Anda di halaman 1dari 4

Definisi Fraktur Dentoalveolar

Menurut American Dental Association (ADA), fraktur dental atau patah gigi
merupakan hilangnya atau lepasnya fragmen dari satu gigi lengkap yang biasanya disebabkan
oleh trauma atau benturan. Fraktur gigi dapat dimulai dari ringan (melibatkan chipping dari
lapisan gigi terluar yaitu email dan dentin) sampai berat (melibatkan fraktur vertikal,
diagonal, atau horizontal akar).
Fraktur dentoalveolar adalah fraktur yang mengenai gigi dan tulang alveolar
pendukungnya baik pada maksila maupun mandibula. Fraktur ini biasanya berhubungan
dengan adanya jejas pada gigi ataupun pada tulang rahang. Fraktur dentoalveolar sering
terjadi pada daerah gigi anterior anak-anak terutama maksila. Trauma yang mengenai gigi
sekitar 10% dari populasi, dan umumnya mengenai gigi anterior rahang atas. Jejas ini sering
juga dijumpai karena adanya trauma pada gigi lain atau trauma pada wajah. Fraktur
dentoalveolar bisa terjadi karena trauma langsung pada gigi atau trauma tidak langsung yang
mengenai dagu. Anak-anak dengan gigi anterior protrusif adalah predisposisi terjadinya
trauma dentoalveolar. Frekuensi terjadinya fraktur dentoalveolar pada mandibula 1-5%.
Sedangkan insidensi fraktur dentoalveolar yang dijumpai pada anak-anak usia sekolah sekitar
5%.
Etiologi Fraktur Dentoalveolar
Etiologi fraktur dentoalveolar pada umumnya adalah karena trauma akibat
perkelahian, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan saat olahraga, kecelakaan saat bermain, dan
terjatuh. Fraktur dentoalveolar pada anak-anak sering dijumpai karena trauma akibat
kecelakaan di rumah atau di sekolah.
Dalam satu penelitian yang dilaku oleh Schwartz, dikatakan selama masa remaja,
cedera olahraga merupakan kasus yang umum namun pada usia dewasa, kasus seperti cedera
olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri, dan kekerasan dalam rumah tangga
merupakan penyebab potensial trauma. Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan
penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola dan bola basket. Olahraga tanpa kontak
fisik seperti berkuda dapat menyebabkan fraktur dental. Benturan atau trauma, baik berupa
pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung terhadap mandibula,
dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu,
tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dapat pula
menyebabkan fraktur.
Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnya prosesus, atau sampai
lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma secara langsung kebanyakan
mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis
retakannya menyebar ke belakang dan biasanya menyebab fraktur horizontal atau miring.
Pada fraktur yang lain, tekanan hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga fraktur
pada umumnya vertikal.
Klasifikasi Fraktur Dentoalveolar
Ellis and Daveys Classification (1960)
ClassI : Fraktur mahkota sederhana meliputi enamel

Class II : Fraktur mahkota yang lebih luas, mencapai dentin tanpa pulp exposure
Class III : Fraktur mahkota yang lebih luas, mencapai dentin dengan pulp exposure
Class IV : Gigi mengalami trauma menjadi nonvital (dengan atau tanpa kehilangan struktur
mahkota)
Class V : Hilangnya gigi karena trauma
Class VI : Fraktur akar dengan atau tanpa kehilangan struktur mahkota atau akar
Class VII : Perubahan posisi gigi tanpa fraktur mahkota atau akar
Class VIII : Perubahan posisi gigi dengan fraktur mahkota atau akar
Class IX : Fraktur pada gigi sulung
WHO (Andreasen) Classification (1978)
1. Kerusakan pada jaringan keras gigi dan pulpa
a. Infraksi mahkota (enamel fractures)
Merupakan suatu fraktur atau retakan yang terbatas pada enamel, tidak
melebihi perbatasan enamel-dentin tetapi dapat berakhir pada batas tersebut, tanpa
kehilangan struktur gigi dalam arah horizontal atau vertikal.
b. Fraktur mahkota yang tidak kompleks (uncomplicated crown fractures)
Merupakan fraktur yang mengenai enamel, atau enamel dan dentin tanpa
melibatkan pulpa.
c. Fraktur mahkota yang kompleks (complicated crown fractures)
Merupakan fraktur mahkota yang melibatkan enamel, dentin dan pulpa.
d. Fraktur mahkota-akar yang tidak kompleks (uncomplicated crown root fractures)
Merupakan fraktur yang mengenai enamel, dentin, dan cementum tanpa mengenai
pulpa.
e. Fraktur mahkota-akar yang kompleks (complicated crown-root fractures)
Merupakan fraktur yang mengenai enamel, dentin dan sementum dengan melibatkan
jaringan pulpa.
f. Fraktur akar (Root Fractures)
Merupakan fraktur pada akar saja yang mengenai dentin dan cementum dan
melibatkan jaringan pulpa. Fraktur ini paling sering terjadi pada apical dan satu per-tiga
apical dan jarang terjadi di satu per-tiga cervical.
2. Kerusakan pada jaringan periodontal
a. Concussion
Merupakan kerusakan pada periodontium yang menyebabkan sensitivitas pada
perkusi tanpa kegoyangan atau perubahan posisi dari gigi. Tidak terdapat bukti
klinis ataupun bukti radiografi terjadinya trauma. Tidak terlihat mobilitas

