Anda di halaman 1dari 11

Penyakit Akibat Kerja Karena Vibrasi

Vanya Genevieve Orapau


102011142
Mahasiswi FakultasKedokteranUniversitas Kristen KridaWacana
JalanArjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510
Email: anyagenevieve94@gmail.com

Pendahuluan
Penyakit akibat kerja (PAK) disebabkan oleh paparan terhadap bahan kimia dan
biologis, serta bahaya fisik di tempat kerja. Meskipun angka kejadiannya lebih kecil
diadingkan penyebab penyakit lain, namun terdapat bukti bahwa penyakit ini mengenai
cukup banyak orang dan khususnya negara-negara yang berkembang pada dunia industry
Pada banyak kasus, penyakit akibat kerja ini bersifat berat dan dapat mengakibatkan
kecacatan. Akan tetapi ada dua faktor yang membuat penyakit ini mudah dicegah yakni
dengan mengiidentifikasi dan mengontrol bahan penyebab penyakt dan juga mengawasi
populasi yang berisiko sehingga dapat diobati dengan baik. Selain itu, perubahan-perubahan
awal seringkali dapat pulih dengan penanganan yang tepat. Oleh karena itu, deteksi dini
penyakit akibat kerja sangatlah penting. Dengan demikian, tenaga kerja yang sakit dapat
segera diobati sehingga penyakitnya tidak berkembang dan dapat sembuh dengan segera.
Selain itu juga dapat dilakukan pencegahan agar tenaga kerja lainnya terlindung dari
penyakit.
Dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas mengenai penyakit akibat kerja (PAK) yang
berhubungan dengan faktor fisik tepatnya vibrasi. Untuk mendiagnosis penyakit akibat kerja
(PAK) maka kita harus melakukan dengan cara tujuh langkah diagnosis okupasi serta
penanganan dan pencegahannya.

Tujuh Langkah diagnosis okupasi:


1. Diagnosis Klinis
a. Anamnesis
Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian wawancara. Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap
pasien (auto-anamanesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo1

anamnesis).Anamnesis yang baik akan terdiri dari identitas, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit dalam keluarga,
anamnesis susunan sistem dan anamnesis pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi,
budaya, kebiasaan, obat-obatan, lingkungan).1
Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, nama
orang tua atau suami atau isteri atau penanggung jawab, alamat, pendidikan,
pekerjaan, suku bangsa dan agama. Identitas perlu ditanyakan untuk memastikan
bahwa pasien yang dihadapi memang benar pasien yang dimaksud. Selain itu,
identitas ini juga perlu untuk data penelitian, asuransi, dan lain sebagainya. Dari
skenario, diperoleh identitas seorang pria berusia 42 tahun yang bekerja sebagai kurir
pengantar obat.
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang pergi ke dokter. Dalam
menuliskan keluhan utama, harus disertai dengan indikator waktu, berapa lama pasien
mengalami hal tersebut. Dari skenario, keluhan utamanya adalah kebas pada kedua
tangan.
Riwayat penyakit sekarang yang merupakan cerita yang kronologi, terinci dan jelas
mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien
datang berobat. Riwayat perjalanan penyakit disusun dalam bahasa Indonesia yang
baik sesuai dengan apa yang diceritakan oleh pasien. Dari skenario maka diperoleh
riwayat penyakit sekarangnya adalah keluhannya terasa sejak 3 bulan yang lalu dan
berkurang apabila tidak bekerja.
Riwayat penyakit dahulu, menanyakan apakan pasien sebelumnya sudah pernah sakit
seperti ini karena akan sangat bertujuan untuk mengetahui kemungkinankemungkinan adanya hubungan antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakit
sekarang. Pada skenario, didapatkan riwayat penyakit dahulunya pasien tidak pernah
menderita seperti ini sebelumnya.
Riwayat penyakit keluarga dan riwayat sosial maka kita menanyakan pertanyaanpertanyaan seperti adakah di keluarga pasien yang menderita penyakit seperti,
bagaimana kebiasaan pasien dan juga riwayat obat-obatan yang sedang dikonsumsi
oleh pasien tersebut.
Riwayat pekerjaan yakni pasien bekerja sebagai kurir pengantar obat yang bekerja
selama 8 jam sehari dan sudah bekerja sebagai kruir pengantar obat selama 12 tahun
lamanya. Tentunya sebagai kurir, pasien menggunakan motor kopling tahun 2000
untuk pendistribusian obat. Kemungkinan pajanan yang dialami oleh pasien yakni

