Anda di halaman 1dari 5

Pemerikasaan

dan

Penegakkan

Diagnosa

Tuberkulosis

Paru
a. Pemeriksaan
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris),
badan kurus atau berat badan menurun. Namun pada kasus dini atau kasus
terinfiltrasi secara asimtomatik jarang ditemukan kelainan. Tempat kelainan lesi TB
paru yang paling dicurigai adanya infiltrate bagian apeks paru. Pada pemeriksaan
palpasi dan perkusi TB paru sulit dinilai. Biasanya pada kavita yang cukup luas bila
diperkusi memberikan suara hipersonor atau timpani. Dan berikut beberapa suara
yang ditemukan dalam pemeriksaan auskultasi :
-

Suara nafas bronchial : bila ada infiltrate yang agak luas


Vesicular melemah
: bila adanya penebalan pleura
Suara amforik
: bila ada kavitas yang cukup besar
Ronki basah, Kering & nyaring

Pemeriksaan Radiologis
Pada pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk menemukan
lesi

tuberculosis.

Pada

kasus

tuberculosis

milier

pada

anak

lebih

mudah

menggunakan pemeriksaan ini dibandingkan pemeriksaan sputum. Lokasi lesi


tuberculosis umumnya di daerah apeks paru (segmen apical lobus atas atau
segmen apical lobus bawah), namun dapat juga mengenai lobus bawah atau di
daerah hilus menyerupai tumor paru. Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan
yaitu foto thoraks, bronkografi, CT scan, dan MRI
1. Foto Thoraks
Gambaran yang sering didapatkan pada foto dada :
- Bercak seperti awan dan batasnya tidak tegas (ditemukan pada awal
-

penyakit)
Tuberkuloma (Lesi diliputi jaringan ikat berbentuk bulat dan berbatas

tegas)
Garis-garis Fibrotik
Kavitas ( berupa gambaran cincin)

- Kalsifikasi ( Bercak-bercak padat dengan densitas tinggi)


- Atelektasis ( fibrosis yang luas disertai penciutan bagian paru)
2. Pemeriksaan Bronkografi
Pemeriksaan ini untuk melihat kerusakan bronkus atau paru yang disebabkan
oleh tuberculosis. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan bila pasien akan
menjalani pembedahan paru.
3. CT-Scan (Computed Tomography Scanning)
Pemeriksaan radiologi thoraks yang lebih canggih dan saat ini sudah banyak
dipakai di rumah sakit rujukan. Pemeriksaan ini lebih superior disbanding
pemeriksaan radiologis biasanya. Perbedaan densitas jaringan terlihat lebih
jelas dan sayatan dapat dibuat transversal.
4. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Pemeriksaan MRI ini tidak sebaik CT-Scan, tetapi dapat mengevaluasi prosesproses dekat apeks paru, tulang belakang, perbatasan dada-perut. Sayatan
bisa dibuat transversal, sagital dan koronal.

Pemeriksaan Laboratorium
1. Darah
Pemeriksaan darah pada tuberculosis hasilnya tidak sensitive dan tidak
spesifik. Pada tuberculosis mulai aktif leukosit akan sedikit meninggi,
limfosit dibawah normal, LED mulai meningkat. Namun apabila mulai
sembuh leukosit dan LED akan menuju normal namun limfosit masih
tinggi. Hasil pemeriksaan darah lain juga didapatkan :
Anemia ringan dengan gambaran normokrom dan normositter
Gama globulin meningkat
Kadar natrium darah menurun
Pemeriksaan serologi meliputi :
1. Reaksi Takahashi : untuk menunjukan tuberculosis aktif atau tidak
2. PAP-TB ( Peroksidase Anti Peroksida) : untuk menentukan antibodi
IgG yang spesifik terhadap antigen M. tuberculose
3. Uji
Mycodot
:
mendeteksi
antibody
spesifik
(Lipoarabinomannan)

