Anda di halaman 1dari 10

Regulasi Suhu Tubuh

Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam
keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan
mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di
hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu
panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi
bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang
disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan
pada 37C. Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang
untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara
menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali
pada titik tetap.
Dengan anestesi blok rasa dingin/panas dapat diblok sehingga objektif maupun subjektif
rasa dingin dan panas dapat dipisah yaitu:
1.

Rasa suhu kulit yang tetap ( rasa suhu static )

Bila seseorang berendam di air hangat maka mula-mula rasa hangat akan dialami oleh
orang tersebut. Lama-kelamaan rasa hangat tidak lagi dirasakan dan kalau ia keluar dari air
dan masuk kembali maka ia akan merasakan hangat kembali. Hal ini terjadi karena suhu
tubuh beradaptasi secara penuh terhadap suhu kulit yang baru. Adaptasi penuh ini terjadi pada
uhu netral (suhu nyaman). Rasa hangat yang mantap akan dirasakan bila suhu berada di atas
36C dan rasa dingin dirasakan pada suhu 17C.
2.

Rasa suhu kulit yang berubah ( rasa suhu dinamik )

Pada pengindraan suhu kulit yang berubah tiga parameter tertentu. Suhu awal kulit,
kecepatan perubahan suhu dan luas kulit yang terpapar tehadap rangsangan suhu. Pada suhu
kulit yang rendah, ambang rasa hangat tinggi sedangkan untuk rasa dingin rendah. Bila suhu
meninkat ambang rasa hangat menurun dan ambang rasa dingin meningkat. Kecepatan
perubahan suhu berpengaruh terhadap timbulnya rasa panas/dingin. Luasnya daerah kulit
yang terpapar juga berpengaruh pada rasa timbulnya panas/dingin.
3. Titik rasa dingin dan panas
Pada permukaan kulit bagian-bagian yang peka terhadap rangsangan dingin dan panas
terlokasi pada titik-titik tertentu. Kepadatan titik-titik rasa suhu lebih rendah dibandingkan
dengan titik rasa raba/tekan. Titik rasa dingin lebih banyak dibandingkan dengan titik rasa

panas. Kulit wajah daerah yang paling peka terhadap rasa suhu. Kepadatan titik-titik rasa
dingin paling tinggi.
Asal Panas Pada Tubuh Manusia
Pembentukan panas (heat production) dalam tubuh manusia bergantung pada tingkat
metabolisme yang terjadi dalam jaringan tubuh tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh:
1.

BMR, terutama terkait dengan sekresi hormon tiroid.

2.

Aktivitas otot, terjadi penggunaan energi menjadi kerja dan menghasilkan panas.

3.

Termogenesis menggigil (shivering thermogenesis); aktivitas otot yang merupakan

upaya
4.

Termogenesis tak-menggigil (non-shivering thermogenesis) Hal ini terjadi pada bayi

baru lahir.
Sumber energi pembentukan panas ini ialah brown fat. Pada bayi baru lahir, brown fat
ditemukan pada skapula, aksila, dan area ginjal. Brown fat berbeda dengan lemak biasa,
ukurannya lebih kecil, mengandung lebih banyak mitokondria, banyak dipersarafi saraf
simpatis, dan kaya dengan suplai darah. Stimulasi saraf simpatis oleh suhu dingin akan
meningkatkan konsentrasi cAMP di sel brown fat, yang kemudian akan mengativasi
fosforilasi oksidatif di mitokondria melalui lipolisis. Hasil dari fosforilasi oksidatif ialah
terbentuknya panas yang kemudian akan dibawa dengan cepat oleh vena yang juga banyak
terdapat di sel brown fat. Brown fat ini merupakan sumber utama diet-induced thermogenesis.
Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau sebaliknya berlangsung secara
fisika. Permukaan tubuh dapat kehilangan panas melalui pertukaran panas secara radiasi,
konduksi, konveksi, dan evaporasi air. Radiasi ialah emisi energi panas dari permukaan tubuh
dalam bentuk gelombang elektromagnetik melalui suatu ruang. Konduksi ialah perpindahan
panas antara obyek yang berbeda suhunya melalui kontak langsung obyek tersebut. Konveksi
ialah perpindahan panas melalui aliran udara/ air. Evaporasi ialah perpindahan panas melalui
ekskresi air dari permukaan kulit dan saluran pernapasan saat bernapas. Keseimbangan panas
(Silverthorn, 2004)

Macam macam suhu tubuh


Macam-macam suhu tubuh menurut (Tamsuri Anas 2007) :

Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36C

Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 37,5C

Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 40C

Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40C

Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core temperatur), yaitu
suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga
pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan (sekitar 37C). selain itu, ada suhu
permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan
lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 20C sampai 40C.
Sistem Pengaturan Suhu Tubuh
Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan
thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain : normal,
hipertermi, hipotermi, dan febris.
Suhu dapat di bagi, antara lain:
1.

