitoplankton dapat tumbuh dengan
sangat lebat dan padat sehingga dapat menyebabkan perubahan warna pada air
laut. Fitoplankton mempunyai fungsi penting di laut, karena bersifat autotrofik,
yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organic makanannya. Selain itu,
fitoplankton juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan
organic karena mengandung klorofil. Karena kemampuannya ini fitoplankton disebut
sebagai produsen primer.
Bahan organik yang diproduksi fitoplankton menjadi sumber energi untuk
menjalan segala fungsi faalnya. Tetapi, disamping itu energi yang terkandund
didalam fitoplankton dialirkan melalui rantai makanan. Seluruh hewan laut seperti

udang, ikan, cumi cumi sampai ikan paus yang berukuran raksasa bergantung
pada fitoplankton baik secara langsung atau tidak langsung melalui rantai makanan
( Biologi Laut,2009 ).
II.1.2 Zooplankton
Zooplankton, disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya
mengapung, atau melayang dalam laut. Kemampuan renangnya sangat terbatas
hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya. Zooplankton
bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan
organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya, ia
sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi
makanannya. Jadi, zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen (consumer)
bahan organik.
Ukurannya yang paling umum berkisar 0,2 2 mm, tetapi ada juga yang
berukuran besar misalnya ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih satu meter.
Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod), eufausid
(euphausid), misid (mysid), amfipod (amphipod), kaetognat(aetognath).
Zooplankton dapat dijumpai mulai dari perairan pantai, perairan estuaria, di depan
muara sampai ke perairan di tengah samudra, dari perairan tropis hingga ke
perairan kutub.
Zooplankton ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup di
perairan dalam. Ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan
dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton)
atau yang hidup di dasar Taut (bentos) menjalani awal kehidupannya sebagai
zooplankton yakni ketika masih berupa terlur dan larva. Baru dikemudian hari,
menjelang dewasa, sifat hidupnya yang semula sebagai plankton berubah menjadi
nekton atau bentos.
II.1.3 Holopkanton
Dalam kelompok ini termasuk plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani
sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Kebanyakan zooplankton
termasuk dalam golongan ini. Contohnya : kokepod, amfipod, salpa, kaetognat.
Fitoplankton termasuk juga umumnya adalah holoplankton, ( Biologi Laut,2009 ).
II.1.4 Meroplankton
Plankton dari golongan ini menjadi kehidupannya sebagai plankton hanya
pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yakni pada tahap sebagai telur dan
larva saja. Beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton, yakni hewan yang
dapat aktif berenang bebas, atau sebagai bentos yang hidup menetap atau melekat
didasar laut. Oleh sebab itu, meroplankton sering pula disebut sebagai plankton
sementara, ( Biologi Laut,2009 ).
Gambar 1. Larva meroplankton dari berbagai filum hewan yang hidup di laut : a)
larva chaetate cacing Platynereis; b) larva zoea ketam pasir Emerita c) larva
cyphonautes bryozoa d) larva tadpole tunicate e) larva pilidium cacing nemertean f)
larva pluteus bulu babi / sea urchin, g) telur ikan dengan embrio , h) larva

trochophore cacing scaleworm , i) larva veliger keong laut , j) larva pluteus ular
bintang/brittle star k)larva nauplius teritip / barnacle , l) larva cypris / barmacle , m)
larva planula colenterate n) medusa hidroid (Sumber : Svedrup dkk, 1961)
Pada umumnya ikan menjalani hidupnya sebagai plankton ketika masih
dalam tahap telur dan larva kemudian menjadi nekton sstelah dapat berenang
bebas. Kerang dan karang adalah contoh hewan yang pada awalnya hidup sebagai
plankton pada tahap telur hingga larva, yang selanjutnya akan menjalani hidupnya
sebagai bentos yang hidup melekat atau manancap didasar laut.
Meroplankton ini sangat banyak ragamnya dan umumnya mempunyai bentuk
yang sangat berbeda dari bentuk dewasanya. Larva crustacea seperti udang dan
kepiting mempunyai perkembangan larva yang bertingkat tingkat dengan bentuk
yang sedikitpun tidak menunjukkan persamaan dengan bentuk yang dewasa.
Pengetahuan mengenai meroplankton ini menjadi sangat penting dalam kaitannya
dengan upaya budidaya udang, crustacea, mollusca, dan ikan (Biologi Laut,2009).

II.2 KONDISI LINGKUNGAN


II.2.1 Suhu
Suhu di lautan adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan
organisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme
maupun perkembangan dari organisme. Oleh karena itu tidak mengherankan jika
banyak dijumpai bermacam-macam jenis hewan yang terdapat di berbagai tempat
di dunia (Hutabarat dan Evans, 1985).
Plankton dari jenis fitoplankton hanya dapat hidup dengan baik di tempattempat yang mempunyai sinar matahari yang cukup. Akibatnya penyebaran
fitoplankton besar pada lapisan permukaan laut saja. Keadaan yang demikian
memungkinkan untuk terjadinya proses fotosintesis. Sejak sinar matahari yang
diserap oleh lapisan permukaan laut, maka lapisan ini relatif panas sampai ke
kedalaman 200 m (Hutabarat dan Evans, 1985).
Walaupun Plankton potensial berbahaya menyebar luas secara geografis dan
hal ini mengidentifikasikan adanya kisaran yang luas terhadap toleransi suhu, tetapi
spesies alga potensial berbahaya daerah tropik mempunyai toleransi yang rendah
terhadap perubahan suhu. Kisaran suhu optimal bagi spesies alga potensial
berbahaya adalah 2530C dan kemampuan proses fotosintesis akan menurun
tajam apabila suhu perairan berada di luar kisaran optimal tersebut (Gross dan
Enevoldsen, 1998 dalam Gosari, 2002).
II.2.2 Salinitas
Salinitas adalah konsentrasi rata-rata seluruh garam yang terdapat di dalam
air laut. Konsentrasi ini biasanya sebesar 3% dari berat seluruhnya atau sering juga
disebut bagian perseribu (permil) dan biasa ditulis dengan 35. Konsentrasi
garam-garam ini jumlahnya relative sama dalam setiap contoh-contoh air laut,
sekalipun mereka diambil dari tempat yang berbeda di seluruh dunia (Hutabarat
dan Evans,1985)

Hampir semua organisme laut dapat hidup pada daerah yang mempunyai
perubahan salinitas yang sangat kecil, misalnya daerah estuaria adalah daerah
yang mempunyai salinitas rendah karena adanya sejumlah air tawar yang masuk
yang berasal dari daratan dan juga disebabkan karena adanya pasang surut di
daerah ini kisaran salinitas yang normal untuk kehidupan organisme di laut adalah
berkisar antara 30-35 ppm (Gosari, 2002).
Perubahan salinitas yang dapat mempengaruhi organisme terjadi di zona
intertidal melalui dua cara. Yang pertama karena zona intertidal terbuka pada saat
pasang surut dan kemudian digenangi air atau aliran air akibat hujan lebat,
akibatnya salinitas akan turun secara drastis (Nybakken, 1992).

II.3 INDEKS
II.3.1 Kelimpahan
Kelimpahan fitoplankton diartikan sebagai jumlah individu fitoplankton
persatuan volume air yang biasanya dinyatakan dalam jumlah individu atau sel
fitoplankton/m3 atau perliter air. Pada dasarnya sangat sukar untuk menentukan
kelimpahan fitoplankton dalam sejumlah air tertentu. Walaupun kalkulasi dalam
jumlah sel fitoplankton dapat dilakukan seteliti mungkin, namun jumlah tersebut
berubahubah dengan kisaran yang besar, sehingga sulit untuk mengkonversi
dugaan tersebut menjadi ukuran kelimpahan dari fitoplankton (Sachlan, 1972)
Penyebaran fitoplankton di perairan didominasi oleh Bacillariophyceae
(diatom), Cyanophyceae dan Chlorophyceae. Besarnya kelas Bacillariophyceae
disebabkan karena plankton dari kelas tersebut mempunyai sifat yang mudah
beradaptasi dengan lingkungan, bersifat kosmopolit, tahan kondisi ekstrim dan
mempunyai daya reproduksi yang tinggi (Odum, 1971). Perbedaan komposisi jenis
fitoplankton disebabkan karena masingmasing jenis mempunyai toleransi sendiri
sendiri terhadap keadaan lingkungan. Disamping itu kompetisi yang terjadi antara
biota yang hidup di perairan, baik akibat kompetisi dalam mendapatkan ruangan,
oksigen, makanan, maupun cahaya matahari akan berpengaruh terhadap
kelimpahan dan keragaman fitoplankton di perairan tersebut.
Boyd (1979), menyatakan bahwa populasi fitoplankton senantiasa mengalami
perubahan dalam komposisi jenis dan jumlahnya. Fluktuasi fitoplankton ini
disebabkan karena perubahan kualitas air (terutama unsur hara), juga karena
adanya pengambilan oleh zooplankton dan ikan pemakan plankton serta akumulasi
dari sisasisa metabolisme yang bersifat racun. Menurut Davis (1955), penyebaran
fitoplankton yang tidak merata dalam suatu perairan disebabkan oleh angin, aliran
sungai yang masuk atau arus dan kedalaman perairan, up welling, variasi garam
garam nutrien, aktivitas grazing dan adanya percampuran dua mata air. Lund
(1969) dalam Pasengo (1995)) menyatakan bahwa pada perairan subur yang kaya
akan nutrien didapatkan diatom 40.000 plankter/liter air, sedang pada perairan
kurang subur yang miskin akan nutrien didapatkan jumlah diatom kurang dari
2.000 plankter/liter air.
II.3.2 Indeks Keanekaragaman

