Anda di halaman 1dari 7

DOPS

PARTUS SPONTAN

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu
Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kandungan dan
Kebidanan di RSI Sultan Agung Semarang

Disusun oleh:
Sahmia
01.211.6522

Pembimbing:
dr. Inu Mulyantoro, Sp.OG (K)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2015

Laporan Partus Spontan

Kala II
1. Melihat tanda dan gejala kala II
Mengamati tanda dan gejala persalinan kala II
a. Ibu ingin mengejan
b. Vulva membuka
c. Perineum menonjol
d. Anus terbuka
2. Menyiapkan pertolongan persalinan
a. Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial siap digunakan.
Mematahkan ampul oksitosisn 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril
sekali pakai dalam partus set.
b. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih
c. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai
d. Memakai sarung tangan steril
e. Menghisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik dan meletakannya
kembali di partus set
3. Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin baik
a. Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah
lengkap atau belum
Jika kulit ketuban belum pecah, sedangkan sudah pembukaan lengkap
lakukan amniotomi
b. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi berakhir untuk
memastikan DJJ dalam batas normal
4. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan mengejan
a. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik
b. Menunggu hingga ibu ingin mengejan
c. Melakukan pimpinan mengejan saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk
mengejan
5. Persiapan pertolongan bayi

a. Jika kepala bayi telah membuka vulva, meletakkan menyiapkan kain bersih
dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu
b. Membuka partus set
6. Menolong kelahiran bayi
LAHIRNYA KEPALA
a. Saat kepala bayi membuka vulva, lindungi perineum dengan satu tangan
dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan
tekanan lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala
keluar perlahan-lahan.
b. Menganjurkan ibu untuk mengejan perlahan-lahan atau bernafas cepat saat
kepala lahir
c. Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau
kasa yang bersih
d. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika terjadi
dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi.
e. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan
LAHIRNYA BAHU
a. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di
masing-masing sisi muka bayi. Dengan lembut menariknya ke arah bawah
dan arah luar hingga bahu anterior muncul di bawah arcus pubis dan
kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan ke arah luar untuk
melahirkan bahu posterior
LAHIRNYA BADAN DAN TUNGKAI
a. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang
berada di bagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan
lengan posterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan
tangan bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk
menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.
b. Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas
(anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat
punggung dan kaki lahir.

7. Penanganan bayi baru lahir


a. Menilai dengan cepat, kemudian meletakkan bayi diatas perut ibu dengan
posisi kepala bayi lebih rendah dari tubuhnya
b. Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali tali
pusat
c. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi.
Melakukan urutan tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang
klem pada kedua 2 cm dari klem pertama (ke arah ibu)
d. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi dari gunting dan
memotong tali pusat diantara kedua klem tersebut
e. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk
bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendaki.
Kala III dan Kala IV
1. Penatalaksanaan aktif persalinan kala III
a. Melakukan palpasi abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya
bayi kedua
b. Memberitahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik
c. Segera setelah kelahiran bayi, memberikan suntikan oksitosin 10 Unit
IM atau IV.
2. Peregangan tali pusat terkendali
a. Memindahkan klem tali pusat sekitar 5 10 cm dari vulva
b. Meletakkan tangan kiri diatas kain yang ada di perut ibu, dan
menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan
menstabilkan uterus.
Memegang tali pusat dan klem dengan tangan kanan
c. Menunggu uterus kontraksi dan kemuadian melakukan penegangan ke
arah bawah pada tali pusat dengan lembut. Lakukan penekatan
berlawanan arah pada bagian bawah uterus dengan cara menekan uterus
ke arah atas dan belakang (dorso-kranial) dengan hati-hati untuk
membantu mencegah terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir

setelah 30 40 detik, menghentikan penegangan tali pusat dan


menunggu hingga kontraksi berikutnya mulai.
3. Mengeluarkan plasenta
a. Setelah plasenta terlepas, menarik tali pusat ke arah bawah dan kemudian
ke arah atas, mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekanan
berlawanan arah pada uterus.
Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga
berjarak sekitar 5 10 cm dari vulva
Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali pusat
selama 15 menit :
o Ulangi pemberian oksitosin
o Menilai kandung kemih, jika penuh di kateterisasi dengan
menggunakan teknik aseptik jika perlu
o Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit
berikutnya
o Lakukan manual plasenta jika dalam 30 menit plasenta
tidak lahir sejak kelahiran bayi
b. Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta
dengan menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan kedua
tangan dan dengan hati-hati memutar plasenta hingga selaput ketuban
terpilin. Dengan lembut dan perlahan-lahan melahirkan selaput ketuban
tersebut.
4. Rangsangan taktil (Pemijatan) uterus
Segera setelah plasenta dan plasenta lahir, melakukan massage uterus dengan
meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan massage dengan
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus
menjadi keras)
5. Menilai perdarahan

Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel pada ibu maupun janin
dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan
utuh.
6. Mengevaluasi adanya laserasi vagina dan perineum.
Jika ditemukan laserasi vagina dan perineum, lakukan penjahitan dengan
anastesi lokal.
7. Evaluasi
a. Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam :

2 3 kali dalam 15 menit pertama persalinan

Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan

Setiap 20 30 menit pada jam kedua pasca persalinan

b. Mengevaluasi kehilangan darah


c. Memeriksa tekanan darah, nadi dan kandung kencing setiap 15 menit
selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam
kedua pasca persalinan

SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini coass Ilmu Kandungan dan Kebidanan periode
31 Agustus 31 Oktober 2015
Nama

: Sahmia

NIM

: 01.211.6522

Dengan ini, telah melakukan Tugas DOPS partus spontan pada pasien:
Nama

: Ny. Nurhayati

Umur

: 25 tahun

Alamat

: Jl. Penjaringan Gang XI 011/001, Kemijen, Semarang

Tanggal masuk

: 11 September 2015

Diagnosa

: G2P1A0, usia 25 tahun, hamil 38 minggu, janin tunggal,

hidup intra uterin, letak kepala, sudah masuk PAP, punggung kiri, Inpartu kala I
fase aktif dengan hemoroid
Semarang, 8 Oktober 2015

Mengetahui,
Coass

Bidan

Sahmia

Feranika Larahayu, Amd. Keb

Pembimbing

dr. Inu Mulyantoro, Sp.OG (K)