abnormal, perubahan posisi gigi, atau perdarahan; hanya terjadi injury minimal
pada jaringan.
b. Subluxation
Merupakan kegoyangan gigi tanpa disertai perubahan posisi gigi akibat trauma
pada jaringan pendukung gigi. Subluxation terjadi ketika ada injury yang
mengenai jaringan pendukung gigi yang menyebabkan kegoyangan yang
abnormal, tetapi tidak terjadi perpindahan pada gigi. Gigi menjadi sensitive
terhadap tes perkusi dan tekanan oklusal. Ruptur dari jaringan periodontal
biasanya ditandai dengan perdarahan pada celah margin gusi.
c. Luxation
Merupakan dislokasi atau partial avulse, dimana gigi berpindah tempat.
Luksasi ini terdiri atas intrusi, ekstrusi, dan lateral luksasi.
Intrusive Luxation
Merupakan pergerakan gigi ke dalam tulang alveolar, dimana dapat
menyebabkan fraktur atau kerusakan pada soket alveolar. Pada luksasi

intrusive sensitivitas perkusi terbatas, dan mobilitas berkurang.


Extrusive Luxation
Merupakan pergerakan parsial dari gigi yang keluar dari soketnya pada
arah coronal atau incisal dengan deviasi lingual dari mahkota. Hasilnya
adalah rupture dan terputusnya neurovascular dan ligament periodontal.
Terdapat mobilitas yang besar dan perdarahan pada gingival margin. Pada

pemeriksaan radiografi, terdapat pelebaran ligament periodontal.


Lateral Luxation
Lateral luxation dapat terjadi sebagai hasil dari gaya traumatic yang
menyebabkan perpindahan gigi ke banyak arah (paling sering ke arah
lingual). Luksasi ini biasanya melibatkan soket tulang alveolar. Terdapat

pelebaran ligament periodontal pada arah apical.


d. Avulsi
Merupakan pergerakan seluruh gigi ke luar dari soket.
3. Kerusakan pada tulang pendukung
a. Pecahnya soket alveolar, biasanya terjadi bersamaan dengan intrusive luxation
atau lateral luxation.
b. Fraktur pada satu dinding dari soket alveolar
c. Fraktur pada prosesus alveolar
d. Fraktur yang melibatkan mandibula atau maksila
4. Kerusakan pada gusi atau mukosa oral
a. Laserasi

Laserasi merupakan suatu luka terbuka pada jaringan lunak yang disebabkan
oleh benda tajam seperti pisau atau pecahan luka. Luka terbuka tersebut berupa
robeknya jaringan epitel dan subepitel.
b. Kontusio
Kontusio yaitu luka memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan benda
tumpul dan menyebabkan terjadinya perdarahan pada daerah submukosa tanpa
disertai sobeknya daerah mukosa.
c. Abrasi
Luka abrasi, yaitu luka pada daerah superfisial yang disebabkan karena
gesekan atau goresan suatu benda, sehingga terdapat permukaan yang berdarah atau
lecet.