Anda di halaman 1dari 4

205

KARAKTERISTIK SIFAT KIMIA ANDISOL PADA TOPOSEKUEN


LERENG SELATAN GUNUNG MERAPI KABUPATEN SLEMAN
Oleh: Resman1)

ABSTARCT
The research was conducted in village at 650 m above sea level (asl) and village (600 m asl), on
toposequent of south slope mountain Merapi, Sleman Regency. The objective of this research was to study
the chemistry character of Andisols in the south hillside of mountain Merapi. The resuts of this research show
same chemistry characteristic of Andisols nomely : C- organic (3,72% - 7,40%), organic material (4,48% 10,40%), N- total (0,29% - 0,43%), cation exchangeable capacity (29,70 cmol(+)/kg - 36,42 cmol(+)/kg), pH
(H2O) (6,10 - 6,20), pH (NaF) (11,10 - 11,20), phosphate retention (86,60% - 88,60%). Toposequent of south
slope mountain Merapi, Sleman Regency, the analysis of chemistry characteristic of Andisols in both profil (
C-organic, organic material, N- total, and cation exchangeable capacity) deflated by the increasing of depth
land, while phosphate retention increasul by the increasing of depth land. Likely index of land chemistry
character that calculated between the land horizons, nomely : C- organic, organic material, N- total, cation
exchangeable capacity, pH (H2O), pH (NaF) and phosphate retention. The was nothing likely between the
horizons because of pedogenesis process was not same in each land profile.
Key words: The character of chemistry Andisols, toposequnt

PENDAHULUAN
Andisol adalah tanah yang terdiri atas
abu volkan atau terbentuk di dalam bahan abu
volkan dan sering mempunyai suatu horizon
teratas yang tebal dan berwarna gelap. Fraksi
koloid Andisol didominasi oleh mineral
allofan, imogilite, dan ferihidrat atau
kompleks Al-humus, kandungan bahan
organik tinggi, dan tanah bagian bawahnya
berwarna coklat sampai coklat kekuningan,
tekstur sedang, porous, pH 4,5 sampai 6,0
(Hardjowigeno, 1993).
Pembentukan
Andisol
sangat
berkaitan erat dengan lima faktor genesa tanah
yaitu bahan induk, topografi, iklim, organisme
dan waktu. Dalam lima faktor tersebut, bahan
induk berupa bahan piroklastik, topografi
pegunungan dengan ketinggian lereng lebih
besar 600m (dpl), iklim dengan curah hujan
merata sepanjang tahun, vegetasi hutan tropika
basah dan waktu pembentukan ribuan tahun
adalah
ciri
faktor
genesa
Andisol
(Darmawijaya, 1997).
Dalam proses pedogenesis Andisol,
bahan organik memegang peranan penting.

Bahan organik menghasilkan humus yang


akan berikatan dengan Al dan Fe menjadi Alhumus ataupun Fe-humus yang selanjutnya
mengadakan polikondensasi dengan bahanbahan mineral yang amorf. Senyawa-senyawa
mineral
yang
amorf
tersebut
akan
menstabilkan bahan-bahan organik dan
melindunginya terhadap biogradasi jasadjasad mikro serta memacu terjadinya
pengakumulasian senyawa-senyawa tersebut
dalam profil. Senyawa ini akan stabil dan
tetap berada di tempat itu sehingga tidak akan
mengalami pergerakan di dalam tanah. Proses
ini disebut dengan melanisasi (Munir, 1986).
Indonesia yang berada pada iklim
yang panas dan dekomposisi cepat sehingga
akumulasi bahan organik tinggi dan
menyebabkan banyak Andisol di Indonesia
mempunyai horison A berwarna hitam.
Persentase karbon organik di tanah-tanah
Andisol berkisar antara 6% sampai 15%,
tergantung dari letak tanahnya di dataran
rendah atau di lereng-lereng gunung. Dalam
tanah Andisol muda, terbentuk dari debu
volkanik akibat erupsi-erupsi paling baru,
warnanya bisa ke arah kelabu gelap.