Indeks Keanekaragaman atau Diversity Indeks diartikan sebagai suatu


gambaran secara matematik yang melukiskan struktur masyarakat kehidupan.
Indeks keseragaman akan mempermudah dalam menganalisa informasiinformasi
mengenai jumlah individu dan jumlah spesies suatu organisme (Kaswadji, 1976
dalam Lukman 2001). Sedikit atau banyaknya spesies yang terdapat dalam suatu
contoh air akan mempengaruhi indeks keanekaragamannya, meskipun nilai ini
sangat bergantung pula dari jumlah individu masingmasing spesies.
Keanekaragaman fitoplankton yang besar, sangat penting bagi organisme yang
menjadikannya sebagai bahan makanan (Patrick,1976 dalam Pasengo 1995). Indeks
keanekaragaman dapat dijadikan petunjuk seberapa besar tingkat pencemaran
suatu perairan.
Tabel 1 Tingkat keanekaragaman (Kaswadji, 1976).
0 H 2,303

Tingkat kenaekaragaman
rendah

2,303 H
6,909

Tingkat keanekaragaman
sedang

H > 6,909

Tingkat keanekaragaman
tinggi

II.3.3 Indeks Keseragaman


Dalam suatu komunitas, kemerataan individu tiap spesies dapat diketahui
dengan menghitung indeks keseragaman. Indeks keseragaman ini merupakan suatu
angka yang tidak bersatuan, yang besarnya antara 0 1, semakin kecil nilai indeks
keseragaman, semakin kecil pula keseragaman suatu populasi, berarti penyebaran
jumlah individu tiap spesies tidak sama dan ada kecenderungan bahwa suatu
spesies mendominasi populasi tersebut. Sebaliknya semakin besar nilai indeks
keseragaman, maka populasi menunjukkan keseragaman, yang berarti bahwa
jumlah individu tiap spesies boleh dikatakan sama atau merata (Pasengo, 1995).
Tabel 2. Tingkat keseragaman
0E
0,4

Keseragaman rendah, kekayaan individu yang di


miliki oleh masing-masing jenis jauhg berbeda,
kondisi lingkungan tidak stabil kerana mengalami
tekanan

0,4 < E
0,6

Keseragaman sedang, kondisi lingkungan tidak


terlalu stabil

0,6 < E
1,0

Kerseragaman tinggi, Jumlah individu pada masingmasing jenis relative sama, perbedaannya tidak
terlalu mencolok, kondisi lingkungan stabil

II.3.4 Indeks Dominasi

Dominasi jenis fitoplankton dapat diketahui dengan menghitung Indeks


dominansi (C). Nilai indeks dominansi mendekati satu jika suatu komunitas
didominasi oleh jenis atau spesies tertentu dan jika tidak ada jenis yang dominan,
maka nilai indeks dominansinya mendekati nol (Sudardja, 1987 dalam Pasengo,
1995).
Tabel 3. Tingkat Dominansi
0E0,4

Dominansi rendah, tidak terdapat spesies yang


secara ekstrim mendominasi spesies lainnya, kondisi
lingkungan stabil, tidak terjadi tekanan ekologis
terhadap biota di lingkungan tersebut

0,4 < E
0,6

Dominansi sedang, kondisi lingkungan cukup stabil

0,6 < E
1,0

Dominansi tinggi, terdapat spesies yang


mendominasi spesies lainnya, kondisi lingkungan
tidak stabil, terdapat suatu tekanan ekologi.

BAB III
METODE PRAKTEK LAPANG
III.1 Waktu dan Tempat
Praktek lapang dilaksanakan pada tanggal 02 Oktober 2011, yang berlokasi di
Anjungan Pantai Losari, kota Makassar. Sedangkan kegiatan mengidentifikasi
dilaksanakan pada hari Kamis, 21 Oktober 2011 dimulai pada pukul 13.00 WITA
sampai 14.00, bertempat di Laboratorium Biologi Laut, Jurusan Ilmu Kelautan
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hassanuddin, Makassar.

III.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktek lapang kali ini adalah sebagai berikut :

Plankton net : untuk mengambil dan menyaring sampel plankton


Salinometer : untuk mengukur salinitas
Termometer : untuk mengukur suhu air
Botol Sampel : untuk menyimpan sampel
Mikroskop : untuk melihat secara jelas sampel
SR & Deck Glass : sebagai alat tempat penyimpanan sampel saat diamati
menggunakan mikroskop

Pipet Tetes : untuk mengambil sampel air dari botol

Air laut : sebagai bahan yang diamati

Air tawar : untuk membersihkan alat

Tissue : untuk membersihkan alat

Lugol : untuk mematikan sampel plankton

III.4 Prosedur Kerja


III.4.1 Pengambilan Sampel
III.4.1.1 Lapangan
Pertama-tama tiap kelompok menyiapkan semua alat dan bahan yang akan
digunakan dalam pengambilan sampel di lapangan. Kemudian, kelompok menyebar
ke lokasi yang telah ditentukan untuk mengambil sampel. Setelah itu, ikatkan tali
rafia pada ujung atas planktonet. Lalu turunkan plantonet ke air laut secara
perlahan. Setelah botol planktonet terisi, tarik tali rafia kembali ke atas. Lalu
masukkan sampel air ke dalam botol sampel. Setelah itu ukur suhunya
menggunakan thermometer dan ukur salinitasnya menggunakan salinometer.
Teteskan pula 5 tetes lugol ke dalam botol sampel. Tempelkan label pada botol
sampel sebagai penanda bahwa botol tersebut adalah sampel pertama dari
planktonet. Praktikan melakukan pengambilan sampel selama 3 kali.

III.4.1.2 Laboratorium
Pertama-tama praktikan menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan
untuk melakukan identifikasi plankton. Lalu siapkan mikroskop yang ada di
laboratorium. Setelah itu siapkan Sedgewick-Rafter Counting Cell. Dengan
menggunakan tissue, lap kaca preparatnya hingga bersih. Lalu, pasang SedgewickRafter Counting Cell di meja preparat, atur hingga sesuai dengan ukuran
Sedgewick-Rafter Counting Cell. Setelah itu miringkan kaca preparat yang ada di
atas Sedgewick-Rafter Counting Cell (sehingga ada celah untuk meneteskan air
sampel). Dengan menggunakan pipet tetes, ambil sampel air yang dalam botol
sampel I (pertama). Goyang-goyangkan pipet tetes dalam botol sampel secara
perlahan. Teteskan sampel air secara perlahan ke dalam Sedgewick-Rafter Counting
Cell hingga penuh. Tutup kaca preparat dan atur kembali fleksibilitas meja preparat
tidak renggang. Mulai amati sampel menggunakan mikroskop. Catat hasilnya dalam
lembar kerja. Lakukan hal yang sama untuk botol selanjutnya.
III.4.2 Analisis Data
Perhitungan Kelimpahan Plankton (Grennberg et al., 1989)
.

: jumlah plankton yang ditemukan

: panjang alur S-R (mm)

: tinggi S-R (mm)

: lebar alur S-R (mm)

: jumlah alur yang dihitung S-R (mm)

n=
mL

: jumlah air yang tersaring (1 botol)

1000

: konversi dari mL ke liter

: jumlah air yang disaring

: kelimpahan plankton dalam liter

Perhitungan Keanekaragaman Plankton (Wilhm dan dorris 1968 in Masson,1981)

HI=

Jumlah seluruh spesies

ni

Jumlah individu/spesies

Jumlah Individu keseluruhan

Perhitungan Keseragaman (Odum,1971)


H
E=
H max
S

Jumlah seluruh spesies

H max=

Keanekaragaman maksimum

Indeks keseragaman

Perhitungan Indeks Dominansi (simpson in legendre legendre,1983)


C = [ni/N]2
C : Indeks Dominansi
ni:Jumnlah Individu Jenis ke 1
N : Jumlah Total Individu
Dominansi = 1 - C

Indeks keanekaragaman

HI=
S

Jumlah seluruh spesies

ni

Jumlah individu/spesies

Jumlah Individu keseluruhan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1 Hasil
Tabel 4 Kelimpahan Plankton rata rata stasiun kelompok 9

No

Jenis plankton

Kelimpahan
Plankton / L
(n)

Cyclotella sp.

18.16466

Licmophora sp.

5.189903

Coscinodiscus sp.

33.73437

Melosira sp.

37.6268

Dinophysis sp.

5.189903

Fragilariopsis sp.

9.731069

Gyrosigma sp.

3.892427

Chaetoceros sp.

6.487379

Nitzchia sp.

