Anda di halaman 1dari 8

TUGAS GEOFISIKA PERTAMBANGAN

Hubungan Gunungapi Terhadap Mineral di Papua

Oleh :
HANA DWI SUSSENA
NIM. 125090701111003

PROGRAM STUDI GEOFISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

A. Pengertian Gunungapi
Gunung berapi atau gunungapi secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu
sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari
kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi,
termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.
Gunungapi juga dapat diartikan sebagai lubang atau sekumpulan lubang yang berasal dari
lelehan atau runtuhan zat padat akibat dari erupsi. Sebagian besar gunungapi membentuk
seperti banguan yang besar dari erupsi lava dan runtuhan fragmen; beberapa erupsi
gunungapi memiliki erupsi dengan volume magma yang besar yang meluap ke
permukaan melalui lubang yang dapat menyebabkan terbentuknya kaldera (Christ, 2007).

Gambar 1. Penampang suatu gunungapi dan bagian-bagiannya

Gunungapi terbentuk akibat dari adanya pergerakan tektonik, baik pemekaran


kerak, tumbukan antar kerak, kerak yang saling menjauh secara horizontal maupun
penipisan kerak yang menyebabkan magma keluar ke permukaan. Definisi secara klasik
gunungapi terbentuk di muka bumi dari magma yang muncul. Magma adalah lelehan
yang berisi gas dan kristal yang terbentuk di bawah permukaan bumi yang sangat dalam.
Ketika gunungapi erupsi, magma berupa aliran lava dan fragmen lava membentuk lelehan
yang keluar ke permukaan. Struktur seperti ini dinamakan bukit atau gunung, dapat juga
dinamakan sebagai gunungapi (Lopes, 2005). Gunungapi yang sedang aktif dapat dengan
mudah mengalami erupsi. Erupsi merupakan proses yang terjadi terakhir kali dari

beberapa jam hingga beberapa dekade. Kehebatan erupsi bergantung pada dinamika
antara magma, gas dan batuan di dalam gunungapi. Letusan lebih kuat seringkali berasal
dari ribuan tahun dalam akumulasi magma dan gas, tekanan yang terbentuk dalam
kantung magma akan semakin besar (Britannica Illustrated Science Library, 2005).
Gunungapi menyimpan material silikat padat yang disebut magma di dalam perut
bumi. Temperatur magma berkisar antara 6000oC-15000oC. Magma disusun oleh material
yang berupa gas (volatil), seperti H2O, CO2, dan material bukan gas yang umumnya
terdiri dari Si, O, Fe, Al, Ca, Mg, Na, K dan minor elemen seperti V, Sr, Rb, dan lain-lain.
Dalam gunungapi, magma tersimpan dalam rongga di dalam bumi yang disebut dapur
magma. Karena magma relatif lebih ringan dari batuan disekitarnya, maka magma akan
bergerak naik ke atas. Cairan magma yang keluar dari dalam bumi disebut lava. Suhu
lava yang dikeluarkan bisa mencapai 500-1.200 C. Letusan gunung berapi yang
membawa batu dan abu dapat menyembur sampai sejauh radius 18 km atau lebih,
sedangkan lavanya bisa membanjiri sampai sejauh radius 90 km.
B. Geologi Regional Papua
Papua adalah pulau yang berada di timur wilayah kepulauan Indonesia. Bersama
dengan Papua Nugini, pulau ini merupakan pulau terbesar kedua di dunia, sekaligus
merupakan pulau yang mempunyai puncak tertinggi di Asia Tenggara dan Australia, yaitu
Puncak Wijaya (4.884 dpl). Papua merupakan wilayah yang sangat kaya akan sumber
alam sebagai akibat kegiatan lempengnya yang terus mengalami perkembangan.
Geologi Papua merupakan priode endapan sedimentasi dengan masa yang
panjang pada tepi Utara Kraton Australia yang pasif yang berawal pada Zaman Karbon
sampai Tersier Akhir. Pada Kala Oligosen terjadi aktivitas tektonik besar pertama di
Papua,yang merupakan akibat dari tumbukan Lempeng Australia dengan busur kepulauan
berumur Eosen pada Lempeng Pasifik. Hal ini menyebabkan deformasi dan metamorfosa
fasies sekis hijau berbutir halus, turbidit karbonan pada sisii benua membentuk Jalur
Metamorf Rouffae yang dikenal sebagai Metamorf DorewoAkibat lebih lanjut tektonik
ini adalah terjadinya sekresi (penciutan) Lempeng Pasifik ke tas jalur malihan dan
membentuk Jalur Ofiolit Papua. Peristiwa tektonik penting kedua yang melibatkan Papua