AGRIPLUS,
20 Nomor
03 September
2010,
ISSN
0854-0128
) Staf Pengajar
Pada Jurusan Volume
Agroekoteknologi
Fakultas: Pertanian
Universitas
Haluoleo,
Kendari.

205

206

Umumnya Andisol berwarna muda (merah


coklat gelap atau lebih muda) dianggap
Andisol belum dewasa atau Andisol yang
lapisan atasnya terpangkas (Tan, 1991).
Uraian di atas sangat menarik untuk dikaji
beberapa sifat kimia tanah Andisol yang
terletak di toposekuen lereng selatan gunung
Merapi Kabupaten Sleman.
METODE PENELITIAN
Penelitian pendahuluan dilakukan
dengan menentukan lokasi profil pewakil
tanah pada kedua lokasi yaitu Profil I dan
Profil II, di toposekuen lereng selatan gunung
Merapi Kabupaten Sleman. Penelitian utama
dilakukan dengan jalan mendeskripsi profil
tanah, kemudian mengambil cuplikan tiap
lapisan/horizon tanah yang diperlukan untuk
analisis laboratorium.
Berbagai analisis sifat kimia yang
dilakukan; Carbon organik, bahan organik,
nitrogen total, kapasitas pertukaran kation,
pH(NaF),
retensi
fosfat.
pH(H2O),
Perbandingan sifat kimia tanah Andisol dapat
diketahui dengan menggunakan indeks

kemiripan. Mula-mula semua harga pada tiap


horizon diubah menjadi nilai nisbi. Harga
sebenarnya yang terbesar diberi nilai (100)
dan nilai yang terkecil diberi nilai (1),
sedangkan nilai yang terletak antara nilai
terbesar dan yang terkecil dihitung dengan
cara (interpolasi). Menurut Buol et al. (1980)
dalam menghitung indeks kemiripan (I) dari
horizon yang dipasangkan dengan rumus
sebagai berikut :
2W
I
x100 %
AB
Keterangan : I = indeks kemiripan; W =
jumlah nilai nisbi terkecil diantara dua
parameter dari horizon yang dibandingkan; A
dan B = jumlah nilai nisbi dari parameter dua
horizon yang dibandingkan.
Jika indeks kemiripan (I) mempunyai
nilai > 80, berarti kedua horizon yang
dibandingkan adalah mirip. Bila nilai (I)
terletak diantara (50 dan 79), kemiripan kedua
horizon yang dibandingkan diragukan.
Sedang bila nilai I < 50, berarti kedua horizon
yang dibandingkan tidak mirip.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis Sifat Kimia Andisol
Tabel 1. Analisis sifat kimia andisol
Profil
PI 1
PI 2
PI 3
PII 1
PII 2
PII 3

Jeluk
(cm)
0-15
15-30
30-10
0-18
18-31
31-42

C-O
(%)
7,40
4,60
3,80
6,30
5,00
3,72

B.O
(%)
10,40
7,70
4,48
9,60
5,80
4,91

N-T
(%)
0,40
0,37
0,35
0,42
0,35
0,29

Carbon Organik
Menurut Fitz Patrick dalam, Tan
(1982) menyatakan bahwa keberadaan
lempung non kristalin atau lempung amorf
merupakan penyebab terjadinya kadar bahan
organik tanah Andisol. Pendapat ini didukung

KPK
(me/%)
36,42
34,80
31,10
35,16
33,40
29,70

pH(H2O)
(1:2,5)
6,20
6,20
6,20
6,10
6,10
6,10

pH (NaF)
4 menit
11,20
11,20
11,20
11,10
11,10
11,10

Retensi P
(%)
85,60
88,20
88,00
87,10
88,40
86,60

pula oleh Wada dan Aomine dalam, Tan


(1982) yang mengatakan bahwa allofan
berasosiasi dengan bahan organik membentuk
lempung humus kompleks sehingga bahan
organik terlindung dari daya degradasi oleh
mikroorganisme.

AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128

207

Hasil analisis karbon organik profil


pertama (PI), (3,86% - 7,40%) dan profil
kedua (PII) (3,72% - 6,30%). Pada kedua
profil termasuk dalam harkat sedang
(Blakemore, 1987). Tingginya karbon organik
pada profil teratas disebabkan oleh rumput
dan semak yang tumbuh rapat, bahan-bahan
amorf yang cukup tinggi yang dapat
menghambat proses perombakan bahan
organik
oleh
mikrobia
tanah,
serta
menunjukkan
bahan
organik
belum
mengalami proses translokasi vertikal atau
masih terakumulasi pada lapisan permukaan.
Nitrogen Total
Pada kedua profil tanah hasil analisis
nitrogen total berkisar antara (0,29% - 0,42%)
ini memiliki harkat rendah - sedang
(Blakemore, 1987). Pada tiap horizon tanah
terjadi perubahan nitrogen total, hal ini
disebabkan oleh adanya proses alih rupa
(transformasi bahan), proses alih tempat
(perpindahan bahan), serta dipengaruhi oleh
tingkat perombakan bahan organik
Pada
horizon pertama kandungan nitrogen total
lebih tinggi, hal ini disebabkan perombakan
bahan organik oleh mikroorganisme yang ada
di dalam tanah sudah berjalan intensif.
Kapasitas Pertukaran Kation
Pada kedua profil hasil analisis
kapasitas pertukaran kation menunjukkan nilai
yang berkisar antara (29,70 cmol(+) per kg 36,42 cmol(+) per kg) masing-masing
berharkat sedang - tinggi (Blakemore, 1987).
Tingginya KPK ditentukan oleh kadar
lempung dan bahan organik yang ada di dalam
tanah. Makin tinggi kadar lempung dan bahan
organik, serta senyawa-senyawa organik
penyusun bahan organik maka nilai kapasitas
pertukaran kation akan semakin meningkat
(Notohadiprawiro, 2000).

pH (H2O) dan pH (NaF)


Konsentrasi ion-ion yang terlarut
dalam tanah sangat beragam tergantung pada
jumlah ion terlarut serta jumlah bahan pelarut
yang ada di dalam tanah. pH tanah merupakan
larutan tanah yang berupa air tanah yang
mengandung ion-ion terlarut yang merupakan
hara bagi tanaman.
Pada kedua profil nilai pH (H2O)
berkisar
antara
(6,10
sampai
6,20)
menunjukkan agak masam sampai mendekati
netral, hal ini disebabkan oleh kation-kation
yang ada dalam tanah belum banyak terlindi
oleh pengaruh air hujan. Hasil analisis pH
(NaF) pada kedua profil, berkisar antara
(11,10 sampai 11,20) ini menunjukkan
mengandung bahan amorf yang cukup tinggi.
Retensi Fosfat
Retensi fosfat yang tinggi pada tanah
Andisol disebabkan kandungan besi (Fe) dan
aluminium (Al) amorf yang berasal dari
hidroksida aluminium dan allofan. Gugus
fungsional yang terdapat dalam mineral amorf
sangat berperan penting dalam menjerap ion
fosfat adalah (Al-OH) dan (Al-OH2). Gugus
aluminol ini berupa anion hidroksil yang
terikat secara ikatan tunggal dengan logam
aluminium. Ikatan tunggal ini menyebabkan
(OH) mudah ditukar oleh ion fosfat melalui
mekanisme
pertukaran
ligand
(ligand
exchange). Makin banyak jumlah gugus
aluminol dalam bahan amorf seperti allofan,
maka makin banyak pula fosfat yang terjerap
di dalam tanah (Bohn et al., 1979).
Hasil analisis retensi fosfat kedua
profil tanah menunjukkan nilai yang berkisar
antara (85,60% - 88,60%).
Kemampuan
meretensi fosfat ini terkait dengan banyaknya
kandungan mineral-mineral amorf yang tinggi
di dalam tanah. Menurut (Bohn et al., 1979)
menyatakan bahwa tingginya retensi fosfat
dalam tanah dapat terjadi sangat kuat
disebabkan oleh kandungan (besi dan
aluminium) amorf yang berasal dari hidroksi
oksida aluminium dan allofan tinggi.

AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128

208

Indeks Kemiripan
Tabel 2. Indeks kemiripan sifat kimia pada kedua profil
Lokasi
Lapisan
PI 1
PI 2
PI 3
PII 1
PII 2
PII 3

1
100

PI
2
5
100

3
1
1
100

1
12
6
1
100

PII
2
7
5
1
7
100

3
1
1
1
1
1
100

Keterangan : P I = Profil I, P II = Profil II. Jika Indeks kemiripan > 80 = mirip; 50 79 = diragukan; < 50 =
tidak mirip

Indeks kemiripan sifat kimia pada


kedua profil menunjukkan nilai yang berkisar
antara (1% sampai 12%). Hal ini diduga faktor
kerapatan vegetasi, jumlah kation yang dapat
dipertukarkan di dalam tanah dan proses
pelindian kation-kation basa yang terakumulasi pada masing-masing profil tanah.
Indeks kemiripan sifat kimia tanah
yang
dihitung
antar
lapisan/horison,
diantaranya: Carbon organik, bahan organik,
nitrogen total, kapasitas pertukaran kation, pH
(H2O), pH (NaF), retensi fosfat. Kemiripan
antara lapisan/horizon tanah akibat adanya
proses pedogenesis yang sama, agak mirip
antara lapisan/horizon tanah akibat adanya
proses pedogenesis yang hampir relatif sama,
sedangkan ketidakmiripan antara lapisan/
horizon tanah akibat adanya proses
pedogenesis yang tidak sama antara profil
tanah.
KESIMPULAN
Pada toposekuen lereng selatan
gunung Merapi Kabupaten Sleman kedua
profil tanah hasil analisis sifat kimia (carbon
organik, bahan organik, nitrogen total,
kapasitas pertukaran kation) menurun dengan
meningkatnya jeluk tanah. Sedangkan hasil
analisis retensi fosfat meningkat dengan
meningkatnya jeluk tanah.
Indeks kemiripan sifat kimia tanah
yang
dihitung
antar
lapisan/horizon,
diantaranya : carbon organik, bahan organik,
nitrogen total, kapasitas pertukaran kation, pH

(H2O), pH (NaF) dan retensi fosfat. Tidak ada


yang mirip antara lapisan/horizon tanah akibat
adanya proses pedogenesis yang tidak sama
pada tiap profil tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Buol, S.W., F.D. Hole and R.J. McCracken. 1980.
Soils Genesis and Classification. 2nd ed.
Iowa State Univ. Press. Ames.
Blakemore, L. C., Searle, and B.K. Daly. 1987.
Methods for Chemical Analysis of Soils.
NZ
Soils Bureu.
Departemen of
Scientific and Industrial Reseaach. Lower
Hutt, New Zealand. 103 p.
Bohn, H.L., B.L., Mcneal and G.A. Oconnor.
1997.
Soil Chimistry.
A.
Wiley
Interscience Publication. John Wiley and
Sons Canada.
Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan
Pedogenesis. (Edisi pertama). Akademika
Pressindo. Jakarta. 274 hal.
Tanah dan
Notohadiprawiro, T.
2000.
Lingkungan. Guru Besar Ilmu Tanah
Fakultas Pertanian Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.
Pusat Penelitian Tanah. 1983. Kriteria Penilaian
Data Analisis Sifat Kimia Tanah. Bogor.
Tan, K. H. 1982. Principles of Soil Chemistry.
Marcell Dekker.
Inc.
New York.
Xii+265p
Tan, K. H. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah.
Terjemahan D. H. Goenadi dan B.
Radjaguguk., 1998. Edisi ke-8. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.

AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128