Suhu inti (core temperature) Suhu inti menggambarkan suhu organ-organ dalam (kepala,

dada, abdomen) dan C.dipertahankan mendekati 37


2.

Suhu kulit (shell temperature) Suhu kulit menggambarkan suhu kulit tubuh, jaringan

subkutan, batang tubuh. Suhu ini berfluktuasi dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
3.

Suhu tubuh rata-rata (mean body temperature) merupakan suhu rata-rata gabungan suhu

inti dan suhu kulit.


Pengukuran suhu tubuh
Ada beberapa macam thermometer untuk mengukur suhu tubuh:
1.

The mercury-in-glass thermometer

2.

The electrical digital reading thermometer

3.

A radiometer attached to an auriscope-like head (untuk pengukuran suhu timfani)

Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Berubah


1.

Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat yaitu :

a.

Vasodilatasi

Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi ini
disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan
vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan
percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak.
b.

Berkeringat

Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas
kritis, yaitu 37C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui
evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang

cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme
basal 10 kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan salh satu mekanisme tubuh ketika
suhu meningkat melampaui ambang kritis. Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran
impuls di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit
tubuh kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang
merangsang produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan keringat karena
rangsangan dari epinefrin dan norefineprin.
c.

Penurunan pembentukan panas

Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti termogenesis kimia dan menggigil


dihambat dengan kuat.
2.

Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun, yaitu :

a.

Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh

b.

Vasokontriksi terjadi karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior.

Piloereksi
Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri.
Mekanisme ini tidak penting pada manusia, tetapi pada binatang tingkat rendah, berdirinya
bulu ini akan berfungsi sebagai isolator panas terhadap lingkungan.
c.

Peningkatan pembentukan panas

Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil,


pembentukan panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin.
Reseptor Suhu
Stimulus dapat datang dari lingkungan luar salinitas, suhu udara, kelembapan,cahaya. Alat
penerima rangsang reseptor,sedangkan alat penghasil tanggapan disebut efektor. Reseptor
saraf yang paling sederhana hanya berupa ujung dendrit dari suatu sel syaraf (neuron) , tidak
meliputi selubung / selaput myelin dan dapat di temukan pada reseptor rasa nyeri (free nerve
ending) atau nociresetor.
Berdasarkan Lokasi Sumber Rangsang
1.

INTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi untuk menerima rangsang dari

dalam tubuh.
2.

KHEMORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi memantau pH,kadar gula dalam

darah dan kadar kalsium dalam cairan tubuh atau darah.


3.

EKSTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi menerima rangsang dari

lingkungan di luar tubuh Reseptor penerima gelombang suara (pada alat pendengaran) dan
cahaya (dalam alat pengelihatan).

4.

HUBUNGAN ANTARA RESEPTOR DENGAN EFEKTOR Dalam system

syaraf,reseptor biasanya berhubungan dengan syaraf sensorik (AFFERENT) sedang efektor


erat dengan syaraf motorik(EFERENT). Reseptor berfungsi sebagaipengubah energy,
mengubah bentuk suatu energy menjadi bentuk tertentu. dan di dalam reseptor semua energy
di ubah menjadi energy listrik dan selanjutnya akan membawa ke perubahan elektrolit
sehingga timbul potensial aksi. Apabila suatu resektor menerima rangsangan yang sesuaimaka
membrane reseptor akan mengalami peritiwa potensial aksi. Jika rangsangan yang diterima
reseptor cukup kuat potensial reseptor yang timbul akan lebih kuat. Makin besar rangsangan
yang di terima, makin besar pula potensial local yang di hasilkan sehingga dapat melampoi
batas ambang perangsangan pada membrane potensial generator.
Penjaluran Sinyal Suhu Tubuh Pada Sistem Saraf
Pusat pengaturan suhu tubuh yang berfungsi sebagai termostat tubuh adalah suatu
kumpulan neuron-neuron di bagian anterior hypothalamus yaitu: Preoptic area. Area ini
menerima impuls-impuls syaraf dari termoreseptor dari kulit dan membran mukosa serta
dalam hipotalamus. Neuron-neuron pada area peroptic membangkitkan impuls syaraf pada
frekwensi tinggi ketika suhu darah meningkat dan frekwensi berkurang jika suhu tubuh
menurun. Impuls-impuls syaraf dari area preoptic menyebar menjadi 2 bagian dari
hipotalamus diketahui sebagai pusat hilang panas dan pusat peningkatan panas, dimana ketika
distimulasi oleh area preoptic, mengatur kedalam serangkaian respon operasional yang
meningkatkan dan menurunkan suhu tubuh secara berturut-turut. Termoregulasi adalah proses
fisiologis yang merupakan kegiatan integrasi dan koordinasi yang digunakan secara aktif
untuk mempertahankan suhu inti tubuh melawan perubahan suhu dingin atau hangat (Myers,
1984). Pusat pengaturan tubuh manusia ada di Hipotalamus, oleh karena itu jika hipotalamus
terganggu maka mekanisme engaturan suhu tubuh juga akan terganggu dan mempengaruhi
thermostat tubuh manusia. Mekanisme pengaturan suhu tubuh manusia erat kaitannya antara
kerja sama system syaraf baik otonom, somatic dan endokrin. Sehingga ketika membahas
mengenai pengaturan suhu oleh system persyarafan maka tidak lepas pula kaitannya dengan
kerja system endokrin terhadap mekanisme pengaturan suhu tubuh seperti TSH dan TRH.
Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
Setiap saat suhu tubuh manusia berubah secara fluktuatif. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh
berbagai factor yaitu :
1.