19.46214

10

Ceratium triops

5.189903

11

Mesaiokeras
tantillus

3.892427

Tabel 5 Indeks Keseragaman dan Dominansi

IV. 2 Pembahasan
IV.2.1 Kelimpahan
Berdasarkan hasil, dapat diketahui bahwa nilai kelimpahan tertinggi terdapat
pada Coscinodiscus sp. sebesar 33.73437 n. Sedangkan kelimpahan terendah
terjadi pada Mesaiokeras tantillus dan Gyrosigma sp., yang nilai kelimpahannya
sebesar 3.892427 n.
IV.2.2 Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominans

Dari hasil dapat diketahui bahwa nilai keanekaragaman tertinggi terjadi pada
Melosira sp., dan nilai keanekaragaman terendah terjadi pada Mesaiokeras tantillus
dan Gyrosigma sp.. Dan berdasarkan tabel air berdasarkan keanekaragaman
diketahui bahwa pada stasiun tempat mengambil sampel kualitas airnya tercemar
berat.
Dari hasil dapat diketahui bahwa nilai keseragaman tertinggi terjadi pada
Melosira sp., dan nilai keseragaman terendah terjadi pada Mesaiokeras tantillus
dan Gyrosigma sp.. Dan berdasarkan tabel keseragaman diketahui bahwa pada
stasiun tempat mengambil sampel keseragamannya rendah, kekayaan individu
yang di miliki oleh masing-masing jenis jauh berbeda, ini mungkin disebabkan
karena kondisi lingkungan tidak stabil karena mengalami tekanan.
Sedangkan untuk dominansi, nilai dominansi tertinggi terjadi pada
Mesaiokeras tantillus dan Gyrosigma sp. Sedangkan dominansi terendah terjadi
pada Melosira sp.. Dan berdasarkan tabel dominansi diketahui bahwa stasiun
tempat mengambil sampel dominansinya tinggi, terdapat spesies yang
mendominasi spesies lainnya, ini disebabkan kondisi lingkungan tidak stabil,
terdapat suatu tekanan ekologi.

BAB V
PENUTUP
V.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil, dapat disimpulkan bahwa :
1. Kualitas air di stasiun berdasarkan keanekaragaman tergolong
tercemat berat
2. Nilai keseragaman plankton pada stasiun tergolong rendah
3. Nilai dominansi plankton pada stasiun tergolong tinggi

4. Kondisi lingkungan pada stasiun tidak stabil, terdapat suatu tekanan ekologi.

V.2

Saran

Sebaiknya alat yang digunakan seperti plankton net diperbanyak jumlahnya,


agar pada saat pengambilan sampel semua kelompok dapat langsung mengambil
sampel tanpa harus saling bergantian menggunakan alat.

Pengetahuan Hezym
"Ilmu tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu adalah buta"
Laporan Praktikum tentang Plankton (Praktikum Ekologi Umum)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perairan merupakan suatu ekosistem yang memiliki peran dan manfaat yang
sangat besar bagi kehidupan manusia. Kehidupan di dalamnya sangat beragam.
Mulai dari organisme mikroskopik sampai ukuran yang makro dapat terlihat
langsung oleh mata tanpa bantuan alat. Salah satu organisme yang terdapat di
perairan adalah plankton. Plankton merupakan organisme mikroskopis yang berada
di permukaan perairan dan berfungsi sebagai produsen ekosistem perairan. Sebagai
biota mikroskopis perairan, plankton sangat berperan sebagai produsen primer dan
sekunder (Nybakken, 2012).
Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton adalah plankton
menyerupai tumbuhan yang bebas melayang dan hanyut dalam perairan serta
mampu berfotosintesis. Zooplankton adalah organisme renik yang hidup melayanglayang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad hewani (Gusrina, 2008).
Fitoplankton merupakan pensuplai utama oksigen terlarut di perairan, sedangkan
zooplankton meskipun sebagai pemanfaat langsung fitoplankton, merupakan
produsen sekunder perairan (Nybakken, 2012). Plankton merupakan makanan alami
larva organisme perairan.
Keragaman spesies plankton di dalam ekosistem perairan sering digunakan
sebagai tolak ukur untuk mengetahui produktivitas primer perairan dan kondisi
ekosistem perairan tersebut. Kedua hal tersebut memiliki hubungan yang saling
mempengaruhi. Plankton menjadi salah satu bioindikator untuk mengetahui
produktivitas ekosistem perairan karena memiliki peran sebagai produsen.
Produktivitas primer adalah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya
energi dari senyawa-senyawa anorganik. Sedangkan ekosistem dengan keragaman
rendah adalah tidak stabil dan rentan terhadap pengaruh tekanan dari luar
dibandingkan dengan ekosistem yang memiliki keragaman tinggi. Kondisi suatu
ekosistem tidak stabil dan rentan yang terjadi dapat mempengaruhi produktivitas
primer perairan tersebut sehingga berdampak pada jaring makanan ekosistem.
Berdasarkan penjelasan di atas, plankton memiliki peran yang sangat penting di
dalam ekosistem perairan. Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum untuk
mempelajari plankton dengan faktor-faktor ekologisnya.
1.2 Permasalahan
Dalam praktikum ini permasalahan yang ada adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana keragaman dan dominansi plankton yang ditemukan dalam praktikum
kali ini?
2. Apa saja jenis-jenis plankton yang ditemukan dalam praktikum kali ini?
3. Apa hubungan antara keragaman plankton dengan kualitas perairan?
1.3 Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk:

1.

Mengetahui keragaman dan dominansi plankton yang ditemukan dalam praktikum


kali ini.
2. Mengetahui jenis-jenis plankton yang ditemukan dalam praktikum kali ini.
3. Mengetahui hubungan antara keragaman plankton dengan kualitas perairan.
1.4 Hipotesis
1.4.1 Hipotesis Kerja
1. Jika keragaman plankton tinggi, kualitas perairan baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Plankton
Plankton merupakan kumpulan dari organisme pelagis yang sangat mudah
hanyut oleh gerakan massa air. Plankton berbeda dengan nekton (ikan) yang juga
merupakan organisme pelagis yang dapat berenang cukup kuat sehingga dapat
melawan gerakan massa air. Plankton juga memiliki perbedaan dengan bentos yang
terdiri dari organisme yang hidup di dasar perairan (Stewart, 1986).
Dalam klasifikasinya, organisme plankton dapat dibedakan berdasakan:
1.

Berdasarkan Fungsi
Plankton digolongkan menjadi empat golongan utama, yaitu:

a.

Fitoplankton
Fitoplankton atau plankton nabati adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung
atau melayang di perairan. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh
mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 m 200 m (1 m = 0,001
mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal (Anonim 1, 2010).
Fitoplankton mempunyai fungsi penting di perairan karena bersifat autotrofik, yakni
dapat menghasilkan sendiri bahan organik makanannya. Selain itu, fitoplankton
juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik
karena mengandung klorofil dan karena kemampuannya ini fitoplankton disebut
sebagai primer producer (Stewart, 1986).

b.

Zooplankton
Zooplankton atau plankton hewani adalah hewan yang hidupnya mengapung atau
melayang dalam perairan. Kemampuan berenangnya sangat terbatas hingga
keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya. Zooplankton bersifat
heterotrofik, artinya tidak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan
anorganik. Jadi zooplankton lebih berperan sebagai konsumen (consumer) bahan
organik (D. B, Mukayat, 1994).

Zooplankton ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan
dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton)
atau yang hidup di dasar laut (bentos) menjalani awal kehidupannya sebagai
zooplankton yaitu ketika masih berupa telur dan larva (D. B, Mukayat, 1994).
c.

Bakterioplankton
Bakterioplankton merupakan bakteri yang hidup sebagai plankton. Bakterioplankton
mempunyai ciri yang khas, ukurannya sangat halus (umumnya < 1 m), tidak
mempunyai inti sel dan umumnya tidak mempunyai klorofil yang dapat
berfotosintesis (Dianthani, 2003). Fungsi utamanya dalam ekosistem laut adalah
sebagai pengurai (decomposer). Semua biota laut yang mati akan diuraikan oleh
bakteri sehingga akan menghasilkan hara seperti fosfat, nitrat, silikat, dan
sebagainya. Hara ini kemudian akan didaurulangkan dan dimanfaatkan lagi oleh
fitoplankton dalam proses fotosintesis (Dianthani, 2003).

d.

Virioplankton
Virioplankton adalah virus yang hidup sebagai plankton. Virus ini ukurannya sangat
kecil (kurang dari 0,2 m) dan menjadikan biota lainnya, terutama bakterioplankton
dan fitoplankton, sebagai inang (host). Tanpa inangnya virus ini tak menunjukkan
kegiatan hayati. Virioplankton dapat memecahkan dan mematikan sel-sel inangnya
(Dianthani, 2003).
Berdasarkan daur hidupnya plankton dibagi menjadi :

a.

Holoplankton
Dalam kelompok ini termasuk plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai
plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Kebanyakan zooplankton termasuk
dalam golongan ini. Contohnya : kokepod, amfipod, salpa, kaetognat. Fitoplankton
termasuk juga umumnya adalah holoplankton (Anonim1, 2010).

b.

Meroplankton
Plankton dari golongan ini berperan sebagai plankton hanya pada tahap awal dari
daur hidup biota tersebut, yaitu pada tahap sebagai telur dan larva saja. Beranjak
dewasa ia akan berubah menjadi nekton, yaitu hewan yang dapat aktif berenang
bebas, atau sebagai bentos yang hidup menetap atau melekat di dasar laut. Oleh
sebab itu, meroplankton disebut sebagai plankton sementara (Anonim1, 2010).
Meroplankton ini sangat banyak ragamnya dan umumnya mempunyai bentuk yang
sangat berbeda dari bentuk dewasanya. Larva crustacea seperti udang dan kepiting
mempunyai perkembangan larva yang bertingkat-tingkat dengan bentuk yang
sedikitpun tidak menunjukkan persamaan dengan bentuk yang dewasa (Anonim1,
2010).

c.