2. Sputum

anti

LAM

Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya


kuman BTA, diagnose tuberculosis sudah dapat dipastikan. Selain itu
pemeriksaan dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang
sudah diberikan.
a. Pemeriksaan Bakteriologik
Mikroskop biasa : pewarnaan Ziehl-Nielsen dan Kinyoun Gabbett
Mikroskop Fluorosens: pewarnaan auramin-rhodamin
Metode pengambilan sputum yaitu metode SPS yang dilakukan 3 kali
yaitu, Spot (sputum saat kunjungan), Sputum pagi (keesokan harinya),
Spot (saat mengantarkan sputum pagi). Interpretasi hasil 3 kali
pemeriksaan yaitu :

3x positif atau 2x positif & 1x negative


: BTA (+)
1x positif & 2x negative
: harus mengulang 3x
Hasil ulang 1x positif & 2x negatif
: BTA (+)
3x negative
: BTA (-)

Interpretasi skala IUATLD (rekomendasi WHO)

Tidak ditemukan BTA dalam 100 LP (lapangan pandang)


Ditemukan 1-9 BTA per 100 LP
:

jumlah kuman
Ditemukan 10-99 BTA per 100 LP
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 LP ( min 50 LP)

(2+)
Ditemukan >10 BTA dalam 1 LP (min 20 LP)

: (-)
tulis

: (1+)
:
:

(3+)
Pemeriksaan biakan kuman :
1. Metode konvensional
Pemeriksaan dengan biakan, setelah 4-6 minggu penanaman
sputum dalam media biakan, koloni kuman tuberculosis mulai
tampak.
Egg base media (Lowenstein-Jensen, Ogawa, Kudoh)
Agar base media : middle brook
2. Metode radiometric (BANTEC)

Pada metode ini kuman sudah dapat dideteksi 7-10 hari.


Polymerase Chain Reaction (PCR)
Teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA, termasuk DNA
Mycobacterium Tuberkulosis. Cara pemeriksaan ini telah cukup banyak
dipakai

luas,

kendati

masih

memerlukan

ketelitian

dalam

pelaksanaannya.
3. Tes Tuberkulin
Pemeriksaan ini

masih

digunakan

untuk

menegakkan

diagnose

tuberculosis terutama pada anak-anak (balita). Biasanya dipakai tes


Mantoux yakni menyuntikkan 0,1 cc tuberculin P.P.D (Purified Protein
Derivative) intrakutan berkekuatan 5 T.U (intermediate strength). Tes
ini hanya menyatakan seseorang sedang atau pernah mengalami
infeksi M. tuberkulose, M.bovis, vaksinasi BCG, dan mycobacteria
pathogen lainnya. Setelah 48-72 jam disuntikkan, akan timbul reaksi
berupa indurasi kemerahan yang terdiri dari infiltrate limfosit yakni
reaksi persenyawaan antara antibody seluler dan antigen tuberculin.

b. Diagnosis
Dengan menemukan Mycobacterium tuberculose dalam sediaan sputum
atau jaringan paru secara biakan sudah cukup untuk memastikan diagnosis
tuberculosis paru. Menurut WHO tahun 1991 memberikan criteria pasien
tuberculosis paru :
Pasien dengan sputum BTA (+) :
1. Pasien yang pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis ditemukan
BTA sekurang-kurangnya pada 2x pemeriksaan
2. Satu sediaan sputumnya positif disertai dengan kelainan radiologis
sesuai gambaran TB aktif
3. Satu sediaan sputumnya positif disertai biakan yang positif
Pasien dengan sputum BTA (-) :
1. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak
ditemukan BTA sedikitnya pada 2x pemeriksaan tetapi gambaran
radiologis sesuai dengan TB aktif
2. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak
ditemukan BTA sama sekali, tetapi pada biakannya positif.

Sumber : Sudoyo, Aru W dkk . Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam 5th.ed. Jakarta:

InternaPublishing; 2009. 2234-38p