Anda di halaman 1dari 7

POLA ASUH ANAK

Pengertian Pola Asuh


Pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak, yaitu bagaimana cara sikap
atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak, termasuk cara penerapan aturan,mengajarkan
nilai / norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku baik
sehingga dijadikan panutan bagi anaknya (Theresia, 2009).
Secara etimologi, pola berarti bentuk, tata cara, sedangkan asuh berarti menjaga, merawat
dan mendidik. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau system dalam menjaga, merawat dan
mendidik. Jika ditinjau dari terminologi, pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang
diterapkan dalam menjaga, merawat, dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari
waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif.
Sugihartono dkk, (2007) mengatakan bahwa pola asuh adalah pola perilaku yang diterapkan
pada anak dan bersifat konsisten dari waktu kewaktu. Pola asuh yang diterapkan tiap keluarga
berbeda dengan keluarga lainnya. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan
positif. Pola asuh juga dapat memberi perlindungan, dan mendidik anak dalam kehidupan seharihari.
Bentuk Pola Asuh
Macam macam Pola Asuh Orang Tua
Menurut Baumrind, (dikutip oleh Wawan Junaidi, 2010), terdapat 4 macam pola asuh orang tua :
(1). Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi
tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu
mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap
realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan
anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan
suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. Hak dan kewajiban orang tua dan
anak adalah sama dalam arti saling melengkapi. Anak dilatih untuk bertanggung jawab, dan
menentukan perilakunya sendiri agar dapat berdisiplin.

(2). Pola asuh Otoriter


Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi
dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum.
Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak
segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi
biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk
mengerti mengenai anaknya. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak
dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang-tua yang telah
membesarkannya. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka
orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Terlebih lagi orang tua tipe ini tidak mengenal
kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Hal ini dapat menyebabkan anak
kurang inisiatif, cenderung ragu, dan mudah gugup. Oleh karena itu, anak yang sering mendapatkan
hukuman menjadi tidak disiplin dan nakal.
(3). Pola asuh Permisif
Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada
anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak
menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit
bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga
seringkali disukai oleh anak. Biasanya pola pengasuhan anak oleh orang tua semacam ini
diakibatkan oleh orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, kesibukan atau urusan lain yang
akhirnya lupa untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Dengan begitu anak hanya diberi
materi atau harta saja. Anak yang diasuh orang tuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa
berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki
kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, salah bergaul, kurang menghargai orang lain,
dan lain sebagainya baik ketika kecil maupun sudah dewasa.
(4). Pola asuh Penelantar
Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada
anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja,
dan juga kadangkala biaya pun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah
perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya
tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.

Faktor faktor yang mempengaruhi pola asuh :


Setiap orang mempunyai sejarah sendiri sendiri dan latar belakang yang seringkali sangat jauh
berbeda. Perbedaan ini sangat memungkinkan terjadinya pola asuh yang berbeda terhadap anak.
Menurut Maccoby & Mc loby ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua yaitu:
1.

Sosial ekonomi
Lingkungan sosial berkaitan dengan pola hubungan sosial atau pergaulan yang dibentuk
oleh orang tua maupun anak dengan lingkungan sekitarnya. Anak yang sosial ekonaminya
rendah cenderung tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bahkan
tidak pernah mengenal bangku pendidikan sama sekali karena terkendala oleh status
ekonomi.
2.

Pendidikan:
Pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap
anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Latar belakang pendidikan orang tua
dapat mempengaruhi pola pikir orang tua baik formalmaupun non formal kemudian juga
berpengaruh pada aspirasi atau harapan orang tua kepada anaknya.

3.

Nilai-nilai agama yang dianut orang tua:


Nilai nilai agama juga menjadi salah satu hal yang penting yang ditanamkan orang tua
pada anak dalam pengasuhan yang mereka lakukan sehingga lembaga keagamaan juga turut
berperan di dalamnya.

4.

Kepribadian:
Dalam mengasuh anak orang tua bukan hanya mampu mengkomunikasikan fakta, gagasan
dan pengetahuan saja, melainkan membantu menumbuhkembangkan kepribadian anak
(Riyanto, 2002). Pendapat tersebut merujuk pada teori Humanistik yang menitikberatkan
pendidikan bertumpu pada peserta didik, artinya anak perlu mendapat perhatian dalam
membangun sistem pendidikan. Apabila anak telah menunjukkan gejala-gejala yang kurang
baik, berarti mereka sudah tidak menunjukkan niat belajar yang sesungguhnya. Kalau gejala
ini dibiarkan terus akan menjadi masalah di dalam mencapai keberhasilan belajarnya.