Tikoplankton
Tikoplankton sebenarnya bukan plankton yang sejati karena biota ini dalam
keadaan normalnya hidup di dasar laut sebagai bentos. Namun karena gerak air

menyebabkan ia terlepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara


sebagai plankton (Anonim1, 2010).

2.2 Peranan Plankton


Plankton sebagai bioindikator kualitas suatu perairan terutama perairan
menggenang dapat ditentukan berdasarkan fluktuasi populasi plankton yang
mempengaruhi tingkat tropik perairan tersebut. Fluktuasi dari populasi plankton
sendiri dipengaruhi terutama perubahan berbagai faktor lingkungan. Salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi populasi plankton adalah ketersediaan nutrisi di
suatu perairan. Unsur nutrisi berupa nitrogen dan fosfor yang terakumulasi dalam
suatu perairan akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi fioplankton dan
proses ini akan menyebabkan terjadinya eutrofikasi yang dapat menurunkan
kualitas perairan (Umar, 2002).

2.3 Faktor-faktor Ekologis yang Mempengaruhi Keanekaragaman Plankton


Suhu yang sesuai dengan fitoplankton berkisar antara 25 0C - 300C, sedangkan
untuk pertumbuhan dari zooplankton berkisar antara 15 0C - 340C. Faktor penetrasi
cahaya lebih banyak mempengaruhi pada fitoplankton karena penetrasi cahaya
menjadi

faktor

pembatas

bagi

organisme

fotosintetik

(fitoplankton)

untuk

melakukan kerjanya dan juga mempengaruhi migrasi vertikal harian. Arus


mempengaruhi penyebaran organisme plankton itu sendiri. Adanya arus pada suatu
ekosistem akuatik membawa plankton (khusus fitoplankton) yang menumpuk pada
suatu tempat tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya blooming pada lokasi
tertentu (Yazwar, 2008).
Ditinjau dari faktor kimia, organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan
yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah
sampai basa lemah, yaitu 7 sampai 8,5. Kondisi asam atau basa suatu perairan
akan membahayakan kelangsungan hidup organisme tersebut karena dapat
menyebabkan gangguan metabolisme dan respirasi. Kandungan unsur nutrisi,
plankton dari jenis fitoplankton dapat menghasilkan energi dan molekul yang
kompleks jika tersedia bahan nutrisi yang paling penting seperti nitrat dan fosfat.
Nitrat dan fosfat diperlukan fitoplankton sebagai unsur hara yang menunjang

pertumbuhannya. DO (Dissolved Oxygen) yang baik untuk kehidupan biota perairan


berkisar antara nilai 4,45 - 7,00 mg/l, sedangkan kadar BOD (Biology Oxygen
Demand) yang baik antara 10 mg/l 20 mg/l yang mempengaruhi perkembangan
dan produktivitas dari plankton itu sendiri (Yazwar, 2008).

2.4 Sampling Plankton


Pengambilan sampel dapat dilakukan baik secara vertikal maupun horisontal.
Pengambilan sampel secara vertikal sering mengikuti petunjuk kedalaman standar
oseanografi (Michael, 1995). Peralatan sampling yang digunakan untuk
pengambilan sampel pada umumnya berbeda-beda menurut ukuran plankton. Pada
pengambilan sampel fitoplankton dan nanoplankton dapat dilakukan dengan cara:
1.

Menggunakan jaring plankton yang memilki diameter mulut sebesar 30 cm dan


mata jaring 64 mm.

2. Pengambilan sampel dengan anung Van Dorn atau Niskin, ditampung dalam botol
sampel (250 ml) diberi bahan pengawet Formalin atau larutan Lugol.
3. Pengambilan sampel dengan tabung Van Dorn atau Niskin, selanjutnya dilakukan
penyaringan sebanyak lebih dari 21 dengan jaring plankton berdiameter 15 cm
dengan mata jaring 20 mm (Michael, 1995).
Pengambilan zooplankton pada umumnya dilakukan dengan menggunakan jaring
plankton, meskipun dapat dilakukan dengan cara lain, misalnya melakukan
penyedotan air dengan pompa, kemudian air disaring dengan jaring tertentu (102
mm, 200 mm atau 300 mm). Cara ini cukup jarang dilakukan karena memerlukan
peralatan khusus dan wahana praktikum yang dilengkapi peralatan listrik agar
dapat melakukan penyedotan air dan dalam pengoperasiannya hanya terbatas
pada kedalaman permukaan (Michael, 1995).
Pemberian bahan pengawet pada sampel dimaksudkan agar sampel-sampel yang
tidak dapat diamati segera setelah pengambilan sampel, tidak mengalami
kerusakan. Jenis-jenis bahan pengawet yang umum digunakan di lapangan adalah
Formalin, larutan Lugol, dan larutan Bouin. Sedangkan penggunaan alkohol untuk
pengawet plankton jarang dilakukan. Pemberian bahan pengawet dilakukan dengan
segera setelah sampel ditampung dalam botol sampel agar plankton tidak
mengalami kerusakan akibat terjadi proses pembusukan (Michael, 1995).
Terdapat dua metode sampling plankton yang dikenal sesuai dengan tujuannya
dibagi menjadi:
1. Kualitatif, yaitu bertujuan untuk menyesuaikan jenis-jenis plankton.
2. Kuantitatif, yaitu bertujuan untuk mengetahui kelimpahan plankton (Hariyanto,
2008).

Metode sampling kuantitatif pada umumnya dilakukan untuk mengetahui


kepadatan plankton per satuan volume. Sampling plankton secara kuantitatif dapat
dilakukan dengan menggunakan jaring plankton (plankton net). Penggunaan jaring
plankton, selain sangat praktis, juga memperoleh sampel yang cukup banyak. Jaring
plankton umumnya berbentuk kerucut dengan berbagai ukuran dengan panjang
jaring sekitar 4-5 kali diameter mulutnya.

Gambar 2.4 Jaring


plankton
Jaring berfungsi untuk menyaring organisme planktonik (plankter) yang ada di
dalam air sehingga jenis plankton yang tertangkap sangat tergantung pada ukuran
mata jaring. Sehingga ukuran mesh yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis
ataun ukuran plankton yang akan diamati. Untuk perairan dangkal di daerah tropis,
dianjurkan untuk menggunakan mesh dengan ukuran 30-50 m untuk fitoplankton
dan zooplankton kecil. Untuk zooplankton yang ukurannya relatif besar digunakan
mata jaring 150-175 m (Wickstead, 1965 dalam Hutagalung, 1997).

2.5 Perhitungan Jumlah dan Kelimpahan Plankton


Hasil perhitungan plankton dinyatakan dalam jumlah individu/liter. Jumlah
individu per satuan volume dengan menggunakan persamaan:
N = n x (Vr/Vo) x (1/Vs).................................................(1)
Keterangan:
N = Jumlah sel per liter
n = Jumlah sel yang diamati
Vr = Volume air tersaring (L)
Vo = Volume air yang diamati (L)

Vs = Volume total air yang tersaring (L)

Kelimpahan adalah jumlah individu per satuan luas volume. Rumus yang digunakan
adalah:
Di = ni / A......................................................................(2)
Keterangan:
Di = kelimpahan individu jenis ke-i
ni = jumlah individu jenis ke-i
A = luas kotak pengambilan contoh
Kelimpahan setiap m2 didapatkan dengan mengkonversikan kelimpahan setiap
kotak contoh plankton (Rahma, 2006).
Indeks keanekaragaman (diversitas), dengan menggunakan formula ShannonWiener berikut:
H1=- [(ni/N) x ln (ni/N)] ...................................................(3)
Keterangan:
H1= indeks diversitas Shannon-Wiener
ni = jumlah individu spesies i
N = jumlah total individu semua spesies (Yulia Rahma, 2006)

Tolak ukur indeks keanekaragaman:


Tabel 2.1 Tolak Ukur Diversitas

Nilai Tolak Ukur

Keterangan
Keanekaragaman rendah, miskin,

H1 < 1,0

produktivitas sangat rendah


sebagai
indikasi adanya tekanan yang
berat dan
ekosistem tidak stabil
Keanekaragaman sedang,
produktivitas

1,0 < H1 < 3,322

cukup, kondisi ekosistem cukup


seimbang, tekanan ekologis
sedang

Indeks
dominansi
(D)
(Simpson,
1949):
D
=
2
ni / N x
100%.......
................
................
................
.....(4)
2

Keanekaragaman tinggi, stabilitas


H1 > 3,322

ekosistem mantap, produktivitas


tinggi,
tahan terhadap tekanan ekologis

Keterangan:
D = indeks Dominansi
ni = jumlah individu jenis ke-i
N = jumlah total individu
Dengan kriteria D mendekati 0 tidak ada jenis yang mendominasi dan D mendekati
1 terdapat jenis yang mendominasi (Odum, 1997).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Pengambilan sampel untuk praktikum ini dilaksanakan di Danau Kampus C
Universitas Airlangga pada hari Senin, 29 April 2013 pukul 13.00 14.30 WIB.
Pengamatan selanjutnya dilakukan di Ruang 124 Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga pada hari Selasa, 30 April pukul 8.00 13.00 WIB.