Exercise

Semakin beratnya exercise maka suhunya akan meningkat 15 x, sedangkan pada atlet dapat
meningkat menjadi 20 x dari basal ratenya.
2.

Hormon

(Thyroxine dan Triiodothyronine) adalah pengatur pengatur utama basal metabolisme rate.
Hormon lain adalah testoteron, insulin, dan hormon pertumbuhan dapat meningkatkan
metabolisme rate 5-15%.
3.

Sistem syaraf

Selama exercise atau situasi penuh stress, bagian simpatis dari system syaraf otonom
terstimulasi. Neuron-neuron postganglionik melepaskan norepinephrine (NE) dan juga
merangsang pelepasan hormon epinephrine dan norephinephrine (NE) oleh medulla adrenal
sehingga meningkatkan metabolisme rate dari sel tubuh.
4.

Suhu tubuh

Meningkatnya suhu tubuh dapat meningkatkan metabolisme rate, setiap peningkatan 1 %


suhu tubuh inti akan meningkatkan kecepatan reaksi biokimia 10 %.
5.

Asupan makanan

Makanan dapat meningkatkan 10 20 % metabolisme rate terutama intake tinggi protein.


6.

Berbagai macam factor seperti

Gender, iklim dan status malnutrisi.


7.

Usia

Pada saat lahir, mekanisme kontrol suhu masih imatur. Produksi panas meningkatseiring
dengan pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. regulasi suhu akannormal setelah anak
mencapai pubertas.Lansia sensitif terhadap suhu yang ekstrem akibat turunnya mekanisme
kontrolsuhu (terutama kontrol vasomotor), penurunan jumlah jaringan subkutan,penurunan
aktivitas kelenjar keringat, penurunan metabolism
8.

Olahraga

Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan metabolisme lemak dankarbohidrat.
9.

Kadar Hormon

Suhu tubuh wanita lebih fluktuatif dibandingkan pria


10. Irama sirkardiansuhu tubuh berubah secara normal 0,5-1 derajat Celcius selama periode
24 jam.suhu tubuh rendah antara pukul 01:00 dan 04:00 dini hari.
11. Stres
Stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan persyarafan
12. Lingkungan
Mekanisme kontrol suhu tubuh akan dipengaruhi oleh suku disekitar.

Walaupun terjadi perubahan suhu tubuh, tetapi tubuh mempunyai mekanisme homeostasis
yang dapat dipertahankan dalam rentang normal. Suhu tubuh yang normal adalah mendekati
suhu tubuh inti yaitu sekitar 37 0 C. suhu tubuh manusia mengalami fluktuasi sebesar 0,5
0,7 0 C, suhu terendah pada malam hari dan suhu tertinggi pada siang hari. Panas yang
diproduksikan harus sesuai dengan panas yang hilang.
13. Demam ( peradangan ).
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120%
untuk tiap peningkatan suhu 10C.
Gangguan Pengaturan Suhu Tubuh
Diantaranya disebabkan oleh:
1.