adalah Orogenesa Melanesia yang berawal dipertengahan Miosen yang diakibatkan oleh
adanya tumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik. Hal ini mengakibatkan
deformasi dan pengangkatan kuat batuan sedimen Karbon-Miosen (CT), dan membentuk
Jalur Aktif Papua. Dari pertengahan Miosen sampai Plistosen, cekungan molase
berkembang baik ke Utara maupun Selatan. Erosi yang kuat dalam pembentukan
pegunungan menghasilkan detritus yang diendapkan di cekungan-cekungan sehingga
mencapai ketebalan 3.000 - 12.000 meter. Pemetaan Regional yang dilakukan oleh PT
Freeport, menemukan paling tidak

pernah terjadi tiga fase magmatisme di daerah

Pegunungan Tengah. Secara umum,umur magmatisme diperkirakan berkurang ke arah


selatan dari utara dengan polayang dikenali oleh Davies (1990) di Papua Nugini.
Geologi Papua merupakan sesuatu yang kompleks, melibatkan kagiatan interaksi
konvergen Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik serta proses pengendapan di masa
lalu yang mengalami perkembangan dan pengangkatan. Secara geologi regional Papua
memiliki tiga jalus berdasarkan stratigrafi, magmati dan tektoniknya, yaitu :
1. Kawasan Samudera Utara yang dicirikan oleh ofiolit dan busur vulkanik kepulauan
(Oceanic Province) sebagai bagian dari Lempeng Pasifik. Batuan-batuan ofiolt pada
umumnya tersingkap di sayap utara Pegunungan Tengah Papua dan Papua Nugini.
2. Lajur peralihan yang terdiri atas batuan termalihkan (metamorf) dan terdeformasi
sangat kuat secara regional. Lajur ini terletak di tengah (central range).
C. Mineral
Mineral adalah suatu zat (fasa) pada yang terdiri dari unsur atau persenyawaan
kimia yang dibentuk secara alamiah oleh proses-proses anorganik, mempunyai sifat-sifat
kimia dan fisika tertentu dan mempunyai penempatan atom-atom secara beraturan di
dalamnya, atau dikenal sebagai struktur Kristal. Mineral termasuk dalam komposisi unsur
murni dan garam sederhana silikat yang sangat kompleks dengan ribuan bentuk yang
diketahui (senyawa organic biasanya tidak termasuk). Pengertian mineral menurut para
ahli :
1. L.G. Berry dan B. Mason (1959). Mineral adalah suatu benda padat homogen
yang terdapat di alam terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi
kimia pada batas batas tertentu dan mempunyai atom atom yang tersusun
secara teratur.

2. D.G.A Whitten dan J.R.V. Brooks (1972). Mineral adalah suatu bahan padat
yang secara structural homogen mempunyai komposisi kimia tertentu,
dibentuk oleh proses alam yang anorganik.
3. A.W.R. Potter dan H. Robinson (1977). Mineral adalah suatu bahan atau zat
yang homogen mempunyai komposisi kimia tertentu atau dalam batas batas
dan mempunyai sifat sifat tetap, dibentuk dialam dan bukan hasil suatu
kehidupan.
4. Murwanto, Helmy, dkk. (1992). Istilah mineral dalam arti geologi adalah zat
atau benda yang terbentuk oleh proses alam, biasanya bersifat padat serta
tersusun dari komposisi kimia tertentu dan mempunyai sifat-sifat fisik yang
tertentu pula. Mineral terbentuk dari atom-atom serta molekul-molekul dari
berbagai unsur kimia, dimana atom-atom tersebut tersusun dalam suatu pola
yang teratur. Keteraturan dari rangkaian atom ini akan menjadikan mineral
mempunyai sifat dalam yang teratur. Mineral pada umumnya merupakan zat
anorganik
D. Hubungan Gunungapi dengan Mineral di Papua
Sebagaimana yang telah diketahui mengenai apa yang keluarkan oleh gunung api,
yaitu magma. Magma merupakan cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi
dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan sekitar 600-1.500 C dan bersifat
mobile. Pada saat mengalami pendinginan, atom-atom oksigen dan silikon akan saling
mengikat pertama kali untuk membentuk tetrahedra oksigen-silikon. Kemudian
tetrahedra-tetrahedra oksigen-silikon tersebut akan saling bergabung dengan ion-ion
lainnya dan membentuk inti kristal dari bermacam-macam mineral silikat. Tiap inti kristal
akan tumbuh dan membentuk jaringan kristallin yang tidak berubah. Mineral yang
menyusun magma tidak terbentuk pada waktu yang bersamaan atau pada kondisi yang
sama. Mineral tertentu akan mengkristal pada temperatur yang lebih tinggi dari mineral
lainnya, sehingga kadang-kadang magma mengandung kristal-kristal padat yang
dikelilingi oleh material yang masih cair.
Pada batuan beku asam, dengan konsentrasi silikat (SiO2) lebih besar dari 66%,
tersusun oleh mineral-mineral silikat yang memiliki ciri-ciri warna terang, misalnya
kuarsa, potash feldsfar, dan muskovit. Daerah gunung api adalah daerah yang merupakan