Rektorat Universitas
Airlangga

Danau
Airlangga
C

Fakultas Sains

Fakultas Kesehatan

Kampus

U
Convention

dan Teknologi

Masyarakat

Center

Gambar 3.1.1 Denah Lokasi Danau Kampus C Universitas Airlangga

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah jaring plankton, botol untuk
koleksi sampel plankton, dan ember plastik. Bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah air sampel plankton dan larutan formalin 4%.

3.3 Cara Kerja


3.3.1 Pengambilan Sampel
Dilakukan menggunakan dua metode, yaitu metode tuang dan metode lempar.
Langkah-langkah pada metode tuang yaitu, siapkan jaring plankton, ambil sampel
air menggunakan ember dengan volume 10 liter. Tuang sampel air ke dalam jaring
plankton. Lakukan sebanyak 10 kali sampai volume sampel air mencapai 100 liter.
Air yang tertampung di ujung jaring plankton dipindahkan ke botol film sampai

mendekati penuh. Tetesi sampel dengan larutan formalin 4% kemudian tutup rapat
botol film.
Sedangkan pada metode lempar, langkahnya adalah pertama lempar jaring
plankton ke atas permukaan air sekitar 10 meter. Tarik kembali jaring plankton. Air
yang tertampung di ujung jaring plankton dipindahkan ke dalam satu botol film
sampai terisi mendekati penuh. Tetesi sampel dengan larutan formalin 4%
kemudian tutup rapat botol film.
3.3.2 Pengamatan Plankton
Pengamatan menggunakan mikroskop. Sampel yang terdapat di botol film
diambil menggunakan pipet tetes. Tuangkan ke atas Sedgewick Rafter Counting
Chamber (SRCC) 1 ml. Tutup dengan glass objek. Letakkan SRCC yang ditutupi glass
objek di meja preparat. Amati dengan mikroskop. Atur fokus mikroskop agar gambar
spesies yang ditemukan lebih terlihat jelas. Cocokkan gambar yang ditemukan
dengan buku panduan. Hitung ada berapa banyak masing-masing spesies yang
ditemukan.

3.4

Cara Analisis Data


Berikut ini merupakan cara analisis data hasil praktikum:
Tabel 3.4 Cara Analisis Data
No.
1

Cara Analisis Data


Perhitungan jumlah individu
plankton per satuan volume

Keterangan
N = n x (Vr/Vo) x (1/Vs)
Keterangan :
N = Jumlah sel per liter
n = Jumlah sel yang diamati
Vr = Volume air tersaring (mL)
Vo = Volume air yang diamati (mL)
Vs = Volume total air yang tersaring
(L)

Perhitungan
kelimpahan
individu setiap skala luas.

Di =

Keterangan :
Di = kelimpahan individu jenis ke-i
Ni = jumlah individu jenis ke-i
A = luas kotak pengambilan contoh

Perhitungan
indeks
diversitas Shannon-Wheaver.

H1=- [(ni/N) x ln (ni/N)]


Keterangan :
H1= indeks diversitas Shannon-Wiener
ni = jumlah individu spesies i
N = jumlah
spesies

total

individu

semua

D = ni2 / N2 x 100%
Keterangan :

Perhitungan dominansi
(Simpson, 1969).

D = indeks Dominansi
ni = jumlah individu jenis ke-i
N = jumlah total individu

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data-data sebagai berikut:
Tabel 4.1 Data Hasil Pengamatan Sampel dengan Metode Tuang
No
.

Spesies

1.

Fragillaria sp.

Jumlah
85

Gambar

2.

Nitzschia
brebissonii

3.

A planula larva
from the plankton
of the coast of
Florida

4.

Chrtocalpis
sethophora

5.

Zygodactyla
gronlandica

10

6.

Planktosphaeria
gelabnosa

7.

Sirogonium
sticticum

8.

Noctiloca
scintillans

18

9.

Trichocerca
longiseta

10

10.

Gloeocystis gigas

11.

Amphinema
dinema

12.

Aglantha digitalis

13.

Nybodocon prolifer

14.

Coscinodiscus
oculus iridis

15.

Microspora
willeana

16.

Holopedium
irregular

17.

Theocapsa darwinii

Tabel 4.2 Data Hasil Pengamatan Sampel dengan Metode Lempar


No.

Spesies

Jumlah

Gambar

Nitzschia
brebissoni

Fragillaria sp.

Noctiloca
scintillans

Closterium sp.

30

27

4.2 Analisis Data


Berikut ini adalah hasil analisis perhitungan dari data yang diperoleh:
Tabel 4.3 Tabel Jumlah Total Spesies Plankton
No.

Spesies

Jumlah

1.

Fragillaria sp.

91

2.

Nitzschia brebissonii

37

3.

A planula larva from the plankton of the coast of

Florida
4.

Chrtocalpis sethophora

5.

Zygodactyla gronlandica

6.

Planktosphaeria gelabnosa

7.

Sirogonium sticticum

8.

Noctiloca scintillans

45

9.

Trichocerca longiseta

10

10

10.

Gloeocystis gigas

11.

Amphinema dinema

12.

Aglantha digitalis

13.

Nybodocon prolifer

14.

Coscinodiscus oculus iridis

15.

Microspora willeana

16.

Holopedium irregular

17.

Theocapsa darwinii

18

Closterium sp.
Total spesies

4.2.1 Jumlah Plankton Per Satuan Volume


Diketahui : n

= 270

Vr

= 0,1 L

Vo = 0,01 L
Vs = 100 L
Keterangan:
n

= Jumlah sel yang diamati

Vr

= Volume air tersaring (L)

Vo

= Volume air yang diamati (L)

Vs

= Volume total air yang tersaring (L)

Jadi, jumlah plankton per satuan volume adalah:


N = n x (Vr/Vo) x (1/Vs)

12
5
270

= 270 x (0,1/0,01) x (1/100)


= 270 x 10 x 0,01
= 27
= 27 sel plankton per liter
4.2.2 Perhitungan Kelimpahan Individu Plankton Setiap Skala Luas
Tabel 4.4 Tabel Kelimpahan Plankton Setiap Skala Luas
No.

Spesies

Jumlah

Kelimpahan

1.

Fragillaria sp.

91

0,091

2.

Nitzschia brebissonii

37

0,037

3.

A planula larva from the


plankton of the coast of
Florida

0,008

4.

Chrtocalpis sethophora

0,004

5.

Zygodactyla gronlandica

10

0,010

6.

Planktosphaeria
gelabnosa

0,003

7.

Sirogonium sticticum

0,005

8.

Noctiloca scintillans

45

0,045

9.

Trichocerca longiseta

10

0,010

10.

Gloeocystis gigas

0,002

11.

Amphinema dinema

0,009

12.

Aglantha digitalis

0,004

13.

Nybodocon prolifer

0,006

14.

Coscinodiscus oculus
iridis

0,003

15.

Microspora willeana

0,007

16.

Holopedium irregular

0,009

17.

Theocapsa darwinii

12

0,012

18

Closterium sp.

0,005

Total spesies

270

Skala luas pada SRCC adalah p x l = 50 x 20 = 1000 satuan luas

4.2.3 Perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wheaver


Tabel 4.2.3 Tabel Indeks Keanekaragaman Shannon-Wheaver Plankton

No.

Nama Spesies

Jumla
h
(Ni)

(Ni/N)
x

(Ni/N
)

Ln
(Ni/N)
-1,087

-0,366

11,356

-1,987

-0,272

1,876

-3,540

-0,102

0,084

-4,268

-0,059

0,019

-3,296

-0,121

0,136

-4,509

-0,049

0,012

-4,017

-0,072

0,032

-1,795

-0,297

2,755

-3,296

-0,121

0,136

-4,961

-0,034

0,004

-3,411

0,112

0,108

1.

Fragillaria sp.

91

0,337

Nitzschia
brebissonii

37

0,137

2.

0,029

3.

A planula larva
from the plankton
off the coast of
Florida

0,014

4.

Chrtocalpis
Sethophora
Zygodactyla
gronlandica

10

0,037

5.

Planktosphaeria
gelabnosa

0,011

6.

0,018

7.

Sirogonium
sticticum

45

0,166

8.

Noctiloca
scintillans
Trichocerca
longiseta

10

0,037

9.

Ln
(Ni/N)

D (%)

10.

Gloeocystis gigas

0,007

Amphinema
dinema

0,033

11.
12.

Aglantha digitalis

0,014

-4,268

-0,059

0,019

13.

Nybodocon prolifer

0,022

-3,816

-0,083

0,048

0,011

14.

Coscinodiscus
oculus iridis

-4,509

-0,049

0,012

Microspora
willeana

0,025

15.

-3,688

-0,092

0,062

Holopedium
irregular

0,033

16.

-3,411

-0,112

0,108

17.

Theocapsa darwinii

18.

Closterium sp.

