Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah


KIMIA TEKNIK
Yang dibina oleh Bapak Windra Irdianto

Oleh :
Akhmad Afif Farid
Arief Bintang Putra Pratama
Hilly Rivdan
Muhammad Saiful Efendi

(120513404272)
(120511427428)
(120513428471)
(110511427059)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MESIN
SEPTEMBER 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Pengertian Bahan Bakar


Bahan bakar merupakan bahan-bahan yang digunakan dalam proses

pembakaran tidak akan mungkin dapat berlangsung. Banyak sekali jenis bahan
bakar yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian hingga saat
ini bahan bakar yang paling sering dipakai adalah bahan bahan bakar mineral
cair. Hal ini dilakukan karena banyaknya keuntungan-keuntungan yang diperoleh
dengan menggunkan bahan bakar dengan jenis mineral tersebut. Setiap bahan
bakar memiliki karakteristik dan nilai pembakaran yang berbeda-beda.
Karakteristik inilah yang menentukan sifat-sifat dalam proses pembakaran,
dimana sifat yang kurang menguntungkan dapat disempurnakan dengan jalan
menambah bahan-bahan kimia kedalam bahan bakar tersebut, dengan harapan
akan mempengaruhi daya anti knocking atau daya letup dari bahan bakar, dan
dalam hal ini menunjuk apa yang dinamakan dengan bilangan oktan (octane
number). Proses pembakaran bahan bakar dalam sepeda motor bensin tau mesin
diesel sangat dipengaruhi oleh bilangan setana (cetana number).
Adapun tujuan dari pembakaran bahan bakar adalah untuk memperoleh
energi yang disebut dengan energi panas (heat energy). Hasil pembakaran bahan
bakar yang berupa energi panas dapat di bentuk menjadi energi lain, misalnya :
energi untuk penerangan, energi mekanis dan sebagainya. Dengan demikian setiap
hasil pembakaran bahan bakar akan didapatkan suatu bentuk energi yang lain
yang dapat di sesuaikan dengan demikian dengan kebutuhan. Sisa-sisa hasil
pembakaran dalam bahan bakar yang harus diperhatikan. Oleh karena itu sisa dari
hasil pembakaran yang kurang sempurna akan dapat berpengaruh negatif terhadap
lingkungan. Sisa pembakaran ini akan mengandung gas-gas beracun, yang
terutama di timbulkan oleh pembakaran pada motor bensin. Sedangkan hasil
pembakaran yang di timbulkan oleh motor diesel akan dapat menimbulkan gas
asap yang berwarna gelap yang akan mengotori lingkungan. Namun pada motor
diesel ini tidak berbahaya bagi lingkungan, jika di banding dengan gas sisa hasil
pembakaran pada motor bensin.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Macam-Macam Bahan Bakar
1.

Bahan Bakar Padat - Batubara


Batubara adalah batuan sediment (padatan) yang dapat terbakar, berasal

dari tumbuhan, yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses


pembusukan dan penghancuran yang sempurna karena aktivitas bakteri
anaerob, berwarna coklat sampai hitam yang sejak pengendapannya terkena
proses fisika dan kimia, yang mana mengakibatkan pengayaan kandungan
karbon.
Berdasarkan perkiraan tahun

terjadinya batu bara digolongkan

menjadi 4 bagian.
JENIS
Anthracite

Perkiraan waktu terjadinya ( Tahun x 10 6)


250

Carbonnaceous

210

Bitumious

180

Lignite
2.
Bahan Bakar Cair

40

a. Minyak Solar adalah bahan bakar minyak jenis distillate


berwarna kuning coklat dan jernih. Minyak solar ini pada
umumnya dipergunakan sebagai bahan bakar pada semua jenis
mesin diesel .
b. Minyak diesel adalah bahan bakar minyak jenis distillate yang
mengandung fraksifraksi berat atau campuran dari jenis
distillate dengan fraksifraksi yang berat (residual fuel oil)
berwarna hitam serta gelap, tetapi tetap cair pada suhu yang
rendah .
c. Minyak residu / bakar adalah bahan bakar minyak, jenis
residu, yang lebih kental dan mempunyai titik tuang (pour
point) yang lebih tinggi dari pada minyak diesel serta hitam
gelap .

3.