5.

Jumlah anak:
Jumlah anak yang dimiliki keluarga akan mempengaruhi pola asuh yang diterapkan orang
tua. Semakin banyak jumlah anak dalam keluarga, maka ada kecenderungan bahwa orang
tua tidak begitu menerapkan pola pengasuhan secara maksimal pada anak karena perhatian
dan waktunya terbagi antara anak yang satu dengan anak yang lainnya, (Okta Sofia, 2009).

Dampak atau pengaruh pola asuh orang tua terhadap anak anak menurut Baumrind, (dikutip
oleh Ira, 2006) adalah:

Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak - anak yang mandiri, dapat
mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stres,
mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan koperatif terhadap orang-orang lain.

Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup,
tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas
dan menarik diri.

Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang agresif, tidak patuh,
manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri dan kurang matang
secara sosial.

Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang agresif, kurang
bertanggung jawab, tidak mau mengalah, harga diri yang rendah, sering bolos dan
bermasalah dengan teman.

Pengaruh Pola Asuh Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak


Anak prasekolah belajar dengan cara berinteraksi dengan orang lain dengan mencontoh,
berbagi dan menjadi teman baik. Mereka juga mempelajari sikap, nilai, prefensi pribadi dan
beberapa kebiasaan dengan mengikuti contoh, termasuk cara mengenali dan menangani emosi
mereka. Anak prasekolah belajar banyak dari perilaku orang-orang disekitar mereka. Keluarga
adalah kelompok sosial pertama dengan siapa anak diidentifikasikan, anak lebih banyak
menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya.
Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak.
Beberapa pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak:
a. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang Bekerja dan yang Tidak Bekerja terhadap
Pembentukan Kepribadian Anak
Sikap, kebiasaan dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun pertama, sangat menentukan
seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka
bertambah tua. Kenyataan tersebut menunjukkan pentingnya dasar-dasar yang diberikan orang tua
pada anaknya pada masa kanak-kanak. Dasar-dasar tersebutlah yang akan dibawa sampai masa tua.
Tidak dapat dipungkiri kesempatan pertama bagi anak untuk mengenal dunia sosialnya
adalah dalam keluarga. Di dalam keluarga untuk pertama kalinya anak mengenal aturan tentang apa
4

yang baik dan tidak baik. Oleh karena itu, orang tua harus bisa memberikan pendidikan dasar yang
baik kepada anak-anaknya agar nantinya bisa berkembang dengan baik.
Kenyataan yang terjadi pada masa sekarang adalah berkurangnya perhatian orang tua
terhadap anaknya karena keduanya sama-sama bekerja. Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya
interaksi orang tua dengan anaknya. Keadaan ini biasanya terjadi pada keluarga-keluarga muda
yang semuanya bekerja.
Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua karena keduanya
sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing masing. Sedangkan anak pada usia ini sangat
mambutuhkan perhatian lebih dari orang tua terutama untuk perkembangan kepribadian. Anak yang
ditinggal orang tuanya dan hanya tinggal dengan seorang pengasuh yang dibayar orang tua untuk
menjaga dan mengasuh, belum tentu anak mendapatkan pengasuhan yang baik sesuai
perkembangannya dari seorang pengasuh.
Anak yang ditinggal kedua orang tuanya bekerja cenderung bersifat manja. Biasanya orang
tua akan merasa bersalah terhadap anak karena telah meninggalkan anak seharian. Sehingga orang
tua akan menuruti semua permintaan anak untuk menebus kesalahanya tersebut tanpa berfikir lebih
lanjut permintaan anak baik atau tidak untuk perkembangan kepribadiaan anak selanjutnya.
Kurangnya perhatiaan dari orang tua akan mengakibatkan anak mencari perhatian dari luar, baik
dilingkungan sekolah dengan teman sebaya ataupun dengan orang tua pada saat mereka di rumah.
Anak suka mengganggu temannya ketika bermain, membuat keributan di rumah dan melakukan
hal-hal yang terkadang membuat kesal orang lain. Semua perlakuan anak tersebut dilakukan hanya
untuk menarik perhatian orang lain karena kurangnya perhatian dari orang tua.
Sedangkan orang tua yang tidak bekerja di luar rumah akan lebih fokus pada pengasuhan
anak dan pekerjaan rumah lainnya. Anak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari
orang tua. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak menjadi kurang mandiri, karena terbiasa
dengan orang tua. Segala yang dilakukan anak selalu dengan pangawasan orang tua. Oleh karena
itu, orang tua yang tidak bekerja sebaiknya juga tidak terlalu over protektif. Sehingga anak mampu
untuk bersikap mandiri.
b. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang Berpendidikan Tinggi dan Berpendidikan Rendah
Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Latar belakang pendidikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar terhadap
pembentukan kepribadian anak. Orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tingi
akan lebih memperhatikan segala perubahan dan setiap perkembangan yang terjadi pada anaknya.
Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya mengetahui bagaimana tingkat perkembangan anak
dan bagaimana pengasuhan orang tua yang baik sesuai dengan perkembangan anak khususnya
5