12

0,044

-3,123

-0,137

0,193

0,018

-4,017

-0,072

0,032

270

1,985

4.3 Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui keragaman plankton, jenis-jenis
plankton serta hubungan keragaman plankton dan kualitas perairan di Danau
Kampus C Universitas Airlangga. Sampling dilakukan pada 2 titik di Danau Kampus
C Universitas Arlangga. Pada titik pertama yaitu di danau bagian selatan, sampling
dilakukan dengan metode lempar. Pada metode ini jaring plankton dilempar sekitar
5 meter kemudian ditarik secara perlahan dan konstan ke tepi. Air yang tertampung
pada botol di ujung jaring plankton kemudian dipindahkan ke dalam botol film.
Selanjutnya yaitu penambahan formalin 4% ke dalam botol sampel dengan tujuan
untuk mengawetkan plankton agar tidak hancur.
Pada titik kedua yang dilakukan pada danau sebelah utara sampling dilakukan
dengan metode tuang. Pada metode ini air diambil dengan ember sebanyak 10 L
kemudian dituang ke dalam jaring plankton. Jaring plankton yang digunakan pada
metode ini berbeda dengan net plankton yang digunakan pada metode lempar.
Jaring plankton yang digunakan mempunyai botol yang lebih besar di ujungnya.
Percobaan dilakukan sebanyak sepuluh kali sehingga total volume air yang tertuang
sebanyak 100 L. Setelah itu air yang tertampung dipindahkan ke dalam botol film
lalu ditambahkan formalin 4%.
Kedua sampel tersebut kemudian dibawa ke laboratorium untuk diamati.
Pengamatan dilakukan menggunakan mikroskop binokuler dan gelas objek yang
disebut Sedgewick Rafter Counting Chamber (SRCC). Sampel pertama yang
menggunakan metode tuang diteteskan hingga kotak terisi penuh. SRCC ditutup
secara perlahan agar tidak terjadi aerasi. Kemudian sampel diamati di bawah
mikroskop. Hasilnya adalah terdapat 17 jenis spesies yang ditemukan dalam sampel
pertama. Pada sampel kedua yang menggunakan metode lempar hasilnya
ditemukan 4 jenis spesies yang tiga diantaranya sama dengan jenis spesies yang
ada pada sampel pada metode tuang. Jenis spesies yang terdapat dalam sampel
metode tuang lebih bervariasi dikarenakan frekuensi dan volume air penyaringan
pada metode tuang lebih banyak dibandingkan dengan metode lempar. Pada
metode tuang penyaringan dilakukan sebanyak 10 kali sedangkan pada metode
lempar hanya satu kali.
Semua jenis sampel digabung dalam satu tabel, kemudian dihitung
menggunakan perhitungan kelimpahan individu (plankton) setiap skala luas dan
hasilnya kelimpahan yang terbesar dimiliki oleh spesies Fragillaria sp. sebesar 0,091
per 1000 satuan luas kotak pengamatan, sehingga menyebabkan nilai indeks
keragaman jenisnya rendah karen Fragillaria sp. mendominasi lokasi ini.
Kaeragaman jenis merupakan karakteristik struktur suatu komunitas. Suatu
komunitas dikatakan mempunyai keragaman jenis yang tinggi apabila terdapat

banyak jenis dengan jumlah individu dari masing-masing spesies yang relatif
merata. Sebaliknya jika suatu komunitas hanya terdiri dari beberapa jenis dengan
jumlah yang tidak merata, keragaman jenisnya rendah (Barus, 2002).
Fragillaria sp. merupakan organisme diatom yang berbentuk panjang seperti
benang dengan susunan tubuh uniseluler. Selnya terdiri dari 2 bagian tutup
(epitheca) dan wadah (hypoteca). Habitatnya di tempat-tempat basah seperti air
tawar, air laut, dan tanah lembab. Sehingga spesies ini mudah ditemukan
diberbagai tempat perairan. Berperan sebagai plankton dan produsen utama.
Kelimpahan terkecil dimiliki oleh spesies Gleocytis gigas sebesar 0,002 per
1000 satuan luas kotak pengamatan. Indeks dominansi tertinggi diperoleh oleh
spesies jenis Fragillaria sp yaitu sebesar 11,356%. Data nilai indeks
keanekaragaman (H) total diperoleh H = 1,985. Mengacu pada Tabel 2.4 jika nilai
H = 1,985 maka perairan Danau Rektorat Universitas Airlangga Kampus C memiliki
keanekaragaman sedang, produktivitas cukup, kondisi ekosistem cukup seimbang,
tekanan ekologis sedang (1,0 < H < 3,322).

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil praktikum ini, didapatkan
kesimpulan sebagai berikut:
1.

Jumlah total spesies plankton yang ditemukan sebanyak 270, dengan kelimpahan
plankton terbesar dimiliki oleh spesies Fragillaria sp. sebesar 0,091 per 1000 satuan
luas kotak pengamatan sedangkan kelimpahan terkecil dimiliki oleh spesies
Gleocytis gigas sebesar 0,002 per 1000 satuan luas kotak pengamatan dengan
indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada spesies Fragillaria sp sebesar
11,356% dan indeks keanekaragaman terendah terdapat pada spesies Gloeocystis
gigas sebesar 0.004%. Indeks dominansi tertinggi diperoleh oleh spesies jenis
Fragillaria sp yaitu sebesar 11,356%.
2. Adapun jenis plankton yang dapat diamati pada metode tuang adalah Fragillaria
sp., Nitzschia brebissonii, Chrtocalpis sethophora, Zygodactyla gronlandica,
Planktosphaeria gelabnosa, Sirogonium sticticum, Noctiloca scintillans, Trichocerca
longiseta, Gloeocystis gigas, Amphinema dinema, Aglantha digitalis, Nybodocon
prolifer, Coscinodiscus oculus iridis, Microspora willeana, Holopedium irregular,
Theocapsa darwinii. Sedangkan jenis plankton yang dapat diamati pada metode
lempar adalah Nitzschia brebissoni, Fragillaria sp., Noctiloca scintillans.

3.

Mengacu pada nilai indeks keanekaragaman yang telah diperoleh yaitu sebesar
1,985 maka plankton yang terdapat di Danau Rektorat Universitas Airlangga
Kampus C memiliki keanekaragaman sedang, produktivitas cukup dengan kondisi
ekosistem cukup seimbang, dan tekanan ekologis sedang.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim1.
2010.
Pengertian
dan
penggolongan
plankton.
(http://entahsiapa15.wordpress.com/2009/01/16/pengertian-dan-penggolonganplankton/). Diakses tanggal 2 April 2013.
Anonim2. 2012. Pengertian dan Definisi Nekton. (http://blogger.com/pengertian-dandefinisi-nekton//). Diakses pada 12 April 2013.
Barus, T.A. 2002. Pengantar Limmnologi. Medan: Departemen Pendidikan Nasional.
Dianthani, D. 2003. Identifikasi Jenis Plankton di Perairan Muara Badak,Kalimantan Timur.
(http://www.geocities.com). Diakses 02 April 2013.
Gusrina, 2008. Budidaya Ikan Jilid I. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Klaten: PT. Macaan Jaya Cemerlang.
Hutagalung, H. P. 1997. Metode Analisis Air Laut Sedimen dan Biota. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia.
Mentari,
D.
2012.
Sistematika
Tumbuhan
Rendah.
(http:/mentarib1ru.blogspot.com/2012/sistematika_tumbuhan_rendah_5035.html).
Diakses pada tanggal 4 Mei 2013.
Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Mukayat, D.B. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Nyibakken. 2012. Pengertian dan Definisi Plankton. (http://blogger.com/pengertian-dandefinisi-plankton//). Diakses pada 12 April 2013.
Odum, E. P., 1997. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta: UGM Press.
Rahma, Y. F. 2006. Keanekaragaman dan Kelimpahan Makrozoobentos di Hutan Mangrove
Hasil Rehabilitasi Taman Hutan Raya Ngurah Rai Bali. Surakarta: UNS Surakarta.

Stewart, M.E., dkk. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. Jakarta : UI-press.


Umar, N. A. 2002. Hubungan antara Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton (Kopeoda)
dengan Larva Kepiting di Peraian Teluk Siddo Kabupaten Barru Sulawesi Selatan.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Wickstead, J.H. 1965. An Introduction to the Study of Tropical Plankton Hutchinson.
Yazwar. 2008. Keanaekargaman Plankton dan Keterkaitannya dengan Kualitas Air di
Parapat Danau Toba. Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara.

l metode lempar

LAMPIRAN

Gambar 2. Pengambilan sampel metode tuang

Gambar

3. Penambahan formalin 4%

Gambar 4. Botol film

Gambar 5. Penetesan sampel pada SRCC


pada mikroskop

Diposkan oleh Faisol Hezim


Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Gambar 6. Pengamatan

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

My Instagram
Hezym

Bersama Lebih baik

Tentang Hezym
Assalamu`alaikum
hayyy gan, kenalkan aku Faisol Hezym asal daerah Kabupaten Bondowoso, Jawa
Timur, dan sekarang hidup di Kota Seribu Taman dimana itu?? Yaa Kota Surabaya
(Dulu sih Kota Pahlawan sekarang katanya Kota Seribu Taman). Akusekarang sibuk
sebagai Mahasiswa di salah satu Universitas Terbaik di Indonesia yaitu Universitas
Airlangga (UA/UNAIR), tepatnya di Program Studi Ilmu dan Teknologi Lingkungan.
Akuu sebelumnya Lulusan dari SDN Cermee 3, SMPN 1 Cermee, dan SMAN 1
Prajekan itu semua aku lalui di Kabupaten yang sama yaituu Kabupaten Bondowoso.
udah yaa.. lanjutin duluubaca blog Pengetahuan Hezym ini...