Bahan Bakar Gas

a. LPG (Liquid Petrolium Gas) Adalah jenis bahan bakar


campuran hidrocarbon yang berada dalam phasa gas pada
keadaan atmosfir normal dan dicairkan dengan memberikan
tekanan yang tidak terlalu tinggi (kurang dari 13, 6 atmosfir
absolut).
b. Gas alam adalah hasil proses secara alamiah yang sebagian
besar terdiri dari metana (CH 4) , sebagian kecil hidrokarbon
seperti etana (C3H8), butana (C4H10) dan komponen bukan
hidrokarbon seperti nitrogen (N2), karbon dioksida (CO2),
hidrogen sulfida (H2S) helium (He) dan uap air. Gas alam
dipergunakan baik sebagai bahan baku industri sebagai bahan
bakar.
B. Nilai Kalor Pada Bahan Bakar
Nilai kalor merupakan dasar dan standard bagi penilaian bahan bakar.
Nilai kalor adalah ukuran dari energi panas dalam bahan bakar dan
merupakan faktor utama dalam penentuan harga batubara. Nilai kalor adalah
banyaknya panas yang dapat dilepaskan oleh setiap Kg bahan bakar jika
dibakar sempurna. Dalam sistem S.I, nilai kalor dinyatakan dalam satuan
KJ/Kg. Ada 4 macam nilai kalor yang berbeda yaitu:
1.
Nilai kalor kotor pada volume konstan (Gcv V).
2.
Nilai kalor bersih pada volume konstan (Ncv V).
3.
Nilai kalor kotor pada tekanan konstan (Gcv P)
4.
Nilai kalor bersih pada tekanan konstan (Ncv P)
1. Nilai Kalor Batu Bara
Nilai kalor berbagai jenis batu bara tidak selalu sama , variasinya
relatif sangat besar bila dibandingkan dengan minyak . Untuk antrasit
nilai kalornya dapat mencapai 7000 Kcal / Kg dan untuk lignit bisa
mencapai 4000 Kcal / kg ; sedangkan untuk bahan bakar minyak dan
gas perbedaan nilai kalornya kira kira 10 % atau kurang . Dari segi
operasi , maka penurunan nilai kalor dapat berakibat unit pembangkit
tidak mampu mengangkat beban penuh .

2. Nilai Kalor Bahan Bakar Cair


Umumnya bahan bakar minyak mempunyai nilai kalor antara 18.300 19.800 B.T.U / 1b atau 10.160 - 11.000 Kcal/kg. Nilai kalor ini adalah
besarnya panas yang diperoleh dari pembakaran suatu jumlah tertentu

minyak didalam zat asam. Makin tinggi berat jenis suatu minyak solar
mempunyai nilai kalor lebih besar dari pada minyak diesel. Untuk alasan
alasan praktis, sering juga digunakan satuan lebih rendah dari pada nilai
kalor dan rata-rata besarnya perbedaan antara nilai kalor dengan nilai
kalor bersih adalah sebagai berikut :
1. Untuk minyak solar 1.200 B.T.U. / 1b atau 667Kcal / kg
2. Untuk minyak diesel 1.100 B.T.U. / 1b atau 612 Kcal / kg
3. Untuk minyak bakar 1.000 B.T.U. / 1b atau 556 Kcal / kg
3. Nilai Octane Premium
Bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar
tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan.
Nama oktan berasal dari oktana (C8), karena dari seluruh molekul
penyusun bensin, oktana yang memiliki sifat kompresi paling bagus.
Oktana dapat dikompres sampai volume kecil tanpa mengalami
pembakaran spontan.
Nilai Octane pada BBM Pertamina
1. Premium

: Kadar Octane

2. Pertamax

: Kadar Octane 92

3. Pertamax Plus
4. Pertamax Racing

: Kadar Octane 95
: Kadar Octane 100

4. Nilai Cetane Minyak Diesel


Jumlah cetane didalam bahan bakar minyak diperlukan untuk
mencegah

adanya

diesel

knock

atau

pukulan

didalam

ruang

pembakaran mesin diesel. Untuk mesin diesel yang berputar cepat


diperlukan bahan bakar minyak dengan jumlah cetan yang tinggi dan
untuk mesin diesel yang berputar lambat diperlukan bahan bakar
minyak dengan jumlah cetan yang rendah.
Angka Setana atau CN (Cetane Number) adalah ukuran yang
menunjukkan kualitas dari bahan bakar untuk diesel, Dalam mesin diesel
angka bahan bakar setana yang lebih tinggi akan memiliki periode pengapian
lebih pendek daripada bahan bakar setana bernilai rendah. Singkatnya,
semakin tinggi angka setana akan lebih mudah bagi bahan bakar untuk