getaran dari motor tersebut. Pasien juga tidak memakai alat pelingung diri (APD)
seperti sarung tangan.
b. Pemeriksaan Fisik
Tentunya pemeriksaan fisik pertama yang dapat kita lakukan adalah menilai keadaan
umum pasien. Dengan melihat keadaan umum pasien, maka dapat kita tentukan
apakah penyakit yang diderita ini berat atau ringan. Setelah menilai keadaan umum
pasien, selanjutnya kita melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital yang meliputi
suhu, tekanan darah, frekuensi nadi dan pernapasan pasien.
Berkaitan dengan keluhan kebas pada tangan, maka dapat juga dilakukan dengan
pemeriksaan waktu pengisian kapiler (Capillary Refil Time) yakni untuk menilai
curah jantung, tahanan vascular perifer, perfusi kulit dan jaringan, serta obstruksi
arteri regional. Caranya adalah dengan menekan kuku pada salah satu jari hingga
berwarna putih dan lepaskan, normalnya adalah kurang dari 2 detik.2
Dengan keluhan kebas pada tangan, maka dapat dilakukanpemeriksaan sistem
sensorik yaitu:

Sentuhan ringan, maka dapat dilakukan dengan kapas yakni dengan cara sentuhlah
kulit pasien secara ringan dengan menghindari penekanan. Minta pasien
menjawab saat ia merasakan sentuhan dan kemudian membandingkan satu daerah
dengan daerah lain.

Sensasi getaran, ketika melakukan tes sensasi getaran, pertama lakukan tes
tersebut pada jari tangan dan kaki. Jika hasilnya normal, dapat diasumsikan bahwa
daerah yang lebih proksimal juga memberikan hasil yang normal.Tes sensasi
getaran ini menggunakan garpu tala bernada rendah 128 Hz. Caranya: ketukkan
garpu tala pada telapak tangan pemeriksa dan letakkan dengan erat pada
artikulasio interfalangeal distal jari tangan pasien kemudian di artikulasio
interphalangeal ibu jari kakinya. Tanyakan apa yang dirasakan pasien.

Tes sensasi nyeri dan suhu, ketika melakukan pemeriksaan ini bandingkan daerah
distal extremitas dengan daerah proksimalnya.Tes rasa nyeri dengsn menggunakan
jarum dan minta pada pasien menyebutkan apakah benda yang disentuhkan ke
3

bagian tubuhnya itu tajam atau tumpul sedsngksn tes suhudengan menggunakan
tabung reaksi yang diisi air panas dan dingin.3

c.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan seperti pemeriksaan darah lengkap yang
meliputi hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit, eritrosit, indeks eritrosit, laju
endap darah, hitung jenis leukosit, distribusi platelet dan eritrosit.

2. Pajanan Yang Dialami


Pajanan yang dialami adalah mengenai akibat faktor fisik, dimana pajanan fisik
merupakan salah satu penyumbang dampak negarif terhadap kesehatan. Pajanan bahaya
potensial faktor fisik seperti kebisingan, suhu panas dan dingin, getaran, pencahayaan dan
radiasi elektromagnetik. Dalam kasus ini, akan lebih ditekankan pada penyakit akibat
pajanan faktor fisik tepatnya getaran.
Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media dengan arah bolak-balik dari
kedudukan keseimbangan. Getaran terjadi saat mesin atau alat dijalankan dengan motor,
sehingga pengaruhnya bersifat mekanis. Getaran merupakan efek suatu sumber yang
memakai satuan ukuran hertz. Getaran (vibrasi) adalah suatu faktor fisik yang menjalar ke
tubuh manusia, mulai dari tangan sampai keseluruh tubuh turut bergetar akibat getaran
peralatan mekanis yang dipergunakan dalam tempat kerja. Getaran itu dibagi atas getaran
mekanik yakni getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia dan
getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan
manusia.
Dalam kesehatan kerja, getaran yang terjadi secara mekanis dan secara umum dibagi
menjadi:

Getaran seluruh tubuh (whole body vibration), yaitu terjadi getaran pada tubuh
pekerja yang bekerja sambil duduk atau sedang berdiri dimana landasannya yang
menimbulkan getaran. Biasanya frekuensi getaran ini adalh sebesar 5-20 Hz. Getaran

seperti ini biasanya dialami pengemudi kendaraan seperti traktor, bus, helikopter, atau
bahkan kapal.