Total Tayangan Laman


97944

Google+ Hezym
Google+ Badge
Daftar Bacaan

Islami (6)

Kuliah Lingkungan (20)

Laporan Praktikum (11)

Makalah (8)

Pariwisata (14)

Pendidikan (3)

Sejarah (3)

Tutorial (2)

Entri Populer

Pengukuran Oksigen Terlarut (DO) Metode Winkler (Praktikum Ekologi Umum)

Daftar Nama Mikroorganisme/ Bakteri/ Kapang/ Yeast dan Peranannya

Praktikum Analisis Vegetasi Metode Kuadrat

Blog Archive

2015 (16)

2014 (21)

2013 (30)
o

Desember (11)

Masalah pendidikan di Indonesia

Mangrove (Laporan Ekologi Umum)

Produktivitas Primer (Praktikum Ekologi Umum)

Pengukuran Oksigen Terlarut (DO) Metode Winkler (P...

Estimasi Populasi (Praktikum Ekologi Umum)

Petumbuhan Populasi dan Daya Dukung Lingkungan (Pr...

Laporan Praktikum tentang Plankton (Praktikum Ekol...

Makalah EFEK PEMANASAN GLOBAL (GLOBAL WARMING) TER...

Macam Pencemaran Air dan Pencemaran Udara Lengkap

Benthos (Praktikum Ekologi Umum)

Sistem Fotosintesis pada Tumbuhan Xerofit (Daerah ...

November (5)

Oktober (4)

September (3)

Agustus (3)

Juni (1)

Mei (2)

April (1)

Tentang Hezym (About Me)

Lihat profil lengkapku

Histats Hezym
Template Picture Window. Gambar template oleh FaisolHezim. Diberdayakan oleh
Blogger.

Laporan Praktikum Plankton

Nama Asisten
Kelompok

: Melani
: VI (enam)

Sesi

:I

PLANKTON
OLEH :
EMELIA NASUTION
1204113838
MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

LABORATORIUM EKOLOGI
DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN PERAIRAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU

2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat
dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan laporan hasil

praktikum Ekologi

Perairan.
Dalam laporan ini saya menjelaskan mengenai pengertian secara umum.
Adapuan tujuan saya menulis laporan praktikum ini yang utama adalah

untuk

memenuhi tugas. Di sisi lain, saya menulis laporan praktikum ini untuk mengetahui
lebih rinci mengenai Plankton.
Saya menyadari laporan praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
sebab itu,diharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan laporan
praktikum ini untuk ke depannya. Semoga laporan praktikum ini bermanfaat bagi
kita semua terutama bagi mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti mata kuliah
Ekologi Perairan.

Pekanbaru, April 2013

Emelia Nasution

Daftar Isi
KATA PENGANTAR ...................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................

i
ii

LAMPIRAN ....................................................................................

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ........................................................................

1.2. Tujuan dan Manfaat ................................................................

II. TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Waktu dan Tempat .................................................................

3.2. Bahan dan Alat .......................................................................

3.3. Metode Praktikum ..................................................................

3.4. Prosedur Praktikum ................................................................

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil.........................................................................................

4.2. Pembahasan ............................................................................

11

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan .............................................................................

15

5.2. Saran .......................................................................................

15

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Lampiran

Lampiran
1. Alat-alat yang digunakan selama praktikum

Halaman
..................................... 17

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan suatu negara yang sebagian besar wilayahnya adalah
perairan.

Sumberdaya perairan indonesia sangat kaya akan hasil-hasil laut terutama ikan.
Dalam ekosistem perairan Indonesia juga sangat banyak terdapat plankton.
Plankton berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai arti mengapung, Plankton
biasanya mengalir bersama arus laut. Plankton juga biasanya disebut biota yang
hidup di mintakat pelagic dan mengapung, menghanyutkan atau berenang sangat
lincah, artinya mereka tidak dapat melawan arus dan arah
Plankton adalah setiap organisme hanyut ( hewan, tumbuhan, archaea, atau
bakteri ) yang menempati zona pelagik samudera, laut, atau air tawar. Plankton
ditentukan oleh niche ekologi mereka dari pada taksonomi filogenetik atau
klasifikasi. Mereka menyediakan sumber makanan penting yang lebih besar, lebih
dikenal organisme akuatik seperti ikan dan cetacea. Meskipun banyak spesies
planktik ( atau bagian plankton lihat di Terminologi ) berukuran mikro dalam ukuran,
plankton termasuk organisme meliputi berbagai ukuran, termasuk organisme besar
seperti ubur-ubur (Sidiq. 2008).
Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka.
Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja.
Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan
untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya.

1.2 Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis plankton
di waduk FAPERIKA UR dan sebagai informasi mengenai plankton bagi para
pembaca, khususnya mahasiswa FAPERIKA UR juga untuk memenuhi tugas laporan
hasil praktikum Ekologi Perairan mengenai Plankton.

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah kita dapat mengetahui
seberapa banyak jenis plankton yang ada diwaduk FAPERIKA UR. Kita juga dapat
memahami langkah-langkah untuk mengidentifikasi plankton disuatu perairan
sehingga juga dapat dilakukan pada area yang lainnya. Tak hanya itu, penulisan
makalah ini juga dapat menambah wawasan atau pengetahuan kita bagaimana
cara membedakan antar jenis plankton sehingga dan dapat meningkatkan
pemahaman praktikan tentang jenis-jenis plankton.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kualitas suatu perairan terutama perairan menggenang dapat ditentukan


berdasarkan fluktuasi populasi plankton yang akan mempengaruhi tingkatan trofik
perairan tersebut. fluktuasi dari populasi plankton sendiri dipengaruhi terutama
oleh perubahan berbagai faktor lingkungan .salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi populasi plankton adalah ketersediaan nutrisi di suatu perairan.

unsur nutrisi berupa nitrogen dan fosfor yang terakumulasi dalam suatu perairan
akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi fitoplankton dan proses ini akan
menyebabkan terjadinya eutrofikasi yang dapat menurunkan kualitas suatu
perairan (Uun, 2006).
Plankton mempunyai massa yang aktif yang mirip dengan organisme tingkat
tinggi, dimana untuk phytoplankton akan terdapat dalam jumlah besar pada siang
hari dan zooplankton pada malam hari. (Fajri, 2013).
Penyumbang oksigen planet Bumi selama ini yang kita tahu adalah pohon,
tapi pada kenyataannya ternyata plankton lah ayang merupakan penyumbang
oksigen terbesar di planet Bumi. Pohon hanya menumbang oksigen sebesar 20%
untuk Planet Bumi. Pohon berguna untuk mitigasi (mengurangi) karbondioksida
yang ada di bumi. (http://adityaaqbari.blogspot.com/2010/12/penyumbang-oksigenterbesar-bagi-bumi.html).
Menurut Nontji (2005), plankton adalah organisme yang hidupnya melayang
atau mengambang di dalam air. Kemampuan geraknya, kalaupun ada, sangat
terbatas hingga organisme tersebut terbawa oleh arus namun, mempunyai peranan
penting dalam ekosistem laut, karena plankton menjadi bahan makanan bagi
berbagai jenis hewan laut lainnya. Selain itu hampir semua hewan laut memulai
kehidupannya sebagai plankton terutama pada tahap masih berupa telur dan larva.
Klasifikasi dalam biologi membedakan plankton dalam dua kategori utama
yaitu fitoplankton yang meliputi semua hubungan renik dan zooplankton yang
meliputi hewan yang umumnya renik (Rutter, 1973 dalam Sahrainy, 2001).
Walaupun Plankton potensial berbahaya menyebar luas secara geografis dan
hal ini mengidentifikasikan adanya kisaran yang luas terhadap toleransi suhu, tetapi

spesies alga potensial berbahaya daerah tropik mempunyai toleransi yang rendah
terhadap perubahan suhu. Kisaran suhu optimal bagi spesies alga potensial
berbahaya adalah 250300 C dan kemampuan proses fotosintesis akan menurun
tajam apabila suhu perairan berada di luar kisaran optimal tersebut (Gross dan
Enevoldsen, 1998 dalam Gosari, 2002).

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum Ekologi Perairan mengenai Palnkton dilaksanakan padahari Selasa,
26 Maret 2013 pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 14.30 WIB bertempat di
Waduk FAPERIKA UR dan di Laboratorium Ekologi dan Manajemen Lingkungan
Perairan UR, Kampus Bina Widya KM.12,5 Simpang Baru, Panam, Pekanbaru.

3.2 Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air sampel, sedangkan
alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah planktonnet, mikroskop binokuler,
objek glass, cover glass, buku identifiksi plankton, pipet tetes, ember
dan kalkulator ( yang memiliki log).

3.3 Metodelogi Praktikum

Adapun metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode survey,
yakni penelitian langsung ke lokasi dengan menggunakan analisis secara ek situ.