terbakar dalam kompresi. Dengan bahan bakar yang mudah terbakar maka
akan mengurangi ketukan dari mesin diesel, sehingga mesin akan lebih
halus. Oleh karena itu bahan bakar yang lebih tinggi setana biasanya
menyebabkan mesin untuk berjalan lebih lancar dan tenang . hal ini berbeda
bila nilai setananya lebih rendah maka akan terjadi delay sehingga
menambah ketukan pada proses pembakaran. (Mohon dibedakan dengan
Nilai Octan pada Mesin Bensin) Karena Prinsipnya sangat berbeda jauh,
kalau nilai oktan pada bensin itu bahan bakar makain sulit terbakar bila di
kompresi).
1. Nilai Setana
Nilai Setana dinyatakan dengan angka, dan biasanya mesin diesel
bermain diangka CN 40-55.Seperti penjelasan diatas, Bahan bakar dengan
setana yang lebih tinggi mengalami keterlambatan pengapian lebih pendek,
akan memberikan lebih banyak waktu untuk proses pembakaran bahan bakar
akan selesai. Oleh karena itu, mesin diesel high performance akan beroperasi
lebih efektif dengan bahan bakar setana yang lebih tinggi. Beberapa Aditif
sering ditambahkan ke dalam bahan bakar untuk memberikan pelumasan,
deterjen

untuk

membersihkan

injector

bahan

bakar

dan

meminimalkan deposit karbon, dispersan air, dan aditif lainnya tergantung


pada kebutuhan geografis dan musim.
2. Aditif pada Solar
Aditif yang biasanya digunakan dalam solar adalah Alkyl nitrat (2etilheksil nitrat) dan di ters butil peroksida keduannya digunakan sebagai
aditif untuk menaikkan cetane number.
3. Bio Diesel
Bio diesel yang berasal dari sumber minyak nabati biasanya memiliki
nilai setana 46-52, Sedang bahan dari lemak hewan berbasis biodiesel
memiliki setana 56-60. Dimetil eter adalah bahan bakar diesel yang potensial
karena memiliki nilai cetane tinggi (55-60) dan dapat diproduksi sebagai
biofuel.
4. Solar Di Indonesia
Pada Solar yang

dijual

dan

kita

pakai

biasanya

seperti

Biosolar memiliki angka setana sekitar 48 min sampai 51 max dengan


sulfur 500 ppm. Solar biasa memiliki angka setana sekitar 48 maksimal dan

sulfur diatas 500ppm. Pertadex memiliki setana min 54 (biasanya 55-56)


dengan sulphur 300ppm. Shell Diesel memiliki setana sekitar 48-52 dengan
sulphur hanya 50 ppm

BAB III
KESIMPULAN

Bahan bakar merupakan bahan-bahan yang digunakan dalam proses


pembakaran tidak akan mungkin dapat berlangsung. Setiap bahan bakar memiliki
karakteristik dan nilai pembakaran yang berbeda-beda. Karakteristik inilah yang
menentukan sifat-sifat dalam proses pembakaran, dimana sifat yang kurang
menguntungkan dapat disempurnakan dengan jalan menambah bahan-bahan kimia
kedalam bahan bakar tersebut, dengan harapan akan mempengaruhi daya anti
knocking atau daya letup dari bahan bakar, dan dalam hal ini menunjuk apa yang
dinamakan dengan bilangan oktan (octane number). Proses pembakaran bahan
bakar dalam sepeda motor bensin tau mesin diesel sangat dipengaruhi oleh
bilangan setana (cetana number).
Macam-macam bahan bakar
1. Bahan bakar padat
2. Bahan bakar cair
3. Bahan bakar gas
Nilai Octane Premium
Bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan
yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan. Nama oktan berasal
dari oktana (C8), karena dari seluruh molekul penyusun bensin, oktana yang
memiliki sifat kompresi paling bagus. Oktana dapat dikompres sampai volume
kecil tanpa mengalami pembakaran spontan.
Nilai Octane pada BBM Pertamina
1. Premium

: Kadar Octane 88

2. Pertamax

: Kadar Octane 92

3. Pertamax Plus

: Kadar Octane 95

4. Pertamax Racing

: Kadar Octane 100

Nilai Cetane Minyak Diesel


Jumlah

cetane

didalam

bahan bakar

minyak

diperlukan

untuk

mencegah adanya diesel knock atau pukulan didalam ruang pembakaran


mesin diesel. Untuk mesin diesel yang berputar cepat diperlukan bahan
bakar minyak dengan jumlah cetan yang tinggi dan untuk mesin diesel

yang berputar lambat diperlukan bahan bakar minyak dengan jumlah cetan
yang rendah.

DAFTAR PUSTAKA
http://belajarpsikolog.com/2011/07/macam-macam-metodepembelajaran.html (diakses tanggal 20 April 2015 Pukul. 10:30).
http://bio-sanjaya.blogspot.com/2012/07/metode-pembelajaran-danjenisnya.html (diakses tanggal 20 April 2015 Pukul. 10:30).