Demam

Demam merupakan mekanisme pertahanan yang penting. Peningkatan ringan suhu sampai
39C meningkatkan sistem imun tubuh. Demam juga meruapakan bentuk pertarungan akibat
infeksi karena virus menstimulasi interferon (substansi yang bersifat melawan virus).Pola
demam berbeda bergantung pada pirogen. Peningkatan dan penurunan jumlah pirogen
berakibat puncak demam dan turun dalam waktu yang berbeda.Selama demam, metabolisme
meningkat dan konsumsi oksigen bertambah. Metabolisme tubuh meningkat 7% untuk setiap
derajat kenaikan suhu. Frekuensi jantung dan pernapasan meningkat untuk memenuhi
kebutuhan metabolik tubuh terhadap nutrient. Metabolisme yang meningkat menggunakan
energi yang memproduksi panas tambahan.
2.

Kelelahan akibat panas

Kelelahan akibat panas terjadi bila diaforesis yang banyak mengakibatkan kehilangan cairan
dan elektrolit secara berlebihan. Disebabkan oleh lingkungan yang terpajan panas. Tanda dan
gejala kurang volume cairan adalah hal yang umum selama kelelahan akibat panas. Tindakan
pertama yaitu memindahkan klien ke lingkungan yang lebih dingin serta memperbaiki
keseimbangan cairan dan elektrolit.
3.

Hipertermia

Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk meningkatkan


pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas adalah hipertermia. Setiap penyakit atau
trauma pada hipotalamus dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Hipertermia
malignan adalah kondisi bawaan tidak dapat mengontrol produksi panas, yang terjadi ketika
orang yang rentan menggunakan obat-obatan anastetik tertentu.
4.

Heat stroke

Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat
mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heat stroke, kedaruratan
yang berbahaya panas dengan angka mortalitas yang tinggi. Klien beresiko termasuk yang
masih sangat muda atau sangat tua, yang memiliki penyakit kardiovaskular, hipotiroidisme,
diabetes atau alkoholik. Yang termasuk beresiko adalah orang yang mengkonsumsi obat yang
menurunkan kemampuan tubuh untuk mengeluarkan panas (mis. fenotiazin, antikolinergik,
diuretik, amfetamin, dan antagonis reseptor beta-adrenergik) dan mereka yang menjalani
latihan olahraga atau kerja yang berat (mis. atlet, pekerja konstruksi dan petani). Tanda dan
gejala heatstroke termasuk gamang, konfusi, delirium, sangat haus, mual, kram otot,
gangguan visual, dan bahkan inkontinensia. Tanda lain yang paling penting adalah kulit yang
hangat dan kering.
Penderita heatstroke tidak berkeringat karena kehilangan elektrolit sangat berat dan
malfungsi hipotalamus. Heatstroke dengan suhu yang lebih besar dari 40,5C mengakibatkan
kerusakan jaringan pada sel dari semua organ tubuh. Tanda vital menyatakan suhu tubuh
kadang-kadang setinggi 45C, takikardia dan hipotensi. Otak mungkin merupakan organ yang
terlebih dahulu terkena karena sensitivitasnya terhadap keseimbangan elektrolit. Jika kondisi
terus berlanjut, klien menjadi tidak sadar, pupil tidak reaktif. Terjai kerusakan neurologis yang
permanen kecuali jika tindakan pendinginan segera dimulai.
5.

Hipotermia

Pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin memengaruhi kemampuan


tubuh untuk memproduksi panas sehingga akan mengakibatakan hipotermia.
Tingkatan hipotermia
~ Ringan 34,6 - 36,5C per rektal
~ Sedang 28,0 - 33,5C per rektal
~ Berat 17,0 - 27,5C per rektal
~ Sangat berat 4,0 - 16,5C per rektal
Hipotermia aksidental biasanya terjadi secara berangsur dan tidak diketahui selama beberapa
jam. Ketika suhu tubuh turun menjadi 35C, orang yang mengalami hipotermia mengalami
gemetar yang tidak terkontrol, hilang ingatan, depresi, dan tidak mampu menilai. Jika suhu
tubuh turun dibawah 34,4c, frekuensi jantung, pernapasan, dan tekanan darah turun. Jika
hipotermia terus berlangsung, disritmia jantung akan berlangsung, kehilangan kesadaran, dan
tidak responsif terhadap stimulus nyeri.
Kita dapat mengukur suhu tubuh pada tempat-tempat berikut:
1.

ketiak/ axilae: termometer didiamkan selama 10-15 menit

2.

anus/ dubur/ rectal: termometer didiamkan selama 3-5 menit

3.

mulut/ oral: termometer didiamkan selama 2-3 menit

Adapun suhu tubuh normal menurut usia dapat dilihat pada tabel berikut:
USIA
3 Bulan
6 Bulan
1 Tahun
3 Tahun
5 Tahun
7 Tahun
9 Tahun
11 Tahun
13 Tahun
Dewasa
>70 Tahun