3.4 Prosedur Praktikum


Sebelum praktikum dimulai, asisten menjelaskan cara menggunakan alat-alat
yang akan digunakan nantinya. Asisten juga menjelasakan cara perhitungan
kelimpahan atau pencacahan plankton. Kemudian, asisten beserta praktikan pergi
menuju waduk sambil membawa alat-alat yang dibutuhkan untuk segera melakukan
penelitian.

PENGAMBILAN SAMPEL PLANKTON


Pertama sekali siapkan alat-alat yang akan digunakan, seperti planktonnet,
emeber dan botol. Kemudian tentukan lokasi pengambilan sampel plankton. Setelah
lokasi ditemukan, maka ambil air dengan menggunakan ember lalu saring
menggunakan planktonnet. Begitulah seterusnya hingga air yang disaring mencapai
sepuluh ember. Setelah sampel yang diambil mencukupi, maka bawa air hasil
saringan tadi ke laboratorium untuk diamati jenis plankton apa yang terdapat pada
air sampel tersebut dengn menggunakan mikroskop.

PENENTUAN JENIS PLANKTON


Siapakan bahan dan alat yang akan digunakan, seperti air samapal hasil
saringan dengan menggunakan planktonnet, mikroskop, objek glass, cover glass,
pipet tetes dan buku identifikasi plankton. Ambil satu tetes air sampel dengan

menggunakan pipet tetes lalu taruh di objek glass, stelah itu tutup objek glass
dengan cover glass lalu taruh ditempat objek glass pada mikroskop. Tentukan
perbesaran dan atur posisi objek glass sedemikian rupa hingga terlihat plankton
yang terkandung pada air sampel tadi. Namun, jika plankton tak juga terlihat pada
air sampel, ganti air sampel yang ada di objek glass dengan air sampel yang baru
yang ada di botol. Lalu bersihkan objek glass dari air sampel yang tidak ditemukan
plankton tadi, dan teteskan kembali air sampel ke objek glass dan amati kembali
menggunakan mikroskop. Setelah plankton ditemukan, maka sesuaikan bentuk
plankton dengan yang ada di buku identifikasi plankton. Setelah sesuai, gambarkan
pada lembar kerja praktikum. Jangan lupa tuliskan juga nama kelas, jenis dan
berapa jumlah yang ditemukan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Adapun hasil dari praktikum mengenai plankton adalah sebagai berikut,

Kelas

Nama Jenis

: Cholorophycae

: Pediastrum

Kelas

: Phyrropcae

Nama Jenis

: Dissodinium

lunula

duplex

dengan sporameyen

sporanya

Jumlah ditemukan : 1

Jumlah ditemukan : 1

Kelas

Kelas

: Rotatoricae

Nama Jenis
Nama Jenis

: Rotifera

:Xantrophycae
: Bolrydiococcus

braunii

neptunius
Jumlah ditemukan : 5

pascher
Jumlah ditemukan : 1

Kelas

: Platomae

Nama Jenis

Kelas

: Nitzschia carvula

Jumlah ditemukan : 1

: Phyrophyae

Nama Jenis

: P. Ballense

Jumlah ditemukan

:7

Hasil perhitungan untuk menentukan nilai kelimpahan plankton adalah


sebagai berikut,
Jumlah
Jenis yang
No.

Nilai Kelimpahan
ditemukan (sel

ditemukan

(N)sel/L atau ind/L*


atau individu*)

16,66

16,66

83,3

16,66

16,66

116,62

Hasil perhitungan indeks keragaman jenis adalah sebagai berikut,


Kelimpahan

pi.log2

No.
(ni)

pi = ni/N

log pi

log 2.pi

pi

16,66

0,0625

-1,204

-3,999

16,66

0,0625

-1,204

-3,999

83,3

0,3125

-0,505

-1,677

16,66

0,0625

-1,204

-3,999

16,66

0,0625

-1,204

-3,999

11,62

Total

0,4375

-0,359

N= 266,56

-1,192
-2,041

Nilai indeks H =

= - (-2,041)
=2,041
Kesimpulan : keragaman jenis plankton di waduk FAPERIKA UR adalah
sedang.

Hasil perhitungan indeks dominasi jenis adalah sebagai berikut,


Nama

Kelimpahan

No.

(ni/N)2 =
(ni/N) = pi

Jenis

(ni)

16,66

0,0625

0,0039063

16,66

0,0625

0,0039063

83,3

0,3125

0,0976563

16,66

0,0625

0,0039063

16,66

0,0625

0,0039063

116,62

0,4375

0,1914063

Total

pi2

N= 266,56

=1,183

Kesimpulan : Nilai indeks dominasi adalah 1,183, artinya ada jenis plankton
yamg mendominasi diperairan waduk FAPERIKA UR.

4.2 Pembahasan
Pada saat melakukan pengamatan jenis-jenis plankton yang ada di waduk
FAPERIKA UR, ditemukan berbagai jenis plankton seperti Pediastrum duplex meyen
sebanyak 1, Bolrydiococcus braunii poscher sebanyak 1, Nitzschi curvula sebanyak
1, P baliense sebanyak 7, Rotifera neptunius sebanyak 5, dissodinium lunula
sebanyak 1. Dari berbagai jenis plankton yang ditemukan, menandakan bahwa
waduk di FAPERIKA UR masih baik karena masih terdapat banyak jenis plankton.
Karena, kualitas suatu perairan dapat dikatakan baik atau buruk dapat dilihat dari
jumlah jenis plankton yang terdapat diperairan tersebut.
Dalam perhitungan untuk menentukan kelimpahan plankton menggunakan
rumus menurut APHA, AWWA, WEF (1989) yakni sebagai berikut
N= Z

Ket :
N = Kelimpahan plankton (sel/L)
V = Volume air yang disaring (25L)
X = Volume air yang tersaring (125 mL)
Y = Volume 1 tetes pipet (0,o5 mL)
Z = Jumlah individu yang ditemukan (sel)
Dalam perhitungn ini, nilai X=125, nilai Y= 0,15dan nilai V=50
Maka, didapat hasilnya adalah sebagai berikut

Jumlah
Jenis yang
No.

Nilai Kelimpahan
ditemukan (sel

ditemukan

(N)sel/L atau ind/L*


atau individu*)

16,66

16,66

83,3

16,66

16,66

116,62

Dalam perhitungan indeks keragaman jenis menggunakan rumus menurut


Shannon-Winne (dalam Odum, 1971) yang disimbolkan dengan H, yakni sebagai
berikut
H =

pi log2 pi

Ket :
Log2

= 3,321928

pi

= ni/N, dimana N= total nilai kelimpahan

Log2 pi
pi log2 pi

= log dari nilai pi


= pi (log2 pi)

maka, hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut,

No.

Kelimpahan

pi = ni/N

log pi

log 2.pi

pi.log2

(ni)

pi

16,66

0,0625

-1,204

-3,999

16,66

0,0625

-1,204

-3,999

83,3

0,3125

-0,505

-1,677

16,66

0,0625

-1,204

-3,999

16,66

0,0625

-1,204

-3,999

11,62

0,4375

-0,359

-1,192

Total

N= 266,56

-2,041

Nilai indeks H =

= - (-2,041)
=2,041

Dalam perhitungan indeks dominasi jenis (C) menggunakan rumus menuut


Simpson (dalam Odum, 1971), yakn sebagai berikut
C=

Ket :
ni = banyaknya individu yang ditemukan
N = jumlah ni = ni

Maka, didapatkan hasil sebagai berikut


Nama

Kelimpahan

Jenis

(ni)

16,66

0,0625

0,0039063

16,66

0,0625

0,0039063

83,3

0,3125

0,0976563

16,66

0,0625

0,0039063

16,66

0,0625

0,0039063

116,62

0,4375

0,1914063

No.

(ni/N)2 =
(ni/N) = pi

Total

pi2

N= 266,56

Nilai indeks C=

Maka, nilai indeks C = 1,183

(pi)2

=1,183

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Setelah diadakannya praktikum mengenai plankton di waduk FAPERIKA UR,
didapatkan hasil bahwa terdapat banyak plankton yang hidup di waduk tersebut. Ini
menandakan bahwa waduk FAPERIKA UR belum tercemar karena plankton
merupakan suatu indicator untuk menduga kualitas perairan apakah masih jernih
atau sudah tak jernih (tercemar).
5.2 Saran
Demi menjaga kualitas air di waduk FAPERIKA UR, diharapkan kepada semua
pihak agar tidak mencemari air yang ada diwaduk tersebut. Kualitas air diwaduk
saat ini adalah baik, namun apabila tidak dijaga akan berkurang kualitasnya. Maka,
marilah bersama-sama kita jaga agar air di waduk tersebut tetap lestari dan tidak
tercemar.

DAFTAR PUSTAKA

Fajri,

Nur

El

dan

Agustina.

2013.

Penuntun

Praktikum

dan

Lembar

Kerja

Praktikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UR.


Pekanbaru.
http://adityaaqbari.blogspot.com/2010/12/penyumbang-oksigen-terbesar-bagi
bumi.html
Musa dan Uun. 2006. Diktat Limnologi. UB. Malang
Nontji, Anugrah. 2005. Laut Nusantara Djambatan. Jakarta.

Sahriany, S. 2001. Studi Komposisi dan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Karbino


Kepulauan Sembilan Kabupaten Sinjai. Skripsi. Jurusan Perikanan. Fakultas Ilmu
Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.