Getaran tangan-lengan (tool-hand vibration), yakni getaran yang merambat melalui


tangan akibat pemakaian peralatan yang bergetar, frekuensinya basanya antara 20-500
Hz. Frekuensi yang paling berbahaya adalah pada 128 Hz, karena tubuh manusia
sangat peka pada prekuensi ini. Getaran ini berbahaya pada pekerjaan seperti: Supir
bajaj, pengendara motor, operator gergaji rantai, tukang potong rumput, gerinda,
penempa palu.4

3. Hubungan Pajanan Dengan Penyakit


Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS) dapat terjadi pada pekerja yag menggunakan alat
yang bergetar. Getaran tersebut bersumber dari alat yang ditransmisikan ke tangan dan
lengan pekerja yang memegang alat tersebut. Bila digunakan secara terus menerus maka
akan mengakibatkan perubahan pada organ yang terkena. Efek getarannya tergantung dari
besar getarannya, lama penggunaan dan frekuensi. Perubahan anatomi vaskuler terjadi
dengan hipertrofi dinding pembuluh darah disertai kerusakan sel endotel. Spasme
vaskuler yang disebabkan rasa dingin dimediasi oleh dinding jaringan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian HAVS:
a. Umur, sangatlah berpengaruh terhadap kesehatan, pertambahan umur dapat
memperbesar risiko apabila umur pekerja 29-60 tahun, maka pekerja lebih rentan
terkena gangguan atau keluhan kesehatan akibat dari getaran lengan dan tangan.
Karena kemampuan elastisitas tulang, otot ataupun urat semakin berkurang sebagai
peredam dari getaran yang merambat ke tubuh.
b. Masa kerja, yakni waktu lamanya pekerja melakukan pekerjaan tersebut. Sehingga
dapat diketahui lamanya paparan bagi pekerja akibat getaran pada lengan dan tangan.
Ketika masa kerja lebih lama dalam menggunakan alat getar maka paparan yang
sampai ke tubuh makin sering, maka hal itu akan mempermudah pekerja mengalami
HAVS.

c. Lama kerja, yakni waktu atau lamanya pekerja melakukan pekerjaan sehari-jari.
Sehingga dapat diketahui lamanya paparan bagi pekerja akibat getaran lengan tangan.
Tingkat intensitas getaran yang leebih tinggi serta waktu pemaparan yang lama akan
mengakibatkan kerusakan pada tulang dan sendi. Pemaparan yang lama terhadap
getaran, terutama bila bersamaan dengan faktor yang lainyang berbahaya seperti
dingin, kebisingan dan beban statis dapat mengakibatkan timbulnya penyakit akibat
getaran.
d. Jenis kelamin, kekuatan otot wakita hanya dua per tiga kekuatan otot pria, sehingga
daya tahan otot pria lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Perempua berbeda fisik
dengan laki-laki sehingga lebih rentan terkena paparan.
e. Penggunaan alat pelindung diri (APD), sangat berpengaruh terhadap kesehatan
pekerja. APD merupakan salah satu cara untuk meminimalkan risiko penyakit akibat
kerja (PAK). APD yang dapat digunakan untuk mengurangi vibrasi terhadap tangan
adalah berupa sarung tangan.4

4. Pajanan Yang Cukup Besar


a. Epidemiologi
HAVS juga sudah dikenal sebagai penyakit akibat kerja oleh Intenational Labour
Office (ILO). Terdapat 1 dari 10 pekerja yang bekerja dengan akat yang bergetar
tersebut menderita Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS). Dan pada tahunn
2003/2004 terdapat 1015 kasus Vibration White Finger (VWF) yang terdiri dari 1010
pria dan 5 wanita. Jumlah ini sangat berhubungan dengan pekerjaannya.

b. Patofisiologi
Dinding pembuluh darah terdiri dari 3 lapisan dari dalam ke luar yakni tunika intima
yang tersusun oleh endotel, tunika media yang tersusun oleh otot dan tunika
adventisia yang tersusun oleh jaringan ikat. Saat vibrasi maka otot dirangsang dengan
getaran sehingga terjadilah kontraksi yang menyebabkan otot hipertrofi ke arah
lumen. Maka lumen akan mengecil sehingga aliran darah berkurang dan oksigen juga
berkurang. Pengendara motor akan mengebaskan tangannya agar aliran darah kembali
dan membawa banyak oksigen.Para pekerja yang tangannya terpajan alat-alat yang
6

bergetar dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah sehingga mengurangi suplai