untuk pembentukan kepribadian yang baik bagi anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi
umumnya dapat mengajarkan sopan santun kepada orang lain, baik dalam berbicara ataupun dalam
hal lain.
Berbeda dengan orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Dalam
pengasuhan anak umumnya orang tua kurang memperhatikan tingkat perkembangan anak. Hal ini
dikarenakan orang tua yang masih awam dan tidak mengetahui tingkat perkembangan anak.
Bagaimana anaknya berkembang dan dalam tahap apa anak pada saat itu. Orang tua biasanya
mengasuh anak dengan gaya dan cara mereka sendiri. Apa yang menurut mereka baik untuk
anaknya. Anak dengan pola asuh orang tua yang seperti ini akan membentuk suatu kepribadian
yang kurang baik.
c.

Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dengan Tingkat Ekonomi Menengah Keatas dan Menengah
Kebawah
Permasalahan ekonomi dalam keluarga merupakan masalah yang sering dihadapi. Tanpa
disadari bahwa permasalahan ekonomi dalam keluarga akan berdampak pada anak. Orang tua
terkadang melampiaskan kekesalan dalam menghadapi permasalahan pada anak. Anak usia
prasekolah yang belum mengerti tentang masalah perekonomian dalam keluarga hanya akan
menjadi korban dari orang tua.
Dalam pola asuh yang diberikan oleh orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah ke
atas dan orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah berbeda. Orang tua yang
tingkat perekonominnya menengah keatas dalam pengasuhannya biasanya orang tua memanjakan
anaknya. Apapun yang diinginkan oleh anak akan dipenuhi orang tua. Segala kebutuhan anak dapat
terpenuhi dengan kekayaan yang dimiliki orang tua. Pengasuhan anak sebagian besar hanya sebatas
dengan materi. Perhatian dan kasih sayang orang tua diwujudkan dalam materi atau pemenuhan
kebutuhan anak.
Anak yang terbiasa dengan pola asuh yang demikian, maka akan membentuk suatu
kepribadian yang manja, serba menilai sesuatu dengan materi dan tidak menutup kemungkinan anak
akan sombong dengan kekayaan yang dimiliki orang tua serta kurang menghormati orang yang
lebih rendah darinya.
Sedangkan pada orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah dalam cara
pengasuhannya memang kurang dapat memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi. Orang tua
hanya dapat memenuhi kebutuhan anak yang benar-benar penting bagi anak. Perhatian dan kasih
sayang orang tualah yang dapat diberikan.
Anak yang hidup dalam perekonomian menengah kebawah terbiasa hidup dengan segala
kekurangan yang dialami keluarga. Sehingga akan terbentuk kepribadian anak yang mandiri,
6

mampu menyelesaikan permasalahan dan tidak mudah stres dalam menghadapi suatu
permasalahan.dan anak dapat menghargai usaha orang lain.
Pada kenyataannya terdapat juga anak yang minder dengan keadaan ekonomi orang tua yang
kurang. Oleh karena itu, peran orang tua dalam hal ini sangat penting. Orang tua harus
menyeimbangkan dengan pendidikan agama pada anak. Sehingga anak mampu mensyukuri segala
yang telah diberikan oleh sang Pencipta.