daerah panas bumi. Panas bumi merupakan sistem hydrothermal. Mineral dapat terbentuk
oleh panas bumi. Pada umumya mineral yang tebentuk adalah silika, seng, strotium,
rubidium, lithium, potasium, magnesium, timah hitam, mangan, tembaga, boron, perak,
tungsten, emas, secium, dan barium (J. Michael Canty and Dr. Leland, 2006)
Pembentukan mineral logam sangat berhubungan dengan aktivitas magmatisme
dan vulkanisme, pada saat proses magmatisme akhir (late magmatism), pada suhu sekitar
200oC. Westerveld (1952) menerbitkan peta jalur kegiatan magmatik. Dari peta tersebut
dapat

diperkirakan

kemungkinan

keterdapatan

mineral

logam

dasar

yang

pembentukannya berkaitan dengan kegiatan magmatik. Carlile dan Mitchell (1994),


berdasarkan data-data mutakhir Simanjuntak (1986), Sikumbang (1990), Cameron
(1980), Adimangga dan Trail (1980), memaparkan busur-busur magmatik seluruh
Indonesia sebagai dasar eksplorasi mineral. Teridentifikasikan 15 busur magmatik, 7
diantaranya membawa jebakan emas dan tembaga, dan 8 lainnya belum diketahui. Busur
yang menghasilkan jebakan mineral logam tersebut adalah busur magmatik Aceh,
Sumatera-Meratus, Sunda-Banda, Kalimantan Tengah, Sulawesi-Mindanau Timur,
Halmahera Tengah, Irian Jaya. Busur yang belum diketahui potensi sumberdaya
mineralnya adalah Paparan Sunda, Borneo Barat-laut, Talaud, Sumba-Timor, MoonUtawa dan dataran Utara Irian Jaya. Jebakan tersebut merupakan hasil mineralisasi utama
yang umumnya berupa porphyry copper-gold mineralization, skarn mineralization, high
sulphidation epithermal mineralization, gold-silver-barite-base metal mineralization, low
sulphidation epithermal mineralization dan sediment hosted mineralization.
Telah diketahui jika Papua berada pada busur magmatik yang menghasilkan
jebakan mineral logam. Hal ini juga dipertegas oleh riwayat kondisi geologi regional di
daerah Papua yang terdapata cekungan molase yang berkembang baik ke Utara maupun
Selatan pada pertengahan zaman Miosen sampai Plistosen yang merupakan fase
magmatik. Dari fase magmatik tersebut terjadi pembentukan mineral seperti:

Emas : Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di


permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme
kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara
mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Mineral emas ditemukan

sebagai urat (vein) dalam batuan beku ini. Emas berasosiasi dengan
kuarsa, pirit, arsenopirit, dan perak.

Gambar 2. Serpihan emas

Perak: Mineral-mineral yang terpenting yang mengandung perak adalah


Perak alam (Ag), Argentite (Ag2S), Cerrargyrite (AgCl), Polybasite
(Ag16Sb2S11), Proustite (Ag2AsS3) dan Pyrargyrite (Ag3SbS3). Kebanyakan
perak di dunia berasal dari cebakan hydrothermal yang mengisi ronggarongga. Perak merupakan logam yang terbentuk dan selalu bersama-sama
dengan logam emas, yang mempunyai warna putih.

Gambar 3. Serpihan perak

Tembaga: Umumnya bijih tembaga di Indonesia terbentuk secara


magmatik. Tembaga (Cu) mempunyai sistim kristal kubik, secara fisik
berwarna kuning dan apabila dilihat dengan menggunakan mikroskop bijih
akan berwarna pink kecoklatan sampai keabuan. Salah satu tipe deposit
mineral tembaga yaitu deposit masif pada batuan volkanik.

Gambar 4. Serpihan tembaga