darah ke saraf juga. Hal ini akan menyebabkan kehilangan sensoris yang permanen,
kerusakan pada tulang dan otot menjadi lemah.4

c. Manifestasi Klinis
Berdasarkan patofisiologi HAVS, maka gejala-gejala yang ditimbulkan terdiri gejala
vascular dan gejala sensorineural. Gejala vaskuler dikenal sebagai fenomena Raynaud
(vibration white finger/VWF) yang terjadi akibat adanya spasme pembuluh darah.
Fenomena Raynaud dapat muncul bila dirangsang oleh udara dingin atau menyentuh
benda dingin.Gelaja-gejala khas fenomenaRaynaud yakni awalnya jari-jari memutih
dan

menjadi

dingin,

jari-jari

tersebur

kemudian

berwarna

kebiruan

akibatberkurangnya suplai oksigen, kemudian jari-jari memerah oleh karena


vasodilatasi pembuluh arah dan aliran darahkembali lancar. Keadaan ini dapat
menimbulkan kesemutan, kram dan nyeri. Perubahan warna tersebut tidak selalu
dijumpai pada penderita. Namun keluhan tidak nyaman, pucat dan jari dingin tetap
muncul. Lamanya gelaja yang timbul dapat berlangsung beberapa menit hingga
beberapa jam. Tingkat nyeri dan ketidaknyamanan bervariasi tiap orang.
Gejala sensorineural dapat ditemukan pada penderita Hand Arm Vibration Syndrome
(HAVS) adalah rasa baal, dan atau kesemutan pada satu atau lebih jari. Gejala mulai
dari ringan dan hanya berefek pada ujung jari yang sifatnya hilang timbul. Baal atau
kesemutan yang berlangsung lebih dari 1 jam perlu dipertimbangkan mulai awalnya
HAVS. Pada kasus berat, baal dapat mengenai sepanjang seluruh jari. Keadaan ini
dapat menggaganggu aktifitas pekerjaan sehari-hari. Tidak selalu semua jari
bersamaan menjadi kasus ringan atau berat. Kadang-kadang ada bagian jari yang
gejalanya ringan, bagian jari yang lain berat.

5. Faktor Individu
Pada faktor individu maka yang perlu diketahui adalah adanya riwayat atopi/alergi oada
keluarga dan bagaiaman kebiasaan berolahraganya. Perlu juga diketahui higiene dari
pasien tersebut.

6. Faktor Lain Diluar Pekerjaan

Faktor-faktor lain diluar pekerjaan yang juga mengakibatkan penyakit tersebut. Seperti
hobi pasien, kebiasaan pasien dan pekerjaan sambilan. Dari skenario maka diketahui
bahwa pasien hanya sebagai kurir pengantar obat.

7. Diagnosis Okupasi
a. Diagnosis Kerja
Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS) merupakan sindroma yang diakibatkan
karena mengoperasikan alat yang bergetar secara terus menerus yang dapat
mempengaruhi gejala vaskuler, neurologi,, dan juga muskuloskeletal. Keluhankeluhan yang mungkin dirasakan akibat terpapar getaran adalah seperti rasa nyeri
pada tangan yang biasanya timbul pada malam hari, rasa kebas/baal/kesemutan pada
ibu hjari/telunjuk/jari tengah, kadang-kadang rasa nyeri dapat menjalar sampai lengan
bawah, siku, leher dan di area bahu tapi biasanya hanya terbatas di distal perge;angan
tangan saja, rasa nyeri yang dirasakan dapat mengakibatkan sulit untuk
menggenggam/mengepal. Para pekerja yang tangannya terpajan alat yang bergetar
dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah sehingga mengurangi suplai
darah ke saraf dan dapat menyebabkan kehilangan sensoris permanen.4
b. Diagnosis Banding
Carpal Tunnel Syndrome (CTS)merupakankeadaan dimana nervus medianus
tertekan di daerah pergelangan tangan sehingga menimbulkan nyeri, paresthesia dan
kelemahan otot tangan. Gejala CTS meliputi baal dan kesemutan, nyeri yang menjalar
atau meluas dari pergelangan tangan ke bahu atau turun ke telapak tangan dan
kelemahan pada tangan sehingga cenderung menjatuhkan barang yang sedang
dipegang. Gejala yang ditimbulkan hampir sama seperti adanya kesemutan dan baal.
Bila pekerja telah bekerja selama bertahun-tahun dengan alat tangan yang bergetar,
maka perlu dipikirkan terlebih dahulu adanya HAVS sebelum menegakkan diagnosis
CTS murni. CTS bisa dibedakan dengan HAVS bila seluruh faktor seperti anatomi,
kondisi medis dan fisiologis, riwayat terpapar di tempat kerja, dan keterlibatan nervus
ulnaris dievaluasi. Diagnosis yang tepat sangat penting karena berkaitan dengan
tindakan pembedahan yang tidak selalu bermanfaat jika pajanan terhadap getaran
tangan dan lengan merupakan faktor yang berperan terhadap kelainan tersebut.5