SUHU(DERAJAT CELCIUS)
37,5C
37,5C
37,7C
37,2C
37,0C
36,8C
36,7C
36,7C
36,6C
36,4C
36,0C

Fisiologi Terkait Dengan Mekanisme Pengaturan Suhu


Bagian otak yang berpengaruh terhadap pengaturan suhu tubuh adalah hipotalamus anterior
dan hipotalamus posterior. Hipotalamus anterior (AH/POA) berperanan meningkatkan
hilangnya panas, vasodilatasi dan menimbulkan keringat. Hipotalamus posterior (PH/ POA)
berfungsi meningkatkan penyimpanan panas, menurunkan aliran darah, piloerektil, menggigil,
meningkatnya produksi panas, meningkatkan sekresi hormon tiroid dan mensekresi
epinephrine dan norepinephrine serta meningkatkan basal metabolisme rate. Jika terjadi
penurunan suhu tubuh inti, maka akan terjadi mekanisme homeostasis yang membantu
memproduksi panas melalui mekanisme feed back negatif untuk dapat meningkatkan suhu
tubuh ke arah normal (Tortora, 2000). Thermoreseptor di kulit dan hipotalamus mengirimkan
impuls syaraf ke area preoptic dan pusat peningkata panas di hipotalamus, serta sel
neurosekretory hipotalamus yang menghasilkan hormon TRH (Thyrotropin releasing hormon)
sebagai tanggapan.hipotalamus menyalurkan impuls syaraf dan mensekresi TRH, yang
sebaliknya merangsang Thyrotroph di kelenjar pituitary anterior untuk melepaskan TSH
(Thyroid stimulating hormon). Impuls syaraf dihipotalamus dan TSH kemudian mengaktifkan
beberapa organ efektor.
Berbagai organ fektor akan berupaya untuk meningkatkan suhu tubuh untuk mencapai nilai
normal, diantaranya adalah :
1.

Impuls syaraf dari pusat peningkatan panas merangsang syaraf sipatis yang

menyebabkan pembuluh darah kulit akan mengalami vasokonstriksi. Vasokonstriksi


menurunkan aliran darah hangat, sehingga perpindahan panas dari organ internal ke kulit.
Melambatnya kecepatan hilangnya panas menyebabkan temperatur tubuh internal
meningkatkan reaksi metabolic melanjutkan untuk produksi panas.

2.

Impuls syaraf di nervus simpatis menyebabkan medulla adrenal merangsang pelepasan

epinephrine dan norepinephrine ke dalam darah. Hormon sebaliknya, menghasilkan


peningkatan metabolisme selular, dimana meningkatkan produksi panas.
3.

Pusat peningkatan panas merangsang bagian otak yang meningkatkan tonus otot dan

memproduksi panas. Tonus otot meningkat, dan terjadi siklus yang berulang-ulang yang
disebut menggigil. Selama menggigil maksimum, produksi panas tubuh dapat meningkat 4x
dari basal rate hanya dalam waktu beberapa menit.
4.

Kelenjar tiroid memberikan reaksi terhadap TSH dengan melepaskan lebih hormon

tiroid kedalam darah. Peningkatan kadar hormon tiroid secara perlahan-lahan meningkatkan
metabolisme rate, dan peningkatan suhu tubuh. Jika suhu tubuh meningkat diatas normal
maka putaran mekanisme feed back negatif berlawanan dengan yang telah disebutkan diatas.
Tingginya suhu darah merangsang termoreseptor yang mengirimkan impuls syaraf ke area
preoptic, dimana sebaliknya merangsang pusat penurun panas dan menghambat pusat
peningkatan panas. Impuls syaraf dari pusat penurun panas menyebabkan dilatasi pembuluh
darah di kulit. Kulit menjadi hangat, dan kelebihan panas hilang ke lingkungan melalui radiasi
dan konduksi bersamaan dengan peningkatan volume aliran darah dari inti yang lebih hangat
ke kulit yang lebih dingin. Pada waktu yang bersamaan, metabolisme rate berkurang, dan
tidak terjadi menggigil. Tingginya suhu darah merangsang kelenjar keringat kulit melalui
aktivasi syaraf simpatis hipotalamik. Saat air menguap melalui permukaan kulit, kulit menjadi
lebih dingin. Respon ini melawan efek penghasil panas dan membantu mengembalikan suhu
tubuh kembali normal. Skema Mekanisme Feedback Negatif Menghemat Atau Meningkatkan
Produksi Panas Menurun.
Myers, R.D. (1984). Neurochemistry of thermoregulation. The Physiologist,27, (1), 41-46
Guyton and Hall.2007.
Guyton, A.C., dan Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Jakarta: EGC