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita HAVS perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan
berbagai ahli yang terkait yang meliputi physiobalneotherapy (terapi olahraga, olahraga di
dalam kolam dan fisioterapi), pemberian obat (vasodilator) untuk memperbaiki fleksibilitas
sel darah merah, terapi bloking saraf, terapi bedah untuk paralisa atau parestesis nervus
ulnaris dan pendidikan bagi pasien. Sekalipun telah dilakukan seluruh terapi tersebut diatas,
afek pemulihan membutuhkan waktu yang lama.

Pencegahan
Ada empat hal utama yang perlu diperhatikan agar pekerja terhindar dari HAVS. Empat hal
tersebut adalah modifikasi kerja untuk mengurangi pajanan gataran, evaluasi kesehatan, cara
kerja sehari-hari dan pendidikan bagi pekerja. Modifikasi kerja untuk mengurangi paparan
getaran dilakukan dengan mendesain ulang alat-alat yang bergetar untuk meminimalisasi
pajanan pada tangan atau lengan. Bila pendesainan ulang tidak memungkinkan, maka perlu
dicari cara lain untuk mengurangi efek getaran tersebut. Demikian juga bila memungkinkan,
alat-alat yang bergetar tinggi perlu diimprofisasikan agar efek getaran yang sampai pada
genggaman tangan lebih kecil. Pekerja yang ditempatkan pada pekerjaan yang beresiko tinggi
terkena HAVS perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan pra kerja dan perlu diperiksa oleh
dokter yang memahami diagnosis dan penanganan terhadap HAVS. Pekerja yang memiliki
riwayat sirkulasi darah yang abnormal tidak boleh bekerja dengan alat-alat tangan yang
bergetar. Demikian pula pekerja yang pernah mendapat gejala HAVS yang sesang ataupun
berat sama sekali tidak boleh bersentuhan dengan apapun alat yang bergetar. Bila pekerja
kemudian menderita gejala kesemutan atau baal. Atau jika jari-jari mereka kadang-kadang
menjadi putih atau biru, atau nyeri terutama ketika dingin, mereka perlu diperiksa oleh dokter
untuk menegakkan diagnosis dan penanganan lebih lanjut. Pekerja yang menggunakan alatalat yang bergetar untuk bekerja, haruslah memkaia sarung tangan agar getarannya tidak
terlalu berasa.6

Kesimpulan
Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS) merupakan sindroma yang diakibatkan karena
mengoperasikan alat yang bergetar secara terus menerus yang dapat mempengaruhi gejala
9

vaskuler, neurologi,, dan juga musculoskeletal. Efek getaran tersebut akan merangsang
kontraksi sehingga dapat terjadi hipertrofi dan mengakibatkan penyempitan pada endotel
pembuluh darah sehingga suplai darah dan oksigen berkurang yang akan mengakibatkan
tangan terasa baal ataupun kesemutan. Biasanya HAVS ini terjadi pada pengendara motor
ataupun bajaj. HAVS merupakan penyakit akibat kerja yang harus diatasi sehingga mendapat
penangana dengan baik. Sebaiknya menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sarung
tangan sehingga efek getaran yang dirasakan tidak terlalu berat.

Daftar Pustaka
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Ed 5 (1). Jakarta: Interna Publishing; 2010. h. 25-7.
2. Willms JL, Schneiderman H, Algranati PS. Diagnosis fisik: evaluasi diagnosis dan
fungsi di bangsal. Jakarta: EGC; 2005. h. 354.
3. Bickley LS. Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. Ed 8. Jakarta: EGC;
2012. h. 593-6.

10

4. Sumamur. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta: CV Sagung Seto; 2009.
h. 141-50.
5. Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Turana Y. Diagnosis dan tata laksana penyakit
saraf. Jakarta: EGC; 2009. h. 120.
6. Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta: EGC; 2010. h. 199201.

11